yang telah kuceritakan sebelumnya. Kaum
pendeta atau kaum kebatinan yang hobi berpetualang, yang sering kali buta huruf dan berasal dari
keluarga miskin, yang tak bisa berharap banyak dari biara, sangat menikmati kehidupan di sebuah
ritöd yang tidak mungkin mereka harapkan lebih di tempat lain.
Mereka yang ambisius, akan tenggelam dalam pertapaan yang keras agar memperoleh reputasi,
namun mereka akan melepaskan itu semua sesudah beberapa tahun, kala nama mereka sudah
cukup termasyur. Lalu mereka akan tinggal di sebuah tempat pribadi, menggantungkan hidup pada
pemberian umat yang dapat membuat mereka hidup dengan nyaman.
Yang lain tidak mencoba menarik perhatian orang-orang. Mereka hanya tinggal di sebuah kabin
atau gua yang terletak beberapa mil dari sebuah desa yang makmur atau di dekat daerah suku
penggembala. Mungkin pada awalnya keadaan akan cukup sulit dan makanan tidaklah senantiasa
187
melimpah, sebab orang Tibet tidak terburu-buru memberikan kepercayaan mereka pada para
lhama yang ‘tidak bertugas’. Namun jika pertapa itu pintar dan mengetahui ‘caranya’, ia secara
perlahan akan sukses. Tentu saja ia harus berperan sebagai tukang ramal dan dapat mengusir
setan yang mendatangkan penyakit. Jika keberuntungan sedang berpihak padanya, beberapa
ramalannya bisa terbukti benar, dan orang ataupun binatang menjadi sembuh sesudah ia mengusir
setan dari tubuhnya. Maka tak ada lagi yang diperlukan untuk mengamankan prospeknya yang
brilian itu.
Kurasa hanya segelintir orang Barat yang bisa menikmati kehidupan seorang pertapa gadungan di
wilayah liar Tibet, namun orang-orang Tibet menyukai kehidupan yang demikian. Para gadungan ini
sering kali pada akhirnya terjebak oleh tipuannya sendiri. Tentu saja mereka tidak akan
memperoleh berkah yang menunggu kaum mistik tulen, namun mereka hidup bebas, terhormat,
tanpa perlu bekerja; dan mereka memperoleh cukup teh, mentega, dan tsampa untuk memenuhi
kebutuhan mereka sehari-hari. Di luar ini, pondok atau gua yang dibangun sekedarnya sebagai
tempat tinggal sudah cukup memuaskan keinginan orang-orang yang licik namun sederhana ini.
Kebanyakan dari mereka jauh dari kesan sebagai orang jahat dan tidak simpatik. Mereka hampir
selalu mengomentariku sebagai seorang pelawak, dan rasa lucu yang timbul dari kelicikan mereka
yang naif membuatku cenderung menilai mereka secara positif.
Pendapat umum yang beredar di Barat yaitu bahwa seseorang tak akan mampu bertahan di
pengasingan seorang diri dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal ini diyakini akan
mengakibatkan gangguan di otak, yang akhirnya akan membuat orang menjadi gila ataupun bodoh.
Hal itu mungkin benar jika orang-orang yang diamati efek isolasi ini yaitu : para penjaga
mercu suar, para pengelana yang terdampar di pulau terpencil sesudah kapalnya karam, para
peneliti yang tersesat di sebuah daerah tak bertuan, para narapidana di tahanan, dsb. Namun
observasi yang demikian tak berlaku bagi para pertapa Tibet. Mereka itu sesudah sepuluh atau dua
puluh tahun, bahkan ada yang lebih lama, menghabiskan waktu sendirian di alam bebas ataupun di
tsams khang, jauh dari kesan gila. Kita mungkin dapat menyangsikan teori-teori yang berhasil
mereka pahami selama meditasi mereka yang panjang itu, namun mustahil mempertanyakan
kewarasan mereka.
Tidak ada yang luar biasa dalam hal ini. Orang-orang ini telah mempersiapkan diri mereka pada
kesunyian. Sebelum menutup diri dalam tsams khang ataupun berdiam di ritöd, mereka telah
mengakumulasikan beberapa ide yang akan menemani mereka. Lagipula, mereka bukannya tidak
aktif selama masa penyepian itu, betapapun lamanya. Hari-hari mereka diisi dengan mencoba
berbagai metode latihan spiritual, pencarian akan perngetahuan gaib, atau meditasi akan masalah-
masalah filosofis. Akibatnya, sebab mereka amat tertarik pada bermacam penyelidikan dan
introspeksi ini, mereka menjadi sangat sibuk dan tidak menyadari penyepian mereka ini .
Aku tak pernah mendengar seorang pertapa Tibet yang berkata, bahkan pada awal masa
penyepiannya, bahwa ia menderita sebab tidak bergaul dengan orang lain. Umumnya mereka yang
telah mencicipi kehidupan seorang pertapa merasa kesulitan untuk kembali menjalani hidup
dengan orang lain ataupun untuk menikmati kehidupan bermasyarakat.
Apapun yang mungkin dipikirkan oleh mereka yang tidak terbiasa, penyepian dan keheningan
bukanlah berarti hal yang tidak menyenangkan sama sekali.
Tak ada kata-kata yang sanggup melukiskan luapan perasaan yang amat membahagiakan kala
seseorang menutup pintu tsams khangnya, atau saat menatap ke bawah dari tempat yang tinggi,
tampak hamparan salju pertama menutupi seluruh lembah, menciptakan benteng putih dan beku
yang mengisolasi tempat pertapaannya selama berbulan-bulan.
188
yang mengisolasi tempat pertapaannya selama berbulan-bulan.
Namun, sepertinya, hanya mereka yang pernah mengalaminya yang akan mengerti daya tarik yang
luar biasa dalam kehidupan pertapaan yang banyak dijalani oleh orang-orang Timur.
Cukup banyak jenis latihan yang dijalani para penyepi ini kala menutup diri dalam tsams
khang atau ritöd. Semua usaha yang dilakukan untuk mendapatkan daftar keseluruhan latihan
ini selalu menjadi sia-sia, sebab kemungkinan besar tidak ada seorang pun di dunia ini yang
mengetahui dengan baik hal itu.
Kita dapat menemukan dalam literatur mistik Tibet penjelasan-penjelasan yang lebih kurang
mendalam pada beberapa latihan, namun, sesuai peraturan, semua penjelasan itu kurang jelas
dalam menguraikan hal yang paling menarik minat kita, yakni tujuan dari latihan-latihan ini .
Informasi yang akurat hanya dapat diperoleh melalui mereka yang mengenal ajaran-ajaran yang
diturunkan secara lisan untuk setiap latihan tertentu. Kita harus hati-hati agar tidak cepat puas pada
interpretasi yang diperoleh melalui satu orang pakar saja, sebab perbedaan itu bukan hanya di
antara sekte yang berbeda, namun juga di antara tiap-tiap gurunya.
yaitu sebuah kesalahan jika mengangankan bahwa semua orang Tibet yang tinggal dalam
penyepian dalam sebuah tsams khang atau yang mengucilkan dirinya di tempat terpencil akan
diberkati dengan kecerdasan yang luar biasa dan mampu memahami masalah-masalah
transendental.
Aku telah menceritakan tentang para gomchen sham yang menjalani kehidupan religiusnya
sebagai sebuah profesi. Terdapat juga kelompok para gadungan dan orang-orang yang memiliki
keahlian rata-rata yang membawa hal-hal berbau tahyul dari lhamaisme populer ke dalam
penyepian mereka.
Di antara mereka itu, banyak yang mempersembahkan waktu penyepian mereka dengan
mengulang ribuan bahkan jutaan kali sebuah rumusan tunggal: umumnya sebuah mantra Sanskrit
yang tak mereka pahami. Yang lain melafalkan teks Tibet, namun sering kali mereka tidak mengerti
artinya, seperti tengah membaca kata-kata dalam bahasa asing saja.
Rumusan yang paling umum dan terkenal yaitu Aum mani padme hum! Kukatakan terkenal
hanya sebatas kata-katanya, berhubung orang-orang asing sudah sering membacanya di banyak
artikel . Bukan berarti bahwa mereka telah memahami maknanya.
