n bertemu di
hadapan raja pada hari lusa.
Pada waktunya bertemulah mereka bertiga di istana raja, yaitu
Anreguru La Tobajak, Pabbicara Cenrana, dan Sullewatang Ganra. Tidak
lama kemudian keluarlah r.aja dan duduk di atas takhtanya, katanya, "Apa
maksudmu bertiga datang menghadap?"
30
berkata-kata La Tobajak, "Daulat Tuanku, hamba bertiga datang meng
hadap di bawah duli Tuanku, hendciknya memperjelas akan hal hamba
sudah diberi oleh Tuanku Cenrana, Pao, dan Ganra, saat hamba meng
hadap di bawah duli Tuanku kemarin dahulu."
Bagaimana lagi, Anreguru , caramu mengemukakan kata-kata
kemarin dahulu, saat engkau meminta ·cenrana, pao hendak kaujadikan
anra? Ulanglah biar saya dengar dan didengar juga oleh Pabbicara dan
Sullewatang!" kata raja.
Menjawab La Tobajak, katanya, "Hamba memohon maaf sekiranya
hamba bersalah, namun tidaklah rasanya hamba ini khilaf. Timbul belas
kasihan Tuanku melihat hambanya baru sembuh dari sakit lalu berkata-kata
pada hambanya, "Apa yang dapat kuberikan padamu sebagai penghibur
hatimu?" Mala menjawab hambamu ini, "Sekiranya ada belas kasihan
Tuanku pada hambanya, inginlah hamba mendapatkan rahmatmu berupa
Cenranamu, Paomu, akan kuambil Ganra menjadi sumber pencaharian.
Menjawab Tuanku, "Ambil saja Guru, kuberikan padamu. Tak ada ani
nya yang kaukehendaki itu. Demikianlah kata-kata hamba sena jawaban
Tuanku pada kemarin dahulu itu."
"Bukankah, Anreguru, kayu cenrana dan kayu pao yang kau minta
hendak kau jadikan ganra, perkakas pemintal benang?" tanya raj'a.
"Mohon diampuni hambamu ini Tuanku! Seandainya hanya ganra
yang ingin hamba buat, meskipun seratus banyaknya, niscaya tak adalah
gunanya hambamu ini, jika kepada Tuanku Datu Soppeng hamba mc
minta, tidak akan sampai tiga orang hambamu mintai, maka akan ada
seorang yang akan memberikan kayu cenrana atau pao. Hambamu ini
juga ada memiliki sebuah ladang yang ditinggalkan oleh ayah hamba, di
dalamnya ada bcbcrapa pohon lainnya. saat hambamu mengatakan
Paomu, Cenrana jelas kampung Cenrana dan kampung Pao yang ham
bamu maksudkan sebab terang pada pengetahuan hambamu seisi Sop
peng bahwa kepunyaan pribadi Tuankulah kampung Cenrana dan Pao itu.
·Mcskipun bukan Tuanku yang menjunjung mahkota Kerajaan Soppeng,
Tuanku jugalah yang membangkitrebahkannya, serta memperkuat sc
kehendak Tuanku atas Cenrana dan Pao. Demikian juga halnya dengan
kampung Ganra, meskipun bukan Tuanku Datu Soppeng, ia Ganramu
juga, sebab ia adalah warisan Tuanku yang bersih. Itulah sebabnya
hambamu berani memintanya pada Tuanku." Demikian jawab La
Tobajak.
31
Raja pun tersenyum mendengar penjelasn Anreguru La Tobajak, lalu
berkata-kata , "Adapun pertanyaan saya yang demikian itu tadi agar diketahui
juga Pabbicara Cenrana dan Sullewatang Ganra hal-ihwalnya saya mem
berikan kepadamu kampung Cenrana, Pao, dan Ganra. Sudah kukatakan
kemarin dahulu bahwa ambil saja olehmu Anreguru apa yang kau rninta!
Hanya sekali saja seorang raja yang memerintah mengeluarkan perkataan.
Tak patut ia berkata-kata dua kali. Lagi pula tak tahu aku menghitung jasamu
padaku dan pada negeri Soppeng. Tak akan masuk wilayah Soppenglah
desa Mario Riawa, Baringeng, Goa-goa, dan Citta, jika bukan engkau
Tobajak yang mendesak orang Bone dan Wajo pada waktu perjanjian
Timurung. Bertambahlah sepertiganya negeri kita ini, tanpa mengeluar
kan setitik darah orang Soppeng. Ketahuilah Pabbicara dan Sullewatang
bahwa aku telah memberikan tanahku Cenrana, Pao dan Ganra kepada
Anreguru La Tobajak.
9
LA PAGALA
Dengarlah kalian, buyung! Saya akan berkisah, dengarkan baik-baik
dan kau iakan! Ia disebut kisah sebab meskipun dusta yang dikatakan,
namun diiakan juga.
Lincah rusa, cepat sipenunggang, Jarilah hai rusa, mengenalah wahai
jerat! Berdusta orang yang bercerita, lebih berdusta pula orang yang
mendengar, ia tahu bahwa cerita itu dusta, namun diiakan juga.
Dahulu kala pada suatu saat , ada tiga orang penyamun. Oleh ka
rena hari hujan lebat, mereka singgah bemaung dibawah sebatang pohon
besar di tcpi jalan. Ketiganya membawa parang yang panjang dan
mengenakan purukeng. Berganti-ganti mereka bercerita, sama-sama
memuji kemampuannya, yang satu melebihi yang lain. Akhimya, mereka
sepaham bahwa pekerjaan mereka sama, yaitu menyamun sesama
manusia.
Tiba-tiba berkata-kata salah seorang di antaranya, '"Ada yang saya anggap
baik. Bagaimana kalau kita bersatu bagaikan lidi seikat, agar kita kuat,
kita sejalan tak bercerai, berat sapa dipikul, suka sama dinikmati, duka
sama ditanggung."
Menyahutlah yang seorang, katanya, "Baik sungguh niatrnu. Sejalan
benar dengan pesan yang lanjut usianya ku yang mengatakan bahwa kuat orang seorang,
Jebih kuat lagi orang yang bertiga."
berkata-kata pula penyamun yang ketiga, "Saya setuju dengan per
kataanmu itu, saudaraku. Memang ada pesan nenekku tujuh.lapis ke atas
32
33
bahwa murah rezckinya yang berjalan sendiri, lebih murah lagi rezekinya
yang pergi berdua, namun tak. ada bandingannya mereka yang seiring
beniga."
Sepak.atlah mereka beniga, sejalan tak. bercerai, berat sama dipikul,
suka sama dinikmati, dan duka sama ditanggungkan. saat hujan reda,
berangkatlah mereka seiring bertiga. Mereka terus berjalan hingga hampir
wak.tu asar, namun tidak. juga bersua dengan orang yang dapat disamun.
Tiba-tiba mereka berjumpa dengan seorang anak laki-laki, lalu bertanya,
"Hendak. ke mana engkau, Buyung?" Anak. itu pun menjawab, "Saya
mencari kerbau saya, Pak!" "Berapa ekor kerbaumu?" tanya penyamun
itu.
"Hanya seekor saja, Pak!" jawab anak. itu.
"Di mana negerimu, Buyung?" tanya penyamun itu lagi. Anak. itu
menunjukkan arah kampungnya. Lalu ditanyakan pula namanya.
Dikatak.annya bahwa ia bemama La Pagala (si Pengait).
"Barangkali engkau suka mengait orang, maka engkau dinamai
demikian," kata ketiga penyamun itu pula.
''Tidak., Pak," jawab La Pagala sambil tersenyurn.
"Berdusta engkau Pagala, tak mungkin engkau dinamai demikian
jika engkau tidak. gemar mengait orang," kata penyamun itu melanjutkan.
"Bukan itu arti nama saya, Pak."
"Jadi, apalah ani namamu itu," tanya penyamun.
"Pagala artinya orang bijaksana, kata ayah saya," jawab La Pagala.
"Bahasa orang bahasa Galigo, bahasa orang dahulu kala," sahut La
Pagala menjelaskan arti namanya.
sesudah itu berkata-kata lah salah seorang di antara penyamun itu, sesudah
mereka saling menggamit, "Sekarang ini La Pagala, kami hendak
mengambilmu dan membawamu bersama kami. Engkau jangan lari. Jika
engkau mencobanya, kami akan membunuhmu. Tidak ak:an kami ampuni.
Supaya engkau tidak dapat lari, lebih baik engkau kami ikat. Jangan
engkau melawan, jika engkau tak: mau mati."
