Keberagaman negara diseluruh dunia ini memang juga mempunyai tradisi dan watak
tersendiri-tersendiri. Adanya beberapa faktor mendasar yang sudah berlangsung sejak lama
dan menyangkut kepercayaan serta menyangkut kemakmuran hidup bersama, ternyata sangat
mudah memicu konflik (peperangan). Hal-hal yang menyangkut terkait ideologi
bangsa, suku, keyakinan, sangat mudah sekali mengobarkan adanya perselisihan dan
permusuhan dan kemudian menjadi perang. Hal inilah yang terjadi pada Iran dan Irak yang
saling berperang memperebutkan hak-nya yang sudah diklaim masing-masing. Mereka
mempunyai dasar sendiri-sendiri yang dijadikan alat untuk membela dirinya supaya menjadi
miliknya.
Kawasan Timur Tengah memang terkenal dengan sumber daya alamnya terutama hasil
minyaknya yang mampu menyuplay keseluruh penjuru dunia. Iran sebagai salah satu negara
yang kaya akan minyak, hal tersebut tidak lantas membuat Iran kaya dan tentram seperti yang
diharapkan. sebab kita ketahui bahwa negara-negara lain yang butuh akan kekayaan minyak
tersebut sudah siap untuk merebutnya. Irak adalah negara tetangga terdekatnya yang memiliki
perbatasan dengan Iran. Di perbatasan itulah yang menjadi sengketa dan menyulutkan
perselisihan. Irak mengeklaim bahwa wilayah itu merupakan miliknya akan namun Iran juga
tidak mau kalah dan menanggap bahwa itu juga wilayahnya.
Jika sudah begitu maka akan sangat sulit sekali untuk menengahinya. Dengan berbagai
faktor baik intern maupun ekstern maka jelas perang antara negara tetangga ini tak mampu
dielakkan lagi. Negara yang berdampingan yang seharusnya damai justru harus berperang
dan mengakibatkan jatuhya korban yang tidak sedikit.
Konflik antar negara yang sampai sekarang masih terus berlanjut terjadi di Kawasan
Timur Tengah, menjadikan bahan yang menarik untuk terus diulas dan dipelajari lebih
mendalam. Terutama salah satu aktor negara yang sangat mencolok dengan konfliknya yaitu
Irak. Irak terlibat perang dengan Iran negara tetangganya. Sampai sekarang konflik-konflik di
negara-negara tersebut masih terus ada, hal tersebut disebabkan adanya faktor-faktor tertentu
yang sangat mendasar di tambah lagi faktor-faktor pendukung lainnya. Kekurang pahaman
terkait peran Irak-Iran ini tentunya membuat kita sebagai umat manusia yang sama tinggal di
planet ciptaan Tuhan ini harus saling tahu dan memperhatikan bahkan ikut andil menjaga
kerukunan antar negara. sebab pada dasarnya setiap peperangan pasti akan mempunyai
dampak tidak hanya positif namun cenderung negatif terutama bagi pihak yang kalah.
Perang merupakan pengalaman tersulit dalam kehidupan yang selalu membawa berbagai
macam masalah baik secara individu, sosial dan bahkan global. Ketika sebuah bangsa melalui
masa-masa perang, fakta dan berbagai peluang yang terkandung di dalamnya jika kemudian
hari kita pikirkan kembali, mungkin tidak dapat terbayangkan besarnya. Banyak orang yang
menolak perang dan menghindarinya serta sedikit sekali orang yang menerima atau
menyukainya. Orang-orang yang pernah berperang di medan pertempuran dan bangsa-bangsa
yang telah merasakan pahitnya perang, mengetahui dengan baik apa saja yang terjadi dan
masalah apa yang dihadapi satu generasi dan setelahnya.
A. pemicu terjadinya perang Teluk I
Ketegangan hubungan irak iran mulai meningkat ketika irak pada tahun 1975
melanggar perjanjian perbatasan dengan iran.pejabat irak mengatakan bahwa iran menyerang
instalasi ekonomi irak di sungai Shatt al-Arab.laporan lain mengarakan iran menembak
cadangan minyak irak diwilayah Basra, selatan irak dan membakarnya.
Bagian selatan sungai Shatt al-Arab ini merupakan perbatasan kedua negara, menuju teluk
dan menjadi jalur passokan utama minyak menuju barat.perbatasan ini pun tak awal menjadi
pemicu peperangan.dasamping juga ada kekhawatiran pemimpin irak no 1 yaitu Saddam
Hussein atass perlawanan syiah yang dibawa imam Khomeini dalam revousi iran.
Perang terbuka akhirnya meletus pada tanggal 22 september 1980.sebelumnya selama tiga
minggu telah terjadi pertempuran diperbatasan kedua negara.irak mengebom pesawat
pesawat iran dan pangkalan logistik iran termasuk bandara internasional Terheran.
Adapun berbagai pemicu terjadinya perang antara Irak dan Iran antara lain, adalah:
1. Sengketa antara Irak dan Iran sebenarnya masih terkait dengan sejarah kedua belah
negara yang tak pernah akur.
Berlarut-larutnya permusuhan yang terjadi antara kerajaan Mesopotamia (terletak di lembah
sungai Tigris-Eufrat, yang kini menjadi sebuah negara Irak modern) dengan kerajaan Persia
atau negara Iran modern. Yang pertama ialah persaingan dsn ketegangan Bangsa Arab dan
Bangsa Parsi, yang satu tidak dapat menerima keunggulan atau dominasi yang lain. yang
kedua ialah masalah minoritas etnis. Pada zaman shah Iran mendukung perjuangan otonomi
suku Kurdi di Irak, sedangkan Irak mendukung minoritas etnis Arab di Iran yang
memperjuangkan kebebasan yang lebih besar atau pemisah, dan yang ketigaialah perbedaan
orientasi politik luar negeri. Sampai beberapa waktu yang lalu Irak adalah Pro Uni Soviet,
dan Iran adalah Pro Barat.
2. Persengketaan wilayah yang dianggap penting oleh Irak dan Iran
Pertama, persengketaan Sungai Shatt Al Arab, sungai tersebut berperan penting bagi Irak
sebab merupakan satu-satunya jalan keluar negara tersebut ke laut. sebab letaknya yang
berada di perbatasan dan posisi strategisnya yang mengarah ke Teluk Persia, sungai tersebut
menjadi bahan sengketa Irak dan Iran. Sebelum perang antara kedua negara meletus, pada
tahun 1975 sempat meredakan ketegangan antara kedua belah pihak sebab berkat perjanjian
Algiers. Kedua adalah Provinsi Khuzestan yang kaya minyak. Wilayah tersebut selama ini
menjadi wilayah Iran, namun sejak tahun 1969 Irak mengklaim bahwa Khuzestan berada di
tanah Irak dan wilayah tersebut diserahkan ke Iran ketika Irak dijajah oleh Inggris. Dengan
begitu maka mereka saling meng-klaim sebagai wilayah mereka masing-masing.
