agai jenis latihan dalam praktek ini dimaksudkan untuk
memanfaatkan energi, yang dalam dunia hewan dikaitkan dengan seks, dalam pengembangan
kecerdasan dan kekuatan supernormal.
203
Praktis, para pakar dalam ajaran ini yaitu para lhama dari sekte Dzogschen.
Kembali, beberapa siswa tertentu dianjurkan untuk merenungkan langit dan terkadang diharuskan
untuk membatasi diri mereka untuk melakukan latihan ini saja. Sebagian berbaring terlentang di
alam terbuka, agar dapat menatap langit tanpa ada objek lain dalam pandangannya. Dikatakan
bahwa kontemplasi ini, dan ide-ide yang dibangkitkannya, dimaksudkan untuk menuntun ke
keadaan dimana pikiran akan diri sendiri itu terlupakan, dan merasakan penyatuan dengan alam
semesta yang tak terkatakan.
Pada dasarnya semua lhama menyetujui manfaat dari sebagian besar praktek latihan yang berseni
dan agak ganjil ini. Namun demikian, jika kita membaca tulisan-tulisan tentang latihan-latihan itu,
atau saat kita mendengarkan penjelasan lisan dari beberapa guru mistik, tak jarang kita akan
merasakan sebuah ketidaksabaran yang ditahan-tahan. Guru yang sedang mengajari kita seakan
berkata: Benar, semua itu memang diperlukan, bahkan sangat dibutuhkan oleh sebagian besar
para pemula, namun semua itu hanyalah latihan awal, hasil akhirnya berada di suatu tempat. Mari
kita bergegas dan akhiri proses persiapan ini.
Metode sederhana berikut ini lebih mendekati hasil akhir ini ; pada tingkat tertentu cara
kerjanya lebih mudah dimengerti.
Sang guru memerintahkan siswanya untuk mengurung dirinya dalam tsams dan bermeditasi
dengan mengambil Yidamnya (dewa pelindung) sebagai objek kontemplasinya.
Sang siswa tinggal dalam penyepian yang keras, memusatkan pikirannya pada sang Yidam,
membayangkannya dalam wujud dan bentuk sebagaimana yang tertulis dalam artikel -artikel dan diukir
dalam patung-patung. Membaca mantram-mantram khusus dan menggambar sebuah kyilkhor
yaitu bagian dari latihan yang bertujuan untuk membuat Yidam muncul di hadapan orang yang
memujanya itu. Setidaknya, demikianlah yang dipaparkan sang guru pada siswa pemulanya.
Sang siswa menghentikan kontemplasinya pada saat makan yang diwajibkan[165] dan selama waktu
tidur yang cukup singkat. Sering kali sang penyepi itu tidak berbaring, hanya tidur-tiduran di salah
satu gomti sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab terdahulu.[166]
Bulan dan bahkan tahun-tahun berlalu dengan cara yang demikian. Dalam beberapa kesempatan
sang guru akan bertanya tentang kemajuan siswanya. Pada akhirnya tiba juga hari dimana siswa
baru itu memberitahu gurunya bahwa ia telah memetik buah latihannya: Sang Yidam telah muncul.
Sesuai peraturan, pemunculan itu hanyalah samar-samar dan sesaat saja. Sang guru menyatakan
itu yaitu kesuksesan dari sebuah usaha, namun masih belum merupakan sebuah hasil yang pasti.
Si siswa dianjurkan untuk kembali menikmati waktu yang lebih panjang dengan sahabat
keramatnya yang merupakan pelindungnya.
Naljorpa baru itu hanya mampu menyetujui, dan melanjutkan usahanya. Waktu yang panjang
kembali berlalu. Lalu, sang Yidam akhirnya ‘selesai’ – jika aku boleh menggunakan istilah itu. Dia
berdiam di dalam tsams khang dan siswa itu melihatnya senantiasa hadir di tengah kyilkhor.
“Ini sangat bagus,” jawab gurunya saat ia memberitahukannya tentang hasil yang ia peroleh,
“namun kamu harus berusaha lebih keras lagi. Kamu harus berusaha dalam meditasimu hingga
kamu mampu menyentuhkan kepalamu di kaki sang Yidam, hingga ia memberkatimu dan
berbicara padamu.”
Meskipun tahap-tahap awal membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memberikan hasil, namun
mereka itu masih dianggap sebagai bagian yang termudah dari keseluruhan proses. Yang berikut
204
ini lebih sulit lagi untuk dicapai, dan hanya segelintir pemula yang berhasil melaksanakannya.
Para siswa yang berhasil ini melihat sang Yidam seolah hidup. Mereka benar-benar merasakan
sentuhan kakinya kala mereka meletakkan kepala di atasnya untuk bersujud, mereka merasakan
bobot tangannya kala ia memberkati mereka. Mereka melihat matanya bergerak, bibirnya terbuka,
ia berbicara…dan lho! Ia melangkah keluar dari kyilkhor dan berjalan di dalam tsams khang.
Ini yaitu saat yang berbahaya. Jika para setan dipanggil dengan cara demikian, mereka tidak
boleh dibiarkan keluar dari kyilkhor, yang dinding gaibnya akan menahan mereka seperti seorang
tahanan. Jika membebaskan mereka pada saat yang tidak tepat, mereka akan membalas dendam
pada orang yang telah memaksa mereka memasuki lingkaran yang seperti penjara itu. Namun,
Sang Yidam, meskipun penampilannya mungkin menyeramkan dan kekuatannya sangat ditakuti,
tidaklah berbahaya sebab orang yang menyepi itu telah memenangkan hatinya. Maka, ia boleh
saja bergerak kemana pun yang ia suka di dalam tempat pertapaan itu. Bahkan lebih baik jika ia
mau melewati pintu dan berdiri di alam terbuka. Mengikuti anjuran gurunya, siswa itu harus mencari
tahu apakah sang dewa bersedia menemaninya saat ia melangkah keluar.
Bagian ini yang paling sulit dari bagian-bagian sebelumnya. Kasat mata dan nyata di dalam
pertapaan yang remang-remang ditemani wewangian dupa, dimana pengaruh-pengaruh psikis
yang lahir dari pemusatan pikiran yang panjang tengah bekerja; akankah wujud sang Yidam
bertahan dalam lingkungan yang berbeda dibawah terpaan sinar matahari, terbuka kepada
pengaruh-pengaruh yang bukannya mendukung malah cenderung bertindak sebagai faktor
pemusnah?
Penyeleksian yang baru terjadi di kalangan para siswa. Kebanyakan Yidam menolak untuk
mengikuti pemujanya ke alam terbuka. Mereka bersikukuh di sudut-sudut yang gelap dan kadang
merasa marah dan menuntut balas terhadap percobaan tidak sopan yang melibatkan mereka.
beberapa kecelakaan ganjil menimpa beberapa pertapa, namun yang lain berhasil melewatinya dan
kemanapun mereka pergi, sang pelindung yang mereka puja akan menemani.
“Kamu telah mencapai hasil yang diharapkan,” kata sang guru kepada siswanya yang tengah
bergembira. “Saya tak memiliki ilmu lain lagi untuk kuajarkan kepadamu. Kamu telah memperoleh
bantuan seorang pelindung yang lebih agung dibandingkan ku.”
Siswa-siswa itu pun berterima kasih kepada sang lhama dan dengan berbangga hati kembali ke
biara mereka atau membangun sebuah pertapaan dan menghabiskan sisa hidupnya bermain-main
dengan ‘hantu’ mereka.
Sebaliknya, yang lain dengan tubuh gemetar memendam rasa bersalah bersujud di kaki guru
mereka dan mengakui kesalahan mereka… Keraguan terlebih dahulu telah menguasai pikiran
mereka yang meskipun dengan usaha yang keras tak jua mampu mereka kendalikan. Saat berada
di hadapan Yidam, bahkan saat ia berbicara dengan mereka atau saat mereka menyentuhnya,
pikiran bahwa mereka merenungkan phantasmagoria belaka yang merupakan ciptaan pikiran
mereka sendiri, timbul dalam diri mereka.
Sang guru tampak terpukul dengan pengakuan ini. Orang yang tidak percaya itu harus kembali ke
tsams khang dan memulai latihannya kembali dari awal agar dapat menaklukkan keraguannya,
sikap tidak berterima kasihnya kepada Yidam yang telah membantunya.
Sekali disia-siakan, maka kepercayaan akan jarang memperoleh pijakan yang kuat kembali. Jika
rasa hormat yang tinggi yang diberikan orang-orang Timur kepada guru religius mereka tak mampu
mengendalikan diri mereka, maka para siswa yang ragu-ragu ini akan mengalah pada godaan
205
untuk melepaskan kehidupan religius mereka, dan latihan panjang mereka akan berakhir dalam
materialisme. Namun hampir semua dari mereka mampu bertahan, sebab meskipun meragukan
realitas Yidam mereka, namun mereka tak pernah meragukan kebijaksanaan guru mereka.
sesudah beberapa waktu, siswa itu kembali memberikan pengakuan yang sama. Namun kali ini
bahkan lebih positif dari yang pertama. Tidak ada lagi masalah tentang keraguan; dia telah
sepenuhnya merasa yakin bahwa Yidam dihasilkan oleh pikirannya dan tidak ada keberadaan
apapun selain dari yang telah ia pinjamkan padanya.
“Memang itulah yang harus kamu sadari,” sang guru berkata padanya. “Para dewa, setan, seluruh
alam semesta, hanyalah sebuah ilusi yang berada dalam pikiran, ‘timbul darinya dan tenggelam ke
dalamnya’.”[167]
206
BAB DELAPAN
207
FENOMENA PSIKIS DI TIBET – BAGAIMANA ORANG TIBET
MENJELASKANNYA
Pada bab terdahulu aku telah menyinggung beberapa kejadian yang dapat digolongkan sebagai
fenomena psikis. Mungkin bermanfaat jika subjek ini diangkat kembali, sebab di luar negaranya,
Tibet populer sebagai negeri bertabur keajaiban, ibarat sebuah padang rumput yang dipenuhi
bunga-bunga liar.
Apapun yang dipikirkan orang tentang hal itu, kejadian-kejadian aneh bukanlah suatu hal yang lazim
terjadi di Tibet, dan alangkah baiknya jika diingat, bahwa observasi-observasi yang kurangkum
dalam beberapa lembar halaman merupakan hasil penelitian yang berlangsung lebih dari sepuluh
tahun.
Pesona yang dipancarkan Tibet sebagai sebuah tempat berkumpulnya para orang suci dan ahli
ilmu gaib sudah berlangsung sejak dahulu kala. Bahkan sebelum masa Buddha, orang-orang India
sangat menghormati dan mengagumi pegunungan Himalaya, dan demikian banyak kisah-kisah
tentang negeri utara misterius yang terselubungi awan, yang terbentang di balik puncak-puncak
gunung mereka yang senantiasa bersalju dan memancarkan keagungan.
Orang-orang Cina kelihatannya juga sangat terkesan dengan kemisteriusan negeri liar Tibet. Di
antaranya, dalam legenda filosofer mistik besar mereka Laotze, dikisahkan bahwa pada akhir karir
panjangnya, sang guru menunggang seekor lembu jantan menuju ke arah tanah misterius itu,
melewati perbatasannya, dan tak pernah kembali. Hal yang sama juga terjadi pada Bodhidharma
dan beberapa siswa Cinanya, para pengikut sekte Buddhis tentang meditasi (sekte Ts’an).
Bahkan saat ini pun kita sering menjumpai para peziarah India tengah dalam perjalanan ke arah
perbatasan untuk memasuki Tibet, menyeret langkah yang jauh laksana mimpi; kelihatannya
terhipnotis, oleh visi yang berlebihan. saat ditanya tentang motif perjalanan mereka, kebanyakan
hanya bisa menjawab bahwa mereka berharap dapat menghembuskan nafas terakhir di tanah
Tibet. Dan sering pula, iklim yang dingin, tempat yang sangat tinggi, kelelahan, dan kelaparan
membantu mereka mewujudkan keinginannya.
Bagaimana kita menjelaskan daya tarik yang ada di Tibet?
Tak dipungkiri lagi bahwa reputasi yang dimiliki ‘Negeri Bersalju’ ini sebagai negeri yang dipenuhi
ahli-ahli sihir dan kebatinan, tempat dimana keajaiban terjadi setiap hari, merupakan daya tarik
utama bagi para pemujanya. Namun kita mungkin bertanya apa alasan yang membuat Tibet terpilih
sebagai tempat bagi ilmu-ilmu gaib dan fenomena supernormal?
Alasan yang paling jelas yaitu mungkin, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sebab letak
negeri ini yang sangat terpencil, dikelilingi deretan pegunungan yang amat mengagumkan dan
gurun-gurun pasir yang maha luas.
Orang-orang yang terpaksa mengabaikan impian-impian mereka sebab tidak sejalan dengan
lingkungan sekitarnya yang mungkin kaku dan membosankan, akan cenderung berkeinginan untuk
mewujudkannya di sebuah negeri impian mereka. Sebagai pilihan terakhir, mereka pun
membangun taman-taman di surga dan alam dewa-dewi sebagai tempat berlabuh mimpi siang
bolong mereka itu. Namun seberapa besarkah kesempatan mereka untuk mewujudkannya di
sebuah tempat di dunia yang sebenarnya? Tibet menawarkan kesempatan ini. Ia memiliki semua
kondisi yang disyaratkan sebagai negeri impian. Kurasa tak berlebihan bila kukatakan bahwa
208
pemandangan alamnya, dengan segala hormat, melampaui semua imajinasi orang-orang yang
pernah mengkhayalkan dunia para dewa dan setan.
Tak ada gambaran yang dapat mengungkapkan kedamaian yang agung, keindahan yang
menentramkan, alam liar yang mengagumkan, daya tarik yang luar biasa dari pemandangan alam
Tibet.
Sering kali, saat berjalan melintasi tempat yang tenang ini, kita seolah merasa menjadi seorang
pengganggu. Secara tak sadar kita pasti akan memperlambat langkah, merendahkan suara, dan
ucapan maaf atas kelancangan kita sudah ada di ujung lidah, siap untuk diutarakan segera jika
bertemu seorang maha guru yang tanahnya sedang kita tapaki itu.
