Penyelidikan Piring Terbang Melalui Mistik oleh: Mpu Wesi
Geni
Oleh Ainur Ridlwan Muthahhari di Islamic UFO (Berkas) · Sunting Dokumen
Yang pertama-tama tentu timbul pertanyaan: Apakah pantas penyelidikan tentang piring terbang
dilakukan dengan cara mistik? Adakah gunanya mempergunakan cara yang tidak selogis ilmu
pengetahuan untuk menyelidiki UFO yang menghebohkan sejak ribuan tahun yang lalu itu?
Dapatkah apa yang dibentangkan berita-berita yang dijangkau alam mistik melengkapi
penyelidikan ilmiah teknologi dewasa ini? Buku-buku sejarah resmi yang diajarkan di sekolah
dan di perguruan tinggi, tidak memuat hal-hal mistik yang pernah terjadi pada diri pahlawan
negara manapun. Karena buku sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah harus bersifat logis.
Sungguhpun kejadian-kejadian mistik tidak dapat dibantah dan sering terjadi pada diri beberapa
orang atau kelompok orang yang sedang berjuang membela kemerdaekaan bangsanya. buktinya
di dalam sejarah-sejarah perjuangan, sering terdengar ada yang kebal, tak mempan oleh senjata
yang terbuat dari logam. Apakah itu akan dibantah oleh tehnologi modern? Apakah juga akan
dibantah oleh sejarah-sejarah resmi? Apakah kesenian Aceh bernama DABUS yang
memperlihatkan kekebalan manusia kepada senjata terbuat dari logam, dan kesenian lain seperti
itu yang telah berumur ribuan tahun, dapat dibantah secara tehnologi modern?
Salah seorang ilmuwan yang rendah hati pernah mengungkapkan penyelidikan dengan jalan lain
itu sebagai berikut: ―Maafkan aku jika pada suatu ketika aku menangguk ilmu dari alam mistik
yang ada pada diriku. Alam mistik bukanlah alam akal, bukanlah alam ilmiah, tetapi tidak pula
berarti alam khayal. Kadang-kadang mistik itu setaraf dengan ilham atau setaraf dengan ilmu
murni, jika dapat diberikan argumentasinya.‖ Demikian ucapan Prof. Dr. Hazairin SH almarhum
dalam suatu tulisannya mengenai Ilmu Jagat Raya dalam bukunya Ajjamui Qur‘an.
Ucapan tersebut hampir tidak berbeda dengan pendapat Einstein: ―Sebahagian besar ilmu
pengetahuan itu yaitu kesan-kesan dari alam sekeliling yang dihayati oleh indera manusia, yang
kemudian dicernakan oleh akal pikiran. Tetapi ada lagi ilmu pengetahuan yang datang dengan
jalan lain. Yaitu langsung dari suatu petunjuk tertentu.‖
Sebagai misal yang tak dapat dibantah:a. Banyak orang yang sakit keras memperoleh petunjuk
obat dari dalam mimpi.b. Banyak pula yang karena keputus-asaan hidupnya, bersunyi diri
dengan suatu cara tersendiri untuk memperoleh petunjuk yang datang dengan jalan berbagai rupa
guna mengatasi keputus-asaan itu.c. Ada lagi dengan menempuh suatu cara peribadatan dalam
agama, yang dianutnya ataupun melakukan jalan lain untuk memperoleh petunjuk Tuhan, akan
memperoleh suatu jalan keluar dari kesulitan.
Dalam buku ―Menyingkap Rahasia Piring Terbang‖ oleh J. Salatun, disinggung bahagian khusus
mengenai tanggapan paranormal yang diterimanya dari Agusnain. Agusnain tidak menjawab
segala pertanyaan dengan secara langsung. Tetapi ia terlebih dahulu membuat suatu hubungn
dengan sinar alam malakut yang memenuhi jagat raya. Malahan dalam salah satu pertanyaan
Agusnain menyatakan belum masanya menjawab, karena jawaban yang diperolehnya dari alam
malakut itu belum jelas.
Antara lain jawaban Agusnain:a. Piring Terbang itu memang ada. Dan merupakan buatan
makhluk dari alam yang ada di jagat raya.b. Ketika ditanyakan dari mana asal makhluk piring
terbang itu, Agusnain mengatakan belum boleh dijawab oleh Yang Maha Kuasa.
Tetapi beberapa hari kemudian, ia mengatakan bahwa piring terbang itu datangnya dari salah
satu tatasurya yang berada dalam Galaxy bumi ini sendiri. Dan menurut Agusnain bintang asal
dari makhluk piring terbang itu memiliki beberapa nama dari ilmu Astronomi: Antara lain YC
5473, dengan arti Yale Catalogue. Bintang YC 5473 memiliki spektrum dari golongan A5,
yang berarti suhunya lebih tinggi (yaitu 11.000 derajat Celcius) dari matahari kita (5.000 derajat
Celcius).
Jauh bintang itu dari tata surya kita yaitu 203,7 tahun cahaya. Demikian antara lain jawaban
Agusnain sebagai seorang paranormal. Yang melaukan suatu cara tertentu, untuk melepaskan
kekuatan rohaniahnya ke jagat raya, dan menemukan jawaban yang sesuai dengan keizinan Yang
Maha Kuasa.
c. Seterusnya Agusnain menjawab, planet piring terbang memiliki matahari sendiri. Planitnya
lebih kecil dari bumi ini. Dan matahari mereka juga tampak lebih kecil. Warna langit di sana
kehitam-hitaman agak lembayung.Bentuk awan tak ada yang bergumpal-gumpal. Hanya ada
garis-garis tipis seperti serat-serat. Anehnya, walau siang hari bintang-bintang kelihatan dengan
jelas. Tak ada lautan, hanya danau-danau dan sungai kecil. Hujan, sedikit.
d. Tentang makhluk piring terbang, Agusnain mengatakan mereka jangkung (10' = 3 meter).
Berlengan panjang hampir sampai ke lutut. Tangan mereka juga memiliki lima buah jari.
Perawakannya agak serba kurus. Agusnain ―melihat‖ suatu dump yang terdiri dari tumpukan
piring terbang yang sudah dibuang.
Tulisan ini timbul bukan karena kelatahan demam piring terbang yang pada saat ini melanda
seluruh dunia. Tetapi merupakan hasil penyelidikan penulis selama 12 tahun lebih. Dari mencoba
gerakan cakram aluminium yang digasingkan dengan tali. Sampai kepada menimbang bobot
cakram itu sendiri dalam keadaan bergasing. Kemudian memikirkan, bagaimana menimbulkan
sumber listrik yang maha kuat untuk menggasingkan cakram itu dari dalam bangun bentuk
pesawat piring terbang mini. Dan untuk itu penulis juga berdialog dengan beberapa ahli elektro
dan mesin. Yang terakhir, penulis juga pernah mengunjungi LIPI bahagian Physika di Bangdung,
juga ke ITB Bandung. Selain berdialog dengan J. Salatun sendiri di LAPAN Jl. Pemuda persil I
Jakarta. Untuk melatar belakangi tulisan ini, sebagai suatu tulisan manusia berakal sehat yang
sederhana, penulis telah menulis ratusan judul tulisan misteri di majalah-majalah terkenal di
Jakarta. Dan menulis alam makrokosmos dan piring terbang di beberapa majalah dengan cara
beberapa kali sambung. Dan sebahagian dari tulisan itu telah dibukukan oleh beberapa penerbit.
Adakalanya terdapat ruang kejenuhan untuk melanjutkan penyelidikan. Terlebih lagi, karena
penulis bukanlah memiliki laboratorium teknologi yang dapat dijadikan tempat riset. Dan
penulis sendiri, ketika itu masih tinggal di Medan (Sumatera Utara).
Oleh karena itulah penulis terkadang berusaha juga mencari jalan lain yang dapat menambah
pengetahuan tentang data-data piring terbang. Seperti setiap orang yang merasakan kegagalan,
akhirnya lari kepada salah satu jalan lain untuk akhirnya lari kepada salah satu jalan lain untuk
meminta tuntunan meneruskan kegagalan itu. Penulis juga pernah berusaha berbuat seperti
Agusnain sebagai paranormal. Tetapi dengan cara yang berlainan. Sungguhpun arahnya juga
merupakan penyelidikan secara mistik terhadap kegiatan piring terbang. Penyelidikan ini bukan
pula karena adanya pengaruh dari luar, atau dibiayai oleh pihak tertentu, tetapi oleh karena
kesadaran sendiri sebagai makhluk Tuhan yang ingin menambah ilmu tentang makhluk-
makhlukNya yang bertebar di seluruh bumi dan langit.