Para pengelana awam bahkan juga orang-orang Timur kadang terlalu cepat menilai sesuatu itu
tidak memiliki arti apa-apa hanya sebab mereka tidak sesaat mengerti artinya. Para penulis
terpelajar, bahkan hingga hari ini, kerap menerjemahkan kata pertama dari rumusan itu, aum,
menjadi kata seru umum kita ah! Dan hum, kata terakhir, menjadi amin.
Terdapat banyak literatur di India khusus untuk menjelaskan kata mistik Aum. Kata itu memiliki
makna eksoterik dan mistik. Ia dapat menunjuk kepada ketiga individu dari Triniti Hindu: Brahma,
Wisnu, dan Shiwa. Ia juga dapat berarti Sang Brahma, ‘Yang tunggal tanpa yang kedua’ dari filosofi
adwaita. Ia merupakan simbol dari Sang Absolut yang Tak Terjelaskan, kata terakhir yang
digumamkan dalam mistisme, yang kemudian diikuti dengan keheningan. Menurut Shri
Sankarâcharya[146] ia yaitu ‘pendukung meditasi’, atau seperti yang dinyatakan dalam teks
Mundakopanishad itu sendiri, ‘ia yaitu sang busur sebagai alat bagi sang diri individual untuk
mencapai diri universal.’[147]
Sekali lagi, Aum yaitu sang bunyi kreatif yang getarannya membangun dunia. saat seorang
mistik mampu mendengar bunyi-bunyi yang tak berhingga, jeritan-jeritan, lagu-lagu, dan suara
189
semua makhluk dan benda yang ada dan bergerak, itu yaitu sebab bunyi unik Aum yang
menyampaikannya. Aum yang sama juga bergetar di dalam dirinya yang paling dalam. Ia yang
dapat mengucapkannya dengan irama yang tepat, akan mampu menciptakan keajaiban, dan ia
yang mengetahui bagaimana menggumamkannya dalam diam, akan mencapai pembebasan yang
tertinggi.
Orang-orang Tibet yang telah menerima kata Aum dari India bersama dengan mantram-mantram
yang merupakan sekutunya, tampaknya tidak memahami maknanya yang demikian dalam,
demikian juga tempatnya yang amat penting dalam agama dan filosofi mereka.
Aum dilafalkan berulang-ulang oleh para lhamais bersama dengan rumusan Sanskrit yang lain
tanpa dianggap memiliki arti penting tersendiri, sementara silabel seperti hum! Dan khususnya
phat! Dianggap memiliki kekuatan yang hebat dan cukup sering dipergunakan dalam ritual gaib
dan mistik.
Demikianlah penjelasan yang panjang tentang kata pertama dari rumusan ini .
Mani padme yaitu istilah Sanskrit yang berarti ‘permata dalam bunga teratai’. Yang ini
kelihatannya memiliki makna yang sesaat dapat dimengerti, namun interpretasi yang beredar
tidak mengacu pada pengertiannya yang sederhana itu.
Orang awam meyakini bahwa pelafalan Aum mani padme hum! Akan membuat mereka terlahir di
Nub Dewa chen, Surga Barat dari Kebahagiaan Teragung.
Mereka yang lebih ‘terpelajar’ diberi tahu bahwa keenam silabel dari rumusan ini
berhubungan dengan keenam kelas makhluk-makhluk berkesadaran dan dihubungkan dengan
enam warna mistik sebagai berikut:
Aum berwarna putih dan berhubungan dengan para dewa (lha).
Ma berwarna biru dan berhubungan dengan para non dewa (lhamayin).[148]
Ni berwarna kuning dan berhubungan dengan manusia (mi).
Pad berwarna hijau dan berhubungan dengan binatang (tudo).
Me berwarna merah dan berhubungan dengan non manusia (Yidag[149] atau mi-ma-yin[150] yang lain).
Hum berwarna hitam dan berhubungan dengan para penghuni di tempat penyucian dosa.
Ada beragam opini mengenai efek pelafalan keenam silabel ini. Masyarakat umum berpendapat
mereka yang sering melafalkan rumusan ini akan terlahir di Surga Barat dari Kebahagiaan
Teragung. Yang lainnya yang menganggap dirinya lebih bijaksana menyatakan pelafalan berulang-
ulang dari Aum mani padme hum! Akan membebaskan seseorang dari kelahiran kembali di Enam
Alam Kehidupan.
Aum mani padme hum! Dipergunakan sebagai pendukung sebuah meditasi khusus yang lebih
kurang dapat digambarkan sebagai berikut:
Orang yang bersangkutan mengidentifikasi keenam makhluk dengan keenam silabel ini yang
digambarkan dengan warna masing-masing sebagaimana yang disebutkan di atas. Mereka lalu
membentuk semacam rantai tanpa ujung yang bersirkulasi melalui tubuhnya, dibawa dengan
nafasnya, memasuki salah satu lubang hidung orang ini dan keluar melalui lubang yang
satunya lagi.
190
saat konsentrasi pikiran orang ini menjadi lebih sempurna, ia akan melihat secara mental
bahwa rantai itu bertambah panjang. Sekarang saat rantai itu keluar bersama hembusan nafas,
silabel-silabel mistik ini terbuang cukup jauh sebelum kemudian dihirup kembali bersama
tarikan nafas berikutnya. Namun demikian, rantai itu bukanlah putus, ia hanya mengulur seperti
seutas karet dan senantiasa bersentuhan dengan orang yang bermeditasi ini .
Secara perlahan, aksara-aksara Tibet itu pun menghilang dan mereka yang telah ‘memperoleh
buah’ dari latihan ini menyadari keenam silabel ini sebagai enam alam kehidupan
dimana makhluk-makhluk yang tak berhingga dari keenam jenis alam ini muncul, bergerak,
bergembira, menderita, dan mati.
Dan sekarang saatnya bagi sang meditator untuk menyadari bahwa keenam alam (keseluruhan
dunia yang fenomenal) ini yaitu bersifat subjektif: sebuah kreasi pikiran semata yang
membayangkannya dan ke dalamnya alam-alam itu kemudian tengelam.
Kaum mistik tingkat lanjut dalam latihan ini mencapai suatu keadaan tidak sadar (trance) dimana
aksara-aksara rumusan itu, demikian juga makhluk-makhluk dan aktifitas-aktifitas mereka,
semuanya menyatu dalam That, yang dalam istilah Buddhis Mahayana disebut ‘Kekosongan’.
Lalu, sesudah menyadari ‘Kehampaan’ itu, mereka menjadi terbebas dari ilusi dunia dan sebagai
konsekuensinya mereka pun terbebas dari kelahiran kembali yang merupakan buah dari delusi
kreatif ini .
Interpretasi lain dari Aum mani padme hum! yang demikian banyak itu mengabaikan pembagian
keenam silabel dan mengambil rumusan itu sesuai dengan maknanya: ‘sebuah permata dalam
bunga teratai’. Kata-kata ini dianggap hanya bersifat simbolis saja.
Interpretasi yang paling sederhana yaitu : Dalam bunga teratai (yakni dunia) terdapat permata
berharga yakni ajaran Sang Buddha.
Penjelasan lain mengumpamakan bunga teratai itu sebagai pikiran. Di kedalamannya, dengan
meditasi introspektif, seseorang akan mampu menemukan mutiara ilmu pengetahuan, kebenaran,
realitas, pembebasan, nirvãna, berbagai istilah ini menjadi nilai-nilai yang berbeda bagi satu hal
yang sama.
Sekarang kita tiba pada sebuah makna yang berkaitan dengan doktrin-doktrin tertentu dari Buddhis
Mahayana.
Menurut mereka, nirvãna, pembebasan absolut, bukanlah terpisah dari samsãra, dunia fenomenal.
namun kaum mistik menemukan bahwa yang pertama berada dalam hati yang kedua, seperti
halnya ‘sang permata’ yang dapat ditemukan dalam ‘bunga teratai’ ini . Nirvãna, ‘sang
permata’, ada jika ada pencerahan. Samsãra, sang ‘bunga teratai’, ada jika ada delusi, yang
menyelubungi nirvãna, sebagaimana halnya kelopak-kelopak ‘teratai’ menyembunyikan ‘sang
permata’ yang bersarang di dalamnya.
