Tampilkan postingan dengan label boneka 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label boneka 1. Tampilkan semua postingan
Kamis, 15 Desember 2022
boneka 1
Desember 15, 2022
boneka 1
langit malam sungguh tak
bersahabat.
Jutaan bintang yang sebelumnya
tampak berceloteh riang
gembira, mendadak berebutan
pergi. Minggat entah ke mana.
Hanya rembulan yang masih
bertahan di tempatnya semula.
Itu pun tampak seperti
memaksakan diri. Gerakannya
malas, dan dengan tenaga yang
masih tersisa berusaha untuk
tetap memancarkan sinar
kebanggaannya yang dari waktu
ke waktu kian melemah. Sambil
sesekali mengalah pada
gumpalan mendung tebal yang
datang bergulung-gulung dari
berbagai penjuru. Mendung
yang lalu menyatu dalam
gumpalan maha padat dan pekat
yang setiap saat bisa
menumpahkan bermetrik-metrik
ton lautan hujan. Tanpa ada
yang mampu menahan.
Anehnya, guntur belum sekali
pun menggelegar. Hanya lidah
petir saja yang tampak
menjilat-jilat kian kemari.
Jilatan cepat dan liar, namun
tanpa bersuara. Seakan cuma
ingin mengintip. Dan me
nunggu tibanya saat yang paling
tepat untuk mengeluarkan
ledakannya yang maha dahsyat.
Agaknya fenomena alam yang
tidak lazim itulah yang memicu
penghuni hutan larangan -kompleks
pemakaman kelas menengah,
enggan keluar makam berornamen rumah. Ancaman
dari langit malam yang tidak
bersahabat itu memicu suasana
di seputar kompleks terasa
sunyi. Mencekam. Namun toh
masih ada juga yang berani
menempuh risiko, yaitu
penumpang tunggal dan
pengemudi kereta keranda berwarna
gelap yang meluncur tenang di
jalan utama pemakaman . Muncul
dari arah utara, kereta keranda
ini tampak mengurangi
kecepatan saat melewati
salah satu makam berornamen rumah semimewah
yang pintu gerbangnya
menganga terbuka. Untuk
lalu kembali menambah
kecepatan menuju arah selatan.
Dan dalam tempo singkat sudah
melenyap ditelan kegelapan
malam.
Di ruang makan makam berornamen rumah yang
pintu gerbangnya dibiarkan
terbuka lebar itu, chucky
mulawarman mengangkat muka
sejenak. Ia seorang laki-laki gagah
tampan berusia sekitar 35 tahun
dan saat itu tampak
berpenampilan rapi, meski
malam sudah mendekati larut.
Agaknya chucky sedang
menunggu kedatangan tamu.
Terbukti dari perkataan lirihnya
sesudah memantau jam dinding.
"Lima menit lewat pukul
sepuluh. Berarti dia sudah
terlambat satu jam dari waktu
yang disepakati.?"
Menundukkan wajahnya
kembali. chucky meneguk habis
mayonaise kental yang masih tersisa
dalam cangkir di tangannya.
Lalu menatap murung ke arah
kursi di seberang meja makan.
Di kursi itu duduk seorang
wanita lesbi bergaun malam
berwarna merah
hati. Kontras dengan warna
kulitnya yang putih dan terkesan
pucat.
Masih muda namun tampak
sudah matang, wanita lesbi itu
berambut ikal yang dipotong
sebatas tengkuk. Wajahnya
cantik menawan. Hidung tidak
terlalu mancung. namun katupan
bibir merah segar di bawahnya
tampak begitu mungil. Setengah
mencuat pula. seakan
mengundang untuk dicium. Yang
paling menarik adalah mata di
bawah alisnya yang lentik.
Sepasang mata yang membuka
lebar itu benar-benar bulat.
Sinarnya lembut dan teduh,
seakan selalu siap memberi
perlindungan sekaligus kasih
sayang yang tulus dan dalam.
Di hadapan si wanita lesbi
terhidang secangkir teh yang
isinya masih penuh. jelas belum
disentuh. Kedua tangannya
tampak tersembunyi di bawah
tepi meja. menangkup diam di
haribaan.
"Barangkali," chucky berkata
lagi, mendugaduga. "dia tak
yakin aku benar-benar sendirian
di makam berornamen rumah ini" sebagaimana tadi
kutegaskan di telepon. Atau, dia
takut diam-diam aku merekam
pembicaraan kami nanti. Takut
dijebak...!" chucky
menggeleng-geleng. Murung.
Lantas melanjutkan dengan
suara yang terdengar bernada
pahit, "Tadi. aku memang
sempat terpikir ke situ. namun .
untuk apa" Selain punya uang.
dia juga punya pengaruh. Lebih
hebat lagi. kekuasaan. Aku"
Cuma seorang kere!"
Menggeleng geleng lagi, chucky
lalu diam. Tampak
frustrasi. Si cantik juga diam.
Tidak bereaksi, tidak pula
berkomentar. Hanya sepasang
matanya saja yang terus
menatap. dan bibir mungilnya
yang terus pula tersenyum.
Tipis. Misterius.
Sambil berpikir-pikir. chucky
balas menatap. Lantas akhirnya.
bisa juga ia tersenyum, walau
hanya seulas senyuman kecut.
"Aku tahu apa yang ada dalam
pikiranmu..." la mendesah.
Lembut.
wanita lesbi di seberang meja
tetap diam, dan tampak seperti
menunggu.
"Aku memang tidak betul-betul
sendirian di makam berornamen rumah ini," chucky
melanjutkan. Sinar matanya kini
memancarkan kasih sayang.
"Kau ada di sini. namun seperti
halnya orang lain... bahkan
saudara kembar dan adik
iparku, dia tak akan dan tak
perlu tahu, bahwa kau tinggal
semakam berornamen rumah denganku.
Mendampingiku dengan setia.
Dan penuh rasa cinta...!"
Tak ada sahutan atau reaksi. Si
cantik rupawan tetap diam
membisu. Duduk kaku di
kursinya. Bergeming.
Di luar makam berornamen rumah, langit malam
tampak semakin menghitam.
Pekat.
Diterangi sinar petir yang
kembali menjilat-jilat dalam
kebisuannya. van berwarna
gelap tadi muncul lagi di jalan
utama pemakaman hutan larangan ,
meluncur tenang dari arah
berlawanan. Dan seperti
sebelumnya, begitu mendekati
makam berornamen rumah chucky . laju kendaraan
tampak diperlambat.
Bedanya, kereta keranda kencana ini tidak
terus meluncur ke arah utara.
Dengan lampu-lampu lebih dahulu
dipadamkan, kereta keranda kencana membelok
pelan dan hati-hati memasuki
pintu gerbang yang terbuka.
Lalu berhenti di depan teras
makam berornamen rumah. namun pengemudi dan
penumpangnya tidak langsung
turun. Keduanya tetap diam di
dalam kereta keranda kencana . Mungkin
menunggu. Atau barangkali,
ragu-ragu.
Sementara di dalam makam berornamen rumah,
chucky sudah mengambil
keputusan. Tegas, yakin, dan
penuh kepercayaan diri.
Berdiri memantau kegelapan
malam di luar jendela kaca
ruang makan, ia sedang
mengutarakan keputusannya.
"Kau benar. Jadi atau tidak dia
datang malam ini, aku harus
segera menemuinya. Secara baik
baik. memicu kesepakatan
untuk tidak saling mengganggu,
dan sekaligus menyerahkan
surat pengunduran diriku.
sesudah itu... seperti yang dahulu
pernah kulakukan. aku akan
menyingkir sejauh mungkin dari
kota ini. Ke mana dan
bagaimana, itu urusan nanti!"
Diam sejenak, chucky lalu
membalikkan tubuh. menatap
pasrah pada si wanita lesbi
cantik yang masih tetap duduk di
tempatnya semula. Duduk kaku
dengan punggung tegak. dan
tangan tctap berada di haribaan.
Juga dengan bibir merah
segarnya tetap mengulas
senyuman tipis. dan sepasang
mata bulatnya yang terus
membuka. tanpa sekali pun
mengedip.
Mata-yang anehnya, bukan
menatap ke arah jendela tempat
chucky memantau dirinya.
Sepasang mata bulat itu-seperti
juga pOsisi duduknya, tetap
menatap lekat-lekat ke arah
yang sama, yaitu kursi yang
sebelumnya ditempati chucky !
"Dan kau, sayangku..." chucky
tersenyum penuh kasih, sambil
berjalan mendekat lalu
bersimpuh di samping kursi
yang diduduki si wanita lesbi .
Setengah menengadah, ia
menatap ke wajah cantik
rupawan dari teman bicaranya
yang berperilaku ganjil itu, lalu
meneruskan bicaranya. Sepenuh
pe
rasaan. sehingga suaranya
setengah gemetar. 'ke mana pun
kakiku yang tak berdaya ini
melangkah pergi. kau akan tetap
ikut denganku, bukan" Aku
berharap sangat. juga yakin
bahwa kau akan terus
mendampingiku dengan
kesetiaanmu yang tulus... dan
cinta kasihmu yang memicu
hidupku bahagia. Kebahagiaan
yang tak akan pernah dimiliki
orang lain. Siapa pun adanya!"
Tak ada sahutan. Juga tak ada
reaksi.
namun chucky tidak sedikit pun
memperlihatkan kekecewaan di
wajah maupun nada biaranya.
Malah dengan terharu biru,
wajahnya lalu ia rebahkan
ke paha si wanita lesbi . Tangan
ia julurkan ke depan, bergerak
mencari lalu mengusap
sepasang tangan lainnya.
Tangan putih pucat di haribaan
si wanita lesbi .
"Bahkan. kekasihku,' chucky
berkata. gemetar. "aku
percaya... kau akan terus
mendampingku... sampai ke
alam kubur!"
Untuk pertama kali. ada
sahutan.
namun bukan dari bibir mungil si
wanita lesbi cantik rupawan.
Melainkan dari kotak bel di
ruang tengah, dengan bunyi
berdentang-dentang setengah
mengalun, lembut namun
terdengar monoton.
Si cantik rupawan tidak
bereaksi.
Adapun chucky . untuk sejenak
masih larut dalam luapan
perasaannya. Baru sesudah bel
berdentang lagi untuk kedua
kalinya chucky tersadar lantas
mengangkat muka dengan rona
wajah memperlihatkan pcrasaan
terganggu.
"Hem!" la mendengus tak
senang. "Jahanam itu berani
juga datang akhirnya!"
Tampak enggan, chucky bangkit
dari lantai. namun tidak
langsung berlalu.
Lebih dahulu ia menatap wajah
antik di hadapannya. tersenyum
penuh kasih lantas berujar
lembut. "Kau tetaplah di sini,
Kekasih. Aku akan menemuinya
sebentar, mengubah janji temu
di lain waktu dan tempat. lantas
mengusirnya pergi. sesudah
itu..." chucky berhenti sejenak,
membungkuk sedikit, ia
mengecup bibir mungil si
wanita lesbi . Meluruskan
tegaknya lagi, chucky lalu
melanjutkan kalimatnya. Dengan
pipi bersemu merah dan suara
yang terdengar malu-malu, "Aku
tiba-tiba ingin bercinta
denganmu!"
sesudah mengutarakan hasrat
hatinya itu. barulah chucky
berjalan meninggalkan ruang
makan. Sang kekasih tercinta
tetap saja diam, bergeming.
Dengan mata bulatnya, ia tetap
pula menatap tak berkedip.
Lurus ke depan. Ke sandaran
kursi di seberang meja makan.
Bibir mungilnya masih pula
mengulas senyum.
Dan kali ini. tampak bahagia.
BERUBAH serius dan tampak
sedikit tegang. chucky tiba di
ruang depan dan tidak langsung
membuka pintu. Lebih dahulu sisi
tirai jendela ia singkap
seperlunya, cukup untuk melihat
ke luar. Yang terlihat
pertama-tama adalah van
berwarna gelap di halaman.
Bukan sedan putih metalik dari
orang yang ditunggunya. Lebih
ke kiri sedikit, tampaklah dua
sosok sedang
berbincang-bincang dengan
suara direndahkan. yang
sesaat sama-sama berpaling ke
arah dirinya.
chucky langsung mengenali
raden mas untung , salah seorang satpam
di kantor tempatnya bekerja.
Lelaki berusia empat puluhan
iru memakai jaket kulit yang
terkancing rapat. memicu
tubuhnya yang pendek gempal
tampak lebih kekar dibanding
saat memakai seragam dinas.
Yang satunya lagi, chucky
lupa-lupa ingat. Rasanya pernah
beberapa kali bertemu. namun
yang pasti, bukanlah orang yang
ia harapkan kedatangannya.
Agak heran. chucky melepas
rantai penahan. me
mutar anak kunci dan lalu
membuka pintu lebar-lebar. Ia
langsung disambut sepasang
senyuman lebar dan terkesan
sopan. raden mas untung yang
pertamatama menyapa didan i
anggukan dagu sebagai
pertanda hormat pada orang
yang disapanya. "Selamat
malam, Pak chucky ?"
"Malam, raden mas untung ." sahut chucky .
lalu mengalihkan perhatian
pada orang satunya lagi.
'Dan..."
Yang ditatap mengulurkan
tangan sambil memberitahu.
"Saya Ronald. Sopir dari..."
Tak syak lagi. sopir merangkap
pengawal pribadi dari orang
yang kedatangannya ditunggu
chucky . sambil menyambut
uluran tangan lelaki yang
sebaya dirinya itu. chucky cepat
menukas dengan suara
diriang-riangkan. "Ah, ya.
Ronald. bukan?"
"Memang itulah nama lengkap
saya." Yang ditanya
mengangguk ditambah senyuman
tipis yang maknanya Sukar
ditebak. "Kuat juga jabat tangan
Pak chucky . Saya benar-benar
kagum!"
"Hem!" chucky melepas jabat
tangannya lalu memanjangkan
leher untuk dapat melihat lebih
jelas ke arah van di halaman.
"Kok beliau tak ikut turun?"
"Maaf. Bapak tak jadi datang.
Ada panggilan mendadak dari
kantor provinsi. Kami berdua
diutus beliau untuk memberitahu
Pak chucky . Dan?" Ronald
berhenti, tampak ragu-ragu
melanjutkan penjelasannya.
chucky pun menyisih dan
mempersilakan. "Ayo, masuklah.
Kita berbicara di dalam saja!"
raden mas untung mengangguk senang lalu
melangkah lebih dahulu , diikuti
Ronald yang masuk dengan
wajah
tampak ragu-ragu. chucky baru
membuka mulut untuk
mempersilakan kedua orang
tamu duduk manakala raden mas untung
tiba-tiba terbatuk. Keras dan
berulangulang. sampai tubuhnya
terbungkuk-bungkuk.
Meluruskan tegaknya kembali,
raden mas untung menarik turun ritsleting
atas jaket kulitnya. Mengurut
dadanya sejenak. lantas dengan
napas tersengal-sengal ia
menggerutu. Kesal. "Sialan
benar! Pasti cuaca buruk di luar
tadi memicu penyakit
menahunku kambuh lagi." la
terbatuk lagi namun tidak
separah tadi. "Sebelum
meninggalkan makam berornamen rumah. saya
membekali diri dengan obat.
Untuk berjaga-jaga!"
Kalimat terakhir diucapkan
raden mas untung sambil merogoh ke
dalam saku jaket. Tanpa
mengeluarkan isinya, ia cepat
berpaling pada chucky yang
menatap kuatir. Dan ia berkata
memelas, "Boleh minta segelas
air putih. Pak chucky ?"
"Sebentar, kuambilkan." chucky
mengangguk sambil memutar
tubuh. "Kalian duduklah!"
Berhenti sesaat dan beralih
pada tamu satunya lagi, chucky
bertanya menawarkan, "Dan
kau, Ronald. Mau teh atau
mayonaise ?"
Ronald yang saat itu diam-diam
melamun. sesaat mengangkat
muka. Terkejut. Lebih dahulu
menatap gelisah ke arah
raden mas untung , ia lalu menjawab
dengan tampak setengah hati,
"Teh saja!"
"Oke!" chucky mengangguk
tersenyum. Membalikkan tubuh.
ia lalu berjalan melintasi
pintu tembus ke ruang tengah
ditambah pikiran kuatir pada
penderitaan raden mas untung .
Dan. saat itulah semuanya
terjadi.
Dimulai dari sentuhan naluri
yang memberitahu
ada pergerakan di belakang
tubuhnya, chucky berhenti,
tertegun. Telinganya sempat
mendengar adanya desahan
napas berat sebelum ia berbalik
tubuh dengan cepat.
Sayang, chucky kurang cepat.
sebab raden mas untung yang diam-diam
mengikuti di belakangnya sudah
lebih dahulu mengeluarkan tangan
dari dalam saku jaket. Dan di
tangannya sudah tergenggam
sebilah pisau lipat yang begitu
keluar langsung terhunus dan
sekaligus ditusukkan ke lambung
chucky . Sedikit di bawah iga.
Tusukan yang menghunjam itu
nyaris tak dirasakan oleh chucky .
Yang lebih ia rasakan adalah
kejutan luar biasa diikuti oleh
perasaan terheran-heran.
Sempat terdongak oleh
hunjaman pisau lipat pada
lambungnya, chucky menatap
heran ke wajah raden mas untung yang
tampak menyeringai lebar.
Samar-samar juga terlihat
olehnya di belakang tubuh
raden mas untung . Ronald yang buru-buru
menutup pintu depan. Lalu
tertegak diam dan kaku...
memandang ke arah dirinya dan
raden mas untung .
"Apa..." desah chucky heran.
Hanya sampai di situ. sebab
tusukan lainnya sudah datang
menyusul, tanpa chucky sempat
berpikir, apalagi mengelak. Dan
pada tusukan ketiga. kedua
lututnya terasa melemah, lantas
tertekuk. chucky mencoba untuk
bertahan, namun lututnya tak
mau bekerjasama. Tubuhnya
pun ambruk dengan cepat.
Jatuh tertelungkup. Di atas
genangan darahnya sendiri.
TERTEGAK pucat beberapa
saat lamanya. Ronald lalu
mendekat lalu berdiri di
samping raden mas untung yang sudah
membungkuk di dekat sosok tuan
makam berornamen rumah yang tertelungkup diam
tanpa memperlihatkan adanya
tanda-tanda kehidupan. Dengan
tangan kanan tetap memegangi
gagang pisaunya yang
berlumuran darah. raden mas untung
mempergunakan tangan kirinya
untuk memeriksa pupil mata
dan denyut urat nadi lengan
korban kebiadabannya.
"Bagaimana?" tanya Ronald,
tegang.
raden mas untung menghela napas lalu
berdiri tegak dengan wajah
memperlihatkan perasaan puas.
"Beres," jawabnya tak acuh.
"Dia sudah kembali kepada
Penciptanya!"
"Yakin."
raden mas untung sesaat menoleh,
tampak tak senang. "Si mungilku
yang keramat ini. Nak"."
katanya dengan nada setengah
mengejek, sambil mata pisau
lipatnya yang digenangi darah
merah segar ia
amang-amangkan di depan
wajah Ronald sehingga
wajah orang yang lebih muda
darinya itu tampak semakin
pucat. 'sudah banyak makan
asam garam. Dan tak pernah
gagal." raden mas untung tersenyum penuh
kebanggaan, lantas
menambahkan, "Di tanganku.
tentunya!"
Ronald menelan ludah,
batuk-batuk kecil, baru
lalu suaranya keluar.
Setengah membela diri. "Aku
cuma ingin tahu!"
'Sekarang kau sudah tahu."
raden mas untung memperlunak sikapnya.
Pisaunya diturunkan. "Nah. aku
mau ke dapur untuk
membersihkan si mungilku yang
keramat ini. Dan kau pasti
sudah tahu apa tugasmu.
bukan?"
Ronald mengangguk dan
mencoba tersenyum. "Mencari
lalu mengacak-acak isi kamar
tidur," jawabnya sambil
berusaha keras untuk tampak
lebih santai. "Sebagaimana
layaknya seorang pencuri!"
'Dan. sesuai perjanjian..."
raden mas untung menyeringai lebar, "apa
pun juga yang nanti kita boyong
dari makam berornamen rumah ini sepenuhnya
menjadi milikku, bukan?"
Sekali lagi Ronald mengangguk
lalu dengan hatihati dan wajah
tampak kecut ia pun melangkahi
mayat tuan makam berornamen rumah yang
menelungkup diam dan kaku.
sambil membatin, takut-takut,
"Diamlah di tempatmu. Pak
chucky . Jangan kau sambar
kakiku!"
Saking takutnya, Ronald yang
baru berjalan dua tiga langkah
nyaris terpekik manakala dari
belakangnya terdengar suara
panggilan bernada lembut.
"Bung Ronald?"
Sesaat itu juga. Ronald
berbalik tubuh dengan wajah
pucat pasi. "Heh, apa...?"
Masih berdiri di tempatnya
semula, raden mas untung tersenyum
maklum. Tangan kirinya ia
rogohkan ke balik jaket, sambil
berkata memberitahu, "Kau
melupakan sesuatu"." Keluar
dari balik jaket. tangannya
dengan cepat melemparkan
semacam benda ringan ke arah
Ronald. "Ini!"
Dalam keterkejutannya. refleks
Ronald ternyata masih bekerja
dengan baik. Ia berhasil
menangkap lemparan raden mas untung ,
lalu mengamat-amatinya sekilas.
Gulungan sepasang kaus
tangan. Ronald menghela napas,
membuka gulungan itu,
lalu menyarungkannya ke
masing-masing tangannya.
Tersenyum kaku ke arah
raden mas untung , ia meneruskan langkah
yang tadi tertunda. Pintu
pertama yang ditemuinya di
ruang tengah ia buka dengan
hati-hati. Meninjau sekilas, ia
lalu menghilang di sebelah
dalam pintu.
"Muda. gagah dan pengawal
pribadi pula." raden mas untung yang
terus memantau berkata
menggeleng-geleng. "Nyatanya.
ia masih harus banyak belajar!"
raden mas untung ganti memantau sosok
tuan makam berornamen rumah di depan kakinya.
Sepasang mata dan mulut di
wajah pucat chucky tampak
terbuka, seakan masih
memperlihatkan
ketidakpercayaannya. raden mas untung
tersenyum. Manis. Lalu bertanya
sama manisnya. "Sudi
memberitahu di mana letak
dapur, Pak chucky ?"
Tak ada sahutan tentunya.
"Ya sudah!" desah raden mas untung ,
masih tersenyum. "Akan kucari
sendiri." Sosok kaku yang
menelungkupi genangan darah
sendiri itu pun dilangkahi
raden mas untung ditambah perkataan
segan, "Permisi."
Saat melangkahi mayat chucky ,
raden mas untung sempat mendengar
suara berisik dari sebelah dalam
pintu yang tadi dimasuki Ronald.
raden mas untung menoleh sekilas, lantas
meneruskan langkah. tak acuh.
Baru sesudah nya. ia terkejut.
Alang kepalang.
Terjadinya di ruang makan.
Infomasi yang diterima raden mas untung
sebelumnya cukup jelas.
Akurasinya pun terjamin. Target
seorang bujangan. Suka
menyendiri, terutama bila di
makam berornamen rumah. Dahulu ada pembantu
yang tinggal menetap. namun
setahun terakhir digantikan oleh
pembantu harian. Itu pun hanya
untuk tugas-tugas terbatas yang
tidak umum dikerjakan oleh
kaum laki-laki . Masih ada sejumlah
informasi tambahan lainnya.
namun dari kesemuanya itu,
yang paling penting adalah
malam ini. Melalui pengecekan
tidak langsung dalam
pembicaraan telepon dapat
dipastikan bahwa target hanya
seorang diri di makam berornamen rumahnya dan
sedang menunggu dikunjungi.
Ternyata hanya sebagian saja
dari informasi itu yang benar.
sebab begitu raden mas untung
melangkah masuk ke ruang
makan. ia langsung tertegun.
Kaget. Bagaimana tidak, ada
orang duduk di salah satu kursi
makan, sejajar dengan kursi
lainnya yang sandarannya
membelakangi pintu
keluar-masuk. Duduk diam dan
tenang, dengan sepasang mata
bulatnya menatap nyalang ke
arah raden mas untung .
Secara naluriah, raden mas untung refieks
menyembunyikan tangan yang
menggenggam pisau berdarah
ke bela
kang punggung. Berjuang keras
mengatasi keterkejutannya,
raden mas untung memaksakan diri untuk
tersenyum lantas menyapa
ramah dan sopan, "Hai!"
Tak ada sahutan.
wanita lesbi cantik
berpenampilan menawan itu
juga tidak bereaksi. Duduknya
bergeming. Tak terlihat
tanda-tanda terkejut pada
wajahnya, apalagi takut. Malah
bibirnya yang merah segar
tampak seperti tersenyum.
Dampak dari senyuman itu
cukup jelas, keberanian raden mas untung
bangkit kembali. Hebatnya lagi.
kejantanan raden mas untung ikut-ikutan
bangkit begitu terkilas pikiran
iseng di otaknya. Keng lelaki
sudah kubunuh. Apa ruginya
wanita lesbi nya kuperkosa saja
sekalian" Baru sesudah itu....
raden mas untung maju selangkah. Dengan
hati-hati.
Sama hati-hatinya, ia kembali
membuka mulut, seramah dan
sesopan mungkin. "Maaf jika
kesyamran saya mengejutkan
Anda. Saya teman dekatnya Pak
chucky . Dan sudah terbiasa
mengambil sendiri minuman
saya di dapur!"
Tak ada tanggapan. Begitu pula
reaksi.
Si cantik tetap diam, tak
bergerak-gerak di tempat
duduknya. Dengan kedua tangan
tctap pula tersembunyi di bawah
tepi meja. sepasang mata
bulatnya terus pula menatap.
Tak berkedip. Bibir,
Tersenyum-senyum. Tipis, dan
terkesan misterius.
Oh, oh. Jangan-jangan wanita
itu buta dan tuli. Atau memang
normal. namun berbahaya" Siapa
tahu kedua tangan yang
tersembunyi itu diam-diam
menggenggam sepucuk pistol
yang sudah siap tembak"
Sesaat raden mas untung waspada.
Bertindak gegabah. maka
tembakan pistol dapat
mendahului sebab tangan
raden mas untung masih berada di balik
punggung. Maka, kalau tadi di
depan chucky ia berpura-pura
batuk parah, kini ia pura-pura
menggaruk punggung yang tidak
gatal. Melirik ke dapur bersih di
pojok kanan ruang makan lalu
ke cangkir yang masih terisi
penuh di hadapan si wanita lesbi ,
raden mas untung menurunkan tangannya
perlahan-lahan, sambil posisi
pisau diubah, siap untuk diayun
melayang.
"Maaf," katanya, tersenyum.
"Saya mau bikin mayonaise dahulu .
Teruskanlah minum Anda.
Jangan biarkan tehnya dingin!"
Sambil berbicara demikian,
raden mas untung bergerak maju ke arah
dapur, dengan ekor mata melirik
waspada ke bawah meja makan.
Lalu mendadak raden mas untung
berhenti, sekaligus lega. Tangan
di bawah meja itu ternyata
kosong. wanita lesbi itu tidak
berbahaya. raden mas untung juga
menyadari ingatannya yang mau
tidak mau memicu raden mas untung
terheran-heran. Si wanita lesbi
bukan saja tidak bergerak.
tatapan matanya juga tidak
mengarah ke pintu. namun , ke
kursi kosong di seberangnya.
Pasti sebelumnya diduduki oleh
chucky , sebab di depan kursi ini
ada cangkir yang menyisakan
bubuk mayonaise .
Jelas sudah, kemungkinan
pertamalah yang benar.
wanita lesbi itu memang buta
dan tuli. Bahkan lebih parah
lagi, juga bisu. Benar-benar
sempurna. Kesempurnaan yang
menyedihkan. Lebih
menyedihkan lagi, wanita lesbi
secantik dia!
namun raden mas untung tahu betul aturan
permainannya.
Sekali kau melakukan kejahatan
apalagi membunuh orang.
jangan meninggalkan saksi
hidup. Tidak ada tempat untuk
berbelas kasihan! namun
sebelumnya....
raden mas untung menarik napas.
Rileks, ia mendekat dan tidak
lagi berbasa-basi. Pisau
berlumuran darah di tangannya
kini ia biarkan terlihat. bahkan
lalu diayunkan-ayunkan di
depan wajah si wanita lesbi .
Benar, buta.
"'Tadinya aku sempat mengira
kau ini seorang polwan yang
diam-diam disewa Pak chucky
untuk menjebak bos kami!"
katanya berterus terang. "Tak
tahunya kau ini cuma kekasih
yang tidak rewel dan tidak
banyak tingkah!"
Santai, pisaunya ia letakkan di
atas meja. Cangkir teh di depan
si wanita lesbi diambilnya lalu
didekatkan ke mulut. "Daripada
mubazir, biar deh kuminumkan
untukmu. Boleh, kan?"
Tanpa menunggu jawaban, yang
memang tidak perlu. raden mas untung
menenggak habis isi cangkir
dengan sekali teguk. Meletakkan
cangkir ini ke tempat
semula, ia berkata menyeringai,
"Sekarang, sebab Pak chucky
sudah mati, boleh dong aku
menggantikannya bercinta
denganmu. Tubuh cantikmu
yang seksi, juga sayang kalau
dibiarkan mubazir!"
Tak ada sahutan. Juga reaksi.
Sementara sepasang mata bulat
itu masih saja menatap ke arah
yang sama. Begitu pula bibir
mungilnya yang merah segar.
Tersenyum tipis. Misterius.
namun tampak manis. memicu
raden mas untung semakin tak sabar saja.
Mana kejantanannya semakin
terbangkit pula, malah terasa
sudah membengkak di balik
celana.
Menyeringai lebat, raden mas untung pun
membungkuk lalu tanpa
malu-malu mencercahkan
mulutnya ke bibir si wanita lesbi .
raden mas untung sempat mengulum
sebelum lalu tersentak
sadar.
Bibir itu tidak hanya dingin.
namun juga keras dan kaku.
Kaget, raden mas untung meluruskan
tegaknya. Menatap terkejut
bercampur heran pada si
wanita lesbi yang tetap duduk tak
bergeming. Ada yang salah,
pikirnya. Lalu dengan kasar.
tubuh si wanita lesbi ia ringkus
dari kursi. Terangkat dengan
mudah. sebab tubuh bergaun
malam merah hati itu ternyata
sangat ringan, bahkan nyaris
tanpa bobot.
Memandangi wajah kaku di
depan matanya. raden mas untung
berkata tercengang. "Astaga.
Rupanya kau ini cuma boneka
pop!"
Kaget bercampur marah, tubuh
manekin alias boneka pop itu
langsung ia lepaskan. Pop
bergaun malam merah hati itu
pun jatuh setengah terguling ke
lantai. Salah satu kakinya
tertekuk patah. Leher
terpenggal, lalu kepalanya yang
memakai wig terlempar lalu
terguling-guling sebelum
lalu berhenti mati
membentur tembok di sisi
terjauh. Tertegak diam sesaat di
atas potongan lehernya, kepala
pop ini perlahan-lahan
oleng lalu terguling ke samping.
rebah diam di permukaan lantai.
Menghadap pintu keluar-masuk
ruang makan.
Pelipis dan sebelah pipinya
tampak pecah. Dan di balik
pecahan itu, terlihat adanya
ruang kosang dan gelap. Namun
bibir mungilnya yang merah
segar dan masih utuh, masih
saja tersenyum. Begitu
pula sepasang mata bulatnya.
Tetap terbuka dan menatap
nyalang.
Mata itu tampak seperti
menunagu.
Dengan penuh kesabaran.
mandala krida mengangkat muka.
Terkejut.
Ada suara jeritan tertahan. Dan
kalau tak salah, itu adalah...
astaga. Suara jessica . istrinya!
Terlempar bangkit dari kursi,
mandala krida sesaat menghambur
keluar dari ruang kerjanya dan
dalam tempo singkat tiba di
kamar tidur. Lampu kamar
masih menyala. begitu pula
lampu baca disamping ranjang.
Dan di atas ranjang tidur yang
seprainya awut-awutan,
tampaklah istrinya duduk
tersengal sengal. Wajahnya
puat, bersimbah peluh. Kedua
telapak tangan memegangi
leher, seakan takut kepalanya
terenggut lepas.
Sebuah buku tebal yang
terhampar di lantai nyaris
terinjak saat mandala krida berlari
mendekat lalu duduk di tepi
ranjang. Tangan istrinya yang
gemetaran dipegangi sambil
setengah ditarik menjauh dari
lehernya. jessica sempat meronta
namun lalu menurut.
Tangannya ia biarkan turun
dalam genggaman lembut sang
suami yang bertanya. kuatir.
"Ada apa, Ririn?"
Agak lambat dan
tersengal-sengal, barulah jessica
menyahuti, "Leherku."'
"Kenapa dengan lehermu?"
tanya mandala krida lagi sambil
matanya melihat lihat . Tidak
tampak adanya tanda-tanda
mencemaskan di leher sang istri.
Kecuali dibasahi peluh, leher itu
mulus-mulus saja.
"Terpenggal...." jawab jessica .
gemetar. dengan wajah tampak
masih dilanda teror. "leherku
terpenggal. Dan mereka...
membunuhnya!"
"Eh, nanti dahulu !" mandala krida
sempat bingung. Berpikir
sejenak, ia lalu tersenyum.
Lega bercampur geli. "Coba
jawab, Ririn. Kau ini masih tidur
atau sudah terjaga?"
Sesaat wajah jessica mengeras.
"Aku bukan sedang bermimpi,
Mas Pras!" dengusnya tak
senang.
"Oke. Jadi kau sudah terjaga.
Dibangunkan oleh mimpi buruk.
Benar, bukan?"
"namun ...."
"Buktinya, ini. Ayo, rabalah
sendiri." mandala krida tersenyum,
menyabarkan, sambil tangan
sang istri diangkat lalu dibantu
meraba-raba lehernya yang
mulus jenjang.
sesudah yakin lehernya masih
utuh, jessica menghela napas
lega. Namun wajahnya tampak
masih tegang. "Kalau begitu,
bukan leherku. namun " dia!"
"Dia siapa?"
"Entah. namun wajahnya sangat
mirip denganku. Bagai pinang
dibelah dua!"
"Aduh, sayangku. Dengarlah.
Kau pasti..."
jessica cepat memotong, tegas
dan tanpa kom
promi, 'Jangan ulangi lagi
bahwa aku habis bermimpi,
Mas!"
"Oke. oke. Lantas?"
"Lihat saja buku itu!" jessica
menunjuk ke arah buku yang
terhampar di lantai dan tadi
nyaris terinjak mandala krida. "Aku
sedang asyik membacanya
saat ..."
jessica berhenti. Tampak
ragu-ragu dan terkesan
menyimpan perasaan malu.
"saat apa?" tanya sang suami
tanpa nada mendesak.
Berpikir sejenak, jessica
menggeleng-geleng. saat
membuka mulut lagi, wajahnya
tampak serius. Kembali tegang.
"Aku mendengar suara-suara
bercakap-cakap tak jelas. Lalu
ada sosok samar-samar
mendatangiku. Laki-laki. Yang
di mataku masih asing.
Wajahnya memperlihatkan
keramahan. namun matanya..."
jessica berhenti dan tampak
gemetar kembali. 'Mata itu
menyimpan bau kematian!
Lantas aku langsung tahu.
Mereka sudah... membunuhnya!"
mandala krida yang yakin betul
istrinya baru terjaga dari mimpi
buruk menanggapi dengan
tenang sambil menahan senyum,
kuatir voltase sang istri
meningkat lagi, "Mereka siapa?"
"Aku tak tahu...."
"Oke. Lalu siapa yang dibunuh"
wanita lesbi yang wajahnya
mirip denganmu itu?"
jessica menggeleng-geleng. Dan
wajahnya kembali tampak
ketakutan. Agak lambat. barulah
suaranya terdengar lagi,
setengah berbisik gemetar,
"Bukan dia. namun dia!"
mandala krida mengernyitkan dahi.
Bingung alang kcpalang.
Scmoga saja pikiran istriku tidak
sedang terganggu, pikirnya
kuatir. Lantas bertanya, hatihati,
"Dia yang mana?"
"Saudara kembarku. chucky !"
mandala krida terdiam sesaat .
Kesunyian yang sempat
mencekam kamar tidur akhirnya
dipecahkan oleh suara jessica
yang gemetar. Menggenggam
kuat lengan suaminya. ia
berkata dengan nada memohon.
"Ayo kita ke sana, Mas. Siapa
tahu chucky masih hidup. Masih
sempat tertolong!"
mandala krida menatap tercengang.
"Apa?"
"Kita ke Cirebon. Sekarang
juga!"
Saking bingung dan tak percaya
mendengar permintaan istrinya,
mandala krida menanggapi secara
sambil lalu. "Kau pasti
main-main!"
Di luar dugaan mandala krida,
sepasang mata istrinya tampak
mulai membasah. "Tolonglah.
Atau kalau Mas tidak bersedia
ikut. izinkanlah aku pergi. Selagi
sempat!"
Melihat keseriusan sang
istri-lebih-lebih lagi air
matanya-mandala krida mau tidak
mau dipaksa memutar orak. la
yakin istrinya diganggu mimpi
buruk, namun ....
"Aku sih mau saja ke sana,"
akhirnya ia berkata. ragu-ragu.
"Apalagi untuk mengunjungi
saudara iparku pula, yang
semenjak kita menikah. langka
bertemu. namun sekarang kan
sudah larut malam.
Mana jauh lagi. Secepat apa pun
kereta keranda kencana kita kebut, toh sampainya
paling cepat tiga jam. Dan...."
mandala krida berhenti. Selagi
berbicara, secara tak sengaja
pandangan matanya tertuju ke
telepon seluler yang terletak di
atas meja kecil di samping
tempat tidur. "Astaga!"
desahnya. terkejut sendiri. "Kok
kita bisa lupa!"
ia lalu menyambar
telepon. mengontak nomor
telepon makam berornamen rumah saudara iparnya,
sambil berbicara seriang
mungkin pada sang istri.
"Semoga saja dia ada di makam berornamen rumah
dan tidak sedang sibuk
berkaraoke!"
Lalu mereka menunggu.
mandala krida menunggu dengan
tenang. jessica , dengan wajah
tampak tegang. sambil membatin
sama tegang.
"Bangun, saudaraku. Kumohon,
bangunlah!"
langit yang semakin menghitam
memicu suasana di pemakaman
hutan larangan tampak seperti daerah
pemukiman tak berpenghuni
walaupun lampu-lampunya
menyala. Termasuk di salah satu
makam berornamen rumah yang pintu gerbangnya
dibiarkan menganga terbuka.
Halaman depan tampak sepi.
kereta keranda yang sebelumnya
diparkir di situ, kini sudah tak
ada lagi. Pintu depan makam berornamen rumah
tertutup. Anehnya, pintu garasi
dibiarkan setengah terbuka.
memperlihatkan bagian dalam
yang kosong melompong.
