Selasa, 14 Juli 2026

misteri tibet 10

 


yang telah kuceritakan sebelumnya. Kaum

pendeta atau kaum kebatinan yang hobi berpetualang, yang sering kali buta huruf dan berasal dari

keluarga miskin, yang tak bisa berharap banyak dari biara, sangat menikmati kehidupan di sebuah

ritöd yang tidak mungkin mereka harapkan lebih di tempat lain.

Mereka yang ambisius, akan tenggelam dalam pertapaan yang keras agar memperoleh reputasi,

namun mereka akan melepaskan itu semua sesudah  beberapa tahun, kala nama mereka sudah

cukup termasyur. Lalu mereka akan tinggal di sebuah tempat pribadi, menggantungkan hidup pada

pemberian umat yang dapat membuat mereka hidup dengan nyaman.

Yang lain tidak mencoba menarik perhatian orang-orang. Mereka hanya tinggal di sebuah kabin

atau gua yang terletak beberapa mil dari sebuah desa yang makmur atau di dekat daerah suku

penggembala. Mungkin pada awalnya keadaan akan cukup sulit dan makanan tidaklah senantiasa

187

melimpah, sebab  orang Tibet tidak terburu-buru memberikan kepercayaan mereka pada para

lhama yang ‘tidak bertugas’. Namun jika pertapa itu pintar dan mengetahui ‘caranya’, ia secara

perlahan akan sukses. Tentu saja ia harus berperan sebagai tukang ramal dan dapat mengusir

setan yang mendatangkan penyakit. Jika keberuntungan sedang berpihak padanya, beberapa 

ramalannya bisa terbukti benar, dan orang ataupun binatang menjadi sembuh sesudah  ia mengusir

setan dari tubuhnya. Maka tak ada lagi yang diperlukan untuk mengamankan prospeknya yang

brilian itu.

Kurasa hanya segelintir orang Barat yang bisa menikmati kehidupan seorang pertapa gadungan di

wilayah liar Tibet, namun orang-orang Tibet menyukai kehidupan yang demikian. Para gadungan ini

sering kali pada akhirnya terjebak oleh tipuannya sendiri. Tentu saja mereka tidak akan

memperoleh berkah yang menunggu kaum mistik tulen, namun mereka hidup bebas, terhormat,

tanpa perlu bekerja; dan mereka memperoleh cukup teh, mentega, dan tsampa untuk memenuhi

kebutuhan mereka sehari-hari. Di luar ini, pondok atau gua yang dibangun sekedarnya sebagai

tempat tinggal sudah cukup memuaskan keinginan orang-orang yang licik namun sederhana ini.

Kebanyakan dari mereka jauh dari kesan sebagai orang jahat dan tidak simpatik. Mereka hampir

selalu mengomentariku sebagai seorang pelawak, dan rasa lucu yang timbul dari kelicikan mereka

yang naif membuatku cenderung menilai mereka secara positif.

Pendapat umum yang beredar di Barat yaitu  bahwa seseorang tak akan mampu bertahan di

pengasingan seorang diri dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal ini diyakini akan

mengakibatkan gangguan di otak, yang akhirnya akan membuat orang menjadi gila ataupun bodoh.

Hal itu mungkin benar jika orang-orang yang diamati efek isolasi ini  yaitu : para penjaga

mercu suar, para pengelana yang terdampar di pulau terpencil sesudah  kapalnya karam, para

peneliti yang tersesat di sebuah daerah tak bertuan, para narapidana di tahanan, dsb. Namun

observasi yang demikian tak berlaku bagi para pertapa Tibet. Mereka itu sesudah  sepuluh atau dua

puluh tahun, bahkan ada yang lebih lama, menghabiskan waktu sendirian di alam bebas ataupun di

tsams khang, jauh dari kesan gila. Kita mungkin dapat menyangsikan teori-teori yang berhasil

mereka pahami selama meditasi mereka yang panjang itu, namun mustahil mempertanyakan

kewarasan mereka.

Tidak ada yang luar biasa dalam hal ini. Orang-orang ini telah mempersiapkan diri mereka pada

kesunyian. Sebelum menutup diri dalam tsams khang ataupun berdiam di ritöd, mereka telah

mengakumulasikan beberapa  ide yang akan menemani mereka. Lagipula, mereka bukannya tidak

aktif selama masa penyepian itu, betapapun lamanya. Hari-hari mereka diisi dengan mencoba

berbagai metode latihan spiritual, pencarian akan perngetahuan gaib, atau meditasi akan masalah-

masalah filosofis. Akibatnya, sebab  mereka amat tertarik pada bermacam penyelidikan dan

introspeksi ini, mereka menjadi sangat sibuk dan tidak menyadari penyepian mereka ini .

Aku tak pernah mendengar seorang pertapa Tibet yang berkata, bahkan pada awal masa

penyepiannya, bahwa ia menderita sebab  tidak bergaul dengan orang lain. Umumnya mereka yang

telah mencicipi kehidupan seorang pertapa merasa kesulitan untuk kembali menjalani hidup

dengan orang lain ataupun untuk menikmati kehidupan bermasyarakat.

Apapun yang mungkin dipikirkan oleh mereka yang tidak terbiasa, penyepian dan keheningan

bukanlah berarti hal yang tidak menyenangkan sama sekali.

Tak ada kata-kata yang sanggup melukiskan luapan perasaan yang amat membahagiakan kala

seseorang menutup pintu tsams khangnya, atau saat menatap ke bawah dari tempat yang tinggi,

tampak hamparan salju pertama menutupi seluruh lembah, menciptakan benteng putih dan beku

yang mengisolasi tempat pertapaannya selama berbulan-bulan.

188

yang mengisolasi tempat pertapaannya selama berbulan-bulan.

Namun, sepertinya, hanya mereka yang pernah mengalaminya yang akan mengerti daya tarik yang

luar biasa dalam kehidupan pertapaan yang banyak dijalani oleh orang-orang Timur.

Cukup banyak jenis latihan yang dijalani para penyepi ini  kala menutup diri dalam tsams

khang atau ritöd. Semua usaha yang dilakukan untuk mendapatkan daftar keseluruhan latihan

ini  selalu menjadi sia-sia, sebab  kemungkinan besar tidak ada seorang pun di dunia ini yang

mengetahui dengan baik hal itu.

Kita dapat menemukan dalam literatur mistik Tibet penjelasan-penjelasan yang lebih kurang

mendalam pada beberapa  latihan, namun, sesuai peraturan, semua penjelasan itu kurang jelas

dalam menguraikan hal yang paling menarik minat kita, yakni tujuan dari latihan-latihan ini .

Informasi yang akurat hanya dapat diperoleh melalui mereka yang mengenal ajaran-ajaran yang

diturunkan secara lisan untuk setiap latihan tertentu. Kita harus hati-hati agar tidak cepat puas pada

interpretasi yang diperoleh melalui satu orang pakar saja, sebab  perbedaan itu bukan hanya di

antara sekte yang berbeda, namun juga di antara tiap-tiap gurunya.

yaitu  sebuah kesalahan jika mengangankan bahwa semua orang Tibet yang tinggal dalam

penyepian dalam sebuah tsams khang atau yang mengucilkan dirinya di tempat terpencil akan

diberkati dengan kecerdasan yang luar biasa dan mampu memahami masalah-masalah

transendental.

Aku telah menceritakan tentang para gomchen sham yang menjalani kehidupan religiusnya

sebagai sebuah profesi. Terdapat juga kelompok para gadungan dan orang-orang yang memiliki

keahlian rata-rata yang membawa hal-hal berbau tahyul dari lhamaisme populer ke dalam

penyepian mereka.

Di antara mereka itu, banyak yang mempersembahkan waktu penyepian mereka dengan

mengulang ribuan bahkan jutaan kali sebuah rumusan tunggal: umumnya sebuah mantra Sanskrit

yang tak mereka pahami. Yang lain melafalkan teks Tibet, namun sering kali mereka tidak mengerti

artinya, seperti tengah membaca kata-kata dalam bahasa asing saja.

Rumusan yang paling umum dan terkenal yaitu  Aum mani padme hum! Kukatakan terkenal

hanya sebatas kata-katanya, berhubung orang-orang asing sudah sering membacanya di banyak

artikel . Bukan berarti bahwa mereka telah memahami maknanya.

