Tampilkan postingan dengan label weda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label weda. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juli 2026

weda

 



Sastra Hindu kebanyakan ditulis dalam bahasa Sansekerta. Kata “sastra”, berakar dari 

kataShastra yang merujuk pada ilmu pengetahuan secara umum yang tidak lekang oleh 

waktu. Sastra Hindu dibagi atas dua bagian besar yaitu Åšruti — yang di dengar (wahyu) 

dan Smrti — yang di ingat (tradisi, bukan wahyu). 

Veda sebagai sastra suci utama bagi umat Hindu, merupakan bagian dari Sruti, sebab  

didasarkan pada penerimaannya melalui wahyu langsung dari Brahman melalui para 

Maharsi dan ajarannya disebarkan melalui tradisi lisan turun-temurun (pada masa 

turunnya Veda, manusia belum menemukan tulisan). Sedangkan yang termasuk dalam 

kategori Smrti yaitu  Dharmasastra (kitab hukum), Itihasa (sejarah), Sutra, 

Agama,Darsana (filsafat). Mahakarya Mahabharata dan Ramayana termasuk dalam bagian 

dari Smrti, disebab kan kedua epos ini  masuk dalam kategori Itihasa. 

Pengertian Weda 

Sumber ajaran agama Hindu yaitu  Kitab Suci Weda, yaitu kitab yang berisikan ajaran 

kesucian yang diwahyukan oleh Hyang Widhi Wasa melalui para Maha Rsi. Weda 

merupakan jiwa yang meresapi seluruh ajaran Hindu, laksana sumber air yang mengalir 

terus melalui sungai-sungai yang amat panjang dalam sepanjang abad. Weda yaitu  sabda 

suci atau wahyu Tuhan Yang Maha Esa. 

Weda secara ethimologinya berasal dari kata “Vid” (bahasa sansekerta), yang artinya 

mengetahui atau pengetahuan. Weda yaitu  ilmu pengetahuan suci yang maha sempurna 

dan kekal abadi serta berasal dari Hyang Widhi Wasa. Kitab Suci Weda dikenal pula 

dengan Sruti, yang artinya bahwa kitab suci Weda yaitu  wahyu yang diterima melalui 

pendengaran suci dengan kemekaran intuisi para maha Rsi. Juga disebut kitab mantra 

sebab  memuat nyanyian-nyanyian pujaan. Dengan demikian yang dimaksud dengan 

Weda yaitu  Sruti dan merupakan kitab yang tidak boleh diragukan kebenarannya dan 

berasal dari Hyang Widhi Wasa. 

Bahasa Weda 

Bahasa yang dipergunakan dalam Weda disebut bahasa Sansekerta, Nama sansekerta 

dipopulerkan oleh maharsi Panini, yaitu seorang penulis Tata Bahasa Sensekerta yang 

berjudul Astadhyayi yang sampai kini masih menjadi buku pedoman pokok dalam 

mempelajari Sansekerta. 

Sebelum nama Sansekerta menjadi populer, maka bahasa yang dipergunakan dalam Weda 

dikenal dengan nama Daiwi Wak (bahasa/sabda Dewata). Tokoh yang merintis pemakaian  

tatabahasa Sansekerta ialah Rsi Panini. Kemudian dilanjutkan oleh RsiPatanjali dengan 

karyanya yaitu  kitab Bhasa. Jejak Patanjali diikuti pula oleh Rsi Wararuci. 

