a intensitas api itu. Dalam kasus mereka, semua proses berjalan
sendiri sebagai hasil dari kebiasaan berlatih, dan sebuah perasaan hangat yang nyaman pun
menyebar secara perlahan ke seluruh tubuh, yang merupakan tujuan akhir latihan itu.
Kadang, semacam ujian mengakhiri proses latihan dari para siswa tumo.
Pada suatu malam musim dingin yang membeku, mereka yang telah menganggap dirinya mampu
menjalani ujian itu dibawa ke tepi sebuah sungai atau danau. Jika semua sungai membeku di
sekitar daerah itu, sebuah lubang dibuat di atas es itu. Malam terang bulan dengan angin yang
berhembus kencang pun dipilih. Malam yang demikian tidaklah jarang selama bulan-bulan musim
dingin di Tibet.
Para pemula itu lalu duduk di tanah, kaki bersilang dan telanjang. Beberapa helai kain dicelupkan
ke dalam air es itu, tiap orang membungkus diri mereka dengan selembar kain ini dan
diharuskan mengeringkan kain itu di tubuh mereka. Segera sesudah menjadi kering, kain itu kembali
dicelupkan ke dalam air dan dibalutkan kembali ke tubuh siswa baru itu untuk kembali dikeringkan.
167
Proses itu terus berlanjut hingga fajar menjelang. Siswa yang mengeringkan helai kain terbanyak
yang dianggap sebagai pemenang kompetisi ini .
Disebutkan bahwa ada yang mampu mengeringkan sekitar empat puluh lembar kain dalam
semalam. Sepertinya hal ini agak dilebih-lebihkan, atau dalam beberapa kasus bisa jadi ukuran
kain-kain itu cukup kecil. Namun demikian aku pernah melihat beberapa respa berhasil
mengeringkan beberapa helai kain yang berukuran cukup besar.
Menurut peraturan lama, seseorang haruslah mengeringkan setidaknya tiga lembar kain agar dapat
dianggap sebagai seorang respa sejati yang pantas mengenakan jubah katun putih, yang
merupakan tanda seorang pakar tumo. Namun aku agak meragukan apakah saat ini peraturan itu
masih diawasi dengan ketat.
Respa berarti seseorang yang hanya mengenakan selapis baju katun dalam musim apapun di
ketinggian berapapun. Namun di Tibet, para respa-respa yang menyelipkan baju hangat di balik
jubah katun mereka tak jarang ditemui. Sebagian dari mereka yaitu memang para penipu,
sebagiannya yaitu para bhikkhu yang memang pernah berlatih tumo, namun usaha mereka tak
cukup maksimal hingga hasil yang dicapai pun tidak memuaskan.
Namun, meskipun terdapat beberapa gadungan dan mereka yang berkeahlian setengah-setengah,
terdapat pula beberapa ahli tumo yang melampaui kemampuan seorang respa, mereka
melepaskan jubah katunnya, tinggal di celah-celah gunung dalam keadaan telanjang selama kurun
waktu yang cukup panjang, bahkan kadang hingga seumur hidup.
Orang-orang Tibet amat membanggakan kemampuan yang demikian sehingga tak jarang mereka
menganggap remeh para yogin telanjang India yang mereka temui saat melakukan ziarah ke sana.
Mereka tidak mengerti bahwa sebenarnya bagi orang India, telanjang merupakan simbol penolakan
akan nafsu duniawi dan bukan sekedar wujud ketahanan fisik.
Salah seorang super-respa ini yang telah berlatih tumo di dekat Kang Tise,[127] saat berkelana di
wilayah India bersama seorang respa lain dan seorang pelayan, dari Nepal ke Gaya, secara
kebetulan melihat seorang sadhu tengah berbaring telanjang dan berjemur di atas sebuah tikar
dengan raut muka yang agak sombong.
“Teman lama, seharusnya kamu berbaring dalam keadaan telanjang seperti itu di tepi tso
Mophang[128], pasti raut wajahmu akan lain,” pertapa Tibet itu mengejek orang India ini yang
tentu saja tak mengerti akan bahasanya, demikian juga ledakan tawa ketiga pengelana itu.
Hal ini dikisahkan sendiri oleh pertapa itu padaku, yang di usia senjanya suka mengenang kembali
lelucon-lelucon yang terjadi di masa mudanya.
Pada kenyataannya, saat seseorang memulai latihannya, fenomena pembangkitan panas itu, atau
dalam beberapa kasus, sensasi kehangatan yang bersifat subjektif itu, hanya terjadi selama masa
latihan itu. Saat konsentrasi pikiran dan olah pernafasan berhenti, rasa dingin secara perlahan akan
terasa kembali. Sebaliknya, dikatakan bahwa para siswa yang telah berlatih selama bertahun-
tahun, produksi panas itu menjadi fungsi alami tubuhnya, yang akan bekerja sendiri jika cuaca
berubah dingin.
Di samping mengeringkan kain basah di tubuh, terdapat beragam cara untuk menguji tingkat
kepanasan yang mampu dibangkitkan para siswa pemula. Salah satu ujian ini yaitu dengan
duduk di atas salju. Jumlah salju yang berhasil dilelehkan di bawah tubuh si siswa dan jarak salju di
sekitarnya yang berhasil dilelehkan menjadi ukuran dari kemampuannya.
168
Cukup sulit bagi kita untuk mendapatkan ide yang tepat mengenai hasil yang diperoleh dari latihan
tumo, namun sebagian dari kemampuan-kemampuan itu benar-benar ada. Para pertapa itu benar-
benar hidup telanjang atau hanya mengenakan selapis pakaian berbahan katun selama musim
dingin di tempat-tempat tinggi seperti yang telah kujelaskan sebelumnya. Aku bukanlah satu-
satunya orang yang pernah menyaksikan hal itu, dikatakan bahwa beberapa anggota ekspedisi
Puncak Everest secara kebetulan pernah melihat sekilas salah satu dari para pertapa telanjang ini.
Pada akhirnya kuakui bahwa aku sendiri mendapatkan hasil yang menakjubkan dari pengalaman
kecilku akan tumo.
169
170
Pesan yang Dikirim ‘Lewat Angin’
Kaum mistik Tibet tak banyak bicara; mereka memberikan pelajaran kepada murid-muridnya
menurut metode-metode yang mana pertemuan antara guru dan siswanya hanya berlangsung
beberapa kali. Para siswa pertapa-pertapa kontemplatif itu jarang bertemu guru mereka, mereka
hanya bertemu pada selang waktu yang ditentukan oleh tingkat pencapaian spiritual dan kebutuhan
si siswa.
Rentang waktu pertemuan ini bisa beberapa bulan atau beberapa tahun. Namun terlepas dari
kesan yang saling menjauh ini, guru dan murid – terutama para siswa senior – tak kekurangan
sarana komunikasi jika mereka merasa memerlukannya.
Telepati yaitu salah satu cabang ilmu gaib kuno masyarakat Tibet dan tampaknya di ‘Daratan
Salju’ ini ia berperan seperti halnya telegraf wireless yang digunakan di Barat saat ini. Namun, jika
di negara-negara Barat alat transmisi wireless ini merupakan sarana umum, maka di Tibet cara
halus menyampaikan pesan ‘melalui angin’ ini yaitu hak istimewa kalangan minoritas yang
merupakan para ahli seni ini .
Telepati bukanlah sesuatu yang baru bagi masyarakat Barat, lembaga-lembaga penelitian kejiwaan
sering tertarik untuk mengamati berbagai fenomena yang bersifat telepati ini . Hal-hal ini
biasanya sering dianggap timbul secara kebetulan. Pelaku fenomena ini kerap tak menyadari
perannya dalam kejadian ini . Dalam keadaan tertentu dia mengirimkan gelombang-
gelombang misterius yang berhasil diterima oleh seseorang, dalam jarak yang dekat ataupun jauh,
namun ia melakukannya tanpa sengaja. Sebaliknya, eksperimen-eksperimen yang dilakukan
dengan mentransmisikan pesan-pesan telepatik tak memberikan hasil yang memuaskan sebab
tak berhasil diulangi sesering yang diinginkan.