Sehingga berapa besar tenaga pikiran dan waktu, tidak diperhitungkan lagi. Seolah-olah rumit
dan peliknya penyelidikan itu sudah menjadi racun yang membawa nikmat.
Pada tahun 1970 saya berkenalan dengan seorang laki-laki yang bernama Gerard Umar
Sitompul, tinggal di Jalan Sriwijaya, Medan. Perkenalan yang sangat menarik, karena beliau
termasuk salah seorang ahli metaphisis yang sesuai dengan kegairahan saya untuk mengenalnya
lebih dekat. Antara kami terdapat beberapa kecanduan tentang alam mistik, sehingga apabila
kami berbicara, legih syahdu dari pada sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang dimabuk
cinta. Yang mungkin sampai membuat para isteri kami menjadi cemburu kepada keasyikan
percakapan yang menyita sebahagian besar waktu kehidupan alam nyata. Bahkan menyita waktu
yang seharusnya dipergunakan untuk meningkatkan kesempurnaan rumah tangga.
Saya juga mengetahui Gerard Umar Sitompul memiliki seperti keris zaman kuno, yang
masing-masing memiliki nama-nama tertentu dengan kodrat tertentu. Di tengah rumah
terdapat sebuah stoples kaca yang berisi tujuh jeruk purut bercampur adukan air tertentu. Air itu
bagai mendidih sebagai tanda ada sesuatu yang akan datang.
Gerard Umar Sitompul mengatakan kepada saya, ia pernah mendengar ada orang tua hebat
tinggal di Tg. Morawa. Dia mengatakan juga bahwa rumah orang tua itu sering dikunjungi
orang-orang yang penting untuk memperoleh sesuatu secara gaib. Dan Gerard Umar Sitompul
menyatakan juga kepada saya, bahwa ia ingin mengunjungi orang tua itu bersama dengan saya,
Orang tua itu bernama Datuk Tuah, tinggal di Tg. Morawa Kanan.
Pada suatu hari Kamis sore aku berangkat bersama Gerard Umar sitompul membawa 21 batang
lilin panjang, tiga bungkus rokok tanpa filter dan kemenyan putih.
***
Di sekeliling ruangan menyala 21 batang liling yang kami bawa tadi. Datuk Tuah mulai
membereskan sebuah bangku panjang, dan mengalasnya dengan sebuah permadani yang bagus
warnanya. Kemudian menaburkan kemenyan di atas bara dupa. Ia pergi sesaat ke kamar
tersendiri untuk melakukan ibadat.
Kemudian keluar membawa sebuah Al Qur‘an. Kemudian Dt. Tuah memiringkan kepalanya ke
arah bangku panjang, bagai mendengar ucapan gaib yang tidak terdengar oleh kami berdua.
Hanya terdengar ucapan Dt. Tuah sendiri, antara lain,‖Alaikum salam... dan terima kasih atas
kedatangan Nenek Baju Berenda dan Bergelang kaki, bersama dengan seluruh pengiring yang
tujuh orang. ―Kemudian, janganlah nenek kesal karena himbauan ini. Karena bertahun-tahun
yang lalu hamba malah menolak pekerjaan ini. Terutama karena hamba menganggap akan
mengganggu kepada cara hamba mencari rezeki. Tetapi karena nenek katakan, bahwa pekerjaan
seperti ini juga termasuk ibadat menolong sesama manusia, makanya hamba lakukan juga.
Hanya permintaan hamba, janganlah nenek memberikan jawaban dari pertanyaan yang tak
terjawab. Lebih baiklah nenek katakan saja tak mengetahuinya. Janganlah nenek terlibat dengan
kata dusta, karena hamba yang nyata di mata orang banyak yang akan merasakan malunya.
Sedangkan nenek dapat menghindar karena tak nampak oleh mata kasar manusia.‖
Demikianlah antara lain ucapan Dt. Tuah kepada Nenek Baju Berenda dan Bergelang kaki.
Sejenak kami berhenti, karena waktu telah masuk magrib. Dt. Tuah menerangkan bahwa si
Nenek sedang pergi ke belakang melakukan ibadat, dan meninggalkan pesalinan yang
dipakainya di atas tempat ia duduk. Sungguhpun segalanya tidak terlihat oleh kami, peristiwa
gaib itu bagai benar-benar sedang terjadi di dalam rumah. Terasa sekali bukan kami bertiga saja
berada di dalam ruangan itu. Setelah lewat magrib barulah hubungan dengan Nenek Baju
berenda diteruskan. Kelihatan Dt. Tuah sangat hati-hati menyimak suara dari arah bangku
berlapis permadani lebar. Sejenak Dt. Tuah mengangguk-angguk kecil bagai memahami sesuatu
yang tidak terdengar oleh saya dan Gerard Umar Sitompul.
Setiap selesai mendengar ia berpaling kepada kami dan berkata,‖Nenek mengatakan bahwa anak
yang berperawakan kecil, sebagai orang berketopong besi. Sampai beberapakali saya bertanya
kepada nenek, takut dugaan nenek salah bunyinya. Karena anak datang kemari tidak memakai
apapun di atas kepala, ― ujar Dt. Tuah. Sedangkan kami berdua jadi berpandangan mendengar
ucapan nenek baju berenda yang menggelari diriku sebagai orang berketopong besi tembaga.
Kemudian Dt. Tuah bagai mendengarkan lagi ucapan nenek baju berenda dengan penuh
perhatian dengan kesopanan gerak gerik, yang kemudian diiringkan Dt. Tuah dengan ucapan
perlahan,‖ Apakah tidak salah yang nenek katakan....... Karena hampir tak ada hubungan apapun
antara anak yang berperawakan kecil ini dengan apa yang nenek tuduhkan kepadanya. Jadi......
harus hamba katakan juga? Tidakkah terdapat dusta didalamnya? Atau sekedar menyenangkan
perasaan hati anak-anak yang datang ini? Tersentak sesaat Dt. Tuah bagai menerima kepastian
kata yang keras. Kemudian Dt. Tuah mengangguk dan berkata,‖Baiklah kalau begitu, akan
hamba katakan juga, karena hamba hanya meneruskan apa yang nenek tinjau ditengah alam
gaib‖.
Dt. Tuah memalingkan mukanya kearahku dan matanya bagai menebak-nebak bagaimana
penerimaanku terhadap ucapan yang akan disampaikannya,‖ Apakah anak sedang memikirkan
sejenis kendaraan besi?‖ Pertanyaan itu segera mengejutkan aku. Gerard Umar Sitompul juga
terperangah karena tebakan yang begitu tepat dari nenek baju berenda kepada diriku. Saya
termangu sesaat. Kemudian menjawab, bahwa saya hanya pernah dan sampai saat ini masih
memikirkan tentang piring terbang. Kembali Dt. Tuah menyampaikan saya kepada nenek baju
berenda. Yang kemudian dikembalikan pula oleh nenek itu dengan perkataan,‖ Yang anak
pikirkan yaitu sejenis pesawat terbuat dari besi dan tembaga‖. Gerard Umar Sitompul tiba-tiba
menyambung pertanyaan dengan tenangnya,‖ Bagaimana ada pesawat yang terbuat dari ‗besi‘
dan ‗tembaga‘ akan dapat terbang? Sedangkan pesawat terbang sekarang yang terbuat dari
aluminium ringan saja, menemui banyak kesulitan untuk mencapai kecepatan‖. Perkataan Gerard
Umar Sitompul yang menyudutkan itu diteruskan oleh Dt. Tuah kepada nenek baju berenda.
Sesaat pula lamanya Dt. Tuah menyimak jawaban halus yang sampai ke telinga batinnya.
Kemudian Dt. Tuah terlebih dahulu menyampaikan bahwa nenek baju berenda sedang pergi
kebelakang rumah mensucikan diri, karena soal jawab ini banyak menguras tenaganya untuk
mencapai alam tingkat tinggi.
