ah tua, namun ia belum berpikir untuk menetap di satu tempat.
Sangat sedikit para pertapa atau naljorpa yang masa percobaannya seaneh yang dijalani Karma.
sebab itulah, sebenarnya, secara khusus aku berusaha menceritakan hal ini dengan cukup
panjang. Namun demikian, latihan spiritual seorang siswa senantiasa mengandung beberapa
insiden yang menakjubkan. Banyaknya penjelasan aneh yang kudengar, dan pengalamanku sendiri
sebagai seorang ‘murid’ di ‘Tanah Bersalju’ ini, membuatku cenderung untuk meyakini bahwa
kebanyakan hal-hal itu benar-benar otentik adanya.
147
BAB ENAM
148
PSYCHIC SPORTS
149
150
Pelari-pelari lung-gom-pa
Di bawah istilah kolektif lung-gom, masyarakat Tibet memasukkan beberapa besar latihan-latihan
yang memadukan konsentrasi mental dengan bermacam variasi olah pernafasan dan memperoleh
hasil yang berbeda-beda baik secara fisik maupun spiritual.
Jika kita menerima kepercayaan yang umum beredar di kalangan Lhamais, maka kita harus dapat
menemukan kunci ke ‘dunia keajaiban’ dari latihan-latihan yang aneh itu. Namun bagaimanapun,
penyelidikan yang intensif tidak menunjukkan adanya antusiasme yang luar biasa atas hasil-hasil
yang telah dicapai oleh mereka yang telah mempraktekkannya, mereka yang sedang berusaha
memperoleh kekuatan-kekuatan gaib. Namun demikian, merupakan suatu kesalahan juga jika kita
menyangkal bahwa beberapa fenomena sejati memang merupakan hasil ciptaan para pakar lung-
gom ini .
Walaupun efek-efek yang berasal dari latihan lung-gom amat bervariasi, namun istilah lung-gom
sendiri khususnya dipakai untuk menyebut sebuah jenis latihan yang katanya bertujuan untuk
menghasilkan suatu kecepatan yang tak lazim sehingga memungkinkan mereka yang telah mahir,
melakukan perjalanan yang luar biasa jauh dengan kecepatan yang menakjubkan.
Kepercayaan akan latihan yang demikian berikut kemanjurannya telah lama ada di Tibet, dan
orang-orang yang melakukan perjalanan dengan kecepatan yang luar biasa sering ditunjukkan
dalam berbagai cerita rakyat.
Kami baca di biografi Milarespa bahwa di rumah seorang lhama yang mengajarkannya ilmu gaib
hitam, tinggal seorang trapa yang bergerak lebih cepat dibandingkan seekor kuda. Milarespa juga
membanggakan kekuatan serupa yang dia miliki, dengan mengatakan bahwa ia pernah menempuh
dalam beberapa hari, sebuah jarak, yang sebelum menjalani latihan, membutuhkan waktu lebih dari
sebulan. Ia menegaskan bahwa berkah itu didapat dari kecerdasannya mengendalikan ‘udara
internal’.
Namun demikian, harus diketahui bahwa prestasi yang diharapkan dari lung-gom-pa ini
sebenarnya yaitu sebuah daya tahan yang hebat, bukan hanya sekedar kecepatan luar biasa
yang sesaat. Dalam hal ini, pertunjukkan yang dimaksud bukanlah berlomba dalam kecepatan
tinggi pada jarak yang pendek sebagaimana yang dilaksanakan dalam pertandingan atletik kita,
namun perjalanan yang dilakukan dengan langkah yang cepat tanpa berhenti selama beberapa hari
dan malam berturut-turut.
Selain berhasil mengumpulkan informasi mengenai metode-metode yang digunakan dalam latihan
lung-gom-pa, aku juga cukup beruntung dapat melihat sekilas tiga orang yang sudah cukup mahir.
Dalam hal ini bisa dikatakan aku amat sangat beruntung sebab meskipun banyak bhikkhu yang
berusaha keras mempraktekkan latihan-latihan sejenis lung-gom, namun bisa dipastikan hanya
sedikit yang memperoleh hasil yang memuaskan, dan dalam kenyataannya lung-gom-pa sejati
sangatlah jarang ditemukan.
Aku bertemu dengan lung-gom-pa pertama di Chang thang[108] Utara Tibet.
Suatu sore, aku, Yongden, dan para pelayanku sedang berkuda dengan santai melintasi dataran
yang amat luas. Di kejauhan, tampak sebuah titik hitam yang bergerak dan teropongku
menunjukkan bahwa ia yaitu seorang manusia. Aku sangat terkejut. Bertemu seseorang yaitu
peristiwa yang amat langka di tempat ini, dalam sepuluh hari terakhir kami tak melihat seorang
151
manusia pun. Lagipula, berjalan kaki dan sendirian, sesuai peraturan, tak mungkin dilakukan di
tempat sepi yang luas ini. Siapakah gerangan pengelana aneh ini?
Salah seorang pelayanku menduga bahwa ia mungkin anggota kafilah pedagang yang telah
dirampok dan berpencar. Mungkin, sesudah berhasil meloloskan diri ia tersesat di gurun.
Kedengarannya memang masuk akal. Jika memang demikian, aku akan membawa orang itu ke
perkemahan kaum penggembala atau kemana saja yang ia mau asalkan tidak terlalu jauh
menyimpang dari rute kami.
Namun sesudah kuteliti lebih seksama dengan teropongku, aku perhatikan bahwa orang itu berjalan
dengan kecepatan yang tidak lazim, dan bisa dikatakan melayang dengan kecepatan yang luar
biasa. Dengan mata telanjang anggota rombonganku hanya dapat melihat setitik hitam yang
bergerak di tengah padang rumput, mereka juga tak mampu menangkap kecepatan
pergerakannya. Aku memberikan teropongku pada mereka, dan salah seorang bergumam:
“Lhama lung-gom-pa chig da.”[109] Sepertinya ia seorang lhama lung-gom-pa.
Kata-kata ‘lhama lung-gom-pa’ sesaat membangkitkan rasa ingin tahuku. Aku telah banyak
mendengar kehebatan orang-orang itu dan telah akrab dengan teori latihannya. Aku bahkan
memiliki sebuah pengalaman khusus saat mempraktekkannya, namun aku belum pernah melihat
seorang ahli lung-gom yang tengah melakukan perjalanan luar biasa itu yang sering dibicarakan di
seluruh penjuru Tibet. Apakah aku cukup beruntung untuk melihat langsung pemandangan itu?
Lelaki itu terus melaju ke arah kami dan kecepatannya yang ganjil itu semakin jelas. Apa yang harus
kulakukan jika benar ia seorang lung-gom-pa? Aku berniat mengamatinya dari jarak dekat, aku
juga berharap dapat berbincang dengannya, memotretnya… Aku menginginkan banyak hal! Namun
saat kata pertama baru saja terlontar, orang yang tadi mengenalinya sebagai seorang lhama lung-
gom-pa berseru:
“Yang mulia jangan menghentikan ataupun berbicara dengannya. Hal ini bisa membunuhnya.
Lhama-lhama ini jika sedang melakukan perjalanan tidak boleh menghentikan meditasinya. Dewa
yang bersama mereka akan pergi jika ia berhenti mengucapkan ngags, dan jika dewa itu
meninggalkannya sebelum waktu yang tepat, mereka akan terguncang hebat hingga bisa
meninggal.”
Peringatan itu kelihatannya murni takhyul belaka. Namun tidak boleh sama sekali diabaikan. Dari
yang kuketahui tentang ‘teknik’ fenomena ini, orang itu berjalan dalam keadaan ‘tidak sadar’.
