aya akan reinkarnasi jiwa manusia dan
bahkan ke tubuh binatang (metempsychosis). Ini benar-benar salah.
Buddhisme mengajarkan bahwa energi yang dihasilkan dari aktifitas mental dan fisik suatu makhluk
hidup mengakibatkan kemunculan fenomena mental dan fisik yang baru, saat makhluk ini
meninggal.
Tentang hal ini muncul beberapa teori yang rumit, dan kaum mistik Tibet kelihatannya mencapai
pemahaman yang lebih mendalam dibanding kebanyakan umat Buddha yang lain.
Bagaimanapun, di Tibet, seperti juga di tempat lain, pandangan para filsuf hanya dimengerti oleh
kalangan tertentu saja. Masyarakat umum, walaupun selalu mengulang kepercayaan kuno: ‘semua
agregat tak kekal, tak ada “ego” di diri atau apapun’, tetap cenderung terikat pada kepercayaan
adanya suatu entitas yang berkelana dari satu dunia ke dunia lain dalam berbagai variasi bentuk.
Pendapat kaum Lhamais mengenai kondisi seseorang segera sesudah ia meninggal berbeda
dengan yang dimiliki umat Buddha di negara-negara Selatan: Srilanka, Burma, Thailand. Kaum
Lhamais menegaskan bahwa ada suatu masa di antara saat kematian dan kelahiran kembali yang
akan dialami oleh setiap makhluk dari enam jenis makhluk berkesadaran.[16]
Menurut kepercayaan yang populer, jenis alam tempat seseorang dilahirkan dan keadaan yang
lebih atau kurang menyenangkan dimana seseorang ditempatkan, yaitu bergantung pada baik
buruknya perbuatannya di keberadaan yang lalu.
Lhama yang lebih bijaksana mengajarkan bahwa manusia ataupun makhluk lain, pikiran dan
perbuatannya menciptakan suatu keterikatan, yang secara alami, membawanya ke jenis
keberadaan sesuai dengan sifat keterikatan ini .
Yang lain mengatakan bahwa, dengan perbuatannya, terutama aktifitas mental, dia membentuk diri
sejatinya menyerupai karakteristik dewa, binatang, atau jenis makhluk yang lain.
Sampai di sini, pandangan-pandangan yang diuraikan di atas berbeda sedikit saja dari apa yang
diyakini umat Buddha umumnya. Teori para lhamais berikut lebih original.
Pertama-tama, hal paling penting yang diajarkan sekte-sekte tertentu Buddhis Mahayana bahkan
lebih ditekankan lagi oleh kaum Lhamais.
‘Dia yang tahu bagaimana cara mengendalikannya dapat hidup dengan nyaman meskipun di
neraka,’ yaitu semboyan yang populer di Tibet. Ini menggambarkan dengan lebih jelas dibandingkan
semua definisi dan deskripsi yang digunakan para lhama untuk menjelaskan thabs, misalnya
dengan menyebutnya sebagai ‘metode’.
Dengan demikian, di saat para rohaniawan mempercayai bahwa nasib seorang mati ditentukan
secara matematika oleh prilaku moralnya, para Lhamais menyatakan bahwa dia yang tahu
‘metode’ yang benar akan dapat memodifikasi takdirnya kelak (post-mortem fate) sehingga
menjadi lebih baik. Dalam kata lain, dia dapat menyebabkan dirinya terlahir kembali di keadaan
yang paling disetujui dan memungkinkan.
Mereka menyebutnya: ‘sesetuju mungkin’, sebab terlepas dari kepintarannya, bobot perbuatan-
perbuatan yang lalu cukup menentukan. Malah dalam kenyataannya amat sangat berpengaruh,
sehingga usaha-usaha yang dilakukan oleh si orang mati ataupun seorang yang ahli di masa
hidupnya untuk keselamatannya kelak, tak mampu menghentikan si ‘jiwa’ untuk membawa dirinya
sendiri ke kelahiran kembali yang menyedihkan. Kita akan menggambarkan keadaan yang rumit ini
sesaat lagi.
sebab menganggap ide ‘metode’ itu yaitu hal yang paling penting, kaum Lhamais berpikir
bahwa sesudah belajar seni hidup yang baik, seseorang haruslah belajar seni mati yang benar dan
dengan kata lain ‘hidup yang benar’ di dunia yang lain.
Para pakar ilmu gaib, mungkin dapat mengetahui apa yang menunggu mereka saat meninggal,
sementara para lhama kontemplatif, telah melihat dan mengalami, di kehidupan ini, sensasi yang
dialami saat meninggal. sebab nya, mereka tak akan terkejut atau bermasalah saat jiwa dan
raganya berpisah. ‘Sesuatu’ yang kemudian melanjutkan, memasuki kesadaran alam lain, sudah
mengenal dengan baik jalan-jalan yang akan dilalui dan tempat yang akan dikunjungi.
Apakah ‘sesuatu’ itu yang melanjutkan jalan saat tubuh sudah menjadi mayat? Itu yaitu sebuah
‘kesadaran’ yang istimewa dari beberapa kesadaran yang dapat dikenali oleh kaum Lhamais.
‘Kesadaran’ akan ‘aku’, atau dengan definisi lain ‘keinginan untuk hidup’.
Aku akan menggunakan kata ‘jiwa’ untuk si ‘pengelana’ yang perjalanan ke dunia berikutnya
sedang kita ikuti. Istilah ini sebenarnya tidak mewakili dengan tepat ide yang diringkaskan para
cendekiawan Tibet dengan kata-kata Yid kyi rnampar shespa, namun istilah ini cukup dikenal oleh
orang Barat dan tidak ada lagi istilah barat yang lebih cocok dari ini.
Kukatakan bahwa – seperti kata orang Tibet – seorang pakar mistik mampu menjaga ketajaman
pikirannya saat proses disintegrasi jiwa dan raganya, dan ini membuat dia melewati kehidupan ini
ke kehidupan berikutnya dengan kesadaran penuh, dengan demikian orang ini tak memerlukan
bantuan di saat-saat terakhirnya maupun ritual keagamaan sesudah kematiannya.
Tapi ini bukanlah kasus untuk manusia biasa.
Manusia biasa, baik orang awam maupun para bhikkhu, yang tidak menguasai ‘ilmu kematian’,
umumnya jauh lebih banyak.
Lhamaisme tidak menelantarkan orang-orang ini dengan ketidaktahuannya. Saat mereka ini
sedang menyongsong kematian, atau sesudah kematian, seorang lhama akan mengajarkan mereka
hal-hal yang tak mereka ketahui saat masih hidup. Dia menjelaskan pada mereka sifat alami setiap
makhluk dan hal-hal yang akan muncul di perjalanan mereka; dia menenangkan mereka, dan tak
berhenti menuntun mereka ke arah yang benar.
Lhama yang menuntun orang menjelang kematiannya, harus berhati-hati supaya tidak tertidur, jatuh
pingsan atau koma. Dia menyebutkan berturut-turut pemisahan ‘kesadaran’ tertentu yang terikat
pada setiap indera, yakni kesadaran mata, kesadaran hidung, lidah, badan/kulit, dan telinga.
Dengan kata lain dia menyebutkan penghilangan secara berangsur-angsur dari penglihatan,
penciuman, sentuhan, rasa dan pendengaran.
Tugas sang lhama berikutnya yaitu menuntun ‘jiwa’ keluar melalui puncak kepala. Jika keluar dari
jalan yang lain, kehidupan mendatang orang itu akan terancam bahaya.
Pemisahan ‘jiwa’ ini dihasilkan dengan melakukan jeritan ritual ‘hik!’, yang diikuti dengan ‘phat!’.
Sebelum melaksanakan ritual ini, sang lhama harus berkonsentrasi dan mengidentifikasi dirinya
sebagai si orang yang baru meninggal itu. Dia harus membuat suatu usaha, yang harusnya
dilakukan orang itu sendiri, untuk membuat ‘jiwa’ naik ke puncak kepala dengan tenaga yang cukup
untuk sekaligus menghasilkan celah yang akan digunakan sebagai jalan keluarnya.
Para pakar yang mampu membuat ‘jiwa’nya naik sendiri, akan mengeluarkan jeritan pembebasan
Hik! dan Phat! saat mereka merasa ajalnya sudah dekat, sehingga mereka membebaskan dirinya
tanpa bantuan.
Mereka juga dapat melakukan bunuh diri dengan cara itu dan disebutkan bahwa beberapa orang
mistik telah pernah melakukannya.
‘Jiwa’ ini kemudian memulai suatu perjalanan yang aneh. Kepercayaan populer menyatakan
perjalanan itu melewati suatu tempat yang benar-benar ada dan dipenuhi oleh makhluk-makhluk
yang nyata. Namun Lhamais yang lebih terpelajar berpendapat bahwa perjalanan itu yaitu
serangkaian penglihatan subjektif yang dipengaruhi oleh karakter dan perbuatan masa lalu.
Beberapa Lhamais menyatakan, segera sesudah ‘jiwa’ mengalami disinkarnasi (pelepasan dari
badan kasarnya), dia masih memiliki intuisi yang terlepas bagai sebuah lintasan cahaya, dari
‘Realitas Tertinggi’. Jika sang jiwa mampu meraih cahaya itu, dia pasti akan terbebas dari
lingkaran kelahiran dan kematian. Dia mencapai keadaan nirvâna.
Ini kasus yang jarang terjadi. Umumnya si ‘jiwa’ terpesona oleh sinar yang tiba-tiba ini. Dia
bersembunyi darinya, ditarik kembali oleh konsepsinya yang salah, keterikatan akan keberadaan
individunya dan kesenangan duniawi. Atau, dia tak mengerti apa yang ia lihat, ia keasyikan sendiri
dalam dunianya sehingga gagal memperhatikan apa yang terjadi di sekitarnya.
Seseorang yang meninggal dalam keadaan tidak sadar, tidak akan segera menyadari apa yang
terjadi saat ia tersadar. Dalam beberapa hari ia akan ‘berbicara’ kepada orang-orang di tempat
tinggalnya dulu dan dia akan memperhatikan bahwa tidak ada yang menjawabnya atau menyadari
kehadirannya.
Seorang Lhama di biara Litang, Tibet Timur, pernah mengatakan padaku bahwa beberapa orang
yang sudah meninggal, dengan dengan perantaraan para dukun pawo (medium), mengatakan
bahwa mereka berusaha untuk menggunakan benda-benda miliknya dulu. Mereka mencoba
menggunakan cangkul untuk mengerjakan sawahnya, atau mencoba mengambil baju di gantungan
dan memakainya. Mereka sangat menderita sebab tak dapat melanjutkan hidup sebagaimana
biasanya.
Untuk kasus yang demikian, ‘jiwa’ si mati disorientasi. Apa yang telah terjadi padanya? Dia
memperhatikan ada tubuh yang mirip dengannya yang sedang dikelilingi para lhama yang
membacakan mantram. Apakah mungkin dia sudah meninggal?
Orang-orang yang sederhana percaya bahwa ‘jiwa’ yang disinkarnasi itu akan pergi ke tempat
berpasir dan memperhatikan jejak kakinya di tanah. Jika jejak kakinya terbalik, maksudnya jari-jari
kaki di belakang dan tumit di depan, dia tak ragu lagi bahwa dia sudah meninggal.
Kita mungkin akan bertanya, bagaimana mungkin ‘jiwa’ punya kaki? Itu bukanlah ‘jiwa’ yang
sebenarnya, namun ‘ethereal double’ (kembaran halus) yang mana orang mati itu masih terikat
padanya. Orang Tibet, seperti juga Mesir, percaya akan ‘double’ ini .
Semasa hidup, dalam keadaan normal, ‘double’ ini hampir menyatu dengan tubuh materi kita.
namun beberapa keadaan tertentu dapat menyebabkan pemisahan keduanya. ‘ Double’ itu dapat
meninggalkan tubuh materi dan muncul di tempat-tempat yang berbeda; atau menjadi tak terlihat,
dia dapat melakukan berbagai perjalanan. Pada beberapa orang, pemisahan ini terjadi tanpa
disengaja, namun orang-orang Tibet mengatakan mereka yang telah melatih diri mereka tentang hal
ini, akan dapat melakukannya kapanpun ia mau.
Pemisahan itu, bagaimanapun, belumlah selesai, sebab dalam sebuah kehidupan terdapat
penyatuan dua buah wujud. sesudah kematian, hubungan keduanya hanya bertahan beberapa saat.
Hancurnya mayat, biasanya, namun tidak harus, pada akhirnya akan menghancurkan si ‘double’.
Dalam kasus tertentu, ‘double’ ini mampu mempertahankan kehidupan pasangannya.
Di Tibet, kita dapat menemukan orang-orang, yang dalam keadaaan setengah sadar (lethargy),
dapat menggambarkan berbagai tempat yang menurut mereka telah mereka kunjungi. Beberapa
orang di antaranya mengunjungi negara-negara yang didiami manusia, yang lain dapat
menceritakan perjalanannya ke surga, tempat-tempat penyucian dosa, atau bardo[17], daerah
perantara dimana ‘jiwa’ mengembara untuk menunggu reinkarnasi.
Para pengelana yang aneh ini disebut para delog, yang artinya seseorang yang kembali dari alam
kematian.
Walaupun para delog ini memiliki penggambaran yang bervariasi mengenai tempat-tempat dan
kejadian-kejadian, namun mereka umumnya setuju bahwa perasaan di kematian-palsu ini sangat
menyenangkan.
Seorang wanita yang kutemui di desa Tsarong, beberapa tahun lalu, pernah ‘mati suri’ selama
seminggu.
Dia mengatakan bahwa dia sangat heran dengan tubuh barunya yang demikian ringan dan tangkas
dan mampu bergerak luar biasa cepatnya. Dia hanya perlu mengharapkan mengunjungi suatu
tempat, maka dia akan segera berada di sana, dia dapat menyeberangi sungai, berjalan di atas
air, atau menembus dinding. Hanya satu hal yang tidak dapat ia lakukan, yakni memutuskan suatu
ikatan yang hampir tak terasa antara tubuh halusnya dengan tubuh materinya, yang ia lihat dengan
jelas sedang terbaring di dipannya. Walaupun ikatan ini panjangnya tanpa batas, namun kadang
menghalangi gerakannya. Saya dapat ‘terperangkap di dalamnya’, katanya.
Seorang delog pria, yang pernah ditemui putraku di masa mudanya, memberikan penggambaran
yang serupa.
Kenyataannya, seorang delog bukanlah orang mati yang sebenarnya, sehingga tak ada yang
mampu membuktikan bahwa sensasi yang dirasakan dalam keadaan lethargy itu, akan sama
dengan yang dialami orang mati. Orang-orang Tibet kelihatannya tak begitu terpengaruh akan
perbedaan ini.
Saat seseorang sudah menghembuskan nafas terakhir, dia kemudian dipakaikan baju terbalik,
bagian depan baju dikancing di punggungnya. Kemudian dia akan diikat, dengan kedua kaki
disilangkan atau lututnya dibengkokkan hingga ke dada. Di desa-desa, jenazah itu, dengan pakaian
29
yang demikian, biasanya diletakkan di sebuah kaldron. Segera sesudah jenazah dibawa ke
pemakaman, kaldron itu buru-buru dibersihkan untuk diisi dengan sup atau teh, kemudian
disuguhkan kepada para pelayat yang tak merasa takut akan terinfeksi kuman dari mayat itu.
Di Tibet, upacara pemakaman berlangsung cukup lama. Meskipun efek ketinggian, terutama di
propinsi Utara dan Pusat, dapat memperlambat pembusukan, namun di lembah yang panas dan
lembab, jenazah juga disemayamkan selama seminggu atau lebih yang kemudian menyebarkan
bau yang menusuk hidung.
Hal ini tak mengurangi nafsu makan para trapa yang bertugas membimbing si orang mati,
menunjukkan arah mana yang harus ditempuh dan yang harus dihindari di kehidupan berikutnya.
Mereka makan di hadapan jenazah, bahkan ada yang mengatakan mereka makan bersama
dengan si orang mati, yang diundang kepala pendeta dengan mengatakan: “Jiwa, kemarilah
segera dan kenyangkan dirimu.”
Di daerah Tibet yang berhutan, jenazah dibakar. Penduduk di wilayah Utara dan wilayah Pusat yang
luas dan tandus, membiarkan jenazah dimangsa binatang buas, baik di daerah pemakaman di
sekitar desa atau di gua-gua di pegunungan.
Jenazah beberapa rohaniawan terkemuka kadang diawetkan dengan penggaraman dan dimasak
dalam mentega. Mumi ini disebut mardong. Dibungkus kain, wajahnya disepuh emas, ditempatkan
di makam perak yang sangat besar, bertabur batu-batu berharga. Kadang di bagian wajahnya
dilapisi kaca agar wajah sepuhannya dapat dilihat. Beberapa Lhama Agung dibakar dengan
mentega dan tulangnya disimpan di peti mati yang indah. Semua monumen pemakaman di Tibet
mengambil bentuk chorten, imitasi dari bentuk stupa yang dibangun oleh kaum Buddhis kuno di
India untuk makam orang suci, atau relik berharga yang lain.
Untuk menjalankan kepercayaan Buddhis bahwa menderma yaitu perbuatan yang mulia, maka
kaum Lhamais menemukan bahwa acara pemakaman yaitu kesempatan yang paling sesuai
untuk itu. Orang mati itu berharap – atau setidaknya pernah berharap – tubuhnya sebagai
persembahan terakhir, sebagai makanan untuk mereka yang kelaparan.
Sebuah tulisan berjudul: Panduan ‘jiwa’ orang mati menuju dunia berikutnya [18], memaparkan hal
ini sebagai berikut:
Jenazah dibawa ke puncak gunung, kemudian dipotong-potong. Kaki dan tangan dipotong dengan
pisau tajam. Isi perut, jantung, paru-paru, digeletakkan di tanah. Burung-burung, srigala dan rubah
akan menyantapnya.
Jenazah diceburkan ke sungai suci. Darah dan isinya larut di dalam air. Daging dan lemak menjadi
santapan ikan dan berang-berang.
Jenazah dibakar. Daging, tulang dan kulit menjadi setumpuk abu. Baunya mengenyangkan para
Tisa.[19]
Jenazah dikubur di tanah, daging, tulang dan kulit menjadi santapan cacing.
Keluarga yang mampu membiayai para bhikkhu, melaksanakan ritual keagamaan setiap hari,
selama enam minggu sesudah pemakaman. Sebuah boneka kayu dibuat, dengan memakai pakaian
si mati, sehelai kertas mewakili wajahnya. Kadang-kadang wajah si mati disketsa di kertas itu, atau
lebih sering mereka membeli kertas yang bergambar wajah orang, laki-laki atau perempuan, dari
biara. Nama si mati ditulis di bawah gambar yang sudah jadi ini .
30
Ada satu lagi, di tahap terakhir, lhama yang memimpin upacara membakar sehelai kertas itu, yang
mewakili wajah si mati. Baju milik si mati yang dipakai boneka kayu itu diberikan kepada sang
lhama sebagai bagian dari upahnya.
sesudah acara pembakaran simbolik ini, keterikatan si mati dengan dunia ini dianggap sudah
terputus.
Orang-orang Tibet sangat tidak menginginkan berhubungan dengan orang yang sudah mati. Para
petani menggunakan cara yang tepat untuk menjauhkannya. Sebelum jenazah dibawa keluar dari
rumah, santapan terakhir dihidangkan untuknya dan anggota keluarga yang tertua menyampaikan
kata-kata berikut:
“…, dengarkanlah. Kamu sudah meninggal, percayalah. Kamu tak mampu berbuat apapun lagi
disini. Makanlah untuk yang terakhir kali. Kamu akan menempuh jalan yang panjang dan melewati
beberapa pegunungan. Kuatkan dirimu, dan jangan pernah kembali lagi.”
Aku pernah mendengar pembicaraan yang lebih aneh lagi.
sesudah mengatakan hal yang semestinya kepada si mati yakni bahwa dia bukanlah milik dunia ini
lagi, dan menyuruhnya jangan pernah muncul kembali, si pembicara menambahkan:
“Pagdzin. Saya harus mengatakan padamu bahwa rumahmu telah terbakar, semua harta milikmu
telah musnah. sebab hutang yang tak kamu ingat, si penagih hutang telah membawa kedua anak
lelakimu pergi untuk dijadikan budak. Istrimu telah pergi dengan suami barunya. Maka janganlah
kamu kembali lagi sebab kamu akan menderita melihat semua ini.”
Aku keheranan mendengar semua malapetaka yang luar biasa ini.
“Bagaimana mungkin kemalangan yang berturut-turut ini dapat terjadi?” tanyaku pada asistenku.
“Tak ada kemalangan yang terjadi,” jawabnya sambil tersenyum. “Rumah, ladang dan ternaknya
masih utuh. Istri dan anaknya sedang duduk diam di rumahnya. Kami mengarang dongeng ini untuk
menakuti Pagdzin sehingga dia tak berpikir untuk kembali ke rumahnya.”
Bagi orang-orang yang percaya akan kemampuan si ‘jiwa’ untuk melihat apa yang sedang terjadi di
dunia, ini agak terlihat sebagai sebuah tipu muslihat yang naif.
Di acara kebaktian yang jauh lebih khidmat dari yang dilakukan oleh para petani, sang lhama juga
menasehati orang yang sudah mati itu untuk menempuh jalannya tanpa menoleh ke belakang.
Namun hal ini yaitu demi kebaikan si ‘jiwa’, sementara yang dipikirkan orang-orang pada
umumnya hanyalah untuk menghindari kemunculan hantu yang mereka anggap berbahaya.
Selama pelaksanaan upacara-upacara ini, sang ‘jiwa’ memasuki alam Bardo.
Dia akan melihat secara berurutan: cahaya, makhluk-makhluk yang indah dan wujud-wujud yang
mengerikan.
Dia akan melihat banyak jalan setapak dalam berbagai warna, dan bermacam penampakan yang
aneh. Hal-hal ini akan mengagetkannya, dia akan tersesat dan berputar-putar di antara mereka
secara acak.
Jika ia mampu mendengarkan dan mengikuti arahan lhama yang membimbingnya, dia akan
menempuh jalan yang akan membuatnya terlahir kembali ke alam para dewa atau keadaan lain
yang menyenangkan - mungkin seperti halnya mereka yang sudah mahir, yang memasuki alam
Bardo dalam keadaan sadar, sesudah sebelumnya mempelajari ‘peta’nya dengan teliti.
namun orang-orang yang tak mengetahui apapun tentang Bardo, dan memasukinya dalam keadaan
menyesal atau kecewa dengan dunia materinya, sangat sukar untuk mendengarkan arahan yang
diberikan.
Maka, mereka pun tak berkesempatan untuk menghindar dari akibat-akibat semua perbuatannya
yang seolah dihitung secara matematis. Jalan menuju alam yang indah telah tertinggal di belakang.
Mereka kemudian melihat rahim manusia atau binatang. sebab terpengaruh oleh halusinasinya,
mereka akan melihatnya sebagai gua atau istana. sebab menganggap telah menemukan tempat
yang cocok untuk ditinggali, mereka pun memasuki salah satu di antaranya yang lalu menentukan
kondisi kehidupan mereka berikutnya. Seseorang mungkin akan terlahir sebagai seekor anjing,
sementara yang lain akan terlahir sebagai anak dari keluarga terhormat.
Menurut kepercayaan yang lain, beberapa besar orang yang belum mencapai pencerahan spiritual
tentang keadaan sesudah kematian (post-mortem), dengan mengambil arti dari penampakan yang
muncul sesaat sesudah kematian mereka, akan menempuh perjalanan di alam Bardo yang berubah-
ubah laksana sekelompok biri-biri yang ketakutan, hingga akhirnya mereka mencapai pengadilan
Shinje, Hakim Kematian.
Shinje akan memerikasa perbuatan masa lalu mereka melalui cermin atau menimbangnya dalam
bentuk bidak hitam atau putih. Sesuai dengan jenis perbuatan yang dominan, apakah baik atau
buruk, dia akan menentukan si ‘jiwa’ akan terlahir sebagai makhluk apa dan keadaan yang
menyertainya, misalnya dengan rupa cantik atau jelek, berkat intelektual, status sosial orang tuanya,
dan sebagainya.
Tidak ada pertanyaan tentang ‘kemahiran’ dalam usaha menyelamatkan seseorang disini, sebab
sang hakim bersifat adil dan tak bisa tawar-menawar.
Namun ada kalanya ‘kemahiran’ dapat membantu, dalam batas yang diizinkan oleh kekuatan
perbuatan masa lalunya. Aku telah menyebutkan tentang hal ini dan sekarang aku akan
memberikan satu ilustrasi membingungkan yang merupakan ciri khas humor orang Tibet.
Seorang Lhama Agung telah menjalani hidupnya dalam kebodohan. Walaupun ia diberikan guru
yang hebat di masa mudanya, mewarisi sebuah perpustakaan penting dari pendahulunya, dan
senantiasa dikelilingi oleh orang-orang terpelajar, namun, ia sama sekali tak bisa membaca.
Kemudian Lhama ini wafat.
Pada masa itu, hiduplah seorang aneh, seorang ngagspa dan filsuf yang bicaranya blak-blakkan –
kadang kasar – yang sifat eksentriknya sering dilebih-lebihkan oleh para penulis biografinya, dan
telah menghasilkan beberapa cerita rakyat yang sangat disukai orang Tibet.
Suatu hari, Dugpa Kunlegs, demikian namanya, mengembara dengan menyamar sebagai seorang
pengelana. Saat mencapai tepi sungai kecil, ia melihat seorang gadis yang datang mengambil air.
Tiba-tiba ia menyerang gadis itu, dan tanpa berkata apapun ia mencoba memperkosanya.
Anak gadis itu masih muda dan kuat, sementara Dugpa Kunlegs sudah tua. Dengan sekuat tenaga
si gadis melawan dan berhasil menyelamatkan diri, lalu ia berlari pulang ke desanya, menceritakan
pada ibunya apa yang terjadi.
Wanita yang baik itu amat terkejut. Semua pria di desa itu berprilaku baik, tak seorang pun yang
bisa dijadikan tersangka. Penyerang itu mestinya seorang asing. Dia kemudian menyuruh anaknya
menceritakan ciri-ciri si pelaku.
32
Saat mendengarkan cerita anaknya, ia menjadi terkejut, ciri-ciri orang yang disebutkan anaknya
sangat menyerupai Dugpa Kunlegs, seorang Lhama suci dan eksentrik, dan ia pernah bertemu
langsung dengannya. Tak diragukan lagi, Dugpa Kunlegs lah yang telah mencoba memperkosa
anaknya.
Kemudian ia mencoba merenung sejenak tentang prilaku aneh orang suci ini. Prinsip moral umum
bagi orang awam tak berlaku bagi orang dengan kebijaksanaan luar biasa ini – pikirnya. Seorang
doubtob[20] tak mengikuti aturan manapun. Tindakannya berdasarkan pertimbangan yang bijaksana,
yang tak dapat dipahami oleh orang awam….
Lalu ia berkata pada anaknya:
“Orang yang kamu lihat tadi yaitu Yang Mulia Dugpa Kunlegs. Apapun yang ia lakukan yaitu
benar. Oleh sebab itu, kembalilah ke sungai, bersujud pada kakinya dan lakukan apa yang ia
inginkan.”
Si gadis kembali ke sungai dimana dilihatnya sang doubtob sedang duduk bermeditasi di atas
sebuah batu. Ia kemudian bersujud di depannya, meminta maaf sebab tidak mengetahui siapa
dirinya sehingga telah menolak keinginannya, dan mengatakan bahwa ia siap melakukan apa yang
dikehendaki.
Orang suci itu mengangkat bahu.
“Anakku,” katanya, ”perempuan tak membangkitkan gairahku. Sebenarnya, seorang Lhama Agung
dari biara sekitar sini telah wafat dalam kebodohan, dan mengabaikan semua bimbingan yang
diberikan. Aku melihat ‘jiwa’nya tersesat di alam Bardo dan ia akan terbawa ke kelahiran yang
buruk, tanpa belas kasihan. Aku berharap dapat membuatnya terlahir di alam manusia. Namun
kekuatan karma buruknya tak mengizinkan. Kamu melarikan diri, dan saat kamu berada di desa,
sepasang keledai di tanah lapang dekat sini kawin. Lhama Agung itu akan segera terlahir sebagai
keledai.”
Umumnya orang-orang yang telah meninggal mengikuti keinginan sanak keluarganya, seperti yang
tercermin di upacara pemakaman, yakni tak kembali. Ini menunjukkan bahwa nasib mereka di
kehidupan berikutnya telah ditentukan, dan mungkin, cukup memuaskan.
Namun ada juga yang tidak demikian, mereka sering muncul di mimpi sanak keluarganya atau
teman-temannya, dan hal-hal ganjil sering terjadi di kediamannya. Orang Tibet percaya bahwa si
‘jiwa’ tidak bahagia dan meminta pertolongan.
Dalam hal ini, ada para lhama peramal yang dapat dihubungi. Mereka akan meminta diadakan
upacara ritual, dengan memberi persembahan dan pembacaan kitab suci untuk menenangkan si
‘jiwa’.
Namun demikian, di daerah-daerah terpencil di sekitar perbatasan, orang-orang kembali ke
praktek Böns[21] kuno. Untuk kasus yang demikian, mereka pikir perlu mendengarkan si orang mati
secara langsung, maka dipanggillah seorang perantara (medium), pria atau wanita (pawo atau
pamo) untuk meminjamkan suara mereka pada si orang mati.
Upacara ritual untuk berhubungan dengan orang mati di Tibet berbeda dengan di negara barat.
Tidak perlu kegelapan atau keheningan, kadang bahkan diadakan di tempat terbuka.
S i pawo mulai membaca mantera, ditemani suara drum kecil dan lonceng. Dia mulai menari,
pertama perlahan, kemudian menjadi cepat dan semakin cepat, kemudian gemetar dan kejang-
kejang. Makhluk dari dunia lain, dewa, setan atau jiwa telah merasuki dirinya.
Dalam keadaan yang agak hiruk pikuk, dia mengatakan kalimat sepatah-patah, mungkin untuk
memberitahu bahwa si makhluk ingin berkomunikasi dengan seseorang.
sebab hal yang terpenting yang harus diketahui yaitu siapa yang berbicara melalui medium itu
dan apa yang dikatakan, maka orang terpintar dari desa itu dipanggil untuk mendengar dengan
seksama.
Terkadang dewa atau jiwa yang berbeda-beda bergantian merasuki si medium. Pernah sekali,
sebab terpengaruh makhluk yang merasukinya, si medium menyerang seorang pendengar dan
memukulnya tanpa ampun. Tindakan ini diterima tanpa perlawanan, orang Tibet menganggap
bahwa hal itu dimaksudkan untuk mengusir setan yang berdiam di tubuh orang itu tanpa ia sadari.
Tamu yang tak disukai itu, bagaimanapun, ditemukan oleh si jiwa yang mengendalikan medium.
Si orang mati yang menderita di kehidupan berikutnya biasanya membatasi penampilan mereka
agar punya kesempatan untuk melaporkan penderitaannya.
Dalam sebuah upacara pemanggilan arwah, dimana aku menjadi penonton, kudengar seseorang
berkata: “Aku bertemu dengan setan di perjalanan, ia menyeretku ke tempat tinggalnya. Dia jadikan
aku budak, aku disuruh bekerja keras, tanpa henti, dan ia memperlakukanku dengan buruk.
Kasihanilah aku! Bebaskanlah aku sehingga aku bisa pergi ke alam ‘Surga dengan berkat
termulia’.”
Ibu, istri, dan anak-anak dari laki-laki yang berbicara tadi pun berurai air mata.
Keluarga yang mendengar pesan seperti itu, cuma berpikir bagaimana caranya membebaskan
tawanan yang malang itu.
Ini yaitu masalah yang rumit.
Pertama-tama seseorang haruslah berkomunikasi dengan si setan untuk bernegosiasi mengenai
tebusan untuk si tahanan.
Penghubung yang dipilih biasanya para dukun Bön. Dia akan memberitahu keluarga si ’jiwa’ yang
menderita bahwa si setan menginginkan kurban seekor lembu atau babi, sebagai syarat
pembebasan.
sesudah memberikan kurban, orang Bön itu mulai kerasukan. ‘Double’ nya dianggap sedang pergi
ke tempat tinggal si setan.
Dia menempuh perjalanan; perjalanan itu panjang dan penuh rintangan. Ini ditunjukkan oleh
perubahan-perubahan yang dilakukan si ngagspa. Tak seperti pawo, dia hanya duduk di tempatnya,
banyak menggerakkan kepala dan dadanya. Dia mengucapkan kata-kata dengan tergesa-gesa,
menceritakan berbagai kejadian di perjalanannya.
Lebih sulit mendengar kata-katanya dibandingkan si pawo. Pendengar terpintar pun sulit mengartikan
apa yang diucapkan.
Orang Bön itu telah menyelesaikan tugasnya; ia telah mendapatkan si ‘jiwa’ dan akan
membawanya pergi. Setan itu telah menerima tebusan, namun ia melanggar janji dan mencoba
mempertahankan budaknya. Si ngagspa kemudian berkelahi dengannya, orang-orang dapat
melihat dia bergumul dengan terengah-engah dan mendengar teriakannya.
Keluarga dan teman-teman si mati mengikuti drama ini dengan penuh semangat. Mereka sangat
gembira saat si ngagspa mengatakan ia telah berhasil membawa si ‘jiwa’ ke tempat yang
dikehendaki.
Namun usaha pertama tak selalu berhasil. Aku telah melihat beberapa kejadian dimana si ngagspa
sudah berusaha dengan susah payah, namun kemudian ia mengatakan bahwa setan itu telah
mengambil si ‘jiwa’ darinya.
Pada kasus ini, semua upacara, kurban,…dan upah si orang Bön, dimulai kembali dari awal.
Jika seorang Lhama dipanggil untuk menyelamatkan ‘jiwa’ dari perbudakan, tidak ada kurban
sebagai tebusan, dan upacara ritualnya tanpa negosiasi. Sang Lhama, yang mempelajari ritual
gaib, menganggap dirinya cukup mampu untuk memaksa si setan melepaskan korbannya.
Dibawah pengaruh Buddhisme, penduduk Tibet seharusnya tidak lagi melakukan pengurbanan
hewan. Tapi hal ini kurang berpengaruh pada sebagian penduduk yang menetap di Himalaya yang
kurang mendapat sentuhan Lhamaisme dan yang masih mempraktekkan Shamanisme.
Kepercayaan para lhama terpelajar dan orang-orang kebatinan yang kontemplatif mengenai nasib
si ‘jiwa’ di kehidupan mendatang sangatlah berbeda dengan yang diyakini masyarakat umumnya.
Mereka menyatakan bahwa semua kejadian selama perjalanan di alam Bardo yaitu penglihatan
yang bersifat subjektif semata. Sifat dari penglihatan ini tergantung pada ide-ide yang dianut
seseorang saat hidup. Berbagai jenis surga, neraka, dan Hakim Kematian muncul kepada mereka
yang mempercayainya.
Seorang gomchen di Tibet Timur menceritakan padaku sebuah kisah mengenai hal ini.
Seorang pelukis yang tugasnya mendekorasi biara, sering melukis makhluk-makhluk fantasis
bertubuh manusia dan berkepala binatang, yang dianggap sebagai wujud-wujud Shinje. Putranya,
yang masih kecil, sering berdiri di sampingnya saat ia melukis dan melihat bentuk-bentuk makhluk
yang terdapat di lukisan dinding itu.
Kemudian suatu saat si anak meninggal, dan memasuki alam Bardo, ia bertemu dengan
makhluk-makhluk mengerikan yang pernah dikenalnya. Bukannya takut, ia malah tertawa. “Oh, aku
kenal kalian,” katanya. “Ayahku membuat kalian di dinding.” Dan ia berharap dapat bermain dengan
mereka.
Aku pernah bertanya pada Lhama Enche apa yang akan menjadi penglihatan subjektif post mortem
dari seorang materialis yang melihat kematian sebagai pemusnahan total.
“Mungkin,” kata sang Lhama, “orang itu akan melihat wujud-wujud yang berhubungan dengan
agama yang dianutnya saat masih kecil, atau yang dipercayai orang-orang di sekitarnya semasa
hidupnya. Sesuai dengan tingkat kecerdasan dan kejernihan post-mortemnya, dia akan,
barangkali, menganalisa penampakan-penampakan ini dan mengingat alasan-alasan yang
membuatnya dulu mengingkari realitas dari apa yang muncul di hadapannya kini. Dia kemudian
mungkin akan menganggap dirinya sedang berhalusinasi.
“Seorang yang kurang cerdas yang percaya akan pemusnahan total disebab kan kebodohan
ataupun ketidaktahuannya, mungkin, tak akan melihat penampakan apapun. Namun
bagaimanapun, hal ini tak mencegah energi dari perbuatan masa lalunya berlanjut dan
menghasilkan fenomena baru. Dengan kata lain, seorang materialis tetap mengalami kelahiran
kembali.”
*********
artikel -artikel ku telah dipenuhi oleh banyak catatan, ini menunjukkan bahwa aku sudah bekerja keras
sejak kedatanganku ke Sikkim. Kupikir sudah sepantasnya aku berlibur. Musim panas sudah dekat,
suhu yang hangat menggodaku untuk melakukan perjalanan ke utara negeri ini.
Jalan yang kupilih yaitu jalan setapak dari Gangtok menuju Kampa-dzong dan terus ke Shigatze,
Tibet. Dimulai secara perlahan dari bungalow para pengelana Dikchu yang ditutupi hutan tropis, di
tepi sungai Tista, jalan ini mengikuti alur anak sungai menuju ke hulu, dengan pemandangan yang
mempesona.
Lima puluh mil dari Gangtok, di ketinggian 8000 kaki, jalan ini melewati sebuah desa yang bernama
Lachen, yang merupakan tempat yang sangat mengesankan bagiku selama mendalami hal-hal
gaib Lhamais.
Kelompok kecil gubuk-gubuk ini terletak di daerah paling utara Sikkim, yang paling akhir dijumpai
oleh para pengembara di perjalanan menuju ke perbatasan Tibet. Tempat ini didiami oleh orang-
orang gunung yang kuat, yang bertani di lembah dan beternak yak[22] di daerah tinggi, dimana
mereka tinggal di tenda-tenda untuk waktu yang lama.
Di lereng pegunungan, sebuah biara tampak menonjol di antara rumah-rumah penduduk.
Aku mengunjungi tempat itu sehari sesudah aku tiba, namun aku tak menemukan hal-hal yang
menarik, saat akan beranjak, aku melihat sebuah bayangan gelap di keremangan pintu yang
terbuka: seorang Lhama berdiri di ambang pintu. Aku sebut seorang ‘Lhama’, namun ia tak
berpakaian sebagaimana jubah biara, pun tak berpakaian seperti orang biasa. Pakaiannya terdiri
dari rok putih hingga ke kaki, jaket sepinggang berwarna merah tua, dalam gaya Cina, dan melalui
lubang lengan bajunya yang besar, terlihat kaus berwarna kuning. Tasbih yang terbuat dari material
berwarna abu-abu dan manik-manik koral melingkari lehernya. Telinganya yang berlubang dihiasi
cincin emas besar bertabur batu pirus, dan rambut kepangnya panjangnya hingga menyentuh
tumit.[23]
Orang aneh ini hanya memandangiku tanpa berbicara, dan sebab saat itu aku tak menguasai
bahasa Tibet, aku tak berani memulai percakapan, aku hanya mengucapkan salam dan pergi.
Pembantuku yang serba bisa, seorang anak muda, menungguku di teras. Saat melihat sang Lhama
menuruni tangga di belakangku, dia segera bersujud tiga kali dan memohon agar diberkati.
Hal ini sangat mengejutkanku, sebab anak ini tak biasanya memberikan penghormatan yang
berlebihan, kecuali pada Pangeran Tulku dan Bermiag Kushog.
36
“Siapa Lhama itu?” tanyaku padanya sesudah kami kembali ke penginapan.
“Dia seorang gomchen besar,” jawab anak itu. “Salah seorang bhikkhu bercerita padaku saat Anda
di dalam biara. Beliau bertahun-tahun tinggal dalam gua di pegunungan. Para setan mematuhinya
dan beliau dapat membuat keajaiban. Kata mereka beliau mampu membunuh orang dari jarak jauh
dan terbang di udara.”
Sungguh orang yang luar biasa! pikirku.
Aku sangat tertarik dan sangat ingin tahu sebab aku dan Dawasandup pernah membaca cerita
tentang para gomchen Tibet. Aku juga pernah mendengar dari pangeran Tulku dan beberapa
lhama tentang para pertapa Tibet, cara hidup mereka, dan keajaiban yang dapat mereka
pertunjukkan.
Sekarang aku, secara kebetulan bertemu dengan salah seorang dari mereka. Ini yaitu
kesempatan yang berharga. Namun bagaimana aku berbicara dengan sang lhama? Pembantuku
ini sama sekali buta tentang filsafat Tibet, dia takkan mampu menerjemahkan pertanyaan-
pertanyaanku.
Aku merasa agak kesal sekaligus bersemangat. Aku tidur tak nyenyak, terganggu oleh mimpi-
mimpi yang kacau. Aku dikelilingi gajah-gajah yang memainkan musik dengan belalainya seperti
bunyi terompet panjang Tibet. Konser yang aneh ini membangunkanku. Kamarku gelap. Gajah-
gajah tak kelihatan lagi, namun musik itu tetap terdengar. sesudah mendengar dengan seksama,
aku mengenali irama religius. Para trapa memainkannya di teras biara. Mereka sedang menghibur
siapa di malam yang larut ini?….
Apapun hasilnya, aku akan mencoba mewawancarai sang gomchen. Aku mengirimkan pesan
untuk bertemu dengannya, dan keesokkan harinya, ditemani pembantuku, aku kembali ke biara.
Ruangan sang lhama yang berada di atas aula pertemuan dapat dicapai melalui sebuah tangga
primitif. Di depan pintu masuk terdapat teras kecil yang memiliki lukisan di dindingnya. Saat
menunggu beliau, aku mengamati lukisan dinding ini dengan kagum.
Di dinding itu, sang seniman, yang lebih diberkati oleh imajinasi dibandingkan keahlian profesional,
menggambarkan tempat penyucian dosa dengan setan-setan yang sedang menyeringai dan
korban yang menggeliat kesakitan dalam bentuk yang lucu.
Di tengah-tengah panel, ‘nafsu’ sedang menjalani hukuman. Seorang laki-laki, sangat kurus,
berhadapan dengan seorang wanita telanjang. Perut si wanita yang tidak proporsional,
membuatnya kelihatan seperti telur paskah berkaki dua dan berkepala boneka. Pendosa yang
bejat ini, yang menjadi budak dari nafsunya dan lupa dimana dan bagaimana dia sampai kesana,
sedang memeluk makhluk neraka berwujud wanita ini , yang mana dari mulutnya keluar api
dan membakar si lelaki.
Tak jauh dari pasangan ini, seorang wanita pendosa sedang menjalani hukumannya. Terikat,
dengan posisi terbalik di sebuah segitiga yang mengarah ke bawah, dia dipaksa untuk menerima
sentuhan yang dilakukan oleh setan hijau dengan gigi seperti gergaji dan sebuah ekor monyet. Di
latar belakang, setan-setan yang lain, dengan warna beragam, kelihatan sedang berlari untuk
mendapatkan giliran.
Sang gomchen tinggal di sebuah ruangan gelap seperti sebuah kapel, yang diterangi oleh sebuah
37
jendela kecil di ujung ruangan, langit-langit ditopang oleh pilar-pilar yang dicat merah. Sesuai
kebiasaan orang Tibet, altar dijadikan sebagai rak artikel .
Di tempat kosong diantara artikel -artikel , terdapat patung kecil Padmasambhâva, di depannya
terdapat persembahan: tujuh mangkok yang berisi air putih, biji-bijian, dan sebuah pelita.
Dupa yang dipasang di sebuah meja kecil membuat aroma wanginya bercampur dengan aroma teh
dan mentega cair. Bantal duduk dan permadani yang dipersiapkan sebagai tempat duduk sang
guru tampak sudah usang dan pudar warnanya, dan bintang emas kecil dari pelita di altar yang
bersinar di belakang ruangan menampakkan lapisan debu dan kekosongannya.
Melalui pelayanku yang berlaku sebagai penerjemah, aku mencoba untuk bertanya tentang hal-hal
yang pernah kudiskusikan dengan para lhama di Gangtok, namun semua ternyata sia-sia.
Seandainya saja Dawasandup ada disini. Anak muda ini agak bodoh dan tak dapat menemukan
kata-kata untuk menjelaskan ide-ide yang artinya tak ia pahami.
Aku menyerah, akhirnya aku dan sang Lhama hanya duduk diam saling bertatapan dalam waktu
yang cukup lama.
Esoknya aku meninggalkan Lachen, melanjutkan perjalananku ke utara.
Pemandangan di sini, dimana di sepanjang jalan yang menanjak ke atas tadi tampak indah,
menjadi sangat mempesona. Tanaman azalea dan rhododendron masih dalam pakaian musim
semi yang cerah. Kilauan kelopak-kelopak bunga yang mekar menutupi jalan, seperti aliran air
deras yang hendak meluap, dan lereng-lereng bukit dibanjiri gelombang warna-warni bunga ungu,
kuning, merah, dan putih. Dari kejauhan, pengangkat barangku, yang cuma kepalanya saja yang
tampak dari rerimbunan tanaman, kelihatan seolah tengah berenang di lautan bunga.
Beberapa mil kemudian, taman peri itu mulai menipis dan berpencar, hingga pada akhirnya hanya
tersisa beberapa batang mawar, dan di sana sekelompok azalea sedang berjuang untuk hidup di
tempat yang teramat tinggi ini.
Jalan setapak ini lalu memasuki wilayah fantastis di dekat daerah perbatasan[24]. Dalam
keheningan yang agung, gemercik air yang dingin dan jernih di selokan kecil seolah sedang
menembang dengan lembut. Di pinggir danau yang melankolis, seekor burung bermahkota emas
dengan tenang mengamati rombonganku yang sedang melintas.
Semakin ke atas, menyusuri gletser yang luas, sesekali terlihat lembah yang ditutupi awan tebal.
Dan kemudian, dengan sesaat , saat keluar dari kabut, dataran tinggi Tibet terbentang di depan
mata, sangat luas, kosong dan gemerlapan di bawah kemilau langit Asia Tengah.
Memang, kelak kemudian, aku akhirnya berhasil menjelajahi negara yang terletak di balik rangkaian
pegunungan di kejauhan yang pada saat ini membatasi horizonku. Aku sudah pernah mengunjungi
Lhasa, Shigatze, padang rumput yang tenang dengan danau air asinnya yang seluas lautan; Kham,
negeri kesatria-perampok dan ngagspa; hutan rimba Po yang tak terjamah, dan lembah Tsarong
yang mempesona dimana buah-buah delima meranum. Namun, tak ada yang pernah padam, di
pikiranku, kenangan akan kesan pertamaku saat melihat Tibet.
Beberapa minggu kemudian cuaca berubah, salju mulai turun lagi. Perbekalanku sudah mulai
menipis, pembantu dan pengangkat barangku sudah mulai tidak sabar dan sering bertengkar.
Suatu hari aku harus menggunakan cemeti untuk memisahkan dua laki-laki yang berkelahi
menggunakan pisau untuk memperebutkan tempat di dekat perapian.
38
sesudah ekskursi yang singkat di wilayah teritorial Tibet, aku meninggalkan perbatasan. Aku tak
mempersiapkan perlengkapan untuk perjalanan yang lama, lagipula, daerah yang terbentang di
hadapanku yaitu daerah terlarang.
Kembali aku melewati Lachen, bertemu dengan sang gomchen, bertanya padanya soal tempat
pertapaannya di gunung yang jauhnya hampir satu hari perjalanan dengan kaki. Dia tinggal disana
selama hampir tujuh belas tahun. Pembicaraan yang sederhana ini dapat diterjemahkan oleh
pembantuku dan aku juga dapat mengerti sebagian dari kata-katanya.
Namun, aku tak menanyakan soal setan-setan, yang menurut kebanyakan orang yaitu para
pembantunya. Aku tahu penerjemahku yang muda dan sangat percaya takhyul ini takkan berani
menyinggung soal itu, lagipula, sang Lhama mungkin juga takkan menjawab pertanyaan yang
demikian.
Aku kembali ke Gangtok, sedih sebab telah kehilangan kesempatan untuk mempelajari berbagai
hal yang menarik berkaitan dengan misteri dunia pertapaan Tibet, padahal aku sudah mendapat
peluang. Sejauh ini, aku belum dapat meramalkan apa gerangan konsekuensi-konsekuensi dari
perjalananku.
Tak lama kemudian, Dalai Lhama meninggalkan Kalimpong. Pasukannya telah memukul mundur
pasukan Cina dan beliau kembali ke Lhasa dengan kemenangan. Aku pergi ke sebuah dusun kecil
di daerah Jelap untuk memberi ucapan selamat jalan.
Aku tiba lebih dahulu dari beliau di penginapan yang rencananya akan beliau gunakan. Disana
kulihat banyak orang penting Sikkim dalam keadaan tegang. Mereka ditugaskan untuk menyiapkan
tempat menginapnya Sang Raja-Lhama, namun, sebagaimana biasa di Timur, segala sesuatunya
selalu serba terlambat. Perabotan, permadani, gantungan, semua belum pada tempatnya,
sementara tamu istimewa akan segera tiba.
Semua kelihatan kacau di rumah kecil itu, tuan dan pelayan mondar-mandir dengan tergesa-gesa.
Aku tertarik untuk membantu dengan mempersiapkan tempat tidur Dalai Lhama. Beberapa orang
menghiburku bahwa hal ini akan membawa berkah bagiku, sekarang dan di kehidupan mendatang.
Disini, aku mendapat satu lagi kesempatan untuk berbicara dengan orang suci Tibet ini .
Namun semua pikirannya kelihatannya hanya terfokus pada masalah politik.
Seperti biasanya, beliau memberkati para pemujanya dengan tongkat pendeknya yang ujungnya
terbuat dari pita, namun siapapun akan merasakan bahwa pikirannya telah terbang melintasi
pegunungan yang menjadi tanda perbatasan dan tengah sibuk mengatur segala sesuatu berkaitan
dengan kemenangannya.
Musim gugur berikutnya, aku meninggalkan Sikkim untuk pergi ke Nepal, dan kemudian,
menghabiskan hampir setahun di Benares. Di masa mudaku, aku pernah tinggal cukup lama
disana, dan sekarang dengan senang hati aku kembali.
Aku sangat berterimakasih kepada para anggota Theosophical Society yang telah berkenan
meminjamkan sebuah apartemen kecil di tengah kebun mereka yang indah padaku. Suasana
pertapaan yang sederhana di tempat ini sangat harmonis dengan atmosfir kota suci Shiva dan
amat sesuai dengan seleraku.
Dalam lingkungan yang menyenangkan ini, aku dengan tekun mempelajari filosofi Vedanta, dan
meninggalkan sejenak Lhamaisme yang kelihatannya tak mampu lagi kuselami lebih dalam.
Aku tak berpikiran untuk meninggalkan Benares, hingga suatu saat beberapa keadaan yang tak
39
diharapkan pada suatu pagi memaksaku menaiki kereta api menuju Himalaya.
40
BAB DUA
41
MENJADI TAMU PARA LHAMA
Di Gangtok, aku kembali bertemu Bermiag Kushog. Sedangkan Lhama dari Enche telah berangkat
ke Shigatze, Tibet, dan akan kembali beberapa bulan lagi. Dawasandup telah dipanggil untuk
mengikuti konferensi politik Sino-Tibetan di India sebagai penerjemah. Maharaja telah mangkat,
dan putranya Sidkeong Tulku menggantikannya, akibatnya, beliau tak punya banyak waktu lagi
untuk mendalami ilmu keagamaan. Berbagai hal yang tak diharapkan menghalangiku untuk
menyelesaikan perjalanan sebagaimana yang kurencanakan. Segala sesuatunya berjalan tak
sesuai harapanku.
Secara perlahan, aku seperti dikelilingi oleh kekuatan-kekuatan yang tak bersahabat. Aku merasa
seolah dirasuki makhluk tak berwujud yang menghasutku untuk meninggalkan negeri ini,
mempengaruhiku bahwa aku tak mungkin lagi mendapat kemajuan, baik dalam studi tentang
Lhamaisme ataupun segala sesuatu yang menyangkut Tanah Tibet. Dengan sedikit kekuatan gaib,
aku dapat melihat, sesudah aku berangkat, musuh tak dikenal ini bergembira dalam kemenangan,
sebab telah berhasil membuatku angkat kaki.
Fenomena ini kusebut sebagai neurasthenia atau demam akibat kelelahan pikiran dan
kekecewaan atas rencana-rencanaku yang tak terwujud. Sebagian orang, mungkin, melihat hal ini
sebagai akibat dari aktifitas gaib. Apapun itu, aku tak lagi mampu mengatasi keadaan yang
menderita hingga ke batas halusinasi itu. Obat penenang tak mampu membuatku nyaman, kupikir
perubahan suasana akan menjadi obat yang mujarab.
Saat aku tengah berpikir keras untuk menemukan tempat dimana aku bisa menetap sementara
tanpa meninggalkan Himalaya, maharaja yang baru, sang Lhama Tulku, lebih dari mengerti
keinginanku, menawarkan sebuah apartemen di sebuah biara di Podang, sekitar 10 mil dari
Gangtok, di sebuah hutan yang berkabut.
Apartemen itu terletak di lantai satu biara itu, yang terdiri dari sebuah ruangan yang luas dan dapur
yang besar, yang menurut adat Tibet yaitu sekaligus sebagai kamar tidur pelayanku.
Dua buah jendela besar yang menjorok keluar mengundang semua cahaya dari langit, dan dengan
keramahan yang sama juga mengundang angin, hujan atau badai untuk masuk melalui celah yang
besar di kedua sisi, sebab rangkanya terlalu kecil dan hanya menyatu dengan dinding di bagian
atasnya.
Di salah satu sudut aula ini aku meletakkan artikel -artikel ku di lisplang yang agak lebar. Aku membuka
meja dan kursi lipatku, dan jadilah ‘ruang kerjaku’. Di sudut yang lain aku menyangkutkan tendaku
ke balok dan mengatur ranjangku. Inilah kamar tidurku. Pusat ruangan, yang terlalu terbuka, menjadi
ruang tamu untuk mereka yang datang berkunjung, di saat cuaca cerah tentunya.
Musik religius yang kudengar di Podang dua kali sehari, sebelum fajar dan saat matahari terbenam,
sangat memikat hatiku. Orkestra kecil yang terdiri dari dua gyaling (semacam oboe), dua ragdong
(terompet besar Tibet) dan dua kettledrum.
Musik pembuka yaitu bunyi lonceng dalam irama khusus, irama khas vihara-vihara Timur. sesudah
itu hening sesaat, kemudian nada ragdong yang berat menggema sesaat, dilanjutkan dengan
gyaling yang memainkan sepenggal musik lembut dalam gerakan yang sederhana, mereka
mengulanginya dengan bervariasi, didukung oleh nada bas dari ragdong yang kemudian bertemu
dengan bunyi kettledrum yang menyerupai gemuruh guntur di kejauhan.
42
Melodi itu mengalun selembut aliran air di sungai yang dalam, tanpa interupsi, intonasi atau gairah.
Musik ini menimbulkan suatu kesan kesedihan yang aneh, seolah-olah semua penderitaan dari
seluruh makhluk yang berkelana dari satu dunia ke dunia lain, sejak adanya keberadaan, tertumpah
keluar lewat alunan kesedihan yang lelah dan putus asa itu.
“Musisi seperti apakah, yang terinspirasi tanpa sepengetahuannya, yang telah menemukan leit
motiv dari penderitaan universal ini? Dan bagaimana caranya, melalui orkestra yang beragam ini,
orang-orang yang tak berselera seni mampu menyampaikan makna dengan perantaraan hati? – ini
menyisakan misteri yang takkan mampu dijelaskan oleh musisi bhikkhu itu sendiri. saat
memandang terbitnya mentari dari balik pegunungan dan saat menikmati langit senja kemerahan,
aku selalu mendengarkan alunan musik itu dengan sepenuh hati.
Selain menghadiri kebaktian harian, di Podang ini aku mendapat kesempatan menyaksikan
upacara tahunan untuk para setan. Di Tibet, kelak, aku menyaksikan ritual yang sama dengan
perlengkapan upacara yang lebih banyak, namun menurutku, jika hal ini dipertunjukkan di bawah
bayangan hutan Himalaya, akan membuat kharisma yang dimiliki ritual itu menjadi berkurang. Ilmu
sihir akan kehilangan banyak nilainya jika dipertontonkan di hari siang bolong dan di tengah
keramaian.
Pertama-tama, para trapa mengeluarkan Mahakala dari sebuah lemari, tempat dimana ia disimpan
selama setahun penuh, dengan berbagai persembahan dan mantram-mantram.
Di setiap biara Lhamais, ada sebuah ruang pemujaan yang dijadikan sebagai tempat tinggal para
dewa kuno suku asli atau dewa-dewa yang diadaptasi dari India. Dewa-dewa dari India ini sering
kehilangan peringkatnya saat memasuki Tanah Bersalju ini. Secara tidak sadar sebab tak
menghormatinya, orang Tibet menganggap mereka semacam makhluk halus belaka dan kadang
memperlakukannya dengan kasar.
Mahakala yaitu dewa Hindu yang paling terkenal. Sifat aslinya yaitu seperti Dewa Shiva yang
berfungsi sebagai Penghancur Dunia. sebab sebagai roh yang bersifat merusak, dia sering
diperbudak para Lhama yang memaksanya melakukan sesuatu untuk mereka dan tak segan-segan
menghukumnya jika ia melakukan kesalahan.
Ada sebuah cerita mengenai hal ini. Terdapat seorang lhama, yang merupakan ketua sekte
Karmapa, yang menjadikan Mahakala sebagai asistennya. Saat Lhama ini berada di rumah
seorang penguasa Cina, ia menghina Kaisar, dan akibatnya ia diikat pada ekor seekor kuda, lalu
diseret-seret sepanjang jalan. Selagi menderita kesakitan itu ia memanggil Mahakala untuk
menolongnya. Namun Mahakala tak segera muncul. Saat sang lhama berhasil membebaskan
dirinya melalui sebuah mantera gaib yang berhasil memisahkan jenggot dari dagunya, dia melihat
Mahakala baru muncul, yang tentunya sudah terlambat untuk berbuat sesuatu. Dengan marahnya ia
menampar makhluk yang malang itu sehingga walaupun beberapa abad telah berlalu, pipi
Mahakala tetap bengkak bahkan hingga hari ini.
Namun tentu saja para trapa Podang ini tak cukup memiliki kekuatan untuk melakukan hal yang
demikian, Mahakala bahkan membuat mereka ketakutan.
Disini, seperti juga di beberapa biara yang lain, disebutkan pernah terjadi beberapa keanehan
yang mengerikan. Terkadang mengalir keringat darah dari papan tempat pemujaan dimana
Mahakala disimpan, dan di lain waktu, saat tempat itu dibuka, ditemukan sisa jantung atau otak
manusia. Menurut para trapa, ini yaitu tanda aktifitas gaib yang dilakukan dewa mengerikan
ini .
43
Saat topeng yang mewakili Mahakala – dimana ia dianggap berada – dikeluarkan dari tempat
pemujaan, ia lalu ditempatkan di sebuah ruang gelap yang merupakan tempat untuk para dewa
jahat. Dua orang siswa pemula menjaganya, dengan membaca mantram gaib tanpa henti untuk
mencegah ia melarikan diri. Kedua anak lelaki itu berjuang sekuat tenaga untuk tidak tertidur
sepanjang malam, dengan meyakini bahwa jika mereka berhenti membaca mantram, tawanan
mengerikan itu akan mendapat kesempatan untuk membebaskan dirinya, dan mereka akan
menjadi korban pertama.
Para petani di dusun-dusun sekitar dicekam ketakutan saat Mahakala diberi kebebasan sesaat
seperti yang diceritakan diatas. Mereka mengunci pintu saat malam belum larut dan para ibu
melarang anak-anaknya bermain diluar sesudah matahari terbenam.
Para makhluk halus lain yang berkeliaran di negara ini , yang mencari cara untuk menyakiti
manusia, akan tertarik dengan mantram-mantram yang dibacakan oleh para lhama, dan kemudian
mereka dipaksa untuk masuk ke semacam kurungan yang terbuat dari kayu dan benang warna-
warni. Kemudian rumah yang indah ini dibawa keluar dari biara dan dimusnahkan beserta
penghuninya di kobaran api.
Namun para makhluk halus itu tak bisa mati – suatu kebetulan bagi para ngagspa yang
menggantungkan hidup pada mereka. Tahun depan upacara yang sama harus diulangi.
Seorang lhama terpelajar yang merupakan anggota keluarga kaya dari Sikkim baru saja tiba dari
Tibet. Dia akan menjadi kepala biara Rhumteck menggantikan kakak lelakinya yang baru
meninggal. Sesuai kebiasaan dia diharuskan melakukan suatu upacara ritual untuk menjamin
kemakmuran sang mendiang di kehidupan berikutnya.
Kepala lhama yang terdahulu itu yaitu kenalanku. Aku bertemu dengannya di Kalimpong dimana
dia datang dengan kereta api Yang Mulia Pangeran (Sikkim) untuk mengunjungi Dalai Lhama.
Dia yaitu laki-laki yang gembira, seorang ‘bon vivant’ sejati; yang tak mencemaskan dirinya
dengan masalah-masalah filosofis, mempunyai dua istri di rumah, dan minum beberapa botol
brandi tua sehari. sebab berpenghasilan besar, ia akan membeli apapun yang ia sukai walaupun
kadang tak tahu kegunaannya. sebab sifatnya itulah maka suatu hari ia, seorang kepala Lhama
yang sangat berkuasa, datang mengunjungiku dengan memakai topi yang berhias pita merah
muda, seperti seorang anak perempuan yang berusia tiga tahun.
Kepala biara yang baru, yang sering disebut ‘orang terhormat dari Tibet’ – Pöd Kushog – sebab ia
terbiasa tinggal di negara ini, agak berbeda dari abangnya. Dia menghabiskan masa mudanya
dengan belajar di berbagai biara Tibet, bahkan di Lhasa, diantara para lhama terhormat ia dikenal
sebagai seorang ahli tata bahasa yang istimewa. Dia juga telah menerima pentabhisan dan hidup
melajang, yang sangat jarang ditemui di kalangan rohaniawan Himalaya.
Upacara pemakaman yang dilaksanakan berlangsung hampir seminggu. Hari-hari yang
menyenangkan bagi para trapa Podang, yang memperoleh makanan dan pemberian!
sesudah upacara ini berakhir, pada bulan pertama tahun itu[25] Pöd Kushog memimpin acara
pemberkatan tahunan biara. Diiringi alunan mantram-mantram suci, dia berjalan mengelilingi
bangunan itu dan melewati koridor-koridor sambil melempar biji-bijian ke dalam setiap ruangan
yang dilewatinya.
Segenggam biji-bijian, diiringi senyuman dan doa tashi shog! (semoga diberkati) disebarkan ke
‘tempat tidur tenda’ku dan ditebarkan ke meja beserta artikel -artikel di ‘tempat belajar’ku.
44
Kesejahteraan! Kesejahteraan! … Sesuai dengan pembebasan dan pemberkatan ini, biara ini
akan menjadi sebuah cabang dari Surga dengan Berkah Termulia (Nub Dewachen). Namun para
bhikkhu di sana tak juga merasa aman. Mereka meragukan kemampuan gaib yang mereka miliki,
bahkan mereka yang terpelajar pun merasa takut kalau-kalau ada beberapa setan yang berhasil
lolos dan tengah bersembunyi untuk melukai mereka. Lalu mereka memohon pertolongan dari
seseorang yang lebih mereka percayai.
Suatu malam, sang gomchen dari Lachen muncul dengan perlengkapan seorang ahli sihir:
mahkota lima sudut, kalung yang terbuat dari seratus delapan bulatan yang merupakan potongan
tengkorak dan tulang manusia, dan di pinggangnya terdapat belati ritual (phurba).
Berdiri di tempat terbuka di dekat perapian, ia menggambar sebuah lambang gaib di udara
dengan sceptre-dorje nya dan sembari membaca mantram ia menikam ke udara.
Aku tak tahu ia sedang berkelahi dengan makhluk halus yang mana, namun dalam cahaya api yang
fantastis, dia kelihatan seperti si setan itu sendiri.
*********
Cara pengobat







