Selasa, 14 Juli 2026

arab saudi




Keberagaman negara diseluruh dunia ini memang juga mempunyai tradisi dan watak 

tersendiri-tersendiri. Adanya beberapa faktor mendasar yang sudah berlangsung sejak lama 

dan menyangkut kepercayaan serta menyangkut kemakmuran hidup bersama, ternyata sangat 

mudah memicu  konflik (peperangan). Hal-hal yang menyangkut terkait ideologi 

bangsa, suku, keyakinan, sangat mudah sekali mengobarkan  adanya perselisihan dan 

permusuhan dan kemudian menjadi perang. Hal inilah yang terjadi pada Iran dan Irak yang 

saling berperang memperebutkan hak-nya yang sudah diklaim masing-masing. Mereka 

mempunyai dasar sendiri-sendiri yang dijadikan alat untuk membela dirinya supaya menjadi 

miliknya. 

Kawasan Timur Tengah memang terkenal dengan sumber daya alamnya terutama hasil 

minyaknya yang mampu menyuplay keseluruh penjuru dunia. Iran sebagai salah satu negara 

yang kaya akan minyak, hal tersebut tidak lantas membuat Iran kaya dan tentram seperti yang 

diharapkan. sebab  kita ketahui bahwa negara-negara lain yang butuh akan kekayaan minyak 

tersebut sudah siap untuk merebutnya. Irak adalah negara tetangga terdekatnya yang memiliki 

perbatasan dengan Iran. Di perbatasan itulah yang menjadi sengketa dan menyulutkan 

perselisihan. Irak mengeklaim bahwa wilayah itu merupakan miliknya akan namun  Iran juga 

tidak mau kalah dan menanggap bahwa itu juga wilayahnya. 

Jika sudah begitu maka akan sangat sulit sekali untuk menengahinya. Dengan berbagai 

faktor baik intern maupun ekstern maka jelas perang antara negara tetangga ini tak mampu 

dielakkan lagi. Negara yang berdampingan yang seharusnya damai justru harus berperang 

dan mengakibatkan jatuhya korban yang tidak sedikit. 

Konflik antar negara yang sampai sekarang masih terus berlanjut terjadi di Kawasan 

Timur Tengah, menjadikan bahan yang menarik untuk terus diulas dan dipelajari lebih 

mendalam. Terutama salah satu aktor negara yang sangat mencolok dengan konfliknya yaitu 

Irak. Irak terlibat perang dengan Iran negara tetangganya. Sampai sekarang konflik-konflik di 

negara-negara tersebut masih terus ada, hal tersebut disebabkan adanya faktor-faktor tertentu 

yang sangat mendasar di tambah lagi faktor-faktor pendukung lainnya. Kekurang pahaman 

terkait peran Irak-Iran ini tentunya membuat kita sebagai umat manusia yang sama tinggal di 

planet ciptaan Tuhan ini harus saling tahu dan memperhatikan bahkan ikut andil menjaga 

kerukunan antar negara. sebab  pada dasarnya setiap peperangan pasti akan mempunyai 

dampak tidak hanya positif namun  cenderung negatif terutama bagi pihak yang kalah. 

Perang merupakan pengalaman tersulit dalam kehidupan yang selalu membawa berbagai 

macam masalah baik secara individu, sosial dan bahkan global. Ketika sebuah bangsa melalui 

masa-masa perang, fakta dan berbagai peluang yang terkandung di dalamnya jika kemudian 

hari kita pikirkan kembali, mungkin tidak dapat terbayangkan besarnya. Banyak orang yang 

menolak perang dan menghindarinya serta sedikit sekali orang yang menerima atau 

menyukainya. Orang-orang yang pernah berperang di medan pertempuran dan bangsa-bangsa 

yang telah merasakan pahitnya perang, mengetahui dengan baik apa saja yang terjadi dan 

masalah apa yang dihadapi satu generasi dan setelahnya. 

A. pemicu  terjadinya perang Teluk I 

Ketegangan hubungan irak iran mulai meningkat ketika irak pada tahun 1975 

melanggar perjanjian perbatasan dengan iran.pejabat irak mengatakan bahwa iran menyerang 

instalasi ekonomi irak di sungai Shatt al-Arab.laporan lain mengarakan iran menembak 

cadangan minyak irak diwilayah Basra, selatan irak dan membakarnya. 

Bagian selatan sungai Shatt al-Arab ini merupakan perbatasan kedua negara, menuju teluk 

dan menjadi jalur passokan utama minyak menuju barat.perbatasan ini pun tak awal menjadi 

pemicu peperangan.dasamping juga ada kekhawatiran pemimpin irak no 1 yaitu Saddam 

Hussein atass perlawanan syiah yang dibawa imam Khomeini dalam revousi iran. 

Perang terbuka akhirnya meletus pada tanggal 22 september 1980.sebelumnya selama tiga 

minggu telah terjadi pertempuran diperbatasan kedua negara.irak mengebom pesawat 

pesawat iran dan pangkalan logistik iran termasuk bandara internasional Terheran. 

Adapun berbagai pemicu  terjadinya perang antara Irak dan Iran antara lain, adalah: 

1.   Sengketa antara Irak dan Iran sebenarnya masih terkait dengan sejarah kedua belah 

negara yang tak pernah akur. 

Berlarut-larutnya permusuhan yang terjadi antara kerajaan Mesopotamia (terletak di lembah 

sungai Tigris-Eufrat, yang kini menjadi sebuah negara Irak modern) dengan kerajaan Persia 

atau negara Iran modern. Yang pertama ialah persaingan dsn ketegangan Bangsa Arab dan 

Bangsa Parsi, yang satu tidak dapat menerima keunggulan atau dominasi yang lain. yang 

kedua ialah masalah minoritas etnis. Pada zaman shah Iran mendukung perjuangan otonomi 

suku Kurdi di Irak, sedangkan Irak mendukung minoritas etnis Arab di Iran yang 

memperjuangkan kebebasan yang lebih besar atau pemisah, dan yang ketigaialah perbedaan 

orientasi politik luar negeri. Sampai beberapa waktu yang lalu Irak adalah Pro Uni Soviet, 

dan Iran adalah Pro Barat. 

2.   Persengketaan wilayah yang dianggap penting oleh Irak dan Iran 

Pertama, persengketaan Sungai Shatt Al Arab, sungai tersebut berperan penting bagi Irak 

sebab  merupakan satu-satunya jalan keluar negara tersebut ke laut. sebab  letaknya yang 

berada di perbatasan dan posisi strategisnya yang mengarah ke Teluk Persia, sungai tersebut 

menjadi bahan sengketa Irak dan Iran. Sebelum perang antara kedua negara meletus, pada 

tahun 1975 sempat meredakan ketegangan antara kedua belah pihak sebab  berkat perjanjian 

Algiers. Kedua adalah Provinsi Khuzestan yang kaya minyak. Wilayah tersebut selama ini 

menjadi wilayah Iran, namun sejak tahun 1969 Irak mengklaim bahwa Khuzestan berada di 

tanah Irak dan wilayah tersebut diserahkan ke Iran ketika Irak dijajah oleh Inggris. Dengan 

begitu maka mereka saling meng-klaim sebagai wilayah mereka masing-masing. 

