Sastra Hindu kebanyakan ditulis dalam bahasa Sansekerta. Kata “sastra”, berakar dari
kataShastra yang merujuk pada ilmu pengetahuan secara umum yang tidak lekang oleh
waktu. Sastra Hindu dibagi atas dua bagian besar yaitu Åšruti — yang di dengar (wahyu)
dan Smrti — yang di ingat (tradisi, bukan wahyu).
Veda sebagai sastra suci utama bagi umat Hindu, merupakan bagian dari Sruti, sebab
didasarkan pada penerimaannya melalui wahyu langsung dari Brahman melalui para
Maharsi dan ajarannya disebarkan melalui tradisi lisan turun-temurun (pada masa
turunnya Veda, manusia belum menemukan tulisan). Sedangkan yang termasuk dalam
kategori Smrti yaitu Dharmasastra (kitab hukum), Itihasa (sejarah), Sutra,
Agama,Darsana (filsafat). Mahakarya Mahabharata dan Ramayana termasuk dalam bagian
dari Smrti, disebab kan kedua epos ini masuk dalam kategori Itihasa.
Pengertian Weda
Sumber ajaran agama Hindu yaitu Kitab Suci Weda, yaitu kitab yang berisikan ajaran
kesucian yang diwahyukan oleh Hyang Widhi Wasa melalui para Maha Rsi. Weda
merupakan jiwa yang meresapi seluruh ajaran Hindu, laksana sumber air yang mengalir
terus melalui sungai-sungai yang amat panjang dalam sepanjang abad. Weda yaitu sabda
suci atau wahyu Tuhan Yang Maha Esa.
Weda secara ethimologinya berasal dari kata “Vid” (bahasa sansekerta), yang artinya
mengetahui atau pengetahuan. Weda yaitu ilmu pengetahuan suci yang maha sempurna
dan kekal abadi serta berasal dari Hyang Widhi Wasa. Kitab Suci Weda dikenal pula
dengan Sruti, yang artinya bahwa kitab suci Weda yaitu wahyu yang diterima melalui
pendengaran suci dengan kemekaran intuisi para maha Rsi. Juga disebut kitab mantra
sebab memuat nyanyian-nyanyian pujaan. Dengan demikian yang dimaksud dengan
Weda yaitu Sruti dan merupakan kitab yang tidak boleh diragukan kebenarannya dan
berasal dari Hyang Widhi Wasa.
Bahasa Weda
Bahasa yang dipergunakan dalam Weda disebut bahasa Sansekerta, Nama sansekerta
dipopulerkan oleh maharsi Panini, yaitu seorang penulis Tata Bahasa Sensekerta yang
berjudul Astadhyayi yang sampai kini masih menjadi buku pedoman pokok dalam
mempelajari Sansekerta.
Sebelum nama Sansekerta menjadi populer, maka bahasa yang dipergunakan dalam Weda
dikenal dengan nama Daiwi Wak (bahasa/sabda Dewata). Tokoh yang merintis pemakaian
tatabahasa Sansekerta ialah Rsi Panini. Kemudian dilanjutkan oleh RsiPatanjali dengan
karyanya yaitu kitab Bhasa. Jejak Patanjali diikuti pula oleh Rsi Wararuci.
Pembagian dan Isi Weda
Weda yaitu kitab suci yang mencakup berbagai aspek kehidupan yang diperlukan oleh
manusia. Berdasarkan materi, isi dan luas lingkupnya, maka jenis buku weda itu banyak.
maha Rsi Manu membagi jenis isi Weda itu ke dalam dua kelompok besar yaitu Weda Sruti
dan Weda Smerti. Pembagian ini juga dipergunakan untuk menamakan semua jenis buku
yang dikelompokkan sebagai kitab Weda, baik yang telah berkembang dan tumbuh
menurut tafsir sebagaimana dilakukan secara turun temurun menurut tradisi maupun
sebagai wahyu yang berlaku secara institusional ilmiah. Kelompok Weda Sruti isinya hanya
memuat wahyu, sedangkan kelompok Smerti isinya bersumber dari Weda Sruti, jadi
merupakan manual, yakni buku pedoman yang sisinya tidak bertentangan dengan Sruti.