―Aduh, ―keluh Dt. Tuah,‖baru kali ini hamba kedatangan tamu yang seperti ini. Biasanya orang
hanya meminta petunjuk tentang barang-barang yang hilang, ataupun obat untuk tangkal
penyakit. Hamba sendiri tak pernah keluar dari rumah, jangankan akan bepergian sampai ke
Medan. Dan hamba sedikitpun tak mengerti apa yang anak-anak pikirkan mengenai pesawat
yang hamba sendiri belum pernah melihatnya, selain dari pesawat terbang biasa yang terkadang
menderu tinggi dari tempat tinggal kami ini.‖ Dt. Tuah kelihatan membalik-balik tujuh lembar
kitab suci sebanyak tiga kali, dan memperhatikan aksara pertama dari setiap lembarnya.
―Kalau dilihat disini, didalam perkataan nenek tadi tidak terdapat dusta ataupun khayal. Tetapi
seperti pertanyaan anak yang besar (maksudnya Gerard Umar sitompul) bagaimana besi dan
tembaga dapat terbang, sungguh harus dipikirkan juga‖. Dt. Tuah menggeleng-geleng karena
takjub. Kami mendapat aba-aba, bahwa Nenek baju berenda telah duduk kembali, dengan wajah
dan anggota badannya masih basah, menurut pandangan Dt. Tuah. Baiklah di bawah ini
diturunkan saja soal jawab singkat dengan nenek baju berenda, agar lebih terarah kepada yang
dimaksud.
Pertanyaan:‖Kekuatan apakah yang menerbangkan pesawat besi tembaga itu?‖
Jawab:‖Dengan kekuatan yang terkandung didalam besi dan tembaga itu
sendiri‖.Pertanyaan:‖Bagaimanakah sebenarnya bentuk piring terbang itu?‖
Jawab:‖Sebenarnya ada dua macam saja, yang pipih seperti piring penadah gelas kopi dan bulat
panjang seperti labu‖.
Tanya:‖Bagaimanakah bentuk dan gerakan piring terbang itu?‖
Jawab:‖Ia berputar seperti gerak putaran Al-Arsyh (tapak istana kerajaan Tuhan) yang arahnya
seperti gerak orang naik haji thawaf mengelilingi Ka‘bah.
Dalam kesempatan sebentar kami membicarakan gerak bergasing dari pesawat piring terbang itu.
Diikuti juga oleh Dt. Tuah yang kelihatannya mulai berperhatian besar terhadap soal jawab kami
dengan nenek baju berenda.
Tanya:‖Makhluk apakah yang mengendalikan piring terbang itu?‖
Jawab:‖Mereka makhluk kasar biasa. Tetapi bukan manusia yang hidup di muka bumi. Mereka
dari salah satu bintang lain. Tetapi tempat mereka menetap ada di atas bumi ini‖.
Tanya:‖Di mana mereka tinggal berkumpul?‖
Jawab:‖Di bawah air‖.
Akhirnya barulah Dt. Tuah mendapat penjelasan, bahwa makhluk piring terbang itu membuat
tempat tinggalnya jauh di dasar laut.
Tanya:‖Laut di arah mana?‖
Jawab:‖Arah Maghrib.......yang terdalam, yang ada jurang di dasarnya‖.
Sayangnya ketika soal jawab ini terjadi, tidak ada atlas dunia yang dapat disodorkan kepada Dt.
Tuah, agar ia dapat menerima penjelasan yang pasti dari Nenek Baju berenda. Dan ketika soal
jawab ini terjadi, saya sendiri belum mengetahui legenda tentang segitiga Bermuda. Hanya
dongeng tentang Benua Atlantis yang hilang, yang pernah saya baca dari beberapa risalah.
Sekitar awal tahun 1975 ketika berada di Jakarta, barulah perihal Segitiga Bermuda itu saya
dengar dan baca dari beberapa buah buku. Dan tentang pesawat satu bacaan DABUS Iqra-timah,
Amri-tembaga, Hammarullah-besi, Shod-nyawamu besi. Maka karena itu menyusul pertanyaan
lain kepada Nenek Baju berenda:
Tanya: ―Apakah ada bahan cair lain yang digunakan Piring Terbang?‖
Jawab: ―Tidak ada bahan cair, hanya timah sebagai kekuatan ke tiga‖.
Mendengar jawaban itu tiba-tiba pikiran saya teringat kepada soal jawab yang tertulis di dalam
buku ―Menyingkap Rahasia Piring Terbang‖ oleh J. Salatun, yang diantaranya berisi soal jawab
antara J. Salatun dengan Agusnain secara paranormal. Ketika diajukan pertanyaan kepada
Agusnain dari bahan apa dan bagaimana piring terbang itu dibuat, dijawab oleh Agusnain: Piring
terbang itu dibuat dari suatu paduan logam yang belum dikenal dibumi, dan dibuat dengan cara
mengecor. Paduan logam piring terbang itu memiliki sifat-sifat tertentu tetapi hanya untuk
suatu jangka tertentu. Sesudah jangka itu, paduan tadi kehilangan sifat-sifatnya sehingga piring
terbang tidak dapat dipakai lagi dan dibuang di sebelah dunia ―, itulah jawaban Agusnain.
Jawaban itu nampak hampir tidak berarti apa-apa jika dilihat sepintas lalu. Tetapi jika
dihubungkan dengan tinjauan Dt. Tuah dengan perantaraan Nenek Baju berenda, jawaban itu
bagai saling menunjang.a. Bukan tidak mungkin salah satu paduan itu terdiri dari besi magnit
yang telah kehilangan kekuatan kutub magnit, seperti keadaan besi magnit di dalam sebuah
dinamo sepeda, atau dinamo sebuah mobil model lama. Besi magnit yang aus itu, tidak lagi
mengelarkan imbas sekuat yang diperlukan untuk menggerakkan suatu dinamo listrik.b.
Tembaga yang kehilangan sifatnya. Misalnya kawat tembaga yang terlalu kuat menerima aliran
listrik, akan berubah menjadi keristal tembaga, yang tidak mampu lagi dengan sempurna
mengalirkan arus listrik.c. Timah yang kehilangan sifatnya, hampir tak obahnya sebagai lempeng
timah di dalam baterai basah. Pada baterai tua, lempeng lempeng timah itu rusak menjadi
pecahan-pecahan seperti loyang (yang ada juga hubungannya dengan bertambahnya kadar
loyang di udara, bila piring terang baru saja meninggalkan suatu tempat dengan kecepatan
tinggi).
Di dalam mengutarakan seluruh kesan teknologi di dalam tulisan ini terus terang saya akui saya
sendiri tidaklah menguasai ilmu teknologi elektro yang mendetail. Kecuali sekedar sedikit
pentertian sambil lalu tentang pengetahuan seperti itu. Dengan harapan, semoga ilmuwan yang
lebih ahli akan menanggapi hal ini lebih mendalam melalui suatu riset di masa yang akan datang.
PERTANYAAN-PERTANYAAN berikutnya diajukan lagi kepada Nenek Baju Berenda.
Tanya: Apakah yang menarik makhluk piring terbang untuk mendatangi tempat-tempat tertentu?
Jawab: Entah dengan cara bagaimana, mereka dapat mengetahui dengan tepat daerah-daerah atau
kota yang sedang mengerjakan besi besar-besaran.
Saya memang tidak menanyakan lagi, apakah kegiatan pekerjaan besi dimaksud yaitu pabrik-
pabrik baja dan senjata, termasuk pabrik mobil atau juga daerah-daerah pasir besi dimuka bumi.
Tetapi kalau diambil satu grafik kunjungan piring terbang di seantero kota dan pedesaan. Karena
piring terbang juga pernah muncul di pantai selatan Jawa (Nusakambangan), yang diabadikan
oleh Ir. Hartono dengan tustel photo. Yang salah satu duplikat photo itu pernah diberikan oleh J.
Salatun kepada penulis. Sedang aslinya dikirimkan ke NASA. Daerah pantai selatan Jawa,
memang salah satu daerah pasir besi baja, yang pada saat ini sebagai salah satu proyek sumber
biji besi, selain titanium yang terkandung didalamnya.
