Tampilkan postingan dengan label sundaland. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sundaland. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juli 2026

sundaland

 


































































Istilah Sundaland digunakan dalam studi Biogeografi untuk menyebut sebuah 

wilayah daratan kontinental Asia yang kembali menyatu selama zaman es terakhir 

110.000 -12.000 Sebelum Masehi akibat penurunan permukaan laut, dan kawasan 

luas yang kemudian disebut Sundaland itu muncul di atas permukaan. Semenanjung

Malaya, Sumatra, Jawa, Kalimantan, dengan laut-laut dangkal di sekitarnya 

bergabung membentuk daratan yang amat luas. Dalam bidang Geologi, daratan 

kontinental itu lebih dikenal sebagai Paparan Sunda (Sunda Shelf) yang meliputi 

area dengan luas kurang lebih mencapai 1.85 juta km2. Menurut Ilmu bumi itu, 

sejarah Sundaland adalah rangkaian panjang dari pergerakan tektonik yang terjadi 

selama berjuta-juta tahun yang lalu.

Evolusi Tektonik Sundaland yang terjadi bukan dalam hitungan tahun atau 

ratus tahun, tapi puluhan juta tahun. Sundaland dianggap sebagai bagian dari 

Lempeng Benua Eurasia. Paparan wilayah yang hari ini menjadi separuh dari 

seluruh wilayah Asia Tenggara, terbentuk akibat serangkaian aktivitas tektonik dan 

vulkanik beribu-ribu tahun yang lalu, beserta erosi dan konsolidasi runtuhan batu 

seiring naik dan turunnya permukaan laut. 

Secara geologis, Paparan Sunda adalah landas kontinen perpanjangan dari 

lempeng Eurasia di Asia Tenggara. Kedalaman laut yang berada di Paparan Sunda 

jarang melebihi 50 meter, fenomena ini mengakibatkan gelombang dan erosi dasar 

laut yang kuat. Tebing-tebing curam di bawah laut kemudian memisahkan Paparan 

Sunda dengan kepulauan Filipina, Pulau Sulawesi, dan Kepulauan Sunda Kecil. 

Berdasarkan data Geologi evolusi tektonik Sundaland merupakan gabungan dari 

sisa-sisa fragment dari benua Gondwana yang bergabung dengan bagian dari 

lempeng benua Eurasia.

   

Lempeng Sunda mencakup Laut Cina selatan, Laut Andaman, Bagian 

Selatan dari Vietnam dan wilayah Thailand bersama-sama dengan Malaysia dan 

TUGAS GEOLOGI INDONESIA

DEVITO PRADIPTA - 12016033

Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, serta Sulawesi di Indonesia, dan juga kepulauan 

Filipina di bagian barat dan Palawan seta Kepulauan Sulu.

Batas-batas di bagian timur, selatan dan juga barat Sundaland rumit secara 

tektonik dan aktif secara seismik. Hanya batas bagian utara yang relatif diam. 

Lempeng Sunda berbatasan di timur dengan Sabuk bergerak Filipina, Zona 

tumbukan Laut Maluku, Lempeng Laut Banda dan Lempeng Timor yang disebut juga

sebagai Eastern Margins, di Selatan dan barat berbatasan dengan lempeng 

Australian, dan di utara dengan Lempeng Burma, Lempeng Eurasia dan Lempeng 

Yang-tze, disebut juga sebagai Western Margins.

Pembentukan Sundaland diawali dengan pemisahan Gondwana pada Zaman

Paleozoikum dan beramalgamasi dengan Blok Asia pada Periode Trias. Sumatera, 

Semenanjung Malaya, dan Paparan Sunda bagian Timur Semenanjung terbentuk 

dari subduksi dan kolisi basement kontinen Sibumasu dengan Malaya Timur yang 

terintrusi oleh granit. Setelah Periode Trias ini berakhir, terjadi subduksi ke arah 

barat pada Lempeng Pasifik pada bagian Asia Timur. Proses subduksi ini 

berlangsung hingga Akhir Kapur. Hasil subduksi ini menghasilkan prisma akresi 

pada Sarawak dan Timur Laut Sundaland. 

