anku terbukti manjur: entah sebab perubahan tempat telah membunuh mikroba
penyebab demam, atau pemandangan yang baru mengobati kelelahan mental, atau kekuatan
keinginanku yang telah menaklukkan kesadaran makhluk-makhluk dari alam gaib, aku kini, benar-
benar telah terbebas dari obsesi yang menyiksaku.
Namun selama tinggal di Podang terdapat satu kejadian aneh.
Sidkeong Tulku sesudah menjadi maharaja, mencoba mewujudkan harapannya untuk melepaskan
orang-orang Tibet dari hal-hal yang berbau takhyul dan hidup sesuai dengan Buddhisme ortodoks.
Untuk itu, ia telah mengundang seorang bhikkhu India yang berasal dari sekolah filosofi Theravada,
untuk berkotbah di negaranya. Sang bhikkhu harus menghadapi mereka yang anti Buddhis seperti
para ngagspa, pemuja roh, dan kebiasaan meminum minuman keras. Bhikkhu yang bernama Kali
Kumar ini sudah mulai bekerja.
Sang maharaja-lhama, sebagai kepala biara di Podang, mempunyai sebuah apartemen di biara
ini sebagai tempat tinggalnya jika ia berkunjung kesana untuk memimpin para bhikkhunya. Ia
berkunjung selama dua hari semasa aku tinggal di gompa.
Suatu sore, saat sedang minum teh bersama, kami membicarakan misi Kali Kumar dan jalan untuk
melepaskan orang-orang gunung itu dari kepercayaan akan takhyul.
“Itu hal yang tak mungkin,” kataku, “sesudah mengenal secara jelas seperti apa Padmasambhâva,
yang berkotbah di Tibet ini berabad-abad yang lalu. Memang para pemujanya yang menjadikannya
seorang pahlawan, dalam legenda-legenda yang membangkitkan sifat pemabuk dan praktek-
praktek yang konyol dan berbahaya. Dalam namanya mereka memuja roh setan – bahkan Anda
juga demikian.” Aku menambahkan sembari tertawa dan menunjuk patung tokoh terkenal itu yang
tegak di ujung ruangan dengan lampu altar di bawah kakinya.
“Yang penting,” lanjutku, dan tiba-tiba aku tak mampu melanjutkan. Kehadiran makhluk ketiga yang
tak terlihat menggangguku. Kemudian tak ada yang berbicara, hening di seluruh penjuru ruangan,
namun aku benar-benar merasa ada pengaruh dari kekuatan gaib.
“Takkan ada yang berhasil kamu lakukan,” kata suara yang tak terdengar, “orang-orang di negeri ini
milikku… Aku lebih berkuasa dibandingkan mu ….”
45
Aku mendengar dengan takjub kata-kata ini, dan aku hampir menyangka bahwa ini hanyalah
ekspresi dari keraguanku akan keberhasilan usul reformasi tadi, hingga saat sang maharaja
menjawab.
Ia menjawab sesuatu yang tak kukatakan, beragumentasi dengan penasehat yang tak terlihat itu.
“Kenapa aku tak mungkin berhasil?” ia melanjutkan, “mungkin perlu waktu untuk mengubah
pandangan para petani dan rohaniawan yang kurang terpelajar. Para setan yang mereka beri
makan takkan mudah menyerah untuk mati kelaparan, namun bagaimanapun, aku akan
memberikan sesuatu yang lebih baik lagi bagi mereka.”
Ia menyindir acara pengurbanan binatang kepada para setan oleh para ngagspa.
“Tapi aku tak mengatakan…” Aku tak jadi melanjutkan, sebab kupikir walaupun sang pangeran
telah dengan berani menyatakan perang kepada para setan, namun ia belumlah sepenuhnya
terbebas dari takhyul dan sebab nya lebih baik tak kuceritakan apa yang terjadi.
Namun, aku tak ingin para pembaca mempunyai kesan yang buruk tentang Sidkeong Tulku.
Mungkin saja ia telah terbebas dari kepercayaan akan takhyul lebih dari yang kutahu.
Sesuai dengan horoskopnya, yang sangat dipercayai orang Tibet, tahun dimana akhirnya ia wafat
telah diramalkan sebelumnya sebagai saat yang berbahaya baginya. Untuk menetralkan pengaruh
yang jelek ini, beberapa lhama – diantaranya gomchen Lachen – pernah mengusulkan untuk
melaksanakan suatu upacara ritual.
Ia menolak dan berterima kasih pada usaha mereka, dengan berkata kalaupun ia harus meninggal,
ia merasa mampu menuju ke dunia yang berikutnya tanpa ritual yang mereka lakukan.
Menurutku ia mungkin telah meninggalkan kesan seolah ia yaitu seorang yang tak beriman.
Segera sesudah ia wafat, semua inovasi dan reformasi keagamaan yang ia prakarsai menjadi
musnah. Tak ada lagi kotbah-kotbah, bir mulai lagi disajikan di biara. Seorang lhama
menginformasikan kepada seluruh rohaniawan untuk kembali ke kebiasaan lama.
Penasehat yang tak terlihat itu merasa menang sebab semua sesuai prediksinya.
Walaupun kantor pusatku berada di Podang, namun aku tetap menjelajahi seluruh Sikkim. Makanya
aku bisa bertemu dua orang gomchen yang baru tiba dari Tibet Utara untuk menetap di
pegunungan Himalaya.
Salah seorang tinggal di Sakyong, sehingga ia dipanggil Sakyong gomchen, tidak sopan bagi
orang Tibet untuk memanggil seseorang dengan namanya. Semua orang yang dianggap tak
berada dibawah tingkatannya senantiasa diberi semacam gelar.
Sakyong gomchen cukup simpatik dan berwawasan luas. Dia senang berada di tempat
pemakaman dan menutup diri di rumahnya berbulan-bulan untuk mempraktekkan ritual gaib.
Sebagaimana rekannya yang di Lachen, ia tak mengenakan jubah biara, rambutnya yang panjang
digulung di kepalanya menyerupai yogi India. Orang Tibet yang memiliki rambut panjang, kecuali
orang awam, dianggap sebagai seorang pertapa atau rohaniawan terhormat yang dipanggil
dengan sebutan naljorpa, dan dipercaya mencari jalan penyelamatan melalui ilmu gaib ‘Jalan
Pendek’[26].
Selanjutnya, perbincangan utamaku dengan para lhama ini yaitu mengenai filosofi doktrin-doktrin
Buddhisme Mahayana yang merupakan akar Lhamaisme. Sakyong Gomchen terkesan kurang
menghargai dan kelihatan hanya sekedar mengenal doktrin-doktrin ini . Dia sangat menyukai
46
paradoks-paradoks. “Belajar,” katanya, “tak dapat mencapai pengetahuan yang benar, hanya akan
menjadi penghalang. Semua yang diperoleh dengan cara itu takkan bermanfaat. Kenyataannya,
seseorang hanya mengetahui ide dan pandangannya sendiri. Sumber sebenarnya yang
menghasilkan ide-ide itu tetap tak mungkin kita capai. Saat kita mencoba meraihnya, kita hanya
memperoleh ide-ide ini , dan pada akhirnya kita sendiri yang memperumit pemahaman akan
sumber yang sebenarnya itu.”
Apakah ia benar-benar memahami apa yang ia katakan? Ataukah ia cuma mengulang apa yang ia
baca atau dengar dari orang lain?…
Atas permintaan pangeran tulku, Sakyong gomchen juga berkeliling untuk menyampaikan kotbah.
Aku pernah berkesempatan melihatnya berkotbah. Kukatakan melihat, bukan mendengar, sebab
saat itu aku tak sepenuhnya mengerti apa yang ia katakan dalam bahasa Tibet. Ia sangat berbakat
dalam ‘peran rasul’ ini, kata-kata yang bersemangat, gerak-geriknya, dan ekspresi raut mukanya
yang bervariasi mengukuhkannya sebagai orator ahli, serta wajah para pendengarnya yang
ketakutan dan bermandikan air mata cukup membuktikan kesan yang ia ciptakan.
Gomchen dari Sakyong ini yaitu satu-satunya Buddhis yang pernah kulihat mampu berkotbah
dalam cara yang demikian bersemangat. Buddhisme ortodoks tidak menggunakan efek suara
ataupun gerakan badan sebab dianggap tak sesuai dalam membabarkan sebuah doktrin, yang
sebenarnya hanya alasan belaka.