Ucapan:‘entah dengan cara bagaimana‘ yang diteruskan Dt. Tuah dari Nenek Baju Berenda itu
mengingatkan penulis kepada suatu bentuk ‗radar terhadap metal‘. Atau dengan perkataan lain,
pesawat piring terbang memiliki detektor yang sangat sensitif untuk mengikuti kegiatan yang
ada hubungannya dngan besi di dunia. Sekaligus tercakup di dalamnya, industri senjata,
kumpulan persenjataan yang terbuat dari besi, daerah pasir besi, kawasan industri dan kota-kota
yang sebagai sumber listrik perindustrian. Mungkin inilah yang menjadi sebab mengapa piring
terbang selalu muncul di daerah-daerah yang telah maju perindustriannya, disamping dugaan
bahwa Negara-Negara terkebelakang sangat sedikit sekali mengindahkan pesawat aneh yang
muncul di atmosfer mereka.
Sebahagian alasan makhluk piring terbang itu mungkin berdasar kecemburuan mereka karena
makhluk bumi sangat berambisi untuk mencontoh pesawat mereka. Diliputi perasaan iri hati dan
disaingi, mereka selalu mengintip kegiatan industri besi manusia di bumi. Malahan terkadang
mereka seperti mengetahui gedung atau bangunan yang menjadi pusat pengendalian politik suatu
negara di dunia. Seperti yang disebut sebagai Washington Invasion (Penyerbuan atas
Washington) pada tanggal 19 dan 26 Juli 1952 pukul 22.00 penduduk Washington menyaksikan
lima buah cahaya yang mengambang di atas Gedung Putih, meliputi bangunan di sekitarnya.
Seminggu kemudian kejadian itu terulang kembali dengan jumlah sampai 15 buah cahaya yang
bergerak sangat cepat melebihi kecepatan pesawat bumi. Sehingga ketika angkatan udara
mengirimkan dua pesawat pencegat F94 untuk mengadakan penyelidikan, ternyata tidak
membawa hasil. Malah ketika kedua pesawat pencegat itu akan pulang ke landasan, ke lima
belas buah cahaya itu mengelilingi mereka dalam jarak tertentu, dan seperti mengantarkan atau
mengawal kedua pesawat itu. akhirnya lima belas detik kemudian, cahaya-cahaya menghilang
dengan kecepatan yang mengerikan.
Demikian juga yang pernah terjadi pada tahun 1978 sekitar bulan Maret. sejumlah piring terbang
mengitari kaisar Jepang Hirohito, selama delapan kali. Seolah-olah mengetahui peranan Gedung
Putih di Washington bagi Amerika Serikat, dan apa peranan kaisar Hirohito bagi Jepang.
Bertambahlah pengetahuan kita bahwa makhluk piring terbang memiliki cara dan kecerdasan
tersendiri untuk melihat kegiatan manusia di dunia. Dua hari kemudian, kami datang kembali
menemui Dt. Tuah. Karena hari itu tepat ketika malam Jumat Kliwon (Manis). Menurut Dt. Tuah
pada malam seperti itu, Nenek Baju berenda lebih banyak memiliki kekuatan menerima berita
alam gaib dari pada malam-malam biasa. Dan penulis sendiri sekedar mengetahui bahwa hari
Jumat yaitu sebagai:
Dibentuknya Adam dari tanahSelesainya Adam dijadikan.Terusirnya Adam dari
sorga.Berjumpanya Adam dan Hawa dimuka bumi.Banjir Nuh.Tenggelamnya Firaun dijaman
Musa as.Didekatkannya roh dengan kuburnya.Kiamatnya dunia dengan seluruh galaxinya.
Banyak lagi kejadian yang penting, yang terjadi pada hari tersebut, yang merubah permukaan
bumi dan sejarah kehidupan manusia. Sekali ini Dt. Tuah meminta kepada penulis dan Gerard
Usman Sitompul untuk mensucikan diri dengan air, seluruh anggota badan, sebelum soal jawab
diteruskan dengan Nenek Baju berenda.
Tanya: Pernahkah nenek berusaha mendekati piring terbang itu?
Jawab: Banyak dari beberapa golongan jin dan makhluk halus lain ingin masuk ke dalamnya.
Tetapi tak berhasil. (Sejenak Dt. Tuah bagai mendengar perkataan yang meragukan atau
terputus-putus dari Nenek Baju berenda).
Tanya: Apakah nenek diserang mereka?
Jawab: Tidak, mereka tak pernah mengganggu makhluk lain. Hanya membuat rintangan,
sekiranya mereka dalam keadaan terpaksa. Piring terbang itu sendiri, lebih panas dari kawah
gunung berapi. Itulah halangan pertama dari makhluk-makhluk halus dan kasar untuk
mendekatinya.
Mendengar api yang dikatakan nenek baju berenda, penulis teringat kepada kekuatan arus listrik
kuat yang terpancang dari sebuah piring terbang. Tanya: Bukankah bangsa jin dijadikan dari api.
Tak dapatkah mereka menyatukan diri dengan panas itu?
Jawab: Pertanyaan itu telah menggugah kekuasaan Tuhan. Tetapi biarlah nenek jawab juga
sekedarnya. Dalam keadaan biasa, piring terbang tetap dapat mengeluarkan kekuatan api dengan
tiba-tiba. Belum ada ijin Tuhan, agar jenis kami dapat masuk kedalamnya, sejak ribuan tahun
yang lalu. Alangkah dasyatnya jarak waktu yang disebutkan Nenek Baju berenda, yang
mengatakan piring terbang belum berhasil dimasuki makhluk halus bangsa jin atau roh biasa.
Yang kemudian mengingatkan penulis kepada wahyu Tuhan yang berbunyi: Dan apabila
perkataan telah jatuh kepada manusia (janji Tuhan) kami keluarkan sejenis makhluk dari dalam
bumi yang akan menemplak manusia, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada
ayat-ayat kami‖.
Kalau diikuti perkembangan usaha-usaha mistik dilapangan kehidupan manusia termasuk
diantaranya pengobatan dari jarak jauh, atau menentukan daerah atau benda yang hilang, juga
termasuk menentukan benda terpendam dengan petunjuk gaib dan mistik. Yang belum pernah
didengar ialah adanya golongan makhluk halus yang berhasil memasuki dan mengerti tentang
keadaan piring terbang. Belum pernah penulis mendengar penganut-penganut kebatinan atau
agama yang menjalankan suatu cara mistik yang dapat mengetahui bagaimana ruangan di dalam
dan peralatan piring terbang itu sesungguhnya. Jika mengenai keadaan dan planet-planet dan
bulan menurut tinjauan ahli mistik, telah sering penulis jumpai.
Di dalam lembaran sobekan surat papyrus kuno yang berasal dari jaman raja Thuthmosis III
(1505 - 1450) sebewlum masehi, dengan ejaan aslinya berasal dari tulisan hearatic (ejaan tulisan
bangsa Mesir kuno) yang demikian jelas isi keseluruhannya, ada juga diungkapkan soal piring
terbang. lembaran papyrus berukuran 20 x 18 cm lebih dikenal dengan nama Tulli Papyrus, yang
diambil dari namanya Prof. Aleberto Tulli yang pernah menjabat direktur Museum Vatikan
bagian peninggalan bangsa Mesir kuno. Di jaman pemerintahan Firaun Thuthmosis III sekitar
tahun ke 22 (1525 SM), bulan ke tiga musim dingin (Pebruari) pukul ke enam pada hari itu
(pukul 23.00) para juru tulis rumah kehidupan (seperti bentuk sekretariat negara atau
perpustakaan) melihat sebuah lingkaran api bercahaya sangat terang turun dari langit. Sekalipun
tidak memiliki kepala, lingkaran itu mengeluarkan bau yang tidak sedap dari mulutnya, yang
berbentuk memanjang dan melebar dan tidak mengeluarkan suara sedikitpun. mereka sangat
ketakutan, sehingga hanya berbaring di tanah. Dan ketika Firaun diberitahukan tentang kejadian
itu, langsung diperintahkannya untuk meyelidiki dengan memperbandingkan apa yang tertulis
masa Firaun Thuthmosis III. Firaun berusaha menafsirkan semua kejadian itu. Selang beberapa
hari kemudian muncul lagi nyala api yang terang dengan jumlah banyak berkilauan,
mengalahkan putihnya cahaya matahari. Dibagian bawah benda itu kelihatan pancaran api yang
bercahaya sangat terang. Firaun menyaksikan sendiri dari tengah-tengah para tentara yang
menjaganya. kemudian benda itu meluncur semakin meninggi ke arah selatan, disusul dengan
jatuhnya ikan dan burung-burung dari langit. Firaun sangat takjub menyaksikan apa yang belum
terjadi selama masa pemerintahannya. Ia memerintahkan agar seluruh peristiwa itu oleh rumah
kehidupan sebagai peringatan yang abadi.