Para penduduk desa dan penggembala Tibet, sebab terlahir di tengah-tengah lingkungan yang
demikian, menjadi sangat terpengaruh. Pikiran primitif mereka, menerjemahkan kesan-kesan
mereka ke dalam wujud para malaikat dan roh-roh yang ratusan jenisnya yang menyesaki wilayah
Tibet, yang mana tingkah laku aneh mereka menjadi sumber cerita rakyat yang tak habis-habisnya.
Dengan kata lain, sebagaimana para gembala Chaldean di masa lalu mengamati langit yang
berbintang di tepi sungai Efrat, yang lalu meletakkan dasar ilmu perbintangan, maka para pertapa
Tibet bersama dengan para shaman telah lama merenungkan misteri gaib negeri mereka dan
memperhatikan fenomena mana yang menemukan tempat paling sesuai di sana. Sebuah seni yang
aneh terlahir dari kontemplasi mereka, dan sejak berabad-abad yang lalu, para pakar ilmu gaib dari
tanah Transhimalaya utara itu telah dikenal orang dan memiliki reputasi tinggi di India.
Sekarang, terlepas dari letaknya yang terpencil, Tibet bukanlah sama sekali tidak dapat dimasuki.
Hal ini sudah kubuktikan sendiri. Beberapa kali aku berhasil mencapai dataran utaranya melalui
beberapa jalan yang berbeda, melakukan perjalanan selama bertahun-tahun di propinsi-propinsi
timurnya dan Changthang[168] sebelah utara, dan dalam perjalanan terakhirku, aku melintasi seluruh
negeri itu dari perbatasan sebelah tenggara hingga ke Lhasa. Semua orang, lelaki atau
perempuan, yang kuat menghadapi kesukaran dapat melakukan hal yang sama, masalahnya
yaitu kebijaksanaan politik pemerintahnya yang menutup Tibet.
Dapat dipastikan bahwa, khususnya sejak masuknya Buddhisme, beberapa orang India, Nepal,
Cina, dan pengelana lain yang telah mengunjungi Tibet, melihat keindahan alamnya yang
mengagumkan dan mendengar tentang kekuatan supernormal terutama dubtobsnya yang amat
dibanggakan. Mungkin ada beberapa diantaranya yang berhasil menemui para lhama atau para
ngagspa Bönpo dan mendengarkan doktrin-doktrin mistik dari para pertapa kontemplatif. Kisah-
kisah para pengelana ini, kemudian beredar dan bergema kuat bersamaan dengan beberapa
faktor yang telah kukemukakan, yang lalu memberikan kontribusi besar dalam menciptakan
atmosfir Tibet yang megah sebagaimana yang dikenal sekarang.
Lalu, haruskah kita menyimpulkan bahwa Tibet sebagai negeri bertabur keajaiban hanyalah
sebutan yang berdasarkan delusi? Kesimpulan seperti ini akan menjadi sebuah kesalahan besar
seperti halnya meyakini sesaat semua dongeng-dongeng lokal yang beredar, atau hal-hal yang
sesudah sekian lama baru dipahami oleh beberapa orang Barat yang tidak serius.
Jalan terbaik yaitu dengan mendengarkan pendapat orang Tibet sendiri, yang agak mengejutkan,
berkaitan dengan kejadian-kejadian yang menakjubkan ini . Tak seorang pun di Tibet yang
menyangkal bahwa kejadian-kejadian aneh itu memang benar adanya, namun mereka tidak
menganggapnya sebagai keajaiban, yang menurut istilah Barat merupakan kejadian-kejadian
supernatural.
209
Lagi pula, orang Tibet tidak mengenal adanya unsur supernatural. Apa yang disebut keajaiban,
menurut mereka, yaitu hal-hal yang selazim kejadian sehari-hari, yang tergantung pada orang-
orang cakap dalam menangani apa yang disebut hukum dan kekuatan yang hanya diketahui sedikit
orang.
Semua kenyataan, yang di negara lain disebut keajaiban, ataupun yang diperkirakan sebagai hasil
campur tangan dari makhluk-makhluk dunia lain, dianggap oleh para pakar ilmu tradisional rahasia
Tibet (secret lore)[169] sebagai fenomena psikis.
Secara umum, fenomena psikis dibagi orang Tibet dalam dua kategori.
1. Fenomena yang dihasilkan secara tidak sadar oleh satu ataupun beberapa orang. Dalam
hal ini, si pelaku – atau para pelaku – fenomena ini bertindak secara tidak sadar, sangat jelas di
sini bahwa ia tidak sedang mengharapkan suatu hasil tertentu.
2. Fenomena yang dihasilkan secara sadar, dengan mengharapkan suatu hasil tertentu. Ini
biasanya – namun tidak selalu – merupakan hasil kerja dari satu orang.
‘Orang’ ini bisa berupa seorang manusia atau mereka yang termasuk ke dalam keenam
kelas makhluk berkesadaran yang dinyatakan kaum lhamais berada di dunia kita.[170] Siapapun
pelakunya, fenomena itu dihasilkan dengan proses yang sama, menurut hukum-hukum alam yang
berlaku: tidak ada yang disebut keajaiban.
Kiranya cukup menarik jika ditambahkan disini bahwa orang-orang Tibet yaitu orang-orang yang
berpendirian teguh. Setiap niat atau kehendak, mereka yakini, dibawa oleh beberapa sebab, yang
bisa dari dekat maupun dari tempat yang amat jauh.
Aku tak akan membahas masalah itu lebih lanjut sebab di luar subjek yang kita bahas. Namun
demikian, orang yang membaca artikel ini harus senantiasa mengingat bahwa menurut orang Tibet,
setiap fenomena, yang ditimbulkan secara sadar maupun tidak, seperti juga halnya setiap tindakan
fisik maupun mental, merupakan akibat dari beragam sebab yang berkombinasi.
Diantara sebab-sebab ini, yang terutama dan yang paling jelas terlihat yaitu sebab-sebab yang
telah muncul dalam pikiran si pelaku, yakni keinginan yang disadari saat melakukan hal ini .
Orang-orang Tibet menganggap sebab-sebab ini sebagai hal yang menggerakkan beberapa
kekuatan yang membuatnya melaksanakan aksi itu. Hal-hal ini disebut gyu, ‘sebab utama atau
segera’. Lalu ada yang disebut sebab-sebab luar, yang bukan berasal dari si pelaku, yang mampu
menyempurnakan aksi itu, yang disebut kyen.[171]
Sebab-sebab yang jauh sering diwakili oleh para ‘anak cucu’[172] mereka. ‘Anak cucu’ ini yaitu
kondisi-kondisi saat ini yang timbul akibat perbuatan secara fisik atau mental yang telah dilakukan
di masa lalu, namun tidak harus dilakukan oleh diri si pelaku yang saat ini.
Maka, saat konsentrasi pikiran-pikiran yang akan ditunjukkan di bawah ini dianggap sebagai akibat
langsung dari sebuah fenomena, maka kita harus mengingat bahwa pertama, menurut kaum mistik
Tibet, konsentrasi ini tidaklah spontan, melainkan direncanakan, dan kedua, bahwa disamping
sebab langsung ini, di latar belakangnya terdapat sebab-sebab pendukung yang sama pentingnya
dalam menghasilkan fenomena ini .
Rahasia dari latihan psikis, sesuai pemikiran orang Tibet, terletak dalam pengembangan kekuatan
dalam memusatkan pikiran yang bahkan bisa jauh melampaui mereka yang secara alamaih
memiliki bakat yang hebat dalam bidang ini.
210
Para guru mistik menyatakan bahwa dengan pemusatan pikiran, dapat dihasilkan gelombang-
gelombang energi yang bisa digunakan dalam berbagai cara. Istilah ‘gelombang’ ini berasal dariku.
Aku menggunakannya hanya untuk memperjelas dan juga sebab , seperti yang akan pembaca lihat
sendiri, kaum mistik sebenarnya mengakui adanya beberapa ‘aliran-aliran’ atau ‘gelombang-
gelombang’ kekuatan. Namun mereka hanya menyebutnya sebagai shugs atau tsal[173], yang artinya
‘energi’. Energi itu, mereka yakini, dihasilkan setiap kali sebuah aksi fisik ataupun mental
berlangsung. – Aksi melalui pikiran, ucapan, dan anggota tubuh, sesuai klasifikasi umat Buddha. –
Hasil dari fenomena psikis bergantung pada kekuatan dari energi ini dan tempat dimana ia
diarahkan.
Sebuah objek dapat diisi oleh gelombang-gelombang ini. Ia lalu menjadi sesuatu yang mewakili
kumpulan kekuatan kita, dan ia dapat memberikan kembali, dengan satu cara atau yang lain, energi
yang disimpan di dalamnya. Misalnya, ia dapat meningkatkan vitalitas seseorang saat
menyentuhnya, mengalirinya dengan keberanian, dsb.
Praktek-praktek yang didasarkan pada teori ini dan dimaksudkan untuk memperoleh
keberuntungan yaitu hal yang umum di Tibet. beberapa lhama menyediakan pil-pil, air suci,
selendang yang diikat, jimat kertas atau kain, yang dianggap dapat memberikan kekuatan dan
kesehatan, ataupun menjauhkan bencana, roh jahat, para perampok, peluru, dan sebagainya.
Untuk memberikan pengaruh yang baik pada suatu benda, sang lhama haruslah menyucikan dirinya
dengan melakukan diet tertentu dan kemudian memusatkan pikirannya pada benda yang hendak ia
beri kekuatan ini . Persiapan itu kadang memakan waktu beberapa minggu atau beberapa
bulan. Namun jika untuk memberkahi selendang-selendang, biasanya proses mengikat dan
menyucikannya hanya memerlukan waktu beberapa menit.
Energi yang dikomunikasikan dengan sebuah objek, memberikan semacam kehidupan padanya.
Benda yang tak bernyawa ini menjadi mampu bergerak dan melaksanakan perintah sang
tuan.
Para ngagspa dikatakan memilih cara ini untuk melukai atau membunuh tanpa menimbulkan
kecurigaan bahwa mereka yang bertanggung jawab atas kejadian itu.
Berikut yaitu ringkasan dari apa yang dilakukan oleh si ngagspa.
Ia membawa sebuah objek yang akan ia hidupkan – katakanlah sebilah pisau yang hendak
digunakan untuk membunuh seseorang – lalu ngagspa ini mengurung dirinya dalam sebuah
penyepian yang memakan waktu beberapa bulan. Selama waktu itu ia duduk, memusatkan
pikirannya pada sebilah pisau di hadapannya, dan berusaha memindahkan niatnya untuk
membunuh orang tertentu yang kematiannya telah ia rencanakan, kepada benda yang tak bernyawa
itu.
Berbagai ritual sering dilaksanakan berkaitan dengan pemusatan pikiran sang ngagspa. Ini
dimaksudkan untuk menambah energi yang mampu ia hasilkan dan pindahkan kepada pisau
ini . Makhluk-makhluk yang dianggap berkekuatan lebih hebat dari ngagspa itu diajak bekerja
sama dengan sukarela ataupun dengan paksaan untuk mengalirkan energi mereka kepada senjata
itu.
Makhluk-makhluk ini biasanya yaitu dari jenis yang jahat, namun dalam kasus dimana
pembunuhan dianggap sebagai tindakan yang benar[174], yang berguna untuk keselamatan banyak
orang, entitas-entitas yang bersifat baik akan dipanggil untuk memberikan bantuan. Bantuan
mereka ini biasanya diminta dengan cara yang sopan dan tanpa paksaan. beberapa ngagspa
211
menganggap perlu mendekatkan senjata itu dengan orang yang hendak dibunuh ataupun dengan
benda-benda yang biasanya ia pergunakan.
beberapa pakar lain dari dunia ilmu hitam menertawakan praktek yang kekanak-kanakan itu dan
menyatakan bahwa hal itu semata memperlihatkan ketidaktahuan mereka akan sebab-sebab yang
memungkinkan pembunuhan itu terjadi yang lalu membuatnya seolah sebuah kecelakaan.
saat seorang ngagspa merasa pisau itu telah siap untuk melaksanakan tugasnya, maka ia
diletakkan di dekat orang yang hendak dibunuh, agar, dan hampir selalu, ia terdorong untuk
menggunakannya. Lalu, saat ia memegangnya, pisau itu segera bergerak, memberikan dorongan
yang tiba-tiba kepada tangan yang memegangnya, dan orang yang direncanakan untuk dibunuh itu
pun menikam dirinya sendiri.
Dikatakan bahwa jika sebuah senjata sudah diberi kehidupan dengan cara yang demikian, maka ia
menjadi berbahaya bagi ngagspa itu sendiri, yang jika tidak memiliki ilmu dan kepintaran yang
cukup untuk melindungi dirinya sendiri, akan jatuh sebagai korbannya.
Meditasi yang panjang dan ritual yang rumit yang dilakukan sang ahli ilmu gaib selama di
penyepiannya tampaknya menghasilkan semacam auto-sugesti, sehingga tak heran jika beberapa
kecelakaan dapat menimpanya. Namun demikian terlepas dari kisah-kisah tentang setan dan roh-
roh, terdapat sebuah fenomena yang mirip dengan hal itu yang timbul jika sesosok jelmaan
(phantom) yang diciptakan oleh seorang ngagspa berhasil membebaskan diri dari kontrol si
pembuatnya.
Beberapa lhama dan segelintir Bönpo mengatakan padaku bahwa yaitu salah jika mempercayai
bahwa pada kasus-kasus yang saya ceritakan di atas, pisau itu menjadi hidup dan membunuh
orang yang dimaksud. yaitu orang itu, kata mereka, yang bertindak menurut auto-sugesti sebagai
akibat dari pemusatan pikiran si ngagspa.
Meskipun tujuan sang ngagspa hanya untuk menghidupkan pisau ini , namun orang pada
siapa ritual ini ditujukan telah hampir menyatukan dalam pikirannya ide dari senjata itu. Dan
selanjutnya, mungkin disebab kan orang ini yaitu seorang penerima yang cocok dari
gelombang gaib yang diciptakan oleh si ngagspa (dan bukan pisau ini ), dia secara tidak
sadar terjatuh dalam pengaruh mereka. Lalu, saat menyentuh pisau yang telah disiapkan itu, wujud
dan sentuhan pisau mendorong terjadinya sugesti yang telah ada, yang tak ia ketahui telah berada
dalam pikirannya, dan ia menikam dirinya sendiri.