Pembagian dan Isi Weda 

Weda yaitu  kitab suci yang mencakup berbagai aspek kehidupan yang diperlukan oleh 

manusia. Berdasarkan materi, isi dan luas lingkupnya, maka jenis buku weda itu banyak. 

maha Rsi Manu membagi jenis isi Weda itu ke dalam dua kelompok besar yaitu Weda Sruti 

dan Weda Smerti. Pembagian ini juga dipergunakan untuk menamakan semua jenis buku 

yang dikelompokkan sebagai kitab Weda, baik yang telah berkembang dan tumbuh 

menurut tafsir sebagaimana dilakukan secara turun temurun menurut tradisi maupun 

sebagai wahyu yang berlaku secara institusional ilmiah. Kelompok Weda Sruti isinya hanya 

memuat wahyu, sedangkan kelompok Smerti isinya bersumber dari Weda Sruti, jadi 

merupakan manual, yakni buku pedoman yang sisinya tidak bertentangan dengan Sruti. 

Baik Sruti maupun Smerti, keduanya yaitu  sumber ajaran agama Hindu yang tidak boleh 

diragukan kebenarannya. Agaknya sloka berikut ini mempertegas pernyataan di atas. 

Srutistu wedo wijneyo dharma,  

Sastram tu wai smerth,  

Te sarrtheswamimamsye tab,  

Hyam dharmohi nirbabhau. (M. Dh.11.10). 

Artinya: 

Sesungguhnya Sruti yaitu  Weda, demikian pula Smrti itu yaitu  dharma sastra, keduanya 

harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga sebab  keduanya yaitu  kitab suci 

yang menjadi sumber ajaran agama Hindu (Dharma). 

Weda khilo dharma mulam,  

Smrti sile ca tad widam, 

Acarasca iwa sadhunam 

Atmanastustireqaca. (M. Dh. II.6). 

Artinya: 

Seluruh Weda merupakan sumber utama dari pada agama Hindu (Dharma), kemudian 

barulah Smerti di samping Sila (kebiasaan- kebiasaan yang baik dari orang-orang yang 

menghayati Weda). dan kemudian acara yaitu tradisi dari orang-orang suci serta 

akhirnya Atmasturi (rasa puas diri sendiri). 

Srutir wedah samakhyato,  

Dharmasastram tu wai smrth, 

Te Sarwatheswam imamsye, 

Tabhyam dharmo winir bhrtah. (S.S.37). 

Artinya: 

Ketahuilah olehmu Sruti itu yaitu  Weda (dan) Smerti itu sesungguhnya yaitu  

dharmasastra; keduanya harus diyakini kebenarannya dan dijadikan jalan serta dituruti 

agar sempurnalah dalam dharma itu. 

Dari sloka-sloka diatas, maka tegaslah bahwa Sruti dan Smerti merupakan dasar utama 

ajaran Hindu yang kebenarannya tidak boleh dibantah. Sruti dan Smerti merupakan dasar 

yang harus dipegang teguh, susaha  dituruti ajarannya untuk setiap usaha. 

Untuk mempermudah sistem pembahasan materi isi Weda, maka dibawah ini akan 

diuraikan tiap-tiap bagian dari Weda itu sebagai berikut: 

Sruti 

Sruti yaitu  kitab wahyu yang diturunkan secara langsung oleh Tuhan (Hyang Widhi 

Wasa) melalui para maha Rsi. Sruti yaitu  Weda yang sebenarnya (originair) yang diterima 

melalui pendengaran, yang diturunkan sesuai periodesasinya dalam empat kelompok atau 

himpunan. Oleh sebab  itu Weda Sruti disebut juga Catur Weda atau Catur Weda Samhita 

(Samhita artinya himpunan). Adapun kitab-kitab Catur Weda ini  yaitu : 

Rg. Weda atau Rg Weda Samhita. 

yaitu  wahyu yang paling pertama diturunkan sehingga merupakan Weda yang tertua. Rg 

Weda berisikan nyanyian-nyanyian pujaan, terdiri dari 10.552 mantra dan seluruhnya 

terbagi dalam 10 mandala. Mandala II sampai dengan VIII, disamping menguraikan tentang 

wahyu juga menyebutkan Sapta Rsi sebagai penerima wahyu. Wahyu Rg Weda 

dikumpulkan atau dihimpun oleh Rsi Pulaha. 