Memang, menurut dugaan, kunjungan UFO sejak jaman dahulu yaitu membawa tujuan untuk
membantu perkembangan manusia dengan mengajarkan kepandaian yang mereka miliki. Tetapi
itu baru merupakan sebuah teori dan dugaan. Sehubungan dengan teori itu kemunculan UFO ke
muka bumi yang semakin kurun tahun, semakin bertambah banyak, dianggap sebagai salah satu
pertanda bahwa kehidupan bumi telah semakin tua. Mereka beramai-ramai dari tempat asal
mereka, datang ke atmosfir bumi. Memang diakui meledaknya bom atom I di Hiroshima pada
tanggal 6 Agustus 1945 merupakan peristiwa pertama radioaktif naik ke udara melewati atmosfer
bumi. Mungkin saat itu makhluk UFO merasakan sebagian dari keseimbangan alam jagat raya
mulai terganggu. Mungkin bumi sendiri di masa yang akan datang akan mengalami kegoncangan
hebat yang merusak kestabilannya melalui orbitnya mengelilingi matahari. Misalnya dengan
bergesernya sedikit kutub magnit bumi dalam suatu getaran kuat pada kulit bumi. Sedang kutub
itu sendiri sangat bergantung dengan letak gundukan es kutub utara dan selatan. Kalau gugusan
es kutub rusak, maka tekanan dan arus pada permukaaan laut juga akan berubah sekaligus
mengubah keadaan musim dimuka bumi.
Pertanyaan berikutnya yang sedikit agak menjurus kepada peralatan UFO diajukan seprti
dibawah ini kepada nenek baju berenda. Pertanyaan itu sengaja disusun demikian rupa sehingga
tanpa sadar Nenek Baju Berenda telah menyinggung dugaan keadaan bagian dalam dari piring
terbang.
Tanya: ―Apakah makhluk pembawa piring terbang itu ikut juga berpusing bersama pesawat
mereka?
Jawab: Tidak. Sebab mereka berada di dalam ruangan berbentuk sebuah bola besi yang amat
bulat tak ikut berputar dengan bagian lainnnya.
Soal jawab ini kelihatannya memakan tenaga Dt. Tuah juga. Bintik-bintik keringat di wajahnya
mulai berkilat dibawah cahaya lilin yang terpasang.
Tanya: Dimanakah letak bola besi penumpang itu?
Jawab: Pada bagian pusar piringnya.
Tanya: Apakah kelihatan dari luar?
Jawab: Seperlima bulatan pada bagian atas, dan seperlima lagi dari bulatan sebelah bawah,
tampak menonjol dari keseluruhan bentuk piring.
Dari jawaban Nenek Baju Berenda ini, penulis teringat kepada soal jawab J.Salatun dengan
Agusnain dengan pandangan paranormal yang mengatakan: adanya sebuah turbin yang berputar
sangat cepat, yang ujung porosnya tidak menyinggung tempat duduknya. Oleh karena itu,
mereka sama sekali tidak menggunakan minyak pelumas. Entah bagaimana kedua bagian itu
dapat dibuat, sehingga tidak saling menyentuh. Saya tidak mengerti, tetapi demikianlah
keadaannya. Itulah salah satu hasil tinjauan paranormal Agusnain. Nenek Baju Berenda, sendiri
tidak menyinggung-nyinggung soal turbin yang disebut Agusnain. Ia hanya mengatakan tempat
awak piring terbang itu di dalam ruangan sebuah bola besi yang terletak pada bagian pusar piring
terbang. Oleh karena itu penulis menyusun pertanyaan baru.
Tanya: Apakah bola ruangan penumpang itu terletak rapat dengan rongga badan piring terbang?
Jawab: Tidak. Sekeliling bola itu memiliki jarak tertentu dengan rongga pesawat. Entah apa
gunanya.
Tanya: Tak sedikitpun bahagian yang bersinggung?
Jawab: Tidak.
Jawaban ini agak berbeda dari tinjauan para normal Agusnain. Agusnain menengatakan tentang
poros turbin yang berputar cepat, sedangkan Nenek Baju Berenda mengatakan ruangan bola
penumpang itu mengambang di tengah rongga piring.
Tanya: Kekuatan apakah yang membuat bola penumpang itu menjadi mengambang seperti itu?
Bukankah itu berarti ada tenaga yang sama pada keliling bola membuat ia mengambang ditengah
ruangan piring?
Jawab: Anak yang berketopong besi-tembaga mengetahuinya.
Penulis jadi tersentak mendengar jawaban Nenek Baju Berenda, dan Datuk Tuah memandang
penulis dengan keheranan. Sedangkan Gerard Usman Sitompul mengangguk-angguk kecil
seperti ada sesuatu yang dimakluminya didalam hati. Penulis sendiri cenderung untuk memegang
motif: Iqra namamu timah Amri namamu tembaga, Hamarullah namamu Besi, dan Shod
nyawamu besi. Sama dengan Magnit rohmu besi.
Kesimpulan penulis: Bola ruangan penumpang bisa mengambang seperti itu karena bagian luar
besi bola penumpang bermuatan kutub magnit yang sama dengan rongga poros cakram. Dan
setelah penulis menyatakan hal ini kepada Gerard Usman Sitompul ia juga dapat menerimanya,
dengan mengingat hukum tolak.
Dan teori ini juga pernah penulis nyatakan kepada beberapa orang insinyur elektro, yang juga
menerimanya sebagai logika teknologi, walaupun belum ada peralatan teknologi zaman ini yang
mempergunakan cara itu. Dan penulis sendiri belum lagi menghitung secara teliti, berapa tenaga
tolak menolak besi magnit sekutub pada setiap 1 cm2.
Kalau mengingat bahwa piring terbang ukuran besar diduga memiliki garis tengah 90 m, dan
bola penumpang yang terletak di bagian pusarnya berdiagonal 10 m, bayangkan betapa besarnya
besi magnit yang harus digunakan untuk sebuah piring terbang! Dengan sendirinya berat bola
penumpang harus pula diperhitungkan agar bola itu tetap mengambang pada rongga duduknya.
Tapi bagaimana pula caranya agar penumpang tidak terikut dengan perubahan kedudukan bentuk
cakram disaat ia terbang dengan segala gaya? Menurut pendapat penulis sendiri, bola
penumpang itu memiliki suatu alat pemberat dibagian bawahnya. Sehingga ia lebih mirip
dengan patung campak golek, yang bagian bawahnya diberi timah pemberi pemberat. Sehingga
dalam keadaan bagaimanapun, bagian yang berat itu tetap berada dibagian bawah. Kini timnul
pertanyaan: Dapatkah perputaran rongga besi cakram dengan dinding bola penumpang
menghasilkan arus listrik walaupun keduanya terdiri dari magnit sekutub? Jika tidak, darimana
datangnya sumber listrik berkekuatan tinggi yang terpancar dari sebuah piring tebang?
Jika menurut tinjauan para normal Agusnain, turbin itu pertama-tama berfungsi sebagai stabiliteit
kepada piring terbang. Dan yang kedua untuk mengatur efflux. Dari Nenek Baju Berenda penulis
tidak menemukan jawaban mengenai turbin itu. Mungkin karena ia menggantinya dengan istilah
bola penumpang yang terletak ditengah rongga cakram. Tetapi sekiranya memang sebagai
sumber listrik, turbin elektromagnit itu sepantasnya terletak di antara kedua belahan cakram. Dan
dari persaingan yang berlawanan arah akan terjadi imbas magnit yang cukup besar untuk sumber
arus listrik yang kuat. Bola penompang dan rongga cakram yang mengandung magnit yang
sekutub, hanya sekedar menjaga stabiliteit kedudukan bola penumpang. Teori ini mungkin dapat
diterima akal. Karena beberapa saksi mengatakan melihat bagian tengah piring terbang itu
kelihatan lebih kabur, daripada bagian keliling cakram yang lebih bercahaya menyilaukan.
