Rabu, 15 Juli 2026

Lucu 6


 n bertemu di 

hadapan raja pada hari lusa. 

Pada waktunya bertemulah mereka bertiga di istana raja, yaitu 

Anreguru La Tobajak, Pabbicara Cenrana, dan Sullewatang Ganra. Tidak 

lama kemudian keluarlah r.aja dan duduk di atas takhtanya, katanya, "Apa 

maksudmu bertiga datang menghadap?" 

30 

berkata-kata  La Tobajak, "Daulat Tuanku, hamba bertiga datang meng­

hadap di bawah duli Tuanku, hendciknya memperjelas akan hal hamba 

sudah diberi oleh Tuanku Cenrana, Pao, dan Ganra, saat  hamba meng­

hadap di bawah duli Tuanku kemarin dahulu." 

Bagaimana lagi, Anreguru , caramu mengemukakan kata-kata 

kemarin dahulu, saat  engkau meminta ·cenrana, pao hendak kaujadikan 

anra? Ulanglah biar saya dengar dan didengar juga oleh Pabbicara dan 

Sullewatang!" kata raja. 

Menjawab La Tobajak, katanya, "Hamba memohon maaf sekiranya 

hamba bersalah, namun  tidaklah rasanya hamba ini khilaf. Timbul belas 

kasihan Tuanku melihat hambanya baru sembuh dari sakit lalu berkata-kata  

pada hambanya, "Apa yang dapat kuberikan padamu sebagai penghibur 

hatimu?" Mala menjawab hambamu ini, "Sekiranya ada belas kasihan 

Tuanku pada hambanya, inginlah hamba mendapatkan rahmatmu berupa 

Cenranamu, Paomu, akan kuambil Ganra menjadi sumber pencaharian. 

Menjawab Tuanku, "Ambil saja Guru, kuberikan padamu. Tak ada ani­

nya yang kaukehendaki itu. Demikianlah kata-kata hamba sena jawaban 

Tuanku pada kemarin dahulu itu." 

"Bukankah, Anreguru, kayu cenrana dan kayu pao yang kau minta 

hendak kau jadikan ganra, perkakas pemintal benang?" tanya raj'a. 

"Mohon diampuni hambamu ini Tuanku! Seandainya hanya ganra 

yang ingin hamba buat, meskipun seratus banyaknya, niscaya tak adalah 

gunanya hambamu ini, jika kepada Tuanku Datu Soppeng hamba mc­

minta, tidak akan sampai tiga orang hambamu mintai, maka akan ada 

seorang yang akan memberikan kayu cenrana atau pao. Hambamu ini 

juga ada memiliki sebuah ladang yang ditinggalkan oleh ayah hamba, di 

dalamnya ada bcbcrapa pohon lainnya. saat  hambamu mengatakan 

Paomu, Cenrana jelas kampung Cenrana dan kampung Pao yang ham­

bamu maksudkan sebab  terang pada pengetahuan hambamu seisi Sop­

peng bahwa kepunyaan pribadi Tuankulah kampung Cenrana dan Pao itu. 

·Mcskipun bukan Tuanku yang menjunjung mahkota Kerajaan Soppeng, 

Tuanku jugalah yang membangkitrebahkannya, serta memperkuat sc­

kehendak Tuanku atas Cenrana dan Pao. Demikian juga halnya dengan 

kampung Ganra, meskipun bukan Tuanku Datu Soppeng, ia Ganramu 

juga, sebab ia adalah warisan Tuanku yang bersih. Itulah sebabnya 

hambamu berani memintanya pada Tuanku." Demikian jawab La 

Tobajak. 

31 

Raja pun tersenyum mendengar penjelasn Anreguru La Tobajak, lalu 

berkata-kata , "Adapun pertanyaan saya yang demikian itu tadi agar diketahui 

juga Pabbicara Cenrana dan Sullewatang Ganra hal-ihwalnya saya mem­

berikan kepadamu kampung Cenrana, Pao, dan Ganra. Sudah kukatakan 

kemarin dahulu bahwa ambil saja olehmu Anreguru apa yang kau rninta! 

Hanya sekali saja seorang raja yang memerintah mengeluarkan perkataan. 

