ta dari tuan rumahku
ini sebenarnya tak lari dari semua tanggung jawab, bahkan ia sangat yakin akan mempu
membangun rumah yang layak dari penghasilannya sebagai seorang ahli ilmu gaib.
Namun dengan berbuat demikian, bukankah ia akan menjadi rival ayahnya? Walaupun sang lhama
tua tak mengemukakan pikirannya, namun aku dapat membaca ekspresi di wajahnya bahwa ia
takut untuk berkompetisi dengan putra keras kepalanya yang menolak untuk menyenangkan
seorang wanita empat puluh tahun yang sehat dan kuat, dan mungkin juga tak begitu jelek.
Aku tak dapat memperdebatkan hal ini sebab ciri-ciri sang istri tersembunyi di balik lapisan
mentega yang tebal dan jelaga, yang membuatnya sehitam orang negro.
“Apa yang harus dilakukan di dunia ini?” keluh ibu yang sudah tua dari keluarga ini.
Aku tak berpengalaman dalam hal yang demikian. Walau aku pernah bertemu dengan wanita
berpoliandri di Barat, namun sesuai peraturan, tak ada pertemuan keluarga untuk menyelesaikan
keruwetan yang timbul akibat skandal mereka. Dan di sepanjang perjalananku, aku hanya pernah
67
dimintai nasehat oleh seorang pria berpoligami yang rumahnya telah menjadi arena peperangan.
sebab poligami juga diizinkan di Tibet, maka aku mengusulkan untuk membujuk sang lhama muda
agar membawa pengantinnya tinggal di rumah.
Untunglah, saat itu aku mengenakan jubah biara yang terhormat, yang dapat mencegah istri yang
pencemburu dan telah diremehkan itu, menyerang diriku.
“Nona yang terhormat,” kata si ibu tua sambil menangis, “Anda tidak tahu bahwa menantu kami
pernah ingin mengirim pelayannya untuk memukul anak gadis itu dan menodainya. Kami berusaha
keras mencegahnya melakukan hal itu. Bayangkan, jika orang dalam peringkat kami melakukan hal
yang demikian! Kami takkan dihormati lagi!”
Aku tak dapat berkata-kata lagi, kemudian kukatakan bahwa sudah tiba waktu meditasi malamku
dan aku meminta izin untuk beristirahat di kapel pribadi yang dipinjamkan sang lhama padaku untuk
bermalam.
Saat aku meninggalkan ruangan, aku sempat memperhatikan putra termuda, seorang jejaka
delapan belas tahun, suami nomor empat. Dia sedang duduk di sudut yang gelap dan tengah
memandangi istri milik umum itu dengan setengah tersenyum, seolah-olah ia berkata: “Tunggu
sebentar lagi, wanita tua, aku punya sesuatu yang lebih buruk untukmu.”
Hari-hari berikutnya, aku mengembara dari satu desa ke desa lain, bermalam di rumah-rumah
petani. Aku tak berusaha menyembunyikan identitasku sebagaimana yang harus kulakukan sesudah
ini, yakni saat dalam perjalanan menuju Lhasa. Sepertinya tak seorang pun memperhatikan bahwa
aku yaitu orang asing, atau, bisa jadi tak seorang pun yang merasa penting akan hal itu.
Perjalananku ternyata melewati sebuah biara bernama Patur yang berukuran cukup besar jika
dibandingkan dengan yang ada di Sikkim. Salah seorang petugas biara mengundang kami untuk
ikut serta dalam jamuan makan di aula yang gelap dimana kami dengan senang hati bergabung
dengan beberapa biarawan.
Kecuali gedung kokoh dengan tinggi beberapa tingkat, tak satu pun hal di sana yang sama sekali
baru bagiku. Namun bagaimanapun, aku memahami bahwa Lhamaisme yang kuteliti di Sikkim
hanya refleksi yang kabur dari apa yang ada di Tibet.
Aku sebelumnya membayangkan, negeri yang terletak di balik Himalaya ini yaitu negeri yang liar,
namun sekarang aku mulai menyadari bahwa negara yang sedang kumasuki ini dihuni oleh orang-
orang yang benar-benar beradab.
Berbagai insiden yang terjadi di perjalanan kami antara lain, saat hendak menyeberangi sungai
Chi, yang meluap akibat hujan dan salju yang mencair, kami terpaksa minta bantuan tiga orang
penduduk desa untuk menyeberangkan kuda kami satu persatu.
Di luar batas desa yang disebut Kuma, terbentang jalan setapak yang panjang di daerah gurun.
Sesuai gambaran salah seorang pelayan kami yang mengenal dengan baik jalan ini, aku berharap
dapat berkemah di dekat sumber mata air panas, mandi dengan air panasnya dan tidur di tanah
yang hangat. Badai yang datang tiba-tiba memaksa kami memasang tenda sebelum sampai di
surga yang diidamkan. Badai pertama menyerang kami, dan salju mulai turun dengan lebat
sehingga tak lama kemudian sudah mencapai lutut. Sungai kecil terdekat mulai meluap hingga ke
tenda kami. Aku terpaksa melewati malam tanpa makan dan kebanyakan sambil berdiri di setitik
pulau kecil di bawah tendaku yang tak dimasuki lumpur. Keterlaluan sekali untuk tidur nyaman yang
kubayangkan.
68
Akhirnya, di sebuah tikungan jalan dimana aku berhenti sebentar untuk memperhatikan seorang
pemabuk yang berlumuran debu, mataku sesaat terpaku pada sebuah pemandangan indah.
Dalam kemilau kebiruan, biara Tashilhunpo yang maha besar berdiri di kejauhan: sebentuk
bangunan putih bermahkotakan atap emas yang memantulkan sinar temaram matahari yang
sedang terbenam.
Tujuanku telah tercapai.
Timbul satu ide ganjil dalam pikiranku. Bukannya mencari penginapan di kota untuk bermalam, aku
malah menyuruh salah satu pelayanku menemui sang lhama yang bertanggung jawab melayani
para pengunjung atau pelajar dari Propinsi Kham. Bagaimana mungkin seorang pengembara
wanita asing, yang tak dikenalnya, dapat menarik perhatiannya, dan apa pula alasan wanita itu
meminta jasa baiknya? Aku belum sempat menanyakan pada diriku sendiri pertanyaan-pertanyaan
ini. Aku hanya bertindak secara spontan dan hasilnya sungguh menakjubkan.
Petugas yang istimewa ini mengirim seorang trapa untuk memesan dua ruangan di satu-satunya
rumah di samping biara. Disanalah aku tinggal.
Esoknya, sesuai dengan protokoler, permintaan untuk bertemu dengan Tashi Lhama pun dimulai.
Aku harus memberikan detil dari negara asalku dan memuaskan mereka dengan menyebut tempat
kelahiranku bernama Paris.
Paris yang mana? – Di sebelah selatan kota Lhasa ada sebuah desa bernama Phagri, yang
dibaca Pari. Aku menjelaskan bahwa ‘parisku’ terletak cukup jauh dari ibukota Tibet dan di daerah
Barat, namun aku menekankan pada satu hal, bahwa seseorang yang berangkat dari Tibet, dapat
tiba di negaraku tanpa harus menyeberangi lautan, sehingga aku bukan seorang Philing (orang
asing). Ini sebuah permainan akan makna kata philing yang secara harafiah berarti sebuah daratan
di seberang lautan.
Aku sudah cukup lama berada di sekitar Shigatze sehingga mustahil untuk tak dikenal di sana, lagi
pula, kenyataan bahwa aku pernah hidup sebagai seorang pertapa membuatku agak terkenal di
negara itu. Dengan sesaat aku segera diterima dan ibunda Tashi Lhama mengundangku untuk
menjadi tamunya.
Aku mendatangi setiap sudut biara itu, dan sebagai rasa terima kasih sebab menerimaku dengan
baik, aku menawarkan teh pada beberapa ribu bhikkhu yang tinggal di sana.
beberapa tahun yang telah berlalu dan beberapa kesempatan yang telah kuperoleh, sejak saat itu,
untuk mengunjungi biara-biara besar, atau bahkan untuk tinggal di dalamnya, tak lagi membuatku
terkesan. Saat aku mengunjungi Tashilhunpo, aku benar-benar tersentak akan semua hal yang
kulihat.