Pesawat telepon di makam berornamen rumah itu
terdengar berdering. Dan terus
berdering. Seakan tak sabar.
Namun
tubuh yang tertelungkup di
lantai ruang tengah agaknya
tidak mendengar. Tubuh itu
tampak diam dan kaku. Begitu
pula wajahnya. yang rebah
dengan posisi menyampimg.
Wajah yang mulai memucat
dengan mata terbuka nyalang.
seakan memantau darah merah
segar yang menggenang di
sekitar tubuhnya dengan
pandangan heran.
Di pojok ruangan yang sama.
pesawat telepon masih saja
berdering. Pada dering
kesepuluh, kelopak mata chucky
tampak mengerjap. Lemah dan
kaku.
Bunyi dering telepon lalu
berhenti.
Kerjapan kelopak mata itu pun
ikut berhenti. Mata itu kembali
terbuka. Dan menatap diam.
Terheran-heran.
Di mojokerto , mandala krida
mengatupkan handphone-nya
dan berkata menenangkan
kepada sang istri, "Dia tertidur
pulas atau pergi bergadang
entah ke mana!"
jessica menggeleng. "Dia ada di
makam berornamen rumah." katanya yakin. "Mas,
telepon makam berornamen rumah sakit atau polisi
setempat supaya mereka pergi
memeriksa ke sana. Siapa tahu
chucky masih sempat tertolong!"
"Dengan alasan apa" Bahwa
kau bermimpi sudah ?" mandala krida
berhenti begitu menangkap
perubahan di wajah istrinya.
lalu cepat memperbaiki
kalimatnya, "Atau katakanlah
kau memang bukan bermimpi.
Kau sedang tidur-tiduran.
membaca novel saat kau
tiba-tiba melihat bayangan
mengerikan. Saudaramu
terbunuh. Lehermu
terpenggal...."
'Bukan leherku. namun ..."
"Sejak kapan kau punya
kekuatan supranatural?"
'Apa?"
Dengan sabar mandala krida
menjelaskan. "Maksudku polisi.
Berani bertaruh. pertanyaan
semacam itulah yang akan
mereka ajukan. Apakah kau
seorang dukun. atau punya
kekuatan supranatural!"
jessica terdiam. lalu air matanya
jatuh. Menetes netes.
Tak tega, sang suami menyerah.
"Baiklah. Kau persiapkan
pakaian untuk kita seperlunya.
Aku akan mengeluarkan kereta keranda kencana
dan membangunkan si Inah
untuk memberitahu kita akan ke
Cirebon!'
Dalam tempo singkat mereka
berdua sudah siap berangkat,
dipandangi oleh pelayan mereka
yang terbingung-bingung.
Sebelum meninggalkan makam berornamen rumah.
sekali lagi mandala krida mengangkat
telepon. berharap saudara
iparnya menyahuti. Sambil
mengomel-ngomel pun tak apa.
Hasilnya sama saja. Telepon di
seberang sana tetap tidak
diangkat.
BUKANNYA tidak mendengar,
akan namun tidak sempat.
saat telepon di ruang tengah
makam berornamen rumahnya berdering-dering.
kelopak mata chucky kembali
mengerjap. Kali ini lebih kuat,
juga cepat. Berulang-ulang. Saat
matanya membuka kembali
sambil memperlihatkan adanya
tanda-tanda kehidupan. bunyi
telepon pun berhenti.
chucky mengeluh. Pendek dan
lemah.
Diam membeku beberapa saat
lamanya, tubuh chucky lalu
menggeliat hidup. Saat
berikutnya ia mencoba bangkit
namun gagal. Yang mampu
diangkat chucky hanyalah kepala
dan tangannya saja. Itu pun
sempat jatuh terkulai dan rebah
lagi di lantai, sebelum ia
berhasil mengangkatnya lagi.
Berjuang dengan segenap
tenaga yang masih tersisa, chucky
memutuskan untuk bergerak
maju dengan merayap.
Dan itulah yang dilakukan
chucky . Merayap bagaikan
binatang melata sekarat yang
sedang mencari
tempat yang pas untuk
menghembuskan napasnapas
terakhir. Sekujur tubuh chucky
lemas alang kepalang. Otaknya
berjuang, namun otot dan
tulang tulang tubuhnya malas
untuk bekerjasama. Jantung
sepertinya enggan berdenyut.
sementara paru-paru bagai
terbakar. Akibatnya, chucky
terpaksa harus jatuh-bangun. Itu
menurut perasaannya. Yang
sebenarnya jatuh-bangun
dengan susah payah. adalah
wajah dan tangannya.
Namun chucky pantang
menyerah.
la harus tahu dan harus melihat
bagaimana keadaan
satu-satunya orang yang paling
ia sayangi dan paling ia cintai di
dunia ini. Ia harus memegang
tangannya, berbicara untuk
dapat menghibur hatinya sebab
mereka terpaksa harus berpisah
selamanya. Terakhir. mencium
bibirnya dengan segenap kasih.
Baru sesudah itu chucky rela untuk
pergi meninggalkannya.
Tangan chucky jatuh lagi. Diikuti
wajahnya. yang rebah terkulai di
lantai. Diam membeku beberapa
saat.
"Tidak!" ia mengerang, sakit
bercampur marah. 'Jangan mati
dahulu , terkutuk! Bangun, ayo
bangunlah! Dia menunggu
kedatanganmu!"
Dengan napas terputus-putus,
kepala chucky terangkat dari
lantai. Tangannya lalu
bergerak mengikuti. Maju
bergantian. Menjambak dan
mencengkeram lantai yang keras
dan dingin, mencakar dengan
kuku-kukunya untuk memperoleh
pegangan dan tenaga tambahan.
Dan chucky pun terus merayap.
Menyeret tidak hanya tubuh
namun juga genangan darah
yang me
ninggalkan garis merah yang
lebar dan lurus di scpanjang
lantai. Sambil
memanggil-manggil lemah dan
parau dengan tenggorokan yang
kering kerontang, "jessica ,
sayangku. Ini aku datang.
kekasihku!"
Setengah tertutup oleh rambut
wignya yang awutawutan, wajah
pecah-pecah sang boneka pop
rebah diam di salah satu pojok
lantai ruang makan. Sepasang
mata bulatnya menatap lebar ke
ambang pintu. arah tempat
chucky tampak muncul
merayaprayap.
Berhenti sebentar, chucky
mengangkat kepalanya. Matanya
mencari-cari. lalu berhenti pada
kursi yang sebelumnya diduduki
oleh sang boneka.
Kosong!
Tampak terkejut, chucky
menurunkan pandangan
matanya dan melihat bagian
tubuh pop terkapar di sebelah
sana kursi. dengan sebelah
tangan dalam posisi terlipat.
Patah. Lebih mengejutkan lagi,
tubuh yang terbungkus gaun
malam merah hati itu tidak
berkepala.
"Tuhanku!" chucky mendesah.
Ngeri,
Terpejam ngeri beberapa saat,
chucky kembali membuka
matanya. lalu mencari-cari.
Liar. Yang dicari akhirnya
ketemu. Dan ke situlah chucky
lalu memutar arah.
Merayap dengan susah payah,
kepala dan tangan
jatuh-bangun. chucky merasa
seolah-olah dirinya merayap
sejauh ratusan kilometer,
sebelum akhirnya tenaga chucky
habis terkuras.
Berhenti sebentar, wajahnya ia
rebahkan di lantai. Beristirahat.
saat wajahnya diangkat lagi.
kepala boneka pop itu tampak
sudah dekat. Paling terpisah
satu meter dari dirinya.
Mula-Mula hanya terlihat
samarsamar sebab pandangan
mata chucky semenjak tadi terus
mengabur. namun , dengan
melecut keras sel sel otaknya,
pandangan mata chucky mau
juga menjelas. Hanya untuk
beberapa detik memang, namun
sudah cukup buat chucky melihat
bagaimana wajah pop itu
pecah-pecah, menyedihkan.
"Oh, tidak. Tidak!" chucky
mengerang dengan hati yang
sangat terluka.
"Manusia-manusia terkutuk itu
sudah merusak wajah cantik
kekasihku!"
Tangan kanan chucky lalu
terangkat. Berusaha menggapai
ke depan, dengan keinginan kuat
untuk menyentuh dan mengusap
wajah sang boneka. la berjuang
keras menyeret tubuhnya ke
depan dengan tangan kirinya.
Gagal. Tangan kirinya terasa
sudah kaku, membeku. Hal yang
sama terasa menjalar ke tangan
kanannya. chucky masih coba
bertahan namun tangan kanannya
yang menggapai itu benar-benar
lemah alang kepalang.
Kehabisan tenaga, lantas jatuh
ke lantai. Terkulai, lemas.
Disaksikan dengan mata terbuka
sang manekin, leher chucky
akhirnya tampak tertekuk.
Wajah chucky jatuh rebah ke
lantai. Sepasang matanya
lalu terpejam rapat. Dan
semakin rapat. Namun bibir
chucky masih bergerak,
menggerimir. Mcmperdengarkan
bisikan samar-samar. berbau
kemarahan. "Mereka harus
menerima balasan yang
setimpal. Mereka...!"
Hanya sampai di situ. sebab
bibir pucat chucky tahu-tahu
berhenti menggerimit. Dengan
satu gerakan tiba-tiba dan
tampak menyentak, sang maut
datang juga akhirnya.
Dan kedatangan sang maut itu
terlihat atau tepatnya terasakan
di tempat yang terpisah sejauh
ratusan kilometer, yaitu di
dalam kereta keranda kencana yang tengah melaju
menembus kegelapan malam.
"Tidaaaaaaaak!" terdengar
jeritan sayup dari dalam kereta keranda kencana
ini .
Seakan terkejut, kereta keranda kencana sempat
melenceng keluar jalur sebelum
lalu menepi lalu berhenti
ditambah bunyi decitan ribut ban
yang dipaksa menggigit aspal.
Di dalam kereta keranda kencana , mandala krida yang
wajahnya tampak pucat,
bertanya kuatir, "Ada apa lagi,
Ririn?"
Agak lambat, barulah terdengar
jawaban jessica . Gemetar,
menahan tangis. "chucky
sudah...."
jessica tak sanggup meneruskan.
Dan meski kebingungan, secara
naluriah sang suami menangkap
sesuatu yang sulit ia mengerti
sebab tak terjangkau oleh akal
sehatnya. Apa yang lalu
mampu diperbuat mandala krida
hanyalah merangkul sang istri.
Lalu menangis bersama-sama.
Di tcmpat lainnya. alam
seolah-olah ikut berkabung.
Rembulan di atas pemakaman
Bukit Asri menutupi wajahnya
dengan tabir gelombang
mendung yang hitam pekat.
Hujan memang belum turun . Te
tapi angin badai sudah ribut
belarian kian kemari sambil
menjerit-jerit penuh kemarahan.
Di dalam ruang makan makam berornamen rumah
chucky . jeritan marah angin
badai itu merembes sayup-sayup
dan seakan-akan berubah jadi
suara-suara ritual yang
menakjubkan sekaligus
menggetarkan hati.
Bersama terdengarnya suara
ritual itu, kepala boneka pop
tampak seperti menggeliat
hidup. lantas perlahan-lahan
berdiri tegak di atas penggalan
lehernya. Sepasang mata
bulatnya ganti bergerak,
mencari-cari lalu berhenti diam
begitu menemukan pecahan
pelipis dan pipinya yang
tercecer di bagian lain lantai
saat kepala itu jatuh
terguling. Pecahan pelipis dan
pipi itu tampak bergetar
lalu terangkat dari
permukaan lantai. Lalu dengan
kecepatan yang sulit diikuti
kasatmata, pecahan pelipis dan
pipi ini melesat ke arah
kepala pop hingga dengan mulus
sampai di tempat semestinya
berada, langsung menyatu
dengan bagian lainnya. Menyatu
rapat. tanpa meninggalkan
bekas walau hanya goresan
bekas retak.
Penampilan wajah pop kembali
sempurna. Tinggal wignya saja
yang masih tampak
awut-awutan. namun itu tidak
terlalu penting agaknya, sebab
sepasang mata sang boneka
dengan cepat sudah teralih ke
bagian tubuhnya yang terkapar
menyedih di dekat kursi meja
makan. Dan kali ini, tak ada
tarikan pada sinar mata sang
boneka. Kepalanyalah yang
bereaksi.
Tampak bergetar sesaat dan.
kepala itu terangkat dari
permukaan lantai. terus
melayang melewati jasad chucky
yang tcrkulai mati. Tiba di dekat
bagian
penggalan lehernya, sang kepala
meliuk turun. Lalu dengan suatu
putaran indah. mengambil posisi
yang pas untuk menyatu ke
tubuhnya.
Berhasil. Dan benar-benar
sempurna. Bahkan tangannya
yang semula terlipat patah pada
waktu bersamaan bergerak
menggeliat lalu kembali ke
posisi yang seharusnya. Juga
tanpa meninggalkan bekas
goresan.
Rebah diam sejenak, boneka pop
itu menggeliat bangkit lalu
berjalan mendekati sosok chucky
dengan langkah kaki dan
ayunan tangan yang tampak
kaku dan patah-patah. Tiba di
samping tubuh chucky , sang
boneka tegak menatap beberapa
saat, tanpa emosi apa pun di
wajahnya. Sang boneka
lalu duduk berlutut.
Kembali menatap, ia
membungkuk ke depan.
Mencium bibir pucat chucky .
Bibir digenangi darah yang
masih menetes-netes keluar dari
sebelah dalam mulutnya.
Itu adalah ciuman panjang dan
lama. Seakan tak rela berpisah.
namun sang boneka agaknya
tahu diri. Ciuman bibirnya
akhirnya ditarik mundur.
Kembali tegak dan menatap
sekali lagi ke wajah chucky , sang
boneka lalu memutar
tubuh lalu berjalan
meninggalkan ruang makan.
Dengan gerakan kaku dan
patah-patah.
Suara-suara ritual
perlahan-lahan melenyap dan
membiarkan ruang makan
dicekam oleh kesunyian yang
menekan.
Tidak demikian halnya di luar
makam berornamen rumah.
Terdengar suara guntur yang
menggelegar diikuti oleh
ledakan demi ledakan petir yang
menyambar nyambar.
Gelombang mendung hitam
pekat yang
menutupi langit malam pun
akhirnya pecah juga.
Menumpahkan lautan air dalam
badai yang menjerit-jerit.
Histeria.
"BAGAIMANA, Dok?"
"Datang juga kau akhirnya,
Komandan!" sahut yang ditanya
tanpa sedikit pun berpaling pada
yang bertanya. Ia terus saja
asyik menekuni pekerjaannya,
memeriksa luka bekas tusukan
pada bagian lambung dada
mayat yang kemejanya terbuka
lebar. Mayat chucky sudah
dipindahkan dan posisinya pun
dibuat melentang untuk
mempermudah pemeriksaan
bagian luar penyebab kematian
korban. "Miranda menahanmu
di tempat tidur ya?"
"Bukan istriku, Dokter. namun
Kapolres," bantah Ajun
Komisaris Polisi fredy krueger
Sembiring dengan wajah tanpa
emosi. Tegak berdiri di samping
sang dokter berusia lanjut itu,
fredy krueger mengalih perhatiannya
dari wajah mayat ke garis kapur
yang menandai letak dan posisi
mayat saat ditemukan, sambil
melanjutkan. "Putri bungsunya
ada yang melamar. Dan aku
kebagian tugas mewakili tuan
makam berornamen rumah sebagai penyambut
sekaligus pembicara!"
nyoto kusumoharjo . sang dokter yang juga
menyandang gelar
profesor di depan namanya,
mengeleng-geleng. Takjub.
"Lucu!"
"Apanya yang lucu?" tanya
fredy krueger sambil tersenyum.
Heran.
"Bayangkan sendiri." sahut
Dokter nyoto kusumoharjo , tetap berlutut dan
masih tanpa berpaling. "Di
sebuah upacara adat. orang
Batak mewakili orang Sunda!"
fredy krueger kembali tersenyum.
Begitu pula ajudan sekaligus
orang kepercayaannnya yang
berdiri di sebelah lain. syam
kamaruzaman . Inspektur Satu Polisi
itu semenjak tadi hanya diam
mendengar dan memperhatikan,
dengan bolpoin dan notes di
tangan. Siap mencatat bila
saat -waktu diperlukan.
'Apa salahnya?" fredy krueger
menanggapi. "Aku banyak
belajar dari keluarga Mira. Ya
tata cara adat, ya pemakaian
bahasa tinggi. Termasuk
langgam, pantun dan..."
"Luar biasa!" potong Dokter
nyoto kusumoharjo dengan desahan takjub,
sambil melihat lihat kuku jemari
tangan mayat yang
pergelangannya ia pegang dan
di dekatkan ke wajah sendiri.
Senyuman di bibir fredy krueger
sesaat melebar. "Menurutku
sih biasa biasa saja. sebab ...!"
"Jangan ge-er, Komandan!"
Dokter nyoto kusumoharjo kembali menyela.
Serius. "Yang kumaksud luar
biasa, perjuangan orang malang
ini pada saat-saat terakhir
hidupnya, yang pasti sangat
tragis!"
Bibir fredy krueger langsung mengatup
rapat. Sementara syam kamaruzaman
pura-pura berpaling untuk
menyembunyikan tertawanya
yang ia tahan di perut. nyoto kusumoharjo
merebahkan lengan yang ia
pegang ke dada mayat,
lalu bangkit dengan
ringan. Tampaklah
bahwa meski sudah berusia
lanjut, wajah maupun gerakan
dan penampilannya masih tetap
energik.
Tanpa mengetahui perubahan di
wajah sang Ajun Komisaris.
dokter itu memutar tubuh dan
memusatkan perhatiannya pada
garis lebar ceceran darah di
lantai ruang makan, terus ke
pintu tembus koridor menuju
ruang tengah di mana lanjutan
garis darah itu tak kelihatan
lagi.
"Aku sudah mengukurnya tadi,"
ia berkata serius, masih dengan
nada takjub, "Tidak kurang dari
dua ratus meter. Sejauh itulah ia
bersusah payah menyeret
tubuhnya untuk tiba ke ruangan
ini. tempat dia akhirnya
mengembuskan napas terakhir!"
fredy krueger melupakan perasaan
malunya dan diam menyimak.
Sementara syam kamaruzaman sibuk
menulis pada notesnya.
Wajahnya sama seriusnya
dengan wajah si dokter yang
kembali memutar tubuh lalu
memantau wajah mayat chucky
dengan sorot mata bersimpati.
"Sebuah perjuangan yang nyaris
tak terjangkau akal sehat!"
Dokter nyoto kusumoharjo
menggeleng-geleng. "Merayap
dan terus saja merayap. Sampai
kulit lengan maupun telapak
tangannya memar dan lecet.
Bahkan kuku jarinya sampai
belah dan sobek-sobek!"
"Letak keluarbiasaannya,
Dokter?" fredy krueger akhirnya
bertanya, sambil melihat lihat
sosok mayat yang terbujur di
depan kaki mereka. Kulit wajah
mayat itu kini bukan lagi pucat.
namun sudah mulai membiru.
"lni sekaligus menjawab
pertanyaanmu yang tadi
terabaikan...," jawab sang
dokter, ditambah helaan napas
panjang. "Perjuangan orang
malang ini, Koman
dan, dia lakukan dengan jantung
yang sudah tembus. Aku yakin
itu tusukan pertama. Dan
melihat garis dan dalamnya
tusukan. jelas sangat
mematikan!"
Sementara ajudannya terus
mencatat. fredy krueger menanggapi,
tak yakin, "Bagaimana
mungkin?"
"Mungkin saja. Jika kau
bertanya mengapa dia masih
mampu bertahan dan berjuang
sehebat itu. jawabannya cuma
satu. yaitu , keajaiban!"
lptu syam kamaruzaman mengangkat
muka dengan wajah bertanya.
Komandannya meneruskan
pertanyaan itu dalam bentuk
lisan. "Keajaiban, Dokter?"
"Benar." Dokter nyoto kusumoharjo
manggut-manggut. "Keajaiban
dari apa yang kita sebut
kehendak Tuhan. Itu jelas dan
pasti. lainnya, otak kecil. yang
menyimpan hasrat kuat untuk
bertahan hidup. Lantas
sel-selnya saling menyambung
untuk beberapa detik!"
Menyimak penjelasan dokter
yang sudah berumur itu sejenak.
fredy krueger mengalihkan
perhatiannya dari sosok mayat
ke seputar ruang makan,
termasuk ke dua cangkir kosong
bekas diminum di atas meja.
Tampak sisa taburan tepung
sidik jari di sekitar cangkir,
pertanda kedua alat bukti itu
sudah diidentifikasi.
"Kalau dia masih hidup dan
ingin meminta bantuan..."
fredy krueger akhimya berkata , tak
mengerti, "Tadi di ruang tengah
aku sempat memperhatikan
adanya pesawat telepon. namun
tak ada tanda-tanda garis darah
akan mengarah ke sana. Jalur
darah itu semua mengarah ke
ruang makan ini!" fredy krueger diam
sejenak. Berpikir. "Mengapa"
Dan apa yang dia cari, sehingga
korban harus memaksakan diri
merayap sejauh itu ke sini?"
"ltu tugas kalian untuk mencari
tahu, Ajun Komisatis. Bagianku.
adalah meja bedah." Untuk
pertama kali Dokter nyoto kusumoharjo
tersenyum. "Nah. Sudah
waktunya aku menyuruh petugas
ambulans untuk memboyong
mayat ini ke makam berornamen rumah sakit untuk
diautopsi. sesudah memperoleh izin
darimu dan keluarganya juga,
tentunya...."
"Nanti akan kutanyakan!"
"Oke. Akan kutunggu di
ambulans." Tampak lelah,
Dokter nyoto kusumoharjo mengangguk
lantas berlalu dari ruang makan.
"Akan kuteruskan tidurku yang
tadi sempat tertunda!"
Menunggu sejenak, fredy krueger
sudah membuka mulut mau
bertanya pada lptunya, saat
dari arah perginya Dokter
nyoto kusumoharjo tampak seorang polisi
wanita datang dengan
menenteng tustel siap pakai di
tangannya. Memakai seragam
dinas dengan tanda pangkat
Brigadir Dua dari bagian
identifikasi. label namanya
bertuliskan buana media .
Potongan rambutnya mengikuti
model si pencetus dan kebetulan
senama dengan dirinya, Lady
Di.
"Senang melihat Anda sudah
bergabung, Komandan!" buana
menyapa ceria sesudah lebih dahulu
memberi salam. "Ada yang mau
minum?" tanyanya lalu
sambil berjalan menuju mesin
dispenser air mineral di salah
satu sudut ruang makan. "Saya
sudah haus dari tadi...."
"Brigadir?"
buana berhenti dan sekaligus
berbalik pada si
pemanggil. Masih tersenyum,
namun sesaat berubah serius
sesudah melihat sorot tajam
menusuk di balik mata
komandannya. "Siap,
Komandan!"
"Boleh kulihat bagian bawah
sepatumu?"
Mulanya polwan itu sempat
kebingungan. namun sesudah
ekor matanya menangkap lirikan
dan anggukan kepala
samar-samar syam kamaruzaman ,
buana cepat mengangguk. "Yang
kiri atau kanan, Komandan?"
Menangkap nada menggoda
dibalik pertanyaan itu. fredy krueger
segera menyadari situasi lalu
memaksakan diri untuk tampak
lebih rileks namun masih tetap
dengan wajah serius saat
menanggapi, "Bila kau mampu
mengangkat dan
memperlihatkan bagian bawah
kedua sepatumu... sekaligus dan
sambil tetap berdiri, gajiku
setahun boleh kau ambil," ia
berkata. Tanpa senyum. "Yang
mana saja!"
Mendengar itu, buana ikut rileks
kembali. "Dan saya siap untuk
dipecat saat ini juga,
Komandan," ia balik menantang
ditambah senyuman sopan. "bila
saya terbukti berbuat
keteledoran merusak bukti kasus
di TKP!"
Berkata demikian, buana
menekuk lutut kanannya lalu
melepas sepatu yang bagian
bawahnya segera diarahkan
pada sang komandan. Malah
setengah menggoda ia
memberitahu, "Maaf,
Komandan. Belum sempat
dibersihkan!"
Sebelum menyimak dari
tempatnya berdiri, fredy krueger sudah
tahu. Sol maupun tumit sepatu
itu bersih. Memang sedikit kotor.
namun kotor bekas dipakai di
atas jalur aman. Tak terlihat
adanya bekas
atau tanda-tanda bahwa buana
sudah melanggar prosedur. yaitu
menginjak jalur berdarah.
"Oke. Pakailah kembali!"
"Terima kasih, Komandan!"
sahut buana santai. la
mengenakan sepatunya. lalu
meneruskan langkah ke
dispenser air mineral, juga
dengan santai. Sebuah gelas
kosong diambil dari tempat
persediaannya.
Berlambat-lambat, sambil
nguping.
"Aku harap kalian berdua tidak
menganggap aku mengajukan
permintaan yang tolol," fredy krueger
berkata , didahului deheman
kecil. "Atau kau dapat menjawab
apa yang ada dalam pikiranku,
syam?"
"Jujur saja." syam kamaruzaman
menjelaskan, "Sebelum tiba di
TKP kami tidak tahu apa-apa.
namun begitu kami mendarat,
jangankan hidung manusia yang
keberadaannya tak kami
inginkan, tikus nyelonong masuk
tanpa izin pun pasti kami
tembak!"
Di tempatnya mengisi air panas
ke gelas di tangan, buana
menahan senyum dan berusaha
untuk tidak berpaling.
"Jadi?" fredy krueger kembali
bertanya.
"Keajaiban. Itulah yang tadi kita
dengar dari mulut Pak Tua,"
syam kamaruzaman berkata tenang.
'Tctapi menurut pikiran saya.
Komandan, ada seseorang yang
coba coba mempermainkan
kita!"
"Oh ya" Siapa?"
"Dugaan sementara, tersangka
pelaku yang identitas maupun
keberadaannya sampai saat ini
belum kita ketahui. Mari kita
lihat cara dan bentuk
permainannya...!"
Barulah buana berpaling dan
melihat kedua orang atasannya
berlalu begitu saja tanpa
menoleh pada
dirinya. Konon lagi pamit.
namun buana media termasuk
orang yang berpikir praktis. Tak
mau dibuat pusing oleh urusan
tetek-bengek, terutama bila
urusannya sepele.
lagi pula. di ruang makan yang
tiba-tiba terasa bagai sunyi
mencekam itu ia masih punya
teman berbicara.
Meniup-niup lebih dahulu air
panas dalam gelas di tangannya,
buana memusatkan
perhatiannya ke wajah puat
membiru dari mayat yang
tergeletak menyedihkan tak jauh
dari kakinya.
"Mau bertaruh?" buana
bertanya.
Mayat chucky diam. Membisu.
'Komandanku itu bermental
baja. Lebih tebal dari bukit
Sibolangit di Sumatra sana.
Tempatnya dilahirkan!" buana
memberitahu. Diam sejenak, ia
meneruskan. "Maka taruhan kita
begini. Aku yakin dia akan tetap
tenang. Tidak terpengaruh.
Apalagi sampai terpekik seperti
tadi aku sempat terpekik saking
kaget!"
Untuk beberapa saat, sepasang
mata buana tampak
menerawang. Lalu ia
menggeleng keras untuk
membuang bayangan
memalukan saat sempat
ditertawakan oleh rekan-rekan
sejawatnya di kamar tidur TKP.
Dan kembali ia meneruskan,
"Nah. Jika aku ternyata keliru..."
Lagi buana berhenti, diam
memantau wajah mayat yang
menengadah di lantai. Wajah
pucat dan kaku membeku,
dengan noda genangan darah di
sudut-sudutnya-akibat luka
tusukan pada jantung yang juga
sudah membeku. Namun
demikian, di mata
buana -terutama saat tadi
sibuk me
motret, wajah pucat membiru
dari sang mayat masih
menyimpan gurat-gurat daya
tarik. Malah boleh dibilang
masih tetap tampan. Maskulin.
buana tersenyum kecut. Lama
mengakhiri kalimatnya. "Aku
bersedia mencium bibirmu!"
Mayat chucky tetap diam
membisu.
buana meniup niup isi gelasnya
lagi. lalu gelas
diacungkan ke arah mayat.
sambil berkata tersenyum,
"Maaf, minuman di makam berornamen rumahmu
kucicipi. Boleh, kan?"
Lalu buana pun meneguk isi
gelasnya.
Dengan nikmat.
Pada waktu bersamaan, di
ruangan lainnya.
Dengan ajudannya berjalan di
depan, Ajun Komisaris Polisi
fredy krueger Sembiring melangkah
tenang dan hati-hati sepanjang
koridor, mengikuti jalur
berdarah yang ditinggalkan tuan
makam berornamen rumah saat merayap menuju
ruang makan.
Pada jarak tertentu terlihat ada
bekas pijakan sepatu di tengah
atau sisi jalur. Bekas pijakan
sepatu wanita, dengan jarak
yang tetap dan tampak teratur.
Bekas pijakan ini lalu
tampak membelok ke kamar
tidur yang pintunya terbuka.
Suasana di dalam kamar tidur
benar-benar berantakan. seakan
pelakunya bertujuan
membongkar habis seisi kamar
untuk mencari lalu mengambil
apa yang diinginkannya.
Di mata fredy krueger maupun polisi
lainnya, itu biasa.
Yang tidak biasa adalah
jejak-jejak berdarah di
permukaan lantai. Jejak sepatu
wanita. yang di beberapa tempat
tampak dengan seenaknya
menginjak tebaran kapas dari
kasur tempat tidur yang dirobek
dengan benda tajam. dan
sepotong celana dalam laki-laki
yang terbuang dalam keadaan
masih terlipat. Menginjak lagi
sehelai gaun-yang ini gaun
wanita, jejak sepatu berdarah
tampak berakhir di depan lemari
berpintu dua. Atau persisnya di
depan salah satu pintu lemari
ini yang dalam keadaan
tertutup, sementara pintu
kembarnya dalam keadaan
terbuka.
saat ia tiba di TKP, fredy krueger
hanya sempat memperhatikan
sekilas dari luar pintu kamar.
sebab yang pertama-tama
ingin dilihatnya adalah korban,
bekas pijakan sepatu di
sepanjang jalur berdarah
sampai ke ruang makan sempat
ia amati namun tak terlalu
serius. Dan kini, di kamar tidur
korban. jejak yang tidak lazim
itu mau tidak mau memicu
fredy krueger diam-diam terpaksa
harus memeras otak.
Sebuah permainan, kata syam
kamaruzaman dan tidak menjelaskan
lebih dari itu.
namun apa"
Dua orang petugas bawahan
yang sedang sibuk di ruangan
ini langsung berhenti
bekerja begitu melihat
komandan mereka memasuki
ruangan. Namun begitu beradu
pandang dengan sang komandan
yang memantau mereka tanpa
bertanya, keduanya cepat-cepat
menyibukkan diri lagi. Yang
seorang memeriksa bagian lain
kasur yang bekas disobek.
Satunya lagi menyibukkan diri
dengan mempergunakan
sebatang pensil. mengotak-atik
isi salah satu laci yang setengah
tertelungkup di lantai. Agaknya
laci dari lemari besar berpintu
tiga dan terletak berdampingan
dengan lemari pertama.
Pintu-pintu lemari besar itu juga
pada terbuka menganga.
memperlihatkan bagian dalam
yang jelas diisi perlengkapan
untuk keperluan laki-laki .
Melangkah tenang namun
hati-hati, fredy krueger mendekati
lemari pertama yang pintu
terbukanya memperlihatkan
bagian dalam yang kosong
melompong, Jelas habis dijarah.
Pada pintu satunya lagi yang
dalam keadaan tertutup, terlihat
sisa taburan tepung sidik jari.
Berarti sudah diidentifikasi.
Lantas mengapa dibiarkan
tertutup"
Menangkap tanda tanya di
wajah komandannya. syam
kamaruzaman membuka mulut.
menjelaskan tanpa diminta,
"Hanya untuk menjaga keutuhan
apa yang ada di dalamnya.
Komandan. sebab ..."
Sang lptu tidak meneruskan
sebab tangan fredy krueger sudah
terulur ke depan. Sementara
syam kamaruzaman dan kedua petugas
lain diam-diam memantau
dengan sikap menunggu...
bahkan terkesan tegang. fredy krueger
memutar kunci pintu lemari.
Detak bunyi anak kunci pada
lubangnya terdengar keras dan
mengejutkan sebab suasana di
dalam kamar mendadak sunyi
menekan.
Perubahan suasana itu
bukannya tidak disadari oleh
fredy krueger . Namun berlagak tidak
tahu apa-apa. ia terus saja
menarik pegangan pintu.
Tenang-tenang. dengan wajah
tidak memperlihatkan emosi.
Pintu tertutup itu pun
terbukalah.
Dan orang Sibolangit itu
sesaat tertegak. Menegun.
sebab di sebelah dalam
lemari-tepat di hadapannya.
berdirilah seorang wanita lesbi
cantik rupawan bergaun merah
hati. Sepasang mata bulatnya
menatap terbuka, lurus ke mata
fredy krueger . Sementara bibir
mungilnya yang merah segar,
tampak mengulas senyum.
Senyuman tipis. Dan misterius.
Dan sesudah mati, chucky harus
gigit jari.
Ciuman gratis seorang polisi
wanita-konon pula yang sedang
menjalankan tugas, sungguh
langka didapat. Malah boleh
dikata mustahil. Yang pasti,
mayat chucky terpaksa harus
melupakan asyiknya ciuman
bibir sensual buana "Lady Di"
media .
sebab jangankan terpekik.
Ajun Komisaris Polisi fredy krueger
Sembiring terlompat mundur
saja tidak. Jika pun ia dibuat
terkejut. reaksi kejutan itu hanya
berupa kerjapan mata cepat dan
sekilas. Tak lebih dari itu.
Tanpa ada perubahan apa pun
di wajahnya, fredy krueger dengan
saksama memantau sosok
rupawan yang tegak di
hadapannya. Ada dua bagian
yang ia amati sedikit lebih lama
ketimbang bagian lainnya. yaitu
wajah dan lantai dasar lemari
tempat sosok pemilik wajah itu
berdiri diam dan kaku.
Reaksi maupun diamnya sang
komandan, mau tidak mau
memicu syam kamaruzaman
diam-diam mulai cemas. Apalagi
sesudah menyadari kedua
anggota
lainnya yang sedang bertugas di
kamar tidur itu sama-sama
melihat ke arah dirinya dengan
pandangan menuding. Nah, apa
kami bilang. Tahu rasa Pak
syam sekarang!
Memang syam yang melontarkan
ide konyol itu. "Ayo kita uji,
setebal apa mental orang
Sibolangit itu!" Sekarang ia
tahu. Dan justru mentalnya
sendirilah kini yang terpaksa
harus diuji. Maka lptu syam
kamaruzaman pun diam menunggu.
Siap untuk ditegur.
Agak lambat. barulah terdengar
suara sang komandan, sedikit
lebih berat dari yang biasa
mereka dengar. "Sebelum
membuka pintu lemari ini, aku
sudah menduga..." ujarnya
tenang. Seakan berkata pada
diri sendiri, ia menambahkan,
"Boneka pop!"
syam kamaruzaman menelan ludah,
berjuang keras menahan
perasaan cemasnya.
"Bagaimana Komandan
mengetahuinya?"
"Sederhana saja. Inspektur..."
jawab fredy krueger sambil menyebut
pangkat, bukan nama, penanda
ia ingin ditanggapi serius.
Lantas meneruskan tanpa
berpaling dari sosok menawan
di hadapannya. "Manusia hidup
takkan kalian biarkan terkunci
di dalam lemari. Mayat" Harus
segera dikeluarkan,
diidentifikasi dan tentunya juga.
divisum. lalu, sepatu. Jejaknya
jelas, begitu pula arahnya.
namun mengapa harus
repot-repot kalian
memasukkannya kembali" Dan,
dikunci pula!"
Lagi, pandangan mata kedua
anggotanya memicu syam
kamaruzaman kembali merasa
dituding. Jangan libatkan kami,
Inspektur!
Mau tidak mau syam kamaruzaman
kembali menelan ludah.
Bertambah cemas.
"inspektur?"
"Siap, Komandan!" syam
kamaruzaman menyahut. terkejut.
Sambil tegak menyahut. dengan
mengentakkan kuat-kuat rumit
sepatunya di permukaan lantai,
berharap lantai itu belah dan
dirinya tersedot masuk ke
dalamnya.
Barulah fredy krueger memutar tubuh.
Menatap heran sejenak, lantas
berkata ditambah senyuman
lembut, "Wah, syam. Santai
sajalah!"
Tanpa sebutan pangkat!
ltu pertanda si orang Sibolangit
kembali berbicara sebagai
seorang sahabat. bukan
komandan.
"Dilaksanakan!" syam kamaruzaman
menyahuti. Masih setengah
resmi, namun dengan nada lebih
gembira. Sementara kedua
anggota lainnya yang semula
sama menatap tegang.
diam-diam saling bertukar
pandang. Lalu sama-sama pula
mereka menghela napas lega,
sambil melanjutkan pekerjaan
mereka dengan berlagak tidak
melihat atau tidak mendengar
apaapa.
"Tadi kau bilang tersangka
pelaku mencoba
mempermainkan kita. Benar
toh?"
"Hanya dugaan sementara.
Komandan!"
"Oke. namun misalkan
dugaanmu benar, maka
menurutku dia sudah overacting.
Berlebihan. tepatnya!" fredy krueger
memberitahu sambil tampak
berpikirpikir. "Mendekatlah.
Dan jangan sungkan-sungkan
menegur jika aku ternyata
keliru!"
Berkata demikian, fredy krueger
mundur sedikit dari hadapan
pintu lemari yang sebelumnya ia
buka,
tempat sang sosok tegak
mematung. seakan menunggu.
Sang inspektur Satu yang sudah
menemukan dirinya kembali
berjalan mendekat lalu
menempati tempat yang
ditinggalkan komandannya.
Kedua anggota lainnya
diam-diam meninggalkan
pekerjaan mereka, ikut mendekat
lalu berdiri di belakang syam
kamaruzaman . ikut memperhatikan ke
sebelah dalam lemari dengan
pandangan ingin tahu.
"Pertama, syam..." fredy krueger
menjelaskan, "Jejak-jejak tumit
sepatu berdarah di dasar lemari.
Kali ini tidak beraturan. Tampak
seperti berputar. Punya
pendapat?"
Yang ditanya manggut-manggut
lantas menjawab yakin, "ltulah
permainannya, Komandan.
Tersangka pelaku memicu
situasinya tampak rumit!"
"Rumitnya?"
"ia ingin kita percaya bahwa
pop ini berjalan sendiri.
memicu jejak-jejak pada jalur
berdarah. lalu menyimpan pop
ke lemari ini dengan cara
sedemikian rupa, sehingga pop
seolah-olah masuk ke dalam lalu
memutar langkah. Agar saat
berdiri. pcsisinya menghadap ke
sebelah luar pintu!"