Tak patut ia berkata-kata  dua kali. Lagi pula tak tahu aku menghitung jasamu 

padaku dan pada negeri Soppeng. Tak akan masuk wilayah Soppenglah 

desa Mario Riawa, Baringeng, Goa-goa, dan Citta, jika bukan engkau 

Tobajak yang mendesak orang Bone dan Wajo pada waktu perjanjian 

Timurung. Bertambahlah sepertiganya negeri kita ini, tanpa mengeluar­

kan setitik darah orang Soppeng. Ketahuilah Pabbicara dan Sullewatang 

bahwa aku telah memberikan tanahku Cenrana, Pao dan Ganra kepada 

Anreguru La Tobajak. 

LA PAGALA 

Dengarlah kalian, buyung! Saya akan berkisah, dengarkan baik-baik 

dan kau iakan! Ia disebut kisah sebab  meskipun dusta yang dikatakan, 

namun  diiakan juga. 

Lincah rusa, cepat sipenunggang, Jarilah hai rusa, mengenalah wahai 

jerat! Berdusta orang yang bercerita, lebih berdusta pula orang yang 

mendengar, ia tahu bahwa cerita itu dusta, namun  diiakan juga. 

Dahulu kala pada suatu saat , ada tiga orang penyamun. Oleh ka­

rena hari hujan lebat, mereka singgah bemaung dibawah sebatang pohon 

besar di tcpi jalan. Ketiganya membawa parang yang panjang dan 

mengenakan purukeng. Berganti-ganti mereka bercerita, sama-sama 

memuji kemampuannya, yang satu melebihi yang lain. Akhimya, mereka 

sepaham bahwa pekerjaan mereka sama, yaitu menyamun sesama 

manusia. 

Tiba-tiba berkata-kata  salah seorang di antaranya, '"Ada yang saya anggap 

baik. Bagaimana kalau kita bersatu bagaikan lidi seikat, agar kita kuat, 

kita sejalan tak bercerai, berat sapa dipikul, suka sama dinikmati, duka 

sama ditanggung." 

Menyahutlah yang seorang, katanya, "Baik sungguh niatrnu. Sejalan 

benar dengan pesan yang lanjut usianya ku yang mengatakan bahwa kuat orang seorang, 

Jebih kuat lagi orang yang bertiga." 

berkata-kata  pula penyamun yang ketiga, "Saya setuju dengan per­

kataanmu itu, saudaraku. Memang ada pesan nenekku tujuh.lapis ke atas 

32 

33 

bahwa murah rezckinya yang berjalan sendiri, lebih murah lagi rezekinya 

yang pergi berdua, namun  tak. ada bandingannya mereka yang seiring 

beniga." 

Sepak.atlah mereka beniga, sejalan tak. bercerai, berat sama dipikul, 

suka sama dinikmati, dan duka sama ditanggungkan. saat  hujan reda, 

berangkatlah mereka seiring bertiga. Mereka terus berjalan hingga hampir 

wak.tu asar, namun  tidak. juga bersua dengan orang yang dapat disamun. 

Tiba-tiba mereka berjumpa dengan seorang anak laki-laki, lalu bertanya, 

"Hendak. ke mana engkau, Buyung?" Anak. itu pun menjawab, "Saya 

mencari kerbau saya, Pak!" "Berapa ekor kerbaumu?" tanya penyamun 

itu. 

"Hanya seekor saja, Pak!" jawab anak. itu. 

"Di mana negerimu, Buyung?" tanya penyamun itu lagi. Anak. itu 

menunjukkan arah kampungnya. Lalu ditanyakan pula namanya. 

Dikatak.annya bahwa ia bemama La Pagala (si Pengait). 

"Barangkali engkau suka mengait orang, maka engkau dinamai 

demikian," kata ketiga penyamun itu pula. 

''Tidak., Pak," jawab La Pagala sambil tersenyurn. 

"Berdusta engkau Pagala, tak mungkin engkau dinamai demikian 

jika engkau tidak. gemar mengait orang," kata penyamun itu melanjutkan. 

"Bukan itu arti nama saya, Pak." 

"Jadi, apalah ani namamu itu," tanya penyamun. 

"Pagala artinya orang bijaksana, kata ayah saya," jawab La Pagala. 

"Bahasa orang bahasa Galigo, bahasa orang dahulu kala," sahut La 

Pagala menjelaskan arti namanya. 

sesudah  itu berkata-kata lah salah seorang di antara penyamun itu, sesudah  

mereka saling menggamit, "Sekarang ini La Pagala, kami hendak 

mengambilmu dan membawamu bersama kami. Engkau jangan lari. Jika 

engkau mencobanya, kami akan membunuhmu. Tidak ak:an kami ampuni. 

