Rabu, 15 Juli 2026

Lucu 7

 


Dia ada di 

pasar Tuanku, makan langsat." 

"Jangan kamu omong kosong." 

"Ya, terakhirTuanku melihat saya bila tidak demikian.Bila Tuanku 

pcrintahkan, saya akan pergi mengambilnya." , 

"Cobalah engkau pergi mengambilnya barangkali mukanya saja yang 

sama." 

"Tidak Tuanku, memang si Abunawas." 

Pergilah beberapa orang memanggil dan menjemputnya. Dia pun 

dipanggillah, "Hai Abunawas! Kamu dipanggil oleh Raja." Lalu Abunawas 

menjawab, "Ayolah." Sesudah itu pergilah ia. Tiba di depan raja, raja 

lalu berkata-kata , "Bagaimana engkau itu Abunawas, dikatakn engkau sudah 

dibakar padahal engkau tidak mati." 

"Saya tidak mati Tuanku, saya hanya datang dari sebuah kampung. 

Saya bertemu dengan orang tua Tuanku. Ia menanyakan keadaan Tuanku, 

saya menjawabnya bahwaTuanku sehat-sehat saja." berkata-kata lah raja itu, 

"Dapatkah saya pergi bertemu dengan dia?" 

"Dapat saja Tuanku bila Tuanku ingin, tapi Tuanku harus tahan 

dibakar api." 

60 

"Ah, tidak seberapa itu sebab  kita juga tidak mati. " 

"Sangat baik bila Tuanku pergi, scbab bilaTuankukembali dari sana, 

banyak oleh-oleh yang dapat dibawa. Tuanku dapat membawa mutiara, 

emas, bcrlian sebab  banyak di sana. Kalau dahulu orang tua Tuanku 

hidup Jayak saat  di dunia, sckarang keadaannya lebih baik lagi di sana. 

Andai kata tidak ada Jagi kesibukan saya tinggalkan, saya akan menetap 

di sana." 

Mendengar cerita itu lalu Raja berkata-kata , "Ah, lebih baik saya pcrgi 

sebab  dapat bersua dengan orang tua say a." 

"Tcrscrah Tuanku bila ingin pcrgi bcrjumpa dengan orang tua Tuan-

ku." 

Sesudah itu, Rakyat Indonesia merdeka  pergi semua mengumpulkan kayu . Dipcrintahkan 

supaya tidak mcngambil kayu yang bcrasap bila dibakar. Hanya kayu 

cemara yang diambil, dan kayu yang baik. Sckembali mereka mengambil 

kayu, maka kayu ini dionggok. Sudah tinggi onggokannya. Sesudah itu , 

pcrgilah raja ke tempat pembakaran. Bcrtanyalah raja ini, apakah lebih 

baik ia sudah di dalam lalu dibakar. berkata-kata lah si Abunawas, "Tidak baik 

jika  Tuanku lebih dahulu di dalam baru dibakar karcna itulah sc­

babnya semua badan menjadi hitam kena asap. Tapi bila api sudah 

menyala dan merah betul lalu Tuan mclompat kc dalamnya, akan lcbih 

baik sebab  langsung saja." 

Scsudah itu dibakarlah kayu itu. Api sudah berkobar-kobar, sudah 

mcrah benar bara dan nyalanya. saat  itu disuruhlah raja melompat kc 

dalamnya . "Melompatlah. Tuanku." Maka melompatlah raja itu kc 

dalamnya. Setibanya di dalam, ia pun mengcjangkan diri. Orang semua 

bcnanya mcngapa raja itu demikian. Abunawas lalu mcnjawab, "Sudah 

bertemu dengan orang tuanya." Meringis lagi raja itu, lalu berkata-kata  

Abunawas, "Mereka sama-sama tertawa di dalam." 

Selanjutnya, hancurlah raja jadi abu dimakan api, scmua orang 

pulanglah ke bungker bawah kubur nya. Istri raja itu lalu berkata-kata  kepada Abunawas, 

"Jangan kamu tinggalkan bungker bawah kubur , Abunawas, sebab siapa lagi yang akan 

melaksanakan pcmerintahan bila ada perintah yang datang." 

"Baiklah" kata Abunawas menjawab. 

Abunawas sudah berada di bungker bawah kubur . Kira-kira tiga malam sesudah raja 

dibakar, ditunggulah kembalinya. Bcrkatalah istri raja itu, "Mengapa raja 

pergi agak lama." Abunawas mengatakan bahwa entah mengapa raj a 

demikian. sesudah  cukup tujuh malam, ia mengatakan lagi, "Saya kha-

61 

watir kalau raja tinggal tcrus di sana dan tidak akan kembali untuk 

selama-lamanya." Abunawas lalu menyahut, "Memang ia tidak akan 

kembali lagi. Apalagi perlunya kembali sebab  sudah menjadi abu. Tidak 

akan kembali lagi ke dunia ini sebab  sudah enak di sana." Dcmikianlah 

jawaban Abunawas. 

Terbanglah burung puyu, berakhir pulalah cerita ini. 

16 

ANJING ABUNAWAS 

Ada seorang bernama Abunawas. Abunawas adalah seorang petani. 

Ia memiliki  anjing sebab seorang petani harus memelihara anjing yang 

akan menjaga kebun pada malam hari. jika  ada anjing penduduk 

yang baik di kampung itu langsung saja diambil oleh raja untuk dijadikan 

anjing pemburu. Anjing Abunawas memang sangat bagus. Anjing itulah 

yang dijadikan sebagai penjaga bungker bawah kubur . 

Pada suatu saat  ada seorang pengawal raja pergi berjalan-jal:in dan 

lewat di depan bungker bawah kubur  Abunawas lalu dilihatnya anjing itu. saat  tiba di 

istana, ia memberitahukan raja bahwa ada anjing Abunawas yang bagus. 

Tak pemah saya melihat anjing sebagus itu. Badannya lampai dan 

ekornya kecil serta larinya cepat. 

"Pergilah engkau memintanya. Beritahukan bahwa berikan anjingmu 

itu kepada raja." 

Pengawal raja itu pergilah ke bungker bawah kubur  Abunawas. saat  itu Abuna­

was sedang membuat bajak sebab sudah hampir waktunya membajak. 

Datanglah pengawal raja itu. 

"Ada apa, Pak?" Tanya Abunawas. 

"Ada perintah dari raja. Anjing Anda diingini raja." 

"Payahlah saya jika  raja mengambilnya sebab  anjing itulah saya 

memberi belanja padaku. jika  raja mengambilnya, apalah dayaku." 

"Belanja apa yang diperoleh dari anjing?" 

"O, bila anjing saya ini berak, suku emas yang diberakkan." 

62 

63 

"Jadi, bagaimana?" 

"Kasihan saya ini bila raja mengambilnya, saya akan menderita. 

Tidak ada lagi sumber pendapatan saya sebab  uang yang diberakkannya 

itulah yang saya belanjakan. jika  ia kuberi makan dengan jagung 

rebus maka beraknya adalah emas muda. jika  ia kuberi makan 

dengan nasi maka beraknya adalah em as tulen." 

Sesudah itu pergilah pengawal raja itu menyampaikan kepada raja 

bahwa Abunawas tidak. akan memberikan anjingnya itu kepada orang 

lain sebab  anjing itulah sumber belanjanya. Bila ia berak. mak.a suku 

emas yang diberakkan. 

"Pergi saja engkau meminjamnya. Sampaikan bahwa raja hanya 

meminjamnya barang tiga malam." 

Kembali lagi pengawal raja itu menemui Abunawas dan berkata-kata , 

"Pinjamkan saja anjingmu itu kepada raja barang tiga malam." 

"Raja benar-benar memusingkan saya. Tunggulah dahulu sebab  

hanya tiga malam saja, tunggulah sebentar. Saya suruh berak dahulu 

untuk belanja saya sclama tiga malam." 

Anjing itu meraunglah di atas bungker bawah kubur  sebab  ingin berak. Sementara 

itu Abunawas sudah menyiapkan uang emas yang disimpan di dalam 

mulutnya. 

"Naiklah ke mari supaya Anda lihat bagaimana kalau ia berak. 

Anjing itu sebenamya hanya ingin kencing. Pada waktu itu Abunawas 

menadahkan mul umya di dubur anjing itu . berkata-kata lah pengawal raja, 

"Sudah adak.ah yang keluar?" 

"Ini dia, lihatlah! jika  banyak makanan yang kuberikan, tentu 

banyak pula yang diberakkan. namun  sebab  sedikit makanan yang 

kuberikan kepadanya maka hanya dua suku emas yang dibcrakkan." 

Kembali lagi pengawal itu melaporkan kepada raja bahwa ia sendiri 

langsung menyak.sikan suku emas yang diberakkan anjing Abunawas. 

saat  putri raja mendengar berita itu, berkata-kata lah ia, "Pergilah Pak 

meminjarn anjing Abunawas. Saya ingin mernbuat gelang emas bila ada 

suku emas yang dibirahkan." 

Pergilah raja itu rneminjam anjing Abunawas. sesudah  tiba di sana, 

berkata-kata lah Abunawas, 'Tiga malam saja Tuanku meminjam anjing ini 

sebab  kalau terlalu lama, saya ak.an rnenderita." 

"Baiklah." Dintuntunlah anjing itu pergi ke istana. Bertanyalah raja, 

"Apa yang dikatakan oleh Abunawas." 

64 

'Tuanku dipinjami hanya selama tiga malam." 

"Biarlah. Kalau selalu diberi makan tentu akan banyak kali pula ia 

berak." 

"Anjing itu tetap tinggal terikat di atas bungker bawah kubur . Ia selalu diberi makan 

dengan nasi. Banyak nasi yang diberikan kepadanya. sesudah  gembung 

perutnya barulah ia berhenti makan sebab diharapkan agar ia berak 

sebanyak-banyaknya. 

Pada suatu saat  sesudah satu malam aning itu terkongkong di 

bungker bawah kubur , ia meraung terus-menereus.berkata-kata lah pengawal raja, "Wah, 

mungkin anjing itu sudah ingin berak, Tuan!" Anjing itu segera di­

bawakan tikar lalu diambilkan baki yang lebar sebab  dikhawatirkan ada 

berak yang memercik sehingga emas itu terbuang percuma. 

Disitulah raja menadahkan mulutnya di dubur anjing itu. Pipi raja itu 

sudah gembung sebelah-menyebelah. Putri raja mengira bahwa raja 

sudah penuh dengan emas. sesudah  diperiksa temyata mulut raja tidak 

berisi emas. Hanya berak anjing yang memenuhi mulutnya. Orang pun 

berkata-kata lah, "Kurang ajar si Abunawas itu, raja diberi makan dengan tahi 

anjing. Pergilah cari Abunawas lalu bawa kemari. Dia manusia biadab." 

Terbanglah burung puyu, berkahir pula ceritanya. 

17 

ANAK MENGAJI 

Ada seorang guru mengaji memiliki  dua orang murid. Seorang 

perempuan dan seorang laki-laki. Yang perempuan bemama Dualang. 

Yang laki-laki bernama Palanna. 

Pada suatu waktu Palanna lebih dahulu selesai mengaji. Sesudah 

mengaji, ia turun menyapu. saat  itu, barulah Dualang mulai mengaji. 

Sementara mengaji, kalamnya jatuh. berkata-kata lah ia, "Palanna, tolong 

pungutkan kalamku yang jatuh itu." Palana menjawab, ''Turunlah cngkau 

memungutnya." 

Si Palanna didesak memungutkan kalam Dualang, tapi tetap ia tak 

mau memungutkannya. Ia menyapu saja terus-menerus. berkata-kata lah Si 

Dualang, "Kamu sama sekali tidak mau menolong, Palanna. Masak.an 

engkau tak mau memungutkan kalamku itu padahal hanya akan kamu 

jolokkan naik kemari." 

"Saya dapat memungutkanmu dan mengantarkan padamu bila ada 

suatu perjanjian yang kita sepakati." 

"Perjanjian apa?" 

"Tentu kamu sudah maklum. Engkau gadis kecil mungil , saya pendek kekar ." 

berkata-kata lah Si Dualang, "Itu tidak sulit. Engkau sajalah lebih dahulu 

mengatakan, Palanna." berkata-kata  pula si Palanna, "Sa ya pungutkan engkau 

bila engkau yang lebih dahulu mengatakannya." berkata-kata lah Si Dualang, 

"Jika demikian halnya, maka ketahuilah bahwa jika saya disentuh laki­

laki kemudian hari selain engkau, akan hancur tubuhku." berkata-kata  pulalah 

65 

66 

Si Palanna, "Ya, jika kelak saya disentuh oleh perempuan sclain cngkau, 

hancur pulalah tubuhku." 

