Tampilkan postingan dengan label misteri tibet 6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label misteri tibet 6. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juli 2026

misteri tibet 6


pat dimana belati itu kutancapkan. Dia bergerak ke

depan, membungkuk dengan hati-hati. Dibalik jubah yang membungkus tubuh yang samar-samar

itu, menjulur perlahan sebuah tangan yang mencoba mengambil belati gaib itu.

Sambil melompat, kuraih cepat belati itu sebelum pencuri itu menyentuhnya.

Jadi, bukan aku satu-satunya orang yang tertarik akan benda itu. Orang ini, yang tidak mudah

terpengaruh seperti teman-temannya yang lain, mengetahui akan nilai phurba itu dan berharap

dapat menjualnya dengan diam-diam. Dia pikir aku telah tertidur dan tak memperhatikannya. Dan

besok, lenyapnya belati gaib itu akan dianggap sebagai andil dari kekuatan gaib dan satu lagi

cerita akan beredar di kalangan mereka yang percaya. Sayangnya skenario yang cerdik itu tak

bakal terwujud, sebab  senjata itu berada di tanganku; aku bahkan menggenggamnya demikian

kuat hingga sarafku, entah sebab  tekanan gading berukir di tanganku atau sebab  kejutan dari

kejadian tadi, memberikan kesan bahwa belati itu bergerak perlahan di telapak tanganku.

Dan sekarang tentang si pencuri itu!

Dataran tandus di sekelilingku kosong. Dia pasti kabur saat aku membungkuk untuk mancabut

belati itu dari tanah.

Aku berlari ke tenda. Orang yang baru saja kembali atau yang tiba sesudah ku pastilah si tersangka.

Kulihat setiap orang sedang duduk sambil membaca mantram untuk melindungi mereka dari

kekuatan jahat. Kupanggil Yongden ke tendaku.

“Ada bhikkhu yang menghilang?” tanyaku padanya.

“Tak ada,” jawabnya. “Mereka sedang ketakutan setengah mati. Untuk membuang hajat saja

mereka tak berani jauh-jauh dari tenda. Sampai harus kumarahi mereka.”

108

Baguslah! Aku pasti telah melihat ‘sesuatu’; namun ini mungkin bisa menjadi kesempatan baik

bagiku.

“Dengarkan,” kataku pada para trapa itu, “Inilah yang telah terjadi.” Dan kuceritakan pada mereka

secara terus terang tentang ilusiku dan juga keraguanku tadi akan kejujuran mereka.

“Beliau itu pastilah Lhama Agung kami!” sahut mereka. “Beliau ingin mengambil kembali phurbanya

dan mungkin jika berhasil beliau akan membunuhmu. Oh! Jetsunma, sebagian orang menyebutmu

seorang philing[69], namun kenyataannya anda benar-benar seorang gomchenma. Lhama tsawai

(bapak spiritual) kami yaitu  seorang ngagspa yang hebat, namun beliau tak mampu mengambil

phurbanya darimu. Sekarang terimalah phurba itu, jagalah ia, dan ia tak akan melukai siapapun

lagi.”

Mereka semua berbicara berbarengan, bersemangat sekaligus juga takut sebab  berpikir bahwa

lhama ngagspa mereka – yang lebih menakutkan dari sebelumnya sejak ia berada di dunia lain –

telah berada begitu dekat dengan mereka, dan pada saat yang sama juga merasa lega, sebab 

telah terbebas dari belati berkekuatan gaib itu.

Aku juga berbagi kebahagiaan dengan mereka, namun dengan alasan yang berbeda: phurba itu

menjadi milikku. Namun bagaimanapun, rasanya tak baik mengambil keuntungan dari pikiran

mereka yang sedang kebingungan itu.

“Pikirkan kembali,” kataku. “Mungkin pikiranku tertutup kabut. Mungkin saja aku tadi ketiduran saat

sedang duduk disana dan itu semua hanya mimpi.”

Sebenarnya tidak demikian. Sang Lhama telah datang, aku melihatnya dan ia tak dapat mengambil

phurba itu : maka aku, dengan kekuatan superiorku, menjadi pemiliknya yang sah.

Kuakui bahwa aku membiarkan diriku dengan mudah diyakinkan….

109

110

Latihan-Latihan untuk Mengatasi Ketakutan – Menantang Para

Setan

 

Sangat sukar untuk menemukan suatu negeri yang mampu menyaingi Tibet dalam hal kekayaaan

dan keanekaragaman mitos-mitosnya mengenai dunia para hantu dan setan. Jika kita bergantung

pada kepercayaan-kepercayaan populer, kita dapat menyimpulkan bahwa jumlah roh-roh jahat

melebihi populasi manusia ‘Negeri Bersalju’ ini.

Dalam ribuan wujud, makhluk-makhluk jahat ini diyakini berdiam di pepohonan, bebatuan, lembah-

lembah, danau-danau, mata-mata air, dan tempat-tempat yang lain. Cenderung dianggap sebagai

pengacau, yang senantiasa memburu manusia dan binatang untuk mencuri nafas kehidupan

mereka dan kemudian memangsanya. Mereka berkeliaran untuk mencari kesenangan, melintasi

hutan belantara hingga daerah pegunungan sehingga setiap pengembara beresiko bertemu

dengan salah satu dari mereka di setiap tikungan jalan.

Para ngagspa lhamais diberi wewenang untuk mengubah atau menundukkan para tetangga yang

berbahaya ini agar mereka dapat menghentikan aktifitas-aktifitas mereka yang tak diinginkan dan

mentransformasikan mereka menjadi pelayan-pelayan yang patuh. Para ngagspa biasanya saling

berkompetisi dalam seni ini, namun hampir selalu, praktek mereka ditujukan untuk memanfaatkan

kekuatan makhluk jahat yang telah mereka jinakkan ini untuk kepentingan mereka sendiri, bahkan

untuk tujuan-tujuan yang kurang lebih sama jahatnya.

Dalam dunia mistis orang Tibet, mereka mempunyai kebiasaan berbisnis dengan para setan

dalam urusan latihan kejiwaan. Hal ini meliputi pertemuan yang memang sengaja diincar para

siswa, baik untuk menantang makhluk halus itu ataupun untuk memberikan persembahan. Ritual ini

sangat berbeda dengan ritual-ritual yang telah kita bahas di awal bab ini. Walaupun ritual-ritual ini,

juga, menurut pikiran kita kadang kelihatan tak masuk akal bahkan menjijikkan, namun tujuan

mereka sebenarnya cukup mulia, misalnya untuk melepaskan diri dari rasa takut, membangkitkan

rasa belas kasih tak terbatas yang akan membawa ke kebebasan seutuhnya, dan pada akhirnya,

kepada pencerahan spiritual.

Pernah terjadi, walaupun tak sering, orang-orang naif yang meyakini keberadaan ribuan setan itu

sengaja datang menemui seorang lhama mistis, dan sebab  sangat berkeinginan menjalani

kehidupan religius, memohon pada sang lhama untuk diterima sebagai murid.

Orang-orang polos ini diterima dengan baik, mereka kemudian dikirim kembali ke desanya dan

diberi wejangan tentang moralitas dan berbuat kebajikan pada semua orang. Beberapa di antara

mereka yang menunjukkan kemajuan ke arah pencerahan, akan diberikan ajaran-ajaran yang lebih

mendalam lagi.

Jika ia yaitu  seorang lhama yang benar-benar ahli dalam metode ‘Jalan Pendek’, perhatian

pertamanya yaitu  memberikan kesempatan pada si siswa baru untuk membebaskan dirinya dari

ketakutan akan bermacam setan. Penjelasan dan demonstrasi yang panjang mengenai kebenaran

dan kesalahan bukanlah bagian dari metode para guru mistis ini. Mereka cukup menempatkan

para siswa itu pada suatu keadaan yang memungkinkan mereka mengalami sendiri kejadian-

kejadian ini  dan merasakan sensasinya sehingga mereka dapat memetik pelajaran dari

sana. Sejauh apa manfaat yang dapat diraih dari pengalaman seperti itu tergantung pada tingkat

kecerdasan siswa itu.