Sama Weda Samhita. 

yaitu  Weda yang merupakan kumpulan mantra dan memuat ajaran mengenai lagu-lagu 

pujaan. Sama Weda terdiri dari 1.875 mantra. Wahyu Sama Weda dihimpun oleh Rsi 

Jaimini. 

Yajur Weda Samhita. 

yaitu  Weda yang terdiri atas mantra-mantra dan sebagian besar berasal dari Rg. Weda. 

Yajur Weda memuat ajaran mengenai pokok-pokok yajus. Keseluruhan mantranya 

berjumlah 1.975 mantra. Yajur Weda terdiri atas dua aliran, yaitu Yayur Weda Putih dan 

Yayur Weda Hitam. Wahyu Yayur Weda dihimpun oleh Rsi Waisampayana. 

Atharwa Weda Samhita 

yaitu  kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran yang bersifat magis. Atharwa Weda 

terdiri dari 5.987 mantra, yang juga banyak berasal dari Rg. Weda. Isinya yaitu  doa-doa 

untuk kehidupan sehari-hari seperti mohon kesembuhan dan lain-lain. Wahyu Atharwa 

Weda dihimpun oleh Rsi Sumantu. 

Sebagaimana nama-nama tempat yang disebutkan dalam Rg. Weda maka dapat 

diperkirakan bahwa wahyu Rg Weda dikodifikasikan di daerahPunjab. Sedangkan ketiga 

Weda yang lain (Sama, Yayur, dan Atharwa Weda), dikodifikasikan di daerah Doab (daerah 

dua sungai) yakni lembah sungai Gangga dan Yamuna. 

Masing-masing bagian Catur Weda memiliki kitab-kitab Brahmana yang isinya yaitu  

penjelasan tentang bagaimana mempergunakan mantra dalam rangkain ritual . 

Disamping kitab Brahmana, Kitab-kitab Catur Weda juga memiliki Aranyaka dan Upanisad. 

Kitab Aranyaka isinya yaitu  penjelasan-penjelasan terhadap bagian mantra dan Brahmana. 

Sedangkan kitab Upanisad mengandung ajaran filsafat, yang berisikan mengenai 

bagaimana cara melenyapkan awidya (kebodohan), menguraikan tentang hubungan Atman 

dengan Brahman serta mengupas tentang tabir rahasia alam semesta dengan segala isinya. 

Kitab-kitab brahmana digolongkan ke dalam Karma Kandha sedangkan kitab-kitab 

Upanishad digolonglan ke dalam Jnana Kanda. 

Smrti 

Smerti yaitu  Weda yang disusun kembali berdasarkan ingatan. Penyusunan ini didasarkan 

atas pengelompokan isi materi secara sistematis menurut bidang profesi. Secara garis 

besarnya Smerti dapat digolongkan ke dalam dua kelompok besar, yakni kelompok 

Wedangga (Sadangga), dan kelompok Upaweda. 

Wedangga 

Kelompok ini disebut juga Sadangga. Wedangga terdiri dari enam bidang Weda yaitu: 

1. Siksa (Phonetika) 

Isinya memuat petunjuk-petunjuk tentang cara tepat dalam pengucapan mantra serta 

rendah tekanan suara. 

2. Wyakarana (Tata Bahasa) 

Merupakan suplemen batang tubuh Weda dan dianggap sangat penting serta menentukan, 

sebab  untuk mengerti dan menghayati Weda Sruti, tidak mungkin tanpa bantuan 

pengertian dan bahasa yang benar. 

3.  Chanda (Lagu) 

yaitu  cabang Weda yang khusus membahas aspek ikatan bahasa yang disebut lagu. Sejak 

dari sejarah penulisan Weda, peranan Chanda sangat penting. sebab  dengan Chanda itu, 

semua ayat-ayat itu dapat dipelihara turun temurun seperti nyanyian yang mudah diingat. 