"Untuk apa tersangka pelaku
berbuat serepot itu?"
"Kejutan tentunya, bagi siapa
saja yang membuka pintu...." Di
ujung kalimatnya, syam kamaruzaman
berhenti. Kembali merasa
bersalah. kembali siap untuk
ditegur. sesudah teguran yang ia
tunggu tak juga kunjung tiba,
sang lptu menambahkan,
"Bahkan Lady Di kita nyaris
histeris!"
"Oh. ya?" fredy krueger mengernyitkan
dahi.
"Maksud saya, Komandan,
Bripda buana sempat
terpekik. Saking kaget!" syam
kamaruzaman memperbaiki dengan
senyum ditahan. teringat
bagaimana polwan atau polisi
wanita yang ia sebut-sebut
bukan cuma terpekik. Wajah
buana media juga pucat pasi
dan mulutnya yang terbuka tidak
mampu mengeluarkan kata-kata
selama beberapa detik.
Sementara ingatan itu memicu
salah seorang anggota tampak
menahan tawanya, fredy krueger
kembali membuka mulut. "jika
dugaan kalian benar. tersangka
pelaku jelas bukan cuma rajin.
namun juga punya otak dengan
segudang ide kreatif. Sayang.
aku tetap menganggap
kreativitasnya sudah
berlebihan!"
"Mengapa, Komandan?"
"Bibir si jelita ini. Coba kalian
perhatikan!" jawab fredy krueger
datar. "Apa yang kalian lihat?"
Sang Iptu maupun kedua orang
anggota di belakangnya
serempak mengangkat muka.
Dan samasama memperhatikan
ke arah bibir mungil sosok di
dalam lemari, yang tampak jelas
dan nyata sebab posisi berdiri
sang sosok tepat menghadap ke
sinar lampu kamar yang
menyala terang benderang.
Saat itulah syam kamaruzaman diam
tertegun.
Salah seorang anggota di
belakangnya tak sabar
menunggu, lantas tanpa bisa
menahan diri, ia lontarkanlah isi
otak pintarnya. "Bibir merah
segar ini. Komandan.
Senyumannya... tampak hidup!"
"sebab bentuk cetakan
pabriknya benar-benar
sempurna!" anggota satunya
lagi tidak mau ketinggalan
menanam andil.
Manggut-manggut yakin. ia
menambahkan, "Termasuk
pengecatan warna bibir.
Sehingga..."
"Cat!" syam kamaruzaman tiba-tiba
mendesah tajam. "Cat bibirnya
ternoda!"
Untuk meyakinkan apa yang
sudah dilihatnya. syam kamaruzaman
maju lagi selangkah. Leher
bahkan ia panjangkan supaya
dapat melihat lebih dekat.
sehingga wajahnya nyaris
bersentuhan dengan wajah
cantik boneka pop di sebelah
dalam lemari. Kedua anggota
yang berdiri di belakangnya
ingin mencuri lihat. Malang,
batas pandang mereka diborong
habis oleh tengkuk dan kepala
sang Inspektur yang sesaat
lalu berkata lirih
setengah tak mengerti.
"Kok tadi aku tak melihatnya,
ya?"
Saat syam kamaruzaman
memundurkan kepalanya,
barulah kedua anggota lainnya
menyimak dan melihat apa yang
sudah dilihat oleh sang lptu.
Sadar sang komandan masih
berada di dekat mereka, orang
pertama yang tadi berbicara
sekali lagi membuka mulut. Kali
ini. dengan nada setengah
membela diri. "Pasti sebab tadi
kita dibuat sibuk menenangkan
sang Lady?"
"Juga membandingkan
bibir-bibir yang kita saksikan.
Bibir yang sama sensualnya,
dan...!" orang kedua menimpali,
lalu menutup sendiri mulutnya
sesudah ujung sepatunya diinjak
oleh rekan sejawatnya.
fredy krueger diam-diam menahan
tawa. Lalu bertanya. serius.
"Nah. Inspektur?"
Kembali menyebut pangkat.
Maka syam kamaruzaman pun
menyahuti dengan nada resmi.
"Siap, Kontandan. Ada noda
pada sudut bibir kiri pop ini.
Warna merahnya lebih tua.
'Tidak segar, tidak
bersinar-sinar sebagaimana
bagian bibir lainnya!"
"Juga lembap, kalau tak salah!"
timpal fredy krueger . Kalem.
"Siap. Komandan. Juga
lembap!" syam kamaruzaman
mengangguk setuju.
"itu maka kubilang... jika
dugaan kalian benar. tersangka
pelaku sudah berlebihan.
Meneiumkan bibir pop ke bibir
orang malang yang sudah jadi
mayat itu. Benar-benar
keterlaluan." fredy krueger
menggeleng-geleng. Tampak
masgyul, ia menambahkan.
"Sangat tidak manusiawi!"
Menangkap adanya perubahan
di wajah komandannya, syam
kamaruzaman memberanikan diri
untuk bertanya, hati-hati,
"Agaknya Komandan punya
sesuatu..."
fredy krueger seperti terkejut. Cuma
sesaat. Lantas sambil tersenyum
misterius, ia lalu
menjawab enteng. "Cuma
firasat...!"
Tak ada penjelasan tambahan.
Dan syam kamaruzaman tidak punya
keranian untuk mendesak.
Apalagi komandannya sudah
keburu mengajukan pertanyaan
dengan wajah masih tetap
serius. "Masih ada kejutan
lainnya untukku, syam?"
Kembali cuma nama. Sang lptu
bertukar pandang dengan kedua
anggotanya yang balas menatap
dengan pandangan pasrah:
terserah Pak Inspektur sajalah!
syam kamaruzaman segera mengambil
keputusan. Didahului oleh
penjelasan resmi, sebagai
pengantar kata. "Pop akan kami
serahkan pada bagian forensik
untuk memastikan DNA pada
bibirnya. Pak tua nyoto kusumoharjo yang
suka nyinyir itu pasti bersedia
mengerjai si Cantik ini?" syam
kamaruzaman melirikkan ekor mata
ke sosok menawan di dalam
lemari, "Sebagai selingan yang
mengasyikan!"
fredy krueger ikut melirik ke arah yang
sama. Tampak berpikir. lalu
berkata murung, "Tentang
boleh tidaknya dikerjai, nantilah
kuputuskan!"
"Siap, Komandan!"
fredy krueger kembali memantau
wajah ajudannya. Menatap
lurus. "Nah" Masih ada kejutan
lainnya untukku?"
Barulah wajah syam kamaruzaman
kembali tampak bergairah lantas
masuk ke jawaban yang
seharusnya. "Masih, Komandan.
Namun tak lebih dari sebuah
kejutan kecil!" la memberitahu
dengan santai, "Pop kita ini
punya kembaran..."
"Dan hidup, lagi!" si anggota
pertama yang tadi merasa pintar
cepat mengamini.
Yakin, kali ini ia memberi
sumbangan komentar yang
benar.
PIA bolak-balik pingsan," syam
kamaruzaman menjelaskan sambil
membukakan pintu depan untuk
komandannya. "Atau
menjerit-jerit histeris sambil
meronta ronta. Maka kami
ungsikan bersama suaminya ke
makam berornamen rumah sebelah. supaya tidak
menganggu TKP!"
fredy krueger tidak menanggapi sebab
memang tidak mendengarkan. Ia
sedang berpikir keras.
jejak-jejak sepatu berdarah itu
begitu sempurna, terutama pada
gerakan berputar di lantai
lemari.
Bagaimana mungkin sebuah
manekin atau boneka pop yang
keras dan kaku mampu
melakukannya, walaupun
dibantu tersangka pelaku"
Masih ada lagi. Jika memang
benar demikianlah kejadiannya,
berarti tersangka pelaku
membiarkan korbannya merayap
sekarat dari ruang tengah ke
ruang makan. Untuk apa"
Bukankah di ruang tengah
tersedia cukup banyak darah
untuk disapukan ke sepatu
boneka"
Lalu, pertanyaan yang terus
mengusik sel-sel otak fredy krueger itu
adalah, mengapa ke ruang
makan"
Apa yang ingin dilihat atau
dicari korban di ruang makan
itu"
Pasti ada yang salah di sini.
namun apa"
Udara malam yang dingin
menusuk langsung menyergap
begitu mereka berada di luar.
fredy krueger sempat menggigil lalu
memantau segerombolan penghuni
yang berkerumun dalam
kelompok-kelompok kecil di
seberang jalan. Hampir
serempak, kelompok penghuni
ini balik memantau
dengan pandangan ingin tahu.
Salah seorang petugas ambulans
yang sedang duduk mengobrol
di kursi teras cepat bangkit
sambil bertanya, "Rongsokannya
sudah boleh kami angkut. Pak
syam?"
"Itu yang mau kami
konfirmasikan pada yang lebih
berhak!" jawab syam kamaruzaman
sambil menggerakkan ibu jari
tangan kanannya ke arah makam berornamen rumah
besar yang lokasinya
berdampingan dengan makam berornamen rumah
TKP. lalu ia mengikuti fredy krueger
menuruni teras.
saat melewati ambulans
yang pintu belakangnya tertutup
rapat, terdengar suara orang
mendengkur keras. Dengkuran
siapa lagi jika bukan si dokter
tua nyoto kusumoharjo , yang kalau sudah
mengantuk bisa tergeletak pulas
di mana saja, tak peduli itu di
atas ranjang lipat pengangkut
mayat!
Petugas bersenjata yang berjaga
di sebelah dalam garis polisi
sesaat menyahut saat fredy krueger
dan ajudannya mendekati pintu
gerbang. fredy krueger membalas
dengan anggukan sekilas sambil
memantau luapan air selokan
yang melimpah ke badan jalan.
"Yang begini inilah penyebab
mengapa tadi aku
terlambat tiba," gumamnya
tanpa gairah sambil melangkah
di atas trotoar yang basah.
"Rombongan tamu Kapolres kita
terperangkap banjir di tengah
perjalanan, sehingga
kedatangan mereka tidak sesuai
jadwal. Ditambah obrolan
ngalor-ngidul hampir satu jam
sebelum upacara dimulai, hanya
untuk menuding birokrasi yang
dianggap sebagai penyebab
selalu tertundanya usaha
penanggulangan bencana banjir.
Aku sempat nimbrung.
memberitahu mereka jalan mana
yang paling aman dilalui baik
untuk datang maupun pulangnya
nanti dari makam berornamen rumah Kapolres..."
fredy krueger berhenti bicara untuk
merunduk keluar dari bentangan
pita kuning garis polisi di
sepanjang trotoar, yang
diangkatkan oleh ajudannya.
Berjalan kembali, ia berkata
menggeleng-geleng, "Eh, tak
tahunya dalam perjalanan ke
sini, ganti akulah yang
terperangkap. kereta keranda kencana ku malah
sempat mogok sebab knalpot
dijejali luapan air!" fredy krueger
menggeleng lagi, lantas
mengakhiri. "Hujan badai sialan
itu!"
"Padahal turunnya tidak sampai
dua jam." sang ajudan
menimpali, setengah
menyabarkan. "Cuma ya itu.
Ditumpahkan sekaligus. Bukan
hanya kita-kita ini, langit pun
terkadang juga malas
mencicil...!"
Memasuki gerbang makam berornamen rumah yang
dituju dan juga dijaga oleh
seorang petugas bersenjata,
syam kamaruzaman bertanya setengah
memperingatkan, "Apa tidak
lebih baik besok pagi saja dia
kita temui?"
"Jangan membuang waktu yang
sudah ada di tanganmu.
lnspektur." fredy krueger menanggapi.
Wajahnya sudah kembali pada
sikap serius. "Lagi pula,
sekarang toh sudah memasuki
pagi hari!"
Tuan makam berornamen rumahlah sebenarnya yang
dipikirkan syam kamaruzaman . Sudah
direpoti, kini masih juga
diganggu. namun lelaki tengah
baya yang menyambut mereka
dengan wajah tampak jernih dan
segar. cuma menanggapi dengan
santai saat fredy krueger meminta
maaf sebab datang bertamu
tidak pada waktu yang
menggembirakan.
"Bukan salah Anda,
Komandan!" ia berkata ringan
ditambah senyuman ceria dan
bersahabat. Tanpa memerinci
apa atau siapa yang bersalah.
seakan semua itu sudah menjadi
urusan Tuhan semata. "Lagi
pula, dia dan suaminya memang
sudah tak sabar menunggu
kedatangan kalian!"
"Oh ya?" fredy krueger menanggapi
pendek dan he
ran.
Keheranan Bunok terjawab
dengan segera sesudah ia dan
ajudannya memasuki kamar
tidur tempat orang yang mereka
tuju terbaring lemah dan pucat
ditunggui oleh suaminya dan
istri tuan makam berornamen rumah yang segera
berlalu sesudah saling
memperkenalkan diri dengan
fredy krueger .
Begitu tuan makam berornamen rumah mereka
berlalu, jessica langsung
mengangkat muka. Menatap
lurus ke wajah fredy krueger dengan
sepasang matanya yang tampak
sembap bekas tangis yang
berkepanjangan. Dlpegangi
sang suami. lirih dan gemetar ia
berbicara tersendatsendat, tapi
terdengar seperti menyimpan
kemarahan. "Mereka bilang...
chucky akan dibawa ke makam berornamen rumah
sakit. Untuk... dibedah!"
"Tepatnya diautopsi!" syam
kamaruzaman membetulkan, dengan
sikap dan suara lembut, sesudah
jawaban yang ditunggu tak
kunjung keluar dari bibir
fredy krueger yang mengatup rapat.
Sangat rapat malah. Sambil
Busrok terus menatap si
pembicara dengan kelopak mata
nyaris tidak mengedip.
Cuma sebuah kejutan kecil, kata
ajudannya.
namun cukup memicu Butsok
takjub alang kepalang. Hanya
sebab sudah terbiasa menahan
emosi sajalah yang memicu
mulutnya tidak membuka.
tcrcengang-cengang.
Bagaimana tidak. di
hadapannya duduk setengah
berbaring kembaran sang
manekin! Bibir mungilnya,
hidung, tulang pipi, mata
lebarnya yang bulat, bahkan
sampai ke potongan rambut.
Dan yang lebih menakjubkan
lagi, semua itu tampak bersinar
dan bergerak-gerak. hidup.
Tidak selayu dan semati yang
tegak membeku di balik pintu
lemari!
Inspektur Satu syam kamaruzaman
terpaksa harus mengambil alih,
sibuk berdebat dengan kedua
orang saksi utama mereka.
Terutama si kembaran pop yang
cepat berpaling ke arah dirinya,
lantas berkata dengan nada
pedas dan marah. "Sama saja!
Tubuh chucky -ku tercinta tetap
disayat-sayat dengan kejam!"
"Nanti juga akan dijahit
kembali, Bu jessica . Dan?"
Sementara ajudannya sibuk
menjelaskan dengan sabar
tentang prosedur dan perlunya
autopsi. fredy krueger sudah
menemukan dirinya kembali.
Hal itu disebab kan ekor
matanya secara kebetulan
menangkap sesuatu. yaitu
perubahan di wajah sang suami.
Wajah yang semula menyimpan
duka cita itu sesaat tampak
berubah kaku saat tadi
mendengar penuturan istrinya.
Kata-kata yang mana kiranya
tadi" Oh ya. Kalau tak salah:
chucky -ku tercinta. Sesaat otak
fredy krueger pun sibuk bekerja.
Sebelumnya, melalui
pembicaraan telepon yang
diterima fredy krueger saat ia
masuk di makam berornamen rumah Kapolres. syam
kamaruzaman sudah memberitahu.
Ada dua saksi utama, salah
satunya wanita. Saudara kembar
korban. "...tctapi tidak mirip
satu dengan lainnya. Jelas lahir
dari sel telur yang tidak sama!"
syam kamaruzaman menambahkan di
telepon.
Ajudannya tidak salah.
Terbukti wanita yang kini ada di
hadapan mereka-kecuali pada
bentuk tulang pipi dan dagu.
tidak punya kemiripan lainnya
dengan mayat yang tadi mereka
tinggalkan di makam berornamen rumah sebelah.
Kembaran yang lebih tepat,
justru dengan apa yang
tersimpan di balik pintu lemari,
sebuah boneka pop!
Ah. lupakan dahulu manekin atau
boneka sialan itu! Tanamkan di
benakmu ucapan kembarannya:
chucky -ku tercinta. bukan
saudara-ku tercinta. ltu jelas
berbeda. Seorang ibu boleh saja
menyebut anakku tercinta
mengenai anak kesayangannya,
namun tidak oleh seorang wanita
pada saudaranya yang sudah
sama-sama dewasa.
Terutama. bila wanita itu sudah
bersuami!
Di sisi lain, sebutan khusus itu
bisa saja tidak punya arti
apa-apa. Mungkin sekadar
kecemburuan seksual dari
seorang suami. namun ...
'Tidak! Saya tetap tidak
mengiyakan!"
fredy krueger mengerjap dan kembali
menatap pada si
kembaran boneka, yang
menggeleng-geleng marah lalu
menambahkan. "Luka bekas
tusukan itu sajameski saya
belum melihatnya, sudah lebih
dari cukup. jasad chucky jangan
lagi dibuat semakin parah dan
menyedihkan!"
Kalimat terakhir diucapkan
bedan isakan tangis tertahan.
Diikuti lelehan air mata pula.
mandala krida sang suami. cepat
merangkulkan tangan ke pundak
istrinya. Membujuk dengan
suara lirih oleh pcrasaan.
"Sudah. sayangku. Sudahlah.
Biarkan aku yang berbicara...!"
Lalu tanpa menunggu jawaban
istrinya. mandala krida cepat
mengangkat muka. Berpaling
lalu bertanya. tidak pada syam
kamaruzaman , namun langsung pada
fredy krueger , "Jawablah pertanyaan
saya. Komandan. Apakah
penyebab kematian saudara
kembar istri saya sudah
diketahui?"
Untuk sesaat, fredy krueger menghela
napas. lalu menyahuti dengan
suara datar, "Memang sudah.
namun baru visum sementara.
Jadi?"
"Selesai sudah, kalau begitu!"
mandala krida cepat menyela. Tuntas.
"Keputusan istri saya. saya
dukung sepenuhnya!"
Mereka punya hak, dan fredy krueger
pun menyerah. Lantas
memperlunak sikapnya.
"Baiklah. namun masih banyak
yang akan kami tanyakan. Baik
dari Anda maupun dari istri
Anda...!"
"Sekarang juga?"
fredy krueger mengangguk tenang.
"Makin cepat makin baik.
bukan?"
Ganti mandala krida yang mengalah,
sebagai timbal
balik. "namun istri saya nanti
saja. Menyusul. Dia masih shock
berat. Perlu istirahat...."
"itu sudah pasti!" fredy krueger
menyetujui. "Marilah kita dari
tempat yang lebih leluasa untuk
berbincang-bincang!"
"Oke." mandala krida lebih dahulu
membantu istrinya supaya dapat
rebah dengan nyaman. sambil
membujuk. dengan senyuman
lirih tapi lembut. "Kau cobalah
tidur, Ririn. Jangan memicu ku
kehilangan dirimu pula, sesudah
kita kehilangan chucky ...!"
jessica mengangguk patah-patah.
"Cepatlah kembali padaku, Mas
Pras!"
"Pak Komandan pasti
mengembalikan aku secepat
mungkin!" mandala krida menjawab
sekaligus memberi peringatan
pada fredy krueger . Sambil
menyelimuti dan lalu
mengecup kening istrinya,
"Jangan lupa, perbanyaklah
beristigfar, oke?"
Lalu mandala krida bangkit dan sudah
berjalan ke arah pintu.
manakala fredy krueger yang terus
memantau tempat tidur
tahu-tahu berkata dengan nada
sambil lalu, "Walau dalam
keadaan kusut, Bu jessica .
Potongan rambut Anda tetap
saja menarik hati...."
wanita lesbi !
Biar kata masih shock, jessica
toh bisa juga tersenyum.
Dipaksakan, memang. namun
tetap saja itu seulas senyuman.
Dan cukup untuk fredy krueger
melempar umpan pancing yang
ada di benaknya. "Pasti model
kesukaanmu ya?"
jessica menyambut umpan itu
tanpa berpikir. "Bukan saya.
Komandan. Melainkan saudara
kembar saya. chucky . Dia?"
Ada helaan napas. Pendek namun
dalam. fredy krueger
tahu itu helaan napas siapa.
Dan cepat menutup
pembicaraan sebelum jessica
mengakhiri kalimatnya,
"Saudara kembarmu, Bu jessica ,
jelas punya selera tinggi!"
Selagi senyum di bibir pucat
jessica tampak lebih mekar,
fredy krueger sudah mengakhiri,
"Tegurlah saya bila suamimu
terlambat kami pulangkan ke sisi
ibu. Permisi!"
fredy krueger mengangguk sopan,
tersenyum, lalu memutar tubuh
dan melangkah ke luar pintu.
Diikuti oleh mandala krida yang
wajahnya tampak membeku. lalu
syam kamaruzaman yang
mengernyitkan dahi. Tak
mengerti.
Apa-apaan komandanku ini"!
SELAIN mempersilakan ruang
tamunya untuk dipakai, tuan
makam berornamen rumah juga dengan segera
sudah menghidangkan mayonaise
panas dan mi rebus pakai telur
yang sungguh mengundang
selera.
"Istri saya sudah berlelah-lelah
di dapur. Maka tolong
hidangannya tidak dibiarkan
dingin!" Katanya riang sebelum
berlalu sambil tak lupa
mengingatkan pelayan yang
mengantar hidangan agar tidak
memperbolehkan siapa pun hilir
mudik ke ruang tamu.
Mangkok fredy krueger dan syam
kamaruzaman dengan cepat sudah
licin tandas. mandala krida hanya
mencicipi sedikit sebelum
lalu ia simpan kembali
mangkoknya di meja, sambil
berkata . murung, "Rasanya
seperti disambar petir!"
Seperti orang tolol, fredy krueger dan
ajudannya sama menatap dari
wajah lalu ke mangkok mandala krida.
"Bukan hidangannya," mandala krida
menggeleng ditambah senyuman
getir. "namun kematian saudara
ipar saya. chucky !" Diam
melamun sejenak. lalu
menambahkan, "Masih segar
dalam ingatan saya saat terakhir
kami bertemu. Suara tawanya
yang Iepas... semangat hidupnya
yang masih tetap tinggi, dan..."
"Kapankah itu?" Sang Ajun
Komisaris dengan cepat
menyambar kesempatannya
untuk memulai interogasi.
Sementara di kursi lainnya, sang
ajudan segera bersiap dengan
bolpoin dan buku notesnya.
Dengan mata menerawang,
mandala krida menjawab setengah tak
sadar, "Tiga hari yang lalu.
Selasa!"
"Jam?"
"Kalau tak salah sekitar jam
satu. itu makanya saya ajak dia
mengobrol di restoran dekat
kantornya. sebab memang pas
waktunya untuk makan siang."
"Apa saja yang kalian
bicarakan?"
"Tidak banyak. sebab waktu
saya pun sempit. Saya kebetulan
ditugasi perusahaan untuk
mengurus sesuatu di kota ini.
Dan...." mandala krida berhenti.
Matanya tampak terjaga
kembali. Menatap lurus ke
wajah fredy krueger , ia lalu
tersenyum. Kecut. Lantas
berkata serius. "Saya
menangkap apa yang ada dalam
pikiran anda, Komandan. Untuk
itu... kapan saja Anda butuhkan,
saya siap menyerahkan data
yang Anda inginkan. Termasuk
siapa dan apa yang saya
bicarakan dengan relasi
perusahan yang saya temui hari
itu!"
"Oke." fredy krueger balas tersenyum.
Datar. "Teruskanlah!"
"Namanya juga singgah.
Sebentar pula. Jadi kami hanya
saling menanyakan kabar dan
keadaan masing-masing. Cuma
itu!"
"Tidak ada pembicaran
khusus?"
"Tentu saja tidak. sebab ... oh.
ya. Memang ada juga. Namun
jelas tidak ada kaitannya sama
sekali dengan urusan
penyelidikan Anda."
"Kita lihat saja nanti...." fredy krueger
menanggapi. ditambah senyuman
membujuk.
mandala krida mengalah. Lebih dahulu
meneguk mayonaise nya-tanpa
wajahnya memperlihatkan
sedikit pun selera, ia lalu
menceritakan bagaimana ia
dititipi amanat oleh jessica .
istrinya. "Sempatkan singgah
dan bujuk lagi dia supaya cepat
menikah. Bilangi, aku tak suka
dia menyia-nyiakan umurnya...."
sebab sudah pernah mencoba
dan beberapa kali gagal, selagi
makan siang dengan saudara
iparnya, mandala krida hanya
menyinggung amanat itu dengan
setengah bercanda. "Aku
terutama adikmu, selamanya
pasti akan bersedih bila
onderdilmu jadi mubazir.
Dibiarkan aus, tak terpakai!"
chucky tertawa bergelak
mendengar penuturan iparnya.
lalu dengan wajah serius tapi
ceria ia menanggapi dengan
santai, "Tak usah kuatir, Pras.
Onderdilku selalu kuasah
dengan baik!"
"Mengasah bagaimana?" syam
kamaruzaman menyeletukkan tanya.
sesudah melihat saksi mereka
kembali duduk diam. Melamun.
Agak lambat. barulah terdengar
jawaban mandala krida. "Mana saya
tahu. Inspektur. sebab ipar
saya agaknya menangkap
gelagat dan cepat mengalih
percakapan kami ke hal-hal lain.
Sampai akhirnya saya pamit
untuk pulang ke mojokerto !"
"Hem!" syam kamaruzaman mendesah.
lantas diam. Tampak
berpikir-pikir. Manekin. Lalu
'onderdil' yang selalu diasah.
Mungkinkah ada kaitannya"
Salah mengerti, mandala krida
memantau sang Iptu dengan
pandangan mengejek. "Atau,
jika masih pcnasaran juga.
mengapa tidak Anda tanyakan
saja sendiri pada orangnya"
Mumpung dia masih di makam berornamen rumah
sebelah!"
"Saran yang menarik." syam
kamaruzaman tersenyum. Kaku. "Nanti
akan saya tanyakan padanya!"
Sementara mandala krida menatap
heran, fredy krueger mengerling
sekilas pada ajudannya sebagai
isyarat mereka punya pikiran
yang sama. Lalu mereka kembali
melanjutkan tanya jawab.
"Apakah korban ada
memperlihatkan tanda-tanda
bahwa ia sedang dipusingkan
atau dikejar-kejar oleh
sesuatu?"
"Dikejar apa, Komandan?"
fredy krueger angkat bahu. "Masalah.
mungkin!"
"Tidak!" mandala krida menggeleng.
"Kalau pun ipar saya punya
masalah, saya bahkan juga istri
saya yang saudara kembarnya
sendiri, mungkin tidak akan
pernah tahu. Bukan sebab
orangnya tertutup, namun lebih
disebab kan karakternya yang
kuat. Selain percaya diri. chucky
selalu menyimpan dan
mengatasi sendiri masalah yang
ia hadapi. Tanpa pernah mau
merepotkan orang lain,
betapapun beramya. ltulah
setidak-tidaknya yang saya tahu
mengenai dirinya!"
fredy krueger memantau sejenak.
menghela napas, lalu
mengajukan sejumlah
pertanyaan yang sifatnya ru
tin, yang jawabannya pun
lalu terdengar bernada
rutin.
Sudah lama menikahi adik
kurban" Oh, baru kira-kira
setahun setengah, persisnya
yah... lima belas bulanlah.
Pernikahan kalian direstui oleh
korban" Direstui. Apakah
korban punya pacar" Setahu
saya. tidak. Bagaimana dengan
musuh" Idem ditto. Dia terlibat
utang pada seseorang" Dan
sejumlah pertanyaan rutin
lainnya, sebelum akhirnya
fredy krueger mengajukan pertanyaan
yang semakin menjurus, "Malam
tadi, antara pukul 10 dan 10.30.
Anda berada di mana?"
"Masih di mojokerto . sebab
saat akan meninggalkan
makam berornamen rumah, saya sempat
memperhatikan jam digital di
kereta keranda kencana saya. Dan?" mandala krida
berhenti. Lantas balik bertanya.
Serius. "Apakah itu saat
kematian ipar saya?"
fredy krueger mengangguk. "Perkiraan
sementara. Dari pak tua nyoto kusumoharjo
yang ketajaman otaknya tak
pernah kami ragukan!"
"Oh."
fredy krueger tidak memberi saksi
mereka kesempatan untuk
bernapas. "Pukul berapa
persisnya Anda bedan istri
meninggalkan makam berornamen rumah?"
"Yah, sekitar waktu yang Anda
sebut tadi...."
"Berangkat malam. Jadi, sebuah
kunjungan yang sudah terencana
tentunya !'
"Tanpa rencana!" mandala krida
cepat menggeleng. Murung,
sambil matanya tampak resah.
"Sudah mendadak. juga sangat
membingungkan...."
'Membingungkan?"
'Bagaimana tak bingung,
Komandan." mandala krida
menarik napas berulang-ulang.
Berpikir ragu-ragu sejenak. ia
lalu memberitahu,
"Keberangkatan kami berdua ke
kota ini semata-mata digerakkan
oleh... mimpi buruk!"
fredy krueger mengernyitkan dahi.
syam kamaruzaman . orang
kepercayaannya. bahkan sampai
berhenti menulis. lantas diam.
Menunggu.
mandala krida bercerita dengan mata
menerawang jauh. Saking
anehnya. baru beberapa menit
meninggalkan makam berornamen rumah, mereka
sempat menepi di jalan. Untuk
bertangis-tangisan. sebab
sadar mereka toh terlambat dan
chucky sudah benar-benar mati.
Namun saat meneruskan
perjalanan. mandala krida
menemukan akal sehatnya
kembali. lalu berusaha keras
menolak bayangan musibah
yang menghantui pikiran
istrinya. la bilang mungkin saja
saat membaca novel, jessica
terlelap. Walau cuma sekilas,
toh mimpi buruk mungkin saja
datang mengganggu.
saat istrinya membantah,
mandala krida pun mendesakkan
argumen lain. Halusinasi,
katanya. lalu mengingatkan
jessica pada tayangan film
televisi yang mereka saksikan
sebelum jessica masuk tidur dan
mandala krida sendiri terkurung di
ruang kerjanya. jessica sempat
mengomentari, tokoh yang mati
terbunuh di sebuah pondok
pegunungan dalam film ini
persis saudara kembarnya
chucky . yaitu Iebih suka hidup
menyendiri dan terlalu yakin
pada kemampuannnya sehingga
sering-sering tidak waspada.
"Kau lantas terpengaruh. Dan
saat rebahan membaca.
pikiranmu ngelantur. Dan
jadilah halusinasi itu muncul!"
Dibantah lagi.
mandala krida pun sibuk mencari dan
mengemukakan beberapa
argumen lainnya. sebab terus
ditolak, mandala krida capek sendiri.
Lantas sekeluar dari jalan tol
Cikampek, ia membelokkan
kereta keranda kencana mereka ke halaman
restoran Padang. "Kita makan
dan istirahat saja dahulu
sebentar," katanya, setengah
frustrasi. "Supaya kita dapat
berpikir lebih jernih dan..."
"Makan"!" jessica langsung
mengerang dalam rintihan sakit.
"Sementara di sana chucky -ku
mati sengsara?"
Disaksikan tukang parkir dan
para pelayan restoran yang
menatap heran, mandala krida mau
tidak mau memundurkan kereta keranda kencana
mereka. Kembali ke jalan, tanpa
sempat turun. Untuk
menghindari silang pendapat,
perjalanan malam yang aneh itu
mereka teruskan dengan mulut
mandala krida lebih banyak terkunci,
begitu pula jessica yang sesekali
terlihat mengeluh atau
melelehkan air mata.
Dan. mereka pun tiba di Bumi
Asri.
sesudah sempat terganggu oleh
luapan air yang menggenangi
badan jalan yang mereka lalui,
tampaklah pintu gerbang yang
secara mengherankan dalam
keadaan menganga terbuka.
makam berornamen rumah yang dituju sunyi sepi.
Dan pintu garasi tidak
ditutupkan dengan benar.
Jantung mandala krida langsung
berdetak melihatnya. Sementara
jessica menutupkan tangan ke
mulut, berusaha untuk tidak
menjerit dengan sepasang
matanya menatap tegang dan
liar.
Sama tegangnya, mandala krida
berbisik serak pada sang istri.
"Kau tunggulah di sini. namun
segeralah lari menyelamatkan
diri bila kau melihat atau
mendengar tanda-tanda
mencurigakan selagi aku di
dalam sana. Minta pertolongan
pada siapa saja. Paham?"
Usai memperoleh anggukan
tegang istrinya, mandala krida
mengendap-endap ke arah
garasi dengan kunci pembuka
roda sebagai senjata di tangan.
Namun toh jessica diam-diam
keluar juga. ltu diketahui oleh
mandala krida saat ia masih
tertegun pucat menyaksikan
banjiran darah segar di lantai
ruang tengah. Ada helaan napas
tertahan di belakang
punggungnya. Dan mandala krida
sudah berbalik tubuh untuk.
secara naluriah.
menghantamkan kunci roda di
tangannya. Lalu melihat tubuh
jessica yang tengah menggeloyor
ke bawah.
Ambruk di lantai. Pingsan.
"Syukurlah dia keburu semaput
begitu melihat darah," mandala krida
mengakiri ceritanya dengan
suara mengerang. Wajahnya
tampak masih menyimpan
ketegangan. "Bila tidak, korban
yang jatuh bukan cuma ipar
saya!"
fredy krueger mengambil cangkir
berisi mayonaise di hadapan mandala krida
lalu menyorongkannya ke
tangan lelaki yang tampak
gemetaran itu.
"Ini. Minumlah!"
MANEKIN itu sudah kalian
perlihatkan pada kedua orang
saksi?"
Mereka baru keluar dari makam berornamen rumah
penitipan saksi untuk kembali
menuju makam berornamen rumah TKP dan
langsung disambut lantunan
suara orang mengaji dari
pengeras suara masjid terdekat.
Pertanda waktu sudah
mendekati saat menunaikan
sholat subuh. syam kamaruzaman diam
mendengarkan sejenak, baru
lalu menjawab pertanyaan
komandannya. "Belum,
Komandan. saat kami tiba di
TKP, suami-istri itu terlalu
shock untuk disuruh
melihat-lihat dan memberitahu
kemungkinan apa saja yang
sudah dicuri dari makam berornamen rumah korban."
Melihat sekilas ke arah
kerumunan penghuni yang
sebagian mulai membubarkan
diri, sang lptu menambahkan,
"Bahkan makhluk cantik itu pun
belum sempat kami keluarkan
dari lemari untuk diperiksa
secara menyeluruh!"
"Kenapa?"
"Kita tidak tahu bagian mana
saja dari tubuhnya
yang kemungkinan dipegangi
atau diraba oleh tersangka
pelaku. Praktis, si makhluk
cantik harus ditelanjangi. Dan
kita tidak membawa bahan sidik
jari yang cukup untuk itu."
Seharusnya aku tidak bertanya.
fredy krueger membatin. "Tahu apa
yang ada dalam pikiranku, syam,
saat si suami tadi bercerita
mengenai onderdil yang
diasah?"
"Saya malah sudah tidak sabar
untuk membuktikannya,
Komandan!" jawab sang ajudan,
bersemangat. sambil
langkahnya dipercepat.
Melewati ambulans di halaman
TKP, dengkuran itu masih saja
terdengar. Melirik sekilas. syam
kamaruzaman pun bertanya. "Perlu
kita bangunkan?"
"Biarkan saja orangtua itu
menghabiskan sisa umurnya
dengan tenang!" jawab fredy krueger .
Datar.
Masuk ke dalam makam berornamen rumah. tampak
Bripda buana media sedang
berbicara dengan kedua petugas
ambulans yang sibuk menutupi
jalur darah di lantai ruang
tengah. syam kamaruzaman
mengerling penuh arti pada
komandannya. Lantas sambil
lewat. bertanya pada si polisi
wanita dengan nada sopan,
"Sudi mengikuti kami, Bu
media ?"
buana menatap heran lalu
mengikuti tanpa bertanya.
fredy krueger diam saja. Tanpa emosi
apa-apa di wajahnya.
Sebenarnya ia ingin menegur
syam kamaruzaman , namun selain
sudah terlambat. buat apa" Ya,
sudah. Anggap saja sebagai
selingan. Yang tentunya
menggembirakan.
Tak ada petugas lainnya di
kamar tidur yang dituju. Mereka
langsung berjalan menuju pintu
lemari berisi boneka pop yang
sebelumnya sudah di
tutupkan. Dipandangi dengan
bingung oleh Bripda buana ,
tanpa berbicara syam kamaruzaman
langsung membuka pintu
dimaksud.
Sang manekin pun tampaklah.
Tegak menatap dengan mata
bulatnya yang indah sambil
tersenyum. Seperti menunggu.
Bahan dari kain tidak termasuk
dalam daftar prioritas sidik jari.
Maka. tanpa ragu-ragu syam
kamaruzaman maju selangkah. Tangan
dijulurkan ke depan. memegangi
bagian bawah gaun merah hati
sang boneka. Bripda buana
"Lady Di" media sudah
membuka mulut untuk bertanya
saat kedua tangan syam
kamaruzaman bergerak cepat ke atas
sekaligus meluruskan tegaknya.
Saat itu juga, tiga pasang mata
serempak menatap. Nyalang.
Sesuai dugaan. di balik
gaunnya, tubuh si boneka cantik
memang tidak memakai lapis
penutup lain. Pada bagian
tengah selangkangan
telanjangnya tampak jelas ada
bagian yang sudah dilubangi.
Dan di bagian berlubang itu
terekat rapat vibrator dengan
bentuk yang khas.
Vibrator apalagi jika bukan
vagina.
Tak pelak lagi. Kulit wajah sang
"Lady Di" langsung memerah!
MANEKIN!
fredy krueger menjalankan tugas
sehari-harinya di kantor sambil
pikirannya tak lepas dari sosok
menghebohkan di lemari
almarhum chucky . Padahal
urusan pop itu boleh dibilang
sudah selesai. mandala krida sudah
dipanggil. disuruh melihat,
dimintai komentarnya.
Begitu melihat. saksi utama
mereka itu langsung tertegak
membeku dengan mulut
mengatup rapat. namun telinga
tajam fredy krueger sempat mendengar
bergemeletuknya gigi saksi
utama mereka itu. sebagai
pertanda dari kemarahan yang
ditahan. sesudah menyatakan
tidak tahu-menahu mengenai
keberadaan sang boneka,
mandala krida lalu memberi
lampu hijau.
"Terserah mau diapakan atau
mau kalian bawa ke mana benda
menjijikkan ini." ia berkata
setengah menggeram. "Yang
penting. kalian singkirkanlah
secepatnya. jangan sampai
terlihat oleh istriku!"
syam kamaruzaman tentu saia
menyeringai kecut ka
rena 'makhluk antiknya' disebut
benda menjijikkan. Yang di luar
perkiraan. adalah si dokter tua
nyoto kusumoharjo .