3.   Munculnya Revolusi Islam oleh Iran 

Pada masa pemerintahan Khomeini yang berambisi dan juga berusaha mengekspor revolusi 

islamnya kenegara-negara lain dan Irak menjadi sasaran yang pertama sebab  di Irak 

minorotas Sunni menguasai dan menindas mayoritas Syiah dan minoritas Kurdi yang secara 

etnik linguistic dekat dengan bangsa Persi. Selain itu Khoeini menaruh dendam terhadap 

rezim di Bagdad yang pada tahun 1978 mengusirnya dari Irak sebab  dia berkampanye 

melawan pemerintah Shah. Sehubungan dengan itu pemerintah Iran menghasut umat Syiah 

dan Suku Kurdi di Irak untuk memberontak dan merebut kekuasaan serta membentuk suatu 

republic Islam menurut pola Republik Islam Iran. Dilain pihak Bagdad menghasut minoritas 

Kurdi di Irak untuk mendukung minoritas Arab dalam memperjuangkan otonominya, dan 

membantu sejumlah jendral Iran dan pengikut-pengikutnya Bakhtiar di pengasingan untuk 

menyusun kekuatan guna menumbangkan kekuasaan Khomeini. 

Irak di bawah kendali Saddam Hussein dan  Partai Baath memiliki ambisi untuk menjadi 

kekuatan dominan di wilayah Arab di bawah bendera pan-Arabisme sejak meninggalnya 

Presiden Mesir, Gamal A. Nasser. Revolusi Islam yang terjadi di Iran tersebut dianggap 

sebagai penghalang sebab  bertentangan dengan prinsip nasionalisme sekuler Arab. Selain 

untuk mencegah menyebarnya revolusi Islam, Irak juga berusaha mengambil keuntungan 

dengan kondisi internal Iran yang tidak stabil pasca revolusi Islam untuk merebut wilayah-

wilayah yang menjadi bahan sengketa dengan Iran dan menambah sumber minyak Irak. 

Dengan kekhawatiran-kekhawatiran tersebut maka tak heran jika muncul tindakan-tindakan 

yang membawa ketegangan dan memicu  peperangan pada puncaknya. 

4.   Percobaan pembunuhan terhadap pejabat Irak 

Pertengahan tahun 1980, terjadi percobaan pembunuhan kepada Deputi Perdana menteri Irak, 

Tariq Aziz. Irak segera bertindak dengan menangkap sejumlah orang yang diduga terlibat 

atas percobaan pembunuhan tersebut dan  mendeportasi ribuan warga Syiah berdarah Iran 

keluar dari Irak. Pemimpin Irak, Saddam Hussein, menyalahkan Iran sambil menyebut ada 

agen Iran yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor 

pendorong meletusnya perang Irak-Iran. 

5.   pemicu  khusus terjadinya Perang Teluk I antara lain: 

 Adanya serangan granat pada tanggal 1 April 1980 terhadap wakil Perdana Menteri 

Irak Tariq Aziz yang diduga bertanggung jawab atas aksi-aksi survesi terhadap Iran. 

  Adanya pengusiran ribuan keturunan Iran oleh Saddam, serta melancarkan serangan 

yang sengit terhadap pribadi Khomeini dan membatalkan perjanjian Algiers. 

Sedangkan Menlu Iran Shodeh Godzadeh berjanji untuk menumbangkan rezim Baath 

yang berkuasa di Irak serta memutuskan hubungan diplomatic. 

 Kedua negara saling menempatkan pasukan masing – masing di daerah perbatasan 

dalam jumlah yang cukup besar. 

 Terjadinya perang pers dan media masa antar kedua belah negara. 

 Pada 17 September 1980, presiden Saddam Hussein secara sepihak membatalkan 

Perjanjian Algiers tahun 1975 sebab  pada waktu itu Saddam Hussein merasa bahwa 

Perjanjian Algiers tidak adil untuk Irak, pada saat pembuatan perjanjian itu kedua 

belah negara tidak dalam posisi yang seimbang dimana Irak pada waktu itu sebagai 

negara yang kalah dengan Iran. kemudian Iran melihatnya sebagai pernyataan perang 

pada 20 September 1980. 

Menurut para pengamat ada dua faktor yang menyebabkan invansi yang dilakukan 

Saddam ke Iran, pertama, adanya kekhawatiran dikalangan penguasa negara Arab terhadap 

kemungkinan menularnya revolusi Khoehenni kenegara-negara Arab. Dan yang kedua, 

ambisi Saddam Hussein untuk bisa tampil sebagai pemimpin Arab. 

 

B. Proses terjadinya Perang Teluk 1 

Perang Teluk I tersebut berlangsung selama hampir 8 tahun. Setidaknya ada tiga hal 

yang penting yang dapat ditarik dari perang antara Irak dan Iran yang terjadi pada tahun 

1980-1988. Pertama, tidak ada pihak yang menjadi pemenang secara mutlak dalam perang 

Irak-Iran. Baik pihak Iran maupun Iran sama-sama menderita kerugian yang besar. Dapat 

dikatakan bahwa dalam perang Teluk I, Irak mendapat separuh kemenangan, sedangkan Irak 

menderita setengah kealahan. Kedua, prediksi Irak dalam perang Teluk I sangat meleset. 

Perang yang diperkirakan hanya berlangsung singkat ternyata berlarut-larut sampai 8 tahun. 

Iran yang semula diremehkan dan dalam waktu singkat dapat segera ditakhlukan, ternyata 

melakukan perlawanan yang sengit, sehingga Iran yang semula berada di pihak defensiff 

kemudian menjadi ofensib. Ketiga, akibat perang teluk I ternyata membuat dampak yang luar 

biasa, terutama bagi Irak, terutama untuk biaya dan ganti rugi perang. Dampak perang teluk 

bagi Irak tersebut kemudian memicu dan menjadi salah satu faktor terjadinya perang teluk II 

antara Irak dan Kuwait. 

Perang ini terbagi dalam beberapa alur atau periode tahun, dimana setiap periode 

tersebut mempunyai makna sendiri bagi masing-masing negara sebab  menjadi ajang balas 

dendam atas serangan-serangan yang saling dilancarkan. Adapun babak-babak tersebut dapat 

dijelaskan sebagai berikut : 

1.   Tahun 1980-1982 : Penyerbuan Oleh Irak 

Ada 2 sasaran Irak dalam serangannya ke Iran : menguasai wilayah-wilayah strategis serta 

kaya minyak di Iran & mencegah tersebarnya revolusi Islam ke negara-negara sekitarnya. 

Dalam serangannya, Irak menginginkan kemenangan cepat  atas Iran dengan memanfaatkan 

situasi internal Iran yang masih belum stabil pasca revolusi Islam. Irak juga berharap kalau 

masyarakat  di Iran akan menyalahkan pemerintahan baru negaranya sehingga sebagian dari 

mereka terutama dari golongan Arab Sunni -  kemudian akan membelot  kepada Irak. 

