Tampilkan postingan dengan label misteri tibet 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label misteri tibet 1. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juli 2026

misteri tibet 1







Kerinduan Alexandra David-Neel akan Negeri Bersalju, Tibet, ia ungkapkan kepada suaminya,

Phillipe Neel, dalam sepucuk surat bertanggal 12 Maret 1917, saat  ia sedang dalam

perjalanannya meninggalkan Tokyo, setahun sesudah  ia dipaksa keluar dari Sikkim sebab 

menjelajah terlalu jauh hingga ke tanah terlarang, Tibet.

Louise Eugenie Alexandrine Marie David lahir di Paris tgl 24 Oktober 1868, dengan

membawa serta sifat penjelajah dalam dirinya. Sejak kecil ia selalu merindukan tempat-tempat

yang asing, jauh dari rumahnya, jauh dari lingkungannya. Saat berumur 5 tahun ia sudah mencoba

menjelajahi hutan Vincennes, Paris, hingga akhirnya ditemukan seorang penjaga yang lalu

membawanya ke kantor polisi, kegagalan petualangan pertamanya ini malah membuat ia semakin

bertekad untuk pergi lagi, suatu saat nanti.

Masa remajanya ia habiskan dengan mengunjungi kota-kota di Eropa, di umur 17 tahun ia

berhasil melakukan apa yang disebutnya ‘perjalananan yang sesungguhnya’, dengan kereta api ia

berangkat dari Brussel menuju ke Swiss, dan beberapa hari kemudian ibunya pergi ke tepi danau

Maggiore untuk menjemput anak gadisnya yang melewati terusan Saint Gotthard dengan berjalan

kaki, tanpa sepeser uang pun, dan hanya membawa jas hujan dan artikel  ‘Epictetus Manual’nya.

Ketertarikannya dengan dunia Timur lalu membuat ia mendalami Oriental Philosophy dan

bergabung dengan Theosophical Society di Paris. Tahun 1889 ia mengambil jurusan Oriental

Languages di Universitas Sorbonne dan College de France.

Tahun 1890 ia mendapat kesempatan emas mengunjungi India, segera ia manfaatkan waktu

setahun di sana dengan menjelajahi negeri itu dari Barat hingga ke Timur, dari Selatan hingga ke

Utara, yang lalu membuat ia terpikat oleh kegaiban India, terpesona pada alunan musik rakyat

Tibet, terkagum-kagum pada kilauan pegunungan Himalaya. Sadar bahwa inilah tempat impiannya

selama ini, maka ia pun bersumpah bahwa kelak ia akan kembali.

Meskipun kemudian pada tahun 1904 ia menikah, namun obsesinya untuk mengunjungi Tibet

tak pernah padam, dan pada bulan Agustus 1911 ia meminta izin pada suaminya untuk pergi ke

India, berjanji padanya bahwa ia akan kembali dalam delapan belas bulan.

Ekplorasinya sendiri diawali di Sikkim, sebuah negara kerajaan kecil di antara perbatasan

India, Tibet, dan Nepal (saat ini sudah menjadi negara bagian India). sebab  menjelajah terlalu jauh

hingga ke Shigatze yang merupakan wilayah kekuasaan Tibet, ia pun dipaksa keluar dari sana

pada tahun 1916. Berhubung di Eropa tengah berkecamuk perang dunia I maka ia memutuskan

untuk melakukan tur ke Burma, Jepang, Korea, dan Cina. Dari seorang filosofer Jepang ia

menemukan ide untuk memasuki Tibet. Wanita bermental baja ini beserta rombongannya lalu

melintasi Cina dari Timur hingga ke Barat, menembus gurun Gobi dan Mongolia, menghadapi

berbagai rintangan yang tak ringan. sesudah  tiga tahun menetap di Biara Kum-Bum, dan dengan

menyamar sebagai seorang pengemis wanita, pada tahun 1924 ia berhasil menjejakkan kaki di

Lhasa, mengunjungi Potala dan biara-biara besar lainnya. Kembali ia diusir dari Tibet sesudah 

penyamarannya akhirnya terbongkar. Maka pada Mei 1925, sesudah  berpisah selama hampir empat

belas tahun, ia dan suaminya baru kembali bertemu.

Penjelajahan luar biasa ini lalu membuat ia tersohor di seluruh dunia sebagai wanita Barat

pertama yang berhasil menjelajahi Tibet. Berapa banyak wanita di masa itu (bahkan hingga saat

ini, hampir satu abad sesudah nya) yang mampu mewujudkan apa yang menjadi obsesi pribadinya,

memerdekakan diri dari belenggu kodratnya, dari kungkungan lingkungannya, hingga pada

akhirnya dapat melakukan sebuah ekspedisi yang luar biasa kerasnya, di usia yang sudah tidak

muda lagi, sekitar 44 tahun, dan saat  menginjakkan kaki di Lhasa ia sudah berumur 56 tahun.

Dan yang membuat ia lebih istimewa lagi yaitu  bahwa ia terjun langsung untuk merasakan

kehidupan dunia religius Tibet. Ia menghabiskan dua tahun lamanya dalam sebuah pertapaan di

Lachen, Sikkim Utara, di sebuah gua di lereng pegunungan Himalaya pada ketinggian 12.000 kaki,

mempelajari Lhamaisme dari orang-orang yang tepat, juga beragam teori mistik dan

mempraktekkan beberapa  latihan spiritual, menetap selama tiga tahun di Kum-Bum membuat ia

tahu benar bagaimana nafas kehidupan sebuah biara Tibet, dan berkesempatan menyaksikan

beberapa  ritual gaib. Sehingga apa yang kemudian ia tuliskan di artikel  ini, yaitu  bukan hanya

sekedar kumpulan data-data, keterangan-keterangan, yang ia peroleh dengan bertanya atau ia

baca dari teks-teks kuno, namun  juga dari apa yang ia lihat dengan mata kepala sendiri, yang ia

alami, yang pernah ia praktekkan, yang pernah ia rasakan.

Informasi-informasi berharga pun ia peroleh dari orang-orang terpercaya, para lhama maupun

gomchen-gomchen yang ia kenal baik, bahkan ia sempat berdiskusi dengan Dalai Lhama XIII, dan

ia yakin bahwa ia yaitu  wanita barat pertama yang diterima sebagai tamu pemimpin spiritual

Tibet ini .

Meskipun telah menyesuaikan diri dengan pola kehidupan rakyat Tibet, telah melihat dan

mengalami beragam fenomena gaib, dan sudah diterima kebanyakan masyarakat Tibet sebagai

seorang Lhama wanita terhormat, sehingga kerap dipanggil dengan sebutan Jetsunma, namun

pikiran kritis khas seorang Barat tetap melekat padanya, ia mencoba mengkaji semua kejadian

gaib yang ia alami secara rasional, namun tetap saja masih ada yang menjadi tanda tanya. saat 

ia sukses menciptakan sesosok wujud gaib (tulpa) yang kemudian dengan susah payah ia

musnahkan sebab  sudah agak tak terkendali, ia berusaha menegaskan bahwa semua itu yaitu 

halusinasi, namun  ia juga menyisakan sebuah misteri: “…poin yang menarik yaitu  bahwa orang

lain juga melihat wujud-wujud pikiran itu...”, maka kemudian pada akhir tulisannya ia berharap

bahwa suatu saat akan ada keinginan dari orang-orang yang lebih kompeten darinya untuk meneliti

berbagai fenomena psikis yang ia uraikan di artikel  ini, dan hasil penelitian itu hendaklah tidak

berbau unsur supernatural ataupun hal-hal yang membingungkan sehingga: “…penelitian yang

demikian mungkin dapat menjelaskan mekanisme yang disebut dengan keajaiban, dan sekali

dijelaskan, keajaiban itu bukan lagi sebuah keajaiban….”

Neel mencintai Tibet apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dia tak

segan-segan memuji kebijaksanaan beberapa  Lhama terhormat, mengakui kekuatan gaib yang

dimiliki para naljorpa, kehebatan ilmu lung-gom, tumo, telepati, penciptaan tulpa-tulpa, fenomena

psikis yang membuatnya penasaran, mengagumi kekuatan fisik dan mental para wanita Tibet yang

menapaki jalan spiritual, dan salut pada para siswa muda yang bermental baja dalam proses

pencarian spiritual, namun ia juga mengkritik beberapa  unsur dalam kehidupan sebuah biara, respa-

respa gadungan, hingga beberapa  gomchen yang memanfaatkan kepercayaan orang-orang desa

Tibet untuk kepentingan pribadi ataupun beberapa  bhikkhu biara yang lebih tertarik dalam urusan

bisnis.