Hum! Pada akhir rumusan itu, yaitu sebuah ekspresi mistik akan kemarahan yang kerap
digunakan dalam menaklukkan para dewa yang jahat dan menundukkan para setan. Bagaimana ia
bisa menjadi akhiran dari ‘permata dalam bunga teratai’ dan Aum dari India itu? – Hal ini sekali lagi
dijelaskan dalam berbagai cara.
Hum! yaitu sejenis jeritan perang mistik; mengucapkannya, berarti menantang sang lawan.
Siapakah sang lawan itu? Setiap orang membayangkannya dengan cara yang berbeda: entah
sebagai seorang teman yang berkuasa, atau sebagai sang trinity jahat yang mengikat kita dalam
191
lingkaran kelahiran kembali, yakni hawa nafsu, kebencian, dan kebodohan. beberapa pemikir andal
menganggapnya sebagai sang ‘Aku’. Hum! Disebutkan juga berguna untuk meniadakan pikiran
dari isi yang bersifat objektif, dsb, dsb.
Sebuah silabel ditambahkan lagi untuk menyempurnakan pengulangan Aum mani padme hum!
sebanyak seratus delapan kali pada kalung tasbih. Ia yaitu silabel hri! beberapa orang
menganggap bahwa ia menunjukkan sebuah kebenaran sejati yang tersembunyi dibalik apa yang
tampak dari luar, inti dasar dari segala sesuatu.
Selain Aum mani padme hum hri!, rumusan lain yang dilafalkan berulang-ulang yaitu Aum vajra
sattva! Yang artinya, ‘Aum makhluk yang paling agung (intan)’. Yang dimaksud dengan Yang paling
agung ini yaitu Sang Buddha. Para pengikut sekte topi merah selalu melafalkan: Aum vajra
guru padma siddhi hum! Sebagai pemujaan pada pendiri sekte mereka Padmasambhava. Kata-
kata itu berarti: Aum, guru Padma yang kuat dan agung, pembuat keajaiban, hum!
Rumusan yang lebih panjang dan paling populer yaitu yang disebut dengan ‘Kyabdo’.[151] Ini
yaitu rumusan berbahasa Tibet tanpa dicampur dengan bahasa Sanskrit, dan maknanya
sebenarnya biasa saja, namun jauh dari sederhana. Teks itu berbunyi sebagai berikut:
‘Aku berlindung pada semua pelindung suci. Wahai ayah-ayah dan ibu-ibu (leluhur) yang berkelana
di lingkaran kelahiran di balik wujud keenam makhluk berkesadaran. Untuk mencapai Kebuddhaan,
keadaan tanpa ketakutan dan kesedihan, biarkanlah pikiran kalian dituntun ke arah pencerahan.’
Rumusan ini sering kali diberikan pada para pemula pada masa awal tsams mereka. Kata-kata
ini sudah cukup dikenal dan siapapun dapat melafalkannya tanpa harus mengurung diri di
dalam tsams. Rumusan itu dianggap sangat bermanfaat dan sesuai digunakan dalam keadaan
apapun. Atas dasar alasan ini, aku memilih mereka untuk menemaniku selama perjalananku
menuju Lhasa, untuk memecahkan kebosanan mengulang terus menerus Aum mani padme hum!
Atau saat aku merasa perlu menenggelamkan diri dalam latihan yang khusuk untuk menghindari
perbincangan yang menganggu atau pertanyaan-pertanyaan yang memalukan yang dapat
membahayakan penyamaranku.
‘Kyabdo-tsams’ yang umum dilakukan yaitu dengan mengucilkan diri dalam sebuah pondok atau
kamar pribadi masing-masing dan mengulang rumusan di atas sebanyak seratus ribu kali, dan
diikuti dengan penghormatan (bersujud) dalam jumlah yang sama. Rumusan yang lain pun diulang
dengan cara yang sama, dengan seratus ribu kali penghormatan.
Orang Tibet melakukan penghormatan dengan dua cara. Yang pertama amat mirip dengan cara
hormat kowtow ala Cina. Perbedaannya yaitu sebelum bersujud, lengan diangkat ke atas kepala,
mengatupkan telapak tangan, lalu mengarahkannya berturut-turut ke jidat, mulut, dan dada.
Penghormatan jenis itu diulang tiga kali saat memberikan salam di depan patung-patung dalam
biara, para petinggi lhama, guru pribadi, dan kitab-kitab suci.
Penghormatan yang kedua disebut kyang chad. Penghormatan ini dilakukan dalam gaya India,
tubuh ditelungkupkan ke tanah, dan ini hanya dilakukan pada segelintir latihan-latihan kebaktian
khusus semisal latihan kyabdo di atas.
Para tsamspa, yang menginginkan gelar chagbum, mengulang seratus ribu kali rumusan kyabdo
ini saat melakukan penghormatan yang sama banyaknya. Jidat mereka benar-benar
menyentuh tanah ataupun lantai ruangan saat melakukan setiap penghormatan. Kontak yang
berulang-ulang antara daging dan permukaan yang keras ini kerap mengakibatkan sebuah benjolan
bahkan kadang sebuah luka. Luka atau benjolan ini dapat menjadi sebuah pertanda bagi para
192
pakar di bidang ini untuk memastikan apakah objek dari ritual ini sudah dicapai atau belum.
Para tsamspa, yang menganggap diri mereka sudah mahir dalam latihan kyabdo, lalu melakukan
latihan pernafasan. Hal ini termasuk melakukan berbagai postur, yang seringkali tidak lazim, saat
ia berlatih menarik nafas, mengeluarkan, dan menahannya[152] dalam berbagai cara.
Sering kali para tsamspa berlatih dalam keadaan telanjang, dan bentuk perut menjadi petunjuk
seberapa jauh tingkat kemahiran yang telah dicapai oleh sang siswa.
Di samping hasil yang tampak secara fisik, yang sebagian di antaranya telah dijabarkan dalam bab
terdahulu, orang-orang Tibet meyakini bahwa dengan menguasai pernafasan, seseorang akan
mampu menaklukkan semua hawa nafsu dan kemarahan, demikian juga nafsu badaniah,
memperoleh ketenangan, mempersiapkan pikiran untuk bermeditasi dan membangkitkan energi
spiritual.
“Nafas ibarat kuda dan pikiran yaitu penunggangnya,” kata para mistik Tibet. Jadi sang kuda
haruslah cukup terlatih. Namun nafas, sebagai imbalannya, mempengaruhi aktifitas mental dan fisik.
Alhasil, disusunlah dua metode: yang paling mudah yaitu menenangkan pikiran dengan
mengendalikan pernafasan. Yang tersulit yaitu mengatur nafas dengan mengendalikan pikiran.
Pada latihan pernafasan yang dilakukan beberapa kali dalam sehari, sang penyepi sering
menambahkan meditasi kontempaltif yang dilakukan dengan menggunakan kyilkhor.[153] Kyilkhor ini
yaitu unsur yang sangat penting dalam ritual magis yang disebut dubthab (metode keberhasilan).
Kyilkhor yaitu diagram yang digambar di atas selembar kertas atau kain, atau diukir pada
bebatuan, logam atau kayu. Ada juga yang dibentuk dengan bendera-bendera kecil, lampu-lampu
altar, batang-batang dupa, dan pot-pot yang berisi berbagai macam benda, seperti biji-bijian, air,
dsb. Figur-figur yang terlibat dalam kyilkhor beserta persyaratannya diwakili oleh kue-kue
berbentuk piramid yang disebut torma.
Kyilkhor juga digambar dengan tepung warna warni pada lantai biara atau papan tulis. Aku pernah
melihat beberapa di antaranya yang bergaris tengah sekitar tujuh kaki.
K a ta kyilkhor berarti sebuah lingkaran, namun demikian, diantara jenis-jenis kyilkhor yang
jumlahnya tak berhingga itu, terdapat beberapa yang berbentuk empat persegi, sementara kyilkhor
yang digunakan dalam ilmu hitam atau untuk menaklukkan entitas yang jahat berbentuk segitiga.