Lebih lanjut, kuat diyakini bahwa para pakar ternama ilmu gaib tradisional ini, tanpa menggunakan
sebuah objek padat sebagai perantara, mampu melakukan sugesti, bahkan dari jarak yang sangat
jauh, manusia ataupun makhluk-makhluk lain untuk membunuh diri mereka sendiri dengan
menggunakan berbagai cara.
Semua orang mengiyakan kala dikatakan bahwa seluruh usaha ini tidak akan berhasil bila ditujukan
kepada seseorang yang sudah ahli dalam latihan psikis sebab ia mampu mendeteksi setiap
gelombang yang mendekatinya sekaligus membedakan sifat-sifatnya sehingga gelombang-
gelombang yang ia anggap membahayakan dapat ia patahkan.
Tanpa bantuan objek materi apapun, energi yang dihasilkan dari pemusatan pikiran dapat arahkan
ke titik-titik yang cukup jauh. Di tempat itu energi ini dapat memanifestasikan dirinya dalam
berbagai wujud, misalnya:
Ia mampu menciptakan fenomena psikis
212
Ia mampu menembus sasarannya dan memindahkan kekuatan yang dimiliki dimana saja.
Para guru mistik disebutkan menggunakan proses ini saat melaksanakan ritual-ritual angkur.
Banyak sekali yang dapat diceritakan tentang ritual-ritual ini dan juga semangat yang menyertainya.
Tempat yang terbatas dalam ukuran artikel yang rata-rata ini melarang penjabaran secara panjang
lebar tentang semua teori dan praktek-praktek mistik Lhamaisme dan aku dengan berat hati
terpaksa menghilangkan beberapa subjek yang cukup menarik. Aku akan membatasi diriku dalam
beberapa kata saja.
Angkur Lhamais, secara harafiah berarti ‘pendelegasian kekuatan’, bukanlah sebuah
‘pemberkatan’ atau ‘inisiasi’, meskipun, kerena kekurangan perbendaharaan kata-kata, aku
beberapa kali menggunakan istilah itu dalam artikel ini. Berbagai jenis angkur itu bukanlah
dimaksudkan untuk memaparkan doktrin-doktrin eksoterik, sebagaimana makna ‘inisiasi’ bagi
bangsa Yunani ataupun bangsa-bangsa lain. Mereka memiliki sebuah karakter psikis yang jelas.
Teori mengenai mereka yaitu bahwa ‘energi’ dapat ditransmisikan dari seorang guru – atau dari
semacam sumber kekuatan gaib yang lebih kuat – kepada seorang siswa yang mampu
‘menyadap’ gelombang-gelombang psikis dalam transmisi ini .
Menurut kaum mistik lhamais, selama pelaksanaan ritual angkur sebuah kekuatan diletakkan dalam
jangkauan siswa ini . Penggapaian dan penyatuan dengan kekuatan ini tergantung pada
kemampuan si siswa.
Dalam beberapa perbincangan dengan para guru mistik, mereka mendefinisikan angkur sebagai
‘sebuah kesempatan khusus’ yang diberikan kepada seorang siswa untuk ‘memberi kekuatan’
pada diri sendiri.
Dengan metode yang sama, para guru mistik dikatakan mampu mengirim gelombang energi,
sesuai dengan kebutuhan, menghibur, menyegarkan sekaligus menguatkan, secara mental dan
fisik, siswa-siswa mereka yang berada di tempat jauh.
Proses ini tidak selamanya bertujuan untuk memperkaya tempat tujuan dimana gelombang-
gelombang itu diarahkan. Sebaliknya, kadang saat tengah mencapai tujuannya, gelombang-
gelombang ini menyerap sebagian energi tempat tujuan ini . Lalu, kembali dengan hasil energi
rampasan yang samar, mereka menuangkannya ke ‘tempat’ dari mana mereka sebelumnya
dikirim, dan dimana mereka diserap kembali.
Beberapa pakar ilmu kebatinan, katanya, memperoleh kekuatan yang hebat dan umur panjang dari
penggabungan dengan energi curian ini.
Kaum mistik Tibet juga menyatakan bahwa para pakar yang sudah sangat terlatih dalam
konsentrasi mampu memvisualisasikan bentuk-bentuk yang mereka bayangkan dan menciptakan
berbagai jenis wujud: orang-orang, dewa-dewi, binatang, benda-benda bernyawa, pemandangan
alam, dan sebagainya.
Para pembaca harus mengingat kembali apa yang telah dijabarkan mengenai subjek ini saat
kuceritakan mengenai para tulku[175] dan wujud-wujud yang tak berhingga jumlahnya yang, menurut
Dalai Lhama, mampu diciptakan oleh seorang Changchub semspa.[176]
Wujud-wujud ini tidak selalu berupa halusinasi-halusinasi yang tak nyata, mereka tampak nyata dan
diberkati dengan semua indera dan kemampuan yang sesuai dengan makhluk atau benda yang
menjadi wujudnya.
213
Misalnya, seekor kuda jadi-jadian dapat lari berderap dan meringkik. Seorang penunggang jadi-
jadian yang menungganginya dapat turun dari punggungnya, berbicara dengan pengembara lain di
perjalanan dan bertingkah persis seorang pengembara betulan. Sebuah rumah jadi-jadian dapat
menaungi para pengembara yang sebenarnya, dan seterusnya.
Peristiwa-peristiwa demikian memenuhi kebanyakan cerita-cerita rakyat Tibet, khususnya dalam
epik Raja Gesar dari Ling yang tersohor itu. Sang pahlawan agung menggandakan dirinya. Ia
menciptakan konvoi-konvoi berikut tenda-tenda, ratusan ekor kuda, para lhama, para pedagang,
para pelayan, dan tiap-tiap bagian dari mereka menjalankan perannya. Dalam pertempuran ia
menciptakan para serdadu yang membunuh musuh-musuhnya layaknya prajurit-prajurit betulan.
Semua cerita ini tampaknya hanyalah merupakan dongeng-dongeng menjelang tidur dan setiap
orang akan segera mengasumsikan bahwa sembilan puluh sembilan dari seratus kisah-kisah ini
merupakan cerita khayalan belaka. Namun demikian, beberapa kejadian aneh yang muncul, dan
beragam fenomena yang disaksikan secara langsung, membuat hal-hal ini tidak mungkin diabaikan
begitu saja. Seorang pengamat harus mencari sendiri penjelasan tentang hal-hal itu jika ia menolak
menerima penjelasan dari masyarakat Tibet. Namun sering kali, penjelasan-penjelasan orang Tibet
ini yang cenderung kurang terkesan ilmiah, semakin menarik minat si penanya dan penjelasan-
penjelasan itu akhirnya malah menjadi sebuah lahan penyelidikan.
Para pengembara Barat yang baru memasuki perbatasan Tibet dan masih belum mengenal hal-hal
bersifat takhyul di kalangan masyarakat Tibet akan sangat terkejut mendengar opini skeptis dan
realistis yang tertanam di benak orang-orang yang lugu dan polos itu, yang terkesan aneh,
mengenai berbagai keajaiban yang terjadi.
Dua buah kisah, yang sangat populer di kalangan orang Tibet, akan menggambarkan keadaan itu.
Apakah kisah-kisah itu merupakan kejadian sebenarnya atau bukan, tidaklah menjadi masalah.
Yang terpenting yaitu penjelasan yang diberikan tentang penyebab keajaiban itu dan inspirasi
yang mewarnai keseluruhan kisah ini .
Pada suatu saat , seorang pedagang sedang melakukan perjalanan dengan rombongannya di
tengah badai, dan topinya terbang tertiup angin.
Orang Tibet percaya bahwa mengambil kembali topi yang terjatuh di tengah perjalanan yang
demikian akan mendatangkan kesialan. Maka disebab kan takhyul itu, si pedagang pun tidak
berusaha mengambil topinya itu.
Topi itu yaitu topi bulu yang lembut, dengan lapisan bulunya yang dapat diarahkan ke atas
ataupun ke bawah menutupi telinga, bergantung pada kondisi cuaca. sebab agak terbenam di
tengah semak belukar yang porak-poranda dihantam angin, bentuknya menjadi sulit dikenali.
Beberapa minggu kemudian, di suatu senja, seorang pria melewati tempat itu dan ia
memperhatikan ada sebentuk benda tak dikenali yang tampaknya seperti tengah berjongkok di
antara semak belukar. Dia tak berani mendekat dan segera berlalu. Keesokan harinya ia bercerita
pada beberapa penduduk desa bahwa ia telah melihat ‘sesuatu yang aneh’ tak jauh dari tepi jalan
itu. Beberapa pengembara lain juga memperhatikan ada sebentuk benda aneh yang tak mereka
kenali di tempat itu, dan menceritakannya kepada para penduduk desa. Lalu, yang lain-lainnya juga
melihat topi yang tak bersalah itu dan membeberkan kepada semua orang di tempat itu.
Sekarang, sinar matahari, hujan, dan debu semakin membantu menjadikan topi itu sebuah objek
yang misterius. Bulu-bulunya menjadi berwarna coklat kekuning-kuningan dan bagian yang dapat
menutupi telinga itu tampak seolah sepasang telinga binatang.
214
Para pedagang dan peziarah yang singgah di desa itu diperingati bahwa di tepi hutan terdapat
sebuah ‘benda’, bukan manusia maupun binatang, berdiam di semak belukar, dan harus
diwaspadai. Seseorang menyatakan bahwa ‘benda’ itu yaitu setan dan segera, benda yang tak
bernama hingga saat itu, dipromosikan pangkatnya menjadi setingkat setan.
Beberapa bulan berlalu, semakin orang menakuti sosok topi tua itu, semakin banyak orang yang
berbicara tentangnya dan lambat laun semua orang di daerah itu membicarakan tentang ‘setan’
yang bersembunyi di daerah yang berbatasan dengan hutan itu.
Lalu suatu hari beberapa orang yang melewati tempat itu dikatakan melihat benda usang itu
bergerak. Di hari yang lain benda itu mencoba membebaskan dirinya dari belukar yang tumbuh di
sekitarnya, dan akhirnya ia mengikuti sekelompok pengelana yang lari terbirit-birit menyelamatkan
diri.
Topi itu telah dihidupkan oleh banyak pikiran yang terkonsentrasi padanya.
Kisah itu, yang dinyatakan orang Tibet merupakan kisah sebenarnya, yaitu contoh yang diberikan
untuk melukiskan kekuatan konsentrasi pikiran, walaupun dilakukan tanpa disadari, dan tidak
dimaksudkan untuk mencapai hasil tertentu.
Kisah kedua tampaknya seperti diciptakan oleh seorang jahil yang ingin menyindir para umat yang
taat, tapi sebenarnya tidaklah demikian. Tak seorang pun di Tibet yang menganggap kisah itu lucu
ataupun tidak sopan. Makna dibaliknya dianggap mencerminkan sebuah kebenaran sejati tentang
semua jenis pemujaan. Apapun jenis objek yang dipuja itu, kekuatan yang ia miliki sebenarnya
berasal dari pemusatan pikiran secara kolektif dan keyakinan dari para pemujanya.
Seorang ibu tua dari seorang pedagang yang setiap tahun pergi ke India meminta kepada putranya
untuk membawakannya sebuah relik dari Tanah Suci. [177] Si pedagang berjanji akan membawanya,
namun pikirannya dipenuhi oleh urusan bisnis, ia pun lupa akan janjinya.
Ibu tua itu merasa sangat sedih, dan di tahun berikutnya, saat rombongan putranya hendak
berangkat, ia kembali mengulang permintaannya akan sebuah relik suci.
Kembali si pedagang berjanji akan membawa sebuah relik suci, dan kembali pula ia lupa. Hal yang
sama terjadi lagi untuk yang ketiga kalinya pada tahun berikutnya. Namun kali ini, sebelum ia tiba di
rumah, si pedagang mengingat janjinya dan ia merasa sangat tidak nyaman untuk mengecewakan
harapan ibunya yang demikian besar itu.
Kala memikirkan hal itu dan berusaha menemukan jalan keluar dari kegelisahannya, ia melihat
sebuah rahang anjing tergeletak di tepi jalan.
Sebuah inspirasi segera menghampirinya. Ia mencabut sebuah gigi dari rahang anjing yang sudah
memutih itu, membersihkan sisa-sisa tanah yang menutupinya dan membungkusnya dengan
sehelai sutra. Lalu, sesampainya di rumah, ia memberikan tulang tua itu kepada ibunya, sembari
mengatakan bahwa benda itu yaitu sebuah relik yang sangat berharga, sebuah gigi Sariputra
yang agung.[178]
Ibu tua itu sangat bahagia, dan dengan penuh rasa hormat wanita yang baik itu meletakkan gigi
ini dalam sebuah peti di atas altar keluarga. Setiap hari ia melakukan pemujaan padanya,
menyalakan lampu altar dan membakar dupa. Umat yang lain pun bergabung dalam pemujaan itu,
hingga suatu saat gigi anjing itu memancarkan cahaya, jadilah ia sebuah relik suci.
Sebuah pepatah Tibet terlahir dari kisah itu:
215
‘Mös gus yöd na
Khyi so öd tung.’[179]
Yang artinya ‘Jika dilakukan pemujaan, bahkan sebuah gigi anjing pun dapat memancarkan
cahaya.’
Kembali kita melihat bahwa teori-teori masyarakat Tibet mengenai semua fenomena pada
dasarnya sama. Semuanya berakar pada kekuatan pikiran dan ini hanya akan menjadi hal yang
masuk akal bagi mereka yang berkeyakinan bahwa dunia ini, sebagaimana yang kita lihat,
hanyalah sebuah visi subjektif.
Kemampuan untuk menjadi tak terlihat, yang dipamerkan oleh banyak ngagspa dalam dongeng-
dongeng yang beredar di seluruh negeri, dinyatakan oleh para pakar ilmu gaib Tibet merupakan
akibat dari pemadaman aktifitas mental.
Sebenarnya, legenda-legenda Tibet menceritakan kepada kita tentang semacam benda atau alat
untuk membuat seseorang menjadi tak kelihatan. Salah satunya yaitu yang disebut dip shing
yang banyak muncul di cerita-cerita, yang merupakan sebuah kayu besar tempat dimana burung
gagak bersembunyi di dalamnya. Satu potongan kecilnya mampu membuat orang, binatang, atau
objek lain yang memegang atau berada di dekatnya menjadi tidak kelihatan. Namun para naljorpa
hebat dan para dubchen tidak memerlukan benda-benda gaib untuk membuat mereka menjadi tak
kasat mata.