Para pengelana awam bahkan juga orang-orang Timur kadang terlalu cepat menilai sesuatu itu

tidak memiliki arti apa-apa hanya sebab  mereka tidak sesaat  mengerti artinya. Para penulis

terpelajar, bahkan hingga hari ini, kerap menerjemahkan kata pertama dari rumusan itu, aum,

menjadi kata seru umum kita ah! Dan hum, kata terakhir, menjadi amin.

Terdapat banyak literatur di India khusus untuk menjelaskan kata mistik Aum. Kata itu memiliki

makna eksoterik dan mistik. Ia dapat menunjuk kepada ketiga individu dari Triniti Hindu: Brahma,

Wisnu, dan Shiwa. Ia juga dapat berarti Sang Brahma, ‘Yang tunggal tanpa yang kedua’ dari filosofi

adwaita. Ia merupakan simbol dari Sang Absolut yang Tak Terjelaskan, kata terakhir yang

digumamkan dalam mistisme, yang kemudian diikuti dengan keheningan. Menurut Shri

Sankarâcharya[146] ia yaitu  ‘pendukung meditasi’, atau seperti yang dinyatakan dalam teks

Mundakopanishad itu sendiri, ‘ia yaitu  sang busur sebagai alat bagi sang diri individual untuk

mencapai diri universal.’[147]

Sekali lagi, Aum yaitu  sang bunyi kreatif yang getarannya membangun dunia. saat  seorang

mistik mampu mendengar bunyi-bunyi yang tak berhingga, jeritan-jeritan, lagu-lagu, dan suara

189

semua makhluk dan benda yang ada dan bergerak, itu yaitu  sebab  bunyi unik Aum yang

menyampaikannya. Aum yang sama juga bergetar di dalam dirinya yang paling dalam. Ia yang

dapat mengucapkannya dengan irama yang tepat, akan mampu menciptakan keajaiban, dan ia

yang mengetahui bagaimana menggumamkannya dalam diam, akan mencapai pembebasan yang

tertinggi.

Orang-orang Tibet yang telah menerima kata Aum dari India bersama dengan mantram-mantram

yang merupakan sekutunya, tampaknya tidak memahami maknanya yang demikian dalam,

demikian juga tempatnya yang amat penting dalam agama dan filosofi mereka.

Aum dilafalkan berulang-ulang oleh para lhamais bersama dengan rumusan Sanskrit yang lain

tanpa dianggap memiliki arti penting tersendiri, sementara silabel seperti hum! Dan khususnya

phat! Dianggap memiliki kekuatan yang hebat dan cukup sering dipergunakan dalam ritual gaib

dan mistik.

Demikianlah penjelasan yang panjang tentang kata pertama dari rumusan ini .

Mani padme yaitu  istilah Sanskrit yang berarti ‘permata dalam bunga teratai’. Yang ini

kelihatannya memiliki makna yang sesaat  dapat dimengerti, namun interpretasi yang beredar

tidak mengacu pada pengertiannya yang sederhana itu.

Orang awam meyakini bahwa pelafalan Aum mani padme hum! Akan membuat mereka terlahir di

Nub Dewa chen, Surga Barat dari Kebahagiaan Teragung.

Mereka yang lebih ‘terpelajar’ diberi tahu bahwa keenam silabel dari rumusan ini 

berhubungan dengan keenam kelas makhluk-makhluk berkesadaran dan dihubungkan dengan

enam warna mistik sebagai berikut:

Aum berwarna putih dan berhubungan dengan para dewa (lha).

Ma berwarna biru dan berhubungan dengan para non dewa (lhamayin).[148]

Ni berwarna kuning dan berhubungan dengan manusia (mi).

Pad berwarna hijau dan berhubungan dengan binatang (tudo).

Me berwarna merah dan berhubungan dengan non manusia (Yidag[149] atau mi-ma-yin[150] yang lain).

Hum berwarna hitam dan berhubungan dengan para penghuni di tempat penyucian dosa.

Ada beragam opini mengenai efek pelafalan keenam silabel ini. Masyarakat umum berpendapat

mereka yang sering melafalkan rumusan ini  akan terlahir di Surga Barat dari Kebahagiaan

Teragung. Yang lainnya yang menganggap dirinya lebih bijaksana menyatakan pelafalan berulang-

ulang dari Aum mani padme hum! Akan membebaskan seseorang dari kelahiran kembali di Enam

Alam Kehidupan.

Aum mani padme hum! Dipergunakan sebagai pendukung sebuah meditasi khusus yang lebih

kurang dapat digambarkan sebagai berikut:

Orang yang bersangkutan mengidentifikasi keenam makhluk dengan keenam silabel ini  yang

digambarkan dengan warna masing-masing sebagaimana yang disebutkan di atas. Mereka lalu

membentuk semacam rantai tanpa ujung yang bersirkulasi melalui tubuhnya, dibawa dengan

nafasnya, memasuki salah satu lubang hidung orang ini  dan keluar melalui lubang yang

satunya lagi.

190

saat  konsentrasi pikiran orang ini  menjadi lebih sempurna, ia akan melihat secara mental

bahwa rantai itu bertambah panjang. Sekarang saat  rantai itu keluar bersama hembusan nafas,

silabel-silabel mistik ini  terbuang cukup jauh sebelum kemudian dihirup kembali bersama

tarikan nafas berikutnya. Namun demikian, rantai itu bukanlah putus, ia hanya mengulur seperti

seutas karet dan senantiasa bersentuhan dengan orang yang bermeditasi ini .

Secara perlahan, aksara-aksara Tibet itu pun menghilang dan mereka yang telah ‘memperoleh

buah’ dari latihan ini  menyadari keenam silabel ini  sebagai enam alam kehidupan

dimana makhluk-makhluk yang tak berhingga dari keenam jenis alam ini  muncul, bergerak,

bergembira, menderita, dan mati.

Dan sekarang saatnya bagi sang meditator untuk menyadari bahwa keenam alam (keseluruhan

dunia yang fenomenal) ini  yaitu  bersifat subjektif: sebuah kreasi pikiran semata yang

membayangkannya dan ke dalamnya alam-alam itu kemudian tengelam.

Kaum mistik tingkat lanjut dalam latihan ini mencapai suatu keadaan tidak sadar (trance) dimana

aksara-aksara rumusan itu, demikian juga makhluk-makhluk dan aktifitas-aktifitas mereka,

semuanya menyatu dalam That, yang dalam istilah Buddhis Mahayana disebut ‘Kekosongan’.

Lalu, sesudah  menyadari ‘Kehampaan’ itu, mereka menjadi terbebas dari ilusi dunia dan sebagai

konsekuensinya mereka pun terbebas dari kelahiran kembali yang merupakan buah dari delusi

kreatif ini .

Interpretasi lain dari Aum mani padme hum! yang demikian banyak itu mengabaikan pembagian

keenam silabel dan mengambil rumusan itu sesuai dengan maknanya: ‘sebuah permata dalam

bunga teratai’. Kata-kata ini dianggap hanya bersifat simbolis saja.

Interpretasi yang paling sederhana yaitu : Dalam bunga teratai (yakni dunia) terdapat permata

berharga yakni ajaran Sang Buddha.

Penjelasan lain mengumpamakan bunga teratai itu sebagai pikiran. Di kedalamannya, dengan

meditasi introspektif, seseorang akan mampu menemukan mutiara ilmu pengetahuan, kebenaran,

realitas, pembebasan, nirvãna, berbagai istilah ini menjadi nilai-nilai yang berbeda bagi satu hal

yang sama.

Sekarang kita tiba pada sebuah makna yang berkaitan dengan doktrin-doktrin tertentu dari Buddhis

Mahayana.

Menurut mereka, nirvãna, pembebasan absolut, bukanlah terpisah dari samsãra, dunia fenomenal.

namun  kaum mistik menemukan bahwa yang pertama berada dalam hati yang kedua, seperti

halnya ‘sang permata’ yang dapat ditemukan dalam ‘bunga teratai’ ini . Nirvãna, ‘sang

permata’, ada jika ada pencerahan. Samsãra, sang ‘bunga teratai’, ada jika ada delusi, yang

menyelubungi nirvãna, sebagaimana halnya kelopak-kelopak ‘teratai’ menyembunyikan ‘sang

permata’ yang bersarang di dalamnya.