Baik Sruti maupun Smerti, keduanya yaitu sumber ajaran agama Hindu yang tidak boleh
diragukan kebenarannya. Agaknya sloka berikut ini mempertegas pernyataan di atas.
Srutistu wedo wijneyo dharma,
Sastram tu wai smerth,
Te sarrtheswamimamsye tab,
Hyam dharmohi nirbabhau. (M. Dh.11.10).
Artinya:
Sesungguhnya Sruti yaitu Weda, demikian pula Smrti itu yaitu dharma sastra, keduanya
harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga sebab keduanya yaitu kitab suci
yang menjadi sumber ajaran agama Hindu (Dharma).
Weda khilo dharma mulam,
Smrti sile ca tad widam,
Acarasca iwa sadhunam
Atmanastustireqaca. (M. Dh. II.6).
Artinya:
Seluruh Weda merupakan sumber utama dari pada agama Hindu (Dharma), kemudian
barulah Smerti di samping Sila (kebiasaan- kebiasaan yang baik dari orang-orang yang
menghayati Weda). dan kemudian acara yaitu tradisi dari orang-orang suci serta
akhirnya Atmasturi (rasa puas diri sendiri).
Srutir wedah samakhyato,
Dharmasastram tu wai smrth,
Te Sarwatheswam imamsye,
Tabhyam dharmo winir bhrtah. (S.S.37).
Artinya:
Ketahuilah olehmu Sruti itu yaitu Weda (dan) Smerti itu sesungguhnya yaitu
dharmasastra; keduanya harus diyakini kebenarannya dan dijadikan jalan serta dituruti
agar sempurnalah dalam dharma itu.
Dari sloka-sloka diatas, maka tegaslah bahwa Sruti dan Smerti merupakan dasar utama
ajaran Hindu yang kebenarannya tidak boleh dibantah. Sruti dan Smerti merupakan dasar
yang harus dipegang teguh, susaha dituruti ajarannya untuk setiap usaha.
Untuk mempermudah sistem pembahasan materi isi Weda, maka dibawah ini akan
diuraikan tiap-tiap bagian dari Weda itu sebagai berikut:
Sruti
Sruti yaitu kitab wahyu yang diturunkan secara langsung oleh Tuhan (Hyang Widhi
Wasa) melalui para maha Rsi. Sruti yaitu Weda yang sebenarnya (originair) yang diterima
melalui pendengaran, yang diturunkan sesuai periodesasinya dalam empat kelompok atau
himpunan. Oleh sebab itu Weda Sruti disebut juga Catur Weda atau Catur Weda Samhita
(Samhita artinya himpunan). Adapun kitab-kitab Catur Weda ini yaitu :
Rg. Weda atau Rg Weda Samhita.
yaitu wahyu yang paling pertama diturunkan sehingga merupakan Weda yang tertua. Rg
Weda berisikan nyanyian-nyanyian pujaan, terdiri dari 10.552 mantra dan seluruhnya
terbagi dalam 10 mandala. Mandala II sampai dengan VIII, disamping menguraikan tentang
wahyu juga menyebutkan Sapta Rsi sebagai penerima wahyu. Wahyu Rg Weda
dikumpulkan atau dihimpun oleh Rsi Pulaha.
Sama Weda Samhita.
yaitu Weda yang merupakan kumpulan mantra dan memuat ajaran mengenai lagu-lagu
pujaan. Sama Weda terdiri dari 1.875 mantra. Wahyu Sama Weda dihimpun oleh Rsi
Jaimini.
Yajur Weda Samhita.
yaitu Weda yang terdiri atas mantra-mantra dan sebagian besar berasal dari Rg. Weda.
Yajur Weda memuat ajaran mengenai pokok-pokok yajus. Keseluruhan mantranya
berjumlah 1.975 mantra. Yajur Weda terdiri atas dua aliran, yaitu Yayur Weda Putih dan
Yayur Weda Hitam. Wahyu Yayur Weda dihimpun oleh Rsi Waisampayana.
Atharwa Weda Samhita
yaitu kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran yang bersifat magis. Atharwa Weda
terdiri dari 5.987 mantra, yang juga banyak berasal dari Rg. Weda. Isinya yaitu doa-doa
untuk kehidupan sehari-hari seperti mohon kesembuhan dan lain-lain. Wahyu Atharwa
Weda dihimpun oleh Rsi Sumantu.