''Terserahlah kehendak Bapak:. Tak mungkin saya ak.an melawan,"
jawab La Pagala.
Kemudian, mereka pun berjalan lagi. La Pagala berjalan di tengah
tengah penyamun itu. Tidak lama mereka berjalan, tiba-tiba turun pula
hujan. Mereka pun singgah mencari tempat bemaung. Didapatinya se
buah dangau di tepi sawah. DI sanalah mereka bemaung.
34
berkata-kata lagi salah seorang di antara penyamun itu, "dibandingkan diam
saja, sambil menunggu hujan reda lebih baik engkau bercerita Pagala!
namun jangan cerita bohong. Jika cerita bohong, akan kubunuh engkau."
Menjawab La Pagala, ''Tak satu pun saya memiliki cerita, Pak."
''Tak mungkin, tak ada anak orang Bugis yang tak memiliki cerita
sebab anak orang Bugis selali mendengar cerita dari ibu-bapaknya, ne
nek, atau yang lanjut usianya nya. Jadi , engkau berdustajika tak ada cerita yang engkau
ketahui," kata Sang Penyamun.
Sesungguhnya ada juga sebuah cerita pemah saya dengar, namun saya
tak berani menentukan dusta atau tidaknya sebab saya tidak langsung
melihatnya. Hanya yang terlihat oleh mata kepala sendiri dapat ditentu
kan kebenarannya," jawab La Pagala.
"Kalau cerita itu masuk akalmu, sudah bolch engkau benarkan.
Bukankah La Pagala namamu, yang berarti orang bijaksana, orang
berakal. Jadi, kalau sudah masuk akalmu, tentu sudah benar," kata pe
nyamun itu.
"Kalau demikian halnya, saya meminta Bapaklah yang bercerita
lebih dahulu," kata La Pagala.
"Baiklah dan dengarkan baik-baik," kata seorang penyamun. Dahulu
kala, nenek saya pergi berlayar menyeberangi laut luas, samudera na
manya. Saya ikut juga. Pada waktu kami mulai berlayar, saya baru saja
pandai berlari. Kami baru kembali ke Bugis, sesudah saya berkumis.
Banyak negeri kami datangi. Ada yang hitam sekali orangnya, sama
benar dengan arang. Matanya putih berkilauan, giginya putih bagai tem
bikar. Ada juga orang yang seperti kerbau bulai kulitnya, tinggi besar,
seperti raksasa putih, rambumya bagai rambut jagung. Ada pula negeri
yang Rakyat Indonesia merdeka nya kecil bagai orang katek. Oleh sebab tcrlalu cepat
bergerak, hampir saja kami sampai di tepi langit. Beruntunglah, tiba-tiba
bertiup angin kencang dari luar bumi sehingga pcrahu kami hanyut kem
bali kc tengah.
Di dalam perantauan itu saya melihat suatu negeri yang sagat besar.
bungker bawah kubur -bungker bawah kubur nya seperti Gunung Latimojong. Seribu orang yang tinggal
pada setiap bungker bawah kubur . Demikian tingginya bungker bawah kubur itu, jika menurunkan anak
ayam yang baru menetas, sesudah bersusah baru sampai di tanah.
"Demikianlah cerita ini, Pagala. Apakah engkau percaya?" tanya
penyamun yang bercerita itu.
35
"Tak mungkin saya tak percaya, sebab Bapaklah yang mengatakan
nya," jawab Pagala.
"Saya lagi yang bercerita," kata penyamun yang kedua. "Dengar
kanlah baik-baik akan saya sambung sedikit cerita kawan saya La Palli
rak," Barangkali engkau hanya sampai di tepi pantai negeri yang kau
datangi itu, Pallirak? Engkau tidak sampai di daerah pegunungannya,
sedang saya sampai di sana. Di pucak gunung yang paling tinggi di
sana, ada sebatang pohon yang sangat besar. Kalau anak yang baru
belajar berlari mengelilingi batangnya, sesudah ia mulai berubah baru
dapat sekali berputar."
Mengangguk-angguklah La Pagala sambil berkata-kata , "Pamas sekali,
menurut hemat saya, Pak. Sebab bungker bawah kubur nya setinggi Gunung Latimojong,
maka pohon kayunya pun akan sangat besar pula. Lima puluh tahun kita
akan berlari mengitarinya, baru dapat sekali berputar."
"Sungguh, benarlah perkataanrnu itu Pagala," kata penyamun yang
ketiga yang bemama La Makkarumpak. "Hanya agaknya La Pabbelak
dan La Pallirak tidak sampai pada padang rumput luas yang ada di tengah
pegunungan negeri itu. Oleh sebab itu, mereka tidak melihat kerbau
yang besamya sama dengan gunung. Ujung tanduknya demikian luasnya
sehingga cukup menjadi tempat main raga bagi empat puluh orang."
Baru saja habis perkataan La Makkarumpak, bersamaanlah La Palli
rak dan La Pabbelak berkata-kata , "Kami sangat percaya akan ceritamu itu
Makkarumpak. Sebab, termakan sekali oleh akal kami."
"Pagala, bagaimana gerangan pendapatmu tentang ceritaku?" kata La
Makkarumpak bertanya.
"Benar sekali, Pak. Tak mungkin lagi saya tak percaya sebab tiga
orang yang saya jadikan pemimpin, yang saya junjung di atas batu kepala
telah saling menyaksikan. Sejalan benar cerita Bapak bertiga. Tak ada
yang mendustakan yang lainnya," jawab La Pagala.
Kemudian, bersamaan pula ketiga penyamun itu berkata-kata , "Sekarang
giliranmu lagi Pagala. Janganlah engkau mencari dalih untuk tidak ber
cerita. Kalau tak ada ceritamu, engkau akan kami sembelih. Cerita
bohong yang tidak masuk akal yang engkau ceritakan, akan menjadi
sebab kematian pula."
Menjawablah La Pagala, ''Tidak akan saya sanggah perintah Bapak.
Tidak berani saya m~mpennain-mainkan Bapak. Dengarkanlah, akan
saya ceritakan. Lincah rusa, cepat si penunggang, larilah hai rusa,
36
mengenalah hai jerat! Berdusta orang yang bercerita, lebih berdusta lagi
orang yang me_ndegar. Sebab ia tahu bahwa cerita itu dusta, namun diiakan
juga."
"Saya memiliki nenek yang telah kembali ke rahmat Allah. Ia
pergi berlayar pada waktu masih sedang belajar berjalan, dan barn kem
bali ke tanah Bugis sesudah putih semua rambutnya, ompong, dan
mengelupas pula kuliblya. Habis dijelajahinya semua negeri di tempat ma
tahari terbit dan tempat matahari terbenam .
Ada sebuah negeri di tempat matahari terbenam, sangat besar lagi
indah. Di sana ada sebuah bungker bawah kubur yang memiliki sebuah genderang
yang sangat besar pula. Jika ia ditabuh, tujuh tahun mendengung suara
nya."
"Alangkah besarnya genderang itu. Dari mana diperoleh kulit, acuan,
sena pemukul untuk membuat genderang sebesar itu. Dan, di bungker bawah kubur yang
mana ia digantung?" tanya ketiga penyamun itu.
La Pagala pun menjawab, "Kerbau yang pernah dilihat oleh Pak
Makkarumpak itulah yang diambil kulitnya, batang kayu yang pemah
ditemukan oleh Pabbelak dijadikan acuan, dan bungker bawah kubur yang pemah dilihat
Pak Lirak tempat menggantungnya."
Ketiga penyamun itu berkata-kata , "Percayalah kami akan ceritamu,
Pagala. Sungguh pandai engkau bercerita, Buyung. Kami kalah olehmu.
Tak mau kami mengambilmu sebagai sahabat sebab kau sangat pandai .
Siapa tahu tanpa kami ketahui engkau menjual kami kelak. Sekarang,
engkau kami bebaskan. Pergilah mencari kerbaumu, lalu pulang ke
kampungmu."
10
LA TOBAJAK DAN LA MELLONG
Pada suatu waktu La Tobajak besena kira-kira seratus orang teman
nya pergi ke Bone. Ia disuruh oleh Datu Soppeng pergi meninjau Bone
untuk memperhatikan apa sebab maka subur padi orang Bone, berbiak
temaknya, berkembang ikan di sungai dan danaunya, sena bersatu padu
rakyamya.
sesudah ia selesai menjelajahi seluruh wilayah Bone yang terdiri dari
Bone Utara, Bone Selatan, Bone Barat, dan Bone Timur, berjumpalah ia
dengan La Mellong Tosualle di gelanggang Kerajaan Bone yang besar.