Supaya engkau tidak dapat lari, lebih baik engkau kami ikat. Jangan 

engkau melawan, jika engkau tak: mau mati." 

''Terserahlah kehendak Bapak:. Tak mungkin saya ak.an melawan," 

jawab La Pagala. 

Kemudian, mereka pun berjalan lagi. La Pagala berjalan di tengah­

tengah penyamun itu. Tidak lama mereka berjalan, tiba-tiba turun pula 

hujan. Mereka pun singgah mencari tempat bemaung. Didapatinya se­

buah dangau di tepi sawah. DI sanalah mereka bemaung. 

34 

berkata-kata  lagi salah seorang di antara penyamun itu, "dibandingkan  diam 

saja, sambil menunggu hujan reda lebih baik engkau bercerita Pagala! 

namun  jangan cerita bohong. Jika cerita bohong, akan kubunuh engkau." 

Menjawab La Pagala, ''Tak satu pun saya memiliki  cerita, Pak." 

''Tak mungkin, tak ada anak orang Bugis yang tak memiliki  cerita 

sebab anak orang Bugis selali mendengar cerita dari ibu-bapaknya, ne­

nek, atau yang lanjut usianya nya. Jadi , engkau berdustajika tak ada cerita yang engkau 

ketahui," kata Sang Penyamun. 

Sesungguhnya ada juga sebuah cerita pemah saya dengar, namun  saya 

tak berani menentukan dusta atau tidaknya sebab  saya tidak langsung 

melihatnya. Hanya yang terlihat oleh mata kepala sendiri dapat ditentu­

kan kebenarannya," jawab La Pagala. 

"Kalau cerita itu masuk akalmu, sudah bolch engkau benarkan. 

Bukankah La Pagala namamu, yang berarti orang bijaksana, orang 

berakal. Jadi, kalau sudah masuk akalmu, tentu sudah benar," kata pe­

nyamun itu. 

"Kalau demikian halnya, saya meminta Bapaklah yang bercerita 

lebih dahulu," kata La Pagala. 

"Baiklah dan dengarkan baik-baik," kata seorang penyamun. Dahulu 

kala, nenek saya pergi berlayar menyeberangi laut luas, samudera na­

manya. Saya ikut juga. Pada waktu kami mulai berlayar, saya baru saja 

pandai berlari. Kami baru kembali ke Bugis, sesudah  saya berkumis. 

Banyak negeri kami datangi. Ada yang hitam sekali orangnya, sama 

benar dengan arang. Matanya putih berkilauan, giginya putih bagai tem­

bikar. Ada juga orang yang seperti kerbau bulai kulitnya, tinggi besar, 

seperti raksasa putih, rambumya bagai rambut jagung. Ada pula negeri 

yang Rakyat Indonesia merdeka nya kecil bagai orang katek. Oleh sebab  tcrlalu cepat 

bergerak, hampir saja kami sampai di tepi langit. Beruntunglah, tiba-tiba 

bertiup angin kencang dari luar bumi sehingga pcrahu kami hanyut kem­

bali kc tengah. 

Di dalam perantauan itu saya melihat suatu negeri yang sagat besar. 

bungker bawah kubur -bungker bawah kubur nya seperti Gunung Latimojong. Seribu orang yang tinggal 

pada setiap bungker bawah kubur . Demikian tingginya bungker bawah kubur  itu, jika menurunkan anak 

ayam yang baru menetas, sesudah  bersusah baru sampai di tanah. 

"Demikianlah cerita ini, Pagala. Apakah engkau percaya?" tanya 

penyamun yang bercerita itu. 

35 

"Tak mungkin saya tak percaya, sebab Bapaklah yang mengatakan­

nya," jawab Pagala. 

"Saya lagi yang bercerita," kata penyamun yang kedua. "Dengar­

kanlah baik-baik akan saya sambung sedikit cerita kawan saya La Palli­

rak," Barangkali engkau hanya sampai di tepi pantai negeri yang kau 

datangi itu, Pallirak? Engkau tidak sampai di daerah pegunungannya, 

sedang  saya sampai di sana. Di pucak gunung yang paling tinggi di 

sana, ada sebatang pohon yang sangat besar. Kalau anak yang baru 

belajar berlari mengelilingi batangnya, sesudah  ia mulai berubah baru 

dapat sekali berputar." 

