engan jelaga yang bertengger di bawah ceret, hingga ia tampak
seperti seorang negro.
Kadang pakaian seorang dobdob yang compang-camping memang disebab kan ia tidak memiliki
uang untuk menggantinya, namun seringkali mereka dengan sengaja merobek jubahnya, agar –
menurutnya – kelihatan lebih sangar.
Saat memakai baju baru, hampir selalu diminyaki dulu. Tradisi mengharuskan itu. Betapapun mahal
bahannya, seorang dobdob akan mengambil mentega dengan tangannya yang hitam dan
mengoleskannya ke seluruh bagian pakaian barunya itu.
Orang-orang aneh ini berpendapat bahwa tak ada yang lebih berwibawa dibandingkan sebuah jubah
dan toga yang menjadi segemerlap kain beludru dan sekaku baju baja berkat sifat kotor yang
mereka aplikasikan dengan tekun dan terus menerus.
Pohon Tsong Khapa yang Menakjubkan.
Biara Kum-Bum berhutang ketenarannnya pada sebatang pohon ajaib. Detil tentang hal ini
kupinjam dari sejarah Kum-Bum.
Pada tahun 1555, Sang pembaharu Tsong Khapa, pendiri sekte Gelugspa[48], lahir di Amdo, bagian
timur laut Tibet, tempat dimana saat ini berdiri biara agung Kum-Bum.
Sesaat sesudah bayi itu lahir, Lhama Dubchen Karma Dorje meramalkan bahwa karir anak ini kelak
akan sangat luar biasa dan menyarankan orang tuanya untuk menjaga tempat dimana sang ibu
melahirkan agar benar-benar bersih. Tak lama kemudian, sebatang pohon mulai tumbuh diatasnya.
Bahkan hingga saat ini, hampir semua rumah di Amdo memiliki lantai berupa tanah yang
dipadatkan, dan para penduduk asli tidur di kasur atau karpet yang dibentangkan di lantai. Ini
membuat masuk akal kisah tentang tumbuhnya sebatang pohon dari bekas darah yang mengalir
saat persalinan dan pemotongan tali pusar.
Pada awalnya pohon muda ini tak menunjukkan tanda-tanda istimewa pada dedaunannya, namun
asal muasalnya yang ajaib membuat ia terkenal dan disembah oleh para tetangga. Seorang
bhikkhu membangun gubuk di sebelahnya dan tinggal di sana. Inilah awal dari biara yang besar dan
megah ini.
85
Bertahun-tahun kemudian, saat Tsong Khapa sedang memulai tugas reformasinya, sang ibu, yang
telah berpisah cukup lama darinya, ingin bertemu dan ia pun mengirim sepucuk surat padanya
untuk memintanya pulang. Saat itu Tsong Khapa tinggal di Tibet Pusat. Dengan meditasi mistiknya,
ia memahami bahwa perjalanannya ke Amdo takkan menguntungkan siapapun, sehingga
kemudian ia hanya menulis surat pada ibunya. Selain memberikan surat itu pada si pembawa
pesan, ia juga menyertakan dua buah gambar dirinya masing-masing untuk ibu dan saudara
perempuannya, sebuah gambar Gyalwa Senge[49], Bapak Ilmu Pengetahuan dan Retorik, patron
intelektual, dan beberapa gambar Demchog, dewa dari sekte Tantrayana.
Saat semua barang itu sampai di tangan keluarganya, sang pembaharu ini kemudian dengan
kemampuan gaibnya dari jarak jauh, membuat gambar sang dewa muncul di daun-daun pohon
ajaib ini . Hasil cetakan itu sangat rapi, sangat sempurna, menurut legenda itu, tak ada
seorang seniman pun yang mampu melukisnya dengan lebih baik.
Bersamaan dengan gambar-gambar itu, beberapa tanda dan ‘Enam Tulisan’ (Rumusan itu terdiri
dari enam suku kata: Aum mani padme hum) muncul di cabang-cabang dan kulit kayu pohon
ini .
Inilah asal kata Kum-Bum: ‘ratusan ribu gambar’, sebagaimana kemudian biara ini dikenal.
Pada tulisan mereka tentang perjalanan ke Tibet, pendeta Perancis Huc dan Gabet mengakui
bahwa mereka telah membaca kata-kata: Aum mani padme hum! Di daun-daun dan batang pohon
ini .
Sebenarnya, pohon yang mana yang telah dilihat kedua pengelana itu?
Sejarah biara itu menyebutkan bahwa sesudah penampakan gambar-gambar yang menakjubkan,
pohon ini kemudian dibungkus dengan sehelai kain sutra (semacam ‘jubah’) dan sebuah
vihara dibangun mengelilinginya.
Apakah vihara itu tak beratap? Kata chörten yang digunakan di teks tak menunjukkan hal itu,
sebab chörten artinya sebuah monumen yang puncaknya berbentuk kerucut dan sepenuhnya
tertutup.
Tanpa cahaya dan air, pohon itu pasti akan mati. Dan menurut sejarahnya, chörten itu dibangun
pada abad keenam belas, pendeta Huc dan Gabet seharusnya hanya mungkin dapat melihat
rangka kering dari pohon itu, namun yang mereka deskripsikan yaitu pohon yang hidup.
Sejarah itu juga menuturkan bahwa pohon ajaib itu tak berubah pada musim dingin ataupun panas,
dan jumlah daun-daunnya tetap sama.
Kami juga membaca bahwa suatu saat , terdengar suara dari dalam chörten dimana pohon itu
berada. Kepala biara Kum-Bum masuk ke dalamnya, membersihkan daerah sekitar pohon dan
menemukan sedikit genangan cairan di dekat pohon itu yang kemudian diminumnya.
Perincian ini setidaknya menunjukkan bahwa pohon itu berada di ruangan tertutup yang jarang
dimasuki, sementara tindakan aneh dalam mempertahankan daun-daunnya selama musim dingin
(Pohon Kum-Bum yaitu jenis yang berdaun caducous) hanya dapat dilakukan pada pohon yang
masih hidup.
Memang sangat sukar menemukan jalan keluar dari masalah-masalah yang bertentangan ini.
Saat ini, sebuah chörten yang memiliki ketinggian sekitar 40 hingga 50 kaki (dimana pohon itu
katanya dikeramatkan) berdiri di tengah-tengah vihara yang beratap emas.
86
Namun saat aku tinggal di Kum-Bum, para lhama mengatakan tempat keramat itu baru dibangun
beberapa tahun yang lalu.[50]
Di depan vihara itu tumbuh satu pohon muda dari pohon ajaib ini , dikelilingi pagar, dijaga dan
dimuliakan agar terus berkembang.
Satu lagi pohon yang lebih besar, yang dipercaya berasal dari pohon ajaib itu, ditanam di depan
vihara Sang Buddha. Daun-daun yang gugur dari kedua pohon ini dikumpulkan dan kemudian
dibagikan pada para umat.
Mungkin salah satu dari kedua pohon ini yang dilihat oleh pendeta Huc dan Gabet. Para pengelana
asing yang berkunjung ke Kum-Bum, sesuai peraturan, tak mengetahui tentang sejarah ini ,
atau bahkan keberadaan pohon yang tersembunyi di tempat suci itu.
Beberapa orang Eropa yang tinggal di Kansu (propinsi Cina di perbatasan dimana Kum-Bum
berada) bercerita padaku bahwa mereka telah membaca Aum mani padme hum! di daun-daun
pohon yang hidup itu. Bagaimanapun, para peziarah lhamais dan para bhikkhu biara itu (sekitar
3000 orang) tak menaruh perhatian pada keistimewaan daun-daun itu dan bahkan mendengar
dengan agak skeptis tentang penglihatan para orang asing atas pohon suci ini .
Namun demikian, sikap mereka yang modern tidak didukung oleh sejarah kuno ini , yang
menyatakan bahwa semua orang di Amdo melihat cetakan ajaib di pohon itu saat pertama kali
muncul sekitar empat ratus tahun yang lalu.
Buddha Hidup
Selain bermacam petugas, di sebuah gompa juga terdapat kelompok lain yang sesuai peraturan,
tidak ikut serta dalam kegiatan-kegiatan biara dan hidup lebih terasing di kediamannya yang
mewah. Mereka ini yaitu para lhama tulku.