Pandangan seperti itu dapat terjadi, jika bagian tengah (bola penumpang) piring terbang itu tidak
bergasing sama sekali. Hanya kelihatan bercahaya, karena kena bias cahaya keliling cakram yang
bergasing (membuat batas menjadi tidak menjadi kelihatan).
Kalau teori diatas memiliki dasar kebenaran untuk dijadikan bahan dalam riset piring terbang,
berarti sebagian dari rahasia stabiliteit ruangan penumpang dan sumber arus listriknya sudah
dapat direka darimana datangnya. Tinggal lagi mengungkap bagaimana caranya mereka
memperkuat sumber listrik itu, dan menghubungkannya dengan seluruh badan cakram yang pijar
oleh arus listrik. Setidaknya penulis telah mencoba menyodorkan salah satu ranting kecil dari
estimat teknologi yang terkandung didalam kekuatan piring terbang. Yang mungkin akan dapat
digunakan untuk menyambung suatu kesimpulan lain yang selama ini terputus.
Penulis sendiri telah berhubungan dengan puluhan para medium, atau melakukan pembicaraan
dibwah pengaruh hipnotys. Dan penulis juga pernah berdialog dengan roh-roh yang berada di
tingkat atas, tetapi soal jawab dengan Nenek Berbaju Renda dengan perantaraan Datuk Tuah,
yaitu yang paling mengagumkan, sebab memiliki argumentasi untuk dipertahankan. Penulis
bertambah yakin setelah mendengar bahwa Datuk Tuah sendiri oleh salah satu kegiatan di bawah
perdatam (perindustrian dan pertambangan) di zaman menteri-menteri Chairul Saleh. Datuk
Tuah pernah dibawa oleh salah satu kelompok staf ke beberapa gunung didaerah Sumatera Utara
dan Aceh, untuk mencari logan-logam yang ada setiap kaki pegunungan. Dan sebagian besar dari
petunjuk pak Datuk Tuah tentang sumber-sumber metal yang bermacam-macam itu diterakan
didalam sebuah peta khusus pertambangan di daerah Aceh dan Sumatera Utara. Tidak diketahui
bagaimana pelaksanaanya, tetapi yang jelas rombongan itu pernah berjanji akan membangun
rumah Datuk Tuah bila pelaksaan rencana penggalian metal-metal berharga itu telah dimulai.
Yang pasti lagi, sampai Datuk Tuah meninggal dunia pada Tanggal 16 Maret 1978, ia masih
berharapa agar rencana pertambangan metal-metal berharga itu terlaksana. Ketika ke Medan
pada bulan Juli 1978, penulis hanya sempat melihat pusarannya di Tg. Morawa dengan istri dan
lima orang anak yang ditinggalkannya. Dan kepada penulis para ahli warisnya menyerahkan dua
ujud yang tidak nampak, selain beberapa wasiat yang disampaikan dengan tulisan, sebelum
beliau wafat.
Sumber: Majalah Senang edisi No. 00408
Link terkait:http://gusmaulana.angelfire.com/penyelidikan.html
Yang pertama-tama tentu timbul pertanyaan: Apakah pantas penyelidikan tentang piring terbang
dilakukan dengan cara mistik? Adakah gunanya mempergunakan cara yang tidak selogis ilmu
pengetahuan untuk menyelidiki UFO yang menghebohkan sejak ribuan tahun yang lalu itu?
Dapatkah apa yang dibentangkan berita-berita yang dijangkau alam mistik melengkapi
penyelidikan ilmiah teknologi dewasa ini? Buku-buku sejarah resmi yang diajarkan di sekolah
dan di perguruan tinggi, tidak memuat hal-hal mistik yang pernah terjadi pada diri pahlawan
negara manapun. Karena buku sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah harus bersifat logis.
Sungguhpun kejadian-kejadian mistik tidak dapat dibantah dan sering terjadi pada diri beberapa
orang atau kelompok orang yang sedang berjuang membela kemerdaekaan bangsanya. buktinya
di dalam sejarah-sejarah perjuangan, sering terdengar ada yang kebal, tak mempan oleh senjata
yang terbuat dari logam. Apakah itu akan dibantah oleh tehnologi modern? Apakah juga akan
dibantah oleh sejarah-sejarah resmi? Apakah kesenian Aceh bernama DABUS yang
memperlihatkan kekebalan manusia kepada senjata terbuat dari logam, dan kesenian lain seperti
itu yang telah berumur ribuan tahun, dapat dibantah secara tehnologi modern?
Salah seorang ilmuwan yang rendah hati pernah mengungkapkan penyelidikan dengan jalan lain
itu sebagai berikut: ―Maafkan aku jika pada suatu ketika aku menangguk ilmu dari alam mistik
yang ada pada diriku. Alam mistik bukanlah alam akal, bukanlah alam ilmiah, tetapi tidak pula
berarti alam khayal. Kadang-kadang mistik itu setaraf dengan ilham atau setaraf dengan ilmu
murni, jika dapat diberikan argumentasinya.‖ Demikian ucapan Prof. Dr. Hazairin SH almarhum
dalam suatu tulisannya mengenai Ilmu Jagat Raya dalam bukunya Ajjamui Qur‘an.
Ucapan tersebut hampir tidak berbeda dengan pendapat Einstein: ―Sebahagian besar ilmu
pengetahuan itu yaitu kesan-kesan dari alam sekeliling yang dihayati oleh indera manusia, yang
kemudian dicernakan oleh akal pikiran. Tetapi ada lagi ilmu pengetahuan yang datang dengan
jalan lain. Yaitu langsung dari suatu petunjuk tertentu.‖
Sebagai misal yang tak dapat dibantah:a. Banyak orang yang sakit keras memperoleh petunjuk
obat dari dalam mimpi.b. Banyak pula yang karena keputus-asaan hidupnya, bersunyi diri
dengan suatu cara tersendiri untuk memperoleh petunjuk yang datang dengan jalan berbagai rupa
guna mengatasi keputus-asaan itu.c. Ada lagi dengan menempuh suatu cara peribadatan dalam
agama, yang dianutnya ataupun melakukan jalan lain untuk memperoleh petunjuk Tuhan, akan
memperoleh suatu jalan keluar dari kesulitan.
Dalam buku ―Menyingkap Rahasia Piring Terbang‖ oleh J. Salatun, disinggung bahagian khusus
mengenai tanggapan paranormal yang diterimanya dari Agusnain. Agusnain tidak menjawab
segala pertanyaan dengan secara langsung. Tetapi ia terlebih dahulu membuat suatu hubungn
dengan sinar alam malakut yang memenuhi jagat raya. Malahan dalam salah satu pertanyaan
Agusnain menyatakan belum masanya menjawab, karena jawaban yang diperolehnya dari alam
malakut itu belum jelas.
Antara lain jawaban Agusnain:a. Piring Terbang itu memang ada. Dan merupakan buatan
makhluk dari alam yang ada di jagat raya.b. Ketika ditanyakan dari mana asal makhluk piring
terbang itu, Agusnain mengatakan belum boleh dijawab oleh Yang Maha Kuasa.
Tetapi beberapa hari kemudian, ia mengatakan bahwa piring terbang itu datangnya dari salah
satu tatasurya yang berada dalam Galaxy bumi ini sendiri. Dan menurut Agusnain bintang asal
dari makhluk piring terbang itu memiliki beberapa nama dari ilmu Astronomi: Antara lain YC
5473, dengan arti Yale Catalogue. Bintang YC 5473 memiliki spektrum dari golongan A5,
yang berarti suhunya lebih tinggi (yaitu 11.000 derajat Celcius) dari matahari kita (5.000 derajat
Celcius).
Jauh bintang itu dari tata surya kita yaitu 203,7 tahun cahaya. Demikian antara lain jawaban
Agusnain sebagai seorang paranormal. Yang melaukan suatu cara tertentu, untuk melepaskan
kekuatan rohaniahnya ke jagat raya, dan menemukan jawaban yang sesuai dengan keizinan Yang
Maha Kuasa.
c. Seterusnya Agusnain menjawab, planet piring terbang memiliki matahari sendiri. Planitnya
lebih kecil dari bumi ini. Dan matahari mereka juga tampak lebih kecil. Warna langit di sana
kehitam-hitaman agak lembayung.Bentuk awan tak ada yang bergumpal-gumpal. Hanya ada
garis-garis tipis seperti serat-serat. Anehnya, walau siang hari bintang-bintang kelihatan dengan
jelas. Tak ada lautan, hanya danau-danau dan sungai kecil. Hujan, sedikit.
d. Tentang makhluk piring terbang, Agusnain mengatakan mereka jangkung (10' = 3 meter).