Lain halnya dengan masyarakat Tibet. Mereka menganggap telepati yaitu sebuah ilmu yang
dapat dipelajari seperti halnya ilmu-ilmu yang lain oleh mereka yang memiliki pengetahuan dan alat
yang tepat untuk menerapkan teori ke dalam praktek.
Kemampuan telepati dikatakan dapat diperoleh melalui beragam cara, meskipun para pakar ilmu
rahasia ini sepakat bahwa fenomena ini bersumber dari suatu konsentrasi pikiran yang amat kuat.
Dapat kita tambahkan bahwa sesudah diteliti dan dipelajari secara mendalam di Barat, penyebab
telepati itu kelihatannya identik dengan yang telah diketahui masyarakat Tibet selama ini.
Para guru mistik menyatakan bahwa untuk menguasai telepati, diperlukan penguasaan yang
sempurna akan pikiran, agar dapat dihasilkan, sekehendak hati, ‘pemusatan pikiran’ berkekuatan
besar pada mana fenomena ini bergantung.
Bagian kesadaran ‘penerima’, yang harus senantiasa dalam keadaan siap bergetar terhadap
kejutan halus dari gelombang telepatik, dianggap hampir sama sulitnya dengan si pengirim.
Sebagai awalnya, si bakal penerima harus sudah disesuaikan gelombangnya kepada siapa ia
secara khusus mengharapkan berbagai pesan.
Tidak akan ada konsentrasi pikiran yang sempurna pada sebuah objek, sebelum objek-objek yang
lain menghilang dari daerah kesadaran, demikianlah dasar latihan spiritual kaum lhamais, dan
latihan ini juga meliputi latihan-latihan psikis yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan
untuk mendeteksi berbagai macam ‘aliran energi’ yang saling bersilangan dari berbagai jurusan.
171
Maka, sebagian orang menyatakan bahwa telepati, sebagaimana tumo dan pencapaian-
pencapaian yang lain, yaitu sebuah produk alami dari latihan spiritual, sehingga tak perlu untuk
dipelajari secara khusus. Hal ini menjelaskan kemampuan yang dimiliki para gomchen dan
dubchen[129] dalam berkomunikasi dengan para siswa mereka, sejauh apapun jarak yang
memisahkan.
Namun demikian, ada yang memandang masalah ini dari sudut yang lain. Meskipun mereka setuju
bahwa keahlian dalam latihan spiritual memberikan imbas keahlian dalam pencapaian kecil yang
lain, misalnya telepati, namun mereka berpendapat bahwa orang-orang yang tak mampu mencapai
tingkat yang tinggi dalam latihan mistik dapat mengembangkan telepati atau kemampuan lain
dengan cara yang terpisah atau secara khusus.
Para guru mistik dalam batas-batas tertentu menyetujui hal ini, kenyataannya, sebagian dari
mereka melatih para siswanya ilmu telepati.
beberapa pertapa Tibet, tanpa berlatih secara khusus mampu menangkap pesan-pesan telepatik
guru mereka. Hal ini secara umum dianggap sebagai wujud penghormatan yang besar pada sang
guru. Beberapa diantaranya secara spontan memperoleh kemampuan memancarkan atau
mengirimkan pesan.
Bagi mereka yang secara khusus mengolah telepati, garis besar latihannya dapat diuraikan
sebagai berikut.
Pertama, terlebih dahulu harus dijalani latihan-latihan yang ditujukan untuk sampai pada keadaan
‘satu fokus’, konsentrasi pikiran para satu objek tunggal dan pelenyapan objek-objek lain.
Latihan pelengkap berupa ‘pengosongan’ pikiran dari semua kesan, menjadikan pikiran
sepenuhnya hening dan hampa, juga harus dikuasai.
Lalu muncullah analisis dan diskriminasi akan berbagai pengaruh yang datang secara tiba-tiba,
tanpa dapat dijelaskan, menyebabkan sensasi psikis bahkan fisik, ataupun suasana pikiran seperti
perasaan gembira yang mendadak, kesedihan, ketakutan, dan juga ingatan sesaat akan
seseorang, sesuatu, ataupun kejadian-kejadian yang tak ada hubungannya sama sekali dengan
keadaan saat itu.
sesudah berlatih seorang diri selama kurun waktu tertentu, si siswa diperbolehkan duduk
bermeditasi dengan gurunya di ruangan yang tenang dan gelap, pikiran keduanya terkonsentrasi
pada satu objek yang sama. Di akhir waktu yang ditentukan, si siswa memberitahu gurunya fase-
fase meditasinya yang kemudian dibandingkan dengan milik sang guru; hal-hal yang sesuai dan
tidak sesuai dicatat.
Sekarang, ia menghentikan, selama yang ia mampu, aktifitas pikirannya, mengosongkannya dari
semua ide, refleksi-refleksi, dan bentuk-bentuk mental, si siswa pemula mengamati setiap pikiran
yang muncul tanpa disengaja ataupun diharapkan tanpa berusaha menghubungkannya dengan
keadaan dan perasaannya saat ini. Dia mencatat setiap bayangan subjektif yang muncul. Dan
sekali lagi di akhir meditasi ia memberitahu guru lhamanya semua pikiran dan bayangan tadi yang
kemudian akan melihat apakah ada hubungannya atau tidak dengan yang ia kirim secara mental
kepada siswanya ini .
Lalu, sang guru mengirim perintah secara mental kepada muridnya, yang berada agak jauh darinya.
Jika pesan ini diterima dan si murid menjawab dengan melaksanakan apa yang diperintahkan,
maka latihan pun dilanjutkan, jarak antara sang guru dan murid perlahan-lahan ditambah.
172
Masyarakat Tibet percaya bahwa para dubchen mampu membaca pikiran orang lain kapanpun ia
mau. sebab sang guru telah diyakini memiliki kemampuan itu, maka menjadi tak masuk akal jika ia
melatih orang dengan menyuruhnya mengirimkan pesan telepatik kepadanya. Dia akan mampu
mendeteksi sebelum pesan itu sempat dikirimkan. Entah benar atau tidak kemampuan ini ada
padanya, namun sang guru sepertinya terpaksa harus bersikap seolah ia memilikinya. Akibatnya,
murid-muridnya berlatih pertukaran pesan telepatik di antara sesama mereka. Dua orang siswa
pemula atau beberapa orang dari mereka bergabung untuk berlatih di bawah pengawasan sang
guru dan proses latihan pun berlangsung hampir mirip dengan proses latihan di atas.
Para siswa pemula mencoba kemampuan mereka dengan saling mengirimkan pesan telepatik tak
terduga saat orang yang dituju tengah sibuk atau tak menyangka akan menerima berita.
Mereka juga mencoba mengirimkan pesan kepada orang-orang yang tak pernah berhubungan
dengan mereka saat latihan, dan yang tak mengetahui sama sekali tentang telepati. Beberapa dari
mereka bahkan melakukan percobaan dengan binatang.
Bertahun-tahun dihabiskan untuk melatih kemampuan ini. Tak mungkin memperkirakan berapa
orang siswa yang menjalani latihan ini yang benar-benar memperoleh hasil seperti yang
diharapkan.
Apapun hasil yang dicapai, para guru mistik terhormat tidak akan begitu mendukung usaha ini.
Semua usaha yang dilakukan untuk memperoleh kekuatan supernormal dianggap hanyalah
permainan anak kecil yang tidak menarik.
Tampaknya cukup terbukti bahwa para pertapa kontemplatif yang handal mampu berkomunikasi
secara telepati dengan para siswanya, bahkan dikatakan dengan semua makhluk manapun yang
berkesadaran, namun kemampuan yang demikian – seperti yang sudah disebutkan sebelumnya –
hanyalah dianggap sebagai produk sampingan dari pencerahan mereka akan hukum-hukum psikis
dan kesempurnaan spiritual.
Dikatakan bahwa, saat pencerahan melalui berbagai proses meditasi yang kontemplatif telah
dicapai, seseorang tak lagi menganggap ‘dirinya’ dan ‘orang lain’ sebagai entitas-entitas yang
sama sekali berbeda, tanpa titik-titik kontak, maka telepati menjadi lebih mudah dipraktekkan.