Jadi, dipungutkanlah kalamnya. Sctelah beberapa lama mercka 

mengaji, mercka pun sudah pandailah mengaji. Sudah ada yang melamar 

Si Dualang. Sesudah itu dikawinkanJah ia. Sesudah Dualang kawin, tidak 

pemah lagi Si Palanna pergi mengaji . la tinggal saja di bungker bawah kubur  duduk 

tcrrnenung. Ia berkata-kata  dalam hati, "Tidak lama lagi saya akan hancur 

sebab Dualang sudah kawin padahal kami sudah bersumpah. " 

Bcberapa lama sesudah  Si Dualang kawin, ia dibawa oleh suaminya 

kc suatu dcsa tempat asal suaminya. Di sanalah ia tinggal bersama 

suaminya. Pada malam hari tidak ada yang dikerjakan Dualang sclain 

menenun kain sutra. Ia tidak mau pergi tidur. jika  ia diajak oleh 

suaminya pergi tidur, ia hanya menjawab, ''Tidurlah kamu dahulu. Saya 

selcsaikan dahulu pekerjaanku." Akhimya ia sendiri tidak pergi tidur. 

Jadi, pergilah suaminya melaporkan ha! itu kepada mertuanya, katanya, 

"Bagaimana anakmu itu. Lebih baik dipanggil pulang sebab  sudah sekian 

lama kami bebungker bawah kubur  tangga, namun  tidak pemah kami tidur bersama scbab 

ia tidak mau pergi tidur. Ia sibuk bekerja terus-menerus. Bcberapa lam a 

kemudian, dikembalikanlah perempuan itu kepada orang tuanya dan 

berkata-kata lah suaminya, "Barangkali kami tidak sejodoh, terimalah ia 

kembali dan saya akan melepaskan diri sebab sekian lama kami kawin, 

namun  tidak pemah tidur bersama." 

"Kalau demikian, baiklah ." 

Si Dualang diterima kcmbali oleh orang tuanya sesudah  suaminya 

melepaskannya. Mulai saat itu Palanna pcrgi lagi mengaji . Kcduanya 

aktif lagi mcngaji. Guru mereka ingin mengetahui perihal mereka bcr­

dua. Kcduanya dibawa oleh gurunya pcrgi berjalan-jalan kc kcbun . 

saat  Dualang akan masuk kc kebun, ia mclihat bunga-bunga tumbuh 

di sepanjang pagar. Bcrkatalah ia, "Wah, alangkah indahnya bunga ini." 

Si Palanna lalu menyahut, "Memang bunga itu indah, sayang madunya 

sudah diisap pipit." 

"Ah, jangan kamu bcgitu Palanna. Mustahil bunga ini telah diisap 

madunya oleh pipit." 

Mereka melanjutkan perjalanan. Terbetiklah di dalam hati gurunya 

bahwa kedua muridnya itu sudah saling mengikat janji. Kcduanya sudah 

bcrsumpah sehidup scmati sebab ciri-cirinya sudah tam pak. la dika­

winkan, namun  tidak rukun dengan suaminya. Sementara itu si Palanna 

67 

tiba-tiba pula berhenti mengaji. Ia hanya tinggal terkongkong di bungker bawah kubur . 

Sekarang ini bicaranya juga agak lain. 

Ia melanjutkan lagi perjalanan bersama muridnya. Ditemukan lagi 

buah pepaya, lalu berkata-kata lah Dualang, "Pepaya yang di atas itu bagus 

dan sudah agak merah." Lalu berkata-kata  pulalah Si Palanna, 

"Memang pepaya yang di atas itu bagus Pak Guru, namun  sayang 

sudah dijamah oleh kalong." 

"Jangan kamu berkata-kata  begitu Palanna. Mustahil pepaya yang diatas 

itu pemah dijamah ka1ong." Yang dimaksud ialah payudaranya. 

Sementara mereka berjalan, ditemukan lagi nangka yang sudah 

ranum. berkata-kata  lagi Dualang, "Wah, itu di atas ada nangka yang sudah 

ranum. Nangka ini adalah jenis nangka yang baik." 

"Wah, nangka itu memang bagus. Sayang sekali bijinya sudah 

dimakan ulat," demikian anggapan Si Palanna. 

"Bagaimana Si Palanna ini sampai selalu berkata-kata  yang tidak-tidak. 

Mustahil ada ulat yang makan biji nangka ini. Tentu ada bekasnya 

sekiranya pemah dimakan ulat." demikian kata Si Dualang. 

Gurunya sudah paham betul bahwa keduanya sating mencintai. 

Mereka inilah sebaiknya dijodohkan sebab  keduanya sudah bersumpah 

setia. Keduanya sating mencurigai. Ia sudah dikawinkan, namun  tidak 

rukun. Dia menemukan kembang dikatakannya sudah dicium.namun  yang 

perempuan mengatakan, ''Tidak." Ia menemukan pepaya dikatakannya 

sudah dijamah payudaranya. namun , yang perempuan berkata-kata , "Tidak 

pemah." Ia menemukan nangka dikatakannya sudah berulat. Jadi, guru­

nya berkata-kata  dalam hati, "Orang inilah yang patut diurus." 

sesudah  mereka melanjutkan perjalanan. Terbetiklah 

Terbanglah burung puyu, berakhir pulalah ceritanya. 

18 

KAKAK SAMMARAK 

Ada tiga orang bersaudara. Seorang yang ahli, seorang dokter, dan 

seorang-orang kuat. Seorang bemama Kakak Sammarak, seorang lagi 

bemama Abu Tateleq, dan seorang pula bemama Abu Cikeleq. 

Pada suatu waktu mereka bertiga pergi berjalan-jalan. Pergi ke negeri 

orang. sesudah  kembali berjalan-jalan, mereka pun laparlah. Oitemui­

merekalah seorang orang tua petani. Ladangnya ditanami ubi kayu. Kira­

kira satu hetto luasnya. Mereka meminta, lalu bertanya, 

"Dapatkah kami membeli ubi kayu itu." 

"Untuk apa?" 

"Akan kami makan sebab kami lapar, kasihan." 

Sekalipun kalian habiskan semuanya itu , namun  kalau akan dibawa 

pulang kc kampung, tidak akan dijual sebab kami petani di sini, sering 

juga sulit tidak makan.Jadi, ubi kayulah yang kami makan. 

"Baiklah, Nenek." 

Masuklah si Kakak Sammarak. Dicabutlah sebatang lalu diberikan 

kepada adiknya berdua yang ada di luar pagar. Dimakanlah ubi itu oleh 

mereka, lalu berkata-kata , "Sudah kenyang kalian?" Adiknya menjawab, 

"Sudah kenyang kami , Kakak." 

Mulailah lagi Kakak Sammarak mencabut, mencabut ubi kayu itu 

hingga habis dimakan mentah sebanyak satu hetto. Sesudah mereka 

makan, merekapun mengucapkan terima kasih kepada petani ini . 

Adapun orang tua ini , diam saja sebab  sudah ia katakan sebelum-

68 

69 

nya bahwa sekalipun mereka habiskan diberikannya, asalkan tidak di­

bawa pulang. Jadi, dihabiskan betul oleh mereka. 

Scsudah mereka makan, mereka pun meneruskan perjalanannya. 

Mereka menemukan lagi sebuah kampung, dan mereka pun laparlah, 

dahaga ingin minum. Di tempat itu ada orang yang sedang menyiangi 

pohon kelapanya. Lalu mereka berkata-kata , "Apakah kami dapat diberi 

sebuah kclapa mudanya untuk kami minum aimya, kasihan, sebab kami 

dahaga." 

Orang tua itu berkata-kata , ''Tak dapat saya memanjat, Cucu." 

"Nanci kamilah yang memanjatnya Nenek asal Nenek menghalal­

kannya." 

Kalian habiskanlah sebatang itu jika engkau sendiri yang me­

manjatnya." 

Dipanjatlah kelapa itu oleh Kakak Sammarak yang bertubuh salah 

potong itu, dan tak dapat memikul. Jika membawa sesuatu, dikepit saja 

sebab bahunya berpotongan botol. Dialah yang memanjat. Diambil­

kanlah adiknya kelapa muda sebuah untuk seorang. Sesudah mereka 

makan, lalu berkata-kata , "Masih ingin diambilkan, Dik?" Adiknya 

menjawab, "Sudah cukup, Kak." 

Sesudah itu mulailah Kakak Sammarak memakan kelapa muda itu, 

diminum aimya, isinya dimakan dari yang paling muda sampai pada 

yang paling kering. Semua dihabiskannya. saat  ingin turu, tidak dapat 

lagi ia turun sebab perutnya sudah seperti karung. Perutnya yang besar 

itu terganjal di batang kelapa. sebab  itu, maka tidak sampai lagi kaki­

nya pada batang kelapa. Begitu meraba-raba, lalu jatuh, wah, meletus 

perutnya. Akibatnya, banyak lesung orang kampung yang hanyut di­

sebabkan air kelapa yang diminumnya itu. 

berkata-kata lah adiknya itu kepada saudaranya yang bungsu. 

"Bagaimana dengan kakak kita ini, Dik. Akan dimakamkankah 

ataukah bagaimana, sebab sudah meletus perutnya." 

"sebab  kau ahli, rcnungkan dahulu dan memohon kepada Tuhan 

apakah masih dapat diobati. jika  masih dapat diobati, kita obati agar 

hidup." 

Adiknya memperhatikan kakaknya itu. 

"Ah, masih dapat ia diobati. Ia masih hidup bila ada obat yang cocok 

untuknya." 

70 

Mereka berdua berusaha mengobati kakaknya. Lama-kelamaan, ia 

pun hidup kembali dan kuat lagi. Mereka lalu meneruskan perjalanannya. 

Adapun perut yang gembung itu tadi, sudah kempcs sebab sudah keluar 

seluruh isi perutnya. 

Di dalam perjalanan mereka itu, tibalah mereka pada sebuah kam­

pung lagi. Pada kampung itu, orang tak boleh menumbuk padi. Justru itu, 

tak ada orang yang makan nasi sebab tak boleh ada lesung yang bcr­

bunyi . Mereka berduka di kampung itu sebab  anak raja hilang. Ia dicuri. 

Jadi, pantang orang membunyikan sesuatu. Siapa-siapa yang menumbuk, 

dihukum oleh raja. Adapun yang dimakan oleh orang, hanyalah rebus 

pisang dan rebus ubi jalar. 

Demikianlah suasana kampung itu, saat  si Kakak Samm arak tiga 

bersaudara masuk ke dalam kampung itu , lalu berkata-kata lah mereka, 

"Apakah ada orang yang menjual beras? Berikanlah kepada kami, kami 

akan membelinya sebab  kami sudah lapar, kasihan. Kami datang dari 

tempat yang jauh. Di dalam keadaan lapar, kami temui kampung ini ." 

"Allah, sudah lama sekali kami di sini tidak pemah lagi makan 

berupi na.si. Kami hanya makan pisang dan ubi yang direbus, sebab dilarang 

menumbuk padi . Ada padi di bungker bawah kubur , tapi tak boleh menumbuk sebab  

kita takut." 

"Apa sebabnya?" 

"Anak raja menghilang." 

"Bahaya kalau begitu. Apakah tak boleh makan tanpa beras yang 

ditumbuk?" 

"Mau diapakan supaya jadi beras." 

"Dipijit-pijit saja. Kalau padi seratus ikat saja, tidak sampai schari 

sudah selesai jadi beras," demikian kata Kakak Sammarak. 

berkata-kata lah orang di kampung itu, "Aduh, kur kur semangatnya. 

Sudah lama kami ingin, namun  jangan sampai terdengar oleh raj a." 

"Apakah akan didengar sebab tidak ada bunyi-bunyinya. Kalau di ­

tampi, hanya ditiup-tiup." 

"Ayolah!" 

Lalu, ia diambilkan pada sebanyak dua puluh ikat. Waktu itu ia 

datang di bungker bawah kubur  Pak Lurah. Sebentar saja dipijit-pijit padi itu lalu jadi 

beras. Orang kampung itu saling memberi tahu. Mereka mengatakan, 

"Wah, kita sudah bisa makan sebab ada orang yang datang itu, hanya 

memijit-mijit padi itu lalu jadi beras." 