Barat Daya Kallimantan Blok Banda dan kerak Sabah Timur mengalami 

akresi dengan Sundaland pada Awal Kapur begitu juga pada Sulawesi Barat Laut. 

Jawa Timur dan Sulawesi Barat terbentuk oleh pemisahan dari Australia pada 

Periode Jura. Blok Jawa Timur dan Sulawesi Barat bersatu dengan Asia Tenggara 

dan menghasilkan collision dengan produk Pegunungan Meratus ke arah utara. 

Bersamaan dengan proses ini, Busur Intraoceanic Woyla mengalami tumbukan 

dengan Sumatera. Setelah proses ini berlangsung, Semenanjung Malaya dan 

Sumatera mengalami subduksi sehingga aktivitas vulkanisme berlangsung cukup 

intensif. Subduksi ini mengakibatkan pengangkatan Sundaland dicirikan dengan 

adanya ketidakselarasan regional (Clements, 2011). Batuan yang berada di atas 

ketidakselarasan regional ini tertutupi endapan klastik lingkungan sungai dan 

endapan lingkungan laut dalam.

TUGAS GEOLOGI INDONESIA

DEVITO PRADIPTA - 12016033

 

Pada Periode Akhir Kapur terjadi beberapa tumbukan blok kontinen dari Asia 

dan Australia. Hasil tumbukan ini menghasilkan promontory deretan pegunungan 

yang menjurus ke utara. Deretan pegunungan tersebut menjalar dari Sumatera 

hingga Thailand. Sebelumnya, pada Periode Tengah Kapur, tidak terjadi subduksi 

sehingga tidak ada aktivitas vulkanik pada periode tersebut.

Hall (2012) mengungkapkan interpretasinya bahwa Subduksi yang telah 

berlangsung tersebut berhenti pada Periode Akhir Kapur. Subduksi tersebut 

berlanjut kembali ketika Eosen, bersamaan dengan Australia yang mulai bergerak ke

arah Utara dengan cepat. Subduksi yang dipicu oleh pergerakan Australia tersebut 

berlangsung bersamaan dengan eksensi dan gerakan strike-slip pada batas-batas 

Sumatera dan Jawa.

TUGAS GEOLOGI INDONESIA

DEVITO PRADIPTA - 12016033

Proses evolusi tektonik Sundaland dilanjutkan dengan tumbukan antara 

Sundaland dengan Australia pada Awal Miosen. Kemudian hal ini diikuti dengan 

tumbukan Utara Borneo dengan batas kontinen Tiongkok Selatan. Tumbukan ini 

menghasilkan deretan pegunungan di Sulawesi, Busur Banda, dan Kalimantan. Hal 

ini juga diikuti dengan kedatangan busur-busur di Pasifik ke Indonesia Timur yang 

berdampak pada munculnya kepulauan di Indonesia Timur.


Geologi Indonesia
Kerangka Materi
• Teori perkembangan Sundaland
• Teori Rotasi Sundaland
• Implikasi Interaksi konvergen yang serong
Teori pembentukan Sundaland
1. sebagai gelang-gelang jalur subduksi yang 
berkembang semakin muda kearah barat daya-
selatan dan kearah utara ( menurut katili)
2. sejak awal merupakan bagian dari benua asia
3. sebagai amalgamasi unsur-2 berasal dari benua 
asia dan gondwana
1. Sebagai gelang-gelang Jalur Subduksi
SEJAK JAMAN PERM, 
TERJADI INTERAKSI KONVERGEN
DARI ARAH SELATAN 
(LEMPENG HINDIA-AUSTRALIA), 
DAN DARI UTARA KE SELATAN
(LEMPENG L.CHINASELATAN),
MEMBENTUK JALUR-2 SUBDUKSI DAN
MAGMATIK YANG BERKELANJUTAN 
DAN SEMAKIN
MUDA KEARAH SELATAN 
DAN UTARA (GAMBAR)
2. sejak awal merupakan bagian dari benua asia
2 SEJAK AWAL MERUPAKAN 
BAGIAN DARI
BENUA ASIA
1  INDIA BERGERAK KE
UTARA DENGAN
V 15 - 20 CM/TH
SEJAK 70 - 55 MA DARATAN SUNDA MERUPAKAN BAGIAN 
DARI ASIA TENGGARA, DIKELILINGI OLEH JALUR-2
SUBDUKSI ANTARA LP.HINDIA-AUSTRALIA DI SELATAN
DAN LP.PASIFIK DI UTARA