Dari apa yang dapat kupahami, para pakar latihan psikis tidak melihat keajaiban itu dengan cara
demikian. Menurut mereka, hal itu bukanlah soal menyulap diri hingga menghilang, namun
bagaimana menjaga untuk tidak membangkitkan kesan apapun pada makhluk-makhluk
berkesadaran yang berada di sekitarnya. Dengan cara demikian keberadaan seseorang menjadi
tidak terdeteksi, atau paling tidak, mereka yang ia lewati mungkin melihatnya sekilas, namun ia
tidak membangkitkan refleksi apapun di benak mereka, dan ia tidak meninggalkan kesan apapun
di ingatan mereka.
Penjelasan yang diberikan padaku mengenai masalah ini mungkin dapat kuringkas sebagai
berikut:
Jika saat seseorang berjalan, ia mengeluarkan banyak suara dan gerakan, berdesak-desakan
dengan orang-orang dan benda di sekitarnya, maka ia membangkitkan banyak sensasi di diri
banyak orang. Perhatian timbul di diri mereka yang merasakan sensasi-sensasi ini dan perhatian
itu diarahkan kepada orang yang membangkitkannya. Jika sebaliknya, orang itu berjalan tanpa
bersuara dan tidak menyentuh siapapun, ia hanya membangkitkan sedikit sensasi; sensasi-sensasi
ini tidak kuat, mereka hanya membangkitkan perhatian sekilas pada mereka yang merasakannya,
dan akibatnya, orang itu hanya sepintas diperhatikan.
Namun demikian, betapapun hening dan diamnya seseorang, kerja pikiran membangkitkan
semacam energi yang memancar di sekitar orang ini , dan energi ini dalam berbagai cara
dirasakan oleh mereka yang bersentuhan dengannya. Namun jika seseorang berhasil
menghentikan semua aktifitas mental, maka ia tidak menimbulkan sensasi apapun pada diri orang
lain dan akibatnya ia menjadi tidak terlihat.
sebab kupikir teori ini terlalu fantastis, aku pun memberi sanggahan bahwa dalam keadaan
apapun, wujud tubuh itu toh masih tetap kelihatan. Jawaban yang diberikan yaitu sebagai berikut:
Dalam setiap momen, beberapa besar benda-benda berada dalam pandangan kita, namun hanya
segelintir yang kita perhatikan. Yang lainnya tidak memberikan kesan apapun pada kita. Tidak ada
216
segelintir yang kita perhatikan. Yang lainnya tidak memberikan kesan apapun pada kita. Tidak ada
‘kesadaran-pengetahuan’ (nampar shespa)[180] yang mengikuti kontak visual (mig gi regpa), kita
tidak ingat bahwa kontak ini pernah terjadi. Singkatnya, objek-objek ini menjadi tidak terlihat bagi
kita.
Betapapun tertariknya kita pada kemampuan aneh lain yang dimiliki oleh para pakar ilmu rahasia
Tibet, penciptaan dari bentuk-bentuk pikiran tampaknya yaitu hal yang paling membingungkan.
Kita sudah melihat di bab terdahulu bagaimana para siswa pemula dilatih untuk membangun wujud
dewa pembimbingnya, namun dalam kasus ini tujuan latihannya yaitu untuk mencapai
semacam pencerahan secara filosofis, dan pada kasus-kasus lain tujuan yang diharapkan berbeda
pula.
Supaya tidak membingungkan, pertama-tama kita akan membahas tentang jenis fenomena lain
yang sering dibicarakan, bukan hanya di Tibet, namun juga di banyak negara Timur dan bahkan
juga di Barat. Sebagian orang menyatakan bahwa mereka melihat sebuah analogi antara hal-hal ini
dengan penciptaan dari bentuk-bentuk pikiran, namun kenyataannya proses yang terjadi tidaklah
sama persis.
Di hampir semua negara terdapat orang-orang yang meyakini adanya jiwa halus atau roh yang
saat sang tubuh terlelap atau dalam keadaan tidak sadar, dapat ‘bergentayangan’ di banyak
tempat[181] dan melakukan kegiatan-kegiatan yang berbeda, terkadang untuk tujuan itu ia bersatu
dengan sebuah tubuh materi lain yang bukan tempat ia biasa menyatu.
Kisah-kisah tentang para ngagspa yang pergi ke sabbat yaitu hal yang biasa di Masa Kegelapan
dan penyelidikan membuktikan bahwa, umumnya si ngagspa terbaring dalam keadaan tak sadar
selama kurun waktu itu. Namun demikian, saat kembali sadar, ia dapat menceritakan panjang
lebar tentang suasana pesta pora di neraka dimana ia diterima sebagai tamu. beberapa wanita-
wanita histeris telah dibakar di kayusula akibat mempunyai delusi-delusi yang demikian.
Di India, legenda-legenda yang tak terhitung banyaknya mengisahkan tentang petualangan aneh
orang-orang, para malaikat, atau setan yang memasuki jasad-jasad, bertingkah seperti si orang
mati, lalu kembali ke tubuhnya yang sementara itu berada dalam keadaan tidak sadar.
Kisah yang paling terkenal yaitu tentang Shri Sankaracharya, seorang filosofer Vedantin ternama,
pada siapa kaum India Brahmin berhutang budi sebab telah mengembalikan hak-hak istimewa
mereka yang sempat ditentang keras oleh doktrin Buddhis rasionalis. Kepribadiannya yang kita
kenal dari biografi-biografi yang setengah legenda itu tampaknya sangat mengagumkan.
Sayangnya masalah kasta yang bersifat politis tampaknya memburamkan kecerdasannya yang
cemerlang. Hal itu membuat ia menjadi jawara dari teori-teori sosial yang dicerca yang sangat
bertentangan dengan panteisme agung yang ia khotbahkan.
Sankaracharya – demikian kisahnya – telah menantang seorang filosofer bernama Mandana,
seorang pengikut ajaran ritualistis Karma-mimansa,[182] dan telah ditetapkan bahwa siapa yang
kalah dalam diskusi itu akan menjadi siswa lawannya dan menjalani kehidupan yang sama seperti
gurunya.
Akibatnya – Mandana yaitu seorang kepala keluarga dan Sankaracharya seorang sannyasin[183] -
jika argumen-argumen Mandana menang, Sankara harus melepaskan jubah keagamaannya dan
menikah, jika sebaliknya maka Mandana terpaksa berpisah dengan istri dan keluarganya dan harus
mengenakan jubah jingga – atribut yang menandakan pelepasan hal-hal duniawi.
Yang terjadi kemudian yaitu Mandana ternyata kalah dalam perdebatan itu dan saat Sankara
217
akan menyatakan ia sebagai siswanya, istri Mandana, Bharati, seorang wanita terpelajar, ikut
campur tangan.
Kitab suci, katanya, menyatakan bahwa suami istri yaitu satu. Maka, mengalahkan suamiku
berarti anda hanya mengalahkan setengah dari kami. Kemenangan anda tidak akan diakui jika
anda belum mengalahkan saya.
Sankara tidak dapat membantah. Keberatan itu berdasarkan kepercayaan ortodoks. Ia pun
memulai pertandingan yang baru. sebab menyadari bahwa pengetahuan dan kemampuannya
tidak mampu menandingi lawannya, maka wanita itu menyelamatkan dirinya dengan sebuah
strategi yang cerdas.
Kitab-kitab suci India menyelipkan seni percintaan di antara pengetahuan-pengetahuan ortodoks.
Bharati lalu melempar beberapa pertanyaan tentang hal itu pada Sankara yang lalu membingungkan
sang pertapa.
Ia kemudian meminta maaf atas ketidaktahuannya dengan mengatakan bahwa ia telah
menenggelamkan diri dalam meditasi-meditasi filosofis sejak usia muda, dan sebagai seorang
sannyasin, yang hidup tanpa menikah, ia buta akan masalah wanita dan hal-hal yang berkaitan
dengannya. Namun demikian, ia menganggap dirinya mampu memperoleh pengetahuan yang tak
ia ketahui itu. Bersediakah lawannya yang cerdas itu memberikannya waktu sebulan untuk mencari
pencerahan? Ia bersedia mengulang perdebatan itu pada akhir waktu yang ditentukan.
Di sini tampaknya Bharati agak menyepelekan kemampuan lawannya, atau mungkin ia berpikir
bahwa dalam waktu yang sesingkat itu Sankara takkan mungkin menguasai ilmu yang disyaratkan
itu. Ia pun menyetujuinya dan Sankara segera pergi mencari guru.
Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang raja bernama Amaruka wafat. Sankara yang tak
dapat melakukan studinya pada diri seseorang sebab ia yaitu seorang pertapa ternama, melihat
hal ini sebagai kesempatan emas baginya. Ia memerintahkan siswa-siswanya untuk menjaga
tubuhnya di suatu tempat terpencil sementara ia mentransmisikan ‘roh’nya ke dalam tubuh sang
pangeran yang telah dibawa ke tempat pembakaran. Amaruka yang hidup kembali itu dibawa
kembali ke istananya dan disambut dengan penuh bahagia oleh istri-istri resminya, dan juga selir-
selirnya yang cantik.
Sankara bersikap sebagai seorang cendekiawan yang bersemangat, membuat heran istri-istrinya
yang sudah lama diabaikan mendiang raja. Para menteri dan penasehat istana memperhatikan
bahwa sejak ‘hidup’ kembali kecerdasan rajanya meningkat drastis. Penguasa yang baru ini
tampak sangat berbeda dengan raja terdahulu yang bodoh dan telah mereka kenal bertahun-tahun.
Maka para wanita istana dan para pejabat negara mulai mencurigai bahwa roh dari siddha[184] yang
hebat sedang menggunakan tubuh dari Amaruka. sebab takut ia akan meninggalkan tubuh
ini dan kembali kepada raganya yang sebenarnya, mereka memerintahkan pencarian tubuh
yang ditinggalkan ke beberapa tempat terpencil dan jika ditemukan segera dibakar.
Sementara Sankara, sebab sudah sangat menyatu dengan apa yang hendak dipelajari, ia menjadi
lupa dengan kepribadiannya dan tak berkeinginan untuk menyatu kembali dengan tubuh pertapa
filosofernya yang telah ia tinggalkan di bawah pengawasan siswa-siswanya.
saat guru mereka tidak juga kembali pada waktu yang sudah ditentukan, siswa-siswanya itu
menjadi gelisah, dan mendengar tentang pencarian itu mereka menjadi sangat ketakutan. Mereka
berlari secepatnya ke kediaman sang raja, sesudah diizinkan menghadap, mereka menyanyikan
sebuah lagu filosofis yang diciptakan oleh Sankara. Hal ini membangkitkan ingatan sang guru.
218
Rohnya keluar dari tubuh sang raja dan masuk kembali ke tubuhnya, yang baru saja ditemukan dan
telah diletakkan di tempat pembakaran untuk dibakar.
sebab telah menguasai subjeknya, ia menantang kembali Bharati dan mengejutkannya dengan
pengetahuannya yang luar biasa. Wanita itu pun mengakui kekalahannya.
Selama ratusan tahun, kisah ini menjadi sangat populer di kalangan pengikut Sankara dan mereka
tidak melihat sedikitpun kekonyolan ataupun hal mengejutkan di dalamnya. Namun demikian
mereka rupanya mulai menyadari bahwa kisah itu tidak begitu memuji ingatan guru mereka, dan
beberapa orang di antaranya lalu menyatakan bahwa kisah itu dikarang oleh para pengikut yang
berpikiran sederhana.
Bagi kita kisah itu berharga sebagai sebuah informasi. Hal itu menunjukkan bahwa kepercayaan
akan perpindahan diri yang halus dari satu tubuh ke tubuh yang lain, bahkan berkelana tanpa tubuh,
yaitu hal yang umum di India. Kepercayaan yang demikian juga ada di Tibet, dimana
‘perpindahan’ diri dari satu tubuh ke tubuh yang lain itu disebut dengan trong jug.[185] Mungkin saja
teori-teori mengenai trong jug diimpor dari India. Milarespa, dalam autobiografinya, menceritakan
bahwa gurunya Marpa tidak diajarkan tentang rahasia trong jug oleh gurunya, Narota. saat sudah
berusia lanjut, gurunya itu melakukan perjalanan ke India untuk mempelajarinya.
Harus diketahui bahwa mereka yang meyakini ‘perpindahan’ diri halus atau ‘pasangan’, umumnya
menggambarkan bahwa tubuh orang yang diri halusnya berpindah berada dalam keadaan ‘mati’. Di
sinilah letak perbedaan antara fenomena itu dengan penjelmaan tulpa,[186] yang diciptakan secara
disengaja atau tidak, yang wujudnya bisa sama ataupun berbeda dengan penciptanya.
Proses perpindahan yang diceritakan dalam dongeng-dongeng India ataupun Tibet itu, bisa saja
dianggap sebagai sebuah fabel, namun penciptaan tulpa-tulpa tampaknya cukup berharga untuk
diselidiki lebih lanjut.
Phantom-phantom (jelmaan, hantu, wujud gaib), sebagaimana orang Tibet menyebutnya, dan hal-
hal yang kusaksikan sendiri tidak menyerupai jelmaan-jelmaan yang katanya muncul saat diadakan
ritual gaib pemanggilan arwah.
Di Tibet, orang-orang yang hadir dalam kesempatan itu bukanlah dengan sengaja diundang untuk
bersama-sama berusaha menghadirkan sosok-sosok gaib itu, ataupun untuk bertemu dengan
seorang medium yang dianggap mampu menciptakan mereka. Dengan demikian, pikiran mereka
yang hadir itu tidaklah dipersiapkan untuk melihat jelmaan-jelmaan itu. Tidak ada meja tempat
meletakkan tangan kelompok orang itu, ataupun medium yang tengah kesurupan, atau sebuah
ruangan gelap gulita tempat medium itu mengurung diri. Kegelapan tidak dibutuhkan, matahari dan
udara terbuka bukanlah penghalang bagi para phantom.