Akibatnya, penyadaran yang tiba-tiba, walaupun kuragukan dapat berakibat kematian, pasti akan
sangat menyakitkan saraf pelari itu. Akibat lebih lanjut dari keterkejutan itu tak bisa kupastikan,
namun aku tak ingin sang lhama menjadi korban percobaan yang kejam. Alasan yang lain juga
mencegahku memuaskan rasa ingin tahuku. Orang Tibet telah menerimaku sebagai seorang
wanita terhormat, mereka tahu bahwa aku yaitu seorang Buddhis yang telah diakui dan mereka
tidak mengerti tentang perbedaan antara konsepsi filosofisku akan doktrin Buddha dengan
Buddhisme Lhamais. Masyarakat umum Tibet sama sekali tidak mengetahui bahwa Buddhisme itu
terdiri dari berbagai sekte dan pandangan. Maka untuk menghargai kepercayaan, rasa hormat dan
keakraban yang dibawa oleh pakaian keagamaanku, aku terpaksa bertingkah sedekat mungkin
dengan kebiasaan masyarakat Tibet, khususnya yang berkaitan dengan masalah keagamaan. Ini
yaitu sebuah rintangan yang serius, yang kerap menghilangkan penyelidikanku pada beberapa
besar ketertarikan ilmiah di dunia mereka, namun ini yaitu harga tak terhindari yang harus
kubayar untuk dapat diterima di tempat ini, walaupun hingga sekarang aku masih juga dikawal
dengan hati-hati melebihi materi yang menjadi kekuasaan Tibet. Kali ini, kembali, aku harus
152
menekan keinginanku untuk menyelidiki secara penuh, dan harus cukup puas dengan hanya melihat
sang pengelana ganjil ini .
Saat itu ia sudah hampir sampai di tempat kami; aku dapat melihat jelas wajah kakunya yang
tenang dan matanya yang terbuka lebar dengan tatapan terfokus pada objek tak terlihat di kejauhan
yang berada di ujung langit. Laki-laki itu bukan berlari. Ia tampak seperti mengangkat dirinya dari
tanah, melangkah dengan lompatan, seolah diberkahi sifat elastisitas sebuah bola yang memantul
tiap kali kakinya menyentuh tanah. Langkah-langkah yang teratur seperti sebuah pendulum. Dia
memakai jubah dan toga biara biasa dan keduanya sudah tampak usang. Tangan kirinya
memegang lipatan toganya dan sebagian tersembunyi di balik kain. Tangan kanan memegang
phurba (belati gaib), lengan kanannya bergerak ringan seiring lompatannya, seolah ia tengah
bersandar pada sebuah tongkat, demikian juga phurba yang mengarah ke atas jauh dari tanah
seakan menumpu pada tongkat itu.
Para pelayanku turun dari kuda dan menundukkan kepala saat sang lhama melewati kami, dan ia
terus melanjutkan perjalanannya, tampaknya ia tidak menyadari kehadiran kami.
Kupikir aku telah cukup patuh pada kebiasaan setempat dengan menekan keinginanku untuk
menghentikan sang pengelana. Aku sudah agak menyesali keputusan itu dan berpikir kapan lagi
dapat melihat kejadian yang langka itu. Aku memerintahkan para pelayanku untuk naik kembali ke
kuda mereka dan mengikuti sang lhama. Dia sudah bergerak cukup jauh; namun tanpa mencoba
untuk mendahuluinya, kami berusaha menjaga agar jarak di antara kami tidak bertambah, dan
dengan teropong maupun mata telanjang, aku dan putraku terus menerus melihat lung-gom-pa itu.
Saat itu sudah tak mungkin melihat jelas wajahnya, namun kami masih dapat melihat keteraturan
yang menakjubkan dari langkah-langkah pegasnya itu. Kami mengikutinya sekitar dua mil jauhnya,
lalu ia keluar dari jalan, memanjat lereng bukit dan menghilang di antara pegunungan di ujung stepa.
Penunggang kuda tak mungkin mengikuti jalan itu dan pengamatan kami berakhir di situ. Kami
hanya dapat berbalik dan melanjutkan perjalanan.
Aku penasaran apakah sang lhama mengetahui atau tidak bahwa kami mengikutinya. Tentu saja
jarak di antara kami cukup jauh, namun setiap orang dalam keadaan normal pasti menyadari
kehadiran rombongan enam orang penunggang kuda. namun sabagaimana yang kukatakan,
pengelana itu sepertinya dalam keadaan tidak sadar, sehingga aku tidak bisa menyimpulkan
apakah ia pura-pura tidak melihat kehadiran kami dan mendaki ke arah pegunungan untuk
menghindari pengamatan kami, atau ia mungkin benar-benar tidak mengetahui dan bergerak ke
sana sebab memang itulah jalan yang harus ia tempuh.
Pada suatu pagi di hari keempat sesudah perjumpaan kami dengan lung-gom-pa itu, kami tiba di
daerah yang disebut Thebyai, dimana terdapat beberapa perkemahan kaum dokpa[110] yang terletak
berpencaran. Aku tak lupa menceritakan pada mereka pertemuan kami dengan seorang lhama
lung-gom-pa di tengah jalan yang mengarah ke padang rumput itu. Beberapa penggembala telah
melihat sang pengelana saat menggiring ternak di sore hari tepat sehari sebelum pertemuan kami
dengannya. Berdasarkan informasi itu aku mencoba membuat perhitungan kasar. Dengan
menghitung jumlah waktu yang kami tempuh dengan kecepatan kami yang biasa – tidak termasuk
waktu yang kami habiskan untuk berkemah dan beristirahat – aku sampai pada kesimpulan bahwa
untuk mencapai tempat pertemuan kami, orang itu, sesudah melewati para dokpa, melakukan
perjalanan sepanjang malam dan juga keesokkan harinya, tanpa berhenti, dalam kecepatan yang
sama dengan saat ia bertemu dengan kami.
Berjalan kaki selama dua puluh empat jam tanpa henti bukanlah sebuah rekor bagi orang-orang
153
gunung Tibet yang merupakan pejalan kaki ulung. Aku dan Lhama Yongden, dalam perjalanan dari
Cina ke Lhasa, kadang berjalan kaki selama sembilan belas jam penuh, tanpa berhenti ataupun
menyegarkan diri. Salah satu dari perjalanan-perjalanan itu termasuk melewati daerah Deo yang
tinggi, dengan salju setinggi lutut. Namun gerakan kami yang lambat tak dapat dibandingkan
dengan lompatan lung-gom-pa, yang tampak seolah memiliki sayap.
Dan lhama itu bukan memulai perjalanannya dari Thebgyai. Kapan ia memulai perjalanannya dan
berapa jauh lagi jarak yang harus ia tempuh saat kami tak dapat melihatnya lagi? Keduanya yaitu
misteri bagiku. Para dokpa menduga bahwa ia berasal dari Tsang, beberapa biara di propinsi itu
memiliki reputasi sebagai pusat latihan ilmu meringankan tubuh yang merupakan bagian dari lung-
gom. Namun mereka tak berbicara langsung dengannya, lagi pula jalan dari berbagai arah
bermuara di wilayah Thebgyai.
Tidak mungkin melakukan penyelidikan yang menyeluruh di daerah terpencil yang maha luas ini,
atau akan dibutuhkan waktu beberapa bulan untuk melakukan penelitian dengan hasil yang belum
tentu memuaskan. yaitu tidak mungkin untuk melaksanakan hal itu.
Aku baru saja menyebutkan bahwa biara-biara di propinsi Tsang sangat tersohor akan latihan-
latihan ilmu meringankan tubuh. Ada sebuah legenda yang menunjukkan hal itu dan juga disebutkan
nama sebuah biara terpenting – Shalu gompa – yang mendapat tanggung jawab untuk melatih
para pelari lung-gom-pa.
Pahlawan dalam legenda itu terdiri dari dua orang lhama terkemuka: Yungtön Dorje Pal dan ahli
sejarah Bustön. Yang pertama terkenal sebagai seorang ngagspa (ahli ilmu gaib, dukun) hebat
terutama dalam hal menaklukkan dewa-dewa kejam. Dilahirkan sekitar tahun 1284 SM, disebut-
sebut sebagai reinkarnasi ketujuh dari Subhuti (salah seorang siswa Sang Buddha) yang garis
reinkarnasinya berlanjut kepada Tashi Lhama, yang merupakan reinkarnasi keenam belas. Yungtön
Dorje Pal hidup di masa pemerintahan dinasti Kaisar Mongol yang kemudian memerintah Cina.
Gurunya disebut merupakan seorang lhama mistik bernama Zurwang Senge[111] yang sosoknya
hanya dikenal dalam legenda-legenda dan cerita-cerita rakyat yang agak fantastis. Yungtön Dorje
Pal meninggal pada usia 92 tahun.