Hum! Pada akhir rumusan itu, yaitu  sebuah ekspresi mistik akan kemarahan yang kerap

digunakan dalam menaklukkan para dewa yang jahat dan menundukkan para setan. Bagaimana ia

bisa menjadi akhiran dari ‘permata dalam bunga teratai’ dan Aum dari India itu? – Hal ini sekali lagi

dijelaskan dalam berbagai cara.

Hum! yaitu  sejenis jeritan perang mistik; mengucapkannya, berarti menantang sang lawan.

Siapakah sang lawan itu? Setiap orang membayangkannya dengan cara yang berbeda: entah

sebagai seorang teman yang berkuasa, atau sebagai sang trinity jahat yang mengikat kita dalam

191

lingkaran kelahiran kembali, yakni hawa nafsu, kebencian, dan kebodohan. beberapa  pemikir andal

menganggapnya sebagai sang ‘Aku’. Hum! Disebutkan juga berguna untuk meniadakan pikiran

dari isi yang bersifat objektif, dsb, dsb.

Sebuah silabel ditambahkan lagi untuk menyempurnakan pengulangan Aum mani padme hum!

sebanyak seratus delapan kali pada kalung tasbih. Ia yaitu  silabel hri! beberapa  orang

menganggap bahwa ia menunjukkan sebuah kebenaran sejati yang tersembunyi dibalik apa yang

tampak dari luar, inti dasar dari segala sesuatu.

Selain Aum mani padme hum hri!, rumusan lain yang dilafalkan berulang-ulang yaitu  Aum vajra

sattva! Yang artinya, ‘Aum makhluk yang paling agung (intan)’. Yang dimaksud dengan Yang paling

agung ini  yaitu  Sang Buddha. Para pengikut sekte topi merah selalu melafalkan: Aum vajra

guru padma siddhi hum! Sebagai pemujaan pada pendiri sekte mereka Padmasambhava. Kata-

kata itu berarti: Aum, guru Padma yang kuat dan agung, pembuat keajaiban, hum!

Rumusan yang lebih panjang dan paling populer yaitu  yang disebut dengan ‘Kyabdo’.[151] Ini

yaitu  rumusan berbahasa Tibet tanpa dicampur dengan bahasa Sanskrit, dan maknanya

sebenarnya biasa saja, namun jauh dari sederhana. Teks itu berbunyi sebagai berikut:

‘Aku berlindung pada semua pelindung suci. Wahai ayah-ayah dan ibu-ibu (leluhur) yang berkelana

di lingkaran kelahiran di balik wujud keenam makhluk berkesadaran. Untuk mencapai Kebuddhaan,

keadaan tanpa ketakutan dan kesedihan, biarkanlah pikiran kalian dituntun ke arah pencerahan.’

Rumusan ini sering kali diberikan pada para pemula pada masa awal tsams mereka. Kata-kata

ini  sudah cukup dikenal dan siapapun dapat melafalkannya tanpa harus mengurung diri di

dalam tsams. Rumusan itu dianggap sangat bermanfaat dan sesuai digunakan dalam keadaan

apapun. Atas dasar alasan ini, aku memilih mereka untuk menemaniku selama perjalananku

menuju Lhasa, untuk memecahkan kebosanan mengulang terus menerus Aum mani padme hum!

Atau saat  aku merasa perlu menenggelamkan diri dalam latihan yang khusuk untuk menghindari

perbincangan yang menganggu atau pertanyaan-pertanyaan yang memalukan yang dapat

membahayakan penyamaranku.

‘Kyabdo-tsams’ yang umum dilakukan yaitu  dengan mengucilkan diri dalam sebuah pondok atau

kamar pribadi masing-masing dan mengulang rumusan di atas sebanyak seratus ribu kali, dan

diikuti dengan penghormatan (bersujud) dalam jumlah yang sama. Rumusan yang lain pun diulang

dengan cara yang sama, dengan seratus ribu kali penghormatan.

Orang Tibet melakukan penghormatan dengan dua cara. Yang pertama amat mirip dengan cara

hormat kowtow ala Cina. Perbedaannya yaitu  sebelum bersujud, lengan diangkat ke atas kepala,

mengatupkan telapak tangan, lalu mengarahkannya berturut-turut ke jidat, mulut, dan dada.

Penghormatan jenis itu diulang tiga kali saat  memberikan salam di depan patung-patung dalam

biara, para petinggi lhama, guru pribadi, dan kitab-kitab suci.

Penghormatan yang kedua disebut kyang chad. Penghormatan ini dilakukan dalam gaya India,

tubuh ditelungkupkan ke tanah, dan ini hanya dilakukan pada segelintir latihan-latihan kebaktian

khusus semisal latihan kyabdo di atas.

Para tsamspa, yang menginginkan gelar chagbum, mengulang seratus ribu kali rumusan kyabdo

ini  saat  melakukan penghormatan yang sama banyaknya. Jidat mereka benar-benar

menyentuh tanah ataupun lantai ruangan saat melakukan setiap penghormatan. Kontak yang

berulang-ulang antara daging dan permukaan yang keras ini kerap mengakibatkan sebuah benjolan

bahkan kadang sebuah luka. Luka atau benjolan ini dapat menjadi sebuah pertanda bagi para

192

pakar di bidang ini untuk memastikan apakah objek dari ritual ini sudah dicapai atau belum.

Para tsamspa, yang menganggap diri mereka sudah mahir dalam latihan kyabdo, lalu melakukan

latihan pernafasan. Hal ini termasuk melakukan berbagai postur, yang seringkali tidak lazim, saat 

ia berlatih menarik nafas, mengeluarkan, dan menahannya[152] dalam berbagai cara.

Sering kali para tsamspa berlatih dalam keadaan telanjang, dan bentuk perut menjadi petunjuk

seberapa jauh tingkat kemahiran yang telah dicapai oleh sang siswa.

Di samping hasil yang tampak secara fisik, yang sebagian di antaranya telah dijabarkan dalam bab

terdahulu, orang-orang Tibet meyakini bahwa dengan menguasai pernafasan, seseorang akan

mampu menaklukkan semua hawa nafsu dan kemarahan, demikian juga nafsu badaniah,

memperoleh ketenangan, mempersiapkan pikiran untuk bermeditasi dan membangkitkan energi

spiritual.

“Nafas ibarat kuda dan pikiran yaitu  penunggangnya,” kata para mistik Tibet. Jadi sang kuda

haruslah cukup terlatih. Namun nafas, sebagai imbalannya, mempengaruhi aktifitas mental dan fisik.

Alhasil, disusunlah dua metode: yang paling mudah yaitu  menenangkan pikiran dengan

mengendalikan pernafasan. Yang tersulit yaitu  mengatur nafas dengan mengendalikan pikiran.

Pada latihan pernafasan yang dilakukan beberapa kali dalam sehari, sang penyepi sering

menambahkan meditasi kontempaltif yang dilakukan dengan menggunakan kyilkhor.[153] Kyilkhor ini

yaitu  unsur yang sangat penting dalam ritual magis yang disebut dubthab (metode keberhasilan).

Kyilkhor yaitu  diagram yang digambar di atas selembar kertas atau kain, atau diukir pada

bebatuan, logam atau kayu. Ada juga yang dibentuk dengan bendera-bendera kecil, lampu-lampu

altar, batang-batang dupa, dan pot-pot yang berisi berbagai macam benda, seperti biji-bijian, air,

dsb. Figur-figur yang terlibat dalam kyilkhor beserta persyaratannya diwakili oleh kue-kue

berbentuk piramid yang disebut torma.

Kyilkhor juga digambar dengan tepung warna warni pada lantai biara atau papan tulis. Aku pernah

melihat beberapa di antaranya yang bergaris tengah sekitar tujuh kaki.

K a ta kyilkhor berarti sebuah lingkaran, namun demikian, diantara jenis-jenis kyilkhor yang

jumlahnya tak berhingga itu, terdapat beberapa yang berbentuk empat persegi, sementara kyilkhor

yang digunakan dalam ilmu hitam atau untuk menaklukkan entitas yang jahat berbentuk segitiga.