Para tulku menempati posisi yang sangat menonjol dalam Lhamaisme, keberadaan mereka yang
istimewa inilah yang membedakan Lhamaisme dari semua sekte Buddhis yang lain.
Karakter sejati dari para lhama tulku tak pernah terdefinisi dengan benar oleh para penulis Barat,
bahkan walau hanya sekedar menduga. Bagaimanapun, teori mengenai para tulku ini sangat
menarik perhatian kami, mereka ini sangat jauh dari berbagai kepercayaan tentang penjelamaan,
atau perpindahan entitas spiritual, dan seperti yang akan kita lihat, di luar wilayah fenomena psikis.
Kaum aristokrat keagamaan yang khas ini bukanlah suatu asal muasal yang kuno benar. Tahun
1650 yaitu tahun permulaan perkembangannya hingga ke bentuk yang kita lihat sekarang.
Lhama Agung kelima dari sekte Gelugspa (topi kuning) yang bernama Lobzang Gyatso saat itu
baru saja dinobatkan sebagai penguasa sementara Tibet oleh pangeran Mongolia yang juga diakui
oleh kekaisaran Cina. Namun penghormatan duniawi ini tidaklah memuaskan lhama yang ambisius
ini, maka ia pun memberitahukan mereka bahwa ia yaitu titisan Bodhisatva Chenrezigs. Pada
saat yang sama ia mengangkat guru spiritualnya menjadi Lhama Agung di Tashilhunpo, sambil
menegaskan bahwa sang guru yaitu seorang tulku Odpagmed, seorang Buddha mistik yang
mana Chenrezigs yaitu putra spiritualnya.[51]
Contoh yang diberikan oleh raja-lhama ini kemudian mendorong terciptanya para tulku. Segera,
semua biara-biara penting menganggap bahwa untuk memperoleh rasa hormat mereka harus
memiliki reinkarnasi dari salah satu orang penting. Namun, Lobzang Gyatso bukanlah sepenuhnya
seorang inovator saat menyatakan dirinya sebagai tulku Chenrezigs. Teori-teori yang mengilhami
87
beliau itu dapat dilihat dalam spekulasi-spekulasi Mahayanis mengenai para Buddha mistik dan
keluarga spiritual mereka yakni para Bodhisatva dan para Buddha manusia yang dikatakan
bersumber atau terlahir dari mereka.
Lebih lanjut, sejak wafatnya Gedundub (sekitar tahun 1470), murid dari sang pembaharu Tsong
Khapa, sang penerusnya dinyatakan sebagai reinkarnasinya. Dengan demikian Dalai Lhama
kelima yaitu seorang tulku dari Gedundub saat ia menjadi tulku dari Chenrezigs.
Bahkan lebih awal lagi, pada abad kesebelas, orang-orang Tibet telah mempercayai keberadaan
para tulku. Kami baca di riwayat hidup Milarespa bahwa salah seorang muridnya, bernama Bhiraja,
yakin bahwa seorang suci telah terjelma dalam diri gurunya, yang menyuruhnya untuk
menyingkapkan keberadaannya. Milarespa sendiri percaya bahwa gurunya sendiri, Lhama Marpa,
yaitu seorang tulku dari Dorjee Chang. Dia berulang kali memanggilnya dengan nama itu, bukan
hanya dalam syair-syairnya, namun juga saat menyapanya secara langsung.
Jadi, meskipun pada awalnya apa yang terjadi pada orang-orang suci terkemuka di atas yaitu
kasus-kasus khusus dan bukan merupakan sebuah garis suksesi yang teratur dari inkarnasi-
inkarnasi, namun mereka paling tidak telah membuka jalan bagi Dalai Lhama-Chenrezigs dan juga
ribuan tuan tulku yang saat ini dapat dijumpai di seluruh negeri para Lhamais.
‘Buddha Hidup’ yaitu istilah yang sekarang digunakan oleh para orang asing untuk menyebut
Lhama Tulku. Saat ini, terlepas dari banyaknya artikel Buddhis yang telah diterbitkan dalam bahasa
Barat, masih terdapat beberapa orang Barat yang menjadikan kata buddha sebagai kata benda
khusus: nama dari penemu Buddhisme. Pada orang-orang ini, kata-kata ‘Buddha Hidup’ akan
menjadi bermakna reinkarnasi dari Sang Buddha Gautama.
Tidak ada orang Tibet, bahkan orang-orang desa yang paling bodoh sekalipun, yang memiliki
pandangan salah ini. Kaum lhama terpelajar dan semua Buddhis yang lain menyetujui bahwa Sang
Buddha Gautama (Sakya Thubpa demikian beliau dipanggil di Tibet) tidak dapat dilahirkan
kembali. Alasannya yaitu bahwa Sang Gautama telah mencapai nirvâna, suatu keadaan yang
terhindar dari segala kemungkinan reinkarnasi, sebab apa yang disebut nirvâna sebenarnya
yaitu kebebasan dari lingkaran kelahiran dan kematian.
Demikian juga para avatar dari Sang Buddha Gautama. Tidak ada satu pun di masa lalu dan tak
pernah juga ada di saat ini.
Mungkinkah ada inkarnasi dari Buddha yang lain? – dalam kenyataannya: tidak. Hal ini disebabkan
oleh alasan yang sama – para Buddha telah mencapai nirvâna. sebab telah menyadari
sepenuhnya keadaan inilah makanya mereka menjadi Buddha. Namun, sementara di negara-
negara Buddhis Selatan sebutan ‘Buddha’ secara khusus diberikan kepada Sang Buddha
manusia, kepada para pendahulunya, dan pada sang pengganti yang ditunggu-tunggu, Maitreya,
maka para umat Buddha di Utara cenderung membayangkan beberapa entitas mistik dan simbolis,
yang tentu dalam gaya ‘Buddha’. Mereka inilah yang dikatakan memanifestasikan diri mereka
melalui para avatar, dan avatar mereka ini bisa saja dalam wujud apapun selain berwujud manusia.
Kemudian menurut kepercayaan yang populer, seorang tulku dapat berupa inkarnasi dari seorang
suci, seorang yang telah meninggal yang dianggap istimewa dan berpengetahuan, atau inkarnasi
dari entitas yang bukan manusia.
Inkarnasi dari entitas berupa seorang manusia lebih kerap terjadi dibandingkan yang bukan manusia.
Para tulku dari entitas yang bukan manusia terbatas pada beberapa avatar dari para Buddha
mistik, para Bodhisatva dan para dewa, seperti Dalai Lhama, Lhama Agung Tashilunpo, Putri Dorje
88
Padmo, dan di peringkat lebih rendah, para tulku dari beberapa dewa pribumi, seperti Pekar.
Para tulku dari malaikat, setan, dan peri (khadhoma) biasanya hanya muncul dalam dongeng-
dongeng kepahlawanan, namun beberapa pria dan wanita cukup menyukai untuk menjadi entitas-
entitas lokal yang termasyur itu. Tulku jenis ini tidak dikenal di kalangan kaum ningrat Lhamais. Kita
mungkin boleh berpendapat bahwa tulku jenis ini bukan berasal dari kaum Lhamais, namun berasal
dari kepercayaan kuno Tibet.
Walaupun Buddhisme menyangkal adanya perpindahan jiwa dan menegaskan bahwa kepercayaan
akan suatu ego permanen yaitu suatu kesalahan yang fatal, namun kebanyakan kaum Buddhis
yang tak terpelajar masih tenggelam dalam doktrin India kuno yang menyatakan bahwa sang jîva
(diri) secara berkala ‘mengubah penampilan tubuh luar menjadi sesuatu yang baru, sebagaimana
kita membuang pakaian lama untuk menggantinya dengan yang baru’.[52]
Berdasarkan kepercayaan itu, maka diakuilah beberapa rangkaian reinkarnasi dari orang-orang
yang dimuliakan[53]. Inilah yaitu gaya ‘tasbih dari kelahiran-kelahiran’ atau ‘tasbih dari jasmani-
jasmani’ sebab mereka berhubungan satu sama lain seperti biji-biji tasbih.
saat seorang tulku dianggap sebagai jelmaan dari seorang dewa atau berasal dari sebuah
entitas spiritual yang ko-eksis dengannya, maka kalimat ‘sang diri yang mengubah wujud luarnya’
sama sekali tidak menjelaskan tentang ‘sifat’nya. Namun orang awam Tibet tak berpikir lebih
dalam, dan untuk beberapa tujuan yang praktis, para tulku dari tokoh-tokoh surga dianggap
sebagai reinkarnasi yang sebenarnya dari para pendahulunya.