Bustön dilahirkan di Yho phug di sekitar Shigatze pada tahun 1288. Dia menulis beberapa artikel
sejarah dan menyusun kembali kitab-kitab suci Buddhis, menerjemahkan dari bahasa Sanskrit
sehingga menjadi kumpulan kitab yang sekarang dikenal dengan nama Kahgyur.
Waktu itu si ngagspa Yungtön telah memutuskan untuk melaksanakan dubthab agar dapat
menaklukan Shinjed[112] sang dewa kematian. Ritual itu harus dilaksanakan setiap dua belas tahun
sekali, jika tidak setiap hari sang dewa akan menyantap seorang manusia untuk memuaskan rasa
laparnya. Tujuan dubthab ini yaitu untuk membuat Shinjed berada di bawah kendali sang lhama
ngagspa yang kemudian akan memaksanya untuk bersumpah agar tidak memangsa manusia
selama dua belas tahun ini . Beberapa persembahan diberikan padanya dan setiap hari
diadakan kebaktian sebagai pengganti nyawa-nyawa yang tidak akan diganggunya.
Bustön mendengar niat Yungtön dan sebab ingin memastikan bahwa temannya itu benar-benar
memiliki kemampuan untuk menaklukan dewa yang kejam, dia bergegas ke biara si ngagspa
ditemani tiga orang lhama terpelajar. Di sana mereka menemukan bahwa Shinjed telah memenuhi
panggilan Yungtön. Ketakutannya ‘seluas angkasa’, kata kisah itu.
Si ngagspa mengatakan mereka tiba pada waktu yang tepat untuk membuktikan seberapa besar
rasa cinta dan belas kasih mereka. Dia berkata bahwa ia telah berhasil menaklukkan sang dewa,
dan demi keselamatan umat manusia maka sekarang perlu memberikannya makanan, lalu si
154
ngagspa mengusulkan agar salah satu lhama berkenan menjadi korban. Ketiga rekannya itu
menolak permintaan ini dengan berbagai dalih dan segera pergi meninggalkan tempat itu.
Tinggal Bustön sendirian bersama Yungtön, lalu ia berkata jika keberhasilan ritual itu benar-benar
bergantung pada pengorbanan seorang nyawa manusia, yang dapat mencegah pembantaian
nyawa manusia setiap hari selama dua belas tahun, maka dia bersedia berjalan ke mulut Shinjed
yang telah menganga lebar.
Terhadap usul yang mulia ini si ngagspa menjawab bahwa ia dapat mengusahakan agar dubthab
ini berhasil tanpa harus mengorbankan nyawa temannya. Namun Bustön harus berjanji bahwa ia
dan penerusnya kelak bertanggung jawab atas pelaksanaan ritual itu setiap dua belas tahun.
Bustön menerima tanggung jawab itu, dan Yungtön dengan kekuatan gaibnya menciptakan sekian
banyak wujud-wujud yang kemudian ia lemparkan ke mulut Shinjed.
Sejak saat itu, reinkarnasi Lhama Bustön yang mengepalai Gompa Shalu, tetap melanjutkan
upacara penaklukan itu. Kelihatannya seiring berjalannya waktu, Shinjed mendapatkan beberapa
orang rekan, sebab saat ini para lhama Shalu berbicara pada banyak setan yang hadir pada
kesempatan itu.
Seorang ‘pelari’ dibutuhkan untuk mengumpulkan para setan dari berbagai tempat. Pelari ini
disebut Maheketang. Kata ‘mahe’ diambil dari seekor kerbau yang ditunggangi Shinjed. Binatang
ini tidak mengenal takut, dan berani memanggil para roh jahat. Paling tidak, demikian penjelasan
yang diberikan di Shalu.
Pelari yang dipilih yaitu salah seorang bhikkhu dari Nyang töd kyid phyg ataupun seorang dari
Samding.
Mereka yang berkeinginan untuk memainkan peran Maheketang diharuskan menjalankan latihan
pendahuluan di biara-biara yang disebutkan di atas. Latihan itu meliputi latihan pernafasan yang
dilaksanakan dalam suatu penyepian yang keras dalam keadaan benar-benar gelap, selama tiga
tahun tiga bulan.
Di antara latihan-latihan ini yang berikut ini yaitu yang paling disukai oleh para pertapa Tibet
yang bukan berasal dari golongan intelektual.
Para siswa duduk bersilang kaki di atas sebuah bantal duduk yang besar dan tebal. Dia menarik
nafas perlahan dan panjang, seolah hendak mengisi penuh tubuhnya dengan udara. Kemudian,
sambil menahan nafas, dia melompat dengan kaki masih bersilang, tanpa bantuan tangannya dan
jatuh kembali ke bantal duduknya, tetap dalam posisi yang sama. Dia mengulang gerakan itu
beberapa kali dalam tiap periode latihannya. Beberapa lhama berhasil melompat cukup tinggi
dengan cara demikian. beberapa wanita juga berlatih dengan cara yang sama.
Setiap orang dapat dengan mudah memahami bahwa objek dari latihan ini bukanlah lompatan
akrobat. Menurut orang-orang Tibet, tubuh mereka yang telah terlatih selama bertahun-tahun
dengan cara demikian, akan menjadi sangat ringan; hampir tanpa bobot. Orang-orang ini, katanya,
dapat duduk di atas rumput gandum tanpa membengkokkan tangkainya, atau berdiri di atas
tumpukan padi tanpa mencecerkan sebutir padi pun. Intinya, tujuan latihan ini yaitu untuk melawan
gaya gravitasi.
Sebuah tes pun direncanakan, dan siswa yang berhasil melewatinya dipercaya mampu
melaksanakan tugas di atas, atau setidaknya sudah dianggap mendekati seorang pakar.
Sebuah lubang digali di tanah, dalamnya sama dengan tinggi sang calon peserta. Di atas lubang itu
dibangun semacam kubah yang tingginya dari permukaan tanah juga sama dengan tinggi sang
155
calon peserta. Pada puncak kubah terdapat sebuah celah kecil. Maka jarak antara tempat dimana
sang calon peserta duduk bersilang kaki di dasar lubang dengan celah itu menjadi dua kali
tingginya. Misalnya jika sang calon tingginya 5 kaki 5 inci, maka celah itu berjarak 10 kaki 10 inci
dari dasar lubang.
Ujian itu berupa melompat dengan kaki bersilang, sebagaimana yang ia lakukan saat latihan, dan
keluar dari dari celah kecil di puncak kubah.
Aku mendengar kaum Khampa mengatakan bahwa ujian ini pernah dilaksanakan di negeri mereka,
namun aku tak pernah secara langsung menyaksikan kejadian-kejadian seperti itu.
Menurut informasi yang kukumpulkan di tempat itu, tes terakhir yang menandai kesuksesan seorang
calon ‘pemanggil kerbau’ (Maheketang) dicapai dengan cara yang agak berbeda.
sesudah penyepian dalam kegelapan selama tiga tahun, mereka yang merasa telah mampu
melewati ujian itu pergi ke Shalu, disana mereka dikubur dalam ‘kuburan pondok’ yang telah
kugambarkan sebelumnya. Namun di Shalu, celah atau pembukaan itu terdapat di sisi kubah. Si
peserta tak harus melompat melalui atap, sebab sebuah bangku disediakan untuknya sehingga ia
dapat memanjat keluar dari lubang sesudah berada tujuh hari di dalamnya. Ukuran lubang ini selebar
jarak antara jari tengah dan ibu jari tangan si peserta.
Jika ia berhasil maka ia dianggap pantas menjadi seorang Maheketang.
Sangat sulit dipahami bahwa sebuah latihan yang memaksa seseorang menghabiskan waktu
bertahun-tahun tanpa bergerak dapat menghasilkan kemahiran dalam ilmu gerak cepat yang aneh
itu. Namun demikian, ini yaitu latihan khusus di Shalu, dan di tempat-tempat lain kami melihat
metode-metode yang berbeda dan kelihatannya lebih rasional, termasuk praktek nyata dari
perjalanan ini . Lagi pula, harus dipahami bahwa metode lung-gom tidak bertujuan melatih
siswa dalam hal kekuatan otot, namun lebih pada pengembangan keadaan mental yang
memungkinkan terjadinya perjalanan yang luar biasa itu.
Sang Maheketang memulai perjalanan pada hari kesebelas bulan kesepuluh penanggalan Tibet
(sekitar November); sesudah mengunjungi Lhasa, Samye, dan beberapa tempat lain, dia kembali ke
Shalu pada hari ke-25 pada bulan yang sama. Lantas ia bergerak kembali, pergi ke Shigatze,
melakukan perjalanan di seluruh penjuru dataran tinggi Tsang (Tsang töd) dan kembali lagi ke Shalu
dalam kurun waktu satu bulan. Lalu penerus Bustön segera melaksanakan ritual penaklukan itu dan
tampaknya, para setan selalu menerima dengan senang hati undangan dari sang Maheketang.
Aku, secara kebetulan, berkesempatan melihat sekilas seorang lung-gom-pa lain di wilayah yang
dihuni sekelompok suku asli Tibet di ujung Barat perkampungan orang-orang Szetchuan. Namun
kali ini aku tak berkesempatan menyaksikan petualangannya.
Kala itu kami sedang melintasi sebuah hutan, aku dan Yongden berjalan di depan para pelayan dan
tunggangan kami, saat sampai di belokan, kami bertemu dengan seorang lelaki telanjang dengan
rantai besi yang melilit di sekujur tubuhnya.
Dia duduk di atas sebuah batu dan kelihatannya tengah tenggelam dalam pikiran-pikirannya hingga
tak mendengar kehadiran kami. Kami berhenti, kaget, dan ia tampaknya segera menyadari
kehadiran kami, sesudah menatap kami sejenak, ia melompat ke dalam semak belukar lebih cepat
dari lompatan seekor kijang, sesaat kami masih mendengar kerincingan rantai di tubuhnya, lalu
perlahan menghilang, dan suasana kembali sepi.
“Lelaki itu seorang lung-gom-pa,” kata Yongden padaku. “Aku sudah pernah melihat orang yang
156
demikian. Mereka memakai rantai-rantai itu untuk memberatkan tubuh, sebab berkat praktek lung-
gom tubuh mereka menjadi sangat ringan hingga sering cenderung mengapung di udara.”
Pertemuan ketigaku dengan seorang lung-gom-pa terjadi di Ga, di daerah Kham, Tibet Timur.
Kembali aku mengembara dengan kafilah kecilku. Seorang lelaki muncul dalam figur seorang
arjopa biasa, yakni seorang peziarah miskin dengan barang bawaan di punggungnya. Ribuan
orang dalam bentuk demikian sering terlihat di sepanjang jalan Tibet, jadi kami tidak begitu
menaruh perhatian padanya.
Para pejalan kaki miskin ini mempunyai kebiasaan bergabung dengan kafilah para pedagang atau
pengelana kaya lain yang secara kebetulan mereka temui di perjalanan. Mereka berjalan di
samping rombongan hewan pengangkut barang. Atau jika barang bawaan binatang ini sedikit dan
ringan, sehingga mereka dapat berderap seiring para penunggang kuda, maka para pengemis ini,
yang tentunya jauh tertinggal, akan terus berjalan hingga bergabung kembali dengan rombongan itu
di perkemahan saat malam menjelang. Hal ini tidaklah terlalu sulit, sebab dalam melakukan
perjalanan jauh orang-orang Tibet berangkat pagi-pagi sekali, dan berhenti di tengah hari untuk
mengistirahatkan dan memberi makan tunggangannya sepanjang sore.
Tenaga para arjopa yang dihabiskan untuk mengejar para penunggang kuda, atau berbagai
bantuan yang ia berikan pada para pelayan, dibayar dengan sepiring makan malam dan kadang
teh mentega berikut tsampa dari para pengelana.
Sesuai dengan kebiasaan ini, orang yang kami lihat itu pun bergabung dengan rombongan kami.
Dia memberitahu kami bahwa selama ini ia tinggal di biara Pabong di Kham, dan sedang menuju
ke propinsi Sang. Sebuah perjalanan yang lumayan jauh, yang dengan berjalan kaki sambil
mengemis di perjalanan, akan memakan waktu tiga atau empat bulan. Namun begitu, perjalanan
yang demikian sering dilakukan oleh para peziarah Tibet.
Rekan kami itu telah bergabung selama beberapa hari dengan kami, saat suatu hari, akibat
sedikit gangguan, kami berangkat saat hari sudah siang. Berpikir bahwa hewan pengangkat
barang kami bakal lama melewati punggung bukit di hadapan kami, maka aku melanjutkan
perjalanan dengan anakku dan seorang pelayan, untuk mencari air dan padang rumput sebagai
tempat berkemah sebelum senja.
saat seorang tuan berjalan duluan, seorang pelayan senantiasa membawa sebuah bejana untuk
membuat teh dan beberapa makanan sehingga sang tuan ataupun lhama dapat menikmati santapan
saat menanti tibanya barang-barang dan tenda-tenda. Pelayanku menjalankan kebiasaan ini, dan
sebab hal sepele inilah yang menyebabkan terlihatnya sebuah kemampuan lung-gom-pa.
Jalan yang harus ditempuh ternyata lebih jauh dari dugaanku, dan aku segera menyadari bahwa
hewan pengangkut barang itu takkan mampu mencapai puncak bukit sebelum malam tiba. yaitu
tidak mungkin memaksa mereka menyeberangi perbukitan itu di tengah gelap malam, jadi sesudah
sampai di padang rumput dekat sungai, aku berhenti di sana. Kami telah selesai menikmati kopi
dan saat sedang mengumpulkan kotoran sapi untuk menyalakan api[113], aku melihat si arjopa
tengah memanjat lereng tak begitu jauh dari tempat kami dengan laju yang luar biasa cepat. Saat ia
mendekat, kuperhatikan ia berjalan dengan gaya lompatan yang sama dengan yang dilakukan
lhama lung-gom-pa dari Thebgyai.
saat tiba di tempat kami, lelaki itu berdiri diam sejenak dengan tatapan lurus ke depan. Dia sama
sekali tidak kehabisan nafas, namun tampaknya ia setengah sadar sehingga tak mampu bergerak
ataupun berbicara. Kemudian, keadaan ‘kesurupan’ itu perlahan mereda dan si arjopa kembali ke
keadaan normal. Menjawab pertanyaanku, dia mengatakan bahwa ia memulai latihan lung-gom
157
untuk bisa bergerak cepat pada seorang gomchen yang tinggal di dekat biara Pabong. Gurunya
telah meninggalkan tempat itu, dan ia berniat pergi ke gompa Shalu di Tsang.
Dia tak bercerita apapun lagi padaku dan kelihatan muram sepanjang malam. Keesokan harinya,
dia mengaku pada Yongden bahwa keadaan ‘kesurupan’ itu datang tanpa sengaja dan dipicu oleh
pikiran yang tidak benar.
Saat berjalan dengan para pembantuku yang menuntun kuda, dia kehilangan kesabarannya.
Mereka berjalan sangat lambat, pikirnya, dan sementara itu pasti kami tengah membakar daging
yang sempat ia lihat dibawa oleh salah seorang pembantuku. Saat ia dan ketiga pembantuku nanti
tiba di tempat kami, mereka masih harus memasang tenda, mengurus binatang-binatang, dan
waktu untuk menikmati teh dan tsampa hanya saat menjelang tidur.
Dia membayangkan pesta kecil kami. Dia melihat api unggun, daging di bara api, dan tenggelam
dalam kontemplasi yang akhirnya membuat ia tak sadar dengan keadaan di sekelilingnya. Lalu,
dipicu oleh keinginan untuk ikut menikmati makanan kami, dia menambah kecepatan langkahnya
yang secara mekanis berubah menjadi lompatan-lompatan khas yang telah ia pelajari. Perpaduan
lompatan khas ini dengan mantram gaib yang diajarkan gurunya menyebabkan suatu
pelafalan mental dari formula yang tepat, yang lalu menuntunnya ke dalam aturan pernafasan sesuai
ritme yang telah ditentukan, dan ‘kesurupan’ itu pun mengikuti. Namun begitu, konsentrasi
pikirannya pada daging panggang mendominasi segalanya.