Suatu hari aku bertanya padanya: “Apakah Pembebasan Tertinggi itu ( tharpa)?” Dia menjawab: “Itu
yaitu kebebasan dari semua pandangan dan imajinasi, pemadaman aktifitas mental sebagai
penyebab ilusi.”[27]
Di lain hari, ia berkata: “Kamu harus pergi ke Tibet untuk diinisiasi oleh Guru “Jalan Pintas”. Kamu
terlalu terikat pada doktrin nienthos (Buddhisme dari sekolah Theravada). Kuperkirakan kamu akan
mampu memahami Ajaran Rahasia.”[28]
“Dan bagaimana aku bisa ke Tibet, sebab orang asing tak diizinkan kesana?” tanyaku.
“Pooh! banyak jalan menuju Tibet.” Dia menjawab dengan ringan. “Para lhama terpelajar tak ada
yang tinggal di U dan Tsang (propinsi-propinsi pusat dengan Lhasa dan Shigatze sebagai ibukota).
Kita dapat menemukan yang lain, yang lebih terpelajar, yakni para guru di negaraku.”[29]
Ide untuk memasuki Tibet melalui Cina belum pernah terpikirkan olehku, demikian juga usul sang
gomchen, hari itu bermacam gema muncul di benakku. Mungkin waktuku memang belum tiba.
Gomchen kedua yang kutemui berkarakter tak komunikatif dan sifatnya agak angkuh. Bahkan
sapaan yang wajib ia ucapkan sebagai wujud kesopanan pun ia utarakan dengan nada dingin.
Seperti gomchen dari Sakyong, ia juga dipanggil sesuai dengan asal tempat tinggalnya – Daling
gomchen.
Dia senantiasa memakai jubah biara biasa berikut toga, namun ditambah anting dari gading dan
dorje perak disanggah batu pirus bertahta di rambutnya.
Lhama ini tiap tahun melewati musim panas di kabin yang dibangun khusus untuknya di gunung
yang berhutan lebat.
Beberapa hari menjelang ia tiba, murid-muridnya dan para penduduk sekitar membawa perbekalan
untuk tiga atau empat bulan ke pondok itu. sesudah itu mereka dilarang mendekati tempat tinggal
gomchen itu. Dia tak menemui kesulitan untuk membuat orang-orang menghormati penyepiannya.
47
Orang-orang itu sangat yakin bahwa dia sedang mempraktekkan ritual yang menakutkan untuk
menjebak para setan dan memaksa mereka untuk tidak mengganggu orang-orang ataupun harta
benda mereka yang memujanya. Proteksinya benar-benar menenangkan mereka, namun mereka
tak berani mendekati gubuknya sebab takut bakal bertemu dengan makhluk jahat yang menjawab
panggilan sang gomchen dengan terpaksa dan sedang dalam keadaan tidak senang. Ditambah
lagi, kesan misterius yang senantiasa mengelilingi prilaku dan juga sifat para naljorpa, membuat
mereka cenderung berhati-hati.
Sang lhama agak terpaksa memenuhi permintaanku untuk meninggalkan sejenak masa
pertapaannya sebab mengingat hutang budinya pada Sang Pangeran, yang telah mengangkatnya
menjadi kepala biara kecil Daling.
Salah satu topik yang kuperbincangkan dengannya yaitu mengenai jenis makanan yang diizinkan
bagi seorang Buddhis. “Apakah kita harus menginterpretasikan perintah untuk tidak membunuh,
secara duniawi dan kita tetap makan daging dan ikan?” tanyaku.
S a ng gomchen, seperti juga kebanyakan orang Tibet, bukanlah seorang vegetarian. Dia
menjelaskan sebuah teori tentang hal ini yang kelak kudengar kembali di tempat lain Tibet, yang tak
berbeda sedikitpun dengan versi aslinya.
“Kebanyakan orang,” katanya, “makan seperti binatang, hanya untuk mengenyangkan dirinya, tanpa
merenungkan apa yang sedang ia lakukan dan juga akibatnya. Kelompok orang yang demikian
sebaiknya tidak makan daging atau ikan.
“Kelompok lain mempertimbangkan akan menjadi apa elemen materi yang mereka serap saat
menyantap daging binatang. Mereka menyadari asimilasi elemen-elemen ini melibatkan juga
asimilasi elemen-elemen fisik yang terdapat di dalamnya. Orang-orang yang memiliki pengetahuan
yang demikian, dengan resikonya, boleh bergabung dengan kelompok ini dan harus berusaha
keras untuk mendapatkan hasil yang bermanfaat dari korban yang disantap.
“Hal yang penting untuk diketahui yaitu apakah elemen binatang yang diserap memperkuat sisi
kehewanan dari seorang manusia, atau apakah si manusia mampu mengubah elemen-elemen ini
menjadi kekuatan intelektual dan spiritual, sehingga substansi dari binatang yang berpindah ke diri
seseorang akan terlahir dalam bentuk aktifitas manusia.”
Aku kemudian bertanya padanya apakah ini menjelaskan suatu rahasia yang dipercayai orang
Tibet bahwa para lhama dapat mengirim roh binatang yang dibunuh ke Surga dari Kebahagiaan
Sejati.
“Jangan berpikir saya dapat menjawab pertanyaanmu dalam beberapa kata,” jawabnya, “Masalah
ini cukup rumit. Binatang memiliki beberapa ‘kesadaran’, seperti juga kita, dan sebagaimana yang
akan kita alami, ‘kesadaran-kesadaran’ ini tak menempuh jalan yang sama sesudah kematian.
Makhluk hidup yaitu suatu perkumpulan, bukan kesatuan. Seseorang harus dibimbing oleh guru
yang tepat untuk dapat mengerti doktrin ini.”
Lhama ini sering memutuskan percakapan dengan pernyataan demikian.
Suatu malam, saat aku, Sang Pangeran, dan Lhama Daling sedang berkumpul di bungalow
Kewzing, kami membicarakan tentang para pertapa mistik. Dengan antusias dan mengesankan,
s a n g gomchen bercerita tentang gurunya, tentang kebijaksanaannya, dan kemampuan
supernormalnya. Sidkeong Tulku sangat terkesan akan rasa hormat yang dalam dari sang lhama
kepada guru spiritualnya.
48
Saat itu sang pangeran sedang mempunyai beban pikiran, menyangkut rencana pernikahannya
dengan putri dari Burma.
“Saya sangat menyesal sebab tak dapat bertemu dengan naljorpa besar ini,” katanya padaku
dalam bahasa Inggris. “sebab ia, mungkin, dapat memberiku jalan keluar yang baik.”
Dan kepada sang gomchen, ia menjawab dalam bahasa Tibet:
“Saya sangat menyesal gurumu tak berada di sini. Saya benar-benar sangat membutuhkan nasehat
dari peramal suci seperti beliau.”
Namun ia tak mengatakan apa gerangan yang ingin ditanyakan, ataupun menunjukkan isyarat dari
pemikirannya.
Sang lhama dengan gayanya yang dingin bertanya: “Apakah masalahnya serius?”
“Sangat penting,” jawab sang pangeran.
“Anda mungkin akan menerima nasehat yang diinginkan,” kata Daling gomchen.
Kupikir ia bermaksud mengirimkan surat lewat pengirim pesan dan aku bermaksud
mengingatkannya akan jarak yang cukup jauh untuk ditempuh, saat perubahan roman mukanya
mengejutkanku.
Matanya terpejam dan mukanya menjadi pucat, badannya kaku. Aku bermaksud mendekatinya,
kupikir ia sakit, namun sang pangeran yang juga telah memperhatikan perubahan mendadak ini,
mencegahku sambil berbisik:
“Tetap di tempatmu. Para gomchen kadang kerasukan dengan tiba-tiba. Dia tak boleh
dibangunkan, sebab cukup berbahaya, bahkan bisa membuatnya mati.”
Jadi aku tetap duduk dan memperhatikan sang lhama yang tak bergerak. Perlahan penampilannya
berubah, wajahnya mengerut, ekspresi sang lhama yang tak pernah kulihat sebelumnya. Dia lalu
membuka matanya dan sang pangeran tampak kaget.