Sebagaimana nama-nama tempat yang disebutkan dalam Rg. Weda maka dapat
diperkirakan bahwa wahyu Rg Weda dikodifikasikan di daerahPunjab. Sedangkan ketiga
Weda yang lain (Sama, Yayur, dan Atharwa Weda), dikodifikasikan di daerah Doab (daerah
dua sungai) yakni lembah sungai Gangga dan Yamuna.
Masing-masing bagian Catur Weda memiliki kitab-kitab Brahmana yang isinya yaitu
penjelasan tentang bagaimana mempergunakan mantra dalam rangkain ritual .
Disamping kitab Brahmana, Kitab-kitab Catur Weda juga memiliki Aranyaka dan Upanisad.
Kitab Aranyaka isinya yaitu penjelasan-penjelasan terhadap bagian mantra dan Brahmana.
Sedangkan kitab Upanisad mengandung ajaran filsafat, yang berisikan mengenai
bagaimana cara melenyapkan awidya (kebodohan), menguraikan tentang hubungan Atman
dengan Brahman serta mengupas tentang tabir rahasia alam semesta dengan segala isinya.
Kitab-kitab brahmana digolongkan ke dalam Karma Kandha sedangkan kitab-kitab
Upanishad digolonglan ke dalam Jnana Kanda.
Smrti
Smerti yaitu Weda yang disusun kembali berdasarkan ingatan. Penyusunan ini didasarkan
atas pengelompokan isi materi secara sistematis menurut bidang profesi. Secara garis
besarnya Smerti dapat digolongkan ke dalam dua kelompok besar, yakni kelompok
Wedangga (Sadangga), dan kelompok Upaweda.
Wedangga
Kelompok ini disebut juga Sadangga. Wedangga terdiri dari enam bidang Weda yaitu:
1. Siksa (Phonetika)
Isinya memuat petunjuk-petunjuk tentang cara tepat dalam pengucapan mantra serta
rendah tekanan suara.
2. Wyakarana (Tata Bahasa)
Merupakan suplemen batang tubuh Weda dan dianggap sangat penting serta menentukan,
sebab untuk mengerti dan menghayati Weda Sruti, tidak mungkin tanpa bantuan
pengertian dan bahasa yang benar.
3. Chanda (Lagu)
yaitu cabang Weda yang khusus membahas aspek ikatan bahasa yang disebut lagu. Sejak
dari sejarah penulisan Weda, peranan Chanda sangat penting. sebab dengan Chanda itu,
semua ayat-ayat itu dapat dipelihara turun temurun seperti nyanyian yang mudah diingat.
4. Nirukta
Memuat berbagai penafsiran otentik mengenai kata-kata yang terdapat di dalam Weda.
5. Jyotisa (Astronomi)
Merupakan pelengkap Weda yang isinya memuat pokok-pokok ajaran astronomi yang
diperlukan untuk pedoman dalam melakukan yadnya, isinya yaitu membahas tata surya,
bulan dan badan angkasa lainnya yang dianggap mempunyai pengaruh di dalam
pelaksanaan yadnya.
6. Kalpa
Merupakan kelompok Wedangga (Sadangga) yang terbesar dan penting. Menurut jenis
isinya, Kalpa terbagi atas beberapa bidang, yaitu bidang Srauta, bidang Grhya, bidang
Dharma, dan bidang Sulwa. Srauta memuat berbagai ajaran mengenai tata cara melakukan
yajna, penebusan dosa dan lain-lain, terutama yang berhubungan dengan ritual
keagamaan. Sedangkan kitab Grhyasutra, memuat berbagai ajaran mengenai peraturan
pelaksanaan yajna yang harus dilakukan oleh orang-orang yang berumah tangga. Lebih
lanjut, bagian Dharmasutra yaitu membahas berbagai aspek tentang peraturan hidup
bermasyarakat dan bernegara. Dan Sulwasutra, yaitu memuat peraturan-peraturan
mengenai tata cara membuat tempat peribadatan, misalnya Pura, Candi dan bangunan-
bangunan suci lainnya yang berhubungan dengan ilmu arsitektur.
Upaweda
yaitu kelompok kedua yang sama pentingnya dengan Wedangga.