Sang siswa menganggap dirinya sebagai seorang pendosa, gabungan dari kerakusan, kata-kata
mistik suci dan latihan-latihan lung-gom baginya yaitu perbuatan asusila.
Putra-lhamaku tak lupa menyampaikan padaku rahasia-rahasia yang telah ia dengar. Aku merasa
tertarik dan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berbeda padanya. Dia tak berniat menjawab,
namun aku mengaturnya sehingga tampak bahwa aku telah mengetahui hal-hal yang ingin kuketahui
itu sebelumnya. Dia telah diberitahu bahwa senja hari dan malam yang cerah yaitu saat yang
paling tepat untuk ‘berjalan’. Dia juga dinasehati untuk berlatih dengan memusatkan perhatian pada
langit yang berbintang.
Aku menduga, seperti halnya kaum mistik Tibet yang lain, ia telah disumpah untuk tidak
membeberkan rahasia ajaran-ajaran yang telah ia terima dari gurunya sehingga pertanyaan-
pertanyaanku sangat mengganggunya.
Di hari ketiga sesudah pertunjukkan larinya, saat kami bangun, ia tak lagi berada di tendanya. Dia
telah melarikan diri di malam hari, mungkin dengan kemampuan lung-gomnya, dan kali ini, demi
sebuah tujuan yang lebih mulia dibandingkan sekedar berbagi ‘sekerat daging panggang’.
*********
Keterangan-keterangan yang telah kuperoleh dari berbagai sumber mengenai praktek khas lung-
gom dapat diringkas sebagai berikut:
Langkah pertama sebelum menjalani latihan itu yaitu , seperti biasanya, seseorang harus terlebih
dahulu melaksanakan ritual angkur untuk memperoleh kekuatan. Orang itu, di bawah pengawasan
seorang guru berpengalaman, harus berlatih sendiri berbagai variasi teknik pernafasan selama
beberapa tahun. Saat seorang siswa sudah memperoleh tingkat keahlian yang dianggap
mencukupi barulah ia diizinkan untuk mencoba melakukan atraksi lari ini .
Seorang angkur baru diberi penghargaan pada tahap ini dan sebuah mantram gaib[114] pun
diturunkan sang guru kepada si siswa baru. Siswa ini dinasehati untuk memusatkan
158
pikirannya pada alunan pelafalan mental dari mantram itu, dan selama ia berjalan, nafas masuk
dan keluar harus teratur, langkah-langkahnya sejalan dengan irama pernafasannya itu dan juga
suku-suku kata dari mantram ini . Sang pejalan tidak boleh berbicara atau melihat ke kanan
kiri. Dia harus memusatkan pandangannya pada sebuah objek tunggal di kejauhan dan tidak boleh
membiarkan perhatiannya teralihkan oleh apapun juga.
Saat ‘kesurupan’ itu sudah dicapai, meskipun kesadaran normal sebagian besar sudah ditekan,
namun masih tersisa daya hidup yang cukup bagi orang itu untuk menyadari halangan-halangan di
perjalanannya, dan menyadari sepenuhnya arah dan tujuannya.
Daerah gurun yang luas, tanah yang datar, dan khususnya malam yang cerah, yaitu kondisi-
kondisi yang dianggap paling tepat. Biarpun seseorang sudah letih sebab telah melakukan
perjalanan sepanjang hari, namun saat matahari sudah tenggelam kondisi kesurupan itu sering kali
dengan mudah dapat dicapai. Keletihan itu tak lagi terasa dan si pengelana dapat melanjutkan
perjalanan bermil-mil lagi.
Jam-jam awal juga cukup diminati, namun dalam jumlah yang lebih sedikit.
Siang dan awal sore hari, lembah-lembah yang sempit, daerah berhutan, tanah-tanah yang tak
datar dianggap kondisi-kondisi yang tidak tepat dan hanya para pakar lung-gom yang dianggap
mampu mengatasi pengaruh-pengaruh buruk yang bersumber dari kondisi-kondisi itu.
Penjelasan ini secara tidak langsung menegaskan bahwa keseragaman alam sekitar dan
ketiadaan objek-objek menyolok cukup membantu untuk mencapai keadaan ‘kesurupan’ itu. Dapat
dipastikan bahwa gurun yang datar dan luas menawarkan lebih sedikit kesempatan yang dapat
mengalihkan perhatian dari mantram dan gerakan nafas, dibandingkan jurang yang sebagiannya
terhalangi oleh bebatuan dan semak belukar, aliran sungai gunung yang riuh dan sebagainya,
sebab langkah yang teratur tak mudah dipertahankan di jalan yang kasar dan tidak rata.
Berdasarkan pengalaman sekilasku tentang latihan ini, meskipun tanah gurun yaitu tempat
pilihan, namun aku merasa yakin bahwa sebuah hutan yang ditumbuhi pepohonan tinggi, tanpa
tumbuhan baru dan dilintasi jalan-jalan yang lumayan rata, mungkin cukup tepat juga untuk kondisi
tak sadar itu dan dapat dianggap sebagai daerah yang seragam. Namun ini hanyalah ideku sendiri
dan berdasarkan pada penelitian pribadi yang kubuat di hutan kuno Poyul.
Malam yang cerah dianggap baik untuk latihan para pemula, namun cahaya bintang yang kuat lebih
baik lagi. Seseorang senantiasa dinasehati untuk memfokuskan mata pada sebuah bintang khusus.
Hal ini kelihatannya berkaitan dengan efek hipnotis, dan ada yang bercerita padaku bahwa di
antara beberapa pemula yang berlatih dengan cara demikian, ada beberapa yang berhenti berjalan
saat bintang ‘mereka’ terbenam di kaki langit atau terbit di atas kepala mereka. Yang lain,
sebaliknya, tidak memperhatikan ketidakhadiran itu sebab pada saat bintang itu hilang dari
padangan, mereka telah menemukan imajinasi subjektifnya yang tetap terfokus di hadapan mereka.
beberapa ahli ilmu gaib juga menyatakan bahwa sebagai hasil dari latihan selama bertahun-tahun,
sesudah menempuh perjalanan yang cukup jauh, kaki sang lung-gom-pa tak lagi menginjak tanah
dan ia melayang di udara dengan kecepatan yang luar biasa.[115]
Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, berdasarkan pengalamanku yang terbatas dan apa yang
kudengar dari para lhama yang dapat dipercaya, aku merasa yakin pada berita yang menyebutkan
bahwa seseorang akan mencapai keadaan dimana ia tak lagi merasakan berat badannya sendiri.
Semacam obat bius yang mematikan semua sensasi seperti yang akan terjadi jika kepala terbentur
batu atau rintangan lain di jalan, dan seseorang berjalan selama berjam-jam dalam kecepatan yang
159
tak biasa, menikmati rasa sedikit pusing sebagaimana yang terjadi pada para pengemudi mobil
dengan kecepatan tinggi.
Orang Tibet membedakan antara perjalanan panjang teratur yang dilakukan oleh para lung-gom-pa
dengan yang dilakukan para pawo, para medium yang kesurupan, yang memasuki keadaan tidak
sadar tanpa sengaja dan berjalan tanpa tujuan yang pasti.
Para lhama terpelajar tak menyangkal realita akan fenomena yang dibawa para pelaku lung-gom
dalam ‘lari’ mereka yang panjang, namun mereka tidak begitu memperdulikannya.
Tindakan mereka mengingatkan kita pada sikap Sang Buddha, dalam sebuah cerita lama.
Diceritakan bahwa suatu hari Sang Buddha melakukan perjalanan dengan beberapa siswanya dan
bertemu dengan seorang Yogin yang kurus kering, seorang diri di tengah hutan.
Sang guru berhenti dan bertanya sudah berapa lama dia tinggal di sana, melakukan pertapaan
dengan menyiksa diri. “Dua puluh lima tahun,” jawab sang yogin. “Dan kekuatan apa yang telah
engkau peroleh dari usaha yang demikian sulit dan panjang?” tanya Sang Buddha. “Aku mampu
menyeberangi sungai dengan berjalan di atas air,” jawab sang pertapa dengan bangga.
“Temanku yang malang!” kata Sang Buddha dengan simpati yang dalam. “Sungguhkah kamu
menghabiskan waktu yang sangat panjang untuk hasil yang demikian tak berarti? Mengapa,
bukankah tukang perahu akan membawamu menyeberangi sungai dengan hanya sekeping uang
logam?”
