Selasa, 14 Juli 2026

misteri tibet 4


 ta dari tuan rumahku

ini sebenarnya tak lari dari semua tanggung jawab, bahkan ia sangat yakin akan mempu

membangun rumah yang layak dari penghasilannya sebagai seorang ahli ilmu gaib.

Namun dengan berbuat demikian, bukankah ia akan menjadi rival ayahnya? Walaupun sang lhama

tua tak mengemukakan pikirannya, namun aku dapat membaca ekspresi di wajahnya bahwa ia

takut untuk berkompetisi dengan putra keras kepalanya yang menolak untuk menyenangkan

seorang wanita empat puluh tahun yang sehat dan kuat, dan mungkin juga tak begitu jelek.

Aku tak dapat memperdebatkan hal ini sebab  ciri-ciri sang istri tersembunyi di balik lapisan

mentega yang tebal dan jelaga, yang membuatnya sehitam orang negro.

“Apa yang harus dilakukan di dunia ini?” keluh ibu yang sudah tua dari keluarga ini.

Aku tak berpengalaman dalam hal yang demikian. Walau aku pernah bertemu dengan wanita

berpoliandri di Barat, namun sesuai peraturan, tak ada pertemuan keluarga untuk menyelesaikan

keruwetan yang timbul akibat skandal mereka. Dan di sepanjang perjalananku, aku hanya pernah

67

dimintai nasehat oleh seorang pria berpoligami yang rumahnya telah menjadi arena peperangan.

sebab  poligami juga diizinkan di Tibet, maka aku mengusulkan untuk membujuk sang lhama muda

agar membawa pengantinnya tinggal di rumah.

Untunglah, saat itu aku mengenakan jubah biara yang terhormat, yang dapat mencegah istri yang

pencemburu dan telah diremehkan itu, menyerang diriku.

“Nona yang terhormat,” kata si ibu tua sambil menangis, “Anda tidak tahu bahwa menantu kami

pernah ingin mengirim pelayannya untuk memukul anak gadis itu dan menodainya. Kami berusaha

keras mencegahnya melakukan hal itu. Bayangkan, jika orang dalam peringkat kami melakukan hal

yang demikian! Kami takkan dihormati lagi!”

Aku tak dapat berkata-kata lagi, kemudian kukatakan bahwa sudah tiba waktu meditasi malamku

dan aku meminta izin untuk beristirahat di kapel pribadi yang dipinjamkan sang lhama padaku untuk

bermalam.

Saat aku meninggalkan ruangan, aku sempat memperhatikan putra termuda, seorang jejaka

delapan belas tahun, suami nomor empat. Dia sedang duduk di sudut yang gelap dan tengah

memandangi istri milik umum itu dengan setengah tersenyum, seolah-olah ia berkata: “Tunggu

sebentar lagi, wanita tua, aku punya sesuatu yang lebih buruk untukmu.”

Hari-hari berikutnya, aku mengembara dari satu desa ke desa lain, bermalam di rumah-rumah

petani. Aku tak berusaha menyembunyikan identitasku sebagaimana yang harus kulakukan sesudah 

ini, yakni saat dalam perjalanan menuju Lhasa. Sepertinya tak seorang pun memperhatikan bahwa

aku yaitu  orang asing, atau, bisa jadi tak seorang pun yang merasa penting akan hal itu.

Perjalananku ternyata melewati sebuah biara bernama Patur yang berukuran cukup besar jika

dibandingkan dengan yang ada di Sikkim. Salah seorang petugas biara mengundang kami untuk

ikut serta dalam jamuan makan di aula yang gelap dimana kami dengan senang hati bergabung

dengan beberapa  biarawan.

Kecuali gedung kokoh dengan tinggi beberapa tingkat, tak satu pun hal di sana yang sama sekali

baru bagiku. Namun bagaimanapun, aku memahami bahwa Lhamaisme yang kuteliti di Sikkim

hanya refleksi yang kabur dari apa yang ada di Tibet.

Aku sebelumnya membayangkan, negeri yang terletak di balik Himalaya ini yaitu  negeri yang liar,

namun sekarang aku mulai menyadari bahwa negara yang sedang kumasuki ini dihuni oleh orang-

orang yang benar-benar beradab.

Berbagai insiden yang terjadi di perjalanan kami antara lain, saat hendak menyeberangi sungai

Chi, yang meluap akibat hujan dan salju yang mencair, kami terpaksa minta bantuan tiga orang

penduduk desa untuk menyeberangkan kuda kami satu persatu.

Di luar batas desa yang disebut Kuma, terbentang jalan setapak yang panjang di daerah gurun.

Sesuai gambaran salah seorang pelayan kami yang mengenal dengan baik jalan ini, aku berharap

dapat berkemah di dekat sumber mata air panas, mandi dengan air panasnya dan tidur di tanah

yang hangat. Badai yang datang tiba-tiba memaksa kami memasang tenda sebelum sampai di

surga yang diidamkan. Badai pertama menyerang kami, dan salju mulai turun dengan lebat

sehingga tak lama kemudian sudah mencapai lutut. Sungai kecil terdekat mulai meluap hingga ke

tenda kami. Aku terpaksa melewati malam tanpa makan dan kebanyakan sambil berdiri di setitik

pulau kecil di bawah tendaku yang tak dimasuki lumpur. Keterlaluan sekali untuk tidur nyaman yang

kubayangkan.

68

Akhirnya, di sebuah tikungan jalan dimana aku berhenti sebentar untuk memperhatikan seorang

pemabuk yang berlumuran debu, mataku sesaat  terpaku pada sebuah pemandangan indah.

Dalam kemilau kebiruan, biara Tashilhunpo yang maha besar berdiri di kejauhan: sebentuk

bangunan putih bermahkotakan atap emas yang memantulkan sinar temaram matahari yang

sedang terbenam.

Tujuanku telah tercapai.

Timbul satu ide ganjil dalam pikiranku. Bukannya mencari penginapan di kota untuk bermalam, aku

malah menyuruh salah satu pelayanku menemui sang lhama yang bertanggung jawab melayani

para pengunjung atau pelajar dari Propinsi Kham. Bagaimana mungkin seorang pengembara

wanita asing, yang tak dikenalnya, dapat menarik perhatiannya, dan apa pula alasan wanita itu

meminta jasa baiknya? Aku belum sempat menanyakan pada diriku sendiri pertanyaan-pertanyaan

ini. Aku hanya bertindak secara spontan dan hasilnya sungguh menakjubkan.

Petugas yang istimewa ini mengirim seorang trapa untuk memesan dua ruangan di satu-satunya

rumah di samping biara. Disanalah aku tinggal.

Esoknya, sesuai dengan protokoler, permintaan untuk bertemu dengan Tashi Lhama pun dimulai.

Aku harus memberikan detil dari negara asalku dan memuaskan mereka dengan menyebut tempat

kelahiranku bernama Paris.

Paris yang mana? – Di sebelah selatan kota Lhasa ada sebuah desa bernama Phagri, yang

dibaca Pari. Aku menjelaskan bahwa ‘parisku’ terletak cukup jauh dari ibukota Tibet dan di daerah

Barat, namun aku menekankan pada satu hal, bahwa seseorang yang berangkat dari Tibet, dapat

tiba di negaraku tanpa harus menyeberangi lautan, sehingga aku bukan seorang Philing (orang

asing). Ini sebuah permainan akan makna kata philing yang secara harafiah berarti sebuah daratan

di seberang lautan.

Aku sudah cukup lama berada di sekitar Shigatze sehingga mustahil untuk tak dikenal di sana, lagi

pula, kenyataan bahwa aku pernah hidup sebagai seorang pertapa membuatku agak terkenal di

negara itu. Dengan sesaat  aku segera diterima dan ibunda Tashi Lhama mengundangku untuk

menjadi tamunya.

Aku mendatangi setiap sudut biara itu, dan sebagai rasa terima kasih sebab  menerimaku dengan

baik, aku menawarkan teh pada beberapa ribu bhikkhu yang tinggal di sana.

beberapa  tahun yang telah berlalu dan beberapa  kesempatan yang telah kuperoleh, sejak saat itu,

untuk mengunjungi biara-biara besar, atau bahkan untuk tinggal di dalamnya, tak lagi membuatku

terkesan. Saat aku mengunjungi Tashilhunpo, aku benar-benar tersentak akan semua hal yang

kulihat.