3. sebagai amalgamasi unsur-2 berasal dari 
benua asia dan gondwana
• Bagian barat dan timur Sumatra memiliki batuan yang 
berbeda umur serta asalnya.
• Bagian barat Sumatra memiliki batuan sedimen 
paleozoikum  berumur Karbon hingga Trias, serta batuan 
volkanik berumur Permian yang berafinitas Cathaysian. 
Bagian barat ini diinterpretasikan sebagai bagian dari blok 
Indochina-East Malaya yang berpisah dari Gondwana pada 
Devon dan pada Karbon memiliki iklim tropis.
• Sedangkan bagian timur Sumatra, terdiri dari batuan 
sedimen Karbon diamictite atau pebbly mudstone yang 
diinterpretasikan sebagai endapan glacio-marine. 
Mengindikasikan iklim yang dingin. Bagian timur ini 
diinterpretasikan sebagai bagian dari blok Sibumasu di 
selatan bumi pada umur Karbon, kemudian berpisah dari 
Gondwana pada Permian, dan berkolisi, beramalgamasi 
dengan blok Indochina-East Malaya pada umur Trias.

Growth of the Indonesian region. Collision between the Sibumasu and East Malaya-Indochina 
blocks occurred in the Triassic. Additional crust has been added to this Sundaland core, largely 
by later collisions of continental blocks. The present-day zone of active deformation is shaded 
yellow. Grey areas within this complex plate-boundary zone are areas underlain by Cenozoic 
ocean crust.
Hall, 2009
Teori Rotasi Sundaland
1. Model Non-rotasional (Asikin, 1974; Katili, 1975; 
Hamilton, 1979)
2. Model Rotasional Clockwise (Daly dkk., 1991)
3. Model Rotasional Counter-Clockwise (misal: 
Davies, 1984, 1987; Hall, 1996, 2001, 2002, 2012)
1. Model Non-rotasional
• Evolusi tektonik Indonesia 
bagian barat mulai dari 
zaman Kapur hingga sekarang 
yang ditandai oleh 
berpindahnya zona subduksi 
ke arah selatan
(Asikin, 1974)
2. Model Rotasional 
Clockwise
Daly dkk. (1991)
3. Model Rotasional 
Counter-Clockwise 
• Davies (1984, 1987) mengungkapkan bahwa selama 
tersier Sundaland telah mengalami gerak rotasi ke-
arah yang berlawanan dengan gerak jarum jam 
sebanyak  42 ° pada oligosen akhir dan mengalami 
rotasi kembali pada miosen tengah
• Sebagai akibat dari proses regangan dan 
pemekaran kerak di cekungan thai dan malaya
• Pada saat kedudukan sumatra membuat sudut 
lancip dengan arah interaksi ( < dari 45° ), 
terbentuk sesar medatar ( strike-slip ),
• Setelah kedudukannya hampir 90° (tegak lurus), 
interaksi konvergen  membentuk palung (trench).
SUMATRA
MALAYA

3. Model Rotasional 
Counter-Clockwise 
Hall (1996)
KONSEP TEKTONIK
EKSTRUSI DARI
TAPPONNIER 1982

• Model Tapponier (1982) tentang Tektonik Ekstrusi, 
menyatakan terdapat pergeseran bagian Asia Timur 
ke arah timur dan tenggara sejauh 800 – 1000 km 
melalui sesar mendatar “Red River” akibat 
benturan India dengan Asia.
• Benturan ini disertai dengan rotasi 25 ° dari 
Indochina dan Sundaland searah jarum jam.