160
Seni Menghangatkan Diri Tanpa Perapian di Tengah Salju
Melewati musim dingin di gua yang tertutup salju, pada ketinggian antara 11.000 hingga 18.000
kaki, memakai jubah tipis bahkan kadang telanjang, tanpa menjadi beku, yaitu kemampuan yang
amat sulit untuk dicapai. Namun demikian beberapa pertapa Tibet mampu melewati siksaan ini
dengan aman setiap tahunnya. Daya tahan itu berasal dari kemampuan mereka membangkitkan
tumo.[116]
K a ta tumo berarti panas, kehangatan, namun tidak digunakan dalam bahasa Tibet untuk
menyatakan kepanasan atau kehangatan yang biasa. Itu yaitu istilah teknis dari terminologi
mistik, dan efek dari panas yang misterius itu bukan dimaksudkan untuk menghangatkan para
pertapa yang mampu menghasilkannya.
Para ahli ilmu gaib Tibet membedakan berbagai macam tumo: tumo eksoterik, yang timbul secara
spontan akibat suatu ‘kebahagiaan’ tertentu dan perlahan menyelimuti seseorang dalam ‘balutan
jubah dewa yang lembut dan hangat’; tumo eksoterik yang membuat seorang pertapa merasa
nyaman di pegunungan bersalju; tumo mistik, yang bisa dikatakan hanya sebuah hubungan
simbolis dan jauh dengan istilah ‘kehangatan’ sebab berkaitan dengan pengalaman akan
‘kebahagiaan surga’ di dunia ini.
Dalam ajaran rahasia, tumo yaitu juga berarti api halus yang menghangatkan cairan generatif dan
memberikan energi padanya, hingga ia mengalir di sekujur tubuh melalui saluran-saluran kecil dari
tsas.[117]
Takhyul dan ide-ide fisiologi yang aneh memberikan kontribusi munculnya banyak kisah-kisah luar
biasa berkaitan dengan subjek ini, dan salah satunya akan aku ceritakan secara singkat.
Seorang pertapa ternama, Reschungpa, sangat berkeinginan menjadi seorang terpelajar sehingga
ia meninggalkan gurunya, Milarespa, untuk belajar literatur filosofi di Lhasa. sebab tidak mendapat
restu dari guru spiritualnya, segala sesuatu menjadi sangat buruk baginya – paling tidak
demikianlah jika ditinjau dari sudut pandang keagamaan. Terdapatlah seorang kaya yang sangat
antusias pada pengetahuan sang lhama muda dan kemampuannya dalam ilmu gaib kuno, dan agar
dapat mempekerjakannya di rumahnya, ia pun menyerahkan putri tunggalnya sebagai istri
Rechungpa. Hal ini berlangsung sebelum reformasi Tsong Khapa dimana semua lhama pada masa
itu diperbolehkan menikah. Si gadis sama sekali tak mengagumi Rechungpa seperti ayahnya,
namun dia diharuskan untuk mematuhinya, dan sebagai wujud balas dendamnya dia berusaha
menyulitkan sang suami, yang mungkin menyesal telah menyerah pada godaan harta benda.
Sikapnya yang tidak melawan semua perlakuan jahat sama sekali tidak melunakkan hati istrinya.
Bahkan ia pernah menikamnya dengan sebilah pisau. Dan lho! Bukannya darah yang keluar dari
lukanya melainkan cairan generatif. Akibat latihan tumo – demikian kata lhama yang bercerita
padaku dengan penuh keyakinan – tubuh Rechungpa telah dipenuhi benih kehidupan.
Agar adil bagi orang Tibet, perlu kutambahkan bahwa ada seorang lhama yang menertawakan
kisah ini dan menjelaskan alasannya. Sebenarnya, melalui latihan tumo seseorang dapat
memenuhi tubuhnya dengan kekuatan generatif yang dapat melahirkan penciptaan-penciptaan
psikis, namun hal ini amatlah halus, berupa energi yang tak tampak (shugs) dan bukan substansi
materi yang kasar.
Namun bagaimanapun, hanya sedikit, bahkan dalam lingkungan mistik, yang benar-benar
161
mengenal beberapa jenis tumo ini, sementara hampir semua orang Tibet mengetahui efek
menakjubkan dari tumo lah yang menghangatkan dan membuat para pertapa bertahan hidup di
daerah bersalju. Namun hal ini bukan berarti mereka semua mengetahui proses untuk
menghasilkan panas misterius itu. Sebaliknya, para lhama yang mengajarkannya tetap
merahasiakan hal itu, dan mereka tak lupa menyatakan bahwa keterangan yang dikumpulkan
berdasarkan desas-desus atau melalui artikel tidaklah berarti apa-apa jika seseorang belum pernah
secara pribadi berlatih dan berlajar di bawah bimbingan seorang guru yang benar-benar ahli.
Lagi pula, hanya mereka yang dianggap pantas menjalani latihan yang boleh berharap menikmati
hasilnya. Syarat-syarat terpenting yang dibutuhkan yaitu : harus sudah ahli dalam berbagai latihan
pernafasan; harus mampu memusatkan pikiran dengan sempurna dan sudah mampu
memvisualisasikan pikiran-pikiran; serta sudah menerima angkur[118] yang tepat dari seorang lhama
yang memiliki kekuatan untuk menganugerahkannya.
Inisiasi tumo didahului oleh masa percobaan yang panjang.
Menurutku, tujuan masa percobaan ini yaitu untuk menguji kekuatan tubuh sang kandidat.
Sebesar apapun keyakinanku pada metode tumo, aku tetap meragukan apakah hal itu aman
dipraktekkan oleh mereka yang bertubuh lemah. Ada kemungkinan, bahwa para guru tumo, dengan
bijaksana, berusaha menghindari kegagalan yang mungkin menimpa para siswa pongah yang
dapat merendahkan reputasi mereka sendiri.
Aku tak tahu, apakah yang mulia lhama yang ‘memberi kekuatan’ padaku hanya berusaha
membebaskan diri dariku atau bukan, saat ia menyerah pada permintaan-permintaanku yang agak
memaksa dan mempersingkat masa percobaanku. Dia hanya menyuruhku pergi ke sebuah tempat
sunyi untuk mandi di sungai gunung yang sedingin es, lalu tanpa mengeringkan tubuh atau memakai
pakaian, bermeditasi sepanjang malam tanpa bergerak. Musim dingin belum lagi dimulai, namun
ketinggian tempat itu sekitar 10.000 kaki, sehingga malam cukup dingin dan aku merasa bangga
sebab tidak merasa kedinginan.
Berikutnya, aku mandi dalam kondisi yang sama, namun kali ini tanpa disengaja, saat itu aku
kehilangan pijakan saat menyeberangi sungai Mekong, dekat Rakshi di utara Tibet. saat akhirnya
sampai di tepian sungai, dalam beberapa menit pakaianku menjadi beku…dan aku tak punya
cadangan pakaian.
Seseorang dapat dengan mudah memaklumi bahwa masyarakat Tibet, yang sering dikabarkan
mengalami musibah sebab cuaca yang buruk, mempunyai sebuah metode yang dapat melindungi
mereka dari rasa kedinginan di tempat yang demikian tinggi.
Saat diinisiasi, seseorang harus meninggalkan semua pakaian bulu atau wool dan tak pernah
mendekati perapian untuk menghangatkan diri.
sesudah belajar dalam suatu masa yang singkat, di bawah pengawasan ketat gurunya, sang siswa
diharuskan beristirahat di tempat yang jauh, benar-benar terpencil di daerah pegunungan yang
tinggi. Di Tibet ‘tempat yang tinggi’ biasanya berarti ketinggian di atas 10.000 kaki. Menurut pada
guru tumo dan para ahlinya, seseorang tak boleh mempraktekkan latihan-latihan di dalam rumah,
atau di sekitar tempat yang berpenghuni. Mereka percaya bahwa udara yang tercemar oleh asap
dan bau, bersama dengan berbagai variasi sebab-sebab gaib, akan merintangi keberhasilan
seorang siswa, bahkan bisa mencelakainya. sesudah menetap dengan baik, sang siswa tak boleh
menemui siapapun selain lhamanya, yang akan mengunjunginya sesekali, atau mereka yang
memperbaiki gubuknya yang rusak sesudah waktu yang cukup lama.
162
Si pemula haruslah memulai latihannya setiap hari sebelum fajar dan menyelesaikan latihan khusus
berkaitan dengan tumo sebelum matahari terbit, sebab sesuai peraturan ia harus telah
melaksanakan salah satu jenis meditasi selama waktu itu. Latihan itu harus dilaksanakan di tempat
terbuka, dan haruslah dalam keadaan telanjang atau memakai satu lapis pakaian katun.
Para pemula diperbolehkan duduk di atas selembar tikar jerami, jika mereka punya, atau di atas
sehelai kain bekas yang tebal atau sebuah bangku kayu. Murid yang lebih tinggi tingkatnya duduk di
atas tanah, dan yang lebih tinggi lagi serta mereka yang sudah ahli, duduk di atas salju atau es di
permukaan danau atau sungai yang beku. Sebelum memulai latihan, mereka tidak boleh sarapan
bahkan minum apapun, terutama minuman panas.
Dua postur diperbolehkan. Baik posisi meditasi yang biasa yakni dengan kedua kaki bersilang
atau duduk dalam gaya Barat, kedua tangan di letakkan di atas lutut, ibu jari, jari telunjuk dan jari
kelingking diluruskan, dan jari tengah serta jari manis dibengkokkan di bawah telapak tangan.
Pertama-tama harus dilaksanakan latihan-latihan pernafasan dengan tujuan untuk melapangkan
saluran udara di lubang hidung.
Lalu kesombongan, kemarahan, kebencian, iri hati, kemalasan, kebodohan secara mental ditolak
seiring ritme menghembuskan nafas. Semua berkah dari makhluk-makhluk suci, semangat Sang
Buddha, kelima kebijaksanaan, semua hal baik dan mulia dari dunia ini ditarik dan diasimilasi saat
mengambil nafas.
Sekarang, dengan menenangkan diri sesaat seseorang melepaskan dirinya dari semua masalah
dan bentuk-bentuk pikiran. sesudah benar-benar tenang, orang itu membayangkan sekuntum teratai
emas muncul di tubuhnya pada posisi setinggi pusar. Di teratai ini, yang bersinar bak matahari,
berdiri suku kata ram. Di atas ram terdapat suku kata ma. Dari ma, Dorjee Naljorma (seorang
dewi) pun muncul.
Suku kata mistik ini, yang disebut ‘benih’, tidak boleh dianggap hanya sekedar tulisan, atau simbol
yang mewakili sesuatu, namun harus dianggap sebagai makhluk hidup yang berdiri tegak dan
diberkati dengan kekuatan atau daya gerak. Misalnya ram bukanlah nama mistik dari api, namun ia
yaitu ‘benih’ dari api. Kaum Hindu menganggap sangat penting melafalkan dengan benar
‘rumusan benih’ ini (mantram bija). Mereka berpendapat bahwa kekuatan mereka terletak pada
bunyi pelafalan itu yang mereka yakini memiliki daya penciptaan. Kaum mistik Tibet tertentu setuju
bahwa jika ram diucapkan dengan benar, akan tercipta api, namun silabel-silabel mistik ini tidak
biasanya digunakan di Tibet sebagai ‘bunyi’, namun lebih sebagai perwakilan dari elemen-elemen,
para dewa, dsb. Masyarakat Tibet mengidentifikasi ram sebagai api, dan berpikir bahwa dia yang
tahu bagaimana memanfaatkan fungsi mental imej subjektif kata itu, akan mampu membakar
apapun atau bahkan membuat api tanpa menggunakan bahan bakar.
Segera sesudah seseorang mampu membayangkan Dorjee Naljorma muncul dari suku kata ma,
maka orang itu harus mengidentifikasi dirinya dengannya.
Saat seseorang sudah ‘menjadi’ sang dewi, ia kemudian membayangkan huruf A di pusarnya dan
huruf Ha[119] di puncak kepalanya.
Tarikan nafas dalam-dalam dan perlahan berlaku seperti sebuah pompa dan menghidupkan
sebuah nyala api yang berukuran dan berwujud seperti sebuah bola kecil.[120] Api ini berada di A.
Setiap tarikan nafas menghasilkan sensasi seperti tiupan udara yang menekan perut di sekitar
pusar dan menambah kekuatan nyala api ini .[121]
163
Kemudian, setiap tarikan nafas yang dalam diikuti dengan penahanan nafas itu. Secara perlahan
waktu penahanan nafas itu semakin lama semakin bertambah.
Pikiran orang itu akan terus memperhatikan hidupnya nyala api ini yang kemudian naik
menelusuri pembuluh uma yang berada di tengah-tengah tubuh.
Orang Tibet mengadaptasi tiga nadi mistik dari India yang berperan penting dalam berbagai
variasi latihan-latihan psikis yoga. Orang Tibet menyebut nadi-nadi itu dengan tsa, berikutnya roma
kyangma dan uma.[122]
Arteri-arteri ini bukanlah arteri sebenarnya yang mengandung darah, namun merupakan saraf-saraf
etherik yang amat halus yang mendistribusikan aliran energi psikis. Ketiga tsa yang disebutkan di
atas yaitu yang paling penting di antara beberapa saraf lain yang tak terhitung banyaknya.
Namun demikian, para ahli mistik progresif menganggap sistim tsa yaitu tanpa realitas fisik
manapun. Menurut pendapat mereka hal itu hanyalah gambaran simbolis belaka.
Latihan-latihan pun terus berlanjut, melalui sepuluh tahapan, namun seseorang harus mengerti
bahwa tidak ada jeda di antaranya. Penglihatan-penglihatan subjektif yang berbeda-beda berikut
sensasi-sensasinya, datang silih berganti dalam suatu seri perubahan yang terjadi secara perlahan-
lahan. Tarikan nafas, penahanan nafas dan hembusan nafas berlangsung menurut irama, dan
sebuah mantram gaib dilafalkan berulang-ulang. Pikiran harus terus terkonsentrasi dan ‘satu fokus’
pada bayangan api itu dan pada sensasi kehangatan yang sedang berlangsung.
Kesepuluh tahapan itu dapat dijelaskan secara ringkas sebagai berikut:
Bayangkan arteri pusat uma – dan akan terlihat secara subjektif – sehalus benang yang terhalus
atau sehelai rambut, namun berisi nyala api yang bergerak naik dan bercampur dengan aliran
udara yang berasal dari pernafasan.
Arteri itu ukurannya bertambah besar hingga sebesar jari kelingking.
Lalu terus bertambah besar hingga sebesar lengan.
Arteri itu memenuhi seluruh tubuh, atau mungkin tubuh itu sudah menjadi tsa itu sendiri, semacam
pipa yang dipenuhi nyala api dan udara.
Wujud tubuh tak lagi dapat dikenali. Membesar melebihi semua ukuran yang ada, arteri itu
memenuhi seluruh dunia dan sang naljorpa merasa dirinya laksana sebuah nyala api yang diterjang
badai di antara gelombang-gelombang yang berkilauan di tengah lautan api.
Para pemula yang belum terbiasa melakukan meditasi panjang akan lebih cepat melalui kelima
tahap ini dibandingkan para siswa yang lebih tinggi tingkatnya, yang bergerak secara perlahan dari satu
tahap ke tahap lain, tenggelam dalam kontemplasi yang mendalam. Namun demikian, yang
tercepat pun membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai ke tahap kelima.
Sekarang, bayangan subjektif itu berulang dalam urutan yang sebaliknya.
Badai angin mereda, gelombang-gelombang panas menjadi rendah dan hanya tinggal riak kecil,
lautan api menjadi surut dan diserap ke dalam tubuh.
Arteri itu, yang telah menyusut hingga seukuran lengan, kini kelihatan lagi berikut api yang berada di
dalamnya.
Arteri itu mengecil menjadi seukuran jari kelingking.
164
Kemudian menjadi sehalus sehelai rambut.
Dan menjadi hilang: api itu padam dan sama sekali tak lagi dirasakan, demikian juga semua
bentuk, semua perwakilan dari apapun. Semua ide dari objek manapun menjadi lenyap. Pikiran
tenggelam dalam ‘Kekosongan’ agung dimana dualitas dari pengenal dan objek yang dikenal tak
lagi ada.
Itu yaitu keadaan tak sadar yang menurut perkembangan spiritual dan psikis sang naljorpa,
yaitu tidak terlalu lama dan tidak terlalu dalam.
Praktek itu, baik dengan atau tanpa kelima tahapan terakhir, dapat diulangi sepanjang hari atau
kapan saja di saat seseorang tengah kedinginan. Namun latihan itu, demikian sebutan yang lebih
tepat, biasanya dilaksanakan pada awal kegiatan sebelum fajar menyingsing.
Dan kemungkinan Milarespa terpaksa melakukan latihan itu saat ia secara tak terduga terkurung
salju di sebuah gua di Lachi Kang (dekat gunung Everest) dan menemui kenyataan bahwa ia harus
tinggal di sana hingga musim semi berikutnya. Dia membingkai petualangannya ini dalam sebuah
syair, yang sebagiannya diterjemahkan secara bebas berikut ini.
Muak dengan kehidupan duniawi
Aku mencari keheningan di celah Lachi Kang.
Bumi dan surga telah mengadakan pertemuan,
Mengirimkanku badai sebagai pesan
Unsur air dan udara
Berpadu dengan mega-mega kelam di selatan.
Mereka memenjarakan matahari dan rembulan,
Meniup pergi bintang-bintang kecil di langit
Dan membalut bintang terbesar di tengah kabut.
Lalu, salju pun turun selama sembilan hari sembilan malam,
Serpihan terbesar laksana gulungan wool,
yang melayang ke bawah seperti burung.
Yang terkecil sebesar kacang polong dan biji mustard,
turun ke bawah berputar-putar.
Keagungan salju tak dapat dilukiskan,
Di atas mereka menutupi puncak gletser,
Lalu mengubur yang dibawah hingga ke atasnya, pepohonan di rimba.
Memutihkan bukit yang hitam.
Mendatarkan danau yang bergelombang
Dan aliran sungai kebiruan tersembunyi di balik es
165
Gunung-gunung dan lembah-lembah sama tinggi seolah sebuah dataran.
Orang-orang terkurung dalam desa,
para ternak didera kelaparan,
Burung dan satwa liar pun berpuasa,
tikus-tikus tersembunyi di dalam tanah laksana harta berharga
Sepanjang masa bencana itu.
Salju, tiupan angin dingin dan baju katun tipisku saling berkelahi di gunung yang putih.
Salju itu seolah mengenaiku, lalu mencair menjadi sungai,
Deruan angin dipecahkan jubah katun yang memelukku dengan hangat,
Perjuangan hidup dan mati oleh si petarung dapat dilihat di sana
Dan, aku telah memenangkannya, meninggalkan petunjuk bagi para pertapa
Mempertunjukkan kehebatan tumo.
Milarespa menggambarkan kesan terdalamnya dalam wujud sebuah syair, namun kecuali
kenyataan bahwa ia secara tak terduga terperangkap di tengah salju, tanpa tempat berteduh yang
layak dan persediaan makanan yang cukup, tak ada keistimewaan lain dalam pengalamannya
ini . Banyak pertapa Tibet melewati musim dingin dalam suasana yang demikian.
Aku tak berani menyombongkan diri dengan membandingkan pengalamanku melewati musim
dingin yang buruk di perbukitan Tibet dengan apa yang dialami para pertapa seperti halnya
Milarespa, namun suasana alam yang beliau ceritakan cukup kukenal baik.
Aku juga pernah tinggal di gua-gua dan pondok-pondok di daerah yang cukup tinggi dari
permukaan laut. Meski aku tak kekurangan perbekalan, dan memiliki bahan bakar untuk membuat
perapian kapanpun kumau, namun aku dapat memahami kerasnya kehidupan yang demikian.
namun , aku juga mengingat dengan baik keheningan yang sempurna, penyepian yang
membahagiakan, dan tempat pertapaan yang diliputi nuansa kedamaian yang menakjubkan, dan
kupikir mereka yang melewati hari-hari dengan cara yang demikian bijaksana tidaklah perlu
dikasihani. Boleh kukatakan bahwa kehidupan mereka seharusnya justru perlu dicemburui.
Selain latihan-latihan yang telah kujelaskan, ada beberapa cara lain untuk menghasilkan tumo.
Namun cara-cara itu lebih kurang sama saja. Prosesnya senantiasa menggabungkan penahanan
nafas dan membayangkan api. Hal ini, sebenarnya, lebih cenderung kepada sugesti diri sendiri.
Satu dari enam doktrin gaib yang diajarkan Naropa[123] dikatakan berkaitan dengan tumo.
Berikut yaitu laporan singkat mengenai metode Naropa. Seseorang harus memahami bahwa –
seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya – latihan-latihan itu ditujukan untuk para siswa yang telah
melatih diri mereka selama bertahun-tahun dalam latihan senam dan pernafasan.
Postur tubuh dilukiskan sebagai berikut:
Duduk dengan kaki bersilang, kedua tangan masing-masing melewati paha dan dirangkapkan.
Dalam postur itu seseorang harus (1) memutar perut dari kanan ke kiri sebanyak tiga kali, dan dari
kiri ke kanan tiga kali; (2) kocok perut sekeras mungkin; (3) guncang tubuh seperti ‘seekor kuda
166
yang gelisah mengguncang dirinya’, dan melakukan lompatan singkat dalam posisi kaki
bersilangan itu. Ketiga latihan ini harus diulang tiga kali berturut-turut, dan diakhiri sebuah lompatan,
berusaha melompat setinggi mungkin.
Rasanya tak begitu mengherankan jika seseorang akan merasa hangat sesudah melakukan
gerakan-gerakan itu. Latihan ini dipinjam dari latihan hatha yoga orang India, namun dalam
kitab hatha yoga tidak ditemukan hubungannya dengan jenis tumo yang dikenal di Tibet.
Proses ini berlanjut dengan menahan nafas, hingga perut menjadi ‘berbentuk sebuah pot’.[124]
Kemudian muncullah visualisasi Dorjee Naljorma seperti pada latihan yang telah dijelaskan
sebelumnya. Lalu sebentuk matahari dibayangkan berada di tiap telapak tangan, di kedua telapak
kaki, dan di bawah pusar.
Dengan menggosok kedua matahari yang ada di telapak tangan dan kaki, hiduplah api yang
menyambar matahari yang berada di bawah pusar, yang kemudian menyala dan memenuhi seluruh
tubuh dengan api.
Dalam setiap hembusan nafas, seluruh dunia dibayangkan dipenuhi dengan api.
Latihan berakhir dengan dua puluh satu lompatan besar.[125]
Meskipun terdapat persamaan dalam hal memvisualisasikan imej-imej pada kedua metode ini,
namun terdapat juga perbedaan yang mencolok, yakni pada metode kedua terdapat lompatan dan
gerak isyarat tangan, sementara metode pertama menuntut sikap yang sepenuhnya tanpa gerakan.
Bukan tidak mungkin, sebagaimana banyak kasus lain, beberapa elemen latihan ini dipinjam dari
kaum mistik Bonpo kuno. Salah seorang dari mereka pernah berkata padaku bahwa visualisasi api
lebih berperan dalam pemunculan rasa hangat dibandingkan pergerakan nafas ini . sebab aku tak
setuju, dia pun menambahkan: “Seseorang dapat terbunuh oleh sugesti, dan dia pun dapat
membunuh dirinya sendiri dengan auto-sugesti.[126] Kematian saja dapat diciptakan dengan cara
yang demikian, apalagi hanya sekedar rasa panas, akan jauh lebih mudah.”
Penarikan nafas, penahanan nafas, dan pengeluaran nafas akan dicapai secara mekanis, dalam
urutan yang telah ditentukan, oleh mereka yang telah cukup terlatih dalam praktek tumo. Mereka tak
memecahkan konsentrasi pikiran dalam bayangan api ini , demikian juga dalam pengulangan
mantram gaib yang menemani kontemplasi itu. Siswa-siswa lanjutan tidak perlu berusaha
membayangkan proses tumbuhny