Laki-laki yang sedang kami pandangi ini bukanlah gomchen dari Daling, melainkan seseorang
yang tak kami kenal. Dia membuka mulutnya dengan susah payah dan berkata dengan suara yang
berbeda dengan suara sang gomchen:
“Jangan risau. Masalah ini tidak akan pernah menjadi keharusan bagimu untuk memutuskan.”
Kemudian perlahan ia menutup matanya, penampilannya berubah kembali dan menjadi lhama
Daling yang kemudian perlahan menyadarkan diri.
Dia menghindari pertanyaan kami dan beristirahat dalam keheningan, agak sempoyongan dan
tampak keletihan.
“Tidak ada makna dalam jawabannya,” sang pangeran menyimpulkan.
Entah sebab kebetulan atau adanya alasan yang lain, ternyata kata-kata di atas terbukti ada
artinya.
Masalah yang mengganggu sang maharaja muda yaitu mengenai tunangannya dan hubungannya
dengan seorang wanita yang telah melahirkan seorang putra untuknya. Ia tak ingin hubungannya
dengan wanita ini putus sesudah pernikahannya. Tapi, memang benar, ia tak perlu memikirkan
tentang kelanjutan hubungannya dengan kedua wanita itu, sebab ia wafat sebelum hari
49
pernikahannya.
Aku juga berkesempatan mengenal dua pertapa dari kelompok khusus yang tak pernah lagi
kujumpai di Tibet, sebab penduduk Tibet lebih maju peradabannya dibandingkan penduduk di sekitar
Himalaya.
Kala itu aku baru saja kembali dari penjelajahan ke perbatasan Nepal dengan sang pangeran tulku.
Pelayannya, sebab mengetahui bahwa sang pangeran suka memperlihatkan padaku orang-orang
religius yang aneh, menyinggung tentang kehadiran dua orang pertapa di gunung yang berdekatan
dengan desa dimana kami menginap.
Para petani mengatakan bahwa kedua pertapa ini sangat lihai menyembunyikan diri mereka
sehingga tak seorang pun yang pernah melihat mereka selama beberapa tahun. Selama ini
perbekalan makanan diletakkan di bawah bebatuan, di celah yang telah ditentukan, dimana mereka
akan mengambilnya pada malam hari. Sedangkan pondok mereka, yang mereka dirikan sendiri,
tak ada yang tahu dimana, pun tak ada yang mencoba cari tahu. sebab jika seorang pertapa
sangat tidak ingin dilihat orang, maka para penduduk desa yang percaya takhyul sangat lebih ingin
lagi untuk menjaga jarak dan menjauh dari hutan yang didiami sang pertapa.
Sidkeong tulku sepenuhnya sudah terbebas dari rasa takut akan ilmu sihir. Ia memerintahkan
beberapa pelayan dan beberapa penduduk desa pergi ke hutan dan membawa kedua pertapa itu
padanya. Kedua pertapa itu harus diperlakukan dengan baik dan dijanjikan akan diberi hadiah,
namun keduanya harus diawasi dengan ketat supaya tidak melarikan diri.
Usaha itu cukup berat rupanya. Kedua pertapa yang terkejut dalam penyepiannya, berusaha
melarikan diri, namun sebab puluhan orang mengejar, mereka akhirnya tertangkap juga.
Harus dengan paksaan untuk menyuruh keduanya memasuki vihara kecil dimana kami dan
beberapa lhama – diantaranya gomchen dari Sakyong – telah menuggu. Disana, tak seorang pun
yang dapat membuat keduanya berbicara.
Aku tak pernah melihat manusia yang demikian aneh. Kedua laki-laki itu sangat kotor, hanya
ditutupi beberapa helai kain yang compang-camping, rambut yang panjang dan tebal seperti sapu
ijuk menutupi wajah dan pancaran mata mereka seperti bara api.
Saat melihat ke sekeliling, mereka tampak seperti dua ekor binatang buas dalam kurungan yang
baru ditangkap. Pangeran itu meminta untuk dibawakan dua buah keranjang besar yang diisi
dengan teh, daging, tepung gandum, beras, dan berbagai barang lain. Dia mengatakan pada
kedua pertapa bahwa ia bermaksud memberikan semua ini pada mereka, namun keduanya tetap
membisu.
Seorang penduduk desa kemudian berkata bahwa mungkin kedua pertapa ini, saat datang ke
gunung untuk menyepi, sedang di bawah sumpah untuk tidak berbicara.
Yang Mulia pangeran, yang tiba-tiba terpengaruh oleh kezaliman penguasa oriental, mengatakan
bahwa setidaknya mereka harus memberi hormat seperti kebiasaan orang-orang umumnya dan
bersikap lebih sopan di hadapannya.
Aku melihat kemarahannya sudah meluap, untuk menghindari masalah yang bakal muncul, aku
memohon padanya untuk membiarkan kedua pertapa itu beristirahat.
Mula-mula ia menolak permintaanku, namun aku berusaha terus membujuknya.
Sementara itu aku meminta pelayanku untuk mengambil permen kristal dari barang bawaanku –
50
orang Tibet sangat menyukainya – dan kuletakkan sebungkus di masing-masing keranjang.
“Buka pintunya dan biarkan kedua binatang ini keluar’” perintah sang pangeran akhirnya.
Melihat kesempatan untuk melarikan diri, kedua pertapa itu segera menyambar keranjang-
keranjang itu. Salah satu dari mereka dengan tergesa-gesa mengambil sesuatu dari pakaiannya,
menyelipkan tangannya di rambutku, dan kemudian berlari pergi dengan cepat seperti seekor
elinci.
Aku menemukan sebuah ajimat di rambutku yang kemudian kutunjukkan kepada teman-temanku
dan juga beberapa lhama yang mempunyai pengetahuan tentang hal-hal seperti itu. Semua setuju
bahwa ajimat itu tidak akan melukaiku, bahkan sebaliknya, memberikan pengamanan berupa
beberapa makhluk halus yang akan mengenyahkan semua mara bahaya yang merintangi jalanku
dan melayaniku. Aku hanya dapat berlega hati. Mungkin pertapa itu mengerti bahwa aku telah
memohon pada sang pangeran untuk membebaskan ia dan temannya, dan pemberiannya kuterima
dengan rasa syukur.
Penjelajahanku yang terakhir dengan Sang Pangeran Lhama membawaku kembali ke utara negeri
ini. Aku kembali mengunjungi Lachen dan bertemu dengan gomchennya. Aku sekarang dapat
berdialog dengannya, namun aku tak dapat berbicara banyak dengannya sebab kami berhenti di
sana hanya satu hari, esoknya kami harus melanjutkan perjalanan untuk mencapai kaki pegunungan
Kinchindjinga.[30]
Dalam perjalanan, kami berkemah di tepian danau yang indah di suatu lembah yang terpencil di
Lonak, tak jauh dari perbatasan tertinggi di dunia: Perbatasan Jongson (di ketinggian sekitar
24.000 kaki) dimana Tibet, Nepal, dan Sikkim bertemu.
51
Perkemahan Kinchindjinga, 1912.
52
Perjalanan terakhir bersama Sidkeong Tulku (keempat dari kanan) sebelum beliau dan rombongannya kembali ke Gangtok.
53
Kami menghabiskan beberapa hari di suatu moraine[31] yang luas dimana dari sana terlihat puncak
Kinchindjinga yang tertutup salju. Kemudian Sidkeong Tulku bersama rombongannya kembali ke
Gangtok.
Dia sempat mentertawakan kecintaanku pada tempat-tempat penyepian yang tinggi, yang telah
membuat aku, Yongden muda dan beberapa pelayan melanjutkan perjalanan. Aku masih bisa
melihatnya, bahkan hingga saat ini. Kali itu ia tak lagi berpakaian seperti seorang jin dari Arab,
namun seperti seorang pendaki gunung Alpen. Sebelum menghilang di balik pegunungan, dia
berbalik ke arahku, sambil melambaikan topinya ia berteriak dari kejauhan:
“Segeralah kembali, jangan pergi terlalu lama!”
Aku tak pernah lagi melihatnya. Beberapa bulan kemudian, saat aku berada di Lachen, ia wafat
secara misterius.