Kemegahan zaman primitif berkuasa di seluruh penjuru biara, aula-aula, dan istana dari sang
petinggi. Tak ada deskripsi yang mampu diberikan. Emas, perak, batu pirus, dan permata jade
digunakan dengan boros untuk altar-altar, kuburan, ornamen pintu, perlengkapan ritual dan bahkan
barang-barang yang digunakan sehari-hari oleh para lhama yang kaya itu.
Haruskah kukatakan aku mengagumi semua tampilan kemewahan itu? Tidak, sebab semua itu
kelihatan tak beradab dan kekanak-kanakan: hasil pekerjaan orang-orang besar yang berkuasa
namun belum dewasa.
Kontak pertama dengan Tibet itu seharusnya dapat mengesankanku seandainya saja dalam
benakku belum ada bayangan akan keadaan Tibet yang damai dan tenang serta pemikiran bahwa
69
di negara ini bersembunyi beberapa pertapa suci yang menolak hal-hal yang mencolok, yang di
mata masyarakat mereka merupakan lambang kemuliaan.
Tashi Lhama bersikap sangat baik padaku di setiap pertemuan kami dan melimpahiku dengan
perhatian yang besar. Dia mengetahui dengan jelas dimana Parisku dan melafalkan kata-kata
Perancis dengan aksen Perancis yang sempurna.
Semangatku untuk mempelajari Lhamaisme sangat menyenangkan hatinya. Dia bersedia
membantu penelitianku dengan segala cara. Mengapa saya tidak tinggal di Tibet? Dia pernah
bertanya padaku.
Ya, Mengapa tidak? Keinginan itu tak berkurang, namun aku menyadari betapapun agung dan
terhormat ia di negara ini, Lhama Besar dan ramah ini tak punya kekuasaan sementara yang cukup
untuk memperoleh izin bagiku untuk menetap di Tibet.
Bagaimanapun, jika aku, di saat itu, sebebas saat aku memulai perjalanan ke Lhasa, aku mungkin
terpengaruh untuk mengambil kesempatan ini, mencari sebuah tempat terpencil, dan tinggal dalam
perlindungan yang ditawarkan padaku. Namun aku tak melihat itu sebagai sebuah tawaran. Barang-
barangku, catatan-catatan, beberapa koleksi film negatif (mengapa seseorang harus berpikir bahwa
ini barang-barang yang penting?) tak kubawa serta, sebagian dijaga oleh teman-teman di Kalkuta,
dan sisanya di tempat pertapaanku. Berapa banyak lagi hal yang tersisa bagiku untuk dipelajari,
seberapa besar lagi tranformasi mental yang kubutuhkan agar aku, beberapa tahun lagi, dapat
menjadi seorang pengembara yang bahagia di rimba Tibet.
Saat di Shigatze, aku bertemu dengan para guru yang telah mendidik Tashi Lhama: profesornya di
bidang ilmu pengetahuan sekuler dan dia yang telah memperkenalkan Tashi Lhama kepada doktrin
mistik. Aku juga mengenal seorang mistik yang kontemplatif, penuntun spiritual Tashi Lhama, yang
sangat dipujanya, yang – jika kita harus mempercayai cerita tentang beliau ini – mengakhiri
hidupnya, beberapa tahun kemudian, dengan cara yang menakjubkan.[37]
Selama kunjunganku di Shigatze, vihara yang dibangun Tashi Lhama sebagai persembahan
kepada Buddha Maitreya yang akan datang, sang maha belas kasih, sudah hampir selesai.
Aku melihat sebuah patung besar diletakkan di aula dengan beberapa galeri yang memungkinkan
para pemujanya berputar mengitarinya, dimulai dari lantai dasar yang sejajar dengan kakinya,
kemudian naik ke galeri pertama, kedua, dan ketiga, naik ke pinggangnya, bahu, dan kemudian
kepalanya.
Dua puluh orang tukang emas sedang menyelesaikan ornamen-ornamen besar yang akan
digunakan untuk menghiasi Maitreya raksasa itu. Mereka memasang intan permata yang
dipersembahkan para wanita Tsang dari kalangan terhormat, dimulai dari ibunda Tashi Lhama,
yang menyerahkan seluruh batu berharga miliknya.
Aku menghabiskan hari-hari yang menyenangkan di istana Tashi Lhama di Shigatze dan di daerah-
daerah sekitarnya. Aku berbicara dengan beberapa orang dari berbagai karakter. Hal-hal baru yang
kulihat dan kudengar, atmosfer jiwa yang istimewa dari tempat itu, benar-benar memikat hati. Aku
jarang dapat menikmati saat-saat yang demikian diberkahi.
Akhirnya, saat yang menakutkan pun tiba. Sambil membawa artikel -artikel , catatan-catatan, beberapa
hadiah, dan sebuah jubah tanda kelulusan seorang lhama – yang mana Tashi Lhama telah
menganugerahkan semacam gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Tashilhunpo padaku,
aku pun meninggalkan Shigatze, menatap dengan sedih bayangan biara megah itu saat ia
menghilang di tikungan jalan yang sama dimana aku melihatnya pertama kali.
70
Aku pergi ke Narthang untuk mengunjungi usaha penerbitan terbesar di Tibet. Nomor piringan kayu
berukir yang digunakan untuk mencetak berbagai jenis artikel -artikel keagamaan sangat banyak.
Disusun di rak-rak dan berjajar-jajar, kesemuanya memenuhi sebuah gedung yang cukup besar.
Tukang cetak yang bercipratan tinta hingga ke sikunya, duduk di lantai saat bekerja, di ruangan lain
para bhikkhu memotong kertas sesuai ukuran artikel yang hendak dicetak.
Disana tidak ada kesan terburu-buru; bercakap-cakap sambil minum teh mentega dilakukan
dengan bebas. Betapa berbeda dengan suasana tergesa-gesa di ruang percetakan surat kabar
kami.
Dari Narthang, aku pergi mencari petapaan seorang gomchen yang telah berbaik hati mengirimkan
undangan padaku. Aku menemukan kediaman pertapa ini di sebuah tempat terpencil pada sebuah
bukit, di dekat danau Mo-te-tong. Tempat ini berupa sebuah gua yang lapang, dimana ruangan
yang satu dan yang lain saling berhubungan, sehingga kelihatan seperti sebuah benteng kecil.
Gomchen yang sekarang ini yaitu pengganti gurunya, dan gurunya ini sebelumnya menggantikan
ayah spiritualnya sendiri, yang terkenal sebagai seorang ngagspa. Pemberian dari para pemuja
kepada ketiga generasi ngagspa-lhama ini telah terkumpul banyak, di pertapaan ini, yang terdiri
dari beberapa barang yang memberikan rasa nyaman, dengan demikian hidup dapat dilalui dengan
agak menyenangkan; begitulah menurut pandangan seorang Tibet, yang terlahir di alam liar dan
telah terbiasa untuk hidup sebagai seorang pertapa sejak masih muda.
Demikian cerita tentang tuan rumahku. Dia tak pernah pergi ke Lhasa ataupun Shigatze, pun tak
pernah melakukan perjalanan ke tempat-tempat lain di Tibet, dan tak mengetahui apapun dunia
yang ada di luar guanya. Gurunya telah tinggal di sana selama lebih dari tiga puluh tahun, dan saat
ia wafat, pertapa ini pun mengurung dirinya di dalam gua.
Saat mengurung diri di dalam, seseorang harus mengerti bahwa hanya ada satu pintu sebagai jalan
masuk ke tempat pertapaan, dan pintu ini tak pernah didekati sang lhama. Dua ruangan yang lebih
rendah di bawah bebatuan, yang menjadi dapur, gudang, sekaligus ruang pelayan, memberi kesan
sebuah halaman di tempat yang tertutup itu. Di atas ruangan-ruangan ini terdapat sebuah gua yang
merupakan apartemen pribadi sang lhama, yang dapat dicapai dengan tangga dan sebuah pintu
sorong yang ada di lantai. Di kamar ini terdapat sebuah teras kecil, yang juga dikelilingi dinding.