Implikasi Interaksi konvergen yang serong
• Pola struktur dan tektonik di Sumatra merupakan 
produk interaksi konvergen antara lempeng India-
Australia dengan Eurasia.
• Karena konvergen yang terjadi bersifat tidak tegak 
lurus/serong, maka terbentuk pola-pola struktur 
perpaduan antara subduksi dan strike-slip.
• Pola subduksi  pembentukan prisma akresi di 
sebelah barat Sumatra terdiri dari mélange.
• Pola strike-slip memotong seluruh pulau 
Sumatra, membentuk zona sesar yang kompleks, 
membentuk cekungan dan tinggian.

Bend/stepover
Koning, 1985
JALUR AKRASI YANG LEBAR TERBENTUK AKIBAT
INTERAKSI KONVERGEN YANG SERONG.
POLA STRUKTUR DAN 
PERKEMBANGAN TEKTONIK
YANG KOMPLEK DI SUMATRA
UTARA DAN DI JALUR AKRASI :
IAGI, 2000



Sejarah Kawasan Barat Indonesia
• Indonesia bagian barat, terutama Pulau Sumatra 
dan Kalimantan memiliki batuan tertua yang ada di 
Indonesia. Batuan tertua ini menjadi basement bagi 
cekungan-cekungan yang kelak akan berkembang.
• Basement di  Sumatra secara geologi merupakan 
kemenerusan dari Semenanjung Malaysia dan 
merupakan singkapan batuan Paleozoikum dan 
Mesozoikum yang tersingkap secara luas.
• Batuan sedimen tertua yang didating di permukaan 
memiliki umur Karbon. Akan tetapi di bawah 
permukaan berdasarkan hasil pengeboran di Selat 
Malaka memiliki  umur Devon, dan granit dari 
pengeboran Sumatra Tengah memiliki umur 
Silurian.
• Bagian barat dan timur Sumatra memiliki batuan yang 
berbeda umur serta asalnya.
• Bagian barat Sumatra memiliki batuan sedimen 
paleozoikum  berumur Karbon hingga Trias, serta batuan 
volkanik berumur Permian yang berafinitas Cathaysian. 
Bagian barat ini diinterpretasikan sebagai bagian dari blok 
Indochina-East Malaya yang berpisah dari Gondwana pada 
Devon dan pada Karbon memiliki iklim tropis.
• Sedangkan bagian timur Sumatra, terdiri dari batuan 
sedimen Karbon diamictite atau pebbly mudstone yang 
diinterpretasikan sebagai endapan glacio-marine. 
Mengindikasikan iklim yang dingin. Bagian timur ini 
diinterpretasikan sebagai bagian dari blok Sibumasu di 
selatan bumi pada umur Karbon, kemudian berpisah dari 
Gondwana pada Permian, dan berkolisi, beramalgamasi 
dengan blok Indochina-East Malaya pada umur Trias.
Sumatra pada Umur Mesozoikum
• Kolisi blok Sibumasu dan Indochina-East Malaya 
merupakan tahap awal dari pembentukan Indonesia.
• Di Sumatra, sedimen berumur Mesozoikum sangat 
terbatas/jarang ditemukan. Hal ini diinterpretasikan 
sebagai kondisi Sundaland selama Mesozoikum 
tersingkap ke permukaan.
• Selama Mesozoikum, di Sumatra diinterpretasikan 
terdapat deformasi yang mereorganisasikan kerak 
benua yang ada, kemungkinan oleh Sesar Strike-Slip di 
bagian active margin.
• Pada umur Jura - Kapur, isotopic dating menunjukkan 
terdapat adanya beberapa aktivitas magmatisme granit 
yang merupakan hasil dari subduksi tipe Andean.
Kolisi Kalimantan pada Umur Mesozoikum
• Bagian baratdaya Kalimantan bisa jadi merupakan 
bagian paling timur dari Sundaland pada umur 
Trias, atau merupakan kerak benua yang 