Tanggal 22 September 1980, jet-jet tempur Irak menyerang 10 pangkalan udara milik Iran 

dengan tujuan menghancurkan pesawat  tempur Iran di darat, taktik yang dipelajari dari 

kemenangan Israel atas Arab dalam Perang 6 Hari. Serangan dari pasukan udara Irak berhasil 

menghancurkan gudang amunisi & jalur transportasi darat, namun sebagian besar pesawat  

Iran tetap utuh sebab  terlindung dalam hanggar yang terlindungi secara khusus. Kegagalan 

Irak menghancurkan pesawat-pesawat  tempur Iran dalam serangan kejutan tersebut  

memberi peluang bagi Iran untuk melancarkan serangan udara balasan ke Irak. 

Sehari kemudian, Irak melakukan serangan darat  ke wilayah Iran dari 3 front  sekaligus. Inti 

dari serangan tersebut  adalah untuk menguasai Khuzestan & Shat t  al-Arab di mana 4 dari 6 

divisi pasukan Irak dalam penyerbuan dikirim untuk menguasai kedua wilayah tersebut. 

Sisanya dipecah jadi 2 untuk menguasai front utara (Qasr-e Shirin) & f ront  tengah (Mehran) 

untuk mengantisipasi serangan balik yang mungkin dilakukan oleh Iran. Hasilnya, usai 

serangan mendadak itu Irak berhasil menguasai wilayah Iran seluas 1.000 km persegi. 

Bulan November 1980, pasukan Irak melancarkan serangan ke 2 kota penting yang strategis 

di Iran selatan, Shabadan & Khorramshahr. Dalam penyerbuannya itu, pasukan Irak 

mendapat  perlawanan sengit dari pasukan Pasdaran (Garda Revolusi) Iran. Kedua kota 

tersebut akhirnya berhasil dikuasai Irak pada tanggal 10 November 1980. Tercatat  belasan 

ribu pasukan dari kedua kubu terbunuh dalam pertempuran di kedua kota tersebut. 

Keberhasilan Irak menguasai kedua kota tersebut  sekaligus menjadi keberhasilan terakhir 

Irak mencaplok wilayah mayor dari Iran. 

Iran yang tertekan sempat  berusaha melakukan serangan balasan kepada Irak pada awal 

tahun 1981, namun gagal sebab  presiden Iran, Bani Sadr, nekat  memimpin langsung 

pasukan reguler Iran sekalipun dia hanya memiliki pengetahuan militer yang minim. Ia 

mengirimkan 3 resimen pasukan reguler tanpa didukung oleh Pasdaran & tidak 

memperhitungkan waktu serangan di saat hujan yang bakal menyulitkan suplai logistik. 

Akibatnya, pasukan Iran dikepung pasukan Irak & banyak dari kendaraan lapis baja Iran yang 

hancur atau perlu ditinggalkan sebab  terjebak dalam lumpur. 

Serangan balasan Iran yang jauh lebih efektif  sebenarnya sudah dilakukan beberapa hari 

sejak Irak pertama kali membombardir pangkalan udara milik Iran. Pesawat-pesawat  F-4 

milik Iran melakukan serangan ke wilayah Irak & secara efektif  berhasil melumpuhkan 

sejumlah titik penting di sana. Keberhasilan tersebut membuat  pasukan udara Iran terlihat  

lebih superior dibandingkan pasukan udara Irak. Namun, kurangnya amunisi & suku cadang 

yang hanya bisa didapatkan dari AS  negara sekutu Iran yang berbalik memusuhi Iran pasca 

revolusi Islam  membuat  Iran seiring waktu jadi lebih banyak memakai helikopter yang 

dipasangi persenjataan darat  sebagai pendukung pasukan dari udara. 

2.   Tahun 1982 : Titik Balik & Mundurnya Irak 

Pasukan Irak dalam serangan kilatnya berhasil memanfaatkan momentum lemahnya 

koordinasi pasukan Iran & problem alutsista milik Iran sehingga para pengamat yakin bahwa 

perang akan segera berakhir dengan kemenangan Irak hanya dalam waktu beberapa minggu. 

Plus, Irak memang berhasil menguasai wilayah-wilayah strategis Iran dalam serangannya itu. 

Namun, Iran enggan menyerah begitu saja & dalam perkembangannya berhasil memukul 

balik Irak. 

Problem bagi Iran dalam perang adalah dari segi alutsista atau persenjataan, mereka kalah 

superior dibanding Irak yang saat  itu memang merupakan salah satu negara dengan kekuatan 

militer terbaik di Timur Tengah selain Israel. Untuk mengantisipasinya, sejak perang meletus 

Iran merekrut ratusan ribu milisi sukarela yang disebut Basij (Tentara Rakyat). Basij tidak 

memiliki pengalaman militer & persenjataan yang memadai, namun mereka memiliki 

keyakinan sangat tinggi akan agamanya & tidak segan-segan melakukan tindakan berani mati 

semisal menerobos ladang ranjau atau area yang dihujani tembakan artileri musuh saat  

diperintahkan. 

Pasukan Irak di wilayah Iran dalam perkembangannya tidak bisa bergerak lebih jauh lagi 

sejak bulan Maret 1981 setelah pasukan mereka dikalahkan oleh milisi Basij yang jumlahnya 

mencapai ribuan di Sungai Kanun. Sejak itu, Irak lebih banyak melakukan taktik defensif  

untuk mempertahankan wilayah taklukan mereka & hanya terjadi sedikit  pergeseran di garis 

depan. Faktor utamanya adalah kesalahan prediksi di mana Irak memperkirakan warga Arab 

Sunni di Iran bakal membantu mereka. Namun faktanya, mereka bersama rakyat Iran lainnya 

justru bersatu dan bahu-membahu melawan Irak. 

Titik balik bagi Iran terjadi pada bulan Maret  1982 dalam operasi militernya di bawah kode 

sandi "Operasi Kemenangan yang Tak Dapat  Disangkal" (Operation Undeniable Victory). 

Dalam operasi militer tersebut , pasukan gabungan Pasdaran-Basij milik Iran berhasil 

menembus garis depan pasukan Irak yang sebelumnya dianggap tidak bisa ditembus & 

memecah pasukan Irak di utara & selatan Khuzestan sehingga pasukan Irak terpaksa mundur. 

Bulan Mei 1982, Iran berhasil merebut  kembali wilayah Khorramshahr. Dalam pertempuran 

memperebutkan wilayah tersebut , Irak kehilangan 7.000 tentara, sementara Iran 10.000 

sehingga menjadikan pertempuran itu sebagai salah satu pertempuran paling berdarah dalam 

inisiatif  serangan balik Iran. Sejak kemenangan tersebut , Iran berganti menjadi pihak yang 

menekan Irak dan pada bulan Juni berhasil mendapatkan kembali seluruh wilayahnya yang 

sebelumnya dikuasai oleh Irak. 

Saddan Hussein yang melihat  bahwa moral pasukannya sudah terlanjur runtuh akibat  

serangkaian kekalahan melawan Iran pun menyatakan akan segera menarik seluruh 

pasukannya dari Iran & menawarkan gencatan senjata kepada Iran. Tawaran gencatan senjata 

itu mencakup pembayaran ganti rugi perang sebesar 70 juta dollar AS oleh negara-negara 

Arab. Iran menolak tawaran gencatan senjata tersebut  sambil menyatakan bahwa mereka 

akan menyerbu Irak & tidak akan berhenti sampai rezim yang berkuasa di Irak digantikan 

oleh pemerintahan republik Islam. 

