Tampilkan postingan dengan label piring terbang 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label piring terbang 1. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juli 2026

piring terbang 1

 





Penyelidikan Piring Terbang Melalui Mistik oleh: Mpu Wesi 

Geni 

Oleh Ainur Ridlwan Muthahhari di Islamic UFO (Berkas) · Sunting Dokumen 

Yang pertama-tama tentu timbul pertanyaan: Apakah pantas penyelidikan tentang piring terbang 

dilakukan dengan cara mistik? Adakah gunanya mempergunakan cara yang tidak selogis ilmu 

pengetahuan untuk menyelidiki UFO yang menghebohkan sejak ribuan tahun yang lalu itu? 

Dapatkah apa yang dibentangkan berita-berita yang dijangkau alam mistik melengkapi 

penyelidikan ilmiah teknologi dewasa ini? Buku-buku sejarah resmi yang diajarkan di sekolah 

dan di perguruan tinggi, tidak memuat hal-hal mistik yang pernah terjadi pada diri pahlawan 

negara manapun. Karena buku sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah harus bersifat logis. 

Sungguhpun kejadian-kejadian mistik tidak dapat dibantah dan sering terjadi pada diri beberapa 

orang atau kelompok orang yang sedang berjuang membela kemerdaekaan bangsanya. buktinya 

di dalam sejarah-sejarah perjuangan, sering terdengar ada yang kebal, tak mempan oleh senjata 

yang terbuat dari logam. Apakah itu akan dibantah oleh tehnologi modern? Apakah juga akan 

dibantah oleh sejarah-sejarah resmi? Apakah kesenian Aceh bernama DABUS yang 

memperlihatkan kekebalan manusia kepada senjata terbuat dari logam, dan kesenian lain seperti 

itu yang telah berumur ribuan tahun, dapat dibantah secara tehnologi modern? 

Salah seorang ilmuwan yang rendah hati pernah mengungkapkan penyelidikan dengan jalan lain 

itu sebagai berikut: ―Maafkan aku jika pada suatu ketika aku menangguk ilmu dari alam mistik 

yang ada pada diriku. Alam mistik bukanlah alam akal, bukanlah alam ilmiah, tetapi tidak pula 

berarti alam khayal. Kadang-kadang mistik itu setaraf dengan ilham atau setaraf dengan ilmu 

murni, jika dapat diberikan argumentasinya.‖ Demikian ucapan Prof. Dr. Hazairin SH almarhum 

dalam suatu tulisannya mengenai Ilmu Jagat Raya dalam bukunya Ajjamui Qur‘an. 

Ucapan tersebut hampir tidak berbeda dengan pendapat Einstein: ―Sebahagian besar ilmu 

pengetahuan itu yaitu  kesan-kesan dari alam sekeliling yang dihayati oleh indera manusia, yang 

kemudian dicernakan oleh akal pikiran. Tetapi ada lagi ilmu pengetahuan yang datang dengan 

jalan lain. Yaitu langsung dari suatu petunjuk tertentu.‖ 

Sebagai misal yang tak dapat dibantah:a. Banyak orang yang sakit keras memperoleh petunjuk 

obat dari dalam mimpi.b. Banyak pula yang karena keputus-asaan hidupnya, bersunyi diri 

dengan suatu cara tersendiri untuk memperoleh petunjuk yang datang dengan jalan berbagai rupa 

guna mengatasi keputus-asaan itu.c. Ada lagi dengan menempuh suatu cara peribadatan dalam 

agama, yang dianutnya ataupun melakukan jalan lain untuk memperoleh petunjuk Tuhan, akan 

memperoleh suatu jalan keluar dari kesulitan. 

Dalam buku ―Menyingkap Rahasia Piring Terbang‖ oleh J. Salatun, disinggung bahagian khusus 

mengenai tanggapan paranormal yang diterimanya dari Agusnain. Agusnain tidak menjawab 

segala pertanyaan dengan secara langsung. Tetapi ia terlebih dahulu membuat suatu hubungn 

dengan sinar alam malakut yang memenuhi jagat raya. Malahan dalam salah satu pertanyaan 

Agusnain menyatakan belum masanya menjawab, karena jawaban yang diperolehnya dari alam 

malakut itu belum jelas. 

Antara lain jawaban Agusnain:a. Piring Terbang itu memang ada. Dan merupakan buatan 

makhluk dari alam yang ada di jagat raya.b. Ketika ditanyakan dari mana asal makhluk piring 

terbang itu, Agusnain mengatakan belum boleh dijawab oleh Yang Maha Kuasa. 

Tetapi beberapa hari kemudian, ia mengatakan bahwa piring terbang itu datangnya dari salah 

satu tatasurya yang berada dalam Galaxy bumi ini sendiri. Dan menurut Agusnain bintang asal 

dari makhluk piring terbang itu memiliki  beberapa nama dari ilmu Astronomi: Antara lain YC 

5473, dengan arti Yale Catalogue. Bintang YC 5473 memiliki  spektrum dari golongan A5, 

yang berarti suhunya lebih tinggi (yaitu 11.000 derajat Celcius) dari matahari kita (5.000 derajat 

Celcius). 

Jauh bintang itu dari tata surya kita yaitu  203,7 tahun cahaya. Demikian antara lain jawaban 

Agusnain sebagai seorang paranormal. Yang melaukan suatu cara tertentu, untuk melepaskan 

kekuatan rohaniahnya ke jagat raya, dan menemukan jawaban yang sesuai dengan keizinan Yang 

Maha Kuasa. 

c. Seterusnya Agusnain menjawab, planet piring terbang memiliki  matahari sendiri. Planitnya 

lebih kecil dari bumi ini. Dan matahari mereka juga tampak lebih kecil. Warna langit di sana 

kehitam-hitaman agak lembayung.Bentuk awan tak ada yang bergumpal-gumpal. Hanya ada 

garis-garis tipis seperti serat-serat. Anehnya, walau siang hari bintang-bintang kelihatan dengan 

jelas. Tak ada lautan, hanya danau-danau dan sungai kecil. Hujan, sedikit. 

d. Tentang makhluk piring terbang, Agusnain mengatakan mereka jangkung (10' = 3 meter). 

Berlengan panjang hampir sampai ke lutut. Tangan mereka juga memiliki  lima buah jari. 

Perawakannya agak serba kurus. Agusnain ―melihat‖ suatu dump yang terdiri dari tumpukan 

piring terbang yang sudah dibuang. 

Tulisan ini timbul bukan karena kelatahan demam piring terbang yang pada saat ini melanda 

seluruh dunia. Tetapi merupakan hasil penyelidikan penulis selama 12 tahun lebih. Dari mencoba 

gerakan cakram aluminium yang digasingkan dengan tali. Sampai kepada menimbang bobot 

cakram itu sendiri dalam keadaan bergasing. Kemudian memikirkan, bagaimana menimbulkan 

sumber listrik yang maha kuat untuk menggasingkan cakram itu dari dalam bangun bentuk 

pesawat piring terbang mini. Dan untuk itu penulis juga berdialog dengan beberapa ahli elektro 

dan mesin. Yang terakhir, penulis juga pernah mengunjungi LIPI bahagian Physika di Bangdung, 

juga ke ITB Bandung. Selain berdialog dengan J. Salatun sendiri di LAPAN Jl. Pemuda persil I 

Jakarta. Untuk melatar belakangi tulisan ini, sebagai suatu tulisan manusia berakal sehat yang 

sederhana, penulis telah menulis ratusan judul tulisan misteri di majalah-majalah terkenal di 

Jakarta. Dan menulis alam makrokosmos dan piring terbang di beberapa majalah dengan cara 

beberapa kali sambung. Dan sebahagian dari tulisan itu telah dibukukan oleh beberapa penerbit. 

Adakalanya terdapat ruang kejenuhan untuk melanjutkan penyelidikan. Terlebih lagi, karena 

penulis bukanlah memiliki  laboratorium teknologi yang dapat dijadikan tempat riset. Dan 

penulis sendiri, ketika itu masih tinggal di Medan (Sumatera Utara). 

Oleh karena itulah penulis terkadang berusaha juga mencari jalan lain yang dapat menambah 

pengetahuan tentang data-data piring terbang. Seperti setiap orang yang merasakan kegagalan, 

akhirnya lari kepada salah satu jalan lain untuk akhirnya lari kepada salah satu jalan lain untuk 

meminta tuntunan meneruskan kegagalan itu. Penulis juga pernah berusaha berbuat seperti 

Agusnain sebagai paranormal. Tetapi dengan cara yang berlainan. Sungguhpun arahnya juga 

merupakan penyelidikan secara mistik terhadap kegiatan piring terbang. Penyelidikan ini bukan 

pula karena adanya pengaruh dari luar, atau dibiayai oleh pihak tertentu, tetapi oleh karena 

kesadaran sendiri sebagai makhluk Tuhan yang ingin menambah ilmu tentang makhluk-

makhlukNya yang bertebar di seluruh bumi dan langit. 

Sehingga berapa besar tenaga pikiran dan waktu, tidak diperhitungkan lagi. Seolah-olah rumit 

dan peliknya penyelidikan itu sudah menjadi racun yang membawa nikmat. 

Pada tahun 1970 saya berkenalan dengan seorang laki-laki yang bernama Gerard Umar 

Sitompul, tinggal di Jalan Sriwijaya, Medan. Perkenalan yang sangat menarik, karena beliau 

termasuk salah seorang ahli metaphisis yang sesuai dengan kegairahan saya untuk mengenalnya 

lebih dekat. Antara kami terdapat beberapa kecanduan tentang alam mistik, sehingga apabila 

kami berbicara, legih syahdu dari pada sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang dimabuk 

cinta. Yang mungkin sampai membuat para isteri kami menjadi cemburu kepada keasyikan 

percakapan yang menyita sebahagian besar waktu kehidupan alam nyata. Bahkan menyita waktu 

yang seharusnya dipergunakan untuk meningkatkan kesempurnaan rumah tangga. 

Saya juga mengetahui Gerard Umar Sitompul memiliki  seperti keris zaman kuno, yang 

masing-masing memiliki  nama-nama tertentu dengan kodrat tertentu. Di tengah rumah 

terdapat sebuah stoples kaca yang berisi tujuh jeruk purut bercampur adukan air tertentu. Air itu 

bagai mendidih sebagai tanda ada sesuatu yang akan datang. 

Gerard Umar Sitompul mengatakan kepada saya, ia pernah mendengar ada orang tua hebat 

tinggal di Tg. Morawa. Dia mengatakan juga bahwa rumah orang tua itu sering dikunjungi 

orang-orang yang penting untuk memperoleh sesuatu secara gaib. Dan Gerard Umar Sitompul 

menyatakan juga kepada saya, bahwa ia ingin mengunjungi orang tua itu bersama dengan saya, 

Orang tua itu bernama Datuk Tuah, tinggal di Tg. Morawa Kanan. 

Pada suatu hari Kamis sore aku berangkat bersama Gerard Umar sitompul membawa 21 batang 

lilin panjang, tiga bungkus rokok tanpa filter dan kemenyan putih. 

  

*** 

Di sekeliling ruangan menyala 21 batang liling yang kami bawa tadi. Datuk Tuah mulai 

membereskan sebuah bangku panjang, dan mengalasnya dengan sebuah permadani yang bagus 

warnanya. Kemudian menaburkan kemenyan di atas bara dupa. Ia pergi sesaat ke kamar 

tersendiri untuk melakukan ibadat. 

Kemudian keluar membawa sebuah Al Qur‘an. Kemudian Dt. Tuah memiringkan kepalanya ke 

arah bangku panjang, bagai mendengar ucapan gaib yang tidak terdengar oleh kami berdua. 

Hanya terdengar ucapan Dt. Tuah sendiri, antara lain,‖Alaikum salam... dan terima kasih atas 

kedatangan Nenek Baju Berenda dan Bergelang kaki, bersama dengan seluruh pengiring yang 

tujuh orang. ―Kemudian, janganlah nenek kesal karena himbauan ini. Karena bertahun-tahun 

yang lalu hamba malah menolak pekerjaan ini. Terutama karena hamba menganggap akan 

mengganggu kepada cara hamba mencari rezeki. Tetapi karena nenek katakan, bahwa pekerjaan 

seperti ini juga termasuk ibadat menolong sesama manusia, makanya hamba lakukan juga. 

Hanya permintaan hamba, janganlah nenek memberikan jawaban dari pertanyaan yang tak 

terjawab. Lebih baiklah nenek katakan saja tak mengetahuinya. Janganlah nenek terlibat dengan 

kata dusta, karena hamba yang nyata di mata orang banyak yang akan merasakan malunya. 

Sedangkan nenek dapat menghindar karena tak nampak oleh mata kasar manusia.‖ 

Demikianlah antara lain ucapan Dt. Tuah kepada Nenek Baju Berenda dan Bergelang kaki. 

Sejenak kami berhenti, karena waktu telah masuk magrib. Dt. Tuah menerangkan bahwa si 

Nenek sedang pergi ke belakang melakukan ibadat, dan meninggalkan pesalinan yang 

dipakainya di atas tempat ia duduk. Sungguhpun segalanya tidak terlihat oleh kami, peristiwa 

gaib itu bagai benar-benar sedang terjadi di dalam rumah. Terasa sekali bukan kami bertiga saja 

berada di dalam ruangan itu. Setelah lewat magrib barulah hubungan dengan Nenek Baju 

berenda diteruskan. Kelihatan Dt. Tuah sangat hati-hati menyimak suara dari arah bangku 

berlapis permadani lebar. Sejenak Dt. Tuah mengangguk-angguk kecil bagai memahami sesuatu 

yang tidak terdengar oleh saya dan Gerard Umar Sitompul. 

Setiap selesai mendengar ia berpaling kepada kami dan berkata,‖Nenek mengatakan bahwa anak 

yang berperawakan kecil, sebagai orang berketopong besi. Sampai beberapakali saya bertanya 

kepada nenek, takut dugaan nenek salah bunyinya. Karena anak datang kemari tidak memakai 

apapun di atas kepala, ― ujar Dt. Tuah. Sedangkan kami berdua jadi berpandangan mendengar 

ucapan nenek baju berenda yang menggelari diriku sebagai orang berketopong besi tembaga. 

Kemudian Dt. Tuah bagai mendengarkan lagi ucapan nenek baju berenda dengan penuh 

perhatian dengan kesopanan gerak gerik, yang kemudian diiringkan Dt. Tuah dengan ucapan 

perlahan,‖ Apakah tidak salah yang nenek katakan....... Karena hampir tak ada hubungan apapun 

antara anak yang berperawakan kecil ini dengan apa yang nenek tuduhkan kepadanya. Jadi...... 

harus hamba katakan juga? Tidakkah terdapat dusta didalamnya? Atau sekedar menyenangkan 

perasaan hati anak-anak yang datang ini? Tersentak sesaat Dt. Tuah bagai menerima kepastian 

kata yang keras. Kemudian Dt. Tuah mengangguk dan berkata,‖Baiklah kalau begitu, akan 

hamba katakan juga, karena hamba hanya meneruskan apa yang nenek tinjau ditengah alam 

gaib‖. 

Dt. Tuah memalingkan mukanya kearahku dan matanya bagai menebak-nebak bagaimana 

penerimaanku terhadap ucapan yang akan disampaikannya,‖ Apakah anak sedang memikirkan 

sejenis kendaraan besi?‖ Pertanyaan itu segera mengejutkan aku. Gerard Umar Sitompul juga 

terperangah karena tebakan yang begitu tepat dari nenek baju berenda kepada diriku. Saya 

termangu sesaat. Kemudian menjawab, bahwa saya hanya pernah dan sampai saat ini masih 

memikirkan tentang piring terbang. Kembali Dt. Tuah menyampaikan saya kepada nenek baju 

berenda. Yang kemudian dikembalikan pula oleh nenek itu dengan perkataan,‖ Yang anak 

pikirkan yaitu  sejenis pesawat terbuat dari besi dan tembaga‖. Gerard Umar Sitompul tiba-tiba 

menyambung pertanyaan dengan tenangnya,‖ Bagaimana ada pesawat yang terbuat dari ‗besi‘ 

dan ‗tembaga‘ akan dapat terbang? Sedangkan pesawat terbang sekarang yang terbuat dari 

aluminium ringan saja, menemui banyak kesulitan untuk mencapai kecepatan‖. Perkataan Gerard 

Umar Sitompul yang menyudutkan itu diteruskan oleh Dt. Tuah kepada nenek baju berenda. 

Sesaat pula lamanya Dt. Tuah menyimak jawaban halus yang sampai ke telinga batinnya. 

Kemudian Dt. Tuah terlebih dahulu menyampaikan bahwa nenek baju berenda sedang pergi 

kebelakang rumah mensucikan diri, karena soal jawab ini banyak menguras tenaganya untuk 

mencapai alam tingkat tinggi. 

―Aduh, ―keluh Dt. Tuah,‖baru kali ini hamba kedatangan tamu yang seperti ini. Biasanya orang 

hanya meminta petunjuk tentang barang-barang yang hilang, ataupun obat untuk tangkal 

penyakit. Hamba sendiri tak pernah keluar dari rumah, jangankan akan bepergian sampai ke 

Medan. Dan hamba sedikitpun tak mengerti apa yang anak-anak pikirkan mengenai pesawat 

yang hamba sendiri belum pernah melihatnya, selain dari pesawat terbang biasa yang terkadang 

menderu tinggi dari tempat tinggal kami ini.‖ Dt. Tuah kelihatan membalik-balik tujuh lembar 

kitab suci sebanyak tiga kali, dan memperhatikan aksara pertama dari setiap lembarnya. 

―Kalau dilihat disini, didalam perkataan nenek tadi tidak terdapat dusta ataupun khayal. Tetapi 

seperti pertanyaan anak yang besar (maksudnya Gerard Umar sitompul) bagaimana besi dan 

tembaga dapat terbang, sungguh harus dipikirkan juga‖. Dt. Tuah menggeleng-geleng karena 

takjub. Kami mendapat aba-aba, bahwa Nenek baju berenda telah duduk kembali, dengan wajah 

dan anggota badannya masih basah, menurut pandangan Dt. Tuah. Baiklah di bawah ini 

diturunkan saja soal jawab singkat dengan nenek baju berenda, agar lebih terarah kepada yang 

dimaksud. 

Pertanyaan:‖Kekuatan apakah yang menerbangkan pesawat besi tembaga itu?‖ 

Jawab:‖Dengan kekuatan yang terkandung didalam besi dan tembaga itu 

sendiri‖.Pertanyaan:‖Bagaimanakah sebenarnya bentuk piring terbang itu?‖ 

Jawab:‖Sebenarnya ada dua macam saja, yang pipih seperti piring penadah gelas kopi dan bulat 

panjang seperti labu‖. 

Tanya:‖Bagaimanakah bentuk dan gerakan piring terbang itu?‖ 

Jawab:‖Ia berputar seperti gerak putaran Al-Arsyh (tapak istana kerajaan Tuhan) yang arahnya 

seperti gerak orang naik haji thawaf mengelilingi Ka‘bah. 

Dalam kesempatan sebentar kami membicarakan gerak bergasing dari pesawat piring terbang itu. 

Diikuti juga oleh Dt. Tuah yang kelihatannya mulai berperhatian besar terhadap soal jawab kami 

dengan nenek baju berenda. 

Tanya:‖Makhluk apakah yang mengendalikan piring terbang itu?‖ 

Jawab:‖Mereka makhluk kasar biasa. Tetapi bukan manusia yang hidup di muka bumi. Mereka 

dari salah satu bintang lain. Tetapi tempat mereka menetap ada di atas bumi ini‖. 

Tanya:‖Di mana mereka tinggal berkumpul?‖ 

Jawab:‖Di bawah air‖. 

Akhirnya barulah Dt. Tuah mendapat penjelasan, bahwa makhluk piring terbang itu membuat 

tempat tinggalnya jauh di dasar laut. 

Tanya:‖Laut di arah mana?‖ 

Jawab:‖Arah Maghrib.......yang terdalam, yang ada jurang di dasarnya‖. 

Sayangnya ketika soal jawab ini terjadi, tidak ada atlas dunia yang dapat disodorkan kepada Dt. 

Tuah, agar ia dapat menerima penjelasan yang pasti dari Nenek Baju berenda. Dan ketika soal 

jawab ini terjadi, saya sendiri belum mengetahui legenda tentang segitiga Bermuda. Hanya 

dongeng tentang Benua Atlantis yang hilang, yang pernah saya baca dari beberapa risalah. 

Sekitar awal tahun 1975 ketika berada di Jakarta, barulah perihal Segitiga Bermuda itu saya 

dengar dan baca dari beberapa buah buku. Dan tentang pesawat satu bacaan DABUS Iqra-timah, 

Amri-tembaga, Hammarullah-besi, Shod-nyawamu besi. Maka karena itu menyusul pertanyaan 

lain kepada Nenek Baju berenda: 

Tanya: ―Apakah ada bahan cair lain yang digunakan Piring Terbang?‖ 

Jawab: ―Tidak ada bahan cair, hanya timah sebagai kekuatan ke tiga‖. 

Mendengar jawaban itu tiba-tiba pikiran saya teringat kepada soal jawab yang tertulis di dalam 

buku ―Menyingkap Rahasia Piring Terbang‖ oleh J. Salatun, yang diantaranya berisi soal jawab 

antara J. Salatun dengan Agusnain secara paranormal. Ketika diajukan pertanyaan kepada 

Agusnain dari bahan apa dan bagaimana piring terbang itu dibuat, dijawab oleh Agusnain: Piring 

terbang itu dibuat dari suatu paduan logam yang belum dikenal dibumi, dan dibuat dengan cara 

mengecor. Paduan logam piring terbang itu memiliki  sifat-sifat tertentu tetapi hanya untuk 

suatu jangka tertentu. Sesudah jangka itu, paduan tadi kehilangan sifat-sifatnya sehingga piring 

terbang tidak dapat dipakai lagi dan dibuang di sebelah dunia ―, itulah jawaban Agusnain. 

Jawaban itu nampak hampir tidak berarti apa-apa jika dilihat sepintas lalu. Tetapi jika 

dihubungkan dengan tinjauan Dt. Tuah dengan perantaraan Nenek Baju berenda, jawaban itu 

bagai saling menunjang.a. Bukan tidak mungkin salah satu paduan itu terdiri dari besi magnit 

yang telah kehilangan kekuatan kutub magnit, seperti keadaan besi magnit di dalam sebuah 

dinamo sepeda, atau dinamo sebuah mobil model lama. Besi magnit yang aus itu, tidak lagi 

mengelarkan imbas sekuat yang diperlukan untuk menggerakkan suatu dinamo listrik.b. 

Tembaga yang kehilangan sifatnya. Misalnya kawat tembaga yang terlalu kuat menerima aliran 

listrik, akan berubah menjadi keristal tembaga, yang tidak mampu lagi dengan sempurna 

mengalirkan arus listrik.c. Timah yang kehilangan sifatnya, hampir tak obahnya sebagai lempeng 

timah di dalam baterai basah. Pada baterai tua, lempeng lempeng timah itu rusak menjadi 

pecahan-pecahan seperti loyang (yang ada juga hubungannya dengan bertambahnya kadar 

loyang di udara, bila piring terang baru saja meninggalkan suatu tempat dengan kecepatan 

tinggi). 

Di dalam mengutarakan seluruh kesan teknologi di dalam tulisan ini terus terang saya akui saya 

sendiri tidaklah menguasai ilmu teknologi elektro yang mendetail. Kecuali sekedar sedikit 

pentertian sambil lalu tentang pengetahuan seperti itu. Dengan harapan, semoga ilmuwan yang 

lebih ahli akan menanggapi hal ini lebih mendalam melalui suatu riset di masa yang akan datang. 

PERTANYAAN-PERTANYAAN berikutnya diajukan lagi kepada Nenek Baju Berenda. 

Tanya: Apakah yang menarik makhluk piring terbang untuk mendatangi tempat-tempat tertentu? 

Jawab: Entah dengan cara bagaimana, mereka dapat mengetahui dengan tepat daerah-daerah atau 

kota yang sedang mengerjakan besi besar-besaran. 

Saya memang tidak menanyakan lagi, apakah kegiatan pekerjaan besi dimaksud yaitu  pabrik-

pabrik baja dan senjata, termasuk pabrik mobil atau juga daerah-daerah pasir besi dimuka bumi. 

Tetapi kalau diambil satu grafik kunjungan piring terbang di seantero kota dan pedesaan. Karena 

piring terbang juga pernah muncul di pantai selatan Jawa (Nusakambangan), yang diabadikan 

oleh Ir. Hartono dengan tustel photo. Yang salah satu duplikat photo itu pernah diberikan oleh J. 

Salatun kepada penulis. Sedang aslinya dikirimkan ke NASA. Daerah pantai selatan Jawa, 

memang salah satu daerah pasir besi baja, yang pada saat ini sebagai salah satu proyek sumber 

biji besi, selain titanium yang terkandung didalamnya. 

Ucapan:‘entah dengan cara bagaimana‘ yang diteruskan Dt. Tuah dari Nenek Baju Berenda itu 

mengingatkan penulis kepada suatu bentuk ‗radar terhadap metal‘. Atau dengan perkataan lain, 

pesawat piring terbang memiliki  detektor yang sangat sensitif untuk mengikuti kegiatan yang 

ada hubungannya dngan besi di dunia. Sekaligus tercakup di dalamnya, industri senjata, 

kumpulan persenjataan yang terbuat dari besi, daerah pasir besi, kawasan industri dan kota-kota 

yang sebagai sumber listrik perindustrian. Mungkin inilah yang menjadi sebab mengapa piring 

terbang selalu muncul di daerah-daerah yang telah maju perindustriannya, disamping dugaan 

bahwa Negara-Negara terkebelakang sangat sedikit sekali mengindahkan pesawat aneh yang 

muncul di atmosfer mereka. 

Sebahagian alasan makhluk piring terbang itu mungkin berdasar  kecemburuan mereka karena 

makhluk bumi sangat berambisi untuk mencontoh pesawat mereka. Diliputi perasaan iri hati dan 

disaingi, mereka selalu mengintip kegiatan industri besi manusia di bumi. Malahan terkadang 

mereka seperti mengetahui gedung atau bangunan yang menjadi pusat pengendalian politik suatu 

negara di dunia. Seperti yang disebut sebagai Washington Invasion (Penyerbuan atas 

Washington) pada tanggal 19 dan 26 Juli 1952 pukul 22.00 penduduk Washington menyaksikan 

lima buah cahaya yang mengambang di atas Gedung Putih, meliputi bangunan di sekitarnya. 

Seminggu kemudian kejadian itu terulang kembali dengan jumlah sampai 15 buah cahaya yang 

bergerak sangat cepat melebihi kecepatan pesawat bumi. Sehingga ketika angkatan udara 

mengirimkan dua pesawat pencegat F94 untuk mengadakan penyelidikan, ternyata tidak 

membawa hasil. Malah ketika kedua pesawat pencegat itu akan pulang ke landasan, ke lima 

belas buah cahaya itu mengelilingi mereka dalam jarak tertentu, dan seperti mengantarkan atau 

mengawal kedua pesawat itu. akhirnya lima belas detik kemudian, cahaya-cahaya menghilang 

dengan kecepatan yang mengerikan. 

Demikian juga yang pernah terjadi pada tahun 1978 sekitar bulan Maret. sejumlah piring terbang 

mengitari kaisar Jepang Hirohito, selama delapan kali. Seolah-olah mengetahui peranan Gedung 

Putih di Washington bagi Amerika Serikat, dan apa peranan kaisar Hirohito bagi Jepang. 

Bertambahlah pengetahuan kita bahwa makhluk piring terbang memiliki  cara dan kecerdasan 

tersendiri untuk melihat kegiatan manusia di dunia. Dua hari kemudian, kami datang kembali 

menemui Dt. Tuah. Karena hari itu tepat ketika malam Jumat Kliwon (Manis). Menurut Dt. Tuah 

pada malam seperti itu, Nenek Baju berenda lebih banyak memiliki  kekuatan menerima berita 

alam gaib dari pada malam-malam biasa. Dan penulis sendiri sekedar mengetahui bahwa hari 

Jumat yaitu  sebagai: 

Dibentuknya Adam dari tanahSelesainya Adam dijadikan.Terusirnya Adam dari 

sorga.Berjumpanya Adam dan Hawa dimuka bumi.Banjir Nuh.Tenggelamnya Firaun dijaman 

Musa as.Didekatkannya roh dengan kuburnya.Kiamatnya dunia dengan seluruh galaxinya. 

Banyak lagi kejadian yang penting, yang terjadi pada hari tersebut, yang merubah permukaan 

bumi dan sejarah kehidupan manusia. Sekali ini Dt. Tuah meminta kepada penulis dan Gerard 

Usman Sitompul untuk mensucikan diri dengan air, seluruh anggota badan, sebelum soal jawab 

diteruskan dengan Nenek Baju berenda. 

Tanya: Pernahkah nenek berusaha mendekati piring terbang itu? 

Jawab: Banyak dari beberapa golongan jin dan makhluk halus lain ingin masuk ke dalamnya. 

Tetapi tak berhasil. (Sejenak Dt. Tuah bagai mendengar perkataan yang meragukan atau 

terputus-putus dari Nenek Baju berenda). 

Tanya: Apakah nenek diserang mereka? 

Jawab: Tidak, mereka tak pernah mengganggu makhluk lain. Hanya membuat rintangan, 

sekiranya mereka dalam keadaan terpaksa. Piring terbang itu sendiri, lebih panas dari kawah 

gunung berapi. Itulah halangan pertama dari makhluk-makhluk halus dan kasar untuk 

mendekatinya. 

Mendengar api yang dikatakan nenek baju berenda, penulis teringat kepada kekuatan arus listrik 

kuat yang terpancang dari sebuah piring terbang. Tanya: Bukankah bangsa jin dijadikan dari api. 

Tak dapatkah mereka menyatukan diri dengan panas itu? 

Jawab: Pertanyaan itu telah menggugah kekuasaan Tuhan. Tetapi biarlah nenek jawab juga 

sekedarnya. Dalam keadaan biasa, piring terbang tetap dapat mengeluarkan kekuatan api dengan 

tiba-tiba. Belum ada ijin Tuhan, agar jenis kami dapat masuk kedalamnya, sejak ribuan tahun 

yang lalu. Alangkah dasyatnya jarak waktu yang disebutkan Nenek Baju berenda, yang 

mengatakan piring terbang belum berhasil dimasuki makhluk halus bangsa jin atau roh biasa. 

Yang kemudian mengingatkan penulis kepada wahyu Tuhan yang berbunyi: Dan apabila 

perkataan telah jatuh kepada manusia (janji Tuhan) kami keluarkan sejenis makhluk dari dalam 

bumi yang akan menemplak manusia, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada 

ayat-ayat kami‖. 

Kalau diikuti perkembangan usaha-usaha mistik dilapangan kehidupan manusia termasuk 

diantaranya pengobatan dari jarak jauh, atau menentukan daerah atau benda yang hilang, juga 

termasuk menentukan benda terpendam dengan petunjuk gaib dan mistik. Yang belum pernah 

didengar ialah adanya golongan makhluk halus yang berhasil memasuki dan mengerti tentang 

keadaan piring terbang. Belum pernah penulis mendengar penganut-penganut kebatinan atau 

agama yang menjalankan suatu cara mistik yang dapat mengetahui bagaimana ruangan di dalam 

dan peralatan piring terbang itu sesungguhnya. Jika mengenai keadaan dan planet-planet dan 

bulan menurut tinjauan ahli mistik, telah sering penulis jumpai. 

Di dalam lembaran sobekan surat papyrus kuno yang berasal dari jaman raja Thuthmosis III 

(1505 - 1450) sebewlum masehi, dengan ejaan aslinya berasal dari tulisan hearatic (ejaan tulisan 

bangsa Mesir kuno) yang demikian jelas isi keseluruhannya, ada juga diungkapkan soal piring 

terbang. lembaran papyrus berukuran 20 x 18 cm lebih dikenal dengan nama Tulli Papyrus, yang 

diambil dari namanya Prof. Aleberto Tulli yang pernah menjabat direktur Museum Vatikan 

bagian peninggalan bangsa Mesir kuno. Di jaman pemerintahan Firaun Thuthmosis III sekitar 

tahun ke 22 (1525 SM), bulan ke tiga musim dingin (Pebruari) pukul ke enam pada hari itu 

(pukul 23.00) para juru tulis rumah kehidupan (seperti bentuk sekretariat negara atau 

perpustakaan) melihat sebuah lingkaran api bercahaya sangat terang turun dari langit. Sekalipun 

tidak memiliki  kepala, lingkaran itu mengeluarkan bau yang tidak sedap dari mulutnya, yang 

berbentuk memanjang dan melebar dan tidak mengeluarkan suara sedikitpun. mereka sangat 

ketakutan, sehingga hanya berbaring di tanah. Dan ketika Firaun diberitahukan tentang kejadian 

itu, langsung diperintahkannya untuk meyelidiki dengan memperbandingkan apa yang tertulis 

masa Firaun Thuthmosis III. Firaun berusaha menafsirkan semua kejadian itu. Selang beberapa 

hari kemudian muncul lagi nyala api yang terang dengan jumlah banyak berkilauan, 

mengalahkan putihnya cahaya matahari. Dibagian bawah benda itu kelihatan pancaran api yang 

bercahaya sangat terang. Firaun menyaksikan sendiri dari tengah-tengah para tentara yang 

menjaganya. kemudian benda itu meluncur semakin meninggi ke arah selatan, disusul dengan 

jatuhnya ikan dan burung-burung dari langit. Firaun sangat takjub menyaksikan apa yang belum 

terjadi selama masa pemerintahannya. Ia memerintahkan agar seluruh peristiwa itu oleh rumah 

kehidupan sebagai peringatan yang abadi. 

Memang, menurut dugaan, kunjungan UFO sejak jaman dahulu yaitu  membawa tujuan untuk 

membantu perkembangan manusia dengan mengajarkan kepandaian yang mereka miliki. Tetapi 

itu baru merupakan sebuah teori dan dugaan. Sehubungan dengan teori itu kemunculan UFO ke 

muka bumi yang semakin kurun tahun, semakin bertambah banyak, dianggap sebagai salah satu 

pertanda bahwa kehidupan bumi telah semakin tua. Mereka beramai-ramai dari tempat asal 

mereka, datang ke atmosfir bumi. Memang diakui meledaknya bom atom I di Hiroshima pada 

tanggal 6 Agustus 1945 merupakan peristiwa pertama radioaktif naik ke udara melewati atmosfer 

bumi. Mungkin saat itu makhluk UFO merasakan sebagian dari keseimbangan alam jagat raya 

mulai terganggu. Mungkin bumi sendiri di masa yang akan datang akan mengalami kegoncangan 

hebat yang merusak kestabilannya melalui orbitnya mengelilingi matahari. Misalnya dengan 

bergesernya sedikit kutub magnit bumi dalam suatu getaran kuat pada kulit bumi. Sedang kutub 

itu sendiri sangat bergantung dengan letak gundukan es kutub utara dan selatan. Kalau gugusan 

es kutub rusak, maka tekanan dan arus pada permukaaan laut juga akan berubah sekaligus 

mengubah keadaan musim dimuka bumi. 

Pertanyaan berikutnya yang sedikit agak menjurus kepada peralatan UFO diajukan seprti 

dibawah ini kepada nenek baju berenda. Pertanyaan itu sengaja disusun demikian rupa sehingga 

tanpa sadar Nenek Baju Berenda telah menyinggung dugaan keadaan bagian dalam dari piring 

terbang. 

Tanya: ―Apakah makhluk pembawa piring terbang itu ikut juga berpusing bersama pesawat 

mereka? 

Jawab: Tidak. Sebab mereka berada di dalam ruangan berbentuk sebuah bola besi yang amat 

bulat tak ikut berputar dengan bagian lainnnya. 

Soal jawab ini kelihatannya memakan tenaga Dt. Tuah juga. Bintik-bintik keringat di wajahnya 

mulai berkilat dibawah cahaya lilin yang terpasang. 

Tanya: Dimanakah letak bola besi penumpang itu? 

Jawab: Pada bagian pusar piringnya. 

Tanya: Apakah kelihatan dari luar? 

Jawab: Seperlima bulatan pada bagian atas, dan seperlima lagi dari bulatan sebelah bawah, 

tampak menonjol dari keseluruhan bentuk piring. 

Dari jawaban Nenek Baju Berenda ini, penulis teringat kepada soal jawab J.Salatun dengan 

Agusnain dengan pandangan paranormal yang mengatakan: adanya sebuah turbin yang berputar 

sangat cepat, yang ujung porosnya tidak menyinggung tempat duduknya. Oleh karena itu, 

mereka sama sekali tidak menggunakan minyak pelumas. Entah bagaimana kedua bagian itu 

dapat dibuat, sehingga tidak saling menyentuh. Saya tidak mengerti, tetapi demikianlah 

keadaannya. Itulah salah satu hasil tinjauan paranormal Agusnain. Nenek Baju Berenda, sendiri 

tidak menyinggung-nyinggung soal turbin yang disebut Agusnain. Ia hanya mengatakan tempat 

awak piring terbang itu di dalam ruangan sebuah bola besi yang terletak pada bagian pusar piring 

terbang. Oleh karena itu penulis menyusun pertanyaan baru. 

Tanya: Apakah bola ruangan penumpang itu terletak rapat dengan rongga badan piring terbang? 

Jawab: Tidak. Sekeliling bola itu memiliki  jarak tertentu dengan rongga pesawat. Entah apa 

gunanya. 

Tanya: Tak sedikitpun bahagian yang bersinggung? 

Jawab: Tidak. 

Jawaban ini agak berbeda dari tinjauan para normal Agusnain. Agusnain menengatakan tentang 

poros turbin yang berputar cepat, sedangkan Nenek Baju Berenda mengatakan ruangan bola 

penumpang itu mengambang di tengah rongga piring. 

Tanya: Kekuatan apakah yang membuat bola penumpang itu menjadi mengambang seperti itu? 

Bukankah itu berarti ada tenaga yang sama pada keliling bola membuat ia mengambang ditengah 

ruangan piring? 

Jawab: Anak yang berketopong besi-tembaga mengetahuinya. 

Penulis jadi tersentak mendengar jawaban Nenek Baju Berenda, dan Datuk Tuah memandang 

penulis dengan keheranan. Sedangkan Gerard Usman Sitompul mengangguk-angguk kecil 

seperti ada sesuatu yang dimakluminya didalam hati. Penulis sendiri cenderung untuk memegang 

motif: Iqra namamu timah Amri namamu tembaga, Hamarullah namamu Besi, dan Shod 

nyawamu besi. Sama dengan Magnit rohmu besi. 

Kesimpulan penulis: Bola ruangan penumpang bisa mengambang seperti itu karena bagian luar 

besi bola penumpang bermuatan kutub magnit yang sama dengan rongga poros cakram. Dan 

setelah penulis menyatakan hal ini kepada Gerard Usman Sitompul ia juga dapat menerimanya, 

dengan mengingat hukum tolak. 

Dan teori ini juga pernah penulis nyatakan kepada beberapa orang insinyur elektro, yang juga 

menerimanya sebagai logika teknologi, walaupun belum ada peralatan teknologi zaman ini yang 

mempergunakan cara itu. Dan penulis sendiri belum lagi menghitung secara teliti, berapa tenaga 

tolak menolak besi magnit sekutub pada setiap 1 cm2. 

Kalau mengingat bahwa piring terbang ukuran besar diduga memiliki  garis tengah 90 m, dan 

bola penumpang yang terletak di bagian pusarnya berdiagonal 10 m, bayangkan betapa besarnya 

besi magnit yang harus digunakan untuk sebuah piring terbang! Dengan sendirinya berat bola 

penumpang harus pula diperhitungkan agar bola itu tetap mengambang pada rongga duduknya. 

Tapi bagaimana pula caranya agar penumpang tidak terikut dengan perubahan kedudukan bentuk 

cakram disaat ia terbang dengan segala gaya? Menurut pendapat penulis sendiri, bola 

penumpang itu memiliki  suatu alat pemberat dibagian bawahnya. Sehingga ia lebih mirip 

dengan patung campak golek, yang bagian bawahnya diberi timah pemberi pemberat. Sehingga 

dalam keadaan bagaimanapun, bagian yang berat itu tetap berada dibagian bawah. Kini timnul 

pertanyaan: Dapatkah perputaran rongga besi cakram dengan dinding bola penumpang 

menghasilkan arus listrik walaupun keduanya terdiri dari magnit sekutub? Jika tidak, darimana 

datangnya sumber listrik berkekuatan tinggi yang terpancar dari sebuah piring tebang? 

Jika menurut tinjauan para normal Agusnain, turbin itu pertama-tama berfungsi sebagai stabiliteit 

kepada piring terbang. Dan yang kedua untuk mengatur efflux. Dari Nenek Baju Berenda penulis 

tidak menemukan jawaban mengenai turbin itu. Mungkin karena ia menggantinya dengan istilah 

bola penumpang yang terletak ditengah rongga cakram. Tetapi sekiranya memang sebagai 

sumber listrik, turbin elektromagnit itu sepantasnya terletak di antara kedua belahan cakram. Dan 

dari persaingan yang berlawanan arah akan terjadi imbas magnit yang cukup besar untuk sumber 

arus listrik yang kuat. Bola penompang dan rongga cakram yang mengandung magnit yang 

sekutub, hanya sekedar menjaga stabiliteit kedudukan bola penumpang. Teori ini mungkin dapat 

diterima akal. Karena beberapa saksi mengatakan melihat bagian tengah piring terbang itu 

kelihatan lebih kabur, daripada bagian keliling cakram yang lebih bercahaya menyilaukan. 

Pandangan seperti itu dapat terjadi, jika bagian tengah (bola penumpang) piring terbang itu tidak 

bergasing sama sekali. Hanya kelihatan bercahaya, karena kena bias cahaya keliling cakram yang 

bergasing (membuat batas menjadi tidak menjadi kelihatan). 

Kalau teori diatas memiliki  dasar kebenaran untuk dijadikan bahan dalam riset piring terbang, 

berarti sebagian dari rahasia stabiliteit ruangan penumpang dan sumber arus listriknya sudah 

dapat direka darimana datangnya. Tinggal lagi mengungkap bagaimana caranya mereka 

memperkuat sumber listrik itu, dan menghubungkannya dengan seluruh badan cakram yang pijar 

oleh arus listrik. Setidaknya penulis telah mencoba menyodorkan salah satu ranting kecil dari 

estimat teknologi yang terkandung didalam kekuatan piring terbang. Yang mungkin akan dapat 

digunakan untuk menyambung suatu kesimpulan lain yang selama ini terputus. 

Penulis sendiri telah berhubungan dengan puluhan para medium, atau melakukan pembicaraan 

dibwah pengaruh hipnotys. Dan penulis juga pernah berdialog dengan roh-roh yang berada di 

tingkat atas, tetapi soal jawab dengan Nenek Berbaju Renda dengan perantaraan Datuk Tuah, 

yaitu  yang paling mengagumkan, sebab memiliki  argumentasi untuk dipertahankan. Penulis 

bertambah yakin setelah mendengar bahwa Datuk Tuah sendiri oleh salah satu kegiatan di bawah 

perdatam (perindustrian dan pertambangan) di zaman menteri-menteri Chairul Saleh. Datuk 

Tuah pernah dibawa oleh salah satu kelompok staf ke beberapa gunung didaerah Sumatera Utara 

dan Aceh, untuk mencari logan-logam yang ada setiap kaki pegunungan. Dan sebagian besar dari 

petunjuk pak Datuk Tuah tentang sumber-sumber metal yang bermacam-macam itu diterakan 

didalam sebuah peta khusus pertambangan di daerah Aceh dan Sumatera Utara. Tidak diketahui 

bagaimana pelaksanaanya, tetapi yang jelas rombongan itu pernah berjanji akan membangun 

rumah Datuk Tuah bila pelaksaan rencana penggalian metal-metal berharga itu telah dimulai. 

Yang pasti lagi, sampai Datuk Tuah meninggal dunia pada Tanggal 16 Maret 1978, ia masih 

berharapa agar rencana pertambangan metal-metal berharga itu terlaksana. Ketika ke Medan 

pada bulan Juli 1978, penulis hanya sempat melihat pusarannya di Tg. Morawa dengan istri dan 

lima orang anak yang ditinggalkannya. Dan kepada penulis para ahli warisnya menyerahkan dua 

ujud yang tidak nampak, selain beberapa wasiat yang disampaikan dengan tulisan, sebelum 

beliau wafat. 

Sumber: Majalah Senang edisi No. 00408 

Link terkait:http://gusmaulana.angelfire.com/penyelidikan.html 

Yang pertama-tama tentu timbul pertanyaan: Apakah pantas penyelidikan tentang piring terbang 

dilakukan dengan cara mistik? Adakah gunanya mempergunakan cara yang tidak selogis ilmu 

pengetahuan untuk menyelidiki UFO yang menghebohkan sejak ribuan tahun yang lalu itu? 

Dapatkah apa yang dibentangkan berita-berita yang dijangkau alam mistik melengkapi 

penyelidikan ilmiah teknologi dewasa ini? Buku-buku sejarah resmi yang diajarkan di sekolah 

dan di perguruan tinggi, tidak memuat hal-hal mistik yang pernah terjadi pada diri pahlawan 

negara manapun. Karena buku sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah harus bersifat logis. 

Sungguhpun kejadian-kejadian mistik tidak dapat dibantah dan sering terjadi pada diri beberapa 

orang atau kelompok orang yang sedang berjuang membela kemerdaekaan bangsanya. buktinya 

di dalam sejarah-sejarah perjuangan, sering terdengar ada yang kebal, tak mempan oleh senjata 

yang terbuat dari logam. Apakah itu akan dibantah oleh tehnologi modern? Apakah juga akan 

dibantah oleh sejarah-sejarah resmi? Apakah kesenian Aceh bernama DABUS yang 

memperlihatkan kekebalan manusia kepada senjata terbuat dari logam, dan kesenian lain seperti 

itu yang telah berumur ribuan tahun, dapat dibantah secara tehnologi modern? 

Salah seorang ilmuwan yang rendah hati pernah mengungkapkan penyelidikan dengan jalan lain 

itu sebagai berikut: ―Maafkan aku jika pada suatu ketika aku menangguk ilmu dari alam mistik 

yang ada pada diriku. Alam mistik bukanlah alam akal, bukanlah alam ilmiah, tetapi tidak pula 

berarti alam khayal. Kadang-kadang mistik itu setaraf dengan ilham atau setaraf dengan ilmu 

murni, jika dapat diberikan argumentasinya.‖ Demikian ucapan Prof. Dr. Hazairin SH almarhum 

dalam suatu tulisannya mengenai Ilmu Jagat Raya dalam bukunya Ajjamui Qur‘an. 

Ucapan tersebut hampir tidak berbeda dengan pendapat Einstein: ―Sebahagian besar ilmu 

pengetahuan itu yaitu  kesan-kesan dari alam sekeliling yang dihayati oleh indera manusia, yang 

kemudian dicernakan oleh akal pikiran. Tetapi ada lagi ilmu pengetahuan yang datang dengan 

jalan lain. Yaitu langsung dari suatu petunjuk tertentu.‖ 

Sebagai misal yang tak dapat dibantah:a. Banyak orang yang sakit keras memperoleh petunjuk 

obat dari dalam mimpi.b. Banyak pula yang karena keputus-asaan hidupnya, bersunyi diri 

dengan suatu cara tersendiri untuk memperoleh petunjuk yang datang dengan jalan berbagai rupa 

guna mengatasi keputus-asaan itu.c. Ada lagi dengan menempuh suatu cara peribadatan dalam 

agama, yang dianutnya ataupun melakukan jalan lain untuk memperoleh petunjuk Tuhan, akan 

memperoleh suatu jalan keluar dari kesulitan. 

Dalam buku ―Menyingkap Rahasia Piring Terbang‖ oleh J. Salatun, disinggung bahagian khusus 

mengenai tanggapan paranormal yang diterimanya dari Agusnain. Agusnain tidak menjawab 

segala pertanyaan dengan secara langsung. Tetapi ia terlebih dahulu membuat suatu hubungn 

dengan sinar alam malakut yang memenuhi jagat raya. Malahan dalam salah satu pertanyaan 

Agusnain menyatakan belum masanya menjawab, karena jawaban yang diperolehnya dari alam 

malakut itu belum jelas. 

Antara lain jawaban Agusnain:a. Piring Terbang itu memang ada. Dan merupakan buatan 

makhluk dari alam yang ada di jagat raya.b. Ketika ditanyakan dari mana asal makhluk piring 

terbang itu, Agusnain mengatakan belum boleh dijawab oleh Yang Maha Kuasa. 

Tetapi beberapa hari kemudian, ia mengatakan bahwa piring terbang itu datangnya dari salah 

satu tatasurya yang berada dalam Galaxy bumi ini sendiri. Dan menurut Agusnain bintang asal 

dari makhluk piring terbang itu memiliki  beberapa nama dari ilmu Astronomi: Antara lain YC 

5473, dengan arti Yale Catalogue. Bintang YC 5473 memiliki  spektrum dari golongan A5, 

yang berarti suhunya lebih tinggi (yaitu 11.000 derajat Celcius) dari matahari kita (5.000 derajat 

Celcius). 

Jauh bintang itu dari tata surya kita yaitu  203,7 tahun cahaya. Demikian antara lain jawaban 

Agusnain sebagai seorang paranormal. Yang melaukan suatu cara tertentu, untuk melepaskan 

kekuatan rohaniahnya ke jagat raya, dan menemukan jawaban yang sesuai dengan keizinan Yang 

Maha Kuasa. 

c. Seterusnya Agusnain menjawab, planet piring terbang memiliki  matahari sendiri. Planitnya 

lebih kecil dari bumi ini. Dan matahari mereka juga tampak lebih kecil. Warna langit di sana 

kehitam-hitaman agak lembayung.Bentuk awan tak ada yang bergumpal-gumpal. Hanya ada 

garis-garis tipis seperti serat-serat. Anehnya, walau siang hari bintang-bintang kelihatan dengan 

jelas. Tak ada lautan, hanya danau-danau dan sungai kecil. Hujan, sedikit. 

d. Tentang makhluk piring terbang, Agusnain mengatakan mereka jangkung (10' = 3 meter). 

Berlengan panjang hampir sampai ke lutut. Tangan mereka juga memiliki  lima buah jari. 

Perawakannya agak serba kurus. Agusnain ―melihat‖ suatu dump yang terdiri dari tumpukan 

piring terbang yang sudah dibuang. 

Tulisan ini timbul bukan karena kelatahan demam piring terbang yang pada saat ini melanda 

seluruh dunia. Tetapi merupakan hasil penyelidikan penulis selama 12 tahun lebih. Dari mencoba 

gerakan cakram aluminium yang digasingkan dengan tali. Sampai kepada menimbang bobot 

cakram itu sendiri dalam keadaan bergasing. Kemudian memikirkan, bagaimana menimbulkan 

sumber listrik yang maha kuat untuk menggasingkan cakram itu dari dalam bangun bentuk 

pesawat piring terbang mini. Dan untuk itu penulis juga berdialog dengan beberapa ahli elektro 

dan mesin. Yang terakhir, penulis juga pernah mengunjungi LIPI bahagian Physika di Bangdung, 

juga ke ITB Bandung. Selain berdialog dengan J. Salatun sendiri di LAPAN Jl. Pemuda persil I 

Jakarta. Untuk melatar belakangi tulisan ini, sebagai suatu tulisan manusia berakal sehat yang 

sederhana, penulis telah menulis ratusan judul tulisan misteri di majalah-majalah terkenal di 

Jakarta. Dan menulis alam makrokosmos dan piring terbang di beberapa majalah dengan cara 

beberapa kali sambung. Dan sebahagian dari tulisan itu telah dibukukan oleh beberapa penerbit. 

Adakalanya terdapat ruang kejenuhan untuk melanjutkan penyelidikan. Terlebih lagi, karena 

penulis bukanlah memiliki  laboratorium teknologi yang dapat dijadikan tempat riset. Dan 

penulis sendiri, ketika itu masih tinggal di Medan (Sumatera Utara). 

Oleh karena itulah penulis terkadang berusaha juga mencari jalan lain yang dapat menambah 

pengetahuan tentang data-data piring terbang. Seperti setiap orang yang merasakan kegagalan, 

akhirnya lari kepada salah satu jalan lain untuk akhirnya lari kepada salah satu jalan lain untuk 

meminta tuntunan meneruskan kegagalan itu. Penulis juga pernah berusaha berbuat seperti 

Agusnain sebagai paranormal. Tetapi dengan cara yang berlainan. Sungguhpun arahnya juga 

merupakan penyelidikan secara mistik terhadap kegiatan piring terbang. Penyelidikan ini bukan 

pula karena adanya pengaruh dari luar, atau dibiayai oleh pihak tertentu, tetapi oleh karena 

kesadaran sendiri sebagai makhluk Tuhan yang ingin menambah ilmu tentang makhluk-

makhlukNya yang bertebar di seluruh bumi dan langit. 

Sehingga berapa besar tenaga pikiran dan waktu, tidak diperhitungkan lagi. Seolah-olah rumit 

dan peliknya penyelidikan itu sudah menjadi racun yang membawa nikmat. 

Pada tahun 1970 saya berkenalan dengan seorang laki-laki yang bernama Gerard Umar 

Sitompul, tinggal di Jalan Sriwijaya, Medan. Perkenalan yang sangat menarik, karena beliau 

termasuk salah seorang ahli metaphisis yang sesuai dengan kegairahan saya untuk mengenalnya 

lebih dekat. Antara kami terdapat beberapa kecanduan tentang alam mistik, sehingga apabila 

kami berbicara, legih syahdu dari pada sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang dimabuk 

cinta. Yang mungkin sampai membuat para isteri kami menjadi cemburu kepada keasyikan 

percakapan yang menyita sebahagian besar waktu kehidupan alam nyata. Bahkan menyita waktu 

yang seharusnya dipergunakan untuk meningkatkan kesempurnaan rumah tangga. 

Saya juga mengetahui Gerard Umar Sitompul memiliki  seperti keris zaman kuno, yang 

masing-masing memiliki  nama-nama tertentu dengan kodrat tertentu. Di tengah rumah 

terdapat sebuah stoples kaca yang berisi tujuh jeruk purut bercampur adukan air tertentu. Air itu 

bagai mendidih sebagai tanda ada sesuatu yang akan datang. 

Gerard Umar Sitompul mengatakan kepada saya, ia pernah mendengar ada orang tua hebat 

tinggal di Tg. Morawa. Dia mengatakan juga bahwa rumah orang tua itu sering dikunjungi 

orang-orang yang penting untuk memperoleh sesuatu secara gaib. Dan Gerard Umar Sitompul 

menyatakan juga kepada saya, bahwa ia ingin mengunjungi orang tua itu bersama dengan saya, 

Orang tua itu bernama Datuk Tuah, tinggal di Tg. Morawa Kanan. 

Pada suatu hari Kamis sore aku berangkat bersama Gerard Umar sitompul membawa 21 batang 

lilin panjang, tiga bungkus rokok tanpa filter dan kemenyan putih. 

  

*** 

Di sekeliling ruangan menyala 21 batang liling yang kami bawa tadi. Datuk Tuah mulai 

membereskan sebuah bangku panjang, dan mengalasnya dengan sebuah permadani yang bagus 

warnanya. Kemudian menaburkan kemenyan di atas bara dupa. Ia pergi sesaat ke kamar 

tersendiri untuk melakukan ibadat. 

Kemudian keluar membawa sebuah Al Qur‘an. Kemudian Dt. Tuah memiringkan kepalanya ke 

arah bangku panjang, bagai mendengar ucapan gaib yang tidak terdengar oleh kami berdua. 

Hanya terdengar ucapan Dt. Tuah sendiri, antara lain,‖Alaikum salam... dan terima kasih atas 

kedatangan Nenek Baju Berenda dan Bergelang kaki, bersama dengan seluruh pengiring yang 

tujuh orang. ―Kemudian, janganlah nenek kesal karena himbauan ini. Karena bertahun-tahun 

yang lalu hamba malah menolak pekerjaan ini. Terutama karena hamba menganggap akan 

mengganggu kepada cara hamba mencari rezeki. Tetapi karena nenek katakan, bahwa pekerjaan 

seperti ini juga termasuk ibadat menolong sesama manusia, makanya hamba lakukan juga. 

Hanya permintaan hamba, janganlah nenek memberikan jawaban dari pertanyaan yang tak 

terjawab. Lebih baiklah nenek katakan saja tak mengetahuinya. Janganlah nenek terlibat dengan 

kata dusta, karena hamba yang nyata di mata orang banyak yang akan merasakan malunya. 

Sedangkan nenek dapat menghindar karena tak nampak oleh mata kasar manusia.‖ 

Demikianlah antara lain ucapan Dt. Tuah kepada Nenek Baju Berenda dan Bergelang kaki. 

Sejenak kami berhenti, karena waktu telah masuk magrib. Dt. Tuah menerangkan bahwa si 

Nenek sedang pergi ke belakang melakukan ibadat, dan meninggalkan pesalinan yang 

dipakainya di atas tempat ia duduk. Sungguhpun segalanya tidak terlihat oleh kami, peristiwa 

gaib itu bagai benar-benar sedang terjadi di dalam rumah. Terasa sekali bukan kami bertiga saja 

berada di dalam ruangan itu. Setelah lewat magrib barulah hubungan dengan Nenek Baju 

berenda diteruskan. Kelihatan Dt. Tuah sangat hati-hati menyimak suara dari arah bangku 

berlapis permadani lebar. Sejenak Dt. Tuah mengangguk-angguk kecil bagai memahami sesuatu 

yang tidak terdengar oleh saya dan Gerard Umar Sitompul. 

Setiap selesai mendengar ia berpaling kepada kami dan berkata,‖Nenek mengatakan bahwa anak 

yang berperawakan kecil, sebagai orang berketopong besi. Sampai beberapakali saya bertanya 

kepada nenek, takut dugaan nenek salah bunyinya. Karena anak datang kemari tidak memakai 

apapun di atas kepala, ― ujar Dt. Tuah. Sedangkan kami berdua jadi berpandangan mendengar 

ucapan nenek baju berenda yang menggelari diriku sebagai orang berketopong besi tembaga. 

Kemudian Dt. Tuah bagai mendengarkan lagi ucapan nenek baju berenda dengan penuh 

perhatian dengan kesopanan gerak gerik, yang kemudian diiringkan Dt. Tuah dengan ucapan 

perlahan,‖ Apakah tidak salah yang nenek katakan....... Karena hampir tak ada hubungan apapun 

antara anak yang berperawakan kecil ini dengan apa yang nenek tuduhkan kepadanya. Jadi...... 

harus hamba katakan juga? Tidakkah terdapat dusta didalamnya? Atau sekedar menyenangkan 

perasaan hati anak-anak yang datang ini? Tersentak sesaat Dt. Tuah bagai menerima kepastian 

kata yang keras. Kemudian Dt. Tuah mengangguk dan berkata,‖Baiklah kalau begitu, akan 

hamba katakan juga, karena hamba hanya meneruskan apa yang nenek tinjau ditengah alam 

gaib‖. 

Dt. Tuah memalingkan mukanya kearahku dan matanya bagai menebak-nebak bagaimana 

penerimaanku terhadap ucapan yang akan disampaikannya,‖ Apakah anak sedang memikirkan 

sejenis kendaraan besi?‖ Pertanyaan itu segera mengejutkan aku. Gerard Umar Sitompul juga 

terperangah karena tebakan yang begitu tepat dari nenek baju berenda kepada diriku. Saya 

termangu sesaat. Kemudian menjawab, bahwa saya hanya pernah dan sampai saat ini masih 

memikirkan tentang piring terbang. Kembali Dt. Tuah menyampaikan saya kepada nenek baju 

berenda. Yang kemudian dikembalikan pula oleh nenek itu dengan perkataan,‖ Yang anak 

pikirkan yaitu  sejenis pesawat terbuat dari besi dan tembaga‖. Gerard Umar Sitompul tiba-tiba 

menyambung pertanyaan dengan tenangnya,‖ Bagaimana ada pesawat yang terbuat dari ‗besi‘ 

dan ‗tembaga‘ akan dapat terbang? Sedangkan pesawat terbang sekarang yang terbuat dari 

aluminium ringan saja, menemui banyak kesulitan untuk mencapai kecepatan‖. Perkataan Gerard 

Umar Sitompul yang menyudutkan itu diteruskan oleh Dt. Tuah kepada nenek baju berenda. 

Sesaat pula lamanya Dt. Tuah menyimak jawaban halus yang sampai ke telinga batinnya. 

Kemudian Dt. Tuah terlebih dahulu menyampaikan bahwa nenek baju berenda sedang pergi 

kebelakang rumah mensucikan diri, karena soal jawab ini banyak menguras tenaganya untuk 

mencapai alam tingkat tinggi. 

―Aduh, ―keluh Dt. Tuah,‖baru kali ini hamba kedatangan tamu yang seperti ini. Biasanya orang 

hanya meminta petunjuk tentang barang-barang yang hilang, ataupun obat untuk tangkal 

penyakit. Hamba sendiri tak pernah keluar dari rumah, jangankan akan bepergian sampai ke 

Medan. Dan hamba sedikitpun tak mengerti apa yang anak-anak pikirkan mengenai pesawat 

yang hamba sendiri belum pernah melihatnya, selain dari pesawat terbang biasa yang terkadang 

menderu tinggi dari tempat tinggal kami ini.‖ Dt. Tuah kelihatan membalik-balik tujuh lembar 

kitab suci sebanyak tiga kali, dan memperhatikan aksara pertama dari setiap lembarnya. 

―Kalau dilihat disini, didalam perkataan nenek tadi tidak terdapat dusta ataupun khayal. Tetapi 

seperti pertanyaan anak yang besar (maksudnya Gerard Umar sitompul) bagaimana besi dan 

tembaga dapat terbang, sungguh harus dipikirkan juga‖. Dt. Tuah menggeleng-geleng karena 

takjub. Kami mendapat aba-aba, bahwa Nenek baju berenda telah duduk kembali, dengan wajah 

dan anggota badannya masih basah, menurut pandangan Dt. Tuah. Baiklah di bawah ini 

diturunkan saja soal jawab singkat dengan nenek baju berenda, agar lebih terarah kepada yang 

dimaksud. 

Pertanyaan:‖Kekuatan apakah yang menerbangkan pesawat besi tembaga itu?‖ 

Jawab:‖Dengan kekuatan yang terkandung didalam besi dan tembaga itu 

sendiri‖.Pertanyaan:‖Bagaimanakah sebenarnya bentuk piring terbang itu?‖ 

Jawab:‖Sebenarnya ada dua macam saja, yang pipih seperti piring penadah gelas kopi dan bulat 

panjang seperti labu‖. 

Tanya:‖Bagaimanakah bentuk dan gerakan piring terbang itu?‖ 

Jawab:‖Ia berputar seperti gerak putaran Al-Arsyh (tapak istana kerajaan Tuhan) yang arahnya 

seperti gerak orang naik haji thawaf mengelilingi Ka‘bah. 

Dalam kesempatan sebentar kami membicarakan gerak bergasing dari pesawat piring terbang itu. 

Diikuti juga oleh Dt. Tuah yang kelihatannya mulai berperhatian besar terhadap soal jawab kami 

dengan nenek baju berenda. 

Tanya:‖Makhluk apakah yang mengendalikan piring terbang itu?‖ 

Jawab:‖Mereka makhluk kasar biasa. Tetapi bukan manusia yang hidup di muka bumi. Mereka 

dari salah satu bintang lain. Tetapi tempat mereka menetap ada di atas bumi ini‖. 

Tanya:‖Di mana mereka tinggal berkumpul?‖ 

Jawab:‖Di bawah air‖. 

Akhirnya barulah Dt. Tuah mendapat penjelasan, bahwa makhluk piring terbang itu membuat 

tempat tinggalnya jauh di dasar laut. 

Tanya:‖Laut di arah mana?‖ 

Jawab:‖Arah Maghrib.......yang terdalam, yang ada jurang di dasarnya‖. 

Sayangnya ketika soal jawab ini terjadi, tidak ada atlas dunia yang dapat disodorkan kepada Dt. 

Tuah, agar ia dapat menerima penjelasan yang pasti dari Nenek Baju berenda. Dan ketika soal 

jawab ini terjadi, saya sendiri belum mengetahui legenda tentang segitiga Bermuda. Hanya 

dongeng tentang Benua Atlantis yang hilang, yang pernah saya baca dari beberapa risalah. 

Sekitar awal tahun 1975 ketika berada di Jakarta, barulah perihal Segitiga Bermuda itu saya 

dengar dan baca dari beberapa buah buku. Dan tentang pesawat satu bacaan DABUS Iqra-timah, 

Amri-tembaga, Hammarullah-besi, Shod-nyawamu besi. Maka karena itu menyusul pertanyaan 

lain kepada Nenek Baju berenda: 

Tanya: ―Apakah ada bahan cair lain yang digunakan Piring Terbang?‖ 

Jawab: ―Tidak ada bahan cair, hanya timah sebagai kekuatan ke tiga‖. 

Mendengar jawaban itu tiba-tiba pikiran saya teringat kepada soal jawab yang tertulis di dalam 

buku ―Menyingkap Rahasia Piring Terbang‖ oleh J. Salatun, yang diantaranya berisi soal jawab 

antara J. Salatun dengan Agusnain secara paranormal. Ketika diajukan pertanyaan kepada 

Agusnain dari bahan apa dan bagaimana piring terbang itu dibuat, dijawab oleh Agusnain: Piring 

terbang itu dibuat dari suatu paduan logam yang belum dikenal dibumi, dan dibuat dengan cara 

mengecor. Paduan logam piring terbang itu memiliki  sifat-sifat tertentu tetapi hanya untuk 

suatu jangka tertentu. Sesudah jangka itu, paduan tadi kehilangan sifat-sifatnya sehingga piring 

terbang tidak dapat dipakai lagi dan dibuang di sebelah dunia ―, itulah jawaban Agusnain. 

Jawaban itu nampak hampir tidak berarti apa-apa jika dilihat sepintas lalu. Tetapi jika 

dihubungkan dengan tinjauan Dt. Tuah dengan perantaraan Nenek Baju berenda, jawaban itu 

bagai saling menunjang.a. Bukan tidak mungkin salah satu paduan itu terdiri dari besi magnit 

yang telah kehilangan kekuatan kutub magnit, seperti keadaan besi magnit di dalam sebuah 

dinamo sepeda, atau dinamo sebuah mobil