3. Munculnya Revolusi Islam oleh Iran
Pada masa pemerintahan Khomeini yang berambisi dan juga berusaha mengekspor revolusi
islamnya kenegara-negara lain dan Irak menjadi sasaran yang pertama sebab di Irak
minorotas Sunni menguasai dan menindas mayoritas Syiah dan minoritas Kurdi yang secara
etnik linguistic dekat dengan bangsa Persi. Selain itu Khoeini menaruh dendam terhadap
rezim di Bagdad yang pada tahun 1978 mengusirnya dari Irak sebab dia berkampanye
melawan pemerintah Shah. Sehubungan dengan itu pemerintah Iran menghasut umat Syiah
dan Suku Kurdi di Irak untuk memberontak dan merebut kekuasaan serta membentuk suatu
republic Islam menurut pola Republik Islam Iran. Dilain pihak Bagdad menghasut minoritas
Kurdi di Irak untuk mendukung minoritas Arab dalam memperjuangkan otonominya, dan
membantu sejumlah jendral Iran dan pengikut-pengikutnya Bakhtiar di pengasingan untuk
menyusun kekuatan guna menumbangkan kekuasaan Khomeini.
Irak di bawah kendali Saddam Hussein dan Partai Baath memiliki ambisi untuk menjadi
kekuatan dominan di wilayah Arab di bawah bendera pan-Arabisme sejak meninggalnya
Presiden Mesir, Gamal A. Nasser. Revolusi Islam yang terjadi di Iran tersebut dianggap
sebagai penghalang sebab bertentangan dengan prinsip nasionalisme sekuler Arab. Selain
untuk mencegah menyebarnya revolusi Islam, Irak juga berusaha mengambil keuntungan
dengan kondisi internal Iran yang tidak stabil pasca revolusi Islam untuk merebut wilayah-
wilayah yang menjadi bahan sengketa dengan Iran dan menambah sumber minyak Irak.
Dengan kekhawatiran-kekhawatiran tersebut maka tak heran jika muncul tindakan-tindakan
yang membawa ketegangan dan memicu peperangan pada puncaknya.
4. Percobaan pembunuhan terhadap pejabat Irak
Pertengahan tahun 1980, terjadi percobaan pembunuhan kepada Deputi Perdana menteri Irak,
Tariq Aziz. Irak segera bertindak dengan menangkap sejumlah orang yang diduga terlibat
atas percobaan pembunuhan tersebut dan mendeportasi ribuan warga Syiah berdarah Iran
keluar dari Irak. Pemimpin Irak, Saddam Hussein, menyalahkan Iran sambil menyebut ada
agen Iran yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor
pendorong meletusnya perang Irak-Iran.
5. pemicu khusus terjadinya Perang Teluk I antara lain:
Adanya serangan granat pada tanggal 1 April 1980 terhadap wakil Perdana Menteri
Irak Tariq Aziz yang diduga bertanggung jawab atas aksi-aksi survesi terhadap Iran.
Adanya pengusiran ribuan keturunan Iran oleh Saddam, serta melancarkan serangan
yang sengit terhadap pribadi Khomeini dan membatalkan perjanjian Algiers.
Sedangkan Menlu Iran Shodeh Godzadeh berjanji untuk menumbangkan rezim Baath
yang berkuasa di Irak serta memutuskan hubungan diplomatic.
Kedua negara saling menempatkan pasukan masing – masing di daerah perbatasan
dalam jumlah yang cukup besar.
Terjadinya perang pers dan media masa antar kedua belah negara.
Pada 17 September 1980, presiden Saddam Hussein secara sepihak membatalkan
Perjanjian Algiers tahun 1975 sebab pada waktu itu Saddam Hussein merasa bahwa
Perjanjian Algiers tidak adil untuk Irak, pada saat pembuatan perjanjian itu kedua
belah negara tidak dalam posisi yang seimbang dimana Irak pada waktu itu sebagai
negara yang kalah dengan Iran. kemudian Iran melihatnya sebagai pernyataan perang
pada 20 September 1980.
Menurut para pengamat ada dua faktor yang menyebabkan invansi yang dilakukan
Saddam ke Iran, pertama, adanya kekhawatiran dikalangan penguasa negara Arab terhadap
kemungkinan menularnya revolusi Khoehenni kenegara-negara Arab. Dan yang kedua,
ambisi Saddam Hussein untuk bisa tampil sebagai pemimpin Arab.
B. Proses terjadinya Perang Teluk 1
Perang Teluk I tersebut berlangsung selama hampir 8 tahun. Setidaknya ada tiga hal
yang penting yang dapat ditarik dari perang antara Irak dan Iran yang terjadi pada tahun
1980-1988. Pertama, tidak ada pihak yang menjadi pemenang secara mutlak dalam perang
Irak-Iran. Baik pihak Iran maupun Iran sama-sama menderita kerugian yang besar. Dapat
dikatakan bahwa dalam perang Teluk I, Irak mendapat separuh kemenangan, sedangkan Irak
menderita setengah kealahan. Kedua, prediksi Irak dalam perang Teluk I sangat meleset.
Perang yang diperkirakan hanya berlangsung singkat ternyata berlarut-larut sampai 8 tahun.
Iran yang semula diremehkan dan dalam waktu singkat dapat segera ditakhlukan, ternyata
melakukan perlawanan yang sengit, sehingga Iran yang semula berada di pihak defensiff
kemudian menjadi ofensib. Ketiga, akibat perang teluk I ternyata membuat dampak yang luar
biasa, terutama bagi Irak, terutama untuk biaya dan ganti rugi perang. Dampak perang teluk
bagi Irak tersebut kemudian memicu dan menjadi salah satu faktor terjadinya perang teluk II
antara Irak dan Kuwait.
Perang ini terbagi dalam beberapa alur atau periode tahun, dimana setiap periode
tersebut mempunyai makna sendiri bagi masing-masing negara sebab menjadi ajang balas
dendam atas serangan-serangan yang saling dilancarkan. Adapun babak-babak tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut :
1. Tahun 1980-1982 : Penyerbuan Oleh Irak
Ada 2 sasaran Irak dalam serangannya ke Iran : menguasai wilayah-wilayah strategis serta
kaya minyak di Iran & mencegah tersebarnya revolusi Islam ke negara-negara sekitarnya.
Dalam serangannya, Irak menginginkan kemenangan cepat atas Iran dengan memanfaatkan
situasi internal Iran yang masih belum stabil pasca revolusi Islam. Irak juga berharap kalau
masyarakat di Iran akan menyalahkan pemerintahan baru negaranya sehingga sebagian dari
mereka terutama dari golongan Arab Sunni - kemudian akan membelot kepada Irak.