Kata La Mellong kepada La Tobajak, "Kuharapkan, hai keluargaku,
orang pandai Soppeng bersama temannya, berkenan kiranya meringankan
langkah, datang ke bungker bawah kubur kami agar terlihat kemiskinan keluarganya di
Bone."
Menjawab La Tobajak, katanya, "Tiada terkira kegembiraanku, hai
keluargaku, karni bertemu mendapat undangan datang ke bungker bawah kubur Tuan.
namun , telah bersiap kami akan kembali ke Soppeng pada hari lusa.
Kapan gerangan kami dikehendaki ada di bungker bawah kubur Tuan?"
"Bagaimana kalau esok siang saja, kami menunggu kedatangan
Tuan?" kata La Mellong, "Baiklah!" jawab La Tobajak.
Pada hari itu juga istri La Mellong memanggil tetangga. Tetangganya
datang membantu, menunggu lebih dari seratus orang yang akan makan
siang esok harinya. Keesokan paginya, disembelihlah dua ekor kambing
37
38
dan beberapa ekor ayam dan ramailah wanita memasak. Keesokan hari
nya benarlah datang La Tobajak sampailah di depan bungker bawah kubur La Mellong.
Tuan bungker bawah kubur segera menjemput tamunya, dibimbing naik ke bungker bawah kubur dan
diduduk.kan di atas tikar bersusun.
''Tuan telah melihat bungker bawah kubur miskin?" kata La Mellong membuka
pembicaraan. Menjawab La Tobajak, katanya, "Benar sekali perkataanmu
itu, saudaraku sebab memang tidak ada bungker bawah kubur yang tidak miskin. sebab
dirinya pun tidak juga ia miliki. Hanya yang empunya yang kaya."
Tersenyum kecutlah La Mellong sebab merasa terantuk oleh tamunya.
Disambungnya pembicaraannya lagi, katanya, "Gembira sekali hatiku,
keluargaku, Tuan memenuhi harapanku, meringankan diri datang ke
bungker bawah kubur ku ini."
Menjawab lagi La Tobajak, katanya, "Memang kami dipesan oleh
tuan kami Datu Soppeng bahwa kalau kami tiba di negeri orang, yang
harus kami lakukan ialah ditunggu oleh yang empunya negeri. Begitu
pula kalau kami naik ke suatu bungker bawah kubur , sebab yang empunya bungker bawah kubur adalah
raja yang memerintah di bungker bawah kubur nya itu. Tuan mengharapkan kami me
ringankan diri, berjalan ke bungker bawah kubur Tuan. Tuan menunggu kami pada
waktu tengah hari di bungker bawah kubur kediaman Tuan. Maka sepakatlah kami
bcrtemanuntuk tidak memakai parang (keris), tidak berpundi-pundi, tidak
naik Kuda laut , agar ringan diri kami berjalan, dan berusaha sampai di bungker bawah kubur
tuan tepat pada waktu matahari berada di tengah langit."
La Mellong merasa kalah lagi, sebab tanpa ia duga-duga segala yang
dikatakannya ditanggapi semua oleh tamunya secara adanya. saat
lengkap scgala hidangan, berkata-kata lah La Mellong kepada tamunya,
"Baiklah, saudaraku silakan Tuan cicipi, sekadar itulah yang dapat
disuguhkan oleh ipar Tuan. Perbuatlah sama sepcni jika Tuan berada di
Soppeng, janganlah dibedakan."
sesudah itu makanlah La Tobajak dan teman-temannya, ditemani oleh
yang empunya bungker bawah kubur . Pada waktu La Tobajak berhenti, maka berhentilah
temannya scmua. Selesai minum dilemparkannya semua peralatan makan
yang mereka gunakan. Berpecahanlah piring dan mangkuk terhempas di
tanah. Tercenganglah La Mcllong serta orang-orang yang datang mem
batu, sambil berkata-kata , "Niscaya tak sadarkan diri orang Soppeng ini, maka
ia merusak! Binasalah kita oleh perbuatannya yang gila! "
berkata-kata La Tobajak, ''Tidak, Saudara, kami tidak lupa diri, namun
kami menuruti perkataan Tuan yang meminta agar kami mcnyamakan
39
jika kami berada di Soppeng dan tidak membedakannya. Adapun adat
kebiasaan kami di Soppeng. jika selesai makan maka kami semua
perkakas yang kami gunakan kami buang ke tanah."
"Kalau demikian, Saudara, sayalah yang salah. Maafkanlah keluarga
orang Bone ini jika terlanjur perkataannya," jawab La Mellong. Di dalam
hati ia berkata-kata , nantilah kalau kami ke Soppeng akan kami membalas.
Kemudian, minta dirilah La Tobajak dan teman-temannya. Diun
dangnya La Mellong dan teman-temannya pergi ke Soppeng berjalan
jalan. Kata La Mellong, ''Kalau dikehendaki Dewata kami akan segera
datang. Sudah lama kami ingin melihat Soppeng, negeri kaya yang ter
mahsyur. Apa lagi sebab Tuan mengundang kami."
sesudah itu pulanglah La Tobajak ke Soppeng. Tidak berapa lama
antaranya. benarlah La Mellong datang bersama tiga ratus orang teman
nya dari Bone. Mereka ditempatkan bermalam di gelanggang Kcrajaan
Soppeng yang baru. Di scbelah kiri, kanan, dan belakang gelanggang itu,
kebun pisang semuanya. Didatangkanlah oleh La Tobajak para wanita
Soppeng untuk memasakkan orang Bone. Disuruhnya pula penduduk
membuat tampi.
saat waktu makan tiba, berkata-kata lah La Tobajak kepada La Mellong
dan teman-teman. "Kami mohon kepada tamu kami dari Bone, kiranya
kita buktikanlahjanji Soppeng-Bone yang pernah disepakati oleh raja kita
dahulu bahwa pada saat orang Bone menginjak tanah Soppeng, maka
orang Soppenglah ia. Begitu pula orang Soppeng, pada saat ia menginjak
tanah Bone, orang Bonelah ia, Jadi , saya mohon kepada keluargaku dari
Bone. kiranya bersedia menganggap dirinya orang Soppeng, yaitu bila
telah selesai makan segera perkakas makannya sena tempat minumnya
dilemparkan ke tanah. Saya sampaikan pula kepada keluargaku yang
terhormat orang pandai dari Bone, Tosualle, dan teman-teman bahwa
menjadi adat bagi orang Soppeng jika datang keluarganya yang sangat ia
cintai serta ia hormati, maka di atas tampi yang di alas dengan pucuk
daun ia suguhkan makanan dan lauknya. Tempat air minum terbuat dari
buluh yang baru ditebang. Tak sampai hatilah orang Soppeng memberi
makan dan minum keluarganya yang terhonnat, dengan perkakas yang
sud ah pemah dipakai oleh orang lain."
Mengangguk-agguklah kawan-kawan La Mellong; tanda membenar
kan. namun , La Mellong sendiri berkata-kata di dalam hati, "Kalah saya oleh
orang Soppeng ini."
11
DONGENG JENAKA
Pada sebuah negeri terdapat seorang guru bemama Nurung. Ia mem
punyai beberapa orang santri atau muiid.
Pada suatu hari, ia memerintahkan semua muridnya mencari sebuah
cerita yang lucu atau aneh, "Besok pagi kamu sekalian harus membawa
cerita yang aneh, namun bohong, kemudian kamu bawakan sendiri cerita
itu dihadapanku, Siapa yang paling aneh ceritanya akan kuberi hadiah."
Bcrkatalah semua muridnya, "Ya, baiklah."
Keesokan harinya berkumpullah semua muridnya di bungker bawah kubur pe
ngajian.
sesudah semuanya berkumpul, berkata-kata lah gurunya" Apakah kamu
semua telah membawa cerita yang saya janjikan kemarin?"
Menjawablah semua muridnya, "Kami semua yang hadir telah siap
dcngan cerita yang lucu."
berkata-kata lah gurunya. "Baiklah kalau begitu, namun kalian harus me
nepati janji, yaitu berganti-ganti tampil ke depan."
Tampillah seorang murid, di antaranya yang paling tua, mem
bawakan ceritanya. Katanya, "Kemarin saat saya pulang dari tempat
pengajian, tiba-tiba saya benemu di tengah jalan degan orang besar dan
tinggi sekali. Tingginya sepeni pencakar langit. Kepalanya sampai di
awan putih. Tumitnya kira-kira satu kilometer panjangnya.
berkata-kata lah gurunya, "Aneh betul orang itu."