"Tak dapat mayat. boneka pun
jadi!" katanya. Bersemangat.
"Akan kuboyong dan kusimpan
dia di ruang kerjaku!"
"Boneka pop, Dokter?" fredy krueger
mengernyitkan dahi. "Di kamar
bedah mayat?"
syam kamaruzaman lebih
tetang-terangan. Agaknya
perasaan jengkelnya pada
mandala krida ia lampiaskan ke
alamat lain. "Sebelum
menidurinya, Pak Tua, tanya
dahulu diri sendiri. Apa masih kuat
atau tidak melayani
goyangannya!"
"Mau bertaruh. Inspektur"
Punyamu atau punyaku yang
lebih tahan lama?" jawab sang
dokter. menantang. Selagi para
pendengar mereka menunggu
jawaban syam kamaruzaman , si tua
nyoto kusumoharjo sudah mendahului.
Menggeleng tertawa. ia
memberitahu. "Si cantik ini pasti
berharga sebagai penyegar di
tempat kerjaku yang kalian tahu
seperti apa!"
"Dengan memerkosanya!" syam
kamaruzaman bersikeras.
"Dia akan kuposisikan di pintu
keluar-masuk." Dokter nyoto kusumoharjo
berkata tak peduli. "Jadi setiap
aku datang, aku pasti disambut
oleh senyuman manisnya.
Pulang. ada tatap mata yang
mengantar. Sepasang mata
indah. Yang akan setia
menunggu!"
Beres sudah. Maksud semula
untuk mengetik atau jika perlu
memicu rompal bibir boneka
pop yang bernoda darah sudah
teratasi. mandala krida pun tak perlu
lagi mencemaskan istrinya. Sang
manekin tidak pula memprotes
apa-apa saat sosoknya
dimasukkan dengan hati-hati ke
dalam kantong plas
tik ekstra besar untuk lalu
dinaikkan ke ambulans.
Menggantikan tempat yang
semestinya diisi mayat chucky .
Kalau pun ada dan bisa disebut
protes, datangnya justru dari
mulut salah seorang petugas
ambulans. "Bukan main!"
katanya dengan wajah tampak
heran. "Tak kusangka boneka
pop akan seberat ini. Seperti
menggotong mayat beneran!"
"Itu kan perasaanmu saja!"
teman sekerjanya menimpali.
Ambulans pun pergi
meraung-raung. Meninggalkan
fredy krueger yang menatap
termenung-menung.
Mayat beneran.
Maknanya bisa
bermacam-macam, pikir fredy krueger
selagi duduk merenung di
belakang meja kerjanya. sambil
berharap ada salah seorang
anggota menerobos masuk,
melaporkan adanya kasus baru.
Kasus besar dan menantang,
yang dapat menghilangkan si
boneka dari pikirannya.
Tidak ada yang mengetuk pintu.
Telepon genggamnya di atas
mejalah yang lalu
berbunyi.
fredy krueger segera menyahuti.
Dengan malas. "Halo?"
"Kau itu, Komandan?"
"Ah, Dokter nyoto kusumoharjo kiranya."
fredy krueger menjawab. Tanpa
gairah. "Bagaimana DNA-nya?"
"Sesuai perkiraan kita. Noda
darah di bibir boneka itu dapat
dipastikan milik korban!"
"Dan... bonekanya?"
"Mengapa kau tanya?"
"Entahlah. Mungkin aku sedang
kacau. sebab ...
"Maka itu aku menelepon, Jadi.
Komandan, sebelum kau
menelan obat. segeralah datang
kemari. Ada sesuatu yang sangat
menarik menunggumu di atas
meja bedah!"
fredy krueger pun melompat dari
kursinya.
Tak sampai setengah jam, ia
sudah menelusuri koridor
panjang berkelok-kelok di makam berornamen rumah
sakit. langsung menuju ruang
patologi, tempat Dokter nyoto kusumoharjo
tampak sudah menunggu di luar
bersama seorang lainnya yang
tidak dikenal fredy krueger .
"Asep taryat," dokter tua itu
memperkenalkan orang
dimaksud. "Pakar elektro!"
"Bagian servis, tepatnya," si
pendamping membetulkan
sambil menyalami fredy krueger .
Disusul protes bernada jengkel
pada sang dokter. "Berhentilah
menyindir saya, Pak Dokter.
Saya..."
"Salahmu!" nyoto kusumoharjo menyela
sambil berjalan memasuki ruang
bedah diikuti oleh fredy krueger dan
Asep yang wajahnya tampak tak
senang. "Mengapa kau
bermaksud jahat pada
pasienku!"
"Saya belum dan sumpah mati,
tidak akan melakukannya.
Seperti saya bilang tadi, saya
cuma membayangkan..."
"Untuk bersanggama
dengannya!" Dokter nyoto kusumoharjo
memotong dengan gelengan
kepala tak senang. "Sungguh
pikiran yang buruk dan
mengerikan!"
Perdebatan sengit itu diakhiri
setiba mereka di salah satu meja
bedah yang sekelilingnya
terlindung rapat oleh tirai kain
putih yang salah satu sisinya
segera disingkapkan oleh dokter
nyoto kusumoharjo . Suara rel-rel penyangga
kain terdengar keras dan
mengejutkan di kamar bedah
yang saat itu kosong dan sunyi
sepi. Bau formalin tercium di
mana-mana. Campur aduk
dengan aroma yang hanya
tercium samar-samar. Anyirnya
darah.
Sisi lain menyusul disingkapkan.
Dan sang Ajun Komisaris pun
tertegak. Membelalak.
Menyaksikan mayat yang hancur
mengerikan di TKP ia sudah
terbiasa. Begitu pula dengan
mayat yang tengah diiris di atas
meja bedah. Namun apa yang ia
saksikan kali ini jelas berbeda.
Dan entah mengapa memicu
kerongkongannya bagai
tersedak.
Di atas lapisan meja bedah yang
licin dan bersih, terbaringlah
sang manekin. TelentTelentang,
menatap langit-langit ruangan.
Berbugil ria. tanpa malumalu.
Namun, alangkah malangnya
boneka pop ini . Dan
alangkah akan naik pitamnya
syam kamaruzaman andai ajudannya
itu berdiri di tempat fredy krueger
sekarang ini berdiri.
Sang manekin atau si boneka
pop di atas meja bedah tampak
begitu menyedihkan. Bukan
cuma kepalanya saja yang sudah
dipenggal. terpisah dari batang
tubuh, melainkan juga tubuh itu
sendiri. Jelas sudah dibelah dua.
Mungkin dengan gergaji.
Dari pundak sampai ke
selangkangannya.
MENGAPA, Dokter"
Pertanyaan yang tak terucap itu
terungkap jelas di wajah sang
Ajun Komisaris. Maka dengan
senang hati Dokter nyoto kusumoharjo
membungkukkan tubuhnya ke
depan. Lalu dengan kedua
tangannya. belahan memanjang
pada lambung boneka ia tarik ke
kiri-kanan. Belahan pada dada
otomatis ikut merenggang.
begitu pula selangkangan yang
vibrator vaginanya sudah
dilepas dan disimpan di dekat
kaki boneka.
"Anda lihat apa isi lambung ini,
Komandan?" tanya Dokter
nyoto kusumoharjo bergairah. Sementara si
petugas servis peralatan listrik
dengan cepat memasangkan
sepotong kecil balok kayu yang
rupanya sudah dipersiapkan
untuk keperluan demonstrasi
ini , menjaga agar belahan
dimaksud tetap merenggang.
Bahkan sebelum ditanya, fredy krueger
sudah mencondongkan tubuh ke
depan dan jelas melihat apa
yang ditanya. Tak ada daging.
urat-urat darah, jantung. usus.
maupun organ dalam lainnya
dari tubuh manusia. Yang ada
ialah sejumlah kabel listrik yang
simpang siur di antara
seperangkat peralatan
anehaneh. Berbentuk batangan
atau lempengan. juga gigi roda
berbagai ukuran dan perangkat
aneh lainnya. Sebagian besar
terbuat dari bahan plastik.
selebihnya besi atau baja tipis.
Menunggu sampai fredy krueger tegak
kembali-dengan wajah
memperlihatkan perasaan takjub
bercampur bingung-Dokter
nyoto kusumoharjo pun memulai
penjelasannya, diawali dengan
sebuah pertanyaan, "Ingat
petugas ambulans itu berkata
bahwa pop yang mereka angkat
lebih berat dari bobot yang
mereka perkirakan?"
Masih terbingung-bingung,
fredy krueger manggutmanggut.
"Nah. Di situlah aku mulai
curiga. Keeurigaanku terbukti
benar sesudah pakaian pop ini
kutanggalkan. Lihatlah!"
Dengan hati-hati Dokter nyoto kusumoharjo
memiringkan tubuh pop
sehingga bagian sampingnya
terlihat oleh fredy krueger . Sedikit di
atas lekukan pinggang, tampak
tertanam stop kontak dengan
kombinasi sakelar. Dokter
nyoto kusumoharjo kembali merebahkan
tubuh pop. Menoleh pada Asep
Taryat. ia berkata didan i
seringai lebar, "Seterusnya
bagianmu, Pakar Elektro!"
Cemberut pada sang dokter. si
pendamping lalu berkata
pada tamu mereka dengan suara
menahan marah, "Sebenarnya.
Komandan, sebagai tukang
servis saya hanya tahu
sedikit-sedikit. Namun mengenai
apa yang sekarang ini kita lihat,
anak lulusan sekolah teknik pun
dapat menjelaskannya dengan
mudah. sebab ..."
"Lupakan tele-relemu. Nak,"
Dokter nyoto kusumoharjo me
nyela. Kali ini dengan nada
lembut. "Tamu kita tak punya
waktu!"
"Baiklah!" Asep Taryat
mengangguk lalu menyambar
senter kecil yang sebelumnya
juga sudah dipersiapkan. sambil
membungkuk ke arah lambung
pop, ia berkata , "Mari lihat,
Komandan!"
fredy krueger tidak ikut membungkuk.
Ia hanya ingin mendengar.
Dan jadilah si tukang servis
sibuk sendiri memperlihatkan
kebolehannya. Tanpa menyadari
tamu mereka tetap berdiri, ia
sibuk menunjuk-nunjuk, sibuk
mengarah-arahkan sinar senter,
agar sang tamu dapat "melihat"
dengan jelas. Sambil mulut sibuk
pula menerangkan nama dan
fungsi dari masing-masing
benda.
"Panel kecil itu adalah
PCB-nya. Printed Circuit Board,
jaringan sirkuit. Yang itu
transistor. Di sebelahnya,
resistor. Yang agak sana,
kapasitornya. Lihat angka-angka
itu, Komandan" ltu menunjukkan
motor penggerak semua
perangkat ini hanya memerlukan
tekanan arus rendah. Sekitar l2
Volt. Dibantu isolator, maka..."
Asep Taryat terus sibuk, sampai
akhirnya ia menyadari ada yang
salah. Tidak sekali pun
terdengar suara berkomentar.
Bahkan tidak juga helaan napas.
"Jika arus menyentuh roda gigi,
maka batangan besi dan
lempengan baja..." ia masih
meneruskan sebelum akhirnya
berhenti sendiri lalu
perlahan-lahan tegak berdiri.
Yang pertama-tama dilihatnya
adalah gelengan masygul dari
Dokter nyoto kusumoharjo . Baru lalu
ulasan
senyum di bibir tamu mereka.
Senyuman lembut didan i
pandangan mata menyabarkan.
Bessemu merah muka sebab
malu, Asep pun bertanya
ragu-ragu. "Perlu saya
teruskan?"
"Terima kasih. Tak usah," jawab
Bunok, lembut. "Penjelasanmu
barusan cukup rinci dan mudah
dicerna. Akan namun ,
pertanyaannya bukan itu!"
Asep Taryat diam menunggu.
"Pertanyaannya, Bung Asep."
ujar fredy krueger tenang. "Apakah
dengan semua komponen yang
kausebutkan tadi, pop ini dapat
bergerak atau berjalan sendiri?"
"Berjalan sih, jelas tidak,"
jawab Asep, sama tenangnya.
"Bergerak, ya. Itu pun cuma
gerakan terbatas".
Asep lalu berjalan ke sudut
ruangan bedah mayat tempat
tersimpan gulungan kabel
dengan stop kontak kombinasi
yang sudah terhubung pada stop
kontak di tembok. Seutas kabel
pendek dengan piting sudah
terpasang di masing-masing
ujungnya ia luruskan, sementara
Dokter nyoto kusumoharjo tanpa berbicara
apa-apa mencabut balok kayu
penahan dari belahan pop,
sehingga belahan itu kembali
menyatu meski tidak terlalu
rapat.
Asep lalu menghubungkan satu
piring ke pinggang boneka.
Sambil menjelaskan. "Jika tadi
Anda ikut melihat, Komandan.
Anda akan tahu bagian dalam
lengan boneka ini dilengkapi
dengan batangan-batangan besi.
juga engsel tanam pada setiap
siku...!"
"Lakukan saja, Nak!" desah
Dokter nyoto kusumoharjo . Lembut namun
tajam.
Berpikir sesaat, Asep lalu
bertanya pada sang dokter
dengan seringai mengejek,
"Boleh saya pasangkan dahulu
vibratornya. Dokter?"
Yang ditanya lebih dahulu melirik
ke arah vagina buatan yang
tersimpan di dekat kaki boneka.
lalu ke lubang menganga bekas
tempat vibrator itu menempel di
bagian selangkangan boneka.
Baru sesudah nya menyahuti
dengan tenang.
"Mengapa tidak sekalian kau
buka dahulu celanamu" Toh
lubangnya cukup lebar untuk
kau masuki!"
Menyeringai kalah. Asep pun
merayap naik ke atas meja
bedah. Disaksikan oleh kepala
boneka yang tersimpan dengan
posisi tegak di meja yang sama.
Asep lalu merebahkan
tubuh. menindih tubuh boneka.
"Nikmatilah gerakannya,
Komandan!"
Berkata demikian, lengan kiri
Asep dirangkulkan ke tubuh
boneka. sementara lengan
kanannya bergerak ke bagian
pinggang. la tekan salah satu
tombol sakelar lalu diam
menunggu. Tanpa sadar, fredy krueger
lantas ikut-ikutan menungggu.
Dan sesudah melihat tidak juga
terjadi apa-apa, fredy krueger sudah
akan bertanya. namun keburu
didahului oleh Asep.
"Bersedia menyentuh popnya,
Komandan" Bagian mana saja,
terserah!"
Ragu-ragu sejenak, fredy krueger maju
selangkah lantas menyentuhkan
jemari tangannya ke paha pop.
Untuk sesaat ia tidak mengerti
dan tidak merasakan apa-apa.
Namun sesudah jarinya lebih
ditekankan lalu didiamkan
sebentar. terasalah batang paha
yang semula dingin sejuk itu
mulai menghangat dan terus
menghangat.
"Kapasitor di dalam akan
mengatur sendiri suhu yang
dibutuhkan." Asep menjelaskan.
"Sekarang. mundurlah sedikit!"
Selagi fredy krueger mengikuti
perintahnya, tangan Asep
kembali sudah bergerak dan
menekan tombol satunya lagi.
saat tangan Asep bergerak
menjauh. gerakannya tampak
diikuti oleh gerakan tangan lain.
yaitu , tangan-tangan pop.
Bergerak perlahanlahan. Dari
semula terkulai diam di sisi
tubuh, bergerak terangkat.
Setengah mengembang. Dan
saat kedua lengan itu bergerak
lagi menurun, lengan-lengan
pop sudah saling bertaut. Dan
merangkul punggung manusia
yang menidurinya. Dengan
sebuah rangkulan ketat.
fredy krueger berjuang keras menahan
emosi sambil diawasi diam-diam
oleh Dokter nyoto kusumoharjo . yang langka
melihat emosi di wajah sang
Ajun Komisaris. namun bukan
hanya dia seorang yang
memantau . Ada sepasang mata
lain ikut memantau , yaitu
sepasang mata bulat yang
menatap nyalang. tanpa
berkedip.
saat pada akhirnya fredy krueger toh
ternganga juga, bibir tua Dokter
nyoto kusumoharjo langsung mengulas
senyum. Dan dari kepalanya
yang terpenggal, bibir mungil
sang manekin tampak ikut
tersenyum.
Gembira!
sesudah pasangan tombol sakelar
dikembalikan ke posisi 'off' dan
sepasang lengan boneka
bergerak perlahan untuk
kembali pula ke posisi semula,
Asep
Taryat dengan tenang melompat
turun dari tubuh yang
ditindihnya. lalu menatap ingin
tahu ke wajah tamu mereka.
Cepat sekali fredy krueger sudah
menguasai diri. Namun
bersamaan dengan itu. perasaan
kecewa tampak datang
merambat di wajahnya. Menatap
diam sejenak ke tubuh pop yang
diam membeku di atas meja
bedah, ia pun melontarkan
kekecewaan hatinya dalam satu
keluhan lesu.
"Jadi, kebisaannya cuma
merangkul!"
"ltu maka tadi saya bilang pada
Dokter nyoto kusumoharjo . Komandan."
Asep menimpali dengan
bersemangat, "Bagaimanapun
jeniusnya orang yang sudah
merakit isi lambung boneka ini,
imajinasinya masih saja kurang
sempurna!"
"sebab robotnya tidak sekalian
dibuat bisa berjalan dan
berbicara?"
Si tukang servis menggeleng.
"Menurut pandangan saya,
boneka ini direkayasa
semata-mata hanya untuk teman
bermain cinta...."
"Lantas, di mana letak
ketidaksempurnaannya?"
Dokter nyoto kusumoharjo tampak sudah
membuka mulut untuk
mencegah, namun Asep lebih
cepat. sambil tersenyum
dikulum. ia memberitahu,
"Pinggulnya, Kapten. Pinggul
boneka ini tidak sekalian
dibuat... bergoyang!"
Jadah! lngin rasanya fredy krueger
memaki. namun toh ia tersenyum
juga. Meski jelas dipaksakan.
Dokter nyoto kusumoharjo yang tahu gelagat,
cepat menetralisir dengan
mengalihkan pembicaraan.
"Sekarang kita semakin tahu
semua jawaban teka-teki itu!"
"Teka teki?" fredy krueger menggeram.
Masih tak senang. Sudah
kecewa, masih dikerjai pula oleh
si tukang servis!
"Pertama, mengapa bukan
boneka tiup yang dari pabriknya
sudah dilengkapi dengan
vagina..." Dokter nyoto kusumoharjo
menjelaskan sambil menjulurkan
tangan bukan ke vibrator,
melainkan ke payudara boneka.
Dengan tekanan jarinya
tampaklah payudara dan
puting susu ini bergerak
melentur. Bukti babwa bagian
itu juga sudah direkayasa. Bahan
aslinya yang keras diganti
dengan bahan yang empuk tapi
kenyal.
"Yang ini sih karet padat,"
Dokter nyoto kusumoharjo melanjutkan.
"Sementara balon tiup,
bahannya lebih tipis lagi. Jika
dipasangi perangkat yang kita
lihat tadi, jelas akan terasa
mengganggu badan orang yang
menindihnya. lalu yang kedua.
wajah..."
Dokter nyoto kusumoharjo mengalihkan
pandangan matanya ke arah
kepala pop. diikuti oleh mata
kedua orang pendengarnya.
dibalas oleh tatapan sepasang
mata sang manekin, yang
membuka nyalang.
"Wajah boneka tiup-kecuali
dilukis-tak bisa dibuat supaya
persis dengan wajah yang kita
inginkan. Lain halnya jika
dicetak secara khusus oleh
pabrik pembuatnya. Tidak harus
seluruh tubuh. Cukup bagian
kepala dan wajah saja. Dan si
pemberi Order-tentunya dengan
mengorbankan sejumlah besar
uang-cukup menyerahkan
pasfoto wajah orang yang
dikehendakinya..."
"Ke pabrik!" fredy krueger mendesah.
Takjub. "Di luar negeri?"
Dokter nyoto kusumoharjo menggeleng. "Pop
kelas satu me
mang terbuat dari bahan yang
disebut resien." ujarnya. namun
yang kita hadapi ini dari
fiberglass. Jika Anda rajin
bertanya-tanya, Komandan,
pabrik pembuat pop ini pasti
akan dengan mudah Anda
temukan. Di Tangerang.
mungkin!"
"itu akan kuingat-ingat,
Dokter!" fredy krueger
manggut-manggut menyetujui.
"Namun sayang. semua itu
masih juga belum menjawab
teka-teki lainnya yang
terus-menerus mengganggu
pikiranku!"
"Oh!" Dokter nyoto kusumoharjo menatap.
Ingin tahu.
"Okelah misalnya si tersangka
pelaku orangnya kreatif..." kata
fredy krueger sambil tampak
berpikir-pikir. "Selain memicu
jejak berdarah dengan sepatu,
juga mempertemukan bibir
boneka ini dengan bibir
almarhum. Dia punya nuansa
sensual, mungkin. Namun ada
dua fakta kuat yang tidak sesuai
dengan kreativitas tersangka
pelaku!"
"Apa saja?"
"Pertama," ganti kini fredy krueger
yang memberi penjelasan,
"keterangan yang kami peroleh
dari salah seorang saksi
tambahan. Paling tidak, lima
potong gaun sudah dicuri. Lalu
mengapa yang dipakai oleh pop
ini-selagi di lemari-tidak ikut
dicuri" Belum lagi yang kita
temukan di lantai. Terinjak oleh
tumit sepatu berdarah!"
"Mungkin di situlah kreasi si
tersangka," Dokter nyoto kusumoharjo
berkata menduga-duga. "Supaya
misteri yang ia buat tampak
semakin rumit!"
fredy krueger menggeleng tak setuju.
"Ingat dua cangkir di meja
makan itu. Dokter?"
Sang dokter tua hanya manggut,
mengiyakan.
"Yang berisi bekas mayonaise ," fredy krueger
meneruskan.
"Sidik jarinya dibiarkan. Sidik
jari korban. Sementara cangkir
satunya lagi, yang berisi bekas
teh. sama seperti benda lainnya
di seantero makam berornamen rumah, sidik jarinya
dihapus total. Atau saat
beraksi. si pclaku memakai
sarung tangan. Mengapa?"
Dokter nyoto kusumoharjo tersenyum. "Itu
jelas. Si tersangka sempat
minum. mungkin sambil
mengangkat toast dengan
korbannya. Tak mau
meninggalkan jejak. sesudah
membunuh korban, sidik jarinya
pada cangkir lantas dihapus!"
"Masih ada banyak mengapa
lainnya, Dokter. Mengapa
korban dibunuh di ruang tengah
dekat pintu tembus ke ruang
tamu" Bukankah lebih aman jika
sekalian di ruang makan saja"
Dan. yang lebih menarik lagi,
mengapa korban bersusah payah
menyeret dirinya untuk kembali
ke ruang makan" Apa sesuatu
yang teramat penting yang ia
ingin dari atau ingin lihat di
ruangan itu?"
Dokter nyoto kusumoharjo berpikir
sekeras-kerasnya. Namun otak
tuanya tak kuat berlelah-lelah.
Maka ia pun menyerah.
"jawabannya masih belum
ketemu juga ya?"
"Barusan ini sudah!"
"Barusan?"
Sebelum menjawab, fredy krueger
lebih dahulu memantau gulungan
kabel dan stop kontak
kombinasi yang sudah disimpan
kembali oleh si tukang servis
listrik di tempatnya semula. lalu
cepat ia berpaling pada sang
tukang, yang saat itu tengah
sibuk melipat-lipat gaun merah
hati milik boneka yang semula
tersampir di sebuah kursi.
sambil menguping.
"Bung Asep?"
Asep Taryat mengangkat muka.
terkejut. "Ya. Komandan?"
"Tadi kau bilang kaki boneka ini
juga dilengkapi batangan besi
dan engsel tanam. Benar?"
'Yang di kaki, Komandan, cuma
engsel tanam?"
"Supaya lututnya bisa dilipat"
Ke posisi duduk, misalnya?"
Si tukang servis mengiyakan
dengan anggukan kepala.
fredy krueger cepat berpaling lagi
pada Dokter nyoto kusumoharjo yang tanpa
ditanya, sudah berkata
sendiri. "jadi, boneka inilah
yang ia tuju. Boneka, yang
duduk untuk minum bersamanya.
Hanya saja, yang lalu
meminum teh adalah... si
tersangka pelaku!"
"Persis!"
Dokter nyoto kusumoharjo tersenyum,
menghibur. "Kalau begitu,
teka-tekinya sudah terjawab.
Lantas apa lagi yang
menyusahkan pikiranmu?"
"Entahlah...." fredy krueger mendesah,
lesu lantas diam sejenak.
Merenung, murung. "Semua itu
terlalu mudah dibaca. Ada
beberapa unsur yang menurutku
kurang pas!"
Diam sesaat, Dokter nyoto kusumoharjo
lalu berkata mengajak,
"Kita teruskan di kantin yuk. Aku
mendadak haus nih!"
Mereka sudah akan memutar
tubuh saat suara Asep Taryat
menahan langkah mereka.
"Sebentar, Pak Dokter!"
"Ya?"
Si tukang servis mendekat lalu
menunjuk ke tu
buh pop di meja bedah.
'Rongsokan ini. Apa harus saya
rapikan kembali?"
"Buang saja. Mau ke tempat
sampah atau ke tempat
pembakaran, terserah!" jawab
Dokter nyoto kusumoharjo . Enteng.
'Lho. Sebelumnya bilang mau
dipajang dekat pintu!"
"Memang ya. namun sesudah
peragaanmu tadi, dipikir-pikir
suatu hari kelak boleh jadi aku
ketularan pikiran kotormu.
Tergoda untuk memerkosanya!"
Berkata demikian, Dokter nyoto kusumoharjo
menyeringai lebar. Lantas
berlalu dari ruang bedah mayat,
diikuti oleh fredy krueger yang
wajahnya sudah kembali seperti
biasa.
Tanpa emosi.
DITINGGAL sendirian dalam
ruang patologi yang Suasananya
dengan segera berubah menjadi
sunyi, Asep yang sehari-harinya
pekerja paruh waktu di bagian
operator listrik bukannya takut,
justru malah sebaliknya,
gembira.
Ia langsung mendekat lalu
berbicara pada penggalan
kepala boneka yang menatap
diam dengan sepasang mata
bulatnya yang terbuka nyalang.
"Kau dengar itu. bukan" Ke
tempat sampah! Atau
membiarkan tubuh antikmu
perlahan-lahan meleleh di
tempat pembakaran!" Asep
menggelenggeleng sebagai
isyarat betapa bengisnya
perintah itu. "Untunglah orang
tua yang suka nyinyir itu bilang
terserah aku. Maka,
bergembiralah. Kau akan
kuboyong ke kamar kosku dan..."
Asep diam sejenak, memantau
mata boneka yang tetap diam
menatap. Seakan Curiga.
Menggaruk-garuk kepala yang
tidak gatal. Asep lalu
menyeringai. Lebar.
"Tak usah cemas, Neng. Aku ini
masih bujangan
DITINGGAL sendirian dalam
ruang patologi yang suasananya
dengan segera berubah menjadi
sunyi. Asep yang sehari-harinya
pekerja paruh waktu di bagian
operator listrik bukannya takut.
justru malah sebaliknya.
gembira.
Ia langsung mendekat lalu
berbicara pada penggalan
kepala boneka yang menatap
diam dengan sepasang mata
bulatnya yang terbuka nyalang.
"Kau dengar itu. bukan" Ke
tempat sampah! Atau
membiarkan tubuh cantikmu
perlahan-lahan meleleh di
tempat pembakaran!" Asep
menggelenggeleng sebagai
isyarat betapa bengisnya
perintah itu. "Untunglah orang
tua yang suka nyinyir itu bilang
terserah aku. Maka,
bergembiralah. Kau akan
kuboyong ke kamar kosku dan?"
Asep diam sejenak, memantau
mata boneka yang tetap diam
menatap. Seakan curiga.
Menggaruk-garuk kepala yang
tidak gatal. Asep lalu
menyeringai. Lebar.
"Tak usah cemas, Neng. Aku ini
masih bu
jangan. Dan biar namanya aku
suka mampir ke makam berornamen rumah petak di
dekat pelabuhan, kujamin
punyaku tetap bersih. sebab
aku tak pernah alpa memakai
kondom. namun sebelum itu..."
Asep menggantung ucapannya,
lalu kedua tangannya sibuk
merapatkan belahan pada tubuh
pop. Namun betapa pun ia coba,
bahan dari fiberglass yang
sudah digergaji itu tetap
bergeming. Memerah kulit muka
Asep sebab malu sendiri.
Namun bukan Asep Taryat
namanya, habis akal secepat itu.
"Tak apa!" katanya
tersengal-sengal sambil
memaksakan senyum di bibir.
"Nanti di makam berornamen rumah, belahanmu
akan kuratakan pakai dempul,
atau... adukan semen!" Asep
diam sejenak. menimbang
nimbang. "Memang akibatnya
tubuhmu akan sedikit melar ke
samping. namun itu pun tak apa.
Malah menurutku. semakin enak
dirangkul. Hehehe!"
Terkekeh-kekeh gembira. Asep
memutar tubuh untuk mengambil
kantong plastik ekstra besar
bekas pembungkusnya semula
untuk digunakan lagi. Namun
baru satu dua langkah, ia
mendadak teringat sesuatu lalu
kembali mendekat. "Ah. ya!"
katanya. bergairah. "Untuk lebih
mendorongmu mau tinggal
bersamaku, isi lambungmu akan
kurakit ulang. Supaya
pinggulmu juga bisa bergoyang.
Seperti ini....
Asep pun lantas
menggoyang-goyang pinggul
sendiri.
"Asyik bukan?" katanya
lalu dengan setingai.
"Apalagi jika nanti kita..."
Telepon berdering. Dan terus
berdering.
Merasa terganggu, mata Asep
mencari-cari lalu
melihat pesawat telepon
menempel bersama kotak
otomatnya di salah satu sisi
tembok. Ke sana Asep lantas
bergegas: lalu menyahuti
telepon. "Halo?"
"Kau itu, Sep?" Suara teman
sekerjanya di bagian operator
listrik.
"He-eh. Ada apa, Nyong?"
"Cepat kemari, Goblok. Listrik
di seantero makam berornamen rumah sakit
mendadak padam!"
Refleks Asep melihat ke bola
lampu di langit-langit ruangan.
Ia pun sesaat dibuat terkejut.
Lupa bahwa sebelumnya lampu
di ruangan itu memang tidak
dinyalakan. Asep bergegas
menuju pintu. Berhenti sesaat,
lalu mewanti-wanti ke arah
boneka pop yang rebah dengan
tubuh dan kepala terpisah di
atas meja bedah. "Kau
tunggulah di sini. Nanti
kukembali menjemputmu. Oke?"
Mata di kepala boneka hanya
menatap diam. Dengan mulut
tersenyum. Pintu pun ditutup.
sekalian dikunci. Berlari
menitipkan anak kunci ke
petugas piket ruang patologi.
lagi Asep mewanti wanti. "Nanti
kupinjam lagi. Masih ada yang
perlu kuberesi di dalam sana!"
Berlari lagi lebih cepat ke
tempat kerja rutinnya, Asep
menemukan temannya sudah
menghidupkan pembangkit
diesel.
"Pasti ada korsleting pada
jaringan pusat," sang teman
berkata. Dan saat mereka
periksa. ternyata benar. "Wah,
beruntung terjadinya siang hari.
namun kita tetap bakal dibuat
sibuk nih. Selain jaringan ini.
seperti biasa pasti akan banyak
peralatan makam berornamen rumah sakit yang
harus kita cek...."
namun ada juga upahnya.
Di tengah kesibukan mereka,
ada sambungan telepon dari
luar untuk Asep. lnstalatur
langganan kerjanya
memberitahu mereka perlu
tenaga tambahan di suatu
proyek yang harus selesai tepat
waktu. ltu berarti pemasukan
uang dalam jumlah besar dan
langka didapat. Melimpahkan
tugas yang belum terselesaikan
pada rekannya-dengan janji
pemasukan ekstra Asep tak akan
dicicipi sendiri-Asep pun
minggatlah dari makam berornamen rumah sakit.
Boneka pop pun terlupakan
sudah. Termasuk goyang
pinggulnya!
Dan di ruang patologi.
terjadilah sesuatu.
Begitu Asep hengkang dari
makam berornamen rumah sakit, sambil bibir
mungilnya tetap tersenyum.
penggalan kepala pop
perlahan-lahan bergetar dan
terus bergetar. sambil bergetar,
penggalan kepala itu terangkat
lalu bergerak sendiri menuju
batang tubuhnya untuk
lalu menyatu, sambil terus
bergetar. Dan tampaklah
belahan bekas digergaji pada
tubuhnya perlahan-lahan
merapat. Semakin rapat. sampai
akhirnya utuh kembali seperti
semula.
Getaran pun mulai melemah,
dan akhirnya berhenti. Tubuh
pop rebah diam. Masih dengan
mata bulatnya tetap terbuka. dan
bibir mungilnya tetap tersenyum.
Seperti senyuman lega.
Akan namun , eh... nanti dahulu !
Ada udara yang keluar-masuk
dengan leluasa, dan itu tidak
semestinya terjadi. Pasti ada
lubang menganga yang
terlewatkan!
Tubuh pop pun perlahan-lahan
kemhali bergetar. Kian lama
kian kuat, sampai tubuh dari
fiberglass itu
terguncang-guncang di
permukaan meja bedah.
Terguncang dan terus
terguncang. Mencari-cari,
merasa-rasa.
Dan... nah, itu dia. Vibrator di
dekat kaki, yang secara perlahan
namun pasti mulai ikut bergetar.
Scmakin kuat getarannya.
semakin vibrator terangkat.
terus melayang cepat di
sepanjang bagian atas tungkai.
Menuju lubang menganga di
selangkangan.
Lantas, hup!
Vibrator hinggap dengan manis
di tempat ia seharusnya
bersarang. Udara yang tadinya
keluar-masuk langsung terhenti
sesaat itu juga. Vaginanya
sudah terpasang!
Bersamaan dengan itu. semua
guncangan maupun getaran
tampak melemah lantas berhenti
total.
Sang manekin pun kembali diam
dalam rebahnya.
Diam yang tenang. Dan nyaman.
Proses menuanya tubuh dapat
dicegah, namun tidak demikian
halnya dengan umur dan
dampak sampingannya. Garis
kehidupan yang tak bisa ditolak
itu baru disadari oleh Dokter
nyoto kusumoharjo seusai mereka makan
siang di kantin makam berornamen rumah sakit dan
Busrok bangkit untuk pamitan.
Dan sebelum berpisah, secara
sambil lalu fredy krueger
mengingatkan tentang boneka
pop yang mereka tinggalkan di
ruang patologi.
"Oh ya. Dokter," fredy krueger
berkata. "sebelum lupa. tolong
barang bukti titipan di ruang
kerja Anda itu dirapikan
kembali. Dan tolong disimpan
baik-baik sampai anak buahku
nanti datang mengambilnya.
Oke?"
"Percayakan saja padaku!"
jawab dokter tua itu.
Meyakinkan.
"Maunya sih percaya...' fredy krueger
mengomentari. "sebab lelucon
Anda bahwa makhluk cantik itu
akan dipajang di pintu masih
dapat kuterima. namun tidak
dengan guyon lainnya. Dibuang
ke tempat sampah, atau ke
tempat pembakaran!"
"Tak usah cemas. Dokter
lndra-asistenku-sudah terbiasa.
Dia tahu betul mana ucapanku
yang..." Dokter nyoto kusumoharjo berhenti,
tiba-tiba tersadar. 'Astaga... si
tukang listrik!"
fredy krueger tersenyum. "Maka itu,
Dok. Bergegaslah. Atau kalian
nanti bisa dikenai pasal
menghilangkan barang bukti!"
Namun sang dokter tidak segera
berlalu. Diam mematung
sejenak, wajahnya yang selalu
ceria dan energik itu mendadak
seperti menyesuaikan diri
dengan umurnya yang
sebenarnya. Tua, dan tampak
lelah. Seperti juga desahan lirih
yang lalu terlontar dari
bibirnya. "Datang juga
akhirnya...."
"Apa?"
"Yang selama ini diam-diam
kucemaskan." jawab sang
dokter. Murung. "Pikun!"
fredy krueger nyaris tertawa. namun
mampu menahan diri. "Itu
pertanda Anda ini masih tetap
manusia normal," katanya
menghibur. "Bergembiralah.
Dan nikmati hidup barumu!"
Beberapa saat lamanya Dokter
nyoto kusumoharjo tetap diam. Baru
lalu ia kembali tersadar
lantas cepat mengangkat muka
dan mendelik marah. "Apa"
Menikmati penyakit pikun"
Kau...!"
namun fredy krueger sudah berlalu
dari hadapannya.
Dan Dokter nyoto kusumoharjo benar-benar
sangat marah lalu berubah
seperti orang linglung setiba di
ruang patologi. Ia sudah
bergegas sebab kuatir Asep
Taryat menganggap guyonannya
serius. Kalau cuma ke tempat
sampah. tak apa. Masih bisa
dibersihkan. jika perlu
disucihamakan. namun dibuang
ke tempat pembakaran...!
Semakin dekat ke ruang
patologi, semakin Dokter nyoto kusumoharjo
mempercepat langkah. Malah
lalu setengah berlari
sambil memanggil-manggil
nama si tukang servis listrik.
Namun dokter tua itu tetap saja
terlambat.
Si boneka cantik... dan itu
adalah barang bukti titipan
pihak berwajib, agaknya tidak
sabar dan tidak mau menunggu
berlama-lama.
Boneka pop itu sudah lenyap!
Mustahil, memang.
namun demikianlah
kenyataannya. Paling tidak.
menurut para saksi mata yang
kredibilitas maupun akal
sehatnya tidak sedikit pun
diragukan oleh Dokter nyoto kusumoharjo .
Dudung. petugas piket ruang
patologi dan laboratorium
yang letaknya berdampingan.
jelas-jelas menyatakan bahwa si
tukang servis listrik hanya
menitipkan kunci dan berpesan
akan kembali untuk
membereskan sesuatu, tanpa
mengatakan akan membereskan
apa.
"Yang pasti," Dudung
menegaskan. "Dia tidak terlihat
membawa apa pun. Apalagi
kantong mayat yang Pak Dokter
sebutkan!"
Dan kantong plastik ekstra besar
bekas pembungkus pop saat
dibawa ke ruang patologi
memang ditemukan terhampar di
lantai dekat meja bedah. Tidak
demikian halnya dengan si
boneka misterius. Pop itu tidak
ditemukan di tempat
pembuangan sampah. Ruang
oven, apalagi. Kosong dan
dingin membeku. sebab sudah
dua hari tidak dioperasikan.