Tanggal 22 September 1980, jet-jet tempur Irak menyerang 10 pangkalan udara milik Iran
dengan tujuan menghancurkan pesawat tempur Iran di darat, taktik yang dipelajari dari
kemenangan Israel atas Arab dalam Perang 6 Hari. Serangan dari pasukan udara Irak berhasil
menghancurkan gudang amunisi & jalur transportasi darat, namun sebagian besar pesawat
Iran tetap utuh sebab terlindung dalam hanggar yang terlindungi secara khusus. Kegagalan
Irak menghancurkan pesawat-pesawat tempur Iran dalam serangan kejutan tersebut
memberi peluang bagi Iran untuk melancarkan serangan udara balasan ke Irak.
Sehari kemudian, Irak melakukan serangan darat ke wilayah Iran dari 3 front sekaligus. Inti
dari serangan tersebut adalah untuk menguasai Khuzestan & Shat t al-Arab di mana 4 dari 6
divisi pasukan Irak dalam penyerbuan dikirim untuk menguasai kedua wilayah tersebut.
Sisanya dipecah jadi 2 untuk menguasai front utara (Qasr-e Shirin) & f ront tengah (Mehran)
untuk mengantisipasi serangan balik yang mungkin dilakukan oleh Iran. Hasilnya, usai
serangan mendadak itu Irak berhasil menguasai wilayah Iran seluas 1.000 km persegi.
Bulan November 1980, pasukan Irak melancarkan serangan ke 2 kota penting yang strategis
di Iran selatan, Shabadan & Khorramshahr. Dalam penyerbuannya itu, pasukan Irak
mendapat perlawanan sengit dari pasukan Pasdaran (Garda Revolusi) Iran. Kedua kota
tersebut akhirnya berhasil dikuasai Irak pada tanggal 10 November 1980. Tercatat belasan
ribu pasukan dari kedua kubu terbunuh dalam pertempuran di kedua kota tersebut.
Keberhasilan Irak menguasai kedua kota tersebut sekaligus menjadi keberhasilan terakhir
Irak mencaplok wilayah mayor dari Iran.
Iran yang tertekan sempat berusaha melakukan serangan balasan kepada Irak pada awal
tahun 1981, namun gagal sebab presiden Iran, Bani Sadr, nekat memimpin langsung
pasukan reguler Iran sekalipun dia hanya memiliki pengetahuan militer yang minim. Ia
mengirimkan 3 resimen pasukan reguler tanpa didukung oleh Pasdaran & tidak
memperhitungkan waktu serangan di saat hujan yang bakal menyulitkan suplai logistik.
Akibatnya, pasukan Iran dikepung pasukan Irak & banyak dari kendaraan lapis baja Iran yang
hancur atau perlu ditinggalkan sebab terjebak dalam lumpur.
Serangan balasan Iran yang jauh lebih efektif sebenarnya sudah dilakukan beberapa hari
sejak Irak pertama kali membombardir pangkalan udara milik Iran. Pesawat-pesawat F-4
milik Iran melakukan serangan ke wilayah Irak & secara efektif berhasil melumpuhkan
sejumlah titik penting di sana. Keberhasilan tersebut membuat pasukan udara Iran terlihat
lebih superior dibandingkan pasukan udara Irak. Namun, kurangnya amunisi & suku cadang
yang hanya bisa didapatkan dari AS negara sekutu Iran yang berbalik memusuhi Iran pasca
revolusi Islam membuat Iran seiring waktu jadi lebih banyak memakai helikopter yang
dipasangi persenjataan darat sebagai pendukung pasukan dari udara.
2. Tahun 1982 : Titik Balik & Mundurnya Irak
Pasukan Irak dalam serangan kilatnya berhasil memanfaatkan momentum lemahnya
koordinasi pasukan Iran & problem alutsista milik Iran sehingga para pengamat yakin bahwa
perang akan segera berakhir dengan kemenangan Irak hanya dalam waktu beberapa minggu.
Plus, Irak memang berhasil menguasai wilayah-wilayah strategis Iran dalam serangannya itu.
Namun, Iran enggan menyerah begitu saja & dalam perkembangannya berhasil memukul
balik Irak.
Problem bagi Iran dalam perang adalah dari segi alutsista atau persenjataan, mereka kalah
superior dibanding Irak yang saat itu memang merupakan salah satu negara dengan kekuatan
militer terbaik di Timur Tengah selain Israel. Untuk mengantisipasinya, sejak perang meletus
Iran merekrut ratusan ribu milisi sukarela yang disebut Basij (Tentara Rakyat). Basij tidak
memiliki pengalaman militer & persenjataan yang memadai, namun mereka memiliki
keyakinan sangat tinggi akan agamanya & tidak segan-segan melakukan tindakan berani mati
semisal menerobos ladang ranjau atau area yang dihujani tembakan artileri musuh saat
diperintahkan.
Pasukan Irak di wilayah Iran dalam perkembangannya tidak bisa bergerak lebih jauh lagi
sejak bulan Maret 1981 setelah pasukan mereka dikalahkan oleh milisi Basij yang jumlahnya
mencapai ribuan di Sungai Kanun. Sejak itu, Irak lebih banyak melakukan taktik defensif
untuk mempertahankan wilayah taklukan mereka & hanya terjadi sedikit pergeseran di garis
depan. Faktor utamanya adalah kesalahan prediksi di mana Irak memperkirakan warga Arab
Sunni di Iran bakal membantu mereka. Namun faktanya, mereka bersama rakyat Iran lainnya
justru bersatu dan bahu-membahu melawan Irak.
Titik balik bagi Iran terjadi pada bulan Maret 1982 dalam operasi militernya di bawah kode
sandi "Operasi Kemenangan yang Tak Dapat Disangkal" (Operation Undeniable Victory).
Dalam operasi militer tersebut , pasukan gabungan Pasdaran-Basij milik Iran berhasil
menembus garis depan pasukan Irak yang sebelumnya dianggap tidak bisa ditembus &
memecah pasukan Irak di utara & selatan Khuzestan sehingga pasukan Irak terpaksa mundur.
Bulan Mei 1982, Iran berhasil merebut kembali wilayah Khorramshahr. Dalam pertempuran
memperebutkan wilayah tersebut , Irak kehilangan 7.000 tentara, sementara Iran 10.000
sehingga menjadikan pertempuran itu sebagai salah satu pertempuran paling berdarah dalam
inisiatif serangan balik Iran. Sejak kemenangan tersebut , Iran berganti menjadi pihak yang
menekan Irak dan pada bulan Juni berhasil mendapatkan kembali seluruh wilayahnya yang
sebelumnya dikuasai oleh Irak.
Saddan Hussein yang melihat bahwa moral pasukannya sudah terlanjur runtuh akibat
serangkaian kekalahan melawan Iran pun menyatakan akan segera menarik seluruh
pasukannya dari Iran & menawarkan gencatan senjata kepada Iran. Tawaran gencatan senjata
itu mencakup pembayaran ganti rugi perang sebesar 70 juta dollar AS oleh negara-negara
Arab. Iran menolak tawaran gencatan senjata tersebut sambil menyatakan bahwa mereka
akan menyerbu Irak & tidak akan berhenti sampai rezim yang berkuasa di Irak digantikan
oleh pemerintahan republik Islam.