Pemahaman akan ‘titik-titik kontak’ ini – yang diperoleh melalui introspeksi yang panjang –
membawa ke sebuah wilayah dimana batas-batas setiap makhluk menjadi hilang dan hanya
pertukaran-pertukaran yang berkelanjutan yang disadari.
Semua ini yaitu pengalaman psikis dan mistik yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
Apapun kebenaran atau fantasi yang mengambil bagian di dalamnya, aku lebih memilih untuk tidak
mendiskusikannya.
Namun demikian, satu hal yang boleh saya katakan yaitu bahwa komunikasi antara para guru
mistik dengan siswa-siswanya melalui alat yang kasat mata, seperti surat yang jatuh dari plafon
ataupun yang ditemukan di bawah bantal, yaitu sama sekali tidak dikenal dikalangan kaum
lhamais. Jika hal ini ditanyakan kepada para pertapa kontemplatif, para lhama terpelajar, atau para
petinggi lhama, mereka sulit mempercayai bahwa si penanya benar-benar serius dan bukan hanya
sekedar bercanda.
Aku teringat sebuah refleksi yang membingungkan dari seorang lhama Tashilhunpo saat
kuceritakan bahwa beberapa ‘Philing’[130] mempercayai cara yang demikian untuk berkomunikasi
dengan orang yang sudah meninggal atau bahkan dengan para guru mistik Tibet : “Dan merekalah
orang-orang yang telah menaklukkan India!” serunya, mengagumi orang-orang Inggris yang hebat
173
itu dengan cara yang demikian sederhana.
Berdasarkan observasiku selama bertahun-tahun, aku memberanikan diri untuk menyatakan bahwa
Tibet tampaknya menawarkan kondisi yang paling sesuai untuk telepati – juga berbagai fenomena
psikis lainnya. Apa sebenarnya ‘kondisi-kondisi’ ini?
Sebenarnya agak lancang untuk mencoba mendefinisikan hal-hal itu sebab sifat sejati dari
fenomena psikis itu masihlah sangat misterius.
Mungkin letak negara yang amat tinggi ini cukup membantu. Mungkin juga sebab negeri ini
bermandikan keheningan yang luar biasa, sangat luar biasa hingga – jika aku boleh menggunakan
ekspresi yang demikian ganjil – suara deruan aliran sungai yang terderas akan kedengaran hingga
ke angkasa.
Sekali lagi, keheningan juga dapat ditandai dengan: tidak adanya kerumunan orang yang mana
aktifitas mental yang timbul dari orang-orang itu dapat mengakibatkan pusaran energi psikis yang
bisa mengganggu keadaan udara di sekitarnya. Dan mungkin ketenangan orang-orang Tibet yang
pikirannya tidak dipenuhi – seperti pikiran kita – dengan berbagai beban dan masalah, juga
merupakan salah satu kondisi yang paling sesuai ini .
Apapun kemungkinan penyebabnya, transmisi telepati, baik disadari atau tidak, tampaknya sering
sekali terjadi di Tibet.
Tentang pengalamanku sendiri, aku merasa yakin bahwa aku pernah menerima beberapa pesan
telepatik dari para lhama yang pernah menjadi guru latihan mental atau psikisku. Bahkan ada
kemungkinan jumlah pesan-pesan yang dikirimkan padaku lebih dari yang kuduga. Namun aku
hanya dapat mengingat beberapa kasus dimana sang lhama ingin mengetahui apakah aku mengerti
apa yang ia maksudkan pada waktu itu.
Selain berkomunikasi tentang hal-hal spiritual, yang tidak harus melulu mengenai telepati, di antara
guru dan murid juga terdapat semacam identitas yang khas dalam gaya berpikir, tentang hal ini aku
akan mengaitkan dengan dua kejadian yang sama sekali berbeda.
Salah satunya terjadi di lembah Sungai Dainshin, dalam perjalananku ke Lhasa. Sang lhama, yang
tampaknya melakukan semacam transmisi telepatik yang khas, berasal dari biara Chosdzong.
saat itu aku dan Yongden telah melewati malam sebelumnya di tempat terbuka, tidur di sebuah
parit yang digali oleh air selama musim hujan, yang sudah kering dan dilapisi salju keras.
Kekurangan bahan bakar memaksa kami memulai perjalanan harian kami tanpa minum teh
mentega panas sebagaimana biasanya. Maka, dengan menahan lapar dan dahaga kami berjalan
hingga siang hari, lalu kami melihat, seorang lhama dengan penampilan berkharisma sedang
duduk di sadel karpetnya[131] di tepi jalan, sembari menikmati makan siangnya. Bersamanya tiga
orang trapa muda dengan raut wajah yang istimewa, yang lebih tampak seperti siswa-siswa yang
tengah menemani gurunya dibandingkan pelayan biasa. Sementara kuda-kuda yang terikat sedang
mencoba menyantap rerumputan kering di sekitar mereka.
Para pengelana itu telah membawa setumpuk kayu dan membuat perapian, dan sebuah poci teh
masih mengepul di atas bara api.
Untuk menyesuaikan diri dengan penampilan kami sebagai peziarah yang mengemis[132], kami pun
memberikan salam hormat pada sang lhama. Sangat mungkin, semangat kami yang bangkit
sebab melihat poci teh itu tampak jelas di wajah kami. Sang lhama berkata pelan: “ningje!”[133] lalu
dengan suara keras menyuruh kami duduk dan mengeluarkan mangkuk kami[134] sebagai tempat
174
teh dan tsampa.
Seorang trapa menuang sisa teh ke dalam mangkuk kami, meletakkan sebuah tas berisi tsampa di
dekat kami lalu pergi membantu rekannya yang tengah mempersiapkan tunggangan mereka. Tiba-
tiba salah seekor kuda ketakutan dan melarikan diri. Ini yaitu pemandangan yang biasa, dan
seorang dari mereka berlari mengejarnya dengan membawa seutas tali.
Sang lhama tak banyak berbicara, dia hanya menatap kuda ini yang berlari ke sebuah dusun
dan tak berkata sepatah kata pun. Kami melanjutkan makan dengan tenang. Lalu, kuperhatikan
sebuah kendi kosong yang berisi sisa-sisa dadih dan kuduga sang lhama memperoleh dadih
ini di sebuah desa yang dapat kulihat terletak tak jauh dari jalan di depan kami.
Tsampa harian yang tak berlemak dan tanpa sayuran tidak cukup mengenyangkan perut dan aku
berusaha sebisaku untuk mendapatkan susu. Aku berbisik di telinga Yongden: “Kalau lhama ini
sudah pergi, pergilah kamu ke desa itu dan mintalah sedikit dadih.”
Meskipun aku berbisik sangat pelan dan tempat kami tidaklah terlalu dekat dengan sang lhama,
namun tampaknya ia mendengar kata-kataku. Dia menatapku sejenak lalu sekali lagi bergumam
perlahan: “ningje!”
Kemudian ia berpaling ke arah dimana kuda itu tadi berlari. Kuda itu belum begitu jauh, namun
tampaknya sedang senang bermain-main dan tak mengizinkan si trapa menangkapnya dengan
mudah. Akhirnya kuda itu membiarkan juga si trapa memasang tali ke lehernya dan mengikutinya
dengan perlahan.
Sang lhama masih tak bergerak, menatap tepat ke arah trapa yang sedang berjalan ke arah kami.
Tiba-tiba orang itu berhenti, melihat ke sekeliling dan pergi ke sebuah batu di dekatnya dimana ia
kemudian mengikatkan tali kuda itu di sana. Lalu ia pergi melewati jalan dan melangkah ke arah
desa itu. Sesaat kemudian aku melihat dia kembali ke tempat kudanya sambil membawa sesuatu.
sesudah tiba di tempat kami ‘sesuatu’ itu berubah menjadi sebuah kendi kayu yang penuh berisi
dadih. Dia tak memberikannya pada sang lhama, tapi memegangnya sembari menatap gurunya
dengan penuh tanda tanya seolah berkata: “Apa ini yang Guru inginkan? Apa yang akan kulakukan
dengan dadih ini?”
Kepada pertanyaannya yang tak diucapkan sang lhama menjawab dengan sebuah anggukan tanda
setuju, dan menyuruh sang trapa memberikan dadih itu padaku.