KelompokUpaweda terdiri dari beberapa jenis, yaitu:
1. Itihasa
Itihasa merupakan jenis epos yang terdiri dari dua macam yaitu Ramayana
danMahabharata. Kitan Ramayana ditulis oleh Rsi Walmiki. Seluruh isinya dikelompokkan
kedalam tujuh Kanda dan berbentuk syair. Jumlah syairnya sekitar 24.000 syair. Adapun
ketujuh kanda ini yaitu Ayodhya Kanda, Bala Kanda, Kiskinda Kanda, Sundara
Kanda, Yudha Kanda dan Utara Kanda. Tiap-tiap Kanda itu merupakan satu kejadian yang
menggambarkan ceritra yang menarik. Di Indonesia cerita Ramayana sangat populer yang
digubah ke dalam bentuk Kekawin dan berbahasa Jawa Kuno. Kekawin ini merupakan
kakawin tertua yang disusun sekitar abad ke-8.
Disamping Ramayana, epos besar lainnya yaitu Mahabharata. Kitab ini disusun oleh
maharsi Wyasa. Isinya yaitu menceritakan kehidupan keluarga Bharata dan
menggambarkan pecahnya perang saudara diantara bangsa Arya sendiri. Ditinjau dari arti
Itihasa (berasal dari kata “Iti”, “ha” dan “asa” artinya yaitu “sesungguhnya kejadian itu
begitulah nyatanya”) maka Mahabharata itu gambaran sejarah, yang memuat mengenai
kehidupan keagamaan, sosial dan politik menurut ajaran Hindu. Kitab Mahabharata
meliputi 18 Parwa, yaitu Adiparwa, Sabhaparwa, Wanaparwa, Wirataparwa, Udyogaparwa,
Bhismaparwa, Dronaparwa, Karnaparwa, Salyaparwa, Sauptikaparwa, Santiparwa,
Anusasanaparwa, Aswamedhikaparwa, Asramawasikaparwa, Mausalaparwa,
Mahaprastanikaparwa, dan Swargarohanaparwa
Diantara parwa-parwa ini , terutama di dalam Bhismaparwa terdapatlah
kitabBhagavadgita, yang amat masyur isinya yaitu wejangan Sri Krsna kepada Arjuna
tentang ajaran filsafat yang amat tinggi.
2. Purana
Purana merupakan kumpulan cerita-cerita kuno yang menyangkut penciptaan dunia dan
silsilah para raja yang memerintah di dunia, juga mengenai silsilah dewa-dewa dan bhatara,
cerita mengenai silsilah keturunaan dan perkembangan dinasti Suryawangsa dan
Candrawangsa serta memuat ceitra-ceritra yang menggambarkan pembuktian-pembuktian
hukum yang pernah di jalankan. Selain itu Kitab Purana juga memuat pokok-pokok
pemikiran yang menguraikan tentang ceritra kejadian alam semesta, doa-doa dan mantra
untuk sembahyang, cara melakukan puasa, tatacara ritual keagamaan dan petunjuk-
petunjuk mengenai cara bertirtayatra atau berziarah ke tempat-tempat suci. Dan yang
terpenting dari kitab-kitab Purana yaitu memuat pokok-pokok ajaran mengenai Theisme
(Ketuhanan) yang dianut menurut berbagai madzab Hindu. Adapun kitab-kitab Purana itu
terdiri dari 18 buah, yaitu Purana, Bhawisya Purana, Wamana Purana, Brahma Purana,
Wisnu Purana, Narada Purana, Bhagawata Purana, Garuda Purana, Padma Purana, Waraha
Purana, Matsya Purana, Kurma Purana, Lingga Purana, Siwa Purana, Skanda Purana dan
Agni Purana.
3. Arthasastra
Arthasastra yaitu jenis ilmu pemerintahan negara. Isinya merupakan pokok-pokok
pemikiran ilmu politik. Sebagai cabang ilmu, jenis ilmu ini disebut Nitisastra atau
Rajadharma atau pula Dandaniti.Adabeberapa buku yang dikodifikasikan ke dalam jenis ini
yaitu kitab Usana, Nitisara, Sukraniti dan Arthasastra. Ada beberapa Acarya terkenal di
bidang Nitisastra yaitu Bhagawan Brhaspati, Bhagawan Usana, Bhagawan Parasara dan
Rsi Canakya.