Para bhikkhu yang berharap untuk menjadi mahir dalam seni jenis ini menghabiskan waktu
bertahun-tahun untuk mempelajari peraturan-peraturan ini . Satu dari empat jurusan perguruan
tinggi yang terdapat pada semua biara besar mengajarkan seni menggambar kyilkhor yang
merupakan bagian dari ritual gaib para lhamais. Sebagaimana halnya semua yang berhubungan
dengan latihan mistik ataupun ilmu hitam yang bersifat rahasia, setiap murid harus mempelajarinya
secara khusus dengan guru pribadinya.
Sedikit saja kesalahan dalam menggambar sebuah kyilkhor atau dalam meletakkan torma-torma
pada tempatnya, akan berakibat sangat fatal, sebab kyilkhor merupakan sebuah alat gaib yang
akan melukai mereka yang tak ahli menanganinya.
Lagi pula, tak seorang pun yang boleh membentuk atau menggambar sebuah kyilkhor jika ia belum
diberkahi kekuatan untuk melakukannya melalui sebuah inisisasi yang seharusnya, dan setiap
variasi kyilkhor membutuhkan sebuah inisiasi khusus. Dengan demikian hasil kerja seorang yang
belum diinisiasi tidak akan memiliki kekuatan dan tidak akan berfungsi.
193
Sementara itu hanya sedikit yang mengerti benar makna simbolis kyilkhor ini , juga teori-teori
yang menguraikan tentang manfaatnya bagi latihan psikis.
Tak perlu dikatakan lagi bahwa kyilkhor yang berukuran besar dan rumit tidak akan muat dalam
tsams khang, sehingga bentuk kyilkhor di tempat itu yaitu yang lebih sederhana.
Pada awal masa pendidikan spiritualnya, sang siswa baru akan diajarkan gurunya cara membentuk
sebuah diagram yang digunakan sebagai pendukung (rten) dalam memfokuskan perhatiannya saat
bermeditasi.
Salah satu latihan yang paling sering dilakukan – entah dengan atau tanpa sebuah kyilkhor – pada
masa pembelajaran ini , yaitu sebagai berikut:
Seorang dewa dibayangkan; pertama-tama ia direnungkan sendirian, lalu dari tubuhnya muncul
wujud-wujud yang kadang menyerupainya, kadang tidak. Mereka biasanya berjumlah empat orang,
namun dalam beberapa meditasi mereka bisa berjumlah ratusan bahkan tak berhingga.
Saat semua wujud ini tampak jelas di sekeliling figur utama, mereka satu persatu diserap kembali
ke dalam tokoh utama ini . Sekarang sang dewa asli kembali sendirian lalu perlahan
menghilang. Dimulai dari kakinya, perlahan diikuti seluruh badannya dan akhirnya kepalanya. Hanya
sebuah titik yang tersisa. Titik ini bisa hitam, berwarna, atau berkilauan. Para pakar mistik
menginterpretasikan ini sebagai tanda yang menunjukkan tingkat kemajuan spiritual yang telah
dicapai muridnya.
Lalu, titik itu bergerak mendekati orang yang tengah membayangkannya dan tenggelam ke
dalamnya. Orang itu harus memperhatikan ke bagian tubuh mana ia menghilang. Latihan itu
kemudian dilanjutkan dengan sebuah periode meditasi, yang dapat dilakukan kembali sebanyak
yang diinginkan.
Seseorang dapat juga membayangkan sekuntum teratai. Bunga itu mekar secara perlahan dan dari
tiap kelopaknya berdiri Sang Bodhisatva, salah satunya bertahta di inti teratai itu. Sesaat
kemudian, saat kelopak-kelopak itu mengatupkan dirinya kembali, setiap helai memancarkan
seberkas sinar yang lalu tenggelam ke dalam pusat bunga, dan saat bunga itu menguncup
sempurna, seberkas cahaya memancar dari pusatnya dan memasuki tubuh orang yang tengah
bermeditasi ini . Terdapat beberapa jenis latihan yang serupa.
Banyak dari para siswa pemula yang tidak melanjutkan lebih jauh. Imej-imej yang saya lukiskan di
atas, yang jelas cukup aneh dan tidak masuk akal, namun membentuk sebuah teka-teki dari
beragam aspek tak terduga yang lalu mereka renungkan sesudah berlatih beberapa waktu.
Imej-imej ini menyuguhkan sebuah tontonan dalam penyepian yang setara dengan kisah
dongeng terindah yang dimainkan di atas panggung. Bahkan mereka yang menyadari benar bahwa
gambaran-gambaran itu hanyalah bersifat ilusi pun menikmatinya, dan bagi mereka yang
mempercayai bahwa para pemain itu yaitu nyata, pastilah akan tersihir oleh pesona mereka.
Bagaimanapun, tujuan latihan-latihan itu bukanlah untuk membingungkan para pertapa. Maksud
utamanya yaitu untuk menuntun sang siswa memahami bahwa dunia dan seluruh fenomena yang
kita serap merupakan halusinasi yang lahir dari imajinasi kita.
‘Mereka muncul dari pikiran
Dan ke dalam pikiran mereka akan tenggelam.’
Sebenarnya inilah ajaran fundamental dari kaum mistik Tibet.
194
Jika sekarang kita menyimak kasus seorang bhikkhu yang dibandingkan menempatkan dirinya di
bawah bimbingan spritual seorang lhama yang merupakan anggota sebuah biara, lebih memilih
untuk memohon ajaran seorang pertapa kontemplatif naljorpa, maka latihan-latihan ini akan
mengambil aspek yang lain. Metode-metodenya menjadi ganjil, kadang bahkan kejam; kita sudah
melihatnya di bab terdahulu.
Trilogi: Pemeriksaan, Meditasi, Pemahaman, menjadi bagian terpenting bagi para pengikut ‘Jalan
Pintas’ dan aktifitas intelektual sang siswa secara khusus diarahkan kepada tujuan-tujuan ini.
Kadang-kadang sarana yang digunakan kelihatan berlebihan, namun jika diselidiki lebih jauh kita
akan melihat bahwa maksud objek itu cukup beralasan. Terlihat jelas juga bahwa para penemu
metode-metode yang menarik ini amat memahami pikiran saudara mereka yang berada di wilayah
sekitarnya dan telah merancangnya menurut kemampuan mereka.
Padmasambhava dikatakan telah menjabarkan langkah-langkah dalam jalan mistik ini
dengan cara berikut:
1. Membaca beberapa besar artikel dari berbagai agama dan bermacam filosofis.
Mendengarkan para cendekiawan yang memiliki doktrin-doktrin yang berbeda. Mencoba sendiri
beberapa metode yang ada.
2. Memilih salah satu doktrin di antara beragam doktrin yang telah dipelajari dan membuang
yang lain, sebagaimana elang yang hanya menyambar seekor domba dari sekawanan domba yang
ada.
3. Tetap berada di kalangan bawah, rendah hati dalam bersikap, tidak berusaha menjadi
orang penting atau menyolok di mata dunia, namun di balik penampilan yang tidak menonjol, ia
membiarkan pikirannya melesat melampaui semua kemegahan dan kekuatan duniawi.
4. Tidak membeda-bedakan segala sesuatu. Berprilaku seperti seekor anjing atau babi yang
melahap apapun yang disodorkan padanya. Tidak membuat pilihan pada apapun yang ditemui.
Tidak melakukan usaha apapun untuk memperoleh atau menghindari sesuatu. Menerima apapun
yang datang dengan sikap netral yang sama: kekayaan atau kemiskinan, pujian atau hinaan,
melepaskan perbedaan antara perbuatan baik dan buruk, terhormat dan tercela, sifat baik dan
jahat. Tidak meratapi atau menyesali segala sesuatu yang telah dilakukan, dan sebaliknya, tidak
merasa tersanjung atau bangga atas segala sesuatu yang telah dicapai.
5. Mempertimbangkan segala sesuatu dengan penuh ketenangan dan tidak terpengaruh opini-
opini yang saling bertentangan dan berbagai manifestasi dari aktifitas semua makhluk. Mengerti
bahwa semua itu merupakan sifat alamiah dari segala sesuatu, tindakan dari setiap entitas yang
tak terelakkan dan tetap bersikap tenang. Memandang dunia ini seperti seorang yang berdiri di
puncak gunung tertinggi memandang lembah-lembah dan puncak-puncak gunung yang lebih rendah
yang terhampar di bawahnya.[154]
6. Disebutkan bahwa langkah keenam ini tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Hal itu
berkaitan dengan penyadaran akan ‘Kekosongan’[155], yang dalam terminologi kaum Lhamais,
merupakan realitas yang tak terekspresikan.