Kejadian kedua yang hendak kuceritakan tak hanya berlangsung di Tibet, namun di sebuah daerah
perbatasan yang telah memasuki daerah kekuasaan propinsi Szetchuan dan Kansu.
Mendekati daerah hutan rimba nan luas yang membentang dari Tagan ke perlintasan Kunka, enam
pengelana bergabung dengan rombongan kecil kami. Wilayah itu dikenal sebagai sarang
perampok Tibet yang ganas, sehingga mereka yang hendak melewatinya berusaha membentuk
sebuah rombongan sebesar dan sekuat mungkin. Lima orang dari rombongan baruku ini yaitu
para pedagang Cina, yang keenam yaitu seorang ngagspa Bonpo, seorang yang bertubuh tinggi
dengan rambut panjangnya yang dibungkus kain merah, membentuk sebuah turban yang cukup
besar.
Terdorong oleh hasrat untuk mengumpulkan data sebanyak mungkin mengenai kepercayaan dan
agama negara ini, aku mengundang orang itu untuk menikmati hidangan kami agar dapat
berbincang dengannya. Aku mendapat keterangan bahwa ia hendak bergabung dengan gurunya,
seorang ngagspa Bonpo, yang sedang melaksanakan sebuah dubthab besar di perbukitan
sebelah. Tujuan ritual itu yaitu untuk menaklukkan setan jahat yang suka menyerang sekelompok
175
kecil orang yang tinggal di wilayah ini . sesudah berbasa basi aku mengutarakan keinginanku
untuk mengunjungi gurunya, namun sang murid mengatakan bahwa hal itu sama sekali tidak
mungkin. Gurunya tak dapat diganggu selama satu bulan penuh, waktu yang diperlukan untuk
melaksanakan ritual itu.
Aku mengerti bahwa tak ada gunanya berdebat dengannya, namun aku berniat mengikutinya saat
ia meninggalkan rombongan kami nanti. Jika aku berhasil tiba di tempat sang ngagspa tanpa
terduga, aku mungkin dapat berkesempatan melihatnya sejenak dan juga ritual sihirnya. Untuk itu
aku memerintahkan para pelayanku untuk memperhatikan terus sang ngagspa agar ia tidak dapat
meninggalkan rombongan kami tanpa diketahui.
Bisa jadi sebab aku berbicara terlalu keras mengenai hal ini, sang ngagspa kelihatannya
mengetahui muslihat yang kurencanakan terhadap gurunya dan ia mengatakan padaku bahwa tidak
ada gunanya melakukan hal itu.
Aku menjawab bahwa aku tak berniat jahat pada gurunya dan hanya ingin berbincang dengannya
tentang proses untuk mencapai pencerahan. Aku juga memerintahkan pelayanku untuk lebih
mengawasi rekan kami ini. Sang ngagspa menyadari bahwa ia laksana seorang tahanan. Namun
sebab ia juga menyadari bahwa dia tidak akan disakiti dan tentu saja makannya terjamin aman –
sesuatu yang bagi orang Tibet sangat susah diperoleh – maka ia menjalani petualangannya dengan
senang hati.
“Jangan takut aku bakal melarikan diri,” katanya padaku. “Anda boleh mengikatku dengan tali jika
itu membuat Anda senang. Aku tak perlu pergi untuk memberitahu guruku perihal kedatanganmu.
Beliau sudah tahu akan hal itu. Ngais lung gi teng la len tang tsar[135] (aku telah mengirimkan pesan
lewat angin).
P a r a ngagspa memiliki kebiasaan membual tentang berbagai kemampuan mereka yang
menakjubkan sehingga aku tak menaruh perhatian sedikit pun pada kata-kata yang baru ia
ucapkan sebagaimana yang selama ini kulakukan pada rekan-rekannya yang berasal dari kaum
ilmu hitam.
Namun kali ini, aku salah.
saat telah melewati perbatasan, kami memasuki sebuah daerah padang rumput. Di tempat
seperti ini para perampok tak perlu lagi ditakuti. Para pedagang Cina, yang senantiasa berdekatan
dengan kami siang dan malam saat berada di hutan, menemukan kembali rasa amannya dan
beranjak pergi. Aku masih berniat mengikuti sang ngagspa saat serombongan penunggang kuda
yang terdiri dari sekitar enam orang muncul. Mereka berkuda dengan kencang menuju ke arahku,
lalu kemudian berkumpul, menghaturkan salam, memberikan ‘kha-tags’ (selendang bertuliskan puji-
pujian) dan menghadiahkan mentega. sesudah demonstrasi yang sopan itu berakhir, seorang yang
tertua memberitahuku bahwa sang ngagspa Bonpo yang mulia yang mengirim mereka dan beliau
memintaku untuk mengurungkan niatku mengunjunginya, sebab tak ada seorang pun kecuali siswa
yang telah diinisiasi yang boleh mendekati tempat dimana telah ia bentuk sihir rahasia kyilkhornya.
Aku menyerah. Ngagspa itu tampaknya benar-benar telah menginformasikan pada gurunya dengan
‘mengirimkan pesan lewat angin’. Tidak ada gunanya lagi memaksakan diri.
Meskipun demikian, terlepas dari kekuatan ganjilnya yang telah dibuktikan siswanya padaku, aku
masih meragukan bahwa kekuatan gaib sang guru cukup kuat untuk menahan keinginanku, namun
aku juga tak mungkin mengabaikan sekelompok orang gunung bersenjata yang mengelilingiku.
Mereka sudah bersikap sopan dan berusaha melakukannya sebaik mungkin, dan sikap mereka
176
mungkin berubah jika sikap keras kepalaku akan membahayakan keberhasilan ritual yang sangat
diperlukan oleh seluruh anggota suku ini . Maka, aku mempersembahkan sebuah selendang
pujian dan beberapa perak sebagai hadiah pada sang guru. Aku memberikan ucapan selamat pada
orang Tibet ini atas keberuntungannya dalam mengamankan sang ngagspa peringkat atas
dan kami pun berpisah secara bersahabat.
Telepati secara visual tampaknya juga dikenal di Tibet. Jika kita bisa mempercayai kisah-kisah
tentang para lhama terkemuka yang diceritakan oleh orang-orang Tibet, kita akan menemukan
banyak sekali contoh mengenai fenomena itu. Namun kenyataan dan khayalan bercampur dengan
bebas di cerita-cerita ini, dan kita akan cenderung meragukan dibandingkan meyakini kejadian-
kejadian ganjil yang terdapat di dalamnya.
Bagaimanapun, saat ini terdapat beberapa orang yang menyatakan bahwa mereka pernah
menerima beberapa penglihatan yang dikirimkan dengan proses telepati. Hal ini agak berbeda
dengan gambaran yang dilihat dalam mimpi. Kadang penglihatan itu muncul selama masa
meditasi, namun terkadang hal itu terlihat di saat si pengamat tengah sibuk melakukan aktifitasnya
sehari-hari.
Seorang lhama tsipa[136] bercerita padaku bahwa di saat ia tengah menikmati makanannya ia
melihat seorang lhama gyud[137], sahabatnya, yang sudah lama tidak bertemu dengannya. Sang
lhama gyud berdiri di depan pintu rumahnya bersama seorang trapa muda, yang memikul beban
kecil di pundaknya, seolah tengah bersiap melakukan perjalanan jauh. Si trapa pengelana bersujud
di kaki sang lhama sebagai tanda perpisahan, dan sang lhama mengucapkan beberapa patah kata
sembari tersenyum lalu menunjuk ke arah utara. Trapa itu berbalik ke arah yang ditunjuk lalu
bersujud kembali sebanyak tiga kali.
saat bangkit, ia mengatur toga biaranya supaya lebih rapi, dan sang tsipa memperhatikan bahwa
di ujung toganya terdapat sebuah sobekan yang lebar. Kemudian penglihatan itu pun lenyap.
Beberapa minggu kemudian, trapa pengelana yang sudah pernah ia lihat itu, tiba dari tempat sang
lhama gyud, berharap untuk diajarkan beberapa perhitungan asrologi.