Dengan demikian sang lhama dapat melakukan sedikit olah raga di bawah sinar mentari tanpa
dilihat orang-orang dari luar dan dia pun tak melihat apapun yang di luar kecuali langit di atasnya.
Pertapa ini mengurangi kepengasingannya dengan menerima para tamu dan berbicara dengan
mereka, namun ia menambahkan kekerasan cara pertapaannya dengan tak pernah tidur berbaring
dan melewati malam di sebuah gamti.
Di Tibet terdapat tempat duduk khusus yang disebut gamti (kotak duduk) atau gomti (tempat duduk
untuk meditasi). Keduanya berbentuk kotak persegi, panjang setiap sisi sekitar 25 atau 30 inci dan
salah satu sisinya agak tinggi sebagai sandaran tempat duduk. Di dasar kotak diletakkan bantalan
duduk dimana sang pertapa duduk menyilangkan kaki. Biasanya ia tak membiarkan dirinya
bersandar, dan untuk menopang tubuhnya, saat sedang tidur atau dalam meditasi yang panjang, ia
menggunakan ‘tali meditasi’ (sgomthag), semacam ikat pinggang yang biasanya terbuat dari kain
wool. Tali itu diikat dari bawah lutut hingga ke tengkuk, atau kadang diikat melingkar antara lutut dan
punggung (dalam posisi duduk dengan kedua kaki dilipat seperti dalam posisi berjongkok). Banyak
gomchen yang melewati siang dan malam dengan cara demikian, tanpa sedikitpun merentangkan
atau meluruskan kaki dan tangannya saat tidur.
71
Mereka kadang mendengkur namun tak pernah tertidur lelap, dan selain dari masa mengantuk yang
cukup pendek ini, mereka tak pernah berhenti bermeditasi.
Aku melakukan beberapa perbincangan yang menarik dengan pertapa ini, dan kemudian aku
kembali melanjutkan perjalanan ke daerah perbatasan.
Orang-orang Inggris di Gangtok telah mengirimkan sepucuk surat padaku dengan perantaraan para
petani dari Sikkim yang menyuruhku meninggalkan tanah Tibet. Aku tak mematuhinya sebab aku
ingin mengakhiri perjalananku sebagaimana yang kurencanakan, dan sekarang aku telah mencapai
tujuanku. Dan sebab telah melihat akibat-akibat yang bakal timbul dari invasi yang panjang di
wilayah terlarang itu, aku merasa siap untuk mengucapkan selamat tinggal pada Himalaya.
Saat surat kedua yang memerintahkanku meninggalkan daerah di sekitar perbatasan Tibet tiba,
aku telah dalam perjalanan ke India untuk melakukan tur ke Timur Jauh.
72
BAB TIGA
73
SEBUAH BIARA TIBET YANG TERKENAL
Sekali lagi aku menyeberangi pegunungan Himalaya, melanjutkan perjalanan menuju India.
Sangat sedih meninggalkan wilayah keajaiban dimana selama beberapa tahun terakhir aku
memiliki kehidupan yang paling fantastis dan menakjubkan. Meskipun gerbang menuju Tibet ini
telah terbukti sangat luar biasa, namun aku menyadari bahwa praktek dan doktrin mistik unik yang
tersembunyi dari dunia luar di tempat-tempat pertapaan ‘Negeri Bersalju’ itu masih belum
sepenuhnya kupahami. Perjalananku ke Shigatze juga telah mengungkapkan padaku tentang dunia
pendidikan Tibet, beberapa universitas keagamaannya dengan perpustakaan yang amat besar.
Betapa banyak yang tertinggal untuk kupelajari! Dan sekarang semua kutinggalkan….
Aku pergi ke Burma dan menghabiskan beberapa hari dalam penyepian di bukit Sagain dengan
para Kamatang, bhikkhu-bhikkhu kontemplatif dari salah satu sekte Buddhis yang terkeras.
Aku pergi ke Jepang dimana aku menyelam dalam kedamaian Tofokuji, sebuah biara sekte Zen
yang selama berabad-abad telah mengumpulkan kaum aristokrat terpelajar dari negara itu.
Aku pergi ke Korea. Panya-an, ‘biara kebijaksanaan’ yang tersembunyi di tengah hutan
membukakan pintunya untukku.
Saat aku ke sana untuk memohon izin tinggal sementara, hujan lebat baru saja turun dan merusak
jalan setapak yang ada. Aku melihat bhikkhu-bhikkhu Panya-an tengah memperbaikinya. Siswa
muda yang dikirim kepala biara untuk memperkenalkan aku, berhenti di depan salah satu pekerja
yang berlumuran lumpur sebagaimana juga rekan-rekannya, membungkuk dengan sopan dan
mengucapkan beberapa kata. Si penggali, bersandar pada sekopnya, melihatku dengan seksama
sejenak, kemudian mengangguk tanda setuju dan kembali bekerja, tanpa memperdulikanku lagi.
“Dia itu kepala tempat pertapaan,” kata pemanduku. “Dia bersedia memberimu satu ruangan.”
Keesokkan harinya saat aku kembali ke Panya-an, aku dibawa ke satu ruangan yang benar-benar
kosong. Selimut yang kubentangkan di lantai akan menjadi dipanku, sementara koper bajuku bisa
dijadikan meja. Yongden harus berbagi kamar dengan seorang siswa muda yang seumur
dengannya, dan kamar itu, selain beberapa artikel di rak, juga hanya memiliki sedikit perabotan
seperti halnya kamarku.
Rutinitas sehari-hari terdiri dari delapan jam meditasi yang dibagi dalam empat bagian masing-
masing dua jam – delapan jam belajar dan melakukan pekerjaan kasar – delapan jam untuk tidur,
makan, dan rekreasi tergantung selera masing-masing.
Setiap hari, mendekati jam tiga pagi, seorang bhikkhu berjalan mengelilingi rumah itu, sambil
memukul sebuah alat untuk membangunkan saudara-saudaranya.
Kemudian semua berkumpul di ruang pertemuan, dimana mereka duduk bermeditasi menghadap
dinding.
Menu makanannya benar-benar menu seorang pertapa… nasi dan beberapa sayuran rebus tanpa
rasa. Bahkan kadang sering tanpa sayuran, sehingga makanannya hanya terdiri dari nasi putih
saja.
Keheningan tak diwajibkan sebagaimana yang berlaku pada para Trappis, namun bhikkhu-bhikkhu
itu jarang berbicara. Mereka merasa tak perlu berbicara ataupun membuang-buang energi pada
74
manifestasi di luar diri. Pikiran-pikiran mereka hanya tertuju pada sikap mawas diri dan mata
mereka menatap ke dalam diri seperti tatapan yang ada pada patung Sang Buddha.
Aku pergi ke Peking. Aku tinggal di Peling-sse, yang sebelumnya merupakan rumah kaum
bangsawan, sekarang menjadi sebuah biara Buddhis. Tempat itu berada di sebelah vihara
Lhamais dan berdekatan dengan vihara Konfusius, beberapa mil dari Kedutaan. Di sana, Tibet
kembali memanggilku.
Selama bertahun-tahun aku memimpikan Kum-Bum yang maha jauh tanpa berani berharap akan
dapat sampai di sana. Dan kini perjalanan ke sana telah diputuskan. Aku akan melintasi seluruh
Cina untuk mencapai perbatasan di ujung Barat Laut dan masuk ke Tibet.
Aku bergabung dengan sebuah karavan yang terdiri dari dua orang lhama kaya dan rombongan
terhormat mereka yang akan kembali ke Amdo, seorang pedagang Cina dari propinsi Kansu
beserta para pembantunya, dan beberapa bhikkhu serta orang biasa yang merasa beruntung
memperoleh perlindungan dari jalan yang tidak aman.
Perjalanan itu sangat indah. Disamping beberapa insiden yang terjadi, rekan-rekan seperjalananku
menimbulkan banyak hal yang menakjubkan.
Suatu hari, sang orang terhormat dan berpostur besar dari karavan kami itu menggoda para
pelacur Cina di penginapan dimana kami bermalam. Ramping dan pendek, bercelana pendek hijau
pucat dan jaket merah muda, mereka memasuki kamar sang lhama seperti keluarga Tom Thumbs
masuk ke gua Ogre.