ditambahkan pada Kapur Awal, pada sebuah suture 
yang mengarah ke Selatan dari Kepulauan Natuna.
• Umur Paleozoikum dicirikan dari batuan Metamorf 
berumur Karbon hingga Permian. Meskipun 
terdapat bongkahan batugamping berumur Devon 
di sungai bagian timur Kalimantan.
• Intrusi granit berumur Kapur, mengintrusi batuan 
metamorf di Pegunungan Schwaner yang terletak di 
baratdaya Kalimantan.
Sejarah Tektonik Sundaland
Sundaland merupakan istilah geologi untuk menyebut daerah di semenanjung asia tenggara meliputi 
semenanjung Malaka, Pulau Kalimantan, Pulau Sumatra, dan Pulau Jawa. Istilah sundaland ini juga dikenal 
sebagai sunda shelf (Paparan Sunda) (gambar 1).
Gambar 1. Lokasi Sundaland dan tektonik yang berkembang saat ini  menyatakam bahwa  sundaland ini dibatasi oleh palung jawa dan 
palung sumatra yang berasal dari subduksi benua indo – australia ke dalam  benua asia di bagian selatan dan 
bagian barat disebut juga sebagai Western Margins. Sedangkan pada bagian utara dibatasi oleh Laut Cina 
Selatan dan Indocina. Pada bagian timur dibatasi oleh Kalimantan Timur , Selat Makassar dan Jawa Timur 
disebut juga sebagai Eastern Margins. Peristiwa tektonik yang besar terjadi pada saat tersier dapat dibagi atas 2 
tektonik besar yaitu pemisahan lempeng india dan afrika yang bergerak ke arah utara pada saat akhir kapur dan 
berlanjut dengan kolisi india dengan benua eurasia pada saat 50 juta tahun yang lalu.
Evolusi Tektonik Sundaland
Pembentukan tektonik dari Sundaland tidak terlepas dari sejarah tektonik yang terjadi. Menurut 
Hutchison (1973) Evolusi Tektonik yang terjadi dapat dibagi beberapa bagian
a.      Pada Zaman Karbon – Perm
Subduksi  terjadi  di  sebelah barat  Sumatera  yang menghasilkan batuan vulkanik dan piroklastik dengan
komposisi berkisar antara dasit sampai andesit di daerah yang membentang di Dataran Tinggi Padang, Batang
Sangir  dan  Jambi    Batuan  intrusif  yang  bersifat  granitik
terbentuk di Semenanjung Malaysia, melewati Pulau Penang, dan diperkirakan menerus ke Kepulauan Riau
 Sketsa tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Zaman Karbon Akhir
sampai Perm Awal 
b.      Pada Zaman Perm – Trias Awal
Pada Zaman Perm, tidak ada perubahan penyebaran keterdapatan batuan plutonik dan 
volkanik dari Karbon Akhir. Sistem busur-palung yang bekerja di Sumatra masih tidak 
mengalami perubahan (Gambar 2 dan 3). Batuan volkanik dan piroklasik berkomposisi 
andesitik sampai riolitik menyebar di bagian barat dari Sumatera Tengah.
Gambar 3. Sketsa tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Zaman Perm sampai Trias
Awal 
c.      Pada Zaman Trias Akhir Jura Awal
Dari  Trias  Akhir  sampai  Jura  Awal,  subduksi  di  Sumatra  terus  berlangsung  dan
menghasilkan kompleks ofiolit Aceh di bagian utara dan kompleks ofiolit  Gumai-Garba di
selatan. Kedua ofiolit ini berumur
Trias. 
Gambar 4. Sketsa tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Zaman Trias Akhir sampai
Jura Awal
 Pada Jura Tengah sampai Kapur Tengah, terjadi pengangkatan di wilayah Semenanjung 