71 

"Di mana tempatnya?" 

"Di sana, di bungker bawah kubur  Pak Kepala Lingkungan." Dengan demikian, 

maka semua orang kampung pergi ke tempat itu. Ada yang membawa 

scpuluh ikat padi, ada yang hanya lima ikat. Dipijit-pijit saja oleh si 

Kakak Sammarak, sudah jadi beras. Ini bcrarti ia menolong orang di 

kampung itu. 

jika  si Kakak Sammarak ini dimasakkan nasi, tidak seperti kita 

ini bahwa harus disendok nasi itu dari belanga.Ia hanya memecahkan 

belanga itu scpcni telur ayam, baru ia makan. Ia makan bulat-bulat nasi 

scbelanga itu karcna Kakak Sammarak ini orang raksasa. Giginya sc­

besar bantal guling. Bila seliter saja sekali menyuap, tidak ada yang 

tertelan, kecuali hanya tinggal di cela-cela giginya. jika  berkata-kata , 

suaranya seperti guntur. Demikian pula kalau ia tertawa. Bila ia berkelip, 

seperti ki lat. 

Sudah itu, ia pun terus berjalan. Ditemuilah sebuah sumur yang 

selalu didatangi orang-orang dari istana raja. Dalamnya sumur ini  

sebanyak sepuluh cincin (dekker) ke bawah. jika  ayam bertengger di 

atas tembok sumur itu, sampai ia meminum air sumur ini  sebab  

banyaknya air di sumur itu. Adapun untuk adiknya diambilkannya daun lalu 

disendokkan air itu dan diminumkannya. Kemudian, ia berkata-kata  kepada 

adiknya, "Sudah tidak dahaga lagi, Dik?" 

"Tidak lagi." 

Sesudah itu si Kakak Sammarak melompat ke dalam sumur ini . 

Ia baru dapat minum sesudah  kakinya sampai di dasar sumur. Mulailah ia 

minum sampai kering sumur itu. Orang-orang yang datang dari istana 

untuk mengambil air, pada berlarian pulang. Mereka takut melihat 

manusia sebesar itu di sumur. Habis air di sumur itu diminumnya. 

berkata-kata lah orang, "Orang dari mana?" 

"Tidak tahu. Tiga orang berteman, namun  hanya seorang yang besar 

sekali. Kita tak dapat melihatnya. Tak ubahnya pcnutup belanga matanya 

yang melihat kita." 

"Wah orang apa itu." 

Pergi lagi orang melihatnya. Tidak sampai di sana lalu lari kembali. 

"Menakutkan, Tuan. Tidak mampu kita melihatnya." Disuruhlah 

orang kepercayaan raja untuk memanggilnya. 

"Pergi engkau panggil dia kemari. Orang dari mana dia itu. Me­

ngapa ada orang sebesar itu." 

"Ya." 

72 

Pergilah ia dipanggil. Sesudah itu, pergilah ia ke istana. Sesampai di 

situ, ditanyalah ia oleh raja. 

"Kalian datang dari mana." 

"Kami hanya pergi berjalan-jalan." 

Diperiksa semua surat-suratnya, lengkap semua surat mereka. Ka­

rena itu mereka dijamu. Diberikan pisang goreng. Si Kakak Sammarak 

tidak memakan pisang itu, sebab kalau hanya pisang goreng dimasukkan ke 

mulutnya, hanya tinggal di celah-celah giginya. Ia tak akan tahu me­

makannya. Jadi, ia tidak memakannya. 

berkata-kata lah raja itu, "Mengapa ia tidak makan, apakah ia tidak 

makan pisang?" 

"Dimakan juga, Tuan. Sebenamya saudara kami ini, Tuan, memang 

tidak ia makan makanan yang kecil. Lihatlah g1gi dan celah-celah gigi­

nya Tuan. Adapun penusuk giginya sebesar lengan. Jadi, bila ia makan 

pisang goreng itu Tuan, tidak ada yang akan terkena di giginya untuk 

dikunyah. Di celah-celah giginya saja akan ten inggal. sebab  itulah, 

maka ia tidak makan." 

"O, begitu. Bagaimana kalau diberi makan?" 

"Dimasukkan Tuan barang sepuluh liter tiap kali masak." Kemu­

dian, belanga itu dijejar di depannya. jika  ia makan, maka di ­

pecahkan belanga itu sepeni memecahkan telur ayam, lalu dimasukkan 

semua untuk tiap-tiap belanga." 

"Wah, kalau demikian, habislah belanga i tu. " 

"Ya, memang begitu bila dimasakkan." 

Ringkasnya cerita ini, bertanyalah ia "Apakah tak ada beras akan 

dimakan, sebab tak boleh orang menumbuk di kampung ini." 

"Begini, hilang anak saya." Adapun anak raja itu bemama si Radelul 

Darul Tappere Maradani Cabberung-beruqtoni ri Dahang. 

Kemudian, Abuteleq berkata-kata , "Tidakkah Tuan menyuruh mencari­

nya." 

"O, sudah sekian tentara disuruh mencarinya, namun  tidak di ­

temukan." 

"Bagaimana caranya mencari. Tidakkah ia melihat-lihat jejak yang 

dilaluinya." 

"Barangkali tidak, sebab sudah sekian banyak tentara yang pergi , 

ada pula yang sudah kembali dan ada yang baru mau berangkat, namun  

tidak juga ditemui." 

73 

Singkamya cerita ini, maka berkata-kata lah raja itu, "Siapa-siapa yang 

menemukan anak saya itu, akan saya kawinkan dengannya. Ia tidak akan 

memberikan uang mahar. Ia juga yang akan menggantikan saya me­

merintah bila say a sudah tua." 

berkata-kata lah kedua orang itu-Kakak Samrnarak tidak berkata-kata  apa­

apa kasihan, sebab seperti guntur bila ia berbicara. Hanya kedua orang 

adik.nya yang beroicara sebab sarna saja dengan rnanusia biasa seperti kita 

bila bcrkata, katanya. 

"Insya Allah Tuan bila Tuhan menolong kita, kalau kakak saya ini 

yang memperhatikannya, akan ditemukan anak itu ." 

"Bagus kalau begitu, sebab sudah lebih empat puluh malarn orang 

menderita di hutan hujan Amazon  ini, tanpa makan nasi. Begitu juga di istana ini 

tidak ada orang memakan nasi. Hanya rebus pisang dan rebus ubi yang 

menghidupkan." 

"Ya, namun  kami meminta surat dari raja, jangan-jangan kami 

bertemu dengan tentara lalu kami diperiksa dan menangkap kami, Beri­

kan tanda-tanda bahwa kami mendapat tugas dari istana." 

berkata-kata lah raja itu,"Ya, baik. Ini surat kalian bawa. Ini pula kerisku 

engkau pakai. jika  ada tentara melihatnya, akan ia tahu bahwa kalian 

adalah pula suruhan raja dan tak boleh diganggu." 

Diberikanlah surat dan keris itu, lalu mereka pergi mencari anak raja 

itu. Di dalarn hal ini , sebcnamya mereka sudah mengetahui siapa yang 

mencurinya. Adapun yang mencurinya ialah si Botoq, seorang raksasa 

pula. Bila ia tidur, ia tidur selarna tiga bulan. 

Jadi, merckapun langsung menemui si Botoq di bungker bawah kubur nya sebab  

memang mereka tahu bahwa si Botoqlah yang mencuri anak raja itu. 

sesudah  tiba di situ, so Botoq baru saja tidur sebulan lebih. Berarti sebu­

lan lebih lagi baru dapat ia bangun. jika  akan dibangunkan, kita tidak 

yakin bahwa ia akan bangun. jika  dilempari batu besar pada 

mukanya, dirasanya seperti lalat saja yang hinggap di mukanya. Akan 

namun , sebab  si Kakak Sarnmarak ini seorang raksasa ia dapat meng­

angkat batu yang lebih besar lagi dan melemparkannya kepada si Botoq 

yang tidur itu. Sesudah itu bangunlah si Botoq yang tuli itu. Bila diajak 

bicara, lain yang dikatakan, lain pula yang dijawabnya. sebab  itu, 

jika  akan mengeluarkan tahi telinganya harus memakai skop dan pada 

waktu ia tidur. Adapun tahi telinganya yang dikeluarkan itu sebanyak 

tujuh geroba.k tiap telinga. 

74 

saat  ia bangun, ia pun ditanyai, "Di mana kau simpan anak raja 

itu." 

"Saya simpan di atas langit." 

"Hari ini kau harus pergi mengambilnya." 

"Ai, tidak. Saya tak akan pergi mengambilnya jika  engkau tak 

mengalahkan pengetahuan saya." 

"B agaimana caranya." 

"Kita main sembunyian. jika  engkau mencmukan saya Jalu saya 

tak menemukan kalian, berarti kalian mengalahkan saya." 

"Jadilah. Siapa yang penama bersembunyi." 

"Sayalah dahulu, Cucu." 

Dengan demikian, si Botoqlah yang lebih dahulu bersembunyi, 

namun  tidak boleh bersembunyi di luar bungker bawah kubur  . Harus bcrada di dalam 

lingkaran dinding, tidak boleh di luar dinding. 

Pergilah si Botoq bersembunyi. Ia menetaskan telur biawak jinak lunak berlemak  lalu 

masuk ke dalamnya bersembunyi. Telur itu berada di dalam lubang 

bambu dinding. Sekarang ketiga orang itu sudah gelisah mencarinya, 

tidak juga ditemuinya. Lama sesudah mengorek-ngorek di mana-mana, 

ditemuilah telur biawak jinak lunak berlemak  di dalam rongga bambu dinding itu. Dipijitlah 

telur biawak jinak lunak berlemak  itu. Tiba-tiba si Botoq beneriak kesakitan sebab  kepalanya 

terpijit. Lalu ia berkata-kata , "Ai, kalian cucuku menemukan saya." 

"Kami sudah menemukan Nenek. Jadi, sebab  kami sudah mc­

nemukan Nenek, kami lagi yang akan bersembunyi . jika  Nenek tidak 

menemukan kami, maka pergilah Nenek mengambil anak raja itu." 

"Ya." 

Jadi, pergilah bersembunyi ketiga orang itu. Pada waktu mereka 

berbicara dengan si Botoq, tiba-tiba si Kakak Sammarak melompat 

masuk ke mulut si Botoq. Ia bersembunyi di bawah lidahnya. Kemudian, 

kedua saudaranya masuk ke kedua lubang hidungnya. Bulu hidungnya 

itu dapat dijadikan atap bungker bawah kubur . 

Si Botoq sudah gelisah mencari mereka. Lalu berkata-kata lah ia "Di 

mana mereka itu bersembunyi?" 

Bagaimana caranya akan melihat mereka sebab engkau sendiri yang 

selalu membawanya. Ia berada di bawah lidahmu, ada yang di tiap 

lubang hidungnya. Lama kelamaan ia sudah keringatan mencari mereka 

di dalam bungker bawah kubur , namun  ia pun tak menemukannya. sebab  itu, ia lalu 

berkata-kata , "Wah, muncul sendirilah. Kalian sudah mcngalahkan kecakapan 

75 

saya. Muncul sendirilah sebab  kalian sudah mengalahkan saya." Lalu 

melompatlah si Kakak Sammarak dari dalam mulut si Botoq. Kemudian, 

si Botoq benanya, "Di mana engkau bersembunyi." 

"Saya dibawah lidahmu." 

"Betul-betul kau kalahk.an saya." saat  si Botoq bersin, terlonjak­

lah kedua orang itu dari dalam hidungnya. berkata-kata  pulalah si Botoq, 

"Lailaha Illallah, Kaukalahkan betul saya. Jadi, tinggallah sebentar saya 

akan pergi mengambilnya di atas langit." 

Pergilah si Botoq mengambil putra raja itu. sesudah  kembali, diberi­

kannyalah kepada mereka yang menang itu untuk membawanya pulang. 

Waktu di tengah jalan, dalam perjalanan mereka itu, hari sudah 

menjelang malam. sebab  itu, berkata-kata lah adiknya, "Bagaimana caranya 

sebab  sudah akan kemalaman kita ini. Takut kita membawa anak raja 

itu pada waktu malam." Kedua adiknya itulah yang berganti-ganti 

menyulang anak raja ini . Lalu, si Kakak Sammarak berkata-kata  

"Apakah saya yang harus menyulangnya, sedang  ia tak akan duduk 

di atas bahuku. Akan kukepit, namun  jangan-jangan ia tak mau sebab  

akan ditimbun bulu ketiak. Adik-adiknya berkata-kata , 'Tidak usah, nanti 

kami yang berganti-ganti membawanya." 