Si ‘lhama’ ini yaitu seorang ngagspa, pengikut sekte kebatinan yang heterodoks, sama sekali
bukan seorang pendeta, dan telah berkeluarga.
Penawaran yang kasar dan bising pun dilakukan dengan pintu terbuka lebar. Kata-kata ejekan dan
terus terang dari orang-orang perbatasan itu diterjemahkan ke dalam bahasa Cina oleh sekretaris-
penerjemahnya yang sangat tenang. Akhirnya lima dolar Cina diterima sebagai bayaran dan salah
satu boneka itu harus bermalam.
Rekan jangak kami itu juga sangat pemarah. Suatu hari ia bertengkar dengan seorang tentara
Cina. Para tentara dari pos terdekat kemudian memasuki penginapan kami dengan senjata di
tangan. Lhama itu memanggil para pembantunya yang kemudian tiba dengan senjata mereka
masing-masing. Penjaga penginapan lantas bersujud di kakiku memohon aku menjadi penengah.
Dengan bantuan seorang pedagang Cina, anggota ‘geng’ karavan kami, yang mampu berbahasa
Tibet sebagai penerjemahku, aku berhasil meyakinkan tentara-tentara itu dengan mengatakan
bahwa martabat mereka akan jatuh jika melayani tindakan orang-orang bodoh dan tak beradab itu.
Kemudian aku memprotes sang lhama dengan mengatakan bahwa seorang dengan peringkat
seperti dirinya tak perlu membahayakan jiwanya dengan tentara yang kasar seperti itu.
Dan kedamaian pun hadir.
Aku menjadi terbiasa dengan perang sipil dan perampokan. Aku berusaha keras menjadi perawat
bagi mereka yang terluka. Suatu pagi, aku melihat beberapa kepala, yang baru dipenggal dari para
perampok, tergantung di atas pintu penginapan kami. Pemandangan ini membangunkan suatu
pemikiran filosofis tentang kematian pada diri putraku yang pendiam, yang lantas ia jelaskan
dengan perlahan padaku.
Kini jalan di hadapan kami diblokir oleh sepasukan tentara perang. Aku berpikir bahwa aku dapat
75
menghindari medan peperangan ini dengan pergi ke sebuah kota kecil bernama Tunchow, yang
terletak beberapa mil dari jalan pintas ke Sian-Fu.
Satu hari sesudah aku tiba, Tungchow dikepung. Aku melihat serbuan musuh menaiki benteng kota
dengan tangga tinggi, dan lawannya melempari batu-batu ke arah mereka. Aku merasa seperti
berada dalam sebuah lukisan kuno yang menggambarkan keadaan perang di jaman dahulu kala.
Aku melarikan diri dari kota yang terkepung itu di saat terjadi badai yang membuat para tentara
berlindung di balik benteng kota. Pedatiku berpacu dengan kencang melintasi malam; kami sampai
di tepi sungai dimana di seberangnya kami harap akan aman. Kami memanggil tukang perahu.
Sebagai jawabnya, terdengar tembakan dari sana.
Aku mempunyai kenangan unik tentang suatu jamuan teh dengan gubernur Shensi. Saat itu musuh
sedang mengepung kota. Teh disajikan oleh para tentara yang bersenjata di punggungnya dan
revolve di pinggang mereka, bersiap-siap mempertahankan diri dari serangan yang mungkin timbul
setiap saat. Namun para tamu berbicara dengan tenang dengan bahasa yang halus dan sopan
yang merupakan salah satu hasil dari sistim pendidikan Cina kuno.
Kami berdiskusi tentang hal-hal filosofis, salah satu petugas berbicara dalam bahasa Perancis
yang sempurna dan bertindak sebagai penerjemahku. Apapun perasaan yang mungkin tengah
berkecamuk dalam diri sang gubernur dan kelompoknya di saat yang tragis ini, wajah mereka tetap
memancarkan senyuman. Perbincangan di meja teh itu yaitu sebuah permainan intelektual dalam
bentuk pertukaran pemikiran-pemikiran halus dengan cara yang amat tenang.
Betapa sopan dan berbudayanya orang-orang Cina, pula demikian menarik hati, terlepas dari
berbagai kesalahan yang mungkin dapat ditemukan dalam diri mereka!
Akhirnya aku bisa keluar dengan selamat dari daerah bencana itu. Aku sekarang di Amdo, tinggal
di istana Lhama Pegyai, di biara Kum-Bum…Sekali lagi, aku terjun ke dalam kehidupan seorang
Tibet.
“Salam pada Sang Buddha.
Dalam bahasa para dewa dan malaikat
Dalam bahasa para setan dan manusia
Dalam semua bahasa yang ada
Aku nyatakan Doktrin ini”
Beberapa anak lelaki berdiri di atap aula pertemuan, mereka mengucapkan sebait syair suci di
atas, kemudian dengan serentak mengangkat conch (siput besar) ke mulutnya. Secara bergantian
mereka mengambil nafas, sementara rekannya melanjutkan meniup. Maka jadilah alunan melodi
tak berjeda yang sangat merdu, timbul dan tenggelam dalam irama cresendo dan decresendo,
menyebar ke seluruh biara yang masih tertidur.
Di atas pilar aula, para siswa muda dalam jubah pendeta, yang menjadi silhouette bagi langit
berbintang yang terang, seperti barisan makhluk hitam dari dunia lain yang turun untuk memanggil
arwah orang mati dari tidur mereka. Dan gompa yang sunyi dengan banyak rumah putih beratap
rendah itu, di malam hari, benar-benar menyerupai tempat pemakaman yang besar.
Alunan musik kemudian berhenti. Kerlap-kerlip lampu muncul di beberapa jendela garba[38] dan
suara-suara berisik kedengaran dari tasha-tasha[39]. Pintu-pintu terbuka, suara langkah kaki yang
76
bergegas terdengar dari setiap jalan-jalan di kota biara itu : para lama sedang pergi ke pertemuan
pagi.
Saat mereka tiba di aula, langit sudah berwarna kepucatan, pagi telah menjelang. sesudah
melepaskan sepatu yang kemudian ditinggalkan di luar dan berserakan di sana sini, masing-
masing dengan segera menuju tempat duduk mereka.
Di biara yang besar, jumlah bhikkhu bisa mencapai ribuan orang. Seorang pekerja yang aneh, bau
dan lusuh tampak ganjil dan kontras dengan rompi brokat emas yang dipakai para petinggi biara
dan jubah bertabur permata serta tongkat petugas dari para tsogs chen shalngo, penguasa terpilih
dari sebuah gompa.
Di langit-langit ruangan yang tinggi, dari galeri-galeri dan beberapa pilar, tergantung lukisan-lukisan
para Buddha dan dewa-dewi yang tak terhitung banyaknya, sementara orang-orang berjasa yang
lain, orang-orang suci, para malaikat, dan setan, mungkin tergambar secara samar di lukisan-
lukisan dinding yang mendekorasi gedung yang gelap itu.
Di dasar aula, di balik barisan lampu-lampu mentega, patung-patung para Lhama Besar berikut
kotak relik perak dan emas yang berisi abu atau tubuh yang dimumikan bersinar dengan lembut.
Atmosfir bernuansa mistik melingkupi semua benda dan manusia, menyelubungi semua detil yang
kasar, menyempurnakan semua sikap dan raut wajah. Apapun pendapat seseorang mengenai
kegagalan dari sebagian besar para bhikkhu yang berkumpul disana, pemandangan akan
pertemuan itu sendiri sangatlah mengesankan.
Sekarang, setiap orang duduk dalam posisi bersila, tak bergerak, para lhama dan petugas duduk
di atas kursi kehormatan yang tingginya bervariasi sesuai dengan tingkatan masing-masing,
sementara para kaum biarawan biasa duduk di bangku panjang yang hampir setinggi lantai.
Pembacaan mantram dimulai, nada yang berat dengan irama perlahan. Denting lonceng, dayuan
gyaling, gelegar ragdong, drum besar dan kecil menghasilkan alunan musik yang mengiringi
pembacaan mantram suci.
Para siswa muda, yang duduk di ujung bangku panjang dekat pintu, hampir tak berani bernafas.