Berlengan panjang hampir sampai ke lutut. Tangan mereka juga memiliki lima buah jari.
Perawakannya agak serba kurus. Agusnain ―melihat‖ suatu dump yang terdiri dari tumpukan
piring terbang yang sudah dibuang.
Tulisan ini timbul bukan karena kelatahan demam piring terbang yang pada saat ini melanda
seluruh dunia. Tetapi merupakan hasil penyelidikan penulis selama 12 tahun lebih. Dari mencoba
gerakan cakram aluminium yang digasingkan dengan tali. Sampai kepada menimbang bobot
cakram itu sendiri dalam keadaan bergasing. Kemudian memikirkan, bagaimana menimbulkan
sumber listrik yang maha kuat untuk menggasingkan cakram itu dari dalam bangun bentuk
pesawat piring terbang mini. Dan untuk itu penulis juga berdialog dengan beberapa ahli elektro
dan mesin. Yang terakhir, penulis juga pernah mengunjungi LIPI bahagian Physika di Bangdung,
juga ke ITB Bandung. Selain berdialog dengan J. Salatun sendiri di LAPAN Jl. Pemuda persil I
Jakarta. Untuk melatar belakangi tulisan ini, sebagai suatu tulisan manusia berakal sehat yang
sederhana, penulis telah menulis ratusan judul tulisan misteri di majalah-majalah terkenal di
Jakarta. Dan menulis alam makrokosmos dan piring terbang di beberapa majalah dengan cara
beberapa kali sambung. Dan sebahagian dari tulisan itu telah dibukukan oleh beberapa penerbit.
Adakalanya terdapat ruang kejenuhan untuk melanjutkan penyelidikan. Terlebih lagi, karena
penulis bukanlah memiliki laboratorium teknologi yang dapat dijadikan tempat riset. Dan
penulis sendiri, ketika itu masih tinggal di Medan (Sumatera Utara).
Oleh karena itulah penulis terkadang berusaha juga mencari jalan lain yang dapat menambah
pengetahuan tentang data-data piring terbang. Seperti setiap orang yang merasakan kegagalan,
akhirnya lari kepada salah satu jalan lain untuk akhirnya lari kepada salah satu jalan lain untuk
meminta tuntunan meneruskan kegagalan itu. Penulis juga pernah berusaha berbuat seperti
Agusnain sebagai paranormal. Tetapi dengan cara yang berlainan. Sungguhpun arahnya juga
merupakan penyelidikan secara mistik terhadap kegiatan piring terbang. Penyelidikan ini bukan
pula karena adanya pengaruh dari luar, atau dibiayai oleh pihak tertentu, tetapi oleh karena
kesadaran sendiri sebagai makhluk Tuhan yang ingin menambah ilmu tentang makhluk-
makhlukNya yang bertebar di seluruh bumi dan langit.
Sehingga berapa besar tenaga pikiran dan waktu, tidak diperhitungkan lagi. Seolah-olah rumit
dan peliknya penyelidikan itu sudah menjadi racun yang membawa nikmat.
Pada tahun 1970 saya berkenalan dengan seorang laki-laki yang bernama Gerard Umar
Sitompul, tinggal di Jalan Sriwijaya, Medan. Perkenalan yang sangat menarik, karena beliau
termasuk salah seorang ahli metaphisis yang sesuai dengan kegairahan saya untuk mengenalnya
lebih dekat. Antara kami terdapat beberapa kecanduan tentang alam mistik, sehingga apabila
kami berbicara, legih syahdu dari pada sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang dimabuk
cinta. Yang mungkin sampai membuat para isteri kami menjadi cemburu kepada keasyikan
percakapan yang menyita sebahagian besar waktu kehidupan alam nyata. Bahkan menyita waktu
yang seharusnya dipergunakan untuk meningkatkan kesempurnaan rumah tangga.
Saya juga mengetahui Gerard Umar Sitompul memiliki seperti keris zaman kuno, yang
masing-masing memiliki nama-nama tertentu dengan kodrat tertentu. Di tengah rumah
terdapat sebuah stoples kaca yang berisi tujuh jeruk purut bercampur adukan air tertentu. Air itu
bagai mendidih sebagai tanda ada sesuatu yang akan datang.
Gerard Umar Sitompul mengatakan kepada saya, ia pernah mendengar ada orang tua hebat
tinggal di Tg. Morawa. Dia mengatakan juga bahwa rumah orang tua itu sering dikunjungi
orang-orang yang penting untuk memperoleh sesuatu secara gaib. Dan Gerard Umar Sitompul
menyatakan juga kepada saya, bahwa ia ingin mengunjungi orang tua itu bersama dengan saya,
Orang tua itu bernama Datuk Tuah, tinggal di Tg. Morawa Kanan.
Pada suatu hari Kamis sore aku berangkat bersama Gerard Umar sitompul membawa 21 batang
lilin panjang, tiga bungkus rokok tanpa filter dan kemenyan putih.
***
Di sekeliling ruangan menyala 21 batang liling yang kami bawa tadi. Datuk Tuah mulai
membereskan sebuah bangku panjang, dan mengalasnya dengan sebuah permadani yang bagus
warnanya. Kemudian menaburkan kemenyan di atas bara dupa. Ia pergi sesaat ke kamar
tersendiri untuk melakukan ibadat.
Kemudian keluar membawa sebuah Al Qur‘an. Kemudian Dt. Tuah memiringkan kepalanya ke
arah bangku panjang, bagai mendengar ucapan gaib yang tidak terdengar oleh kami berdua.
Hanya terdengar ucapan Dt. Tuah sendiri, antara lain,‖Alaikum salam... dan terima kasih atas
kedatangan Nenek Baju Berenda dan Bergelang kaki, bersama dengan seluruh pengiring yang
tujuh orang. ―Kemudian, janganlah nenek kesal karena himbauan ini. Karena bertahun-tahun
yang lalu hamba malah menolak pekerjaan ini. Terutama karena hamba menganggap akan
mengganggu kepada cara hamba mencari rezeki. Tetapi karena nenek katakan, bahwa pekerjaan
seperti ini juga termasuk ibadat menolong sesama manusia, makanya hamba lakukan juga.
Hanya permintaan hamba, janganlah nenek memberikan jawaban dari pertanyaan yang tak
terjawab. Lebih baiklah nenek katakan saja tak mengetahuinya. Janganlah nenek terlibat dengan
kata dusta, karena hamba yang nyata di mata orang banyak yang akan merasakan malunya.
Sedangkan nenek dapat menghindar karena tak nampak oleh mata kasar manusia.‖
Demikianlah antara lain ucapan Dt. Tuah kepada Nenek Baju Berenda dan Bergelang kaki.
Sejenak kami berhenti, karena waktu telah masuk magrib. Dt. Tuah menerangkan bahwa si
Nenek sedang pergi ke belakang melakukan ibadat, dan meninggalkan pesalinan yang
dipakainya di atas tempat ia duduk. Sungguhpun segalanya tidak terlihat oleh kami, peristiwa
gaib itu bagai benar-benar sedang terjadi di dalam rumah. Terasa sekali bukan kami bertiga saja
berada di dalam ruangan itu. Setelah lewat magrib barulah hubungan dengan Nenek Baju
berenda diteruskan. Kelihatan Dt. Tuah sangat hati-hati menyimak suara dari arah bangku
berlapis permadani lebar. Sejenak Dt. Tuah mengangguk-angguk kecil bagai memahami sesuatu
yang tidak terdengar oleh saya dan Gerard Umar Sitompul.
Setiap selesai mendengar ia berpaling kepada kami dan berkata,‖Nenek mengatakan bahwa anak
yang berperawakan kecil, sebagai orang berketopong besi. Sampai beberapakali saya bertanya
kepada nenek, takut dugaan nenek salah bunyinya. Karena anak datang kemari tidak memakai
apapun di atas kepala, ― ujar Dt. Tuah. Sedangkan kami berdua jadi berpandangan mendengar
ucapan nenek baju berenda yang menggelari diriku sebagai orang berketopong besi tembaga.