Sampailah mereka pada suatu padang luas, dan di situ mereka 

kemalaman. Lalu, ia berkata-kata , "Bagiamana sekarang ini . Dua jam lagi 

baru kita sampai. Akan bermalam di sini, tapi tempat tak berpenghuni 

dan tak ada satu pun rum ah." 

berkata-kata lah si Kakak Sammarak, "Gampang, kita membuat bungker bawah kubur . 

Masih ada waktu. Masih jadi bungker bawah kubur  itu." Jadi, pergilah si Kakak 

Sammarak mengambil kayu di dalam hutan, dan menyabit alang-alang. 

Dipikulnya kayu itu dan mengipit alang-alang (atap) yang diambilnya 

dari hutan untuk mengatapi bungker bawah kubur  yang dibuatnya itu. bungker bawah kubur  yang 

dibuatnya di tengah padang luas itu terdiri dari tiga ruangan. Anak raja 

itulah pada ruang tengah. Bergant-ganti mereka ronda di bawah tanah. 

Tidak boleh tidak ada penjaga sebab jangan-jangan ada orang yang 

mengganggu dari bawah. 

Sementara itu, hari sudah siang, fajar telah terbit. Berangkatlah 

mereka melanjutkan perjalanan. sesudah  istana sudah dekat, kedengaran­

lah bunyi-bunyi yang ada di kampung itu. Rakyat Indonesia merdeka  gembira sebab 

anak raja sudah kembali, baru ditemukan. Selanjutnya, raja mengadakan 

kerarnaian di kampung itu. Mengadakan pencak, dan beberapa pernain 

lainnya. 

76 

Ada seorang pendekar datang dari tempat yang jauh. Tidak diketahui 

asal kampungnya. Di dalam gelanggang permainan itu, tak ada seorang 

pun yang berani melawannya. Ia pun seorang raksasa. jika  ia 

menyorong tinjunya ke arah timur, maka semua pepohonan akan rebah 

ke timur pula. jika  ia menghentakkan kakinya, rasanya bumi ini 

gempa. Itulah sebabnya tak ada orang yang berani melawannya. 

Si Kakak Sammarak mendengar cerita dari orang yang datang 

bahwa ada seorang pendekar dan tak ada orang yang berani melawannya, 

lalu ia berkata-kata , "Ha, mengapa tak ada orang yang bemai melawannya. 

Hanya tidak ada orang yang melawannya bila tak ada Tuhan. Ada 

Tuhan." 

berkata-kata lah raja itu, "Barangkali pintar betul orang itu, lcbih baik 

Kakak Sammarak yang dihadapkan kepadanya." 

Dibawalah si Kakak Sarnmarak ke tempat itu. Datanglah orang itu 

pada Kakak Sammarak. Dimulailah pertandingan itu. Pendatang itu lalu 

mendorongkan tinjunya dan semua pepohonan rebah searah dengan 

tinjunya itu. Dihentakkannya kakinya, bergetarlah tanah itu. Si Kakak 

Sammarak, tidak memperlihatkan pengetahuannya, namun  mereka saling 

berpencak saja. 

Di situlah mereka saling bermain. Pada waktu mereka bertinju, 

Kakak Sammarak meninjunya sampai ia menghilang dan tidak diketahui 

kc mana perginya. 

Terbanglah burung puyu itu, selesai pulalah cerita ini. 

19 

SI PARANG PANJANG 

Ada seorang mandul yang ingin sekali memiliki  anak. Pada suatu 

saat  ia pergi ke tempat keramat menyajikan scsajen. Ia bemazar jika ia 

memiliki  anak, takkan tanggung-tanggung memberi makan kepada 

anaknya seberapa saja yang mau dihabiskannya. Tidak lama kemudian 

terkabullah doanya. Ia melahirkan seorang anak laki-laki yang lahir 

bersama sebuah parang. Jadi, anak ini dinamailah Si Parang Panjang. 

Anak ini semenjak kecil ia sudah sangat lahap. Jika dibuatkan bubur 

satu liter dihabiskannya, dua liter pun habis dilahapnya. Dia tidak 

mengenal kenyang. sesudah  menjadi pendek kekar , orang tuanya sudah bosan 

menyediakan makanan sebab  satu karung pun beras di masak habis 

dimakan semuanya. Ia diusir oleh orang tuanya supaya pergi tewas mengenaskan ­

kan bungker bawah kubur . sesudah  ia tidak tahan di usir terus-menerus oleh orang tua­

nya, berkata-kata lah ia kepada ibunya, "Jika ibu sudah bosan memelihara 

saya, baiklah saya pergi membuang diri mengadu nasib." 

Keesokan harinya, sejak pagi Si Parang Panjang tewas mengenaskan kan 

bungker bawah kubur , namun  sampai sore masih ada sebagian sarung parangnya yang 

menyentuh anak tangga. Sungguh panjang parang orang itu. Sementara 

Si Parang Panjang berjalan tanpa tujuan, tiba-tiba ia bertemu dengan Si 

Penyedot Laut dan Si Penendang Gunung, yang sedang berbincang­

bincang di bawah pohon. Maka, singgahlah Si Parang Panjang menemani 

mereka bercerita. Berbincang-bincanglah mereka beniga. Mereka saling 

menceritakan sebabnya mengapa mereka tewas mengenaskan kan bungker bawah kubur  masing­

masing. 

77 

78 

berkata-kata lah Si Parang Panjang, "sebab  kita beniga senasib, lebih 

baik kita bersama-sama pergi mencari rezeki." 

Berjalanlah mereka bcrtiga. sesudah  tengah hari, ketiganya merasa 

lapar. Kebctulah pula mereka menemukan kerbau tiga sckawan. Di­

tangkapnyalah kerbau itu. Ditebangnyalah pohon kayu yang sangat besar 

untuk dipakai membakar kerbau . sesudah  itu, pcrgilah Si Penyedot Laut 

mencari api. Ia menemukan sebuah bungker bawah kubur  di tengah hutan. 

Bcrtanyalah Si Penyedot Laut, "Ada apimu , Nek?'" 

Bcrkatalah yang empunya bungker bawah kubur , "Ada, cucuku. Naik sajalah kamu 

mengambi l sendiri sebab  badan saya kurang schat." 

Maka naiklah Si Penyedot Laut ingin mengambil api . Sementara ia 

tunduk meniup api, dengan scgera Nenek Pakani (pemakan manusia) 

menyerbu lalu mengurungnya dengan kurungan besi. Barulah Si 

Penyedot Laut sadar bahwa bungker bawah kubur  itu adalah bungker bawah kubur  Nenek Pakani. Apa 

boleh buat, ia sudah tidak dapat melepaskan diri. 

Si Pa rang Panjang dan Si Penendang Gunung sudah bosan 

menunggu , namun  Si Penyedot Laut tak kunjung juga muncul. Jadi , 

berangkatlah Si Pcnendang Gunung pergi menyusulnya. Didapatinya 

bungker bawah kubur  Nenek Pakani , bertanyalah Si Penendang Gunung, "Ada apimu , 

Nek?" 

Menjawablah Nenek Pakani, "Ada, cucuku. Naiklah engkau meng­

ambil sendiri sebab  saya merasa demam." 

Maka, naiklah Si Penendang Gunung ingin mengambil api . Scmen­

tara ia menunduk meniup api, menyerbulah Nenek Pakani mengu­

rungnya dengan kurungan besi. Sudah cukup dua orang yang dikurung 

oleh Nenek Pakani. 

Sudah gelisah Si Parang Panjang menunggu. sesudah  penal me­

nunggu, pergilah ia menyusul kedua temannya itu. sesudah  ia tiba di 

bungker bawah kubur  Ncnek Pakani , bertanyalah Si Parang Panjang, "Ada apimu, 

Nek?" 

Menjawablah Nenek Pakani, "Ada, cucuku. Naiklah mengambil 

sendiri sebab  saya sedang menderita sakit." 

Si Parang Panjang langsung menuju ke dapur. Sementara ia mau 

mengambil api , dengan cepat Nenek Pakani menyerbu hendak mengu­

rungnya. Akan namun , ia tidak dapat dikurung sebab  parangnya panjang. 

Jadi, ia mengamuk akhimya lepas dari kurungan. Dicabutnya parangnya 

lalu ditebas Nenek Pakani. Maka, matilah Nenek Pakani dengan se-

79 

saat . sesudah  itu, dibebaskannyalah kedua temannya dari kurungan. 

Mereka mengambil api, kemudian pergi membakar kerbaunya. Mereka 

masing-masing menghabiskan seekor kerbau. Dimakannya bersama 

dengan tulang, sedikit pun tidak ada yang tersisa. 

Mereka bertiga melanjutkan perjalanan. sesudah  beberapa lama 

kemudian, mercka tibalah di tcpi laut. berkata-kata lah Si Parang Panjang, 

"Apa yang harus kita lakukan, hendak menyeberang tidak ada perahu 

ditumpangi." 

berkata-kata lah Si Pcnyedot Laut, "Tidak usah khawatir, mudah saja 

pcmccahannya." 

Disedotnya _air laut itu dan langsung kcring dcngan sekctika. Ber­

jalanlah mereka ke seberang melanjutkan perjalanan. Mereka tibalah di 

sebuah pasar. Mcreka bcrtanya kepada mandur padar bahwa apakah 

orang diperkenankan kentut di pasar itu. Temyata dipcrkenankan. 

Mereka membagi diri , seorang mengambil tempat di pojok sebclah barat, 

seorang di pojok sebelah utara, dan yang seorang lagi bcrada di pojok 

scbclah timur lalu mereka screntak kentut. Beterbanganlah tulang kerbau 

kcluar dari dubumya. Ada orang yang pingsan, ada yang buta, dan ada 

pula yang patah terkcna tulang kerbau. Orang di dalam pasar itu bcr­

larian mencari perlindungan sebab  ketakutan. 

sesudah  itu, mereka bertiga melanjutkan lagi pcrjalanan. Mereka 

mencmukan sekelompok perkebunan jagung. Jagung itu sudah masanya 

untuk dibakar. saat  itu hujan lebat pun turun tiba-tiba. Mercka bertiga 

pergi bemaung di dangau. 

Ditanyailah yang empunya kebun, "Bolehkah kami membakar 

jagung ala kadarnya, Pak?" 

Menjawablah yang empunya kcbun . "Walaupun kalian hcndak 

menghabiskan juga tidak mcngapa." 

Maka Si Parang Panjang menghunus parangnya kemudian menebas 

tanaman jagung itu. Hanya sekali saja ia menebas ke kiri dan sekali kc 

kanan maka rebahlah seluruh tanaman jagung yang satu kelompok kebun 

itu . Mereka bertiga masing-masing mengambil sebatang pohon kelapa 

lalu dipikulnya jagung itu kemudian mereka melanjutkan pcrjalanan. 

Mereka bertiga berjalan terus-menerus, akhimya tiba di sebuah 

kampung. Didapatinya sekelompok orang yang sedang menumbuk di 

bawah pohon mangga. Pohon mangga itu sedang berbuah lebat, namun  

buahnya tidak dapat dipetik sebab  batangnya terlalu besar dan tinggi. 

Mereka minta izin untuk mendapatkan beberapa buah mangga itu. 

80 

Orang yang dimintai menjawab, katanya, "Kami gembira sekali 

sekiranya engkau dapat memetik lalu memberikan sebagian kepada 

kami." 

Ia bertanya lagi, "Apakah bisa dilempar." 

Orang itu menjawab, "Terserah, lesung ini pun boleh kamu pakai 

melemparnya." 

Si Penendang Gunung tidak banyak cakap lagi lalu mengambil 

lesung, kemudian dilempamya mangga itu. Pohon mangga itu jatuh 

terhempas kc tanah. Buah mangga itu mereka telan bulat-bulat sampai 

habis semuanya. sesudah  itu mereka melanjutkan lagi pengembaraannya. 

Pada suatu saat  mereka berjalan di atas gunung. Dalam perjalanan 

itu, mereka tiba pada sebuah tebing yang curam dan sangat dalam. 

berkata-kata lah Si Parang Panjang, "Apa daya kita sckarang, hendak 

menyeberang tidak ada titian." 

berkata-kata lah Si Penendang Gunung, "Tak usah disusahkan. Itu urusan 

saya." 

Dia pergi mencari gunung yang paling tinggi. Hanya sekali tendang, 

runtuhlah gunung itu dan dalam sekejap saja tertimbunlah jurang itu. 

Mereka menyeberang melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian, mereka 

masuklah di sebuah kampung. Mereka bertanya kepada penduduk kam­

pung itu, "Apakah orang diperkenankan kencing di kampung ini?" 

Menjawablah orang yang ditanya, "Mengapa pula ada Jarangan 

orang kencing. Kai au kalian hendak kencing, silakan." 

Mereka bertiga pergi mencari tempat terlindung lalu serentak 

mereka kencing. Mereka belum selesai kencing kampung itu sudah mulai 

kebanjiran. Beberapa lama kemudian, kampung itu sudah dilanda banjir 

kencing, banyak bungker bawah kubur  yang hanyut, banyak orang yang tenggelam 

akibat banjir kencing itu. 

sesudah  selesai mereka kencing, mereka meneruskan Jagi pengem­

baraannya tanpa tujuan yang jelas kampung mana hendak dituju. De­

mikianlah kisah Si Parang Panjang tiga berkawan. sesudah  terbang bu­

rung puyuh, berakhir pulalah kisahnya. 

20 

ANAK RAJA 

Ada seorang raja dua istrinya. Seorang istrinya dari sesamanya 

keturunan raja. Seorang lagi bukan keturunan raja, bukan keturunan 

bangsawan. Larna-kelamaan beranaklah istrinya yang bukan bangsawan. 

Anakn)'a dari istrinya yang bukan bangsawan itu lahir bertepatan datang­

nya ke situ seekor Kuda laut  hijau atas kehendak Tuhan. 

saat  anak _itu sudah mulai agak besar, pergilah ia mengendarai 

Kuda laut . Ditunggangilah Kuda laut  hijaunya itu. Ia tiba dimuka tangga bungker bawah kubur  ibu 

tirinya (yang raja). Hal itu dilihat oleh ibu tirinya. Ibu tirinya itu berkata-kata  

dalam hatinya, "anak maduku yang mengendarai Kuda laut  itu. Padahal sarna 

saja saya dengan dia, namun  saya ini hanya Kuda laut  biasa saja. Kalau 

Kuda laut nya itu, Kuda laut  yang aneh." Lalu ia berkata-kata  lagi, "Apa usaha saya agar 

Kuda laut  itu disembelih." Pada saat itu, istri yang bangsawan itu sedang mengi­

dam. Dikatakanlah bahwa ia sakit. Beberapa dukun dipanggil untuk 

memeriksa dia. lalu istri raja itu berkata-kata , "Saya tidak akan sembuh bila 

saya tidak memakan hati Kuda laut  hijau. Bila saya tidak makan hati Kuda laut  

hijau, ai, penyakitku inilah yang akan membawa aku ke akhirat." Raja itu 

sangat menyayangi istrinya itu. Oleh karma itu. ia rerlca1a, "Api boleh OOat." seOOb 

Kuda laut  itu sangat disayangi pl1a Cllaknya JOOi, pergilah ia meremui anaknya Ia rerlGl1a 

'Hai, anakku. sabarlah engkau, ya!" BeJkatal.ah anaknya, 'Teiserah Ayah. Aµi saja 

Kuda laut mu ini, akan dijadikan obat sebab  ibu tirimu sakit keras. Itulah 

yang akan membunuhnya bila ia tidak memakan hati Kuda laut  hijau itu. 

Kuda laut mu ini Nak, sabarlah engkau sebab  akan disembelih. Nanti akan 

81 

82 

saya belikan lagi, mana yang engkau sukai. Ataukah Kuda laut  Belanda yang 

besar yang akan saya belikan, asalkan ibu tirimu itu sembuh." berkata-kata lah 

anaknya, ''Terserahlah pada Ayah. Apa yang ayah lakukan, itulah yang 

jadi." 

Jadi, disembelihlah Kuda laut  itu dan diambil hatinya, dan dimakanlah 

oleh permaisuri raja itu. Padahal ia hanya cemburu sebab  Kuda laut  hijau itu 

dikendarai oleh anak tirinya, sedang  dia bukan. Jadi, demikianlah 

sebabnya. 

saat  Kuda laut  itu selesai disembelih, anak itu menyampaikan kepada 

ibu kandungnya, "Hai Ibu! saya akan pergi ." Lalu ibunya berkata-kata , "Ke­

mana engkau pergi, Nak?" Ia menjawab, "Akan kutinggalkan kampung 

ini. Saya akan keluar kampung." Kemudian ia berkata-kata , "Bekalilah saya 

dengan barang sesuatu yang tak akan habis." 

"Apa yang akan saya bekalkan padamu. Akan kubekali uang, akan 

habis. Kecual i, bila pesanan nenekmu kubekalkan padamu." 

"Apakah itu?" 

"Saya hanya ingin pesankan kepadamu, Nak, bahwa bila kau pergi 

ke negeri orang lain, jangan kau bedakan yang sedikit dengan yang 

banyak. Bila orang berharap kepadamu, perhatikanlah. Jika hatimu agak 

risau, atau agak bersedih, pergilah berrnain-main. Jika engkau tak tahu 

bermain, pergilah menonton orang yang berrnain. Hanya itulah pesan 

nenekmu." 

Jadi, pergilah anaknya itu. Pcrgilah anaknya itu mengembara. Di 

dalam pengembaraannya itu, tibalah ia di sebuah kampung. Kampung itu 

bemama Bongngok. Orang yang ada di dalam kampung itu sangat tolol. 

Mereka itu tak punya akal. 

Kepala kampung itu baru kembali dari kantor menghadiri rapat. Ia 

berkata-kata , "Kita di kampung Bongngok ini menghadapi kesulitan." 

"Ada apa gerangan?" 

"Ini ada kayu yang diberikan-pentungan-dan dikatakannya da­

tanglah engkau besok dengan memberitahukan bahwa ini ujungnya dan 

yang ini pangkalnya. Jika engkau tidak mengctahui, akan saya hancurkan 

hutan hujan Amazon  Bongngok itu." berkata-kata lah anak raja itu," "Betul kita dalam 

kesulitan Pak Lurah." 

"Hanya engkaulah Nak yang akan dapat memikirkannya." Rakyat Indonesia merdeka  di 

kampung ini sudah gelisah sebab mereka terancam bahaya. Tidak 

mungkin ada yang bisa mengetahui pangkal dan ujung pentung ini sebab 

rata dam sama saja besamya. 

83 

berkata-kata lah anak raja itu, "Begini saja, Pak Lurah, ambil saja scmba­

rang pengikat, ambillah lapisan batang pisang, ukurlah panjangnya lalu 

kamu lipat dua. Tandai tengahnya, lalu kauumai tengahnya. Yang mana 

merunduk, itulah pangkalnya." 

Sesudah ia buat demikian, diutaslah, ditandainya, pergilah lagi mcm­

bawanya ke kantor. Dikatakannya, "Yang mana pangkalnya, Pak Lu­

rah?" 

"Yang ini ." 

"Engkau sudah pintar, Kcpala Bongngok. Besok, datang lagi engkau 

membawa abu S\)dah diutas. Bila tidak engkau bawa, akan kuhancurkan 

Bongngok." 

Ia pcrgi lagi menemui Rakyat Indonesia merdeka , ia bertanya lagi kepada penduduk, 

"Pandaikah kalian mengutas abu?" 

"Mana mungkin ada yang dapat mengutas abu, sebab hancur, tcr­

hambur." 

"Berbahaya kita sekarang ini. Sebab abu yang sudah diutas akan 

saya bawa. Padahal mana mungkin ada yang pandai mengutasnya." 

"Pendek kata, sudah berbahayalah kita sekarang." 

berkata-kata lah ia, ''Nanti kita pergi lagi menemui anak raja, barangkali 

ada pendapatnya." 

Sctelah tiba di situ, berkata-kata lah anak raja, "Apa lagi, Pak Lurah?" 

berkata-kata lah Lurah itu, "Sudah lagi, Nak." 

"Ada apa lagi?" 

"Abu yang sudah diutas yang harus saya bawa. Padahal bagaimana 

caranya abu itu akan diutas." 

"Jangan kamu risau hati, Pak Lurah. Mudah semuanya." 

"Terima kasih, Tuan. Bagaimana gerangan?" 

"Ambil saja secarik kain. Bawalah secarik kain lalu utuslah. Perbaiki 

gulungannya dalam baki lalu kamu bakar. Bila sudah terbakar, tutuplah 

agar tidak dihembuskan angin. Sebab bila angin bcniup akan tersiar." 

Dibuatlah olch Pak Lurah seperti itu. Pada pagi hari pergilah ia mem­

bawanya. 

"Mana abu yang sudah kamu utas, Pak Lurah?" 

"lni ada, Tuan." 

"Wah, pintar betul engkau, Pak Lurah. Barangkali ada orang pandai 

di dalam kampungmu, Pak Lurah. Mengapa engkau tahu semuanya ini." 

"Ah, tidak ada Tuan." 

84 

"Besok Pak Lurah, engkau bawa empat puluh ekor ayam yang sama 

bunyinya." 

Pak Lurah berkata-kata  bahwa memang banyak ayam di dalam kampung 

tapi banyak bunyinya. Ada yang bergelombang, ada yang rata. Ia men­

datangi lagi anak raja itu, lalu katanya, "Ada lagi perintahnya." 

"Apakah itu?" 

"Ayam sebanyak empat puluh ekor yang sama bunyinya." 

"Aduh, mudah saja yang demikian. Begini saja Pak Lurah. Pergi saja 

mencari anak ayam yang masih kecil yang barn saja turun dari 

sangkamya. Sama suara dan sama pula wama bulunya." 

Jadi, pergilah lagi ia mengumpulkan anak ayam itu, sebanyak empat 

puluh ekor. Dibawa lagi ke kantor pada pagi harinya. 

"Apa lagi itu, Pak Lurah?" 

"Inilah Tuan, yang dipesan oleh Pemerintah." 

"Wah, hitam pekat semua bulunya, sama pula suaranya. Wah, sudah 

pintar betul sekarang Kepala Bongngok. Siapakah di sana yang meng­

ajarrnu?" 

"Tidak, Tuan, kami sendirilah yang mendapatkannya." 

"Ya, namun  besok Pak Lurah, sebab sudah tiga perintah yang telah 

kau buktikan, nah, di sana ada kerbau besar. Carilah di kampungmu 

kerbau yang dapat mengalahkannya. jika  tak ada kerbau di dalam 

kampungmu yang akan mengalahkannya, celakalah engkau. Barulah kali 

ini saya sempat membuat kamu mcnderita. " 

Jadi, berjalanlah ia menjelajahi kampung, Kerbauny.a si Anu besar, 

namun  tidak galak. Kerbau si Anu galak namun  kecil. Apa yang akan 

dibuat sebab  kerbau besar yang akan dihadapi. Mana ada kerbau yang 

akan mungkin mengalahkannya. Pusinglah Pak Lurah. Keringatnya bcr­

cucuran. berkata-kata lah ia, "Lebih baik jika ditemui lagi anak raj a itu, siapa 

tahu ada lagi petunjuk yang diberikan kepada kita." 

Scsampai di bungker bawah kubur  anak raja itu, diberitahukanlah kepadanya. Anak 

raja itu lalu berkata-kata , "Berapa harikah jangka waktumu?" 

''Tidak juga ia memberikan jangka waktu. namun  ia hanya menga­

takan carikan lawan kerbau besar itu yang mungkin akan mengalahkan­

n ya. Bila tidak, awaslah engkau." 

"Begini saja, ambil saja anak kerbau yang masih gandrung menyusu. 

Tambatkan ia selama tiga malam. Pisahkan dari induknya. jika  

engkau sudah akan pergi membawanya ke sana, pasanglah besi tajam di 

85 

mulutnya, tutup matanya. Nanti bila diperhadapkan dengan lawannya 

barulah penutup mata kerbau itu ditanggalkan." · 

"Ya, Tuan." 

Datanglah ia menuntun kerbau itu. Sudah banyak orang yang datang 

menonton untuk melihat kerbau yang akan berlaga. Pak Lurah Bongngok 

akan membawa penantang. Maka datanglah Pak Lurah Bongngok 

menuntun kerbaunya. berkata-kata lah raja itu, "Itukah yang akan menga­

lahkan kerbau itu?" 

"Ya, Tuan. Inilah yang akan saya peradukan." 

Dibawalah kerbau itu ke dalam Iapangan. Ditanggalkanlah penutup 

matanya. Langsting ia menyerang kerbau besar itu untuk menyusu . Maka 

selalu larilah kerbau besar itu . Anak kerbau itu berusaha terus menyusu 

sambil menusuk ke atas pernt kerbau besar itu. Jika disusui lagi, larilah 

kerbau besar itu. Kerbau besar itu dikejar terns oleh anak kerbau sebab 

sudah kesakitan selalu digerogoti , disusui, Maka berkata-kata lah Pak Lurah 

Bongngok, "Bagaimana, Tuan? Kerbau Tuan sudah dikejar terns." 

berkata-kata lah raja, "Ada orang pandai di dalam kampungmu. Pasti ada. 

Mengapa ia mengetahui semuanya." 

"Betul Tuan, di dalam kampung kami memang ada orang pandai. 

Dialah yang akan kami jadikan suluh di dalam kampung kami." 

Jadi, anak raja itu yang menjadi raja di kampung Bongngok, lalu 

diberilah nama Raja Bongngok. Sebab, dialah yang menghidupkan 

kampung Bongngok. Dialah yang mengajarkan berbuat begini berbuat 

begitu sehingga ada sumber penghidupan. 

21 

ONDE-ONDE RAKSASA 

Raja Larompo menganggap dirinya besar. Ia berkata-kata  bahwa tak ada 

lagi yang mengalahkan besarnya orang Larompo, sebab bulu-bulunya, 

rambutnya dapat dijadikan sendok besi. Mata kakinya ditengadahi sebab  

besamya. Dianggapnya tak ada lagi yang mengftlahkan besamya. Tapi, 

lama-kelamaan ada berita bahwa orang di Roma besar pula pcrawakan­

nya. Ia berkata-kata , "Apakah mereka mengalahkan kita?" Dijawab, "Jika 

saya perhatikan, kita kalah besar." Jadi, berkata-kata lah Raja Larompo, 

"Bahaya kalau begitu, saya kira kitalah yang terbesar, padahal masih ada 

lagi yang mengalahkan kita." Dijawab, "Masih ada, dan bisa saja kita pergi 

bertamu kepada Raja Roma itu. Entah apa yang baik dibawa sebagai 

oleh-oleh ke sana. Jadi, sebaiknya kita membawakan barang yang aneh." 

berkata-kata lah Raja Larompo, "Begini, lebih baik kalau kita membuat onde­

onde ." Dibuatkanlah sebuah onde-onde. Setiap kampung membuat 

tepung yang akan dibuat onde-onde itu. Tiga bulan lamanya mereka 

mcmbuat tepung untuk sebuah onde-onde saja. Gula yang digunakan 

entah berapa ton banyaknya. 

Kue onde-onde inilah yang akan dibawa kepada Raja Roma sebab  

menu rut berita orang Roma itu besar. Bcrkatalah Raja Larompo, "Apa­

bila onde-onde kita ini kalah besar dari onde-onde mereka, maka betul­

betul mereka mengalahkan kita." 

Sebuah kapal khusus mengangkut onde-onde ini . Muatan kapal 

itu hanya sebuah onde-onde. 

86 

87 

Berangkatlah mereka berlayar. saat  mereka sampai di muara yang 

akan dilalui masuk, wah, tiba-tiba ada tinja di air yang menghalangi 

kapal Iewat. Kewalahan mesin kapal mengeruknya. Berbulan-bulan tinja 

itu dikeruk baru hancur dan barulah kapal itu dapat lewat. Jadi, berkata-kata ­

lah mereka, "Wah, saya lihat memang cukup besar orang yang ada di 

Roma itu. Coba lihat tinjanya ini, La ilaha illallah." 

Masuklah kapal itu berlabuh. Burung bangau beterbangan me­

ngerumuni kapal akan memakannya sebab  kapal itu dianggapnya ikan 

kecil. berkata-kata lah mereka, "Wah, memang besar sekali orang yang ada di 

RCllla ini. Burung-burungnya akan menelan ~ me.reka sebab  diangg<tIXtya 

ikan kecil." saat  kapal sudah tiba di pelabuhan Roma, dibunyikanlah 

kapal itu. berkata-kata lah orang di Roma, ,;Ada lagi orang dari Barat datang 

Tuan." berkata-kata lah Raja Roma, "Pergilah kalian melihatnya, barangkali 

ada barang yang dibawa untuk kita beli, dibeli oleh anak-anak ." Pergilah 

mereka melihatnya, "Ai, bukan pedagang Tuan. Benderanya bendera 

Raja Larompo." berkata-kata lah ia, "Mungkin Raja Larompo yang datang. 

Barangkali ia datang kemari untuk bertamu." saat  kapal sudah ber­

labuh, naiklah mereka kc sekoci untuk mendarat. Naiklah utusan Raja 

Larompo, lalu berkata-kata , "Raja Larompo ada di kapal dan beliau akan 

datang bertamu kepada Tuan." berkata-kata lah Raja Roma, "Baiklah kalau 

begitu." Semua orang sudah menunggu menjemputnya. saat  kapal 

sudah dirapatkan di tepi, berkata-kata lah mereka, "Ada oleh-oleh yang kami 

bawa." saat  orang Roma melihat ke bawah, berkata-kata lah mereka, 

"Onde-onde Tuan. Satu kapal yang khusus memuat onde-onde itu.'; Raja 

Roma lalu berkata-kata , "Ambilkan baskom dan masukkan kapal itu ke 

dalamnya, kemudian naikkan bersama kapal itu." Kapal itu dimasukkan 

ke dalam baskom begitulah besamya manusia di Roma. Orang Roma 

berkata-kata , "Tidak usah onde-onde itu dinaikkan kemari ." berkata-kata lah orang 

Larompo, "Jadi akan kamu simpan di mana?" "Taruhlah di alas cangkir 

itu. Simpan lebih dahulu di atas meja dan suruh orang menadahnya. 

Nanti sesudah  tiba di atas baru diletakkan." Jadi, onde-onde itu hanya 

ditaruh di alas cangkir, padahal beberapa bulan dibuatkan tepung sebab  

sangat besar. Raja Roma berkata-kata  dalam hati, "Penganan apa ini yang 

dibawa Raja Larompo." 

Sementara itu Raja Larompo mendapat suguhan yang dihidangkan 

di atas meja. Mereka makanlah bersama-sama dan masing-masing 

mencicipi makanan yang disuguhkan oleh kedua belah pihak. Raja Roma 

88 

agaknya malu-malu menelan sekaligus onde-onde itu. Jadi, ia hanya 

menggigitnya separuh. Wah, melctuslah onde-onde itu dan keluarlah 

gulanya. Akhimya, banjir gulalah di kampung itu. Anak kerbau yang 

masih kecil tinggal mengap-ngap dirckat oleh gula onde-onde yang 

mcletus. Banjir gulalah desa itu. 

Sesudah itu Raja Larompo berkata-kata , "Saya datang kemari sebab 

orang mengatakan orang Larompo itu besar sekali, padahal lebih besar 

lagi orang yang ada di Roma ini. "Raja Roma lalu berkata-kata , "Kalau 

masalah besar, tak ada yang akan mengalahkan kami. Memang kami 

besar, namun  agaknya kalian mengalahkan kami dalam masalah kecer­

dasan, sebab kami ini tak mengetahui cara membuat onde-onde yang 

sebesar itu. Temyata jika  dimakan dan gulanya meletus dapat me­

nimbulkan banjir. Lesung Rakyat Indonesia merdeka  sudah berlumuran gula dan dihanyutkan 

banjir gula." 

Demikianlah ceritanya. Burung puyu terbang, berakhir pulalah cerita 

itu. 

22 

SOQ BAGA 

Pada suatu hari Sog Baga pergi berjalan-jalan. Ia mendapatkan banyak 

cendawan di dalam perjalanannya. Dia tidak mengumpulkan cendawan 

itu, namun  sebaliknya diinjak-injak hingga hancur. Kejadian ini kembali 

dilaporkan kepada orang tang di bungker bawah kubur  bahwa dia mendapatkan banyak 

cendawan, namun  diinjak-injak hingga hancur. Orang yang ada di rurnah 

kctika mendengar kabar dari Soq Baga ini lalu menegumya dan mena­

sihatkan supaya kalau mendapat rezeki yang demikian scharusnya digali 

dan dikumpulkan. Soq Baga lalu menjawab, "Saya akan buat demikian 

kalau ada yang saya temukan lagi." 

Keesokan harinya Soq Baga pergi berjalan-jalan lagi dekat per­

sawahan. Ia menemukan seekor kerbau sedang kepayahan dalam lumpur 

di tengah rawa-rawa. Melihat kejadian ini ia pergi mengambil kayu dan 

menggali kerbau itu, namun  tidak berdaya. 

Soq Baga pulang ke bungker bawah kubur  dan memberitahukan kejadian ini  

kepada orang di bungker bawah kubur nya. Orang di bungker bawah kubur nya memberitahukan bahwa 

tidak boleh berbuat demikin kalau kerbau kepayahan di lumpur, namun  

sebaiknya dipukul supaya cepat keluar dari lumpur. Soq Baga menjawab 

orang ini , "Ya, nanti ada yang saya temukan lagi." 

Hari bcrikutnya Soq Baga berjalan-jalan lagi. Ia menemukan dua 

orang anak sedang berkelahi di lapangan dekat jalan bcsar itu. Melihat 

pcrkelahian kedua anak ini Soq Baga langsung mengambil kayu lalu 

memukul anak yang berlcelahi ini, sesudah  kejadian itu Soq Baga pulang 

89 

90 

ke bungker bawah kubur  dan menyampaikan kepada orang di bungker bawah kubur  bahwa dia melihat 

dua orang anak bcrkelahi, kemudian langsung memukulnya dengan 

kayu . Orang di bungker bawah kubur  menegurnya lagi bahwa kalau menemukan 

kejadian yang demikian kita harus masuk di tengah dan melerainya. Soq 

Baga kemudian menjawab, "Bersabarlah saya akan memperbuatnya 

kalau saya menemukannya lagi." 

Soq Baga pergi berjalan-jalan di tengah padang. Ia menemukan 

kerbau yang scdang berlaga. Melihat peristiwa ini Soq Baga berlari 

melompat masuk di tengahnya lalu ia terjepil. Kejadian ini kcmbali 

dilaporkan ke bungker bawah kubur . Orang di bungker bawah kubur nya menasihatkan supaya kalau 

menemukan kejadian seperti itu seharusnya kita menontonnya dari jauh. 

Soq Baga menjawab lagi, "Ya, saya mengikuti nasihat kamu, tctapi 

sudah telambal, tunggulah kalau ada yang berikutnya." 

Keesokan harinya Soq Baga pergi berjalan-jalan di kampung-kam­

pung lalu menemukan Rakyat Indonesia merdeka  yang sedang membagi-bagi daging kerbau. 

Orang yang membagi daging ini memanggilnya, namun  ia berlari dan 

menontonnya dari tempat yang jauh. Kejadian ini kembali lagi dilapor 

kepada orang di bungker bawah kubur . Saudaranya menasihatkan bahwa kalau me­

nemukan ha! semacam itu kita sebaiknya pergi ke tempat ini  

meminta bagian. Soq Baga ini menjawab lagi, ''Tunggulah saya akan 

laksanakan dan kerjakan seperti itu kalau menemukan sesuatu lagi." 

Pada suatu hari Soq Baga pergi lagi berjalan-jalan dan mendapati 

orang yang sedang berpcrang. Orang itu sedang bcrperang dcngan 

dahsyatnya, Soq Baga datang berlari-lari meminta bagian. 

Akhi~ya, Sog Baga mati dalam peperangan itu sebab  ditembak 

orang yang sedang berperang itu. 

23 

TIGA ORANG CACAT 

Pada suatu hari di suatu tempat bertemulah tiga orang cacat, masing­

masing seorang buta, seorang lumpuh, dan seorang tuli . Dalam per­

temuan ini, mereka masing-masing mengemukakan pendapatnya dalam 

menghadapi kehidupan ini ditinjau dari situasi mereka masing­

masing. Terakhir orang tuli berkata-kata , "Lebih baik kita pergi dari sini 

dibandingkan  tinggal duduk saja, tidak menghasilkan suatu apa pun yang 

dapat digunakan untuk melanjutkan hidup kita." 

Mereka bertiga pergilah bersama-sama mengembara ke mana saja. 

Tiada bcrapa lama orang lumpuh itu melihal cangkul lalu dibawanya 

pcrgi . Dalam perjalanan selanjutnya mereka menemukan kumbang ber­

bunyi. Bunyi binatang ini didengar oleh si Buta, namun  ia tidak dapat mc­

nangkapnya sebab  ia tidak dapat melihatnya. Lalu di suruhlah si Tuli 

menangkapnya sebab  ia tidak dapat melihatnya dan tidak dapat pula 

bcrjalan untuk mengejarnya. Dalam perjalanan itu, mercka menemukan 

lagi bulu ijuk dan gendang. Semua benda itu mcreka bawa sebab  di­

anggap bahwa benda-benda itu merupakan rezeki bagi mereka. Makin 

lama makin jauh mereka berjalan, akhimya tibalah di tengah hutan yang 

lebal. Di tengah hutan ada sebuah bungker bawah kubur . Rupanya penghuni bungker bawah kubur  itu 

. adalah manusia hutan yang makan sesamanya. Di bungker bawah kubur  itu banyak 

sekali harta yang dirampas dari orang yang sudah dimakannya. 

Si Lumpuhlah yang melihat bungker bawah kubur  itu dan tahu bahwa penghuninya 

sedang bepergian. Bergegas-gegaslah mereka naik beserta benda-benda 

91 

---------------~---- -----

92 

yang ditemukan di jalan tadi. saat  mereka tiba di atas bungker bawah kubur , pintu dan 

jendela mereka tutup rapat-rapat. 

Tiada berapa lama, yang empunya bungker bawah kubur  itu datang dan melihat 

tanda-tanda bahwa sudah ada penghuni baru di atas bungker bawah kubur nya. Manusia 

hutan itu langsung menegur dengan menyuruh membuka pintu. Akan 

namun , dari atas bungker bawah kubur  ia mcnerima jawaban, ''Tidak boleh, ketahuilah 

aku ini manusia raksasa yang paling besar di dalam dunia." Manusia 

hutan itu tidak percaya schingga ia ingin bukti dcngan meminta supaya 

orang itu mcmperlihatkan sebuah giginya. Orang lumpuh scgcralah 

memperlihatkan cangkul ke bawah kolom bungker bawah kubur . Selanjutnya, disuruh 

lagi memperlihatkan rambutnya. Dia menurunkan lagi bulu ijuk yang 

didapatkan dalam perjalanan tadi . Orang hutan itu mulai takut dan bim­

bang mcmikirkan bahwa bcnar manusia raksasa yang berada di atas 

bungker bawah kubur nya sekarang. Kcmudian, disusul lagi dengan menjatuhkan kum­

bang gajah yang didapatkan di jalan tadi dan ia pun menjelaskan bahwa 

kumbang itu adalah kutunya. Melihat semua itu manusia hutan makin 

ketakutan. Terakhir manusia hutan itu meminta supaya orang itu mem­

perdengarkan suaranya. Lalu si Buta di atas bungker bawah kubur  memukul gendang 

dengan keras sehingga manusia hutan terkejut lalu kepalanya terbentur kc 

tiang bungker bawah kubur  dan akhimya mati. 

Mereka beniga bergcgas-gegas mengumpulkan harta dalam bungker bawah kubur  

orang hutan itu lalu scgera pcrgi jauh dari tempat itu. Mercka mcmbagi­

bagi harta itu dan yang menjadi tukang bagi si Tuli. Si Tuli mulai mcm­

bagi dan mcnyebut satu per satu. "Ini bagian si Buta, ini bagian si 

Lumpuh, ini bagian si Tuli, dan ini bagian orang yang membagi ." 

Mendengar cara pembagian ini. Si buta berkata-kata , "Kita hanya tiga orang 

saja yang akan mendapat bagian barang itu, mengapa sudah menjadi 

empat bagian." Si Tuli mengulangi lagi caranya membagi , "Bagian si 

Tuli, bagian si Buta, bagian si Lumpuh, dan bagian orang yang mem­

bagi." 

Si Buta mulai naik pitam dan marah lalu dia mengambil gagang 

cangkul yang didapatkan di jalan tadi kcmudian memukul dengan mem­

babi buta, namun  yang scmpat kena sasaran adalah yang tidak kuat lari . 

Secara kebetulan gagang cangkul yang dipukulkan olch si Buta mcngenai 

lutut si Lumpuh schingga ia sembuh dan dapat berjalan dengan baik. 

sebab  si Lumpuh marah, ia mencakar si Buta sehingga ia melek dan 

penglihatannya menjadi terang. Selanjutnya, si Buta mengambil lagi 

93 

gagang cangkul kemudian memukul sekeliling tulang pelipis si Tuli dan 

pada akhimya menyebabkan si Tuli menjadi terang pendengarannya. 

Jadi, pada akhimya orang yang buta dicakar matanya lalu melek (me­

lihat), orang lumpuh dipukul lututnya lalu dapat berjalan kembali, dan 

orang tuli di pukul bagian pelipisnya lalu menjadi nonnal kembali sepcrti 

bias a. 

sesudah  selesai kejadian itu mcreka bcrtiga tertawa terbahak-bahak, 

kemudian membagi rata kembali harta yang mereka dapatkan. 

24 

MEMPEREBUTKAN BUNGKUSAN 

Di dalam scbuah kampung ada Liga anak laki-hk1 yang bcncman, 

masing-masing bcmama Sampe, Suso, dan Seba. Pckerjaan mcreka 

adalah mcngembalakan kcrbau. Ketiga anak ilu sangat akrab dalam 

kehidupan schari-hari. 

Pada suatu hari mereka beniga pergi menggembalakan kerbaunya 

agak jauh dari bungker bawah kubur , di padang bclantara. Pada sore hari mercka akan 

scgcra pulang, namun  bcncpatan dengan datangnya hujan lebat. Kcti ga 

anak itu bemasib baik sebab  secara kcbctulan ada lubang batu di sekitar 

daerah itu tempat mereka berlindung. Mereka bertiga bercakap-cakap 

sambil menunggu redanya hujan. Ketiganya sudah merasakan perutnya 

lapar, namun  hujan tiada berhenti juga. 

Sampc kemudian bcrkata, "Seandainya ada tiga bungkus nasi yang 

jatuh dari langit lalu kita makan bcrsama karcna sudah sangat lapar." 

Suso mcnyambung pcmbicaraan Sampc dan berkata-kata , "Kalau tiga bungkus 

kita masing-masing mcndapatkan satu." Seba lalu menambah pcmbi­

caraan ini dan mcngatakan, ''Tepat sckali kalau tiga bungkus scbab dibagi 

sama rata, tidak ada yang dapat sedikit dan yang lainnya banyak ." 

Mendengar kata-kata Suso dan Seba ini, Sampc membcntak dcngan suara 

keras katanya, "Bukan dcmikian, scharusnya saya mendapatkan dua 

bungkus dan kamu bcrdua membagi dua yang sisanya satu bungkus, 

namun  saya masih memperoleh lagi sckepal dari bagian kamu itu." 

94 

95 

Seba dan Suso sangat marah mendengar kata-kata Sampe ini lalu 

naik pitam dan berkelahi. Perkelahian ini mengakibatkan Sampe menjadi 

babak belur dan banyak lukanya sebab dua lawan satu. 

Sementara mereka dalam perkelahian tiba-tiba ada seorang tua 

mendapatinya. Orang tua itu melerai mereka dan menanyakan apa sebab 

mereka berkelahi. Mereka menceritakan bahwa seandainya ada tiga 

bungkus nasi jatuh dari langit maka Sampc akan mendapatkan dua 

bungkus dan sisanya dibagi dua yang bcrarti tidak ada keadilan. Persoal­

an itulah sehingga kami berkelahi untuk menuntut kcsamarataan dan 

keadilan. 

Orang tua 1tu lalu menasehati dan berkata-kata , "Sckarang kamu sudah 

babak belur mempcrebutkan sesuatu hal yang tidak ada, yang hanya 

sebab  khayalan semata-mata." 

Ketiga anak itu didamaikan oleh orang tua tadi dan menasehati 

supaya saling memaafkan dan jangan mereka memperebutkan lagi 

sesuatu hal yang tidak ada. 

Demikianlah ccrita tentang memperebutkan bungkusan khayal. 

25 

BURUNG TATTIUQ DAN RUSA 

Pada suatu hari burung Tattiuq scdang bcrtl:lur di ~awah di tcngah 

padi. Burung Tattiuq saat itu sudah terlanjur bertelur. Padi sudah mulai 

mcnguning dan beberapa hari lagi padi akan dituai. saat  burung 

Tattiuq mcmperhatikan situasi padi, ia mulai gclisah dan tak henti-hcnti­

nya bcrpikir temang nasib yang akan dialaminya jika  pada tempatnya 

bcrtclur tiba saatnya akan di panen. Tidak putus-putusnya ia mcrc­

nungkan nasibnya scrta mcmikirkan jalan yang akan scgcra ditcmpuh 

agar dapat kcluar dari kcsulitan itu. 

Rupanya apa yang dipikirkan dan yang d1takutinya itu sckarang 

mcnjadi kenyataan. Pcmilik padi tcmpatnya bcnclur nu tclah datang 

mcncngok padinya yang scdang menguning. Burung Tattiuq sangat 

bingung dan scdih sckali schingga tidak disadarinya ia mcnangis 

kcscdihan. Scmentara burung Tattiuq dilanda duka ncstapa itu, tiba-tiba 

lcwatlah scckor Rusa. Rusa itu pcrgi mcncari makanan dan rumpul muda 

yang ada di tepi sawah. Tiba-tiba di lihatnya burung Tauiuq scdang 

mcnangis dcngan sangat scdih scrta kccewa. Mclihat pcristiwa ini Rusa 

itu mcndekal dan menegumya, "Hai sahabatku, apakah gcrangan yang 

menimpa dirimu sehingga kclihatannya engkau sangat bcrsedih hati pada 

hari ini?" Mendengar teguran ini, burung Tattiuq menjawab dengan nada 

sedih, ''Temanku sang Rusa, Siapakah yang tidak bersedih dan mcratap 

kalau maut itu sudah mengancam hidup ini. Pemilik padi tempatku 

bertelur sekarang ini telah datang tadi pagi untuk mengadakan persiapan 

menuai." 

96 

97 

Rusa berkata-kata , "Kalau nasibmu demik.ian, pantaslah engkau bersedih 

dan bersusah hati." Akan namun , keselamatan dirimu sebenamya masih 

dapat ditolong, kalau engkau bersedia mengikat janji sehidup semati 

dengan saya." Burung Tattiuq segera menjawab ajakkan Rusa itu, 

katanya, "Sekarang ini sumpah dan janji itu akan saya penuhi dengan 

jalan apa saja asalkan benujuan memperbaiki hidup dan menguntungkan 

kita bersama." Selanjutnya Rusa itu mengungkapkan bahwa jika  ada 

di antara mereka yang kena musibah atau mendapat kesusahan, maka 

kcdua pihak harus saling menolong dan merasakannya bersama-sama. 

Mendengar dan memperhatikan sena mempenimbangkan janji itu 

burung Tattiuq menjawab, "Semuanya aku serahkan kepadamu asalkan 

untuk kepentingan dan kebaikan bersama." Pada saat itu juga burung 

Tattiuq menasihati. "Mulai sekarang jangan engkau menangis sebab  saya akan 

menolongmu sesuai dengan kemampuan dan kesanggupanku. Sabarlah hai 

temanku, tenteramkan pikiranmu dan hapuslah air matamu, besok pagi 

akan saya laksanakan semua rencanaku." 

Kecsokan harinya Rusa mulai menampakkan dirinya dari sela-scla 

padi tempat burung Tattiuq bcrtelur sehingga semua orang yang datang 

akan menuai padi bcralih perhatikan mengejar Rusa yang kelihatannya 

jinak itu. 

Demikianlah perbuatan Rusa itu dari hari ke hari sehingga para 

pemotong padi tidak sempat menuai. sebab  perbuatan Rusa ini ber­

langsung dalam waktu yang lama, maka padi-padi yang sudah lama 

menguning tidak tersentuh oleh ketam pcnduduk kampung. Burung 

Tattiuq itu makin hari makin tambah besar dan mulai belajar terbang. 

saat  Rusa tidak menampakkan dirinya lagi, barulah penduduk mulai 

mengetam padi yang sudah lama menguning itu. 

Di lain peristiwa, pada suatu saat  burung Tattiuq bcrsama anaknya 

pergi mencari makan di tengah hutan. Di tengah hutan itu tcrdapat 

kebun. Yang empµnya kebun itu memasang banyak jerat sebab  tana­

mannya habis di makan oleh binatang-bintang hutan. 

Rupanya nasib sial bagi Rusa sebab  jerat yang telah dipasang oleh 

pemilik kebun tersentuh oleh kaki Rusa itu sehingga sang Rusa terikat 

erat-erat. Sementara burung Tattiuq sibuk dengan makanan tiba-tiba sang 

Rusa menegur, "Hai teman hidupku, sekarang aku menunggu kapan 

ajalku ini berakhir." Mendengar keluhan ini burung Tattiuq menjawab, 

98 

"Jangan takut, janjiku tetap kutepati dan saya akan tetap menolongmu 

sebab engkau telah menolongku, sabarlah." 

Burung Tattiuq bersama anaknya segera pergi mengumpulkan ulat­

ulat tahi kerbau yang sangat banyak. sesudah  terkumpul ulat-ulat itu 

dimasukkan kc telinga, mata, dan pantat Rusa itu serta ditaburkan di 

seluruh badan, kemudian disuruh menahan napas jika pemilik kcbun 

datang. Dcngan demikian, pemilik kebun akan menyangka bahwa sang 

Rusa sudah dalam keadaan busuk. 

Keesokan harinya datanglah pemilik kebun itu mcnengok kebunnya. 

Pcmilik kcbun itu sangat kecewa dan kesal sekali hatinya sebab sangat 

tcrlambat datang mencngok kebunnya sehingga hasil jeratnya tclah 

busuk. Sang Rusa yang pcnuh ulat tahi kcrbau itu menahan napas dan 

mengcmbungkan badannya. Dcngan perasaan kcccwa pcmilik kebun itu 

langsung memotong tali jeratnya. Sctelah sang Rusa merasakan bahwa 

tali jeratnya itu sudah putus, ia langsung melompat dan Jari secepat­

ccpatnya masuk kc dalam hutan. Pemilik kebun yang menyaksikan 

pcristiwa itu keheran-heranan dan merasa bahwa dirinya telah tertipu . 

26 

Kuda laut  DENGAN LINTAH 

Pada suatu hari ada seekor Kuda laut  pergi berjalan-jalan mencari makan di 

sawah. Di dalam sawah itu banyak sekali lintah yang juga sedang 

mencari makan. saat  Kuda laut  mclihal Lintah tcrsebut, ia menyapa, 

katanya, "Hai Lintah, tidak ada gunanya engkau mcndekati aku sebab  

tidak ada kakimu. " Mendcngar kata-kata Kuda laut  itu, Lintah sang at 

tersinggung lalu menjawabnya, "Hai Kuda laut , ka.iau demikian katamu, saya 

menawarkan kepadamu untuk bcrlomba lari ." Kuda laut  merasa tersinggung 

pula saat  mendengar kata-kata itu. Lalu mereka mcnentukan dari mana 

lomba itu dimulai dan di mana garis finis. Perang urat saraf antara Kuda laut  

dan Lintah terjadilah. 

Tibalah saatnya hari perlombaan akan dilaksanakan. Keduanya 

mengambil ancang dari garis yang sama. Lintah memberitahu kepada 

Kuda laut  bahwa dialah yang memberi aba-aba. Kuda laut  mulai menyebut aba­

aba, "Satu, dua, tiga .... " Kuda laut  berlari terus, namun  Lintah langsung 

melekat pada kakinya. saat  sampai ditcmpat yang tclah disepakti, 

Kuda laut  mencari Lintah. saat  itu Lintah lepas dari kaki Kuda laut  lalu segera 

menjawab, "Saya dari tadi menunggumu." Kuda laut  menjadi sangat heran 

dan berkata-kata , "Engkau barangkali menipu aku." Lintah rnenjawab, "Saya 

tidak mungkin menipu, namun  memang kenyataan bahwa saya lebih cepat 

dari engkau." Kuda laut  menjadi penasaran mendengarkan kata-kata Lintah 

itu lalu meminta untuk diulangi sekali lagi. 

99 

100 

Pcrlombaan Jari diulangi kembali. Kuda laut  memberikan aba-aba, "Satu, 

dua, tiga .... " Kuda laut  bcrlari dengan sekuat tenaga dan saat  sampai di 

garis akhir dia mencari Lintah. Lintah segera lepas dari kaki Kuda laut  dan 

menjawab. "Saya sudah lama dari tadi menunggu cngkau di tempat ini." 

Lintah mcngcjek Kuda laut  lagi dan berkata-kata , "Hai Kuda laut , memang larimu 

sangat lambat." Kuda laut  itu menjadi malu sebab  tcrlanjur mengejek dan 

mcncela Lintah sehingga ia berlari sepanjang pematang. Ia tcrlalu capck 

dan lapar akhimya mati. 

DcmikianJah akhir cerita antara seekor Kuda laut  dengan scckor Lintah. 

27 

IKAN DAN TIKUS 

Pada suatu hari seekor tikus pergi berjalan-jalan dan melintas di 

dekat sebuah sumur. Tiba-tiba ia melihat seekor ikan sedang meng­

apung-apung memakan busa air di sumur ilu. 

saat  itu, ikan dalam keadaan sakit dan merasa pusing. Me­

nyaksikan kejadian itu tikus lalu menyapa, "Hai Leman, apa gerangan 

yang sedang engkau perbuat sekarang?" Mendengar sapaan itu ikan 

menjawab, "Saya sekarang dalam keadaan bcrbahaya, saya dalam 

keadaan sakit keras dan sulit saya dapatkan obatnya." Mendengar 

jawaban ikan itu, tikus melanjutkan pertanyaannya, "Apa nama obat 

itu?" Dengan sinis ikan menjawab, 'Tidak usah kamu tahu, toh tidak 

akan ditemukan juga." Tikus tetap mendesak ingin mengetahui obat apa 

yang dapat menyembuhkan penyakit ikan ilu. Akhimya, ikan memberi­

tahukan bahwa obat itu adalah hati buaya. Sclanjutnya, pada suatu hari 

tikus itu pcrgi berjalan-jalan dan mendapati sebuah tempat di pinggir 

sungai yang ditempati buaya-buaya yang scdang berjemur di sekitar 

sungai itu. Tidak jauh dari tempat itu tumbuh sebatang pohon kelapa 

yang berbuah lcbat dan setiap buah yang jatuh menjadi rebutan buaya­

buaya yang sedang berjemur di tempat itu. Melihat keadaan itu tikus 

mendapat akal lalu berkata-kata , "Aku akan memanjat pohon kelapa itu dan 

masuk ke dalam buahnya lalu menjatuhkan diri bersama dengan buah 

kelapa itu. sesudah  berkata-kata  demikian, melompatlah tikus itu naik ke atas 

pohon itu dan melubangi satu buah kelapa kemudian masuk ke dalam-

IOI 

102 

nya. Buah kelapa itu dipotongnya, maka jatuhlah ia bersama buah kelapa 

itu dan setibanya di tanah buaya-buaya datang memperebutkannya. 

Buaya yang menelan kelapa itu menjadi sasaran tikus yang ada dalam 

buah itu. Tikus itu keluar dari dalam kelapa lalu menggerck hati buaya 

sehingga buaya itu mati. Dengan perasaan gcmbira, pergilah tikus itu 

mengantarkan hati buaya kepada temannya yang sedang kepayahan 

mendcrita sakit. Ikan itu makan hati buaya lalu sem buhlah ia dari pcnya­

kitnya. 

Pada peristiwa yang lain, tikus jatuh sakit lalu ikan datang men­

jenguknya. Ikan menyapa tikus, katanya, "Hai tcman mengapa engkau 

kclihatannya sangat payah?" Tikus menjawab, "Sekarang saya mcnderita 

sakit keras." Ikan mclanjutkan pertanyaannya, "Apa obatnya?" 

Tikus menjclaskan bahwa obatnya sangat sulit di dapat. Ikan 

menjawab, ia ingin membalas jasa tikus yang telah menolongnya dahulu . 

Mclihat kesungguhan hati ikan akan menolongnya, maka berkata-kata lah 

tikus itu, "Obat yang saya butuhkan itu adalah tclur ayam." 

Keesokan harinya ikan itu berenang di dekat sumur lalu ia masuk kc 

dalam sumur itu. Tiada berapa lama kemudian, orang datang mcmbawa 

pcrian (tabung bambu) untuk mengambil air. Orang itu menyandarkan 

pcrian itu di pinggir sumur. Dengan sembunyi-sumbunyi, ikan itu masuk 

ke dalam timba kemudian ikut bersama air dituangkan ke dalam perian .. 

saat  orang itu tiba di bungker bawah kubur , ia menyandarkan perian itu di din­

ding tepat di bawah sangkar ayam yang sedang bertelur. Pada malam 

harinya melompatlah ikan itu ke dalam sangkar, lalu mengambil sebutir 

telur ayam. sesudah  berhasil mendapatkan telur, melompatlah ikan itu 

masuk kembali kc dalam perian. Keesokan harinya, anak-anak di bungker bawah kubur  

itu membawa perian itu pergi ke sumur untuk mengambil air. saat  

perian itu disandarkan di tepi sumur, melompatlah ikan itu kc dalam 

sumur dengan membawa sebutir telur untuk tikus. sesudah  makan telur 

penyakit tikus berangsur-angsur berkurang dan akhimya sembuhlah tikus 

itu. 

Demikianlah akhir cerita itu. 

28 

CERITA ORANG YANG MENGASIHI BANGAU 

Di dalam sebuah kampung ada seorang tua yang sudah lama menjadi 

duda dan anaknya tidak ada. Orang tua itu sangat menderirn dalam 

hidupnya sebab tidak memiliki  apa-apa. Dia hanya memiliki  sebuah 

gubuk yang sudah kusam hampir-hampir rubuh dan scpctak tanah tempat 

mcnggantungkan hidupnya. Dia pergi kc kebun mengolah tanah yang 

sepetak itu setiap harinya dan bila matahari menjelang terbcnam ia 

kcmbali kc gubuk yang lapuk itu membawa hasil kebunnya seperti ubi, 

jagung, pisang, dan sayur-sayuran yang sekadar dapat menyambung 

hidupnya. 

Pada suatu hari saat  ia pulang dari ladangnya, ia menemukan 

scckor bangau scd:mg mengepak-ngepakkan sayapnya tidak sanggup 

mCflcrbangkan dirinya. Dia kasihan pada burung bangau itu, lalu di ­

ambilnya. Ia membawa bangau itu ke bungker bawah kubur nya dan dirawat dengan baik 

hingga sembuh kembali. 

Kctika burung bangau sehat kembali, orang tua itu bcrkata kc­

padanya, "Sekarang saya akan melepasmu kembali, supaya jangan 

scperti rasanya terkurung." Dia mclepaskan burung bangau itu, namun  si 

bangau itu tidak sampai hati tewas mengenaskan kan orang tua itu. 

Burung bangau itu kalau pagi hari dia terbang pergi mencari makan, 

namun  pada sore hari ia kembali bersama dengan orang tua di gubuk tuanya. 

Pada suatu saat  orang tua itu pulang dari kebunnya. Di bungker bawah kubur  ia 

akan merebus ubi yang dibawa dari kebun. Ia sangat heran saat  

103 

104 

mengambil belanga sebab  belanga itu sudah penuh berisi dengan 

ikan. 

Tiga hari kemudian ia tinggal di gubuknya mengintip siapa gcrangan 

yang datang membawa ikan selama ini. Dia tidak melihat seorang pun 

yang muncul kecuali burung bangau yang selalu berulang-ulang datang 

m_embawa ikan. Saat itu barulah diketahuinya bahwa yang membawa 

ikan ke gubuknya adalah burung bangau yang pemah dirawatnya itu. Ia 

berkelebihan ikan mulai saat itu sehingga ikan-ikan itu dikeringkan lalu 

dijual. Hasil menjual ikan-ikan itulah yang dipakainya untuk memenuhi 

kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. 

Akhimya, orang Lua itu kehidupannya menjadi baik sebab  selalu 

dibantu olch burung bangau yang pcmah dipclihara dan dirawatnya. 













­