3. Tahun 1982-1988 : Penyerbuan Oleh Iran
Bulan Juli 1982, Iran melancarkan serangannya ke kota Basra, Irak, di bawah kode sandi
"Operasi Ramadhan". Dalam serangan tersebut, puluhan ribu anggota Basij & Pasdaran
mengorbankan diri mereka dengan berlari melewati ladang ranjau untuk memberi jalan bagi
tank-tank di belakangnya di mana selain menghadapi bahaya ranjau, mereka juga dihujani
tembakan artileri pasukan Irak. Irak berhasil mencegah Iran merengsek lebih jauh berkat
ketangguhan persenjataannya di garis pertahanan, namun Irak juga harus kehilangan
sejumlah kecil wilayah sebab dikuasai Iran.
Keberhasilan Iran memukul balik Irak & berbalik menjadi negara penyerbu membawa
kekhawat iran tersendiri bagi AS yang kemudian memutuskan untuk membantu Irak sejak
tahun 1982. Presiden AS, Ronald Reagan, menyatakan bahwa negaranya akan berusaha
membantu dengan cara apapun untuk mencegah Irak kalah. Selain dari AS, dukungan untuk
Irak juga datang dari Uni Soviet & Liga Arab. Di lain pihak, Iran sendiri selama perang
hanya mendapat dukungan secara terbuka dari Suriah & Libya.
sebab keberpihakan terang-terangan AS ke Irak, maka cukup mengejutkan ketika AS
diketahui juga membantu Iran dengan jalan menjual persenjataan ke Iran secara diam-diam
(dikenal sebagai skandal Iran-Contra). Henry Kissinger, salah satu tokoh penting Gedung
Putih, menyatakan bahwa AS merasa baik Irak & Iran sama-sama tidak boleh kalah untuk
mencegah dominasi dari pihak pemenang di kawasan tersebut. Israel juga dikabarkan menjual
persenjataan ke Iran secara diam-diam kendati kedua negara tidak lagi menjalin hubungan
diplomatik pasca Revolusi Islam di Iran, namun Iran sendiri hingga sekarang selalu
membantah kabar tersebut.
Kembali ke medan perang, Iran berpikir bahwa Irak bisa direbut dengan melacarkan
serangan besar-besaran dari berbagai front. Maka pada tahun 1983, Iran melakukan 3
penyerbuan besar yang disusul 2 penyerbuan lainnya dengan mengerahkan ratusan ribu
personil tentaranya. Iran sempat berhasil menembus garis pertahanan Irak, namun Irak
berhasil memukul balik Iran dengan melakukan serangan udara mendadak secara besar-
besaran. Hingga akhir tahun 1983, tercatat 120.000 personil Iran & 60.000 personil Irak
tewas dalam peperangan.
Irak berusaha memaksa Iran menghentikan perang & menuju meja perundingan dengan
berbagai cara. Di awal tahun 1984, Irak membeli sejumlah alutsista baru dari Uni Soviet &
Prancis. Tak lama kemudian, Irak melakukan serangan udara ke sejumlah kota dengan
persenjataan barunya itu. Irak berharap Iran merasa tertekan & kemudian menerima tawaran
dari Irak untuk berunding di tempat netral, namun nyatanya Iran tetap menolak tawaran
berunding dari Irak.
Iran yang kehilangan begitu banyak personilnya akibat sejumlah penyerbuan yang gagal
sebelumnya belum mengendurkan serangan. Bulan Februari 1984, Iran menggelar "Operasi
Fajar" (Operation Dawn) yang ditargetkan ke kota Kut al-Amara dengan tujuan memotong
jalur perairan yang menghubungkan Baghdad & Basra. Dalam operasi militer itu, Iran
mengerahkan 500.000 personil Basij & Pasdaran.
Pertempuran dalam Operasi Fajar sekaligus menjadi seperti head-to-head kekuatan militer
yang dominan di masing-masing negara. Iran unggul jumlah tentara tapi kekurangan alutsista
pendukung macam pasukan udara & artileri sehingga Iran banyak menjalankan taktik
mengerubungi pertahanan musuh dengan tentara (human wave attack), sementara Irak kalah
jauh dalam hal jumlah tentara tapi unggul dalam hal alutsista. Periode antara tanggal 29
Februari hingga 1 Maret merupakan salah satu episode pertempuran terbesar dalam Perang
Irak-Iran di mana dalam pertempuran itu, masing-masing pihak kehilangan 20.000
tentaranya.
Iran kembali melancarkan agresi militer antara akhir Februari hingga Maret 1984 di bawah
kode sandi "Operasi Khaibar" dengan memakai sejumlah serangan pendobrak ke Kota Basra.
Agresi militer tersebut berujung keberhasilan pasukan Iran merebut Pulau Majnun yang kaya
minyak. Irak sempat melancarkan serangan balik untuk merebut wilayah tersebut , termasuk
dengan memakai senjata kimia. Namun pasukan Iran tetap berhasil mempertahankan pulau
tersebut hingga menjelang akhir perang.
Walaupun berada pada posisi tertekan, pada tahun 1985 Irak masih sempat melakukan
penyerbuan balik ke Iran dengan menyerang Tehran & kota-kota pent ing lainnya di Iran usai
mendapatkan bantuan finansial dari negara-negara Arab sekutunya & bantuan alutsista
terbaru dari Uni Soviet, Cina, & Perancis. Serangan Irak tersebut tidak membawa perubahan
yang signifikan dalam alur peperangan sebab sekalipun wilayahnya diserang, di tahun yang
sama Iran tetap melakukan penyerbuan ke wilayah Irak di bawah kode sandi "Operasi
Badar".
4. Tahun 1984-1988 : Perang Taker
Tahun 1984, Irak yang baru mendapat bantuan pesawat tempur Super Etentard terbaru dari
Perancis melakukan operasi militer di laut mulai dari muara Shat t’ el-Arab hingga
pelabuhan Iran di Bushehr. Target dari operasi militer tersebut adalah semua kapal yang
bukan berbendera Irak di wilayah operasi militer, baik itu kapal berbendera Iran maupun
kapal netral yang dari atau menuju Tehran. Tujuannya adalah untuk memblokade ekpsor
minyak Iran & mempengaruhi ekonominya sehingga Iran mau berunding dengan Irak.
Kebijakan militer Irak tersebut lalu mengawali babak baru dalam perang yang dikenal
sebagai "perang tanker".