Berkeringat dingin dan dalam
keadaan setengah panik. Dokter
nyoto kusumoharjo lalu meminta
Dokter Indra-asistennya
menuturkan lagi apa yang dia
dan dua perawat lainnya
saksikan sebelum memasuki
ruangan patologi.
"Keluarga korban yang
meninggal akibat penganiayaan
itu akhirnya setuju anak mereka
diautopsi," jawab Dokter lndra
tanpa berpikir sebab tidak tahu
dari mana akan memulai. "Jadi
kami meminta kunci ruangan ini
dari Dudung, dan..."
"Mereka tiba tak sampai lima
menit sesudah Asep pergi!"
Dudung menimpali tanpa
diminta.
Dokter nyoto kusumoharjo menggeleng, tak
sabar. "Bukan bagian yang itu
yang ingin kudengar!"
Lebih dahulu batuk-batuk kecil
sebab merasa bersalah-tanpa
mengetahui di mana letak
kesalahannya barulah Dokter
lndra menutur ulang bagian
berikut dari ceritanya. Bahwa.
sementara kedua petugas
pendamping memegangi brankas
pembawa mayat, tanpa
prasangka apa-apa ia membuka
pintu ruang patologi.
Baik Indra maupun kedua
pendampingnya sama terkejut
sesudah pintu membuka lebar.
sebab di hadapan mereka
tahu-tahu sudah berdiri tegak
sesosok tubuh yang tidak mereka
kenal. Seorang wanita cantik
bergaun merah hati. Dengan
sepasang mata bulatnya
menatap lebar, dan bibir yang
tersenyum kaku saat membuka
lalu menyapa dengan suara lirih
dan terdengar sayup.
"Hai...!"
"Hai!" balas Dokter lndra
sesudah sempat diam tercekat.
Saking kaget.
Masih terdengar lirih dan sayup,
wanita asing itu cepat-cepat
menjelaskan keberadaannya.
"Aku tadi ketiduran. Tak
menyangka Asep tega
meninggalkan... sambil
mengunci pintu pula!"
"Oh?" desah Dokter Indra.
Masih terkejut. Sementara kedua
perawat laki-laki yang
mendampinginya hanya diam
menatap. Terpesona.
"Terima kasih kalian
membukakan pintu untukku." Si
cantik bergaun merah hati itu
tersenyum. Manis. "Permisi!"
Dan sebelum Dokter Indra
sempat berpikir apalagi
berbicara. si cantik sudah
berlalu.
Dengan tenang. Dan tampak
santai.
"Ber-bi-ca-ra...!" Dokter nyoto kusumoharjo
menggumam sesudah asistennya
selesai bercerita. Suaranya
serak dan patah-patah. Dan
wajahnya tampak seperti orang
dengan mental terbelakang
sedang memaksakan diri untuk
mengeja kata-kata yang harus
dihafalkan. "Ber ja-lan...!"
"Dengan langkah gemulai pula!"
salah seorang perawat ikut
berkata . setengah melamun.
"Dan. aduhai," temannya
menimpali, "goyang
pinggulnya!"
"Bahkan saat ia lewat di depan
kantor piket." Dudung tidak mau
ketinggalan. hanya saja, wajah
dan suaranya terkesan kecewa.
"saya sempat menyiulinya.
Sayangnya, menoleh pun ia
tidak!"
Dokter lndra tidak
mendengarkan semua itu.
Perhatiannya lebih tercurah ke
wajah seniornya yang
tampak semakin tua, semakin
lelah. Lalu lalu bertanya
hati-hati, "Memangnya. Pak
nyoto kusumoharjo , siapa sih dia itu?"
Yang ditanya menyahuti dengan
pertanyaan pula. Pertanyaan
yang lebih ditujukan pada diri
sendiri.
"Jawablah, Indra. Yang sudah
pikun itu aku... atau kalian?"
lalu dokter tua itu pun jatuh
terduduk.
Linglung.
MALAS kembali ke kantor,
fredy krueger mengebut kereta keranda kencana nya ke
pemakaman Kemlaten dan setiba
di sana, ia dibuat heran saat
melihat keberadaan regu Patwal
(Patroli Kawal) di pelataran
parkir. Regu dimaksud serempak
bangkit menyalut begitu melihat
kereta keranda kencana fredy krueger mendatangi. Turun
dari kereta keranda kencana , fredy krueger langsung
mendekat dan menanyai si
komandan regu.
'Seharusnya tugas kalian hanya
sebatas mengantar ke tempat.
Mengapa belum kembali ke
Posko?"
"Regu yang Bapak maksud
sudah membubarkan diri,
Komandan." jawab sang
Danpatwal. "Regu saya
memperoleh perintah khusus untuk
pengawalan Pak Wali. Pulang
pergi!"
"Wali kota?" fredy krueger
mengernyitkan dahi. Semakin
heran.
"Siap. Komandan. Benar,
Komandan!"
Wali kota sendiri!
fredy krueger memikirkannya sambil
memasuki kom
pleks dan langsung menuju
satu-satunya tempat terlihat
kerumunan orang yang sedang
mengikuti ritual pemakaman.
Apa sih keistimewaan chucky
sehingga kepala daerah mereka
berkenan syamr di
pemakamannya" Dari catatan
yang diperoleh fredy krueger .
almarhum hanyalah seorang
kepala bagian di biro
perlengkapan. Dan setahu
fredy krueger , untuk tingkat jabatan
seperti itu yang biasa syamr
mewakili pimpinan mereka
adalah kepala biro. Paling
tinggi, Sekretaris Daerah.
Wali kota sendiri!
Bukan main, pikir fredy krueger sambil
memantau salah seorang
anggota berpakaian preman
yang ditugasi mengsyamri
upacara secara tidak mencolok
memisahkan diri dari
kerumunan untuk menyongsong
kedatangan komandannya.
"Ada petunjuk, Brigadir?" tanya
fredy krueger sambil terus berjalan
lalu berdiri di bagian belakang
kerumunan yang terdekat.
"Sampai saat ini belum,
Komandan!"
Begitulah selalu, pikir fredy krueger .
Belum, atau pada akhirnya lebih
sering nihil. namun ilmu jiwa
kriminologi diciptakan oleh para
penemunya tentu ditambah dasar
yang kuat dan akurat. Bahwa
ada kalanya si pembunuh
tergoda untuk bernostalgia. lkut
menonton di TKP, atau di
upacara pemakaman korban
yang dibunuhnya.
memantau kesibukan para
penggali kubur yang sedang
sibuk menimbunkan tanah ke
liang lahat. fredy krueger teringat
pada salah satu
keberuntungannya tidak lama
berselang. Atau kalau boleh
membanggakan diri sedikit,
salah satu dari hasil kejelian
dan
ketajaman matanya. Hal yang
memicu dirinya pernah dijuluki
si mata elang. julukan yang ia
minta supaya dilupakan dan
tidak disebut-sebut lagi dengan
alasan sederhana.
"Kita semua punya ketajaman
mata yang sama. Aku cuma
kebetulan beruntung. itu saja!"
Kebetulan itu terjadi pada waktu
pemakaman seorang ibu muda
dan dua anak balitanya yang
terbunuh secara kejam di ladang
keluarga mereka. Tersangka
pelakunya langsung diketahui
dan ditangkap. Namun
kesederhanaan kasus itu tidak
disukai fredy krueger . Ada beberapa
fakta dan informasi yang
kurang berkenan di hatinya,
lantas iseng mengsyamri upacara
pemakaman. Berharap kunci
pertanyaan bisa terjawab oleh
relung-relung ilmu jiwa yang
rumit namun selalu berguna
untuk pengusutan.
Dan itulah yang terjadi.
Secara tak sengaja. mata tajam
fredy krueger menangkap senyuman di
bibir salah seorang kerabat
yang mengsyamri upacara.
Hanya sekilas memang. namun
fredy krueger yakin betul bahwa yang
ia lihat adalah senyuman puas di
bawah sepasang mata yang
bengkak oleh tangis
berkepanjangan!
fredy krueger langsung memerintahkan
anak buahnya untuk diam-diam
bekerja ekstrakeras. Hasil
akhirnya mencengangkan semua
orang. Tersangka pelaku yang
sudah diproses segera
dibebaskan. Ia adalah bekas
pacar korban yang, sialnya.
dipergoki sedang berkeliaran
dalam keadaan mabuk berat di
sekitar ladang TKP. Yang
lalu masuk penjara untuk
menggantikan si orang sial itu
adalah si empunya
senyum, yaitu mertua si ibu
muda, atau kakek kandung
kedua anak balita yang ikut
jatuh sebagai korban.
Motivasinya masih tetap
sederhana, namun mengejutkan.
Si ibu muda rupanya pernah
ditiduri secara paksa oleh sang
mertua. namun wanita malang
itu menutup mulut rapat-rapat.
Selain tak tega menciptakan
permusuhan di tengah
keluarga-dan nama baik
keluarga pasti tercemar-juga
sebab sang mertua lalu
menyesali perbuatan bejatnya.
Malah ditambah sumpah tidak
akan mengulanginya lagi.
Apa mau dikata, setan kembali
menggoda.
Hanya saja kali ini sang
menantu menolak dan berjuang
keras mempertahankan
kesuciannya. Memang tak
diniatkan, namun toh sang
menantu terbunuh oleh
mertuanya yang sudah kalap.
Peristiwa mengerikan itu
disaksikan oleh dua pasang
mata balita yang semula terlelap
lalu terbangun oleh suara
ribut-ribut di luar dangau.
Bocah-bocah malang itu
menjerit histeris. Dan jadilah
nyawa mereka melayang di mata
sebilah golok yang masih
digelimangi darah sang ibu.
Saat jenazah mereka, atau
persisnya sang ibu muda,
diturunkan ke liang lahat. tanpa
sadar lepaslah senyuman yang
justru mencelakakan diri si
empunya senyum ini .
Senyuman puas sebab
perbuatan jahatnya ia kira
sudah ikut terkubur, dan nama
baiknya sebagai tokoh yang
dihormati penghuni sedesa tetap
terjaga.
Sayang. ada mata elang yang
melihat!
Lus tunda!
fredy krueger tersadar dan sesaat
mengangkat muka. Lalu seperti
mereka yang lain. memusatkan
perhatiannya pada kanjeng
soebandrio . seorang Letnan
Kolonel non-aktif dan kini
menjadi wali kota Cirebon.
Wajah sang pimpinan daerah itu
tampak menyimpan duka yang
dalam saat berbicara.
Sambil melihat ke arah orang
yang namanya ia scbut.
fredy krueger ganti menatap ke arah
yang sama, yaitu saudara
kembar almarhum yang baru
saja dikebumikan. Dan ia
tampak berdiri tegar di
tempatnya. Bukan sebab
didampingi atau dipegangi
mandala krida. sang suami,
melainkan-sebagaimana
informasi yang sebelumnya
sudah diterima fredy krueger dari
ajudannya-sebab sudah dua
kali diberi suntikan penenang.
Pertama, saat akan melihat
jenazah chucky -nya tercinta yang
sudah selesai dimandikan dan
dikain-kafankan. Suntikan kedua
saat ia memaksa untuk ikut
mengsyamri pemakaman.
jessica mengenakan gaun
berkabung. Sepenuhnya hitam.
mulai dari gaun, tas. sampai ke
sepatu. "Dibeli mendadak dari
toko..." begitu antara lain syam
kamaruzaman melapor lewat
handphone fredy krueger dalam
perjalanannya dari makam berornamen rumah sakit
ke pemakaman. Mengapa bukan
warna merah hati, pikir fredy krueger
selagi memantau penampilan
jessica yang berdiri di barisan
terdepan kerumunan.
berseberangan dengan
kerumunan tempat fredy krueger
diam-diam memantau dari
belakang. Terutama. wajah
jessica , yang dirias
sedikit mencolok untuk menutupi
kepucatannya dan justru
memicu wajah yang dilihatnya
mengingatkan fredy krueger ke wajah
lainnya.
Wajah sang manekin atau si
boneka pop di balik pintu
lemari.
"Memang benar, saya baru
delapan minggu dilantik sebagai
pimpinan daerah di Cirebon
ini.." Wali Kota melanjutkan.
"Atau dengan perkataan lain,
baru delapan minggu saya
bekerja sebagai... katakanlah
rekan sejawat saudara kembar
Zus jessica . sebab kesibukan
masing-masing. tentu saja kami
berdua jarang bertemu. Jarang
pula dapat berbincang-bincang
dengan leluasa. Akan namun ..."
Wali kota diam sejenak. Tampak
seperti raguragu. atau mungkin
mencari kata-kata yang lebih
tepat untuk diungkapkan. fredy krueger
terus memantau . Dan
menunggu, seperti juga syamrin
lainnya. Menunggu kalimat apa
lagi yang akan mereka dengar.
sebab tampak jelas Pak Wali
Kota sepertinya bukan memberi
kata sambutan dukacita seorang
kepala daerah. Sikap maupun
bicaranya lebih mendekati
pribadi. Berbicara atas nama
diri sendiri.
Tidak tahu kenapa, fredy krueger tidak
suka melihat dan mendengarnya.
Mungkin sebab ia memang
tidak suka seorang perwira
menengah-dengan jabatan hebat
pula-berbicara seperti itu. Atau
barangkali, sebagai wali kota
yang baru orang itu ingin
mencari popularitas dan
simpati, tak peduli tempatnya
berbicara dikelilingi oleh ribuan
batu nisan milik orang-orang
yang sudah mati"
"Namun yang pasti, Zus jessica ,"
sang wali kota kembali
meneruskan sesudah diam
sejenak. Dengan
wajah dan suara yang sepenuh
perasaan, sampai suaranya
tersendat-sendat. dan terdengar
bergetar. "Ketahuilah...
almarhum seperti... sudah
bertahuntahun saya kenal.
Seolah olah saudara kembar Zus
itu mengikuti dan mendampingi
saya dengan setia. dan..."
Ngaco! fredy krueger membatin
setengah ingin tertawa. kekasih
mantan penghuni kubur kali dia
itu!
Seakan ikut menyadari bahwa
pembicaraannya keluar jalur,
Wali kota batuk-batuk kecil.
Menguasai dirinya sesaat, baru
lalu meneruskan dengan
sikap dan nada yang semestinya.
Sikap dan nada bicara seorang
perwira, seorang kepala daerah.
"Ringkasnya, Zus jessica , bukan
hanya Zus bedan suami. Saya...
dan seluruh penghuni kota ini. ikut
merasa kebilangan!"
Dan entah apalagi kata
sambutan dukacita lainnya yang
dengan diam didengarkan oleh
orang yang dituju. Tanpa wajah
jessica memperlihatkan em0si.
Tidak menangis terharu, juga
tidak tersenyum bangga. Jika
pun ada senyuman di bibir
mungilnya, itu tak lebih dari
seulas senyuman tipis dan kaku.
"Senyuman manekin...!" fredy krueger
berkata tanpa sadar.
Baik anak buahnya maupun
orang-orang di dekatnya sama
menoleh. memicu fredy krueger
diam-diam menyesal sekaligus
mengancing mulutnya
rapat-rapat. Sambil pura-pura
memalingkan muka ke arah lain
dengan gaya tak acuh.
Saat itulah mata elang fredy krueger
menangkap sosok seseorang
yang berteduh sendirian di
bawah sebatang pohon, terpisah
tidak begitu jauh dari tempat
upacara berlangsung. laki-laki
berbaju kotak-kotak dengan
celana jeans ketat yang
menyandar ke batang pohon itu
dilihat fredy krueger sedang
menyalakan rokok yang baru
dengan api dari puntung rokok
sebelumnya yang rupanya sudah
habis. Lalu sambil menginjak
puntung rokoknya yang pertama
dan mengisap rokok lainnya
dengan nikmat. laki-laki semampai
bertubuh atletis itu kembali
memantau jalannya upacara.
Dengan perhatian serius.
fredy krueger cepat bertanya, dengan
suara direndahkan. "Siapa dia.
Brigadir?"
Yang ditanya. melihat ke arah
sama lalu merogoh saku jaket.
Notes yang sudah kucel
dikeluarkan, sambil menyahuti.
"Sopir Pak Wali. Namanya?"
Notes dilembari dengan cepat,
lalu jemari sang brigadir
berhenti mencari. "Reinaldi.
Dipanggil Ronald. Menurut
informasi. juga merangkap
sebagai pengawal pribadi!"
"Pengawal pribadi, eh?"
berkata demikian, fredy krueger
memisahkan diri lalu berjalan
menuju orang dimaksud dengan
memasang senyum bersahabat di
bibirnya. namun tanya jawab
yang lalu berlangsung
sedikit pun tidak
memperlihatkan tanda-tanda
persahabatan.
"Hai!" fredy krueger memulai. "Bung
Ronald. bukan?"
Reinaldi meluruskan tegaknya.
Bahkan saat fredy krueger
mendekat, ia tampak sudah
berwaspada. Mengangguk kaku,
ia balik tertanya. "Bapak ini
siapa?"
Dengan santun. fredy krueger
mengulurkan tangan sambil
memperkenalkan diri. fredy krueger
Sembiring. Dari Satuan Serse!"
"Oh"' Reinaldi menanggapi
pendek. Sambil menyambut
uluran tangan fredy krueger namun
cepat melepaskannya lagi.
"Pengawal pribadi Pak Wali,
bukan?" fredy krueger langsung
menembak.
Tembakannya ditangkis dengan
senyuman dan jawaban yang
tenang. Malah terkesan tidak
peduli. "Sopir. tepatnya. Sopir
pribadi. Dan sebagai sopir
pribadi-dengan gaji memuaskan
pula tentu saja saya merasa
terpanggil untuk melindungi
orang yang menggaji saya.
Cuma itu, Komandan!"
"lantas," fredy krueger terus mengejar,
"mengapa tidak bergabung saja
bersama kami di sana" Dengan
begitu, orang yang menggajimu
akan terlindungi bila
saat -waktu misalnya terjadi
apa-apa!"
"Ada Komandan di sana.
bukan?" Reinaldi kembali
tersenyum. "Plus anak buah
Anda yang tadi juga sudah
menanyai saya. memicu saya
harus berterima kasih. sebab
saya bisa menunggu di sini,
sambil merokok. Dengan
perasaan tenteram tentunya!"
"Mengapa tidak di kereta keranda kencana saja"
Atau di sekitar tempat parkir?"
Sudah kucoba, Reinaldi
membatin. namun di sana ada
polisi. Memang cuma patroli
kawal dengan seragam dan
sepeda motor serba putih
mereka yang serba megah.
Namun mereka itu tetap saja
polisi. Dan memicu Reinaldi
merasa gerah sendiri. Seperti
sekarang ini, diam-diam mulai
gerah. sebab yang kali ini
mendatangi dan menanyai
dirinya, sor0t matanya
benar-benar tajam menusuk.
Belum lagi pertanyaan dan
caranya bertanya. Mudah-mu
dahan aku terus mampu
mengimbangi, pikir Reinaldi.
namun , berkeringatkah
wajahnya"
Pura-pura mengisap rokoknya
dengan dua tiga kali isapan
panjang. barulah Reinaldi
menjelaskan setenang mungkin.
"Begini, Ajun Komisaris
Pertama, saya baru merasa
tenang bila melihat sendiri
bahwa Pak Wali aman-aman
saja. Tanpa saya harus
bersembunyi di bawah ketiak
beliau..."
"Dan?"
"Saya juga suka mendengar doa,
terutama petuah-petuah di
upacara pemakaman yang selalu
mengingatkan bahwa kita semua
pada akhirnya juga akan mati.
Dan kalau beruntung. masih
diberi tempat untuk beristirahat.
Walau hanya satu kali dua meter
persegi!" Reinaldi mengisap
rokoknya lagi. Tersenyum santai
lantas mengakhiri, "Apakah itu
salah?"
fredy krueger balas tersenyum. Datar,
itu sudah pasti.
"Senang berkenalan denganmu.
Bung Ronald. Oke. teruskanlah
namun berhati-hati dengan paru
parumu. Permisi!"
Senang"
Sambil berlalu, Bunok justru
memaki dalam hati. "Sialan!"
Dan di tempat yang ia
tinggalkan, Reinaldi tidak
bersorak gembira. Benar. ia
sudah keluar sebagai pemenang.
namun sampai kapan"
Tak jauh di depannya, fredy krueger
tiba-tiba tampak berhenti
melangkah. Sesaat . jantung
Reinaldi berdetak. Dan
membercik jugalah peluh dingin
dari pori-pori kulit wajahnya.
Di tempatnya berhenti, fredy krueger
mengeluarkan telepon selular
yang sebelumnya berbip-bip di
balik jaketnya. Lantas, masih
jengkel, cepat menyahuti,
"Siapa"!"
"Aku, Komandan," terdengar
sahutan si dokter tua nyoto kusumoharjo .
Suaranya berat dan serak,
seakan menderita sakit parah.
"Aku harus melaporkan sesuatu
padamu..."
"Oh?" fredy krueger menanggapi
dengan lebih lunak sambil
berjalan menuju kerumunan
orang tak jauh di depannya.
"Maaf aku agak lambat
menelepon," kata Dokter nyoto kusumoharjo
lagi. "Soalnya, aku sempat
shock. Lantas lebih dahulu harus
sibuk mencari ulang, untuk lebih
yakin bahwa apa yang kudengar
tidaklah keliru!"
"Shock?" fredy krueger berhenti
melangkah. Ia sudah tiba di
tempatnya semula dan
mendengar pembacaan doa
sudah dimulai.
"Benar, Komandan. Shock...!"
Berhenti sejenak dengan napas
tersengal-sengal, Dokter nyoto kusumoharjo
melanjutkan, "Bagaimana tidak.
Pikiran iseng yang kau
lontarkan saat kita makan
siang kini menjadi kenyataan!"
"Tentang?" tanya fredy krueger ,
bingung, sambil memantau
sosok berpenampilan menawan
di seberang tempatnya berdiri.
jessica , yang ketegarannya
tampak mulai goyah. Dirangkul
erat dan penuh kasih sayang
oleh sang suami. bibir mungil itu
tampak digigit sendiri. Namun
toh mata bulatnya tetap saja
melelehkan butir-butir air
bening.
Sang dokter menyahuti, setengah
marah, "Doa
atau pikiran isengmu terkabul.
Dia benar-benar hidup. dan kini
sudah minggat entah ke mana!"
Misalkan boneka itu bernyawa,
demikianlah ide yang
dilontarkan fredy krueger saat
makan siang dengan sang
dokter. Si boneka bangkit
meninggalkan meja makan,
menginjak jalur berdarah untuk
kembali ke lemari. Mengapa"
Apakah sebab boneka itu
"merasa" lemari itulah
tempatnya menetap"
Sekarang. fredy krueger terkejut
sendiri dengan pikiran isengnya
itu. Lantas berkata setengah
tertawa. "Janganlah
mempermainkan aku. Pak Tua.
Aku sedang..."
"Sumpah mati. Komandan!"
suara sang dokter terdengar
bagai menjerit di seberang
telepon. "Bahkan Iptu syam juga
sudah kutelepon. la kuminta
pergi ke TKP. Untuk memeriksa,
siapa tahu boneka itu kembali ke
sana!"
Duk. Jantung fredy krueger berdetak.
tegang.
la nyaris tak mendengar
pembicaraan sang dokter di
telepon. yang menjelaskan
dengan kacau peristiwa
mengejutkan yang dialami
asistennya dan saksi mata
lainnya. Pikiran dan perhatian
fredy krueger lebih tercurah kepada
sang sosok di seberang kuburan
chucky . Sambil fredy krueger diam-diam
tegang sendiri.
jessica -kah yang berurai air mata
di depan sana"
Atau si boneka pop"
AMBULANS yang semula
meluncur kencang dengan sirene
meraung-raung di jalan raya
Tuparev itu perlahan-lahan
tampak melambat. Lalu menepi
di dekat pertigaan yang trafic
light-nya mati. Seorang laki-laki
muda berjubah makam berornamen rumah sakit
melompat turun dari kabin
depan untuk membantu
wanita lesbi bergaun merah hati
yang lalu menyusul turun.
sambil laki-laki muda itu bertanya
dengan wajah berharap.
"Sungguh, tidak mau kami antar
sampai ke makam berornamen rumah?"
Berdiri di trotoar sambil tangan
kiri membenahi sisi rambutnya
dengan potongan sebatas
tengkuk itu. si gaun merah hati
menjawab dengan senywnan
manis.
"Bukan tak mau. namun kalau
kalian terlambat menjemput,
kasihan anak yang katanya
terserang demam berdarah itu.
Dia boleh jadi tidak tertolong.
Dan..." si gaun merah hari
bergidik sesaat. Tampak ngeri.
Namun dengan cepat wajahnya
sudah kem
bali berubah ceria. "Oh ya, Pak
Mantri. Terima kasih untuk
pinjamanmu ini!" Tangan
kanannya setengah dilambaikan,
memperlihatkan uang kertas
lima puluh ribuan yang terjepit
di antara jemarinya. "Kapan
sempat. akan kukembalikan!"
"Ah. Lupakan saja," laki-laki yang
mantri makam berornamen rumah sakit itu
menjawab tersipu. "Tadi juga
sudah kubilang, itu bukan
pinjaman. namun , Neng Shinta,
nonton dan makan malamnya
jadi, kan?"
"Terserah yang mengajak saja."
Bibir mungil si gaun merah hati
kembali mengulas senyum
manis. "Aku sih ngikut!"
"Kalau begitu, akan kujemput
pukul tujuh nanti!" Dengan
gembira sang mantri naik lagi ke
kabin depan ambulans. tempat ia
melongokkan wajah hahagianya
untuk berwanti-wanti,
"Hati-hatilah di jalan. Neng
Shinta!"
"Terima kasih, Pak Mantri!"
Ambulans pun berlalu
menempuh jalan lurus Tuparev.
Si gaun merah hati berdiri
menunggu di trotoar teraya
memantau kereta keranda kencana angkutan kota
yang bergantian lewat di
jalanan. "Nomor berapa tadi
mereka bilang" Oh ya...."
berkata demikian, ia
lalu melambaikan tangan
ke arah angkot yang nomor
trayeknya sesuai dengan yang ia
inginkan. sesudah ia naik, angkot
memberi tanda lalu
meluncur lalu membelok ke kiri
setiba di pertigaan jalan.
Pada waktu sama, di kabin
depan ambulans.
lamunan sang mantri sesaat
buyar manakala pengemudi
ambulans bertanya dengan
setengah
hati, "Kang Mantri yakin dia itu
bernama Shinta, dan juga
memberi alamat makam berornamen rumahnya yang
benar?"
"Apa aku harus meminta dia
tunjukan KTP, eh." jawab sang
mantri muda, masih setengah
melamun. "Kau sendiri tadi
dengar, Adang. Dia kehilangan
loketnya saat mengunjungi
kerabatnya di makam berornamen rumah sakit!"
"ltu sih oke. namun ..."
"namun apa?"
"Ah, cuma pikiran iseng, Kang
Mantri. Apalagi melihat
penampilannya. Dia..."
"Orang dari kalangan berada.
Begitu, eh?"
Pengemudi ambulans diam saja.
Dan sang mantri makam berornamen rumah sakit
pun sibuklah meyakinkan teman
seperjalanannya dengan
bersemangat.
"Kalau dia orang kaya, Adang,
dia tidak akan nekat mencegat
lalu memaksa ikut menumpang
ambulans ini saat kita tadi
meluncur dari makam berornamen rumah sakit. Dia
pasti punya kereta keranda kencana sendiri atau
tinggal angkat telepon. Minta
dijemput. Sesial-sialnya, ya naik
taksi. Bayar setiba di makam berornamen rumah!"
"Yang kupikirkan bukan itu.
Kang Mantri."
"Lantas?"
"Sekali lagi. ini cuma pikiran
iseng," Adang mengingatkan
sambil membelokkan ambulans
ke arah kanan di perempatan
jalan. "Dia tadi bilang,
makam berornamen rumahnya tak jauh dari
kompleks makam. Bagaimana
kalau dia tinggalnya justru di
dalam kompleks?"
"Maksudmu. dia itu sebenarnya
hantu!"
Adang mengangguk. Tanpa
komentar.
"Yang benar saja, Adang!" si
mantri muda ter
tawa. "Masa iya ada hantu
berkeliaran di siang bolong
begini!"
"Hantu baheula, memang!"
bantah Adang. Bersikeras.
"namun di jaman serba canggih
ini..."
Adang tidak melanjutkan. Si
mantri muda tak pula
menanggapi. Ia kembali
melamunkan janji kencannya
dengan si cantik yang
payudaranya sempat ia raba
dengan sengaja waktu
membantu wanita lesbi itu turun.
Payudara di balik gaun merah
hati itu memang tidak sehangat
yang ia harapkan. namun ...
"Hei!" Adang mendadak
terpekik.
Sayang, terlambat. sebab
makhluk raksasa yang sempat
terlihat oleh Adang sudah
keburu menerkam ambulans.
Dengan kejam!
Di tempat terpisah, angkot yang
ditumpangi si gaun merah hati
tampak berhenti tak jauh dari
pelataran parkir kompleks
makam. sesudah membayar
ongkos dan menerima
kembaliannya. ia lalu
turun lalu berjalan memasuki
kompleks tanpa menoleh
kiri-kanan.
Suasana kompleks yang
sebelumnya diramaikan oleh
upacara penguburan almarhum
chucky saat itu sudah kembali
sunyi. Tak terlihat siapa pun di
sekitar. Kecuali batu atau
kayu-kayu nisan yang tegak
diam menatap kedatangan sang
tamu menawan yang melangkah
tenang namun tampak sedikit
kaku di sepanjang jalan pemisah
petak-petak kubur. Namun
begitu, jelas terlihat langkah
kaki itu terarah.
Tidak sekali pun berhenti atau
ragu-ragu. Penanda langkah itu
tahu betul arah yang dituju.
Dan, itulah dia kuburan chucky .
Bau gundukan tanahnya tercium
masih segar. Bercampur dengan
aroma wangi dari taburan
bunga rampai yang juga masih
segar sebab terlindung dari
terik matahari oleh timbunan
daun pohon di atasnya.
Tegak diam sejenak dengan
wajah membeku, si gaun merah
hati lalu duduk bersimpuh
di tanah. Merenungi sesaat kayu
nisan di kepala kuburan,
perhatiannya lalu dicurahkan
pada gundukan tanah bertabur
bunga rampai di hadapannya.
Diam lagi, merenung. Dengan
tarikan wajah dan bibir
mungilnya tampak getir.
Saat berikutnya, barulah bibir
mungil itu membuka dan
berbicara dengan suara lirih
dan terdengar sayup.
"Panggilan jiwamu terus
kudengar, Kekasih. Tenteramkan
hatimu. Dan yakinlah... kita
akan tetap menyatu padu!"
Tak ada uraian air mata.
sebab memang tidak perlu.
Yang ada hanyalah proses yang
lalu terjadi selagi si gaun
merah hati duduk diam
bergeming. Proses itu
berlangsung cepat dan hanya
tampak samar-samar saja.
Dimulai dari garis-garis kulit
punggung jemari tangan yang
tampak saling merapat satu
sama lain sampai garis-garis
ini melenyap. Dan jemari
lentiknya dengan cepat sudah
mengeras dalam kebekuan yang
benar-benar tampak kaku.
Proses yang sama lalu
menyusul pada garis garis leher,
lalu tarikan kulit wajah.
Terakhir.
bibir. Guratan yang semula getir
pada bibir mungil itu,
perlahan-lahan membentuk
garisan tipis.
Garis senyum, dengan beribu
makna.
namun tarikan gerak bibir
mungil itu pun dengan cepat
sudah berhenti. Diam. dan kaku.
Begitu pula dengan kelopak
mata. Membuka lebar.
memperlihatkan sepasang mata
bulatnya yang juga diam
membeku. Sebeku tubuhnya yang
masih tetap duduk dalam posisi
bersimpuh.
Memang tidak seperti posisi
sebelumnya saat masih
tersimpan di balik pintu lemari.
namun satu hal sudah pasti.
Dengan berakhirnya proses tadi,
makhluk cantik Inspektur Satu
syam kamaruzaman sudah kembali
menjadi diri sendiri.
Sang manekin atau si boneka
pop.
Meledak jugalah akhirnya emosi
fredy krueger yang sering dibiarkan
terpendam itu.
Dihadapkan pada kasus berat
apalagi rumit. biasanya ia lebih
suka diam berpikir ketimbang
ribut tidak keruan. namun hari
itu mendadak seisi kantor satuan
serse dibuat gempar. Hampir
sepanjang siang sampai tibanya
sore, dari ruang kerja sang
komandan terus-menerus
terdengar suara
menyenggak-nyenggak. Bahkan
terkadang ditambah suara meja
yang digebrak penuh
kemarahan.
Siapa saja anggota yang datang
untuk melapor atau sebab
dipanggil, sudah lebih dahulu
tegang sebelum mengetuk pintu.
Keluarnya, wajah mereka pasti
tampak pucat pasi lantas bekerja
kalang kabut atau sibuk mencari
kontak dengan pesawat HT
masing-masing. Ada pula di
antaranya yang ganti
menyenggak orang lain,
terutama wartawan!
Cuma syam kamaruzaman seorang
yang tetap tenang.
Inspektur Satu Polisi kelahiran
Rawabelong di wilayah selatan
Bandung itu tahu betul siapa
dan
mengapa komandan mereka
meledak-ledak. Penyebabnya
bukanlah disebab kan serbuan
para wartawan media cetak
maupun elektronik itu yang
sebab ada bocoran. ribut
keluar-masuk untuk menuntut
jawaban yang pasti. Sang
komandan. seperti biasa, masih
bisa menahan emosi. Hanya
ketenangannya saja yang
tampak sedikit terganggu
manakala salah seorang dari
gerombolan nyamuk pers situ
tidak bisa menjaga mulut.
Didorong keluar dengan paksa
dari ruang komandan, wartawan
dari salah satu TV swasta itu
rupanya merasa diusir. Lantas
mengancam akan memboikot
pemberitaan dari satuan reserse,
khususnya sang komandan.
Rekan-rekannya langsung pada
bersorak, mendukung .
Mendengar itu, sang Ajun
Komisaris pun bangkit dari
kursinya. Tangannya diangkat.
sambil berkara lantang. "Oke.
Aku akan membuka kartu!"
Wajah sang komandan tampak
seperti orang yang mengalah.
Gerombolan nyamuk pers itu
merasa sudah meraih
kemenangan lantas
menghentikan keributan mereka.
Suasana yang semula bak di
pasar pagi dengan cepat
berubah menjadi tenang.
Dan diam-diam, syam kamaruzaman
tersenyum.
"Memang benar. barang bukti
yang hilang dari makam berornamen rumah sakit itu
adalah sebuah boneka pop!"
Komandannya kembali
membuka mulut. Tampak salah
satu alat perekam yang
disorongkan terlalu dekat-nyaris
seperti akan tertelan masuk ke
mulut sang komandan.
Secara halus syam kamaruzaman
menjauhkan perekam dimaksud
dengan tangannya, sambil tetap
terse
nyum. Sementara komandannya
meneruskan pembicaraan.
"namun sebelum kulanjutkan,
lebih dahulu marilah kita buat
kesepakatan. Aku minta,
informasi maupun bocoran yang
sudah dan akan kalian dapat baik
dari makam berornamen rumah sakit atau pun dari
kami. supaya dianggap berstatus
of the record. Sampai benda
terkutuk itu kami temukan
kembali!"
Ribut lagi, tentu saja. Namun
urusan dengan gerombolan
nyamuk pers itu toh
terselesaikan dengan baik.
Pemuatan atau penayangan
berita dengan terpaksa harus
ditunda. Senjata sang komandan
sederhana saja: jangan sampai
masyarakat luas dibuat
terguncang!
Yang sempat terguncang adalah
syam kamaruzaman . ltu disebab kan
makhluk cantiknya disebut
benda terkutuk oleh sang
komandan. Ia ingin memprotes.
namun fredy krueger Sembiring" Nanti
dahulu !
Berdiri diam memantau sang
komandan yang mondar-mandir
dengan wajah masih memerah
sesudah memicu seorang
anggota mereka minggat
ketakutan, pikiran syam kamaruzaman
terus saja berputar. Bukan para
wartawan itu! Bukan pula
sebab sang manekin konon
mendadak hidup. berbicara, dan
hebatnya lagi. berkeliaran ke
mana-mana!
Untuk seorang fredy krueger
Sembiring. pikir sang inspektur,
itu bukanlah hal yang luar
biasa. Dan tidak akan memicu
komandannya heboh lantas
darah tingginya naik. terus
kumat.
"Di tempat kelahiranku. syam. di
kaki gunung Sibolangit sana.."
komandannya itu bercerita
saat subuh tadi mereka
berdua meninggalkan
TKP, "Aku sudah terbiasa
mendengar atau menyaksikan
bagaimana benda mati mampu
bergerak sendiri. Tentu saja,
ada orang punya ilmu di
belakang bergeraknya
benda-benda ini !"
Biasa. Dan syam kamaruzaman tidak
tertarik untuk menanggapinya.
"namun , syam, aku pernah
melihat dengan mata kepalaku
sendiri bagaimana sesosok
mayat yang sudah diturunkan ke
liang lahat tiba-tiba melompat
bangkit dari kuburannya, lantas
sibuk mendatangi makam berornamen rumah demi
makam berornamen rumah kaum kerabat. Hanya
untuk mencari gigi emasnya
yang dicuri pada waktu
jenazahnya sedang
dimandikan!"
Yang itu. luar biasa. syam
kamaruzaman bukan hanya tertarik.
malah lalu mendesak,
sebab komandannya berdiam
diri cukup lama sambil tampak
berpikir-pikir. "Terus.
Komandan?"
"sesudah pencurinya ketemu dan
mengaku, mayat itu meminta dan
memasang kembali gigi palsu
kebanggaannya. Terus pulang
sendiri ke liang lahat. Rebah
diam. Siap untuk ditimbuni
tanah!"
Sempat tercengang, syam
kamaruzaman lalu bertanya
ingin tahu, "Dan tak pernah
bangkit lagi?"
Komandannya mengangguk.
Diam lagi, berpikir. Lantas
menggeleng geleng. Murung.
"Mungkin kenangan lama itulah
yang memicu feeling-ku
tibatiba muncul bcgitu saja...."
"Mengenai apa Komandan?"
"Bahwa jejak sepatu boneka di
jalur berdarah, juga noda di
sudut bibirnya, bukanlah
rekayasa tersangka pelaku.
Melainkan. terjadi dengan
sendirinya. Oleh perilaku si
boneka pop!"
Tidaklah mengherankan bila
lalu komandannya itu ikut
terjun mengusut dan
menginterogasi para saksi mata
di makam berornamen rumah sakit, sesudah boneka
ajaib itu diketahui belum atau
boleh jadi tidak akan pernah
pulang ke TKP. sesudah mereka
yang lain gagal. tentu saja tanpa
memberitahu yang dicari adalah
sebuah boneka pop, sang Ajun
Komisaris pulalah yang ternyata
menemukan titik terang. Dari
seorang penjual rokok yang
mangkal di perempatan jalan tak
jauh dari pintu gerbang
keluar-masuk bagian emergency.