Lembah Lonak sangat dekat dengan Tibet, sehingga aku tak mampu melawan keinginanku untuk
melewati salah satu daerah perbatasan dan masuk ke Tibet. Perbatasan Nago (lebih 18.000 kaki)
yaitu yang paling memungkinkan. Cuaca saat itu baik, cuma agak berawan dan salju turun sedikit
kala kami memulai perjalanan.
Pemandangan yang tampak di puncak perbatasan ini, tak seperti yang kulihat dua tahun lalu, yang
sarat dengan kilauan keagungan. Saat ini, cahaya temaram menyinari kabut ungu pucat yang
menyelubungi seluruh dataran, kekosongan yang agung, dari kaki pegunungan hingga batas yang
kabur di kejauhan. Namun dengan tersembunyi di bayangan senja, tempat penyepian yang
terlarang itu menjadi semakin misterius dan menarik.
Aku pasti dikira sedang mengembara di wilayah luar biasa ini tanpa tujuan, namun sebenarnya aku
punya satu tempat yang ingin kukunjungi. Sebelum meninggalkan Gangtok, seorang petugas dari
penduduk setempat pernah menyinggung soal biara Chörten Nyima.
“Biara yang pernah kamu kunjungi di Sikkim sangat berbeda dengan yang ada di Tibet. sebab
kamu tak dapat melakukan perjalanan dengan bebas di Tibet, setidaknya kamu bisa mengunjungi
Chörten Nyima. Walaupun gompa ini sangat kecil, kamu akan menemukan ide tentang biara Tibet
yang sebenarnya,” katanya padaku.
Jadi aku pun mengunjungi Chörten Nyima.
Tempat suci itu benar-benar menggambarkan apa yang dinamakan gompa (tempat tinggal dalam
kesunyian) dalam bahasa Tibet, dibandingkan sebuah biara. Tak mungkin lagi terbayangkan tempat
penyepian yang lain. Daerah dimana dibangun rumah-rumah tinggal untuk para biarawan itu, bukan
saja tidak berpenghuni, namun ketinggiannya juga membuatnya menjadi terlantar.
Jurang berpasir yang terkikis erosi, lembah membentang hingga ke danau di pegunungan, puncak
gunung bersalju di kejauhan, sungai kecil yang jernih dengan tepian bernuansa lembayung muda,
batu kerikil berwarna hijau keabuan atau kemerahan yang mengeliling gompa memberi kesan
melindungi, dan keseluruhan pemandangan dari mineral-mineral ini memancarkan ketentraman
yang tak dapat diekspresikan.
Dalam setting yang demikian, legenda dan keajaiban menjadi hal yang biasa sebab ini yaitu
tempatnya, keduanya takkan kekurangan di Chörten Nyima. Nama ini sendiri, yang berarti ‘tempat
suci matahari’, berasal dari suatu keajaiban. Suatu saat sebuah Chörten yang berisi relik suci
54
dibawa melalui udara, dengan sinar matahari, dari India ke tempat ini.
Tradisi kuno mengaitkan hal ini dengan Padmasambhâva yang menyembunyikan beberapa naskah
mengenai doktrin mistik di sekitar Chörten Nyima yang menurutnya belum tepat waktunya untuk
dibeberkan, sebab saat ia mengunjungi Tibet pada abad ke delapan, masyarakat Tibet masih tak
berbudaya intelektual. Sang Guru ini melihat kelak, lama sesudah kepergiannya, akan ada beberapa
lhama yang mampu membuat tulisan-tulisan ini bercahaya kembali. beberapa lhama dikatakan telah
menemukan beberapa tulisan di tempat ini sementara yang lain masih terus mencari.
Menurut orang-orang Tibet, seratus delapan chörten dan seratus delapan mata air berada di sekitar
Chörten Nyima. Seluruhnya tak kasat mata. Kebanyakan hanya dapat dilihat oleh mereka yang
pikirannya benar-benar bersih. Suatu doa atau harapan yang diucapkan di tepi mata air ini, sesudah
sebelumnya memberikan persembahan ke dalam air yang muncul di permukaan tanahnya, pasti
akan terkabul.
Chöd do (persembahan berbentuk batu), baik yang ditegakkan seadanya ataupun yang dibentuk
berupa sebuah monumen, bertebaran di seluruh negeri ini, dan jika dibangun untuk menghormati
Padmasambhâva oleh para peziarah, maka monumen primitif ini dipercaya tak akan dapat dirusak.
Biara ini, yang pada suatu masa pernah menjadi suatu tempat yang penting, kini mulai menjadi
puing-puing. Seperti juga di tempat lain di Tibet, ini yaitu bentuk kemiskinan dari sekte kuno, yang
belum mengikuti reformasi Tsong Khapa, yang para pengikutnya, sekarang ini, menguasai masalah
keagamaan di negeri ini.
Aku hanya menemukan empat orang bhikkhuni di Chörten Nyima yang berasal dari sekte Nyingma
(‘sekte kuno’, yang tertua di kelompok ‘topi merah’). Mereka hidup melajang namun belum
sepenuhnya ditabhiskan dan tak mengenakan jubah biara.
Banyak contoh keganjilan yang terjadi di Tibet, namun yang paling mengejutkanku yaitu
keberanian yang luar biasa dari para biarawati ini. Pasti amat sangat sedikit wanita-wanita barat
yang berani hidup di tempat sunyi, dalam kelompok yang berjumlah empat, atau lima orang, kadang
bahkan sendiri. Sangat sedikit orang yang berani menempuh perjalanan yang memakan waktu
berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, melewati pegunungan yang sunyi yang dihuni oleh binatang
buas dan juga para perampok.
Ini menunjukkan karakter khusus dari wanita Tibet. Mereka bukannya mengabaikan bahaya-bahaya
ini, malah menambahnya dengan mengimajinasikan sepasukan roh jahat dalam berbagai bentuk
yang aneh, bahkan termasuk semacam tanaman setan yang tumbuh di tepi jurang, yang akan melilit
para pengelana dengan cabangnya yang berduri dan menariknya ke jurang.
Terlepas dari berbagai alasan yang membuat orang merasa lebih aman di tempat asalnya, kita
akan menemukan di sana sini di Tibet, komunitas biarawati dalam jumlah kurang dari dua belas
orang, tinggal di tempat terpencil yang cukup tinggi, beberapa diantaranya bahkan tak bisa keluar
selama hampir setengah tahun sebab terhalang salju.
beberapa wanita yang lain tinggal sebagai pertapa di gua-gua, dan banyak yang melakukan
perjalanan ziarah melintasi wilayah Tibet yang luas dengan memikul barang perbekalannya di
punggung.
Mengunjungi Lhakhang (rumah para dewa, dimana diletakkan patung mereka) yang masih utuh di
antara reruntuhan gedung biara, aku menemukan suatu ruangan yang dipenuhi patung-patung kecil
dari tanah liat dalam aneka warna yang merupakan wujud para makhluk fantastis yang mengelilingi
‘arwah’ seseorang saat melewati alam Bardo[32]. Di atasnya, dalam posisi Buddha sedang
55
meditasi, Dorjee Chang duduk telanjang, tubuhnya yang berwarna biru melambangkan ruang, yang
dalam simbologi mistik berarti Kekosongan.
Salah seorang bhikkhuni mengejutkanku saat menjelaskan:
“Semua ini sebenarnya tidak ada,” katanya, sambil menunjuk wujud-wujud yang terdapat di alam
hantu Bardo. Pikiran memunculkan mereka dari kekosongan dan dapat melenyapkan mereka
kembali ke kekosongan.”
“Bagaimana anda tahu itu?” Tanyaku, meragukan kemampuan wanita baik ini dalam merumuskan
sendiri kesimpulan itu.
“Lhama saya yang mengajarkan,” jawabnya.
“Dan siapakah Lhama anda itu?”
“Seorang gomchen yang tinggal di dekat danau Mo-te-tong.”
“Apa beliau sering ke sini?”
“Tidak, tidak pernah. Lhama Chöten Nyima sendiri tinggal di Tranglung.”
“Apakah beliau juga seorang gomchen?”
“Bukan, beliau seorang ngagspa (dukun, ahli ilmu gaib) dan kepala rumah tangga, beliau sangat
kaya dan dapat berbuat banyak keajaiban.”