Leluhur dari sebuah rangkaian tulku-tulku manusia disebut kukhongma, dia itu biasanya – tapi
tidak harus – yaitu seorang lhama.
Ayah dan ibu sang pembaharu Tsong Khapa yaitu salah satu contoh di antara beberapa
pengecualian yang dapat kusebutkan. Keduanya bereinkarnasi dalam diri dua anak lelaki yang
menjadi bhikkhu dan sebagaimana seharusnya seorang lhama, mereka pun memiliki kedudukan di
biara Kum-Bum. Lhama yang dinyatakan sebagai reinkarnasi dari ayah Tsong Khapa bernama
Aghia Tsang dan merupakan orang terhormat di biara itu. Saat aku tinggal di Kum-Bum, dia
seorang bocah lelaki berusia sepuluh tahun.
Terdapat juga beberapa biarawati atau bhikkhuni yang merupakan para tulku dari wanita-wanita
suci yang telah wafat atau para dewi.
Oh ya, seorang pengamat yang jahil mungkin akan menanyakan bagaimana kecerdasan dan
kesucian menjadi hilang dalam sebuah rangkaian inkarnasi-inkarnasi. Bukanlah hal luar biasa jika
kita temui seorang yang benar-benar bodoh ternyata dinyatakan sebagai titisan seorang pemikir
ulung, atau seorang yang berorientasi duniawi dan berselera tinggi terhadap makanan dan pakaian
disebut sebagai inkarnasi dari seorang pertapa mistik yang tersohor akan kesederhanaannya.
Proses reinkarnasi yang terjadi pada para tulku tidaklah mengherankan mereka-mereka yang
mempercayai adanya perpindahan ego. Menurut pandangan mereka, kita semua yaitu tulku,
sebab sang diri, yang sekarang menitis pada wujud kita sekarang, telah ada dalam bentuk yang
lain sebelumnya. Hal yang membuat para tulku istimewa yaitu bahwa mereka merupakan
reinkarnasi dari pribadi-pribadi yang mengagumkan, bahwa mereka, kadang-kadang, mampu
mengingat kehidupan mereka yang dulu dan juga mampu, pada saat kematian, memilih dan
menentukan tempat dimana mereka kelak dilahirkan dan siapa orang tua mereka yang akan
datang.
89
Namun demikian, beberapa lhama melihat suatu proses reinkarnasi yang sama sekali berbeda
antara orang biasa dan orang yang telah mencapai pencerahan. Menurut mereka, orang-orang,
yang tak melakukan latihan-latihan mental, yang hidup seperti binatang, yang tak berpikir dalam
setiap tindakannya, akan seperti para pegelana yang mengembara di seluruh penjuru dunia tanpa
tujuan yang pasti. Orang ini melihat sebuah danau di timur, dan sebab haus, segera
bergegas ke sana. Saat hendak mencapai tepiannya, dia mencium bau asap. Ini menimbulkan ide
akan keberadaan sebuah rumah ataupun tenda. Betapa menyenangkan, pikirnya, untuk
mendapatkan secangkir teh panas dibandingkan air, dan tempat bernaung saat malam. Maka orang itu
kemudian meninggalkan danau itu tanpa sempat mencapai tepiannya dan melanjutkan perjalanan
ke utara, sebab bau asap berasal dari sana. Dalam perjalanannya, belum sempat ia bertemu
dengan sebuah rumah ataupun tenda, makhluk yang menakutkan muncul di hadapannya. Ketakutan,
sang pengelana berbalik dan lari menjauh ke arah selatan. Saat merasa sudah aman, dia pun
beristirahat. Sekarang, para pengelana lain yang melewatinya bercerita padanya tentang suatu
tempat yang penuh kebahagiaan dan kesenangan yang sedang mereka tuju. Dengan antusias,
pengelana itu bergabung dengan kelompok itu dan pergi ke arah barat. Dan dalam perjalanan ia
akan tergoda dan kembali mengubah arahnya sebelum menemukan tempat yang benar-benar
menggugah hatinya.
Jadi, dalam pengembaraan acak yang terus menerus di sepanjang hidupnya, orang bodoh itu tak
akan mendapatkan hasil apapun. Kematian akan menjemputnya di perjalanan, dan konflik kekuatan
dari aktifitasnya yang tak terkoordinasi akan tersebar ke empat penjuru mata angin. Jika kita tak
mampu menghasilkan beberapa energi terkoordinasi yang dibutuhkan untuk memastikan kelanjutan
sebuah aliran energi yang sama, maka seorang tulku takkan muncul.
Sebaliknya, seorang yang telah mencapai pencerahan diibaratkan seperti seorang pengelana yang
sepenuhnya menyadari tempat yang ingin ia tuju, memiliki informasi yang cukup mengenai letak
geografisnya dan jalan menuju ke sana. Pikirannya benar-benar terpusat pada tujuannya, tak
terpengaruh pada berbagai bayangan dan godaan yang ada di sisi jalan, orang itu mengendalikan
kekuatan-kekuatan itu berkat konsentrasi pikiran dan aktifitas tubuh. Kematian mungkin akan
menjemputnya di perjalanan, namun energi batin yang mana tubuh yaitu pencipta sekaligus juga
sarana, tetap berkoherensi. Tetap melangkah maju untuk mencapai tujuan yang sama, ia akan
melengkapi dirinya dengan sarana materi yang baru, wujud yang baru, dialah yang disebut seorang
tulku.
Disini kita akan menemukan beberapa pandangan yang berbeda. Beberapa lhama menganggap
energi yang bertahan itu menarik intisari dari elemen-elemen yang baik dan itulah yang menjadi
nukleus makhluk yang baru. Yang lain berpendapat bahwa kekuatan yang tak berwujud itu
menggabungkan diri pada makhluk yang sudah ada, yang karakter materi dan mentalnya diperoleh
dari kehidupan-kehidupan yang lalu, dan jadilah kesatuan yang harmonis.
Sudah pasti beberapa kritik dan keberatan dapat diajukan pada teori-teori ini, namun artikel ini hanya
bertujuan menghubungkan opini-opini lhamais dan bukan untuk mendiskusikannya. Aku hanya
dapat mengatakan bahwa semua pendapat yang kusebutkan itu konsisten dengan cerita-cerita
Tibet yang para pahlawannya ditentukan oleh tindakan dari keinginan[54], sifat dari reinkarnasi
mereka, dan pola tindakan para avatar mereka yang akan datang. Ini menunjukkan bahwa sudah
sejak dulu kala teori-teori yang sama itu tersebar di kalangan orang Tibet.
Terlepas dari bagian mana sebuah tujuan yang sadar berperan dalam menghasilkan kelanjutan dari
sebuah rangkaian para tulku, seseorang haruslah waspada saat berpikir bahwa komposisi dari
kepribadian yang baru dihasilkan dengan sesuka hati. Ide akan sang penentu sangat kuat berakar
pada pikiran bahkan pada kaum gembala liar Tibet sekalipun. Hukum disebutkan akan berperan di
90
pada pikiran bahkan pada kaum gembala liar Tibet sekalipun. Hukum disebutkan akan berperan di
sepanjang proses itu dan berjalan sesuai dengan sifat ketertarikan dan penolakan.
Kaum lhamais yang lebih terpelajar mempunyai pandangan yang lain mengenai sifat para tulku.
Yang ini benar-benar ortodoks, sepenuhnya setuju dengan arti kata tulku yang sebenarnya.
Kata tulku berarti suatu bentuk yang diciptakan secara gaib, dan sesuai dengan definisi ini ,
kita dapat menarik kesimpulan bahwa para tulku itu yaitu tubuh-tubuh yang tak nyata, wujud-wujud
gaib, boneka-boneka yang diciptakan seorang ahli ilmu gaib untuk melaksanakan keinginannya.
Kutipan dari penjelasan tentang tulku yang diberikan Dalai Lhama padaku mungkin dapat
membantuku menjelaskan dengan lebih baik.
Sebagaimana yang kujelaskan di bab pertama artikel ini, aku bertemu dengan Dalai Lhama pada
tahun 1912 saat beliau tinggal di Himalaya, aku bertanya padanya beberapa pertanyaan tentang
doktrin lhamais yang pada awalnya beliau jelaskan secara lisan. sesudah itu, agar tidak terjadi
kesalahpahaman, beliau menyuruhku menulis daftar pertanyaan akan hal-hal yang belum jelas
bagiku. Pada pertanyaan-pertanyaan ini beliau memberikan jawaban secara tulisan. Kutipan
berikut kuambil dari dokumen yang diberikan Dalai Lhama padaku.
“Seorang Bodhisatva[55] yaitu dasar dari bentuk-bentuk gaib yang tak terhitung. Dengan kekuatan
yang dihasilkan dari konsentrasi pikiran yang sempurna, dia dapat, pada suatu saat yang sama,
memperlihatkan wujud (tulpa)[56] dirinya di ribuan juta alam. Dia mampu menciptakan bukan hanya
wujud manusia, namun segala bentuk yang diinginkannya, bahkan berupa benda-benda yang tak
bergerak, seperti gunung, gedung, rumah, hutan, jalan, jembatan, dan sebagainya. Dia mampu
menghasilkan fenomena atmosferik seperti halnya minuman pelepas dahaga dari keabadian.” (
Aku telah dinasehati untuk mengekspresikan hal terakhir dari sisi bahasa dan juga nilai simbolik).
“Dalam kenyataannya,” bunyi kesimpulan itu, “tak ada batas kekuatannya dalam penciptaan wujud-
wujud gaib.”
Teori yang disetujui oleh penguasa tertinggi dari birokrat Lhamaisme itu juga identik dengan yang
dijelaskan di literatur Mahayanis, dimana disebutkan bahwa seorang Bodhisatva yang sempurna
mampu membuat sepuluh jenis penciptaan gaib. Kemampuan untuk menciptakan hal-hal gaib, para
tulku, atau pun yang bersifat kurang kekal dan kasat mata yakni para tulpa, bukanlah hanya dimiliki
secara eksklusif oleh mahkluk mistik yang agung itu. Manusia, dewa atau mahkluk yang jahat
sekalipun bisa saja memiliki kemampuan itu. Perbedaannya hanya pada tingkat kekuatan, dan hal
itu bergantung pada kekuatan konsentrasi dan kualitas dari pikiran itu sendiri.
Para tulku dari entitas mistik ko-eksis (keberadaan dalam satu waktu yang bersamaan) dengan
orang tua spiritual mereka. Misalnya, saat Dalai Lhama yang merupakan tulku Chenrezigs,
tinggal di Lhasa, Chenrezigs itu sendiri – demikian diyakini orang Tibet – berdiam di Nankai
Potala, sebuah pulau dekat pesisir China.[57]
Sementara Dhyani Buddha Odpagmed, yang mana Tashi Lhama diyakini sebagai tulkunya,
diyakini tinggal di Surga Barat, Nubdewanchen.
Manusia juga dapat ko-eksis dengan turunan magis mereka. Raja Srong bstan gampo dan ksatria
kepala suku Gesar dari Ling yaitu contoh untuk hal ini. Dikatakan bahwa saat terbang ke
Shigatze, Tashi Lhama meninggalkan posisinya pada sebuah wujud gaib yang mewakilinya dengan
sempurna dan menjalankan fungsinya dengan baik dan alami sehingga tak seorang pun
meragukannya. Saat Sang Lhama telah tiba di perbatasan dengan selamat, wujud gaib itupun
menghilang.[58] Ketiga orang yang disebutkan di atas yaitu para tulku, namun menurut kaum
lhamais, keadaan itu tak menghindarkan penciptaan yang lebih lanjut dari suatu wujud penjelmaan.
91
Mereka ini muncul dari satu sama lain maka terdapatlah di sana penjelmaan tingkat yang kedua
dan ketiga.[59]
Bisa saja terjadi bahwa diri yang sama dari seorang lhama yang telah wafat, yang memperbanyak
dirinya sesudah kematiannya, memiliki beberapa tulku yang bersifat sementara. Sebaliknya, ada
beberapa lhama yang dikatakan menjadi tulku dari beberapa entitas. Sebelum mengakhiri subjek
ini, mungkin menarik jika kita mengingat kembali bahwa para pengikut sekte docetae, pada awal
masa agama Kristen, menganggap Jesus Kristus yaitu seorang tulku. Mereka berpendapat
bahwa Jesus yang telah disalibkan bukanlah makhluk biasa, namun sebuah penjelmaan yang
diciptakan untuk memainkan peranan itu oleh sebuah entitas spiritual.
Jadi, dalam menyangkal tradisi ortodoks yang mengatakan bahwa Sang Buddha Gautama yaitu
penjelmaan dari seorang Bodhisatva yang turun dari Surga Tusita, beberapa Buddhis menyatakan
bahwa seorang Buddha sejati takkan pernah terjelma lagi, namun ia menciptakan sebuah
penjelmaan yang lalu muncul di India sebagai seorang Gautama.[60]
Terlepas dari bermacam teori yang lebih jelas maupun samar mengenai para tulku dalam lingkaran
orang-orang Tibet yang terpelajar, para tulku dianggap, praktisnya, sebagai reinkarnasi sejati dari
para pendahulunya, dan formalitas mengenai proses identifikasi mereka telah ada pengaturannya.
Tak jarang terjadi, bahwa seorang lhama – sering kali dirinya yaitu salah seorang dari barisan
para tulku – pada saat akan wafat, menceritakan negara atau distrik dimana ia kelak akan
dilahirkan. Kadang ia menambahkan tentang ciri-ciri orang tuanya kelak, keadaan rumah mereka,
dan sebagainya.
Berbeda dengan pendapat yang berlaku di sekolah-sekolah Buddhisme di selatan, para lhamais
meyakini adanya tenggang waktu yang lamanya tak dapat ditentukan, diantara kematian dan
kelahiran kembali seorang makhluk ke dunia. Pada interval ini , kesadaran utama, sebagai
sebab kelahiran kembali, mengembara dalam labirin bardo,[61] mencari jalannya.
Biasanya, sekitar dua tahun sesudah wafatnya sang lhama tulku, maka bendahara, kepala pelayan,
atau pengurus rumahnya yang lain mulai mencari reinkarnasinya. Pada saat itu, anak yang
kemungkinan merupakan reinkarnasinya berusia sekitar satu atau dua tahun. Ada kasus dimana
proses reinkarnasi itu tertunda, namun itu jarang sekali terjadi.
Jika mendiang lhama meninggalkan petunjuk mengenai kelahiran kembalinya, para bhikkhunya
akan melakukan pencarian sesuai petunjuk itu, jika petunjuk yang ada cukup minim, mereka akan
berkonsultasi dengan seorang lhama tulku peramal[62] yang biasanya akan memberi petunjuk dalam
kata-kata yang samar mengenai tempat dimana pencarian harus dilakukan dan ciri-ciri si anak.
Jika seorang tulku yang hendak ditemukan berasal dari kalangan atas, maka harus berkonsultasi
dengan salah seorang peramal negara, dan hal ini berlaku saat mencari reinkarnasi dari Dalai
Lhama dan Tashi Lhama.
Terkadang seorang anak dengan mudah ditemukan sebab tempat kelahiran dan karakteristiknya
yang lain sesuai dengan petunjuk yang ditinggalkan mendiang lhama atau sang peramal. Pada
kasus yang lain, tahun-tahun berlalu tanpa ditemukan seorang pun, dan beberapa ‘penjelmaan’
bahkan tak pernah ditemukan. Hal ini akan menyebabkan kesedihan yang dalam bagi para pemuja
sang tulku, terutama para bhikkhu di biaranya, yang sebab kekurangan pemimpin yang dipuja,
berarti juga berkurangnya para dermawan yang biasanya menyumbangkan makanan dan hadiah
bagi biara. Namun demikian, saat sebagian berkeluh kesah, keadaan yang menyedihkan itu diam-
diam menjadi kegembiraan bagi seorang pelayan licik yang selama ketiadaan pemimpin resmi,
92
mengendalikan pengelolaan kekayaan sang tulku dan sebab nya mendapatkan jalan untuk
memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri.
Jika seorang anak yang hampir memenuhi semua persyaratan telah ditemukan, mereka
berkonsultasi kembali dengan sang lhama peramal, jika sang lhama menyetujui anak ini, ujian akhir
berikut pun dipersiapkan.
beberapa barang seperti tasbih-tasbih, berbagai perlengkapan ritual, artikel -artikel , cangkir-cangkir
teh[63], dsb, diletakkan bersama-sama, dan si anak harus mengambil barang-barang yang
merupakan milik mendiang sang tulku, hal itu menunjukkan bahwa si anak mengenali barang yang
merupakan miliknya di kehidupan sebelumnya.
Kadang ada kejadian dimana beberapa anak dicalonkan untuk menduduki kursi tulku yang kosong,
sebab mereka sama-sama memiliki beberapa tanda yang menyakinkan, dan mereka semua
mengambil barang yang merupakan milik mendiang lhama dengan benar. Atau kadang ada
kejadian dimana dua atau tiga orang paranormal tak sependapat mengenai calon tulku mana yang
otentik.
Kasus-kasus diatas lebih sering terjadi jika menyangkut salah seorang penerus dari para tulku
agung, yang merupakan penguasa dari sebuah biara besar dan pemilik tanah yang luas. Banyak
keluarga yang sangat berharap salah satu anaknya dapat menduduki tahta ini , yang tentunya
akan membawa kemuliaan dan juga keuntungan materi.
Biasanya orang tua dari seorang tulku diizinkan tinggal di biara hingga si anak mampu mandiri
tanpa pengasuhan dan pengawasan ibunya. Kemudian mereka diberikan tempat tinggal yang
nyaman di tanah milik biara namun di luar lingkungan gompa, dan apapun yang mereka butuhkan
akan dipenuhi dengan baik. Jika biara itu tak memiliki tempat tinggal yang layak bagi orang tua
sang tulku agung, maka mereka akan dilayani dan dipenuhi segala kebutuhannya di rumah mereka
sendiri.
Disamping seorang lhama tulku agung, yang merupakan penguasa biara, gompa-gompa juga
memiliki beberapa tulku lain. Jumlah para tulku ini di sebuah kota biara terbesar dapat
mencapai beberapa ratus orang. Beberapa diantaranya merupakan petinggi dalam kaum ‘ningrat’
Lhamais dan untuk memperluas kedudukan mereka di biara leluhurnya, mereka juga memiliki tanah
dan rumah megah di gompa-gompa yang lain di Tibet atau Mongolia. Dalam kenyataannya,
menjadi kerabat dekat bahkan yang jauh sekalipun dari seorang tulku akan memberikan beberapa
keuntungan yang mampu membangkitkan rasa iri hati orang-orang Tibet manapun.
Demikianlah, banyak intrik yang timbul dalam proses suksesi seorang tulku, banyak perseteruan
berdarah yang terjadi dalam kompetisi yang demikian penuh hawa nafsu itu, misalnya yang terjadi
diantara suku Kham yang suka berperang itu atau di sekitar daerah perbatasan bagian utara.
Berbagai kisah mengenai pembuktian yang luar biasa tentang memori masa lalu dan keajaiban
yang dibuat seorang tulku muda untuk meyakinkan identitasnya beredar di seluruh penjuru Tibet.
Kami temukan dalam kisah-kisah ini sifat-sifat khas orang Tibet yakni perpaduan antara
takhyul, kecerdikan, kelucuan, dan kejadian-kejadian yang membingungkan. Aku dapat
menceritakan lusinan kisah-kisah itu, namun aku lebih suka menceritakan kisah yang berhubungan
dengan orang-orang yang secara pribadi kukenal baik.
Di samping rumah Lhama Pegyai, dimana aku tinggal saat di Kum-Bum, berdiam seorang tulku
kecil bernama Agnai Tsang. [64] Tujuh tahun telah berlalu sejak wafatnya tuan terakhir rumah itu dan
seorang anak pada siapa ia berinkarnasi tak jua ditemukan. Aku pikir keadaan itu takkan membuat
93
pelayan rumah sang lhama merasa berduka sebab ia mengelola kekayaan sang lhama dan
kelihatannya cukup menguntungkan.
Suatu saat dalam perjalanannya saat berdagang, pelayan itu merasa letih dan haus, kemudian ia
pun singgah di sebuah dusun untuk beristirahat dan minum. Saat sang nyonya rumah membuat teh,
s i nierpa (pelayan) mengeluarkan kotak tembakau batu jade dari kantongnya, dan saat hendak
mengambil sejumput tembakau, seorang anak lelaki yang bermain di sudut ruangan sesaat
menghentikannya, sembari meletakkan tangan kecilnya di atas kotak itu, ia bertanya:
“Kenapa kamu pakai kotak tembakau saya?”
Pelayan itu bagai tersambar petir. Memang kotak tembakau itu bukan miliknya, namun milik
mendiang Agnai Tsang, dan walaupun mungkin ia tak bermaksud mencurinya, namun ia telah
mengambil alih kepemilikannya.
Dia gemetaran dan tak mampu bergerak saat si anak menatapnya dengan raut wajah yang tiba-
tiba berubah menjadi keras dan dingin, tanpa ada kesan kekanak-kanakan di dalamnya.
“Kembalikan pada saya sekarang juga, itu milik saya,” katanya lagi.
Tersengat oleh rasa penyesalan, ketakutan, dan kebingungan, bhikkhu itu hanya mampu berlutut
dan bersujud di depan reinkarnasi tuannya itu.
Beberapa hari kemudian, aku melihat anak lelaki itu datang ke rumah besarnya. Dia memakai
jubah brokat kuning[65] dan menunggang seekor anak kuda hitam yang cantik, nierpa itu memegang
tali kekangnya.
Saat prosesi itu memasuki rumah, anak itu berkata: “Kenapa kita belok kiri untuk ke halaman
kedua? Pintu pagarnya kan di sebelah kanan.”
Saat ini, sebab alasan tertentu, sesudah sang lhama wafat, pintu pagar yang di sebelah kanan telah
ditutup dan sebagai gantinya dibuka pintu yang lain.
Para bhikkhu takjub pada bukti baru akan keotentikan lhama mereka itu dan kemudian semua
menuju ke tempat tinggal sang tulku dimana teh akan segera dihidangkan.
Anak lelaki itu duduk di sebuah bantal duduk yang besar dan keras sambil menatap sebuah cangkir
bertatakan perak mengkilat dengan penutup dari batu berharga yang terletak di atas meja di
hadapannya.
“Berikan padaku cangkir Cina yang lebih besar itu,” perintahnya. Dia kemudian menjelaskan detil
cangkir ini berikut hiasannya.
Tak ada seorang pun yang tahu tentang cangkir itu, juga si pelayan. Para bhikkhu dengan sopan
berusaha menjelaskan pada pemimpin muda mereka bahwa tak ada cangkir yang demikian di
rumah itu.
Pada saat itu, dengan memanfaatkan perkenalanku yang sudah cukup lama dengan si pelayan, aku
berhasil masuk ke ruangan itu. Aku telah mendengar kisah tentang kotak tembakau itu, dan
berharap dapat bertemu langsung dengan tetangga kecilku yang luar biasa itu. Sesuai kebiasaan
aku memberikan hadiah sebuah selendang dan beberapa hadiah lain. Dia menerimanya dengan
senyum ramah, namun sebab pikirannya masih tertuju pada cangkir ini , dia berkata:
“Cari dengan cermat, kamu akan menemukannya.”
94
Dan tiba-tiba, seolah-olah sekilas ingatan menyentak pikirannya, dia menjelaskan tentang sebuah
kotak yang dicat dengan warna tertentu dan ada di suatu tempat di gudang.
Para bhikkhu secara ringkas menceritakan padaku apa yang sedang terjadi dan aku sangat tertarik
untuk melihat apa yang akan terjadi berikutnya.
Kurang dari setengah jam kemudian, perlengkapan itu, cangkir, tatakan dan penutup, ditemukan
berada dalam sebuah kotak kecil di dasar kotak yang dijelaskan anak lelaki itu tadi.
“Aku tak tahu ada cangkir itu,” kata si pelayan padaku sesudah kejadian itu. “Sang lhama sendiri,
maksudku mendiang tuan kami itu, yang meletakkan cangkir itu ke dalam kotak yang di dalamnya
tak ada barang berharga lain dan tak pernah dibuka selama bertahun-tahun.”
Aku juga menyaksikan penemuan seorang tulku yang lebih heboh dan fantastis saat berada di
sebuah penginapan kecil di sebuah dusun, beberapa mil dari Ansi.
Jalan-jalan yang menuju ke Tibet dari Mongolia, di wilayah itu, merupakan jalan-jalan besar dan
panjang yang membentang dari Peking ke Rusia melintasi hampir keseluruhan benua itu. Jadi saat
senja itu aku tiba di penginapan, aku tak terkejut, hanya agak terganggu saat melihat penginapan
dipenuhi orang-orang yang berasal dari sebuah karavan Mongolia.
Orang-orang itu kelihatan bersemangat seperti sedang terjadi sesuatu hal yang tak lazim. sebab
rasa hormat mereka yang sedikit bertambah saat melihat jubah biara yang dikenakan oleh aku dan
lhama Yong Den, para pengembara itu menyisakan sebuah kamar untuk rombongan kami dan
menyediakan tempat di istal untuk kuda-kuda kami.
Saat aku dan Yong Den berjalan-jalan di halaman sambil melihat unta-unta orang Mongol, salah
satu pintu kamar terbuka, dan seorang anak muda yang tampan, berbalut jubah Tibet yang usang,
berdiri di ambang pintu sembari bertanya apakah kami orang Tibet. Kami mengiyakan.
Kemudian seorang lhama yang lebih tua muncul di belakang si anak muda dan juga menyapa kami
dalam bahasa Tibet.
Seperti biasanya, kami saling bertanya tentang tempat dari mana kami berasal dan tujuan kami.
Sang lhama berkata bahwa sebenarnya ia berniat ke Lhasa melewati jalan musim dingin Suchow,
namun sekarang, tambahnya, perjalanan itu tak perlu lagi dilanjutkan. Para pelayan orang Mongolia
mengangguk-angguk tanda setuju.
Aku merasa heran apakah yang membuat orang-orang ini mengubah pikirannya saat sudah berada
di tengah perjalanan, namun sebab sang Lhama kemudian beristirahat di kamarnya, aku merasa
tidak sopan untuk mengikutinya dan meminta penjelasan yang tak mereka tawarkan.
Kemudian, malamnya, sesudah bertanya tentang aku dan Yong Den pada pelayan-pelayan kami,
orang-orang Mongolia itu mengundang kami minum teh dan aku mendengarkan keseluruhan cerita
itu.
Anak muda yang tampan itu yaitu penduduk asli propinsi Ngari yang terletak di barat daya Tibet.
Kedengarannya ia yaitu seorang yang suka berimajinasi, setidaknya akan demikian gambaran
kebanyakan orang Barat, namun kami sekarang sedang berada di Asia.
Sejak kecil, Migyur – demikian namanya – tak pernah merasa tenang, dia merasa selalu dihantui
pemikiran bahwa ia tidak berada di tempat yang seharusnya. Dia merasa asing di desanya
sendiri, seorang asing di tengah keluarganya. Di mimpinya ia melihat pemandangan yang tak
pernah ada di Ngari: tempat penyepian yang berpasir, tenda-tenda bulat, sebuah biara di bukit
95
kecil. Bahkan saat terjaga pun, imajinasi subjektif itu tetap muncul, melapisi seluruh benda yang
berada di sekelilingnya, menciptakan bayangan tanpa henti di sekitarnya.
Dia masih seorang anak kecil saat kabur dari rumah, tak lagi mampu menahan keinginan untuk
menemukan makna penglihatannya. Sejak saat itu, Migyur menjadi seorang pengembara, bekerja
serabutan di sepanjang perjalanannya, kadang mengemis, berkelana tanpa tujuan yang jelas tanpa
mampu mengendalikan keresahannya ataupun merasa betah di suatu tempat.
Hari ini ia tiba dari Aric, mengembara tanpa tujuan sebagaimana biasanya.
Dia melihat penginapan itu, tenda karavan, unta-unta di halaman. Tanpa tahu kenapa, ia kemudian
melewati pagarnya, dan menemukan dirinya tengah berhadap-hadapan dengan sang lhama dan
rombongannya. Sesaat , secepat kilat, kejadian-kejadian di masa lalu memenuhi pikirannya. Di
ingatannya lhama itu masih muda, salah seorang muridnya, dan ia sendiri yaitu seorang lhama
tua, keduanya sedang dalam perjalanan pulang ke biara mereka di sebuah bukit kecil sesudah
berziarah ke tempat-tempat suci di Tibet.
Dia menceritakan kembali semua kejadian-kejadian itu, memberi rincian setiap menit perjalanan
mereka, kehidupan mereka di biara terpencil itu, dan hal-hal istimewa yang lain.
Sekarang, tujuan perjalanan orang-orang Mongolia itu secara kebetulan yaitu untuk meminta
saran Dalai Lhama bagaimana cara terbaik untuk menemukan tulku kepala biara mereka, yang
kedudukannya kosong selama lebih dari dua puluh tahun, sesudah berbagai usaha keras yang telah
dilakukan untuk menemukan reinkarnasinya.
Orang-orang yang percaya takhyul ini yakin bahwa Sang Dalai Lhama melalui kemampuan
supernormalnya, telah mengetahui maksud mereka dan berbaik hati mempertemukan mereka
dengan reinkarnasi pemimpin mereka.
Pengembara dari Ngari itu segera memenuhi ujian sebagaimana biasanya, dan mengambil tanpa
ragu atau salah beberapa dari beberapa barang yang hampir mirip, yang merupakan milik lhama
terdahulu.
Tak ada sedikit keraguan pun di benak orang-orang Mongolia itu. Keesokan harinya, aku melihat
kafilah itu memulai perjalanan, bergerak mengikuti langkah perlahan unta-unta besar dan
menghilang di garis cakrawala menuju keheningan gurun Gobi. Sang tulku yang baru sedang dalam
perjalanan untuk menemui takdirnya.
96
BAB EMPAT
97
98
BERINTERAKSI DENGAN HANTU DAN SETAN
99
100
Komuni yang Menyeramkan
Sebagian besar orang Tibet yang menggeluti hal-hal gaib kelihatannya cenderung menyenangi
praktek-praktek dan perenungan yang berkaitan dengan hal-hal yang menyeramkan, yang
kebanyakan melibatkan jasad-jasad manusia. Para ngagspa yang jahat menggunakan cara ini
untuk memperoleh kekuatan gaib, namun mereka yang lebih bijaksana menyatakan bahwa ajaran-
ajaran eksoterik dan suatu jenis latihan spiritual tertentu yaitu rahasia dibalik simbol-simbol dan
bahasa konvensional.
Tak perlu kukatakan lagi bahwa hal-hal gaib yang menjijikkan ini sama sekali tak ada hubungannya
dengan Buddhisme. Ini juga merupakan hal asing bagi lhamaisme sejati, walaupun ada beberapa
lhama yang diam-diam tertarik pada hal-hal yang ganjil. Asal-usulnya dapat ditelusuri di Hinduisme
Tantrik dan doktrin-doktrin shamanis Bönpo kuno.
Kisah berikut cukup mampu menggambarkan sisi gelap kegaiban orang Tibet. Kisah ini diceritakan
padaku di Cherku, oleh seseorang yang kenal dekat dengan mereka yang terlibat di dalamnya,
beberapa tahun sesudah kejadian berlangsung.
Sang lhama yang menjadi tokoh penting di cerita itu yaitu seorang kepala Miniagpar Lhakhang
dekat Tachienlu, dikenal dengan nama Chogs Tsang. Dia penulis beberapa ramalan tentang
peristiwa-peristiwa besar yang akan terjadi di Tibet, Cina, dan belahan dunia yang lain. Dia
dihormati sebab memiliki kekuatan supernormal, diantaranya yaitu kemampuannya membuat
kematian.
Chogs Tsang memiliki sifat aneh, kadang tak dapat dipahami, dan ketagihan minuman keras.
Selama beberapa waktu dia pernah tinggal dengan kepala suku Tachienlu yang bergelar gyalpo
(raja).
Suatu kali, selagi mengobrol sembari minum dengan tuan rumahnya, sang lhama meminta adik
perempuan penjaga kuda si empunya rumah untuk dijadikan istrinya. Si penjaga kuda yang
kebetulan hadir, menolak permintaannya. Sang lhama naik pitam dan dengan kasar membanting
cangkir dari batu jade ke lantai hingga hancur berkeping-keping, dan ia mengutuk si penjaga kuda,
mengatakan bahwa dua hari lagi ia pasti akan meninggal.
Sang gyalpo yang juga tidak menyetujui permintaan sang lhama, tidak mempercayai kekuatan
kutukannya. Pegawainya itu masih muda dan sehat, debatnya. Namun sang lhama tetap
meyakinkan bahwa ia akan mati dalam dua hari, dan kenyataanya, dua hari kemudian penjaga
kuda itu pun meninggal.
Kemudian sang gyalpo dan orang tua si gadis menjadi ketakutan dan segera membawa gadis itu
kepada sang lhama. Namun ia menolaknya.
“Dia seharusnya berguna,” katanya, “untuk memperoleh sebuah objek yang akan menguntungkan
beberapa makhluk; namun kesempatan itu sudah berlalu, dan aku tak menginginkan lagi seorang
istri.”
Kisah ini mengingatkan kita pada Dugpa Kunlegs, yang telah kuceritakan pada bab awal. Ini yaitu
tema umum dongeng-dongeng orang Tibet.
Suatu malam, Chogs Tsang ini tiba-tiba memanggil salah satu trapanya.
“Siapkan dua ekor kuda, kita berangkat,” perintahnya.
101
Bhikkhu itu membantah sang lhama dengan mengatakan bahwa hari sudah larut malam, lebih baik
besok pagi saja.
“Jangan membantah,” kata sang lhama singkat. “Ayo berangkat.”
Mereka pun berangkat, berkuda di tengah malam hingga tiba di sebuah tempat di dekat sebuah
sungai. Mereka turun dari kuda dan berjalan mendekati tepian sungai.
Meskipun langit gelap gulita, namun ada satu tempat di air sungai yang ‘disinari cahaya matahari’,
dan di tempat terang itu tampak sesosok mayat terapung dan sedang bergerak melawan arus.
Sesaat kemudian mayat itu sudah dapat mereka jangkau.
“Keluarkan pisaumu, potong sesayat dagingnya dan makanlah,” perintah Chogs Tsang pada
rekannya itu, dan ia menambahkan:
“Setiap tahun pada tanggal ini, seorang temanku di India selalu mengirimkan makanan padaku.”
Kemudian ia sendiri mulai memotong dan makan.
Trapa itu ketakutan, dia berusaha keras meniru gurunya, namun ia tak mampu memasukkan
sayatan daging itu ke mulutnya, kemudian dia sembunyikan daging itu di ambag[66]nya.
Mereka berdua lalu kembali ke biara dan tiba saat hari sudah subuh.
Sang lhama berkata pada bhikkhu itu:
“Aku sebenarnya berharap dapat berbagi denganmu pemberian yang juga merupakan makanan
gaib yang paling berharga, namun ternyata kamu tak menghargainya. Kamu tak berani memakan
daging yang telah kamu potong itu, lalu kamu sembunyikan di balik baju.”
Mendengar perkataan itu, bhikkhu itu menyesali kepengecutannya, kemudian ia menjulurkan tangan
ke ambagnya untuk mengambil jatah daging mayat itu, namun sesayat daging itu telah hilang.
Kisah ini didukung oleh informasi yang diberikan dengan hati-hati oleh beberapa pertapa dari sekte
Dzogschen.
Menurut mereka, orang-orang yang telah mencapai tingkat yang tinggi dalam kesempurnaan
spiritual, substansi materi dasar tubuh mereka telah berubah menjadi lebih halus dan memiliki
kualitas istimewa.
Cuma beberapa orang yang dapat mengenali perubahan yang terjadi pada orang-orang luar biasa
itu. Sepotong bagian tubuh mereka yang telah berubah itu jika dimakan, akan memberikan rasa
nikmat dan melimpahkan pengetahuan serta kekuatan supernormal bagi mereka yang
menyantapnya.
Seorang pertapa bercerita padaku bahwa saat seorang naljorpa, dengan kemampuan
paranormalnya, menemukan salah seorang dari mereka yang istimewa itu, dia kadang akan
memohon pada orang itu untuk diberitahu tentang kematiannya agar ia dapat memperoleh sedikit
bagian dari tubuhnya yang berharga itu.
Apakah tidak mungkin jika seorang anggota komunitas yang mengerikan ini menjadi tidak sabar
dan menolak untuk menunggu kematian alami orang mulia itu? – Apakah tidak mungkin mereka
mempercepatnya? –
Salah seorang diantara mereka yang membeberkan ritual rahasia ini padaku, kelihatan hampir
102
mengakui bahwa hal itu pernah terjadi, namun dengan hati-hati ia menjelaskan bahwa pada
kejadian itu si korban memang menyerahkan dirinya untuk dikorbankan.
103
Mayat yang Menari
Ada lagi ritual misterius yang lain, yang disebut rolang (mayat yang berdiri). Tradisi dan sejarah
kuno menyebutkan bahwa sebelum masuknya Buddhisme ke Tibet, ritual ini dipraktekkan oleh para
dukun Bonpo pada upacara pemakaman. Bagaimanapun, gerakan sesaat pada mayat pada
peristiwa ini tak dapat dibandingkan dengan apa yang terjadi dalam kontak langsung (tete-a-
tete) yang mengerikan dan fantastis ini yang dilakukan oleh para ahli ilmu gaibTibet.
Terdapat bermacam jenis rolang. Jangan salah menganggap hal itu sebagai ritual trong jug[67] yang
membuat ‘roh’ dari makhluk lain pindah ke sebuah mayat dan menghidupkannya, walaupun mayat
itu tidak digerakkan oleh penghuni aslinya.
Salah satu kisah rolang yang menyeramkan ini diceritakan oleh seorang ngagspa padaku yang
mengatakan bahwa ia sendiri telah pernah mempraktekkannya.
Pelaku ritual ini menutup diri di sebuah ruangan gelap bersama sesosok mayat. Untuk
menggerakkan mayat ini, dia pun berbaring di atasnya, dengan mulut saling berhadapan, dan saat
memeluknya, dia harus terus mengulang mantera-mantera gaib yang sama[68] dalam hati dan
menyingkirkan semua pikiran yang lain.
sesudah beberapa lama, mayat itu mulai bergerak. Dia berdiri dan mencoba melarikan diri; pelaku
ritual itu lalu memegangnya erat agar ia tidak lolos. Kemudian mayat hidup itu menjadi beringas,
melompat-lompat cukup tinggi sambil menarik orang yang harus terus memeluknya itu,
mempertahankan bibirnya tetap di mulut monster itu, sembari terus mengucapkan mantera dalam
hati.
Akhirnya lidah mayat itu terjulur. Masa kritis telah tiba. Pelaku ritual itu segera mencengkram lidah
itu dengan giginya dan kemudian menggigitnya hingga putus. Mayat itu sesaat ambruk.
Kegagalan dalam mengendalikan mayat yang telah dihidupkan akan mengakibatkan kematian bagi
si pelaku ritual.
Lidah yang dikeringkan dengan seksama itu menjadi senjata gaib yang hebat yang amat
dibanggakan oleh sang ngagspa.
Orang Tibet yang memberi detil ritual ini juga menggambarkan secara jelas urutan penghidupan
mayat itu: Kesan hidup pertama tampak pada kilatan matanya, kemudian gerakannya yang lemah
menjadi sangat kuat hingga ia tak mampu menahan gerakan monster yang melompat-lompat itu
hingga ia harus menggunakan seluruh kekuatannya untuk memegangnya. Dia menggambarkan
sensasi yang dia rasakan saat lidah mayat itu menyentuh bibirnya, dan menyadari bahwa saat yang
mengerikan itu telah tiba, jika ia gagal menaklukannya, makhluk yang menyeramkan itu akan
membunuhnya.
Tidakkah pergulatan yang fantastis itu hanya bersifat subjektif semata? Tidakkah itu hanya salah
satu dari sekian ritual ‘kesurupan’ yang sering dipraktekkan dan bahkan cenderung
ditumbuhkembangkan oleh para naljorpa Tibet? sebab merasa ragu, kuminta sang ngagspa untuk
memperlihatkan ‘lidah’ itu, ia menunjukkan padaku sebuah benda kering berwarna hitam yang
seharusnya yaitu sebuah ‘lidah’, namun itu tak cukup membuktikan asal muasal dari relik yang
mengerikan itu.