Para bhikkhu yang berharap untuk menjadi mahir dalam seni jenis ini menghabiskan waktu

bertahun-tahun untuk mempelajari peraturan-peraturan ini . Satu dari empat jurusan perguruan

tinggi yang terdapat pada semua biara besar mengajarkan seni menggambar kyilkhor yang

merupakan bagian dari ritual gaib para lhamais. Sebagaimana halnya semua yang berhubungan

dengan latihan mistik ataupun ilmu hitam yang bersifat rahasia, setiap murid harus mempelajarinya

secara khusus dengan guru pribadinya.

Sedikit saja kesalahan dalam menggambar sebuah kyilkhor atau dalam meletakkan torma-torma

pada tempatnya, akan berakibat sangat fatal, sebab  kyilkhor merupakan sebuah alat gaib yang

akan melukai mereka yang tak ahli menanganinya.

Lagi pula, tak seorang pun yang boleh membentuk atau menggambar sebuah kyilkhor jika ia belum

diberkahi kekuatan untuk melakukannya melalui sebuah inisisasi yang seharusnya, dan setiap

variasi kyilkhor membutuhkan sebuah inisiasi khusus. Dengan demikian hasil kerja seorang yang

belum diinisiasi tidak akan memiliki kekuatan dan tidak akan berfungsi.

193

Sementara itu hanya sedikit yang mengerti benar makna simbolis kyilkhor ini , juga teori-teori

yang menguraikan tentang manfaatnya bagi latihan psikis.

Tak perlu dikatakan lagi bahwa kyilkhor yang berukuran besar dan rumit tidak akan muat dalam

tsams khang, sehingga bentuk kyilkhor di tempat itu yaitu  yang lebih sederhana.

Pada awal masa pendidikan spiritualnya, sang siswa baru akan diajarkan gurunya cara membentuk

sebuah diagram yang digunakan sebagai pendukung (rten) dalam memfokuskan perhatiannya saat

bermeditasi.

Salah satu latihan yang paling sering dilakukan – entah dengan atau tanpa sebuah kyilkhor – pada

masa pembelajaran ini , yaitu  sebagai berikut:

Seorang dewa dibayangkan; pertama-tama ia direnungkan sendirian, lalu dari tubuhnya muncul

wujud-wujud yang kadang menyerupainya, kadang tidak. Mereka biasanya berjumlah empat orang,

namun dalam beberapa  meditasi mereka bisa berjumlah ratusan bahkan tak berhingga.

Saat semua wujud ini tampak jelas di sekeliling figur utama, mereka satu persatu diserap kembali

ke dalam tokoh utama ini . Sekarang sang dewa asli kembali sendirian lalu perlahan

menghilang. Dimulai dari kakinya, perlahan diikuti seluruh badannya dan akhirnya kepalanya. Hanya

sebuah titik yang tersisa. Titik ini bisa hitam, berwarna, atau berkilauan. Para pakar mistik

menginterpretasikan ini sebagai tanda yang menunjukkan tingkat kemajuan spiritual yang telah

dicapai muridnya.

Lalu, titik itu bergerak mendekati orang yang tengah membayangkannya dan tenggelam ke

dalamnya. Orang itu harus memperhatikan ke bagian tubuh mana ia menghilang. Latihan itu

kemudian dilanjutkan dengan sebuah periode meditasi, yang dapat dilakukan kembali sebanyak

yang diinginkan.

Seseorang dapat juga membayangkan sekuntum teratai. Bunga itu mekar secara perlahan dan dari

tiap kelopaknya berdiri Sang Bodhisatva, salah satunya bertahta di inti teratai itu. Sesaat

kemudian, saat  kelopak-kelopak itu mengatupkan dirinya kembali, setiap helai memancarkan

seberkas sinar yang lalu tenggelam ke dalam pusat bunga, dan saat  bunga itu menguncup

sempurna, seberkas cahaya memancar dari pusatnya dan memasuki tubuh orang yang tengah

bermeditasi ini . Terdapat beberapa jenis latihan yang serupa.

Banyak dari para siswa pemula yang tidak melanjutkan lebih jauh. Imej-imej yang saya lukiskan di

atas, yang jelas cukup aneh dan tidak masuk akal, namun membentuk sebuah teka-teki dari

beragam aspek tak terduga yang lalu mereka renungkan sesudah  berlatih beberapa waktu.

Imej-imej ini  menyuguhkan sebuah tontonan dalam penyepian yang setara dengan kisah

dongeng terindah yang dimainkan di atas panggung. Bahkan mereka yang menyadari benar bahwa

gambaran-gambaran itu hanyalah bersifat ilusi pun menikmatinya, dan bagi mereka yang

mempercayai bahwa para pemain itu yaitu  nyata, pastilah akan tersihir oleh pesona mereka.

Bagaimanapun, tujuan latihan-latihan itu bukanlah untuk membingungkan para pertapa. Maksud

utamanya yaitu  untuk menuntun sang siswa memahami bahwa dunia dan seluruh fenomena yang

kita serap merupakan halusinasi yang lahir dari imajinasi kita.

‘Mereka muncul dari pikiran

Dan ke dalam pikiran mereka akan tenggelam.’

Sebenarnya inilah ajaran fundamental dari kaum mistik Tibet.

194

Jika sekarang kita menyimak kasus seorang bhikkhu yang dibandingkan  menempatkan dirinya di

bawah bimbingan spritual seorang lhama yang merupakan anggota sebuah biara, lebih memilih

untuk memohon ajaran seorang pertapa kontemplatif naljorpa, maka latihan-latihan ini  akan

mengambil aspek yang lain. Metode-metodenya menjadi ganjil, kadang bahkan kejam; kita sudah

melihatnya di bab terdahulu.

Trilogi: Pemeriksaan, Meditasi, Pemahaman, menjadi bagian terpenting bagi para pengikut ‘Jalan

Pintas’ dan aktifitas intelektual sang siswa secara khusus diarahkan kepada tujuan-tujuan ini.

Kadang-kadang sarana yang digunakan kelihatan berlebihan, namun jika diselidiki lebih jauh kita

akan melihat bahwa maksud objek itu cukup beralasan. Terlihat jelas juga bahwa para penemu

metode-metode yang menarik ini amat memahami pikiran saudara mereka yang berada di wilayah

sekitarnya dan telah merancangnya menurut kemampuan mereka.

Padmasambhava dikatakan telah menjabarkan langkah-langkah dalam jalan mistik ini 

dengan cara berikut:

1.         Membaca beberapa  besar artikel  dari berbagai agama dan bermacam filosofis.

Mendengarkan para cendekiawan yang memiliki doktrin-doktrin yang berbeda. Mencoba sendiri

beberapa  metode yang ada.

2.         Memilih salah satu doktrin di antara beragam doktrin yang telah dipelajari dan membuang

yang lain, sebagaimana elang yang hanya menyambar seekor domba dari sekawanan domba yang

ada.

3.         Tetap berada di kalangan bawah, rendah hati dalam bersikap, tidak berusaha menjadi

orang penting atau menyolok di mata dunia, namun di balik penampilan yang tidak menonjol, ia

membiarkan pikirannya melesat melampaui semua kemegahan dan kekuatan duniawi.

4.         Tidak membeda-bedakan segala sesuatu. Berprilaku seperti seekor anjing atau babi yang

melahap apapun yang disodorkan padanya. Tidak membuat pilihan pada apapun yang ditemui.

Tidak melakukan usaha apapun untuk memperoleh atau menghindari sesuatu. Menerima apapun

yang datang dengan sikap netral yang sama: kekayaan atau kemiskinan, pujian atau hinaan,

melepaskan perbedaan antara perbuatan baik dan buruk, terhormat dan tercela, sifat baik dan

jahat. Tidak meratapi atau menyesali segala sesuatu yang telah dilakukan, dan sebaliknya, tidak

merasa tersanjung atau bangga atas segala sesuatu yang telah dicapai.

5.         Mempertimbangkan segala sesuatu dengan penuh ketenangan dan tidak terpengaruh opini-

opini yang saling bertentangan dan berbagai manifestasi dari aktifitas semua makhluk. Mengerti

bahwa semua itu merupakan sifat alamiah dari segala sesuatu, tindakan dari setiap entitas yang

tak terelakkan dan tetap bersikap tenang. Memandang dunia ini seperti seorang yang berdiri di

puncak gunung tertinggi memandang lembah-lembah dan puncak-puncak gunung yang lebih rendah

yang terhampar di bawahnya.[154]

6.         Disebutkan bahwa langkah keenam ini tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Hal itu

berkaitan dengan penyadaran akan ‘Kekosongan’[155], yang dalam terminologi kaum Lhamais,

merupakan realitas yang tak terekspresikan.