Dan cinta sejatinya pada Tibet ia wujudkan dengan membangun sebuah rumah ‘pertapaan’

yang ia beri nama ‘Samten-Dzong’ di Digne, Paris, tempat dimana langit senantiasa biru dan

matahari bersinar cerah, dengan pegunungan Pre-alps yang dianggapnya sebagai ‘liliput’nya 

Himalaya. Di rumah inilah ia melanjutkan petualangannya, sesudah  sebelumnya sempat kembali ke

Cina dan melakukan perjalanan ke beberapa  tempat di Eropa, dengan menulis beberapa  artikel 

hingga akhir hayatnya. Ia wafat pada 8 September 1969 di usia 101 tahun. namun  setahun

sebelumnya, di usia 100 tahun ia sempat membuat orang tercengang sebab  masih juga

memperpanjang paspornya, wujud hasrat penjelajahannya yang tak pernah padam. Tahun 1973 abu

jenazahnya beserta teman seperjalanannya yang juga anak angkatnya, Lhama Yong Den, dibawa

ke Benares dan ditaburkan di sungai Gangga. Dalai Lhama yang berkuasa saat ini, Dalai Lhama

XIV, pada tahun 1982 dan 1986 sempat melakukan kunjungan ke ‘Samten-Dzong’ sebagai

ungkapan rasa hormat dan terima kasihnya kepada sang wanita luar biasa yang telah

memperkenalkan pesona Tibet kepada dunia luar.

Buah perjalanannya ke Tibet ia rangkum dalam dua artikel , artikel  pertamanya berjudul My

Journey to Lhasa, dan sebab  banyak yang bertanya padanya tentang pengalaman spiritualnya

selama di Tibet dan di negara sekitarnya, doktrin-doktrin dan praktek Lhamaisme, ritual-ritual gaib

Tibet, teori-teori mistik berikut latihan spiritualnya, kemampuan supernormal para lhama dan para

pakar ilmu gaib, dan pengalamannya saat  bertemu, berbincang, dan bersahabat dengan beberapa 

lhama maupun penguasa Tibet dan Sikkim, maka ia pun menulis artikel  ini, Magic and Mistery in

Tibet.

Wajah religius dan misterius Tibet saat ini tentu sudah banyak mengalami perubahan,

terutama sejak Tibet berada di bawah kekuasaan Cina, namun kita berharap semangat para trapa

muda yang tersisa dalam menempuh jalan spiritual tetap menyala sehingga dunia religius Tibet

yang sebenarnya, yang seharusnya, akan kembali hidup, suatu saat nanti.

Suatu kesalahan besar jika kita menganggap kemajuan ilmu pengetahuan di masa kini telah

memudarkan, di antara generasi penerus kita, daya tarik dari kejadian-kejadian yang tak lazim.

Kepercayaan akan fenomena psikis, keajaiban-keajaiban, dan hal-hal gaib masih tetap hidup di

saat ini seperti halnya di masa abad pertengahan. Perbedaannya yaitu  sekarang ini kita memiliki

kebebasan untuk membicarakan dan mencoba untuk mengalaminya tanpa rasa takut akan

kekuasaan institusi tertentu.

sebab  pernah hidup di Tibet, orang-orang sering datang padaku, memintaku melakukan hal-hal

luar biasa dengan berbagai alasan. Mulai dari keinginan yang sederhana, yakni hanya untuk

memuaskan rasa ingin tahu, hingga keinginan untuk lulus ujian, sukses dalam transaksi bisnis,

menyembuhkan penyakit, atau untuk melaksanakan tindak kejahatan. Pernah, seorang istri yang

dilecehkan, terdorong rasa ingin balas dendam, memintaku untuk ‘menghukum’ sang suami yang

tak setia berikut teman selingkuhnya. Tentu saja maksudnya bukan menyuruhku membawa sepucuk

pistol berisi peluru lalu membunuh pasangan yang bersalah itu, namun  mengakhiri hidup mereka

dengan cara-cara gaib dari jarak jauh, yang dianggap dapat kulakukan tanpa perlu meninggalkan

ruanganku.

Orang-orang yang memburu keajaiban ini mungkin akan amat terkejut jika mendengar aku

mengatakan bahwa orang-orang Tibet justru tidak mempercayai adanya keajaiban, kejadian-

kejadian supranatural. Mereka meyakini bahwa kejadian-kejadian luar biasa yang sering

mencengangkan kita yaitu  hasil kerja energi-energi alamiah yang menjadi sebuah aksi dalam

keadaan-keadaan tertentu, atau melalui keahlian seseorang yang mengetahui cara untuk

melepaskannya, atau kadang, melalui perantaraan seorang individu yang tak mengetahui bahwa

dirinya memiliki elemen-elemen yang dapat menggerakkan materi tertentu atau mekanisme-

mekanisme mental yang menghasilkan beberapa  fenomena luar biasa.

Orang-orang Tibet juga cenderung mempercayai bahwa segala sesuatu yang dibayangkan

seseorang akan dapat diwujudkan. Mereka menyatakan bahwa jika hal-hal yang dibayangkan

ini  tidak berhubungan dengan realita-realita di luar dirinya, maka dia tidak akan dapat

memahami imajinasi-imajinasinya itu.

Sekali lagi, berkaitan dengan hal ini, orang-orang Tibet juga meyakini bahwa dengan memusatkan

pikiran secara terus-menerus, seseorang akan dapat menciptakan kehidupan dan melakukan

realitas eksternal dari sebuah bentuk yang menjadi objek konsentrasi pikiran ini . Kita akan

melihat contohnya di artikel  ini.

Dalam semua kasus, seperti yang sudah kutegaskan sebelumnya, segala sesuatunya berhubungan

dengan energi-energi alamiah, dan aksi-aksi itu bisa terjadi secara spontan ataupun direncanakan

oleh mereka yang memiliki kemampuan untuk melakukannya.

Dalam kasus-kasus tertentu, ada kemungkinan mereka ini menerima bantuan dari makhluk-

makhluk yang bukan berasal dari alam manusia; keyakinan akan hal ini menyebar luas di seantero

Tibet.

Hal ini pun berlaku di negeri kita. Para pemuja memohon kepada orang-orang suci, menjanjikan

sesuatu jika keinginan mereka dikabulkan, ataupun memanfaatkan pengaruh mereka untuk

menaklukan kekuatan-kekuatan superior, sebagaimana yang tertulis dalam kisah-kisah di abad

pertengahan, semua berawal dari keyakinan yang sama.

8

Aku pergi ke Tibet bukan untuk mencari keajaiban. Aku bermaksud untuk melakukan penelitian

pada bentuk-bentuk Buddhisme di sana yang lalu berubah menjadi Lhamaisme, yang dapat disebut

sebagai penggabungan dari beberapa  doktrin dan elemen-elemen ritualistik dari Tantrisme Nepal,

dari Bön, agama asli di negeri itu yang mendominasi Tibet sebelum masuknya Buddhisme, dan

elemen-elemen lain dari Altaic, atau bahkan dari suku-suku asli utara, yang datang ke Tibet dengan

cara yang misterius. Aku juga ingin melihat wujud negeri yang terletak di antara puncak-puncak

gunung yang tinggi, tempat dimana diyakini orang-orang India sebagai tempat tinggal dewa-dewa

mereka.

Pada akhirnya ‘perjalanan’ku berubah menjadi sebuah ‘persinggahan’. Aku tinggal bertahun-tahun

untuk mengembara ke seluruh penjuru wilayah negeri itu dengan berbagai resiko. Dalam

perjalananku, aku menyaksikan peristiwa-peristiwa aneh, bertemu orang-orang istimewa, dan

memasuki ambang pintu sebuah spiritualitas yang spesifik.

Maka artikel  ini hanyalah sebuah peta perjalanan – sebuah artikel  yang menuntunku menemukan jalan

yang sebenarnya dari jalan-jalan setapak yang terputus-putus.


“Baiklah, berarti kita sudah sepaham. Saya tinggalkan Dawasandup sebagai pemandumu. Dia

akan menemanimu ke Gangtok.”