Seperti yang sudah kukatakan, sebagian jelmaan-jelmaan itu diciptakan dengan sengaja, dengan
sebuah proses panjang mirip dengan yang telah kuceritakan di bab terdahulu yakni dengan
memvisualisasikan Yidam, dan bagi mereka yang sudah ahli, proses itu terjadi secara sesaat ,
atau hampir sesaat .
Pada kasus lain, para pencipta fenomena itu melakukannya secara tidak sadar, dan bahkan ia
tidak menyadari sedikitpun bahwa jelmaan-jelmaan itu dilihat oleh orang lain.
Dalam kaitannya dengan jenis-jenis visualisasi ini atau penciptaan bentuk pikiran, aku akan
menceritakan sedikit fenomena yang telah kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri.
Seorang pemuda Tibet, yang menjadi asistenku, hendak pulang untuk menjenguk keluarganya. Aku
219
memberikannya izin tiga minggu, lalu sesudah ia mempersiapkan bekal makanan, aku menyewa
beberapa porter untuk membawa barang-barangnya melewati perbukitan dan kembali dengan
rombongannya.
Tampaknya pemuda itu keasyikkan berkumpul dengan keluarganya. Dua bulan berlalu dan ia tak
kunjung kembali. Kupikir ia benar-benar telah meninggalkanku.
Lalu suatu malam aku melihatnya dalam mimpiku. Ia tiba di rumahku dengan pakaian yang aneh,
mengenakan sebuah topi yang bentuknya asing. Ia tak pernah mengenakan topi semacam itu
sebelumnya.
Keesokan paginya, salah seorang pelayanku bergegas menghampiriku. “Wangdu sudah kembali,”
katanya padaku. “Saya baru saja melihatnya berjalan di bawah bukit.”
Kejadian itu sangatlah ganjil. Aku segera keluar dari ruanganku untuk melihat pengembara itu.
Tempat aku berdiri cukup tinggi hingga aku dapat melihat lembah-lembah di bawahnya. Aku
melihat Wangdu dengan jelas. Ia berpakaian persis seperti dalam mimpiku. Ia berjalan sendirian
dan melangkah perlahan menapaki jalan menanjak yang melingkari lereng bukit.
Aku berkata bahwa ia tidak membawa barang-barangnya dan pelayan yang berada di sebelahku
menjawab: “Wangdu berjalan duluan, para pembawa barangnya pasti segera menyusul.”
Kami berdua terus mengamati orang itu. Ia tiba di sebuah chörten kecil, berjalan di belakangnya
dan tak muncul-muncul lagi.
Chörten ini berbentuk kubus yang terbuat dari batu, tingginya kurang dari tiga kaki, dan dari puncak
atapnya yang runcing ke tanah, total tinggi bangunan kecil itu tidak lebih dari tujuh kaki. Monumen itu
tidak memiliki ruangan di dalamnya. Lagipula, chörten itu letaknya terasing, tidak ada rumah di
sekitarnya, tidak ada pepohonan, tidak ada gundukan tanah, atau apapun yang bisa dijadikan
tempat persembunyian.
Aku dan pelayanku yakin bahwa Wangu tengah beristirahat sejenak dengan bernaung di bawah
chörten itu. Namun sesudah ia tak kunjung muncul, aku mengamati tempat itu dengan teropong, dan
tak kulihat seorang pun di sana.
sebab penasaran aku segera mengirimkan dua orang pelayanku untuk mencari anak muda itu.
Aku memantau keduanya dengan teropongku namun tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan
Wangdu atau siapapun di sana.
saat hari menjelang senja, di hari yang sama, anak muda itu muncul di lembah berikut
rombongannya. Ia mengenakan pakaian dan topi asing yang persis sama dengan yang kulihat
dalam mimpiku dan juga pada penglihatanku di pagi hari itu.
Tanpa memberikannya ataupun para pembawa barangnya kesempatan untuk berbicara atau
mendengar tentang kejadian itu dari para pelayanku, aku segera menanyai mereka. Dari jawaban
mereka aku mengetahui bahwa mereka semalam menginap di suatu tempat yang terlalu jauh dari
tempatku bagi siapapun untuk mencapainya di pagi hari. Aku juga diyakinkan bahwa Wangu selalu
berjalan bersama kelompok orang itu.
Minggu berikutnya aku dapat menguji keakuratan penjelasan orang-orang itu dengan menanyakan
waktu keberangkatan rombongan itu di beberapa tempat dimana para porter berganti. Semua itu
membuktikan bahwa mereka telah berkata jujur, saat mengatakan bahwa mereka meninggalkan
tempat terakhir bersama-sama dengan Wangdu.
220
Seorang pelukis Tibet, seorang pemuja para dewa yang kejam, yang suka melukis wujud mereka
yang mengerikan, suatu sore datang mengunjungiku.
Aku perhatikan bahwa di belakangnya terdapat sesosok wujud samar-samar yang merupakan
salah satu jenis makhluk dari sekian makhluk-makhluk fantastis yang kerap muncul di lukisannya.
Sikapku yang tampak sangat terkejut membuat seniman yang kebingungan itu segera melangkah
menghampiriku sembari menayakan apa yang sedang terjadi.
Kuperhatikan bahwa phantom itu tidak mengikutinya, dan secepatnya kudorong tamuku ke
samping, lalu aku berjalan ke arah makhluk itu dengan satu tanganku terjulur ke depan. Tanganku
menyentuh wujud berbentuk kabut ini . Aku merasakan seperti menyentuh sebuah objek lembut
yang substansinya kemudian terpisah oleh dorongan ringan itu dan wujud itu pun menghilang.
Saat menjawab pertanyaanku si pelukis mengakui kalau dalam beberapa minggu terakhir ia
mempraktekkan ritual dubthab, memanggil dewa yang wujudnya baru saja kulihat, dan ia
menghabiskan pagi hari itu dengan melukis wujud dewa yang dimaksudkannya itu.
Kenyataannya, pikiran orang Tibet itu sepenuhnya terfokus pada sang dewa yang bantuannya
sangat ia harapkan untuk melindunginya dari semua bentuk kejahatan.
Dia sendiri tidak melihat phantom itu.
Dalam kedua kasus di atas, fenomena itu dihasilkan tanpa kerjasama kesadaran dari penciptanya.
Atau, seperti yang dinyatakan seorang lhama mistik, Wangdu dan pelukis itu sulit untuk disebut
sebagai pencipta dari fenomena itu. Mereka hanyalah salah satu sebab – mungkin sebab paling
utama – di antara berbagai sebab yang menyebabkan terjadinya fenomena ini .
Kejadian aneh ketiga yang akan kuceritakan ini termasuk ke dalam katagori fenomena yang
sengaja diciptakan. Kenyataan bahwa wujud yang muncul serupa dengan wujud lhama yang
membuatnya, tidaklah harus membuat kita berpikir bahwa ia memproyeksikan sebuah double halus
dari dirinya. Ini bukanlah pendapat para pakar tingkat lanjut dalam dunia ilmu gaib rahasia Tibet.
Menurut mereka phantom-phantom yang demikian disebut para tulpa, wujud-wujud gaib yang
dihasilkan oleh kekuatan konsentrasi pikiran. Sebagaimana yang sudah disebut di bab
sebelumnya, wujud apapun dapat dibayangkan dalam proses itu.
saat itu aku sedang berkemah di dekat Punag ritöd di Kham. Suatu sore, aku dan juru masakku
sedang berada di sebuah pondok yang kami gunakan sebagai dapur. Anak itu meminta padaku
beberapa bahan makanan. Aku menjawab: “Ayo kita sama-sama ke tendaku, kamu dapat
mengambil apa yang kamu perlukan dari kotak-kotak itu.”
Kami melangkah keluar dan saat mendekati tendaku, kami berdua melihat seorang lhama
pertapa tengah duduk di kursi lipat dekat meja kemahku. Hal ini tidak mengejutkan kami sebab
sang lhama memang sering mengunjungiku untuk berbincang-bincang. Juru masakku hanya
berkata: “Rimpoche datang, aku harus segera membuatkannya minuman, aku akan mengambil
bahan-bahan itu nanti.”
Aku menjawab: “Baiklah, buatlah teh dan segera bawa pada kami.”
Anak itu kemudian berbalik dan aku pun berjalan lurus ke arah sang lhama, melihatnya terus
sementara ia duduk di sana tanpa bergerak.
Kala aku hanya berjarak beberapa langkah dari tendaku, sebuah selubung kabut yang sangat halus
221
tampak terbuka di depannya, seperti tirai yang perlahan ditarik ke samping. Dan tiba-tiba aku tidak
melihat lhama itu lagi. Ia telah menghilang.
Tak lama kemudian, juru masak itu kembali dengan membawa teh. Ia terkejut melihatku hanya
sendirian. sebab tak ingin membuat ia ketakutan aku pun berkata: “Rimpoche hanya ingin
memberiku sebuah pesan. Ia tak tak punya waktu untuk tinggal dan menikmati teh.”
Aku menceritakan penglihatan itu kepada sang lhama, namun ia hanya tertawa dan tidak menjawab
apa-apa. Dan di kesempatan lain ia kembali mengulangi fenomena itu. Ia menghilang saat aku
sedang berbicara dengannya di tengah sebuah daerah luas yang kosong, tanpa tenda, rumah, atau
tempat bernaung lain di sekitarnya.
Penciptaan sebuah phantom Yidam seperti yang sudah kita lihat di bab sebelumnya, mempunyai
dua objek yang berbeda. Yang lebih tinggi bermaksud untuk mengajarkan seorang siswa bahwa
tidak ada dewa atau setan selain dibandingkan yang diciptakan oleh pikiran, yang kedua, yang kurang
bijak, dimaksudkan untuk memberikan alat perlindungan yang hebat bagi diri.
Bagaimana phantom seorang dewa melindungi penciptanya? Dengan muncul menggantikan
dirinya.
Sudah menjadi kebiasaan di Tibet bahwa para lhama yang sudah diinisiasi dalam praktek khusus
itu ‘memakai’ kepribadian Yidam mereka setiap pagi. Dengan demikian, roh-roh jahat yang
kebetulan bertemu dengan para lhama tidak melihat wujud mereka sebagai seorang manusia,
namun dalam bentuk menakutkan dari para dewa yang kejam; sebuah wujud yang tentu dapat
melindungi mereka dari niat-niat jahat.
Para ngagspa andal dalam seni ini, katanya, mampu menyembunyikan wujud mereka yang
sebenarnya di balik wujud gaib yang mereka inginkan.
Di antara banyak lhama, yang setiap pagi dengan tekun memakai wujud Yidam mereka, mungkin
hanya segelintir yang benar-benar mampu menampakkan dirinya dalam wujud ini . Aku tak
tahu jika mereka mampu mengelabui para setan, namun yang pastinya mereka tidak menciptakan
ilusi apapun di mata manusia. Namun demikian aku pernah mendengar bahwa ada beberapa lhama
yang terlihat dalam wujud dewa-dewa kaum lhamais.
Terdorong oleh bermacam legenda menakjubkan yang mengisahkan tentang kehebatan para
dubthob kuno dalam menciptakan tulpa-tulpa, beberapa kecil para ngagspa dan lhama berusaha
dengan keras untuk meraih keberhasilan dalam salah satu cabang ilmu gaib rahasia Tibet ini.
Bagaimanapun, praktek itu dianggap sangat berbahaya bagi mereka yang belum mencapai tingkat
pencerahan mental dan spiritual yang cukup tinggi dan belum sepenuhnya menyadari sifat
kekuatan-kekuatan psikis saat bekerja dalam proses itu.
Sekali suatu tulpa dianugerahi vitalitas yang cukup untuk memainkan perannya sebagai suatu
makhluk betulan, maka ia cenderung untuk membebaskan dirinya dari kontrol penciptanya. Hal ini,
menurut kaum mistik Tibet, terjadi secara mekanis, sama seperti seorang anak, saat tubuhnya
sudah sempurna, dan sudah mampu untuk hidup terpisah, ia akan segera meninggalkan rahim
ibunya. Kadang phantom itu berubah menjadi seorang pemberontak dan sering orang mendengar
tentang pertempuran gaib antara seorang ngagspa dengan makhluk-makhluk ciptaannya, yang
mana si pencipta sering dilukai ataupun dibunuh oleh para makhluk ciptaannya itu.
P a r a ngagspa Tibet juga menceritakan kasus-kasus dimana tulpa yang dikirim untuk
melaksanakan sebuah misi tidak kembali dan ia lalu melanjutkan perjalanannya sebagai suatu
222
makhluk setengah-sadar yang cukup berbahaya. Hal yang sama bisa juga terjadi jika pencipta tulpa
ini meninggal sebelum sempat memusnahkannya. Namun, sebagaimana seharusnya,
phantom itu mungkin saja menghilang sesaat saat si ngagspa meninggal atau menghilang secara
perlahan seperti tubuh yang perlahan mati sebab kekurangan makanan. Sebaliknya, beberapa
tulpa memang sengaja diciptakan untuk mempertahankan hidup para penciptanya. Mereka ini
mungkin bisa disebut sebagai para tulku sejati[187] dan kenyataannya, demarkasi antara para tulpa
dan para tulku tidak pernah digambarkan secara jelas. Keberadaan keduanya berdasarkan pada
teori yang sama.
Haruskah kita mempercayai penjelasan tentang ‘materialisasi’ pemberontak yang aneh ini, para
phantom yang telah berubah menjadi makhluk yang nyata, ataukah kita harus menolak dan
menganggap mereka hanyalah dongeng-dongeng fantastis dan produk dari imajinasi? – Mungkin
yang terakhir yaitu yang terbijak. Aku tak mengusulkan apapun. Aku hanya membabarkan apa
yang kudengar dari mereka yang, dalam beberapa kesempatan lain, kuanggap dapat dipercaya,
namun mereka bisa saja telah memperdayai diri mereka sendiri dengan semua bentuk ketulusan
hati.
Namun demikian, terlepas dari penambahan di sana-sini yang sensasional dan beberapa hal yang
dilebih-lebihkan, aku merasa sulit untuk mengingkari adanya kemungkinan untuk
memvisualisasikan dan menghidupkan tulpa. Disamping telah menyaksikan sendiri wujud-wujud
pikiran di beberapa kesempatan, sifatku yang cenderung meragukan segala sesuatu mendorongku
untuk membuat eksperimen sendiri, dan usahaku ini membuahkan keberhasilan. Agar tidak
terpengaruh oleh bentuk-bentuk para dewa lhamais, yang setiap hari kulihat pada lukisan dan
patung-patung di sekitarku, aku pun memilih sebuah sosok yang paling sederhana: seorang
bhikkhu, pendek dan gemuk, bersifat polos dan periang.