“Misalnya?…”
“Beliau dapat menyembuhkan orang atau binatang dan dapat pula membuat mereka sakit,
meskipun dari jarak jauh. Beliau dapat menghentikan dan mendatangkan hujan, badai sesuka
hatinya… Dengarkan apa yang dilakukannya beberapa tahun yang lalu:
“Saat musim panen, sang lhama menyuruh penduduk desa untuk memanenkan padinya. Beberapa
dari mereka menjawab bahwa mereka akan memanenkan padinya, namun sesudah mereka
memanen padi mereka dulu.
“Cuaca saat itu berubah-ubah dan para petani takut terjadi badai, yang tiap tahun sering terjadi di
saat panen. beberapa petani yang keras kepala, bukannya memohon pada sang lhama untuk
melindungi ladang mereka saat mereka memanen padi sang lhama, mereka malah bermaksud
memanen padi mereka lebih dulu.
“Kemudian sang lhama menggunakan kekuatan magisnya. Beliau melakukan ritual dubthab,
memanggil para dewa dan menggerakkan beberapa torma[33]. Segera sesudah beliau membaca
mantera, torma-torma itu terbang, laksana burung, berputar-putar di udara, masuk ke rumah-rumah
penduduk yang tidak patuh dan melakukan kerusakan. Namun mereka melewati rumah penduduk
desa yang memanen padi sang lhama terlebih dahulu, tanpa merusak apapun.
“Sejak saat itu, tak seorang pun berani untuk menentang perintah sang lhama.”
Oh! Berbicara dengan ngagspa yang dapat menembakkan kue pembalas dendam melalui udara!
… Aku amat sangat ingin bertemu dengannya.
Tranglung tak jauh dari Chörten Niyama, bhikkhuni itu berkata aku akan tiba disana sesudah satu
hari perjalanan. Namun perjalanan hari itu membawaku melewati perbatasan yang terlarang. Aku
terpaksa melewati perbatasan kembali untuk berbalik ke Chörten Niyama, apakah aku harus
56
memaksakan diri melanjutkan perjalanan ke desa itu? Jika hal itu memang sudah diketahui,
tidakkah aku seolah diusir dari Sikkim? Sebenarnya tidak ada keraguan untuk memulai perjalanan
ke seluruh Tibet. Namun aku sama sekali tak punya persiapan akan hal ini, dan sebab tujuanku
cuma untuk melakukan kunjungan singkat kepada seorang ahli ilmu gaib, maka kupikir tak pantas
kukorbankan peluangku untuk melanjutkan penelitian tentang orang-orang Tibet di sekitar
pegunungan Himalaya.
Maka, kuputuskan untuk pulang sesudah meninggalkan sebuah hadiah untuk para bhikkhuni dan satu
lagi untuk dikirimkan kepada lhama dari Tranglung itu.
Penyesalanku pada akhirnya terhapuskan. Dua tahun kemudian aku bertemu dengan si ngagspa
dan beberapa kali menjadi tamunya di Tranglung.
Musim gugur telah tiba, salju mulai memasuki daerah perbatasan, menghabiskan malam di tenda
mulai menyusahkan. Kembali aku melintasi garis perbatasan dan sangat gembira mendapatkan
diriku di dalam sebuah rumah, disamping perapian.
Rumah itu yaitu salah satu dari beberapa bungalow yang didirikan pemerintah Inggris untuk para
pengelana asing, di sepanjang jalan di India dan di negara tetangga yang berada di bawah
pengawasan Inggris. Terima kasih pada mereka, perjalanan-perjalanan berat yang membutuhkan
waktu yang panjang, dengan mudah dapat terselesaikan.
Bungalow Thangu, yang berada di ketinggian 12.000 kaki dan sekitar 14 mil dari perbatasan Tibet,
berdiri di tempat sepi yang indah dan dikelilingi hutan yang lebat.
Aku merasa sangat nyaman tinggal di sana, dan tak berkeinginan untuk buru-buru kembali ke
Gangtok atau Podang. Sepertinya tak ada lagi yang bisa kupelajari dari para lhama yang selama
ini menjadi sahabatku. Mungkin jika situasi normal, aku telah pergi ke Cina atau Jepang, namun
perang yang mulai berkecamuk di Eropa saat aku berangkat ke Chörten Nyima, membuat
perjalanan menyeberangi lautan yang dipenuhi kapal selam menjadi cukup berbahaya.
saat sedang menimbang-nimbang akan kemana melewati musim dingin, sesudah beberapa hari
di Thangu, aku mengetahui sang gomchen dari Lachen sedang berada di tempat pertapaannya,
setengah hari perjalanan dari bungalow ini.
Aku segera memutuskan untuk mengunjunginya. Ekskursi ini pasti akan sangat menarik.
Bagaimana rupa ‘gua dengan sinar jernih’ seperti yang dikatakannya itu, dan bagaimana bentuk
kehidupan yang ia jalani? – aku sangat ingin tahu.
Saat pergi ke Chörten Nyima, aku telah mengirim kudaku kembali dan melanjutkan perjalanan
dengan yak. Aku berencana menyewa seekor kuda di Lachen untuk membawaku kembali ke
Gangtok nantinya. Melihat aku tak punya kuda, penjaga bungalow berniat membawa binatang
peliharaannya ke sini. Kuda ini, katanya, langkah kakinya sangat mantap dan mampu mendaki
tebing yang curam sehingga dapat mengantarku ke gua sang gomchen dengan lancar.
Aku menerima usulnya, dan keesokkan harinya aku menunggangi seekor kuda kecil, namun tak
begitu jelek, dengan jubah berwarna merah.
Kuda biasanya dikekang dan dipukul namun tidak demikian dengan yak, saat seseorang
menunggangi yak, kedua tangannya bebas. Aku telah terbiasa dengan hal ini, dan sambil
memikirkan hal lain, aku pun mengenakan sarung tangan dan lupa memegang tali kekangnya, yang
seharusnya kulakukan, apalagi aku belum mengenal sifat kuda ini.
Saat masih melamun, hewan ini mengangkat kaki depannya dan menendang ke udara, aku
57
terlempar dan jatuh ke tanah, untungnya tanah berumput, di bawah jalan. Lemparan yang keras itu
sempat membuatku tak sadarkan diri.
saat sadar, aku tak sanggup bangun sebab didera rasa sakit yang hebat di punggungku.
Sementara kuda itu, sesudah tendangan keras ini ia tidak pergi meninggalkan tempatnya.
Diam seperti seekor anak domba, dengan kepala menghadap padaku, memperhatikan dengan
seksama orang-orang yang sibuk melihat keadaanku yang lalu membawaku ke kamarku.
Penjaga bungalow itu sangat sedih melihat keadaanku.
“Kuda ini tidak pernah bersikap demikian, sungguh. Dia itu tidak jahat,” katanya. “Saya tidak
mungkin menawarkan padamu jika tidak yakin. Saya telah menungganginya selama beberapa
tahun.
“Perhatikan, saya akan menaikinya sebentar.”
Lewat jendela aku perhatikan kuda itu masih diam di tempatnya.
Tuannya mendekati, berbicara padanya, memegang tali kekang, meletakkan kakinya di pijakkan
dan naik ke atasnya, namun bukan ke sadelnya, melainkan ke udara, dimana sebuah tendangan
yang jitu telah melemparkannya.
Tak seberuntung aku, ia jatuh di batu.
Orang-orang berlarian untuk menolongnya. Dia terluka parah di kepala, darah mengalir. Namun
syukur ia tak mengalami patah tulang.
Di antara erangannya, dalam perjalanan pulang ke rumah, dia terus menerus mengatakan: “Tidak
pernah, kuda ini tidak pernah bertingkah demikian.”
Ini benar-benar mengejutkan, pikirku, sembari berbaring dengan kaku di ranjangku.
Saat aku masih memikirkan kejadian aneh pada kuda yang seharusnya jinak, juru masakku masuk:
“Nona yang terhormat, ini tidak wajar,” katanya. “Saya telah bertanya pada pelayan si penjaga
bungalow. Majikannya berbicara yang sebenarnya, kuda itu memang selalu baik. Sang gomchen
pasti punya andil dalam semua ini. Beliau itu dikelilingi makhluk halus.
“Jangan pergi ke pertapaannya. Kemalangan akan menimpamu. Kembalilah ke Gangtok. Saya
akan mencarikan sebuah kursi dan para pengangkat barang jika Anda tak bisa duduk di punggung
kuda.”
Orang-orangku yang lain menyalakan dupa dan lampu altar. Yongden, yang saat itu berusia lima
belas tahun, menangis di sudut ruangan.
Keseluruhan keadaan ini membuatku merasa seolah-olah aku sedang sekarat. Aku mulai tertawa.
“Kemari, kemari, saya belum mati,” kataku. “Para setan tak melakukan apapun pada kuda itu.
Gomchen itu bukan orang jahat, kenapa kamu takut padanya? Siapkanlah makan malam,
kemudian kita semua pergi tidur. Besok baru kita pikirkan langkah selanjutnya.”
Dua hari kemudian, sang gomchen, sesudah mengetahui kecelakaan yang kualami, mengirimkan
seekor kuda betina hitam untuk membawaku ke tempatnya.
Tidak ada insiden yang mewarnai perjalanan ini. sesudah melewati jalan hutan yang dikelilingi
pepohonan tinggi, aku sampai di kaki pegunungan yang terbuka, curam dan tandus, yang
58
puncaknya dilapisi batu-batu hitam.
Tak berapa jauh dari sana, beberapa bendera menandai tempat pertapaan ini .
Sang lhama turun separuh jalan untuk menyambutku. Kemudian dia menuntunku berputar melalui
jalan setapak yang cukup berangin, bukan ke tempat tinggalnya, melainkan ke sebuah tempat
pertapaan lain kira-kira satu mil di bawah tempat pertapaannya.
Dia sudah menyiapkan satu poci besar teh mentega dan sebuah perapian yang menyala di tengah-
tengah ruangan.
Kata ruangan mungkin dapat menyebabkan kesalah pahaman, sebab tempat itu bukanlah sebuah
rumah, hanya gua kecil yang dibatasi dinding batu tak bersemen dengan dua celah berukuran
kurang dari sepuluh inci yang berfungsi sebagai jendela. Beberapa papan, yang dikapak dengan
kasar, diikat menjadi satu dengan kulit pohon, dan membentuk sebuah pintu.
59
Tempat pertapaanku di Lachen
60
Gomchen dari Lachen.
61
Aku berangkat dari Thangu agak terlambat, sehingga saat tiba di tempat pertapaan hari sudah
senja.
Para pelayanku membentangkan selimutku di atas batu yang kosong, dan sang gomchen
membawa mereka untuk tidur di pondok yang katanya terletak di samping guanya.
Ditinggal sendiri, aku melangkah keluar dari ‘sarang’ku. Saat itu tak ada bulan. Aku hanya dapat
melihat samar-samar lapisan gletser putih di ujung lembah, dan puncak gunung di atas kepalaku
yang menjulang ke langit berbintang. Di bawahku, terbentang lapisan kabut kegelapan dimana dari
sana terdengar aliran air deras yang menderu-deru. Aku tak berani melangkah terlalu jauh sebab
jalan setapak itu hanya cukup untuk kaki berpijak. Aku harus menunda eksplorasi yang lebih jauh
hingga esok hari.
Aku masuk kembali dan berbaring. Aku baru saja bergulung di balik selimut saat lampu mulai
berkerlip dan kemudian padam. Para pelayan rupanya telah lupa mengisi lentera dengan minyak
lampu. Aku tak punya korek api dan sebab belum mengenal dengan baik tempat tinggal
prasejarahku ini, aku tak berani bergerak sebab bisa-bisa terluka oleh bebatuan yang tajam.
Semilir angin dingin mulai menyapa dari ‘jendela’ dan membunyikan pintu. Sebuah bintang
mengintip dari celah di depan dipan pertapaanku. Ia seakan berkata:
“Kamu merasa nyaman? Bagaiman kehidupan pertapa menurutmu?”
Sungguh, kerlipan mengejeknya benar-benar menyindirku!
“Ya, aku baik-baik saja,” jawabku. “Seribu kali lebih baik dari ‘baik-baik saja’… sangat menarik,
dan kurasa kehidupan pertapa, yang terbebas dari apa yang kita sebut ‘harta benda dan
kesenangan duniawi’, yaitu yang paling luar biasa dibanding kehidupan yang lain.”
Dan kemudian bintang itu meninggalkan ejekannya. Dia kemudian bersinar lebih terang dan
membesar, hingga menerangi seluruh gua.
“Jika aku diperbolehkan meninggal di pertapaanku ini, maka tercapailah semua harapanku,”[34]
kata bintang itu, mengutip syair suci Milarespa, dan sebuah ekspresi keraguan mengiringi nada
suaranya.
Keesokkan harinya aku pergi ke atas untuk mengunjungi pertapaan sang gomchen.
Tempat ini juga sebuah gua, namun lebih besar dan dilengkapi dengan perabotan yang lebih
banyak dibandingkan tempatku. Seluruh ruangan di bawah lengkungan atap batu ini dikelilingi dinding
dari batuan tanpa semen dan dilengkapi pintu yang kuat. Ruang masuk ini berfungsi sebagai ruang
makan. Di belakangnya, sebuah celah alami dari sebuah batu membentuk sebuah gua mini. Di
sanalah ruang duduk sang gomchen. Sebuah tangga kayu membawa ke pintu masuk sebab
letaknya yang lebih tinggi dari dapur, sebuah tirai beraneka warna menghalangi jalan ke pintu. Tak
ada celah sebagai ventilasi di bilik ini; sebuah retakan di bebatuan dimana udara dapat
memasukinya ditutup dengan panel kaca.
Perabotannya terdiri dari beberapa peti yang disusun di balik sebuah tirai yang membentuk bagian
belakang dari tempat tidur sang pertapa, yang berupa sebuah bantalan besar dan keras yang
diletakkan di lantai. Di depan peti-peti itu terdapat dua buah meja rendah dan dicat berwarna
terang.
62
Di bagian belakang gua kecil ini, di atas sebuah altar, diletakkan barang persembahan seperti
biasanya: beberapa mangkok tembaga yang berisi air, biji-bijian, dan lampu mentega.
Gulungan lukisan religius memenuhi seluruh bagian dinding batu yang tak rata ini. Di balik salah
satu lukisan, tersembunyi sebuah laci tempat para lhama dari sekte tantrik memenjarakan sesosok
makhluk halus.
Di luar gua, setengah terlindung di balik bebatuan yang menjulang, telah dibangun dua kabin
sebagai tempat penyimpanan perbekalan bahan makanan.
Seperti yang dapat anda lihat, tempat tinggal sang gomchen cukup nyaman.
Sarang di celah gunung yang tinggi ini benar-benar membuat tempat ini menjadi terpencil dan
indah. Para penduduk setempat menganggap tempat ini dihuni roh-roh jahat. Mereka berkata
bahwa beberapa pria yang pernah datang mencari ternaknya atau bekerja sebagai penebang pohon
mengalami kejadian aneh yang kadang membawa akibat yang fatal.
Tempat yang demikian memang sering dijadikan tempat tinggal bagi para pertapa Tibet. Pertama,
mereka mendapatkan tempat yang cocok untuk latihan spiritual. Kedua, di sana, mereka berpikir
akan menemukan kesempatan untuk menggunakan kekuatan magis mereka untuk kebaikan
manusia dan hewan, baik dengan mengubah sifat jahat roh-roh setan, ataupun mencegah aktifitas-
aktifitas jahat mereka – setidaknya, demikian pendapat orang-orang berpemikiran sederhana
tentang kemurahan hati ‘orang-orang suci’ ini.
Tujuh belas tahun sebelumnya, sang lhama yang dipanggil orang-orang gunung dengan sebutan
Jowo gomchen (Tuan pertapa kontemplatif) membangun sendiri guanya. Lalu perlahan-lahan para
bhikkhu dari biara Lachen memperbaikinya hingga seperti yang kulukiskan di atas.
Mula-mula sang gomchen tinggal dalam penyepian total. Penduduk desa yang membawakan
bahan makanan meletakkan pemberian mereka di depan pintu dan beristirahat tanpa pernah
melihatnya. Tempat pertapaan itu terisolir selama tiga atau empat bulan setiap tahun, sebab salju
menghalangi lembah yang menuju ke sana.