Laki-laki inikah yang berbicara padaku? Makhluk pendek berkulit kuning berjubah kain brokat

jingga, dengan sebuah intan berbentuk bintang bersinar di topinya, bukankah ia lebih mungkin jin

yang turun dari gunung sekitar sini?

Mereka menyebutnya ‘Inkarnasi Lhama’ dan Pangeran dari sebuah kerajaan di Himalaya, namun

aku meragukan realitas ini. Mungkin ia akan menghilang bagai ilusi, dengan kuda kecilnya yang

berpelana indah dan rombongan pengikutnya, yang berpakaian dalam warna warni pelangi. Ia

yaitu  bagian dari hal-hal yang menakjubkan dimana aku hidup lima belas hari terakhir ini.

Episode baru ini laksana mimpi. Dalam beberapa menit aku akan terbangun di tempat tidur yang

sebenarnya, di negara yang tak dihantui oleh jin atau ‘inkarnasi Lhama’ yang berbalut kilauan

sutera. Negara dimana para lelaki berjaket gelap yang kusam dan kuda-kuda tidak memiliki pelana

perak di atas kain kuning emasnya.

Bunyi kettledrum[1] membuatku terkesiap, dua oboe[2] membunyikan sebuah irama minor yang

melankolis. Jin muda itu menggerakkan tunggangannya yang kecil, para ksatria dan prajurit

melompat ke sadel mereka.

“Saya mengharapkan kedatanganmu,” kata Pangeran-Lhama itu, sembari tersenyum cerah

padaku.

Aku mendengar diriku, seolah-olah aku sedang mendengar suara orang lain, berjanji padanya akan

memulai perjalanan ke kotanya esok hari, dan rombongan kecil itu, diawali oleh para pemusik pun

menghilang.

Saat nada terakhir dari alunan musik datar itu menghilang di kejauhan, keajaiban yang

mengelilingiku pun menjadi lenyap.

Aku tidak sedang bermimpi, semua ini nyata. Aku berada di Kalimpong, di pegunungan Himalaya,

dan pemandu yang diberikan padaku berdiri di sampingku.

*********

Sudah kuceritakan sebelumnya[3] keadaan-keadaan yang telah menyebabkanku pergi ke

pegunungan Himalaya. Suhu politik, saat itu, memaksa Dalai Lhama[4] mencari perlindungan ke

teritori Inggris. Saat beliau berada di daerah perbatasan India, aku memanfaatkan sebuah

kesempatan yang jarang terjadi itu untuk melakukan wawancara guna mendapatkan informasi dari

beliau tentang tipe khusus dari Buddhisme yang hidup di Tibet.

Sangat sedikit orang asing yang berhasil mendekati Sang Raja-Bhikkhu yang bersembunyi di kota

sucinya, di Negeri Bersalju. Bahkan dalam pengasingan, beliau tak menemui siapapun. Saat aku

berkunjung, beliau telah dengan tegas menolak pengunjung wanita kecuali orang Tibet dan aku

percaya, hingga hari ini, bahwa aku yaitu  satu-satunya pengecualian dari peraturannya itu.

Dulu saat kutinggalkan Darjeeling, di awal fajar kemerahan di pagi musim semi yang dingin, aku

sedikit menerka sejauh apa konsekuensi-konsekuensi yang bakal ditimbulkan oleh keinginanku.

Aku pikirkan sebuah perjalanan yang singkat, wawancara yang menarik namun ringkas; sementara

13

kenyataannya, aku menjadi terlibat dalam pengembaraan-pengembaraan yang akhirnya

menahanku di Asia selama empat belas tahun penuh.

Pada awal seri perjalanan panjang ini , figur Dalai Lhama, di artikel  harianku, yaitu  sebagai

seorang tuan rumah yang ramah, yang melihat orang asing tanpa dinding pemisah, dan akan

mengundangnya untuk melihat semua hal yang berada di daerah kekuasaannya.

Dan semua hal itu dilakukan Dalai Lhama dalam beberapa kata: “Belajar Bahasa Tibet,” perintah

beliau padaku.

Jika seseorang yang mampu memahami kata-katanya, yang menyebutnya ‘mahatahu’, sang

penguasa Tibet, saat mendengar beliau memberiku nasehat ini, akan segera meramalkan apa

yang akan terjadi kemudian, sebab  beliau dengan sadar telah menuntunku, bukan hanya ke Lhasa,

ibukota terlarangnya, namun juga kepada para guru mistis dan ahli-ahli ilmu gaib yang jarang

dikenal orang, yang masih banyak lagi tersembunyi di negeri ajaibnya.

Di Kalimpong, Raja-lhama ini  tinggal di sebuah rumah besar milik seorang menteri Raja

Bhutan. Untuk memberi kesan agung, dua baris batang bambu yang tinggi ditanamkan di kanan kiri

sehingga membentuk sebuah jalan besar. Bendera berkibar di tiap puncak bambu, dengan tulisan

Aum mani padme hum!, atau ‘kuda dari udara’, yang dikelilingi oleh mantram-mantram magis.

Gedung kerajaan pengasingan ini  memiliki ruangan yang cukup banyak dan terdapat lebih

dari seratus pelayan di sana. Mereka kebanyakan menghabiskan waktunya dalam gosip yang tak

berkesudahan, dan dalam suasana sepi yang mengelilingi tempat itu. Namun di hari-hari festival,

atau saat kedatangan orang penting, para petugas yang sibuk dan penduduk setempat tumpah

ruah dari segala penjuru, melongok dari setiap jendela, lalu lalang di lapangan yang luas di depan

‘istana’ itu, bergegas, berteriak, gelisah, dan semua kelihatan sama dalam jubah kasar dan kotor,

dan seorang asing dengan mudah dapat membuat kesalahan tentang tingkatan mereka.

Potala yang megah dan bertata krama tidak tampak di daerah pengasingan itu. Mereka yang

melihat perkemahan di tepi jalan ini, dimana Penguasa Religius Tibet sedang menunggu pemulihan

kekuasaannya, tak dapat membayangkan seperti apa bentuk istana yang ada di Lhasa.

Ekspedisi Inggris yang memasuki daerah terlarang dan berparade di ibukotanya, tanpa

memerdulikan kekuatan gaib dari pemimpin spiritual tertinggi ini , barangkali telah membuat

Dalai Lhama menganggap bahwa kaum barbarian asing itu menguasai nilai-nilai materi, dengan

hanya mengandalkan kemampuan senjata. Penemuan-penemuan yang beliau perhatikan di

sepanjang perjalanannya menuju India seharusnya membuat beliau percaya kemampuan mereka

untuk menguasai dan membentuk elemen materi dari alam. Namun keyakinan beliau bahwa

bangsa kulit putih bermental lebih rendah tetap tak tergoyahkan, sehingga beliau hanya berbagi

pendapat dengan sesama bangsa Asia, dari Ceylon ke Utara hingga Mongolia.

Seorang wanita barat yang mengetahui doktrin-doktrin umat Buddha bagi beliau yaitu  fenomena

yang tak masuk akal.

Beliau tidak akan merasa heran seandainya aku menjadi ‘lenyap’ saat berbicara dengannya.

Kemampuanku ternyata amat mengejutkannya: saat akhirnya beliau merasa yakin, dengan sopan

beliau menanyakan siapa ‘guru’ ku, dengan anggapan bahwa aku hanya mungkin mempelajari

ajaran Buddha dari orang Asia. Tak mudah meyakinkannya bahwa teks Tibet dari salah satu kitab

umat Buddha yang paling dihormati[5] telah diterjemahkan ke bahasa Perancis bahkan sebelum aku

lahir. “Ah, baiklah,” beliau bergumam, “mungkin saja ada beberapa  orang asing yang benar-benar

mempelajari bahasa kami dan membaca kitab-kitab suci kami, namun mereka pasti tidak mampu

menangkap maknanya.”

Inilah kesempatanku, buru-buru kupergunakan.

“sebab  saya menduga bahwa telah terjadi kesalahpahaman tentang doktrin religius Tibet, maka

saya menjumpai Anda untuk mendapatkan pencerahan,” kataku.

Jawabanku memuaskan Dalai Lhama. Beliau bersedia menjawab semua pertanyaan yang

kuajukan, kemudian memberikan jawaban tertulis yang panjang atas berbagai subjek yang telah

kami diskusikan.

*********

Pangeran Sikkim[6] dan para pengikutnya telah menghilang, tinggal aku yang harus menepati janjiku

dan segera bersiap menuju Gangtok. namun  ada sesuatu yang harus dilihat dahulu sebelum

berangkat.

Kemarin, aku menyaksikan upacara doa untuk para peziarah yang dipimpin Dalai Lhama, yang

sangat berbeda dengan upacara di Roma. Di sana Paus memberkati secara massal dengan gerak

isyarat, sementara di Tibet jauh lebih seksama dan semua orang pun mengharapkan untuk

diberkati secara pribadi.

Aturan pemberkatan cukup bervariasi sesuai tingkatan orang yang diberkati. Sang Lhama

meletakkan kedua tangannya di kepala orang yang paling dihormati. Untuk yang lain hanya satu

tangan, dua jari, bahkan ada yang cuma satu jari. Terakhir berkat diberikan dengan hanya

menyentuhkan ringan ujung pita berwarna yang diikat di sebuah tongkat pendek.

Namun bagaimanapun, tetap ada kontak, baik langsung maupun tak langsung dengan para umat.

Kontak itu, menurut para lhama, sangat dibutuhkan sebab  upacara pemberkatan, entah kepada

manusia atau benda, bukan dimaksudkan untuk menurunkan berkat dari Tuhan, namun  untuk

memberikan mereka kekuatan yang bermanfaat yang berasal dari sang Lhama.

Banyaknya orang yang datang ke Kalimpong untuk disentuh oleh Dalai Lhama membuatku paham

akan wibawanya yang kesohor.

Prosesi itu memakan waktu beberapa jam untuk sampai di hadapannya, dan kuperhatikan bukan

hanya kaum Lhamais yang datang, tapi juga orang-orang dari Nepal, Bengal, dan para penganut

Hindu. Kulihat beberapa orang, yang awalnya datang cuma untuk melihat, kemudian terpanggil

untuk bergabung dengan kumpulan orang-orang ini .

Saat kuperhatikan pemandangan ini, mataku tertumbuk pada seorang pria yang duduk di tanah,

agak jauh dari kerumunan orang. Rambutnya yang kusut digulung di kepalanya seperti sorban,

dalam gaya umum seorang pertapa Hindu. Namun raut wajahnya tak seperti orang India dan dia

memakai jubah biara kaum Lhamais yang kotor dan compang camping.

Gelandangan ini membawa tas kecil di sampingnya dan kelihatan memperhatikan keramaian itu

dengan ekspresi sinis.

Kutunjuk orang ini pada Dawasandup, bertanya padanya jika ia tahu siapa gerangan pengembara

Himalaya ini.

“Dia pasti seorang pengelana naljorpa[7],” jawabnya, dan melihat keingintahuanku, pemanduku ini

mendekati pria itu dan berbicara dengannya.

“Lhama ini yaitu  pertapa pengembara dari Bhutan. Dia tinggal di mana saja, di gua, rumah

kosong, atau di bawah pohon. Dia telah menginap beberapa hari di biara kecil dekat sini.”

Aku teringat kembali pada pengembara ini saat sang pangeran dan para pengikutnya menghilang.

Sore ini aku tak punya acara apa-apa, kenapa tak ke gompa (biara) tempat dimana ia tinggal, dan

mencoba membujuknya untuk berbicara? Apakah dia benar-benar sinis, sebagaimana terlihat,

terhadap Dalai Lhama dan pengikut setianya? Jika demikian, apa alasannya? Pasti ada alasan

yang menarik.

Kubicarakan keinginanku dengan Dawasandup, yang setuju menemaniku.

Dengan berkuda kami sampai di gompa yang cuma berupa sebuah rumah pedesaan yang besar.

D i lha khang (ruangan yang berisi patung-patung suci) kami menjumpai sang naljorpa sedang

duduk di atas bantal duduk di depan sebuah meja rendah, sembari menyantap makanannya. Kami

diberi bantal duduk dan disuguhkan teh.

Sangat sulit memulai pembicaraan dengan sang pertapa, sebab  mulutnya penuh dijejali makanan,

dia hanya menjawab salam kami yang sopan dengan semacam deheman.

Aku sedang berusaha mencari cara memecahkan keheningan saat  orang asing ini mulai tertawa

dan mengucapkan beberapa kata. Dawasandup kelihatan malu.

“Dia bilang apa?” tanyaku.

“Maaf,” jawab si pemandu, “para naljorpa kadang berbicara dengan kasar. Saya tidak tahu apa

harus diterjemahkan.”

“Tolong terjemahkan,” kataku. “Aku disini untuk membuat catatan, khususnya segala sesuatu yang

orisinil dan mengundang rasa ingin tahu.”

“Baiklah jika demikian – maaf – katanya, ’untuk apa orang idiot ini kemari?’”

Kekasaran itu tidaklah terlalu mengejutkanku, di India, beberapa yogin cenderung mengejek orang-

orang yang mendekati mereka.

“Bilang padanya aku kemari untuk bertanya mengapa dia kelihatan sinis atau terkesan mengejek

kerumunan orang-orang yang meminta berkat dari Dalai Lhama.”

“Ditiup oleh rasa akan kepentingan mereka sendiri dan kepentingan dari apa yang sedang mereka

kerjakan. Serangga-serangga mengerubungi kubangan.” gumam sang naljorpa.

Ungkapan yang samar-samar, namun bahasa demikianlah yang diharapkan dari orang seperti dia.

“Dan Anda,” jawabku, “Apakah Anda terbebas dari semua kekotoran itu?”

Dia tertawa dengan keras.

“Dia yang mencoba keluar hanya akan tenggelam lebih dalam. Aku bergulingan di dalamnya seperti

babi. Aku mencernanya dan menjadikannya debu emas, air murni. Keluar dari kubangan anjing

dengan pakaian cemerlang, yaitu  Hasil Termulia!”

Kelihatannya temanku ini sedang menikmati dirinya. Ini caranya untuk menjadi seorang manusia

super.

“Apakah ziarah ini salah? Mencari keberuntungan dengan kehadiran Dalai Lhama dan meminta

berkatnya? Mereka hanya orang-orang sederhana yang mencari inspirasi untuk memperoleh

pengetahuan tentang doktrin yang lebih tinggi…

namun  sang naljorpa menginterupsiku.

“Untuk sebuah berkat yang manjur, dia yang memberikannya haruslah memiliki kekuatan yang

mampu ia komunikasikan.

“Akankah Sang Pelindung (Dalai Lhama) memerlukan para tentara untuk melawan Cina atau musuh

yang lain jika ia memiliki kekuatan itu? Bukankah ia dapat memanggil siapa saja yang ia suka untuk

keluar dari tempatnya dan mengelilingi Tibet dengan benteng gaib yang tak dapat dilewati

siapapun?

“Sang Guru yang lahir di sebuah teratai[8] memiliki kekuatan itu, dan berkatnya masih menjangkau

siapapun yang menyembahnya, biarpun ia tinggal di alam Raksasa.

“Saya hanya seorang siswa yang rendah hati, dan belum…”

Kelihatannya bagiku ‘siswa yang rendah hati’ mungkin berarti sedikit gila dan sangat angkuh, juga

‘dan belum’ nya itu diiringi ekspresi yang mengandung banyak arti.

Sementara itu pemanduku kelihatan tidak senang. Dia sangat menghormati Dalai Lhama dan tidak

suka mendengar beliau dikritik. Sebaliknya orang yang mampu ‘menciptakan bintang dari kotoran

binatang’ ini membuat ia dihantui rasa takut yang tak masuk akal.

Aku minta izin untuk pergi, namun saat kutahu lhama ini akan berangkat esok pagi, aku memberi

Dawasandup beberapa  uang untuk diberikan pada si pengelana untuk bekal perjalanan.

Hadiah ini tidak menyenangkan naljorpa itu. Dia menolak, katanya dia sudah diberi cukup bekal

lebih dari yang mampu ia bawa.

Dawasandup berpikir mungkin baik untuk sedikit memaksa. Dia mencoba melangkah ke depan

bermaksud meletakkannya di meja dekat sang lhama. Kemudian aku melihatnya sempoyongan,

jatuh ke belakang dan punggungnya menghantam dinding, seperti ditolak dengan kasar. Dia

meringis sambil memegangi perutnya. Si naljorpa berdiri, dan sambil menatap tajam, keluar dari

ruangan.

“Saya merasa seolah menerima sebuah hantaman yang kuat,” kata Dawasandup. “Lhama itu

tersinggung, bagaimana kita menenangkannya?”

“Ayo kita pergi,” kataku. “Mungkin hal itu tidak ada hubungannya dengan lhama itu. Kamu, mungkin

sakit jantung dan sebaiknya konsultasi ke dokter.”

Pucat dan gemetar, pemanduku itu tak menjawab. Memang tak ada yang perlu dibicarakan. Kami

pulang, namun  aku masih belum dapat menenangkan hatinya.

Besoknya, aku dan Dawasandup menuju Gangtok.

Jalan setapak bercadas yang kami tempuh mengarah tepat ke pegunungan Himalaya, tanah suci

dengan orang-orang bertradisi India kuno yang terkenal akan kebijaksanaannya, ilmu-ilmu gaib,

pertapa-pertapa dan dewa-dewinya.

Rumah-rumah peristirahatan musim semi yang dibangun oleh orang-orang asing di daerah

perbatasan yang sangat mengesankan ini, ciri khasnya belum dimodifikasi. Beberapa mil dari

hotel-hotel dimana orang-orang Barat menikmati tarian dan musik jazz ini , terbentang hutan-

hutan primitif.

Berselimutkan kabut yang bergerak perlahan, sepasukan pepohonan yang fantastis, tengah

berderap di atas tanah berlumut hijau kepucatan, seolah sedang memperhatikan jalanan yang

sempit, mengingatkan atau menakuti para pengelana dengan bahasa isyarat yang penuh teka-teki.

Dari lembah yang ditutupi hutan lebat hingga ke puncak gunung yang diselimuti salju abadi, seluruh

negeri bermandikan pengaruh suasana misteri ini.

Pemandangan yang demikian sangat sesuai dengan hal-hal gaib yang masih dipertahanankan.

Yang disebut populasi umat Buddha di sana sebenarnya terdiri dari para penganut Shaman, dan

beberapa  besar para medium: kaum Bonpo, Pawo, Bunting, dan Yabas, baik pria maupun wanita,

yang terdapat bahkan hingga di desa-desa kecil, mentransmisikan pesan-pesan para dewa, setan

dan orang yang sudah mati.

Aku tidur di perjalanan ke Pakyong dan esoknya aku tiba di Gangtok.

Saat mendekati pusat-desa ini aku disambut oleh badai salju yang datangnya tiba-tiba dan cukup

menakutkan.

Orang Tibet berpikir bahwa fenomena cuaca yaitu  ulah para setan atau dukun. Angin badai

yaitu  salah satu senjata favorit mereka. Mereka yang menciptakannya menggunakan alat ini untuk

menghalangi para peziarah yang tengah dalam perjalanan ke tempat-tempat suci dan dengan

demikian mereka dapat melindungi tempat pertapaan mereka dari para pengganggu serta

menghalau mereka yang penakut untuk mencoba menjalani kehidupan sebagai seorang siswa.

Beberapa minggu kemudian, Dawasandup yang percaya takhyul mengaku telah berkonsultasi

dengan seorang mopa (peramal) tentang serangan yang tak terduga ini  mengingat cuaca

cukup cerah saat aku tiba hari itu.

Orang ini  mengatakan bahwa para dewa setempat dan juga para lhama suci tidak senang

akan kehadiranku, sehingga aku akan menjumpai banyak kesulitan jika aku berkeinginan tinggal di

‘Negeri Agama’, demikian orang Tibet menyebut negeri mereka.

Sebuah prediksi yang dengan murah hati telah dikabulkan!

Yang Mulia Sidkeong Namgyal, sang pangeran Sikkim, yaitu  seorang lhama sejati: kepala biara

dari sekte Karma-Kagyud dan seorang tulku[9] yang diyakini merupakan reinkarnasi dari pamannya,

seorang lhama suci.

Sebagaimana seharusnya, dia sudah berpakaian biara sejak masih kecil, dan menghabiskan

sebagian masa mudanya di biara yang dikepalainya sekarang.

Pemerintah Inggris telah menunjuknya, dibandingkan  kakak lelakinya, sebagai pengganti maharajah,

ayahnya, dia diawasi oleh seorang India yang berkebudayaan Inggris sebagai pembimbing dan

gurunya.

Tinggal sebentar di Oxford dan perjalanan mengelilingi dunia menyempurnakan pendidikannya

yang beragam.

Sidkeong Tulku lebih mengenal bahasa Inggris dibandingkan  bahasa ibunya: bahasa Tibet. Dia

berbahasa Hindustan dengan fasih dan juga sedikit bahasa Cina. Villa pribadi yang ia bangun di

taman istana ayahnya mengingatkan kita akan sebuah rumah pedesaan Inggris dan jauh dari kesan

sebuah vihara Tibet, demikian juga di dalamnya, lantainya dirancang dengan selera Inggris,

sementara itu di lantai atas terdapat tempat berkhotbah dengan patung-patung Lhamais dan ruang

keluarga berciri khas Tibet.

Pangeran muda ini sangat terbuka. Dia kemudian sangat tertarik dengan penelitianku dan denga

bersemangat membantu misiku.

Persinggahan pertamaku di Sikkim ini yaitu  untuk mengunjungi semua biara yang tersebar di

hutan-hutan yang ada. Terletak di tempat terpencil, kebanyakan di lereng-lereng gunung, bentuk dari

biara-biara itu memberikan kesan yang mendalam bagiku. Aku sering membayangkan bahwa

tempat seperti ini didiami oleh para pemikir yang terbebas dari pergolakan dan ambisi duniawi,

yang melewati hari-hari penuh kedamaian dan tenggelam dalam meditasi.

Namun aku tak menemukan biara yang seperti kuharapkan. Para bhikkhu Sikkim sebagian besar

buta huruf dan tak berkeinginan untuk memperoleh pengetahuan, bahkan dalam Buddhisme yang

mereka anut. Mereka juga tak punya kesempatan untuk beristirahat. Gompa-gompa di Sikkim itu

sangat miskin, mereka cuma punya sedikit pemasukan dan tak memiliki donatur. Para trapa

mereka terpaksa bekerja keras untuk bertahan hidup.

Para penulis asing memanggil semua pendeta lhamais dengan sebutan lhama, namun  cara ini

bukanlah kebiasaan di Tibet. Seorang bhikkhu dapat diberi gelar lhama[10] jika ia tergolong orang

penting di bidang spiritual atau keagamaan, seperti para tulku, kepala biara yang besar, kepala

sekolah tinggi biara, dan para bhikkhu yang bergelar sarjana. Semua bhikkhu yang lain, bahkan

yang sudah diberi gelar gelong, disebut sebagai trapa (siswa). Namun demikian, para bhikkhu tua

dan bijaksana biasa dipanggil dengan sebutan lhama.

Di Sikkim, beberapa  trapa yang dianggap paling andal oleh rekan-rekannya, dapat melaksanakan

beberapa ritual keagamaan. Mereka mengajari para siswa pemula melafalkan ayat-ayat suci dan

memperoleh imbalan, yang jarang berupa uang melainkan dalam bentuk jasa membantu pekerjaan

rumah oleh siswa-siswanya. Namun demikian, praktek dari keahlian mereka sebagai pendeta

yaitu  sumber pendapatan utama bagi mereka.

Buddhis ortodoks melarang keras ritual keagamaan. Para lhama terpelajar mengatakan bahwa

ritual-ritual itu tak dapat membawa pencerahan spiritual, yang mana hanya dapat diperoleh melalui

usaha intelektual. Namun demikian banyak orang percaya bahwa metode ritual-ritual ini 

bermanfaat menyembuhkan orang sakit, melindungi harta benda, menaklukkan makhluk halus, dan

menuntun arwah orang yang sudah mati ke dunia yang lain.

Upacara pemakaman yaitu  salah satu tugas utama bhikkhu-bhikkhu Himalaya. Mereka

merayakannya dengan semangat dan suka cita sebab  berarti disediakannya satu atau dua jamuan

makan oleh keluarga yang meninggal kepada biara yang mengurusnya. Para trapa yang bertugas

juga menerima pemberian berupa uang dan semacamnya di rumah orang yang sudah meninggal

itu.