Seorang anak muda yang kukenal dikirim oleh gurunya – seorang lhama dari Amdo – ke sebuah

111

Seorang anak muda yang kukenal dikirim oleh gurunya – seorang lhama dari Amdo – ke sebuah

jurang yang gelap dan terpencil dimana diyakini dihuni oleh roh jahat. Di sana ia disuruh untuk

mengikat dirinya ke sebatang pohon atau sebuah batu, dan malamnya memanggil sang Towos

yang ganas, yang digambarkan oleh para pelukis Tibet sebagai pemakan otak manusia, dia harus

menantangnya.

Setakut apapun ia nantinya, ia diharuskan untuk menahan godaan untuk melepaskan ikatannya dan

melarikan diri. Dia harus bertahan di sana hingga pagi menjelang.

Ini hampir merupakan latihan yang klasik. Latihan seperti itu dijalani hampir semua siswa muda

Tibet sebagai langkah awal dalam menapaki jalan mistis.

Terkadang para siswa diharuskan tetap tinggal dalam keadaan terikat selama tiga hari dan tiga

malam, atau bahkan lebih lama, tanpa makan dan minum, tanpa tidur, pengalaman yang didapat

hanya kelelahan dan kelaparan semata, keadaan yang sangat mudah terjebak dalam halusinasi.

Latihan seperti itu dengan sendirinya membawa resiko yang sangat besar. saat  kami sedang

dalam pengembaraan di Lhasa, aku dan Yongden mendengar kisah ini dari seorang lhama tua dari

Tsarong. Duduk di pojok ruangan, si ‘ibu yang tak jelas’ demikian julukanku waktu itu, tak

melupakan satu kata pun.

Di masa mudanya, lhama ini dan adik lelakinya, Lodö, meninggalkan biara mereka untuk mengikuti

seorang pertapa pengembara dari wilayah lain yang pada suatu waktu pernah menjalani pertapaan

di sebuah bukit bernama Phagri - sebuah tempat ziarah terkenal tak jauh dari Dayul.

Pertapa itu memerintahkan adiknya untuk mengikat lehernya ke sebatang pohon di sebuah hutan

yang menurut orang-orang dihuni oleh Thags yang, setan yang acap muncul dalam wujud seekor

harimau, yang naluri ganasnya sebenarnya berasal dari setan itu.

Saat terikat sebagai korban di tempat persembahan itu, si anak muda harus membayangkan

dirinya sebagai seekor kerbau yang memang diletakkan di sana untuk dipersembahkan pada

Thags yang itu. Dengan terus memusatkan pikiran pada ide itu dan kemudian melenguh,

menyamakan dirinya seutuhnya sebagai binatang itu, ia akan – jika konsentrasinya cukup kuat –

mencapai suatu keadaan ‘kerasukan’, dimana ia akan kehilangan seluruh kesadaran akan jati

dirinya dan kemudian merasakan penderitaan seekor kerbau yang berada dalam keadaan bahaya

sebab  akan segera menjadi santapan.

Latihan ini berlangsung selama tiga hari tiga malam berturut-turut. Empat hari sudah berlalu namun

si siswa muda tak kembali pada gurunya. Di pagi hari kelima, guru ini  berkata pada siswanya

yang tertua:

“Aku mendapat mimpi yang aneh semalam. Pergilah menjemput adikmu.”

Bhikkhu itu pun menurut.

Sebuah pemandangan yang mengerikan telah menantinya di hutan itu. Mayat Lodö, yang telah

tercabik-cabik dan setengahnya telah disantap, masih terikat di pohon, sementara darah

berceceran di antara semak belukar.

Orang yang ketakutan itu segera mengumpulkan sisa jasad yang mengerikan itu di jubah biaranya

dan bergegas kembali pada gurunya.

Saat tiba di pondok dimana sang guru dan kedua muridnya tinggal, tempat itu telah kosong. Lhama

itu telah pergi, membawa semua barang-barangnya, dua artikel  keagamaan, beberapa  peralatan

ritual, dan tongkat bepergiannya yang bercabang tiga di puncaknya.

112

“Saat itu rasanya aku hampir gila,” kata orang tua itu. “Kepergian yang mendadak itu menakutkanku

lebih dibandingkan  penemuan jasad adikku yang sudah tidak utuh itu.”

“Apa sebenarnya mimpi guru kami? Apakah dia sudah mengetahui nasib salah seorang siswanya?

Kenapa dia pergi?…”

Walaupun sama tidak tahunya dengan bhikkhu yang malang itu apa sebenarnya alasan perginya

sang lhama, namun aku menduga bahwa saat menyadari muridnya tak kembali, ia khawatir sesuatu

yang buruk telah menimpa si anak muda dalam hutan yang dihuni binatang buas itu. Mungkin saja ia

benar-benar mendapat informasi misterius lewat mimpinya tentang kejadian tragis ini , dan

berpikir barangkali lebih bijaksana menghindar dari amukan kemarahan dan balas dendam

anggota keluarga korban itu.

Tentang kematian siswa muda itu sendiri, sebenarnya dengan mudah dapat dijelaskan. Harimau

kumbang sering terlihat di daerah itu, beberapa  macan tutul juga berkeliaran di sana. Aku telah

bertemu dua ekor beberapa hari sebelum mendengar cerita ini.[70] Salah satu dari satwa-satwa ini,

yang mungkin dipancing kesana oleh bhikkhu itu sendiri lewat lenguhannya, barangkali telah

memangsanya sebelum ia sempat melepaskan ikatannya dan mempertahankan diri.

Namun interpretasi yang cukup berbeda mengenai kisah yang menyedihkan ini datang dari orang

yang menceritakan kisah ini serta mereka yang duduk mengelilinginya. Menurut mereka harimau

jadi-jadian itu yang telah mengambil pemberian yang secara sembrono dipersembahkan

kepadanya.

Siswa muda itu, menurut mereka, tak mengetahui tentang mantram gaib dan tata cara untuk

mempertahankan diri. Dan dalam hal ini kesalahan gurunya amat besar, sebab  seharusnya ia tidak

dikirim untuk menantang harimau-setan itu tanpa dibekali ajaran-ajaran dan rumusan ritual yang

menjadi senjata ampuh dalam keadaan demikian.

Namun dari lubuk jiwanya yang paling dalam, sang bhikkhu, yang terluka sebab  rasa cinta pada

saudaranya, menyimpan sebuah ide yang lebih mengerikan yang lalu dia utarakan dengan suara

perlahan dan gemetar.

“Siapa tahu,” katanya, “bisa saja lhama aneh itu yaitu  harimau-setan itu sendiri yang mewujudkan

diri sebagai manusia untuk memperoleh korban. Dia tidak dapat membunuh adikku yang malang

saat masih berwujud manusia, namun suatu malam saat aku telah tertidur lelap, dalam wujud

harimau ia pergi ke hutan dan memuaskan nafsu binatangnya.”

Kata-kata terakhir orang tua itu dibalas dengan keheningan. Dia mungkin telah berkali-kali

mengisahkan episode mengerikan dari masa mudanya yang telah lama berlalu itu, namun para

pendengarnya sekali lagi benar-benar terkesima.

Mungkinkah hal itu akan terjadi lagi? Thags yang dan setan-setan yang lain masih terus

bergentayangan di seluruh pedesaan dan mengikuti setiap pengembara, mencari kesempatan

pada mereka yang tak cukup terlindungi. Semua orang yang berada di sana percaya akan hal itu.

Di dapur besar berpenerangan api redup yang melompat ke sana sini di perapian, seorang wanita

melemparkan pandangannya ke kertas-kertas jimat yang tertempel di dinding, seolah-olah hendak

memastikan bahwa kertas-kertas itu masih berada di sana.

Sang kakek pergi ke ruangan sebelah dimana lampu persembahan malam menyala di altar

keluarga, dan semerbak wangi dupa yang ia nyalakan segera datang menghampiri untuk

menenangkan ketegangan kami.

113

Meskipun orang mungkin menduga bahwa beberapa  kecelakaan pasti terjadi pada ritual-ritual itu,

namun sebenarnya hal itu jarang sekali terjadi. Jadi kelihatannya masuk akal jika pada akhirnya si

siswa menjadi ragu akan keberadaan makhluk-makluk halus itu sebab  sesudah  menghabiskan

waktu cukup lama duduk di tempat-tempat berhantu untuk menantang roh-roh jahat, namun makhluk-

makhluk itu tak kunjung menampakkan diri.