Mereka tahu chöstimpa[40] yang memiliki ratusan mata akan segera mengetahui jika ada
percakapan atau sikap bermain-main, dan kayu panjang juga cambuk yang tergantung di dekat
tempat duduknya yang tinggi benar-benar menakuti mereka.
Hukuman, bukan hanya untuk anak-anak kecil ini, namun para anggota bhikkhu yang dewasa juga
akan mendapat hukuman jika memang mereka pantas menerimanya.
Aku pernah menyaksikan beberapa kejadian unik mengenai hal itu. Salah satunya terjadi di sebuah
biara milik sekte Sakyapa dalam suatu upacara yang khidmat.
Beberapa ratus bhikkhu sedang berkumpul di tsokhang (ruang pertemuan), musik dan pembacaan
mantram sedang berlangsung saat tiga orang bhikkhu sedang berkomunikasi mengenai sesuatu
hal dengan bahasa isyarat. sebab tidak duduk di barisan depan, mereka pikir posisi cukup aman
sebab dilindungi oleh para bhikkhu yang duduk di depan. Gerakan tangan perlahan dan pertukaran
mimik wajah diyakini mereka takkan diperhatikan oleh sang chöstimpa. Namun sepertinya para
dewa pelindung biara memberikan penglihatan yang luar biasa tajam kepada para petugas ini:
sang chöstimpa telah melihat orang-orang bersalah ini dan akan segera mendekati mereka.
Beliau ini seorang Khampa[41] yang tinggi, dengan postur atletis, saat berdiri di tempat duduknya
yang tinggi, ia tampak seperti sebuah patung beku. Dengan gagah, dia mengambil cambuknya,
77
menuruni singgasananya dan berjalan membelah aula dalam hawa seorang dewa pemusnah.
Dia melewatiku, menarik lengan jubahnya ke atas siku. Cambuk yang dipegangnya terbuat dari
beberapa tali kulit, masing-masing seukuran jari telunjuk dan di ujungnya diikat menjadi sebuah
simpul.
sesudah sampai di tempat dimana mereka yang bersalah itu sedang menunggu hukuman yang tak
dapat dihindari lagi, dia mencengkram leher mereka dari belakang, satu per satu, mengangkat
mereka dari tempat duduknya dengan kasar.
Mustahil untuk berpikir melarikan diri, orang-orang yang pasrah ini kemudian berjalan di lorong di
antara barisan para bhikkhu dan bersujud dengan dahi menyentuh lantai.
beberapa cambukan terdengar dari punggung ketiga orang itu dan kemudian tokoh yang ditakuti itu
kembali ke tempatnya dengan sikap berwibawa yang sama.
Namun demikian, hanya pelanggaran kecil, seperti merusak keheningan, sikap yang salah, dan
sebagainya yang akan mendapat hukuman langsung di aula. Hukuman bagi pelanggaran yang lebih
keras dilaksanakan di tempat lain.
Jeda dari kebaktian panjang yang sangat disenangi: hidangan teh panas yang beruap, disajikan
dengan mentega dan garam, sesuai selera orang Tibet. Teh itu dibawa dengan sebuah buket kayu
besar dan pembawanya berjalan di setiap barisan. Setiap trapa membuat sendiri mangkoknya,
menyimpannya di balik pakaiannya. Mangkok-mangkok itu memiliki pola khusus dan bervariasi
sesuai dengan sektenya. Ornamen perak atau Cina dilarang di pertemuan ini. Para petinggi biara
harus menggunakan jenis kayu yang biasa. Hal ini dimaksudkan untuk mengingatkan mereka akan
kehidupan yang sederhana dan tak terikat pada hal duniawi sebagaimana disiplin Buddhis yang
sebenarnya, namun sebagian lhama yang cerdik tidak mematuhi hal ini. Mangkok seorang lhama
terkaya di antara mereka memang terbuat dari kayu, namun dari jenis kayu khusus yang tumbuh di
batang pohon tertentu, yang berharga sangat mahal.
Di gompa yang makmur, teh dibubuhi mentega yang banyak dan para bhikkhu membawa sendiri,
ke pertemuan, sebuah panci kecil dimana mereka dapat mengambil beberapa mentega yang
mengambang di permukaan cairan itu. Mentega ini akan mereka gunakan di rumah atau dijual
untuk ditaruh kembali ke teh atau untuk mengisi lampu yang digunakan di rumah. Bukan untuk lampu
altar, yang harus memakai mentega baru.
Para trapa juga membawa tsampa[42] dari rumah masing-masing, dan tepung ini, bersama dengan
teh akan menjadi sarapan gratis.
Pada hari-hari tertentu, tsampa dan sepotong mentega dibagikan bersama dengan teh, atau sup
sebagai pengganti teh, bahkan kadang teh dan sup disajikan bersama.
Menu sarapan yang istimewa ini yang dinikmati oleh para penghuni biara terkenal itu
kebanyakan berasal dari pemberian para peziarah kaya atau sang Lhama Besar biara itu sendiri.
Pada kesempatan seperti itu, gunungan tsampa dan tumpukan potongan-potongan mentega, yang
disebar di perut domba, akan membanjiri seluruh dapur gompa. Pertunjukkan ini akan lebih hebat
lagi jika ada permintaan akan sup, maka kemudian tulang domba yang kadang mencapai ratusan
buah akan dipotong-potong untuk diambil kaldunya.
Saat tinggal di Kum-Bum dan di biara-biara lain, walaupun aku, sebagai seorang wanita, tak
diperkenankan bergabung dengan jamuan makan biara, sepanci penuh menu istimewa hari itu
78
akan dibawa ke rumahku kapanpun aku mau.
Dengan demikian, aku menjadi akrab dengan menu khas orang Mongol yang terdiri dari daging
domba, nasi, kurma Cina, mentega, keju, dadih, pemen gula, dan berbagai macam bumbu lain,
yang dimasak bersama.
Ini bukan satu-satunya contoh dari ilmu masakan mereka yang diperkenalkan para juru masak
lhamais padaku.
Kadang pembagian uang juga dilakukan saat jamuan makan berlangsung. Orang-orang Mongol
lebih dermawan dalam menyumbang untuk hal keagamaan dibanding orang Tibet. Pernah kulihat
beberapa di antara mereka meninggalkan lebih dari sepuluh ribu dolar Cina kepada biara Kum-
Bum saat berkunjung.
Demikianlah, hari demi hari, di pagi yang beku ataupun di fajar hangat musim panas, kegiatan khas
kaum Lhamais ini terjadi di gompa-gompa yang tak terhitung banyaknya di wilayah yang maha
luas[43] dimana Tibet sendiri hanyalah bagian kecil darinya.
Di setiap pagi, anak-anak lelaki yang masih setengah tertidur, bersama dengan para seniornya,
mandi dalam atmosfir aneh berupa perpaduan mistisme, kekuatiran akan makanan, dan persiapan
untuk menerima sumbangan. Permulaan hari di gompa itu memberikan kita ide bagaimana
karakter dari kehidupan sebuah biara lhamais. Di sebuah biara lhamais kita juga akan
menemukan, selalu, beragam elemen yang tidak sehat, semisal filosofi yang tidak jelas,
komersialisme, spiritual yang angkuh, dan pengejaran akan kesenangan! Semua elemen ini saling
menjalin sehingga akan sia-sia saja jika berusaha untuk memisahkan mereka.
Para anak-anak muda itu dibesarkan di bawah pengaruh arus berkonflik itu yang kelak akan
membawa mereka ke salah satu elemen ini sesuai dengan sifat alami mereka dan cara
mereka dididik oleh gurunya. Terlepas dari latihan biara yang terlalu awal dan kadang kacau,
muncullah sekelompok kecil sastrawan, beberapa pemalas, si bodoh, si pengantuk, pembual yang
ceroboh, dan beberapa kecil kaum mistik yang tinggal di pertapaan terpencil dalam meditasi yang
panjang.
Kebanyakan para trapa dan lhama Tibet tidak termasuk ke dalam salah satu dari kelas-kelas ini,
keseluruhan variasi karakteristik ini cenderung mereka sembunyikan dalam pikiran, yang pada
keadaan tertentu, satu atau yang lain akan muncul untuk memainkan peranannya.