Kemegahan zaman primitif berkuasa di seluruh penjuru biara, aula-aula, dan istana dari sang

petinggi. Tak ada deskripsi yang mampu diberikan. Emas, perak, batu pirus, dan permata jade

digunakan dengan boros untuk altar-altar, kuburan, ornamen pintu, perlengkapan ritual dan bahkan

barang-barang yang digunakan sehari-hari oleh para lhama yang kaya itu.

Haruskah kukatakan aku mengagumi semua tampilan kemewahan itu? Tidak, sebab  semua itu

kelihatan tak beradab dan kekanak-kanakan: hasil pekerjaan orang-orang besar yang berkuasa

namun belum dewasa.

Kontak pertama dengan Tibet itu seharusnya dapat mengesankanku seandainya saja dalam

benakku belum ada bayangan akan keadaan Tibet yang damai dan tenang serta pemikiran bahwa

69

di negara ini bersembunyi beberapa  pertapa suci yang menolak hal-hal yang mencolok, yang di

mata masyarakat mereka merupakan lambang kemuliaan.

Tashi Lhama bersikap sangat baik padaku di setiap pertemuan kami dan melimpahiku dengan

perhatian yang besar. Dia mengetahui dengan jelas dimana Parisku dan melafalkan kata-kata

Perancis dengan aksen Perancis yang sempurna.

Semangatku untuk mempelajari Lhamaisme sangat menyenangkan hatinya. Dia bersedia

membantu penelitianku dengan segala cara. Mengapa saya tidak tinggal di Tibet? Dia pernah

bertanya padaku.

Ya, Mengapa tidak? Keinginan itu tak berkurang, namun aku menyadari betapapun agung dan

terhormat ia di negara ini, Lhama Besar dan ramah ini tak punya kekuasaan sementara yang cukup

untuk memperoleh izin bagiku untuk menetap di Tibet.

Bagaimanapun, jika aku, di saat itu, sebebas saat aku memulai perjalanan ke Lhasa, aku mungkin

terpengaruh untuk mengambil kesempatan ini, mencari sebuah tempat terpencil, dan tinggal dalam

perlindungan yang ditawarkan padaku. Namun aku tak melihat itu sebagai sebuah tawaran. Barang-

barangku, catatan-catatan, beberapa  koleksi film negatif (mengapa seseorang harus berpikir bahwa

ini barang-barang yang penting?) tak kubawa serta, sebagian dijaga oleh teman-teman di Kalkuta,

dan sisanya di tempat pertapaanku. Berapa banyak lagi hal yang tersisa bagiku untuk dipelajari,

seberapa besar lagi tranformasi mental yang kubutuhkan agar aku, beberapa tahun lagi, dapat

menjadi seorang pengembara yang bahagia di rimba Tibet.

Saat di Shigatze, aku bertemu dengan para guru yang telah mendidik Tashi Lhama: profesornya di

bidang ilmu pengetahuan sekuler dan dia yang telah memperkenalkan Tashi Lhama kepada doktrin

mistik. Aku juga mengenal seorang mistik yang kontemplatif, penuntun spiritual Tashi Lhama, yang

sangat dipujanya, yang – jika kita harus mempercayai cerita tentang beliau ini – mengakhiri

hidupnya, beberapa tahun kemudian, dengan cara yang menakjubkan.[37]

Selama kunjunganku di Shigatze, vihara yang dibangun Tashi Lhama sebagai persembahan

kepada Buddha Maitreya yang akan datang, sang maha belas kasih, sudah hampir selesai.

Aku melihat sebuah patung besar diletakkan di aula dengan beberapa  galeri yang memungkinkan

para pemujanya berputar mengitarinya, dimulai dari lantai dasar yang sejajar dengan kakinya,

kemudian naik ke galeri pertama, kedua, dan ketiga, naik ke pinggangnya, bahu, dan kemudian

kepalanya.

Dua puluh orang tukang emas sedang menyelesaikan ornamen-ornamen besar yang akan

digunakan untuk menghiasi Maitreya raksasa itu. Mereka memasang intan permata yang

dipersembahkan para wanita Tsang dari kalangan terhormat, dimulai dari ibunda Tashi Lhama,

yang menyerahkan seluruh batu berharga miliknya.

Aku menghabiskan hari-hari yang menyenangkan di istana Tashi Lhama di Shigatze dan di daerah-

daerah sekitarnya. Aku berbicara dengan beberapa  orang dari berbagai karakter. Hal-hal baru yang

kulihat dan kudengar, atmosfer jiwa yang istimewa dari tempat itu, benar-benar memikat hati. Aku

jarang dapat menikmati saat-saat yang demikian diberkahi.

Akhirnya, saat yang menakutkan pun tiba. Sambil membawa artikel -artikel , catatan-catatan, beberapa 

hadiah, dan sebuah jubah tanda kelulusan seorang lhama – yang mana Tashi Lhama telah

menganugerahkan semacam gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Tashilhunpo padaku,

aku pun meninggalkan Shigatze, menatap dengan sedih bayangan biara megah itu saat ia

menghilang di tikungan jalan yang sama dimana aku melihatnya pertama kali.

70

Aku pergi ke Narthang untuk mengunjungi usaha penerbitan terbesar di Tibet. Nomor piringan kayu

berukir yang digunakan untuk mencetak berbagai jenis artikel -artikel  keagamaan sangat banyak.

Disusun di rak-rak dan berjajar-jajar, kesemuanya memenuhi sebuah gedung yang cukup besar.

Tukang cetak yang bercipratan tinta hingga ke sikunya, duduk di lantai saat bekerja, di ruangan lain

para bhikkhu memotong kertas sesuai ukuran artikel  yang hendak dicetak.

Disana tidak ada kesan terburu-buru; bercakap-cakap sambil minum teh mentega dilakukan

dengan bebas. Betapa berbeda dengan suasana tergesa-gesa di ruang percetakan surat kabar

kami.

Dari Narthang, aku pergi mencari petapaan seorang gomchen yang telah berbaik hati mengirimkan

undangan padaku. Aku menemukan kediaman pertapa ini di sebuah tempat terpencil pada sebuah

bukit, di dekat danau Mo-te-tong. Tempat ini berupa sebuah gua yang lapang, dimana ruangan

yang satu dan yang lain saling berhubungan, sehingga kelihatan seperti sebuah benteng kecil.

Gomchen yang sekarang ini yaitu  pengganti gurunya, dan gurunya ini sebelumnya menggantikan

ayah spiritualnya sendiri, yang terkenal sebagai seorang ngagspa. Pemberian dari para pemuja

kepada ketiga generasi ngagspa-lhama ini telah terkumpul banyak, di pertapaan ini, yang terdiri

dari beberapa  barang yang memberikan rasa nyaman, dengan demikian hidup dapat dilalui dengan

agak menyenangkan; begitulah menurut pandangan seorang Tibet, yang terlahir di alam liar dan

telah terbiasa untuk hidup sebagai seorang pertapa sejak masih muda.

Demikian cerita tentang tuan rumahku. Dia tak pernah pergi ke Lhasa ataupun Shigatze, pun tak

pernah melakukan perjalanan ke tempat-tempat lain di Tibet, dan tak mengetahui apapun dunia

yang ada di luar guanya. Gurunya telah tinggal di sana selama lebih dari tiga puluh tahun, dan saat

ia wafat, pertapa ini pun mengurung dirinya di dalam gua.

Saat mengurung diri di dalam, seseorang harus mengerti bahwa hanya ada satu pintu sebagai jalan

masuk ke tempat pertapaan, dan pintu ini tak pernah didekati sang lhama. Dua ruangan yang lebih

rendah di bawah bebatuan, yang menjadi dapur, gudang, sekaligus ruang pelayan, memberi kesan

sebuah halaman di tempat yang tertutup itu. Di atas ruangan-ruangan ini terdapat sebuah gua yang

merupakan apartemen pribadi sang lhama, yang dapat dicapai dengan tangga dan sebuah pintu

sorong yang ada di lantai. Di kamar ini terdapat sebuah teras kecil, yang juga dikelilingi dinding.

Dengan demikian sang lhama dapat melakukan sedikit olah raga di bawah sinar mentari tanpa

dilihat orang-orang dari luar dan dia pun tak melihat apapun yang di luar kecuali langit di atasnya.

Pertapa ini mengurangi kepengasingannya dengan menerima para tamu dan berbicara dengan

mereka, namun ia menambahkan kekerasan cara pertapaannya dengan tak pernah tidur berbaring

dan melewati malam di sebuah gamti.

Di Tibet terdapat tempat duduk khusus yang disebut gamti (kotak duduk) atau gomti (tempat duduk

untuk meditasi). Keduanya berbentuk kotak persegi, panjang setiap sisi sekitar 25 atau 30 inci dan

salah satu sisinya agak tinggi sebagai sandaran tempat duduk. Di dasar kotak diletakkan bantalan

duduk dimana sang pertapa duduk menyilangkan kaki. Biasanya ia tak membiarkan dirinya

bersandar, dan untuk menopang tubuhnya, saat sedang tidur atau dalam meditasi yang panjang, ia

menggunakan ‘tali meditasi’ (sgomthag), semacam ikat pinggang yang biasanya terbuat dari kain

wool. Tali itu diikat dari bawah lutut hingga ke tengkuk, atau kadang diikat melingkar antara lutut dan

punggung (dalam posisi duduk dengan kedua kaki dilipat seperti dalam posisi berjongkok). Banyak

gomchen yang melewati siang dan malam dengan cara demikian, tanpa sedikitpun merentangkan

atau meluruskan kaki dan tangannya saat tidur.

71

Mereka kadang mendengkur namun tak pernah tertidur lelap, dan selain dari masa mengantuk yang

cukup pendek ini, mereka tak pernah berhenti bermeditasi.

Aku melakukan beberapa  perbincangan yang menarik dengan pertapa ini, dan kemudian aku

kembali melanjutkan perjalanan ke daerah perbatasan.

Orang-orang Inggris di Gangtok telah mengirimkan sepucuk surat padaku dengan perantaraan para

petani dari Sikkim yang menyuruhku meninggalkan tanah Tibet. Aku tak mematuhinya sebab  aku

ingin mengakhiri perjalananku sebagaimana yang kurencanakan, dan sekarang aku telah mencapai

tujuanku. Dan sebab  telah melihat akibat-akibat yang bakal timbul dari invasi yang panjang di

wilayah terlarang itu, aku merasa siap untuk mengucapkan selamat tinggal pada Himalaya.

Saat surat kedua yang memerintahkanku meninggalkan daerah di sekitar perbatasan Tibet tiba,

aku telah dalam perjalanan ke India untuk melakukan tur ke Timur Jauh.

72

BAB TIGA

73

SEBUAH BIARA TIBET YANG TERKENAL

 

Sekali lagi aku menyeberangi pegunungan Himalaya, melanjutkan perjalanan menuju India.

Sangat sedih meninggalkan wilayah keajaiban dimana selama beberapa tahun terakhir aku

memiliki kehidupan yang paling fantastis dan menakjubkan. Meskipun gerbang menuju Tibet ini

telah terbukti sangat luar biasa, namun aku menyadari bahwa praktek dan doktrin mistik unik yang

tersembunyi dari dunia luar di tempat-tempat pertapaan ‘Negeri Bersalju’ itu masih belum

sepenuhnya kupahami. Perjalananku ke Shigatze juga telah mengungkapkan padaku tentang dunia

pendidikan Tibet, beberapa  universitas keagamaannya dengan perpustakaan yang amat besar.

Betapa banyak yang tertinggal untuk kupelajari! Dan sekarang semua kutinggalkan….

Aku pergi ke Burma dan menghabiskan beberapa hari dalam penyepian di bukit Sagain dengan

para Kamatang, bhikkhu-bhikkhu kontemplatif dari salah satu sekte Buddhis yang terkeras.

Aku pergi ke Jepang dimana aku menyelam dalam kedamaian Tofokuji, sebuah biara sekte Zen

yang selama berabad-abad telah mengumpulkan kaum aristokrat terpelajar dari negara itu.

Aku pergi ke Korea. Panya-an, ‘biara kebijaksanaan’ yang tersembunyi di tengah hutan

membukakan pintunya untukku.

Saat aku ke sana untuk memohon izin tinggal sementara, hujan lebat baru saja turun dan merusak

jalan setapak yang ada. Aku melihat bhikkhu-bhikkhu Panya-an tengah memperbaikinya. Siswa

muda yang dikirim kepala biara untuk memperkenalkan aku, berhenti di depan salah satu pekerja

yang berlumuran lumpur sebagaimana juga rekan-rekannya, membungkuk dengan sopan dan

mengucapkan beberapa kata. Si penggali, bersandar pada sekopnya, melihatku dengan seksama

sejenak, kemudian mengangguk tanda setuju dan kembali bekerja, tanpa memperdulikanku lagi.

“Dia itu kepala tempat pertapaan,” kata pemanduku. “Dia bersedia memberimu satu ruangan.”

Keesokkan harinya saat aku kembali ke Panya-an, aku dibawa ke satu ruangan yang benar-benar

kosong. Selimut yang kubentangkan di lantai akan menjadi dipanku, sementara koper bajuku bisa

dijadikan meja. Yongden harus berbagi kamar dengan seorang siswa muda yang seumur

dengannya, dan kamar itu, selain beberapa artikel  di rak, juga hanya memiliki sedikit perabotan

seperti halnya kamarku.

Rutinitas sehari-hari terdiri dari delapan jam meditasi yang dibagi dalam empat bagian masing-

masing dua jam – delapan jam belajar dan melakukan pekerjaan kasar – delapan jam untuk tidur,

makan, dan rekreasi tergantung selera masing-masing.

Setiap hari, mendekati jam tiga pagi, seorang bhikkhu berjalan mengelilingi rumah itu, sambil

memukul sebuah alat untuk membangunkan saudara-saudaranya.

Kemudian semua berkumpul di ruang pertemuan, dimana mereka duduk bermeditasi menghadap

dinding.

Menu makanannya benar-benar menu seorang pertapa… nasi dan beberapa  sayuran rebus tanpa

rasa. Bahkan kadang sering tanpa sayuran, sehingga makanannya hanya terdiri dari nasi putih

saja.

Keheningan tak diwajibkan sebagaimana yang berlaku pada para Trappis, namun bhikkhu-bhikkhu

itu jarang berbicara. Mereka merasa tak perlu berbicara ataupun membuang-buang energi pada

74

manifestasi di luar diri. Pikiran-pikiran mereka hanya tertuju pada sikap mawas diri dan mata

mereka menatap ke dalam diri seperti tatapan yang ada pada patung Sang Buddha.

Aku pergi ke Peking. Aku tinggal di Peling-sse, yang sebelumnya merupakan rumah kaum

bangsawan, sekarang menjadi sebuah biara Buddhis. Tempat itu berada di sebelah vihara

Lhamais dan berdekatan dengan vihara Konfusius, beberapa mil dari Kedutaan. Di sana, Tibet

kembali memanggilku.

Selama bertahun-tahun aku memimpikan Kum-Bum yang maha jauh tanpa berani berharap akan

dapat sampai di sana. Dan kini perjalanan ke sana telah diputuskan. Aku akan melintasi seluruh

Cina untuk mencapai perbatasan di ujung Barat Laut dan masuk ke Tibet.

Aku bergabung dengan sebuah karavan yang terdiri dari dua orang lhama kaya dan rombongan

terhormat mereka yang akan kembali ke Amdo, seorang pedagang Cina dari propinsi Kansu

beserta para pembantunya, dan beberapa bhikkhu serta orang biasa yang merasa beruntung

memperoleh perlindungan dari jalan yang tidak aman.

Perjalanan itu sangat indah. Disamping beberapa insiden yang terjadi, rekan-rekan seperjalananku

menimbulkan banyak hal yang menakjubkan.

Suatu hari, sang orang terhormat dan berpostur besar dari karavan kami itu menggoda para

pelacur Cina di penginapan dimana kami bermalam. Ramping dan pendek, bercelana pendek hijau

pucat dan jaket merah muda, mereka memasuki kamar sang lhama seperti keluarga Tom Thumbs

masuk ke gua Ogre.

Si ‘lhama’ ini yaitu  seorang ngagspa, pengikut sekte kebatinan yang heterodoks, sama sekali

bukan seorang pendeta, dan telah berkeluarga.

Penawaran yang kasar dan bising pun dilakukan dengan pintu terbuka lebar. Kata-kata ejekan dan

terus terang dari orang-orang perbatasan itu diterjemahkan ke dalam bahasa Cina oleh sekretaris-

penerjemahnya yang sangat tenang. Akhirnya lima dolar Cina diterima sebagai bayaran dan salah

satu boneka itu harus bermalam.

Rekan jangak kami itu juga sangat pemarah. Suatu hari ia bertengkar dengan seorang tentara

Cina. Para tentara dari pos terdekat kemudian memasuki penginapan kami dengan senjata di

tangan. Lhama itu memanggil para pembantunya yang kemudian tiba dengan senjata mereka

masing-masing. Penjaga penginapan lantas bersujud di kakiku memohon aku menjadi penengah.

Dengan bantuan seorang pedagang Cina, anggota ‘geng’ karavan kami, yang mampu berbahasa

Tibet sebagai penerjemahku, aku berhasil meyakinkan tentara-tentara itu dengan mengatakan

bahwa martabat mereka akan jatuh jika melayani tindakan orang-orang bodoh dan tak beradab itu.

Kemudian aku memprotes sang lhama dengan mengatakan bahwa seorang dengan peringkat

seperti dirinya tak perlu membahayakan jiwanya dengan tentara yang kasar seperti itu.

Dan kedamaian pun hadir.

Aku menjadi terbiasa dengan perang sipil dan perampokan. Aku berusaha keras menjadi perawat

bagi mereka yang terluka. Suatu pagi, aku melihat beberapa  kepala, yang baru dipenggal dari para

perampok, tergantung di atas pintu penginapan kami. Pemandangan ini membangunkan suatu

pemikiran filosofis tentang kematian pada diri putraku yang pendiam, yang lantas ia jelaskan

dengan perlahan padaku.

Kini jalan di hadapan kami diblokir oleh sepasukan tentara perang. Aku berpikir bahwa aku dapat

75

menghindari medan peperangan ini dengan pergi ke sebuah kota kecil bernama Tunchow, yang

terletak beberapa mil dari jalan pintas ke Sian-Fu.

Satu hari sesudah  aku tiba, Tungchow dikepung. Aku melihat serbuan musuh menaiki benteng kota

dengan tangga tinggi, dan lawannya melempari batu-batu ke arah mereka. Aku merasa seperti

berada dalam sebuah lukisan kuno yang menggambarkan keadaan perang di jaman dahulu kala.

Aku melarikan diri dari kota yang terkepung itu di saat terjadi badai yang membuat para tentara

berlindung di balik benteng kota. Pedatiku berpacu dengan kencang melintasi malam; kami sampai

di tepi sungai dimana di seberangnya kami harap akan aman. Kami memanggil tukang perahu.

Sebagai jawabnya, terdengar tembakan dari sana.

Aku mempunyai kenangan unik tentang suatu jamuan teh dengan gubernur Shensi. Saat itu musuh

sedang mengepung kota. Teh disajikan oleh para tentara yang bersenjata di punggungnya dan

revolve di pinggang mereka, bersiap-siap mempertahankan diri dari serangan yang mungkin timbul

setiap saat. Namun para tamu berbicara dengan tenang dengan bahasa yang halus dan sopan

yang merupakan salah satu hasil dari sistim pendidikan Cina kuno.

Kami berdiskusi tentang hal-hal filosofis, salah satu petugas berbicara dalam bahasa Perancis

yang sempurna dan bertindak sebagai penerjemahku. Apapun perasaan yang mungkin tengah

berkecamuk dalam diri sang gubernur dan kelompoknya di saat yang tragis ini, wajah mereka tetap

memancarkan senyuman. Perbincangan di meja teh itu yaitu  sebuah permainan intelektual dalam

bentuk pertukaran pemikiran-pemikiran halus dengan cara yang amat tenang.

Betapa sopan dan berbudayanya orang-orang Cina, pula demikian menarik hati, terlepas dari

berbagai kesalahan yang mungkin dapat ditemukan dalam diri mereka!

Akhirnya aku bisa keluar dengan selamat dari daerah bencana itu. Aku sekarang di Amdo, tinggal

di istana Lhama Pegyai, di biara Kum-Bum…Sekali lagi, aku terjun ke dalam kehidupan seorang

Tibet.

“Salam pada Sang Buddha.

Dalam bahasa para dewa dan malaikat

Dalam bahasa para setan dan manusia

Dalam semua bahasa yang ada

Aku nyatakan Doktrin ini”

Beberapa anak lelaki berdiri di atap aula pertemuan, mereka mengucapkan sebait syair suci di

atas, kemudian dengan serentak mengangkat conch (siput besar) ke mulutnya. Secara bergantian

mereka mengambil nafas, sementara rekannya melanjutkan meniup. Maka jadilah alunan melodi

tak berjeda yang sangat merdu, timbul dan tenggelam dalam irama cresendo dan decresendo,

menyebar ke seluruh biara yang masih tertidur.

Di atas pilar aula, para siswa muda dalam jubah pendeta, yang menjadi silhouette bagi langit

berbintang yang terang, seperti barisan makhluk hitam dari dunia lain yang turun untuk memanggil

arwah orang mati dari tidur mereka. Dan gompa yang sunyi dengan banyak rumah putih beratap

rendah itu, di malam hari, benar-benar menyerupai tempat pemakaman yang besar.

Alunan musik kemudian berhenti. Kerlap-kerlip lampu muncul di beberapa  jendela garba[38] dan

suara-suara berisik kedengaran dari tasha-tasha[39]. Pintu-pintu terbuka, suara langkah kaki yang

76

bergegas terdengar dari setiap jalan-jalan di kota biara itu : para lama sedang pergi ke pertemuan

pagi.

Saat mereka tiba di aula, langit sudah berwarna kepucatan, pagi telah menjelang. sesudah 

melepaskan sepatu yang kemudian ditinggalkan di luar dan berserakan di sana sini, masing-

masing dengan segera menuju tempat duduk mereka.

Di biara yang besar, jumlah bhikkhu bisa mencapai ribuan orang. Seorang pekerja yang aneh, bau

dan lusuh tampak ganjil dan kontras dengan rompi brokat emas yang dipakai para petinggi biara

dan jubah bertabur permata serta tongkat petugas dari para tsogs chen shalngo, penguasa terpilih

dari sebuah gompa.

Di langit-langit ruangan yang tinggi, dari galeri-galeri dan beberapa  pilar, tergantung lukisan-lukisan

para Buddha dan dewa-dewi yang tak terhitung banyaknya, sementara orang-orang berjasa yang

lain, orang-orang suci, para malaikat, dan setan, mungkin tergambar secara samar di lukisan-

lukisan dinding yang mendekorasi gedung yang gelap itu.

Di dasar aula, di balik barisan lampu-lampu mentega, patung-patung para Lhama Besar berikut

kotak relik perak dan emas yang berisi abu atau tubuh yang dimumikan bersinar dengan lembut.

Atmosfir bernuansa mistik melingkupi semua benda dan manusia, menyelubungi semua detil yang

kasar, menyempurnakan semua sikap dan raut wajah. Apapun pendapat seseorang mengenai

kegagalan dari sebagian besar para bhikkhu yang berkumpul disana, pemandangan akan

pertemuan itu sendiri sangatlah mengesankan.

Sekarang, setiap orang duduk dalam posisi bersila, tak bergerak, para lhama dan petugas duduk

di atas kursi kehormatan yang tingginya bervariasi sesuai dengan tingkatan masing-masing,

sementara para kaum biarawan biasa duduk di bangku panjang yang hampir setinggi lantai.

Pembacaan mantram dimulai, nada yang berat dengan irama perlahan. Denting lonceng, dayuan

gyaling, gelegar ragdong, drum besar dan kecil menghasilkan alunan musik yang mengiringi

pembacaan mantram suci.

Para siswa muda, yang duduk di ujung bangku panjang dekat pintu, hampir tak berani bernafas.

Mereka tahu chöstimpa[40] yang memiliki ratusan mata akan segera mengetahui jika ada

percakapan atau sikap bermain-main, dan kayu panjang juga cambuk yang tergantung di dekat

tempat duduknya yang tinggi benar-benar menakuti mereka.

Hukuman, bukan hanya untuk anak-anak kecil ini, namun para anggota bhikkhu yang dewasa juga

akan mendapat hukuman jika memang mereka pantas menerimanya.

Aku pernah menyaksikan beberapa kejadian unik mengenai hal itu. Salah satunya terjadi di sebuah

biara milik sekte Sakyapa dalam suatu upacara yang khidmat.

Beberapa ratus bhikkhu sedang berkumpul di tsokhang (ruang pertemuan), musik dan pembacaan

mantram sedang berlangsung saat tiga orang bhikkhu sedang berkomunikasi mengenai sesuatu

hal dengan bahasa isyarat. sebab  tidak duduk di barisan depan, mereka pikir posisi cukup aman

sebab  dilindungi oleh para bhikkhu yang duduk di depan. Gerakan tangan perlahan dan pertukaran

mimik wajah diyakini mereka takkan diperhatikan oleh sang chöstimpa. Namun sepertinya para

dewa pelindung biara memberikan penglihatan yang luar biasa tajam kepada para petugas ini:

sang chöstimpa telah melihat orang-orang bersalah ini dan akan segera mendekati mereka.

Beliau ini seorang Khampa[41] yang tinggi, dengan postur atletis, saat berdiri di tempat duduknya

yang tinggi, ia tampak seperti sebuah patung beku. Dengan gagah, dia mengambil cambuknya,

77

menuruni singgasananya dan berjalan membelah aula dalam hawa seorang dewa pemusnah.

Dia melewatiku, menarik lengan jubahnya ke atas siku. Cambuk yang dipegangnya terbuat dari

beberapa tali kulit, masing-masing seukuran jari telunjuk dan di ujungnya diikat menjadi sebuah

simpul.

sesudah  sampai di tempat dimana mereka yang bersalah itu sedang menunggu hukuman yang tak

dapat dihindari lagi, dia mencengkram leher mereka dari belakang, satu per satu, mengangkat

mereka dari tempat duduknya dengan kasar.

Mustahil untuk berpikir melarikan diri, orang-orang yang pasrah ini kemudian berjalan di lorong di

antara barisan para bhikkhu dan bersujud dengan dahi menyentuh lantai.

beberapa  cambukan terdengar dari punggung ketiga orang itu dan kemudian tokoh yang ditakuti itu

kembali ke tempatnya dengan sikap berwibawa yang sama.

Namun demikian, hanya pelanggaran kecil, seperti merusak keheningan, sikap yang salah, dan

sebagainya yang akan mendapat hukuman langsung di aula. Hukuman bagi pelanggaran yang lebih

keras dilaksanakan di tempat lain.

Jeda dari kebaktian panjang yang sangat disenangi: hidangan teh panas yang beruap, disajikan

dengan mentega dan garam, sesuai selera orang Tibet. Teh itu dibawa dengan sebuah buket kayu

besar dan pembawanya berjalan di setiap barisan. Setiap trapa membuat sendiri mangkoknya,

menyimpannya di balik pakaiannya. Mangkok-mangkok itu memiliki pola khusus dan bervariasi

sesuai dengan sektenya. Ornamen perak atau Cina dilarang di pertemuan ini. Para petinggi biara

harus menggunakan jenis kayu yang biasa. Hal ini dimaksudkan untuk mengingatkan mereka akan

kehidupan yang sederhana dan tak terikat pada hal duniawi sebagaimana disiplin Buddhis yang

sebenarnya, namun sebagian lhama yang cerdik tidak mematuhi hal ini. Mangkok seorang lhama

terkaya di antara mereka memang terbuat dari kayu, namun dari jenis kayu khusus yang tumbuh di

batang pohon tertentu, yang berharga sangat mahal.

Di gompa yang makmur, teh dibubuhi mentega yang banyak dan para bhikkhu membawa sendiri,

ke pertemuan, sebuah panci kecil dimana mereka dapat mengambil beberapa  mentega yang

mengambang di permukaan cairan itu. Mentega ini akan mereka gunakan di rumah atau dijual

untuk ditaruh kembali ke teh atau untuk mengisi lampu yang digunakan di rumah. Bukan untuk lampu

altar, yang harus memakai mentega baru.

Para trapa juga membawa tsampa[42] dari rumah masing-masing, dan tepung ini, bersama dengan

teh akan menjadi sarapan gratis.

Pada hari-hari tertentu, tsampa dan sepotong mentega dibagikan bersama dengan teh, atau sup

sebagai pengganti teh, bahkan kadang teh dan sup disajikan bersama.

Menu sarapan yang istimewa ini  yang dinikmati oleh para penghuni biara terkenal itu

kebanyakan berasal dari pemberian para peziarah kaya atau sang Lhama Besar biara itu sendiri.

Pada kesempatan seperti itu, gunungan tsampa dan tumpukan potongan-potongan mentega, yang

disebar di perut domba, akan membanjiri seluruh dapur gompa. Pertunjukkan ini akan lebih hebat

lagi jika ada permintaan akan sup, maka kemudian tulang domba yang kadang mencapai ratusan

buah akan dipotong-potong untuk diambil kaldunya.

Saat tinggal di Kum-Bum dan di biara-biara lain, walaupun aku, sebagai seorang wanita, tak

diperkenankan bergabung dengan jamuan makan biara, sepanci penuh menu istimewa hari itu

78

akan dibawa ke rumahku kapanpun aku mau.

Dengan demikian, aku menjadi akrab dengan menu khas orang Mongol yang terdiri dari daging

domba, nasi, kurma Cina, mentega, keju, dadih, pemen gula, dan berbagai macam bumbu lain,

yang dimasak bersama.

Ini bukan satu-satunya contoh dari ilmu masakan mereka yang diperkenalkan para juru masak

lhamais padaku.

Kadang pembagian uang juga dilakukan saat jamuan makan berlangsung. Orang-orang Mongol

lebih dermawan dalam menyumbang untuk hal keagamaan dibanding orang Tibet. Pernah kulihat

beberapa di antara mereka meninggalkan lebih dari sepuluh ribu dolar Cina kepada biara Kum-

Bum saat berkunjung.

Demikianlah, hari demi hari, di pagi yang beku ataupun di fajar hangat musim panas, kegiatan khas

kaum Lhamais ini terjadi di gompa-gompa yang tak terhitung banyaknya di wilayah yang maha

luas[43] dimana Tibet sendiri hanyalah bagian kecil darinya.

Di setiap pagi, anak-anak lelaki yang masih setengah tertidur, bersama dengan para seniornya,

mandi dalam atmosfir aneh berupa perpaduan mistisme, kekuatiran akan makanan, dan persiapan

untuk menerima sumbangan. Permulaan hari di gompa itu memberikan kita ide bagaimana

karakter dari kehidupan sebuah biara lhamais. Di sebuah biara lhamais kita juga akan

menemukan, selalu, beragam elemen yang tidak sehat, semisal filosofi yang tidak jelas,

komersialisme, spiritual yang angkuh, dan pengejaran akan kesenangan! Semua elemen ini saling

menjalin sehingga akan sia-sia saja jika berusaha untuk memisahkan mereka.

Para anak-anak muda itu dibesarkan di bawah pengaruh arus berkonflik itu yang kelak akan

membawa mereka ke salah satu elemen ini  sesuai dengan sifat alami mereka dan cara

mereka dididik oleh gurunya. Terlepas dari latihan biara yang terlalu awal dan kadang kacau,

muncullah sekelompok kecil sastrawan, beberapa  pemalas, si bodoh, si pengantuk, pembual yang

ceroboh, dan beberapa  kecil kaum mistik yang tinggal di pertapaan terpencil dalam meditasi yang

panjang.

Kebanyakan para trapa dan lhama Tibet tidak termasuk ke dalam salah satu dari kelas-kelas ini,

keseluruhan variasi karakteristik ini cenderung mereka sembunyikan dalam pikiran, yang pada

keadaan tertentu, satu atau yang lain akan muncul untuk memainkan peranannya.

Kepribadian yang majemuk dalam seorang individu tunggal, tentu saja, bukan hanya khusus di

kalangan lhama Tibet, namun hal ini sangat kuat tercermin dalam diri mereka, sehingga sikap dan

kata-kata mereka sering membuat para pengamat yang teliti terus menerus terheran-heran.

Buddhisme Tibet sangat berbeda dengan Buddhisme yang terlihat di Sri Lanka, Burma, bahkan

Cina dan Jepang. Dan biara beserta tempat tinggal kaum lhamais memiliki ciri khas tersendiri.

Seperti yang telah kujelaskan, dalam bahasa Tibet, sebuah biara disebut gompa[44], yang artinya

‘rumah dalam penyepian’, dan nama ini sesuai dengan kenyataannya.

Terisolasi dengan angkuh di daerah tinggi yang berangin, menduduki daerah liar, gompa-gompa

Tibet kelihatan agak agresif, seakan menawarkan tantangan kepada musuh-musuh yang tak

kelihatan, di keempat penjuru langit. Atau, saat berada di antara barisan pegunungan,

gompa-gompa itu kerap mengasumsikan sebuah tempat kerja yang berhawa tidak tenang dimana

kekuatan gaib dimanipulasi.

Kedua bentuk penampilan itu berhubungan dengan realitas tertentu. Walaupun di masa sekarang

79

pikiran para bhikkhu lebih cenderung ke urusan bisnis atau kepentingan duniawi yang lain, namun

gompa-gompa Tibet itu, sebenarnya, ditujukan bukan untuk hal-hal seperti itu.

Penaklukan sebuah dunia yang sangat sulit yang tak dapat dicerna oleh indera-indera,

pengetahuan transendental, realisasi mistik, penguasaan ilmu gaib, yaitu  alasan dibangunnya

tempat-tempat berlindung milik kaum lhamais itu dan juga kota-kota misteri yang tersembunyi di

balik kilauan perbukitan yang bersalju. Sekarang ini para penyihir dan ahli mistik kebanyakan

berada di luar biara. Untuk menghindari atmosfir yang demikian teracuni oleh kepentingan akan

kebendaan dan pencarian, mereka beremigrasi ke tempat yang lebih jauh, tempat-tempat terpencil,

dan untuk mencari sebuah tempat bertapa, kadang-kadang mereka benar-benar melakukan

eksplorasi. Namun bagaimanapun, dengan sedikit pengecualian, para pertapa biasanya memulai

kehidupannya sebagai seorang siswa muda di persekutuan keagamaan biasa (Sangha).

Seorang anak lelaki yang ditakdirkan oleh orang tuanya untuk menjalani hidup sebagai seorang

bhikkhu akan dibawa ke biara saat berumur delapan atau sembilan tahun. Mereka diberikan

kepada seorang bhikkhu yang mempunyai hubungan keluarga sebagai walinya atau jika tidak

memiliki kerabat di biara, mereka dititipkan kepada salah satu sahabat. Sesuai peraturan, sang

pembimbing siswa muda ini yaitu  guru pertamanya, dan dalam kebanyakan kasus, guru satu-

satunya.

Namun, para orang tua yang kaya, memberikan dana bagi biaya pendidikan anaknya pada

seorang bhikkhu terpelajar, dengan maksud menyerahkan pengawasan anaknya pada orang yang

dimaksud atau membuat perjanjian bahwa orang itu akan mengajari anaknya pada jam-jam yang

telah ditentukan. Kadang mereka juga memohon agar anaknya dapat diberi tempat tinggal di rumah

para petinggi biara dengan harapan pendidikan anak mereka akan lebih terawasi.

Para siswa muda ini didukung sepenuhnya oleh orang tua mereka, yang mengirimkan bahan

perbekalan seperti teh mentega, tsampa, dan daging ke rumah pembimbing mereka.

Disamping kebutuhan-kebutuhan pokok, orang-orang makmur Tibet itu juga mengirimkan anak-

anak mereka berbagai jenis makanan: keju, buah kering, gula, sirup, kue, dan sebagainya. Barang-

barang berharga itu berperan penting dalam hidup sehari-hari anak-anak yang beruntung itu.

Mereka dapat melakukan berbagai macam pertukaran, dan juga membeli tenaga dari teman-teman

mereka yang miskin dengan segenggam buah aprikot atau beberapa lembar dendeng daging

domba.

Anak-anak muda Tibet, dengan cara itu, memulai pengenalan akan trik-trik dagang di saat mereka

sedang melafalkan halaman pertama dari diktat-diktat keagamaan. Dan orang akan dengan mudah

menerka bahwa kemampuan mereka memahami trik dagang itu jauh lebih cepat dari pemahaman

akan ilmu keagamaannya.

Semua anak-anak miskin akan menjadi geyog[45], yang maksudnya yaitu  bahwa mereka akan

mendapat pendidikan, kadang juga makanan dan pakaian di rumah seorang bhikkhu sebagai

imbalan bagi kerja mereka di sana. Tak perlu lagi dijelaskan, dalam hal ini, pelajaran yang

diberikan, sesuai dengan peraturan, hanya sekilas dan singkat saja! Sang profesor yang

kebanyakan buta huruf, hanya mengajarkan anak-anak itu menghafal sebagian dari sebuah

mantram, yang dipotong-potong, yang artinya pun tak pernah mereka pahami.

Sebagian geyog bahkan dibiarkan begitu saja dan tak pernah diajari apapun. Bukan disebab kan

kerja mereka sebagai pelayan cukup berat, namun sebab  masih muda mereka tak pernah

berpikiran untuk meminta pelajaran yang seharusnya mereka terima, dan mereka pun

menghabiskan waktu senggang dengan bermain bersama teman senasibnya.

80

Segera sesudah  mereka diizinkan memasuki sebuah biara, para siswa muda ini berhak mendapat

bagian dari pendapatan biara[46] dan berbagai pemberian dari para dermawan kepada

persekutuan itu.

Jika saat beranjak dewasa si siswa muda merasa ingin melanjutkan pendidikan lagi, dan jika

keadaan memungkinkan, dia boleh meminta izin untuk memasuki salah satu dari empat institut

yang ada di sebuah biara yang besar.

Untuk mereka yang tinggal di gompa kecil dimana tidak ada institut yang demikian, mereka dapat

meninggalkan gompanya dan pergi ke tempat lain.

Subjek-subjek yang diajarkan yaitu : Metafisik dan Filosofi di Insitut Tsen nid; Magis dan Ritual di

Institut Gyud; Pengobatan, dengan metode India dan Cina di Institut Men; Kitab-Kitab Suci di Institut

Do.

Aritmatika, Tata Bahasa, dan beberapa ilmu pasti yang lain diajarkan di luar sekolah-sekolah ini

oleh para profesor khusus.

Para siswa senior dan junior dari kelas Filosofi selalu mengadakan diskusi secara teratur. Kegiatan

ini kebanyakan dilakukan di tempat-tempat terbuka, dan di setiap biara terdapat sebuah taman

yang teduh dan dikelilingi tembok yang memang sengaja disediakan untuk kegiatan seperti ini.

Gerakan ritual disertai perdebatan yaitu  acara tetap dari kegiatan ini. Ada cara unik saat

menyampaikan pertanyaan yakni dengan memindahkan tasbih ke lengan, bertepuk tangan, dan

menghentakkan kaki. Melompat yaitu  cara yang telah ditentukan dalam menjawab pertanyaan

atau membalas interogasi rekan yang lain. Dan meskipun kata-kata yang dipertukarkan cuma

berupa kutipan dan hanya mengandalkan ingatan dari si pendebat, namun sikap mereka yang

menantang dan unik menghasilkan perdebatan-perdebatan yang cukup menarik.

Namun tidak semua anggota Institut Filosofi cuma membeo saja. Di antara mereka dapat

ditemukan pemikir-pemikir tajam dan cendekiawan tangguh. Mereka mampu mengutip isi artikel 

yang tak terhitung banyaknya selama berjam-jam dan juga dapat mengulas teks-teks tua dari artikel 

luar dan kemudian melakukan penafsiran dengan pemikiran mereka sendiri.

Ciri khas dari kontes-kontes umum ini yaitu , pada akhirnya, seseorang yang dinyatakan sebagai

pemenang akan digendong di pundak sang penantang mengelilingi aula pertemuan.

Institut Magis Ritualistis biasanya dianggap bagian paling bergengsi dari jajaran pendidikan tinggi

sebuah gompa, dan para siswanya, yang disebut gyud pa, diperlakukan dengan istimewa. Mereka

diyakini mengetahui suatu teknik khusus yang memungkinkan seseorang melunakkan hati dewa-

dewa yang kejam dan menaklukan para setan; dan tugas perlindungan biara diserahkan kepada

mereka. Para gyud pa dari dua Institut Gyud terbesar yang terdapat di Lhasa, juga bertindak dalam

kapasitas yang sama untuk kepentingan negara. Tugas yang diembankan pada mereka yaitu 

untuk memberikan kemakmuran kepada Tibet dan penguasanya, juga melindungi mereka dari

semua pengaruh-pengaruh jahat dan segala usaha yang membahayakan jiwa mereka.

Para gyud pa juga diberi kepercayaan dalam urusan pelayanan dan penghormatan kepada para

dewa atau setan aboriginal, yang niat baiknya telah dijanjikan akan diberi imbalan berupa

pemujaan abadi sesuai kebutuhan mereka. Para gyud pa ini juga diharuskan, dengan seni magis

mereka, menjaga agar roh-roh jahat tetap berada dalam ‘tahanan’ mereka.

Sehubungan dengan keterbatasan istilah dalam bahasa Inggris, kami terpaksa mengartikan gompa

sebagai monastery (biara), walau sebuah gompa memiliki banyak perbedaan dengan sebuah

81

biara Kristen. Kecuali bahwa penghuni gompa hidup tanpa menikah dan sebuah biara memiliki

properti, aku hampir tak menemukan kesamaan antara persekutuan keagamaan Kristen dan

Lhamais.

Mengenai hidup tanpa menikah, harus diingat bahwa semua bhikkhu yang tergabung dalam sekte

Ge-lugs-pa, atau yang terkenal dengan istilah ‘topi kuning’, hidup melajang. Namun pada sekte ‘topi

merah’, mereka yang hidup tanpa menikah yaitu  mereka yang telah lengkap ditabhiskan yang

disebut gelong. Para lhama atau trapa yang menikah, memiliki rumah di luar gompa dimana

keluarganya tinggal. Mereka juga memiliki kamar pribadi di biara-biara dimana mereka kadang-

kadang menginap saat festival keagamaan atau di saat istirahat dari latihan keagamaan atau

meditasi. Para istri dilarang menemani suaminya dalam kompleks biara.

Lhamaseri seperti halnya vihara-vihara di Sri Lanka atau biara-biara di negara Buddhis lainnya,

dimaksudkan sebagai rumah bagi mereka yang melakukan pencarian spiritual. Tujuan spritual ini

tidak pernah didefinisikan ataupun dijabarkan dan ini berlaku bagi semua penghuni gompa.

Rendah hati atau angkuh, tujuan tiap bhikkhu menjadi rahasianya sendiri dan dia akan berusaha

mencapainya melalui jalan yang ia pilih. Tidak ada latihan kebaktian yang umum atau praktek

keagamaan yang seragam di antara penghuni lhamaseri. Peraturan yang ada hanyalah berkarakter

seperti orang biasa, bersikap yang baik, menjaga biara, atau hadir pada setiap pertemuan dan

kebaktian rutin atau berkala. Pertemuan-pertemuan itu sendiri tak berkaitan dengan perayaan

keagamaan dan kehadiran setiap orang itu yaitu  untuk kepentingan diri sendiri dan berkah yang

diperoleh dimaksudkan untuk dirinya sendiri. Saat para bhikkhu lhamais berkumpul di aula,

disamping untuk mendengar ceramah para petinggi, tujuan yang lain yaitu  untuk membaca

mantram-mantram suci bagi kepentingan biara, negara, dan para donatur gompa. Pembacaan

mantram itu akan membawa berkah, kemakmuran, mencegah penyakit dan malapetaka, dan

menghindari para makhluk jahat.

Dalam hal upacara-upacara ritual, sesuai dengan sifat dasar magis, mereka juga melakukannya

untuk beberapa  tujuan dimana yang merayakan tak ambil bagian. Bahkan ada kepercayaan bahwa

tak seorang pun yang dapat melaksanakan upacara ritual bagi dirinya sendiri. Gyud pa yang paling

ahli pun terpaksa meminta bantuan rekannya jika ia ingin melaksanakan ritual untuk kepentingan

dirinya.

Magis untuk tujuan pribadi, meditasi dan latihan-latihan yang berhubungan dengan kehidupan

spiritual, dicapai secara rahasia oleh tiap bhikkhu di tempat tinggal masing-masing. Tak seorang

pun kecuali guru yang telah dipilihnya berhak mencampuri masalah ini. Tak seorang pun berhak

mempertanyakan tentang pandangan sang lhama. Dia boleh mempercayai apapun yang

menurutnya benar, dia bahkan boleh menjadi seorang yang tanpa kepercayaan; semua ini hanya

berkaitan dengan dirinya.

Tidak ada kapel atau tempat kebaktian di biara lhamais, sebab , seperti yang sudah dijelaskan,

tidak ada pemanjatan doa jika ada umat awam yang bergabung atau bahkan sekedar menghadiri.

Selain aula pertemuan itu, terdapat beberapa  lhakhang, yang bisa disebut sebagai ‘rumah para

dewa’. Masing-masing dipersembahkan untuk satu dewa atau beberapa  tokoh Buddhis yang

penting, bersejarah, atau melegenda. Mereka yang memujanya akan mengunjungi patung orang

yang dimuliakan ini . Mereka menyalakan lampu atau dupa dengan hormat, dan bersujud tiga

kali kemudian pergi. Permohonan sering diajukan pada saat berkunjung, namun tak selalu, dan

beberapa  pertemuan kesopanan ini yaitu  akibat dari rasa hormat yang tidak sungguh-sungguh.

Permohonan berkah di depan patung Sang Buddha tidak dilakukan, sebab  Sang Buddha

dianggap telah melampaui ‘dunia hawa nafsu’ dan sebenarnya telah melampaui dunia manapun.

82

dianggap telah melampaui ‘dunia hawa nafsu’ dan sebenarnya telah melampaui dunia manapun.

Namun suatu sumpah atau keinginan spiritual diekspresikan seperti: “Semoga saya, di kehidupan

ini atau yang akan datang, dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat demi kesejahteraan orang

banyak,” atau, “Semoga saya mampu memahami makna doktrin Sang Buddha dan dapat hidup

sesuai ajaranNya.”

Ada beberapa  orang yang saat menyalakan pelita kecil dalam sikap berdoa di depan patung Sang

Buddha, meminta tak lebih dibandingkan  pencerahan spiritual. Walaupun mereka melakukan sedikit

usaha untuk mencapai hal itu, namun kepercayaan akan penyelamatan yang ideal secara mistik

melalui pencerahan masih hidup di kalangan orang Tibet.

Untuk menyempurnakan pembebasan spiritual seorang bhikkhu lhamais, dibutuhkan pembebasan

secara materi yang hampir seimbang.

Para anggota sebuah biara tidak hidup secara bersama-sama, namun masing-masing tinggal di

rumah atau apartemen pribadi, dan tiap orang hidup menurut pengertian masing-masing.

Hidup serba kekurangan tidak diharuskan pada mereka sebagaimana keadaan para bhikkhu

Buddhis pada awalnya. Bahkan dapat kukatakan bahwa seorang lhama yang menjalankan hal itu

secara suka rela tidak mendapat penghargaan khusus. Tampaknya hanya para pertapa yang

menuruti ‘eksentriksitas’ yang demikian.

Namun sebenarnya, pembebasan absolut yang sudah benar-benar dipahami di India – mungkin

India satu-satunya – bukanlah hal yang sama sekali asing bagi orang-orang Tibet[47] dan mereka

juga menganggapnya sebagai hal yang mulia. Berbagai kisah tentang anak-anak muda dari

keluarga berada yang meninggalkan rumahnya dan menjalani hidup sebagai pengemis religius

(khususnya, kisah tentang Siddharta Gautama, Sang Buddha, yang meninggalkan kekayaan dan

tahtanya) diceritakan dengan penuh rasa hormat dan kekaguman. Namun kisah-kisah ini, sebab 

terjadi pada masa yang sudah lama berlalu, dianggap sebagai kisah dari dunia lain yang tak ada

kaitan apapun dengan para lhama mereka yang makmur dan dimuliakan.

Seseorang dapat saja ditabhiskan pada tingkatan apapun dari Persekutuan religius tanpa harus

menjadi anggota sebuah biara, walaupun ini jarang terjadi, dan hanya terjadi saat  seorang calon

yang cukup umur mengerti apa yang sedang ia lakukan dan berniat menjalankan hidup sebagai

seorang pertapa.

Izin memasuki sebuah gompa bukan berarti punya hak untuk tinggal gratis di dalamnya. Setiap

bhikkhu harus membangun sendiri tempat tinggalnya atau membelinya dari pemilik sebelumnya,

kecuali ia mewarisinya dari salah seorang keluarganya atau gurunya. Bhikkhu yang miskin

menyewa satu atau dua kamar dari rumah rekannya yang kaya. Pada kasus seorang pelajar atau

trapa terpelajar atau sudah tua, biasanya tempat tinggal di rumah para lhama kaya diberikan gratis

kepada mereka.

Mereka yang paling miskin, yang selain memerlukan tempat bernaung juga tempat tinggal, akan

membaktikan diri mereka sebagai pelayan dari anggota-anggota kaya biara itu. Keadaan mereka

tergantung pada kemampuan mereka masing-masing; beberapa mungkin menjadi pesuruh, tukang

masak, atau penjaga kandang kuda. Mereka yang berhasil menjadi pelayan seorang tulku,

biasanya akan menjadi orang penting dan makmur.

Para bhikkhu terpelajar yang berasal dari keluarga miskin memperoleh penghasilan mereka dari

mengajar, melukis jika mereka berbakat dalam melukis gambar-gambar religius, menjadi pendeta

di rumah para lhama kaya atau orang biasa, atau kadang melaksanakan upacara keagamaan di

rumah-rumah penduduk. Disamping berbagai profesi ini, meramal, astrologi, menggambar

83

horoskop, bisa menjadi sumber pemasukan yang patut diperhitungkan.

Para dokter lhama akan menciptakan keadaan yang menyenangkan bagi hidup mereka jika

mampu menyembuhkan beberapa  orang-orang penting. Namun bahkan dengan angka keberhasilan

yang kecil, profesi kedokteran yaitu  profesi yang menguntungkan.

Namun bagaimanapun, profesi yang paling diminati banyak orang yaitu  berdagang. Kebanyakan

bhikkhu-bhikkhu lhamais, khususnya yang tidak berpikiran religius akan berprofesi sebagai

pedagang. Jika mereka kekurangan modal untuk menjalankan bisnis sendiri, mereka kemudian

menjadi sekretaris, akuntan, atau sekedar pelayan dari seorang pedagang.

Transaksi bisnis, dalam cara yang lebih kurang sederhana, diizinkan di biara hingga tingkat

tertentu. Bagi anggota yang memiliki bisnis cukup besar, diberikan izin meninggalkan biara untuk

bepergian dengan karavan mereka, dan membuka toko atau cabang dimana pun mereka mau.

Seseorang mungkin berpendapat bahwa berdagang sangat tidak sesuai dengan pencarian

spiritual, namun kita harus menyadari bahwa seorang bhikkhu sangat jarang berkesempatan

menentukan profesinya sendiri. Kebanyakan dari mereka dibawa ke biara saat masih kecil,

sehingga tak adil rasanya untuk menyalahkan mereka sebab  tidak menggemari hal mistis yang

memang tak pernah menjadi pilihan mereka.

Perdagangan dalam skala yang lebih besar dijalankan sendiri oleh pihak biara sebagai sarana

untuk menambah pemasukan mereka. Mereka melakukan barter dan menjual hasil-hasil tanah serta

ternak yang mereka terima dari para penyewa. Kemudian semua pemasukan ini ditambah lagi

dengan penghasilan yang diperoleh dari pengumpulan-pengumpulan (sumbangan) besar yang

disebut kartik. Pengumpulan ini diadakan pada selang waktu tertentu, tiap tahun atau dua atau tiga

tahun sekali. Para lhama juga mengambil jalan ini saat  membangun sebuah biara baru, atau

sebuah vihara baru di biara yang sudah dibangun, dan untuk berbagai tujuan lainnya. Sebuah biara

kecil biasanya hanya mengirim beberapa bhikkhu ke daerah-daerah sekitar untuk meminta

sumbangan, namun di gompa yang besar, pergi melakukan kartik seperti melaksanakan sebuah

ekspedisi. beberapa  kelompok trapa pergi dari Tibet menuju Mongolia, menghabiskan beberapa

bulan menjelajahi seluruh negeri dan kembali bak ksatria yang menang perang dengan membawa

ratusan kuda, ternak, emas, perak dan berbagai barang lain, semuanya yaitu  persembahan dari

para umat.

Mereka mempunyai kebiasaan yang unik untuk mempercayakan, pada waktu tertentu, beberapa 

uang, atau beberapa  barang, pada seorang pengurus biara yang harus memutar modal itu sehingga

dapat membiayai beberapa  keperluan diluar keuntungannya. Sebagai contoh, ia harus menyuplai

dalam setahun atau lebih, beberapa  mentega agar pelita-pelita di lhakhang tetap menyala, atau ia

harus memenuhi kebutuhan makanan untuk semua komunitas biara, atau membiayai perbaikan

biara, makanan kuda, pelayanan tamu, dan berbagai keperluan lain. Pada akhir masa yang

ditentukan, bisa jadi setahun atau tiga tahun, modal yang dipercayakan kepadanya harus

dikembalikan. Jika orang yang menerima modal itu, sebagai deposit, mampu menghasilkan

keuntungan lebih dibandingkan  yang dibutuhkan untuk menutupi pengeluarannya, maka bersyukurlah ia,

dan dia dapat mengambil kelebihannya. Namun jika ia mengeluarkan lebih dari keuntungannya,

maka ia harus merogoh koceknya sendiri untuk membayar kekurangannya. Dalam keadaan

apapun, modal itu harus dikembalikan dalam keadaan utuh.

Administrasi sebuah biara yang besar serumit administrasi sebuah kota kecil. Disamping

berpenghuni ribuan manusia di balik temboknya, gompa-gompa ini juga memiliki tanah yang dihuni

oleh para penyewa, pada siapa mereka berhutang perlindungan dan mempunyai hak-hak keadilan.

beberapa  petugas terpilih, dibantu beberapa pegawai dan semacam petugas polisi, semuanya

84

beberapa  petugas terpilih, dibantu beberapa pegawai dan semacam petugas polisi, semuanya

rohaniawan, mengurus masalah-masalah duniawi ini.

Seorang tokoh besar yang disebut tsog chen shal ngo dipilih sebagai kepala gompa. Padanya

bergantung jenis hukuman yang akan diberikan kepada mereka yang melanggar peraturan biara.

Beliau inilah yang memberikan izin pergi, dispensasi, dan izin masuk ke gompa. Dia dibantu oleh

beberapa petugas. Mereka semua mengenakan jubah resmi yang dihiasi batu berharga,

membawa tongkat perak bertabur ornamen-ornamen emas dan bertahta batu pirus dan koral.

 Para polisi, yang disebut dobdob, mendapat perlakuan yang istimewa. Mereka direkrut dari para

pembual buta huruf berbadan atletis yang ayah-ayah mereka telah menitipkan mereka ke biara

sejak masih kecil saat seharusnya mereka masih tinggal di barak-barak.

Pemberani, kejam dan kasar, senantiasa bertampang seperti orang yang ingin mencari masalah,

orang-orang tak bersopan santun ini benar-benar memiliki karakteristik sebagai penjahat dari abad

pertengahan.

Tanda pengenal favorit mereka yaitu  kotoran. Minyak, menurut mereka, menambah penampilan

semangat perang seorang pria. Seorang pemberani sejati tak pernah membersihkan diri, bahkan

dia menghitamkan mukanya d