4. Nirukta 

Memuat berbagai penafsiran otentik mengenai kata-kata yang terdapat di dalam Weda. 

5.  Jyotisa (Astronomi) 

Merupakan pelengkap Weda yang isinya memuat pokok-pokok ajaran astronomi yang 

diperlukan untuk pedoman dalam melakukan yadnya, isinya yaitu  membahas tata surya, 

bulan dan badan angkasa lainnya yang dianggap mempunyai pengaruh di dalam 

pelaksanaan yadnya. 

6.   Kalpa 

Merupakan kelompok Wedangga (Sadangga) yang terbesar dan penting. Menurut jenis 

isinya, Kalpa terbagi atas beberapa bidang, yaitu bidang Srauta, bidang Grhya, bidang 

Dharma, dan bidang Sulwa. Srauta memuat berbagai ajaran mengenai tata cara melakukan 

yajna, penebusan dosa dan lain-lain, terutama yang berhubungan dengan ritual  

keagamaan. Sedangkan kitab Grhyasutra, memuat berbagai ajaran mengenai peraturan 

pelaksanaan yajna yang harus dilakukan oleh orang-orang yang berumah tangga. Lebih 

lanjut, bagian Dharmasutra yaitu  membahas berbagai aspek tentang peraturan hidup 

bermasyarakat dan bernegara. Dan Sulwasutra, yaitu  memuat peraturan-peraturan 

mengenai tata cara membuat tempat peribadatan, misalnya Pura, Candi dan bangunan-

bangunan suci lainnya yang berhubungan dengan ilmu arsitektur. 

Upaweda 

yaitu  kelompok kedua yang sama pentingnya dengan Wedangga. 

KelompokUpaweda terdiri dari beberapa jenis, yaitu: 

1. Itihasa 

Itihasa merupakan jenis epos yang terdiri dari dua macam yaitu Ramayana 

danMahabharata. Kitan Ramayana ditulis oleh Rsi Walmiki. Seluruh isinya dikelompokkan 

kedalam tujuh Kanda dan berbentuk syair. Jumlah syairnya sekitar 24.000 syair. Adapun 

ketujuh kanda ini  yaitu  Ayodhya Kanda, Bala Kanda, Kiskinda Kanda, Sundara 

Kanda, Yudha Kanda dan Utara Kanda. Tiap-tiap Kanda itu merupakan satu kejadian yang 

menggambarkan ceritra yang menarik. Di Indonesia cerita Ramayana sangat populer yang 

digubah ke dalam bentuk Kekawin dan berbahasa Jawa Kuno. Kekawin ini merupakan 

kakawin tertua yang disusun sekitar abad ke-8. 

Disamping Ramayana, epos besar lainnya yaitu  Mahabharata. Kitab ini disusun oleh 

maharsi Wyasa. Isinya yaitu  menceritakan kehidupan  keluarga Bharata dan 

menggambarkan pecahnya perang saudara diantara bangsa Arya sendiri. Ditinjau dari arti 

Itihasa (berasal dari kata “Iti”, “ha” dan “asa” artinya yaitu  “sesungguhnya kejadian itu 

begitulah nyatanya”) maka Mahabharata itu gambaran sejarah, yang memuat mengenai 

kehidupan keagamaan, sosial dan politik menurut ajaran Hindu. Kitab Mahabharata 

meliputi 18 Parwa, yaitu Adiparwa, Sabhaparwa, Wanaparwa, Wirataparwa, Udyogaparwa, 

Bhismaparwa, Dronaparwa, Karnaparwa, Salyaparwa, Sauptikaparwa, Santiparwa, 

Anusasanaparwa, Aswamedhikaparwa, Asramawasikaparwa, Mausalaparwa, 

Mahaprastanikaparwa, dan Swargarohanaparwa 

Diantara parwa-parwa ini , terutama di dalam Bhismaparwa terdapatlah 

kitabBhagavadgita, yang amat masyur isinya yaitu  wejangan Sri Krsna kepada Arjuna 

tentang ajaran filsafat yang amat tinggi. 