Saat berangsur tua, ia tinggal dengan seorang anak lelaki sebagai pembantunya, dan saat aku
datang dan tinggal di bawah guanya, dia membawa istrinya tinggal bersamanya. sebab dia yaitu
pengikut ‘sekte topi merah’ sang gomchen tak harus hidup tanpa menikah.
Telah seminggu aku tinggal di gua dan setiap hari aku mengunjungi sang gomchen. Walaupun
pembicaraannya benar-benar menarik, aku lebih tertarik untuk memperhatikan pola hidup sehari-
hari seorang pertapa Tibet.
beberapa kecil orang barat, semisal Csöma de Köros atau Pendeta Perancis Huc dan Gabet
pernah berkunjung ke biara kaum Lhamais, namun tak seorang pun pernah hidup dengan kaum
gomchen ini, dan banyak hal fantastis yang dapat diceritakan dari kehidupan mereka.
Ini yaitu alasan yang cukup ‘menghasutku’ untuk menetap di dekat sang gomchen, ditambah
dengan keinginanku yang kuat untuk mengalami kehidupan kontemplatif menurut metode kaum
Lhamais.
Namun bagaimanapun, keinginanku saja tidak cukup, aku masih butuh persetujuan dari sang
lhama. Jika ia tak merestuinya, aku takkan mendapat keuntungan apapun tinggal di dekat
pertapaannya. Dia akan menutup diri dan aku hanya akan dapat melihat dinding batu dimana di
baliknya ‘sesuatu sedang terjadi’.
63
Maka kemudian aku mengemukakan keinginanku kepada sang lhama dengan tata cara yang
sesuai dengan kebiasaan orang Timur. Aku memohon agar ia mengajarkanku doktrin yang ia miliki.
Dia menolak dengan mengatakan pengetahuannya masih belum cukup luas dan tak ada gunanya
bagiku tinggal di daerah yang demikian tak ramah untuk mendengarkan seorang yang bodoh, di
saat aku memiliki kesempatan untuk berbicara panjang lebar dengan para lhama terpelajar di
tempat lain.
Aku tetap berkeras, akhirnya, dia menyetujui keinginanku, namun bukan sebagai murid, melainkan
hanya percobaan sebagai pemula, untuk waktu tertentu.
Aku baru akan berterima kasih padanya, saat ia menginterupsiku.
“Tunggu,” katanya, “ada satu syarat; kamu harus berjanji padaku bahwa kamu takkan kembali ke
Gangtok, ataupun menempuh perjalanan ke selatan tanpa persetujuanku.”[35]
Petualangan ini akan sangat menarik. Keanehannya membangkitkan rasa antusiasku.
“Saya berjanji,” aku menjawab tanpa ragu.
Sebuah kabin yang kasar ditambahkan ke guaku. Seperti kepunyaan sang gomchen, kabin ini juga
dibuat dari kayu yang dikampak secara kasar. Orang di negara ini tak tahu bagaimana
menggunakan gergaji, dan saat itu, keinginan belajar pun tak ada.
Dalam jarak beberapa yard, dibangun lagi satu pondok sebagai tempat tinggal Yongden dan para
pelayan kami..
Aku mengalami kesulitan dalam mengambil air dan minyak dan saat membawa beban-beban ini ke
guaku. Yongden, yang baru saja meninggalkan sekolah, juga tak lebih berpengalaman dariku dalam
mengerjakan hal-hal ini. Kami tak mampu melakukan tanpa bantuan para pelayan, oleh sebab itu
sebuah gudang berikut jumlah perbekalan yang cukup, amat sangat kami perlukan sebab kami
harus menghadapi musim dingin yang panjang dan selama itu kami sepenuhnya terisolasi.
Hal-hal ini sebenarnya merupakan masalah kecil bagiku, namun di saat aku sedang membuat
‘debut’ku untuk berperan sebagai seorang pertapa, putraku itu masih berada dalam masa magang
sebagai seorang penjelajah.
Hari-hari pun berlalu. Musim dingin tiba, menebarkan jubah salju yang demikian rapi di seluruh
negeri, dan seperti yang sudah dibayangkan, menghalangi jalan setapak di lembah yang menuju ke
gunung kami.
Sang gomchen menutup diri untuk penyepian yang panjang. Demikian pula aku. Makanan satu kali
sehariku diletakkan di balik tirai di pintu masuk gua. Anak lelaki yang meletakkannya dan kemudian
mengambil kembali piring kosong, melakukannya tanpa suara, tanpa pernah melihatku.
Kehidupanku bagaikan kaum Carthusian tanpa adanya perubahan suasana yang biasanya mereka
peroleh saat menghadiri kebaktian keagamaan.
Seekor beruang muncul untuk mencari makanan, dan sesudah rasa terkejut dan tantangan sudah
berlalu, tumbuh kebiasaannya untuk datang dan menunggu roti atau makanan lain yang dilemparkan
padanya.
Akhirnya, menjelang awal April, seorang anak lelaki memperhatikan ada titik hitam yang bergerak
di lembah luas di bawah kami, dan ia berteriak: “Ada orang!” persis seperti penunjuk jalan jaman
dulu yang berteriak: “Ada daratan di depan!” Kami tak terisolasi lagi; surat-surat yang telah ditulis
64
lima bulan lalu di Eropa pun tiba.
Kemudian tibalah musim semi yang berawan di pegunungan Himalaya. Sembilan ratus kaki di
bawah guaku, rhododendron bermekaran. Aku mendaki punggung gunung menuju puncak.
Perjalanan panjang ini membawaku ke sebuah lembah terpencil yang dihiasi danau yang jernih.
Kedamaian, kedamaian!…. Pikiran dan indera mengembangkan kepekaannya dalam kehidupan
yang kontemplatif ini, yang dihasilkan dari observasi dan refleksi yang panjang. Apakah seseorang
menjadi berimajinasi lebih tinggi, atau, mungkin lebih tepatnya, seseorang sebelumnya telah
dibutakan?….
Beberapa mil ke utara, di luar barisan paling ujung dari pegunungan Himalaya, dimana awan-awan
musim hujan di India tak dapat melintas, matahari di langit biru menyinari seluruh dataran tinggi
Tibet. Namun di sana, musim panas itu senantiasa hujan, dingin, dan pendek. Di bulan September,
salju yang kuat itu telah menutupi dataran tinggi di sekitar dan sesudah nya penahanan tahunan kami
pun dimulai.
Sungguh luar biasa buah dari penyepianku yang panjang. Aku tak mampu mengekspresikannya
dengan kata-kata, namun aku tahu aku telah mempelajari banyak hal.
Selain mempelajari bahasa Tibet melalui bantuan ilmu tata bahasa, kamus-kamus, dan berbincang
dengan sang gomchen, aku juga membaca bersamanya tentang kehidupan kaum mistik terkenal
Tibet. Dia sering menghentikan pembacaan untuk menceritakan padaku fakta-fakta yang ia alami
sendiri, menyangkut hal yang sama dengan cerita yang ditulis di artikel . Dia akan menggambarkan
orang-orang yang ia kenal, mengulang kembali pembicaraan mereka dan menceritakan padaku
tentang kehidupan mereka. Sehingga, saat sedang duduk di kabinnya atau di kabinku, aku seperti
mengunjungi istana para lhama yang makmur, memasuki tempat penyepian banyak pertapa, aku
berkelana sepanjang jalan, bertemu dengan orang-orang yang menarik. Dengan cara itu, aku
menjadi semakin mengenal Tibet, para penduduknya, kebiasaan dan pola pikir mereka: Ilmu yang
sangat berharga yang kelak memberikan banyak manfaat bagiku.
Aku tak pernah membiarkan diriku terbius ilusi bahwa tempat pertapaanku akan menjadi pelabuhan
terakhir bagiku. Banyak hal yang merintangi keinginanku untuk tetap tinggal dan beristirahat di
sana, sekali dan untuk selamanya, banyak ide-ide bodoh yang membebaniku, perhatian dan tugas
rutin, sebagaimana orang-orang barat yang lain, aku masih membiarkan diriku untuk terikat pada
hal-hal itu.