4. Ayur Weda
Ayurveda yaitu kitab yang menyangkut bidang kesehatan jasmani dan rohani dengan
berbagai sistem sifatnya. Ayur Weda yaitu filsafat kehidupan, baik etis maupun medis.
Oleh sebab demikian, maka luas lingkup ajaran yang dikodifikasikan di dalam Ayur Weda
meliputi bidang yang amat luas dan merupakan hal-hal yang hidup. Menurut isinya, Ayur
Weda meliptui delapan bidang ilmu, yaitu ilmu bedah, ilmu penyakit, ilmu obat-obatan,
ilmu psikotherapy, ilmu pendiudikan anak-anak (ilmu jiwa anak), ilmu toksikologi, ilmu
mujizat dan ilmu jiwa remaja.
Disamping Ayurveda, ada pula kitab Caraka Samhita yang ditulis oleh Maharsi Punarwasu.
Kitab inipun memuat delapan bidan ajaran (ilmu), yakni Ilmu pengobatan, Ilmu mengenai
berbagai jens penyakit yang umum, ilmu pathologi, ilmu anatomi dan embriologi, ilmu
diagnosis dan pragnosis, pokok-pokok ilmu therapy, Kalpasthana dan Siddhistana. Kitab
yang sejenis pula dengan Ayurweda, yaitu kitab Yogasara dan Yogasastra. Kitab ini ditulis
oleh Bhagawan Nagaryuna. isinya memuat pokok-pokok ilmu yoga yang dirangkaikan
dengan sistem anatomi yang penting artinya dalam pembinaan kesehatan jasmani dan
rohani.
5. Gandharwaweda
Gandharwaweda yaitu kitab yang membahas berbagai aspek cabang ilmu seni. Ada
beberapa buku penting yang termasuk Gandharwaweda ini yaitu Natyasastra (yang
meliputi Natyawedagama dan Dewadasasahasri), Rasarnawa, Rasaratnasamuscaya dan
lain-lain.
Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa kelompok Weda Smerti meliptui banyak buku dan
kodifikasinya menurut jenis bidang-bidang tertentu. Ditambah lagi kitab-kitab agama
misalnya Saiwa Agama, Vaisnawa Agama dan Sakta Agama dan kitab-kitab Darsana yaitu
Nyaya, Waisesika, Samkhya, Yoga, Mimamsa dan Wedanta. Kedua terakhir ini termasuk
golongan filsafat yang mengakui otoritas kitab Weda dan mendasarkan ajarannya pada
Upanisad. Dengan uraian ini kiranya dapat diperkirakan betapa luasnya Weda itu,
mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Di dalam ajaran Weda, yang perlu yaitu
disiplin ilmu, sebab tiap ilmu akan menunjuk pada satu aspek dengan sumber-sumber
yang pasti pula. Hal inilah yang perlu diperhatikan dan dihayati untuk dapat mengenal isi
Weda secara sempurna.
Sastra suci Veda sebagai sastra utama bagi umat Hindu, termasuk ke dalam Åšruti. Veda
merupakan susastra Hindu tertua yang masih ada dan diyakini kebenarannya oleh umat
Hindu hingga saat ini. Keberadaan Veda sehingga bisa tetap ada tidak lepas dari ajarannya
yang memuat kebenaran dan diturunkan secara turun temurun dari orang tua ke anak cucu,
dari guru kepada siswanya dengan cara tradisi oral (sastra lisan). Budaya menurunkan ilmu
pengetahuan ini tetap berlangsung dalam waktu yang sangat lama sebelum akhirnya Veda
dikodifikasi dan dikompilasi oleh seorang Rsi yang digelari Veda Vyasa (secara harfiah,
“dia yang membagi Veda) Beliau diberikan nama ini , sebagai penghormatan atas
kemampuannya dan memilah sekumpulan besar ilmu pengetahuan dan lagu-lagu pujian
(hymne) yang terkandung dalam Veda dan membagi menjadi bagian-bagian agar mudah
dipahami dan dipelajari oleh umat manusia.Paraahli setuju bahwa Veda disusun sekitar
1500 – 600 tahun SM.