3.   Tahun 1982-1988 : Penyerbuan Oleh Iran 

Bulan Juli 1982, Iran melancarkan serangannya ke kota Basra, Irak, di bawah kode sandi 

"Operasi Ramadhan". Dalam serangan tersebut, puluhan ribu anggota Basij & Pasdaran 

mengorbankan diri mereka dengan berlari melewati ladang ranjau untuk memberi jalan bagi 

tank-tank di belakangnya di mana selain menghadapi bahaya ranjau, mereka juga dihujani 

tembakan artileri pasukan Irak. Irak berhasil mencegah Iran merengsek lebih jauh berkat 

ketangguhan persenjataannya di garis pertahanan, namun Irak juga harus kehilangan 

sejumlah kecil wilayah sebab  dikuasai Iran. 

Keberhasilan Iran memukul balik Irak & berbalik menjadi negara penyerbu membawa 

kekhawat iran tersendiri bagi AS yang kemudian memutuskan untuk membantu Irak sejak 

tahun 1982. Presiden AS, Ronald Reagan, menyatakan bahwa negaranya akan berusaha 

membantu dengan cara apapun untuk mencegah Irak kalah. Selain dari AS, dukungan untuk 

Irak juga datang dari Uni Soviet  & Liga Arab. Di lain pihak, Iran sendiri selama perang 

hanya mendapat dukungan secara terbuka dari Suriah & Libya. 

sebab  keberpihakan terang-terangan AS ke Irak, maka cukup mengejutkan ketika AS 

diketahui juga membantu Iran dengan jalan menjual persenjataan ke Iran secara diam-diam 

(dikenal sebagai skandal Iran-Contra). Henry Kissinger, salah satu tokoh penting Gedung 

Putih,  menyatakan bahwa AS merasa baik Irak & Iran sama-sama tidak boleh kalah untuk 

mencegah dominasi dari pihak pemenang di kawasan tersebut. Israel juga dikabarkan menjual 

persenjataan ke Iran secara diam-diam kendati kedua negara tidak lagi menjalin hubungan 

diplomatik pasca Revolusi Islam di Iran, namun Iran sendiri hingga sekarang selalu 

membantah kabar tersebut. 

Kembali ke medan perang, Iran berpikir bahwa Irak bisa direbut  dengan melacarkan 

serangan besar-besaran dari berbagai front. Maka pada tahun 1983, Iran melakukan 3 

penyerbuan besar yang disusul 2 penyerbuan lainnya dengan mengerahkan ratusan ribu 

personil tentaranya. Iran sempat  berhasil menembus garis pertahanan Irak, namun Irak 

berhasil memukul balik Iran dengan melakukan serangan udara mendadak secara besar-

besaran. Hingga akhir tahun 1983, tercatat  120.000 personil Iran & 60.000 personil Irak 

tewas dalam peperangan. 

Irak berusaha memaksa Iran menghentikan perang & menuju meja perundingan dengan 

berbagai cara. Di awal tahun 1984, Irak membeli sejumlah alutsista baru dari Uni Soviet  & 

Prancis. Tak lama kemudian, Irak melakukan serangan udara ke sejumlah kota dengan 

persenjataan barunya itu. Irak berharap Iran merasa tertekan & kemudian menerima tawaran 

dari Irak untuk berunding di tempat  netral, namun nyatanya Iran tetap menolak tawaran 

berunding dari Irak. 

Iran yang kehilangan begitu banyak personilnya akibat  sejumlah penyerbuan yang gagal 

sebelumnya belum mengendurkan serangan. Bulan Februari 1984, Iran menggelar "Operasi 

Fajar" (Operation Dawn) yang ditargetkan ke kota Kut  al-Amara dengan tujuan memotong 

jalur perairan yang menghubungkan Baghdad & Basra. Dalam operasi militer itu, Iran 

mengerahkan 500.000 personil Basij & Pasdaran. 

Pertempuran dalam Operasi Fajar sekaligus menjadi seperti head-to-head kekuatan militer 

yang dominan di masing-masing negara. Iran unggul jumlah tentara tapi kekurangan alutsista 

pendukung macam pasukan udara & artileri sehingga Iran banyak menjalankan taktik 

mengerubungi pertahanan musuh dengan tentara (human wave attack), sementara Irak kalah 

jauh dalam hal jumlah tentara tapi unggul dalam hal alutsista. Periode antara tanggal 29 

Februari hingga 1 Maret  merupakan salah satu episode pertempuran terbesar dalam Perang 

Irak-Iran di mana dalam pertempuran itu, masing-masing pihak kehilangan 20.000 

tentaranya. 

Iran kembali melancarkan agresi militer antara akhir Februari hingga Maret  1984 di bawah 

kode sandi "Operasi Khaibar" dengan memakai sejumlah serangan pendobrak ke Kota Basra. 

Agresi militer tersebut berujung keberhasilan pasukan Iran merebut  Pulau Majnun yang kaya 

minyak. Irak sempat  melancarkan serangan balik untuk merebut  wilayah tersebut , termasuk 

dengan memakai senjata kimia. Namun pasukan Iran tetap berhasil mempertahankan pulau 

tersebut  hingga menjelang akhir perang. 

Walaupun berada pada posisi tertekan, pada tahun 1985 Irak masih sempat  melakukan 

penyerbuan balik ke Iran dengan menyerang Tehran & kota-kota pent ing lainnya di Iran usai 

mendapatkan bantuan finansial dari negara-negara Arab sekutunya & bantuan alutsista 

terbaru dari Uni Soviet, Cina, & Perancis. Serangan Irak tersebut tidak membawa perubahan 

yang signifikan dalam alur peperangan sebab  sekalipun wilayahnya diserang, di tahun yang 

sama Iran tetap melakukan penyerbuan ke wilayah Irak di bawah kode sandi "Operasi 

Badar". 

4.   Tahun 1984-1988 : Perang Taker 

Tahun 1984, Irak yang baru mendapat  bantuan pesawat  tempur Super Etentard terbaru dari 

Perancis melakukan operasi militer di laut  mulai dari muara Shat t’ el-Arab hingga 

pelabuhan Iran di Bushehr. Target  dari operasi militer tersebut  adalah semua kapal yang 

bukan berbendera Irak di wilayah operasi militer, baik itu kapal berbendera Iran maupun 

kapal netral yang dari atau menuju Tehran. Tujuannya adalah untuk memblokade ekpsor 

minyak Iran & mempengaruhi ekonominya sehingga Iran mau berunding dengan Irak. 

Kebijakan militer Irak tersebut  lalu mengawali babak baru dalam perang yang dikenal 

sebagai "perang tanker". 

Jika ditelusuri, sebenarnya perang tanker sudah dimulai sejak tahun 1981 di mana pasukan 

laut  Irak saat  itu menargetkan titik- titik penting milik Iran di laut seperti pelabuhan & 

kilang minyak. Dalam operasi militernya di laut  tersebut, Irak lebih banyak memakai 

angkatan udaranya untuk melakukan serangan. "Perang tanker fase I" tersebut  berlangsung 

selama 2 tahun setelah baik Irak maupun Iran kekurangan armada kapal untuk meneruskan 

operasi militernya. Baru pada tahun 1984, Irak memutuskan untuk kembali melakukan 

operasi militer di laut  sekaligus mengawali babak baru "perang tanker fase II" 

Perang tanker fase II dimulai ketika Irak menyerang kapal berbendera Yunani di sebelah 

selatan Kepulauan Khark pada bulan Maret  1984. Iran lantas membalasnya dengan 

menyerang kapal-kapal berbendera Kuwait di dekat Bahrain & Arab Saudi di perairan Arab 

Saudi sendiri. Serangan tersebut sekaligus menjadi peringatan dari Iran bahwa jika Irak tetap 

nekat melanjutkan perang tanker, tak akan ada kapal milik negara Teluk yang bakal selamat. 

Suatu ancaman yang dampaknya tidak ringan sebab  berpotensi melumpuhkan aktivitas 

pengangkutan minyak mentah di kawasan tersebut. 

Upaya Irak untuk memblokade jalur transportasi minyak Iran gagal melumpuhkan ekonomi 

Iran sebab  ketika Irak memblokade kawasan teluk, Iran hanya memindahkan pelabuhannya 

ke Kepulauan Larak di dekat  Selat  Hormuz sehingga aktivitas ekspor minyaknya relatif  

tidak terganggu. Di lain pihak, justru Irak yang perekonomiannya terancam setelah Suriah, 

sekutu Iran saat itu memblokade pipa minyak Irak ke Mediterania sejak tahun 1982. Sebagai 

antisipasinya, Irak pun mengalihkan aktivitas ekspor minyaknya lewat Kuwait dan jalur pipa 

minyak baru dibangun melewati Laut  Merah serta Turki. 

5.   Tahun 1987-1988 : Ikut Campurnya Amerika Serikat (AS) 

Situasi perang tanker yang semakin membabi buta sebab  ikut  menargetkan kapal-kapal 

tanker dari negara-negara yang netral membuat  Kuwait  meminta bantuan pihak 

internasional pada tahun 1986. Uni Soviet adalah negara pertama yang merespon dengan 

mengirimkan kapal-kapal perangnya untuk mengawal kapal tanker Kuwait. Kebijakan Uni 

Soviet  lalu diikuti oleh AS pada tahun 1987 yang sebenarnya sudah didekati Kuwait  lebih 

dulu. 

Ikut campurnya AS dalam Perang Irak- Iran sebenarnya disebabkan sebab  kapal perangnya, 

USS Stark, tertembak oleh pesawat  tempur Irak sehingga 13 awak kapalnya meninggal. Irak 

meminta maaf  kepada AS sambil mengatakan bahwa itu adalah kecelakaan. Ironisnya, AS 

justru malah menyalahkan Iran dengan alasan Iranlah yang menyebabkan peperangan 

semakin berkobar & kemudian diikuti dengan tindakan AS untuk mengirim armada lautnya 

untuk mengawal kapal-kapal tanker milik Kuwait yang mengibarkan bendera AS. 

Tujuan utama AS dalam penerjunan armada lautnya di sekitar Teluk adalah untuk 

mengisolasi Iran & menjaga agar kapal-kapal bebas berlayar di sana. AS baru melancarkan 

serangan langsung ke Iran dengan menghancurkan kilang minyak Iran di ladang minyak 

Rostam setelah pasukan Iran menenggelamkan kapal tanker Kuwait  berbendera AS, Sea Isle 

City. Setahun kemudian, tepatnya bulan April 1988, AS kembali menyerang kilang minyak & 

kapal-kapal perang Iran setelah kapal perangnya, USS Samuel B. Roberts, tenggelam akibat  

ranjau laut  Iran. 

Tanggal 3 Juli 1988, kapal perang AS, USS Vincennes, menembak jatuh pesawat sipil Iran 

sehingga seluruh penumpang & awak pesawatnya tewas. AS berdalih kalau pasukannya salah 

mengira bahwa pesawat sipil tersebut adalah pesawat tempur Iran sebab  tidak 

mengidentifikasikan dirinya ke kapal perang sebagai pesawat sipil. Namun, klaim AS 

tersebut  dibantah oleh Iran dan sumber independen lainnya seperti bandara Dubai yang 

menyatakan kalau pesawat tersebut sudah mengidentifikasikan dirinya ke kapal AS sebagai 

pesawat sipil melalui radio. 

6.   Tahun 1988 : Gencatan Senjata dan Pasca Perang 

Antara bulan April hingga bulan Agustus 1988, arah pertempuran mulai kembali 

menguntungkan Irak setelah Irak berhasil meraih beberapa kemenangan penting atas Iran. 

Dalam pertempuran pada kurun waktu tersebut, Irak juga berhasil merebut sejumlah besar 

alutsista milik Iran & menguasai kembali Semenanjung Al-Faw serta Kepulauan Majnun 

yang kaya minyak. Iran yang mulai terdesak akhirnya mau menerima Resolusi Dewan 

Keamanan PBB 598 sehingga Perang Irak- Iran yang sudah berlangsung selama 8 tahun pun 

berakhir pada tanggal 20 Agustus 1988. 

Perang Iran- Irak membawa kerugian besar bagi kedua belah pihak, baik dari segi material 

dan korban jiwa. Jumlah kerugian material bagi masing-masing negara diperkirakan 

mencapai 500 juta dollar AS. Sebagai akibatnya, pembangunan ekonomi menjadi terhambat 

dan ekspor minyak kedua negara terganggu. Jumlah kerugian lebih besar harus ditanggung 

Irak yang selama perang memangaktif mencari pinjaman uang untuk menambah alutsista. 

Tidak diketahui secara pasti berapa jumlah korban tewas dalam Perang Irak-Iran. Beberapa 

sumber memperkirakan bahwa jumlah korban tewas Irak mungkin mencapai 200.000 jiwa 

lebih, sementara Iran mencapai 1 juta jiwa sebagai akibat dari taktik militer Iran yang banyak 

mengorbankan tentaranya untuk berhadap-hadapan langsung dengan moncong senjata 

musuh. Jumlah tersebut  belum termasuk mereka yang meninggal kemudian akibat  luka 

parah dan penyakit, termasuk akibat penggunaan senjata kimia Irak yang berdampak jangka 

panjang. 

Selain kerugian material dan korban jiwa, tidak ada perubahan berarti pasca perang. Wilayah-

wilayah yang menjadi bahan sengketa statusnya kembali seperti sebelum perang dan batas 

antara kedua negara juga tidak banyak berubah. Wilayah perairan Shatt al-Arab contohnya, 

tetap dibagi menjadi milik kedua negara dengan batasnya adalah titik terdalam pada perairan. 

Pasca perang, kedua negara juga melakukan perbaikan hubungan bilateral. 

 

C. Dampak Konflik Teluk 1 

a.    Dampak Negatif yang Ditimbulkan : 

1.   Dalam Bidang Ekonomi : 

 Perekonomian Irak mengalami kehancuran serta terkena blokade ekonomi dan sanksi 

dari PBB 

 Kerugian besar bagi kedua belah pihak, dari segi material jumlah kerugian material 

bagi masing-masing negara diperkirakan mencapai 500 juta dollar AS. 

  Jumlah kerugian lebih besar harus ditanggung Irak yang selama perang memang aktif 

mencari pinjaman uang untuk menambah persenjataan 

  Pembangunan ekonomi di kedua negara menjadi terhambat dan ekspor minyak kedua 

negara terganggu. 

 Produksi minyak yang menurun drastis mempenagruhi perekonomian dunia, 

khususnya bagi industri-indstri di dunia Barat dan Jepang. 

 Ladang minyak dari kedua negara mengalami kerusakan, untuk Irak di daerah Kirkuk, 

Basra dan Fao, sedangkan untuk Iran mengalami kerusakan di pulau Kharg dan 

Abadan. 

 

2.   Dalam Bidang Sosial : 

 Jumlah korban jiwa, jumlah korban tewas Irak mungkin mencapai 200.000 jiwa lebih, 

sementara Iran mencapai 1 juta jiwa sebagai akibat dari taktik militer Iran yang 

banyak mengorbankan tentaranya untuk berhadap-hadapan langsung dengan moncong 

senjata musuh. Jumlah tersebut belum termasuk mereka yang meninggal kemudian 

akibat luka parah dan penyakit, termasuk akibat penggunaan senjata kimia Irak yang 

berdampak jangka panjang. 

  Perpecahan di negara Arab memicu  rasa tidak nyaman dan suasana kehidupan 

sehari-hari yang tegang dan tercekang yang disebabkan adanya perperangan. 

 Irak yang menuduh Iran terlibat dalam percobaan pembunuhan terhadap Deputi 

Perdana Menteri Irak sehingga langsung mendeportasi ribuan warga Syi’ah berdarah 

Iran keluar dari Irak. 

3.   Dampak Bidang Politik : 

 Amerika Serikat semakin kuat pengaruhnya di Timur Tengah. 

 Adanya sikap anti USA dari pihak Irak (Amerika Serikat). 

 Proses jalannya pemerintahan di kedua negara menjadi kurang efisien dan terhambat 

sebab  adanya perang ini. 

4.   Dampak Bidang Kemiliteran : 

 Banyak korban peperangan ini tidak hanya dari non sipil namun juga dari kemiliteran 

di kedua negara yang banyak tewas dan luka-luka serta cacat fisik dalam peperangan 

ini. 

 Banyak persenjataan dan alat-alat kemiliteran yang digunakan pada peperangan ini 

rusak berat atau bahkan tidak dapat digunakan lagi. 

b.   Dampak Positif yang Ditimbulkan : 

o Selain kerugian materi dan korban jiwa, tidak ada perubahan berarti pasca perang. 

Wilayah-wilayah yang menjadi bahan sengketa statusnya kembali seperti sebelum 

perang dan batas antara kedua negara juga tidak banyak berubah. Wilayah perairan 

Shatt al-Arab contohnya, tetap dibagi menjadi milik kedua negara dengan batasnya 

adalah titik terdalam pada perairan. 

o Teknologi persenjataan perang yang canggih di antara kedua negara yang meningkat 

pesat sehingga berpengaruh positif bagi peningkatan persenjataan kemiliteran masing-

masing negara. 

 

D. pemicu  terjadinya Perang Teluk II 

Perang teluk II dimulai ketika Irak melakukan Invasi ke Kuwait pada tanggal 2 Agustus 

1990. Irak dengan strategi gerak cepat langsung menguasai Kuwait. Invasi yang dilakukan 

Irak ke Kuwait ini disababkan oleh kemerosotan ekonomi Irak setelah terjadiya Perang 

Delapan Tahun dengan Iran dalam Perang Irak – Iran. Akibat invasi ini, Arab Saudi meminta 

bantuan Amerika Serikat tanggal 7 Agustus 1990. Sebelumnya Dewan Keamanan PBB 

menjatuhkan embargo ekonomi pada 6 Agustus 1990. Amerika Serikat mengirimkan bantuan 

pasukannya ke Arab Saudi yang disusul negara-negara lain baik negara-negara Arab kecuali 

Syria, Libya dan Yordania serta Palestina. Kemudian datang pula bantuan militer Eropa 

khususnya Eropa Barat (Inggris, Perancis dan Jerman Barat), serta beberapa negara di 

kawasan Asia. 

Selain itu Invasi Irak ke Kuwait ini juga disebabkan oleh kemerosotan ekonomi Irak setelah 

Perang Delapan Tahun dengan Iran dalam perang Iran-Irak. Irak sangat membutuhkan petro 

dolar sebagai pemasukan ekonominya sementara rendahnya harga petro dolar akibat 

kelebihan produksi minyak oleh Kuwait serta Uni Emirat Arab yang dianggap Saddam 

Hussein sebagai perang ekonomi serta perselisihan atas Ladang Minyak Rumeyla sekalipun 

pada pasca-perang melawan Iran, Kuwait membantu Irak dengan mengirimkan suplai minyak 

secara gratis. Selain itu, Irak mengangkat masalah perselisihan perbatasan akibat warisan 

Inggris dalam pembagian kekuasaan setelah jatuhnya pemerintahan Usmaniyah Turki. 

 Sebab umum terjadinya perang: 

 Ambisi Saddam Husein untuk tampil sebagai orang yang dihormati di negara-negara 

Arab 

  Kuwait dituduh Irak mencuri minyak Irak di Padang Rumeila yang terletak di 

perbatasan kedua negara (dipersengketakan) 

 Kuwait menolak tuntutan Saddam untuk membayar ganti rugi dan memberikan daerah 

Rumailah dan Pulau Bubiyan. 

 Irak mengalami kerusakan infrastruktur ekonomi dan membengkaknya utang akibat 

Perang Teluk 1. 

 Penguasa Irak sering mengklaim Kuwait sebagai wilayah kekuasaannya, sebab  

perbatasan antara kedua negara tersebut tidak jelas. 

 Sebab Khusus terjadinya perang: 

 Terjadinya pelanggaran kuota minyak oleh Kuwait, Arab, dan Uni Emirat Arab 

sehingga produksi melimpah, akibatnya harga minyak anjlok. Irak yang waktu itu 

sangat mengandalkan pendapatan negara dari sektor minyak sangat terpukul dengan 

peristiwa ini. Irak waktu itu sedang membangun negaranya yang rusak akibat perang 

dengan Iran. Sumber dana diandalkan dari minyak sebab  irak merupakan negara 

penghasil minyak yang diandalkan negara lain 

 Adanya serangan Irak terhadap Kuwait tanggal 2 Agustus 1990 yang berhasil 

menduduki wilayah Kuwait. 

 

E. Proses Terjadinya perang Teluk II 

Pada awalnya Saddam mengira jika AS tidak akan menganggu agenda Irak tersebut 

mengacu pada dukungan sebelumnya pada Perang Persia I, akan namun  diluar dugaan, PBB 

dan AS menuntut Irak untuk hengkang dari wilayah Kuwait. Presiden Mesir, Hosni Mubarak 

pun mencoba menjadi penengah konflik antara Irak-Kuwait namun tidak berhasil. Ketika 

diplomasi tidak menemukan hasil, hanya dalam kurun waktu satu minggu AS berhasil 

membentuk pasukan koalisi berjumlah ribuan pasukan berpusat di Arab Saudi. 16 Januari 

1991, tentara AS beserta koalisi dibawah otoritas PBB menyerang wilayah Irak dan wilayah 

Kuwait yang diduduki Irak melalui serangan udara. 

Irak menanggapi dengan meluncurkan rudal Seud menuju pos-pos militer musuh, serta 

mengarahkan rudal kepada Israel dengan tujuan Tel Aviv, dengan maksud memancing Israel 

untuk ikut masuk dalam perang. Ini adalah taktik Saddam untuk membredel koalisi antara AS 

dan bangsa Arab. Dengan asumsi apabila Israel menjawab pancingan tersebut dan 

menerjunkan pasukan untuk ikut menggempur Irak, maka negara-negara Arab akan 

melepaskan diri dari koalisi akibat perang Arab-Israel yang masih berlarut-larut, sehingga 

kekuatan AS akan berkurang sebab hengkangnya bantuan bangsa Arab. Strategi ini tidak 

berhasil sebab  AS menjamin Israel aman dari jangkauan rudal Irak. Israel tidak menggubris 

pancingan Irak. 

Pada masa ini untuk memojokkan Irak, isu mengenai senjata biologis yang digunakan Irak 

untuk menyerang pasukan Iran kembali digulirkan setelah tidak digubris sama sekali. 

Sebelumnya kantor berita Iran, IRNA, menuduh bahwa Irak telah meluncurkan senjata kimia 

lainnya ke medan tempur sebelah selatan, dan melukai 600 tentara Iran. 

Senjata kimia itu adalah bis-(2-chlorethyl)-sulfide, atau lebih dikenal dengan sebutan gas 

mustard dan etil N, N-dimethylphosphoroamidocyanidate, gas saraf atau dikenal sebagai 

Tabun. Pada saat itu Kementrian Luar Negeri AS dalam laporannya tanggal 5 Maret 1984 

menyatakan, “Ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Irak menggunakan senjata kimia 

yang mematikan.” Akan namun  Rumsfeld yang berada di Baghdad tidak membicarakan 

masalah tersebut meskipun ada laporan dari Kementrian Luar Negeri AS. Sebaliknya, harian 

The New York Times pada edisi 29 Maret 1984 dari Baghdad memberitakan, “para diplomat 

Amerika menyatakan mereka puas dengan hubungan antara Irak dan Amerika Serikat dan 

menyarankan agar hubungan diplomatic secara formal dipulihkan.” Berita ini kembali 

diangkat untuk mendesak Irak dan memancing dukungan dari Iran, namun tidak berhasil. 

Setelah itu AS menggempur dengan serangan darat selama 3 hari dimulai 23 hingga 26 

Februari 1991 yang akhirnya memukul mundur pasukan Irak dari Kuwait. Akibat kelelahan 

menghadapi musuh yang tidak diduga, ditambah gejolak internal pemberontakan Syi’ah etnis 

Kurdi yang memanas membuat Irak semakin terdesak. Pada 27 February, George W. Bush 

memerintahkan gencatan senjata pada Irak. 3 Maret 1991 Irak mematuhi mandate AS dengan 

menerima Resolusi DK PBB 660, 662, dan 674 dan perang berakhir. 

Setelah kalah dalam perang menginvasi Kuwait, Irak mengalami beberapa konsekuensi yang 

haru dihadapi: 

1)   Sanksi ekonomi dan perdagangan internasional 

2)   Jumlah korban yang besar 

3)   Pelucutan persenjataan oleh PBB 

4)   memicu  pemberontakan dari Syi’ah dan etnis Kurdi untuk mendapatkan hak-

haknya yang selama ini dikekang oleh Saddam Hussein. Supreme Council of the Islamic 

Revolution in Irak (SCIRI) medapatkan dukungan lisan dari AS melalui pidato George W. 

Bush lewat radio untuk menggulingkan pemerintahan Saddam Hussein. Akan namun  pada 28 

Maret 1991 Saddam mengumumkan pemberontak Syi’ah Irak selatan dapat dikendalikan, 

kemudian menyusul 30 maret 1991 pada pemberontak Kurdi 

Sedangkan pihak aliansi yang mendukung Irak seperti Yaman dan PLO pun mengalami masa 

sulit setelah kekalahan perang Irak melawan Kuwait. Hubungan antara Yaman dan Arab 

Saudi memanas, dan PLO kurang mendapatkan bantuan kembali dari dunia Arab untuk 

memperjuangkan Palestina. 

Mengenai dukungan pada agenda perang Irak kali ini telah jelas menggambarkan bahwa baik 

AS maupun Liga Arab tidak mendukung kebjakan Saddam Hussein untuk menginvasi 

Kuwait. Hal ini didsampaikan melalui KTT Kairo pada Agustus 1990 dengan hasil 

musyawarah setuju untuk membentuk pasukan keamanan guna membantu angkatan 

bersenjata Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya. 

 

F. Dampak terjadinya Perang Teluk II 

Perang Teluk II yang berlangsung lebih singkat daripada Perang Teluk I, ternyata 

membawa akibat yang tidak kalah hebatnya dengan Perang Teluk I. Akibat-akibat itu sebagai 

berikut. 

1)   Ladang-ladang minyak Kuwait rusak berat sebab  dibakar oleh Irak. 

2)   Negara dan perekonomian Irak rusak berat sebab  gempuran tentara multinasional dan 

blokade ekonomi serta embargo yang diterapkan PBB. 

3)   Peranan Amerika Serikat semakin kuat di Timur Tengah. 

4)   Kekuatan Israel semakin tidak ada tandingannya. 

5)   Timbulnya semangat anti-Amerika. 

6)   Perpecahan negara-negara Arab. 

7)   Irak membayar ganti rugi. 

8)   Irak harus mengizinkan tim inspeksi nuklir PBB memeriksa nuklir Irak. 

9)   Irak kena embargo ekonomi. 

Setelah beberapa tahun krisis Kuwait berakhir, memasuki tahun 2002 terjadi konflik 

antara Irak dengan pihak Amerika Serikat. Melalui PBB, AS menuduh Irak telah 

mengembangkan senjata nuklir dan senjata pemusnahan massal lainnya. 

Beberapa penyidik yang dibentuk PBB diturunkan di Irak untuk membuktikan 

tuduhan tersebut. Mereka bergabung dalam United Nations Monitoring Verification 

Commision (UNMOVIC), yaitu tim inspeksi senjata PBB yang ditugaskan untuk menyelidiki 

adanya usaha pengembangan senjata pemusnah massal Irak. Pemimpin UNMOVIC adalah 

Hans Blix. 

Untuk kepentingan tersebut PBB mengeluarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 

1441 pada tanggal 18 November 2002. Isi resolusi tersebut adalah menuntut Orak untuk 

mengizinkan dan memberikan akses sepenuhnya kepada UNMOVIC dan International 

Atomic Energy Agency (IAEA) atau Badan Energi Atom Internasional, untuk meneliti segala 

hal yang berkaitan dengan persenjataan yang dimiliki Irak. 

 

  

Perang Teluk I antara irak dan iran ini terjadi sebab  adanya Perseteruan historis 

antara negeri Mesopotamia (sekarang Iraq), dengan Persia (sekarang Iran). Antara lain yaitu 

masalah ketegangan akibat ketatnya persaingan, menoritas etnis, dan juga orientasi politik 

luar negeri yang berbeda dan juga Sengketa atas Sungai  Shatt al-Arab dan Khuzestan yang 

kaya akan hasil minyaknya. Hasil minyak ini sangat menguntungkan dan memicu  daya 

tarik setiap negara selain itu Munculnya Revolusi Islam di Iran yang notabene Saddam 

Hussein ialah Anti Iran ini juga ikut mempengaruhi terjadinya Perang Teluk I ini serta 

Percobaan Pembunuhan Terhadap Pejabat Irak yang juga ikut mempengaruhi terjadinya 

perang Teluk I ini antara iran dan irak. 

Kemudian terkait dengan jalannya perang Teluk I ini, maka di bagi menjadi beberapa 

periode yaitu yang pertama Periode Tahun 1980-1982 ( Penyerbuan oleh Irak ) yaitu Irak 

melakukan berbagai serangan terhadap Iran guna menguasai wilayah dan mencegah Revolusi 

Islam Iran.yang kedua Periode Tahun 1982-1984  ( Titik Balik  Mundurnya Irak ) yaitu Iran 

tidak tinggal diam. Iran balas melancarkan berbagai Operasi militer untuk membalas 

serangan-serangan dari Irak. Dan hal tersebut telah berhasil memukul mundur tentara militer 

Irak.yang ketiga Periode Tahun 1984-1988  ( Perang Tanker ) yaitu Tahun 1984, berkat 

bantuan pesawat tempur Super Etentard terbaru dari Perancis, Irak melakukan operasi militer 

di laut mulai dari muara Shatt el-Arab hingga pelabuhan Iran di Bushehr. Target dari operasi 

militer tersebut adalah semua kapal yang bukan berbendera Irak di wilayah operasi militer. 

Tujuannya adalah untuk memblokade ekpsor minyak Iran dan mempengaruhi ekonominya 

sehingga Iran mau berunding dengan Irak.yang keempat Periode Tahun 1987-1988 ( Ikut 

Campurnya AS ).dan yang terakhir adalah Periode Tahun 1988 (Gencatan Senjata) yaitu 

Perang akhirnya berakhir setelah Iran menerima Resolusi Dewan Keamanan PBB 598 dan 

secara resmi mengakhiri perang yang sudah terjadi selama 8 tahun pada tanggal 20 Agustus 

1988. 

Dampak Kerugian Perang Irak-Iran ini, antara lain Kerugian besar bagi kedua belah 

pihak, dari segi material jumlah kerugian material bagi masing-masing negara diperkirakan 

mencapai 500 juta dollar AS. Jumlah korban jiwa, jumlah korban tewas Irak mungkin 

mencapai 200.000 jiwa lebih, sementara Iran mencapai 1 juta jiwa sebagai akibat dari taktik 

militer Iran yang banyak mengorbankan tentaranya untuk berhadap hadapan langsung dengan 

moncong senjata musuh.Jumlah tersebut belum termasuk mereka yang meninggal kemudian 

akibat luka parah dan penyakit, termasuk akibat penggunaan senjata kimia Irak yang 

berdampak jangka panjang. Jumlah kerugian lebih besar harus ditanggung Irak yang selama 

perang memang aktif mencari pinjaman uang untuk menambah persenjataan.Pembangunan 

ekonomi menjadi terhambat dan ekspor minyak kedua negara terganggu. 

Perang Teluk II yaitu Invasi Irak ke Kuwait ini disebabkan oleh kemerosotan ekonomi 

Irak setelah Perang Delapan Tahun dengan Iran dalam perang Iran-Irak. Irak sangat 

membutuhkan petro dolar sebagai pemasukan ekonominya sementara rendahnya harga petro 

dolar akibat kelebihan produksi minyak oleh Kuwait serta Uni Emirat Arab yang dianggap 

Saddam Hussein sebagai perang ekonomi serta perselisihan atas Ladang Minyak Rumeyla 

sekalipun pada pasca-perang melawan Iran, Kuwait membantu Irak dengan mengirimkan 

suplai minyak secara gratis. Selain itu, Irak mengangkat masalah perselisihan perbatasan 

akibat warisan Inggris dalam pembagian kekuasaan setelah jatuhnya pemerintahan 

Usmaniyah Turki. 

Proses terjadinya Perang Teluk II yaitu Tanggal 2 agustus 1990, dibawah komando 

pemerintahan saddam hussein irak dengan 100.000 tentaranya menyerang kuwait yang saat 

itu hanya memiliki tentara 20.000 dapat dengan mudah dikuasai tanpa perlawanan yang kuat. 

Penguasa kuwait Ahmad El Sabah terpaksa melarikan dirinya ke Arab Saudi untuk meminta 

pertolongan.Invasi tersebut benar benar di tentang oleh dunia internasional, terbukti dalam 

konferensi di Cairo, Liga Arab mengeluarkan pernyataan bahwa Irak harus segera menarik 

mundur pasukannya dari Kuwait. Pada tanggal 8 Agustus 1990, AS, Inggris, Perancis, 

Australia dan negara Liga Arab pun melakukan Operasi Perisai Gurun (Desert Shield 

Operation). Namun operasi ini belum sampai menyerang irak yang berada di daerah kuwait, 

dan operasi ini pun diganti menjadi Operasi Badai Gurun (Desert Storm Operation) dibawah 

jendral Norman Schwarzkopf (AS). Operasi ini membuat Irak dibombardir oleh pesawat-

pesawat pasukan koalisi. Dalam perang tersebut terjadi unjuk persenjataan. Pihak koalisi 

menjatuhkan rudal Patriot untuk menangkal rudal-rudal Scud milik Irak. Rudal juga 

ditembakkan ke ibu kota Israel, Tel Aviv, sebab  Irak mencurigai Israel terlibat dalam 

serangan kenegaraannya. 

Perang Teluk II yang terjadi antara irak dan kuwait membawa beberapa dampak 

negatif yaitu Ladang-ladang minyak Kuwait rusak berat sebab  dibakar oleh Irak dan Negara 

dan perekonomian Irak rusak berat sebab  gempuran tentara multinasional dan blokade 

ekonomi serta embargo yang diterapkan PBB serta Peranan Amerika Serikat semakin kuat di 

Timur Tengah.Kekuatan Israel semakin tidak ada tandingannya.Timbulnya semangat anti-

Amerika.Perpecahan negara-negara Arab.Irak membayar ganti rugi.Irak harus mengizinkan 

tim inspeksi nuklir PBB memeriksa nuklir Irak dan juga Irak kena embargo ekonomi.