Kepribadian yang majemuk dalam seorang individu tunggal, tentu saja, bukan hanya khusus di
kalangan lhama Tibet, namun hal ini sangat kuat tercermin dalam diri mereka, sehingga sikap dan
kata-kata mereka sering membuat para pengamat yang teliti terus menerus terheran-heran.
Buddhisme Tibet sangat berbeda dengan Buddhisme yang terlihat di Sri Lanka, Burma, bahkan
Cina dan Jepang. Dan biara beserta tempat tinggal kaum lhamais memiliki ciri khas tersendiri.
Seperti yang telah kujelaskan, dalam bahasa Tibet, sebuah biara disebut gompa[44], yang artinya
‘rumah dalam penyepian’, dan nama ini sesuai dengan kenyataannya.
Terisolasi dengan angkuh di daerah tinggi yang berangin, menduduki daerah liar, gompa-gompa
Tibet kelihatan agak agresif, seakan menawarkan tantangan kepada musuh-musuh yang tak
kelihatan, di keempat penjuru langit. Atau, saat berada di antara barisan pegunungan,
gompa-gompa itu kerap mengasumsikan sebuah tempat kerja yang berhawa tidak tenang dimana
kekuatan gaib dimanipulasi.
Kedua bentuk penampilan itu berhubungan dengan realitas tertentu. Walaupun di masa sekarang
79
pikiran para bhikkhu lebih cenderung ke urusan bisnis atau kepentingan duniawi yang lain, namun
gompa-gompa Tibet itu, sebenarnya, ditujukan bukan untuk hal-hal seperti itu.
Penaklukan sebuah dunia yang sangat sulit yang tak dapat dicerna oleh indera-indera,
pengetahuan transendental, realisasi mistik, penguasaan ilmu gaib, yaitu alasan dibangunnya
tempat-tempat berlindung milik kaum lhamais itu dan juga kota-kota misteri yang tersembunyi di
balik kilauan perbukitan yang bersalju. Sekarang ini para penyihir dan ahli mistik kebanyakan
berada di luar biara. Untuk menghindari atmosfir yang demikian teracuni oleh kepentingan akan
kebendaan dan pencarian, mereka beremigrasi ke tempat yang lebih jauh, tempat-tempat terpencil,
dan untuk mencari sebuah tempat bertapa, kadang-kadang mereka benar-benar melakukan
eksplorasi. Namun bagaimanapun, dengan sedikit pengecualian, para pertapa biasanya memulai
kehidupannya sebagai seorang siswa muda di persekutuan keagamaan biasa (Sangha).
Seorang anak lelaki yang ditakdirkan oleh orang tuanya untuk menjalani hidup sebagai seorang
bhikkhu akan dibawa ke biara saat berumur delapan atau sembilan tahun. Mereka diberikan
kepada seorang bhikkhu yang mempunyai hubungan keluarga sebagai walinya atau jika tidak
memiliki kerabat di biara, mereka dititipkan kepada salah satu sahabat. Sesuai peraturan, sang
pembimbing siswa muda ini yaitu guru pertamanya, dan dalam kebanyakan kasus, guru satu-
satunya.
Namun, para orang tua yang kaya, memberikan dana bagi biaya pendidikan anaknya pada
seorang bhikkhu terpelajar, dengan maksud menyerahkan pengawasan anaknya pada orang yang
dimaksud atau membuat perjanjian bahwa orang itu akan mengajari anaknya pada jam-jam yang
telah ditentukan. Kadang mereka juga memohon agar anaknya dapat diberi tempat tinggal di rumah
para petinggi biara dengan harapan pendidikan anak mereka akan lebih terawasi.
Para siswa muda ini didukung sepenuhnya oleh orang tua mereka, yang mengirimkan bahan
perbekalan seperti teh mentega, tsampa, dan daging ke rumah pembimbing mereka.
Disamping kebutuhan-kebutuhan pokok, orang-orang makmur Tibet itu juga mengirimkan anak-
anak mereka berbagai jenis makanan: keju, buah kering, gula, sirup, kue, dan sebagainya. Barang-
barang berharga itu berperan penting dalam hidup sehari-hari anak-anak yang beruntung itu.
Mereka dapat melakukan berbagai macam pertukaran, dan juga membeli tenaga dari teman-teman
mereka yang miskin dengan segenggam buah aprikot atau beberapa lembar dendeng daging
domba.
Anak-anak muda Tibet, dengan cara itu, memulai pengenalan akan trik-trik dagang di saat mereka
sedang melafalkan halaman pertama dari diktat-diktat keagamaan. Dan orang akan dengan mudah
menerka bahwa kemampuan mereka memahami trik dagang itu jauh lebih cepat dari pemahaman
akan ilmu keagamaannya.
Semua anak-anak miskin akan menjadi geyog[45], yang maksudnya yaitu bahwa mereka akan
mendapat pendidikan, kadang juga makanan dan pakaian di rumah seorang bhikkhu sebagai
imbalan bagi kerja mereka di sana. Tak perlu lagi dijelaskan, dalam hal ini, pelajaran yang
diberikan, sesuai dengan peraturan, hanya sekilas dan singkat saja! Sang profesor yang
kebanyakan buta huruf, hanya mengajarkan anak-anak itu menghafal sebagian dari sebuah
mantram, yang dipotong-potong, yang artinya pun tak pernah mereka pahami.
Sebagian geyog bahkan dibiarkan begitu saja dan tak pernah diajari apapun. Bukan disebab kan
kerja mereka sebagai pelayan cukup berat, namun sebab masih muda mereka tak pernah
berpikiran untuk meminta pelajaran yang seharusnya mereka terima, dan mereka pun
menghabiskan waktu senggang dengan bermain bersama teman senasibnya.
80
Segera sesudah mereka diizinkan memasuki sebuah biara, para siswa muda ini berhak mendapat
bagian dari pendapatan biara[46] dan berbagai pemberian dari para dermawan kepada
persekutuan itu.
Jika saat beranjak dewasa si siswa muda merasa ingin melanjutkan pendidikan lagi, dan jika
keadaan memungkinkan, dia boleh meminta izin untuk memasuki salah satu dari empat institut
yang ada di sebuah biara yang besar.
Untuk mereka yang tinggal di gompa kecil dimana tidak ada institut yang demikian, mereka dapat
meninggalkan gompanya dan pergi ke tempat lain.
Subjek-subjek yang diajarkan yaitu : Metafisik dan Filosofi di Insitut Tsen nid; Magis dan Ritual di
Institut Gyud; Pengobatan, dengan metode India dan Cina di Institut Men; Kitab-Kitab Suci di Institut
Do.
Aritmatika, Tata Bahasa, dan beberapa ilmu pasti yang lain diajarkan di luar sekolah-sekolah ini
oleh para profesor khusus.
Para siswa senior dan junior dari kelas Filosofi selalu mengadakan diskusi secara teratur. Kegiatan
ini kebanyakan dilakukan di tempat-tempat terbuka, dan di setiap biara terdapat sebuah taman
yang teduh dan dikelilingi tembok yang memang sengaja disediakan untuk kegiatan seperti ini.
Gerakan ritual disertai perdebatan yaitu acara tetap dari kegiatan ini. Ada cara unik saat
menyampaikan pertanyaan yakni dengan memindahkan tasbih ke lengan, bertepuk tangan, dan
menghentakkan kaki. Melompat yaitu cara yang telah ditentukan dalam menjawab pertanyaan
atau membalas interogasi rekan yang lain. Dan meskipun kata-kata yang dipertukarkan cuma
berupa kutipan dan hanya mengandalkan ingatan dari si pendebat, namun sikap mereka yang
menantang dan unik menghasilkan perdebatan-perdebatan yang cukup menarik.
Namun tidak semua anggota Institut Filosofi cuma membeo saja. Di antara mereka dapat
ditemukan pemikir-pemikir tajam dan cendekiawan tangguh. Mereka mampu mengutip isi artikel
yang tak terhitung banyaknya selama berjam-jam dan juga dapat mengulas teks-teks tua dari artikel
luar dan kemudian melakukan penafsiran dengan pemikiran mereka sendiri.