Para pendeta petani di hutan-hutan ini umumnya miskin dan kekurangan makanan, mereka tak

dapat menyembunyikan kegembiraannya jika seorang penduduk desa yang kaya meninggal sebab 

hal itu berarti jamuan makan selama beberapa hari.

Mereka yang dewasa biasanya dapat berpura-pura akan perasaannya, namun  para siswa pemula

yang masih anak-anak yang biasa menggembalakan kerbau di hutan menunjukkan sikapnya

dengan terus terang.

Suatu hari saat aku sedang duduk tak jauh dari para penggembala muda ini, sebuah alunan musik

yang terbawa angin terdengar dari kejauhan.

Dengan sesaat  anak-anak yang sedang bermain itu terdiam, dan mendengar dengan seksama.

Sekali lagi kami mendengar dengan bersamaan. Anak-anak ini segera mengerti

“Bunyi siput besar,” kata salah satu anak.

“Ada yang meninggal,” jawab yang satu lagi.

Kemudian mereka terdiam dan saling berpandangan, mata mereka bersinar kegirangan.

“Kita akan menyantap daging,” salah satu anak berbisik.

Di beberapa desa para pendeta lhamais berkompetisi dengan para dukun, namun tanpa rasa

permusuhan sesuai peraturan yang berlaku. Umumnya masing-masing menghargai keampuhan

metode-metode lawannya. Walaupun para lhama lebih dimuliakan dari para dukun Bön, pengikut

agama kuno penduduk asli, atau dari para ngagspa (ahli ilmu gaib, ahli ilmu kebatinan, dukun) yang

semuanya dianggap sebagai pemimpin upacara keagamaan, namun para ngagspa ini diyakini

lebih ahli dalam menangani para setan yang mengganggu manusia atau roh-roh orang mati.

Sebuah insiden yang tak terduga membuatku mengetahui bagaimana cara roh orang mati

dikeluarkan dari tubuhnya oleh lhama yang memimpin upacara dan dituntun ke jalan yang benar di

kehidupan mendatang.

Waktu itu aku dalam perjalanan pulang sesudah  berkeliling di hutan, dan kudengar sebuah bunyi

yang pendek dan tajam, yang tak seperti bunyi binatang yang kukenal. Beberapa menit kemudian

bunyi yang sama terdengar berulang dua kali. Aku melangkah perlahan ke arah sumber suara dan

menemukan pondok kecil yang agak tersembunyi letaknya.

Dengan berbaring di semak belukar, aku dapat melihat apa yang sedang terjadi tanpa diketahui.

Dua orang bhikkhu sedang duduk di bawah pohon, tatapan mereka ke bawah dalam posisi

meditasi.

Hik! Salah seorang bhikkhu mengeluarkan suara yang nyaring dan aneh. Hik! Ulang yang seorang

lagi sesudah  beberapa menit. Demikian seterusnya, dengan selang waktu diam yang cukup lama,

dan tanpa adanya gerakan di antara suara teriakan itu.

Aku perhatikan bahwa diperlukan usaha yang cukup besar untuk menghasilkan suara itu, yang

keluar dari perut. Tak lama kemudian, aku melihat salah seorang trapa itu memegang

tenggorokannya, mukanya tampak menahan sakit, dia berpaling ke arah lain dan muntah darah.

Temannya mengucapkan beberapa kata yang tak dapat kudengar, tanpa menjawab si bhikkhu

bangkit dan berjalan ke arah pondok.

Kemudian kuperhatikan ada sebatang jerami berdiri tegak di atas kepalanya. Apa makna ornamen

ini?

Saat trapa itu memasuki pondoknya dan temannya membelakangiku, aku menyelinap pergi.

saat  bertemu Dawasandup, dengan segera aku bertanya padanya. Apa yang sedang dilakukan

kedua orang itu; kenapa mereka mengeluarkan suara jeritan aneh itu?

Itu yaitu , katanya, jeritan ritual yang dilakukan seorang petugas lhama di sisi orang yang baru saja

meninggal, tujuannya yaitu  untuk mengeluarkan ‘arwah’ orang ini  melalui sebuah lubang di

puncak kepala yang akan dibuka oleh mantram gaib ini.

Hanya seorang lhama yang telah menerima kekuatan untuk melontarkan hik! ini  dengan

intonasi yang benar dan tenaga yang tepat dari seorang guru yang kompeten, baru bisa berhasil

melaksanakannya. sesudah  hik! ia akan meneriakkan phat! Namun ia haruslah berhati-hati untuk

tidak mengucapkan phat! jika ia hanya pada tahap latihan, seperti halnya kedua bhikkhu yang Anda

lihat itu. Kombinasi dari kedua bunyi ini dapat menyebabkan perpisahan jiwa dan raga, sehingga

seorang lhama yang mengucapkan dua bunyi ini dengan tepat pada dirinya sendiri akan segera

meninggal.

Bahaya ini tidak menimpanya jika ia sedang bertugas memimpin sebuah ritual kematian, sebab 

dalam hal ini dia hanya sebagai wakil, menggantikan tempat si mendiang – meminjamkannya

suaranya sehingga efek kata-kata gaib ini dirasakan oleh si mendiang, bukan lhama ini .

Jika kemampuan gaib untuk menuntun arwah keluar dari jasad ini telah diturunkan oleh seorang

guru yang kompeten kepada seorang siswanya, maka si murid harus berlatih untuk mengucapkan

hik! dengan intonasi yang tepat. Dikatakan bahwa bila sebatang jerami dapat berdiri tegak di atas

kepalanya selama kurun waktu yang diinginkan berarti dia telah berhasil. Dengan mengucapkan

hik! maka terjadi pembukaan sebuah celah di puncak tengkorak kepala, pada orang yang sudah

meninggal pembukaan ini jauh lebih besar, kadang-kadang cukup besar untuk dimasukkan sebuah

jari kelingking.

Dawasandup lebih tertarik terhadap pertanyaan yang menyangkut kematian dan alam gaib. Lima

atau enam tahun sejak perkenalan kami, dia menerjemahkan karya klasik Tibet tentang perjalanan

orang mati di kehidupan berikutnya.[11]

Beberapa orang asing, para peneliti budaya Timur dan orang-orang Inggris, telah mempekerjakan

Dawasandup dan mengakui kemampuannya, namun aku mempunyai alasan yang kuat untuk

menganggap bahwa tidak ada dari mereka yang mengetahui dengan jelas karakter Dawasandup

selain aku.

Dawasandup yaitu  seorang yang sangat percaya akan hal-hal gaib dan mistik. Dia mencoba

berhubungan dengan Dâkinî[12] dan dewa-dewa untuk memperoleh kemampuan supranatural.

Segala sesuatu yang menyangkut alam misteri para makhluk yang tidak kasat mata senantiasa

menarik hatinya, namun sebab  perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, maka dia tak

dapat menghabiskan banyak waktu untuk belajar hal-hal yang disukainya.

Lahir di Kalimpong, leluhurnya yaitu  orang-orang gunung: orang Bhutan atau orang Sikkim yang

merupakan bangsa pendatang dari Tibet, ia memperoleh beasiswa dan bersekolah di SMU

Darjeeling, yang didirikan untuk pemuda asli Tibet.

Dia bekerja di kedutaan Inggris di India dan menjadi seorang penerjemah di Baxe Duar, sebelah

selatan perbatasan Bhutan. Disana ia bertemu seorang lhama yang kemudian dipilihnya sebagai

guru spiritual.

Aku mengetahui banyak cerita tentang sang guru melalui cerita Dawasandup, yang sangat

menghormatinya. Gurunya ini  dapat dianggap mewakili semua lhama yang kutemui hari-hari

berikutnya, yang pikirannya diwarnai keinginan untuk belajar bercampur unsur-unsur takhyul, namun

yang paling penting, ia seorang yang baik dan rendah hati.

Dia cukup terkenal di antara rekan-rekannya sebab  pernah mempunyai seorang guru yang benar-

benar seorang lhama suci, dan kisah kematian sang guru kiranya sangat pantas untuk diceritakan.

Lhama suci ini yaitu  seorang pertapa yang bertapa di sebuah tempat terpencil di Bhutan. Seperti

biasa salah seorang murid tinggal bersamanya untuk melayani kebutuhannya.