Malaysia, menyebabkan perubahan lingkungan sedimentasi pada daerah ini  dari 
lingkungan laut menjadi lingkungan darat, ditandai dengan endapan tipe molasse dan 
sedimentasi fluviatil. Volkanisme di kawasan Sumatra dan sekitarnya kurang aktif pada 
selang waktu ini. Selama Jura dan Kapur, kawasan Sumatra dan sekitarnya terkratonisasi, dan
sistem pensesaran strike slip  terbentuk (Tjia et. All, 1973; dalam Hutchison, 1973). 
Pensesaran strike slip ini akibat dari tumbukan lempeng Indian dengan Eurasia.
d.      Pada Zaman Kapur Akhir – Tersier Awal
Pada Kapur Akhir, zona subduksi bergerak ke arah barat Sumatra, sepanjang pulau-pulau
yang saat ini berada di barat Sumatra seperti Siberut. Ofiolit dari subduksi ini sendiri oleh
Bemmelen (1949; dalam Hutchison, 1973) diperkirakan berumur Kapur Akhir sampai Tersier
Awal.
Di bagian utara Sumatra terdapat Intrusi Granitik Tersier sedangkan di selatan terdapat
Adesit Tua dan Intrusi Granit Miosen Awal. Pola dari sistem palung busur di Sumatra pada
saat itu digambarkan pertama kali oleh Katilli (1971; dalam Hutchison, 1973) seperti pada
gambar  5.  Subduksi  yang  berada  di  barat  Sumatra  menerus  ke  selatan  Jawa  Barat,  lalu
berbelok ke timur laut menuju arah Pegunungan Meratus di Kalimantan Timur.
Gambar 6. Sketsa tektonik Sundaland dan sekitarnya pada saat ini 
Sedangkan berdasar  rekronstruksi Hall dkk. (2009) evolusi Sundaland dapat 
dibagi menjadi beberapa bagian antara lain:
a.       Pada Jurasic Akhir (150 MA)
Diperkirakan Blok Banda yang sebelumnya bergabung dengan Gondwana  terpisah dan 
menjauhi Sula Spur. Blok Argo lalu terpisah kemudian melalui proses pemekaran 
(spreading).
Pemekaran berkembang ke barat menerus sampai pada margin dari Greater India 2. Busur 
kepulauan dan fragmen-fragmen benua bergerak menjauh dari Gondawa sebagai hasil 
darirollback dari subduksi ( Gambar 7).
Gambar 7. Sketsa Tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Jura Akhir (150 MA) (Hall dkk.
2009)
b.       Pada Kapur Awal (135 MA)
Kemudian pada 135 juta tahun yang lalu (Kapur Awal – Gambar 8), India mulai 
terpisah dari Australia dan Papua yang masih bergabung dengan Antartika. Pemekaran di 
Ceno Tethys memiliki orientasi rata-rata NW-SE. Blok Argo dan Busur Woyla bergerak ke 
Asia Tenggara.
Gambar 8. Sketsa Tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Kapur Awal  (135 MA) 
(Hall dkk. 2009)
c.       Pada Kapur Awal (110 MA)
Sekitar 25 juta tahun kemudian (Kapur Awal – Gambar 9) India terpisah dari 
Australia. Blok Argo mendekati Sundaland dan pemekaran pada Ceno-Tethys yang 
berarah NW-SE berhenti. Pusat pemekaran antara India-Australia berkembang ke arah utara. 
Terjadi subduksi di bagian selatan Sumatra dan tenggara Kalimantan.
Gambar 9. Sketsa Tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Kapur Awal  (110 MA) (Hall dkk.
2009)
d.       Pada Kapur Tengah (90 MA )
Pada 90 juta tahun yang lalu (Kapur Tengah – Gambar 10), Blok Argo mendekati 
Kalimantan sebelah barat laut Kalimantan dan Busur Woyla mendekati tepian Sumatra. 