Aku mengurung diri dalam tsams dan mulai melaksanakan pemusatan pikiran dan ritual-ritual lain
yang telah ditentukan. Beberapa bulan kemudian bhikkhu phantom itu pun terbentuk. Bentuknya
secara perlahan menjadi mantap dan tampak hidup. Dia menjadi seorang tamu yang tinggal di
ruanganku. Aku lalu menghentikan pengasinganku dan mulai melakukan perjalanan dengan para
pelayan dan tenda-tendaku.
Bhikkhu itu bergabung dalam kelompok kami. Meskipun aku berada di tempat terbuka,
menunggang kuda bermil-mil jauhnya setiap hari, ilusi itu tetap ada. Aku melihat trapa gendut itu,
kapanpun aku mau tanpa harus memikirkan dirinya untuk membuatnya muncul. Phantom itu
melakukan berbagai kegiatan seperti halnya seorang pengelana dan ia melakukannya tanpa
kuperintahkan. Misalnya ia berjalan, berhenti, melihat sekitarnya. Ilusi itu kebanyakan hanya visual,
namun kadang-kadang aku merasa seolah ada sehelai jubah menyentuhku, dan pernah kurasakan
ada tangan yang memegang pundakku.
Wujud yang kubayangkan saat membentuk phantomku, perlahan mengalami perubahan. Lelaki
gemuk dengan pipi gembul itu berubah menjadi kurus, raut wajahnya tampak sinis, bengis dan
kejam. Ia menjadi makin berani dan meresahkan. Singkatnya, ia lepas dari kendaliku.
Pernah sekali, seorang penggembala yang membawakan hadiah berupa mentega padaku melihat
tulpa itu di tendaku dan menganggapnya seorang lhama hidup.
Aku seharusnya mengabaikan saja fenomena itu, namun kehadiran seorang rekan yang tak
diinginkan mulai membuat sarafku tegang; ia berubah menjadi ‘mimpi siang buruk’. Lagipula, aku
mulai merencanakan untuk melakukan perjalanan ke Lhasa dan itu membutuhkan ketenangan
pikiran, jadi kuputuskan untuk melenyapkan phantom itu. Aku berhasil, namun sesudah melalui
223
perjuangan yang keras selama enam bulan. Makhluk ciptaan pikiranku itu demikian menginginkan
kehidupan.
Bahwa aku telah menciptakan halusinasiku sendiri, bukanlah suatu kenyataan yang aneh. Namum
poin yang menarik di sini yaitu bahwa dalam kasus materialisasinya, orang lain melihat wujud-
wujud pikiran yang telah kita ciptakan itu.
Orang-orang Tibet tidak satu suara dalam menjelaskan fenomena ini. Sebagian berpendapat
bahwa sebuah bentuk materi benar-benar dibuat menjadi hidup, yang lain menganggap jelmaan-
jelmaan itu hanyalah sugesti, pikiran si pencipta mempengaruhi yang lain hingga membuat mereka
melihat apa yang ia lihat.
Terlepas dari berbagai usaha yang cerdas dari orang-orang Tibet untuk menemukan penjelasan
yang rasional mengenai semua keajaiban, namun beberapa di antaranya masih tetap tak
terjelaskan, mungkin sebab hal-hal itu yaitu hasil penciptaan yang sebenarnya, atau mungkin
disebab kan sebab lain.
Orang Tibet umumnya mengakui bahwa kaum mistik tingkat tinggi tidak meninggal dengan cara
yang biasa, namun dengan melenyapkan tubuh mereka, kapan dan dimana mereka mau, tanpa
meninggalkan jejak sedikitpun.
Dikatakan bahwa Reschungpa menghilang dengan cara demikian, dan bahwa Dagmedma, istri
Lhama Marpa, mengakhiri hidupnya melalui sebuah meditasi kontemplatif dengan menyatukan
dirinya dengan suaminya.
Namun mereka semua yaitu pribadi-pribadi di masa yang sudah amat lama berlalu: lebih menarik
untuk mendengar proses kematian demikian di masa kini. Dan akan lebih menarik lagi jika
kejaiban itu tidak berlangsung di sebuah tempat pertapaan terpencil, melainkan terjadi di depan
ratusan saksi mata.
Aku perlu mengatakan bahwa aku tidak termasuk ke dalam para penonton itu, dan keterangan yang
kuperoleh berasal dari mereka yang menyatakan melihat langsung keajaiban itu. Satu-satunya
kaitanku dengan kejadian ini yaitu bahwa aku secara pribadi mengenal sang lhama yang
dipercaya menghilang dengan cara yang misterius.
Sang lhama, namanya Rimpoche Kyongbu, yaitu salah seorang dari para guru spiritual dan
penasehat keagamaan Tashi Lhama. saat aku mengunjungi Shigatze pada tahun 1916, ia sudah
tua dan hidup sebagai seorang pertapa, tak berapa jauh dari kota itu, dekat tepi sungai Yesru
Tsangpo (Brahmaputra). Ibunda Tashi Lhama sangat menghormatinya dan saat aku menjadi
menjadi tamunya, aku mendengar kisah-kisah yang luar biasa tentang lhama agung itu.
Diceritakan bahwa seiring berlalunya waktu, ukuran tubuh sang pertapa bijaksana itu perlahan
menciut. Hal ini, menurut orang Tibet, yaitu pertanda pencapaian spiritual yang hebat, dan
legenda-legenda mengisahkan bagaimana tubuh beberapa dubtob yang tinggi berubah menjadi
kecil dan akhirnya menghilang.
Pada masa itu, vihara baru yang dibangun untuk menaungi patung raksasa Buddha yang akan
datang, Maitreya, sudah hampir selesai, dan upacara pemberkatan sudah mulai dibicarakan. Tashi
Lhama berharap bahwa penasehat spiritualnya yang sudah tua itu yang melakukan pemberkatan,
namun yang bersangkutan menolak dengan mengatakan bahwa ia sudah wafat sebelum vihara itu
selesai dibangun.
Dikatakan bahwa, Tashi Lhama memohon kepada sang pertapa untuk menunda kematiannya
224
hingga ia telah memberkati bangunan baru itu.
Permintaan yang demikian mungkin mengagetkan para pembaca, namun hal ini sesuai dengan
pemikiran orang-orang Tibet tentang kemampuan yang dimiliki para ahli ilmu gaib untuk memilih
waktu kematian mereka.
Sang pertapa lalu berjanji untuk melaksanakan upacara pemberkahan itu.
Kemudian, lebih kurang setahun sesudah kunjunganku ke Shigatze, vihara itu selesai dibangun dan
dipilihlah satu hari untuk rabnes[188]. Tashi Lhama mengirimkan sebuah tandu yang indah berikut
beberapa pengawal ke tempat Rimpoche Kyongbu untuk membawanya ke gompa Tashilumpo.
Para pengawal itu melihat sang lhama duduk di tandu, mereka lalu menutup tandunya dan mulai
berangkat ke tempat tujuan.
Sekarang, ribuan orang telah berkumpul di Tashilumpo [189] untuk menghadiri upacara pembukaan
festival keagamaan itu. Mereka sangat terkejut melihat sang lhama datang sendirian dengan
berjalan kaki. Tanpa bersuara ia melangkah melewati pintu masuk biara, berjalan lurus ke arah
patung raksasa Maitreya hingga tubuhnya menyentuh patung itu, dan secara perlahan menyatu
dengannya.
Tak lama kemudian tandu berikut para pengawalnya tiba. Para pengunjung membuka pintunya…
ternyata kursinya telah kosong.
Banyak yang percaya bahwa sejak saat itu sang lhama tak pernah terlihat lagi.
Kejadian itu memang cukup aneh untuk menyita perhatianku, namun alasan ketertarikanku
sebenarnya yaitu sebab aku cukup dekat dengan sang pahlawan, dan juga faktor utama yang
membuat terwujudnya keajaiban itu, yakni permintaan Tashi Lhama tentang pemberkatan vihara itu;
juga disebab kan aku kebetulan mengenal dengan baik tempat dimana keajaiban itu terjadi.
Aku sangat berhasrat mengunjungi kembali Shigatze, untuk mencari tahu keadaan sang lhama di
hari-hari terakhirnya, dan mencari kuburannya, jika ia memang telah wafat. Namun saat
mendengar tentang keajaiban ini, aku tengah berada di Lhasa dalam penyamaran, dan baik aku
maupun Yongden tidak mungkin terus menyamar jika pergi ke Shigatze, dimana kami memiliki
banyak kenalan. Menanggalkan samaran berarti harus segera bersiap untuk diusir keluar
perbatasan, dan aku sendiri berniat mengunjungi biara Samye, dan tempat-tempat lain di Selatan
Tibet sesudah kunjunganku ke Lhasa selesai, juga tur ke tempat-tempat bersejarah di propinsi
Yarlung. Semua ini memaksaku untuk mengurungkan keinginanku melakukan penyelidikan ke
Shigatze.
Namun, sebelum kami meninggalkan Lhasa, Yongden memberikan beberapa pertanyaan tentang
keajaiban di Shigatze kepada beberapa orang yang dianggap cukup mampu memberikan
pandangan yang bijaksana terhadap kejadian ini .
Sayangnya, peristiwa itu sudah berumur beberapa tahun. Banyak perubahan besar yang telah
terjadi di Tsang[190] dan terdapat lebih dari satu kejadian aneh yang berkaitan dengan penerbangan
Tashi Lhama ke Cina. [191] Lagipula suhu politik di Tsang sedang tidak sehat. Orang-orang yang
memiliki kedudukan cenderung berhati-hati untuk memberikan keterangan sebab dapat dianggap
memuji Tashi Lhama yang diasingkan dan mereka yang dekat dengannya. Mereka juga takut untuk
menaikkan pamor vihara Maitreya sebab – gosipnya – pembangunan vihara itu telah
membangkitkan kecemburuan dan sikap tidak bersahabat dari kalangan Kongres Lhasa.
225
Kami akhirnya berhasil mengumpulkan opini-opini berikut:
Sang lhama telah menciptakan sebuah phantom dirinya yang muncul dan masuk ke dalam tandu,
dan lalu melakukan hal seperti yang telah diceritakan di vihara Maitreya. Phantom ini segera
menghilang, sebagaimana keinginan tuannya saat menyentuh patung ini , sementara sang
lhama sendiri selama waktu itu berada dalam pertapaannya.
Atau Kyongbu rimpoche telah menciptakan, dari jarak jauh, sebuah halusinasi kolektif.
beberapa orang mengatakan bahwa sang lhama sudah wafat kala keajaiban itu berlangsung,
namun ia telah meninggalkan semacam phantom ciptaannya yang ia kirim ke Tashilumpo.
Aku juga ingat salah seorang siswa Kyongbu rimpoche pernah mengatakan bahwa dengan suatu
jenis pemusatan pikiran tertentu, sebuah fenomena dapat dipersiapkan untuk suatu kejadian yang
akan berlangsung di masa depan. Sekali sukses diperoleh dalam konsentrasi itu, proses ini
kemudian berjalan secara mekanis, tanpa kerjasama lebih lanjut dengan orang yang telah
memproyeksikan energi yang diperlukan untuk menghasilkan fenomena ini . Bahkan dikatakan
bahwa orang ini, dalam banyak kasus, tidak mampu lagi menghalangi fenomena yang telah
direncanakan untuk terjadi di waktu yang telah ditentukan itu. Sekali energi dihasilkan, ia lalu akan
membentuk dirinya dengan cara tertentu, dan sekarang ia telah berada di luar kendali penciptanya.
Masih banyak lagi yang dapat diceritakan tentang fenomena psikis di Tibet. Namun keingintahuan
satu orang saja sangatlah tidak mencukupi, apalagi jika penelitian dilakukan di bawah kondisi yang
amat sulit.
Aku amat sangat berharap bahwa tulisanku ini akan membangkitkan keinginan para ilmuwan, yang
lebih memenuhi syarat dibandingkan ku, untuk melakukan penelitian mengenai berbagai fenomena yang
telah kuuraikan secara ringkas di artikel ini.
Penelitian psikis haruslah memiliki jiwa yang sama dengan segala jenis penelitian ilmiah. Hasil
penemuan di bidang itu juga seharusnya tanpa unsur supernatural, tanpa hal-hal yang dapat
membenarkan kepercayaan yang tak masuk akal dan membingungkan, yang diyakini beberapa
orang. Sebaliknya, penelitian yang demikian mungkin dapat menjelaskan mekanisme yang disebut
dengan keajaiban, dan sekali dijelaskan, keajaiban itu bukan lagi sebuah keajaiban.
226
[1] Sejenis genderang cekung dari kuningan atau tembaga yang dibalut kulit
[2] Alat musik tiup seperti seruling
[3] Di artikel sebelumnya, My Journey to Lhasa.
[4] Dalai Lhama yang diceritakan dalam artikel ini yaitu Dalai Lhama XIII, Dalai Lhama yang
berkuasa dan berada di pengasingan (sejak tahun 1959 sesudah invasi China ke Tibet tahun
1949) saat ini yaitu Dalai Lhama XIV.
[5] Gyacher rolpa, diterjemahkan oleh Ed. Foucaux, profesor di College de France.
[6] Sebuah negara kerajaan kecil di antara perbatasan Tibet, India, dan Nepal. Kini sudah
menjadi negara bagian India.
227
[7] Secara harafiah berarti ‘dia yang telah mencapai ketenangan sempurna’, namun lebih sering
diartikan : pertapa yang memiliki kekuatan gaib.
[8] Padmasambhava, yang menyebarkan ajaran di Tibet pada abad kedelapan.
[9] Tulku, seorang Lhama tingkat tinggi yang disebut orang asing sebagai ”Buddha Hidup”.
Lihat bab ketiga, “Buddha Hidup”.
[10] Ditulis blama, yang berarti ‘tertinggi’-‘luar biasa’
[11] The ‘Bardo Tôd Tol’.