2. Purana 

Purana merupakan kumpulan cerita-cerita kuno yang menyangkut penciptaan dunia dan 

silsilah para raja yang memerintah di dunia, juga mengenai silsilah dewa-dewa dan bhatara, 

cerita mengenai silsilah keturunaan dan perkembangan dinasti Suryawangsa dan 

Candrawangsa serta memuat ceitra-ceritra yang menggambarkan pembuktian-pembuktian 

hukum yang pernah di jalankan. Selain itu Kitab Purana juga memuat pokok-pokok 

pemikiran yang menguraikan tentang ceritra kejadian alam semesta, doa-doa dan mantra 

untuk sembahyang, cara melakukan puasa, tatacara ritual  keagamaan dan petunjuk-

petunjuk mengenai cara bertirtayatra atau berziarah ke tempat-tempat suci. Dan yang 

terpenting dari kitab-kitab Purana yaitu  memuat pokok-pokok ajaran mengenai Theisme 

(Ketuhanan) yang dianut menurut berbagai madzab Hindu. Adapun kitab-kitab Purana itu 

terdiri dari 18 buah, yaitu Purana, Bhawisya Purana, Wamana Purana, Brahma Purana, 

Wisnu Purana, Narada Purana, Bhagawata Purana, Garuda Purana, Padma Purana, Waraha 

Purana, Matsya Purana, Kurma Purana, Lingga Purana, Siwa Purana, Skanda Purana dan 

Agni Purana. 

3. Arthasastra 

Arthasastra yaitu  jenis ilmu pemerintahan negara. Isinya merupakan pokok-pokok 

pemikiran ilmu politik. Sebagai cabang ilmu, jenis ilmu ini disebut Nitisastra atau 

Rajadharma atau pula Dandaniti.Adabeberapa buku yang dikodifikasikan ke dalam jenis ini 

yaitu  kitab Usana, Nitisara, Sukraniti dan Arthasastra. Ada beberapa Acarya terkenal di 

bidang Nitisastra yaitu  Bhagawan Brhaspati, Bhagawan Usana, Bhagawan Parasara dan 

Rsi Canakya. 

4.   Ayur Weda 

Ayurveda yaitu  kitab yang menyangkut bidang kesehatan jasmani dan rohani dengan 

berbagai sistem sifatnya. Ayur Weda yaitu  filsafat kehidupan, baik etis maupun medis. 

Oleh sebab  demikian, maka luas lingkup ajaran yang dikodifikasikan di dalam Ayur Weda 

meliputi bidang yang amat luas dan merupakan hal-hal yang hidup. Menurut isinya, Ayur 

Weda meliptui delapan bidang ilmu, yaitu ilmu bedah, ilmu penyakit, ilmu obat-obatan, 

ilmu psikotherapy, ilmu pendiudikan anak-anak (ilmu jiwa anak), ilmu toksikologi, ilmu 

mujizat dan ilmu jiwa remaja. 

Disamping Ayurveda, ada pula kitab Caraka Samhita yang ditulis oleh Maharsi Punarwasu. 

Kitab inipun memuat delapan bidan ajaran (ilmu), yakni Ilmu pengobatan, Ilmu mengenai 

berbagai jens penyakit yang umum, ilmu pathologi, ilmu anatomi dan embriologi, ilmu 

diagnosis dan pragnosis, pokok-pokok ilmu therapy, Kalpasthana dan Siddhistana. Kitab 

yang sejenis pula dengan Ayurweda, yaitu  kitab Yogasara dan Yogasastra. Kitab ini ditulis 

oleh Bhagawan Nagaryuna. isinya memuat pokok-pokok ilmu yoga yang dirangkaikan 

dengan sistem anatomi yang penting artinya dalam pembinaan kesehatan jasmani dan 

rohani. 