40
41
sesudah itu tampil lagi muridnya yang lain dengan gaya yang dibuat
buat, katanya, "saat saya pulang kemarin, saya menemukan sebuah
bungker bawah kubur yang sangat besar dan tinggi. Mungkin lebih tinggi dibandingkan yang
diceritakan teman saya tadi. sebab tingginya bungker bawah kubur itu, maka telur yang
digulirkan dari bubungannya, belum sampai ke tanah sudah pecah. Sete
lah sampai di tanah (telur yang sudah berubah menjadi ayam) sudah dapat
berkokok."
berkata-kata lah gurunya,_ "Wah, lebih aneh lagi ceritamu itu."
Kemudian, tampil lagi salah seorang muridnya ke depan. Katanya,
"Kemarin ketik~ saya pergi bermain-main tiba-tiba saya menemukan
seekor kerbau yang sangat besar sekali. Ujung tanduknya saja kira-kira
satu depa panjangnya, bagaimana kira-kira besar kerbau itu?"
Kata gurunya, "Ini yang lebih aneh lagi."
Sesudah itu, tampil lagi muridnya yang lain, lalu bercerita, "Kemarin
saya disuruh ibuku pergi mencari kayu bakar. Maka pergilah saya men
cari kayu sampai jauh masuk ke sebuah hutan. Dalam hutan itu, saya
menemukan sebuah pohon lombok yang sangat besar. Buahnya saja
sebesar tanduk kerbau. Coba bayangkan bagaimana besar pohon lombok
itu."
Kemudian, tampil lagi yang lain, katanya, "saat saya pulang
kemarin, saya tersesat, lalu saya tiba di sebuah gunung yang besar dan
tinggi. Saya daki gunung itu, kemudian saya kelilingi.
Tujuh bulan lamanya saya kelilingi gunung ini . Anehnya
gunung itu dililit sebatang rotan yang sangat panjang dan besar."
Kata gurunya, "Benar-benar aneh ceritamu itu."
Tampil lagi seorang muridnya yan glain, yaitu yang bemama si
Kerdil.
berkata-kata si Kerdil, "Cerita teman-teman saya tadi memang lucu clan
bohong semua. Oleh sebab itu, yang punya cerita lebih lucu dan lebih
bohong lagi. Akan namun , cerita yang akan saya bawakan ini lebih lucu
lagi.
saat saya pulang kemarin, saya ikuti semua teman yang telah
bercerita tadi. Kemarin saya tidak kemana-mana. Baru pagi ini saya
keluar dan terns ke sini untuk bertemu dengan guru dan Anda semua.
saat saya menuju ke sini saya melihat sebuah gendang besar. Begitu
besamya, kalau dipukul, tiga tahun lamanya berdengung."
"Bohong", kata teman-temannya.
42
"Kalau yang bercerita bohong, maka kamu scmua yang mengiakan
dan tertawa lebih bohong lagi," jawab si Kerdil.
Kata gurunya, "Mengapa kamu katakan demikian?"
Jawab si Kerdil. "Kata orang-orang tua, bohong dongeng lebih
bohong lagi yang mengiakan."
Salah seorang temannya bertanya kepadanya, "Tadi Saudara Kerdil
mengatakan ada gendang berdengung selama tiga tahun. Saya mau ber
tanya. Di mana mengambil rotan umuk mengikat. Di mana digantung,
siapa yang menggantung, dan siapa pula yang memukulnya?"
Si Kerdil menjawab, "Kalau tadi ada cerita yang mengatakan bahwa
ada pohon lombok yang besar, itulah yang dibuat selongsongnya, rotan
yang melili t gunung tadi dibuat pengikat, kerbau yang besar tadi disem
belih lalu kulitnya dibuat penutup, tanduknya dibuat pemukul, digantung
pada bungker bawah kubur yang besar dan yang menggantungnya adalah orang tinggi.
Dialah yang membuatnya dan dia pula yang memukulnya."
Maka ramailah tepuk tangan, dan semua orang yang mendengar ter
tawa terbahak-bahak.
12
DUA ORANG BERSAHABA T
Di sebuah negeri, berdiam dua orang bersahabat karib yang satu
bernama Makkuraga dan yang lain bemama Manola.
Pada suatu saat Makkuraga memerintahkan istrinya untuk me
manggil sahabatnya yang bemama Manola untuk datang ke bungker bawah kubur nya
dengan maksud memberikan pekerjaan. Pekerjaan yang akan diberikan
itu ialah menangkap ikan di laut. Oleh sebab itu, ia diperlengkapi dengan
perahu, jala, pukat, pancing, dan penangkap ikan lainnya, yang diper
lukan. Akhimya, datanglah Mattola ke bungker bawah kubur Makkuraga dan sekaligus
ia menerima baik tawaran Makkuraga itu.
Jadi, untuk memperlancar jalannya usaha penangkapan ikan itu,
Makkuraga dan Mattola membuat suatu perjanjian yang bunyinya sebagai
berikut, "Semua ikan yang bemasil ditangkap nanti yang ekomya berca
bang dua adalah kepunyaan Makkuraga, dan semua ikan yang ekomya
lurus adalah kepunyaan Mattola."
Perjanjian itu telah disepakati dan disetujui oleh mereka berdua,
kemudian Makkuraga menyera)lkan alat-alat perlengkapan nelayan
kepada Mattola. Mattola membawa perlengkapan itu pulang ke bungker bawah kubur nya
degan senang hati.
Beberapa hari kemudian Mattola dengan istrinya mufakat tentang
masalah hari pennulaan turun ke laut sebagai langkah pertama. Kata
Mattola kepada istrinya, "Baiklah kita pergi ke bungker bawah kubur Tuan Kadi minta
tolong tentang penentuan dan penetapan hari yang baik untuk memulai
43
44
tunm ke laut dan sekaligus minta berkah kepadanya." sesudah itu, Tuan
Kadi menentukan hari baik, sekaligus bersedia datang ke bungker bawah kubur nya untuk
membacakan doa selamatan. sesudah selesai membaca doa barulah
mereka itu turun ke laut. Dengan perasaan gembira, Mattola mendayung
perahunya ke laut, ke tempat yang diperkirakan banyak ikan.
Mattola kembali ke bungker bawah kubur nya degan membawa ikan yang cukup
banyak. Dipanggilnya Makkuraga untuk membagi ikan sesuai dengan
perjanjian mereka. Pemeriksanaan ikan-ikan telah dilakukan oleh
Makkuraga untuk mencari ikan-ikan yang berekor dua dan temyata tak
satu pun ikan yang berekor satu. Dengan demikian menurut perjanjian,
Makkuragalah yang berhak mendapat pembagian dari seluruh ikan yang
ditangkap oleh Mattola.
Dari hari ke hari Mattola selalu berhasil menjalankan tugasnya. Akan
namun , sayang bagi Mattolla sebab tidak pemah menikmati hasil jerih
payahnya. Namun, Mattola bersama istrinya masih tetap sabar dan berhati
lapang sebab demikianlah perjanjian yang mereka sepakati.
Pada suatu saat Mattola mencoba lagi turun ke laut untuk me
nangkap ikan. Kali ini ia pergi ke tempat yang lebih dalam, kemudian ia
memasang pancingnya. sesudah beberapa saat lamanya ia pun mendapat
ikan yang sangat besar. Nama ikan itu menurut bahasa Makassar adalah
masapi. Ikan seperti ini harganya sangat mahal sebab disenangi oleh
kalangan raja-raja dahulu. Ikan ini dianggapnya ikan raja. Mattola dengan
senang hati pulang ke bungker bawah kubur nya dengan membawa ikan yang besar itu.
Orang-orang berdatangan dan pada kagum melihat ikan s.ebesar itu. Pada
saat itu datang pula Makkuraga untuk menyaksikan dan memeriksa ikan
itu. Dalarn pemeriksaan Makkuraga temyata ikan itu benar berekor
tunggal. Menurut perjanjian mereka, ikan itu adalah milik Mattola. Akan
namun , timbul pemikiran baru dalarn hati Makkuraga ingin mengubah
perjanjian yang mereka telah sepakati.
Akhimya, Makkuraga tak tahan lagi menahan maksud jahatnya lalu
berkata-kata kepada Mattola, "Ikan masapi yang besar ini harus dibagi lagi
sebab hasil selama ini adalah bagian saya, sedang bagian perahu,
layar, jangkar, dan lain-lain belum mendapat bagian." Demikianlah, se
hingga ikan besar itu dibagi-bagi oleh Makkuraga sehingga Mattola
hanya mendapat segumpal saja dari bagian ikan itu. Sesudah pembagian
itu, pulanglah Makkuraga ke bungker bawah kubur nya membawa basil jerih payah
Matto la.
45
Pada saat itulah Mattola bermusyawarah dengan istrinya untuk
menghentikan pekerjaannya sebab tidak memenuhi kebutuhan hidupnya.
Mattola berkata-kata kepada istrinya, "Mulai hari ini perahu beserta alat-alat
penangkap ikan lainnya saya serahkan kembali kepada Makkuraga,
kemudian kita tinggalkan daerah pantai ini lalu kitamasuk ke hutan untuk
bercocok tanam, siapa tahu rezeki kita ada di sana." Istrinya menyetujui
maksud suaminya, dan tak lama kemudian berangkatlah mereka dengan
membawa alat-alat pertanian secukupnya. sesudah sampai di dalam hutan,
mulailah ia bekerja keras membanting tulang, menebang kayu, baik yang
kecil maupun yang besar, untuk dijadikan ladang atau kebun. Di samping
itu, ia juga menibuat bungker bawah kubur kecil tempat istirahat.
Begitulah keadaan Mattola selama berada di dalam hutan itu. Banyak
sekalai usahanya dan semuanya berjalan lancar. Hasil kebunnya melim
pah dan memuaskan. Selain berkebun ia juga mengusahakan pengger
gajian kayu. Pendek kata, kehidupan Mattola sekeluarga sudah cukup
lumayan berkat kesabaran, kerajinan, dan ketekunannya. Semua tanaman,
baik jangka pendek maupun tanaman jangka panjang, tumbuh dengan
suburnya.
sesudah beberapa waktu kemudian, tersiarlah berita keberhasilan
Manola ke seluruh daerah pantai. Berita ini akhimya sampai pula ke
telinga Makkkuraga, dan saat itu juga timbul keinginannya menemui
Mattola dengan ma.le.sud menuntut tanah milik nenek moyangnya dari
tangan Mattola.
Pada suatu hari berangkatlah Makkuraga menuju hutan tempat
tinggal Mattola. sesudah sampai di sana, berkata-kata lah Makkuraga, "Maksud
dan tujuan saya datang kemari ialah untuk mengadakan musyawarah
dengan kamu tentang tanah yang selama ini kamu olah." Sesungguhnya
tanah yang kamu garap itu adalah milik nenek moyang saya. Hal itu sama
keadaannya sewaktu kamu memakai perahu dan alat-alat penangkap
ikan saya.
Jadi, mulai sekarang semua hasil kebun harus jatuh kepada saya
sebab kamu telah lama menikmatinya. Mattola berkata-kata , "Jangan dulu,
saya akan hadirkan orang-orang kota dan orang-orang di daerah pantai ini
untuk membicarakan masalah atau status tanah ini, sebab saya tidak yakin
bahwa tanah atau hutan ini adalah milik nenek moyangmu."
berkata-kata lah Makkuaraga, "Tidak_ perlu kamu serepot itu, saya akan
tunjukkan sebuah pohon yang paling besar di tengah-tengah hutan ini
46
yang dapat berbicara sebagaimana halnya manusia, dan pohon itu
batangnya berlubang dari bawah ke atas. Jadi, masalah tanah ini dapat
kita tanyakan kepada pohon ajaib itu, dan kita pasti akan puas dengan
jawaban yang diberikan." Kemudian, Makkuraga menentukan hari
pertemuannya di pohon kayu besar nanti. Akan namun sebelum tiba saat
yang telah ditetapkan, Makkuraga tclah memasuk.kan pamannya yang
sudah tua ke dalam lubang batang pohon kayu itu dan ia berpesan bahwa
apa saja yang ditanyakannya nanti harus dijawab dengan jawaban yang
jujur sesuai dengan jawaban yang sudah diatur sebelumnya.
sesudah waktu yang ditentukan tiba, maka berangkatlah Makkuraga
bersama Mattola menuju ke tempat itu. Makkuraga mengajak Mauola
memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan jawaban dari dalam
pohon itu. sesudah itu, bertanyalah Makkuraga kepada pohon kayu yang
besar itu, katanya, "Hai pohon kayu, siapakah sebenamya yang empunya
tanah atau hutan ini?" Tiba-tiba muncullah suara dari dalam pohon itu
sebagai jawaban dari pertanyaan tadi yang mengatakan, "Sepanjang
pengetahuanku, tanah atau hutan ini adalah kepunyaan nenek mo yang
Makkuraga." Begitulah suara yang didengar oleh Mattola dari dalam
pohon ajaib itu. sesudah itu bertanyalah Makkuraga kepada Mattola,
"Bagaimana pendengaran Saudara, apakah sudah jelas jawabannya?"
Mattola menjawab, "Ya, sudah jelas."
sesudah itu mereka pun pulang ke bungker bawah kubur nya masing-masing. saat
Mattola tiba di bungker bawah kubur nya diajaknya istrinya mengumpulkan kayu-kayuan
dengan maksud ingin membakar pohon kayu besar yang ~jaib itu. Sesaat
kemudian kayu-kayuan sudah tertimbun, maka Mattola membakar pohon
kayu ajaib itu. Hancurlah dan hangus pohon kayu itu bersamaan dengan
Paman Mak.kuraga yang ada di dalamnya. sesudah api padam tampaklah
tulang-tulang manusia berserakan bercampur dengan abu pohon besar itu.
Pada saat itulah Mattola yakin bahwa sebenamya perbuatan Mak.kuraga
itu adalah penipuan belaka sebab yang berbicara atau suara yang datang
dari dalam pohon kayu itu adalah suara Paman Makkuraga sendiri.
Akhimya, Mattola memanggil Makkuraga untuk menyaksikan pohon
ajaib yang sudah habis terbakar itu. Setibanya di tempat itu, dilihatnya
tulang-tulang pamannya yang telah berserakan. Menangislah ia sambil
meraung-raung sebagai tanda penyesalan atas perbuatannya menipu
Mattola. Adapun Makkuraga sudah tidak dapat mengendalikan dirinya,
seperti orang kesurupan, sampai ia tewas mengenaskan dunia.
13
RUSA DENGAN KURA-KURA
Ada seekor rusa sedang mencari makanan di tengah padang. Rusa itu
sangat tangkas dan bertanduk panjang. saat sedang berjalan di tengah
padang, tiba-tiba ia mendapati seekor kura-kura. la kemudian memper
hatikan tingkah laku sang kura-kura tadi, lalu berkata-kata kepadanya. "Hai,
Kura-kura, coba kamu bergerak agak lincah sedikit dan jalanmu diperce
pat sebab gerakanmu sangat lambat. Kalau begitu berapa saja makanan
yang en_gkau dapat. Lihatlah saya! Berapa besar tubuhku, cepat dan lincah
gerakanku. Jadi, ada makanan cepat saya dapat, namun engkau nanti sudah
habis semua diam bi I orang baru kamu tiba."
Menyahutlah sang Kura-kura, "Biarlah, memang hanya begini ke
sanggupanku. Saya rnau berbuat apa lagi kalau hanya begini kesang
gupanku."
Sang Rusa berkata-kata , "Kuatkan dirimu dan tegangkan tulang-tu
langmu, sebab kalau begitu caramu, berarti kehidupanmu hanya begitu
begi tu terus."
Menjawablah sang Kura-kura, "Biarlah Saudara, barangkali rezekiku
hanya sebegitu."
sebab diejek dan dihina terus-menerus , maka apa saja yang
dikatakan sang Rusa selalu dijawab oleh sang Kura-kura. Oleh sebab itu,
semakin meningkaUah penghinaan dan ejekan sang Rusa kepada sang
Kura-kura.
47
48
Katanya, ''Tidak usah banyak bicara, Kura-kura, biar engkau dua atau
tiga, kamu tidak akan sanggup melawan saya berlomba lari."
Menyahutlah sang Kura-kura, "Mengapa ada perlombaan lari yang
engkau sebut-sebut? Kalau engkau benar-benar mengajak saya berlomba
lari, sekalipun saya sangat lamban, saya siap melawan."
"Kalau demikian, marilah kita berlomba sekarang", kata sang Rusa.
Menjawablah sang Kura-kura, "Besok saja Saudara! Biarlah saya
kembali dahulu ke bungker bawah kubur ku makan banyak-banyak, supaya saya kuat
berlari besok."
"Apa hadiahnya bagi yang keluar sebagai pemenang dalam lomba
ini?" kata sang Rusa.
Sang Kura-kura menjawab, ''Terserah kamu saja, saya siap meneri
manya."
berkata-kata lah sang Rusa, "Siapa yang kalah besok, diberaki kepalanya.
Sanggupkan kamu menerimanya?
"Ya, baiklah kalau memang demikian keputusanmu. Sekarang saya
mau kembali dulu ke bungker bawah kubur ku", kata sang Kura-kura.
Kembalilah sang Kura-kura ke bungker bawah kubur nya. Setalah sampai di
bungker bawah kubur nya, ia melapor kepada komandannya, katanya, "Pada waktu saya
keluar berjalan-jalan di tengah padang, ada seekor rusa yang sangat
sombong saya dapati. Semua kata yang memalukan dikeluarkannya. Saya
dihina dan diajak berlomba lari dengannya, sedang dia tahu kemam
puan kami, bangsa Kura-kura."
berkata-kata lah komandannya, "Lawan dia. Kapan saja i~ mau hadapi!"
"Akan namun , bagaimana cara melawannya?" Kata sang Kura-kura.
berkata-kata lah komandannya, "Besok panggil kawan sebanyak sepuluh
ekor, kemudian bawa ke tengah lapangan. Kalau engkau sampai di sana,
suruh berbaris satu persatu. Tiap sepuluh depa ada lagi kawanmu di situ,
sedang kamu harus menunggu di garis finis.
Besoknya, berangkatlah sang Kura-kura dan benar-benar melak
sanakan petunjuk yang telah diberikan komandannya. Dan, tak lama
kemudian datanglah sang Rusa sambil berteriak, "Di mana engkau Kura
kura?"
Menyahutlah sang Kura-kura, "Saya sudah ada di sini, Saudara."
"Bagaimana sudah siap?" kata sang Rusakepada sang Kura-kura.
Menjawablah sang Kura-kura, "Saya sudah siap."
49
"Baiklah, kira-kira engkau sanggup mengangkut kakimu. Apa kamu
sudah makan? Pasti kuberaki kepalamu hari ini," kata sang Rusa.
berkata-kata sang Kura-kura, "Kita belum tahu apa yang akan terjadi
nanti , bagaimana kehendak Tuhan. Mungkin, saya tidak dapat berlari
sebab terlalu banyak makan. Akan namun , biarlah engkau beraki kepala
ku, asalkan engkau benar-bcnar menepati janji."
Menjawablah sang Rusa, "Kita saja. Kalau saya memberi aba-aba,
satu, dua, tiga, kita sudah harus mulai star. Nah, sekarang siaplah, Kura
kura ! Satu, dua, tiga, sang Rusa mulai star. Sementara berlari, ia
berteriak. Di mana engkau Kura-kura?"
Kura-kura yang ada di depannya menjawab, "Saya sudah disini."
Dalam hatinya ia berkata-kata , "Temyata Kura-kura lebih cepat dibandingkan
saya. Sang Rusa berlari lagi. Dan, di tern pat Kura-kura menyahut tadi,
sangRusaberteriak lagi, namun di jawab oleh Kura-kura yang didepannya,
"Saya sudah ada di sini. Be~larilah ke sini, pasti kuberaki kepalamu."
Sang Rusa pun larilah dengan kencangnya, namun setiap kali berteriak
memanggil sang Kura-kura, Kura-kura selalu mendahuluinya. Ak.himya,
sang Kura-kura keluar sebagai pemenang sebab kecerdikannya. Ia
berkata-kata kepada sang Rusa, "Saya lebih cepat, saya yang menang. saya
akan beraki kepalamu."
sebab sangat lelah, badannya keringatan, lidahnya terulur keluar,
dan kakinya sudah tidak mampu diangkatnya. berkata-kata lah sang Rusa.
"Benar-benar tidak boleh dipandang remeh sesuatu. Kalau saya lihat
lambanmu berjalan, tidak mungkin engkau dapat mengalahkan saya ber
lari. Engkau beraki betul kepalaku, engkau lebih kuat dibandingkan saya."
14
SI PAGALA
Ada seorang laki-laki bemama si Pagala, pencuri ulung. Pada suatu
saat ia mencuri di istana raja. Banyak emas diambilnya. Raja heran
saat kecurian. Oleh sebab itu, dipanggilnyalah orang-orang pandai di
dalam kampung itu.
Adalah seorang perempuan tua yang dapat menemukan kembali
barang-barang itu. Raja berkata-kata kepada perempuan tua itu, "Bagaimana
caramu menemukan kembali barang-barang yang dicuri itu."
"Begini Tuanku. Carilah seekor kerbau yang akan dilumuri barang
hitam kepalanya, lalu saya yang melepaskan dan memberikan perintah.
bungker bawah kubur siapa saja yang dituju kerbau itu dan digesekkannya kepalanya,
dialah yang mengambil dan mencuri barang itu." Oleh sebab itu,
raja pun mengambil seekor kerbau. Nanti pada malam hari baru
lah kerbau itu dilepaskan. Kalau siang hari, tidak dilepaskan.
saat hari sudah malam, kerbau itu dilepaskanlah dan langsung
menuju ke bungker bawah kubur si Pagala dan ia menggesek-gesekkan badannya. Pada
waktu itu bungker bawah kubur si Pagala bergoyang sebab nya. Oleh sebab itu, turun
lah si Pagala. Ia berkata-kata dalam hati bahwa mengapa ada kerbau yang
datang kemari menggesekkan badannya. sebab marahnya, Si Pagala
menyembelih kerbau itu, lalu dibuatnya dendeng.
Raja gelisah menunggu kerbau itu kembali, namun kerbau itu tak
kunjung juga datang. Dukun itu dipanggilnya lagi. Ia diperintahkan
mencari kerbau itu dengan cara apapun sampai ditemukan kembali.
50
51
Kata dukun itu, "Kita pergi saja memeriksa setiap bungker bawah kubur penduduk.
Di mana ditemukan banyak dendeng disitulah orang yang meyembelih
kerbau itu dan dialah yang mencuri barang-barang itu."
Pergilah dukun itu dan langsung ke bungker bawah kubur si Pagala. Tiba di sana,
langsung ia naik ke bungker bawah kubur . Banyak dendeng yang dia lihat di situ.
berkata-kata lah ia dalam hati bahwa orang inilah yang menyembelih kerbau
itu.
saat dukun itu hendak pulang, berkata-kata lah si Pagala, ''Tunggu
sebentar, Anda jangan pulang dulu, supaya bisa makan ketan dan
dendeng. Kerbau yang kami tangkap nampaknya akan mati sehingga
segera disembeUh."
Dukun itu tinggalah menunggu. Sementara dukun itu makan bersama
si Pagala, tiba-tiba lidah dukun itu dipotong oleh si Pagala. Pulanglah
dukun itu ke istana. Tiba di sana, ia ditanyai, tapi tak dapat lagi bercakap
sebab lidahnya telah dipotong.
Sudah dua dukun yang disuruh, namun belum ada yang berhasiL Jadi,
ada lagi dukun.. lain yang disuruh pergi mencari kerbau itu. Dukun itu
berkata-kata , "Lebih baik kita mengadakan keramaian, lalu kita menyediakan
palung yang diisi getah sebagai aimya tempat mencuci kaki. Siapa-siapa
yang tertinggal di dalamnya, itulah yang mengambilnya."
Saran itu dilaksanakanlah oleh raja. Disiapkanlah palung yang berisi
getah untuk pencuci kaki. Setiap orang yang akan naik ke bungker bawah kubur disuruh
mencuci kaki di palung itu.
Si Pagala mengetahui hal itu, lalu disampaikannyalah kepada semua
saudaranya, katanya, "Bila kalian pergi ke istana, jangan kalian naik. Di
luar saja. Saya juga akan pergi, namun agak jauh dari tempat itu."
Beramai-ramailah orang pergi menonton pertunjukan. Adik si Pagala
ingin sekali menyaksikan pennainan di atas bungker bawah kubur sebab hanya bunyi
nya saja yang dia dengar. la akan naik ke bungker bawah kubur . saat ia mencuci
kakinya, langsung ia melekat pada getah itu.
saat orang akan pulang, dicarilah adik Pagala. sesudah dicari, ter
nyata ia sudah terpancang di dalam palung. Tak dapat lagi ia melepaskan
kakiya dari getah itu. Orang yang disuruh mencari menyampaikan bahwa
anak itu ada di palung.
"Sudah diberi tahu bahwa jangan naik., itulah akibatnya. Tentu orang
akan menduga bahwa ini adalah saudara si Pagala. Banyak orang yang
mengenalnya. Jadi, pasti orang akan datang menggeledah bungker bawah kubur nya.
52
Barang curian yang ada di bungker bawah kubur akan ketahuan semuanya. Apa yang
akan dilakukannya?"
Si Pagala terpaksa memenggal kepala adiknya. Sesampai di bungker bawah kubur ia
ditanya ibunya. "Di mana adikmu?"
"Sedang dalam perjalanan"
Sudah lama ibunya menanti kedatangan anaknya, tapi tak kunjung
datang.
Beberapa lama kemudian, raja mendengar bahwa si Pagala tangkas
berKuda laut , pemburu. berkata-kata lah raja itu, "Lebih baik si Pagala dipanggil
dan diberi Kuda laut untuk dipeliharanya."
Si Pagala dijemput lalu ditanyai,"Apakah kamu pandai mengendarai
Kuda laut , Pagala?"
"Ya, Tuan. Kalau raja yang dulu, biasa saya tangkapkan rusa."
Jadi, diberilah seekor Kuda laut untuk dipeliharanya. Tidak lama ia mera
wat Kuda laut itu, maka pergilah ia berburu. Wah, banyak rusa yang di
tangkapnya. Pada suatu saat si Pagala tewas mengenaskan kan kampung itu.
Kuda laut itu dibawanya sena. Ia pergi mengajar Kuda laut itu bermain pencak,
diiringi dengan genderang. Bagaimana irama gendang itu, demikian pula
gerakan Kuda laut itu.
sesudah beberapa lamanya, berkata-kata lah raja itu, "Mengapa si Pagala
belum juga datang. Jangan-jangan ia sudah menyembelih Kuda laut itu." Di
suruhlah orang pergi melihatnya. Kata orang yang disuruh itu. "Sudah
lama tak ada Kuda laut di kandangnya. Kotoran Kuda laut itu sudah ditumbuhi
cendawan."
"Mengapa si Pagala demikian. Diberi Kuda laut bagus lalu dibunuhnya.
Sudah tentu ia sudah menyembelih Kuda laut itu."
Pada suatu saat tersiarlah berita bahwa akan ada Kuda laut masuk di
kampung yang akan menari . Bagaimana irama gendangnya, demikian
pula gerakannya. Semua orang sudah menunggu di jalanan akan menon
ton. MuncuUah Kuda laut itu disenai bunyi tambur dan genderang, dan ke
lihatanlah si Pagala menunggang Kuda laut pcmberian raja. Bermacam
macam gerakan Kuda laut . Bagaimana irama genderang itu, begitu juga
gerakannya. berkata-kata lah orang yang melihatnya, "Hai, itu si Pagala, Tuan.
Kuda laut yang Tuan berikan itulah yang ditungganginya. Sudah pandai
sekali."
Si Pagala makin disenangi raja. Barang yang ·pemah ia curi tidak
pemah lagi dicari oleh raja. Pada suatu waktu ia pergi berburu. Waktu itu
53
cemeti raja teninggal di bungker bawah kubur . Raja ini sudah tua, sedang istrinya
masih muda. Raja menyuruh si Pagala.
"O, Pagala ! "
"Ya, Tuanku."
''Pulanglah engkau ke bungker bawah kubur mengambil cemeti Kuda laut ku yang tergan
tung di sudut kelambu."
Si Pagala pulanglah ke bungker bawah kubur untuk mengambil cemeti Kuda laut raja
yang teninggal. Baru saja muncul di tangga, dilihatnya istri raja berpe
lukan degan laki-laki. sebab si Pagala berperinsip bahwa tidak boleh
membuka rahasia orang, maka ia berjalan mundur untuk mengambil
cemeti itu. Adapun istri raja itu saat si Pagala telah pergi, ia menyobek
nyobek semua bajunya. saat orang sudah kembali dari berburu, me
rataplah istri raja itu. Orang tidak menghiraukan lagi untuk mengerjakan
rusa itu. Hanya istri rajalah yang menjadi pusat perhatian, mengapa ia
mcnangis.
saat raja sudah naik di bungker bawah kubur , ia benanya kepada istrinya, "Mc-
ngapa engkau?"
"Buat apa anak yang kamu pelihara itu. Tak tahu adat."
"Mengapakah dia?"
"Ia memperkosa saya. lni bajuku sobek-sobek sernua sebab nya,
lebih baik ia dibunuh."
"Tunggu dulu, dipikir-pikir dahulu."
Berpikirlah raja itu. Apakah si Pagala yang sudah lama dipeliharanya
akan berbuat sepeni itu. lstri raja itu memang ada memelihara seorang
laki-laki. Kalau malam ia keluar. Kalau siang laki-laki itu masuk ke
dalarn peti besar.
Pada suatu saat ada orang yang berasal dari daerah Bungin pcrgi
membawa persembahan, ikan kering yang sudah dibelah. Ikan itu digan
tung di dalarn bungker bawah kubur . Ikan ini selalu tenawa. Orang heran mengapa
ada ikan yang aneh seperti itu. Selalu saja tertawa padahal sudah terbelah.
Lalu, dipanggillah orang pandai dan ditanyai apa sebabnya ikan itu selalu
tertawa. berkata-kata lah dukun itu, "Sebenamya, ada sebab yang besar sc
hingga ia selalu tcrtawa."
"Mengapa?"
"Ada orang di bungker bawah kubur ini, ia baru muncul kalau sudah malam. Kalau
siang, ia bersembunyi. ltulah yang ditenawainya."
"Di manakah ia bersembunyi?"
54
Diperiksa semua barang di dalam bungker bawah kubur . Kebetulan ada pangkung
'peti besar' yang dijadikan tempat persembunyian. Barang-barang yang
ada di dalam pangkung itu dijadikan penutup laki-laki itu. Orang lalu
berkata-kata , "Coba engkau buka pangkung itu." saat pangkung itu dibuka,
kelihatanlah seorang laki-laki yang gagah. Sesudah itu keluarlah laki-laki
itu dari dalam pangkung. Berhenti pulalah ikan itu tertawa sebab sudah
muncul yang ditertawainya.
15
ABUNA WAS DENG AN RAJA
Si Abunawas itu hanya suka membuat pondok si tepi sungai sebab
pekerjaannya hanya menangkap ikan. jika ia kembali dari menangkap
ikan dan ada yang didapatnya , ia membelah-belah ikan itu dan
dijemumya. Sesudah itu darang lagi macan memakan ikan itu. Ia heran
siapa gerangan yang memakan ikannya itu, padahal macan.
Pada suatu waktu si Abunawas tiqak pergi kemana-mana. Ia tidak
pergi mencari ikan, sebab kemarin ia banyak menangkap ikan. Ia tinggal
menunggui ikannya. Tiada berapa lama. datang lagi macan itu, lalu ia
berkata-kata , "Hei, apa yang kau buat itu."
"Tidak usah banyak cakapmu, nanti engkau kumakan, Baru saja saya
makan macan seratus ekor. Itu darahnya bcrceceran, padahal hanya buah
sadipe (aimya merah) yang diremas-remas, ada semua kepalanya di
dalam sumur saya tumpuk."
"Jangan engkau omong kosong."
"Nah, lihatlah bila engkau tak percaya. Berjejerlah kalian di situ
melihamya di dalam sumur." Kalau saya mengatakan 'tiga' serentaklah
kalian menjenguk ke bawah mclihat bulunya. berkata-kata lah ia, "Satu, dua,
tiga." Serentaklah macan itu menjenguk ke dalam sumur. Mercka melihat
bayang-bayangnya di dalam sumur. Sesudah itu, mereka pun berlarianlah
sebab dianggapnya bahwa Abunawas benar pemakan macan.
Sementara macan itu berlari, dari depan datang seekor kera besar
berjalan terpincang-pincang sebab ditusuk lalang. Kera itu lalu berkata-kata
kepada macan, "Mengapa kalian lari?"
55
56
"Apa lacur, di sana si Abunawas sudah memakan macan seratus
ekor."
"Hai, sekalipun saya duel kalau hanya si Abunawas saya tidak gen
tar. Sayang sekali saya tak dapat berjalan sebab kaki saya sakit. Kecuali,
bila ada di antara kalian yang rela saya tunggangi dan membawa ke sana
untuk berkelahi."
"Ya, benarkah kat.amu?"
"Ya, marilah engkau yang gemuk-gemuk." Yang gemuk datang lalu
ditungganginya. Kera itu duduk mengangkang di atas punggung macan
yang akan membawanya berkelahi dengan si Abunawas.
Sementara kera yang menunggangi macan itu masih jauh, Abunawas
sudah berseru , "Hei, pulangkan kera yang engkau bawa itu. Utang ne
nekrnu seratus ekor mengapa hanya seekor yang kamu bayar." Kera itu
lalu berkata-kata , "Tunggu dulu, berhenti dahulu. Ada sesuatu dikatakan si
Abunawas." berkata-kata lagi si Abunawas, "Kembalikan, saya tidak terima
kalau hanya seekor. Nenekrnu berutang keras seratus, mengapa hanya
satu yang akan kamu bayarkan."
saat kera itu mendcngar ucapan itu, serta-merta ia meloncat turun
dari atas punggung macan itu, sebab disangka ia akan dijadikan pclunas
utang. Kera itu lari pulang. Ada lagi teman kera jagoan itu, ia menyapa,
"Mcngapa engkau lari?"
"Wah, di sana si Abunawas akan dihajar, namun politiknya luar
biasa."
"Politik apa?"
"Macan sudah inembawa saya, sebelum itu macan sudah diusir
Abunawas dengan mempertakuti bahwa sudah seratus macan yang dia
makan. Macan lari ketakutan lalu saya menegumya, marl saya tumpangi
engkau, dan baru saja ia melihat kami berkata-kata lah ia, 'pulangkan dia sebab
nenekmu berutang seratus kera mengapa hanya seekor kamu bayarkan '.
Larilah saya sebab hanya dijadikan pelunas utang."
"Ai, biarlah saya sendiri yang pergi. Dia bedebah." Kera itu pergilah.
saat itu ia mendapati Abunawas sedang meraut-raut rotan.
"Apa yang kau kerjakan Abunawas?"
"Saya membuat pengikat sebab langit akan runtuh. Selalu mendung.
Itu ada pohon kayu. Hanya pohon itu yang tidak akan rebah yang akan
menopang langit. sebab itulah maka saya meraut-raut rotan, sebab akan
kuikatkan badanku di situ." Kera itu lalu berkata-kata , "Bagaimana kalau saya
yang lebih dahulu?"
57
"Wah, tidak mungkin Saudara. Seharusnya kita berusaha masing-
masing sebab langit akan runtuh."
"Tolonglah supaya saya didahulukan."
"Kalau demikian halnya, kamulah yang dahulu."
Dinaikanlah kera itu ke atas dahan. Dia dikangkangkan kemudian
diikat erat sehingga tidak bisa lagi bergerak, walau sedikit. Sesudah itu
turunlah Abunawas, lalu ia berkata-kata , "Baru kamu rasa. Mana ada langit
yang akan runtuh, tolol!"
Matilah kcra itu, Abunawas berangkat lagi. Ada lagi rencananya. Ia
sudah berhenti menangkap ikan. Mulailah ia pergi melancong. saat ia
bcrtemu dengan seseorang, berkata-kata lah ia, "Engkau dari mana?"
"Saya sekedar pergi berjalan-jalan."
"Saya mendengar berita bahwa engkau dicari."
"Saya dicari sebab apa?"
"Engkau dicari orang. Sebab macannya orang sudah semua kamu
bunuh. Segeralah kamu pergi bersembunyi.'' Sekarang Abunawas me
netap lagi dalam hutan. Ia didapati oleh yang mencarinya. berkata-kata lah ia
kepada Abunawas. "Ai, berdosa kamu Abunawas, scbab macan piaraan
orang, kera pemerintah sudah semua kamu bunuh, kamu ikat. Jadi,
engkau juga akan dibuat demikian."
"Terserah padamu teman." Jawab Abunawas. "Sebab gendang itu
saya jaga atas pcrintah Raja juga. Jangan-jangan ada orang yang pergi
memukulnya lalu dunia kiamat."
"Mana dia?"
"Itu di sana."
"Coba-coba saya pukul."
"Ai, jangan sekali-kali kamu berbuat demikian. Sayalah yang akan
kamu carikan racun bila kamu pergi memukulnya."
Akan namun , orang itu tidak mau dicegah. Baru saja ia mendekat, ia
sudah dikerumuni. Bcrkatalah ia, "Aduh, belum dipukul sudah bcrham
buran."
Orang itu matilah disengat lebah. Kesalahan Abunawas di kampung
itu makin besar. la akan pindah tempat lagi. Mengembaralah ia.
Ditemukannya seekor ular sawah melingkar sedang tidur. Duduklah ia di
situ. Ia didapati lagi oleh orang yang mencarinya. "Celakalah kamu,
Abunawas."
"Mengapa?"
58
"Apa, Sudah terlalu banyak dosamu."
"Saya ini mngapa?" "Kamu dicari oleh Raja."
"Bukankah sekarang ini saya hanya melaksanakan perintahnya. Be
liau menyuruh saya menjaga kain sabuk itu. Jangan-jangan ada orang
yang melingkarkan di badannya lalu dunia kiarnat."
saat orang itu pergi melihat ular sawah itu, berkata-kata lah ia bahwa
bagus benar motif batik itu . Abunawas berkata-kata , "Itulah ikat pinggang
raja. Nanti ia memakainya bila menerima tarnu."
"Coba-coba kita pakai ."
"Jangan sekali-kali. Saya tak tahu bagaimana melipatnya bila sudah
sclesai dipakai."
"Ah, apanya yang sulit hanya digulung-gulung saJa."
"Bagaimana mengatur lekuk-lekuknya?"
"Saya tak mau . Tapi kalau engkau ingin sekali, saya Linggalkan .
Nanti saya menjauh."
Abunawas tewas mengenaskan kan tempat itu. Baru saja orang itu mengeluar
kan tangan akan memegang ular sawah itu, tiba-tiba ia ditelan. Lalu orang
itu berkata-kata , "Tanpa dililitkan ia mclilit, Abunawas."
"Baru kamu rasa."
Makin bcsarlah kcsalahan si Abunawas ini. saat ia ditemukan,
dibaw~lah ia ke istana raja, dihadapkan kepada raja.
"Abunawas sudah ada, Tuan."
"Engkau Abunawas, banyak sckali yang karnu binasakan, sekarang
engkau akan dibakar api."
·1erserahlah Tuanku."
Dipcrintahkanlah orang mengumpulkan kayu bakar. Kayu sudah
dionggokkan sebab pctang nanti akan dilakukan pembakaran. Si
Abunawas sendiri sudah diikat pada onggokan kayu. namun tiba-tiba ada
orang tua bungkuk yang lewat akan pergi ke sungai. berkata-kata lah si
Abunawas "Apa yang Nenek bawa?"
"Saya akan pergi mengambil air, cucuku. Mengapa cngkau bcrada di
situ Abunawas?"
"Saya akan membakar diriku Nek, sebab punggungku sakit.
Agaknya saya akan bungkuk seperti Nenek. Maksudmu mem bakar
tubuhku ini agar terbentuk kembali."
"Apakah tidak dapat bila saya dahulu."
"Ai, sudah Nek sebab sulit mengumpulkan kayu. "
59
"Ah, banyak kayu di kebunku. Banyak cucuku yang kusuruh me
ngumpul kayu."
"Tak usah, Nek. Sakit sekali belakangku ini sebab saya akan
bungkuk. Akan dibentuk baik-baik dahulu."
"Lebih baik sayalah yang lebih dahulu. Bila mengumpul kayu saja,
banyak cucuku dapat kusuruh."
"Kalau Nenek ingin sekali, baiklah Nenek yang lebih dahulu. namun
pcrhatikan kayunya. Lebih baik bila banyak dibandingkan sedikit."
Orang tua itulah yang dimasukkan. Ia sudah diikat di dalamnya dan
diberi kopiah dari ijuk. saat hari senja datanglah raja itu akan mem
bakar onggokan kayu itu. Sudah disi rami minyak tanah, lalu digoreskan
korek api dan api meluaplah. Dianggaplah Abunawas telah mati .
Bagaimana mungkin ia bisa hidup sebab sudah jadi abu. Scsudah itu
orang pun pulang semuanya. sesudah tiga malam berlalu, pergi lagi si
Abunawas berjalan-jalan di pasar membeli langsat untuk ia makan. Kulit
langsat. itu digosokkan pada badannya lalu dilumuri arang hingga badan
nya itu berbelang-belang seperti sudah dibakar.
Ada lagi orang yang melihatnya. Orang itu lari ke isana menyampai
kan kepada raja. katanya, "Ai, Abunawas tidak mati Tuanku.