Jika ditelusuri, sebenarnya perang tanker sudah dimulai sejak tahun 1981 di mana pasukan
laut Irak saat itu menargetkan titik- titik penting milik Iran di laut seperti pelabuhan &
kilang minyak. Dalam operasi militernya di laut tersebut, Irak lebih banyak memakai
angkatan udaranya untuk melakukan serangan. "Perang tanker fase I" tersebut berlangsung
selama 2 tahun setelah baik Irak maupun Iran kekurangan armada kapal untuk meneruskan
operasi militernya. Baru pada tahun 1984, Irak memutuskan untuk kembali melakukan
operasi militer di laut sekaligus mengawali babak baru "perang tanker fase II"
Perang tanker fase II dimulai ketika Irak menyerang kapal berbendera Yunani di sebelah
selatan Kepulauan Khark pada bulan Maret 1984. Iran lantas membalasnya dengan
menyerang kapal-kapal berbendera Kuwait di dekat Bahrain & Arab Saudi di perairan Arab
Saudi sendiri. Serangan tersebut sekaligus menjadi peringatan dari Iran bahwa jika Irak tetap
nekat melanjutkan perang tanker, tak akan ada kapal milik negara Teluk yang bakal selamat.
Suatu ancaman yang dampaknya tidak ringan sebab berpotensi melumpuhkan aktivitas
pengangkutan minyak mentah di kawasan tersebut.
Upaya Irak untuk memblokade jalur transportasi minyak Iran gagal melumpuhkan ekonomi
Iran sebab ketika Irak memblokade kawasan teluk, Iran hanya memindahkan pelabuhannya
ke Kepulauan Larak di dekat Selat Hormuz sehingga aktivitas ekspor minyaknya relatif
tidak terganggu. Di lain pihak, justru Irak yang perekonomiannya terancam setelah Suriah,
sekutu Iran saat itu memblokade pipa minyak Irak ke Mediterania sejak tahun 1982. Sebagai
antisipasinya, Irak pun mengalihkan aktivitas ekspor minyaknya lewat Kuwait dan jalur pipa
minyak baru dibangun melewati Laut Merah serta Turki.
5. Tahun 1987-1988 : Ikut Campurnya Amerika Serikat (AS)
Situasi perang tanker yang semakin membabi buta sebab ikut menargetkan kapal-kapal
tanker dari negara-negara yang netral membuat Kuwait meminta bantuan pihak
internasional pada tahun 1986. Uni Soviet adalah negara pertama yang merespon dengan
mengirimkan kapal-kapal perangnya untuk mengawal kapal tanker Kuwait. Kebijakan Uni
Soviet lalu diikuti oleh AS pada tahun 1987 yang sebenarnya sudah didekati Kuwait lebih
dulu.
Ikut campurnya AS dalam Perang Irak- Iran sebenarnya disebabkan sebab kapal perangnya,
USS Stark, tertembak oleh pesawat tempur Irak sehingga 13 awak kapalnya meninggal. Irak
meminta maaf kepada AS sambil mengatakan bahwa itu adalah kecelakaan. Ironisnya, AS
justru malah menyalahkan Iran dengan alasan Iranlah yang menyebabkan peperangan
semakin berkobar & kemudian diikuti dengan tindakan AS untuk mengirim armada lautnya
untuk mengawal kapal-kapal tanker milik Kuwait yang mengibarkan bendera AS.
Tujuan utama AS dalam penerjunan armada lautnya di sekitar Teluk adalah untuk
mengisolasi Iran & menjaga agar kapal-kapal bebas berlayar di sana. AS baru melancarkan
serangan langsung ke Iran dengan menghancurkan kilang minyak Iran di ladang minyak
Rostam setelah pasukan Iran menenggelamkan kapal tanker Kuwait berbendera AS, Sea Isle
City. Setahun kemudian, tepatnya bulan April 1988, AS kembali menyerang kilang minyak &
kapal-kapal perang Iran setelah kapal perangnya, USS Samuel B. Roberts, tenggelam akibat
ranjau laut Iran.
Tanggal 3 Juli 1988, kapal perang AS, USS Vincennes, menembak jatuh pesawat sipil Iran
sehingga seluruh penumpang & awak pesawatnya tewas. AS berdalih kalau pasukannya salah
mengira bahwa pesawat sipil tersebut adalah pesawat tempur Iran sebab tidak
mengidentifikasikan dirinya ke kapal perang sebagai pesawat sipil. Namun, klaim AS
tersebut dibantah oleh Iran dan sumber independen lainnya seperti bandara Dubai yang
menyatakan kalau pesawat tersebut sudah mengidentifikasikan dirinya ke kapal AS sebagai
pesawat sipil melalui radio.
6. Tahun 1988 : Gencatan Senjata dan Pasca Perang
Antara bulan April hingga bulan Agustus 1988, arah pertempuran mulai kembali
menguntungkan Irak setelah Irak berhasil meraih beberapa kemenangan penting atas Iran.
Dalam pertempuran pada kurun waktu tersebut, Irak juga berhasil merebut sejumlah besar
alutsista milik Iran & menguasai kembali Semenanjung Al-Faw serta Kepulauan Majnun
yang kaya minyak. Iran yang mulai terdesak akhirnya mau menerima Resolusi Dewan
Keamanan PBB 598 sehingga Perang Irak- Iran yang sudah berlangsung selama 8 tahun pun
berakhir pada tanggal 20 Agustus 1988.
Perang Iran- Irak membawa kerugian besar bagi kedua belah pihak, baik dari segi material
dan korban jiwa. Jumlah kerugian material bagi masing-masing negara diperkirakan
mencapai 500 juta dollar AS. Sebagai akibatnya, pembangunan ekonomi menjadi terhambat
dan ekspor minyak kedua negara terganggu. Jumlah kerugian lebih besar harus ditanggung
Irak yang selama perang memangaktif mencari pinjaman uang untuk menambah alutsista.
Tidak diketahui secara pasti berapa jumlah korban tewas dalam Perang Irak-Iran. Beberapa
sumber memperkirakan bahwa jumlah korban tewas Irak mungkin mencapai 200.000 jiwa
lebih, sementara Iran mencapai 1 juta jiwa sebagai akibat dari taktik militer Iran yang banyak
mengorbankan tentaranya untuk berhadap-hadapan langsung dengan moncong senjata
musuh. Jumlah tersebut belum termasuk mereka yang meninggal kemudian akibat luka
parah dan penyakit, termasuk akibat penggunaan senjata kimia Irak yang berdampak jangka
panjang.
Selain kerugian material dan korban jiwa, tidak ada perubahan berarti pasca perang. Wilayah-
wilayah yang menjadi bahan sengketa statusnya kembali seperti sebelum perang dan batas
antara kedua negara juga tidak banyak berubah. Wilayah perairan Shatt al-Arab contohnya,
tetap dibagi menjadi milik kedua negara dengan batasnya adalah titik terdalam pada perairan.
Pasca perang, kedua negara juga melakukan perbaikan hubungan bilateral.