Trapa itu bercerita, saat ia hendak berpisah dengan gurunya, sesudah bersujud padanya, gurunya
itu berkata: “sebab kamu sekarang akan pergi kepada gurumu yang baru, sebaiknya kamu
bersujud padanya juga.” Dan ia menunjuk ke arah utara, tempat sang tsipa tinggal.
Sang lhama juga memperhatikan sobekan di ujung toga si siswa, yang telah ia lihat dalam
penglihatannya itu.
Aku bertanya apakah sang lhama gyud bermaksud memberitahu sahabatnya bahwa ia
mengirimkan padanya si trapa muda. Tak ada jawaban yang dapat diberikan pada pertanyaanku
sebab kejadiannya baru saja terjadi dan sang tsipa sejauh ini belum berkesempatan mengirimkan
berita pada sang lhama gyud.
Perlu kutambahkan bahwa, tidak seperti kita, kalangan awam Tibet tidak memiliki rasa
keingintahuan yang besar akan fenomena psikis. Mereka memang menganggap hal itu sebagai
sesuatu yang tidak lazim, namun bukanlah sesuatu yang teramat luar biasa. Mereka tidak memiliki
suatu ide yang pasti akan Hukum Alam, ataupun tentang sesuatu yang mungkin atau tidak mungkin,
yang dapat terganggu oleh fenomena yang demikian. Baik yang terpelajar atau tidak, semuanya
menyetujui bahwa segala sesuatunya mungkin bagi mereka yang mengetahui cara untuk
melakukannya, dan akibatnya kekuatan supernormal tidak membangkitkan emosi yang khusus
selain kekaguman pada para pakar ilmu gaib.
177
178
BAB TUJUH
179
TEORI-TEORI MISTIK DAN LATIHAN SPIRITUAL
Dunia religius Tibet, secara umum terbagi atas dua bagian. Yang pertama yaitu kelompok yang
menganjurkan untuk menjalankan persepsi-persepsi moral dan peraturan-peraturan biara dengan
taat sebagai sarana untuk mencapai pembebasan. Yang kedua yaitu mereka yang lebih
menyukai metode intelektual yang membebaskan para pengikutnya dari segala peraturan yang
berlaku.
Namun demikian, tidak ada garis pemisah yang tegas di antara kedua kategori ini. Meskipun teori
mereka masing-masing sering menjadi subjek perdebatan di kalangan pengikut kedua aliran itu,
namun jarang ada kejadian dimana seseorang bertindak sebagai seorang musuh yang keras dan
kejam pada mereka yang berseberangan pandangan dengannya.
Bahkan para bhikkhu terikat pada sebuah pengakuan moral bahwa kehidupan yang suci dan
peraturan-peraturan biara, walaupun bernilai tinggi dan dianjurkan pada banyak orang, hanyalah
merupakan sebuah persiapan kepada jalan yang lebih tinggi. Dan bagi para pengikut sistim yang
kedua, mereka mempercayai bahwa seseorang akan memperoleh hal-hal yang cukup bermanfaat
jika menjalani dengan taat hukum-hukum moral dan peraturan-peraturan yang ditentukan bagi para
anggota Sangha.
Lagi pula, semua sepakat bahwa metode pertama lebih aman dibandingkan metode kedua. Sebuah
kehidupan yang suci, melakukan karma baik, jujur, belas kasih, lepas dari hal-hal duniawi, tidak
mementingkan diri sendiri, dan ketenangan pikiran – menurut mereka – akan bertindak sebagai
sebuah alat pembersih yang secara perlahan menyingkirkan ‘debu-debu kotoran yang menutupi
mata hati’[138] yang kemudian akan menuntun kepada pencerahan yang merupakan pembebasan itu
sendiri.
Dan bagi metode yang disebut kaum mistik ‘Jalan Pintas’, ‘Jalan Langsung’[139] itu dianggap yang
paling beresiko. Metode ini, menurut para guru yang mengajarkannya, diibaratkan seseorang yang
ingin mencapai puncak gunung bukan melalui jalan melingkar yang mendaki secara perlahan,
namun dengan jalan tegak lurus ke atas, memanjati bebatuan terjal dan melewati jurang dengan
seutas tali. Hanya mereka yang memiliki keseimbangan yang sempurna, atlit-atlit handal, yang
sepenuhnya terbebas dari rasa gamang, yang diharapkan dapat berhasil melalui ujian itu. Bahkan
mereka yang paling mantap pun bisa saja merasakan keletihan. Dan yang pasti, di sana terdapat
kemungkinan jatuh ke bawah dengan akibat yang cukup mengerikan.
Dengan ilustrasi ini kaum mistik Tibet bermaksud mengatakan bahwa ada kemungkinan sebuah
kejatuhan spiritual yang bisa membawa ke tingkat kesalahan dan penyimpangan yang paling
rendah dan buruk yang mengacu kepada kondisi para setan.
Aku pernah mendengar seorang lhama terpelajar menegaskan bahwa teori-teori hebat mengenai
kebebasan intelektual total dan kemerdekaan dari segala peraturan, yang diuraikan oleh para
pakar ‘Jalan Pintas’, merupakan gaung kematian dari ajaran-ajaran yang telah lama mengakar di
Asia Utara dan Tengah.
Sang lhama diyakinkan bahwa doktrin-doktrin ini sepenuhnya sesuai dengan ajaran tertinggi Sang
Buddha yang dapat dibuktikan dalam beberapa ayat yang berisi ajaran-ajaranNya. Namun demikian,
kata sang lhama, Sang Buddha juga menyadari sepenuhnya bahwa bagi sebagian besar orang
akan jauh lebih baik bila hidup sesuai dengan peraturan-peraturan agar terhindar dari semua
pengaruh buruk akibat ketidaktahuan mereka, dan peraturan-peraturan itu juga dapat menjadi
180
penuntun di sepanjang perjalanannya agar tidak terjadi malapetaka yang tidak dikehendaki. sebab
alasan itulah, Guru yang terbijaksana itu menyusun peraturan bagi para bhikkhu dan umat awam
yang berpengetahuan tidak begitu tinggi.
Lhama itu juga menanggapi keraguan mengenai asal usul Sang Buddha yang dikatakan berasal
dari bangsa Arya. Dia lebih meyakini bahwa leluhur Sang Buddha berasal dari ras Kuning dan dia
diyakinkan bahwa penerusNya, Buddha Maitreya yang akan datang, akan muncul di wilayah Asia
Utara.
Dari mana ia memperoleh gagasan-gagasan ini? – Aku belum menemukan jawabannya. Agak sulit
berdiskusi dengan kaum mistik Oriental. Pernah sekali kutanya dan mereka menjawab: “Saya telah
melihatnya dalam meditasi.” Dan harapan untuk memperoleh jawaban yang lebih lanjut pun menjadi
hilang.
Aku juga pernah mendengar gagasan yang sama yang diutarakan oleh orang Newar dari Nepal.
Argumen mereka yaitu bahwa negeri mereka merupakan tanah leluhur Sang Buddha. “Sang
Maha Suci dari India itu,” kata mereka, “berasal dari keturunan yang sama seperti kami. Dan kami
sendiri menganggap bahwa kami memiliki ras yang sama dengan orang Cina.”
Tentu saja, hanya para lhama dan kaum mistik terpelajar yang memahami teori-teori mengenai
‘Bagian dari Peraturan’ dan ‘Jalan Pintas’ di atas. Saat ini, di Tibet dan juga tempat-tempat lain,
para pemikir dan kaum terpelajar hanya tinggal sedikit. Sementara sebagian besar pengikut
kelompok ‘peraturan-peraturan’ hanya sekedar ‘numpang hidup’ di biara-biara, maka doktrin
‘kebebasan sepenuhnya’ itu menyodorkan sebuah raison d’etre (alasan atau pembenaran untuk
eksis) bagi banyak orang yang hampir tak punya kemampuan untuk mencapai puncak manapun,
yang imajinasinya jelas tak dapat dipungkiri.
Kebanyakan ngagspa berlindung di bawah bendera kelompok kedua. Tak banyak dari mereka
yang mencari keberhasilan spiritual secara cepat. Apa yang ada di benak mereka tentang ‘Jalan
Pintas’ yaitu kebebasan dari semua ikatan disiplin dan keleluasaan untuk melakukan berbagai
eksperimen yang mungkin bermanfaat untuk kemajuan mereka pribadi. Rumusan yang kurang jelas
ini mengizinkan intrepretasi-intrepretasi yang sesuai dengan berbagai macam karakter.
Sebuah klasifikasi yang kasar membagi para ngagspa dan siswa-siswa seni ilmu gaib terkenal
Tibet dalam dua kategori.
Kelompok pertama yaitu mereka yang tidak bertujuan secara langsung menguasai alam, namun
hanya berkeinginan untuk memiliki kekuatan yang dapat memaksa dewa-dewa atau setan-setan
tertentu memberikan bantuan pada mereka. Mereka yang mempraktekkan metode ini percaya
bahwa realitas eksistensi para makhluk dari dunia lain itu sepenuhnya berbeda dengan mereka.
Mereka juga berpikir bahwa kemampuan dan kekuatan mereka sangat jauh di bawah para makhluk
yang ingin mereka perbudak itu, dan bahwa mereka tidak akan mampu mendapatkan sesuatu yang
mereka inginkan hanya dengan usaha mereka sendiri tanpa bantuan dari makhluk-makhluk
ini .
Sehingga, apapun alat yang mereka gunakan: jampi-jampi, jimat, dsb., mereka tetap beranggapan
bahwa kekuatan aktif alat-alat itu, meskipun digerakkan oleh orang yang menggunakannya,
bukanlah berasal dari orang ini .
Pada kategori kedua, hanya terdapat sedikit pakar yang patut diperhitungkan.
Mereka ini, kadang memakai cara yang sama dengan rekan-rekan mereka yang kurang bijaksana
ini , namun mereka melakukannya dengan tujuan yang berbeda. Mereka berpendapat bahwa
181
berbagai fenomena yang secara kasar disebut keajaiban, yaitu dihasilkan oleh energi yang lahir
dari si pembuat keajaiban ini dan juga bergantung pada pengetahuannya akan inti sejati dari
segala sesuatu. Kebanyakan para ahli ini yaitu mereka yang memiliki kebiasaan menyepi, juga
para pertapa, yang tak suka mempertunjukkan diri dan jalan hidup mereka. Mereka tak tergoda
untuk memamerkan kekuatan mereka dan sering kali tidak dikenal orang. Sebaliknya, kaum
ngagspa dari kelompok pertama sangat suka mempertontonkan kemampuannya dengan cara yang
aneh dan membingungkan. Para ngagspa, peramal, penghubung arwah, kaum kebatinan, dari
kelas pengemis hingga kalangan sosial menengah ke atas, sering mengadakan pertemuan antara
sesama mereka. Seorang pecinta diskusi dan tingkah laku yang ganjil akan senang mendengarkan
teori-teori tentang ‘kebebasan integral’ dan prakteknya yang umum di kelompok yang demikian.
Namun di balik hal-hal yang cenderung berlebihan dan mustahil, terdapat beberapa elemen
pengetahuan mengenai adat istiadat kuno, sejarah yang terlupakan, dan penanganan kekuatan-
kekuatan psikis yang dapat dipetik. Namun dalam lingkaran ini, sebagaimana tempat-tempat lain di
Tibet, kesulitan utamanya yaitu untuk menemukan tempat berpijak.
Tak perlu menjadi seorang bhikkhu yang telah ditabhiskan untuk memasuki ‘Jalan Pintas ke
Pembebasan’. Menurut para pakarnya, hanya proses inisiasi yang dibutuhkan. Jadi orang awam
manapun, asalkan diyakini mampu menjalani pendakian spiritual, dapat diterima oleh seorang guru
mistik dan pada saatnya diinisiasi olehnya. Peraturan yang sama juga berlaku bagi para siswa ilmu
gaib. Namun demikian, kebanyakan kaum mistik dan para ngagspa telah memulai karir mereka
sejak kanak-kanak di Persekutuan keagamaan (Sangha).
Memilih seorang guru, yang kelak akan membimbingnya di jalan mistik, jalan yang rumit dan
dipenuhi visi-visi yang membingungkan, yaitu saat yang paling menentukan bagi seorang calon
siswa. Proses pembelajaran yang akan menentukan jalan hidupnya kelak sangat tergantung pada
karakter guru yang ia pilih.
Untuk mendapatkan izin masuk pada pintu yang sebelumnya pasti telah menolaknya, seorang
siswa sering mengalami petualangan-petualangan yang fantastis. Namun jika bhikkhu muda itu
cukup puas dengan memohon bimbingan spiritual dari seorang lhama yang bukan seorang pertapa
ataupun seorang ‘ekstrimis’ dari kalangan ‘Jalan Pintas’, maka masa percobaannya barangkali
tidak mengandung banyak insiden tragis.
Selama masa percobaan yang panjangnya tak ditentukan, sang guru akan menguji karakter siswa
barunya. Kemudian ia akan menjelaskan beberapa sutra filosofis dan makna beberapa diagram
simbolik (kyilkhor), mengajarkannya metode-metode meditasi yang mereka gunakan.
Jika sang lhama merasa siswanya mampu melanjutkan, ia akan menjelaskan pada siswanya
program latihan mistik ini yang meliputi tiga tingkatan:
Tawa – melihat, memeriksa.
Gompa – berpikir, meditasi.
Cyöd pa – mempraktekkan, menyadari. Ini yaitu buah dari pencapaian kedua tahap awal.
Pendetilan lain yang kurang populer menggunakan empat istilah dalam menyampaikan makna yang
sama, yakni:
TAHAP PERTAMA:
Tön – ‘arti’, ‘alasan’. Yang maksudnya menyelidiki sifat sejati dari segala sesuatu, asal muasal
mereka, akhir mereka, dan sebab-sebab pada apa mereka bergantung.
182
Lob - ‘pembelajaran’ berbagai doktrin.
TAHAP KEDUA:
Gom – berpikir atau bermeditasi pada apa yang telah dipelajari atau ditemukan. Mempraktekkan
meditasi introspektif.
TAHAP KETIGA:
Togs – Pengertian.
Supaya si siswa muda dapat mempraktekkan berbagai latihan dalam keheningan yang sempurna
sebagaimana tuntutan program ini , maka dapat dipastikan bahwa sang lhama akan
memerintahkannya untuk mengurung dirinya dalam tsams[140].
Kata tsams berarti sebuah pagar penghalang, batas sebuah teritori. Dalam bahasa keagamaan,
‘tinggal dalam tsams’ berarti hidup dalam penyepian, beristirahat dalam sebuah garis batas yang
tak boleh dilewati.
‘Pagar pembatas’ itu bisa bermacam-macam. Bagi kaum mistik tingkat tinggi hal itu sepenuhnya
bersifat psikis dan dikatakan bahwa mereka tidak membutuhkan apapun untuk mengisolasi mereka
kala bermeditasi.
Terdapat beberapa kategori tsams, dan setiap kategori dibagi dalam beberapa jenis. Dimulai dari
yang paling longgar hingga cara yang paling keras, kami rangkum sebagai berikut:
- Seorang lhama atau seorang umat awam mengurung diri dalam sebuah kamar atau ruangan
pribadi. Dia tidak keluar ataupun hanya keluar pada waktu tertentu, untuk melaksanakan upacara
kebaktian atau pemujaan, misalnya berjalan mengelilingi biara untuk memberi penghormatan di
depan objek-objek suci atau semacamnya.
Tergantung aturan mana yang ia ikuti, sang tsamspa[141] boleh bertemu dengan orang-orang atau
tidak boleh terlihat sama sekali. Dalam kasus pertama, dia biasanya diizinkan untuk berbicara
seperlunya dengan anggota keluarga, kerabat atau pembantunya, bahkan boleh menerima
beberapa pengunjung. Pada kasus kedua, ia hanya boleh dilihat oleh mereka yang mengurusnya.
Jika hendak menerima tamu, ia hanya boleh mendengar dari luar ruangan sang tsamspa. Sebuah
tirai digantung di pintu masuk dan kedua orang yang berbicara itu saling tidak melihat seperti
halnya yang berlaku pada beberapa Kesusteran Katolik Roma yang kontemplatif.
Sebagian orang Tibet terkadang beristirahat dalam cara pengasingan yang demikian bukan untuk
motif religius, mereka hanya sekedar menghindari gangguan kala mempelajari beberapa ilmu
bangsa Tibet: tata bahasa, filosofi, astrologi, ilmu pengobatan, dsb.
- Yang berikutnya yaitu pengasingan yang hanya boleh melihat seorang pelayan.
- Ia yang tak berbicara dan mengutarakan kebutuhannya hanya dengan tulisan.
- Ia yang menutup sebagian jendela, hingga ia tidak dapat melihat keadaan sekeliling, atau objek
luar manapun kecuali langit.
- Ia yang melepaskan pandangan akan langit, menutup seluruh jendela, atau tinggal di ruangan tak
berjendela, meskipun demikian masih mengizinkan cahaya matahari masuk secara tidak langsung.
- Ia yang tak melihat apapun.
183
Dalam kasus ini, jika sang tsamspa menggunakan kamar besar dengan beberapa ruangan, maka
makanannya akan diantar ke salah satu ruangan, sementara ia beristirahat di ruangan yang lain.
Jika ia tinggal di sebuah kamar tunggal, makanannya akan diletakkan di samping pintu masuk.
Seseorang akan mengetuk pintu untuk memberitahu bahwa kebutuhannya telah disediakan, lalu
salah seorang anggota rumah itu meninggalkan ruangan atau koridor itu sejenak untuk memberi
kesempatan pada orang yang mengucilkan diri itu untuk keluar tanpa terlihat. Barang-barang
dikembalikan dengan cara serupa, sang tsamspa memberitahu dengan cara mengetuk pintu atau
membunyikan lonceng.
Diantara mereka yang mempraktekkan tsams ini, sebagian menuliskan barang-barang yang ia
perlukan, sisanya meninggalkan fasilitas ini. Akibatnya apapun mungkin kebutuhannya, tak ada
yang akan mengetahuinya. Bahkan jika mereka yang mengurusnya lupa mengantarkan makanan,
maka mereka akan berpuasa dalam diam.
Umumnya tsams di rumah sendiri tidak akan berlangsung lama, apalagi yang bertipe keras. Satu
tahun yaitu masa yang luar biasa. Umumnya mereka mengasingkan diri selama tiga bulan, satu
bulan, bahkan hanya beberapa hari. Orang awam jarang menutup diri di rumah mereka selama
lebih dari satu bulan.
Dapat dipahami jika tsams yang keras dan panjang tidak dapat dipraktekkan di rumah biasa. Di
sana, betapapun diusahakan, gerakan dan suara orang yang hilir mudik mengurus keperluan
duniawi tetap akan sampai ke dalam tsamspa melalui pagar pembatasnya yang tipis, yakni pintu
yang tertutup.
Lingkungan yang hening dalam sebuah biara kadang juga tidak efektif bagi sebagian orang,
sehingga banyak gompa yang memiliki sebuah rumah khusus yang dibangun untuk digunakan
anggotanya yang akan menjalani hidup dalam pengasingan yang keras.
Rumah-rumah demikian disebut tsams khang.[142] Rumah-rumah itu kadang terletak di luar jalan
umum, di dalam lingkungan biara, namun lebih sering dibangun di sebuah bukit, agak jauh dari
daerah biara. Tak jarang ditemukan kelompok rumah-rumah untuk bermeditasi ini di tempat yang
terpencil, dalam jarak beberapa hari perjalanan (kaki) dari biara induk mereka.
Bentuk tsams khang - tsams khang itu tergantung dengan jenis dan peraturan pengasingan
sebagaimana yang telah dijabarkan sebelumnya.
Beberapa di antaranya memiliki jendela-jendela, dimana orang yang mengasingkan diri dapat
menikmati pemandangan luar yang indah, sementara yang lain dikelilingi dinding-dinding yang
menutup pemandangan dari segala arah. Dalam kasus yang demikian, dalam bangunan itu
biasanya terdapat lapangan kecil atau sejenis teras yang memungkinkan sang tsamspa duduk atau
berjalan di tempat terbuka tanpa terlihat ataupun melihat dunia luar.
Kebanyakan tsams khang terdiri dari dua ruangan. Ruangan yang satu tempat dimana orang yang
mengasingkan diri ini duduk dan tidur, ruangan yang lain berfungsi sebagai dapur dan tempat
tinggal si pelayan.
Jika sang tsamspa tidak diperbolehkan bertemu siapapun dan tidak berkomunikasi, maka
pelayannya tinggal di gubuk yang terpisah. Sebuah pintu ayun kecil dibuat di dinding ataupun di
pintu ruangan sang tsamspa sebagai tempat memasukkan makanannya.
Makanan keras biasanya hanya disuguhkan sekali sehari, namun teh mentega diantarkan
beberapa kali. Jika sang lhama yaitu pengikut sekte ‘Topi Merah’, bir [143] disuguhkan bergantian
184
dengan teh. Orang Tibet memiliki kebiasaan menyimpan sekantung tepung gandum, jadi orang
yang mengasingkan diri ini bebas memakannya dengan teh atau bir kapanpun ia mau.
Hanya anggota Sangha (Persaudaraan bhikkhu) yang beristirahat di pondok-pondok yang khusus
dibangun untuk digunakan sebagai rumah meditasi. Sebagian mengasingkan diri selama bertahun-
tahun. Waktu yang sesuai peraturan yaitu tiga tahun tiga bulan tiga minggu dan tiga hari. Ada
yang mengulang pengasingan yang panjang itu dua atau tiga kali dalam masa hidupnya, dan ada
beberapa orang yang mengurung diri dalam tsams seumur hidupnya.
Masih ada bentuk tsams yang lebih keras: yakni tempat tinggal yang sama sekali tanpa cahaya.
Meditasi dalam kegelapan bukan hanya dipraktekkan oleh kaum Lhamais. Meditasi jenis ini dikenal
di semua negara-negara Buddhis. Aku pernah melihat berbagai jenis ruangan yang berbeda di
Burma, yang didirikan untuk tujuan-tujuan ini , dan aku juga menempatinya selama tinggal di
perbukitan Sagain. Namun sementara para bhikkhu Burma dan bhikkhu-bhikkhu di negara Buddhis
yang lain hanya menghabiskan beberapa jam di sana, beberapa pertapa Tibet mengubur dirinya
selama beberapa tahun, bahkan hingga meninggal, di tempat yang mirip kuburan itu. Namun kasus
ini memang jarang ditemukan.
Jika diinginkan keadaan yang benar-benar gelap gulita dan persinggahan di tsams khang itu
direncanakan cukup lama, maka tempat itu biasanya dibangun di sebuah gua atau bangunan yang
sebagian berada di bawah tanah yang diventilasi oleh sebuah cerobong yang dikonstruksikan
sedemikian rupa hingga cahaya tidak dapat memasuki sel pengasingan ini . Hal ini memang
jarang dilakukan. Biasanya tempat pertapaan yang gelap diberi udara dengan cara yang alami –
yang memang sering jauh dari sempurna – melalui celah-celah atau sejenisnya. Dengan cara ini
cahaya terpaksa diizinkan masuk bersamaan dengan udara, cahaya itu tampaknya hanya bersifat
teoritis semata sebab di tempat yang gelap itu kita hampir tidak mungkin mengenali objek apapun.
Namun sesudah beberapa saat, jika mata sang tsamspa sudah terbiasa dengan gelap, dan ia akan
mampu melihat secara samar keadaan di sekelilingnya.
Menurut apa yang kudengar dari mereka yang telah menghabiskan waktu yang cukup panjang di
tempat pengasingan yang gelap, para pertapa ini sering kali menyaksikan pencahayaan yang amat
memukau. Sel mereka berubah menjadi terang benderang, atau dalam kegelapan, setiap benda
terlukis oleh garis-garis yang berkilauan; atau kembali, sebuah phantasmagoria dari bunga-bunga
yang bersinar, pemandangan alam dan wujud-wujud bermunculan di hadapan mereka.
Penglihatan mata sejenis itu yaitu hal yang bisa dianggap biasa, sebab hal-hal itu juga pernah
dilukiskan oleh para bhikkhu di Burma yang menjalani meditasi dalam kegelapan, dan aku
menduga bahwa semua orang pernah melihat sesuatu di malam yang demikian.
Orang Tibet memandang hal ini sebagai ujian bagi tingkat konsentrasi pikiran. Gambaran-
gambaran yang secara cepat berganti-ganti itu dianggap bersifat subjektif semata. Mereka pikir hal
ini disebabkan oleh pergolakan pikiran yang tak terkendali. Saat pikiran menjadi tenang,
phantasmagoria itu akan menghilang. Yang tersisa hanya sebuah titik (thigle) yang dapat berwarna
gelap ataupun berupa sebuah bola lampu yang kecil. Awalnya titik itu bergerak-gerak dan tujuan
latihan yaitu untuk membuatnya tetap berada di tempatnya.
Keadaan dimana titik itu diam tak bergerak, tanpa ada perubahan ukuran, warna, dsb., yaitu
tingkat dimana orang mistik ini telah mampu memusatkan pikirannya pada objek manapun
yang ia inginkan tanpa ada ide-ide yang akan memecahkan pikiran ‘satu fokus’nya. Tingkat
selanjutnya ditandai dengan lenyapnya titik ini dalam kegelapan. Tingkat ini jarang tercapai
sebab kebanyakan orang terlena dalam menikmati pemandangan indah ini dan menganggap
185
bahwa mereka telah memperoleh secercah cahaya surga.
Disamping rekreasi jenis ini, beberapa hal mempesona yang lain tengah menunggu sang tsamspa
di pertapaannya. Hal-hal ini, menurut para guru religius, merupakan jebakan bagi para siswa tak
tekun yang tengah berusaha di jalan mistik.
Kala sang tsamspa yang telah menghabiskan waktu yang lama di kegelapan mendekati akhir masa
pengasingannya, ia secara perlahan-lahan membiasakan matanya untuk melihat cahaya matahari
kembali. Untuk tujuan itu, sebuah lubang, seukuran kepala peniti, dibuat di bagian dinding yang
berlumpur yang kemudian diperbesar tiap hari hingga seukuran sebuah jendela kecil. Usaha ini
mungkin memerlukan waktu beberapa bulan, dan dapat dilakukan oleh orang yang mengasingkan
diri ini ataupun orang lain: gurunya atau temannya. Semakin lama waktu yang dihabiskan di
pengasingan ini , makin lambat usaha memasukkan cahaya ke dalam sel.
Para siswa muda yang baru menutup diri untuk pertama kalinya, baik dalam tsams khang yang
gelap maupun terang, biasanya mendapat instruksi dari gurunya selama penyepiannya.
Sang lhama berbicara dengan mereka dari luar, melalui pintu ayun kecil yang dipergunakan untuk
mengantarkan makanan bagi si siswa. Guru tsamspa yang tidak boleh menemui siapapun itu,
biasanya menutup pintu masuk ke ruangan muridnya dengan penahannya sendiri. Sebuah upacara
keagamaan dilakukan dalam kesempatan itu dan sebuah upacara lagi saat sang guru membuka
penahan ini dan orang yang mengasingkan diri itu melangkah keluar.
Jika tsams itu bukan jenis yang keras, sebuah bendera ditempatkan di pintu masuk sang tsamspa
yang bertuliskan nama orang-orang yang diizinkan masuk ke ruangan: para kerabat atau
pengunjung yang diizinkan oleh guru sang tsamspa.
Sebuah cabang pohon kering ditancapkan di tanah atau di sebuah pot di dekat tempat pertapaan
seorang tsamspa yang menutup diri seumur hidupnya.
Isti lah tsams khang lebih cenderung diaplikasikan kepada meditasi – pondok-pondok yang
dibangun di sekitar sebuah biara. Yang berdiri di tempat yang agak jauh disebut ritöd.[144]
Ritöd-ritöd tidak pernah dibangun di dasar sebuah lembah, mereka biasanya berada di tempat-
tempat yang menonjol, dan pemilihan tempat itu berdasarkan pada peraturan tertentu. Dua baris
syair terkenal Tibet melukiskan kondisi-kondisi utama yang harus dipenuhi.
Gyab rii tag
Dun rii tso[145]
Batu gunung, di belakang.
Danau gunung, di depan.
Yang maksudnya yaitu bahwa sebuah tempat pertapaan harus dibangun di daerah perbukitan
dengan latar belakang bebatuan, atau lebih baik jika langsung bersandar pada batu itu sendiri, jika
memandang ke bawah tampak sebuah danau, paling tidak sebuah aliran sungai.
Bermacam peraturan telah ditetapkan sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan untuk
pelaksanaan latihan psikis dan spiritual tertentu. Misalnya, beberapa tempat pertapaan diharuskan
memberikan jangkauan pandang yang luas agar si pertapa dapat melihat matahari terbit dan
terbenam. Suara-suara aliran air ataupun deruan angin diusahakan sebisa mungkin diredam. Ada
ritöd yang dianjurkan terletak di sekitar areal berhutan, ada juga yang dianggap lebih sesuai di
186
daerah yang tandus, dsb.
Para Ritödpa tidak terus menerus menutup diri di rumah. Di luar periode tsams yang keras,
kebanyakan dari mereka keluar di sela waktu yang mereka habiskan untuk bermeditasi atau latihan
yang lain. Sesuai peraturan yang dibuat guru mereka, atau sebab tekad sendiri, mereka diizinkan,
ataupun dilarang, berbicara dengan para tetangga kala mengambil air, mengumpulkan kayu atau
berjalan mengelilingi kabin mereka. Meditasi di tempat terbuka kadang dianjurkan oleh
pembimbing spiritual sang ritödpa, namun kadang berdasarkan keinginkan mereka sendiri.
Meskipun istilah ritöd sebenarnya berarti ‘kelompok pertapaan’, namun sekarang digunakan untuk
semua tempat tinggal tunggal seorang pertapa yang berada di tempat terpencil: pondok-pondok
ataupun gua-gua.
Di tempat-tempat yang masih primitif seperti itulah, para naljorpa yang kukuh, yang bertekad
memanjat bukit spiritual melalui bebatuan yang terjal, beristirahat.
Mereka yang masih berada pada tingkat siswa muda, menempuh perjalanan yang panjang menuju
tempat guru mereka untuk menceritakan padanya pengalaman-pengalaman psikis mereka, ide-ide
yang timbul dari meditasi, dan juga menerima nasihat dan komunikasi kekuatan spiritualnya (ritual
angkur). Pertemuan-pertemuan itu bisa terjadi dalam selang waktu beberapa tahun.
Bagi pertapa-pertapa yang merupakan seorang guru, beberapa di antaranya mengizinkan para
pemula itu tinggal di sekitar tempat tinggalnya. ‘Sekitar’ itu mempunyai pengertian yang luas. Si
siswa bisa tinggal di bukit yang sama namun di tempat yang lebih rendah dibandingkan tempat tinggal
gurunya itu, atau bisa juga berjarak satu atau dua hari perjalanan kaki.
Orang-orang akan cenderung membayangkan bahwa para penghuni tsams khang dan ritöd yang
banyak itu bukanlah orang-orang suci atau bijaksana.
Mistisme palsu dan pemikiran-pemikiran yang salah telah merasuki dunia pertapaan Tibet sejak
dulu. Bahkan di tengah daerah bersalju yang berkilauan kita dapat menemukan para hipokrit.
Dibalik kedok para gomchen, mereka membual tentang pengetahuan rahasia dan kekuatan
supernormal, mengelabui pikiran para petani dan pengembala. Orang Barat akan menganggap
bahwa mereka membayar kerasnya kehidupan pertapaan dengan keuntungan materi ataupun
ketenaran. Namun kita harus menilai pertukaran itu dari sudut pandang seorang Tibet, bukan
seorang Barat.
Orang Tibet yaitu orang yang kokoh dan kuat; udara dingin, tidur di tanah terbuka, hidup terpencil,
dan kondisi-kondisi lain yang dapat menciutkan nyali kebanyakan orang Barat, tak menakutkan
mereka sedikitpun. Hanya sedikit dari mereka, bahkan di kalangan atas sekalipun, yang tidak
pernah mengalami perjalanan yang keras seperti