Suatu hari seorang dermawan mengunjungi pertapa ini dan meninggalkan beberapa  uang untuk

membeli perbekalan musim dingin. Muridnya, sebab  terdorong oleh nafsu serakah, menikam

pertapa itu dan melarikan diri dengan membawa uang pemberian itu. Lhama tua itu masih hidup

dan sadarkan diri saat si perampok sudah pergi. Lukanya membuatnya sangat menderita, untuk

mengurangi siksaan itu dia tenggelam dalam meditasi.

Hingga saat ini kaum mistik Tibet percaya bahwa pemusatan pikiran akan dapat menjadi semacam

anastetik dan membuat mereka tak merasakan apapun, atau pada tingkat yang lebih rendah

setidaknya mampu mengurangi rasa sakit.

Beberapa hari kemudian saat seorang murid yang lain mengunjunginya, ia melihat gurunya

bergulung di selimut tanpa bergerak. Bau dari lukanya dan noda darah yang mengering di

selimutnya menarik perhatian si murid. Dia bertanya pada gurunya. Pertapa itu menceritakan apa

yang telah terjadi, namun saat si murid hendak memanggil dokter dari biara terdekat, dia

melarangnya.

“Jika para lhama dan penduduk desa mendengar apa yang terjadi mereka pasti akan mengejar si

pelaku,” katanya. “Dia belum pergi jauh. Mereka pasti akan menemukannya, dan mungkin,

menghukumnya sampai mati. Aku tak dapat mengizinkan ini terjadi. Aku berharap dapat

memberikannya waktu yang lebih banyak untuk melarikan diri. Suatu hari, mungkin, dia akan

kembali ke jalan yang benar, sehingga aku tidak akan menjadi penyebab kematiannya. Jadi jangan

ceritakan pada siapapun apa yang telah kau lihat disini. Pergilah, tinggalkan aku sendiri. Saat

bermeditasi, aku tak merasakan penderitaan, namun  saat sadar akan tubuhku sakitku tak

tertahankan.”

Seorang siswa Timur tidak akan mendiskusikan perintah semacam ini. Laki-laki itu kemudian

bersujud di kaki gurunya dan pergi. Beberapa hari kemudian, sendirian di pondoknya, dia wafat.

Walau Dawasandup sangat mengagumi prilaku lhama suci ini, namun moral mulia ini bukanlah

untuknya, dan dia pun mengakuinya.

Minum minuman keras, kelemahan orang-orang desanya, telah menjadi semacam kutukan

hidupnya. Ini memperburuk sifatnya yang cenderung pemarah hingga membuatnya, suatu hari,

hampir terlibat sebuah pembunuhan. Aku pernah mencoba mempengaruhinya saat tinggal di

Gangtok, aku membujuknya untuk meninggalkan minuman keras yang merupakan larangan bagi

semua umat Buddha, namun membutuhkan lebih dari energi yang dia punya untuk mampu

bertahan. Tak mungkin baginya melawan pengaruh orang di sekitarnya, yang mengatakan bahwa

dengan minum, dan meninggalkan masalah seseorang di dasar cangkir, yaitu  hal yang pantas

dilakukan oleh seorang siswa Padmasambhava[13].

saat  aku bertemu Dawasandup dia sudah tidak lagi bekerja untuk kedutaan, dia sudah menjadi

kepala sekolah Tibet di Gangtok. Dia terlalu aneh untuk memegang jabatan ini.

Hasratnya dalam membaca benar-benar menjadi tirani bagi dirinya. Kemanapun dia pergi dia

selalu membawa sebuah artikel  dan tenggelam di dalamnya, dia kehilangan jati dirinya dalam

kenikmatan. Selama berjam-jam dia lupa dimana dia berada. Tugas terjemahannya, percakapan

yang panjang dengan para lhama, dan pelaksanaaan ritual-ritual gaib benar-benar telah

menghalanginya untuk hadir di sekolahnya. Bahkan kelihatannya ia sering kali telah melupakan

keberadaan sekolahnya.

Terkadang dia tidak menginjakkan kaki di sekolah yang dipimpinnya hampir sebulan penuh,

menelantarkan anak didiknya di tangan yang bukan ahlinya, yang mengikuti contohnya melalaikan

mereka, sejauh tak beresiko terhadap pekerjaannya.

sebab  ditelantarkan, anak-anak bermain dan keluyuran di hutan, melupakan sedikit pelajaran yang

22

telah didapatkan.

Namun demikian, akan ada saat dimana Dawasandup tiba-tiba muncul, bertindak laksana Malaikat

Kematian, membuat mereka gemetar hingga ke sum-sum tulang, sebab  mengerti apa yang bakal

didapatkan.

Pertama-tama, mereka berbaris di depan pengujinya, yang akan menanyai mereka dari depan atau

ujung barisan.

Jika si anak salah menjawab, atau tak menjawab, maka temannya yang berada di urutan berikutnya

akan menjawab, dan jika benar, ia disuruh menampar si bodoh itu dan berganti tempat dengannya.

Korban itu kemudian ditanyai lagi, jika ia tak menunjukkan kemajuan dibanding saat pertama

ditanya, maka teman di urutan ketiga akan dipanggil, jika ia sukses, akan disuruh menampar

temannya itu dan berganti tempat dengannya.

Si anak yang malang, kebrutalan yang berulang-ulang membuatnya makin bingung, maka saat 

sampai di ujung barisan, dia telah mendapat lusinan tamparan.

Tak jarang, beberapa anak berdiri berjajar sebab  tak mampu menghafalkan pelajaran, anak yang

dianggap terpintar di kelas akan menampar mereka semua dan jika mereka tetap menunjukkan

kebodohan yang sama, Dawasandup sendiri yang akan memberi hukuman.

Beberapa siswa agak ragu-ragu memberi pukulan yang keras, mereka hanya berpura-pura

menampar, tapi Dawasandup memperhatikan.

“Kesini kamu!”, dia akan berkata dengan senyum sangar. “Kamu tak tahu bagaimana

melakukannya, Nak. Baiklah, akan kuajarkan.” Dan bang! Tangannya yang besar akan memukul

seluruh wajah si anak. Kemudian anak itu harus mendemonstrasikan, ke pipi kawannya, apa yang

dipelajarinya dari guru yang mengerikan itu.

Terkadang hukuman yang diberikan tidak berhubungan dengan kerja si murid. Di sekolah tidak

umum begitu, yang tak memiliki disiplin, Dawasandup menciptakan peraturan yang tak pernah

dibuat sebelumnya. Dia menggunakan tongkat yang panjang dan berat, memerintahkan si pembuat

kesalahan mengulurkan tangan dan membuka telapak tangannya. Kemudian anak itu menerima

beberapa  pukulan dari gurunya.

Saat mengayunkan senjatanya, Dawasandup melakukan semacam tarian perang yang brutal,

menandai setiap pukulan dengan sebuah lompatan dan teriakan ‘han’! sebab  si anak juga

melompat-lompat dan berteriak sebab  kesakitan, maka penghukuman itu tampak seperti tarian

setan.

Suatu hari aku tiba di sekolah dan secara kebetulan menyaksikan peristiwa ini , anak-anak,

yang kemudian mengenalku dengan baik, secara gamblang menceritakan metode pendidikan

gurunya.

sesudah  beberapa hari bertingkah sebagai guru besar yang aktif, Dawasandup kembali

menelantarkan murid-muridnya.

Aku dapat menceritakan banyak hal lagi tentang pemanduku yang baik itu, beberapa di antaranya

agak membingungkan, dalam gaya Boccaccio. Selain sebagai seorang ahli ilmu gaib, seorang

kepala sekolah, dan seorang penulis, ia juga melakukan banyak hal lain di luar itu. Namun

pikirannya tetap damai. Aku tak pernah berniat meremehkannya. sesudah  memperoleh

pengetahuan sejati melalui usaha yang tekun, ia menjadi seorang yang sangat simpatik dan

menarik. Aku bersyukur telah bertemu dengannya dan benar-benar merasa berhutang budi

padanya.

Aku perlu menambahkan bahwa Dawasandup yaitu  penulis kamus bahasa Inggris-Tibet, yang

merupakan kamus Inggris-Tibet pertama, dan hingga kini, satu-satunya, dan ia menghabiskan sisa

hidupnya sebagai profesor ahli budaya Tibet di Universitas Calcutta.

*********

Kebahagiaanku meluap saat sang Pangeran Tulku mengumumkan bahwa seorang doktor filsafat

Tibet dari Universitas Trashilhumpo [14] akan datang dan tinggal di biara Enche, dekat Gangok, dan

sang pangeran juga tengah mengharapkan seorang lhama lain – penduduk asli Sikkim, yang

belajar di Tibet – untuk kembali ke negaranya.

Aku akan segera bertemu dengan kedua orang yang terpelajar dan terkenal itu.

Doktor filsafat itu bernama Kushog[15] Chösdzed dan dia yaitu  anggota keluarga kerajaan kuno

Tibet.

Dia dipenjara beberapa tahun atas beberapa pelanggaran politik, dan ia juga mengaitkan

kelemahan fisiknya dengan makanan beracun yang disantapnya selama di tahanan.

Sang Pangeran Sikkim sangat menghargai orang-orang terpelajar. Dia dengan senang hati

menerima kedatangan pengungsi ini dan mengangkatnya sebagai kepala gompa Enche, dengan

tugas mengajarkan struktur bahasa dan kitab suci kepada lebih kurang dua puluh siswa baru.

Kushog Chösdzed yaitu  seorang Gelugspa, istilah bagi para pengikut sekte reformasi yang

didirikan oleh Tsong Khapa, sekitar tahun 1400 SM, lebih dikenal dengan sebutan sekte ‘Topi

Kuning’.

Para penulis asing yang menyatakan bahwa doktrin dan praktek keagamaan kaum ‘Topi Kuning’

sangat berlawanan dengan mereka yang ber‘Topi Merah’, akan menyadari kesalahan mereka jika

melihat bahwa di biara Enche, seorang kepala Gelugspa memimpin para bhikkhu bertopi merah

dan menyanyikan ayat-ayat suci bersama-sama.

Lhama ini memiliki pengetahuan yang luar biasa, aku tak tahu apakah ini akibat ketekunannya

dalam bermeditasi yang membuat ia dapat digolongkan sebagai seorang mistik. Ingatannya

menyamai sebuah perpustakaan yang hebat, dimana setiap artikel  siap untuk ditanyai, pada

halaman berapapun. Tanpa susah payah dia dapat mengutip lusinan teks, dalam segala topik yang

berhubungan dengan Lhamaisme, filsafat Buddhis dan sejarah Tibet atau literatur umum.

Walaupun kemampuan ini bukanlah hal yang aneh di Tibet, namun pengertian dan pemahamannya

yang sempurna akan semua makna yang tersirat tampaknya agak luar biasa.

Entah sebab  takut dianggap menonjolkan diri atau sebab  harga diri (tingkatnya lebih tinggi dari

pelindungnya), lhama itu jarang mengunjungi sang pangeran di villanya, dan hanya berkonsultasi

dengannya jika ada masalah yang menyangkut biara.

Kadang dia mengunjungiku, tapi biasanya aku yang pergi ke gompanya, yang berdiri di puncak

pegunungan yang mendominasi wilayah Gangtok.

sesudah  melewati beberapa kali perbincangan, sang lhama, sebab  agak meragukanku

sebagaimana kebanyakan orang timur lainnya, lalu merencanakan suatu jebakan yang

membingungkan untuk menguji pengetahuanku tentang Buddhisme dan seberapa luas

pengertianku akan doktrinnya. Suatu hari, saat aku duduk di ruangannya, dia mengeluarkan sederet

pertanyaan dari lacinya dan dengan cara yang sopan dan halus memintaku untuk segera

menjawabnya. Subjek yang diberikan sangat rumit dan pastinya dipilih dengan tujuan untuk

mempermalukanku.

Aku melewati ujian itu dengan baik, pengujiku tampak puas. Dia mengakui bahwa sebelumnya dia

tidak percaya aku seorang Buddhis dan sebab nya dia tidak menemukan alasan kenapa aku

bertanya kepada para lhama tentang agama mereka, dia khawatir aku bermaksud buruk.

Kini, dia kelihatan cukup yakin dan menaruh kepercayaan yang besar padaku.

Lhama kedua yang datang kemudian berasal dari biara Tolung Tserphug, yang berada di wilayah

Lhasa. Dia belajar di sana di masa mudanya dan kembali kemudian sebagai sekretaris Pemimpin

sekte Karmapa, salah satu sekte penting dari ‘Topi Merah’.

Dia dipanggil dengan sebutan Bermiag Kushog (Yang Mulia Bermiag), sebab  dia yaitu  putra

seorang bangsawan daerah itu, salah seorang dari sedikit anggota bangsawan Sikkim yang

berasal dari ras suku asli yang disebut Lepcha.

Seperti Kushog Chösdzed, dia telah menerima pentabisan dari gelong dan hidup melajang. Dia

yaitu  pendeta untuk mahârajah sehingga dia tinggal di kompleks istana.

Hampir setiap sore dia berjalan melewati kebun dan pergi ke villa tempat sang putra mahkota

tinggal. Disana, di ruang tamu yang ditata dengan selera Inggris, kami berbincang panjang lebar

tentang berbagai topik yang agak asing bagi orang barat.

Aku suka mengingat kembali perbincangan kami ini yang secara perlahan membuatku mampu

menyingkirkan kabut yang menyelubungi Tibet yang sebenarnya dan kehidupan religiusnya.

Sidkeong Tulku, senantiasa mengenakan jubah brokatnya, memimpin, duduk di atas dipan. Sebuah

meja diletakkan di depannya, dan aku duduk di kursi yang ada di hadapannya. Kami masing-

masing diantarkan sebuah mangkok kecil dari porselin Cina, dengan lepekan perak dan penutup

berbentuk seperti pagoda, berhiaskan koral dan batu pirus.

Tak berapa jauh dari sang pangeran, Yang mulia Bermiag, mengenakan jubah merah tua yang

agung, duduk di kursi dengan mangkok yang berlepekan perak tanpa penutup. Sedangkan

Dawasandup, yang sering hadir, duduk bersila dengan gaya lotus di lantai, dan mangkoknya

diletakkan di atas permadani, tanpa lepekan ataupun penutup.

Demikianlah etika Tibet yang rumit dan ketat dipatuhi.

Saat orator yang terpelajar dan fasih, Bermiag Kushog, berbicara, kami disuguhkan teh Tibet,

berwarna merah pucat dan diberi mentega dan garam. Orang-orang kaya Tibet senantiasa

memegang semangkuk teh ini di tangannya. Ekspresi terkenal untuk menggambarkan orang-orang

makmur disana yaitu  : ‘Bibir mereka selalu berlumur teh atau bir.’ Namun teh hanya hadir di

pertemuan ini, sebagai wujud penghormatan atas prinsip-prinsip ortodoks Buddhisku.

Seorang pelayan membawa sebuah poci teh perak yang besar. Dia membawanya setinggi bahu,

kemudian menurunkan ke batas posisi cangkir kami dengan posisi bersujud, seperti sedang

melaksanakan ritual keagamaan. Beberapa batang dupa menyala di sudut ruangan, menebarkan

wewangian yang berbeda dengan yang pernah kucium di Cina atau India. Kadang, terdengar

melodi yang perlahan dan khidmat, pernah juga melankolis dan lembut, dari biara di kejauhan. Dan

Lhama Bermiag melanjutkan berbicara, menggambarkan kehidupan dan pikiran-pikiran beberapa 

orang suci ataupun ahli ilmu gaib, yang pernah hidup atau masih hidup hingga saat ini, di darata

terlarang, dimana perbatasannya sudah demikian dekat….

Dari Kushog Chösdzed dan Bermiag Kushog aku berkenalan pertama kali dengan keyakinan kaum

Lhamais akan kematian dan keadaan sesudahnya: keyakinan yang tak diketahui kebanyakan

orang asing.

sebab  salah seorang dari mereka yaitu  ‘Topi Merah’ sementara yang seorang lagi ‘Topi

Kuning’, dengan mendengar dari keduanya, aku yakin telah mendapatkan informasi yang mewakili

pendapat umum, bukan sekte atau kepercayaan tertentu.

Lagi pula, di tahun-tahun berikutnya, dalam beberapa kesempatan, di tempat-tempat berbeda di

Tibet, aku menyempatkan diri bertanya tentang subjek ini ke beberapa lhama. Untuk meyakinkan

pembaca, aku akan menggabungkan informasi-informasi itu ke ringkasan berikut ini.

Kematian dan Keadaan Sesudahnya.

Orang awam biasanya berpikir bahwa umat Buddha perc