C. Dampak Konflik Teluk 1
a. Dampak Negatif yang Ditimbulkan :
1. Dalam Bidang Ekonomi :
Perekonomian Irak mengalami kehancuran serta terkena blokade ekonomi dan sanksi
dari PBB
Kerugian besar bagi kedua belah pihak, dari segi material jumlah kerugian material
bagi masing-masing negara diperkirakan mencapai 500 juta dollar AS.
Jumlah kerugian lebih besar harus ditanggung Irak yang selama perang memang aktif
mencari pinjaman uang untuk menambah persenjataan
Pembangunan ekonomi di kedua negara menjadi terhambat dan ekspor minyak kedua
negara terganggu.
Produksi minyak yang menurun drastis mempenagruhi perekonomian dunia,
khususnya bagi industri-indstri di dunia Barat dan Jepang.
Ladang minyak dari kedua negara mengalami kerusakan, untuk Irak di daerah Kirkuk,
Basra dan Fao, sedangkan untuk Iran mengalami kerusakan di pulau Kharg dan
Abadan.
2. Dalam Bidang Sosial :
Jumlah korban jiwa, jumlah korban tewas Irak mungkin mencapai 200.000 jiwa lebih,
sementara Iran mencapai 1 juta jiwa sebagai akibat dari taktik militer Iran yang
banyak mengorbankan tentaranya untuk berhadap-hadapan langsung dengan moncong
senjata musuh. Jumlah tersebut belum termasuk mereka yang meninggal kemudian
akibat luka parah dan penyakit, termasuk akibat penggunaan senjata kimia Irak yang
berdampak jangka panjang.
Perpecahan di negara Arab memicu rasa tidak nyaman dan suasana kehidupan
sehari-hari yang tegang dan tercekang yang disebabkan adanya perperangan.
Irak yang menuduh Iran terlibat dalam percobaan pembunuhan terhadap Deputi
Perdana Menteri Irak sehingga langsung mendeportasi ribuan warga Syi’ah berdarah
Iran keluar dari Irak.
3. Dampak Bidang Politik :
Amerika Serikat semakin kuat pengaruhnya di Timur Tengah.
Adanya sikap anti USA dari pihak Irak (Amerika Serikat).
Proses jalannya pemerintahan di kedua negara menjadi kurang efisien dan terhambat
sebab adanya perang ini.
4. Dampak Bidang Kemiliteran :
Banyak korban peperangan ini tidak hanya dari non sipil namun juga dari kemiliteran
di kedua negara yang banyak tewas dan luka-luka serta cacat fisik dalam peperangan
ini.
Banyak persenjataan dan alat-alat kemiliteran yang digunakan pada peperangan ini
rusak berat atau bahkan tidak dapat digunakan lagi.
b. Dampak Positif yang Ditimbulkan :
o Selain kerugian materi dan korban jiwa, tidak ada perubahan berarti pasca perang.
Wilayah-wilayah yang menjadi bahan sengketa statusnya kembali seperti sebelum
perang dan batas antara kedua negara juga tidak banyak berubah. Wilayah perairan
Shatt al-Arab contohnya, tetap dibagi menjadi milik kedua negara dengan batasnya
adalah titik terdalam pada perairan.
o Teknologi persenjataan perang yang canggih di antara kedua negara yang meningkat
pesat sehingga berpengaruh positif bagi peningkatan persenjataan kemiliteran masing-
masing negara.
D. pemicu terjadinya Perang Teluk II
Perang teluk II dimulai ketika Irak melakukan Invasi ke Kuwait pada tanggal 2 Agustus
1990. Irak dengan strategi gerak cepat langsung menguasai Kuwait. Invasi yang dilakukan
Irak ke Kuwait ini disababkan oleh kemerosotan ekonomi Irak setelah terjadiya Perang
Delapan Tahun dengan Iran dalam Perang Irak – Iran. Akibat invasi ini, Arab Saudi meminta
bantuan Amerika Serikat tanggal 7 Agustus 1990. Sebelumnya Dewan Keamanan PBB
menjatuhkan embargo ekonomi pada 6 Agustus 1990. Amerika Serikat mengirimkan bantuan
pasukannya ke Arab Saudi yang disusul negara-negara lain baik negara-negara Arab kecuali
Syria, Libya dan Yordania serta Palestina. Kemudian datang pula bantuan militer Eropa
khususnya Eropa Barat (Inggris, Perancis dan Jerman Barat), serta beberapa negara di
kawasan Asia.
Selain itu Invasi Irak ke Kuwait ini juga disebabkan oleh kemerosotan ekonomi Irak setelah
Perang Delapan Tahun dengan Iran dalam perang Iran-Irak. Irak sangat membutuhkan petro
dolar sebagai pemasukan ekonominya sementara rendahnya harga petro dolar akibat
kelebihan produksi minyak oleh Kuwait serta Uni Emirat Arab yang dianggap Saddam
Hussein sebagai perang ekonomi serta perselisihan atas Ladang Minyak Rumeyla sekalipun
pada pasca-perang melawan Iran, Kuwait membantu Irak dengan mengirimkan suplai minyak
secara gratis. Selain itu, Irak mengangkat masalah perselisihan perbatasan akibat warisan
Inggris dalam pembagian kekuasaan setelah jatuhnya pemerintahan Usmaniyah Turki.
Sebab umum terjadinya perang:
Ambisi Saddam Husein untuk tampil sebagai orang yang dihormati di negara-negara
Arab
Kuwait dituduh Irak mencuri minyak Irak di Padang Rumeila yang terletak di
perbatasan kedua negara (dipersengketakan)
Kuwait menolak tuntutan Saddam untuk membayar ganti rugi dan memberikan daerah
Rumailah dan Pulau Bubiyan.
Irak mengalami kerusakan infrastruktur ekonomi dan membengkaknya utang akibat
Perang Teluk 1.
Penguasa Irak sering mengklaim Kuwait sebagai wilayah kekuasaannya, sebab
perbatasan antara kedua negara tersebut tidak jelas.
Sebab Khusus terjadinya perang:
Terjadinya pelanggaran kuota minyak oleh Kuwait, Arab, dan Uni Emirat Arab
sehingga produksi melimpah, akibatnya harga minyak anjlok. Irak yang waktu itu
sangat mengandalkan pendapatan negara dari sektor minyak sangat terpukul dengan
peristiwa ini. Irak waktu itu sedang membangun negaranya yang rusak akibat perang
dengan Iran. Sumber dana diandalkan dari minyak sebab irak merupakan negara
penghasil minyak yang diandalkan negara lain
Adanya serangan Irak terhadap Kuwait tanggal 2 Agustus 1990 yang berhasil
menduduki wilayah Kuwait.
E. Proses Terjadinya perang Teluk II
Pada awalnya Saddam mengira jika AS tidak akan menganggu agenda Irak tersebut
mengacu pada dukungan sebelumnya pada Perang Persia I, akan namun diluar dugaan, PBB
dan AS menuntut Irak untuk hengkang dari wilayah Kuwait. Presiden Mesir, Hosni Mubarak
pun mencoba menjadi penengah konflik antara Irak-Kuwait namun tidak berhasil. Ketika
diplomasi tidak menemukan hasil, hanya dalam kurun waktu satu minggu AS berhasil
membentuk pasukan koalisi berjumlah ribuan pasukan berpusat di Arab Saudi. 16 Januari
1991, tentara AS beserta koalisi dibawah otoritas PBB menyerang wilayah Irak dan wilayah
Kuwait yang diduduki Irak melalui serangan udara.
Irak menanggapi dengan meluncurkan rudal Seud menuju pos-pos militer musuh, serta
mengarahkan rudal kepada Israel dengan tujuan Tel Aviv, dengan maksud memancing Israel
untuk ikut masuk dalam perang. Ini adalah taktik Saddam untuk membredel koalisi antara AS
dan bangsa Arab. Dengan asumsi apabila Israel menjawab pancingan tersebut dan
menerjunkan pasukan untuk ikut menggempur Irak, maka negara-negara Arab akan
melepaskan diri dari koalisi akibat perang Arab-Israel yang masih berlarut-larut, sehingga
kekuatan AS akan berkurang sebab hengkangnya bantuan bangsa Arab. Strategi ini tidak
berhasil sebab AS menjamin Israel aman dari jangkauan rudal Irak. Israel tidak menggubris
pancingan Irak.
Pada masa ini untuk memojokkan Irak, isu mengenai senjata biologis yang digunakan Irak
untuk menyerang pasukan Iran kembali digulirkan setelah tidak digubris sama sekali.
Sebelumnya kantor berita Iran, IRNA, menuduh bahwa Irak telah meluncurkan senjata kimia
lainnya ke medan tempur sebelah selatan, dan melukai 600 tentara Iran.
Senjata kimia itu adalah bis-(2-chlorethyl)-sulfide, atau lebih dikenal dengan sebutan gas
mustard dan etil N, N-dimethylphosphoroamidocyanidate, gas saraf atau dikenal sebagai
Tabun. Pada saat itu Kementrian Luar Negeri AS dalam laporannya tanggal 5 Maret 1984
menyatakan, “Ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Irak menggunakan senjata kimia
yang mematikan.” Akan namun Rumsfeld yang berada di Baghdad tidak membicarakan
masalah tersebut meskipun ada laporan dari Kementrian Luar Negeri AS. Sebaliknya, harian
The New York Times pada edisi 29 Maret 1984 dari Baghdad memberitakan, “para diplomat
Amerika menyatakan mereka puas dengan hubungan antara Irak dan Amerika Serikat dan
menyarankan agar hubungan diplomatic secara formal dipulihkan.” Berita ini kembali
diangkat untuk mendesak Irak dan memancing dukungan dari Iran, namun tidak berhasil.
Setelah itu AS menggempur dengan serangan darat selama 3 hari dimulai 23 hingga 26
Februari 1991 yang akhirnya memukul mundur pasukan Irak dari Kuwait. Akibat kelelahan
menghadapi musuh yang tidak diduga, ditambah gejolak internal pemberontakan Syi’ah etnis
Kurdi yang memanas membuat Irak semakin terdesak. Pada 27 February, George W. Bush
memerintahkan gencatan senjata pada Irak. 3 Maret 1991 Irak mematuhi mandate AS dengan
menerima Resolusi DK PBB 660, 662, dan 674 dan perang berakhir.
Setelah kalah dalam perang menginvasi Kuwait, Irak mengalami beberapa konsekuensi yang
haru dihadapi:
1) Sanksi ekonomi dan perdagangan internasional
2) Jumlah korban yang besar
3) Pelucutan persenjataan oleh PBB
4) memicu pemberontakan dari Syi’ah dan etnis Kurdi untuk mendapatkan hak-
haknya yang selama ini dikekang oleh Saddam Hussein. Supreme Council of the Islamic
Revolution in Irak (SCIRI) medapatkan dukungan lisan dari AS melalui pidato George W.
Bush lewat radio untuk menggulingkan pemerintahan Saddam Hussein. Akan namun pada 28
Maret 1991 Saddam mengumumkan pemberontak Syi’ah Irak selatan dapat dikendalikan,
kemudian menyusul 30 maret 1991 pada pemberontak Kurdi
Sedangkan pihak aliansi yang mendukung Irak seperti Yaman dan PLO pun mengalami masa
sulit setelah kekalahan perang Irak melawan Kuwait. Hubungan antara Yaman dan Arab
Saudi memanas, dan PLO kurang mendapatkan bantuan kembali dari dunia Arab untuk
memperjuangkan Palestina.
Mengenai dukungan pada agenda perang Irak kali ini telah jelas menggambarkan bahwa baik
AS maupun Liga Arab tidak mendukung kebjakan Saddam Hussein untuk menginvasi
Kuwait. Hal ini didsampaikan melalui KTT Kairo pada Agustus 1990 dengan hasil
musyawarah setuju untuk membentuk pasukan keamanan guna membantu angkatan
bersenjata Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya.
F. Dampak terjadinya Perang Teluk II
Perang Teluk II yang berlangsung lebih singkat daripada Perang Teluk I, ternyata
membawa akibat yang tidak kalah hebatnya dengan Perang Teluk I. Akibat-akibat itu sebagai
berikut.
1) Ladang-ladang minyak Kuwait rusak berat sebab dibakar oleh Irak.
2) Negara dan perekonomian Irak rusak berat sebab gempuran tentara multinasional dan
blokade ekonomi serta embargo yang diterapkan PBB.
3) Peranan Amerika Serikat semakin kuat di Timur Tengah.
4) Kekuatan Israel semakin tidak ada tandingannya.
5) Timbulnya semangat anti-Amerika.
6) Perpecahan negara-negara Arab.
7) Irak membayar ganti rugi.
8) Irak harus mengizinkan tim inspeksi nuklir PBB memeriksa nuklir Irak.
9) Irak kena embargo ekonomi.
Setelah beberapa tahun krisis Kuwait berakhir, memasuki tahun 2002 terjadi konflik
antara Irak dengan pihak Amerika Serikat. Melalui PBB, AS menuduh Irak telah
mengembangkan senjata nuklir dan senjata pemusnahan massal lainnya.
Beberapa penyidik yang dibentuk PBB diturunkan di Irak untuk membuktikan
tuduhan tersebut. Mereka bergabung dalam United Nations Monitoring Verification
Commision (UNMOVIC), yaitu tim inspeksi senjata PBB yang ditugaskan untuk menyelidiki
adanya usaha pengembangan senjata pemusnah massal Irak. Pemimpin UNMOVIC adalah
Hans Blix.
Untuk kepentingan tersebut PBB mengeluarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB No.