5.   Gandharwaweda 

Gandharwaweda yaitu  kitab yang membahas berbagai aspek cabang ilmu seni. Ada 

beberapa buku penting yang termasuk Gandharwaweda ini yaitu  Natyasastra (yang 

meliputi Natyawedagama dan Dewadasasahasri), Rasarnawa, Rasaratnasamuscaya dan 

lain-lain. 

Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa kelompok Weda Smerti meliptui banyak buku dan 

kodifikasinya menurut jenis bidang-bidang tertentu. Ditambah lagi kitab-kitab agama 

misalnya Saiwa Agama, Vaisnawa Agama dan Sakta Agama dan kitab-kitab Darsana yaitu 

Nyaya, Waisesika, Samkhya, Yoga, Mimamsa dan Wedanta. Kedua terakhir ini termasuk 

golongan filsafat yang mengakui otoritas kitab Weda dan mendasarkan ajarannya pada 

Upanisad. Dengan uraian ini kiranya dapat diperkirakan betapa luasnya Weda itu, 

mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Di dalam ajaran Weda, yang perlu yaitu  

disiplin ilmu, sebab  tiap ilmu akan menunjuk pada satu aspek dengan sumber-sumber 

yang pasti pula. Hal inilah yang perlu diperhatikan dan dihayati untuk dapat mengenal isi 

Weda secara sempurna. 

Sastra suci Veda sebagai sastra utama bagi umat Hindu, termasuk ke dalam Åšruti. Veda 

merupakan susastra Hindu tertua yang masih ada dan diyakini kebenarannya oleh umat 

Hindu hingga saat ini. Keberadaan Veda sehingga bisa tetap ada tidak lepas dari ajarannya 

yang memuat kebenaran dan diturunkan secara turun temurun dari orang tua ke anak cucu, 

dari guru kepada siswanya dengan cara tradisi oral (sastra lisan). Budaya menurunkan ilmu 

pengetahuan ini tetap berlangsung dalam waktu yang sangat lama sebelum akhirnya Veda 

dikodifikasi dan dikompilasi oleh seorang Rsi yang digelari Veda Vyasa (secara harfiah, 

“dia yang membagi Veda) Beliau diberikan nama ini , sebagai penghormatan atas 

kemampuannya dan memilah sekumpulan besar ilmu pengetahuan dan lagu-lagu pujian 

(hymne) yang terkandung dalam Veda dan membagi menjadi bagian-bagian agar mudah 

dipahami dan dipelajari oleh umat manusia.Paraahli setuju bahwa Veda disusun sekitar 

1500 – 600 tahun SM. 

Sastra Veda terbagi atas empat bagian yang dikenal dengan Catur Veda, Rgveda, Yajurveda, 

Samaveda dan Atharvaveda. Veda tertua yaitu  Rgveda memuat lebih dari 1000 sloka, 

kidung pemujaan bagi para dewa-dewi sebagai manifestasi dari Brahman, pencipta alam 

semesta. 

Upanisad 

Upanisad (Aksara Dewanagari: उपननषनन, : upaniá¹£ad) termasuk dalam Sruti merupakan 

bagian dari Veda, disamping sastra-sastra Brahmana. Upanisad memuat ajaran filsafat, 

meditasi serta konsep ketuhanan. 

Upanisad disusun dalam jangka waktu yang panjang, upanisad yang tertua diantaranya 

Brhadaranyaka Upanisad dan Chandogya Upanisad, diperkirakan disusun pada abad ke 

delapan sebelum masehi. Merujuk pada Ashtadhyayi yang disusun oleh Maharsi Panini, 

jumlah upanisad yang ada sebanyak 900. Begitu pula Maharsi Patanjali menyatakan jumlah 

yang sama. Namun saat ini kebanyakan sudah musnah seiring dengan waktu. 