Terlepas dari program-program di atas, yaitu  tidak mungkin untuk menyusun tahapan-tahapan

yang teratur dari beragam pelatihan yang direncanakan oleh para pertapa mistik Tibet. Dalam

prakteknya, berbagai latihan ini dikombinasikan. Dan sebab  setiap lhama mengadopsi sebuah

metode tertentu, sehingga sangat jarang dapat menemukan dua orang siswa dengan guru yang

sama yang berjalan di jalan yang sama.

195

Kita harus memutuskan untuk dapat menerima sebuah kekacauan yang jelas kelihatan yang

merupakan akibat dari pemahaman dan tingkat kecerdasan tiap orang yang berbeda-beda, dan

sang guru, para pakar ‘Jalan Pintas’, menolak untuk turun tangan. ‘Kebebasan’ merupakan motto di

‘Tanah Bersalju’ ini, namun cukup aneh juga, sebab  seorang siswa memulai jalan kebebasan

sepenuhnya itu dengan kepatuhan yang sangat kaku kepada pembimbing spiritualnya. Namun

demikian, kepatuhan yang disyaratkan itu hanya terbatas pada latihan-latihan spiritual dan psikis

serta pada cara hidup yang dijabarkan sang guru. Tidak ada pemaksaan dogma-dogma. Sang

siswa boleh percaya, menolak atau meragukan apa saja sesuai dengan kata hatinya sendiri.

Aku pernah mendengar seorang lhama berkata bahwa fungsi seorang guru, seorang ahli ‘Jalan

Pintas’, yaitu  untuk mengawasi sebuah ‘pembersihan’. Dia harus mendorong sang siswa

membebaskan dirinya dari semua kepercayaan, ide-ide, kebiasaan-kebiasaan lama,

kecenderungan-kecenderungan yang merupakan bagian dari pikirannya sekarang ini, yang telah

berkembang dari kehidupan-kehidupan yang lalu, yang titik awalnya sendiri hilang ditelan waktu.

Dengan kata lain, sang guru harus memperingatkan siswanya untuk berada di bawah bimbingannya

saat menerima kepercayaan-kepercayaan baru, ide-ide, dan kebiasaan-kebiasaan tak beralasan

dan irasional seperti yang telah ia lepaskan sebelumnya.

Menghindari pengimajinasian sesuatu yaitu  disiplin dalam ‘Jalan Pintas’. Tujuan berimajinasi,

dalam meditasi kontemplatif, yaitu  untuk menunjukkan penciptaan secara sadar oleh persepsi

dan sensasi, sifat ilusif dari persepsi dan sensasi, yang kita terima sebagai sesuatu yang nyata

meskipun mereka juga bersumber dari imajinasi; perbedaan satu-satunya yaitu , dalam kasus

mereka, penciptaan itu secara tidak sadar menimbulkan akibat.

Sang pembaharu Tibet, Tsong Khapa, menganggap meditasi sebagai ‘sarana bagi seseorang

untuk menolak semua pemikiran imajinatif berikut benih-benihnya’[156], sehingga tidak ada ide-ide

khayalan yang dapat muncul di masa mendatang, yang merupakan bagian dari ‘pembersihan’ yang

telah disebutkan di atas.

Dua latihan dijabarkan secara khusus oleh para pakar jalan mistik.

Yang pertama yaitu : mengamati dengan sungguh-sungguh kerja pikiran tanpa berusaha

mencampurinya.

Duduk di tempat yang tenang, sang siswa berusaha sebisanya untuk tidak memusatkan

perhatiannya secara sadar pada sebuah objek atau arah tertentu. Dia menandai ide-ide, kenangan,

keinginan, dsb yang muncul secara spontan, dan mengamati bagaimana saat muncul yang lain,

mereka lalu tenggelam untuk beristirahat di dalam pikiran.

Dia juga memperhatikan imej subjektif, yang tampaknya tak berkaitan dengan pikiran atau

sensasinya saat itu, yang muncul kala matanya tengah terpejam: orang-orang, binatang,

pemandangan alam, kerumunan orang yang bergerak, dsb.

Selama latihan ini , ia berusaha untuk tidak membuat refleksi terhadap tontonan yang sedang

ia lihat, hanya memandang dengan pasif aliran pikiran-pikiran yang cepat dan terus menerus, serta

imej mental yang berputar, saling mendorong, bergulat, dan mati.

Dikatakan bahwa saat  sang siswa mulai melepaskan ‘pijakan-pijakan kaku’ yang

membelenggunya hingga saat itu, dalam kualitasnya sebagai seorang penonton, berarti ia sudah

akan mulai mengumpulkan buah dari latihan-latihannya itu. Dia juga – jadi harus ia mengerti –

yaitu  seorang aktor di atas panggung yang ramai ini . Introspeksinya saat ini, semua

196

tindakan dan pikiran-pikirannya, dan gabungan semuanya yang lalu ia sebut diri, tak lain hanyalah

buih-buih sesaat pada sebuah pusaran air yang terbentuk dari buih-buih yang jumlahnya tak

berhingga yang berkumpul sesaat, berceraian, pecah, dan terbentuk kembali, mengikuti ritme yang

membingungkan.

Latihan kedua ditujukan untuk menghentikan penjelajahan sang pikiran sehingga seseorang dapat

memusatkannya pada sebuah objek tunggal.

Latihan-latihan untuk mengembangkan sebuah konsentrasi pikiran yang sempurna, secara umum

dianggap sangat diperlukan oleh para siswa tanpa kecuali. Sementara pengamatan aktifitas

pikiran hanya direkomendasikan kepada para siswa yang paling cerdas.

Semua sekte Buddhis pada dasarnya mempraktekkan pelatihan pikiran pada ‘satu fokus’.

Di negara-negara Buddhis Selatan – Sri Lanka, Thailand, Burma – terdapat peralatan meditasi

yang disebut kasina, berupa piringan tanah liat dari berbagai warna, atau sebuah permukaan bulat

yang diisi air, atau api yang ditatapi dari balik sebuah tirai yang dilubangi – yang digunakan untuk

tujuan ini .

Salah satu dari objek berbentuk bulat ini diamati hingga saat  dalam keadaan mata terpejam,

objek itu terlihat persis sama dengan saat dilihat dengan mata terbuka.

Proses ini  tidak dimaksudkan untuk menghasilkan sebuah keadaan terhipnotis, sebagaimana

yang dikatakan beberapa  cendekiawan Barat, namun untuk membiasakan seseorang memusatkan

pikirannya. Keadaan dimana imej subjektif menjadi sejelas imej objektif yaitu  keadaan – menurut

mereka yang merancang metode ini – dimana ‘satu fokus’ itu telah dicapai.

Orang Tibet menganggap bahwa jenis objek yang dipilih untuk berlatih bukanlah suatu hal yang

penting. Apapun yang lebih mudah menarik dan menahan pikiran sang siswa cenderung lebih

disukai sebagai objek.

Terdapat sebuah kisah sangat populer di dunia religius Tibet yang menggambarkan sebuah hasil

gemilang dari latihan ini.

Seorang lelaki muda memohon bimbingan spiritual dari seorang pertapa mistik. Sang guru

memintanya untuk mulai dengan melatih dirinya sendiri dalam pemusatan pikiran.

“Apa jenis pekerjaan yang biasa kamu lakukan?” dia bertanya pada siswa barunya.

“Saya menjaga yak[157] di perbukitan,” jawab lelaki itu.

“Baiklah,” kata sang gomchen. “Bermeditasilah dengan objek seekor yak.”

Siswa pemula itu lalu membenahi sebuah gua yang cukup sederhana sebagai tempat tinggalnya –

beberapa  tempat bernaung yang demikian dapat dijumpai di wilayah yang dihuni oleh para

penggembala – dan menetap di sana.

Beberapa waktu kemudian, sang guru pergi ke tempat itu dan memanggil siswanya keluar dari gua.