[12] Seorang dewi. Dâkinî yaitu nama Sanskrit yang juga digunakan dalam literatur mistik
Tibet. Nama Tibetnya yaitu mkah hgroma, dibaca Kandoma. Sering disebut ‘ibu’, dan
dikatakan memberikan doktrin yang dalam kepada pemujanya.
[13] Padmasambhava berasal dari salah satu sekte Tantric Buddhisme yang dianggap telah
mengalami kemunduran. Belum ada bukti yang menunjukkan bahwa ia yaitu seorang
peminum, sebagaimana yang coba diyakinkan oleh para pengikutnya, untuk menghalalkan
sifat pemabuk mereka.
[14] Dekat Shigatze, ibukota propinsi Tsang
[15] Dalam bahasa Tibet artinya Bapak, atau Yang Mulia
[16] Lihat halaman 266
[17] Keberadaan daerah ini dibantah oleh kaum Buddhis Ortodoks
[18] Tse hdas kyi rnamshes thog grang
[19] Tisa yaitu makhluk setengah dewa yang makan melalui bau. Beberapa diantaranya
menyukai bau harum, sebagian menyukai bau yang tak kita sukai, misalnya bau daging
terbakar.
[20] Orang suci dan penuh mukjizat
[21] Suku asli Shamanist
[22] Lembu jantan Tibet yang berbulu.
[23] Belakangan, kuketahui bahwa kostum ini dipakai oleh para pertapa yang sudah ahli dalam
tumo (lihat Bab Enam) dan beberapa ilmu gaib kuno. Tasbih itu terbuat dari 108 potongan
kecil tulang yang setiap potongannya diambil dari sebuah tengkorak manusia.
[24] Koru la dan Sepo la, keduanya di ketinggian 15000 kaki
[25] Tahun Tibet dimulai pada bulan Pebruari
[26] Baca di bab 7
[27] Aktifitas mental dalam bahasa Tibet disebut togpa, ratiocination (proses berpikir yang
sebenarnya), kontradiksi dari togspa (pengertian)
228
[28] Ajaran Rahasia yaitu ajaran mengenai metode latihan spiritual, dan bukan mengenai
doktrin Buddhis yang esoterik (hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja) sebagaimana
yang dipercayai oleh beberapa orang asing. Apa yang disebut Buddhisme esoterik itu
sebenarnya tidak ada. Semua teori yang dijabarkan dalam lingkaran-lingkaran gaib itu
tertulis di artikel . Apa yang diajarkan secara rahasia kepada para pemula, yaitu cara-cara
untuk memantapkan pikiran untuk mencapai pencerahan, atau dalam tingkat yang lebih
rendah, cara-cara utnuk mengembangkan kekuatan supernormal.
[29] Seperti yang sudah dijelaskan, sang gomchen yaitu penduduk asli Tibet Timur.
[30] Di ketinggian 28.150 kaki. Ketinggian gunung Everest, puncak tertinggi di dunia, yaitu
29.000 kaki
[31] Bekas aliran gletser yang terdiri dari tanah dan bebatuan
[32] Lihat Bab Satu: Kematian dan Keadaan Sesudahnya.
[33] Semacam kue ritual
[34] Kutipan ini berasal dari syair yang ditulis oleh Milarespa di abad kesebelas, saat beliau
tinggal di sebuah gua. Ini sangat populer di Tibet yang artinya: Jika aku bisa tinggal di
pertapaan ini hingga ajalku, tanpa tergoda untuk kembali ke dunia, aku akan dapat mencapai
tujuan spiritualku.
[35] Pergi ke selatan berarti ke Gangtok atau Kalimpong, tempat dimana beberapa orang asing
beristirahat.
[36] Mengenai tumo, baca di Bab Enam.
[37] Baca di akhir Bab Delapan
[38] Rumah Lhama Besar
[39] Rumah para bhikkhu biasa
[40] Orang yang bertugas menegakkan disiplin di gompa, terutama saat upacara keagamaan
[41] Suku asli Kham, di Tibet Timur
[42] Tepung yang terbuat dari biji gandum panggang yang merupakan makanan pokok orang
Tibet.
[43] Di keseluruhan Mongolia, sebagian Siberia, Manchuria, bahkan Rusia.
[44] Ditulis dgon pa.
[45] ‘Pelayan kebajikan’ atau ‘pelayan yang saleh’.
[46] sebab sudah kujelaskan di artikel sebelumnya My Journey to Lhasa tentang detil organisasi
biara, sumber-sumber pendapatan, informasi tentang biaya penyewaan, dan sebagainya, maka
bagian itu tak lagi saya ceritakan di sini.
[47] Contohnya pertapa penyair Milarespa (abad ke sebelas), orang suci Tibet yang paling
229
populer.
[48] Sekte ‘Topi Kuning’. Secara harafiah Gelugspa berarti ‘mereka yang berbudi luhur’.
[49] Lebih sering disebut Jampeion. Nama Sanskritnya yaitu Manjushri.
[50] Atau maksudnya baru dibangun kembali sesudah musnah akibat kebakaran.
[51] Chenrezigs dan Odpagmed yaitu nama Tibet dari makhluk mistik yang dalam bahasa
Sanskrit disebut Avalokiteshvara dan Amitabha.
[52] Bhagavad Gîtâ, II, 22.
[53] Kyai treng (ditulis skye hphreng), atau istilah yang lebih sopan kutreng (ditulis
skuhphreng).
[54] Menurut para lhamais, suatu keinginan ditentukan berdasarkan sebab-musabab.
[55] Makhluk yang telah mencapai tingkat kesempurnaan spiritual yang tinggi, setingkat di
bawah Buddha.
[56] Ditulis sprulpa.
[57] Pulau Pu-to-shang berada di kepulauan Choushan, di luar pesisir Chekiang.
[58] Mengenai penerbangan Tashi Lhama baca di artikel ku, My Journey to Lhasa.
[59] Yang tulku berasal dari seorang tulku; gsum tulku berasal dari tulku seorang tulku.
[60] Sekte Buddhis yang berpandangan demikian yaitu sekte Vetullaka.
[61] Tentang bardo, lihat Bab Satu.
[62] Disebut tsispa, seorang penghitung. Tsispa inilah yang menggambarkan horoskop,
menemukan benda-benda yang hilang, dsb. Seorang bhikkhu biasa bisa saja menjadi
seorang tsispa, namun dalam mencari seorang tulku biasanya dipercayakan kepada
seorang tulku juga.
[63] Setiap orang Tibet memiliki sebuah cangkir pribadi yang hanya digunakan olehnya saat
minum teh. Cangkir itu bisa terbuat dari kayu bagi kalangan miskin, atau dari batu jade mahal
dengan tatakan dan penutup emas bagi kalangan kaya, dan cangkir itu tak pernah
dipinjamkan pada siapapun.
[64] Jangan salah, bukan Aghia Tsang, sang tulku agung yang telah disinggung sebelumnya.
[65] sebab belum diakui oleh Persekutuan keagamaan (Sangha), dia belum boleh memakai
jubah pendeta.
[66] Kantong di dada, dibentuk dari jubah besar orang Tibet yang diikat dengan tali pinggang.
[67] Ditulis grong hjug.
[68] Ini berbeda-beda, tergantung pada ahlinya.
230
[69] Orang asing.
[70] Lihat My Journey to Lhasa.
[71] Seorang Geshes yaitu seorang lulusan sarjana, semacam LL.D dan Ph.D. Derge yaitu
kota di propinsi Kham, Tibet Timur.
[72] Lihat juga Bab Delapan apa yang dimaksud dengan tulpa.
[73] Ditulis gchod.
[74] Umat Buddha memberikan belas kasihan dan cinta kasih mereka kepada semua makhluk,
termasuk para setan. Harus dipahami bahwa menurut mereka, khususnya menurut kaum
lhamais, setan tidak harus selalu berada di tempat penyucian dosa. Penghuni dari dunia
yang menyedihkan itu yaitu para makhluk yang terseret ke sana akibat kekejaman atau
perbuatan-perbuatan jahatnya yang lain. Dalam keadaan mereka yang menderita itu, mereka
dapat menanggalkan sifat-sifat jahat mereka, dengan menggerakkan niat baik terhadap yang
lain, atau dengan keinginan untuk mencapai pencerahan, dsb. Mereka yang disebut ‘setan’
yaitu para makhluk yang senantiasa menyimpan kebencian dan niat jahat, yang senang
akan ketidakbenaran dan kekejaman. Dan mereka ini – akibat karma masa lalunya – dapat
dilahirkan sebagai manusia, manusia setengah dewa, atau wujud makhluk lainnya.
[75] Thang. Sebuah dataran tinggi yang terletak di antara dua perbukitan atau sebuah lembah
yang cukup luas.
[76] penggembala
[77] Zen, jubah yang dipakai para bhikkhu dan bhikkhuni.
[78] Jetsunma, sebuah panggilan sangat sopan untuk menyapa seorang bhikkhuni yang
berperingkat tinggi. Orang dapat juga menyebut, Jetsun Kushogs.
[79] Rimpoche, ‘Yang Mulia’. Sebuah panggilan sangat sopan bagi seorang lhama.
[80] Tharpa, pembebasan tertinggi.
[81] Sekte ‘pencapaian terbesar’, yang merupakan aliran terbaru dari sekte ‘Topi Merah’. Saat
ini terbagi dalam dua cabang: Selatan, yang asli, berpusat di biara Mindoling, dekat sungai
Bramaputra; dan cabang Utara, dengan tulku Padma Rigdzin sebagai ketua.
[82] Rumah untuk penyepian, lihat Bab Tujuh.
[83] Perlu diketahui bahwa wanita aneh itu yaitu seorang dâkinî. Orang Tibet menyebutnya
Khadoma, namun dalam terminologi mistik mereka sering menggunakan nama Sanskrit
dâkinî atau singkatnya dâkî. Mereka ini yaitu semacam peri yang berperan penting dalam
lhamaisme mistik, sebagai guru dari doktrin-doktrin rahasia, dan dianggap sebagai ‘ibu’.
Mereka kerap muncul dalam wujud seorang wanita tua dan ciri khas mereka yaitu mata
yang berwarna merah atau hijau. Ada dua macam Khadoma: Yang bersifat spiritual yang
tidak terdapat di dunia kita yang disebut ‘Khadoma-khadoma kebijaksanaan’, dan
Khadoma-Khadoma yang berada di dunia kita, baik dalam wujud wanita ataupun wujud yang
lain.
231
[84] Sebuah ritual gaib untuk membunuh atau melukai.
[85] Disebukan bahwa kebuddhaan dicapai dalam waktu yang singkat, di kehidupan saat ini
dimana seseorang memulai latihannya, tidak seperti latihan umumnya yang membutuhkan
waktu beberapa abad, saat kelahiran dan kematian telah berlangsung beberapa kali.
[86] Seorang pertapa yang telah sepenuhnya memutuskan hubungan dengan dunia luar dan
menolak semua hukum dan peraturan moral dan sosial, percaya bahwa ia telah mencapai
suatu keadaan pencerahan dimana batas antara kebaikan dan kejahatan tidak ada lagi.
[87] Mahânirvâna tantra. Ini yaitu deskripsi umum tentang seorang Suci yang dapat
ditemukan dalam banyak teks.
[88] sebab ia dianggap telah membunuh ikan yang disantapnya itu.
[89] Proses penghidupan kembali yang demikian yaitu tema favorit dalam kisah-kisah Timur.
Kami baca di boagrafi Milarespa bahwa lhama Chösrdor dari Gnog menghidupkan kembali,
dengan cara yang sama, beberapa burung dan tikus tanah yang terbunuh akibat badai hebat. Juga,
sebuah kisah aneh yang diceritakan oleh seorang Korea padaku. Seorang bhikkhu suci, demikian
kisahnya, di perjalanannya bertemu seorang pria, di tepi sungai, yang tengah memasak sup dari
ikan-ikan yang baru ia tangkap. Sang bhikkhu, tanpa berkata sepatah kata pun, mengambil panci
itu dan menelan sup berikut ikan-ikannya. Pria itu sembari tercengang melihat sang bhikkhu yang
tahan akan panasnya sup, mencemooh dan mencela kerakusannya yang memalukan (Bhikkhu Cina
dan Korea vegetarian). Namun sang bhikkhu, yang masih tak bersuara, masuk ke sungai dan
berikut airnya, ikan-ikan itu keluar dari mulutnya dalam keadaan hidup, kemudian berenang
menjauh.
[90] Brahmin ortodoks dilarang meminum minuman keras. Menawarkan arak pada mereka
artinya memperlakukan mereka layaknya seorang berkasta rendah dan itu yaitu sebuah
bentuk penghinaan.
[91] Dalam salah satu wujud palsunya, Tilopa mangambil wujud seekor kelinci. Kemampuan
untuk tampil dalam berbagai wujud yaitu salah satu kekuatan super-normal yang
dibanggakan masyarakat Tibet dari para naljorpa besar mereka. Dikatakan bahwa
Milarespa menampakkan dirinya sebagai seekor macan tutul dan juga seekor burung gagak
pada orang-orang yang mengunjunginya di tempat pertapaannya yang tertutup salju di Lachi
Kangs. Legenda Gesar dari Link juga mengandung berbagai keajaiban yang demikian. Tak
diragukan bahwa sugesti berperan penting dalam penampakan-penampakan jenis ini yang
tentu saja tak semuanya sekedar dongeng belaka. Aku sendiri mampu melihat hal-hal yang
demikian.
[92] Saat itu, sekitar abad sepuluh SM, Buddhisme telah mengalami kemunduran, sehingga
banyak yang kembali pada beberapa takhyul Hindu yang sangat ditentang oleh Sang Buddha.
[93] Mchog gi dnos grub.
[94] Marpa, yang hidup sebelum reformasi Tsong Khapa, yaitu lhama yang berkeluarga.
[95] Bulan Maret. Tahun baru Tibet jatuh pada awal Pebruari.
[96] Seorang siswa muda dari keluarga miskin yang keluarganya tak mampu menghidupinya,
232
dan melakukan pekerjaan kasar di rumah seorang lhama untuk penghidupannya. Lihat Bab
Tiga.
[97] Para naljorpa yang telah memiliki kemampuan untuk mengembangkan tumo, yakni panas
dalam tubuh, dan biasanya memakai baju katun selapis (reskyang) atau bahkan telanjang.
Lihat Bab Enam.
[98] Seorang dewa yang berwujud pertapa telanjang.