Anggap saja memang demikian kejadiannya sebab beberapa besar orang Tibet percaya bahwa
104
ritual rolang itu memang benar-benar terjadi.
Selain dihidupkan dengan ritual khusus, orang-orang Tibet percaya bahwa setiap mayat dapat
bangkit secara tiba-tiba dan menyerang manusia. Oleh sebab itu sebuah mayat harus senantiasa
diawasi oleh seseorang yang secara terus menerus melafalkan mantram untuk mencegah
kebangkitan palsu itu.
Seorang trapa dari Sepogon yang terletak di dekat Salween menceritakan padaku kisah berikut ini.
Saat masih menjadi seorang siswa muda, ia menemani tiga orang lhama dari biaranya untuk pergi
ke sebuah rumah dimana seorang penghuninya baru saja meninggal. Disana para lhama
melaksanakan ritual yang biasa dilakukan kepada seseorang yang telah meninggal hingga hari
pemakaman. Pada malam harinya mereka tidur di sudut ruangan besar dimana mayat itu berada,
terikat dalam posisi duduk dengan banyak kain dan baju yang membungkus tubuhnya.
“Tugas membaca mantram diserahkan padaku. Pada tengah malam, sebab kelelahan melafalkan
mantram berulang-ulang, aku ketiduran selama beberapa menit. Sebuah suara sayup
membangunkanku! Seekor kucing melewati mayat itu dan keluar dari ruangan. Kemudian aku
mendengar semacam suara kain yang dikoyak, dan dalam ketakutan yang amat sangat, aku
melihat mayat itu bergerak sambil berusaha melepaskan diri dari ikatannya. Kengerian yang luar
biasa membuatku segera berlari keluar dari rumah itu, namun sebelum keluar aku sempat melihat
mayat hidup itu menjulurkan sebelah tangannya sambil merangkak ke arah orang-orang yang
sedang tidur.
“Keesokan paginya, ketiga orang itu ditemukan meninggal; mayat itu telah kembali ke tempatnya
semula namun ikatannya telah lepas dan di sekitarnya ditemukan banyak pecahan kain.”
Orang-orang Tibet sangat mempercayai cerita-cerita yang demikian.
Setiap gerakan rolang yaitu mematikan dan hantu jahat itu akan selalu mengganggu mereka
yang berada dalam jangkauannya: hanya para lhama sebagai pelaksana ritual bagi orang mati itu
yang katanya mengetahui mantram-mantram gaib dan tata cara untuk mengendalikan dan
mempertahankan mayat itu agar tetap berada di tempatnya.
Kami juga mendengar cerita tentang rolang yang melarikan diri dari rumah dan berkeliaran di
seluruh negeri, ada juga yang katanya menghilang tanpa jejak.
Kita dapat membuat beberapa jilid artikel dari cerita-cerita orang-orang Tibet yang polos itu tentang
para rolang.
105
106
Belati yang Berkekuatan Gaib
Tak perlu kukatakan lagi bahwa ‘lidah yang melompat dari mayat’ itu, jika memang benar adanya,
yaitu peralatan yang istimewa bagi seorang ngagspa. Senjata ritual yang biasanya mereka
pergunakan – disebut phurba – terbuat dari perunggu, kayu, atau bahkan gading yang bentuknya
menyerupai belati dan biasanya dipahat atau diukir dengan indah.
Namun, seorang pakar ilmu gaib kuno yang sebenarnya, akan menertawakan para ngagspa dan
praktek-praktek mereka yang menjijikkan itu. Menurutnya, kekuatan dari senjata gaib itu tidak
bergantung pada bahan dasar senjata itu, namun pada bagaimana cara ngagspa itu
memanfaatkannya.
Namun demikian, seiring berjalannya waktu, terdapat suatu bagian energi yang melekat pada
phurba itu. Semakin sering dipergunakan dalam ritual gaib, kekuatannya akan semakin bertambah.
Benda mati itu dapat menjadi ‘kerasukan’ seperti halnya makhluk hidup.
Kita akan membaca, di bab berikut ini, proses yang dilakukan para ngagspa yang percaya akan
hal ini .
Dikatakan bahwa semua peralatan yang telah digunakan dalam suatu ritual kekerasan tidak boleh
disimpan di rumah seorang awam atau bhikkhu yang belum ditabhiskan, sebab dikhawatirkan
entitas-entitas berbahaya yang telah ditundukkan akan memanfaatkan alat-alat itu untuk membalas
dendam pada pemiliknya, jika ia tidak tahu bagaimana melindungi dirinya sendiri.
Berkaitan dengan cerita itu, aku memiliki sebuah benda yang agak menarik, yang mana mereka
yang mewarisi benda-benda itu memohon padaku agar dibawa pergi sejauh mungkin.
Dalam perjalanan di utara Tibet aku bertemu dengan rombongan para lhama, saat berbicara
dengan mereka sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di sepanjang jalan yang jarang dilalui oleh
para pengembara ini, aku mengetahui bahwa mereka sedang membawa sebuah phurba yang telah
menjadi sumber dari berbagai bencana.
Alat ritual ini milik seorang lhama, guru mereka, yang baru saja wafat. Belati itu melukai orang-
orang di biara, dua dari tiga orang yang menyentuhnya meninggal, seorang lagi patah kakinya
sesudah terjatuh dari kuda, lalu tiang penyanggah spanduk berisi doa-doa, patah, dan ini dianggap
sebagai pertanda yang amat buruk.
sebab ketakutan, namun tak berani menghancurkan phurba itu sebab ciut akan malapetaka yang
bakal menimpa, para bhikkhu itu lalu menyimpannya di sebuah kotak. Kemudian, suara-suara ganjil
terdengar dari kotak itu.
Mereka akhirnya memutuskan untuk menempatkan benda gaib itu di sebuah gua terpencil yang
diperuntukkan bagi seorang dewa. Namun para penggembala yang tinggal di wilayah itu
mengancam dengan senjata di tangan. Mereka teringat akan cerita mengenai sebilah phurba yang
terbang di udara, melukai dan membunuh banyak orang dan binatang. Tak ada yang tahu kapan
atau dimana peristiwa itu terjadi, namun detil-detil seperti itu bukanlah hal yang penting bagi pikiran-
pikiran yang bertakhyul. Para gembala itu tidak menginginkan phurba itu berada di sekitar mereka.
Trapa-trapa malang yang membawa belati terbungkus berlapis-lapis kertas jimat dan terkunci rapat
dalam sebuah kotak, tak tahu lagi bagaimana cara mengenyahkannya. Roman muka mereka yang
putus asa membuatku tak jadi menertawakan kedangkalan pikiran mereka. Aku jadi sangat ingin
107
melihat senjata yang menakjubkan itu.
“Izinkan aku melihat phurba itu,” kataku, “mungkin aku dapat menemukan cara untuk membantu
kalian.”
Mereka tak berani mengeluarkan phurba itu dari kotaknya, sesudah cukup lama bermusyawarah,
akhirnya mereka mengizinkan, namun aku sendiri yang harus membuka kotak itu.
Phurba itu yaitu sebentuk hasil karya seni kuno orang Tibet yang indah, dan aku dipenuhi hasrat
untuk memiliki benda itu, namun aku tahu para trapa itu tak akan menjualnya dengan imbalan
apapun.
“Berkemahlah dengan kami malam ini,” kataku pada mereka, “dan tinggalkan phurba ini denganku,
aku akan memikirkan jalan keluar.”
Kata-kataku tak menjanjikan apapun, namun umpan akan makan malam yang enak dan
kesempatan mengobrol dengan anggota rombonganku membuat mereka menerima tawaranku.
Saat malam tiba, aku pergi menjauh dari tenda sambil membawa belati itu, tanpa kotaknya, yang
pasti akan membuat orang-orang Tibet itu ketakutan setengah mati jika melihatnya.
Saat kupikir sudah cukup jauh, aku menancapkan belati itu ke tanah dan duduk di atas selimut
sembari memikirkan bagaimana cara membujuk bhikkhu-bhikkhu itu agar mengizinkanku memiliki
senjata itu.
Aku sudah duduk disana selama beberapa jam saat tiba-tiba aku melihat seseorang yang tampak
seperti seorang lhama muncul di dekat tem