Dana Punia, Cara Beragama di Zaman Kali 

DANA PUNIA DI ZAMAN KALI  

Kehidupan di zaman Kali Yuga ini hendaknya dilakukan dengan tuntunan yang benar 

menurut kitab suci. adapun yang mesti kita lakukan pada zaman Kali Yuga ini menurut Kitab 

Manava Dharmasastra  I.85, yaitu  sebagai berikut : 

 

Zaman Kali Yuga 

Tapah pararn kerta yuge  

tretayam jnyanamucyate  

dwapare yajnyawaewahur  

danamekam kalau yuge  

 

 

Maksudnya: Bertapa prioritas beragama zaman Kerta, prioritas beragama zaman Treta 

Yuga dalam jnyana, zaman Dwapara Yuga dengan ritual  yadnya, sedangkan prioritas 

beragama zaman Kali Yuga yaitu  Dana Punia. 

ADA lima hal yang wajib dijadikan dasar pertimbangan untuk mengamalkan agama 

(dharma) agar sukses (Dharmasiddhiyartha). Hal itu dinyatakan dalam Manawa 

Dharmasastra VII.10. Lima dasar pertimbangan itu yaitu  iksha, sakti, desa 

kala dan tattwa. Iksha yaitu  pandangan hidup masyarakat setempat, sakti yaitu  

kemampuan, desa yaitu  aturan rohani setempat, kala (waktu) dan tattwa (hakikat 

kebenaran Weda). 

 

Kala sebagai salah satu hal yang wajib dipertimbangkan dalam mengamalkan agama Hindu 

agar sukses. Waktu dalam ajaran Hindu memiliki dimensi amat luas. Ada waktu dilihat dari 

konsep Tri Guna. sebab  itu ada waktusatvika kala, rajasika kala dan tamasika kala. Ada 

waktu berdasarkan konsep Yuga — Kerta Yuga, Treta Yuga, Dwapara Yuga dan Kali Yuga. 

Keadaan zaman ditiap-tiap yuga itu berbeda-beda. sebab  itu, cara beragama-pun berbeda-

beda pada setiap zaman. 

 

Menurut Manawa Dharmasastra 1.85 sebagaimana dikutip diawal tulisan ini, prioritas 

beragama-pun menjadi berbeda-beda pada setiap zaman. Pada zaman Kerta Yuga, 

kehidupan beragama diprioritaskan dengan cara bertapa. Pada Treta Yuga dengan 

memfokuskan pada jnyana. Pada zaman Dwapara Yuga dengan ritual  yadnya dan pada 

zaman Kala Yuga beragama dengan prioritas melakukan dana punia. 

 

Melakukan dana punia diarahkan untuk membangun SDM yang berkualitas. Pustaka 

Slokantara Sloka 2 menyatakan lebih utama nilainya mendidik seorang putra menjadi 

suputra dibandingkan  seratus kali ritual  yadnya. Inilah idealisme ajaran Hindu yang 

semestinya dijadikan acuan pada zaman Kali Yuga dewasa ini. 

 

Pada kenyataannya, umat Hindu di Bali khususnya dan di Indonesia umumnya masih 

mengutamakan ritual  yadnya sebagai prioritas beragama. Hal ini akan memicu  

akibat yang kurang baik dalam kehidupan beragama. Dinamika umat dalam berbagai bidang 

kehidupan amat meningkat pesat. Kegiatan hidup yang semakin meningkat itu 

membutuhkan waktu, biaya, tenaga dan sarana lainnya. Amat berbeda dengan kehidupan 

pada zaman agraris tulen dimana umat umumnya lebih banyak di sawah ladang dan kebun 

untuk mencari nafkah. 

Pada zaman industri ini, mobilitas umat makin tinggi dan kegiatan hidup makin beraneka 

ragam. sebab  itu, amatlah tepat arahan Manawa Dharmasastra I.85. itu — beragama yang 

lebih mempriotaskan kegiatan ber-dana punia. Ini bukan berarti ritual  yadnya sebagai 

kegiatan beragama Hindu ditinggalkan. 