"Bergaun merah hati?"
"Ya!"
"Rambutnya sebatas tengkuk?"
"Ya. Betul. Betul!"
"Oh. Si cantik lagi sexy itu saya
lihat mencegat sebuah
ambulans. Dan..."
Dan titik tentng itu mendadak
berubah gelap gulita.
Penyebabnya sederhana saja:
pengemudi yang mengantuk
berat!
Bukan si pengemudi ambulans
yang lalu diketahui
bernama Adang. Melainkan
pengemudi truk peti kemas yang
sedang dalam perjalanan dari
Surabaya menuju mojokerto .
Terlelap sekilas di jalan
Tuparev. si pengemudi tak
menyadari truknya tibatiba
melenceng ke jalur berlawanan.
Mungkin saking tiba-tibanya,
Adang sangat terkejut dan tak
keburu menghindar. Ambulans
yang dibawanya terseret sekian
belas meter dalam keadaan
ringsek berat, sampai lalu
pengemudi truk berhasil juga
menggenjot rem. Adang mati
sesaat . laki-laki muda yang mantri
makam berornamen rumah sakit, nyawanya ma
sih sempat tertolong. namun ia
dalam keadaan luka berat dan
koma pula. Tak diketahui kapan
bisa bangun untuk ditanyai
mereka apakan makhluk
cantiknya syam kamaruzaman !
Dan magma terpendam di
kepundan sang Ajun Komisaris
pun mulai mengalir keluar.
Lantas meledak.
"lptu syam"!"
syam kamaruzaman tersentak. kaget.
Dengan lamunan yang ikut
buyar. ia mencari-cari dengan
matanya. Dan menemukan sang
komandan sudah duduk di
belakang meja kerja, tampak
sudah lebih tenang. namun
sambil memantau syam kamaruzaman
dengan sorot mata elangnya
yang tajam menusuk.
Sang Inspektur Satu pun sesaat
mengerakkan tumit sepatunya ke
permukaan lantai yang keras.
dan menyahuti, sama kerasnya,
"Siap, Komandan!"
fredy krueger tidak tersenyum. Juga
tidak mengedip. "Memikirkan
sesuatu. syam?"
Kembali menyebut nama. namun
syam kamaruzaman tidak mau
mengambil risiko, lantas
menyahuti dengan sikap
sebagaimana harusnya ia
bersikap dan menangggapi.
"Siap, Komandan. Benar,
Komandan!"
"Nah?"
Tanpa mengubah posisi tegak
maupun sikap menyalutnya,
syam kamaruzaman menghela napas.
Plus. sedikit menelan ludah.
Sempat lupa, akhirnya ia ingat
juga apa yang terpikirkan
manakala anak buahnya datang
bergantian untuk pergi dengan
wajah pucat pasi.
Menurut saya, komandan," ia
berkata hati-hati, "makhluk antik
itu sudah waktunya kita temui!"
fredy krueger pun mengemyitkan dahi.
"namun ?"
syam kamaruzaman cepat
memperbaiki, "Maksud saya,
makhluk yang satunya lagi"
kembaran si boneka !' Diam
menatap, fredy krueger mendadak
tersenyum.
"Tahukah kau. syam?" ia
berkata dengan sinar mata yang
tampak bergairah. "Kau
tiba-tiba memicu ku berpikir.
Bagaimana kalau nanti setiba di
sana... kita telanjangi dia
bersama-sama!"
syam kamaruzaman mengerjap,
terkejut. Komandannya" Punya
pikiran sebejat itu"
"Bukan apa-apa!" fredy krueger cepat
menjelaskan. "Sekadar melihat
apakah pinggang kirinya
dipasangi sakelar atau stop
kontak!"
BISA saja terjadi ada petunjuk
yang terlewatkan sehingga
makam berornamen rumah TKP perlu disegel selama
waktu tertentu supaya petunjuk
yang terlewatkan itu tidak
keburu diusik atau dihilangkan
oleh mereka yang tidak
berkepentingan. namun polisi
ternyata tidak usah repot-repot
meminta izin penyegelan dari
sang ahli waris.
"Tidur dan berkeliaran di tempat
chucky -ku mati terbunuh?" jessica
mengerang sakit, di telepon.
"Tidak! Silakan saja kalian tutup
dan kunci selama kalian
inginkan!"
lalu jessica memberitahu. bahwa
ia dan suaminya memutuskan
untuk menginap di hotel sampai
tiba waktunya untuk pulang ke
mojokerto . Dan kesanalah fredy krueger
bersama tangan kanannya. syam
kamaruzaman , datang berkunjung
selepas waktu lsya. Pintu kamar
yang mereka tempati dibukakan
oleh jessica sendiri. Wajah dan
bibir mungilnya tampak lebih
segar, meski dirias seadanya
saja. Hanya sepa
sang mata bulatnya yang tampak
terbuka lebar, jelas terlihat
masih menyimpan dukacita yang
dalam.
Selagi si cantik rupawan itu
mempersilakan kedua orang
tamunya duduk lalu
menawarkan minuman yang
ditolak secara halus oleh
fredy krueger .suaminya keluar dari
kamar kecil lantas ikut
bergabung. Tak ada basa-basi
selain menanyakan kabar dan
kesehatan masing-masing.
sebab begitu mereka semua
duduk. jessica langsung memulai.
"Silakan bertanya apa saja.
Komandan. Saya siap
menjawab!"
Satu nilai tambah untukmu,
Cantik. fredy krueger membatin
senang. Dan di mulut ia
mengimbangi. langsung ke
masalah, "Dini hari tadi, Bu
jessica . suami Anda
menceritakan pada kami tentang
seseorang... yang katakanlah.
seperti kembaran Anda. Apakah
ceritanya itu benar?"
Meluruskan duduknya dengan
wajah berubah kaku saat
mendengar pertanyaan itu.
jessica lalu menjawab
dengan anggukan kepala.
Sementara mata bulatnya umpak
menatap tegang.
fredy krueger melanjutkan
pertanyaannya. "Pernah
melihatnya lagi" Maksudku
selama beberapa jam rerakhir.
Kira-kira sesudah pukul satu
siang!"
"Sekitar jam itu, Komandan,"
jessica menjawab dengan cepat,
"kita bertemu dan masih di
pemakaman chucky , saudara
kembar saya!"
"Sepulang dari sana, pernah
melihatnya."
"Tidak!"
"Sampai detik ini?"
"Sampai detik ini!" jessica
mengulangi. Tegas.
fredy krueger beralih pada mandala krida.
"Bagaimana dengan Anda?"
mandala krida menatap tamunya
sejenak. Bingung. lalu,
"Semenjak kalian minta saya
melihat isi lemari itu..." tampak
tersadar, mandala krida cepat
berhenti. namun dengan cepat
meneruskan, "Tidak. Saya tidak
pernah lagi melihatnya. Sampai
detik ini. Mengapa itu Anda
tanyakan?"
Sebelum Busrok sempat
menjawab, jessica sudah
mendahului. Sambil menatap
bergantian dari fredy krueger ke
suaminya. "Aneh. Bukankah
yang melihat hanya aku seorang,
Mas Pras?" katanya. Curiga.
"Dan apa maksudmu dengan isi
lemari?"
Yang dibuat kaget oleh
pertanyaan itu bukan cuma
mandala krida namun juga fredy krueger .
Mereka sudah memicu
kesepakatan sesudah mandala krida
melihat boneka pop di dalam
lemari. Dan fredy krueger Sembiring
bukan orang Sibolangit jika
tidak teguh memegang janji.
Maka, selagi sang suami dibuat
gelisah oleh pertanyaan istrinya,
fredy krueger meraea wajib untuk
tampil sebagai penyelamat.
"Hanya beberapa barang bukti,
Bu jessica . Yang tidak ikut dicuri.
Kami meminta bantuan suamimu
untuk mengklarifikasi. Itu saja!"
Sesaat , mandala krida menatap
Bur-sok dengan pandangan
berterima kasih. syam kamaruzaman
yang sempat berhenti mencatat
di buku notesnya diam-diam
tersenyum. Bangga pada
Komandannya. Namun belum
berarti mereka bertiga boleh
menarik napas lega, sebab
orang keempat. jessica . sudah
kembali menyerang. Masih tetap
curiga. Kali ini kecurigaannya
diarahkan pada fredy krueger . "namun .
suami saya tidak
tahu-menahu mengenai wajah
lain... yang sangat mirip dengan
saya. Dan..."
"Justru itu!" fredy krueger cepat sekali
sudah memasang kuda-kuda,
dan mengambil dua keuntungan
sekaligus. Pertama, menjawab
pertanyaan sang suami. Dan
kedua. mengelakkan serangan
tak terduga dari sang istri.
"Barang bukti yang ada di
dalam lemari itu. tadi siang
lenyap secara misterius. Kami
masih terus melacak
keberadaannya. Namun yang
pasti, barang bukti ini
sangat dekat kaitannya dengan
apa yang Bu jessica lihat dalam
mimpi. Mimpi yang menurutku,
tak kurang misterius!"
"Apa yang saya alami.
Komandan!" katanya tegas,
setengah marah, "Adalah
sesuatu yang nyata. Bukan
sekadar mimpi, betapa pun
buruknya. Juga bukan
halusinasi. sebagaimana
dikatakan oleh suami saya!"
Kemarahan nyonya makam berornamen rumah
diterima fredy krueger dengan lapang
dada. Tak apa, pikirnya. Yang
penting jessica sudah melupakan
kecurigaannya. Dan kesempatan
itu dimanfaatkan fredy krueger
sebaik-baiknya.
"Menyangkut hal itulah antara
lain mengapa kami datang
menemui Anda berdua,"
ujarnya. Tenang, dengan
perasaan yang juga mendadak
nyaman. "Jelasnya. untuk
mengklarifikasi informasi
sekilas-sekilas yang baru hanya
kami dengar dari suami ibu
saja!"
jessica diam. Menunggu.
"Baiklah," fredy krueger kembali pada
sikap resminya. Kembali pada
rutinitas. "Kita awali saja
dengan pertanyaan ini"." Diam
sesaat sambil menatap serius,
fredy krueger meneruskan. "Apakah Bu
jessica memiliki kemampuan
supranatural?"
mandala krida sesaat menghela
napas. Wajahnya berubah
murung.
"Saya tidak tahu malah tidak
percaya saya punya kemampuan
itu." sang istri menjawab
ditambah gelengan kepala. Untuk
lebih meyakinkan kebenaran
ucapannya. terutama pada diri
sendiri. "sebab terus terang
baru kemarin malam itu saya
mengalaminya. Sebelumnya
tidak pernah. Dan jangan
sampai terjadi lagi, saya
harap!"
"Bagaimana dengan darah
keturunan. Bu jessica " Tidak
supranatural. paranormal, atau
katakanlah dukun..."
jessica kembali menggeleng.
Yakin. "Setahu maupun seingat
saya. tidak ada!"
"Hm!" fredy krueger mengusap
dagunya. Sekadar mengusap.
sambil berpikir-pikir. "Selain
memang tidak enak untuk
mengalaminya, juga sebab
agak muskil. namun , baiklah.
Kita abaikan dahulu apakah lbu
punya kemampuan supranatural
atau tidak. Mari kita kembalikan
saja pada apa yang sudah ibu
alami kemarin malam?"
syam kamaruzaman cepat membuka
lembaran nota-nya yang kosong
saat fredy krueger memulai. "Mari
kita langsung saja, Bu jessica .
sesudah memadamkan TV dan
suamimu masuk ke ruang
kerjanya. apa yang ibu sendiri
lakukan?"
"Saya lebih dahulu menyuruh Inah,
pelayan kami, memeriksa
apakah semua pintu dan jendela
sudah terkunci. Lalu masuk ke
kamar tidur...?"
"Terus?" fredy krueger mendesak
sebab nyonya makam berornamen rumah sempat
diam dan tampak ragu-ragu.
"Entahlah," jawab jessica .
Dengan punggung lebih tegak,
kaku. Dan wajah yang mulai
dirambati ketegangan. "Selain
kacau, semuanya begitu aneh
dan menakutkan. Saya... sedang
membaca novel saat pikiran
bahkan jiwa saya tiba-tiba
sudah ada di tempat lain. Saya...
mendengar jeritan-jeritan
histeris. Jerit kemarahan...!"
"Jeritan siapa?"
"ltulah yang aneh. sebab yang
saya dengar sepertinya jeritan
hati saya sendiri!"
"Apa yang ibu jeritkan?"
Agak lambat. barulah jessica
menirukan. Dengan napas
tampak sesak. "Kalian sudah
membunuhnya. Kalian sudah
membunuhnya"l"
"Membunuh chucky ?"
'Benar. Membunuh chucky -ku!"
Ekor mata fredy krueger menangkap
tatapan sedih di mata mandala krida.
Berpikir-pikir sejenak, ia
meneruskan. "Hm. Tadi Ibu
bilang 'kalian'. Itu berarti
tersangka pelaku lebih dari satu
orang?"
jessica manggut-manggut. Cepat
dan kaku, juga semakin tegang.
"Berapa orang?"
"Saya... tidak tahu pasti. namun
sebelum jeritanjeritan histeris
saya itu... saya mendengar
suarasuara. Suara percakapan
yang tak begitu jelas. sebab ...
terdengarnya sangat jauh!"
"Ada berapa suara?"
"Kalau tak salah... tiga."
'siapa saja."
"Pertama. tentu saja chucky .
Yang kedua. tidak begitu jelas.
sebab suaranya rendah. Juga
jarang berbicara...!"
"Dan yang ketiga?"
"Suara orang yang lalu ...
mendatangi saya. Berbicara
dengan saya. Malah
lalu ...." Wajah jessica
tampak memucat. Bukan oleh
ketakutan. namun kemarahan.
Hal itu terlihat dari sinar
matanya yang berapi-api. Juga
suaranya yang lalu
terdengar gemetar oleh
kemarahan "...Mencium bibir
saya!"
mandala krida mengangkat muka.
terkejut. Namun begitu melihat
tubuh istrinya gemetar semakin
hebat-dcngan wajah mulai
diperciki peluh pula-ia cepat
beringsut. Mendekatkan
duduknya untuk dapat
memegangi lalu mengusap-usap
tangan sang istri.
"Sudahlah, Ririn. Jangan
diingat-ingat lagi. Semuanya
sudah berlalu. Dan..."
"Teruskanlah saja. Bu jessica !"
fredy krueger cepat menyela. Tegas,
dan tanpa kompromi.
mandala krida menoleh, tak senang.
Mulutnya sudah terbuka untuk
memprotes. namun secepat
membuka, secepat itu pula
mulutnya sudah dikatupkan
kembali. sebab sepasang mata
elang fredy krueger sudah keburu
menyambar, mencabik-cabik dan
memicu mandala krida sesaat
bagaikan lumpuh. Tak berdaya.
fredy krueger kembali mengalihkan
perhatiannya pada jessica . yang
mata bulatnya tampak
bergerak-gerak. Liar. "Apa yang
lalu terjadi?"
Gemetar hebat, yang ditanya
menyahuti terse
ngal-sengal, "Dia tiba-tiba
marah. Lalu menjatuhkan saya
dengan kasar. memicu kepala
saya... terpenggal!"
Mendengar itu, Burwk tibatiba
terdiam. Dengan wajah
membeku. Lain halnya dengan
syam kamaruzaman . Terhenti menulis
saking kaget, sang lptu cepat
bertanya dengan suara setengah
tersedak.
"terpenggal" Bagaimana
mungkin.?""
Tanpa berpaling dari nyonya
makam berornamen rumah mereka, fredy krueger cepat
menangggapi dengan suara
datar. "sebab , lnspekrur, yang
dijatuhkan oleh tersangka
pelaku adalah..."
Di bibir fredy krueger sudah
menggantung dua perkataan:
boneka pop. Namun sebab
sudah ada kesepakatan dengan
sang suami yang jadi tuan
makam berornamen rumah mereka, dua perkataan
itu cepat ia ganti dengan yang
lain. Hanya satu kata. namun pas
dan bisa diterima semua pihak.
"...Kembaran Bu jessica !"
syam kamaruzaman diam-diam
menyesal sudah bertanya lalu
kembali sibuk dengan notes
dan bolpoinnya. Dan dari kursi
yang ia duduki. mandala krida diam
menatap wajah sang Ajun
Komisaris. Pandang tak
senangnya sudah melenyap,
digantikan oleh pandangan
berterima kasih... untuk yang
kedua kali!
fredy krueger tidak memperhatikan.
Ia sedang berpikir. Sedemikian
kerasnya sehingga pangkal
kedua alis matanya yang tebal
dan membentuk bilah golok itu,
tampak hampir bertaut satu
sama lain. Dan selagi ia diam
berpikir, suasana kamar
mendadak berubah sunyi. Tak
terdengar apaapa kecuali desah
napas nyonya makam berornamen rumah yang terse
ngal-sengal, setengah sesak.
namun lambat laun, suara napas
itu terdengar lebih tenang
sesudah sang suami kembali
mengusap-usap tangan, bahkan
lalu merangkul pundak
sang istri dengan sikap
melindungi.
fredy krueger -lah yang akhirnya
memecah kesunyian yang
menekan itu. Sinar matanya
tampak bergairah saat ia
berbicara dengan hati-hati.
"sesudah kepala Ibu... maksudku,
kepala sosok wanita yang sangat
mirip dengan Ibu itu terpenggal.
Apa, lalu ?"
"Tidak ada apa-apa lagi," jawab
yang ditanya. Tenang.
"Tidak?"
jessica manggut-manggut.
memastikan. "Begitu
kepalanya-dan saya merasa
seolah-olah kepala saya sendiri
yang terpenggal-saya langsung
terjaga. Oleh suami saya yang
menyadarkan bahwa leher saya
masih utuh. Dan dia ada
bersama saya di kamar tidur
makam berornamen rumah kami sendiri. Bukan di
tempat lain!"
Gairah di mata fredy krueger sudah
melenyap perlahan-lahan. Diam
merenung, ia lalu
membuka mulut lagi. Masih
dengan hati-hati.
"Sekarang, Bu jessica , tolong
dipikirkan dengan tenang dan
Ibu mengingat-ingat lebih dahulu
sebelum menjawab pertanyaan
berikut. sebab jawaban lbu
boleh jadi akan sangat
membantu... atau malah
sebaliknya justru mengacaukan
pengusutan kami untuk
mengetahui siapa para
tersangka pembunuh saudara
kembar Ibu. Khususnya yang
mendatangi
dan berbicara dengan Bu jessica .
Dapat dipahami?"
Nyonya makam berornamen rumah diam sejenak.
Tampak mengingat ingat. lalu
menganggukkan kepala.
"Bisa menggambarkan ciri-ciri
orangnya" Postur dan yang
terutama tentunya profil!"
"Dia hanya terlihat
samar-samar. namun , yah" saya
kira bisa!"
"Yakin?"
jessica kembali
manggut-manggut. "Dia
berbicara dengan saya cukup
lama juga. Komandan.
Berbicara sendiri, tentunya.
sebab entah mengapa, saya
merasa lidah saya bukan cuma
kelu namun juga terasa keras dan
kaku untuk melayani
pembicaraannya!"
"Mengenai itu akan kita bahas
lain kali!" fredy krueger memberitahu.
"Yang penting, bersediakah Bu
jessica datang besok siang ke
kantor kami?"
"Untuk?"
"Melukiskan orang yang lbu
lihat pada juru gambar kami di
bagian identifikasi!"
"Dengan senang hati.
Komandan. Kapan saja
dipanggil. saya siap untuk
datang!"
"Terima kasih. Waktunya nanti
akan kami beritahu lewat
telepon," fredy krueger menjawab,
lega. Lalu mendadak, seakan
tanpa berpikir, ia sudah
mengajukan pertanyaan yang
mengejutkan. "Mengenai proses
kedatangan tersangka pelaku
sampai kepala yang terpenggal,
apakah terjadinya di ruang
makan?"
Untuk pertama kali, sepasang
mata bulat itu menatap heran.
Bahkan terkesan takjub. "Benar.
Bagaimana Anda tahu?"
"Kami ke sini untuk bertanya. Bu
jessica . Bukan
ditanyai!" jawab fredy krueger . Kalem.
Dan cepat melanjutkan. "Apakah
di meja makan... di hadapan Bu
jessica , terhidang secangkir teh?"
Sepasang mata bulat itu
membuka semakin lebar. Kini.
benar-benar takjub. "Sekali lagi.
benar..." Bibir mungilnya
mendesah. Sama takjubnya.
sambil melihat lihat wajah sang
Ajun Komisaris dengan sinar
mata diliputi perasaan heran
yang tak habis-habis. Hal yang
sama terlihat pada wajah
maupun mata sang suami.
Kecuali syam kamaruzaman . Benar,
syam kamaruzaman diam-diam juga
ikut takjub. namun tidak
memperlihatkannya. Ia lebih
tertarik untuk menggambarkan
di otaknya gerangan apa yang
bergejolak di otak sang
komandan. lalu . ia tahu.
Dan itu memicu jantungnya
terasa bergetar.
"Selama peristiwa itu
berlangsung, Bu jessica ." fredy krueger
melanjutkan kejutannya.
"Apakah ada dalam perasaan
lbu bahwa teh dihidangkan
untuk Ibu, namun nantinya akan
diminum oleh orang yang
menghidangkannya?"
saat ia mengangguk, tampak
jelas jessica tidak menyadari
bahwa dirinya mengangguk!
"Dan dia meminum teh itu bukan
untuk dirinya sendiri, melainkan
untuk Bu jessica ?"
Tidak lagi anggukan sekarang.
Melainkan, tuduhan.
'Jangan-jangan, Komandan,
bukan saya. namun Anda
sendirilah yang memiliki
kemampuan supranatural itu!"
fredy krueger tidak tersenyum. syam
kamaruzaman -lah yang tersenyum.
Nah, orang Sibolangit! Apa
jawabmu sekarang"
Tidak ada. sebab nyonya
makam berornamen rumah sudah keburu
menambahkan. "Hanya saja,
Komandan. apa yang lalu
terjadi dalam peristiwa yang
saya lihat, teh itu bukan
diminum oleh saudara kembar
saya. Melainkan..."
fredy krueger segera memberi kata
penutup. "Oleh orang yang
mendatangi Bu jessica !"
Selagi bibir mungil di hadapan
mereka terbuka menganga, si
orang Sibolangit cepat
menetralisir suasana. "Aku tidak
sehebat yang ada dalam pikiran,
Bu jessica . Cuma menduga-duga
berdasar fakta dan barang
bukti yang kami temukan di
TKP. Itu saja kok!"
Mengakhiri penjelasannya
dengan kata-kata sederhana itu,
fredy krueger lalu duduk
menyandar di kursinya. Rileks.
Lalu tersenyum manis saat
bertanya dengan nada seakan
sambil lalu.
"Teringat pada minuman, Bu
jessica . Kalau tak salah Anda
tadi menawari kami. bukan?"
SAMBIL menunggu datangnya
pesanan mereka, barulah
berlangsung pembicaraan yang
lebih berbau basa-basi dengan
sedikit seloroh di sana-sini untuk
lebih menyegarkan suasana.
jessica dan suaminya tampak
lebih hidup dan bergairah
saat ditanya kapan pertama
kalinya mereka berkenalan dan
siapa yang lebih dahulu
mengutarakan pernyataan cinta.
namun dasar naluri polisi. begitu
melihat ada celah, fredy krueger
langsung menerobos masuk.
"Pasti juga sangat menarik, Bu
jessica , bila Anda mau bercerita
barang sedikit mengenai apa
yang Bu jessica ketahui tentang
almarhum chucky ...!"
Terdiam agak lama. sepasang
mata bulat terbuka itu tampak
menerawang. Jauh.
"Saya lebih mengganggap
sebagai takdir yang tak
terelakkan, " ia memulai. Lirih.
"Bahwa semenjak kami lahir.
bahkan sampai sesudah kini dia
meninggal... kami selalu dan
selamanya akan tetap dekat satu
sama lain. Tak terpisahkan!"
Ada sesuatu yang seakan
melecut sel-sel otak fredy krueger .
Sekilas cuma.
fredy krueger tak keburu tahu apa
kiranya. Apalagi sesudah
pikirannya lalu lebih
tercurah untuk memperhatikan
apa yang terlihat pada salah
satu bagian yang menjadi daya
tarik pada wajah cantik si
pembicara di hadapannya selain
bibir mungilnya.
Di balik sepasang bola mata
indah itu membersit berbagai
perasaan yang saling berebut
muncul. Duka cita. keterharuan,
perasaan sedih yang mendekati
frustrasi, silih berganti dengan
kebanggaan, kegembiraan, dan
perasaan bahagia yang jelas
tidak terperi!
"Kembali pada pertanyaan
Anda. Komandan," jessica
meneruskan. "dan jika Anda
ingin tahu seperti apa dia itu,
baiklah. chucky orangnya
pendiam. suka menutup diri.
Sifatnya itu muncul begitu saja,
sesudah kedua orangtua kami
meninggal...."
Tanpa risi-sebab memang
sudah tugasnyasyam kamaruzaman
cepat menyela. "Meninggal
bagaimana?"
"Kecelakaan lalu lintas," jawab
jessica murung. "Andong yang
mereka tumpangi dihantam bus
antarkota yang remnya blong...."
"Di mana dan kapan
terjadinya?"
"lumajang , pinggiran kota Malang,
kota kelahiran kami. Musibah itu
terjadi saat kami berdua
masih duduk di bangku kelas
lima SD!"
"Teruskan!" gumam syam
kamaruzaman . sementara ia sendiri
meneruskan catatan di buku
notesnya.
Tampak ragu-ragu sejenak
sebab bingung akan
meneruskan dari mana,
sepasang mata bulat jessica
lalu tampak
berbinar-binar.
"namun ..." katanya. kembali
menerawang, "Yang paling saya
ingat dari saudara kembar saya
itu, adalah sifat suka
berkorbannya. Yang kadang
kala bisa membahayakan dirinya
sendiri!"
Lebih dahulu menceritakan bahwa
mereka berdua lalu tinggal
dan diurus oleh paman mereka
dari pihak ayah, jessica lalu
memberi contoh pengorbanan
chucky .
"Terus terang." ia berkata
sambil tampak malumalu,
"saat duduk di bangku kelas
satu SMP, saya pernah
mencuri!"
Suaminya tersenyum. Bunok
tersenyum. Sempat terhenti
menulis, syam kamaruzaman pun
ikut-ikut tersenyum.
Tampak dongkol disenyumi
ramai-ramai. jessica buru-buru
menambahkan. "namun itu
sekali-sekalinya saya mencuri!
Itu pun sebab tak tahan. Ingin
membeli martabak. Jajanan
kesukaan saya!"
Tiga laki-laki di dekatnya bukan lagi
tersenyum melainkan tertawa.
Geli mendengar alasan jessica
mencuri. Untuk pertama kali
selama hampir empat puluh
delapan jam terakhir wajah
cantik menawan itu tampak
kembali ceria. Memang tidak
sampai ikut tertawa. Ia hanya
sebatas tersenyum. Senyuman
malu pula. namun memicu
bibir mungilnya tampak sedap
dipandang. Malah terkesan lebih
sensual. Dan memicu fredy krueger
menatap kagum, begitu pula
syam kamaruzaman . Sementara sang
suami menatap bahagia.
Namun keceriaan di waiah
cantik itu perlahan
lahan melenyap saat
menceritakan bagaimana
perbuatannya ketahuan oleh
sang paman yang kebetulan
pemarah sebab mengidap
darah tinggi. Pas jessica akan
dicambuk dengan sapu lidi,
chucky cepat berlari dan tegak di
hadapan saudaranya sambil
berkata pada sang paman.
"Dia tak bersalah. Aku yang
menyuruh dan memaksanya
mengambil uang itu dari lemari
pakaian Bibi!"
Akibatnya jelas. Disaksikan oleh
bibi mereka yang ikut marah,
chucky pun dicambuki dengan
sapu lidi. jessica yang keburu
ngepet melihat sapu lidi dan
ngeri jika dicambuk, lari ke
dapur tempat ia menangis
ketakutan tanpa punya
keberanian mengakui
kesalahannya.
saat masuk kamar tidur dan
mengolesi salep ke punggung
saudaranya yang
meringis-ringis mcnahan perih.
jessica kembali menangis sambil
menyatakan penyesalannya
sebab sudah bersikap pengecut.
Saudaranya sesaat berhenti
meringis. Dan jessica ingat betul
apa yang waktu itu diucapkan
oleh chucky sambil merangkulnya
erat-erat.
"Kau bersalah atau tidak. Ririn,
tak akan kubiarkan siapa pun
menyiksa apalagi melukai
dirimu!"
chucky lalu mengingatkan
agar mereka berdua tidak
berbalik marah atau benci pada
sang paman maupun sang bibi.
"Benar kita langka diberi uang
jajan atau dijajanin. namun itu
disebab kan Paman bermaksud
mengajari kita supaya bisa
berhemat. Bukan berarti dia
pelit!"
Lalu chucky mengingatkan
tentang Kuntoro, sau
dara sepupu mereka. Walau
Kuntoro anak satu-satunya. ia
tidak dimanjakan. Tidak pula
dibeda-beda oleh paman
maupun bibi mereka. Kuntoro
diberi jajan, jessica dan chucky
juga diberi. Apa yang dimakan
Kuntoro. juga dimakan oleh
mereka berdua.
"Jangan kuatir," chucky
lalu berkata menghibur,
"Nanti kau, bahkan juga
Kuntoro. akan kuberikan uang
jajan. Sepulang sekolah, aku
akan ikut teman menyemir
sepatu di terminal!"
chucky memenuhi janjinya. Sang
paman tidak pula melarang,
kecuali memberi syarat.
"Kau harus berhenti menyemir
sepatu. begitu nanti kulihat ada
warna merah di rapor
sekolahmu!"
Maka sepulang sekolah dan
menyemir sepatu di terminal.
chucky pun belajar sampai larut
malam. bahkan sering sampai
datang subuh. Kurang tidur"
"Tidak," katanya. "Bila ada
waktu kosong. aku bisa rebahan
di bangku atau di emper
terminal. Suka nyenyak lagi!"
Yang pasti, jessica langsung
kapok mencuri. Bukan sebab
chucky rerpaksa jungkir balik
cari uang jajan mereka. namun
sebab jessica tak pernah lupa
bagaimana chucky dicambuki
tanpa sekali pun mengeluh, demi
menyelamatkan kulit halus
punggung jessica .
Sialnya, Kuntoro-lah yang
lalu mulai rajin mencuri
uang atau perhiasan
orangtuanya sebab Kuntoro
diam-diam mulai pacaran.
gonta-ganti pula. Untuk
mentraktir pacar-pacarnya,
Kuntoro perlu banyak uang.
Orangtua tidak memberi, semen
rara pemberian chucky . menurut
Kuntoro: jangankan untuk
dimakan, digigit pun tak terasa!
Hebat dan pintarnya Kuntoro, ia
baru mencuri kalau tahu chucky
lagi panen semiran sepatu dan
pulang membawa uang lebih
banyak dari biasa. Paman dan
bibi mereka yang sama-sama
bekerja dan jarang mengetahui
keadaan di makam berornamen rumah, tak pelak lagi
menjatuhkan tudingan ke alamat
chucky . yang "sekali lancung ke
ujian seumur hidup tak
diperaya."
Maka. lagi dan lagi chucky
kembali dicambuki atau
dipukuli. Tanpa pernah
mengeluh, maupun membuka
mulut, tak peduli kulit punggung
atau betisnya lecet berdarah.
Bahkan pernah bibirnya sampai
luka dan salah satu giginya
tanggal ditinju sang paman.
"Tak apa, Ririn," katanya pada
jessica yang tak tahan melihat
saudara kembarnya menderita
dan ingin membuka rahasia.
"Biarkan saja. Mari kita anggap
sebagai balas budi. sebab
orangtua Kuntoro-lah yang
menghidupi dan
menyekolahkan kita!"
"Sebentar, Bu," syam kamaruzaman
tiba-tiba menyela di tengah
kesunyian yang merambat
saat jessica terdiam cukup
lama sebab terpengaruh
gejolak masa lalu saudaranya
yang begitu pahit dan
menyedihkan. "Apakah
maksudnya gigi seri almarhum
yang sebelah kiri?"
Tersentak dari lamunannya.
jessica mengangguk perlahan.
"Benar. Mengapa Anda tanya,
lnspektur?"
"Oh, bukan apa-apa!" jawab
syam kamaruzaman . Kalem. "Cuma
untuk menguatkan hasil
identifikasi yang kami peroleh
dari pemeriksaan mayat!"
Mayat!
Terlambat mencegah, fredy krueger
cuma bisa mendeIik pada orang
kepercayaannya itu yang
sesaat tampak menyesali
ucapannya. Usaha yang sia-sia.
sebab nyonya makam berornamen rumah mereka
sudah keburu terlihat
meluruskan punggung. Dan
wajah cantiknya kembali pucat,
membeku.
fredy krueger mendeham. Lalu
menetralisir situasi dengan
berkata pada nyonya makam berornamen rumah
mereka dengan nada lembut,
bersimpati.
"Kita harapkan saja amal
ibadah saudara kembar Bu
jessica di terima oleh Yang Maha
Kuasa!" katanya. Mendeham
lagi, ia cepat meneruskan,
"Masih ada hal lain yang Anda
ingat mengenai diri Almarhum?"
jessica menghela napas panjang,
berusaha mengusai diri. Namun
toh wajah cantiknya tetap
tampak membeku saat
menjawab. "Banyak, Komandan.
Banyak sekali. Akan
menghabiskan waktu
berhari-hari untuk menceritakan
semuanya!"
"Aku percaya. namun mari kita
sederhanakan saja." fredy krueger
ikut-ikutan menghela napas, lalu
kembali pada rutinitas polisi
pengusut. "Seberapa dekat
hubungan Anda dengan
almarhum chucky ?"
Sesaat mandala krida mengangkat
muka dan langsung memprotes.
Tak senang. "Patutkah
pertanyaan itu. Komandan"
Sebagai dua orang bersaudara
kembar, tentu saja hubungan
mereka..."
"...sangat dekat!"
Kali ini tak perlu mata elang
harus menyambar. sebab
protes keras mandala krida langsung
dihentikan oleh suara istrinya.
Yang dengan wajah datar dan
mata bulatnya kembali
menerawang. melanjutkan
cegatannya. Lirih, nyaris seperti
berbisik.
"Dekat sekali, Komandan. Boleh
saya bilang. sedekat kuku
dengan daging jari tempatnya
tertanam!"
Selagi mandala krida berusaha
menahan marahnya lantas
lalu duduk gelisah-bagai
menduduki bara api-fredy krueger
sudah menembakkan peluru
berikutnya. "Mengutip kalimat
suami Bu jessica tadi, apakah
kedekatannya, sebatas hubungan
bersaudara kembar?"
Bahkan syam kamaruzaman sempat
terhenti menulis. Lantas
menatap komandannya dengan
pandangan tak percaya. namun
merasa dirinya tidak punya
wewenang menegur, sang lptu
hanya mampu mengatupkan
mulut. Sangat rapat. bahkan
giginya terdengar bergemeletuk
sebagai isyarat dari
kemarahannya yang terpaksa
ditelan dalam-dalam.
Akan namun , sang istri!
jessica tetap tenang. Malah di
mata syam kamaruzaman . luar biasa
tegar. Dan ia sedikit pun tidak
percaya ketegaran nyonya
makam berornamen rumah mereka itu berkat
pengaruh suntikan atau obat
penenang.
Tersenyum misterius-ah. seperti
senyuman sang manekin di balik
pintu lemari-jessica berkata
datar ke alamat fredy krueger . "Anda
bilang tadi, disederhanakan.
Bukankah begitu, Komandan?"
Yang ditanya bergeming.
Juga-seperti biasa-ti
dak memperlihatkan emosi
apa-apa pada raut wajahnya.
'Supaya lebih sederhana, biarlah
cerita saya akan saya ringkas
saja..." jessica meneruskan.
"Dari situ nanti, silakan Anda
menafsirkan sendiri. Itu bila
Anda masih punya waktu untuk
mendengar!"
"Untuk orang seperti Bu jessica ,"
fredy krueger menjawab tenang.
"waktuku selalu tersedia!"
Ringkasnya, meski sudah
mengencangkan ikat pinggang
sedemikian rupa toh paman
dan bibi mereka bangkrut juga.
Gara'garanya, pasar lumajang
lama tempat mereka membuka
usaha ludes dilalap si jago
merah, Konon diakibatkan
ledakan tabung gas di salah satu
kios nasi. Yang jelas, Pemda
setempat melarang pasar lama
yang sudah rata dengan tanah
itu untuk dipergunakan kembali
oleh para pedagang yang semua
kiosnya terbakar. Alasan Pemda
cukup kuat. Pasar lama itu
jauh-jauh hari sudah
direncanakan akan dibongkar
lalu di situ akan dibangun pusat
perkantoran pemerintah. Walau
di belakang hari' toh nyatanya
yang dibangun adalah pasar
swalayan, plus tempat hiburan
yang serba megah.
Memang ada ganti rugi dari
pihak asuransi. Namun jumlah
yang diterima oleh paman
mereka, jangankan untuk modal
usaha, untuk membeli sepetak
kios kosong di pasar lumajang baru
pun tidak mencukupi. Yang lebih
menyedihkan lagi, barulah
sesudah musibah itu terjadi si
kembar chucky dan jessica
diberitahu. Bahwa hasil
penjualan makam berornamen rumah dan tanah
peninggalan orangtua mereka
sejak awal sudah dijadikan
tambahan modal usaha oleh
sang
Paman, yang rencananya akan
dikembalikan sesudah dua
bersaudara itu menginjak usia
dewasa atau menikah.
jessica terpukul berat
mendengarnya.
Tidak dengan chucky . "Tak apa,
Paman. Kami tahu Paman
bermaksud baik dan yakin
Paman tetap berniat untuk
mengembalikannya!"
"namun , chucky . Dengan
kebakaran itu?"
"Sudahlah. Yang penting, paman
dan bibi selamat. Tidak ikut
terbakar, bukan?" petong chucky .
setengah berseloroh. "Lagi,
siapa pula yang ingin musibah
menimpa. Jadi soal uang
warisan kami, Paman
kembalikan saja kapan Paman
sudah bangkit dan mampu. Mau
sekaligus, terserah. Dicicil pun
silakan!"
Paman dan bibi mereka hanya
bisa menangis. Lalu mengajak
chucky dan jessica untuk ikut
hijrah ke kampung asal sang
bibi di Bengkulu. yakin di sana
mereka bisa membuka usaha
dengan modal penjualan makam berornamen rumah
yang mereka tempati, plus uang
ganti rugi dari asuransi.