Mengangguk-angguklah La Pagala sambil berkata-kata , "Pamas sekali, 

menurut hemat saya, Pak. Sebab bungker bawah kubur nya setinggi Gunung Latimojong, 

maka pohon kayunya pun akan sangat besar pula. Lima puluh tahun kita 

akan berlari mengitarinya, baru dapat sekali berputar." 

"Sungguh, benarlah perkataanrnu itu Pagala," kata penyamun yang 

ketiga yang bemama La Makkarumpak. "Hanya agaknya La Pabbelak 

dan La Pallirak tidak sampai pada padang rumput luas yang ada di tengah 

pegunungan negeri itu. Oleh sebab  itu, mereka tidak melihat kerbau 

yang besamya sama dengan gunung. Ujung tanduknya demikian luasnya 

sehingga cukup menjadi tempat main raga bagi empat puluh orang." 

Baru saja habis perkataan La Makkarumpak, bersamaanlah La Palli­

rak dan La Pabbelak berkata-kata , "Kami sangat percaya akan ceritamu itu 

Makkarumpak. Sebab, termakan sekali oleh akal kami." 

"Pagala, bagaimana gerangan pendapatmu tentang ceritaku?" kata La 

Makkarumpak bertanya. 

"Benar sekali, Pak. Tak mungkin lagi saya tak percaya sebab  tiga 

orang yang saya jadikan pemimpin, yang saya junjung di atas batu kepala 

telah saling menyaksikan. Sejalan benar cerita Bapak bertiga. Tak ada 

yang mendustakan yang lainnya," jawab La Pagala. 

Kemudian, bersamaan pula ketiga penyamun itu berkata-kata , "Sekarang 

giliranmu lagi Pagala. Janganlah engkau mencari dalih untuk tidak ber­

cerita. Kalau tak ada ceritamu, engkau akan kami sembelih. Cerita 

bohong yang tidak masuk akal yang engkau ceritakan, akan menjadi 

sebab kematian pula." 

Menjawablah La Pagala, ''Tidak akan saya sanggah perintah Bapak. 

Tidak berani saya m~mpennain-mainkan Bapak. Dengarkanlah, akan 

saya ceritakan. Lincah rusa, cepat si penunggang, larilah hai rusa, 

36 

mengenalah hai jerat! Berdusta orang yang bercerita, lebih berdusta lagi 

orang yang me_ndegar. Sebab ia tahu bahwa cerita itu dusta, namun  diiakan 

juga." 

"Saya memiliki  nenek yang telah kembali ke rahmat Allah. Ia 

pergi berlayar pada waktu masih sedang belajar berjalan, dan barn kem­

bali ke tanah Bugis sesudah  putih semua rambutnya, ompong, dan 

mengelupas pula kuliblya. Habis dijelajahinya semua negeri di tempat ma­

tahari terbit dan tempat matahari terbenam . 

Ada sebuah negeri di tempat matahari terbenam, sangat besar lagi 

indah. Di sana ada sebuah bungker bawah kubur  yang memiliki  sebuah genderang 

yang sangat besar pula. Jika ia ditabuh, tujuh tahun mendengung suara­

nya." 

"Alangkah besarnya genderang itu. Dari mana diperoleh kulit, acuan, 

sena pemukul untuk membuat genderang sebesar itu. Dan, di bungker bawah kubur  yang 

mana ia digantung?" tanya ketiga penyamun itu. 

La Pagala pun menjawab, "Kerbau yang pernah dilihat oleh Pak 

Makkarumpak itulah yang diambil kulitnya, batang kayu yang pemah 

ditemukan oleh Pabbelak dijadikan acuan, dan bungker bawah kubur  yang pemah dilihat 

Pak Lirak tempat menggantungnya." 

Ketiga penyamun itu berkata-kata , "Percayalah kami akan ceritamu, 

Pagala. Sungguh pandai engkau bercerita, Buyung. Kami kalah olehmu. 

Tak mau kami mengambilmu sebagai sahabat sebab  kau sangat pandai . 

Siapa tahu tanpa kami ketahui engkau menjual kami kelak. Sekarang, 

engkau kami bebaskan. Pergilah mencari kerbaumu, lalu pulang ke 

kampungmu." 

10 

LA TOBAJAK DAN LA MELLONG 

Pada suatu waktu La Tobajak besena kira-kira seratus orang teman­

nya pergi ke Bone. Ia disuruh oleh Datu Soppeng pergi meninjau Bone 

untuk memperhatikan apa sebab maka subur padi orang Bone, berbiak 

temaknya, berkembang ikan di sungai dan danaunya, sena bersatu padu 

rakyamya. 

sesudah  ia selesai menjelajahi seluruh wilayah Bone yang terdiri dari 

Bone Utara, Bone Selatan, Bone Barat, dan Bone Timur, berjumpalah ia 

dengan La Mellong Tosualle di gelanggang Kerajaan Bone yang besar. 

Kata La Mellong kepada La Tobajak, "Kuharapkan, hai keluargaku, 

orang pandai Soppeng bersama temannya, berkenan kiranya meringankan 

langkah, datang ke bungker bawah kubur  kami agar terlihat kemiskinan keluarganya di 

Bone." 

Menjawab La Tobajak, katanya, "Tiada terkira kegembiraanku, hai 

keluargaku, karni bertemu mendapat undangan datang ke bungker bawah kubur  Tuan. 

namun , telah bersiap kami akan kembali ke Soppeng pada hari lusa. 

Kapan gerangan kami dikehendaki ada di bungker bawah kubur  Tuan?" 

"Bagaimana kalau esok siang saja, kami menunggu kedatangan 

Tuan?" kata La Mellong, "Baiklah!" jawab La Tobajak. 

Pada hari itu juga istri La Mellong memanggil tetangga. Tetangganya 

datang membantu, menunggu lebih dari seratus orang yang akan makan 

siang esok harinya. Keesokan paginya, disembelihlah dua ekor kambing 

37 

38 

dan beberapa ekor ayam dan ramailah wanita memasak. Keesokan hari­

nya benarlah datang La Tobajak sampailah di depan bungker bawah kubur  La Mellong. 

Tuan bungker bawah kubur  segera menjemput tamunya, dibimbing naik ke bungker bawah kubur  dan 

diduduk.kan di atas tikar bersusun. 

''Tuan telah melihat bungker bawah kubur  miskin?" kata La Mellong membuka 

pembicaraan. Menjawab La Tobajak, katanya, "Benar sekali perkataanmu 

itu, saudaraku sebab memang tidak ada bungker bawah kubur  yang tidak miskin. sebab  

dirinya pun tidak juga ia miliki. Hanya yang empunya yang kaya." 

Tersenyum kecutlah La Mellong sebab merasa terantuk oleh tamunya. 

Disambungnya pembicaraannya lagi, katanya, "Gembira sekali hatiku, 

keluargaku, Tuan memenuhi harapanku, meringankan diri datang ke 

bungker bawah kubur ku ini." 

Menjawab lagi La Tobajak, katanya, "Memang kami dipesan oleh 

tuan kami Datu Soppeng bahwa kalau kami tiba di negeri orang, yang 

harus kami lakukan ialah ditunggu oleh yang empunya negeri. Begitu 

pula kalau kami naik ke suatu bungker bawah kubur , sebab yang empunya bungker bawah kubur  adalah 

raja yang memerintah di bungker bawah kubur nya itu. Tuan mengharapkan kami me­

ringankan diri, berjalan ke bungker bawah kubur  Tuan. Tuan menunggu kami pada 

waktu tengah hari di bungker bawah kubur  kediaman Tuan. Maka sepakatlah kami 

bcrtemanuntuk tidak memakai parang (keris), tidak berpundi-pundi, tidak 

naik Kuda laut , agar ringan diri kami berjalan, dan berusaha sampai di bungker bawah kubur  

tuan tepat pada waktu matahari berada di tengah langit." 

La Mellong merasa kalah lagi, sebab tanpa ia duga-duga segala yang 

dikatakannya ditanggapi semua oleh tamunya secara adanya. saat  

lengkap scgala hidangan, berkata-kata lah La Mellong kepada tamunya, 

"Baiklah, saudaraku silakan Tuan cicipi, sekadar itulah yang dapat 

disuguhkan oleh ipar Tuan. Perbuatlah sama sepcni jika Tuan berada di 

Soppeng, janganlah dibedakan." 

sesudah  itu makanlah La Tobajak dan teman-temannya, ditemani oleh 

yang empunya bungker bawah kubur . Pada waktu La Tobajak berhenti, maka berhentilah 

temannya scmua. Selesai minum dilemparkannya semua peralatan makan 

yang mereka gunakan. Berpecahanlah piring dan mangkuk terhempas di 

tanah. Tercenganglah La Mcllong serta orang-orang yang datang mem­

batu, sambil berkata-kata , "Niscaya tak sadarkan diri orang Soppeng ini, maka 

ia merusak! Binasalah kita oleh perbuatannya yang gila! " 

berkata-kata  La Tobajak, ''Tidak, Saudara, kami tidak lupa diri, namun  

kami menuruti perkataan Tuan yang meminta agar kami mcnyamakan 

39 

jika kami berada di Soppeng dan tidak membedakannya. Adapun adat 

kebiasaan kami di Soppeng. jika selesai makan maka kami semua 

perkakas yang kami gunakan kami buang ke tanah." 

"Kalau demikian, Saudara, sayalah yang salah. Maafkanlah keluarga 

orang Bone ini jika terlanjur perkataannya," jawab La Mellong. Di dalam 

hati ia berkata-kata , nantilah kalau kami ke Soppeng akan kami membalas. 

Kemudian, minta dirilah La Tobajak dan teman-temannya. Diun­

dangnya La Mellong dan teman-temannya pergi ke Soppeng berjalan­

jalan. Kata La Mellong, ''Kalau dikehendaki Dewata kami akan segera 

datang. Sudah lama kami ingin melihat Soppeng, negeri kaya yang ter­

mahsyur. Apa lagi sebab  Tuan mengundang kami." 

sesudah  itu pulanglah La Tobajak ke Soppeng. Tidak berapa lama 

antaranya. benarlah La Mellong datang bersama tiga ratus orang teman­

nya dari Bone. Mereka ditempatkan bermalam di gelanggang Kcrajaan 

Soppeng yang baru. Di scbelah kiri, kanan, dan belakang gelanggang itu, 

kebun pisang semuanya. Didatangkanlah oleh La Tobajak para wanita 

Soppeng untuk memasakkan orang Bone. Disuruhnya pula penduduk 

membuat tampi. 

saat  waktu makan tiba, berkata-kata lah La Tobajak kepada La Mellong 

dan teman-teman. "Kami mohon kepada tamu kami dari Bone, kiranya 

kita buktikanlahjanji Soppeng-Bone yang pernah disepakati oleh raja kita 

dahulu bahwa pada saat orang Bone menginjak tanah Soppeng, maka 

orang Soppenglah ia. Begitu pula orang Soppeng, pada saat ia menginjak 

tanah Bone, orang Bonelah ia, Jadi , saya mohon kepada keluargaku dari 

Bone. kiranya bersedia menganggap dirinya orang Soppeng, yaitu bila 

telah selesai makan segera perkakas makannya sena tempat minumnya 

dilemparkan ke tanah. Saya sampaikan pula kepada keluargaku yang 

terhormat orang pandai dari Bone, Tosualle, dan teman-teman bahwa 

menjadi adat bagi orang Soppeng jika datang keluarganya yang sangat ia 

cintai serta ia hormati, maka di atas tampi yang di alas dengan pucuk 

daun ia suguhkan makanan dan lauknya. Tempat air minum terbuat dari 

buluh yang baru ditebang. Tak sampai hatilah orang Soppeng memberi 

makan dan minum keluarganya yang terhonnat, dengan perkakas yang 

sud ah pemah dipakai oleh orang lain." 

Mengangguk-agguklah kawan-kawan La Mellong; tanda membenar­

kan. namun , La Mellong sendiri berkata-kata  di dalam hati, "Kalah saya oleh 

orang Soppeng ini." 

11 

DONGENG JENAKA 

Pada sebuah negeri terdapat seorang guru bemama Nurung. Ia mem­

punyai beberapa orang santri atau muiid. 

Pada suatu hari, ia memerintahkan semua muridnya mencari sebuah 

cerita yang lucu atau aneh, "Besok pagi kamu sekalian harus membawa 

cerita yang aneh, namun  bohong, kemudian kamu bawakan sendiri cerita 

itu dihadapanku, Siapa yang paling aneh ceritanya akan kuberi hadiah." 

Bcrkatalah semua muridnya, "Ya, baiklah." 

Keesokan harinya berkumpullah semua muridnya di bungker bawah kubur  pe­

ngajian. 

sesudah  semuanya berkumpul, berkata-kata lah gurunya" Apakah kamu 

semua telah membawa cerita yang saya janjikan kemarin?" 

Menjawablah semua muridnya, "Kami semua yang hadir telah siap 

dcngan cerita yang lucu." 

berkata-kata lah gurunya. "Baiklah kalau begitu, namun  kalian harus me­

nepati janji, yaitu berganti-ganti tampil ke depan." 

Tampillah seorang murid, di antaranya yang paling tua, mem­

bawakan ceritanya. Katanya, "Kemarin saat  saya pulang dari tempat 

pengajian, tiba-tiba saya benemu di tengah jalan degan orang besar dan 

tinggi sekali. Tingginya sepeni pencakar langit. Kepalanya sampai di 

awan putih. Tumitnya kira-kira satu kilometer panjangnya. 

berkata-kata lah gurunya, "Aneh betul orang itu." 

40 

41 

sesudah  itu tampil lagi muridnya yang lain dengan gaya yang dibuat­

buat, katanya, "saat  saya pulang kemarin, saya menemukan sebuah 

bungker bawah kubur  yang sangat besar dan tinggi. Mungkin lebih tinggi dibandingkan  yang 

diceritakan teman saya tadi. sebab  tingginya bungker bawah kubur  itu, maka telur yang 

digulirkan dari bubungannya, belum sampai ke tanah sudah pecah. Sete­

lah sampai di tanah (telur yang sudah berubah menjadi ayam) sudah dapat 

berkokok." 

berkata-kata lah gurunya,_ "Wah, lebih aneh lagi ceritamu itu." 

Kemudian, tampil lagi salah seorang muridnya ke depan. Katanya, 

"Kemarin ketik~ saya pergi bermain-main tiba-tiba saya menemukan 

seekor kerbau yang sangat besar sekali. Ujung tanduknya saja kira-kira 

satu depa panjangnya, bagaimana kira-kira besar kerbau itu?" 

Kata gurunya, "Ini yang lebih aneh lagi." 

Sesudah itu, tampil lagi muridnya yang lain, lalu bercerita, "Kemarin 

saya disuruh ibuku pergi mencari kayu bakar. Maka pergilah saya men­

cari kayu sampai jauh masuk ke sebuah hutan. Dalam hutan itu, saya 

menemukan sebuah pohon lombok yang sangat besar. Buahnya saja 

sebesar tanduk kerbau. Coba bayangkan bagaimana besar pohon lombok 

itu." 

Kemudian, tampil lagi yang lain, katanya, "saat  saya pulang 

kemarin, saya tersesat, lalu saya tiba di sebuah gunung yang besar dan 

tinggi. Saya daki gunung itu, kemudian saya kelilingi. 

Tujuh bulan lamanya saya kelilingi gunung ini . Anehnya 

gunung itu dililit sebatang rotan yang sangat panjang dan besar." 

Kata gurunya, "Benar-benar aneh ceritamu itu." 

Tampil lagi seorang muridnya yan glain, yaitu yang bemama si 

Kerdil. 

berkata-kata  si Kerdil, "Cerita teman-teman saya tadi memang lucu clan 

bohong semua. Oleh sebab  itu, yang punya cerita lebih lucu dan lebih 

bohong lagi. Akan namun , cerita yang akan saya bawakan ini lebih lucu 

lagi. 

saat  saya pulang kemarin, saya ikuti semua teman yang telah 

bercerita tadi. Kemarin saya tidak kemana-mana. Baru pagi ini saya 

keluar dan terns ke sini untuk bertemu dengan guru dan Anda semua. 

saat  saya menuju ke sini saya melihat sebuah gendang besar. Begitu 

besamya, kalau dipukul, tiga tahun lamanya berdengung." 

"Bohong", kata teman-temannya. 

42 

"Kalau yang bercerita bohong, maka kamu scmua yang mengiakan 

dan tertawa lebih bohong lagi," jawab si Kerdil. 

Kata gurunya, "Mengapa kamu katakan demikian?" 

Jawab si Kerdil. "Kata orang-orang tua, bohong dongeng lebih 

bohong lagi yang mengiakan." 

Salah seorang temannya bertanya kepadanya, "Tadi Saudara Kerdil 

mengatakan ada gendang berdengung selama tiga tahun. Saya mau ber­

tanya. Di mana mengambil rotan umuk mengikat. Di mana digantung, 

siapa yang menggantung, dan siapa pula yang memukulnya?" 

Si Kerdil menjawab, "Kalau tadi ada cerita yang mengatakan bahwa 

ada pohon lombok yang besar, itulah yang dibuat selongsongnya, rotan 

yang melili t gunung tadi dibuat pengikat, kerbau yang besar tadi disem­

belih lalu kulitnya dibuat penutup, tanduknya dibuat pemukul, digantung 

pada bungker bawah kubur  yang besar dan yang menggantungnya adalah orang tinggi. 