Si siswa mendengar suara gurunya, lalu ia bangkit dan hendak melangkah keluar melalui pintu

masuk rumah primitifnya. Namun meditasinya telah mencapai tujuannya. Dia telah menyamakan

dirinya dengan objek yang mana seluruh pikirannya selama ini terpusat padanya, dia telah

melupakan kepribadiannya sendiri, dia merasa dirinya sesekor yak. Sekarang, meskipun pintu gua

itu memungkinkan untuk dilewati seorang manusia, namun terlalu sempit untuk seekor lembu besar,

maka saat  bersusah payah melawan sebuah rintangan khayalan itu, sang lelaki muda menjawab

197

gurunya: “Saya tidak bisa keluar, tandukku ini menghalangi jalanku.”

Walaupun sangat menghormati segala sesuatu yang berhubungan dengan agama, namun

masyarakat Tibet masih tetap menyisakan selera humornya. Mereka tak luput memperhatikan

akibat yang menggelikan dari latihan ini  jika dilakukan oleh para siswa yang berpemikiran

sederhana.

Cerita berikut ini dikisahkan padaku kala aku melakukan perjalanan dengan seorang naljorpa dari

Gartog.

sesudah  tinggal beberapa lama dengan gurunya untuk menerima perintahnya, seorang murid yang

cukup bersemangat pun kembali ke tempat pertapaannya. Saat berjalan, ia mulai bermeditasi dan,

mengikuti aturan populer yang dianggap sangat santun, ia membayangkan guru yang sangat

dihormatinya duduk di atas kepalanya. Tak lama kemudian, ia memasuki keadaan tidak sadar

dimana ia merasa benar-benar sedang membawa sang lhama di atas kepalanya.

Sebongkah batu membuatnya terjatuh, namun sedemikian kuatnya konsentrasi pikirannya hingga

kekagetan itu tidak membuat perhatiannya buyar. Dia bangkit dan meminta maaf dengan keras:

“Saya minta maaf, ‘Yang Mulia’. Saya bersalah sebab  membuatmu terjatuh, saya harap Guru tidak

terluka… Di mana Guru sekarang?…”

Dan murid yang baik itu segera bergegas memeriksa lembah di sekitarnya kalau-kalau gurunya

terguling ke sana.

Sebuah kisah lain tentang ‘Sang lhama di kepala’ diceritakan padaku oleh seorang lhama

Dugpa.[158] Lelucon ini lebih kasar dari yang sebelumnya dan mencerminkan pikiran orang-orang

gunung Dugpa yang berpostur tinggi besar dan kuat.

Seorang bhikkhuni, katanya, dinasehatinya oleh guru spiritualnya untuk membayangkan dirinya

tengah duduk di atas kepalanya saat bermeditasi. Sang bhikkhuni pun melaksanakannya, dan

sebab  gurunya bertubuh gemuk dan tinggi, maka berat tubuhnya menyebabkannya merasa

kesakitan. Semua perempuan di dunia ini, harus kita percayai, yaitu  sangat pintar menemukan

jalan keluar dari kesulitan.

saat  berkunjung kembali ke tempat gurunya, sang guru bertanya apakah ia menuruti perintahnya

untuk bermeditasi dengan membayangkan dirinya duduk di atas kepalanya.

“Saya telah melaksanakannya, ‘Yang Mulia’”, jawab sang bhikkhuni, “akan namun , berat tubuh Guru

tak kuat saya pikul, maka saya berganti tempat dengan Guru dan saya pun duduk di atas kepala

Guru.”

Satu variasi lagi dalam latihan konsentrasi yakni dengan memilih suatu pemandangan, sebuah

taman, misalnya, sebagai subjek meditasi.

Pertama, sang siswa mengamati taman ini , memperhatikan setiap detilnya. Bunga-bunga,

jenis-jenisnya, cara mereka berkelompok, pepohonan, ketinggiannya, bentuk cabangnya,

perbedaan bentuk daunnya, dan seterusnya, mengingat setiap ciri-ciri yang bisa ia kenali.

Saat ia telah bisa membentuk bayangan subjektif dari taman ini , yakni saat  ia melihatnya

dengan mata terpejam sejelas saat ia melihat langsung, si siswa lalu secara perlahan

menghilangkan satu persatu detil-detil yang membentuk taman ini .

Perlahan, bunga-bunga kehilangan warna dan bentuknya, mereka hancur menjadi potongan-

198

potongan halus yang berubah menjadi abu, dan akhirnya menghilang. Pepohonan, juga, kehilangan

dedaunannya, cabang-cabangnya menjadi pendek, seperti tertarik kembali ke batangnya. Batang-

batang pohon lalu mengecil, hingga seperti sebuah garis, menjadi lebih halus dan lebih halus

hingga akhirnya tidak kelihatan lagi.

Sekarang, hanya tinggal bebatuan dan tanah di lahan taman yang harus dihilangkan oleh sang

siswa. Lahan itupun akhirnya menghilang….

Dikatakan bahwa dengan latihan yang demikian seseorang akan berhasil dalam membuang semua

ide akan bentuk dan materi dan dengan demikian secara perlahan akan mencapai berbagai tingkat

kesadaran, yakni ‘murni, ruang tanpa batas’, lalu ‘kesadaran tanpa batas’, akhirnya seseorang akan

tiba di ‘keadaan kekosongan’, dan kemudian menuju keadaan ‘bukan kesadaran dan bukan pula

tanpa kesadaran’.[159]

Keempat meditasi kontemplatif ini sering disebutkan dalam Kitab Suci Buddhis dan diakui oleh

semua sekte Buddhis sebagai bagian dari pelatihan spiritual. Mereka disebut ‘kontemplasi tanpa

bentuk.’

Banyak metode yang telah dirancang untuk menuju ke kondisi-kondisi pikiran ini. Kadang-kadang,

keadaan-keadaan pikiran ini dihasilkan oleh sebuah kontemplasi yang sepenuhnya tanpa

perenungan-perenungan, sementara pada kasus-kasus lain mereka mengikuti sebuah seri

introspeksi-introspeksi atau dapat juga merupakan hasil dari refleksi dan investigasi yang panjang

mengenai dunia luar. Akhirnya, dikatakan bahwa ada orang-orang yang secara tiba-tiba dapat

mencapai salah satu dari keempat keadaan pikiran ini tanpa persiapan apapun, di mana saja, atau

saat  sedang melakukan apa saja.

Latihan berikut telah digambarkan sekilas dalam kisah seorang lelaki yang merasa dirinya seekor

yak. Namun demikian, terdapat perkembangan selanjutnya yang tidak diketahui oleh sang

pahlawan dalam kisah ini .

Misalnya, si siswa memilih sebatang pohon, sebagai objek meditasi, dan telah mengidentifikasi

dirinya sebagai pohon ini . Artinya ia telah kehilangan kesadaran akan kepribadiannya sendiri

dan mengalami sensasi-sensasi khusus yang berasal dari sebatang pohon. Dia merasa dirinya

terdiri dari batang kayu yang keras dengan cabang-cabang, dia merasakan sensasi angin yang

menggerakkan dedaunan. Dia memperhatikan aktifitas akar mengisap makanan dari tanah, air

yang meresap naik dan menyebar ke seluruh pohon, dan seterusnya.

Lalu, sesudah  secara mental berubah menjadi sebatang pohon (yang mana sekarang sudah menjadi

subjek), ia harus memandang si orang itu (yang sekarang telah menjadi objek) yang tengah duduk

di hadapannya dan harus memperhatikan orang itu secara detil.

sesudah  selesai, sang siswa kembali menempatkan kesadarannya kepada orang itu dan

merenungkan pohon itu seperti sebelumnya. Kemudian, sesudah  memindahkan kembali

kesadarannya kepada sang pohon, ia lalu merenungkan orang ini . Perpindahan posisi dari

subjek dan objek ini dilakukan beberapa kali.

Latihan ini biasanya dipraktekkan di dalam ruangan dengan sebuah patung kayu yang disebut gom

shing (kayu meditasi).[160] Sebatang dupa yang menyala juga digunakan pada ruangan yang

remang-remang atau gelap untuk mengarahkan pikiran dalam bermeditasi. Namun aku sekali lagi

menekankan bahwa hal ini tidak dimaksudkan untuk menghasilkan sebuah keadaan terhipnotis.

Persiapan untuk melakukan meditasi disebut niampar jagpa. Hal ini dilakukan dengan membuat

199

pikiran menjadi benar-benar tenang dan kontemplasi pada titik kecil api di puncak dupa membantu

menghasilkan ketenangan yang diinginkan.

Orang-orang yang telah terbiasa melakukan kontemplasi secara teratur, saat duduk dalam kurun

waktu tertentu untuk bermeditasi, kerap mengalami semacam sensasi seolah sebuah beban

ataupun jubah-jubah berat terlepas dari tubuhnya lalu memasuki wilayah yang hening dan luar biasa

tenangnya. Itu tak lain yaitu  kesan dari pembebasan dan kedamaian yang oleh kaum mistik Tibet

disebut dengan niampar jagpa, ‘membuat seimbang’, ‘menjadi sebanding’ – yang artinya

menenangkan semua penyebab kegelisahan yang memainkan ‘gelombangnya’ melalui pikiran.

Latihan yang lain, yang kelihatannya jarang dipraktekkan, yaitu  dengan ‘memindahkan kesadaran

seseorang ke dalam bagian tubuh seseorang’. Berikut penjelasannya.

Kita merasa kesadaran itu berada di dalam ‘hati’. Kedua lengan kita tampak bagi kita sebagai

‘benda tambahan’ bagi tubuh kita, dan kedua kaki tampak sebagai bagian yang jauh dari diri kita.

Kenyataannya, lengan, kaki dan bagian tubuh yang lain dilihat seolah mereka yaitu  objek dari

sebuah subjek yang entah berada di mana.

Sekarang si siswa akan berusaha untuk membuat ‘kesadaran’ itu meninggalkan tempatnya yang

biasa dengan, misalnya, memindahkan ke tangannya. Lalu ia harus merasakan dirinya memiliki

wujud berupa lima jari dan sebuah telapak tangan, yang berada di ujung sebuah benda tambahan

yang panjang (lengan) yang menyatu dengan sebuah struktur bergerak yang besar, yakni tubuh.

Dengan kata lain, dia harus mengalami sensasi yang seharusnya dimiliki jika mata dan otak kita

terletak di telapak tangan dan bukan di kepala, sehingga ia bisa mengamati kepala dan tubuh,

kebalikan dari proses normal yang menatap ke bawah untuk mengamati tubuh dan tangan.

Apa maksud latihan yang ganjil ini? Jawaban yang paling sering diberikan atas pertanyaanku

mungkin akan kelihatan kurang memuaskan bagi banyak penanya yang lain, namun sepertinya

lumayan masuk akal.

Beberapa orang lhama mengatakan padaku bahwa tujuan latihan ini agak sulit untuk dijelaskan,

sebab  mereka yang tidak pernah merasakan efeknya, akan sulit memahami penjelasannya.

Dengan latihan-latihan ganjil ini, seseorang akan mencapai kondisi psikis yang berbeda dengan

kondisi yang biasa kita kenal. Latihan-latihan ini akan membuat kita melewati batas-batas fiktif

yang kita berikan pada apa yang disebut diri. Keadaan itu membuat kita menyadari bahwa diri itu

merupakan suatu persenyawaan, tidak kekal; dan bahwa diri itu, sebagai diri, sebenarnya tidak

ada.

Salah seorang dari para lhama ini mengambil ucapan saya sebagai argumen untuk mendukung

teorinya.

saat  ia berkata bahwa pikiran dan kesadaran berada didalam ‘hati’, aku berkata bahwa orang-

orang Barat lebih cenderung menempatkan pikiran dan kesadaran di dalam otak.

“Kamu lihat, kan,” teman bicaraku itu segera menjawab, “bahwa setiap orang bisa merasakan dan

mengenali pikirannya di berbagai tempat. sebab  para Philing[161] ini mengalami sensasi berpikir di

dalam kepalanya, dan aku mengalaminya di ‘hati’, sehingga bisa saja ada orang yang percaya

bahwa kita dapat merasakannya di kaki. Namun semua ini hanyalah sensasi-sensasi yang menipu,

tanpa ada wujud nyatanya. Pikiran itu bukanlah di hati juga bukan di kepala, bukan di suatu tempat

di luar tubuh, terpisah, berjauhan, dan sesuatu yang asing baginya. Dalam rangka membantu

seseorang menyadari kenyataan inilah maka latihan-latihan yang tampaknya aneh ini dirancang.”

200

Di sini kembali kita melihat proses ‘pembersihan’ itu. Semua latihan ini dimaksudkan untuk

memusnahkan gagasan-gagasan yang diterima sebab  kebiasaan dan tanpa penyelidikan lebih

lanjut. Objeknya yaitu  untuk membuat seseorang mengerti bahwa ide-ide yang lain dapat

menggantikan ide-ide sebelumnya. Diharapkan juga bahwa sang siswa dapat menyimpulkan

bahwa tidak ada kebenaran sejati pada ide-ide yang bersumber dari sensasi-sensasi yang dapat

disisihkan oleh yang lain, bahkan yang bertolak berlakang pun dapat mengambil alih posisi mereka.

Teori-teori sejenis juga diyakini oleh para pengikut sekte Ts’an Cina. [162] Mereka

mengekspresikannya melalui kalimat-kalimat enigmatis (teka-teki) seperti:

“Lho, segumpal awan debu tengah muncul dari lautan dan deruan gelombang kedengaran di atas

daratan.”

“Aku berjalan dengan kaki, namun aku masih juga menunggang di pundak seekor lembu.”

“saat  aku melintas di atas jembatan, lho! sungainya tidak banjir kok jembatannya yang banjir.”

“Dengan tangan kosong aku pergi, dan lihatlah! Gagang sekop ada di tanganku sekarang.”

Dan seterusnya.

Doktrin sekte Ts’an diartikan oleh salah seorang pengikutnya sebagai: “seni mengamati bintang

kutub di belahan bumi selatan”. Kata-kata paradoks ini mengingatkanku akan ucapan seorang

lhama kepadaku: “Seseorang haruslah menemukan si putih dalam si hitam dan si hitam dalam si

putih.”

Aku akan menyebutkan sebuah pertanyaan, yang umum di Tibet, yang biasanya dilayangkan oleh

para pertapa mistik maupun cendekiawan di biara kepada murid-muridnya.

“Bendera bergerak. Apa yang bergerak itu? – Apakah benderanya atau angin?”

Jawabannya yaitu  bukan bendera juga bukan angin yang bergerak. yaitu  pikiran yang

bergerak.

Para pengikut sekte Ts’an mengatakan bahwa pertanyaan ini dilontarkan pertama kali oleh

Patriach keenam dari sekte mereka. Suatu saat , di halaman biara, ia melihat dua siswa tengah

menatap sebuah bendera yang berkibar-kibar di udara. Salah satunya berkata: “Benderanya yang

bergerak.” Yang kedua membantah: “Anginnya yang bergerak.” Lantas sang guru menjelaskan

kepada keduanya bahwa persepsi dari sebuah gerakan yang mereka alami itu sebenarnya

bukanlah berkaitan dengan bendera ataupun anginnya, namun berkaitan dengan sesuatu yang

terdapat dalam diri mereka sendiri.

Kita jadi bertanya-tanya, cara berpikir yang demikian diimpor ke Tibet dari India atau Cina? Berikut

yaitu  pendapat yang diucapkan seorang lhama kepadaku: “Orang-orang Bönpo,” katanya,

“mengajarkan hal-hal demikian jauh sebelum Padmasambhava datang ke Tibet.”[163]

Dengan mengabaikan penyelidikan yang lebih jauh tentang hasil-hasil transendental dari

pemindahan kesadaran ke tempat-tempat berbeda dari tubuh seseorang, aku dapat

menambahkan di sini bahwa selama proses latihan ini, sebuah sensasi panas yang aneh terasa di

tempat dimana seseorang memindahkan kesadarannya ke sana.

Agak sulit menjelaskan apakah fenomena itu yaitu  penambahan derajat panas yang sebenarnya

atau hanyalah sebuah sensasi subjektif semata. Ide untuk menyelidiki hal itu akan membuyarkan

konsentrasi pikiran sehingga menghancurkan sebab yang menghasilkan panas ini . Dan untuk

201

mengamati orang lain yaitu  juga suatu hal mustahil. Para pertapa Tibet dan siswa-siswanya

sangat berbeda dengan para ahli kebatinan profesional Barat yang bekerja untuk mencari uang dan

mengizinkan kita menyelidiki fenomena yang mereka ciptakan. Murid seorang gomchen yang

paling tidak menonjol sekalipun akan merasa heran jika kita mengajukan usul itu padanya. Aku

dapat mendengarnya menjawab: “Aku tak peduli apakah Anda percaya atau tidak fenomena ini,

dan aku tak berhasrat untuk meyakinkanmu. Aku bukanlah seorang pesulap yang sedang

mempertontonkan pertunjukannya.”

Kenyataannya yaitu , orang-orang Timur, kecuali para dukun yang suka pamer, tidak suka

mempertontonkan ilmu mistik, filosofi ataupun pengetahuan mereka. Sangat sulit untuk memperoleh

rasa percaya mereka dalam hal ini. Seorang pengelana yang hendak memperoleh informasi itu

kemungkinan akan menjadi tamu seorang lhama selama beberapa bulan, minum teh dengannya

setiap hari, lalu berpamitan sembari berpikir bahwa sang tuan rumah tidak tahu apa-apa, padahal

sebaliknya, sang lhama sebenarnya mampu menjawab semua pertanyaannya dan bahkan dapat

mengajarkannya lebih banyak hal yang tak pernah terpikirkan olehnya.

Tidak peduli apakah panas ini  nyata ataukah hanya bersifat subjektif, latihan itu telah lebih

dari sekali menghangatkan kakiku, dan memberikanku tidur yang nyaman saat  bermalam di

bawah tenda – atau bahkan tanpa tenda – di alam bebas yang bersalju. Namun latihan itu

memerlukan usaha yang cukup keras dan amat meletihkan, kecuali bagi mereka yang sudah

berlatih dalam kurun waktu yang cukup lama.

Sebagai tambahan, aku akan mengingatkan sebuah kenyataan bahwa istilah-istilah yang

kuterjemahkan sebagai ‘consciousness (kesadaran)’ dan ‘mind (pikiran)’ belumlah memiliki makna

yang sebenarnya sebagaimana yang dimaksud orang-orang Tibet.

Mereka membedakan sebelas jenis ‘kesadaran’ dan memiliki tiga kata dalam bahasa mereka

yang kita paksakan untuk diterjemahkan sebagai ‘pikiran’, dan tiap kata mereka itu mempunyai

makna filosofis tersendiri.

Cara yang lazim digunakan untuk meningkatkan konsentrasi pikiran yaitu  dengan meletakkan

sebuah lampu kecil yang menyala di atas kepala si pemula yang bermeditasi di tempat terpencil.

Sebuah lampu Tibet terdiri dari sebuah wadah yang berbentuk seperti cangkir, terbuat dari tanah

liat ataupun logam; alas lampu ini  bentuknya melebar ke bawah, seperti sebuah cangkir

kedua yang diletakkan terbalik. Lampu ini diisi mentega cair; seutas sumbu dimasukkan ke dalam

sebuah lubang di dasar lampu yang memang disediakan untuk itu. Kala mentega itu dingin, ia akan

berbentuk seperti sebuah kue dan lampu pun itu siap untuk dinyalakan.

Alat ini dengan mudah dapat bertengger di atas kepala selama orang yang bersangkutan tetap

dalam keadaan diam, dan gerakan sekecil apapun akan segera menjatuhkannya. sebab  sebuah

konsentrasi yang sempurna menghasilkan keadaan yang sepenuhnya tanpa gerakan, maka

jatuhnya lampu akan segera membuktikan adanya kegagalan.

Dikatakan bahwa ada seorang lhama yang suatu saat  meletakkan sebuah lampu di kepala

siswanya, keesokkan harinya ia melihat sang siswa masih duduk bermeditasi, namun lampu

ini  tergeletak di atas tanah di sampingnya tanpa mentega di dalamnya. Saat menjawab

pertanyaan gurunya, sang siswa yang tidak mengerti maksud latihan itu berkata:

“Lampu ini tidak jatuh, saya yang meletakkannya di sana saat  menteganya sudah habis dan

lampunya padam.”

“Bagaimana kamu bisa tahu apinya padam, atau bahkan dapat menyadari ada lampu di atas

202

kepalamu, jika kamu telah mencapai konsentrasi pikiran yang benar?” jawab sang guru.

Kadang sebuah mangkok yang diisi air digunakan sebagai pengganti sebuah lampu.

Beberapa guru juga memerintahkan siswa-siswa mereka, baik sebelum saat melakukan meditasi

ataupun segera sesudahnya, untuk membawa sebuah mangkuk yang penuh berisi air hingga ke

pinggirnya dari satu tempat ke tempat lain. Latihan ini bertujuan untuk menguji tingkat ketenangan

pikiran. Gejolak seringan apapun pada pikiran, apapun penyebabnya – kegembiraan atau

kesedihan, kenangan, keinginan, dsb. – akan mengakibatkan sebuah gerakan pada tubuh. Dan

sedikit saja getaran di jemari sudah cukup ampuh untuk menggoyang mangkok dan menumpahkan

sebagian airnya, seberapa sering ‘kecelakaan’ itu terjadi akan menunjukkan tingkat gejolak yang

terjadi pada pikiran. Demikianlah kira-kira dasar teori dari latihan itu.

Teori ini berikut semua latihan-latihan yang berdasarkan padanya, dikenal di seluruh negara-negara

Timur. Orang India memiliki beberapa  kisah-kisah mengenai hal itu, dan inilah salah satunya.

Seorang rishi[164] memiliki seorang siswa yang ia percaya telah mencapai kemajuan spiritual yang

cukup tinggi. sebab  berharap siswanya dapat memperoleh pelajaran tambahan dari Janaka,

seorang guru agung yang dianggap raja, ia pun mengirim anak muda itu kepadanya. Awalnya,

Janaka membiarkan pendatang baru itu berada di luar pagar istananya selama beberapa hari,

bahkan menginjak halamannya pun tidak diizinkan. Namun begitu, sang siswa yang telah terlatih itu,

meskipun ia dari kalangan kasta brahma, tidak menunjukkan sedikitpun tanda-tanda kesedihan,

tersinggung, atau ketidaksenangan atas perlakuan yang menghina itu.

saat  pada akhirnya ia diizinkan memasuki kediaman sang raja, di pintu masuk ke aula istana itu

ia diberikan sebuah mangkuk berisi air yang penuh hingga ke pinggirnya dan diperintahkan untuk

berjalan mengitari aula.

Janaka, meskipun pikirannya benar-benar sudah tak terpengaruh akan hal-hal duniawi, namun ia

tetap dikelilingi oleh kegemerlapan khas dunia Timur. Emas dan batu-batu berharga berkilauan di

seluruh dinding aula, para pejabat istana dengan perhiasan mahal mengelilingi sang penguasa, dan

para penari istana, yang cantik bak bidadari, dengan pakaian yang terbuka, tersenyum pada anak

muda itu saat ia lewat di depan mereka.

Namun demikian, siswa itu menyelesaikan ujian itu tanpa setitik air pun yang tumpah. Semua yang

berada di depan matanya tak sanggup membuat riak sekecil apapun pada pikirannya.

Janaka lalu mengirimkannya kembali kepada gurunya sembari berkata bahwa ia tidak memerlukan

pelajaran apapun lagi.

Orang-orang Tibet mengenal baik teori yang berkaitan dengan khorlos (roda-roda) yang

merupakan hal klasik bagi para pengikut Hindu Tantrisme. Tampaknya hal itu masuk ke Tibet

melalui India atau Nepal, namun terdapat beberapa  perbedaan antara interpretasi yang diberikan

oleh para lhama dengan yang beredar di kalangan Hindu.

Khorlos itu dikatakan merupakan pusat energi yang berada di beberapa bagian tubuh. Mereka

sering disebut juga ‘lotus’. Praktek-praktek yang berkaitan dengan khorlos yaitu  bagian dari

ajaran eksoterik. Tujuan umum dari latihan dimana khorlos memainkan sebuah peran yaitu  untuk

menarik suatu aliran energi ke arah lotus yang lebih tinggi: dabtong (lotus dengan seribu kelopak)

yang berada di puncak kepala. Berb