 

ritual  yadnya tetap berlangsung namun  bukan merupakan prioritas. Justeru ritual  

yadnya tetap dilakukan dengan lebih menekankan aspek spiritualnya, bukan pada wujud 

ritualnya yang menekankan fisik material. 

 

Apalagi bagi umat Hindu di Bali tingkatan bentuk ritual  yadnya yang pada dasarnya 

dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu ritual  nista, madia dan utama. Nista, madia dan 

utama itu umumnya didasarkan pada wujud fisiknya ritual . Kalau besar dan banyak 

sarana yang dipakai  disebut utama, kalau sedikit disebut madia, dan seterusnya. Yang 

kecil, menengah dan besar itu masing-masing dapat lagi dibagi menjadi tiga bagian. Dengan 

demikian, dari yang terkecil sampai terbesar dapat dibagi jadi sembilan. 

 

Dalam melakukan berbagai kegiatan hidup, umat seyogianya menjadikan ajaran agama 

sebagai pegangan dalam menjaga keluhuran moral dan ketahanan mental. Dalam 

melakukan berbagai kegiatan hidup, sesungguhnya agama memegang peranan penting 

agar semuanya selalu berada pada jalan dharma. Substansi ritual  yadnya yaitu  untuk 

membangun rasa dekat dengan Tuhan melalui bhakti, dekat dengan sesama manusia 

melalui punia atau pengabdian, dan merasa dekat dengan alam dengan jalan asih.  

Mengapa disebut ritual  yadnya? Kata “ritual ” dalam bahasa Sansekerta berarti “dekat” 

dan yadnya berarti pengorbanan dengan ikhlas dalam wujud pengabdian. sebab  itu, dalam 

kegiatan ritual  yadnya ada “ritual ” yang berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya 

pelayanan. Kita akan merasa dekat dengan Tuhan dengan sarana upakara sebagai sarana 

bhakti. 

 

pemakaian  flora dan fauna sebagai sarana ritual  menurut Menawa Dharmasastra V.40 

sebagai media pemujaan agar flora dan fauna itu mejadi lebih lestari pada penjelmaan 

selanjutnya. Ini artinya, pemakaian  flora dan fauna itu sebagai media untuk memotivasi 

umat untuk secara nyata (sekala) melestarikan keberadaan tumbuh-tumbuhan dan hewan 

ini . Jadi, ritual  yadnya bukan sebagai media pembantaian flora dan fauna. 

 

Pada zaman Kali ini, keberadaan flora dan fauna sudah semakin terancam eksistensinya 

sebab  itu amatlah tepat kalau bentuk fisik ritual  itu diambil dalam wujud yang lebih 

sederhana (nista), sehinga pemakaian flora dan fauna itu tidak sampai mengganggu 

eksistensi sumber daya alam ini . Justru ritual  yadnya itulah seyogianya dijadikan 

suatu momentum untuk melakukan usaha  pelestarian flora dan fauna. 

 

Dalam Sarasamuscaya 135 ada dinyatakan, untuk melakukan bhuta hita atau usaha  

mensejahterakan semua makhluk (sarwa prani) ciptaan Tuhan ini. Kesejahteraan alam 

(bhuta hita) itulah sebagai dasar untuk mewujudkan empat tujuan hidup mencapai dharma, 

artha, kama dan moksha. 

 

Ke depan, ritual  yadnya hendaknya dimaknai lebih nyata dengan melakukan asih, punia 

dan bhakti. Asih pada alam lingkungan dengan terus menerus berusaha meningkatkan 

pelestarian keberadaan flora dan fauna, punia dengan melakukan pengabdian pada sesama 

manusia sesuai dengan swadharma masing-masing. Asih dan punia dilakukan sebagai 

wujud bhakti pada Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa).