luas yang kemudian disebut Sundaland itu muncul di atas permukaan. Semenanjung
bergabung membentuk daratan yang amat luas. Dalam bidang Geologi, daratan
area dengan luas kurang lebih mencapai 1.85 juta km2. Menurut Ilmu bumi itu,
sejarah Sundaland adalah rangkaian panjang dari pergerakan tektonik yang terjadi
selama berjuta-juta tahun yang lalu.
ratus tahun, tapi puluhan juta tahun. Sundaland dianggap sebagai bagian dari
Lempeng Benua Eurasia. Paparan wilayah yang hari ini menjadi separuh dari
seluruh wilayah Asia Tenggara, terbentuk akibat serangkaian aktivitas tektonik dan
vulkanik beribu-ribu tahun yang lalu, beserta erosi dan konsolidasi runtuhan batu
lempeng Eurasia di Asia Tenggara. Kedalaman laut yang berada di Paparan Sunda
laut yang kuat. Tebing-tebing curam di bawah laut kemudian memisahkan Paparan
lempeng benua Eurasia.
Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, serta Sulawesi di Indonesia, dan juga kepulauan
Filipina di bagian barat dan Palawan seta Kepulauan Sulu.
tektonik dan aktif secara seismik. Hanya batas bagian utara yang relatif diam.
Yang-tze, disebut juga sebagai Western Margins.
Paleozoikum dan beramalgamasi dengan Blok Asia pada Periode Trias. Sumatera,
terintrusi oleh granit. Setelah Periode Trias ini berakhir, terjadi subduksi ke arah
barat pada Lempeng Pasifik pada bagian Asia Timur. Proses subduksi ini
berlangsung hingga Akhir Kapur. Hasil subduksi ini menghasilkan prisma akresi
Periode Jura. Blok Jawa Timur dan Sulawesi Barat bersatu dengan Asia Tenggara
dengan Sumatera. Setelah proses ini berlangsung, Semenanjung Malaya dan
intensif. Subduksi ini mengakibatkan pengangkatan Sundaland dicirikan dengan
adanya ketidakselarasan regional (Clements, 2011). Batuan yang berada di atas
endapan lingkungan laut dalam.
dan Australia. Hasil tumbukan ini menghasilkan promontory deretan pegunungan
yang menjurus ke utara. Deretan pegunungan tersebut menjalar dari Sumatera
hingga Thailand. Sebelumnya, pada Periode Tengah Kapur, tidak terjadi subduksi
sehingga tidak ada aktivitas vulkanik pada periode tersebut.
berlangsung tersebut berhenti pada Periode Akhir Kapur. Subduksi tersebut
berlanjut kembali ketika Eosen, bersamaan dengan Australia yang mulai bergerak ke
arah Utara dengan cepat. Subduksi yang dipicu oleh pergerakan Australia tersebut
Sumatera dan Jawa.
Sundaland dengan Australia pada Awal Miosen. Kemudian hal ini diikuti dengan
tumbukan Utara Borneo dengan batas kontinen Tiongkok Selatan. Tumbukan ini
menghasilkan deretan pegunungan di Sulawesi, Busur Banda, dan Kalimantan. Hal
ini juga diikuti dengan kedatangan busur-busur di Pasifik ke Indonesia Timur yang
berdampak pada munculnya kepulauan di Indonesia Timur.
Geologi Indonesia
Kerangka Materi
• Teori perkembangan Sundaland
• Teori Rotasi Sundaland
• Implikasi Interaksi konvergen yang serong
Teori pembentukan Sundaland
1. sebagai gelang-gelang jalur subduksi yang
berkembang semakin muda kearah barat daya-
selatan dan kearah utara ( menurut katili)
2. sejak awal merupakan bagian dari benua asia
3. sebagai amalgamasi unsur-2 berasal dari benua
asia dan gondwana
1. Sebagai gelang-gelang Jalur Subduksi
SEJAK JAMAN PERM,
TERJADI INTERAKSI KONVERGEN
DARI ARAH SELATAN
(LEMPENG HINDIA-AUSTRALIA),
DAN DARI UTARA KE SELATAN
(LEMPENG L.CHINASELATAN),
MEMBENTUK JALUR-2 SUBDUKSI DAN
MAGMATIK YANG BERKELANJUTAN
DAN SEMAKIN
MUDA KEARAH SELATAN
DAN UTARA (GAMBAR)
2. sejak awal merupakan bagian dari benua asia
2 SEJAK AWAL MERUPAKAN
BAGIAN DARI
BENUA ASIA
1 INDIA BERGERAK KE
UTARA DENGAN
V 15 - 20 CM/TH
SEJAK 70 - 55 MA DARATAN SUNDA MERUPAKAN BAGIAN
DARI ASIA TENGGARA, DIKELILINGI OLEH JALUR-2
SUBDUKSI ANTARA LP.HINDIA-AUSTRALIA DI SELATAN
DAN LP.PASIFIK DI UTARA
3. sebagai amalgamasi unsur-2 berasal dari
benua asia dan gondwana
• Bagian barat dan timur Sumatra memiliki batuan yang
berbeda umur serta asalnya.
• Bagian barat Sumatra memiliki batuan sedimen
paleozoikum berumur Karbon hingga Trias, serta batuan
volkanik berumur Permian yang berafinitas Cathaysian.
Bagian barat ini diinterpretasikan sebagai bagian dari blok
Indochina-East Malaya yang berpisah dari Gondwana pada
Devon dan pada Karbon memiliki iklim tropis.
• Sedangkan bagian timur Sumatra, terdiri dari batuan
sedimen Karbon diamictite atau pebbly mudstone yang
diinterpretasikan sebagai endapan glacio-marine.
Mengindikasikan iklim yang dingin. Bagian timur ini
diinterpretasikan sebagai bagian dari blok Sibumasu di
selatan bumi pada umur Karbon, kemudian berpisah dari
Gondwana pada Permian, dan berkolisi, beramalgamasi
dengan blok Indochina-East Malaya pada umur Trias.
Growth of the Indonesian region. Collision between the Sibumasu and East Malaya-Indochina
blocks occurred in the Triassic. Additional crust has been added to this Sundaland core, largely
by later collisions of continental blocks. The present-day zone of active deformation is shaded
yellow. Grey areas within this complex plate-boundary zone are areas underlain by Cenozoic
ocean crust.
Hall, 2009
Teori Rotasi Sundaland
1. Model Non-rotasional (Asikin, 1974; Katili, 1975;
Hamilton, 1979)
2. Model Rotasional Clockwise (Daly dkk., 1991)
3. Model Rotasional Counter-Clockwise (misal:
Davies, 1984, 1987; Hall, 1996, 2001, 2002, 2012)
1. Model Non-rotasional
• Evolusi tektonik Indonesia
bagian barat mulai dari
zaman Kapur hingga sekarang
yang ditandai oleh
berpindahnya zona subduksi
ke arah selatan
(Asikin, 1974)
2. Model Rotasional
Clockwise
Daly dkk. (1991)
3. Model Rotasional
Counter-Clockwise
• Davies (1984, 1987) mengungkapkan bahwa selama
tersier Sundaland telah mengalami gerak rotasi ke-
arah yang berlawanan dengan gerak jarum jam
sebanyak 42 ° pada oligosen akhir dan mengalami
rotasi kembali pada miosen tengah
• Sebagai akibat dari proses regangan dan
pemekaran kerak di cekungan thai dan malaya
• Pada saat kedudukan sumatra membuat sudut
lancip dengan arah interaksi ( < dari 45° ),
terbentuk sesar medatar ( strike-slip ),
• Setelah kedudukannya hampir 90° (tegak lurus),
interaksi konvergen membentuk palung (trench).
SUMATRA
MALAYA
3. Model Rotasional
Counter-Clockwise
Hall (1996)
KONSEP TEKTONIK
EKSTRUSI DARI
TAPPONNIER 1982
• Model Tapponier (1982) tentang Tektonik Ekstrusi,
menyatakan terdapat pergeseran bagian Asia Timur
ke arah timur dan tenggara sejauh 800 – 1000 km
melalui sesar mendatar “Red River” akibat
benturan India dengan Asia.
• Benturan ini disertai dengan rotasi 25 ° dari
Indochina dan Sundaland searah jarum jam.
Implikasi Interaksi konvergen yang serong
• Pola struktur dan tektonik di Sumatra merupakan
produk interaksi konvergen antara lempeng India-
Australia dengan Eurasia.
• Karena konvergen yang terjadi bersifat tidak tegak
lurus/serong, maka terbentuk pola-pola struktur
perpaduan antara subduksi dan strike-slip.
• Pola subduksi pembentukan prisma akresi di
sebelah barat Sumatra terdiri dari mélange.
• Pola strike-slip memotong seluruh pulau
Sumatra, membentuk zona sesar yang kompleks,
membentuk cekungan dan tinggian.
Bend/stepover
Koning, 1985
JALUR AKRASI YANG LEBAR TERBENTUK AKIBAT
INTERAKSI KONVERGEN YANG SERONG.
POLA STRUKTUR DAN
PERKEMBANGAN TEKTONIK
YANG KOMPLEK DI SUMATRA
UTARA DAN DI JALUR AKRASI :
IAGI, 2000
Sejarah Kawasan Barat Indonesia
• Indonesia bagian barat, terutama Pulau Sumatra
dan Kalimantan memiliki batuan tertua yang ada di
Indonesia. Batuan tertua ini menjadi basement bagi
cekungan-cekungan yang kelak akan berkembang.
• Basement di Sumatra secara geologi merupakan
kemenerusan dari Semenanjung Malaysia dan
merupakan singkapan batuan Paleozoikum dan
Mesozoikum yang tersingkap secara luas.
• Batuan sedimen tertua yang didating di permukaan
memiliki umur Karbon. Akan tetapi di bawah
permukaan berdasarkan hasil pengeboran di Selat
Malaka memiliki umur Devon, dan granit dari
pengeboran Sumatra Tengah memiliki umur
Silurian.
• Bagian barat dan timur Sumatra memiliki batuan yang
berbeda umur serta asalnya.
• Bagian barat Sumatra memiliki batuan sedimen
paleozoikum berumur Karbon hingga Trias, serta batuan
volkanik berumur Permian yang berafinitas Cathaysian.
Bagian barat ini diinterpretasikan sebagai bagian dari blok
Indochina-East Malaya yang berpisah dari Gondwana pada
Devon dan pada Karbon memiliki iklim tropis.
• Sedangkan bagian timur Sumatra, terdiri dari batuan
sedimen Karbon diamictite atau pebbly mudstone yang
diinterpretasikan sebagai endapan glacio-marine.
Mengindikasikan iklim yang dingin. Bagian timur ini
diinterpretasikan sebagai bagian dari blok Sibumasu di
selatan bumi pada umur Karbon, kemudian berpisah dari
Gondwana pada Permian, dan berkolisi, beramalgamasi
dengan blok Indochina-East Malaya pada umur Trias.
Sumatra pada Umur Mesozoikum
• Kolisi blok Sibumasu dan Indochina-East Malaya
merupakan tahap awal dari pembentukan Indonesia.
• Di Sumatra, sedimen berumur Mesozoikum sangat
terbatas/jarang ditemukan. Hal ini diinterpretasikan
sebagai kondisi Sundaland selama Mesozoikum
tersingkap ke permukaan.
• Selama Mesozoikum, di Sumatra diinterpretasikan
terdapat deformasi yang mereorganisasikan kerak
benua yang ada, kemungkinan oleh Sesar Strike-Slip di
bagian active margin.
• Pada umur Jura - Kapur, isotopic dating menunjukkan
terdapat adanya beberapa aktivitas magmatisme granit
yang merupakan hasil dari subduksi tipe Andean.
Kolisi Kalimantan pada Umur Mesozoikum
• Bagian baratdaya Kalimantan bisa jadi merupakan
bagian paling timur dari Sundaland pada umur
Trias, atau merupakan kerak benua yang
ditambahkan pada Kapur Awal, pada sebuah suture
yang mengarah ke Selatan dari Kepulauan Natuna.
• Umur Paleozoikum dicirikan dari batuan Metamorf
berumur Karbon hingga Permian. Meskipun
terdapat bongkahan batugamping berumur Devon
di sungai bagian timur Kalimantan.
• Intrusi granit berumur Kapur, mengintrusi batuan
metamorf di Pegunungan Schwaner yang terletak di
baratdaya Kalimantan.
Sejarah Tektonik Sundaland
Sundaland merupakan istilah geologi untuk menyebut daerah di semenanjung asia tenggara meliputi
semenanjung Malaka, Pulau Kalimantan, Pulau Sumatra, dan Pulau Jawa. Istilah sundaland ini juga dikenal
sebagai sunda shelf (Paparan Sunda) (gambar 1).
Gambar 1. Lokasi Sundaland dan tektonik yang berkembang saat ini menyatakam bahwa sundaland ini dibatasi oleh palung jawa dan
palung sumatra yang berasal dari subduksi benua indo – australia ke dalam benua asia di bagian selatan dan
bagian barat disebut juga sebagai Western Margins. Sedangkan pada bagian utara dibatasi oleh Laut Cina
Selatan dan Indocina. Pada bagian timur dibatasi oleh Kalimantan Timur , Selat Makassar dan Jawa Timur
disebut juga sebagai Eastern Margins. Peristiwa tektonik yang besar terjadi pada saat tersier dapat dibagi atas 2
tektonik besar yaitu pemisahan lempeng india dan afrika yang bergerak ke arah utara pada saat akhir kapur dan
berlanjut dengan kolisi india dengan benua eurasia pada saat 50 juta tahun yang lalu.
Evolusi Tektonik Sundaland
Pembentukan tektonik dari Sundaland tidak terlepas dari sejarah tektonik yang terjadi. Menurut
Hutchison (1973) Evolusi Tektonik yang terjadi dapat dibagi beberapa bagian
a. Pada Zaman Karbon – Perm
Subduksi terjadi di sebelah barat Sumatera yang menghasilkan batuan vulkanik dan piroklastik dengan
komposisi berkisar antara dasit sampai andesit di daerah yang membentang di Dataran Tinggi Padang, Batang
Sangir dan Jambi Batuan intrusif yang bersifat granitik
terbentuk di Semenanjung Malaysia, melewati Pulau Penang, dan diperkirakan menerus ke Kepulauan Riau
Sketsa tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Zaman Karbon Akhir
sampai Perm Awal
b. Pada Zaman Perm – Trias Awal
Pada Zaman Perm, tidak ada perubahan penyebaran keterdapatan batuan plutonik dan
volkanik dari Karbon Akhir. Sistem busur-palung yang bekerja di Sumatra masih tidak
mengalami perubahan (Gambar 2 dan 3). Batuan volkanik dan piroklasik berkomposisi
andesitik sampai riolitik menyebar di bagian barat dari Sumatera Tengah.
Gambar 3. Sketsa tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Zaman Perm sampai Trias
Awal
c. Pada Zaman Trias Akhir Jura Awal
Dari Trias Akhir sampai Jura Awal, subduksi di Sumatra terus berlangsung dan
menghasilkan kompleks ofiolit Aceh di bagian utara dan kompleks ofiolit Gumai-Garba di
selatan. Kedua ofiolit ini berumur
Trias.
Gambar 4. Sketsa tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Zaman Trias Akhir sampai
Jura Awal
Pada Jura Tengah sampai Kapur Tengah, terjadi pengangkatan di wilayah Semenanjung
Malaysia, menyebabkan perubahan lingkungan sedimentasi pada daerah ini dari
lingkungan laut menjadi lingkungan darat, ditandai dengan endapan tipe molasse dan
sedimentasi fluviatil. Volkanisme di kawasan Sumatra dan sekitarnya kurang aktif pada
selang waktu ini. Selama Jura dan Kapur, kawasan Sumatra dan sekitarnya terkratonisasi, dan
sistem pensesaran strike slip terbentuk (Tjia et. All, 1973; dalam Hutchison, 1973).
Pensesaran strike slip ini akibat dari tumbukan lempeng Indian dengan Eurasia.
d. Pada Zaman Kapur Akhir – Tersier Awal
Pada Kapur Akhir, zona subduksi bergerak ke arah barat Sumatra, sepanjang pulau-pulau
yang saat ini berada di barat Sumatra seperti Siberut. Ofiolit dari subduksi ini sendiri oleh
Bemmelen (1949; dalam Hutchison, 1973) diperkirakan berumur Kapur Akhir sampai Tersier
Awal.
Di bagian utara Sumatra terdapat Intrusi Granitik Tersier sedangkan di selatan terdapat
Adesit Tua dan Intrusi Granit Miosen Awal. Pola dari sistem palung busur di Sumatra pada
saat itu digambarkan pertama kali oleh Katilli (1971; dalam Hutchison, 1973) seperti pada
gambar 5. Subduksi yang berada di barat Sumatra menerus ke selatan Jawa Barat, lalu
berbelok ke timur laut menuju arah Pegunungan Meratus di Kalimantan Timur.
Gambar 6. Sketsa tektonik Sundaland dan sekitarnya pada saat ini
Sedangkan berdasar rekronstruksi Hall dkk. (2009) evolusi Sundaland dapat
dibagi menjadi beberapa bagian antara lain:
a. Pada Jurasic Akhir (150 MA)
Diperkirakan Blok Banda yang sebelumnya bergabung dengan Gondwana terpisah dan
menjauhi Sula Spur. Blok Argo lalu terpisah kemudian melalui proses pemekaran
(spreading).
Pemekaran berkembang ke barat menerus sampai pada margin dari Greater India 2. Busur
kepulauan dan fragmen-fragmen benua bergerak menjauh dari Gondawa sebagai hasil
darirollback dari subduksi ( Gambar 7).
Gambar 7. Sketsa Tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Jura Akhir (150 MA) (Hall dkk.
2009)
b. Pada Kapur Awal (135 MA)
Kemudian pada 135 juta tahun yang lalu (Kapur Awal – Gambar 8), India mulai
terpisah dari Australia dan Papua yang masih bergabung dengan Antartika. Pemekaran di
Ceno Tethys memiliki orientasi rata-rata NW-SE. Blok Argo dan Busur Woyla bergerak ke
Asia Tenggara.
Gambar 8. Sketsa Tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Kapur Awal (135 MA)
(Hall dkk. 2009)
c. Pada Kapur Awal (110 MA)
Sekitar 25 juta tahun kemudian (Kapur Awal – Gambar 9) India terpisah dari
Australia. Blok Argo mendekati Sundaland dan pemekaran pada Ceno-Tethys yang
berarah NW-SE berhenti. Pusat pemekaran antara India-Australia berkembang ke arah utara.
Terjadi subduksi di bagian selatan Sumatra dan tenggara Kalimantan.
Gambar 9. Sketsa Tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Kapur Awal (110 MA) (Hall dkk.
2009)
d. Pada Kapur Tengah (90 MA )
Pada 90 juta tahun yang lalu (Kapur Tengah – Gambar 10), Blok Argo mendekati
Kalimantan sebelah barat laut Kalimantan dan Busur Woyla mendekati tepian Sumatra.
Koalisi-koalisi ini menyebabkan subduksi yang berlangsung sebelumnya berhenti. India
terus bergerak ke utara melalui subduksi pada Busur Incertus. Australia dan Papua mulai
bergerak perlahan menjauhi Antartika.
Gambar 10. Sketsa Tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Kapur Tengah (90 MA) (Hall
dkk. 2009)
e. Pada Kapur Akhir ( 70 MA)
Pada Kapur Akhir, India bergerak cepat ke utara dikarenakan pemekaran yang cepat di
bagian selatan dan terbentuk sesar-sesar tranform. Tidak ada pergerakan yang signifikan
antara Australia dengan Sundaland serta tidak terjadi subduksi di bawah pulau Sumatra dan
Jawa (Gambar 11).
Gambar 11. Sketsa Tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Kapur Akhir (70 MA) (Hall
dkk. 2009)
f. Pada Eosen Awal ( 55 MA)
Sekitar 55 juta tahun yang lalu (Eosen Awal – Gambar 12), pergerakan Australia-
Sundaland menyebabkan terbentuknya subduksi sepanjang barat tepi Sundaland, di bawah
Pulau Sumba dan Sulawesi Barat, dan mungkin menerus ke utara. Batas antara lempeng
Australia-Sundaland pada bagian selatan Jawa merupakan zona strike-slip sedangkan pada
selatan Sumatra berupa zona strike-slip tangensional. Busur Incertus dan batas utara dari
Greater India bergabung dan terus bergerak ke utara.
Gambar 12. Sketsa Tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Eosen Awal (55 MA) (Hall dkk.
2009).
g. Pada Miosen Tengah ( 45 MA)
Pada 45 juta tahun yang lalu (Miosen Tengah – Gambar 13), Australia dan Papua mulai
bergerak dengan cepat menjauhi Antartika. Terbentuk cekungan di sekitar daerah Celebes
dan Filipina serta jalur subduksi yang mengarah ke selatan pada proto area Laut Cina Selatan.
Pada 35 juta tahun yang lalu , daerah Sundaland mulai berotasi berlawanan dengan arah
jarum jam, bagian timur Kalimantan dan Jawa secara relatif bergerak ke utara. Rotasi ini
berlangsung disebabkan karena adanya interaksi lempeng India ke Asia.
Gambar 13. Sketsa Tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Eosen Tengah (45 MA)
h. Pada pada 15 juta tahun yang lalu (Miosen Tengah – Gambar 14), bagian kerak samudra
pada Blok Banda yang berumur lebih tua dari 120 juta tahun yang lalu mencapai jalur
subduksi pada selatan Jawa. Palung berkembang ke arah timur sepanjang batas lempeng
sampai bagian selatan dari Sula Spur. Australia dan Papua mendekat ke posisi sekarang ini
dan lengan-lengan dari Sulawesi mulai bergabung.
Gambar 14. Sketsa Tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Miosen Tengah (15 MA)
berdasar data Geologi evolusi tektonik sundaland merupakan gabungan dari sisa – sisa
fragment dari benua gondwana yang terpisah akibat spreading. Bagian – bagian ini kemudian
bergabung dengan sebagian dari benua Eurasia. Selain itu pergerakan dari Fragment Benua
Gondwana mengakibatkan subduksi di selatan Eurasia berubah pergerakanya. Kemudain
akibat dari collision benua Eurasia dan lempeng India mengakibatkan terjadinya sesar – sesar
dan rotasi yang berlawanan dengan arah jarum jam.