Aku telah bertanya tentang hal ini kepada beberapa orang lhama.

“Keraguan kadang muncul,” jawab seorang Geshes dari Derge.[71] “Sebenarnya, itu merupakan

salah satu tujuan terpenting dari para guru mistis, namun jika si siswa mencapai keadaan

kesadaran ini sebelum saat yang tepat, dia akan kehilangan sesuatu yang ingin diperoleh melalui

latihan-latihan ini, yakni keberanian.

“Lagi pula, para guru tidak akan menyetujui keraguan yang dangkal, mereka menganggap itu

bertentangan dengan kebenaran. Setiap siswa harus memahami bahwa para dewa dan setan

benar-benar ada bagi mereka yang percaya akan keberadaannya, dan mengerti bahwa makhluk-

makhluk itu memiliki kekuatan untuk memberi berkah atau melukai mereka yang memuja atau takut

pada mereka.

“Namun bagaimanapun, sangat sedikit yang mencapai tahap keraguan di awal latihan mereka.

Kebanyakan siswa pemula sebenarnya melihat kemunculan-kemunculan yang menakutkan.”

Aku tak berniat menentang pendapat yang terakhir ini, beberapa kejadian menunjukkan bahwa hal

ini memang sudah tertanam dalam pikiran mereka. Kegelapan, aspek khas dari tempat-tempat

yang dipilih sebagai tempat pertemuan dengan makhluk-makhluk yang menakutkan, dan

kemampuan yang dimiliki orang-orang timur dalam memvisualisasikan pikiran-pikiran mereka,

lebih dari cukup untuk menciptakan halusinasi. Namun bolehkah kita mengelompokkan semua

fenomena yang disaksikan oleh para pelaku ritual ganjil itu sebagai halusinasi? Orang-orang Tibet

menegaskan tidak.

Aku berkesempatan berbincang dengan seorang gomchen dari Ga (Tibet Timur) yang dipanggil

Kushog Wanchen mengenai kematian mendadak saat sedang memanggil para setan.

Lhama ini kelihatannya tak percaya takhyul dan kupikir ia akan sependapat denganku tentang hal

ini.

“Mereka yang mati itu dibunuh oleh rasa takut. Penglihatan mereka yaitu  hasil dari imajinasi

mereka sendiri. Dia yang tak percaya akan setan takkan terbunuh olehnya.”

Aku lebih terkejut lagi saat sang pertapa menjawab dalam nada suara yang khas.

“Sebagaimana seorang yang tidak mempercayai keberadaan harimau, dia akan senantiasa

merasa yakin bahwa tak seekor harimau pun yang dapat melukainya bahkan saat berhadapan

langsung dengan binatang buas itu.”…

Dan ia melanjutkan:

“Memvisualisasikan bentuk-bentuk mental, baik disengaja atau tidak, yaitu  proses yang paling

misterius. Apa akibat dari kreasi-kreasi ini? Tidakkah itu seperti anak-anak yang terlahir dari tubuh

kita, anak-anak dari pikiran kita ini memisahkan kehidupannya dari kehidupan kita, keluar dari

kendali kita, dan memainkan peran sendiri?…[72]

“Tidakkah kita mempertimbangkan juga bahwa bukan hanya kita yang mampu menciptakan bentuk-

114

bentuk yang demikian? Dan jika entitas yang demikian ada di dunia ini, apakah tak mungkin kita

berkesempatan bersentuhan dengan mereka, baik menurut keinginan penciptanya atau sebab 

sebab-sebab lain? Apakah tidak mungkin pikiran atau tindakan kita yang menyediakan suatu

kondisi bagi salah satu dari sebab-sebab ini sehingga memungkinkan entitas-entitas ini

memanifestasikan semacam aktifitas?

“Aku akan memberikan sebuah ilustrasi,” lanjutnya. “Jika anda berada di tempat yang kering agak

jauh dari tepian sungai, ikan-ikan takkan pernah menghampiri anda. Namun cobalah buat parit kecil

antara sungai dan tempat dimana anda berada dan buatlah sebuah kolam di tempat yang kering

itu, maka saat air memasukinya, ikan-ikan pun datang dari sungai dan anda akan melihatnya

berenang di depan mata anda. Kenyataannya, hanya sedikit yang dapat menduga apa isi gudang

besar dunia ini yang mereka penuhi tanpa sadar.” Dan dengan nada ringan ia mengakhiri: “Setiap

orang harus mengetahui bagaimana mempertahankan diri dari harimau yang telah ia ciptakan, atau

terhadap apapun yang lahir dari orang lain.”

115

116

Jamuan Makan Gaib yang Menakutkan

 

Teori-teori ini dan yang hal-hal sejenisnyalah yang menjadikan tempat ini sebagai tanah latihan

yang tepat untuk pergulatan mental dengan musuh-musuh yang misterius, sebagaimana bentuk

khas dari ritual-ritual yang akan dipraktekkan pada kesempatan-kesempatan berikut ini.

Ritual yang paling fantastis dari ritual-ritual yang ada yaitu  apa yang disebut dengan chöd[73]

(pemenggalan). Itu yaitu  semacam pertunjukkan ‘Mistery’ yang dimainkan oleh seorang aktor

tunggal, yakni si pelaku ritual, yang benar-benar dirancang untuk menakuti para siswa pemula yang

sering mendengar orang-orang yang tiba-tiba menjadi gila atau mati saat melaksanakan

pertunjukkannya.

Tempat pemakaman, atau tempat-tempat lain yang memiliki aspek fisik membangkitkan rasa takut,

dianggap sebagai tempat yang paling tepat. Dan suatu tempat akan dianggap lebih memenuhi

syarat lagi jika ia memiliki legenda yang mengerikan atau jika ada sebuah kejadian tragis yang

baru saja terjadi di sana.

Alasan yang membuat tempat-tempat ini lebih diminati yaitu  sebab  efek dari chöd, atau ritual-

ritual sejenisnya, tidak hanya semata-mata bergantung pada perasaan yang timbul dalam pikiran si

pelaku ritual akibat syair-syair mantram, ataupun suasana hikmat di sekelilingnya. Ritual ini

dirancang untuk membangkitkan kekuatan-kekuatan gaib, atau makhluk-makhluk yang

berkesadaran yang – menurut orang-orang Tibet – berada di tempat-tempat seperti itu, yang telah

dihasilkan baik oleh perbuatan-perbuatan yang nyata ataupun dari konsentrasi pikiran banyak

orang di kejadian-kejadian yang tak nyata.

Selanjutnya, selama pertunjukan chöd itu, yang kubandingkan dengan sebuah drama yang

dimainkan oleh seorang aktor tunggal, sang aktor akan melihat dirinya dikelilingi oleh pemain-

pemain dari alam gaib yang mulai memainkan peran yang tak terduga. Terlepas di bagian mana

sugesti-diri atau visualisasi berperan dalam proses penciptaan fenomena ini , namun hal-hal

ini dianggap sangat bermanfaat untuk memberikan hasil akhir yang baik bagi sebuah pelatihan;

namun  percobaan menunjukkan bahwa hal-hal ini juga terlalu menegangkan saraf beberapa siswa

pemula yang masih dalam proses belajar, sehingga akibatnya terjadilah kecelakaan seperti yang

aku jelaskan sebelumnya: kegilaan dan kematian.

Seperti halnya aktor yang lain, seseorang yang ingin menjalankan chöd pertama-tama haruslah

mempelajari perannya dengan sepenuh hati. Kemudian ia harus melatih tarian ritual, langkah-

langkahnya berbentuk geometris, dan berputar dengan satu kaki, menghentakkan kaki juga

melompat-lompat sesuai dengan irama pembacaan mantram. Akhirnya, ia harus belajar

menguasai, sesuai peraturan, lonceng, dorjee, belati gaib (phurba), memukul sejenis drum kecil

(damaru) sesuai irama dan meniup terompet yang terbuat dari tulang paha manusia (kangling).

Tugas itu tidaklah mudah. Aku lebih dari sekali kehabisan nafas selama masa belajarku.

Sang guru lhama yang menyutradarai latihan itu mestilah semacam guru balet. Namun di

sekelilingnya tak tampak gadis-gadis penuh senyum yang bercelana panjang ketat berwarna merah

muda. Para penari yaitu  para pertapa muda yang kerempeng sebab  latihan yang keras, berjubah

lusuh, wajah-wajah mereka yang tak dibasuh diterangi oleh sinar mata yang riang, keras, dan tegas.

Mereka sedang menyiapkan diri, sebagaimana yang mereka pikirkan, untuk menghadapi suatu

usaha yang berbahaya, dan pemikiran akan jamuan makan yang menyeramkan dimana mereka

harus mempersembahkan tubuh mereka untuk disantap para setan kelaparan, benar-benar

117

menakutkan mereka.

Dalam keadaan yang demikian, ‘latihan’ yang harusnya tampak lucu itu malah menjadi agak

menyedihkan.

Keterbatasan tempat mencegahku untuk menerjemahkan kata chöd menjadi extenso. Ritual ini

meliputi pendahuluan-pendahuluan mistis yang panjang selama sang naljorpa ‘menanggalkan’

semua nafsunya dan menyalibkan keegoisannya. Bagian-bagian terpenting dari ritual ini akan

kujelaskan secara ringkas.

Si pelaksana ritual meniup trompet tulangnya, memanggil para setan untuk menikmati makanan

yang telah dipersembahkan di hadapan mereka. Dia membayangkan seorang dewa perempuan,

yang penjelmaan esoteriknya tergantung keinginan sang aktor, muncul dari atas kepalanya dan

kemudian berdiri di depannya sambil memegang sebilah pedang.

Dengan satu sabetan ia memenggal kepala sang naljorpa. Kemudian, saat segerombolan makhluk

kelaparan berkerumun untuk menikmati pesta makan, sang dewi memotong anggota tubuhnya,

mengulitinya dan merobek perutnya. Isi perut pun tumpah keluar, darah mengalir seperti sungai, dan

para tamu menyeramkan itu menggigit di sana sini, mengunyah dengan berisik, sementara si

pelaku ritual menyemangati dan mendorong mereka dengan kata-kata dari mantram pengorbanan

diri.

“Bertahun-tahun, untuk kelahiran-kelahiran yang baru, aku telah meminjam dari makhluk hidup yang

tak berhingga banyaknya – yang dibayar dengan kesenangan dan kehidupan mereka – makanan,

pakaian, semua jenis layanan untuk mempertahankan tubuhku, untuk tetap merasa nyaman dan

untuk mencegah dari kematian. Hari ini aku membayar hutangku, mempersembahkan tubuhku,

yang selama ini kudekap erat, untuk dihancurkan.

“Aku berikan dagingku pada mereka yang kelaparan, darahku untuk mereka yang kehausan, kulitku

untuk dijadikan pakaian bagi mereka yang telanjang, tulangku sebagai bahan bakar untuk mereka

yang kedinginan. Aku berikan kebahagiaanku pada mereka yang tak bahagia. Aku berikan nafasku

untuk menghidupkan mereka yang sekarat.

“Kupermalukan diriku jika aku ketakutan untuk mempersembahkan diriku! Kau permalukan dirimu,

makhluk halus yang malang[74], jika kau tak berani menerimanya….”

Lakon ‘Misteri’ ini disebut ‘makanan yang nyata’. Kemudian ia akan diikuti oleh ‘makanan gelap’,

yang pengertian mistisnya hanya dibabarkan pada para siswa yang telah menerima pentabhisan

tingkat tinggi.

Pemandangan jamuan makan yang seram itu pun menghilang, suara tertawa dan teriakan para

makhluk mereda. Keheningan total menggantikan pesta ganjil di tempat suram itu, dan

pengagungan diri yang timbul pada sang naljorpa sebab  pengorbanannya yang dramatis itu

perlahan menghilang.

Sekarang dia harus membayangkan bahwa ia hanyalah tumpukan kecil tulang-tulang manusia yang

lahir dari sebuah danau berlumpur hitam – lumpur penderitaan, moral yang tercela, dan karma-

karma buruk yang telah bekerjasama dengannya dalam menyambung kehidupan yang tak terbatas

jumlahnya, yang asal mulanya hilang ditelan waktu. Dia harus menyadari bahwa inti dari

pengorbanannya tak lain yaitu  ilusi, sebuah hasil dari kebutaan, kebanggaan yang tak berdasar.

Pada kenyataannya, ia tak punya apapun untuk dipersembahkan, sebab  ia tak memiliki apa-apa

(hampa). Tulang-tulang yang tak berguna ini, yang melambangkan penghancuran dari perwujudan

‘diri’, mungkin akan tenggelam dalam danau berlumpur ini , namun hal itu tak menjadi

118

masalah.

Pemasrahan diri sang pertapa yang menyadari bahwa ia tak mempunyai apapun untuk diserahkan,

dan yang semata hanya melepaskan kegembiraan akan ide yang muncul dari upacara

pengorbanan itu, akhirnya menutup ritual ini .

beberapa  lhama melakukan banyak perjalanan untuk melaksanakan chöd di seratus delapan danau

dan seratus delapan tempat pemakaman. Mereka menghabiskan masa bertahun-tahun untuk

latihan ini, mengembara bukan hanya ke seluruh Tibet, namun juga India, Cina dan Nepal. Yang lain

hanya beristirahat di tempat yang sepi untuk melaksanakan ritual harian chöd untuk waktu yang

lama ataupun singkat.

Chöd memiliki aspek yang mengagumkan yang tak dapat disampaikan hanya dalam sebuah

tulisan singkat dan dibaca di lingkungan yang jauh berbeda dengan tempat-tempat dimana ritual ini

dilaksanakan. Seperti kebanyakan orang lain, aku pun menyerah pada daya tarik khasnya yakni

simbolisme yang kaku dan terpesona akan tanah liar Tibet yang alami dan fantastis.

Saat pertama kali aku melakukan perjalanan aneh itu seorang diri, aku berhenti di sebuah danau

jernih yang dikelilingi tepian berbatu. Pemandangan di sekitarnya, yang sepenuhnya tandus dan

tenang, menghilangkan semua perasaan takut atau aman, kebahagiaan atau kesedihan. Di sana

seseorang akan merasa seolah tenggelam dalam sebuah jurang kenetralan yang tak berujung.

Malam tengah meredupkan cermin terang dari danau itu, kala aku merenungkan dengan pikiran

yang aneh tentang bangsa yang menciptakan chöd dan praktek-praktek seram lainnya.

Prosesi fantastis mega-mega yang disinari rembulan berbaris di puncak gunung dan menurun ke

lembah yang kemudian mengelilingiku dengan sekelompok wujud yang samar-samar. Salah satu

wujud itu melangkah ke depan dan berjalan di atas cahaya, tiba-tiba muncul di atas air yang hitam,

seolah ada selembar karpet terbentang di bawah kakinya.

Makhluk transparan itu, yang kedua matanya berbentuk bintang, membuat isyarat dengan tangan

panjangnya yang muncul dari balik jubahnya yang mengambang. Apakah ia memanggilku? Apakah

ia menarikku pergi?… Aku tak dapat menjelaskan.

Kemudian ia berjalan semakin dekat, tampak sungguh nyata, sungguh hidup, hingga aku menutup

mata untuk melenyapkan halusinasi itu. Aku merasakan diriku terbungkus jubah yang dingin dan

lembut yang mana substansi halusnya memasuki diriku, membuatku gemetaran…

Betapa aneh penglihatan-penglihatan yang pasti telah diamati oleh putra-putra negeri yang liar ini.

Para siswa muda ini, yang dibesarkan oleh takhyul, dikirim oleh ayah spiritual mereka melintasi

malam seorang diri dan imajinasi mereka disemangati oleh ritual yang bisa membuat gila ini.

Berapa kali, saat badai menyapu seluruh penjuru atap dunia ini, mereka mendengar jawaban atas

tantangan mereka dan meringkuk ketakutan dalam tenda kecil yang bermil-mil jauhnya dari umat

manusia.

Aku sangat mengerti ketakutan yang dialami oleh beberapa pelaku ritual chöd ini. Namun aku

merasa cerita-cerita yang beredar mengenai efek tragis dari ritual ini terlalu dibesar-besarkan dan

aku menanggapinya dengan skeptis. Namun begitu, seiring berjalannya waktu, aku mengumpulkan

beberapa fakta yang akhirnya memaksaku untuk lebih mempercayai dongeng-dongeng ini.

Satu diantaranya akan kuceritakan.

Kala itu aku sedang berkemah di daerah Tibet Utara. Aku membangun tendaku di sekitar tiga

tenda hitam yang dihuni para penggembala yang mengurus ternaknya selama musim panas, di

119

tenda hitam yang dihuni para penggembala yang mengurus ternaknya selama musim panas, di

sebuah padang rumput thang[75] yang luas.

Keberuntungan, kata yang paling mudah untuk menunjukkan sesuatu yang terjadi tanpa sebab, telah

menuntunku ke sana di saat aku tengah memburu mentega sebab  persediaanku telah menipis.

Para penggembala ini kebetulan yaitu  orang-orang yang baik hati. Kehadiranku di sana sebagai

seorang lhama wanita dan juga seorang pembeli yang membayar dengan perak diterima dengan

baik. Mereka dengan suka rela menawarkan jasa untuk menjaga kuda-kudaku yang akan

menghemat kerja para pembantuku, dan aku pun memutuskan untuk membiarkan orang-orang

beserta kuda-kudaku beristirahat selama seminggu.

Dua jam sesudah  aku tiba, aku telah dapat mengenal mereka yang berada di sekitarku. Jujur saja,

tak ada yang perlu untuk diceritakan.

Kekosongan padang rumput sunyi yang terhampar ke empat penjuru, dipecahkan oleh aliran angin

di antara perbukitan, sementara di atasnya terbentang langit yang agung, berkilauan dan hampa.

Namun begitu, ada sebuah objek menarik di gurun itu; aku mendengar bahwa seorang lhama, yang

berasal dari suatu tempat di utara, di antara bangsa Mongolia, telah memilih sebuah gua dekat

perkemahan kami untuk melakukan meditasi selama musim panas.

Bersamanya, kata para penggembala, terdapat dua orang trapa, para siswanya, yang tinggal di

sebuah tenda kecil di bawah kediaman pertapa guru mereka. Kedua orang ini tak punya pekerjaan

lain selain membuat teh, dan mereka menghabiskan waktu dengan melaksanakan latihan

keagamaan. Mereka kerap bepergian di waktu malam, dan aku yakin mendengar bunyi damaru,

kangling, dan lonceng menemani upacara yang dilakukan oleh dua orang itu, di sana sini, di

perbukitan.

Sang lhama, yang bernama Rabjoms Gyatso, sejak tiba tiga bulan yang lalu, tidak pernah

meninggalkan tempatnya.

Dari keterangan yang ada aku menduga bahwa ia tengah melakukan dubthab ataupun latihan

magis yang lain.

Keesokan harinya, saat subuh, aku berangkat ke gua sang lhama. Aku berniat tiba di sana saat

para trapa itu sibuk dengan kebaktian paginya. Kuharap jika aku tak terlihat oleh mereka, aku dapat

mendekati guru mereka dengan tiba-tiba dan melihat apa yang sedang ia lakukan. Ini memang

tidak sesuai dengan ‘etiket’, namun sebab  sudah cukup mengenal kebiasaan para lhama Tibet,

aku takut Rabjoms Gyatso akan menolak untuk menemuiku jika aku meminta izin untuk

mengunjunginya.

Dengan berpedoman pada arah yang ditunjukkan oleh para penggembala, dengan mudah aku

menemukan gua ini  yang terletak di lereng gunung yang mendominasi sebuah lembah kecil

darimana terdengar suara gemercik aliran air. Sebuah tembok rendah yang terbuat dari bebatuan

dan rerumputan serta sebuah tirai kasar dari rambut yak dipasang pada tempat tinggal prasejarah

itu untuk memberi kenyamanan sekaligus menghalangi pandangan orang yang melintas.

Strategiku ternyata gagal. Saat aku mendaki ke arah gua, aku dihentikan oleh seorang pemuda

berwajah pesakitan, berambut awut-awutan, berjubah pertapa compang camping. Aku mendapat

kesulitan saat membujuknya untuk pergi ke gurunya dan meminta izin bertanya jawab dengannya.

Jawaban yang ia bawa cukup sopan, namun berarti tidak. Sang lhama berkata bahwa ia tidak bisa

menemuiku saat itu, namun jika aku kembali lagi pada malam keempat, ia akan menerimaku.

sebab  aku memang berencana tinggal di sana seminggu lagi, dan tak bergegas untuk memulai

120

perjalanan kembali, sebenarnya aku tak berkeberatan atas penundaan itu. Namun, aku juga tak

tahu apakah cukup berharga untuk menunggu sang lhama. Aku mengatakan pada si trapa bahwa

aku akan kembali, namun sebenarnya aku tak berniat untuk itu.

Dua kali sehari, salah satu dari kedua siswa lhama itu melewati tendaku untuk mengambil susu dari

para penggembala. Pemuda kurus yang menghentikanku di dekat gua sang lhama hari itu, menarik

perhatianku sebab  penampilannya yang menyedihkan. Aku pikir aku bisa membantunya dengan

beberapa  obat sekaligus dapat sedikit berbincang dengannya.

Saat aku menyinggung tentang pengobatan, ia menyangkal bahwa ia sedang sakit, dan saat aku

menekannya dengan pertanyaan tentang tulang-tulangnya yang pada menonjol, ekspresi ketakutan

tampak di matanya yang liar. Tidak ada kemungkinan mendapatkan penjelasan darinya. Aku

menyuruh pembantuku untuk bertanya tentang hal ini pada rekannya, namun ia juga tak mau

menjawab sepatah kata pun. Tak seperti masyarakat Tibet umumnya yang senang berbicara,

kedua orang ini senang berdiam diri. sesudah  penyelidikanku itu, mereka pergi ke tenda para

dokpa[76] melalui jalan putar untuk menghindari tempatku, dan hal itu cukup untuk menunjukkan

bahwa mereka tak ingin aku campur tangan, walaupun dengan niat menolong, maka kubiarkan

mereka sendiri.

Aku telah berada di sana selama tujuh hari, kala mendengar bahwa ada seorang lelaki dari sebuah

kelompok penggembala yang tinggal satu mil jauhnya dari tempat kami, di tengah-tengah thang,

baru saja meninggal. Hal ini membuatku memutuskan untuk menunda perjalananku agar dapat

menyaksikan upacara pemakaman.

Dengan tergesa-gesa, dua orang penunggang kuda berangkat ke sebuah camp lhama, atau yang

disebut banag gompa oleh para dokpa – itu yaitu  sebutan untuk sebuah biara yang terdiri dari

beberapa  tenda hitam – yang dapat dicapai dalam dua hari perjalanan. Mereka hendak memohon

jasa dua orang bhikkhu untuk melaksanakan ritual bagi orang yang baru meninggal itu. Hanya para

rohaniawan sebuah biara tempat dimana seorang awam selama ini berhubungan, sebagai putra

spiritual atau umatnya, yang dibenarkan mengatur semua kebutuhan post-mortemnya. Namun

sementara menunggu kedatangan mereka, kedua siswa lhama asing ini  secara bergantian

membaca mantram bagi si mati.

beberapa  teman mendiang, yang telah mendengar berita duka ini , tiba dari berbagai tempat,

memberikan sesuatu untuk menghibur hati keluarga yang ditinggalkan. Kedua penunggang kuda

pun tiba beserta dua orang bhikkhu dan beberapa  kerabat. Lalu pembacaan mantram, bunyi

lonceng, tabuhan drum dan gembreng oleh kedua trapa, dan acara makan dan minum para pelayat,

berlangsung seperti biasa di depan jasad yang terikat dalam banyak lilitan dan didudukkan di

sebuah kaldron besar.

Akhirnya, sesudah  semua selesai, mayat itu dibawa ke sebuah dataran kecil di pegunungan,

dipotong-potong lalu dibiarkan di sana sebagai persembahan tertinggi bagi para burung hering

(burung elang pemakan bangkai).

Sesuai dengan kebiasaan kaum naljorpa, yang kostumnya sedang kupakai, saat malam tiba aku

pun membungkus diriku dalam sebuah ‘zen’[77] tebal dan berjalan ke tempat dimana mayat tadi

diletakkan, bermaksud melewati malam dengan meditasi di sana.