Ciri khas dari kontes-kontes umum ini yaitu , pada akhirnya, seseorang yang dinyatakan sebagai
pemenang akan digendong di pundak sang penantang mengelilingi aula pertemuan.
Institut Magis Ritualistis biasanya dianggap bagian paling bergengsi dari jajaran pendidikan tinggi
sebuah gompa, dan para siswanya, yang disebut gyud pa, diperlakukan dengan istimewa. Mereka
diyakini mengetahui suatu teknik khusus yang memungkinkan seseorang melunakkan hati dewa-
dewa yang kejam dan menaklukan para setan; dan tugas perlindungan biara diserahkan kepada
mereka. Para gyud pa dari dua Institut Gyud terbesar yang terdapat di Lhasa, juga bertindak dalam
kapasitas yang sama untuk kepentingan negara. Tugas yang diembankan pada mereka yaitu
untuk memberikan kemakmuran kepada Tibet dan penguasanya, juga melindungi mereka dari
semua pengaruh-pengaruh jahat dan segala usaha yang membahayakan jiwa mereka.
Para gyud pa juga diberi kepercayaan dalam urusan pelayanan dan penghormatan kepada para
dewa atau setan aboriginal, yang niat baiknya telah dijanjikan akan diberi imbalan berupa
pemujaan abadi sesuai kebutuhan mereka. Para gyud pa ini juga diharuskan, dengan seni magis
mereka, menjaga agar roh-roh jahat tetap berada dalam ‘tahanan’ mereka.
Sehubungan dengan keterbatasan istilah dalam bahasa Inggris, kami terpaksa mengartikan gompa
sebagai monastery (biara), walau sebuah gompa memiliki banyak perbedaan dengan sebuah
81
biara Kristen. Kecuali bahwa penghuni gompa hidup tanpa menikah dan sebuah biara memiliki
properti, aku hampir tak menemukan kesamaan antara persekutuan keagamaan Kristen dan
Lhamais.
Mengenai hidup tanpa menikah, harus diingat bahwa semua bhikkhu yang tergabung dalam sekte
Ge-lugs-pa, atau yang terkenal dengan istilah ‘topi kuning’, hidup melajang. Namun pada sekte ‘topi
merah’, mereka yang hidup tanpa menikah yaitu mereka yang telah lengkap ditabhiskan yang
disebut gelong. Para lhama atau trapa yang menikah, memiliki rumah di luar gompa dimana
keluarganya tinggal. Mereka juga memiliki kamar pribadi di biara-biara dimana mereka kadang-
kadang menginap saat festival keagamaan atau di saat istirahat dari latihan keagamaan atau
meditasi. Para istri dilarang menemani suaminya dalam kompleks biara.
Lhamaseri seperti halnya vihara-vihara di Sri Lanka atau biara-biara di negara Buddhis lainnya,
dimaksudkan sebagai rumah bagi mereka yang melakukan pencarian spiritual. Tujuan spritual ini
tidak pernah didefinisikan ataupun dijabarkan dan ini berlaku bagi semua penghuni gompa.
Rendah hati atau angkuh, tujuan tiap bhikkhu menjadi rahasianya sendiri dan dia akan berusaha
mencapainya melalui jalan yang ia pilih. Tidak ada latihan kebaktian yang umum atau praktek
keagamaan yang seragam di antara penghuni lhamaseri. Peraturan yang ada hanyalah berkarakter
seperti orang biasa, bersikap yang baik, menjaga biara, atau hadir pada setiap pertemuan dan
kebaktian rutin atau berkala. Pertemuan-pertemuan itu sendiri tak berkaitan dengan perayaan
keagamaan dan kehadiran setiap orang itu yaitu untuk kepentingan diri sendiri dan berkah yang
diperoleh dimaksudkan untuk dirinya sendiri. Saat para bhikkhu lhamais berkumpul di aula,
disamping untuk mendengar ceramah para petinggi, tujuan yang lain yaitu untuk membaca
mantram-mantram suci bagi kepentingan biara, negara, dan para donatur gompa. Pembacaan
mantram itu akan membawa berkah, kemakmuran, mencegah penyakit dan malapetaka, dan
menghindari para makhluk jahat.
Dalam hal upacara-upacara ritual, sesuai dengan sifat dasar magis, mereka juga melakukannya
untuk beberapa tujuan dimana yang merayakan tak ambil bagian. Bahkan ada kepercayaan bahwa
tak seorang pun yang dapat melaksanakan upacara ritual bagi dirinya sendiri. Gyud pa yang paling
ahli pun terpaksa meminta bantuan rekannya jika ia ingin melaksanakan ritual untuk kepentingan
dirinya.
Magis untuk tujuan pribadi, meditasi dan latihan-latihan yang berhubungan dengan kehidupan
spiritual, dicapai secara rahasia oleh tiap bhikkhu di tempat tinggal masing-masing. Tak seorang
pun kecuali guru yang telah dipilihnya berhak mencampuri masalah ini. Tak seorang pun berhak
mempertanyakan tentang pandangan sang lhama. Dia boleh mempercayai apapun yang
menurutnya benar, dia bahkan boleh menjadi seorang yang tanpa kepercayaan; semua ini hanya
berkaitan dengan dirinya.
Tidak ada kapel atau tempat kebaktian di biara lhamais, sebab , seperti yang sudah dijelaskan,
tidak ada pemanjatan doa jika ada umat awam yang bergabung atau bahkan sekedar menghadiri.
Selain aula pertemuan itu, terdapat beberapa lhakhang, yang bisa disebut sebagai ‘rumah para
dewa’. Masing-masing dipersembahkan untuk satu dewa atau beberapa tokoh Buddhis yang
penting, bersejarah, atau melegenda. Mereka yang memujanya akan mengunjungi patung orang
yang dimuliakan ini . Mereka menyalakan lampu atau dupa dengan hormat, dan bersujud tiga
kali kemudian pergi. Permohonan sering diajukan pada saat berkunjung, namun tak selalu, dan
beberapa pertemuan kesopanan ini yaitu akibat dari rasa hormat yang tidak sungguh-sungguh.
Permohonan berkah di depan patung Sang Buddha tidak dilakukan, sebab Sang Buddha
dianggap telah melampaui ‘dunia hawa nafsu’ dan sebenarnya telah melampaui dunia manapun.
82
dianggap telah melampaui ‘dunia hawa nafsu’ dan sebenarnya telah melampaui dunia manapun.
Namun suatu sumpah atau keinginan spiritual diekspresikan seperti: “Semoga saya, di kehidupan
ini atau yang akan datang, dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat demi kesejahteraan orang
banyak,” atau, “Semoga saya mampu memahami makna doktrin Sang Buddha dan dapat hidup
sesuai ajaranNya.”
Ada beberapa orang yang saat menyalakan pelita kecil dalam sikap berdoa di depan patung Sang
Buddha, meminta tak lebih dibandingkan pencerahan spiritual. Walaupun mereka melakukan sedikit
usaha untuk mencapai hal itu, namun kepercayaan akan penyelamatan yang ideal secara mistik
melalui pencerahan masih hidup di kalangan orang Tibet.
Untuk menyempurnakan pembebasan spiritual seorang bhikkhu lhamais, dibutuhkan pembebasan
secara materi yang hampir seimbang.
Para anggota sebuah biara tidak hidup secara bersama-sama, namun masing-masing tinggal di
rumah atau apartemen pribadi, dan tiap orang hidup menurut pengertian masing-masing.
Hidup serba kekurangan tidak diharuskan pada mereka sebagaimana keadaan para bhikkhu
Buddhis pada awalnya. Bahkan dapat kukatakan bahwa seorang lhama yang menjalankan hal itu
secara suka rela tidak mendapat penghargaan khusus. Tampaknya hanya para pertapa yang
menuruti ‘eksentriksitas’ yang demikian.
Namun sebenarnya, pembebasan absolut yang sudah benar-benar dipahami di India – mungkin
India satu-satunya – bukanlah hal yang sama sekali asing bagi orang-orang Tibet[47] dan mereka
juga menganggapnya sebagai hal yang mulia. Berbagai kisah tentang anak-anak muda dari
keluarga berada yang meninggalkan rumahnya dan menjalani hidup sebagai pengemis religius
(khususnya, kisah tentang Siddharta Gautama, Sang Buddha, yang meninggalkan kekayaan dan
tahtanya) diceritakan dengan penuh rasa hormat dan kekaguman. Namun kisah-kisah ini, sebab
terjadi pada masa yang sudah lama berlalu, dianggap sebagai kisah dari dunia lain yang tak ada
kaitan apapun dengan para lhama mereka yang makmur dan dimuliakan.