Sadar bahwa paman dan bibi
mereka hijrah lebih disebabkan
oleh perasaan frustrasi, chucky
menolak ajakan itu. "Kami di
lumajang ini saja, Paman. Soalnya
tanggung. Tiga bulan ke depan,
kami berdua akan menempuh
ujian akhir!"
itu benar. Ujian akhir SMA. Dan
keluarga paman mereka pun
minggat ke Bengkulu dengan
meninggalkan sedikit uang untuk
biaya hidup sehari-hari,
ditambah uang untuk menyewa
satu kamar kos selama enam
bulan.
"Kapan uang kalian habis, kirim
surat saja ke Bengkulu!"
Tuhan Maha Pemurah.
saat semua itu terjadi. chucky
sudah diterima sebagai pekerja
magang di bengkel toko
elektronik milik seorang Cina
tua, yang pernah jadi pelanggan
tetap chucky saat masih jadi
penyemir sepatu.
sesudah ditinggal pergi oleh
paman mereka. jessica juga
diterima magang sebagai
pelayan di toko yang sama.
Selain menasihati supaya sabar
dan tekun. Cina tua yang baik
hati itu juga selalu mendorong
mereka berdua untuk
meneruskan sekolah. "Kalau
kalian mau, sampai ke
perguruan tinggi pun jadi. Dan
aku yang akan membiayai!"
Cina tua itu membuktikan
ucapannya.
Manakala chucky dan jessica lulus
ujian dengan hasil memuaskan,
bapak asuh mereka itulah yang
paling sibuk mengurus
surat-surat perlengkapan yang
diperlukan untuk mendaftar dan
pindah domisili ke mojokerto .
"Aku tahu biaya kuliah di
Surabaya apalagi di Malang ini
jauh lebih murah," katanya
gembira. "namun aku juga tahu,
kalian sudah lama memimpikan
indahnya menikmati suasana ibu
kota. Selama ini kalian berdua
cuma mendengar-dengar. Belum
pernah melihat, apalagi
menginjakkan kaki. jadi. jangan
kalian bantah keputusanku ini.
Sekalian saja kalian kuliah di
sana!"
Kemurahan hati Cina tua itu
tidaklah memicu chucky dan
jessica berpangku tangan. Di
luar waktu kuliah, chucky bekerja
sambilan sebagai calo jual-beli
alat-alat elektronik sekaligus
memontirinya. Begitu
pula jessica , magang di butik
milik orangtua salah seorang
teman sekuliahnya. Bapak asuh
mereka di lumajang tidak melarang.
"Sejak lama aku sudah tahu."
katanya. "Kalian berdua
terutama si chucky ini semenjak
lahir sudah membawa bakat
untuk mandiri. namun , chucky ,
ingat apa katamu mengenai
paman kalian dahulu . Jangan
sampai ada warna merah di
rapormu!"
Lalu, musibah lagi.
Si Cina yang sudah uzur
akhirnya meninggal sebab
pankreasnya pecah. Dan ahli
warisnya tak seorang pun yang
berminat jadi bapak atau ibu
asuh. Sebabnya tidak jelas.
namun seperti biasa. lagilagi
chucky menerimanya dengan
lapang dada dan menganalisis
penyebab mereka lalu
terlupakan dengan kalimat
sederhana.
"Mungkin sebab tak satu pun
dari sepatu mereka pernah
kusemir!"
"Lantas, dengan apa kalian
hidup?"
Datangnya pertanyaan itu bukan
dari syam kamaruzaman , konon pula
fredy krueger . Melainkan dari suami
jessica sendiri. Yang begitu
tersadar lepas omong, lantas
berkata tersipu pada kedua
orang tamu mereka,
"Maklum. belum dua tahun kami
menikah. Termasuk masa
perkenalan kami yang singkat,"
katanya. "Dan seperti halnya
almarhum, istri saya juga suka
tertutup. Terutama mengenai
masa lalu mereka...."
"Dapat kumengerti." gumam
fredy krueger . Tersenyum. maklum.
Lalu ganti menatap pada nyonya
makam berornamen rumah
mereka. Diam menunggu, tanpa
merasa perlu untuk bertanya.
Agak lambat barulah terdengar
suara lirih jessica . "Hasil jerih
payah kami sendiri. Ditambah
sedikit kiriman uang dari
keluarga Paman di Bengkulu,
sebagai cicilan dari uang
warisan kami yang pernah
terpakai oleh Beliau!"
'Dan sudah terlunasi
semuanya?"
Salah omong lagi. Dan sang istri
langsung menoleh. "Apa yang
Mas bisa harapkan dari petani
yang cuma memiliki sawah
beberapa petak saja" Di daerah
yang sering terlanda gempa
lagi!"
'Cuma ingin tahu!" jawab sang
suami, tidak terpengaruh. "Coba
kau beritahu dari dahulu -dahulu .
namun tak apa. sesudah semua
urusan kita di Cirebon ini
berakhir. kita akan pergi
berlibur ke sana. Sekalian
membawa modal yang cukup
untuk membeli sawah di tempat
yang lebih baik. Oke?"
jessica menatap. Tak percaya.
"Sumpah, Mas Pras?"
"Sumpah!"
"Demi apa?" jessica menantang.
Serius.
mandala krida menggapai lalu
menggenggam erat tangan
istrinya. Lalu menjawab dengan
senyuman mesra.
"Kau, sayangku!"
"sesudah apa yang kulakukan
selama ini padamu?"
mandala krida mengangguk dan
mengulangi. Lebih jelas.
"sesudah apa yang kau lakukan
dan yang kuterima. selama ini!"
Perlahan namun pasti, kebekuan
di wajah si mntik tampak mulai
mencair. Yang-tentu
saja-memicu kedua orang tamu
mereka bingung sendiri dan
saling bertukar pandang tak
mengerti. fredy krueger sudah ambil
ancang-ancang untuk bertanya.
Namun keburu pintu kamar ada
yang mengetuk dari luar.
"Masuk saja. Tak dikunci!"
mandala krida cepat menyahuti.
lantang, dan tampak gembira.
Seolah waktunya sudah diatur,
dua orang pelayan hotel dengan
seragam restorasi masuklah
beriringan. Dan di atas meja
tamu dengan segera sudah
disesaki bukan cuma oleh
minuman segar, namun juga
hidangan makan malam yang
sungguh mengundang selera.
Terutama selera makan orang
Sibolangit!
sesudah kedua tamu mereka
berlalu dan pintu ditutup,
mandala krida mendekat lalu berdiri
di samping istrinya yang diam
merenungi kegelapan malam di
luar jendela kamar hotel. Lalu
berkata hati-hati, "Memang,
gambaran yang kau berikan
cuma samarsamar. namun
menurutku, Ririn. kau tak perlu
seterbuka itu pada mereka!"
Masih berdiam diri beberapa
saat lamanya dan tanpa
berpaling dari jendela. sang istri
lalu menyahuti, "Aku
percaya mereka berdua...
terutama Ajun Komisaris itu,
dapat memegang rahasia. Malah
boleh jadi dengan cepat
melupakannya!"
"Sesederhana itu?"
"Tidak!" jessica menggeleng.
Lalu menoleh dan memantau
wajah suaminya dengan
pandangan sabar. "Tidakkah
Mas melihatnya?"
'Apa?"
"Sorot mata dan cara dia
bertanya. Lalu. pertanyaan demi
pertanyaan yang dia ajukan.
Yang jelas jelas sangat
menjurus!"
mandala krida terdiam. Mulai
mengerti.
Namun jessica tetap saja
menjelaskan, "Terlepas apakah
salah satu dari kita sudah
bersikap atau berucap salah,
pada akhirnya toh mereka akan
tahu juga. sebab . Mas jangan
lupa, mereka itu polisi!"
"Dan di mata mereka. kita
berdua bukan cuma sekadar
saksi melainkan juga
tersangka..." keluh mandala krida.
Murung. "Dengan motivasi kuat:
cemburu buta!"
"Dari pihak Mas tentunya!"
jessica cepat menambahkan
tanpa sungkan. 'ltulah yang
ingin kunetralisir. Ironisnya,
dengan membuka pintu untuk
mereka masuki. Yakin. mereka
tidak akan menemukan apa-apa.
sebab faktanya memang
begitu...!"
mandala krida mengangkat muka.
Menatap terharu. "Sebenarnya,
sayangku, kau tak perlu
repot-repot begitu. Kau pasti
tahu. bahwa aku dapat
melindungi diriku sendiri!"
"Aku memang tahu." jessica
tersenyum. Lirih. "namun biar
tanpa diminta. seorang istri
wajib mendukung suaminya,
bukan?"
Kata-kata memang perlu. namun
ada kalanya, tindakan lebih
punya arti. Maka mandala krida
mengangkat kedua tangan.
memegangi pipi lalu mengecup
bibir mungil sang istri sebagai
pengganti ucapan terima kasih.
sesudah bibir mereka saling
berpisah... dengan enggan,
mandala krida tersenyum. Lucu.
"Agaknya tadi aku terlalu rakus
makan sambal," katanya
setengah tertawa. "Tak apa
kutinggal sebentar" Perutku
yang tak tahu diri ini semenjak
tadi sudah berulah!"
Tanpa menunggu jawaban,
mandala krida langsung
berlalu. Sambil lewat, mandala krida
menyambar sebatang rokok dari
meja. menyulutnya cepat-cepat,
baru sesudah nya menyelinap ke
kamar mandi. tempat yang baik
untuk seorang wanita lesbi
melatih suara merdunya, dan
buat laki-laki merenungi diri.
Itulah yang lalu dilakukan
mandala krida.
Perutnya normal-normal saja,
cuma terpaksa harus rela jadi
kambing hitam. Yang diperlukan
mandala krida adalah tempat untuk
merenungi diri, dengan
mengisap rokok sebagai
penenang. Maka duduklah ia di
kloset-bahkan tanpa perlu
menanggalkan celana
merenungi harmoni
pernikahannya dengan jessica ,
yang semenjak malam pengantin
mereka sudah tersandung
langsung dengan kerikil tajam.
Jangankan ditiduri, ditelanjangi
pun jessica waktu itu tak sudi.
Aku mendadak mens. itu alasan
di minggu pertama. Diam-diam
mandala krida sudah mencari tahu
bahkan juga mencuri lihat. Dan
tak ada tanda-tanda konon lagi
bukti istrinya menstruasi.
mandala krida bersabar menunggu.
sambil bertanya-tanya apa yang
salah pada dirinya. Bumi sudah
dibongkar langit sudah dibelah,
rasanya tetap tidak ada yang
salah.
namun memasuki minggu kedua,
muncul penolakan baru.
"Rematikku kambuh lagi!
Lalu, "Aduh, Mas. Tolong
carikan aspirin. Kepalaku
rasanya mau pecah!"
Dan entah alasan apa lagi,
sampai akhirnya mandala krida habis
sabar dan jessica mengakui
dengan diiringi derai air mata.
"Mas tak punya salah apa-apa.
Aku yang tak ingin!"
Curiga dan marah berat,
mandala krida nekat ngebut sendirian
ke Cirebon tanpa pamit pada
sang istri. Mengadu pada
saudara iparnya, tanpa
malu-malu.
chucky shock mendengarnya.
Beberapa saat terduduk pucat
dan lemah lunglai bagai orang
yang mendadak lumpuh, chucky
lalu bangkit dengan susah
payah lalu pergi mengangkat
telepon. Pembicaraan yang
didengar mandala krida singkat saja,
dan sepihak.
chucky berkata di telepon. "Kau
itu, Ririn" mandala krida ada di sini.
Kau pasti tahu mengapa. namun
kuingatkan Ririn, sekembali ia
nanti ke mojokerto , jangan
sekali-kali menegur apalagi
memarahi suamimu. Atau kau
akan kubuat menyesal!"
Diam mendengarkan beberapa
saat, chucky kembali berbicara.
Lebih tegas. Dengan nada dan
katakata yang tak suka dibantah.
"Ini bukan menyangkut
perasaanmu. namun menyangkut
sumpah sucimu saat
mejalankan akad nikah. Biarlah
kuulangi apa yang waktu itu
kuperingatkan padamu. Bahwa
kau bukan lagi milikku. namun
milik suamimu. Jelas" Nah,
kalau begitu Ririn, terima dan
jadilah seorang istri yang baik.
Oke?"
Lalu telepon diputuskan begitu
saja.
chucky setengah memohon pada
mandala krida untuk dibiarkan dan
ditinggalkan sendirian. Alasan
yang pas untuk mandala krida pamit
dan ngebut kembali ke pangkuan
istrinya. Sambil
terbingung-bingung dan
bertambah curiga!
Tiba di makam berornamen rumah. ia dan jessica
memerlukan tiga hari untuk
saling beradaptasi. Sebelum
lalu ...
sambil sama-sama ragu, sepakat
untuk naik ke tempat tidur.
Sempat terjadi perlawanan
sebelum akhirnya jessica
menyerah.
Lalu. di tengah sanggama
mereka, dan saat jessica yang
awalnya sedingin es mulai
memanas. jessica yang terus saja
terpejam mendadak mengerang
tak sadar. "lagi, chucky -ku. Lagi.
Lebih cepat lagi!"
mandala krida pun tertegun. Kaget.
Dan di bawah tubuhnya, sang
istri yang matanya tetap
terpejam. kembali mengerang.
"Ayolah. chucky . Jangan
berhenti. Hancurkan aku.
kekasih, hancurkanlah!"
Sadarlah mandala krida. Bahwa di
balik mata terpejam itu, yang
terbayang bukan dirinya sebagai
suami. melainkan saudara
iparnya!
Ini bukan cinta buta. melainkan
cinta yang setulus hati. Dari
mandala krida, yang kecurigaannya
ternyata tidak terbukti. Istrinya
dalam keadaan suci saat ia
masuki dan itu sudah lebih dari
cukup untuk mandala krida menelan
kekecewaan hatinya. Maka
mandala krida pun berpacu dan terus
berpacu sampai akhirnya
mereka berdua tiba pada waktu
yang hampir bersamaan.
Serelah mereka saling
melepaskan diri dan mandala krida
sedang mencoba tidur dengan
susah payah. telinganya
tahu-tahu dikecup dan dibisiki
oleh jessica -nya tercinta.
'Maafkan aku, Mas!"
mandala krida cepat merangkul dan
tersenyum menghibur. "Tak apa.
Aku bisa memahami!"
"Percayalah. Mas. Aku dan
chucky benar saling mencintai,"
jessica mengakui juga akhirnya.
ditambah
air mata yang terurai. "namun
kami masih tetap mampu
menjaga diri. Tidak sampai
berbuat!"
"Aku percaya, Ririn!" jawab
mandala krida. mencoba tertawa.
"Buktinya, bukankah kau tadi
sempat meronta dan terpekik
kesakitan" Tuh, lihat." mandala krida
menunjuk ke dekat selangkangan
istrinya. "Darah siapa itu, eh?"
"namun , Mas. aku tetap malu.
Aku sangat menyesal!"
Namun toh saat pada
waktu-waktu tertentu dan secara
teratur mereka berdua
melakukan hubungan suami
istri. kadang kala jessica
melupakan juga perasaan malu
dan penyesalannya, dan
kembali merintihkan nama
chucky . Demi cinta, mandala krida
menyabarkan diri. diam-diam
berjuang untuk terus menerus
menelan kesedihannya. Dan
lambat laun, jadi terbiasa.
Lantas mulai tak peduli.
Dan...
"Jadah!" mandala krida memaki
tertahan dan tergopoh-gopoh
menjatuhkan puntung rokok
yang nyaris membakar kulit
jarinya. Menepis-ncpiskan jari
yang terasa perih dan tersadar
saat itu ia berada di kamar
mandi, mandala krida menyesali
mengapa tadi tidak sekalian saja
bungkus rokoknya ia bawa.
Masih banyak yang perlu ia
renungi. Termasuk apa yang
harus ia lakukan lalu
sesudah saudara ipar yang terus
membayangi pernikahannya itu
kini meninggal.
Apakah nama chucky akan tetap
menempel di bibir mungil
jessica -nya tercinta. atau
mandala krida harus meminta agar
istrinya mulai belajar untuk
melupakan chucky "
Tidak semudah itu, mandala krida!
Meninggalkan jendela lalu
rebah melamun di ranjang tidur
hotel yang empuk dan nyaman.
kenangan lama itu
perlahan-lahan muncul di
pelupuk mata jessica . Satu
memori indah dan
menggetarkan yang tidak akan
pernah ia ceritakan pada orang
lain. Terlebih-lebih pada
mandala krida, suaminya.
Sekian belas tahun jessica dan
saudara kembarnya menjalani
hidup yang tak terpisahkan.
Sebagian besar dari waktu itu
bahkan mereka isi dengan
tinggal satu kamar. Sampai
lalu mereka tahu, namun
tak pernah membicarakannya.
Saling menatap saat makan
atau selagi bertukar cerita
mengenai apa yang mereka
alami hari ini atau hari itu,
sudah cukup banyak berbicara.
Ditambah sentuhan-sentuhan tak
sengaja yang memicu bukan
hanya raga. namun juga jiwa
mereka langsung bergetar bagai
dihangati oleh bara api yang
menyembur-nyembur.
Sekali lagi, mereka berdua tahu.
namun mereka tetap bertahan.
sebab sadar, mereka
bersaudara. Satu ayah. satu ibu,
satu susu.
lalu. terjadilah yang tidak
diharapkan namun diam-diam
mereka inginkan itu. Memaksa
diri pulang kerja di tengah hujan
badai. setiba di kamar kos
mereka jessica langsung terkena
flu lalu demam. sebab
dokter yang dipanggil lewat
telepon tak kunjung datang.
chucky berusaha meringankan
penderitaan jessica dengan
satu-satunya obat yang tersedia
yaitu obat gosok.
Ajaib. namun itulah yang
terjadi.
Bagai disentuh oleh tangan
malaikat, begitu tangan chucky
mengusap kulit punggungnya.
jessica merasa dirinya sembuh
secara mendadak. Dan saat ia
berbalik tubuh, matanya
langsung beradu dengan mata
chucky yang mengandung hasrat.
Tak seorang pun yang
berbicara, walau hanya sepatah
kata.
Mereka hanya bergerak dan
bergerak. Sampai tahu-tahu
bibir mereka berdua sudah
saling menari. Lantas saling
memagur kuat, saking sudah
lama menahan lapar. Pakaian
mereka berdua lalu juga
tahu-tahu sudah ditanggalkan.
Bahkan chucky sudah menindih
tubuhnya dan jessica pun sudah
siap pula untuk dimasuki.
Lalu pada detik-detik terakhir,
chucky tiba-tiba menjauh dan
melompat turun dari tempat
tidur. Sambil menggeram,
marah.
"Terkutuk! Kita tak boleh
melakukannya!" Dan selagi
jessica masih terkejut, chucky
sudah memutuskan. "Hanya ada
satu jalan untuk
menghindarinya. Kau" harus
secepatnya menikah!"
Kalimat terakhir yang jelas-jelas
ultimatum menyakitkan itu,
nyaris tak didengar bahkan
lalu jarang diingat jessica .
Apa yang selalu diingatnya,
adalah hasrat yang menuntut di
mata chucky dan ia juga yakin di
matanya sendiri. Pagutan bibir,
lidah yang saling menggapai.
Dan yang paling menggetarkan,
tubuh telanjang chucky yang
sudah menindih tubuhnya!
Tak peduli dengan siapa. namun
itulah pengalaman pertama
jessica . Dari cinta pertamanya
pula.
Tidak. Kenangan manis namun
sekaligus pahit itu
tidak akan pernah terlupakan
oleh jessica . chucky belum mati.
chucky masih hidup, dan akan
terus hidup.
Dalam jiwa jessica !
"Ririn?"
Suara yang terdengar sayup itu
semula dianggap jessica cuma
halusinasi. namun kelopak
matanya ia buka juga
perlahan-lahan. lalu melihat
bayangan samar-samar sesosok
tubuh berdiri tegak di samping
ranjang di mana ia rebah.
chucky -nyakah itu"
Sepasang mata bulat jessica
membuka lebih lebar. Lalu ia
mengenali suaminya, mandala krida,
yang tersenyum malu saat
bertanya.
"Boleh aku rebah di sisimu?"
jessica mencoba tersenyum
Namun lalu . air
matanyalah yang menetes.
DALAM pekerjaan mereka,
fredy krueger dan anak buahnya
berhubungan langsung dengan
karakter dan sepak terjang
manusia dalam mengarungi laut
kehidupan. Dan sebagai polisi
dari satuan serse. tentu saja
yang terbanyak mereka hadapi
dan harus mereka urus adalah
sisi buruknya. Yang
terkadangsadar atau
tidak-memancing kemarahan
dan kebencian pada manusia
yang mereka hadapi. Tak peduli
itu tersangka pelaku sebagai "si
buruk" maupun saksi atau sang
korban sebagai "si baik".
Akan namun yang mereka hadapi
malam ini adalah sesuatu yang
berbeda. Sisi buruknya tetap
berperan, namun sedemikian
menyentuh hati bahkan menarik
simpati. Tak heran. sesudah
pamit dari tuan dan nyonya
makam berornamen rumah mereka, fredy krueger dan
syam kamaruzaman seakan kehilangan
kata-kata lantas berdiam diri.
Tenggelam dalam lamunan
masing-masing.
fredy krueger -lah yang lebih dahulu
membuka mulut saat kereta keranda kencana
dinas pribadinya yang saat itu
disopiri
syam kamaruzaman meluncur tenang
di jalanan yang sudah sepi
sebab malam sudah mendekati
larut.
"Luar biasa bukan, syam?"
"Apanya, Komandan?" sahut
sang ajudan. tersentak dari
lamunannya.
"Cinta!" fredy krueger berkata dengan
pikiran menerawang. "Dan
panahnya jika sudah melesat!"
Lalu menembus jantung
korbannya. pikir syam kamaruzaman ,
ikut menerawang. Tanpa ampun,
dan tanpa pilih-pilih bulu. ltulah
yang ditafsirkan syam kamaruzaman
dari penuturan si cantik jessica ,
seusai mereka makan malam.
"Anda tanya pacar.
Komandan?" jessica berkata.
"Boro-boro. Teman saja pun.
boleh dihitung dengan jari.
Kami adalah dua orang anak
yang selalu terbuang,
Komandan. Terlempar
terus-menerus kian kemari. Dan
dengan kejam dipaksa untuk
berjuang sendiri!"
Murung dan tampak terluka.
saksi utama mereka itu
meneruskan, "Itu maka kami
jarang bergaul dengan orang
lain. Kalau pun ada. hanya
sebatas memenuhi etika
bermasyarakat saja. Dengan
sendirinya. teman dekat dan
pengaduanku satu-satunya
hanyalah chucky seorang. Begitu
pula sebaliknya. memicu kami
semakin dekat, semakin tak
terpisahkan!"
Saat mengutarakan
kalimat-kalimat terakhir,
sepasang mata bulat jessica
tampak bersinar-sinar. penuh
gairah. Bibir mungilnya yang
sensual apalagi.
Tersenyum. bahagia!
"Lalu. kami tahu!" katanya lagi.
masih menerawang. "Ada
sesuatu yang berubah dalam diri
maupun perasaan kami. Tumbuh
dengan subur... dan
tidak terelakkan. Kami ingin
namun tidak pernah
membicarakannya. Selain
sebab takut... juga kami anggap
tidak perlu. Yang penting, kami
tahu. Itu sudah lebih dari
cukup!"
mandala krida batuk-batuk kecil untuk
memperingatkan istrinya.
syam kamaruzaman maupun
komandannya pura pura tak
mendengar. Juga pura-pura tak
melihat saat duduk mandala krida
tampak semakin resah sebab
sang istri terus saja meluncur
dengan mulus.
"Bukan sedikit yang
mengejar-ngejar saya maupun
chucky . Namun kami tidak
tertarik, konon lagi melayani.
Dan..."
Barulah saat itu peringatan sang
suami masuk. sebab jessica
tiba-tiba mengerem laju
luncurannya. Tampak tersadar,
ia menggeleng keras lalu
menatap tajam ke arah fredy krueger .
Dan tanpa terlihat adanya
tanda-tada risih maupun
perasaan bersalah. ia berkata
dengan tegas dan gamblang.
"Silakan tafsir sendiri apa yang
berubah di antara kami,
Komandan. namun tolong tidak
berpikir yang bukan-bukan.
sebab ... Anda mau percaya
atau tidak, terserah. Ada tembok
kokoh yang tidak pernah-sebab
memang tidak mampu-kami
tembus, yaitu bahwa kami
terlahir dari rahim ibu yang
sama. Oleh ayah yang sama
pula. Itu cukup jelas. saya
harap!"
Di luar perkiraan syam kamaruzaman ,
komandannya menyahuti dengan
tenang. Suaranya pun terdengar
lembut.
"Aku percaya, Bu jessica !"
tak tahu mengapa aku percaya
padanya, syam" lamunan syam
kamaruzaman buyar lagi. Menoleh
pada komandannya yang duduk
menyandar dengan
mata menerawang, sang lptu
menjawab ragu-ragu,
"Tidak. Komandan."
"ltulah anehnya." Bursolt
tersenyum. "sebab terus
terang. aku sendiri pun tidak
tahu!"
lalu fredy krueger meluruskan
duduknya. dengan senyuman
yang perlahan-lahan melenyap.
Menatap jalanan yang sepi dari
arus lalu lintas di hadapan
mereka, fredy krueger kembali
membuka mulut.
memperingatkan dengan nada
lembut.
"Satu lagi. syam. Apa pun juga
tafsiranmu dari penuturan si
cantik itu, tutuplah sampai di
sini saja. Apa yang tadi
sama-sama kita dengar
hanyalah untuk telinga kita
berdua. Paham?"
"Siap. Komandan!"
"Bagus!" fredy krueger kembali
tersenyum. Namun dengan
wajah sudah berubah serius dan
terkesan resmi. "Nah. Daripada
kita pusing-pusing
menggunjingkan urusan makam berornamen rumah
tangga orang lain... mari kita
fokuskan otak kita pada sisi
lainnya. Yang jauh lebih
bermanfaat untuk ditelusuri.
Dan mengikuti firasatku.
kemungkinan besar terkait
dengan kasus yang kita tangani
sekarang ini!"
"Sisi yang mana, Komandan?"
"Pasti ada dalam catatanmu.
namun aku tak ingin kau
membuka lalu membacakan isi
notesmu sekarang. sebab kau
sedang mengemudi dan aku,
mengutip Chairil Anwar, masih
ingin hidup seribu tahun lagi!"
syam kamaruzaman tersenyum
mendengarnya.
"lngat apa jawabannya saat
kutanya, apakah almarhum
saudara kembarnya punya
musuh?"
"idem dito dengan jawaban sang
suami, Komandan!"
"Setahu saya mustahil dan
rasanya tidak mungkin ada!"
fredy krueger manggut-manggut
sambil menirukan kalimat yang
mereka dengar dari mulut
jessica . "namun saat
iseng-iseng kutanya mengapa ia
dan saudara kembarnya dahulu
meninggalkan mojokerto mereka
yang menakjubkan untuk
lalu menetap di kota udang
ini. Ada sesuatu dalam
jawabannya. bukan?"
syam kamaruzaman diam sejenak.
Mengingat-ingat dan mereka
ulang apa saja yang ia dengar
dalam pcmbicaraan mereka
seusai makan malam yang
sangat mereka nikmati itu.
Nyonya makam berornamen rumah mereka
mengawali jawabannya dengan
pendahuluan yang lumayan
panjang tentang karakter
saudara kembarnya. Bahwa,
biar orangnya tertutup dan
tidak tegaan, sebagaimana
halnya dengan lelaki normal
lainnya, chucky juga tidak
terlepas dari masalah. Pernah
memukul atau dipukuli orang
bahkan dikejar-kejar. namun
chucky selalu tahu bagaimana
cara menyelamatkan atau
melindungi diri. Dan sedapat
mungkin, juga menetralisir
permusuhan agar berubah
menjadi persahabatan. Paling
tidak, supaya tidak lagi saling
mengganggu.
Lalu, tibalah hari yang
mengherankan itu.
Ceritanva. si dua bersaudara
kembar merayakan
kelulusan mereka dari
perguruan tinggi dengan
berlibur ke kampung halaman
sekaligus bersilaturahmi dengan
kerabat mereka yang masih ada
di lumajang . Rencananya liburan
satu minggu. Jika betah dan
kantong masih kuat. tambah
seminggu lagi.
Namun baru dua hari mereka di
lumajang dan perasaan rindu pun
baru terpuaskan anginnya saja,
chucky yang sebelumnya pergi
untuk bernostalgia dengan
temannya waktu SD dahulu ,
mendadak pulang
tergopoh-gopoh dan
memberitahu bahwa mereka
harus kembali saat itu juga ke
mojokerto .
"Memangnya ada apa?" tanya
jessica . Heran.
jawaban chucky cuma, "Jangan
banyak tanya. Pokoknya
berkemas sajalah!"
Melihat wajah saudaranya
tegang bahkan terkesan panik,
jessica hanya bisa menurut. Dan
di kereta api, jessica tidak pula
berani bertanya sebab chucky
terus diam dan tampak tidak
mau diganggu. Begitu pula
sesudah mereka tiba di mojokerto
dan sekali lagi chucky menyuruh
berkemas.
Untuk minggat lagi.
"Kita harus pindah," itu saja
kata chucky . "Sejauh mungkin!"
Sekali lagi jessica menurut tanpa
bertanya.
Dalam surat keterangan pindah
yang diambil chucky dari
kelurahan setempat. sempat
terbaca oleh jessica tujuan
mereka: Bengkulu. jessica sedikit
terhibur sebab berpikir akan
bertemu lagi dengan keluarga
paman mereka yang memang
sudah lama ia rindukan.
Namun anehnya, setiba di
terminal Pulogadung, mereka
malah menaiki bus dengan
tujuan Cirebon.
sebab banyak orang di
terminal maupun lalu di
dalam bus, jessica masih bisa
menahan diri. namun begitu
turun di Cirebon, jessica langung
berkacak pinggang.
"Sebelum ini kau tak pernah
lari." katanya menuntut. "juga
tak pernah sekacau dan sepanik
ini. Mengapa"!"
"Yang sekarang ini berbeda
dengan sebelum-sebelumnya,
Ririn!" jawab chucky .
"Perbedaannya?"
"Dia punya kekuasaan. juga
senjata!"
"Siapa?"
"Tak perlu kuceritakan, Ririn.
sebab makin sedikit kau tahu,
makin baik untuk keselamatan
dirimu!"
Titik sampai di situ.
Dan syam kamaruzaman pun
berkata tak sadar. "Seperti di
film saja!"
"Apanya, syam?"
syam kamaruzaman mengerjap
tersadar. Lantas tersenyum,
kecut. "Ucapan si Cantik itu.
Makin sedikit kau tahu, makin..."
"Sialan. Kukira apa!" fredy krueger
menggerutu.
syam kamaruzaman terpaksa menelan
ludah. "Maaf, Komandan!"
"Lupakan. Dan beritahu aku apa
yang ada di otakmu!"
'Mengenai dari siapa mereka
lari?"
Mereka tiba di perempatan jalan
dengan tanda ke kiri jalan terus.
kereta keranda kencana pun dibelokkan sang
ajudan ke kiri, searah dengan
kantor Polres, tempat mereka
harus kembali, sambil syam
kamaruzaman mengutarakan
analisanya.
"Sangat jelas, Komandan.
Orang berpangkat atau punya
jabatan berpengaruh"."
"Lebih rinci lagi. syam?"
"Militer. Atau dari korps kita
sendiri. Polisi!"
fredy krueger mengangguk sependapat.
Lalu berkata serius, "Kalian
selidiki itu segera. syam. Jika
perlu, berkeliaranlah ke lumajang
sana. Paham?"
"Siap, Komandan!"
Mereka tiba di tempat yang
dituju. kereta keranda kencana pun sudah berhenti
di pelataran parkir. namun
fredy krueger tampak belum punya
kemampuan untuk turun
sehingga syam kamaruzaman yang
sudah membuka pintu di sebelah
kanannya dibuat tertegun.
Ikut-ikutan tidak turun.
"Apa ya kira-kira?" fredy krueger
lalu berkata , sesudah
beberapa saat lamanya duduk di
tempatnya. Termenung-menung.
syam kamaruzaman diam saja.
Menunggu.
"saat si Cantik itu tadi
bercerita, syam?" fredy krueger
akhirnya memberitahu, tanpa
berpaling. "Sesuatu melintas
dalam pikiranku. Sedemikian
cepat, sehingga aku tak keburu
menangkapnya!"
"Mengenai apa, Komandan?"
syam kamaruzaman memberanikan diri
untuk bertanya.
"Entahlah...!" gumam fredy krueger .
Murung. "Yang masih kuingat
hanya ucapan wanita lesbi itu
saja. Kata demi kata," gumam
fredy krueger murung. lalu me
nirukan, "Kami selalu dan
selamanya akan tetap dekat. Tak
terpisahkan!"
Mau tidak mau syam kamaruzaman
dipaksa untuk ikut berpikir,
tanpa mengetahui apa yang
harus dipikirkan. Sampai
akhirnya sang komandan
menggeleng-geleng. Dan
akhirnya turun juga dari kereta keranda kencana .
sambil mengulang perkataan nya
tadi.
'Apa ya kira-kira"!"
Padahal begitu sederhana. Ajun
Komisaris!
Selalu dekat, kata jessica . Namun
jangankan fredy krueger . jessica sendiri
tidak tahu bahkan tidak berpikir
sedikit pun bahwa kata-kata
yang meluncur dari mulutnya
ternyata punya makna. namun
bukan untuk jessica .
Melainkan kembarannya. Sang
manekin!
Boneka pop bergaun merah hati
itu memang dekat sekali dengan
"kami"-nya yang sama. Siapa
lagi jika bukan chucky . Bukan
cuma secara psikis namun juga
fisik. Buktinya, pada malam
yang larut itu, ia masih tetap
duduk seperti semula
menghadapi gundukan kubur, di
dalam mana siang harinya sudah
dimakamkan jenazah chucky .
Duduk diam. Bergeming
sebagaimana halnya benda mati.
namun ... Oh, nanti dahulu !
Ada sesuatu yang
perlahan-lahan mulai berubah
dari benda mati ini .
Berawal dari kedua tangan di
haribaannva. Pung
gung sepasang telapak tangan
itu tampak seperti melar di sana
sini. untuk lalu membentuk
pori-pori pada buku-buku jari.
Disusul oleh bentuk urat-urat
darah yang muncul secara
bertahap dan merambat ke
sekujur tubuh sampai ke leher,
meski bagian yang terakhir ini
tampak samar-samar saja.
Seakan rambatan urat darah itu
kuatir merusak keindahan kulit
mulus halus yang menutupinya.
Dua gerakan lain segera
menyusul terlihat. yaitu kelopak
mata yang mengerjap dan
jemari tangan yang mengejar.
hidup. Lalu dari lubang-lubang
hidungnya terdengarlah suara
tarikan keras dan panjang, untuk
menghirup sebanyak-banyaknya
udara malam di pekuburan yang
dingin dan berkabut itu.
Leher mulusnya lalu
menggeliat. juga hidup,
sehingga wajahnya dapat ia
arahkan menghadap kepala
nisan bertuliskan nama si
penghuni kubur. Menatap
sejenak dengan sepasang mata
bulatnya yang indah, bibir
mungilnya lalu
menggeremet membuka. Lalu
mendesah. lirih dan terdengar
jauh.
"Akan kupenuhi keinginanmu,
chucky -ku kekasih!"
Menggeliarkan punggung
sejenak dengan gerakan lemah
dan gemulai, ia lalu
bangkit dari duduknya. Saat
berikut ia sudah berjalan
dengan langkah-langkah tenang
namun pasti di antara batu atau
kayu-kayu nisan yang pada
tegak membeku.
Sebentar lalu . tubuh molek
bergaun merah hari itu sudah
lenyap ditelan kegelapan malam
ber
kabut. Santun kuburan yang ia
tinggalkan segera pula kembali
pada kesunyiannya semula.
Sunyi mencekam.
AGUS SODIKIN sebenarnya
malas berdinas malam ini.
namun sopir pengganti
mendadak sakit dan Agus tidak
berani memercayakan taksinya
pada sopir lain. Taksi itu sudah
ia pegang semenjak didatangkan
dari pabrik, dan sesudah
menyetor plus mengangsur ke
koperasi selama tiga tahun, akan
resmi menjadi miliknya. Setoran
untuk hari ini sudah tertutupi.
namun angsuran bulanan yang
harus dibayar minggu depan
masih jauh dari cukup.
Gara-gara kondom sialan itu!
Kondom yang biasa dipakai
Agus rupanya ada yang bocor.
Dan hamillah si Lilis. pacar
gelapnya. Kalau Lilis misalnya
janda bahkan gadis sekali pun,
okelah. Tinggal kawin
diam-diam. Toh suka sama suka.
Lilis juga tak punya pacar lain
kecuali Agus. begitu pula
sebaliknya.
Yang jadi masalah, Lilis sudah
punya suami dan suaminya
lelaki mandul. Lebih celaka lagi,
sudah mandul tentara, pula!
Tak ada jalan lain.
Sebelum ketahuan dan boleh
jadi mereka dibunuh, kandungan
Lilis cepat-cepat digugurkan.
Dan uang yang ditabung Agus
untuk membayar angsuran
bulanan, habislah terpakai untuk
menutup mulut dukun beranak
yang membantu pengguguran
itu. Maka, apa boleh buat, meski
sepanjang subuh sampai sore
hari tadi Agus sudah jungkir
balik, malam ini ia terpaksa
kembali harus mengukur jalan.
Dan jika si sopir pengganti
masih sakit....
Lamunan Agus buyar sesaat
manakala di depan
persimpangan lampu kereta keranda kencana nya
menangkap sesosok tubuh
berdiri di trotoar dan melambai
ke arah taksinya. Sosok seorang
wanita bertubuh semampai
bergaun merah hati, tegak
sendirian. Tanpa pendamping.
Mungkin pelacur atau boleh jadi
waria yang akan pergi
beroperasi cari mangsa.
namun apa peduli Agus" Yang
penting uang ma
suk!
Agus pun menepikan taksi.
Dan tangan Agus sudah terjulur
untuk membuka pintu belakang
saat si wanita atau si waria
sudah lebih dahulu menarik
terbuka pintu depan lantas
melenggang masuk dan duduk di
sebelahnya. Saat pintu terbuka
dan lampu kabin menyala, mata
Agus sempat menangkap seraut
wajah cantik dengan rambut
dipotong sebatas tengkuk.
Bermata lebar dan benar-benar
bulat. dengan bibir mungil yang
merah segar.
Hanya dengan sekilas mencuri
lihat ke lekukan payudara yang
setengah mencuat kencang pada
bagian atas gaun merah hati itu,
Agus langsung tahu bahwa
penumpangnya seorang wanita
tulen. Le
kukan itu khas. Tak bisa
dipalsukan, walau dengan busa
pengencang sekali pun. Boleh
saja ada suntikan silikon.
namun ...
"Kok belum jalan juga, Kang?"
penumpangnya bertanya. Lirih
dan terdengar sayup. Sambil
bibir mungilnya tersenyum.