1441 pada tanggal 18 November 2002. Isi resolusi tersebut adalah menuntut Orak untuk
mengizinkan dan memberikan akses sepenuhnya kepada UNMOVIC dan International
Atomic Energy Agency (IAEA) atau Badan Energi Atom Internasional, untuk meneliti segala
hal yang berkaitan dengan persenjataan yang dimiliki Irak.
Perang Teluk I antara irak dan iran ini terjadi sebab adanya Perseteruan historis
antara negeri Mesopotamia (sekarang Iraq), dengan Persia (sekarang Iran). Antara lain yaitu
masalah ketegangan akibat ketatnya persaingan, menoritas etnis, dan juga orientasi politik
luar negeri yang berbeda dan juga Sengketa atas Sungai Shatt al-Arab dan Khuzestan yang
kaya akan hasil minyaknya. Hasil minyak ini sangat menguntungkan dan memicu daya
tarik setiap negara selain itu Munculnya Revolusi Islam di Iran yang notabene Saddam
Hussein ialah Anti Iran ini juga ikut mempengaruhi terjadinya Perang Teluk I ini serta
Percobaan Pembunuhan Terhadap Pejabat Irak yang juga ikut mempengaruhi terjadinya
perang Teluk I ini antara iran dan irak.
Kemudian terkait dengan jalannya perang Teluk I ini, maka di bagi menjadi beberapa
periode yaitu yang pertama Periode Tahun 1980-1982 ( Penyerbuan oleh Irak ) yaitu Irak
melakukan berbagai serangan terhadap Iran guna menguasai wilayah dan mencegah Revolusi
Islam Iran.yang kedua Periode Tahun 1982-1984 ( Titik Balik Mundurnya Irak ) yaitu Iran
tidak tinggal diam. Iran balas melancarkan berbagai Operasi militer untuk membalas
serangan-serangan dari Irak. Dan hal tersebut telah berhasil memukul mundur tentara militer
Irak.yang ketiga Periode Tahun 1984-1988 ( Perang Tanker ) yaitu Tahun 1984, berkat
bantuan pesawat tempur Super Etentard terbaru dari Perancis, Irak melakukan operasi militer
di laut mulai dari muara Shatt el-Arab hingga pelabuhan Iran di Bushehr. Target dari operasi
militer tersebut adalah semua kapal yang bukan berbendera Irak di wilayah operasi militer.
Tujuannya adalah untuk memblokade ekpsor minyak Iran dan mempengaruhi ekonominya
sehingga Iran mau berunding dengan Irak.yang keempat Periode Tahun 1987-1988 ( Ikut
Campurnya AS ).dan yang terakhir adalah Periode Tahun 1988 (Gencatan Senjata) yaitu
Perang akhirnya berakhir setelah Iran menerima Resolusi Dewan Keamanan PBB 598 dan
secara resmi mengakhiri perang yang sudah terjadi selama 8 tahun pada tanggal 20 Agustus
1988.
Dampak Kerugian Perang Irak-Iran ini, antara lain Kerugian besar bagi kedua belah
pihak, dari segi material jumlah kerugian material bagi masing-masing negara diperkirakan
mencapai 500 juta dollar AS. Jumlah korban jiwa, jumlah korban tewas Irak mungkin
mencapai 200.000 jiwa lebih, sementara Iran mencapai 1 juta jiwa sebagai akibat dari taktik
militer Iran yang banyak mengorbankan tentaranya untuk berhadap hadapan langsung dengan
moncong senjata musuh.Jumlah tersebut belum termasuk mereka yang meninggal kemudian
akibat luka parah dan penyakit, termasuk akibat penggunaan senjata kimia Irak yang
berdampak jangka panjang. Jumlah kerugian lebih besar harus ditanggung Irak yang selama
perang memang aktif mencari pinjaman uang untuk menambah persenjataan.Pembangunan
ekonomi menjadi terhambat dan ekspor minyak kedua negara terganggu.
Perang Teluk II yaitu Invasi Irak ke Kuwait ini disebabkan oleh kemerosotan ekonomi
Irak setelah Perang Delapan Tahun dengan Iran dalam perang Iran-Irak. Irak sangat
membutuhkan petro dolar sebagai pemasukan ekonominya sementara rendahnya harga petro
dolar akibat kelebihan produksi minyak oleh Kuwait serta Uni Emirat Arab yang dianggap
Saddam Hussein sebagai perang ekonomi serta perselisihan atas Ladang Minyak Rumeyla
sekalipun pada pasca-perang melawan Iran, Kuwait membantu Irak dengan mengirimkan
suplai minyak secara gratis. Selain itu, Irak mengangkat masalah perselisihan perbatasan
akibat warisan Inggris dalam pembagian kekuasaan setelah jatuhnya pemerintahan
Usmaniyah Turki.
Proses terjadinya Perang Teluk II yaitu Tanggal 2 agustus 1990, dibawah komando
pemerintahan saddam hussein irak dengan 100.000 tentaranya menyerang kuwait yang saat
itu hanya memiliki tentara 20.000 dapat dengan mudah dikuasai tanpa perlawanan yang kuat.
Penguasa kuwait Ahmad El Sabah terpaksa melarikan dirinya ke Arab Saudi untuk meminta
pertolongan.Invasi tersebut benar benar di tentang oleh dunia internasional, terbukti dalam
konferensi di Cairo, Liga Arab mengeluarkan pernyataan bahwa Irak harus segera menarik
mundur pasukannya dari Kuwait. Pada tanggal 8 Agustus 1990, AS, Inggris, Perancis,
Australia dan negara Liga Arab pun melakukan Operasi Perisai Gurun (Desert Shield
Operation). Namun operasi ini belum sampai menyerang irak yang berada di daerah kuwait,
dan operasi ini pun diganti menjadi Operasi Badai Gurun (Desert Storm Operation) dibawah
jendral Norman Schwarzkopf (AS). Operasi ini membuat Irak dibombardir oleh pesawat-
pesawat pasukan koalisi. Dalam perang tersebut terjadi unjuk persenjataan. Pihak koalisi
menjatuhkan rudal Patriot untuk menangkal rudal-rudal Scud milik Irak. Rudal juga
ditembakkan ke ibu kota Israel, Tel Aviv, sebab Irak mencurigai Israel terlibat dalam
serangan kenegaraannya.
Perang Teluk II yang terjadi antara irak dan kuwait membawa beberapa dampak
negatif yaitu Ladang-ladang minyak Kuwait rusak berat sebab dibakar oleh Irak dan Negara
dan perekonomian Irak rusak berat sebab gempuran tentara multinasional dan blokade
ekonomi serta embargo yang diterapkan PBB serta Peranan Amerika Serikat semakin kuat di
Timur Tengah.Kekuatan Israel semakin tidak ada tandingannya.Timbulnya semangat anti-
Amerika.Perpecahan negara-negara Arab.Irak membayar ganti rugi.Irak harus mengizinkan
tim inspeksi nuklir PBB memeriksa nuklir Irak dan juga Irak kena embargo ekonomi.