Terlepas dari program-program di atas, yaitu tidak mungkin untuk menyusun tahapan-tahapan
yang teratur dari beragam pelatihan yang direncanakan oleh para pertapa mistik Tibet. Dalam
prakteknya, berbagai latihan ini dikombinasikan. Dan sebab setiap lhama mengadopsi sebuah
metode tertentu, sehingga sangat jarang dapat menemukan dua orang siswa dengan guru yang
sama yang berjalan di jalan yang sama.
195
Kita harus memutuskan untuk dapat menerima sebuah kekacauan yang jelas kelihatan yang
merupakan akibat dari pemahaman dan tingkat kecerdasan tiap orang yang berbeda-beda, dan
sang guru, para pakar ‘Jalan Pintas’, menolak untuk turun tangan. ‘Kebebasan’ merupakan motto di
‘Tanah Bersalju’ ini, namun cukup aneh juga, sebab seorang siswa memulai jalan kebebasan
sepenuhnya itu dengan kepatuhan yang sangat kaku kepada pembimbing spiritualnya. Namun
demikian, kepatuhan yang disyaratkan itu hanya terbatas pada latihan-latihan spiritual dan psikis
serta pada cara hidup yang dijabarkan sang guru. Tidak ada pemaksaan dogma-dogma. Sang
siswa boleh percaya, menolak atau meragukan apa saja sesuai dengan kata hatinya sendiri.
Aku pernah mendengar seorang lhama berkata bahwa fungsi seorang guru, seorang ahli ‘Jalan
Pintas’, yaitu untuk mengawasi sebuah ‘pembersihan’. Dia harus mendorong sang siswa
membebaskan dirinya dari semua kepercayaan, ide-ide, kebiasaan-kebiasaan lama,
kecenderungan-kecenderungan yang merupakan bagian dari pikirannya sekarang ini, yang telah
berkembang dari kehidupan-kehidupan yang lalu, yang titik awalnya sendiri hilang ditelan waktu.
Dengan kata lain, sang guru harus memperingatkan siswanya untuk berada di bawah bimbingannya
saat menerima kepercayaan-kepercayaan baru, ide-ide, dan kebiasaan-kebiasaan tak beralasan
dan irasional seperti yang telah ia lepaskan sebelumnya.
Menghindari pengimajinasian sesuatu yaitu disiplin dalam ‘Jalan Pintas’. Tujuan berimajinasi,
dalam meditasi kontemplatif, yaitu untuk menunjukkan penciptaan secara sadar oleh persepsi
dan sensasi, sifat ilusif dari persepsi dan sensasi, yang kita terima sebagai sesuatu yang nyata
meskipun mereka juga bersumber dari imajinasi; perbedaan satu-satunya yaitu , dalam kasus
mereka, penciptaan itu secara tidak sadar menimbulkan akibat.
Sang pembaharu Tibet, Tsong Khapa, menganggap meditasi sebagai ‘sarana bagi seseorang
untuk menolak semua pemikiran imajinatif berikut benih-benihnya’[156], sehingga tidak ada ide-ide
khayalan yang dapat muncul di masa mendatang, yang merupakan bagian dari ‘pembersihan’ yang
telah disebutkan di atas.
Dua latihan dijabarkan secara khusus oleh para pakar jalan mistik.
Yang pertama yaitu : mengamati dengan sungguh-sungguh kerja pikiran tanpa berusaha
mencampurinya.
Duduk di tempat yang tenang, sang siswa berusaha sebisanya untuk tidak memusatkan
perhatiannya secara sadar pada sebuah objek atau arah tertentu. Dia menandai ide-ide, kenangan,
keinginan, dsb yang muncul secara spontan, dan mengamati bagaimana saat muncul yang lain,
mereka lalu tenggelam untuk beristirahat di dalam pikiran.
Dia juga memperhatikan imej subjektif, yang tampaknya tak berkaitan dengan pikiran atau
sensasinya saat itu, yang muncul kala matanya tengah terpejam: orang-orang, binatang,
pemandangan alam, kerumunan orang yang bergerak, dsb.
Selama latihan ini , ia berusaha untuk tidak membuat refleksi terhadap tontonan yang sedang
ia lihat, hanya memandang dengan pasif aliran pikiran-pikiran yang cepat dan terus menerus, serta
imej mental yang berputar, saling mendorong, bergulat, dan mati.
Dikatakan bahwa saat sang siswa mulai melepaskan ‘pijakan-pijakan kaku’ yang
membelenggunya hingga saat itu, dalam kualitasnya sebagai seorang penonton, berarti ia sudah
akan mulai mengumpulkan buah dari latihan-latihannya itu. Dia juga – jadi harus ia mengerti –
yaitu seorang aktor di atas panggung yang ramai ini . Introspeksinya saat ini, semua
196
tindakan dan pikiran-pikirannya, dan gabungan semuanya yang lalu ia sebut diri, tak lain hanyalah
buih-buih sesaat pada sebuah pusaran air yang terbentuk dari buih-buih yang jumlahnya tak
berhingga yang berkumpul sesaat, berceraian, pecah, dan terbentuk kembali, mengikuti ritme yang
membingungkan.
Latihan kedua ditujukan untuk menghentikan penjelajahan sang pikiran sehingga seseorang dapat
memusatkannya pada sebuah objek tunggal.
Latihan-latihan untuk mengembangkan sebuah konsentrasi pikiran yang sempurna, secara umum
dianggap sangat diperlukan oleh para siswa tanpa kecuali. Sementara pengamatan aktifitas
pikiran hanya direkomendasikan kepada para siswa yang paling cerdas.
Semua sekte Buddhis pada dasarnya mempraktekkan pelatihan pikiran pada ‘satu fokus’.
Di negara-negara Buddhis Selatan – Sri Lanka, Thailand, Burma – terdapat peralatan meditasi
yang disebut kasina, berupa piringan tanah liat dari berbagai warna, atau sebuah permukaan bulat
yang diisi air, atau api yang ditatapi dari balik sebuah tirai yang dilubangi – yang digunakan untuk
tujuan ini .
Salah satu dari objek berbentuk bulat ini diamati hingga saat dalam keadaan mata terpejam,
objek itu terlihat persis sama dengan saat dilihat dengan mata terbuka.
Proses ini tidak dimaksudkan untuk menghasilkan sebuah keadaan terhipnotis, sebagaimana
yang dikatakan beberapa cendekiawan Barat, namun untuk membiasakan seseorang memusatkan
pikirannya. Keadaan dimana imej subjektif menjadi sejelas imej objektif yaitu keadaan – menurut
mereka yang merancang metode ini – dimana ‘satu fokus’ itu telah dicapai.
Orang Tibet menganggap bahwa jenis objek yang dipilih untuk berlatih bukanlah suatu hal yang
penting. Apapun yang lebih mudah menarik dan menahan pikiran sang siswa cenderung lebih
disukai sebagai objek.
Terdapat sebuah kisah sangat populer di dunia religius Tibet yang menggambarkan sebuah hasil
gemilang dari latihan ini.
Seorang lelaki muda memohon bimbingan spiritual dari seorang pertapa mistik. Sang guru
memintanya untuk mulai dengan melatih dirinya sendiri dalam pemusatan pikiran.
“Apa jenis pekerjaan yang biasa kamu lakukan?” dia bertanya pada siswa barunya.
“Saya menjaga yak[157] di perbukitan,” jawab lelaki itu.
“Baiklah,” kata sang gomchen. “Bermeditasilah dengan objek seekor yak.”
Siswa pemula itu lalu membenahi sebuah gua yang cukup sederhana sebagai tempat tinggalnya –
beberapa tempat bernaung yang demikian dapat dijumpai di wilayah yang dihuni oleh para
penggembala – dan menetap di sana.
Beberapa waktu kemudian, sang guru pergi ke tempat itu dan memanggil siswanya keluar dari gua.
Si siswa mendengar suara gurunya, lalu ia bangkit dan hendak melangkah keluar melalui pintu
masuk rumah primitifnya. Namun meditasinya telah mencapai tujuannya. Dia telah menyamakan
dirinya dengan objek yang mana seluruh pikirannya selama ini terpusat padanya, dia telah
melupakan kepribadiannya sendiri, dia merasa dirinya sesekor yak. Sekarang, meskipun pintu gua
itu memungkinkan untuk dilewati seorang manusia, namun terlalu sempit untuk seekor lembu besar,
maka saat bersusah payah melawan sebuah rintangan khayalan itu, sang lelaki muda menjawab
197
gurunya: “Saya tidak bisa keluar, tandukku ini menghalangi jalanku.”
Walaupun sangat menghormati segala sesuatu yang berhubungan dengan agama, namun
masyarakat Tibet masih tetap menyisakan selera humornya. Mereka tak luput memperhatikan
akibat yang menggelikan dari latihan ini jika dilakukan oleh para siswa yang berpemikiran
sederhana.
Cerita berikut ini dikisahkan padaku kala aku melakukan perjalanan dengan seorang naljorpa dari
Gartog.
sesudah tinggal beberapa lama dengan gurunya untuk menerima perintahnya, seorang murid yang
cukup bersemangat pun kembali ke tempat pertapaannya. Saat berjalan, ia mulai bermeditasi dan,
mengikuti aturan populer yang dianggap sangat santun, ia membayangkan guru yang sangat
dihormatinya duduk di atas kepalanya. Tak lama kemudian, ia memasuki keadaan tidak sadar
dimana ia merasa benar-benar sedang membawa sang lhama di atas kepalanya.
Sebongkah batu membuatnya terjatuh, namun sedemikian kuatnya konsentrasi pikirannya hingga
kekagetan itu tidak membuat perhatiannya buyar. Dia bangkit dan meminta maaf dengan keras:
“Saya minta maaf, ‘Yang Mulia’. Saya bersalah sebab membuatmu terjatuh, saya harap Guru tidak
terluka… Di mana Guru sekarang?…”
Dan murid yang baik itu segera bergegas memeriksa lembah di sekitarnya kalau-kalau gurunya
terguling ke sana.
Sebuah kisah lain tentang ‘Sang lhama di kepala’ diceritakan padaku oleh seorang lhama
Dugpa.[158] Lelucon ini lebih kasar dari yang sebelumnya dan mencerminkan pikiran orang-orang
gunung Dugpa yang berpostur tinggi besar dan kuat.
Seorang bhikkhuni, katanya, dinasehatinya oleh guru spiritualnya untuk membayangkan dirinya
tengah duduk di atas kepalanya saat bermeditasi. Sang bhikkhuni pun melaksanakannya, dan
sebab gurunya bertubuh gemuk dan tinggi, maka berat tubuhnya menyebabkannya merasa
kesakitan. Semua perempuan di dunia ini, harus kita percayai, yaitu sangat pintar menemukan
jalan keluar dari kesulitan.
saat berkunjung kembali ke tempat gurunya, sang guru bertanya apakah ia menuruti perintahnya
untuk bermeditasi dengan membayangkan dirinya duduk di atas kepalanya.
“Saya telah melaksanakannya, ‘Yang Mulia’”, jawab sang bhikkhuni, “akan namun , berat tubuh Guru
tak kuat saya pikul, maka saya berganti tempat dengan Guru dan saya pun duduk di atas kepala
Guru.”
Satu variasi lagi dalam latihan konsentrasi yakni dengan memilih suatu pemandangan, sebuah
taman, misalnya, sebagai subjek meditasi.
Pertama, sang siswa mengamati taman ini , memperhatikan setiap detilnya. Bunga-bunga,
jenis-jenisnya, cara mereka berkelompok, pepohonan, ketinggiannya, bentuk cabangnya,
perbedaan bentuk daunnya, dan seterusnya, mengingat setiap ciri-ciri yang bisa ia kenali.
Saat ia telah bisa membentuk bayangan subjektif dari taman ini , yakni saat ia melihatnya
dengan mata terpejam sejelas saat ia melihat langsung, si siswa lalu secara perlahan
menghilangkan satu persatu detil-detil yang membentuk taman ini .
Perlahan, bunga-bunga kehilangan warna dan bentuknya, mereka hancur menjadi potongan-
198
potongan halus yang berubah menjadi abu, dan akhirnya menghilang. Pepohonan, juga, kehilangan
dedaunannya, cabang-cabangnya menjadi pendek, seperti tertarik kembali ke batangnya. Batang-
batang pohon lalu mengecil, hingga seperti sebuah garis, menjadi lebih halus dan lebih halus
hingga akhirnya tidak kelihatan lagi.
Sekarang, hanya tinggal bebatuan dan tanah di lahan taman yang harus dihilangkan oleh sang
siswa. Lahan itupun akhirnya menghilang….
Dikatakan bahwa dengan latihan yang demikian seseorang akan berhasil dalam membuang semua
ide akan bentuk dan materi dan dengan demikian secara perlahan akan mencapai berbagai tingkat
kesadaran, yakni ‘murni, ruang tanpa batas’, lalu ‘kesadaran tanpa batas’, akhirnya seseorang akan
tiba di ‘keadaan kekosongan’, dan kemudian menuju keadaan ‘bukan kesadaran dan bukan pula
tanpa kesadaran’.[159]
Keempat meditasi kontemplatif ini sering disebutkan dalam Kitab Suci Buddhis dan diakui oleh
semua sekte Buddhis sebagai bagian dari pelatihan spiritual. Mereka disebut ‘kontemplasi tanpa
bentuk.’
Banyak metode yang telah dirancang untuk menuju ke kondisi-kondisi pikiran ini. Kadang-kadang,
keadaan-keadaan pikiran ini dihasilkan oleh sebuah kontemplasi yang sepenuhnya tanpa
perenungan-perenungan, sementara pada kasus-kasus lain mereka mengikuti sebuah seri
introspeksi-introspeksi atau dapat juga merupakan hasil dari refleksi dan investigasi yang panjang
mengenai dunia luar. Akhirnya, dikatakan bahwa ada orang-orang yang secara tiba-tiba dapat
mencapai salah satu dari keempat keadaan pikiran ini tanpa persiapan apapun, di mana saja, atau
saat sedang melakukan apa saja.
Latihan berikut telah digambarkan sekilas dalam kisah seorang lelaki yang merasa dirinya seekor
yak. Namun demikian, terdapat perkembangan selanjutnya yang tidak diketahui oleh sang
pahlawan dalam kisah ini .
Misalnya, si siswa memilih sebatang pohon, sebagai objek meditasi, dan telah mengidentifikasi
dirinya sebagai pohon ini . Artinya ia telah kehilangan kesadaran akan kepribadiannya sendiri
dan mengalami sensasi-sensasi khusus yang berasal dari sebatang pohon. Dia merasa dirinya
terdiri dari batang kayu yang keras dengan cabang-cabang, dia merasakan sensasi angin yang
menggerakkan dedaunan. Dia memperhatikan aktifitas akar mengisap makanan dari tanah, air
yang meresap naik dan menyebar ke seluruh pohon, dan seterusnya.
Lalu, sesudah secara mental berubah menjadi sebatang pohon (yang mana sekarang sudah menjadi
subjek), ia harus memandang si orang itu (yang sekarang telah menjadi objek) yang tengah duduk
di hadapannya dan harus memperhatikan orang itu secara detil.
sesudah selesai, sang siswa kembali menempatkan kesadarannya kepada orang itu dan
merenungkan pohon itu seperti sebelumnya. Kemudian, sesudah memindahkan kembali
kesadarannya kepada sang pohon, ia lalu merenungkan orang ini . Perpindahan posisi dari
subjek dan objek ini dilakukan beberapa kali.
Latihan ini biasanya dipraktekkan di dalam ruangan dengan sebuah patung kayu yang disebut gom
shing (kayu meditasi).[160] Sebatang dupa yang menyala juga digunakan pada ruangan yang
remang-remang atau gelap untuk mengarahkan pikiran dalam bermeditasi. Namun aku sekali lagi
menekankan bahwa hal ini tidak dimaksudkan untuk menghasilkan sebuah keadaan terhipnotis.
Persiapan untuk melakukan meditasi disebut niampar jagpa. Hal ini dilakukan dengan membuat
199
pikiran menjadi benar-benar tenang dan kontemplasi pada titik kecil api di puncak dupa membantu
menghasilkan ketenangan yang diinginkan.
Orang-orang yang telah terbiasa melakukan kontemplasi secara teratur, saat duduk dalam kurun
waktu tertentu untuk bermeditasi, kerap mengalami semacam sensasi seolah sebuah beban
ataupun jubah-jubah berat terlepas dari tubuhnya lalu memasuki wilayah yang hening dan luar biasa
tenangnya. Itu tak lain yaitu kesan dari pembebasan dan kedamaian yang oleh kaum mistik Tibet
disebut dengan niampar jagpa, ‘membuat seimbang’, ‘menjadi sebanding’ – yang artinya
menenangkan semua penyebab kegelisahan yang memainkan ‘gelombangnya’ melalui pikiran.
Latihan yang lain, yang kelihatannya jarang dipraktekkan, yaitu dengan ‘memindahkan kesadaran
seseorang ke dalam bagian tubuh seseorang’. Berikut penjelasannya.
Kita merasa kesadaran itu berada di dalam ‘hati’. Kedua lengan kita tampak bagi kita sebagai
‘benda tambahan’ bagi tubuh kita, dan kedua kaki tampak sebagai bagian yang jauh dari diri kita.
Kenyataannya, lengan, kaki dan bagian tubuh yang lain dilihat seolah mereka yaitu objek dari
sebuah subjek yang entah berada di mana.
Sekarang si siswa akan berusaha untuk membuat ‘kesadaran’ itu meninggalkan tempatnya yang
biasa dengan, misalnya, memindahkan ke tangannya. Lalu ia harus merasakan dirinya memiliki
wujud berupa lima jari dan sebuah telapak tangan, yang berada di ujung sebuah benda tambahan
yang panjang (lengan) yang menyatu dengan sebuah struktur bergerak yang besar, yakni tubuh.
Dengan kata lain, dia harus mengalami sensasi yang seharusnya dimiliki jika mata dan otak kita
terletak di telapak tangan dan bukan di kepala, sehingga ia bisa mengamati kepala dan tubuh,
kebalikan dari proses normal yang menatap ke bawah untuk mengamati tubuh dan tangan.
Apa maksud latihan yang ganjil ini? Jawaban yang paling sering diberikan atas pertanyaanku
mungkin akan kelihatan kurang memuaskan bagi banyak penanya yang lain, namun sepertinya
lumayan masuk akal.
Beberapa orang lhama mengatakan padaku bahwa tujuan latihan ini agak sulit untuk dijelaskan,
sebab mereka yang tidak pernah merasakan efeknya, akan sulit memahami penjelasannya.
Dengan latihan-latihan ganjil ini, seseorang akan mencapai kondisi psikis yang berbeda dengan
kondisi yang biasa kita kenal. Latihan-latihan ini akan membuat kita melewati batas-batas fiktif
yang kita berikan pada apa yang disebut diri. Keadaan itu membuat kita menyadari bahwa diri itu
merupakan suatu persenyawaan, tidak kekal; dan bahwa diri itu, sebagai diri, sebenarnya tidak
ada.
Salah seorang dari para lhama ini mengambil ucapan saya sebagai argumen untuk mendukung
teorinya.
saat ia berkata bahwa pikiran dan kesadaran berada didalam ‘hati’, aku berkata bahwa orang-
orang Barat lebih cenderung menempatkan pikiran dan kesadaran di dalam otak.
“Kamu lihat, kan,” teman bicaraku itu segera menjawab, “bahwa setiap orang bisa merasakan dan
mengenali pikirannya di berbagai tempat. sebab para Philing[161] ini mengalami sensasi berpikir di
dalam kepalanya, dan aku mengalaminya di ‘hati’, sehingga bisa saja ada orang yang percaya
bahwa kita dapat merasakannya di kaki. Namun semua ini hanyalah sensasi-sensasi yang menipu,
tanpa ada wujud nyatanya. Pikiran itu bukanlah di hati juga bukan di kepala, bukan di suatu tempat
di luar tubuh, terpisah, berjauhan, dan sesuatu yang asing baginya. Dalam rangka membantu
seseorang menyadari kenyataan inilah maka latihan-latihan yang tampaknya aneh ini dirancang.”
200
Di sini kembali kita melihat proses ‘pembersihan’ itu. Semua latihan ini dimaksudkan untuk
memusnahkan gagasan-gagasan yang diterima sebab kebiasaan dan tanpa penyelidikan lebih
lanjut. Objeknya yaitu untuk membuat seseorang mengerti bahwa ide-ide yang lain dapat
menggantikan ide-ide sebelumnya. Diharapkan juga bahwa sang siswa dapat menyimpulkan
bahwa tidak ada kebenaran sejati pada ide-ide yang bersumber dari sensasi-sensasi yang dapat
disisihkan oleh yang lain, bahkan yang bertolak berlakang pun dapat mengambil alih posisi mereka.
Teori-teori sejenis juga diyakini oleh para pengikut sekte Ts’an Cina. [162] Mereka
mengekspresikannya melalui kalimat-kalimat enigmatis (teka-teki) seperti:
“Lho, segumpal awan debu tengah muncul dari lautan dan deruan gelombang kedengaran di atas
daratan.”
“Aku berjalan dengan kaki, namun aku masih juga menunggang di pundak seekor lembu.”
“saat aku melintas di atas jembatan, lho! sungainya tidak banjir kok jembatannya yang banjir.”
“Dengan tangan kosong aku pergi, dan lihatlah! Gagang sekop ada di tanganku sekarang.”
Dan seterusnya.
Doktrin sekte Ts’an diartikan oleh salah seorang pengikutnya sebagai: “seni mengamati bintang
kutub di belahan bumi selatan”. Kata-kata paradoks ini mengingatkanku akan ucapan seorang
lhama kepadaku: “Seseorang haruslah menemukan si putih dalam si hitam dan si hitam dalam si
putih.”
Aku akan menyebutkan sebuah pertanyaan, yang umum di Tibet, yang biasanya dilayangkan oleh
para pertapa mistik maupun cendekiawan di biara kepada murid-muridnya.
“Bendera bergerak. Apa yang bergerak itu? – Apakah benderanya atau angin?”
Jawabannya yaitu bukan bendera juga bukan angin yang bergerak. yaitu pikiran yang
bergerak.
Para pengikut sekte Ts’an mengatakan bahwa pertanyaan ini dilontarkan pertama kali oleh
Patriach keenam dari sekte mereka. Suatu saat , di halaman biara, ia melihat dua siswa tengah
menatap sebuah bendera yang berkibar-kibar di udara. Salah satunya berkata: “Benderanya yang
bergerak.” Yang kedua membantah: “Anginnya yang bergerak.” Lantas sang guru menjelaskan
kepada keduanya bahwa persepsi dari sebuah gerakan yang mereka alami itu sebenarnya
bukanlah berkaitan dengan bendera ataupun anginnya, namun berkaitan dengan sesuatu yang
terdapat dalam diri mereka sendiri.
Kita jadi bertanya-tanya, cara berpikir yang demikian diimpor ke Tibet dari India atau Cina? Berikut
yaitu pendapat yang diucapkan seorang lhama kepadaku: “Orang-orang Bönpo,” katanya,
“mengajarkan hal-hal demikian jauh sebelum Padmasambhava datang ke Tibet.”[163]
Dengan mengabaikan penyelidikan yang lebih jauh tentang hasil-hasil transendental dari
pemindahan kesadaran ke tempat-tempat berbeda dari tubuh seseorang, aku dapat
menambahkan di sini bahwa selama proses latihan ini, sebuah sensasi panas yang aneh terasa di
tempat dimana seseorang memindahkan kesadarannya ke sana.
Agak sulit menjelaskan apakah fenomena itu yaitu penambahan derajat panas yang sebenarnya
atau hanyalah sebuah sensasi subjektif semata. Ide untuk menyelidiki hal itu akan membuyarkan
konsentrasi pikiran sehingga menghancurkan sebab yang menghasilkan panas ini . Dan untuk
201
mengamati orang lain yaitu juga suatu hal mustahil. Para pertapa Tibet dan siswa-siswanya
sangat berbeda dengan para ahli kebatinan profesional Barat yang bekerja untuk mencari uang dan
mengizinkan kita menyelidiki fenomena yang mereka ciptakan. Murid seorang gomchen yang
paling tidak menonjol sekalipun akan merasa heran jika kita mengajukan usul itu padanya. Aku
dapat mendengarnya menjawab: “Aku tak peduli apakah Anda percaya atau tidak fenomena ini,
dan aku tak berhasrat untuk meyakinkanmu. Aku bukanlah seorang pesulap yang sedang
mempertontonkan pertunjukannya.”
Kenyataannya yaitu , orang-orang Timur, kecuali para dukun yang suka pamer, tidak suka
mempertontonkan ilmu mistik, filosofi ataupun pengetahuan mereka. Sangat sulit untuk memperoleh
rasa percaya mereka dalam hal ini. Seorang pengelana yang hendak memperoleh informasi itu
kemungkinan akan menjadi tamu seorang lhama selama beberapa bulan, minum teh dengannya
setiap hari, lalu berpamitan sembari berpikir bahwa sang tuan rumah tidak tahu apa-apa, padahal
sebaliknya, sang lhama sebenarnya mampu menjawab semua pertanyaannya dan bahkan dapat
mengajarkannya lebih banyak hal yang tak pernah terpikirkan olehnya.
Tidak peduli apakah panas ini nyata ataukah hanya bersifat subjektif, latihan itu telah lebih
dari sekali menghangatkan kakiku, dan memberikanku tidur yang nyaman saat bermalam di
bawah tenda – atau bahkan tanpa tenda – di alam bebas yang bersalju. Namun latihan itu
memerlukan usaha yang cukup keras dan amat meletihkan, kecuali bagi mereka yang sudah
berlatih dalam kurun waktu yang cukup lama.
Sebagai tambahan, aku akan mengingatkan sebuah kenyataan bahwa istilah-istilah yang
kuterjemahkan sebagai ‘consciousness (kesadaran)’ dan ‘mind (pikiran)’ belumlah memiliki makna
yang sebenarnya sebagaimana yang dimaksud orang-orang Tibet.
Mereka membedakan sebelas jenis ‘kesadaran’ dan memiliki tiga kata dalam bahasa mereka
yang kita paksakan untuk diterjemahkan sebagai ‘pikiran’, dan tiap kata mereka itu mempunyai
makna filosofis tersendiri.
Cara yang lazim digunakan untuk meningkatkan konsentrasi pikiran yaitu dengan meletakkan
sebuah lampu kecil yang menyala di atas kepala si pemula yang bermeditasi di tempat terpencil.
Sebuah lampu Tibet terdiri dari sebuah wadah yang berbentuk seperti cangkir, terbuat dari tanah
liat ataupun logam; alas lampu ini bentuknya melebar ke bawah, seperti sebuah cangkir
kedua yang diletakkan terbalik. Lampu ini diisi mentega cair; seutas sumbu dimasukkan ke dalam
sebuah lubang di dasar lampu yang memang disediakan untuk itu. Kala mentega itu dingin, ia akan
berbentuk seperti sebuah kue dan lampu pun itu siap untuk dinyalakan.
Alat ini dengan mudah dapat bertengger di atas kepala selama orang yang bersangkutan tetap
dalam keadaan diam, dan gerakan sekecil apapun akan segera menjatuhkannya. sebab sebuah
konsentrasi yang sempurna menghasilkan keadaan yang sepenuhnya tanpa gerakan, maka
jatuhnya lampu akan segera membuktikan adanya kegagalan.
Dikatakan bahwa ada seorang lhama yang suatu saat meletakkan sebuah lampu di kepala
siswanya, keesokkan harinya ia melihat sang siswa masih duduk bermeditasi, namun lampu
ini tergeletak di atas tanah di sampingnya tanpa mentega di dalamnya. Saat menjawab
pertanyaan gurunya, sang siswa yang tidak mengerti maksud latihan itu berkata:
“Lampu ini tidak jatuh, saya yang meletakkannya di sana saat menteganya sudah habis dan
lampunya padam.”
“Bagaimana kamu bisa tahu apinya padam, atau bahkan dapat menyadari ada lampu di atas
202
kepalamu, jika kamu telah mencapai konsentrasi pikiran yang benar?” jawab sang guru.
Kadang sebuah mangkok yang diisi air digunakan sebagai pengganti sebuah lampu.
Beberapa guru juga memerintahkan siswa-siswa mereka, baik sebelum saat melakukan meditasi
ataupun segera sesudahnya, untuk membawa sebuah mangkuk yang penuh berisi air hingga ke
pinggirnya dari satu tempat ke tempat lain. Latihan ini bertujuan untuk menguji tingkat ketenangan
pikiran. Gejolak seringan apapun pada pikiran, apapun penyebabnya – kegembiraan atau
kesedihan, kenangan, keinginan, dsb. – akan mengakibatkan sebuah gerakan pada tubuh. Dan
sedikit saja getaran di jemari sudah cukup ampuh untuk menggoyang mangkok dan menumpahkan
sebagian airnya, seberapa sering ‘kecelakaan’ itu terjadi akan menunjukkan tingkat gejolak yang
terjadi pada pikiran. Demikianlah kira-kira dasar teori dari latihan itu.
Teori ini berikut semua latihan-latihan yang berdasarkan padanya, dikenal di seluruh negara-negara
Timur. Orang India memiliki beberapa kisah-kisah mengenai hal itu, dan inilah salah satunya.
Seorang rishi[164] memiliki seorang siswa yang ia percaya telah mencapai kemajuan spiritual yang
cukup tinggi. sebab berharap siswanya dapat memperoleh pelajaran tambahan dari Janaka,
seorang guru agung yang dianggap raja, ia pun mengirim anak muda itu kepadanya. Awalnya,
Janaka membiarkan pendatang baru itu berada di luar pagar istananya selama beberapa hari,
bahkan menginjak halamannya pun tidak diizinkan. Namun begitu, sang siswa yang telah terlatih itu,
meskipun ia dari kalangan kasta brahma, tidak menunjukkan sedikitpun tanda-tanda kesedihan,
tersinggung, atau ketidaksenangan atas perlakuan yang menghina itu.
saat pada akhirnya ia diizinkan memasuki kediaman sang raja, di pintu masuk ke aula istana itu
ia diberikan sebuah mangkuk berisi air yang penuh hingga ke pinggirnya dan diperintahkan untuk
berjalan mengitari aula.
Janaka, meskipun pikirannya benar-benar sudah tak terpengaruh akan hal-hal duniawi, namun ia
tetap dikelilingi oleh kegemerlapan khas dunia Timur. Emas dan batu-batu berharga berkilauan di
seluruh dinding aula, para pejabat istana dengan perhiasan mahal mengelilingi sang penguasa, dan
para penari istana, yang cantik bak bidadari, dengan pakaian yang terbuka, tersenyum pada anak
muda itu saat ia lewat di depan mereka.
Namun demikian, siswa itu menyelesaikan ujian itu tanpa setitik air pun yang tumpah. Semua yang
berada di depan matanya tak sanggup membuat riak sekecil apapun pada pikirannya.
Janaka lalu mengirimkannya kembali kepada gurunya sembari berkata bahwa ia tidak memerlukan
pelajaran apapun lagi.
Orang-orang Tibet mengenal baik teori yang berkaitan dengan khorlos (roda-roda) yang
merupakan hal klasik bagi para pengikut Hindu Tantrisme. Tampaknya hal itu masuk ke Tibet
melalui India atau Nepal, namun terdapat beberapa perbedaan antara interpretasi yang diberikan
oleh para lhama dengan yang beredar di kalangan Hindu.
Khorlos itu dikatakan merupakan pusat energi yang berada di beberapa bagian tubuh. Mereka
sering disebut juga ‘lotus’. Praktek-praktek yang berkaitan dengan khorlos yaitu bagian dari
ajaran eksoterik. Tujuan umum dari latihan dimana khorlos memainkan sebuah peran yaitu untuk
menarik suatu aliran energi ke arah lotus yang lebih tinggi: dabtong (lotus dengan seribu kelopak)
yang berada di puncak kepala. Berb