Bulan hampir penuh dan menyinari dengan indahnya dataran maha luas yang terbentang dari kaki

bukit yang tengah kususuri hingga daerah nun jauh di sana. Perjalanan malam di tempat terpencil ini

memberi pesona tersendiri. Aku bisa saja berjalan menikmati pemandangan sepanjang malam,

namun tempat pemakaman yang menjadi tujuanku hanya berjarak kurang dari satu jam dari

121

perkemahanku.

Saat tempat itu sudah dekat, tiba-tiba aku mendengar suara aneh, berupa teriakan parau dan

tajam, memecah keheningan gurun. Suara itu berulang beberapa kali, seakan membelah atmosfir

dimana padang rumput ini terbaring. Kemudian irama menghentak dari sebuah damaru mengikuti.

Bahasa ini cukup jelas buatku. Seseorang – pasti salah seorang siswa sang lhama – telah pergi ke

tempat itu dan melakukan chöd di dekat mayat itu.

Keadaan alam di sana memungkinkanku untuk naik ke sebuah bukit kecil tanpa diketahui dan

bersembunyi di sebuah celah yang terlindung dari cahaya bulan. Dari sana aku dapat mengamati

dengan seksama pelaku chöd ini . Dia yaitu  sang trapa kurus dan beroman pesakitan yang

pernah kutawari obat itu. Dia memakai kostum naljorpa kusam yang biasa ia pakai, rok lipat merah

tua, kemeja kuning berlengan lebar, dan mantel merah tanpa lengan dalam model Cina. Namun kini

jubah biara disampirkan di atas kostum biasanya itu, walaupun jubah itu sama kusamnya, namun

memberikan kesan karisma dan wibawa pada bhikkhu tinggi dan kerempeng itu.

Saat aku tiba, pertapa muda itu tengah melafalkan mantram Prajñàpàramità.

“Oh kebijaksanaan yang telah pergi, pergi,

pergi jauh, dan jauh dari yang jauh: svâhâ!…”

Lalu bunyi dong dong yang monoton dari drum berirama berat menjadi perlahan dan akhirnya

hilang, pertapa muda itu kelihatannya tenggelam dalam meditasi. Tak lama kemudian ia

mengencangkan zennya. Kangling di tangan kirinya, damaru terangkat tinggi di tangan kanannya

dan dipukul dalam irama stakato agresif, anak muda itu berdiri dalam sikap menantang, seakan

tengah menghadapi musuh yang tak kelihatan.

“Aku, naljorpa tanpa rasa takut,” teriaknya, “Aku menghancurkan sang diri, para dewa dan setan.”

Suaranya bahkan kian kuat.

“Hai para lhama, para guru spiritual, para Pahlawan, para Khadoma, yang berjumlah ribuan, datang

dan bergabunglah dalam tarianku!”

Kemudian ia memulai tarian ritual itu, berputar berturut-turut ke empat penjuru, mengulang-ulang

“Aku menghancurkan setan kesombongan, setan kemarahan, setan hawa nafsu, dan setan

kebodohan.”

Setiap teriakan ‘menghancurkan’ ditemani oleh ketukan kaki dan teriakan ritual ‘tsem shes tsem!’

yang makin lama makin keras hingga teriakan terakhir laksana guntur yang memekakkan telinga.

Ia memperbaiki toganya, yang telah terseret di tanah, dan menyisihkan damaru dan trompet

tulangnya, dia membentangkan tenda, memegang pasak di satu tangan, sebuah batu di tangan lain,

kemudian mulai memasang pasak-pasaknya sambil membaca mantram.

Tenda itu sekarang sudah berdiri, sebuah benda kecil terbuat dari kain katun yang dulu harusnya

putih kini tampak keabuan dalam sorotan cahaya bulan. Tenda itu dihiasi kata-kata Aum-Ah-Hum

berwarna merah dan biru dan dijahit di ketiga sisi penutupnya. Beberapa jumbai dari lima warna

gaib – merah, biru, hijau, kuning, dan putih – tergantung di atapnya yang kecil. Keseluruhan tenda itu

sudah pudar dan kusam.

Kelihatannya ada yang mengganggu pikirannya, pertapa kurus itu melihat potongan-potongan jasad

yang berserakan di tanah, kemudian memalingkan wajahnya ke sekeliling seakan hendak

122

memeriksa keadaan. Dia tampak ragu, dan sambil menghela nafas dalam-dalam, ia mengibaskan

tangan di depan jidatnya dua atau tiga kali. Lalu sambil menggoyangkan tubuhnya seolah ingin

membangkitkan keberaniannya, dia mengambil kanglingnya, meniupnya dengan keras beberapa

kali, diawali dengan tiupan lembut, kemudian ia mengakselerasikan iramanya sehingga

menyerupai sebuah panggilan yang menjengkelkan, dan ia memasuki tendanya.

Pemandangan malam yang dihidupkan oleh pertunjukkan tadi, kembali hening.

Apa yang akan kulakukan? Sang naljorpa, aku tahu, takkan meninggalkan tenda sebelum fajar. Tak

ada lagi yang dapat kulihat. Aku tak lagi berminat untuk bermeditasi, sebaiknya aku pergi. Namun

sebab  tak ada alasan untuk terburu-buru, aku pun lanjut mendengarkan.

Pada selang waktu itu, aku mendengar beberapa kata ritual, kemudian suara komat-kamit bernada

rendah yang samar-samar.

Tak ada gunanya lagi aku di sana lebih lama. Dengan hati-hati aku keluar dari tempat

persembunyianku. Kemudian, saat aku berjalan beberapa langkah ke depan, aku mendengar suara

geraman. Seekor binatang dengan cepat berlari melewatiku. Ternyata seekor srigala. Suara gaduh

sang naljorpa tadi telah membuatnya menjauh, dan sekarang sebab  keadaan telah sunyi, ia

bermaksud mendekati santapan yang tergeletak di sana yang memang diperuntukkan bagi

golongannya.

Saat aku mulai mengelilingi bukit kecil itu, dan menuruninya, sebuah teriakan sesaat 

menghentikanku.

“Aku bayar hutangku!” teriak sang naljorpa. “sebab  selama ini aku telah makan darimu maka

sekarang giliranmu menyantapku!

“Datanglah, hei kalian yang kelaparan, dan kalian yang nafsu-nafsunya tak terpuaskan!

“Di jamuan yang kupersembahkan atas belas kasihanku, dagingku akan menjadi benda yang kalian

hasratkan.

“Ini, aku beri kalian ladang yang subur, hutan yang hijau, kebun penuh bunga, baik makanan putih

atau merah, pakaian, obat penyembuh!…Makan! makan!…”

Pertapa yang bersemangat itu meniup kuat kanglingnya, membunyikan teriakan yang mengerikan

sambil melompat-lompat dengan tergesa-tega hingga kepalanya terantuk ke atap tenda. Tenda itu

roboh dan menimpanya. sesudah  bergumul sesaat di balik kain itu, ia pun muncul dengan roman

seorang gila yang menyeramkan, melolong dan kejang-kejang dalam sikap yang menggambarkan

rasa sakit fisik yang luar biasa.

Sekarang aku dapat memaklumi apa arti chöd bagi mereka yang berusaha sedemikian rupa

hingga mereka benar-benar terhipnotis oleh ritual mereka sendiri. Tak diragukan lagi pasti orang itu

tengah merasa digigit beberapa  setan tak terlihat di sekujur tubuhnya.

Dia melihat ke sekeliling dan menyapa para penonton yang tak kelihatan seakan ia tengah

dikerumuni para tamu dari dunia lain. Tampaknya ia tengah melihat semacam pemandangan yang

mengerikan.

Pemandangan ini sangat menarik. Namun aku tak mampu melihatnya tanpa peduli. Anak muda

yang malang ini dapat membunuh dirinya sendiri dengan ritual mengerikan itu. Aku telah

menemukan rahasia dibalik penampilan ‘pesakitan’nya dan kenapa ia berpendapat bahwa obat-

obatanku takkan mampu menyembuhkannya.

123

Aku merasa sangat ingin membangunkannya dari mimpi buruknya. Namun aku ragu sebab 

menyadari bahwa campur tanganku akan bertentangan dengan peraturan yang berlaku. Mereka

yang tengah bersatu dalam ritual demikian harus berjuang tanpa bantuan.

Kala sedang berada dalam kebimbangan, kembali kudengar srigala itu menggeram. Ia telah

berhenti di puncak bukit. Laksana sebuah patung, dalam sikap yang menakutkan, binatang itu

menatap tepat ke arah tenda yang rubuh seolah ia juga melihat pemandangan yang mengerikan.

Sang naljorpa masih terus merintih dalam kesakitan yang dasyat.

Aku tak tahan lagi. Aku bergegas ke arah pemuda malang itu. Namun sesaat  melihat

bayanganku, ia memanggilku dengan sebuah isyarat yang bersemangat, berteriak:

“Datanglah, engkau yang kelaparan, makanlah dagingku…minum darahku!…”

Ini benar-benar menggelikan! Dia anggap aku hantu!… Terlepas dari rasa kasihanku padanya, aku

hampir saja tertawa.

“Diamlah,” kataku. “Tak ada setan di sini. Aku sang lhama wanita yang telah kamu kenal.”

Kelihatannya dia bahkan tak mendengar suaraku dan terus menyapaku dengan kata-kata ritualnya.

Kupikir mungkin toga yang sedang kupakai ini membuatku terkesan seperti semacam hantu, jadi

kulemparkan saja ke tanah sambil berkata:

“Nah, sekarang, kenali aku!”

Rupanya sia-sia saja. Siswa muda itu tampaknya telah kehilangan akal sehatnya. Dia menjulurkan

tangannya ke arah zenku yang tak tahu apa-apa dan menyapanya seolah ia yaitu  pendatang baru

di antara kelompok setan-setan itu.

Kenapa tak kutinggalkan saja ia sendiri dan pergi tanpa mengganggu pertunjukkannya! Aku hanya

membuat segalanya tambah parah. Saat aku tengah mempertimbangkan masalah anak muda itu,

ia berjalan sempoyongan mengelilingi tendanya, kesandung salah satu pasak, dan jatuh dengan

keras ke tanah. Dia seperti tak sadarkan diri, dan aku terus memperhatikan apakah ia mampu

berdiri kembali, namun aku tak berani mendekatinya, sebab  kuatir akan semakin mengejutkan

dirinya. Beberapa saat kemudian ia bergerak dan aku menganggap lebih baik segera menjauh

sebelum ia melihatku kembali.

Kuputuskan untuk memberitahu sang lhama tentang apa yang terjadi pada siswanya. Walaupun

kuduga siswa itu kerap bertingkah demikian saat mempraktekkan chöd, dan sang guru bukannya

tak mengetahuinya, namun bisa saja malam ini sikap gilanya sudah melewati batas. Rabjoms dapat

mengirim trapa yang satu lagi untuk menjemputnya dan mengurangi beberapa jam penderitaannya.

sebab  aku telah gagal menolongnya secara langsung, ini yaitu  satu-satunya cara untuk

membantunya.

Aku menuruni jalan ke arah thang. Sepanjang perjalanan aku terus mendengar bunyi kangling yang

kadang kala dijawab oleh lolongan srigala. Kemudian suara-suara itu perlahan berkurang hingga

sama sekali tak kudengar lagi, aku tenggelam dalam keheningan gurun yang amat sangat damai.

Kerlipan cahaya sebuah lampu altar kecil, sebuah bintang mungil di lereng sebuah bukit,

menandakan tempat tinggal sang lhama.

Aku menghindari tenda dimana penghuninya tampaknya tengah tertidur lelap dan mendaki ke gua

dengan cepat.

124

Rabjoms Gyatso sedang duduk menyilangkan kaki, dalam meditasi. Tanpa bergerak, ia hanya

membuka matanya saat aku membuka tirai sembari mengucapkan salam. Dalam beberapa kata,

kujelaskan keadaan siswanya saat kutinggalkan.

Dia tersenyum samar.

“Anda tampaknya mengenal chöd, Jetsunma.[78] Benarkah?…” dia bertanya dengan tenang.

“Ya,” jawabku, “Aku juga telah mempraktekkannya.”

Dia tak menjawab.

sesudah  beberapa lama, sang lhama tetap membisu, dan kelihatannya sudah melupakan

kehadiranku, sebab nya aku berusaha kembali untuk menggugah rasa belas kasihannya.

“Rimpoche,”[79]kataku, “Aku memperingati Anda dengan serius. Aku mengerti sedikit tentang ilmu

pengobatan; siswa Anda bisa membahayakan kesehatannya dan menjadi gila akibat rasa takut

yang ia alami. Dia tampaknya sungguh-sungguh merasa sedang dimakan hidup-hidup.”

“Pasti demikian,” jawab sang lhama, masih dengan ketenangan yang sama, “namun ia tak

menyadari bahwa dirinya sendirilah sang pemangsa. Mungkin kelak ia akan mempelajarinya….”

Aku berniat membantah, berdebat bahwa sebelum waktu itu tiba, murid yang malang itu mungkin

akan memberi kesempatan kepada yang lain untuk mempraktekkan chöd di depan jasadnya.

Mungkin sang lhama menduga apa yang akan kukatakan, sebab  sebelum aku sempat berbicara,

ia menambahkan, perlahan menaikkan nada suara:

“Tampaknya Anda ingin menunjukkan bahwa Anda memiliki semacam latihan dalam ‘Jalan Pintas’.

Apakah guru spiritual Anda tidak memberitahu resiko-resikonya dan tidakkah Anda setuju bahwa

Anda bersedia menempuh ketiga hal ini: sakit, gila, dan mati?….

“Sangat sulit melepaskan diri dari delusi,” lanjutnya, “menghilangkan halusinasi dari dunia khayalan

dan membebaskan pikiran seseorang dari kepercayaan-kepercayaan yang tak nyata. Pencerahan

yaitu  mutiara yang amat berharga dan haruslah ditebus dengan harga mahal. Banyak metode

untuk mencapai tharpa[80]. Anda boleh saja menempuh jalan lain yang tak sekasar jalan yang

sedang dijalankan oleh orang yang tengah Anda kasihani ini, namun saya yakin jalan itu pasti juga

sesulit jalan yang ditempuh siswaku. Jika mudah, berarti itu jalan yang salah.

“Sekarang, tolong, pulanglah. Jika berkenan Anda dapat mengunjungiku besok sore.”

Tak ada gunanya lagi untuk berkata-kata. Pendapat yang diutarakan sang lhama yaitu  pendapat

yang umum beredar di kalangan mistik Tibet.

Aku membungkuk untuk menyampaikan selamat malam dan kembali ke tendaku.

Keesokkan sorenya, aku memanfaatkan izin yang diberikan Rabjoms Gyatso untuk

mengunjunginya, dan selama sisa beberapa hari yang kuhabiskan di sana, aku sempat

mengunjunginya beberapa kali. Beliau bukanlah seorang cendekiawan besar, namun memiliki

kebijaksanaan dalam memandang beberapa  hal dan aku sangat gembira berkesempatan bertemu

dengannya.

Kecenderungan intuitif untuk tidak segera mempercayai dan sebaliknya selalu mempertanyakan,

mencegahku untuk meyakini sepenuhnya kisah-kisah mengerikan mengenai praktek chöd yang

diceritakan oleh orang-orang Tibet. Aku teguh meyakini bahwa pertunjukan dramatis ini  yang

125

kebetulan kusaksikan yaitu  kekecualian. Aku secara pribadi mengetahui dua atau tiga kasus

serupa selain kasus yang kuceritakan di atas, dan seperti Rabjoms Gyatso, para guru dari calon-

calon naljorpa yang malang itu juga menolak menenangkan para siswanya dengan menjelaskan

sifat subjektif dari sensasi-sensasi mereka. Lagi pula, sebagaimana yang telah kukatakan,

sebagian guru mistik mempercayai bahwa sensasi-sensasi ini bukanlah senantiasa sekedar

bersifat subjektif.

Teks-teks liturgi chöd dan bagiannya yang indah disebutkan yaitu  hasil karya dari seorang lhama,

Padma Rigdzin, kepala sekte Dzogschen,[81] yang hidup sekitar dua ratus tahun yang lalu.

Pada tahun 1922, aku mengunjungi penerusnya atau lebih tepat – menurut kepercayaan

masyarakat Tibet – Padma Rigdzin itu sendiri, yang telah beberapa kali wafat dan dilahirkan

kembali, dan masih berkedudukan sebagai kepala gompa Dzogschen.

Daerah liar dimana biara itu berdiri, berbatasan dengan padang rumput utara yang sunyi, sangat

sesuai untuk membuat pikiran memikirkan hal-hal yang menyedihkan, yang fantastis. Namun sang

Padma Rigdzin yang ramah, tuan rumahku, tak terlihat terlibat dalam perenungan-perenungan yang

melankolis. Rencana-rencana berdagang, berpadu dengan tingkah kekanakan, memenuhi

pikirannya. Dia bertanya panjang lebar padaku dalam bahasa Perancis mengenai Indocina dan

Burma, mengenai ekspor impor di negara-negara ini. Dia ingin tahu apakah ia bisa memperoleh

burung merak dari sana, sebab  ia sangat berhasrat menambah beberapa ekor burung ini ke

semacam tempat pelestarian binatang kecil miliknya.

Namun demikian, jauh dari kemewahan apartemen seorang lhama tulku, terisolasi, tempat tinggal

yang kecil untuk menaungi para bhikkhu, yang beroman serius dan bertingkah misterius, semuanya

benar-benar sesuai dan harmonis dengan pemandangan alam sekitarnya.

Beberapa dari tsam khang-tsam khang [82]ini dihuni oleh para pertapa keras yang tak berhubungan

dengan siapapun. Diantara mereka, sebagian bertujuan untuk memperoleh kekuatan gaib atau

kemampuan supernormal, sementara yang lain tenggelam dalam kontemplasi mistik – yang mana

menurut pandangan sekte mereka – akan membawa mereka ke pencerahan spiritual.

Dalam waktu yang lama, biara Dzogschen telah dikenal sebagai pusat dimana metode-metode

rahasia mengenai latihan kebatinan diajarkan dan dipraktekkan.

Bagi mereka yang telah memperoleh manfaat dari chöd, dapat melepaskan sisi ‘teater’ ritual

ini . Fase berbedanya kemudian yaitu  dengan melaksanakan hanya dalam pikiran, dalam

jalan keheningan meditasi, dan selanjutnya latihan itu bahkan menjadi tak dibutuhkan lagi.

Namun, entah sebab  mereka senang mengingat kembali masa-masa awal yang mereka lalui, atau

sebab  alasan lain yang hanya mereka ketahui, beberapa  gomchen kadang bertemu untuk

merayakan chöd bersama-sama. Namun kemudian, ritual menyedihkan itu mengubah karakternya

menjadi sebuah jamuan makan gaib dimana para naljorpa bergembira menikmati kebebasan

sempurna mereka.

Aku jarang memiliki kesempatan untuk mengamati sebagian dari para pertapa ini, para orang

Kham yang tinggi, dalam jubah pertapa, dengan rambut yang terjalin hingga ke ujung kaki. Di

bawah langit berbintang, mereka menari diiringi musik aneh dari tabuhan drum dan tiupan terompet

tulang paha, di daerah liar nan megah yang terbaring di puncak globe kita. Dalam wajah bahagia

mereka terpancar kebanggaan sebab  telah membuang perasaan-perasaan yang membuat pikiran

senantiasa bergejolak, melalui harapan dan air mata, melalui ‘kehausan yang terbakar’,

‘pengejaran yang menyedihkan pada bayangan-bayangan’.

126

Dan kemudian mereka tenggelam dalam meditasi panjang hingga fajar menjelang, duduk dengan

kaki bersilang, tubuh tegak, pandangan ke bawah, tak bergerak, laksana sebongkah patung batu.

Sungguh pemandangan yang tak terlupakan.

127

BAB LIMA

128

129

SISWA-SISWA MASA LALU DAN PARA PESAINGNYA SAAT INI

 

Kejadian-kejadian yang berhubungan dengan penerimaan seorang siswa oleh seorang guru mistik,

tahun-tahun pertamanya sebagai siswa baru, ujian-ujian yang diberikan kepadanya, keadaan-

keadaan khas saat cahaya spritual pertama menyentuhnya, yaitu  hal-hal yang dapat diangkat

sebagai materi sebuah novel yang pasti akan cukup menarik.

Ratusan kisah-kisah yang demikian menakjubkan, yang sudah usang atau yang baru terjadi,

diceritakan secara turun-temurun dalam bahasa lisan, dituliskan dalam bentuk biografi lhama-lhama

terkenal, atau bahkan yang dikisahkan sendiri oleh para saksi mata, beredar di seluruh penjuru

Tibet.

Saat diterjemahkan ke dalam sebuah bahasa asing, dibaca di negara yang adat istiadat, pola pikir,

dan aspek fisiknya jauh berbeda dengan yang dimiliki bangsa Tibet, pesona ‘Legenda Emas’ yang

aneh itu kebanyakan menjadi pudar. namun  jika diceritakan oleh mereka yang percaya dalam

aksennya yang sendu, dalam chiara oscura sebuah biara atau di bawah langit-langit batu sebuah

gua pertapa, jiwa terdalam Tibet menampakkan dirinya berikut seluruh kekuatan gaibnya yang asli,

sebuah rasa haus akan pengetahuan gaib dan kehidupan spiritual.

Pertama-tama, akan kuceritakan secara singkat kisah yang fantastis dan simbolis tentang inisiasi

(masa perkenalan atau permulaan dalam suatu proses pembelajaran) Tilopa. Meskipun ia yaitu 

penduduk asli Bengal dan tak pernah melintasi perbatasan Tibet, dia dianggap sebagai sesepuh

spiritual dari salah satu sekte terpenting ‘Topi Merah’, yakni sekte Kargyudpa.

Dapat kutambahkan bahwa di biara sekte inilah Lhama Yongden memulai kehidupan siswanya di

umur delapan tahun.

Suatu saat  Tilopa sedang duduk membaca sebuah karya tulis filosofis saat seorang pengemis

wanita muncul di belakangnya, ia lalu membaca atau pura-pura membaca beberapa baris dan

bertanya dengan kasar: “Apakah kamu mengerti apa yang sedang kamu baca?”

Tilopa naik darah. Apa maksud nenek sihir ini dengan pertanyaannya yang tidak sopan ini ?

Namun wanita itu tak memberikan kesempatan padanya untuk mengekspresikan perasaannya. Dia

meludahi artikel nya.

Kali ini si pembaca langsung berdiri tegak. Bagaimana mungkin setan ini berani meludahi artikel 

Suci?

Sebagai jawabannya, si wanita kembali meludahi artikel  itu, mengucapkan sebuah kata yang tak

Tilopa mengerti, lalu menghilang.

Sungguh aneh, kata yang tak berarti apapun baginya itu sesaat  memadamkan kemarahan Tilopa.

Sebuah sensasi yang tidak menyenangkan menyelimutinya. Ketidakyakinan, keraguan akan

pengetahuannya muncul di benaknya. Mungkin memang benar bahwa ia memang tak mengerti

doktrin yang dijabarkan dalam tulisan ini , atau doktrin apapun, dan ia sama sekali tak

mengerti apa-apa.

Apa yang dikatakan wanita itu? – Apa tadi kata yang dia ucapkan yang tak mampu ia tangkap? Dia

ingin mengetahuinya. Dia rasa dia harus tahu arti kata itu.

Dan kemudian Tilopa mulai mencari wanita itu. sesudah  mengembara ke sana sini, malamnya ia

menemukan wanita itu di sebuah hutan terpencil (ada yang mengatakan di kuburan). Dia duduk

130

menemukan wanita itu di sebuah hutan terpencil (ada yang mengatakan di kuburan). Dia duduk

sendiri, ‘matanya yang merah[83] bersinar bagaikan bara api di kegelapan’.

sesudah  melalui percakapan yang panjang, Tilopa diperintahkan untuk pergi ke tanah dâkinî agar

dapat menemui ratu mereka. Di perjalanan, beragam bahaya menunggunya: jurang yang

menganga, aliran air yang menderu-deru, binatang-binatang buas, bayangan-bayangan,

penampakan yang mengerikan, para setan kelaparan. Jika ia membiarkan dirinya dikendalikan

oleh rasa takut, atau kehilangan jalan setapak yang sempit laksana sehelai benang yang melintasi

daerah mengerikan itu, ia akan jatuh dan menjadi mangsa para monster. Jika ia, sebab  dahaga

dan lapar lalu