Koalisi-koalisi ini  menyebabkan subduksi yang berlangsung sebelumnya berhenti. India 
terus bergerak ke utara melalui subduksi pada Busur Incertus. Australia dan Papua mulai 
bergerak perlahan menjauhi Antartika. 
Gambar 10. Sketsa Tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Kapur Tengah  (90 MA) (Hall
dkk. 2009)
e.       Pada Kapur Akhir ( 70 MA)
Pada Kapur Akhir, India bergerak cepat ke utara dikarenakan pemekaran yang cepat di 
bagian selatan dan terbentuk sesar-sesar tranform. Tidak ada pergerakan yang signifikan 
antara Australia dengan Sundaland serta tidak terjadi subduksi di bawah pulau Sumatra dan 
Jawa (Gambar 11). 
Gambar 11. Sketsa Tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Kapur Akhir  (70 MA) (Hall
dkk. 2009)
f.       Pada Eosen Awal  ( 55 MA)
Sekitar 55 juta tahun yang lalu (Eosen Awal – Gambar 12), pergerakan Australia-
Sundaland menyebabkan terbentuknya subduksi sepanjang barat tepi Sundaland, di bawah 
Pulau Sumba dan Sulawesi Barat, dan mungkin menerus ke utara. Batas antara lempeng 
Australia-Sundaland pada bagian selatan Jawa merupakan zona strike-slip sedangkan pada 
selatan Sumatra berupa zona strike-slip tangensional. Busur Incertus dan batas utara dari 
Greater India bergabung dan terus bergerak ke utara.
Gambar 12. Sketsa Tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Eosen Awal  (55 MA) (Hall dkk.
2009).
g.       Pada Miosen Tengah ( 45 MA)
Pada 45 juta tahun yang lalu (Miosen Tengah – Gambar 13), Australia dan Papua mulai 
bergerak dengan cepat menjauhi Antartika. Terbentuk cekungan di sekitar daerah Celebes 
dan Filipina serta jalur subduksi yang mengarah ke selatan pada proto area Laut Cina Selatan.
Pada 35 juta tahun yang lalu , daerah Sundaland mulai berotasi berlawanan dengan arah 
jarum jam, bagian timur Kalimantan dan Jawa secara relatif bergerak ke utara. Rotasi ini 
berlangsung disebabkan karena adanya interaksi lempeng India ke Asia.
Gambar 13. Sketsa Tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Eosen Tengah  (45 MA) 
h.       Pada pada 15 juta tahun yang lalu (Miosen Tengah – Gambar 14), bagian kerak samudra 
pada Blok Banda yang berumur lebih tua dari 120 juta tahun yang lalu mencapai jalur 
subduksi pada selatan Jawa. Palung berkembang ke arah timur sepanjang batas lempeng 
sampai bagian selatan dari Sula Spur. Australia dan Papua mendekat ke posisi sekarang ini 
dan lengan-lengan dari Sulawesi mulai bergabung. 
Gambar 14. Sketsa Tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Miosen Tengah  (15 MA)                                                                    
berdasar  data Geologi evolusi tektonik sundaland merupakan gabungan dari sisa – sisa 
fragment dari benua gondwana yang terpisah akibat spreading. Bagian – bagian ini kemudian 
bergabung dengan sebagian dari benua Eurasia. Selain itu pergerakan dari Fragment Benua 
Gondwana mengakibatkan subduksi di selatan Eurasia berubah pergerakanya. Kemudain 
akibat dari collision benua Eurasia dan lempeng India mengakibatkan terjadinya sesar – sesar
dan rotasi yang berlawanan dengan arah jarum jam.