Selasa, 14 Juli 2026

misteri tibet 7

 


minum di mata air atau makan buah yang tergantung di dahan pepohonan di pinggir

jalan, jika ia menyerah pada para pelayan cantik yang mengundangnya untuk bergabung dengan

mereka di hutan kecil yang indah, maka ia akan menjadi tersesat dan tak mampu menemukan

jalannya.

Wanita itu memberinya sebuah mantram gaib sebagai perlindungan. Mantram ini harus terus

menerus ia ucapkan di sepanjang perjalanan, pikirannya harus sepenuhnya terfokus, tak berkata

sepatah kata pun, dan tak mendengarkan apapun.

Sebagian orang meyakini bahwa Tilopa benar-benar mengalami perjalanan dengan pemandangan

gaib yang silih berganti itu. Yang lain, sebab  telah diberikan penjelasan mengenai berbagai

macam pengalaman yang bakal dijalani dalam keadaan ‘tak sadar’ yang demikian, melihatnya

sebagai sebuah bentuk fenomena psikis.

Apapun itu, Tilopa melihat demikian banyak pemandangan menakutkan ataupun menggoda, dia

berjuang melintasi lereng berbatu yang curam dan sungai-sungai yang berbuih, dia merasakan

dirinya membeku diantara salju, terbakar di stepa berpasir yang menyala, dan konsentrasinya pada

mantram gaib itu tak pernah terpecah.

Akhirnya ia mencapai istana berdinding perunggu dan panas menyala. Makhluk raksasa wanita

membuka mulutnya lebar-lebar untuk menyantapnya. Pohon-pohon dengan dahan memegang

senjata menghalangi jalannya, namum demikian dia berhasil memasuki istana berkekuatan sihir

ini . Di dalamnya ruangan mewah yang jumlahnya tak berhingga membentuk sebuah labirin.

Tilopa berjalan melalui ruangan-ruangan itu dan akhirnya mencapai tempat sang ratu.

Duduk di atas singgasana berhiaskan batu permata, seorang peri yang amat cantik, dan ia

tersenyum pada sang pengelana yang berani itu saat ia melewati ambang pintu.

Namun kemudian, tanpa tergoda pada kecantikannya, Tilopa menapaki tangga ke singgasana, dan

sembari terus membaca mantram, ia merenggut batu permata yang berkilauan itu, membuang

kalung bunganya ke tanah, mengoyak jubah emas dan sutra berharganya, dan saat sang ratu

terbaring telanjang di singgasananya yang sudah rusak, dia memperkosanya.

Penaklukan-penaklukan dâkinî yang demikian, baik dengan kekerasan atau melalui muslihat gaib,

yaitu  tema yang umum di literatur mistik Tibet. Kisah-kisah itu merupakan sebuah kiasan akan

realisasi kebenaran dan beberapa  proses psikis dari perkembangan diri-spiritual.

Tilopa menurunkan doktrinnya pada Narota (Naropa), seorang Kashmir terpelajar, dan murid

Narota yaitu  seorang Tibet bernama Lhama Marpa yang kemudian membawa doktrin ini  ke

negerinya. Siswa Marpa yang terkemuka, seorang penyair pertapa termasyur yakni Milarespa,

pada gilirannya membagikannya kepada muridnya Dagpo Lhajee. Dan suksesi langsung itu masih

berlanjut hingga saat ini di bawah nama sekte Kargyudpa.

Kami menemukan dalam biografi Narota sebuah deskripsi yang menarik – namun tak sefantastis

131

yang diperkirakan – tentang ujian-ujian yang disusun oleh seorang guru ‘Jalan Pintas’ untuk melatih

dan mengarahkan muridnya.

Sebuah cerita ringkas akan menunjukkannya.

Narota – atau Naropa, demikian orang Tibet memanggilnya – yaitu  seorang Brahmin Kashmir

yang hidup pada abad kesepuluh. Sangat memahami filosofi, dia juga diyakini menguasai ilmu

gaib.

sebab  merasa sangat sakit hati pada seorang raja dimana ia menjadi rohaniawan di istana sang

raja, dia memutuskan untuk membunuh sang raja dengan proses ilmu gaib. Untuk itu, ia menutup

diri di sebuah rumah yang terisolasi dan memulai sebuah dragpoi dubthab.[84]

Saat ia sedang melaksanakan ritual itu, seorang ibu peri muncul di sudut diagram gaib dan

bertanya pada Naropa apakah ia menganggap dirinya mampu mengirim roh sang raja ke alam

yang menyenangkan di dunia lain, atau membawa kembali roh itu ke tubuh yang telah ia tinggalkan

dan menyadarkannya kembali. Sang ngagspa hanya dapat mengakui bahwa ilmunya tak setinggi

itu.

Kemudian raut wajah sang ibu peri berubah menjadi keras dan menegurnya atas tindakan yang keji

itu. Ia mengatakan bahwa tak seorang pun mempunyai hak untuk menghancurkan sesuatu yang tak

dapat ia bangun kembali atau sesuatu yang tak bisa ia beri kondisi yang lebih baik. Konsekuensi

dari pikiran jahat demikian yaitu  kelahiran kembali ke salah satu alam neraka.

Ketakutan, Naropa bertanya bagaimana ia dapat menghindari takdir yang mengerikan itu. Sang

Khadoma menasehatinya untuk mencari seorang suci bernama Tilopa dan memohon darinya

inisiasi doktrin rahasia ‘tsi chig lus chig sangyais’. Itu yaitu  doktrin mistik ‘Jalan Pintas’ yang

membebaskan orang-orang dari akibat semua perbuatannya, apapun perbuatannya itu, dengan

menyadari sifat sejatinya, dan memastikan pencapaian kebuddhaan ‘dalam satu masa

kehidupan’.[85] Jika ia mampu memahami makna ajaran ini  dan menginsafinya, dia tak akan

dilahirkan lagi dan akibatnya ia dapat menghindari sebuah kehidupan penuh siksaan di alam

neraka.

Naropa menghentikan pelaksanaan ritual itu, dan segera bergegas ke Bengal, dimana Tilopa

tinggal.

Tilopa, yang inisiasi fantastisnya oleh seorang dâkinî baru saja kupaparkan, tengah menikmati

reputasi besar saat  Naropa mulai mencarinya. Dia seorang tantrik yang merupakan salah satu

avadhuta[86], yang dianggap sebagai ‘mereka tak seperti apapun, tak membenci apapun, tak malu

pada apapun, tak tersanjung oleh apapun, sepenuhnya terbebas dari segala sesuatu, telah

memutuskan ikatan keluarga, sosial, dan agama’.[87]

Akan halnya Naropa, sejarah menunjukkan bahwa ia yaitu  seorang yang berbudi pekerti halus,

sangat yakin akan kelebihannya sebagai seorang anggota kasta Brahma dan juga seorang sarjana

terpelajar. Pertemuan kedua orang yang berbeda karakter ini menimbulkan beberapa  kejadian yang

mungkin bagi kita yaitu  semacam lelucon praktis namun bisa jadi bagi Naropa semua itu yaitu 

drama yang menyakitkan hati.

Pertemuan pertama Naropa dan Tilopa terjadi di halaman sebuah biara. Sang pertapa sinis,

telanjang, atau hampir telanjang, duduk di tanah sedang menyantap ikan. Sambil makan ia

menyisihkan tulang ikan di sampingnya. Supaya tak mencemari kesucian kastanya, Niropa yang

saat itu sedang melewati tempat ini , bermaksud berjalan agak menjauh dari sang pertapa

132

saat seorang bhikkhu mencela Tilopa atas tindakannya yang memamerkan sifat kejamnya pada

binatang[88], apalagi di sebuah biara Buddhis. Lantas ia menyuruh Tilopa segera meninggalkan

tempat itu.

Tilopa bahkan tak terpengaruh untuk menjawab. Dia mengucapkan beberapa kata gaib,[89]

menderikkan jarinya dan lihatlah!… Tulang-tulang ikan itu kembali tertutup daging, dan bergerak-

gerak seolah hidup, mereka melompat-lompat ke udara sesaat, kemudian menghilang. Tak tampak

sisa-sisa bekas makanan di tanah.

Naropa terpana, sesaat  sebuah ide melesat di pikirannya. Si ngagspa aneh ini pastilah sang

Tilopa yang sedang dicarinya. Dia bergegas bertanya tentang orang aneh ini, dan jawaban yang

diberikan sama dengan intuisinya, lalu dikejarnya sang yogin, namun yang bersangkutan sudah tak

tampak lagi.

Terdorong oleh tekad kuatnya untuk belajar doktrin yang mampu menyelamatkannya dari api

neraka, Naropa berkelana dari kota ke kota, dan hasilnya yaitu , setiap kali ia tiba di suatu tempat

dimana dikabarkan Tiloba berada, orang yang dicari itu pasti telah berangkat sebelum ia sampai.

Ada kemungkinan bahwa biografi Naropa tentang perjalanannya itu agak dilebih-lebihkan atau

dibesar-besarkan, namun hal-hal itu sebenarnya berdasarkan fakta yang nyata.

Terkadang – demikian kisahnya – Naropa bertemu, seolah-olah secara kebetulan, makhluk-

makhluk aneh yang merupakan hasil ciptaan Tilopa. Pernah sekali, saat mengetuk pintu sebuah

rumah untuk meminta makanan, seorang pria keluar menawarkan arak. Naropa sangat tersinggung

dan dengan marah menolak minuman haram itu.[90] Rumah dan penghuninya itu kemudian

menghilang. Tinggallah brahmin angkuh itu sendirian di jalan yang sepi saat sebuah tawa mengejek

terdengar – “Orang itu saya: Tilopa.”

Di hari lain, seorang penduduk desa meminta Naropa membantunya menguliti seekor binatang

yang telah mati. Pekerjaan demikian, di India, hanya dilakukan oleh orang-orang yang hina.

Kedekatan dengan orang demikian membuat seorang Hindu, yang berasal dari kasta suci, merasa

ternoda. Naropa segera kabur, benar-benar merasa jijik, dan Tilopa yang tak kelihatan itu pun

mengejeknya: “Orang itu yaitu  aku.”

Sekali lagi, sang pengelana melihat seorang suami yang kejam sedang menyeret-nyeret istrinya,

dan saat ia tengahi, orang sadis itu berkata: “Anda sebaiknya membantuku, aku ingin

membunuhnya. Setidaknya minggirlah, dan biarkan aku melakukannya.” Naropa tak sanggup lagi

mendengarkan. Dia memukul laki-laki itu hingga jatuh ke tanah, menyelamatkan istrinya…dan lho!

Sekali lagi pemandangan itu menghilang saat  sebuah suara yang sama mencemoohnya: “Aku

tadi di sana, aku: Tilopa.”

Petualangan-petualangan ini  berlanjut dalam pola yang sama.

Meskipun mungkin ia yaitu  seorang ngagspa tangguh, namun Naropa tak pernah bisa memahami

ide pertunjukkan kekuatan super-normal yang demikian: dia berada di batas kegilaan, namun

keinginannya yang besar untuk menjadi murid Tilopa makin kuat. Dia mengembara ke seluruh

negeri, memanggil Tilopa dengan keras, dan sebab  telah belajar dari pengalaman bahwa sang

guru dapat berwujud apapun, dia bersujud di kaki setiap orang yang berpapasan dengannya,

bahkan juga pada binatang-binatang yang secara kebetulan ia temui di perjalanan.[91]

Suatu malam, sesudah  menempuh perjalanan yang cukup panjang, dia tiba di sebuah tempat

pemakaman. Seonggok sisa-sisa kayu bakar menyala redup di sudut tempat itu. Sesekali, sebuah

133

api kecil menyambar memperlihatkan sisa-sisa arang yang telah menyusut. Cahaya sesaat itu

membuat Naropa samar-samar menangkap bayangan seorang lelaki yang berbaring di sisi kayu

bakar itu. Dia menatapnya……sebuah tawa mengejek menjawab penyelidikannya. Saat menyadari

siapa orang itu, ia segera bersujud di tanah, memegang kaki Tilopa dan meletakkannya di kepala.

Kali ini sang yogin tak lagi menghilang.

Selama beberapa tahun kemudian, Naropa mengikuti Tilopa yang tak memperlakukannya sebagai

orang penting. Gurunya tak mengajarinya apapun, sebagai kompensasi, dia hanya menguji

keyakinan Naropa pada dirinya melalui dua belas siksaan besar dan dua belas siksaan kecil.

Keterbatasan tempat membuatku tak mungkin menguraikan kedua puluh empat ujian ini , yang

kenyataannya sering mengulang detil yang sama. Aku akan menceritakan beberapa di antaranya.

Sesuai kebiasaan seorang pertapa India, Naropa berkeliling meminta sedekah. Saat kembali ia

menawarkan nasi dan kari yang baru saja ia terima. Peraturannya yaitu  seorang siswa hanya

boleh makan jika gurunya telah merasa kenyang, namun Tilopa tak menyisakan sedikit pun untuk

muridnya, seluruh isi mangkuk ia habiskan, bahkan ia mengatakan bahwa makanan itu sangat pas

dengan seleranya, dan menambahkan jika ada semangkuk lagi dengan senang hati ia akan

menghabiskannya.

Tanpa menunggu perintah lagi, Naropa mengambil mangkuknya dan pergi kembali ke rumah

dimana pemiliknya tadi memberikan derma makanan lezat itu. Malangnya, saat  ia tiba di sana,

pintu rumah sudah tertutup. Terbakar rasa semangatnya, sang siswa yang berbakti itu tak

membiarkan apapun untuk menghalangi niatnya. Diterjangnya pintu itu hingga terbuka, dan ia

menemukan nasi dan sup yang tengah dihangatkan di kompor dapur. Sang pemilik rumah kembali

saat Naropa sedang mengambil makanan mereka, sesaat  Naropa pun dihajarnya.

Babak belur dari kepala hingga kaki, Naropa kembali pada gurunya, yang tak menunjukkan

sedikitpun rasa kasihan atas penderitaan muridnya.

“Wah gara-gara aku kamu mendapatkan pengalaman yang hebat!” katanya dengan nada

mengejek. “Kamu menyesal menjadi muridku?”

Dengan segenap kekuatan yang disisakan kondisinya yang mengenaskan, Naropa membantah

bahwa ia tak menyesal sedikitpun mengikuti guru yang demikian, ia menganggap kesempatan

istimewa menjadi muridnya tak dapat dibayar dengan apapun, bahkan jika seseorang harus

menukarnya dengan nyawanya sekalipun.

Di hari yang lain, saat  sedang melewati sebuah saluran air yang terbuka, Tilopa bertanya pada

para siswanya yang tengah berjalan bersamanya: “Siapa di antara kalian yang akan meminum air

itu jika kuperintahkan?”

Harus dipahami bahwa dalam hal ini masalahnya bukan hanya pada hal mengatasi rasa jijik

terhadap air kotor saja, namun sesuai dengan Hukum agama Hindu, ini yaitu  sebuah

penodaan.[92] Meskipun demikian, saat rekan-rekannya ragu-ragu, Sang Brahmin Naropa berlari ke

depan dan minum air busuk itu.

Ujian yang lain lebih kejam lagi.

Sang guru dan murid saat  itu tinggal di sebuah pondok, di dekat sebuah hutan. Suatu kali, saat

kembali dari sebuah desa dengan membawa makanan Tilopa, Naropa melihat bahwa selama ia

pergi, gurunya telah membuat beberapa  jarum kayu yang panjang dan mengeraskannya di api. Amat

terkejut, ia bertanya pada Tilopa untuk apa ia membuat peralatan itu.

134

Sang yogin tersenyum aneh.

“Mampukah kamu,” tanyanya, “menahan rasa sakit jika itu menyenangkanku?”

Naropa menjawab bahwa ia seutuhnya milik sang guru dan ia dapat melakukan apapun yang ia

inginkan pada dirinya.

“Baiklah,” jawab Tilopa, “julurkan tanganmu.” Dan saat  Naropa menuruti perkataannya, dia

menusukkan sebuah jarum di bawah tiap kuku tangan itu, lalu melakukan hal yang sama pada

tangan yang satu lagi, dan juga pada seluruh kuku kakinya. Kemudian didorongnya Naropa yang

tersiksa itu ke dalam pondok, memerintahkannya untuk menunggu hingga ia kembali, menutup

pintu, dan pergi.

Beberapa hari kemudian baru ia kembali. Ditemukannya Naropa tengah duduk di lantai dengan

jarum-jarum yang masih melekat di dagingnya.

“Apa yang kamu pikirkan kala sendirian?” tanya Tilopa. “Tidakkah kamu menjadi yakin bahwa aku

yaitu  guru yang kejam dan tidakkah sebaiknya kamu meninggalkan aku?”

“Aku telah memikirkan kehidupan yang mengerikan dan penuh siksaan yang akan menjadi milikku

di neraka jika aku gagal, dengan kebaikanmu, melalui doktrin mistik aku akan menjadi tercerahkan,

sehinga aku akan terhindar dari sebuah kelahiran baru,” jawab Naropa.

Tahun-tahun pun berlalu, Naropa pernah menjatuhkan dirinya dari atap sebuah rumah, melintasi api

yang menyala, dan melakukan beberapa  perbuatan fantastis yang kerap membahayakan dirinya.

Sebagai penutup, aku akan menceritakan satu lagi ujian aneh, kisah yang agak sedikit

menggelikan.

Sang guru dan murid sedang berjalan-jalan saat  bertemu dengan rombongan pengantin wanita

yang akan membawanya ke rumah calon suaminya.

“Aku menginginkan gadis itu,” kata Tilopa pada Naropa. “Pergi, bawa ia padaku.”

Belum lagi ia selesaikan kalimatnya, Naropa sudah bergabung dengan iring-iringan pengantin itu.

sebab  melihat ia seorang Brahmin, orang-orang dari pesta pernikahan itu mengizinkannya

mendekati pengantin wanita sebab  dikira hendak memberkatinya. Namun saat  mereka

melihatnya menggendong sang pengantin dan hendak membawanya pergi, mereka segera meraih

apa saja yang dapat mereka temukan – tongkat pemikul, obor yang telah menerangi prosesi itu,

dan peralatan-peralatan lain – dan memukulkannya ke Naropa yang malang. Sungguh keras

pukulan-pukulan yang dihantamkan padanya hingga ia tak sadarkan diri dan ditinggal hampir mati

di tempat itu.

Tilopa diam-diam segera berlalu dari tempat itu sebelum pertunjukkan itu selesai.

saat  sadar kembali dan sesudah  menyeret dirinya dengan kesakitan yang amat sangat ke tempat

sang guru aneh, yang bersangkutan, sebagai ucapan selamat datang, sekali lagi melontarkan

pertanyaan yang biasa padanya, “Apakah kamu menyesal…” Dan sebagaimana biasanya Naropa

menjawab bahwa seribu kematian pun tak mampu membayar kehormatan untuk menjadi seorang

muridnya.

Akhirnya, Naropa mendapat penghargaan atas penderitaan panjangnya. Namun tidak dalam bentuk

pengajaran dan inisiasi yang seperti biasanya.

135

Jika kita mempercayai tradisi, Tilopa kelihatannya, pada kesempatan itu, menggunakan sebuah

metoda aneh yang mirip dengan apa yang dilakukan para guru Cina dari sekte Ts’an (Sekte Ch’an,

atau Zen). Tak diragukan bahwa walaupun dibiarkan tanpa diajari, Naropa mampu menangkap

beberapa point dari doktrin ‘Jalan Pintas’ selama masa percobaannya itu. Namun, cara

pencapaian pencerahannya dikisahkan sebagai berikut:

Kala itu Naropa sedang duduk dengan gurunya di dekat sebuah api unggun di suatu tempat

terbuka. Tanpa diduga, sang guru melepas sebelah sepatunya dan menampar wajah muridnya

dengan keras. Naropa melihat semua bintang di surga, dan saat itu juga makna sejati dari doktrin

‘Jalan Pintas’ bercahaya di pikirannya.

Selanjutnya, Naropa memiliki banyak siswa, dan menurut tradisi, ia yaitu  guru yang paling baik,

sebab  jarang menguji siswanya dengan siksaan-siksaan kejam yang telah pernah ia jalani dengan

penuh kepahitan.

Memasuki masa tua, ia meninggalkan biara dimana dia dikenal sebagai cendekiawan ulung, dan

beristirahat di sebuah tempat terpencil, menghabiskan dua belas tahun berikutnya dalam

kontemplasi yang tak terputus. Disebutkan bahwa pada akhirnya ia mencapai ‘keberhasilan

tertinggi’[93], atau dalam kata lain mencapai kebuddhaan.

Naropa dikenal secara khusus di Tibet sebagai guru spiritual Lhama Marpa, yang merupakan guru

spiritual sang pertapa penyair terkenal Milarespa yang lagu-lagu rohaninya terkenal di seluruh

penjuru Tibet.

Jika Naropa yaitu  seorang ayah spiritual yang lembut, namun tidak demikian halnya dengan

Marpa, yang menyiksa Milarespa yang malang selama bertahun-tahun, memerintahkannya

membangun sebuah rumah tanpa bantuan, dan beberapa kali menyuruhnya meruntuhkannya

kembali saat  ia hampir menyelesaikannya, dan lalu diperintahkan untuk membangunnya kembali.

Milarespa diharuskan menggali batu-batu itu sendirian dan memanggulnya di pundak. Gesekan

yang berulang-ulang dari beban berat itu membuat luka yang kemudian terinfeksi oleh tanah dan

kotoran yang memasukinya. Marpa bertingkah seolah tidak mengetahui penderitaan yang dipikul

siswanya. Akhirnya, atas permohonan istrinya Dagmedma,[94] sang lhama berkenan melihat

punggung Milarespa yang berdarah, dengan nada dingin dia menasehatinya untuk menempelkan

sepotong perban (yang terbuat dari bulu binatang dan diberi lubang-lubang) untuk mengisolasi luka

itu. Ini yaitu  cara yang umum digunakan di Tibet untuk menangani luka punggung pada binatang

yang membawa beban.

Hingga kini rumah yang dibangun Milarespa masih berdiri di Lhobrag, Tibet Selatan.

Masyarakat Tibet tak meragukan sedikit pun kebenaran cerita-cerita yang demikian. Jika kita tak

mampu menyaingi rasa percaya mereka, kita harus berhati-hati untuk menganggap semua kisah-

kisah tradisional mengenai usaha-usaha para naljorpa di masa pemula mereka hanyalah fiksi

belaka. yaitu  suatu kesalahan juga jika meyakini bahwa kejadian-kejadian itu hanyalah

berlangsung pada masa lampau dan tak mungkin timbul lagi pada masa sekarang. Pikiran orang

Tibet tak berubah sedikitpun sejak masa Marpa. Di rumah beberapa  lhama, aku menemukan rumah

Marpa beserta kebiasaan-kebiasaannya, sebagaimana yang digambarkan di literatur-literatur

Tibet, sedangkan Marpa sendiri seolah hadir di hadapanku dalam wujud sang tuan rumah.

Seorang bhikkhu muda dalam pencarian akan seorang penuntun spiritual juga kerap meneruskan

imej para pendahulunya. Meski tak sepenuhnya menyamai keuletan Naropa dan Milarespa, yang

merupakan figur istimewa sepanjang masa, namun dia senantiasa siap sedia memikul penderitaan

136

yang luar biasa, melakukan beberapa  pengorbanan dan menyaksikan banyak keajaiban. Dan

demikianlah petualangan-petualangan fantastis dari masa lalu yang hidup kembali berulang kali

setiap harinya di keempat penjuru ‘Tanah Bersalju’ ini.

Meskipun sudah demikian kejam siksaan-siksaan fisik yang dianggap para pertapa sangat

bermanfaat untuk menguji kualitas para siswanya itu, namun sebenarnya siksaan-siksaan ini 

yaitu  bagian teringan dari keseluruhan latihan. Sebuah ujian yang benar-benar mengerikan

yaitu  ujian yang bersifat mental.

Hal ini bermula saat  ide pertama untuk inisiasi di bawah bimbingan seorang pertapa mistik timbul

di benak seorang calon siswa. Banyak kabar mengenai gomchen-gomchen ini, kehidupan mereka

sangat misterius, kemunculan mereka dan kata-kata yang jarang mereka lontarkan terkesan sangat

aneh hingga orang-orang Tibet, yang memang pada dasarnya sudah cenderung takut akan hal-hal

yang tak masuk akal, menganggap mereka jauh lebih menakutkan dari pada para dewa dan setan.

Kenyataannya memang seharusnya demikian, sebab  gomchen-gomchen itu dihargai atas

kemampuan mereka memperbudak para dewa dan setan itu. Para pengelana dan pemburu yang

tersesat saat  berkeliling di sekitar perbukitan terpencil tak jarang melaporkan telah melihat

sekilas makhluk yang bukan manusia mengunjungi sebagian dari para pertapa ini.

Pergi menyerahkan diri pada seorang guru yang demikian, meletakkan hidup seseorang saat ini

dan nasib seseorang esok di tangan mereka, yaitu  langkah yang penuh resiko. Sangat mudah

membayangkan bermacam keraguan, perasaan-perasaan yang saling bertentangan, berbagai

siksaan yang mendera pikiran sang calon yang ingin memahami rahasia sebuah ajaran.

Perjalanan jauh yang biasanya harus ia tempuh, daerah gurun yang harus ia lintasi untuk mencapai

tempat pertapaan sang guru yang telah ia pilih, pemandangan alam liar yang menakjubkan di

tempat mana biasanya sebuah pertapaan berada, semua ini sekali lagi memberikan kesan yang

amat mendalam bagi sang bhikkhu muda.

Latihan mental yang dilaksanakan dalam keadaan yang demikian, dengan alam sekitar yang

demikian, dan di bawah bimbingan seorang guru yang demikian, tak pelak lagi menjadi sebuah

pengalaman yang fantastis. Sang siswa yang dibiarkan dalam meditasi panjang, seolah dikelilingi

bumi dan langit yang berjungkir balik, berputar-putar hingga ia tak menemukan tempat yang aman

untuk berpijak. Para dewa dan setan mempermainkannya dalam berbagai wujud yang

mengejutkan, kemudian mengejek dan mengganggunya saat  ia telah berhasil mengatasi rasa

takut. Peristiwa-peristiwa ganjil yang datang silih berganti itu dapat berlanjut hingga sepuluh atau

dua belas tahun. Hal-hal itu akan menyiksa sang siswa hingga ajalnya, kecuali suatu hari, dia

tersadar dari mimpi-mimpi buruknya, memahami apa yang seharusnya dipahami, dan sesudah 

bersujud pada sang guru yang tak berekspresi, dia pun pergi tanpa memohon pelajaran lebih lanjut.

Di antara beberapa  kisah yang pernah kudengar dari para pertapa dan naljorpa mengenai inisiasi

mereka, yang berikut ini benar-benar sangat khas Tibet.

saat  ia pergi kepada seorang lhama gomchen, Yeshes Gyatso bukanlah seorang pemula dalam

hal latihan mistik. Dia telah menghabiskan waktu yang cukup lama dalam penyepian yang keras,

bergulat untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang amat sangat membingungkannya.

Apakah pikiran itu? dia bertanya pada dirinya sendiri. Dan ia berusaha menangkap pikirannya agar

dapat ia selidiki dan analisa. Namun benda buronan itu – ‘laksana air yang berusaha keras

disimpan seorang anak kecil dalam kepalan tangannya’ – senantiasa kabur.

Gurunya, seorang lhama dari biara dimana Yeshes menjadi anggotanya, sebab  melihatnya

137

tersiksa oleh usahanya yang gagal, menuntunnya kepada seorang pertapa yang ia kenal.

Perjalanan itu tidaklah panjang. Hanya sekitar tiga minggu – yang dianggap singkat oleh orang

Tibet – namun melintasi daerah gurun dan melewati daerah berketinggian 18000 kaki. Yeshes pun

berangkat, memanggul beberapa jilid artikel , sebuah selimut, dan perbekalan yang umum: tepung

gandum, mentega dan teh. Waktu itu bulan kedua tahun Tibet. [95] Salju tebal menutupi tanah dan

sepanjang perjalanannya sang pengelana dapat menyaksikan pemandangan alam dataran tinggi

yang membeku namun sangat mempesona, yang seolah berasal dari dunia lain.

Suatu senja, kala mentari hendak beranjak ke peraduan, dia mencapai tempat pertapaan sang

gomchen, sebuah gua yang luas, di depannya terdapat sebuah teras kecil yang telah dipagari

dengan dinding.

Tak jauh dibawahnya, terdapat beberapa pondok tempat bernaung para siswanya, yang untuk

jangka waktu singkat, diizinkan tinggal di dekatnya. Tempat tinggal sang pertapa terletak di

punggung sebuah gunung yang terbentuk dari bebatuan berwarna kehitam-hitaman, dari sana

tampak sebuah danau kecil yang hening dengan air berwarna hijau zamrud.

Aku pernah tiba di sana, saat hari menjelang gelap, sebagaimana yang telah dilakukan Yeshes

bertahun-tahun yang lalu, dan menyaksikan pemandangan tempat terpencil itu diterangi secercah

sinar yang temaram, aku segera dapat memahami betapa dalam kesan yang ditimbulkan tempat

itu dalam dirinya.

Yeshes meminta salah seorang siswa sang lhama untuk memohon pada gurunya agar berkenan

menerimanya.

Sang gomchen tak mengizinkannya mendaki ke arah gua. Ini yaitu  sesuai kebiasaan dan tak

mengejutkan Yeshes yang memang tak pernah berharap untuk diterima secepatnya. Dia berbagi

kamar dengan seorang siswa pemula dan menunggu.

sesudah  seminggu berlalu dia memberanikan diri untuk mengingatkan sang pertapa akan

permohonannya. Jawabannya langsung ia terima. Dia diperintahkan untuk segera meninggalkan

tempat itu dan kembali ke biaranya.

Menangis dalam keputusasaan, dia bersujud di kaki gunung berbatu terjal itu. Namun tak ada

jawaban belas kasihan yang memecahkan keheningan gurun ini . Yeshes harus pergi.

Malam itu, angin badai menerjang dataran tandus yang harus ia lewati. Dia melihat dengan jelas

sebuah wujud raksasa yang menakutkan, lalu ia kehilangan arah dalam kegelapan dan berputar-

putar sepanjang malam. Keesokan harinya keadaan lebih parah lagi. Cuaca masih buruk,

pengelana itu kehabisan perbekalan, dia hampir terseret arus kala melewati sebuah sungai berarus

deras dan akhirnya, dalam keadaan sakit dan putus asa, ia tiba di gompanya.

Namun, keyakinan berdasar intuisi pada sang gomchen yang keras itu, tak jua tergoyahkan. Tiga

bulan kemudian ia berangkat lagi. Seperti perjalanan terdahulunya, dia dihadang angin badai di

perjalanannya. Yeshes yang polos, segera menganggap hal itu sebagai suatu kejadian gaib, dia

berpikir bahwa sang lhama melepaskan angin itu untuk menguji keteguhan niatnya, atau kekuatan

jahat bermaksud menghalanginya mencapai tempat pertapaan sang gomchen sehingga dia tidak

berhasil diinisiasi sang guru dalam doktrin mistik.

Perjalanan kedua itu juga tak menuai kesuksesan. Bahkan hanya untuk bersujud di kaki sang

gomchen pun Yeshes tak diperkenankan, dan ia segera disuruh pergi.

138

Tahun berikutnya, ia dua kali melakukan perjalanan kepada sang pertapa, dan di kali kedua, ia

diizinkan untuk menemuinya.

“Kamu ini gila, anakku,” kata sang gomchen padanya, “Kenapa kamu demikian keras kepala? Aku

tak menerima siswa baru. Aku juga telah mengetahui kalau kamu telah mendalami studi filosofis

dan menghabiskan waktu yang lama dalam meditasi. Apa yang kamu harapkan lagi dari seorang

tua, orang yang tak tahu apa-apa?

“Jika kamu benar-benar ingin mempelajari ilmu mistik rahasia, pergilah kepada lhama N… di

Lhasa. Beliau sangat memahami tulisan-tulisan orang-orang terpelajar dan telah sepenuhnya

mengenal ajaran-ajaran eksoterik. Seorang guru yang demikianlah yang benar-benar dibutuhkan

oleh seorang muda terpelajar seperti dirimu.

Yeshes mengerti bahwa seorang guru umumnya berbicara seperti itu. Ini yaitu  salah satu cara

untuk menguji tingkat kepercayaan sang calon siswa pada mereka. Lagi pula ia memang benar-

benar yakin padanya.

Jadi, dia tetap bersikeras, membuktikan dalam berbagai cara kesungguhan dan kesetiaannya,

akhirnya ia diterima sebagai siswa.

Seorang bhikkhu lain yang kukenal pernah berusaha mencari seorang guru spiritual untuk alasan

yang tak berhubungan dengan hal-hal filosofis ataupun pencarian mistik. Kuceritakan kisah ini

sebab  apa yang ia alami sangat kontras dengan pengalaman Yeshes dan kisah ini juga dapat

memperlihatkan aspek lain dari pola pikir orang Tibet.

Karma Dorjee terlahir sebagai orang kelas bawah. Saat kecil, di biara dimana ia sebagai geyok,[96]

ia menjadi bahan ejekan dan bulan-bulanan para siswa muda sebayanya yang berasal dari kelas

sosial yang lebih tinggi. Pengalaman yang sangat tidak mengenakkan itu mengiris hati mudanya

dan ia mengaku padaku bahwa saat ia berumur sekitar sepuluh tahun, dia bersumpah bahwa suatu

saat ia akan sanggup mengungguli mereka yang pernah menghinanya.

sesudah  dewasa, rekan-rekannya akhirnya dapat menahan diri untuk tidak menghinanya secara

terbuka, dan hal itu sangat jelas mereka tunjukkan dengan tidak berbicara dengannya dan

menjauhinya. Karma Dorjee yaitu  seorang yang berpendirian teguh, ia masih bermimpi untuk

mewujudkan sumpah yang ia ucapkan di masa kecilnya. Kemiskinan dan situasi biara hanya

menyisakan satu cara baginya untuk mencapai tujuannya. Ia harus menjadi seorang naljorpa

terkenal, seorang ngagspa, salah seorang yang mampu menaklukan para setan dan membuat

mereka menjadi abdinya. Dengan cara ini ia baru dapat membalaskan dendamnya, dan membuat

para penyiksa dirinya itu takut padanya.

Ini memang bukanlah sebuah bentuk pikiran yang baik. Karma Dorjee lalu meminta izin pada

kepala biara untuk meninggalkan biara selama dua tahun, dengan alasan hendak menyepi ke

sebuah hutan untuk bermeditasi. Dan ia tahu bahwa izin dengan alasan yang demikian takkan

pernah ditolak.

Karma mendaki ke daerah perbukitan, dan ia menemukan sebuah tempat yang tepat di dekat

sebuah mata air lalu dibangunnya sebuah pondok dari cabang pepohonan dan lumpur. sesudah  itu,

agar menyerupai seorang reskyangpa,[97] ia menanggalkan seluruh pakaiannya dan memanjangkan

rambutnya. Mereka yang membawakannya makanan melihatnya duduk bersilang kaki dalam

keadaan telanjang bahkan di saat puncak musim dingin, sepenuhnya tenggelam dalam meditasi

yang dalam.

139

Orang-orang mulai membicarakannya, namun ia masih merasa jauh dari kemasyuran yang ia

inginkan. Dia menyadari bahwa pertapaannya di tengah belantara dan ketelanjangannya belumlah

cukup untuk sampai pada titik itu. Maka kemudian ia kembali ke biaranya, dan kali ini ia meminta

izin meninggalkan negeri itu untuk mencari guru spiritual.Tak seorang pun berusaha mencegahnya.

Pengembaraan Karma jauh lebih berat dibandingkan  yang dialami Yeshes, sebab  paling tidak Yeshes

mengetahui tempat yang hendak ia tuju dan dibawah bimbingan lhama yang mana ia akan

mempraktekkan kehidupan mistiknya, sementara Karma sama sekali tak mengetahui keduanya

dan ia hanya berkeliling secara acak.

sesudah  cukup lama, ia belum juga berhasil menemukan seorang ngagspa yang mampu

menuntunnya ke puncak tertinggi dari ajaran-ajaran rahasia, ia memutuskan untuk mencarinya

dengan cara gaib.

Karma yaitu  seorang yang sangat percaya pada para dewa dan setan. Dia menyimak sepenuh

hati kisah Milarespa yang dengan bantuan mereka, mampu merubuhkan sebuah rumah dan

menimpa musuh-musuhnya. Ia juga mengingat beberapa  cerita mengenai para dewa pemarah yang

membawa kepala-kepala penuh darah yang baru ia penggal ke tengah-tengah kyilkhor (diagram

gaib) yang dibuat oleh sang ngagspa. Dia telah membekali dirinya dengan pengetahuan mengenai

kyilkhor. Lantas ia menggambar diagram itu dengan batu di sebuah jurang dangkal dan memulai

ritual dengan harapan bahwa Yang Mulia para Towo akan menuntunnya ke salah satu guru yang

mereka abdi.

Pada malam ketujuh, sungai kecil yang mengalir di jurang itu tiba-tiba meluap dengan arus yang

sangat deras. Luapan air yang dasyat itu – mungkin disebabkan jebolnya sebuah bendungan alami

ataupun sebab  hujan deras di puncak bukit – sesaat  menyapu semua yang ada termasuk si

bhikkhu muda berikut kyilkhor dan barang bawaannya. Terlempar ke sana sini di antara bebatuan,

Karma masih beruntung sebab  tidak tenggelam, dan akhirnya di ujung jurang ia berhasil naik ke

darat ke sebuah lembah nan luas. saat  fajar menyingsing, terlihat olehnya sebuah ritöd

(pertapaan) di kejauhan yang dinaungi dinding bebatuan di punggung sebuah pegunungan.

Matahari bersinar dengan cerah sebagaimana biasanya di daratan Pusat Asia ini, rumah putih

yang mungil itu tampak kemerahan dan bercahaya di bawah sentuhan pertamanya. Karma dapat

melihat dengan jelas seberkas sinar terpantul dari rumah itu dan kemudian bertengger di

kepalanya.

Sudah jelas sang guru yang sekian lama dicarinya tinggal di sana. Tak diragukan lagi ini semua

yaitu  berkat bantuan para dewa yang menjawab panggilannya. Tadinya ia telah berniat pergi dari

jurang itu dan menyeberangi daerah pegunungan, namun mereka telah membawanya kepada ritöd

itu. Campur tangan itu, diakui Karma, dimanifestasikan dengan cara yang agak kasar, namun

Karma menjelaskan penyebabnya dengan menyanjung diri sendiri. Para Towo itu, pikirnya, tak

sanggup melawan kekuatan ritualku, namun sebab  melihat kelak aku bakal menjadi seorang

ngagspa hebat sesudah  nanti mendapatkan ajaran yang tepat, mereka pun marah memikirkan

kemungkinan akan menjadi budakku.

Kegembiraan akan masa depannya yang cerah, membuat Karma tak memikirkan lagi beberapa 

perbekalan dan pakaiannya yang hilang tersapu banjir itu. Dan sebab  ia telah menanggalkan

semua pakaiannya, agar menyerupai Heruka[98] saat melakukan ritual di depan kyilkhor, dia

sekarang dengan percaya diri berjalan ke arah pondok dalam keadaan telanjang bulat.

Saat mendekati tempat itu, seorang siswa sang pertapa tengah menuruni gunung untuk mengambil

air di sebuah sungai kecil. Trapa itu hampir saja menjatuhkan tempayan air yang ia bawa kala

140

menangkap sesosok aneh yang muncul dengan tiba-tiba.

Cuaca di Tibet sangat jauh berbeda dengan India, jika di India jumlah pertapa telanjang cukup

banyak, namun tidak demikian halnya di ‘Tanah Bersalju’ itu. Di sana hanya ada beberapa  kecil

naljorpa yang mengadopsi cara berbusana yang demikian, dan sebab  biasanya mereka itu tinggal

di tempat-tempat terpencil, menyepi di pegunungan, maka sangat kecil kemungkinan untuk dapat

menangkap bayangan mereka.

“Siapakah yang tinggal di ritöd itu?” tanya Karma.

“Guruku, geshes[99] Tobsgyais,” jawab trapa itu.

Calon ngagspa itu tak lagi melontarkan pertanyaan kedua. Apa lagi keterangan yang ia perlukan?

Dia sudah mengetahui apa yang harus diketahui. Para dewa telah menuntunnya kepada seorang

tsawai lhama.[100] “Katakan pada sang lhama bahwa para Chöskyong[101] telah membawakannya

seorang murid,” kata sang pengembara telanjang.

Dengan agak heran, tukang angkat air itu melaporkan kata-katanya kepada sang pertapa, yang lalu

memerintahkannya untuk mempersilahkan orang itu masuk.

Lhama tobsgyais yaitu  seorang yang terpelajar, cucu seorang pejabat Cina yang beristrikan

seorang Tibet. Mendengar penuturan Karma, orang ini terkesan bagiku sebagai seorang agnostik

yang lembut, yang barangkali menjalankan kehidupan pertapa disebab kan ingin belajar tanpa

gangguan orang-orang yang menyebalkan atau disebab kan selera kaum aristokratnya yang

menyenangi penyepian. Ini bukanlah hal yang jarang di Tibet. Pada dasarnya, Karma hanya

mengetahui sedikit tentang gurunya. Sebagaimana yang akan kita ketahui, melalui ceritanya

sendiri, dia sangat jarang melihat sang pertapa, dan hal yang ia ceritakan padaku tentang orang tua

dan sifat gurunya yaitu  berdasarkan keterangan kedua murid sang lhama, yang merupakan

penghuni ritöd itu.

Tempat pertapaan Kushog Tobsgyais mengikuti aturan sebagaimana yang tertulis dalam Kitab-

Kitab Buddhis: ‘Jangan terlalu dekat dengan sebuah desa. Jangan terlalu jauh dari sebuah desa’.

Dari jendela kecilnya, sang pertapa dapat memandang sebuah lembah luas tak berpenghuni, dan

di balik bukit tempat dimana pondoknya berdiri, terdapat sebuah dusun, sejauh setengah hari

perjalanan.

Pertapaan itu ditata dalam kesederhanaan seorang pertapa, namun sebuah perpustakaan besar

dan beberapa lembar lukisan di dinding menunjukkan bahwa penghuninya bukanlah orang miskin

atau tak mengerti seni.

Saat Karma Dorjee, seorang pemuda tinggi tegap, yang hanya berbalut rambut kumal panjangnya,

berdiri di hadapan seorang cendekiawan kurus sebagaimana yang ia gambarkan padaku, maka

mereka berdua pastilah membentuk sebuah potret yang agak ganjil.

sesudah  bersujud dengan penuh semangat di hadapan sang lhama, sekali lagi ia mengenalkan

dirinya sebagai seorang murid yang dibawa oleh para dewa ke hadapan sang guru.

Sang lhama mengizinkannya berkisah tentang kyilkhor, banjir yang ajaib, dan seterusnya tanpa

diinterupsi. Kemudian, saat Karma sekali lagi mengatakan bahwa ia telah dibawa ke ‘kakinya’,

Kushog Tobsgyais hanya berkata bahwa tempat dimana air itu telah membawanya agak jauh dari

mereka. Lalu ia bertanya mengapa tak memakai sehelai benang pun.

saat  Karma, dengan pengetahuannya yang minim, menyinggung soal Heruka dan dua tahun yang

141

ia habiskan dalam keadaan telanjang di hutan, sang pertapa menatapnya sejenak, lalu dipanggilnya

seorang pelayan, dan berkata dengan tenang:

“Bawa orang malang ini ke dapur agar dia bisa duduk di dekat perapian dan minum teh panas.

Carikan juga jubah bulu yang sudah tak dipakai, berikan padanya. Dia telah kedinginan selama dua

tahun.”

Dan dengan kata-kata itu ia memintanya meninggalkan ruangan.

Karma memakai pagtsa[102] lusuh itu dengan senang hati. sesudah  selesai mandi, panas perapian

dan teh bermentega yang banyak cukup menyegarkannya. Namun kenyamanan fisiknya agak

berkurang sebab  ia merasa harga dirinya agak dipermalukan.

Sang lhama, pikirnya, tak menyambutnya sebagaimana seharusnya menyambut seorang siswa

yang dibawa kepadanya secara ‘ajaib’. Namun begitu, sesudah  memuaskan rasa lapar dan

beristirahat sejenak, ia berniat membuat gomchen itu mengerti siapa dirinya dan apa yang ia

inginkan dari seorang guru. Namun Kushog Tobsgyais tak memberinya kesempatan untuk

menjelaskan lebih lanjut. Tampaknya ia bahkan lupa akan kehadiran Karma di ritöd itu, meskipun

tak diragukan bahwa ia telah memberi perintah untuk melayaninya, sebab  kedua siswa itu tetap

mengantarkan makanan yang cukup padanya dan senantiasa diletakkan di tempat yang sama, di

dekat perapian.

Hari dan minggu berlalu, dan Karma menjadi tidak sabar. Dapur itu, walaupun nyaman, namun telah

menjadi penjara baginya. Dia ingin bekerja, membantu mengambil air atau minyak, namun siswa

sang lhama tak mengizinkannya keluar dari rumah pertapaan itu. Perintah sang lhama cukup tegas,

ia diharuskan makan dan menghangatkan dirinya, hanya itu kewajibannya.

Karma merasa lebih dan lebih malu lagi sebab  diperlakukan seperti seekor hewan peliharaan yang

tak diharapkan berbuat apapun sebagai balasan akan makanan yang ia terima. Pada awalnya, dia

selalu menyuruh rekannya untuk mengingatkan sang lhama bahwa ia ingin bertemu dengannya,

namun si siswa selalu menjawab bahwa ia tak berani mengganggu gurunya, dan mengatakan

bahwa jika Rimpoche[103] hendak bertemu dengannya ia pasti akan menyampaikan pesan padanya.

Seiring berlalunya waktu, Karma menyerah untuk bertanya lagi. Satu-satunya hal yang

menyenangkannya yaitu  saat menyaksikan kehadiran sang lhama di balkon kecil dimana kadang

ia duduk di sana, atau mendengarkan, dalam jarak jauh, saat ia menjelaskan sebuah tulisan

filosofis kepada siswanya atau salah satu tamunya. Di luar saat-saat yang langka itu, waktu-waktu

yang kosong kembali menyeretnya berputar-putar dalam berbagai keadaan yang membawanya

kembali dan kembali, pada pikirannya.

sesudah  kurang lebih setahun dalam keadaan yang demikian, Karma menjadi sangat putus asa. Dia

merasa lebih baik memikul siksaan paling kejam sekalipun yang harusnya telah direncanakan

gurunya, dan keadaan sepenuhnya terlupakan ini amat mengherankannya.

Walaupun dalam perbincangan yang hanya berlangsung sekali itu dia telah dengan sangat hati-hati

tidak menyinggung keadaan dirinya yang berasal dari kalangan bawah, namun sekarang ia

menduga bahwa sang lhama, melalui kekuatan gaibnya, telah mengetahui hal itu. Demikian ia

menjelaskan mengapa ia diperlakukan seperti itu. Mungkin sang guru meremehkannya,

menganggapnya tak pantas untuk dididik, dan memberinya makan hanya sebab  kasihan. Hari

demi hari ide ini mencengkram pikirannya, dan dengan sadis menyiksa harga diri Karma.

Namun sebab  masih meyakini bahwa suatu keajaiban telah membawanya kepada Lhama

142

Tobsgyais dan bahwa tidak ada guru lain baginya di dunia ini, dia tidak berpikir untuk melakukan

perjalanan lain guna mencari guru yang lain, namun pikiran untuk bunuh diri kadang muncul di

benaknya.

Orang Tibet percaya bahwa untuk mendapatkan kemajuan di jalan mistik, seseorang harus bertemu

dengan tsawai lhama sejatinya, yakni guru spiritual yang di kehidupan lalu merupakan gurunya, atau

jika hal ini tidak berhasil diwujudkan, seorang lhama yang dulunya yaitu  kerabat terdekatnya,

ataupun tuannya. Dengan cara demikianlah ikatan itu terbentuk yang disebut orang Tibet sebagai

‘perbuatan-perbuatan di masa lalu’.[104]

Karma sedang terpuruk dalam kesedihan saat  seorang keponakan sang pertapa tiba di ritöd.

Pengunjung itu yaitu  seorang lhama tulku, seorang kepala biara dan melakukan perjalanan

dengan rombongan besar. Berbalut sebuah jubah brokat kuning yang bercahaya, memakai topi

berbentuk pagoda yang berkilauan, sang lhama dan rombongannya berhenti di tanah datar di kaki

pertapaan itu. Tenda-tenda indah dipasang, dan sesudah  menyegarkan dirinya dengan teh yang

dikirim sang pertapa dalam sebuah poci besar, tulku itu naik ke tempat tinggal pamannya.

Selama beberapa hari di sana, sang tulku memperhatikan figur aneh Karma dengan jubah kulit

dombanya yang usang dan rambutnya yang panjang hingga ke tanah. Dia bertanya mengapa

Karma senantiasa duduk di dekat perapian tanpa melakukan apapun.

Sang calon ngagspa segera memanfaatkan kesempatan yang telah ia nanti-nantikan. Akhirnya

para dewa menunjukkan kemurahan hatinya. Sudah pasti mereka yang membangkitkan rasa ingin

tahu itu di benak sang tulku.

Dia memperkenalkan dirinya dengan semua embel-embelnya, menceritakan padanya tentang

pertapaannya di hutan dalam keadaan telanjang, ritual dan kyilkhor di jurang, banjir itu, dan

seberkas cahaya yang berasal dari pertapaan lalu singgah di kepalanya. Dia mengakhirinya

dengan menyinggung ‘ketidakingatan’ Kushog Tobsgyais dan memohon sang tulku untuk

membantunya.

Dari apa yang kudengar, kelihatannya lhama yang padanya Karma sedang menceritakan kisahnya

sekarang, yaitu  satu karakter dengan pamannya. Dia tampaknya tak tergerak sedikitpun oleh

rasa kasihan, dan hanya sekedar bertanya jenis ajaran apa yang ia harapkan dari si pertapa.

Pertanyaan itu sangat menggembirakan Karma. Sekarang ia telah menemukan orang yang

bersedia diajak bicara tentang hal yang sangat ia dambakan. Dia dengan berani menyebutkan

bahwa ia berharap dapat memiliki kekuatan gaib, seperti kemampuan untuk terbang di udara atau

membuat gempa bumi…. Namun ia dengan hati-hati menghindar untuk mengakui alasan mengapa

ia ingin membuat keajaiban.

Sang tulku – Karma kemudian menyadari – hanya agak heran dengan cita-cita yang demikian

kekanakan, namun ia berjanji untuk menyampaikan hal ini pada Kushog Tobsgyais. Kemudian

selama dua minggu kunjungannya itu, dia bahkan tak pernah lagi melihat ke arah si anak muda.

Tibalah hari dimana sang tulku pamit pulang pada pamannya. Karma menatap dengan sedih

rombongan para trapa di kaki bukit, yang sedang memegang tali kekang kuda-kuda bersiap-siap

untuk berangkat. Orang yang dianggapnya sebagai pelindung titipan dari surga akan segera

berangkat tanpa memperoleh jawaban apapun atas permintaannya. Besar kemungkinan Kushog

Tobsyais tidak berkenan mengabulkannya. Keputusasaan kembali menderanya….

saat  sang tulku melewati pintu tempat pertapaan dan Karma hendak memberikan hormat dengan

bersujud tiga kali sebagaimana biasanya, yang bersangkutan memberikan perintah pendek:

143

“Ikuti saya.”

Karma Dorjee agak terkejut. Selama ini ia tak pernah disuruh melakukan apapun. Apa yang

diinginkan sang lhama?

saat  ia telah tiba di kaki bukit, sang tulku menoleh padanya:

“Saya telah menyampaikan pada Kushog Rimpoche keinginanmu untuk memperoleh berbagai

kekuatan gaib seperti yang telah kamu katakan,” katanya. “Rimpoche menjawab bahwa artikel -artikel 

yang harus kamu pelajari belum ia bawa ke ritöd ini. Keseluruhan artikel -artikel  itu ada di

perpustakaan biaraku, jadi rimpoche menyuruh saya membawamu ke sana, agar kamu dapat

segera mulai belajar. Ada seekor kuda untukmu, kamu akan melakukan perjalanan dengan para

trapaku.”

Lalu ia tinggalkan Karma dan bergabung dengan sekelompok kecil petinggi gompanya yang

menemaninya dalam perjalanan. Semua anggota rombongan kecil itu berpaling ke arah pertapaan,

dengan penuh hormat membungkuk sebagai ucapan selamat berpisah pada sang pertapa yang tak

terlihat, melompat ke sadel, dan segera berderap pergi.

Karma masih mematung, kebingungan. Seorang trapa menepuknya dan menyerahkan tali kekang

ke tangannya…. Dia menemukan dirinya di punggung seekor kuda yang sedang berderap kencang

dengan para siswa sang lhama sebelum menyadari apa yang sedang terjadi.

Hari keempat sesudah  tiba di gompa, seorang trapa memberitahu Karma bahwa sesuai perintah

sang tulku, koleksi artikel -artikel  yang disebut Kushog Tobsyais telah dibawa ke tsham khang. Dia

dapat segera mulai belajar, makanan akan dikirim secara teratur dari biara.

Karma mengikuti pemandu jalannya dan ia dituntun naik ke sebuah bukit dimana terdapat sebuah

rumah kecil berwarna putih yang nyaman. Dari jendela ia dapat melihat biara yang beratap

sepuhan, dan di kejauhan terbentang lembah yang dikelilingi lereng-lereng berhutan. Dalam

ruangan, disamping sebuah altar kecil, tiga puluh poti-poti[105] besar, berbungkus ‘jubah’ [106] yang

rapi dan diikat diantara papan berukir, diletakkan dalam beberapa rak artikel .

Gelombang kebahagiaan dan kebanggaan menyapu pikiran Karma. Akhirnya ada orang yang

memperlakukannya secara layak.

Trapa itu memberitahu bahwa sang tulku berharap agar ia tak melakukan penyepian yang keras.

Dia dapat hidup sesuai kehendaknya, mengambil air di sungai terdekat, dan berjalan-jalan ke mana

dan kapan saja sesuka hatinya. Ditinggal sendiri, Karma menenggelamkan dirinya dalam artikel -

artikel  itu. Dia belajar dengan sepenuh hati beberapa  besar mantra-mantra gaib, menyusun angka

untuk kyilkhor, menggunakan lebih banyak tsampa dan mentega untuk membuat torma-torma

dibandingkan  untuk makanannya. Dia juga mempraktekkan berbagai variasi meditasi sebagaimana

yang diuraikan dalam kitab-kitab itu.

Selama sekitar delapan belas bulan, semangatnya tak surut sedikitpun. Dia keluar hanya untuk

mengambil air, tak berbicara sepatah katapun pada para trapa yang dua kali sebulan

membawakan persediaan makanan dan minyak untuknya, dan ia juga sangat jarang menatap dunia

luar melalui jendela rumah itu.

Lalu, perlahan-lahan, pikiran-pikiran yang tak pernah muncul sebelumnya merangkak dalam

benaknya selama ia bermeditasi. Kata-kata tertentu dalam kitab-kitab itu, isyarat-isyarat tertentu

dari diagram gaib muncul di depannya seperti seorang yang tengah hamil dengan tanda-tanda

144

yang tak terduga sebelumnya. Dia kerap berdiri lama di depan jendela, memperhatikan para trapa

yang keluar masuk biara. Akhirnya ia berjalan melintasi bukit, mengamati tanaman dan bebatuan,

memperhatikan dengan seksama mega-mega yang berarak di langit, mengamati aliran air di

sungai yang tanpa henti, permainan cahaya dan bayangan. Dia juga menghabiskan banyak waktu

memperhatikan orang-orang desa yang mondar-mandir di lembah, para petani yang bekerja di

sawah, hewan-hewan yang melintasi jalan dengan beban di punggungnya, dan para satwa yang

berkeliaran bebas di padang rumput nan luas.

Setiap malam sesudah  menyalakan pelita altar, Karma Dorjee duduk bermeditasi, namun ia tak lagi

mencoba mengikuti latihan-latihan yang diajarkan di kitab-kitab itu. Hingga larut malam, bahkan

kadang sampai subuh, dia tenggelam dalam keadaan setengah sadar, tak bereaksi pada semua

sensasi, pada semua bentuk-bentuk pikiran, melihat dirinya sendiri berada di tepian pantai, tengah

mengamati alunan ombak perlahan dari lautan bercahaya putih kemilau, yang bersiap-siap

menenggelamkan dirinya.

Beberapa bulan berlalu, hingga suatu hari atau suatu malam, ia tak tahu pasti, Karma Doerjee

merasa dirinya terangkat ke atas dari tempat duduknya. Tanpa merubah posisi kaki bersilangnya

saat bermeditasi, ia melewati pintu dan, sembari mengambang di udara, ia bepergian cukup lama.

Akhirnya ia tiba di negerinya, di biaranya. saat  itu pagi hari, para bhikkhu tengah keluar dari aula

pertemuan. Dia mengenali sebagian dari mereka: para petugas, para tulku, beberapa  teman

lamanya. Mereka tampak letih, merasa tersiksa, jenuh, wajah-wajah yang murung dan langkah kaki

yang berat. Karma mengamati mereka dengan rasa aneh. Betapa kecil dan tak berartinya mereka

jika dilihat dari tempat dimana sekarang ia berdiri. Betapa terkejutnya mereka nanti jika dalam satu

gerakan dia akan muncul di hadapan mereka dalam keadaan mengambang di udara! Dan mereka

yang dulu telah menghina seorang bhikkhu miskin akan segera bersujud, ketakutan di hadapan

sang jawara dubtob, sang ngagspa yang mencengangkan hukum alam!…

Lalu, saat berada dalam ide-ide kemenangan itu, sebuah teguran bangkit dari pikirannya yang

terdalam, dan kegembiraannya pun segera mereda. Dia tersenyum mengejek ketidakberartian

membalaskan dendam pada boneka-boneka yang tak berharga itu. Mereka tak lagi menarik

perhatiannya…. Pikirannya kembali pada kebahagiaan mengamati alunan gelombang dari lautan

aneh yang tak bersuara, putih, dan berkilauan.

Berpikir demikian, ia pun segera meninggalkan tempat itu.

Kemudian, tiba-tiba, gedung biara itu bergetar hebat dan retak. Pegunungan di sekitarnya

memuncak dan terlempar dalam kekacauan. Puncak-puncaknya berjatuhan saling menimpa,

sementara puncak yang baru muncul. Matahari melintasi langit laksana halilintar dan jatuh ke bumi,

matahari yang lain timbul, menembus surga, dan ritme phantasmagoria itu berlangsung semakin

cepat hingga Karma tak dapat mengenali apapun kecuali sebuah gelombang dahsyat dengan buih-

buih yang terdiri dari semua makhluk dan benda-benda dunia ini.

Penglihatan-penglihatan yang demikian bukanlah hal yang jarang terjadi dalam dunia mistik

masyarakat Tibet. Hal-hal itu bukanlah mimpi. Pemandangan itu bukan terjadi saat terlelap. Sering

kali, terlepas dari perjalanan imajinasinya, sensasi yang ia rasakan, dan pemandangan yang ia

lihat, dia tetap sepenuhnya menyadari keadaan sekitarnya saat itu dan juga kepribadiannya sendiri.

Sering juga, saat tengah berada dalam keadaan ‘tak sadar’ demikian, ada kemungkinan mereka

bakal terinterupsi, sehingga mereka cenderung dengan sadar berharap agar tak ada orang yang

mendekat, atau berbicara padanya, atau mengganggu mereka dengan hal-hal yang lain. Walaupun

mereka mungkin tak dapat bergerak atau berbicara, mereka mendengar dan menyadari apa yang

tengah terjadi di sekitarnya; namun mereka tak merasa bersentuhan dengan objek materi apapun,

145

semua ketertarikan mereka larut dalam situasi dan sensasi dari ‘ketidaksadaran’ itu. Jika keadaan

itu diganggu oleh faktor luar, atau jika dia yang mengalaminya terpaksa menghentikannya sendiri

dengan usaha yang keras, keterkejutan yang hebat itu akan sangat menyakitkan dan meninggalkan

rasa tidak nyaman yang cukup lama.

Untuk menghindari akibat yang tidak mengenakkan ini dan akibat-akibat yang bisa mempengaruhi

kesehatan orang yang mengalaminya, maka dibuatlah sebuah peraturan yang menyarankan untuk

keluar sejenak dari meditasi estetis, atau bahkan pada meditasi yang biasa, jika sudah

berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama.

Lebih jauh lagi, seseorang dianjurkan untuk memalingkan kepalanya dengan perlahan dari satu sisi

ke sisi lain, memijat-mijat dahi atau puncak kepala, meregangkan lengannya saat menggenggam

tangannya dibalik punggung, dan membungkukkan badan ke belakang. Terdapat banyak latihan-

latihan yang serupa, dan setiap orang dapat memilih cara yang sesuai untuknya.

Para pengikut sekte Zen di Jepang, yang bermeditasi bersama di aula umum, menunjuk seorang

pengawas yang ahli dalam mendeteksi apakah seseorang tengah mengalami keletihan. Dia

menyegarkan dan mengembalikan energi mereka dengan memukul pundak mereka dengan

sebatang kayu yang keras. Mereka yang mengalaminya setuju bahwa sensasi itu yaitu  relaksasi

saraf yang paling mengenakkan.

Saat kembali dari perjalanannya yang menakjubkan ini , Karma menemukan dirinya sedang

duduk di tempat duduknya yang biasa di ruangan itu. Penuh rasa ingin tahu ia meneliti barang-

barang di sekelilingnya. Ruangannya yang kecil, dengan artikel -artikel  di rak, altar, perapian, semua

masih sama seperti yang dilihatnya kemarin; tak ada satu pun yang berubah selama beberapa

tahun yang ia habiskan di tsham khang itu.

Dia bangkit, menatap keluar jendela. Biara, lembah, hutan belantara masih dalam wujud yang

sama. Tak ada yang berubah, namun segala sesuatu rasanya berbeda.

Karma dengan tenang menyalakan perapian, saat kayu-kayu menyala terang, dia memotong

rambutnya yang panjang dan membuangnya ke perapian. Lalu ia membuat teh, minum dan

menikmatinya tanpa terburu-buru, memasukkan beberapa  perbekalan ke tas dan melangkah keluar,

dengan hati-hati ia menutup pintu tshams khang yang ada di belakangnya.

Di biara ia berjalan ke rumah sang tulku, saat bertemu dengan seorang pelayan di halaman, ia

menyuruhnya untuk memberitahu tuannya bahwa ia akan pergi dan tak lupa menyampaikan rasa

terima kasih atas kebaikan hati sang tulku. Lalu ia meninggalkan gompa itu.

Dia telah berjalan cukup jauh saat seseorang memanggilnya. Salah seorang bhikkhu yang tinggal di

rumah sang tulku menyusulnya.

“Kushog rimpoche ingin bertemu denganmu,” katanya.

Karma Dorjee kembali bersama bhikkhu itu.

“Kamu akan meninggalkan kami?” tanya sang lhama dengan sopan. “Kamu hendak kemana?”

“Saya hendak bersujud di kaki guru saya dan menghaturkan terima kasih,” jawab Karma.

Sang tulku terdiam sesaat dan kemudian berkata:

“Pamanku yang tercinta telah ‘pergi melampaui penderitaan’[107] enam bulan yang lalu.”

Karma Dorjee tak berkata sepatah kata pun.

146

“Jika kamu ingin pergi ke ritödnya,” lanjut sang lhama, “Saya akan memberimu seekor kuda,

sebagai hadiah perpisahan dariku. Kamu akan bertemu dengan salah satu siswa Kushog Tobsyais

yang tinggal di pertapaan itu.”

Karma berterima kasih pada sang tuan rumah namun menolak menerima apapun.

Beberapa hari kemudian, ia kembali melihat sebuah rumah kecil berwarna putih yang mana darinya

ia pernah melihat seberkas cahaya terpancar dan mengarah kepadanya.

Dia masuk ke ruangan pribadi sang lhama dimana ia pernah sekali diterima di sana, bersujud

cukup lama di hadapan kursi mendiang pertapa dan bermeditasi semalaman di tempat itu.

Keesokkan paginya dia berpamitan kepada bhikkhu pengganti gurunya. Bhikkhu itu memberikan

sebuah jubah biara milik mendiang pertapa itu kepadanya. Sebelum wafat, Kushog Tobsyais telah

memberi perintah bahwa jubah itu harus diberikan kepada Karma saat ia keluar dari tshams

khangnya.

Sejak saat itu, Karma Dorjee menjalani hidup sebagai seorang pertapa keliling, sebagaimana

halnya Milarespa yang tersohor itu, yang amat sangat ia kagumi. saat  aku berkesempatan untuk

bertemu dengannya, dia sud