[99] Seorang bhikkhu lulusan perguruan tinggi/cendekiawan.
[100] Penuntun spiritual.
[101] Menurut Lhamaisme, mereka yaitu para dewa yang telah bersumpah untuk melindungi
doktrin Buddhis dan juga para pengikutnya.
[102] Kulit domba.
[103] Rimpoche, ‘yang mulia’. Panggilan paling sopan untuk seorang lhama.
[104] Sngon Las.
[105] Poti, satu jilid.
[106] artikel -artikel Tibet dibuat dalam lembaran kertas empat persegi yang terpisah-pisah dan
biasanya dibungkus sehelai kain – katun atau lebih sering sutra – yang disebut sebagai
jubah mereka: ‘namza’ ditulis nabzah.
[107] Sebuah ekspresi yang sopan untuk mengatakan bahwa sang lhama telah meninggal.
[108] Sebuah padang rumput liar yang luas di tempat yang tinggi, hanya dihuni oleh para
gembala nomaden yang tinggal di tenda-tenda. Secara harafiah, chang thang berarti
‘dataran utara’, namun istilah ini digunakan untuk menyebut semua tempat-tempat liar yang
luas, sama halnya dengan daerah sunyi di utara Tibet.
[109] Ditulis: blama rlung sgom pa chig hdrah.
[110] Dokpa, secara harafiah berarti ‘orang dari tempat terpencil’, penggembala.
[111] Ditulis Zur dwang byampa sengge.
[112] Ditulis gshin rje.
[113] Kecuali di daerah hutan, kotoran sapi yaitu satu-satunya bahan bakar yang digunakan di
Tibet. Di sebagian daerah yang dihuni para dokpa, para pengelana mengumpulkan apa yang
ditinggalkan binatang-binatang itu di padang rumput untuk menyalakan api saat berkemah.
[114] Mantram itu berbeda-beda sesuai tradisi sekolah mistik dimana sang lhama berasal.
[115] Pencapaian yang demikian berulang kali disebutkan di Padma bkah thang dan artikel -artikel
yang lain. Hal itu diberi nama rkang mgyogs ngo sgrubs, dibaca kang gyog ngo dub,
‘keberhasilan dalam kecepatan kaki’.
[116] Ditulis gtumo.
233
[117] Ditulis rtsa, yang berarti vena, arteri, dan saraf sekaligus.
[118] Atau lebih tepat secara harafiah ‘penguasaan’, angkur : ritual dimana suatu kekuatan
khusus dikomunikasikan oleh seorang guru kepada muridnya.
[119] Sebuah huruf dalam abjad Tibet.
[120] Dalam bahasa tibet disebut dengan ‘bentuk dan ukuran seperti kotoran kambing’.
[121] Dalam latihan tumo yang lain, tetesan minyak dibayangkan keluar dari Ha dan jatuh ke api
yang berada di A, untuk menghidupinya.
[122] Dikenal dalam teori kundalini sebagai ida-nadi, pinggala-nadi, dan sushumna-nadi.
[123] Mengenai Naropa, baca di Bab Lima.
[124] Ekspresi ini juga pernah kudengar dari para pertapa Tibet.
[125] Dari Chos drug bsdus pahi zin bris, ‘Sutra enam doktrin’, berasal dari Naropa.
[126] Tak perlu kukatakan lagi bahwa istilah sugesti dan auto-sugesti yaitu milikku.
Masyarakat Tibet sendiri menggunakan istilah: ‘terbunuh dengan kekuatan pikiran’; bunuh diri
dengan ‘imajinasinya sendiri’.
[127] Nama Tibet untuk Gunung Kaila, di Tibet Barat.
[128] Sebuah danau suci di dekat Gunung Kaila, di ketinggian sekitar 15.000 kaki.
[129] Secara harafiah ‘seorang yang amat sukses’. Pengertiannya yaitu ‘seorang yang
memiliki kekuatan supernormal’. Istilah yang sesuai dalam bahasa kita yaitu ‘ahli
kebatinan.’
[130] Philing secara umum berarti orang asing, namun orang Tibet memakai istilah ini untuk
menyebut orang Inggris, satu-satunya orang asing yang mereka ketahui selain orang Rusia,
yang mereka sebut Urusso, bukan Philing.
[131] Orang Tibet berkuda dengan sadel yang dilapisi karpet. saat seorang pengelana ingin
beristirahat di perjalanan, karpet ini dibentangkan di tepi jalan sebagai alas duduknya.
[132] Lihat di My Journey to Lhasa. Dalam perjalanan itu kami melakukan penyamaran.
[133] Istilah umum yang mengekspresikan perasaan belas kasihan dan dapat disamakan
dengan : “Sungguh menyedihkan!” “Sungguh malang!” dsb.
[134] Para pengelana Tibet senantiasa membawa mangkuk kayu di kantung dada yang
dibentuk dengan mengikat baju mereka dengan sebuah tali pinggang. Para pengelana kaya
menyimpan mangkuk mereka di sebuah tempat yang dibawa oleh para pelayannya.
[135] Ditulis ngas rlung gi steng la len btang tsar.
[136] Peramal.
[137] Seseorang dari institut ritual kebatinan.
234
[138] Sebuah ilustrasi Buddhis yang paling disukai. Kami baca di Mahavagga (I,10): “Sang
Bhagava, melihat ke seluruh penjuru dunia dengan mata seorang Buddha, tampak olehnya
makhluk-makhluk yang mata hatinya dihalangi oleh sedikit debu dan makhluk-makhluk yang
mata hatinya dihalangi debu yang tebal, makhluk yang inderanya tajam dan yang inderanya
tumpul, yang berwatak baik dan berwatak buruk, yang mudah diperintah dan yang sulit
diperintah….”
[139] Secara teknis, dalam bahasa kaum mistik: tse gchig, lus gchig sang rgyais, untuk
mencapai kebuddhaan dalam satu kehidupan, satu tubuh. Yang artinya, dalam kehidupan
saat ini juga dimana seseorang membangun latihan spiritualnya. Orang Tibet juga
menyebutnya : lam chung (‘Jalan Pendek’).
[140] Ditulis mtshams dan dibaca tsam.
[141] Dia yang mempraktekkan tsams. Jangan salah diartikan dengan tsampa: tepung dari
gandum yang dibakar, ditulis rtsampa.
[142] Dari mtshams dan khang, rumah: ‘sebuah rumah untuk hidup dalam pengasingan’.
[143] Meskipun minuman beralkohol dilarang keras dalam Buddhisme, kaum sekte ‘Topi Merah’
Tibet menyatakan bahwa Padmasambhava, pemimpin sekte mereka, mengizinkannya.
Namun demikian, beberapa di antara mereka kelihatannya mengetahui lebih jauh lagi.
Padmasambhava, menurut mereka, mengizinkan minum alkohol saat melaksanakan ritual
tertentu, dan jumlah yang boleh diminum yaitu sebanyak isi cekungan telapak tangan.
Padmasambhava, yang merupakan seorang India Barat dan seorang pakar Tantrisme,
mengajarkan para pengikut Tibetnya tata cara sembahyang menurut sektenya dan, dengan
bermacam tantrika, minum dua tetes arak dalam gaya sakramen akhirnya menjadi sebuah
kebiasaan minum minuman keras. Ada pepatah India yang mengatakan: ‘Sebagian orang
minum untuk melaksanakan ritual, sebagian lagi melaksanakan ritual untuk minum’. Namun
orang Tibet tidak menggunakan alasan religius dalam hal ketagihan mereka akan minuman
keras sebagaimana yang dilakukan sahabat Barat mereka itu.
[144] Ditulis Ri khrod.
[145] Ditulis rgyab rihi brag, mdun rihi mtsho.
[146] Dalam komentarnya pada Mundakopanishad.
[147] Pranava (sebutan suku kata suci Aum) yaitu busur, Atman (diri individu) yaitu anak
panah dan Brahma (diri universal; Sang Absolut) dikatakan yaitu tanda(bulatan)nya.
[148] Semacam para Titan yang selalu berperang dengan para dewa.
[149] Tubuh para yidag ini sangat besar laksana sebuah bukit, leher mereka sehalus benang.
Makhluk menyedihkan ini senantiasa disiksa oleh rasa lapar dan dahaga. Kala mendekati air
untuk meminumnya, air itu berubah menjadi api. Setiap pagi para lhama mempersembahkan
air suci kepada para Yidag untuk melepaskan rasa lapar mereka. Air suci ini takkan berubah
menjadi api kala mereka dekati.
[150] Yang termasuk dalam kelas mi ma yin yaitu manusia setengah dewa, jin, roh-roh, baik
yang baik maupun yang jahat.
235
[151] ‘Pergi ke tempat perlindungan’.
[152] Maksudnya yaitu sesudah menghembuskan nafas, orang itu tidak menarik nafas selama
beberapa saat. Istilah teknisnya yaitu berada dalam kekosongan.
[153] Ditulis dkyilkhor.
[154] Bandingkan dengan Dhammapada: ‘saat seorang yang terpelajar menghilangkan
keegoisan dengan usaha yang keras, maka ia, yang bijaksana, tengah memanjat teras dari
ketinggian kebijaksanaan, memandang ke bawah kepada mereka yang bodoh. Terbebas
dari kesedihan, ia memandang kerumunan orang yang menyedihkan, seperti seorang yang
berdiri di pegunungan memandang mereka yang berada di tempat datar.’ Dhammapada
merupakan bagian kecil dari Kitab Suci umat Buddha yang ditulis dalam bahasa Pali.
[155] Dalam cara yang umum, di sini harus dimengerti, penyadaran akan ketidakberadaan
(non-existence) dari sebuah ego permanen, menurut rumusan umum Tibet: ‘ Individu itu
yaitu tanpa diri; segala sesuatu yaitu tanpa diri.’
[156] Kata yang digunakan si penulis yaitu khungs, yang artinya ‘sumber’, ‘asal muasal’.
Kutipan itu diambil dari karya tulis yang berjudul The Lamp of the Way. Definisi yang sama
juga ditemukan dalam sutra-sutra Yoga dari Patanjali.
[157] Yak, ditulis gyag. Lembu jantan liar Tibet yang berbulu panjang dan telah dijinakkan.
[158] Seorang penduduk asli Bhutan.
[159] Maksudnya yaitu ia merupakan sebuah keadaan yang tidak dapat digambarkan dimana
gagasan atau ide biasa tentang kesadaran dan bukan kesadaran tidak dapat diterapkan.
[160] Sebenarnya, gom shing itu hanyalah sebatang kayu yang ditatapi untuk memusatkan
pikiran. Dupa yang menyala yaitu sebuah variasi dari gom shing.
[161] Orang asing.
[162] Disebut sekte Zen, di Jepang.
[163] Ini artinya sebelum Buddhisme menyebar ke Tibet.
[164] Seorang guru yang biasanya memiliki kekuatan supernormal.
[165] Umumnya seorang penyepi hanya makan sehari sekali, namun minum teh mentega
beberapa kali. Namun, terdapat juga beberapa pertapa yang melewati masa penyepian itu
hanya dengan air putih dan tepung gandum bakar.
[166] Lihat akhir bab dua.
[167] Sebuah deklarasi yang terus menerus diulang oleh kaum mistik Tibet.
[168] Chang, ‘utara’; thang, sebuah jalan besar yang agak datar. Changthang yaitu sebuah
gurun luas yang terbentang antara Tibet dan Turkistan.
[169] Perlu dijelaskan, sekali lagi, bahwa ‘ilmu tradisional rahasia’ itu bukanlah sebuah doktrin
Buddhis eksoterik, namun merupakan pengetahuan dan metode-metode tradisional dalam
236
merealisasikan tujuan-tujuan yang tidak selamanya berbau spiritual.
[170] Lihat hal 266
[171] Ibaratnya, benih yaitu rgyu dari tanaman. Tanah dan substansi lain yang ada di
dalamnya, air, udara, sinar matahari, tukang kebun yang menaburkan benih, dsb,
dsb,..yaitu rkyen (dibaca gyu dan kyen).
[172] Dalam bahasa Tibet rigs. Contohnya: susu terdapat di dalam mentega atau keju; benih
terdapat dalam pohon yang tumbuh darinya. Orang Tibet kerap memakai ilustrasi ini.
[173] Ditulis rtsal.
[174] Seperti pembunuhan makhluk-makhluk jahat yang dilakukan Raja Gesar dari Ling atau
pembunuhan Raja Langdharma, yang bermaksud membangun kembali shamanisme
prebuddhistik di Tibet. Kaum Lhamais berbeda pandangan dalam hal ini dengan Buddhisme
ortodoks yang dengan tegas melarang segala jenis pembunuhan.
[175] Lihat bab tiga.
[176] Dalam bahasa Sangsekerta seorang Bodhisatva. Makhluk yang tingkat kesempurnaan
spiritualnya hampir mendekati seorang Buddha.
[177] India, tempat lahirnya Buddhisme, yaitu ‘Tanah Suci’ bagi orang Tibet.
[178] Seorang siswa terkemuka Sang Buddha.
[179] Ditulis mos gus yod na, khyi so hod hphrung.
[180] Ditulis rnam par shespa.
[181] Tentang hal ini lihat juga apa yang dikatakan tentang ‘ delogs’ di Bab Satu: ‘Kematian dan
Keadaan Sesudahnya’.
[182] Doktrinnya yaitu bahwa pembebasan hanya dapat dicapai melalui pengorbanan kepada
para dewa, pemujaan, sakramen, dan pelaksanaan ritual. Sankara berprinsip sebaliknya,
yakni bahwa pembebasan yaitu buah dari pengetahuan.
[183] Seorang pertapa yang sepenuhnya telah meninggalkan kehidupan duniawi.
[184] Seorang manusia yang memiliki kemampuan supernormal.
[185] Ditulis grong hjug.
[186] Tulpa, ditulis sprulpa, ‘ciptaan gaib’.
[187] Lihat Bab Tiga.
[188] Singkatan dari rabtu nespa, ditulis rabtu gnaspa. Untuk memberkati patung-patung,
bangunan-bangunan baru, dll.
[189] Biara besar di dekat Shigatze.
[190] Tsang, teritori yang sangat luas dimana Shigatze yaitu ibukotanya.
237
[191] Lihat My Journey to Lhasa.
238