Aku menyadari bahwa kehidupan sebagai seorang gomchen yang sedang kujalani, hanya akan
menjadi satu episode dari pengembaraanku, atau yang terbaiknya, menjadi persiapan bagi
kebebasan yang akan datang.
Dengan sedih, dan hampir ketakutan, aku sering memandangi jalan kecil laksana benang yang
berkelok ke bawah, berangin di lembah dan menghilang di antara pegunungan. Hari itu akan
datang dimana jalan itu akan membawaku kembali ke dunia yang menyedihkan yang terbentang di
luar barisan perbukitan, dan memikirkan hal itu, rasa duka yang tak terlukiskan menderaku.
Terlepas dari alasan-alasan yang lebih penting, ketidakmungkinan untuk mempertahankan para
pelayanku lebih lama lagi di tempat yang sepi ini, memaksaku untuk meninggalkan tempat
pertapaanku. Namun, sebelum berpisah sekali lagi dengan Tibet, aku berharap dapat mengunjungi
satu dari dua pusat keagamaan yang terbesar: Shigatze, yang sudah tak jauh lagi.
Biara Tashilhunpo yang terkenal itu terletak di dekat kota kecil ini. Biara ini yaitu tempat tinggal
seorang Lhama Besar yang dipanggil dengan sebutan Tashi Lhama oleh orang-orang asing. Orang
65
Tibet menyebutnya Tsang Penchen Rimpoche, ‘orang terpelajar yang berharga dari propinsi
Tsang’. Dia dianggap titisan dari Ödpagmed, Sang Buddha mistik dari cahaya tanpa batas, dan di
saat yang sama, sebagai reinkarnasi dari Subhuti, seorang siswa terkemuka Sang Buddha yang
historik. Dari sudut pandang spiritual, peringkatnya setara dengan Dalai Lhama. Namun sebagai
jiwa, di dunia ini, kekuatan sementara selalu diutamakan, sehingga kekaisaran Dalai Lhama di
Tibet yaitu sang penguasa.
Dengan melihat akibat-akibat yang mungkin terjadi di perjalanan ini, aku menunda memulai
perjalanan ke Shigatze hingga aku merasa benar-benar siap meninggalkan Himalaya.
Aku berangkat dari tempat pertapaanku menuju Chörten Nyima, tempat yang pernah kutinggali
sebelumnya. Dari sini aku menuju Shigatze ditemani Yongden dan seorang bhikkhu yang harus
berpura-pura sebagai pelayan kami. Kami bertiga menaiki kuda. Barang bawaan kami
ditempatkan di tas sadel kulit yang besar, sebagaimana kebiasaan di Tibet. Seekor bagal
(persilangan antara keledai jantan dengan kuda betina) membawa dua tenda dan perbekalan kami.
Tempat yang dituju sebenarnya tak terlalu jauh. Seseorang dapat menempuhnya dengan mudah
dalam empat hari. Namun aku berkeinginan untuk menempuh perjalanan ini selambat mungkin
sehingga aku tak kehilangan satu pun hal-hal menarik di sepanjang perjalanan, dan lebih dari itu,
aku berharap untuk dapat menyerap ke dalam jiwa dan ragaku sebanyak mungkin tentang Tibet
yang hatinya pada akhirnya hampir dapat kuselami, namun mungkin takkan pernah kulihat lagi.
Saat kunjungan pertamaku (kembali) ke Chörten Nyima, aku berkesempatan bertemu dengan putra
sang lama ngagspa yang menerbangkan kue ritual ke udara untuk menghukum tetangganya yang
tak patuh, dan aku kemudian diundang, jika keadaan memungkinkan, untuk mengunjunginya.
Tranglung, desa tempat tinggalnya, tak berada di jalur yang akan kulewati menuju Shigatze, namun
seperti yang kukatakan tadi, aku berkeinginan untuk mengambil manfaat dari setiap kesempatan
untuk melihat hal-hal menarik yang mungkin kuperoleh dari petualanganku di tanah terlarang ini.
Kami mencapai Tranglung saat hari sudah senja. Desa itu agak berbeda dari semua tempat yang
dibangun orang Tibet di pegunungan Himalaya. Sangat mengherankan menemukan hal-hal yang
sangat kontras dalam jarak yang tidak terlalu jauh. Bukan hanya dinding batu yang tinggi berbeda
dengan pondok-pondok kayu dengan atap jerami yang sudah biasa kulihat di Sikkim, namun juga
cuaca, tanah, pemandangan, penampilan orang-orang, dan penampakan umum, semua telah
berubah. Aku benar-benar telah berada di Tibet.
Kami menemukan ahli ilmu gaib itu tengah berada di kapel pribadinya, sebuah ruangan besar
tanpa jendela, yang hampir tak memiliki penerangan cukup dari atap. Dan di dekatnya terdapat
beberapa pria yang sedang ia bagikan semacam jimat yang ditaruh di dalam sebuah mainan mirip
kepala babi, terbuat dari tanah liat merah muda dan dibungkus benang wool dalam berbagai
warna.
Para petani itu mendengarkan dengan cermat semua instruksi sang lhama yang tak berkesudahan
tentang bagaimana menggunakan benda ini.
saat mereka sudah pergi, sang tuan rumah - lhama, dengan senyum ramah, mengundangku
minum teh bersamanya. Perbincangan panjang pun dimulai. Aku sangat ingin menanyakan tentang
kue terbang itu, namun sebuah pertanyaan yang langsung sangat menyalahi aturan kesopanan di
Tibet.
Selama beberapa hari aku tinggal di sana, aku diceritakan tentang kejadian dalam rumah tangga
yang unik dan aku agak tersanjung sebab menjadi tempat konsultasi seorang ngagspa otentik.
66
Di sini, sebagaimana juga di kebanyakan keluarga di Tibet Pusat, berlaku praktek poliandri. Di hari
pernikahan putra tertua sang lhama, nama semua saudara lelakinya juga tercantum dalam surat
pernikahan dan si gadis muda telah menyetujui untuk menerima semua sebagai suaminya.
Dalam kebanyakan kasus, sebagian dari para pengantin pria ini masih anak-anak, yang
tentunya, belum diberitahu. Dengan demikian, mereka dinikahkan secara tidak sah.
Sementara itu, ngagspa dari Tranglung ini memiliki empat putra. Aku tak diberitahu bagaimana
pemikiran putra kedua tentang kerjasamanya dengan putra pertama. Dia sedang melakukan
perjalanan dan sepertinya semua baik saja baginya.
Putra ketiga, yang secara pribadi kukenal, juga sedang bepergian. Dialah yang menjadi perusak
kedamaian keluarganya.
Dia jauh lebih muda dari kedua kakak lelakinya, masih berumur dua puluh lima tahun, dan dia
sepenuhnya menolak memenuhi kewajibannya dalam ikatan pernikahan dengan istri bersama itu.
Wanita itu sungguh kurang beruntung, sebab suami nominal ini sangat jauh lebih menarik dibandingkan
kedua kakak lelakinya, bukan hanya wajahnya lebih tampan, namun dia juga mengungguli mereka
dalam status sosial, kefasihan berbicara, terpelajar, dan mungkin juga dalam berbagai bidang lain
yang tak kutahu.
Sementara kedua kakak lelakinya cuma petani kaya, si putra ketiga ini menyenangi keterikatan
yang bergengsi di Tibet, yakni profesi kependetaan. Dia seorang lhama, dan lebih dari seorang
lhama biasa, dia seorang naljorpa yang memprakarsai doktrin-doktrin gaib, dia berhak memakai
topi mistik tantrik yang bersudut lima dan rok putih dari para respa yang mahir dalam tumo, seni
menjaga rasa hangat tanpa api bahkan dalam cuaca yang paling dingin.[36]
Suami yang istimewa inilah yang menolak memenuhi bagiannya dan istri yang ditolak ini tak mau
berpasrah diri menerima penghinaan.
Yang memperburuk masalah yaitu sang lhama muda ini tengah berpacaran dengan seorang
gadis dari salah satu desa tetangga dan bermaksud menikahinya.
Hukum di negara ini memang mengizinkannya berbuat demikian, namun jika ia bersikeras untuk
menikah, dia akan merusak keutuhan keluarganya, dan suami muda ini diharuskan meninggakan
rumah ayahnya dan membangun rumah yang baru untuk istrinya. Putra pende