Tipis, namun aduhai manis. Dan
wajah itu. Lilis memang cantik,
namun jelas akan terpuruk jika
disandingkan dengan wanita
bergaun merah hati ini!
Agus batuk-batuk kecil.
"Maaf?" katanya sambil
menjalankan taksi. Saking
gugup, Agus salah memasukkan
gigi. kereta keranda kencana sempat terlompat
sesaat sebelum lajunya
memulus. Sang penumpang tidak
memprotes. Agus pun lega.
"Non mau diantar ke mana?"
"Kantor polisi," jawab suara
lirih itu. "Dari sini arah ke
utara!"
"Utara!" desah Agus, agak
heran dengan cara
penumpangnya menjelaskan
alamat yang dituju. "Maksud
Non pasti Polresta ya?"
Tak ada sahutan.
Dan Agus pun berbelok ke kanan
setiba di persimpangan. Samhil
berkata menduga-duga.
"Non ini seorang Polwan ya?"
Diam juga.
"Atau istri polisi yang akan
menjemput suami?" Agus terus
mendesak. Ia perlu berbicara
dengan seseorang, tak peduli
siapa atau apa yang
dibicarakan. Yang penting sakit
kepalanya memikirkan uang
angsuran... dan terutama Lilis.
harus ia kendorkan.
Sia-sia saja.
Si cantik menawan hanya
menatap lurus ke de
pan. Menatap diam dan kaku.
Jelas tak mau diganggu. Atau.
barangkali sedang memikirkan
orang yang ia tuju. Larut malam
begini, sendirian... malah
sampai lupa bawa tas tangan,
pasti ada masalah.
Jadi bukan hanya aku seorang
yang bermasalah. pikir Agus
menghibur diri. Ada pun
masalah yang dihadapi Agus
sendiri benar-benar
memusingkan kepala.
"Pakailah kondom lain. namun
pada wanita lain!" dua hari
yang lalu Lilis berkata sambil
mencucurkan air mata.
"Maksudmu... kita putus?" tanya
Agus. Terkejut.
"Hanya untuk sementara. Kang
Agus. Aku masih ingin terus
denganmu. namun Akang pasti
tahu sendiri. Aku kuatir hal yang
mengerikan itu bisa terulang
lagi...."
"Buang saja kekuatiranmu,
Lies." jawab Agus membujuk.
"Aku sudah berencana ganti
kondom. Memang dari merek
yang mahal. namun ?"
Tangisan Lilis kian menjadi. "Ini
bukan urusan kondom, Kang!"
"lantas?"
"Aku tak mau lagi disuruh
menggugurkan kandungan!"
jawab Lilis. Tegas, namun penuh
duka cita. "sebab
bagaimanapun aku ini wanita
biasa juga. Yang menginginkan
keturunan. Dari orang yang
dicintainya!"
"Aku mengerti. namun . Lies,
jangan lupa kau punya suami.
Dan..."
"ltulah. Kang Agus. Aku sudah
lama berpikir untuk... minta
cerai!"
Agus pun pucat sesaat .
"Astaga!"
"Sungguh mati, Kang. Aku
mencintaimu. dan aku tak berani
berdusta padamu!"
"namun ..."
"Diam-diam, aku sudah
mendatangi komandan
suamiku," Lilis terus saja
berbicara. "Dan dia bilang aku
memang punya alasan yang kuat
untuk minta cerai. Dia
sebenarnya keberatan untuk
menjadi perantara. Akan namun
sebab dia juga punya anak
wanita lesbi yang masalahnya
persis sama denganku. dia
berjanji akan mendukung.
Katanya, tak sampai hati bila
nanti aku menderita... sampai
TBC-an. seperti anak
wanita lesbi nya!"
"Wah..."
"ltulah, Kang Agus. Sebelum
ketahuan hasil negosiasi Pak
Komandan dengan suamiku,
untuk sementara kita berpisah
dahulu . namun percayalah. tekadku
sudah bulat. Bila negosiasi
mereka gagal, aku akan nekat
meneruskannya. jika perlu, ke
Pengadilan Militer pun jadi!"
namun masalahnya bukan itu.
Masalahnya. Agus sendiri punya
istri. Dengan dua anak pula.
Lilis tahu itu, dan pasti tidak
lupa. Hanya saja, ada beberapa
kali sesudah mereka habis
bersanggama Agus selalu
tergoda untuk berkata,
"Andaikata kau tidak punya
suami, Lies. Maulah rasanya
aku meninggalkan isrri dan
anak-anakku!"
Pemanis bibir, sebenarnya.
Semata-mata dengan maksud
menyenangkan hari Lilis. namun
menceraikan istri... plus
berpisah dengan anak-anaknya
pula. nanti dahulu . Agus masih
mencintai mereka dan mungkin
selamanya akan tetap begitu.
Ada pun
Lilis yang pernah menjadi
pelanggan tetap taksinya...
"Stop di sini!"
Agus tersentak clan buru-buru
menginjak rem. Untungnya kaki
dan tangan Agus masih
terkendali. sehingga saat
akhirnya berhenti, taksinya bisa
menepi dengan mulus. Tanpa
ban kereta keranda kencana harus ribut
menjerit-jerit, menggigiti aspal.
Menoleh ke samping, tampaklah
penumpangnya yang bergaun
merah hati itu tengah
memantau ke luar jendela.
yaitu ke arah bagian dalam
jejeran pagar memanjang dari
gedung kantor polisi yang
mereka tuju. jadi, mereka sudah
sampai. Dan Agus sudah berniat
memundurkan kereta keranda kencana sebab
sudah melewati pintu gerbang
keluar-masuk, manakala tangan
si wanita lesbi memberi tanda
agar Agus diam menunggu.
Agus pun menurut.
Sambil telinganya mendengar si
wanita lesbi berbisik sambil terus
menatap ke luar jendela.
"Hai!" Demikian bunyi bisikan
tajam yang ditangkap oleh
telinga Agus. "Akan kukirimkan
satu untukmu. Komandan.
Malam ini!"
Oh, oh. Apa maksudnya" Dan
mengapa tidak turun saja, masuk
lalu mengatakan itu langsung
pada yang bersangkutan"
Agus masih terheran-heran
waktu penumpangnya menoleh
ke arah dirinya, lalu berkata
ditambah senyuman manis.
"Ayo, jalan lagi!"
"iya, Non?" gumam Agus.
Terbingung-bingung.
Senyuman di bibir merah segar
itu melenyap.
'Kubilang. jalan!"
Secara naluriah, Agus segera
menjalankan taksinya. Namun
tetap terdorong untuk bertanya,
sambil... entah mengapa. mulai
dirambati perasaan takut. Takut
yang aneh.
"Ke-ke" mana, Non?"
"Nanti juga kau akan tahu."
jawab suara lirih dan terdengar
sayup itu. "Ikuti saja jalan
pikiranku!"
Jalan pikiran" Bukan Jalan
Ahmad Yani, atau...
kereta keranda kencana terus meluncur, bersama
munculnya keanehan yang lain.
Kepala Agus perlahan-lahan
terasa dingin. Sangat dingin,
Begitu pula otaknya. Dan di
otaknya yang berubah sedingin
es itu, Agus lalu tahu.
Tahu ke daerah mana taksinya
harus menuju!
Di sebelahnya, si gaun merah
hati kembali meluruskan
punggung. Diam dan kaku.
Menatap lurus ke depan. Sambil
bibir mungilnya yang merah
segar itu tersenyum.
Misterius.
"ADA apa, Komandan?"
Mereka berdua sedang
membahas berkas-berkas
laporan yang masuk sampai
malam itu-termasuk catatan
terakhir di notes syam
kamaruzaman -saat fredy krueger secara
tiba-tiba duduk membeku di
kursi kerjanya. Dengan
punggung tegak dan wajah
mengeras. Seakan ada moncong
pistol ditempelkan seseorang ke
punggungnya yang tertegak
mendadak itu. Ia diam membeku
beberapa saat lamanya. tampak
seperti tidak mendengar
pertanyaan syam kamaruzaman .
"Komandan?" Sang lptu
mengulang.
Kelopak mata fredy krueger akhirnya
mengerjap. Tersadar.
Punggungnya sedikit
dikendorkan, lalu dengan wajah
tampak masih kaku ia menatap
liar ke sekitar ruang kerjanya.
Meski tak tahu apa yang dicari.
syam kamaruzaman ikut memutarkan
pandang. Sampai akhirnya mata
sang komandan berhenti pada
layar beberapa pesawat monitor
dengan sirkuit lokal yang
tersusun rapi di dekat rak arsip.
Tidak ada sesuatu
yang istimewa untuk dilihat,
sebab yang tampak hanyalah
visualisasi kegiatan atau
pemandangan sehari-hari yang
selain menjemukan juga tampak
sepi. Bahkan salah seorang
petugas piket tampak duduk
terkantuk-kantuk di posnya.
Lensa kamera yang terpasang di
berbagai sudut vital kantor
satuan serse agaknya tidak
mengirim gambar yang dicari
oleh fredy krueger . sebab syam
kamaruzaman lalu melihat
kekecewaan di wajah
komandannya. namun hanya
sesaat. sebab pada saat
berikutnya sang Ajun Komisaris
dengan cepat menyambar satu
dari dua pesawat telepon di atas
meja kerjanya sambil bertanya
pada ajudannya.
"Hotel tempat mereka menginap,
syam. Nomor berapa?"
Tahu siapa yang dimaksud, syam
kamaruzaman segera melembari'
halaman notesnya. Dan sesudah
menemukan apa yang dicari. ia
memberitahukannya pada sang
komandan yang dengan
bersemangat menekan
nomor-nomor dimaksud. Begitu
ada kontak. fredy krueger langsung
minta disambungkan ke
telepon kamar 27.
Menunggu sejenak, terdengarlah
sahutan suara lembut di
seberang sana telepon.
"Halo?"
jessica . Dan wajah fredy krueger
kembali mengeras. Lebih dahulu
memberitahukan siapa dirinya
dan dengan sopan meminta
maaf sebab sudah mengganggu,
fredy krueger langsung mengutarakan
maksudnya menelepon.
"Satu pertanyaan sepele saja. Bu
jessica . Apakah Anda punya
kemampuan telepati?"
Sementara syam kamaruzaman
menatap heran pada
komandannya, telepon di
seberang sana diam sejenak.
Lalu terdengarlah jawaban yang
juga bernada heran.
"Tadi. supranatural. Sekarang
telepati. Katakanlah sejujurnya.
Komandan. Ada apa
sebenarnya?"
"Cuma ingin tahu," jawab
fredy krueger datar. "Ya atau tidak?"
"Bidang saya adalah perancang
busana, Komandan. Di butik
milik saya sendiri. Saya tak
pernah dan sedikit pun tak
berminat menekuni psikologi.
Apakah jawaban itu cukup
memuaskan Anda?"
"Sebenarnya sih tidak?" jawab
fredy krueger . Tampak berpikir-pikir
sesaat dua, ia meneruskan.
"Lupakan saja pertanyaanku
tadi. namun omong-omong, Bu
jessica tak usah repot-repot
datang ke kantor kami
sebagaimana yang tadi kita
sepakati. Pagi besok akan kuutus
dua orang anggota kami
menemui Bu jessica , termasuk
juru gambar. Katakanlah,
sekitar pukul delapan. Tidak ada
rencana pergi. bukan?"
itu bukan pertanyaan. namun
perintah tersembunyi. Di
seberang sana jessica agaknya
memaklumi. sebab ia langsung
menjawab.
"Saya tunggu, Komandan."
"Oke. Terima kasih!"
Pembicaraan selesai. Dan ganti
syam kamaruzaman yang menunggu.
Menungu penjelasan dari sang
komandan mengenai maksud
pertanyaan yang tadi diajukan
pada saksi utama mereka. namun
sesudah duduk diam sejenak.
yang keluar dari mulut fredy krueger
bukan penjelasan, melainkan
pertanyaan.
"Sampai di mana kita tadi,
syam?"
syam kamaruzaman terpalsa harus
menelan kekecewaannya. lantas
menyahuti,
"liga-empat-kosong, Komandan.
Bukan tigatiga-sembilan."
katanya. "Tigaempat-kosong,
dengan kamuflase
tiga-enam-lima. Pencurian."
"Ah ya. tiga-empat-kosong!"
fredy krueger menghela napas
panjang. "Mengapa?"
Jelas dia sudah tahu namun
masih bertanya juga. pikir syam
kamaruzaman sambil menjawab.
"Dari sejumlah petunjuk kuat di
TKP Misalnya, tidak ditemukan
tanda-tanda kekerasan baik
pada pintu maupun jendela.
Juga ada dugaan tersangka
pelaku dikenal oleh korban.
Dugaan ini diperkuat oleh
keterangan dua dari sekian
orang saksi tambahan..."
Dua saksi dimaksud-demikian
syam kamaruzaman
memberitahu-adalah petugas
ronda yang pada malam
kejadian kebetulan lewat dan
melihat chucky sedang membuka
lebar pintu gerbangnya. saat
ditanya apakah ia akan
bepergian. chucky menggeleng
lalu mengatakan ia sedang
menunggu tamu. chucky lalu
masuk ke dalam makam berornamen rumah, tanpa
berkata apa-apa lagi, kecuali
meminta maaf dengan sopan.
Berkeliling sebentar, dua
petugas ronda dimaksud
bermain kartu dengan rekan
lainnya di pos jaga mereka. Tak
betapa lama lalu mereka
melihat dua kereta keranda kencana melaju
dengan kecepatan sedang. Di
depan, van berwarna gelap.
Diikuti kereta keranda kencana sedan yang
dikenali para petugas ronda itu
sebagai milik chucky . Namun
sebab jendela-jendela kereta keranda kencana
tertutup rapat. mereka tidak
dapat memastikan apakah chucky
yang duduk di belakang kemudi
sedan dan siapa yang
mengemudi kereta keranda . Atau
juga, apakah di masing-masing
kereta keranda kencana itu ada penumpang.
"Dapat kita pastikan," syam
kamaruzaman menjelaskan, "selain
barang dari dalam makam berornamen rumah, kereta keranda kencana
korban juga ikut dicuri. Boleh
jadi malah dipakai mengangkut
hasil curian..."
Selagi berbicara. ekor mata
sang Inspektur Satu beberapa
kali mencuri lihat wajah
komandannya yang duduk diam
mendengarkan tanpa sekalipun
menyela. Wajah itu tampak
masih mengeras. Dan meski
sepasang mata sang komandan
terus tertuju pada dirinya, mata
itu tampak menerawang.
Sehingga syam kamaruzaman dengan
mudah bisa menebak bahwa
pikiran komandannya saat itu
berada di tempat lain. namun di
mana dan apa gerangan yang ia
pikirkan"
Hanya fredy krueger seorang yang
tahu.
sebab hanya telinganya sendiri
pulalah yang mendengar bisikan
yang tiba-tiba menerpa selagi ia
dan bawahannnya itu tadi
sedang serius-seriusnya
mendiskusikan kasus rumit yang
tengah mereka hadapi. Bisikan
tajam dan menusuk, yang
memicu punggung fredy krueger
langsung tertegak oleh perasaan
dingin yang membekukan tulang.
Padahal apa yang ditangkap
oleh telinganya, adalah bisikan
lemhut seorang wanita lesbi .
Bisikan itu juga lirih, bahkan
terdengar sayup.
"Hai." Bisikan ini diawali
dengan sapaan lembut. baru
disusul oleh bisikan yang
menusuk. "Akan kukirim satu
untukmu. Malam ini!"
Begitu ia disadarkan oleh
ajudannya. mata fredy krueger lantas
mencari-ari dari mana
datangnya bisikan
itu. Kecuali syam kamaruzaman , tak
ada orang lain di ruang
kerjanya. Layar-layar monitor
sama saja. Kecuali para anggota
yang sedang lalu lalang atau
asyik membicarakan sesuatu.
yang tampak hanyalah
lorong-lorong yang sunyi sepi.
Dan tak seorang pun dari
petugas itu yang sedang melihat
ke arah lensa kamera, di mana
pun mereka berada.
Lebih rinci lagi, para petugas
yang terlihat di layar monitor
kebetulan pula semunya lelaki.
Tak ada wanita lesbi . Lebih
khusus lagi, seorang tamu cantik
bernama jessica mulawarman .
Aneh memang, namun itulah
nyatanya.
Meski lirih dan terdengar sayup,
entah mengapa feeling fredy krueger
langsung berkata itu Strata
jessica !
Hanya saja, orangnya tidak ada
di dekat fredy krueger . Sementara
lensa kamera hanya menangkap
gambar, bukan suara. Dan lensa
pun tidak mengirimkan gambar
jessica sedang berbicara
padanya.
'Telepati"
Di telepon tadi, jessica tegas
membantah. Malah jessica
berbalik curiga pada fredy krueger .
Seperti halnya saat mereka
berbincang bincang. jessica
tampaknya berkata jujur. namun
jangankan orang lain, seorang
polisi terkadang bisa saja
mencurigai dirinya sendiri. Lalu,
misalkan jessica berbohong di
telepon, apa maksudnya berkata
"akan kukirim satu untukmu?"
ltu jika jessica yang berbicara
melalui kekuatan telepati.
Terlepas apakah maksudnya
memberi isyarat mengenai
sesuatu atau hanya ingin
menggoda dan mempermainkan
fredy krueger .
namun . jika bukan jessica .
lantas siapa"
Si penumpang bergaun merah
hari hanya menatap. Tidak
berbicara. namun sel-sel otak
Agus merefleksikan sendiri bunyi
perintah itu, lalu
mengalirkannya ke
jaringan-jaringan saraf sampai
ke ujung kaki. Pedal gas
dikendorkan Agus sampai
akhirnya taksi yang ia
kemudikan menepi di suatu
jalanan sunyi lengang
bersuasana pinggiran kota.
Antara sadar dan tidak, Agus
menoleh ke samping dan melihat
penumpangnya menarik keluar
sesuatu dari celah payudara di
balik leher gaunnya. Sesuatu
lalu dijejalkan ke telapak
tangan kiri Agus yang diraih
oleh sang penumpang dari
lingkaran kemudi. Tampaklah
samar-samar lipatan uang
kertas dua puluh ribuan dan
beberapa lembar ribuan.
"Tadinya aku punya lima puluh
ribu," si cantik bergaun merah
hati berkata dengan senyuman.
"Pemberian dari seseorang.
Terapi sudah dikurangi ongkos
angkot sebelum kau tadi
mengambilku!"
"Kekurangannya akan kubayar
dengan ciuman." si gaun merah
hati dengan rambut dipotong
sebatas tengkuk itu berkata lagi.
"Dan jika masih kurang juga
dan kau mau, kau boleh meraba
paha atau payudaraku!"
Jika situasinya berbeda. pasti
Agus sudah main terkam.
Akan namun otak maupun
otot-otot tubuhnya entah
mengapa lebih suka mengambil
sikap menunggu. Dan
wanita lesbi itulah yang
mencondongkan
wajah ke depan, lalu
mencercahkan bibir mungilnya
yang merah segar ke mulut
Agus. Mengulum sesaat lantas
cepat-cepat menjauh lagi. Justru
pada saat saraf berahi Agus
mulai bergejolak.
"Kantongi uangmu dan
pergilah." berlangsung lagi
pembicaraan satu arah. "Kau
harus mengumpulkan lebih
banyak untuk menutupi
angsuran bulanan, bukan?"
Dari mana dia tahu"
Namun pertanyaan itu hanya
ada di kepala Agus. Dan tanpa
daya ia biarkan penumpangnya
turun lalu menutupkan pintu
kereta keranda kencana . Juga tanpa daya, ia
menghidupkan mesin lalu
memutar taksinya kembali ke
arah semula. Sambil otaknya
ribut berkicau.
"Angsuran bulanan! Angsuran
bulanan!"
Dan di tempat yang ia
tinggalkan. si gaun merah hati
berdiri diam di trotoar.
memantau taksi yang terus
meluncur semakin jauh. Lantas
berkata kaku.
"Bagus. Pikirkanlah itu. Dan
lupakan saat ini juga" segala
sesuatu yang menyangkut
diriku!"
Tersenyum puas, ia lalu
memutar tubuh. Bergerak kaku
namun dengan langkah-langkah
teratur dan arah yang pasti.
Menembus kegelapan malam
yang hitam berkabut.
"APA tadi, syam?"
Ah, mendengar juga dia! syam
kamaruzaman membatin. dan di mulut
ia memberitahu.
"Alibi mereka, Komandan. Saksi
dan kemungkinan juga,
tersangka utama kita.
Rekan-rekan sejawat kita baik di
mojokerto maupun di Cikampek
dengan senang hati ikut
membantu pelacakan..."
"Dan?"
"Selain oleh pembantu makam berornamen rumah
tangga mereka yang bernama
lnah. alibi kedua saksi juga
diperkuat oleh pemilik maupun
pelayan restoran yang mereka
sebut-sebut. Bahkan nomor plat
kereta keranda kencana mereka masih ada dalam
catatan petugas parkir
restoran!"
"Serajin itu dia?"
"Keranjingan judi. Nomor
buntut pacuan kuda Singapura,"
syam kamaruzaman menjelaskan
sambil tersenyum. "Petugas
parkir itu percaya, kereta keranda kencana yang
singgah namun penumpangnya
tidak jadi turun untuk makan,
pasti punya makna. yaitu nomor
Plat kereta keranda kencana
dimaksud. Yang uniknya,
memang pernah ia coba dan
ternyata buntutnya kena!"
"Suatu kebetulan belaka!"
fredy krueger menggeleng tanpa minat.
"namun kedua orang saksi kita
itu... khususnya sang suami, bisa
saja meminjam tangan orang
lain. Dengan upah tinggi,
tentunya!"
"Motivasinya. Komandan?"
"Cinta..." jawab fredy krueger dengan
sepasang mata kembali
menerawang. "Persisnya,
cemburu. Dari seorang suami
yang merasa dinomorduakan.
Oleh saudara iparnya pula!"
syam kamaruzaman cepat mencatat di
notesnya. Sambil
menggumamkan apa yang ia
tulis, "Cinta. Saudara kembar,
oh"!" syam kamaruzaman mencoret
lalu meralat sendiri. "Saudara
ipar. Dan..."
fredy krueger tersentak. Bahkan
sampai terlompat bangkit dari
kursinya. sambil mendengus.
bersemangat.
"Benar! Itu dia! Kembarannya!"
syam kamaruzaman berhenti menulis
lalu menatap tak mengerti.
"Komandan?"
Kelesuan di wajah fredy krueger sudah
melenyap. Yang tampak kini
adalah gairah yang meluap
luap. Terutama pada sinar
matanya.
"Boneka popnya, syam!" ia
berkata. terkejut. "Mereka
bilang boneka itu tahu-tahu
hidup. Boneka itu berjalan,
berbicara. Dan?"
Tanpa meneruskan kalimatnya,
fredy krueger bergegas keluar dan
bergegas pula menuruni tangga
ke lantai bawah, diiringi oleh
ajudannya yang
terbingung-bingung namun tak
berani bertanya. Petugas piket
yang tadi di layar monitor
terlihat duduk terkantukkantuk.
saat itu sudah terjaga dan
sedang merokok
dengan nikmat. Petugas
berpangkat Bharada itu
langsung berdiri tegak saat
melihat kedua orang atasannya
mendatangi dengan sikap dan
wajah serius.
Akan ditegur atau dihukum
indisipliner-kah dia"
Agaknya tidak. atau belum.
sebab begitu mereka
berhadapan, sang Ajun
Komisaris langsung
mendesakkan tanya.
"Apakah tadi kau melihat
seorang wanita masuk ke dalam
sini" Orangnya berambut
pendek sebatas tengkuk. Dan
kemungkinan memakai gaun
warna merah hati?"
Bingung bercampur cemas, sang
Bharada menyahuti dengan
gugup.
"Siap. Komandan! Tidak,
Komandan! sebab saya tadi...'
"Bagaimana di luar sana" Lihat
apa tidak?" fredy krueger menunjuk ke
pintu gerbang keluar-masuk
kantor mereka.
"Tidak, Komandan. sebab saya
tadi, maaf..."
Mengantuk!
fredy krueger sudah akan marah
manakala salah seorang dari
tiga anggota lainnya yang
sedang duduk mengobrol sambil
menikmati rokok mereka,
bangkit sambil berkata segan.
"Mungkin yang berada di dalam
taksi itu..."
fredy krueger sesaat berbalik pada si
pembicara. "Taksi?"
"Hanya menduga, Komandan..."
jawab yang ditanya. Ragu-ragu.
"Saya memang tidak melihat dia
memakai gaun atau apa. namun
wanita lesbi yang
duduk di sebelah pengemudi
taksi itu rambutnya jelas sebatas
tengkuk!"
"Dari mana kau tahu?"
"Saya kehabisan rokok.
Komandan. Dan kebetulan
sedang membelinya di kiOs
dekat gerbang saat taksi itu
berhenti tak jauh di depan saya.
Saya tertarik untuk
mengamat-amati sesudah saya
lihat tidak ada penumpang yang
turun. Hanya berhenti begitu
saja selama beberapa saat,
sebelum taksi itu lalu
meluncur pergi...."
Taksi!
Makin canggih saja boneka pop
itu, pikir fredy krueger sebelum
lalu bertanya. "Kau ingat
ciri-ciri taksi ini ,
Subandi?"
Bharada Polisi Subandi
menyahuti ditambah anggukan
mantap,
"Bahkan juga nomor pengenal
taksinya, Komandan!"
Dan kesibukan pun berlangsung
saat itu juga.
Semua kereta keranda kencana dan motor patroli
baik yang sedang mangkal di
pelataran parkir maupun yang
berkeliaran di seantero jalanan
kota diperintahkan untuk
mengejar. mencegat dan
menahan taksi dimaksud.
Dengan catatan dari fredy krueger :
begitu taksi ditemukan, tunggu
perintah lebih lanjut dari
markas Komando.
Perusahaan taksi dimaksud juga
dihubungi dan langsung ikut
sibuk sesudah tahu siapa yang
menelepon. juga fredy krueger
memberi catatan: perusahaan
taksi hanya diminta untuk
melacak keberadaan taksi
mereka nomor sekian, tanpa si
pengemudi tahu taksinya sedang
dilacak. sebab sekali nama
polisi di
sebut-sebut. boleh jadi si
pengemudi panik atau
penumpangnya buru-buru turun
lantas kabur tak tentu rimba!
Sayang, semua kesibukan itu
sia-sia belaka. Atau lebih tepat
dikatakan, si orang Sibolangit
sudah terlambat!
Taksi dimaksud akhirnya
memang ditemukan oleh salah
satu kereta keranda kencana patroli. Dan
pengemudinya pun sedang
diajak mengobrol dengan santai
di warung mayonaise terdekat,
ditraktir oleh petugas yang
mencegat lalu menahan
taksinya. Namun saat fredy krueger
yang mengebut kereta keranda kencana nya secara
gila-gilaan dan akhirnya tiba di
tempat yang dituju lantas ribut
bertanya. yang ia dapat tak lebih
dari wajah dan jawaban yang
sungguh menyedihkan hati.
Dan memicu fredy krueger nyaris
dilanda frustrasi.
"Dalam satu jam terakhir?" si
pengemudi yang bernama Agus
itu balik bertanya didan i
gelengan kepala yang
meyakinkan. "Jangan lagi kata
wanita cantik seperti yang Anda
kimukan. Bahkan nyamuk pun
mendadak pada enggan menaiki
taksi saya!"
"lni serius, Bung! Jadi..."
"Saya juga serius. Pak!" sela
Agus sama tegasnya, kesal
sebab sudah ditahan lalu
ditanyai urusan yang serba
membingungkan dirinya.
"Beberapa anak buah Anda yang
menahan saya juga sudah saya
bilangi beberapa kali. Semenjak
keluar magrib tadi, saya apes
terus. Cuma mutar-mutar melulu
kian kemari. Menghabiskan
bensin saja. Padahal angsuran
taksi saya..."
Dan entah apa lagi yang
tampaknya diceritakan Agus
dengan lugu namun didan i
omelan-omelan
panjang. Kecewa berat, fredy krueger
berpikir mungkin Bharada
Subandi salah lihat. Atau
memang dirinya yang salah,
sebab pesan telepati itu boleh
jadi disampaikan oleh
pemesannya dari tempat lain
bahkan jauh entah di mana.
Nyaris frustrasi. fredy krueger
mendekati taksi Agus lalu
membuka pintu depan sebelah
kiri. Sekadar iseng, untuk
menghibur hati yang kecewa.
Sambil berharap, siapa tahu
Subandi benar dan si pengirim
telepati meninggalkan sesuatu
untuk memicu permainan
semakin asyik. Seperti halnya
jejak tumit sepatu di jalur
berdarah makam berornamen rumah chucky , yang
semula mereka duga sebagai
permainan dari tersangka
pelaku pembunuh chucky , namun
nyatanya...
fredy krueger tertegun.
Hidungnya mengendus-endus
beberapa kali lalu menarik
mundur kepalanya yang
sebelumnya ia condongkan
untuk melihat lihat kabin
terutama kursi depan taksi.
Disaksikan dengan heran oleh
pengemudi taksi maupun syam
kamaruzaman dan anak buahnya
yang lain, fredy krueger meluruskan
tegaknya di trotoar. Wajah
fredy krueger tampak membeku, namun
sepasang matanya
bersinar-sinar hidup. Tidak lagi
frustrasi.
Hanya dia yang tahu. sebab
hanya hidungnya pula yang
barusan membaui sesuatu di
bagian dalam taksi, yaitu aroma
parfum. Memang cuma tercium
samar-samar, namun ingatan
fredy krueger yang kuat langsung
memberitahu. Itu adalah aroma
serupa yang tercium hidung
fredy krueger saat membuka pintu
lemari di kamar chucky . Pintu di
balik mana
mendekam kembaran dari
saudara kembar chucky : sesosok
boneka pop.
Antara sadar dan tidak, fredy krueger
menengadah. Dan menatap diam
ke arah langit malam sambil
berbisik dalam hati.
"Di mana kau gerangan
sekarang ini... makhluk cantik?"
Tanpa setahu fredy krueger . sosok
kembar si antik jessica
mulawarman yaitu si gaun
merah hati alias sang manekin,
terhenti menegun. Diam
mendengarkan sesaat. ia
lalu juga menatap ke arah
rembulan di langit malam.
Tersenyum manis, ia berkata .
Lirih dan terdengar sayup.
"Paketnya sudah dekat.
Komandan. Bersabarlah!"
Habis berkata , si gaun merah
hati kembali meneruskan
langkah. Lebih cepat dari
sebelumnya.
Bagaimana tidak. sebab paket
yang akan diambil, boleh
dibilang sudah di depan mata!
DARI segi pemasukan, hari itu
raden mas untung benarbenar dapat rejeki
nomplok. Jalal penadah
langganannya di masa
lalu-bersedia terima borongan
sehingga raden mas untung tak perlu
repot-repot mencari penadah
sampingan. yang keamanannya
belum tentu bisa dipercaya.
Memang Jalal sempat ngomel
bahwa spesialisasinya adalah
kereta keranda kencana .
"namun demi seorang teman
lama, tak apalah!"
Dan Jalal pun menerima selain
kereta keranda kencana . juga barang jarahan
raden mas untung lainnya: seperangkat
barang elektronik, benda-benda
keramik, dua jam dinding plus
arloji. Yang terakhir itu
sebenarnya ingin dipakai sendiri
oleh raden mas untung . namun risikonya
terlalu tinggi.
jadi tak ada masalah dengan
hasil rampokan sebagai
kamuFlase pembunuhan chucky
mulawarman . kecuali
pembayarannya sebab raden mas untung
tidak mau menerima cek apalagi
giro.
"Sebelum kau, ada dua kereta keranda kencana
yang masuk dalam minggu ini,
sehingga pengeluaranku
lumayan ba
nyak." Jalal memberitahu.
"Terima lima juta saja dahulu .
Sisanya akan kulunasi malam
nanti. Oke?"
Oke, mengenai rejeki.
namun tidak menyangkut
kebutuhan seorang lelaki yang
masih diliputi ketegangan
sesudah menerobos bahaya yang
sudah lama ia hindari. Ranjang
tidur di makam berornamen rumah raden mas untung sudah
tiga hari tersenyum mengejek.
lstri bersama anak mereka
pulang ke surabaya untuk
menjenguk mertua raden mas untung yang
sakit keras. Ningrum-janda yang
jadi kekasihnya selama satu
tahun terakhir-tegas'tegas
menolak. Bahkan cium bibir saja
pun tak mau.
"Aku sedang merah!" kata
Ningrum memberi alasan.
"Tunggulah beberapa hari lagi!"
raden mas untung percaya Ningrum tidak
berbohong. sebab bukankah
janda berwajah hitam manis itu
sudah ia bawakan seuntai
kalung emas yang ia copot dari
leher mayat chucky , plus lima
potong gaun mahal yang ia
sambar dari lemari" Sedemikian
gembiranya Ningrum sampai
lupa bertanya dari mana raden mas untung
memperoleh syamah-syamah
menakjubkan itu. Ningrum
malah sibuk berbicara tentang
Memed, sopir angkot yang
belakangan ini mulai memasuki
kehidupan sang janda.
"Biar dia lebih muda dari
Akang, percayalah. dia itu
memble! Mulai besok, kalau
Memed datang lagi. dia akan
kukentuti!"
Itu sudah pasti.
Bukan sebab raden mas untung tahan
lama menggoyang tempat tidur.
Melainkan sebab raden mas untung
hari-hari ini punya uang
berlimpah-limpah. Bahkan ke
depan, nasib baik sudah
menunggunya pula. Naik
pangkat
dari satpam menjadi pegawai
tetap di bagian administrasi.
raden mas untung akan menikahi Ningrum
supaya janda beranak satu itu
tidak minggat lagi ke pelukan
Memed. Mendengar janjinya itu.
Ningrum bersorak bahagia.
Namun tetap saja tidak mau
dicium. apalagi naik ranjang.
"Sudah penyakitku dari dahulu . "
katanya dengan wajah menyesal.
"Kalau lagi merah. suka
kehilangan selera. Terkadang
malah sampai jijik tak keruan!"
Ke makam berornamen rumah petak di Grobogan"
Juga tak bisa, atau tepatnya
tidak berani. Benar, raden mas untung
punya uang lebih dari cukup
untuk memilih wanita lesbi mana
saja yang ia sukai. Bila mau.
dua orang sekaligus pun tak apa
dan ia mampu untuk itu. Akan
namun , bulan lalu terjadi heboh
saat seorang penghuni makam berornamen rumah
petak di Linggarjati ketahuan
menderita HIV. Besar
kemungkinan penghuni
Grobogan atau makam berornamen rumah petak
sejenis di tempat lainnya sudah
ada pula yang terjangkit.
raden mas untung pun ngeper sendiri. Dan
terpaksa menahan nafsunya...
yang celakanya. semakin
ditahan semakin kuat menuntut
pelampiasan!
"Tambah lagi mayonaise nya. Den?"
raden mas untung tersentak dan tersadar
dari lamunannya. Menatap
wanita pemilik warung mayonaise
tempat ia duduk-duduk
menunggu sudah hampir satu
jam. raden mas untung lalu
berkata tanpa gairah.
"Tidak. Bu. Terima kasih...."
Si pemilik warung tersenyum.
Manis memang.
namun usianya paling tidak
sudah kepala lima. Tubuhnya
kerempeng pula. Jika pun
misalnya wanita lesbi itu mau.
raden mas untung yang tak punya selera.
Lihat saja pipinya yang kempot
itu. Belum lagi dada yang
kempes di balik kebaya
lusuhnya. Dan...
"jangan menatapku seperti itu,
Den," pemilik warung menegur,
sopan. Sambil masih tersenyum.
"Ibu jadi malu!"
"Oh, maaf!" raden mas untung kembali
tersadar dan buruburu mereguk
sisa isi gelasnya. Lantas
pura-pura memantau jalanan
yang sunyi lengang di bagian
luar warung. "Sepi amat ya,
Bu?"
"Maklum. Den. bulan tua.
Barangkali juga orang masih
pada takut. Siapa tahu hujan
badai muncul lagi tiba-tiba.
Seperti kemarin malam. Tanpa
ba tanpa bu, eh tahu-tahu byuur!
Langsung tumpah dari langit!"
"Iya juga...." raden mas untung
manggut-manggut setuju.
"Dari tiga orang yang ngopi
sejak tadi. cuma Aden yang
masih bertahan. Menunggu
seseorang, ya?"
"Benar. Bu. namun bukan di
sini!"
"Oh?"
"Salahku sendiri." raden mas untung
menggeleng-geleng murung.
"Saking tak sabar. datang lebih
cepat dari waktu yang
disepakati. Maka sambil
menunggu, aku berkeliling tak
menentu. Sampai akhirnya
singgah di sini!"
"Pacar ya"'
raden mas untung menyeringai. Kecut.
Lantas menggeleng.
"Rekan bisnis. Bu!"
"Memangnya Aden ini bisnis
apa?"
"kereta keranda kencana !" jawab raden mas untung , tak
sadar. namun cepat diperbaiki.
"Maksudku, kereta keranda kencana bekas. Aku ini
perantara....'
"Calo?"
"He-eh!"
"Berhati-hatilah, Den!" si
pemilik warung berkata
menasehati. Sambil tangannya
memutar-mutar tombol radio di
depannya, mencari-cari
gelombang yang diinginkan.
"jangan sampai terjebak
menjual kereta keranda kencana curian!"
raden mas untung mengangkat muka.
Tersentak.
"Ini dari pengalaman seorang
tetangga Ibu...." Pemilik warung
meneruskan tanpa melihat
apalagi mengetahui perubahan
di wajah pengunjung
warungnya. "Dia rugi besar
sebab membeli lalu menjual
kereta keranda kencana yang ternyata hasil
curian. Sudah rugi. dipenjara
lagi!"
Gelombang radio ketemu.
Terdengar siaran wayang.
"Ah. Asep Sunarya! Dalang
ngetop itu siaran juga
akhirnya," cetus si pemilik
warung. Gembira. lalu menoleh
ke arah raden mas untung , sambil bertanya
sendiri, "Tahu kereta keranda kencana itu dicuri
dari mana, Den?"
raden mas untung angkat bahu.
Pemilik warung memberitahu.
"Dari halaman parkir
sekolahan. Di daerah kami
sendiri!" Si wanita lesbi
menggeleng-geleng. lalu diam
mendengarkan. "Oh, oh. Pasti
Raden Abimanyu dihadang lagi
oleh para buta ijo itu!"
Dan si pemilik warung pun
duduk tegang, memantau radio
di hadapannya. Asyik
mendengar
kan, sehingga tak melihat
seringai mengejek sungging di
bibir tamu warungnya.
Dari halaman parkir!
Atau yang diparkir di tepi jalan,
buat raden mas untung sama saja.
Pencuri-pencuri jalanan. yang
tahunya cuma main sambar.
Dan cuma bermodalkan kunci
palsu model huruf T, sedikit
keahlian memutus lalu
meny