Seseorang dapat saja ditabhiskan pada tingkatan apapun dari Persekutuan religius tanpa harus
menjadi anggota sebuah biara, walaupun ini jarang terjadi, dan hanya terjadi saat seorang calon
yang cukup umur mengerti apa yang sedang ia lakukan dan berniat menjalankan hidup sebagai
seorang pertapa.
Izin memasuki sebuah gompa bukan berarti punya hak untuk tinggal gratis di dalamnya. Setiap
bhikkhu harus membangun sendiri tempat tinggalnya atau membelinya dari pemilik sebelumnya,
kecuali ia mewarisinya dari salah seorang keluarganya atau gurunya. Bhikkhu yang miskin
menyewa satu atau dua kamar dari rumah rekannya yang kaya. Pada kasus seorang pelajar atau
trapa terpelajar atau sudah tua, biasanya tempat tinggal di rumah para lhama kaya diberikan gratis
kepada mereka.
Mereka yang paling miskin, yang selain memerlukan tempat bernaung juga tempat tinggal, akan
membaktikan diri mereka sebagai pelayan dari anggota-anggota kaya biara itu. Keadaan mereka
tergantung pada kemampuan mereka masing-masing; beberapa mungkin menjadi pesuruh, tukang
masak, atau penjaga kandang kuda. Mereka yang berhasil menjadi pelayan seorang tulku,
biasanya akan menjadi orang penting dan makmur.
Para bhikkhu terpelajar yang berasal dari keluarga miskin memperoleh penghasilan mereka dari
mengajar, melukis jika mereka berbakat dalam melukis gambar-gambar religius, menjadi pendeta
di rumah para lhama kaya atau orang biasa, atau kadang melaksanakan upacara keagamaan di
rumah-rumah penduduk. Disamping berbagai profesi ini, meramal, astrologi, menggambar
83
horoskop, bisa menjadi sumber pemasukan yang patut diperhitungkan.
Para dokter lhama akan menciptakan keadaan yang menyenangkan bagi hidup mereka jika
mampu menyembuhkan beberapa orang-orang penting. Namun bahkan dengan angka keberhasilan
yang kecil, profesi kedokteran yaitu profesi yang menguntungkan.
Namun bagaimanapun, profesi yang paling diminati banyak orang yaitu berdagang. Kebanyakan
bhikkhu-bhikkhu lhamais, khususnya yang tidak berpikiran religius akan berprofesi sebagai
pedagang. Jika mereka kekurangan modal untuk menjalankan bisnis sendiri, mereka kemudian
menjadi sekretaris, akuntan, atau sekedar pelayan dari seorang pedagang.
Transaksi bisnis, dalam cara yang lebih kurang sederhana, diizinkan di biara hingga tingkat
tertentu. Bagi anggota yang memiliki bisnis cukup besar, diberikan izin meninggalkan biara untuk
bepergian dengan karavan mereka, dan membuka toko atau cabang dimana pun mereka mau.
Seseorang mungkin berpendapat bahwa berdagang sangat tidak sesuai dengan pencarian
spiritual, namun kita harus menyadari bahwa seorang bhikkhu sangat jarang berkesempatan
menentukan profesinya sendiri. Kebanyakan dari mereka dibawa ke biara saat masih kecil,
sehingga tak adil rasanya untuk menyalahkan mereka sebab tidak menggemari hal mistis yang
memang tak pernah menjadi pilihan mereka.
Perdagangan dalam skala yang lebih besar dijalankan sendiri oleh pihak biara sebagai sarana
untuk menambah pemasukan mereka. Mereka melakukan barter dan menjual hasil-hasil tanah serta
ternak yang mereka terima dari para penyewa. Kemudian semua pemasukan ini ditambah lagi
dengan penghasilan yang diperoleh dari pengumpulan-pengumpulan (sumbangan) besar yang
disebut kartik. Pengumpulan ini diadakan pada selang waktu tertentu, tiap tahun atau dua atau tiga
tahun sekali. Para lhama juga mengambil jalan ini saat membangun sebuah biara baru, atau
sebuah vihara baru di biara yang sudah dibangun, dan untuk berbagai tujuan lainnya. Sebuah biara
kecil biasanya hanya mengirim beberapa bhikkhu ke daerah-daerah sekitar untuk meminta
sumbangan, namun di gompa yang besar, pergi melakukan kartik seperti melaksanakan sebuah
ekspedisi. beberapa kelompok trapa pergi dari Tibet menuju Mongolia, menghabiskan beberapa
bulan menjelajahi seluruh negeri dan kembali bak ksatria yang menang perang dengan membawa
ratusan kuda, ternak, emas, perak dan berbagai barang lain, semuanya yaitu persembahan dari
para umat.
Mereka mempunyai kebiasaan yang unik untuk mempercayakan, pada waktu tertentu, beberapa
uang, atau beberapa barang, pada seorang pengurus biara yang harus memutar modal itu sehingga
dapat membiayai beberapa keperluan diluar keuntungannya. Sebagai contoh, ia harus menyuplai
dalam setahun atau lebih, beberapa mentega agar pelita-pelita di lhakhang tetap menyala, atau ia
harus memenuhi kebutuhan makanan untuk semua komunitas biara, atau membiayai perbaikan
biara, makanan kuda, pelayanan tamu, dan berbagai keperluan lain. Pada akhir masa yang
ditentukan, bisa jadi setahun atau tiga tahun, modal yang dipercayakan kepadanya harus
dikembalikan. Jika orang yang menerima modal itu, sebagai deposit, mampu menghasilkan
keuntungan lebih dibandingkan yang dibutuhkan untuk menutupi pengeluarannya, maka bersyukurlah ia,
dan dia dapat mengambil kelebihannya. Namun jika ia mengeluarkan lebih dari keuntungannya,
maka ia harus merogoh koceknya sendiri untuk membayar kekurangannya. Dalam keadaan
apapun, modal itu harus dikembalikan dalam keadaan utuh.
Administrasi sebuah biara yang besar serumit administrasi sebuah kota kecil. Disamping
berpenghuni ribuan manusia di balik temboknya, gompa-gompa ini juga memiliki tanah yang dihuni
oleh para penyewa, pada siapa mereka berhutang perlindungan dan mempunyai hak-hak keadilan.
beberapa petugas terpilih, dibantu beberapa pegawai dan semacam petugas polisi, semuanya
84
beberapa petugas terpilih, dibantu beberapa pegawai dan semacam petugas polisi, semuanya
rohaniawan, mengurus masalah-masalah duniawi ini.
Seorang tokoh besar yang disebut tsog chen shal ngo dipilih sebagai kepala gompa. Padanya
bergantung jenis hukuman yang akan diberikan kepada mereka yang melanggar peraturan biara.
Beliau inilah yang memberikan izin pergi, dispensasi, dan izin masuk ke gompa. Dia dibantu oleh
beberapa petugas. Mereka semua mengenakan jubah resmi yang dihiasi batu berharga,
membawa tongkat perak bertabur ornamen-ornamen emas dan bertahta batu pirus dan koral.
Para polisi, yang disebut dobdob, mendapat perlakuan yang istimewa. Mereka direkrut dari para
pembual buta huruf berbadan atletis yang ayah-ayah mereka telah menitipkan mereka ke biara
sejak masih kecil saat seharusnya mereka masih tinggal di barak-barak.
Pemberani, kejam dan kasar, senantiasa bertampang seperti orang yang ingin mencari masalah,
orang-orang tak bersopan santun ini benar-benar memiliki karakteristik sebagai penjahat dari abad
pertengahan.
Tanda pengenal favorit mereka yaitu kotoran. Minyak, menurut mereka, menambah penampilan
semangat perang seorang pria. Seorang pemberani sejati tak pernah membersihkan diri, bahkan
dia menghitamkan mukanya d