Kemudian Dt. Tuah bagai mendengarkan lagi ucapan nenek baju berenda dengan penuh
perhatian dengan kesopanan gerak gerik, yang kemudian diiringkan Dt. Tuah dengan ucapan
perlahan,‖ Apakah tidak salah yang nenek katakan....... Karena hampir tak ada hubungan apapun
antara anak yang berperawakan kecil ini dengan apa yang nenek tuduhkan kepadanya. Jadi......
harus hamba katakan juga? Tidakkah terdapat dusta didalamnya? Atau sekedar menyenangkan
perasaan hati anak-anak yang datang ini? Tersentak sesaat Dt. Tuah bagai menerima kepastian
kata yang keras. Kemudian Dt. Tuah mengangguk dan berkata,‖Baiklah kalau begitu, akan
hamba katakan juga, karena hamba hanya meneruskan apa yang nenek tinjau ditengah alam
gaib‖.
Dt. Tuah memalingkan mukanya kearahku dan matanya bagai menebak-nebak bagaimana
penerimaanku terhadap ucapan yang akan disampaikannya,‖ Apakah anak sedang memikirkan
sejenis kendaraan besi?‖ Pertanyaan itu segera mengejutkan aku. Gerard Umar Sitompul juga
terperangah karena tebakan yang begitu tepat dari nenek baju berenda kepada diriku. Saya
termangu sesaat. Kemudian menjawab, bahwa saya hanya pernah dan sampai saat ini masih
memikirkan tentang piring terbang. Kembali Dt. Tuah menyampaikan saya kepada nenek baju
berenda. Yang kemudian dikembalikan pula oleh nenek itu dengan perkataan,‖ Yang anak
pikirkan yaitu sejenis pesawat terbuat dari besi dan tembaga‖. Gerard Umar Sitompul tiba-tiba
menyambung pertanyaan dengan tenangnya,‖ Bagaimana ada pesawat yang terbuat dari ‗besi‘
dan ‗tembaga‘ akan dapat terbang? Sedangkan pesawat terbang sekarang yang terbuat dari
aluminium ringan saja, menemui banyak kesulitan untuk mencapai kecepatan‖. Perkataan Gerard
Umar Sitompul yang menyudutkan itu diteruskan oleh Dt. Tuah kepada nenek baju berenda.
Sesaat pula lamanya Dt. Tuah menyimak jawaban halus yang sampai ke telinga batinnya.
Kemudian Dt. Tuah terlebih dahulu menyampaikan bahwa nenek baju berenda sedang pergi
kebelakang rumah mensucikan diri, karena soal jawab ini banyak menguras tenaganya untuk
mencapai alam tingkat tinggi.
―Aduh, ―keluh Dt. Tuah,‖baru kali ini hamba kedatangan tamu yang seperti ini. Biasanya orang
hanya meminta petunjuk tentang barang-barang yang hilang, ataupun obat untuk tangkal
penyakit. Hamba sendiri tak pernah keluar dari rumah, jangankan akan bepergian sampai ke
Medan. Dan hamba sedikitpun tak mengerti apa yang anak-anak pikirkan mengenai pesawat
yang hamba sendiri belum pernah melihatnya, selain dari pesawat terbang biasa yang terkadang
menderu tinggi dari tempat tinggal kami ini.‖ Dt. Tuah kelihatan membalik-balik tujuh lembar
kitab suci sebanyak tiga kali, dan memperhatikan aksara pertama dari setiap lembarnya.
―Kalau dilihat disini, didalam perkataan nenek tadi tidak terdapat dusta ataupun khayal. Tetapi
seperti pertanyaan anak yang besar (maksudnya Gerard Umar sitompul) bagaimana besi dan
tembaga dapat terbang, sungguh harus dipikirkan juga‖. Dt. Tuah menggeleng-geleng karena
takjub. Kami mendapat aba-aba, bahwa Nenek baju berenda telah duduk kembali, dengan wajah
dan anggota badannya masih basah, menurut pandangan Dt. Tuah. Baiklah di bawah ini
diturunkan saja soal jawab singkat dengan nenek baju berenda, agar lebih terarah kepada yang
dimaksud.
Pertanyaan:‖Kekuatan apakah yang menerbangkan pesawat besi tembaga itu?‖
Jawab:‖Dengan kekuatan yang terkandung didalam besi dan tembaga itu
sendiri‖.Pertanyaan:‖Bagaimanakah sebenarnya bentuk piring terbang itu?‖
Jawab:‖Sebenarnya ada dua macam saja, yang pipih seperti piring penadah gelas kopi dan bulat
panjang seperti labu‖.
Tanya:‖Bagaimanakah bentuk dan gerakan piring terbang itu?‖
Jawab:‖Ia berputar seperti gerak putaran Al-Arsyh (tapak istana kerajaan Tuhan) yang arahnya
seperti gerak orang naik haji thawaf mengelilingi Ka‘bah.
Dalam kesempatan sebentar kami membicarakan gerak bergasing dari pesawat piring terbang itu.
Diikuti juga oleh Dt. Tuah yang kelihatannya mulai berperhatian besar terhadap soal jawab kami
dengan nenek baju berenda.
Tanya:‖Makhluk apakah yang mengendalikan piring terbang itu?‖
Jawab:‖Mereka makhluk kasar biasa. Tetapi bukan manusia yang hidup di muka bumi. Mereka
dari salah satu bintang lain. Tetapi tempat mereka menetap ada di atas bumi ini‖.
Tanya:‖Di mana mereka tinggal berkumpul?‖
Jawab:‖Di bawah air‖.
Akhirnya barulah Dt. Tuah mendapat penjelasan, bahwa makhluk piring terbang itu membuat
tempat tinggalnya jauh di dasar laut.
Tanya:‖Laut di arah mana?‖
Jawab:‖Arah Maghrib.......yang terdalam, yang ada jurang di dasarnya‖.
Sayangnya ketika soal jawab ini terjadi, tidak ada atlas dunia yang dapat disodorkan kepada Dt.
Tuah, agar ia dapat menerima penjelasan yang pasti dari Nenek Baju berenda. Dan ketika soal
jawab ini terjadi, saya sendiri belum mengetahui legenda tentang segitiga Bermuda. Hanya
dongeng tentang Benua Atlantis yang hilang, yang pernah saya baca dari beberapa risalah.
Sekitar awal tahun 1975 ketika berada di Jakarta, barulah perihal Segitiga Bermuda itu saya
dengar dan baca dari beberapa buah buku. Dan tentang pesawat satu bacaan DABUS Iqra-timah,
Amri-tembaga, Hammarullah-besi, Shod-nyawamu besi. Maka karena itu menyusul pertanyaan
lain kepada Nenek Baju berenda:
Tanya: ―Apakah ada bahan cair lain yang digunakan Piring Terbang?‖
Jawab: ―Tidak ada bahan cair, hanya timah sebagai kekuatan ke tiga‖.
Mendengar jawaban itu tiba-tiba pikiran saya teringat kepada soal jawab yang tertulis di dalam
buku ―Menyingkap Rahasia Piring Terbang‖ oleh J. Salatun, yang diantaranya berisi soal jawab
antara J. Salatun dengan Agusnain secara paranormal. Ketika diajukan pertanyaan kepada
Agusnain dari bahan apa dan bagaimana piring terbang itu dibuat, dijawab oleh Agusnain: Piring
terbang itu dibuat dari suatu paduan logam yang belum dikenal dibumi, dan dibuat dengan cara
mengecor. Paduan logam piring terbang itu memiliki sifat-sifat tertentu tetapi hanya untuk
suatu jangka tertentu. Sesudah jangka itu, paduan tadi kehilangan sifat-sifatnya sehingga piring
terbang tidak dapat dipakai lagi dan dibuang di sebelah dunia ―, itulah jawaban Agusnain.
Jawaban itu nampak hampir tidak berarti apa-apa jika dilihat sepintas lalu. Tetapi jika
dihubungkan dengan tinjauan Dt. Tuah dengan perantaraan Nenek Baju berenda, jawaban itu
bagai saling menunjang.a. Bukan tidak mungkin salah satu paduan itu terdiri dari besi magnit
yang telah kehilangan kekuatan kutub magnit, seperti keadaan besi magnit di dalam sebuah
dinamo sepeda, atau dinamo sebuah mobil