Sastra Veda terbagi atas empat bagian yang dikenal dengan Catur Veda, Rgveda, Yajurveda,
Samaveda dan Atharvaveda. Veda tertua yaitu Rgveda memuat lebih dari 1000 sloka,
kidung pemujaan bagi para dewa-dewi sebagai manifestasi dari Brahman, pencipta alam
semesta.
Upanisad
Upanisad (Aksara Dewanagari: उपननषनन, : upaniṣad) termasuk dalam Sruti merupakan
bagian dari Veda, disamping sastra-sastra Brahmana. Upanisad memuat ajaran filsafat,
meditasi serta konsep ketuhanan.
Upanisad disusun dalam jangka waktu yang panjang, upanisad yang tertua diantaranya
Brhadaranyaka Upanisad dan Chandogya Upanisad, diperkirakan disusun pada abad ke
delapan sebelum masehi. Merujuk pada Ashtadhyayi yang disusun oleh Maharsi Panini,
jumlah upanisad yang ada sebanyak 900. Begitu pula Maharsi Patanjali menyatakan jumlah
yang sama. Namun saat ini kebanyakan sudah musnah seiring dengan waktu.
Dana Punia, Cara Beragama di Zaman Kali
DANA PUNIA DI ZAMAN KALI
Kehidupan di zaman Kali Yuga ini hendaknya dilakukan dengan tuntunan yang benar
menurut kitab suci. adapun yang mesti kita lakukan pada zaman Kali Yuga ini menurut Kitab
Manava Dharmasastra I.85, yaitu sebagai berikut :
Zaman Kali Yuga
Tapah pararn kerta yuge
tretayam jnyanamucyate
dwapare yajnyawaewahur
danamekam kalau yuge
Maksudnya: Bertapa prioritas beragama zaman Kerta, prioritas beragama zaman Treta
Yuga dalam jnyana, zaman Dwapara Yuga dengan ritual yadnya, sedangkan prioritas
beragama zaman Kali Yuga yaitu Dana Punia.
ADA lima hal yang wajib dijadikan dasar pertimbangan untuk mengamalkan agama
(dharma) agar sukses (Dharmasiddhiyartha). Hal itu dinyatakan dalam Manawa
Dharmasastra VII.10. Lima dasar pertimbangan itu yaitu iksha, sakti, desa
kala dan tattwa. Iksha yaitu pandangan hidup masyarakat setempat, sakti yaitu
kemampuan, desa yaitu aturan rohani setempat, kala (waktu) dan tattwa (hakikat
kebenaran Weda).
Kala sebagai salah satu hal yang wajib dipertimbangkan dalam mengamalkan agama Hindu
agar sukses. Waktu dalam ajaran Hindu memiliki dimensi amat luas. Ada waktu dilihat dari
konsep Tri Guna. sebab itu ada waktusatvika kala, rajasika kala dan tamasika kala. Ada
waktu berdasarkan konsep Yuga — Kerta Yuga, Treta Yuga, Dwapara Yuga dan Kali Yuga.
Keadaan zaman ditiap-tiap yuga itu berbeda-beda. sebab itu, cara beragama-pun berbeda-
beda pada setiap zaman.
Menurut Manawa Dharmasastra 1.85 sebagaimana dikutip diawal tulisan ini, prioritas
beragama-pun menjadi berbeda-beda pada setiap zaman. Pada zaman Kerta Yuga,
kehidupan beragama diprioritaskan dengan cara bertapa. Pada Treta Yuga dengan
memfokuskan pada jnyana. Pada zaman Dwapara Yuga dengan ritual yadnya dan pada
zaman Kala Yuga beragama dengan prioritas melakukan dana punia.
Melakukan dana punia diarahkan untuk membangun SDM yang berkualitas. Pustaka
Slokantara Sloka 2 menyatakan lebih utama nilainya mendidik seorang putra menjadi
suputra dibandingkan seratus kali ritual yadnya. Inilah idealisme ajaran Hindu yang
semestinya dijadikan acuan pada zaman Kali Yuga dewasa ini.
Pada kenyataannya, umat Hindu di Bali khususnya dan di Indonesia umumnya masih
mengutamakan ritual yadnya sebagai prioritas beragama. Hal ini akan memicu
akibat yang kurang baik dalam kehidupan beragama. Dinamika umat dalam berbagai bidang
kehidupan amat meningkat pesat. Kegiatan hidup yang semakin meningkat itu
membutuhkan waktu, biaya, tenaga dan sarana lainnya. Amat berbeda dengan kehidupan
pada zaman agraris tulen dimana umat umumnya lebih banyak di sawah ladang dan kebun
untuk mencari nafkah.
Pada zaman industri ini, mobilitas umat makin tinggi dan kegiatan hidup makin beraneka
ragam. sebab itu, amatlah tepat arahan Manawa Dharmasastra I.85. itu — beragama yang
lebih mempriotaskan kegiatan ber-dana punia. Ini bukan berarti ritual yadnya sebagai
kegiatan beragama Hindu ditinggalkan.
ritual yadnya tetap berlangsung namun bukan merupakan prioritas. Justeru ritual
yadnya tetap dilakukan dengan lebih menekankan aspek spiritualnya, bukan pada wujud
ritualnya yang menekankan fisik material.
Apalagi bagi umat Hindu di Bali tingkatan bentuk ritual yadnya yang pada dasarnya
dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu ritual nista, madia dan utama. Nista, madia dan
utama itu umumnya didasarkan pada wujud fisiknya ritual . Kalau besar dan banyak
sarana yang dipakai disebut utama, kalau sedikit disebut madia, dan seterusnya. Yang
kecil, menengah dan besar itu masing-masing dapat lagi dibagi menjadi tiga bagian. Dengan
demikian, dari yang terkecil sampai terbesar dapat dibagi jadi sembilan.
Dalam melakukan berbagai kegiatan hidup, umat seyogianya menjadikan ajaran agama
sebagai pegangan dalam menjaga keluhuran moral dan ketahanan mental. Dalam
melakukan berbagai kegiatan hidup, sesungguhnya agama memegang peranan penting
agar semuanya selalu berada pada jalan dharma. Substansi ritual yadnya yaitu untuk
membangun rasa dekat dengan Tuhan melalui bhakti, dekat dengan sesama manusia
melalui punia atau pengabdian, dan merasa dekat dengan alam dengan jalan asih.
Mengapa disebut ritual yadnya? Kata “ritual ” dalam bahasa Sansekerta berarti “dekat”
dan yadnya berarti pengorbanan dengan ikhlas dalam wujud pengabdian. sebab itu, dalam
kegiatan ritual yadnya ada “ritual ” yang berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya
pelayanan. Kita akan merasa dekat dengan Tuhan dengan sarana upakara sebagai sarana
bhakti.
pemakaian flora dan fauna sebagai sarana ritual menurut Menawa Dharmasastra V.40
sebagai media pemujaan agar flora dan fauna itu mejadi lebih lestari pada penjelmaan
selanjutnya. Ini artinya, pemakaian flora dan fauna itu sebagai media untuk memotivasi
umat untuk secara nyata (sekala) melestarikan keberadaan tumbuh-tumbuhan dan hewan
ini . Jadi, ritual yadnya bukan sebagai media pembantaian flora dan fauna.
Pada zaman Kali ini, keberadaan flora dan fauna sudah semakin terancam eksistensinya
sebab itu amatlah tepat kalau bentuk fisik ritual itu diambil dalam wujud yang lebih
sederhana (nista), sehinga pemakaian flora dan fauna itu tidak sampai mengganggu
eksistensi sumber daya alam ini . Justru ritual yadnya itulah seyogianya dijadikan
suatu momentum untuk melakukan usaha pelestarian flora dan fauna.
Dalam Sarasamuscaya 135 ada dinyatakan, untuk melakukan bhuta hita atau usaha
mensejahterakan semua makhluk (sarwa prani) ciptaan Tuhan ini. Kesejahteraan alam
(bhuta hita) itulah sebagai dasar untuk mewujudkan empat tujuan hidup mencapai dharma,
artha, kama dan moksha.
Ke depan, ritual yadnya hendaknya dimaknai lebih nyata dengan melakukan asih, punia
dan bhakti. Asih pada alam lingkungan dengan terus menerus berusaha meningkatkan
pelestarian keberadaan flora dan fauna, punia dengan melakukan pengabdian pada sesama
manusia sesuai dengan swadharma masing-masing. Asih dan punia dilakukan sebagai
wujud bhakti pada Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa).