Dialah yang membuatnya dan dia pula yang memukulnya." 

Maka ramailah tepuk tangan, dan semua orang yang mendengar ter­

tawa terbahak-bahak. 

12 

DUA ORANG BERSAHABA T 

Di sebuah negeri, berdiam dua orang bersahabat karib yang satu 

bernama Makkuraga dan yang lain bemama Manola. 

Pada suatu saat  Makkuraga memerintahkan istrinya untuk me­

manggil sahabatnya yang bemama Manola untuk datang ke bungker bawah kubur nya 

dengan maksud memberikan pekerjaan. Pekerjaan yang akan diberikan 

itu ialah menangkap ikan di laut. Oleh sebab  itu, ia diperlengkapi dengan 

perahu, jala, pukat, pancing, dan penangkap ikan lainnya, yang diper­

lukan. Akhimya, datanglah Mattola ke bungker bawah kubur  Makkuraga dan sekaligus 

ia menerima baik tawaran Makkuraga itu. 

Jadi, untuk memperlancar jalannya usaha penangkapan ikan itu, 

Makkuraga dan Mattola membuat suatu perjanjian yang bunyinya sebagai 

berikut, "Semua ikan yang bemasil ditangkap nanti yang ekomya berca­

bang dua adalah kepunyaan Makkuraga, dan semua ikan yang ekomya 

lurus adalah kepunyaan Mattola." 

Perjanjian itu telah disepakati dan disetujui oleh mereka berdua, 

kemudian Makkuraga menyera)lkan alat-alat perlengkapan nelayan 

kepada Mattola. Mattola membawa perlengkapan itu pulang ke bungker bawah kubur nya 

degan senang hati. 

Beberapa hari kemudian Mattola dengan istrinya mufakat tentang 

masalah hari pennulaan turun ke laut sebagai langkah pertama. Kata 

Mattola kepada istrinya, "Baiklah kita pergi ke bungker bawah kubur Tuan Kadi minta 

tolong tentang penentuan dan penetapan hari yang baik untuk memulai 

43 

44 

tunm ke laut dan sekaligus minta berkah kepadanya." sesudah  itu, Tuan 

Kadi menentukan hari baik, sekaligus bersedia datang ke bungker bawah kubur nya untuk 

membacakan doa selamatan. sesudah  selesai membaca doa barulah 

mereka itu turun ke laut. Dengan perasaan gembira, Mattola mendayung 

perahunya ke laut, ke tempat yang diperkirakan banyak ikan. 

Mattola kembali ke bungker bawah kubur nya degan membawa ikan yang cukup 

banyak. Dipanggilnya Makkuraga untuk membagi ikan sesuai dengan 

perjanjian mereka. Pemeriksanaan ikan-ikan telah dilakukan oleh 

Makkuraga untuk mencari ikan-ikan yang berekor dua dan temyata tak 

satu pun ikan yang berekor satu. Dengan demikian menurut perjanjian, 

Makkuragalah yang berhak mendapat pembagian dari seluruh ikan yang 

ditangkap oleh Mattola. 

Dari hari ke hari Mattola selalu berhasil menjalankan tugasnya. Akan 

namun , sayang bagi Mattolla sebab  tidak pemah menikmati hasil jerih 

payahnya. Namun, Mattola bersama istrinya masih tetap sabar dan berhati 

lapang sebab  demikianlah perjanjian yang mereka sepakati. 

Pada suatu saat  Mattola mencoba lagi turun ke laut untuk me­

nangkap ikan. Kali ini ia pergi ke tempat yang lebih dalam, kemudian ia 

memasang pancingnya. sesudah  beberapa saat lamanya ia pun mendapat 

ikan yang sangat besar. Nama ikan itu menurut bahasa Makassar adalah 

masapi. Ikan seperti ini harganya sangat mahal sebab  disenangi oleh 

kalangan raja-raja dahulu. Ikan ini dianggapnya ikan raja. Mattola dengan 

senang hati pulang ke bungker bawah kubur nya dengan membawa ikan yang besar itu. 

Orang-orang berdatangan dan pada kagum melihat ikan s.ebesar itu. Pada 

saat itu datang pula Makkuraga untuk menyaksikan dan memeriksa ikan 

itu. Dalarn pemeriksaan Makkuraga temyata ikan itu benar berekor 

tunggal. Menurut perjanjian mereka, ikan itu adalah milik Mattola. Akan 

namun , timbul pemikiran baru dalarn hati Makkuraga ingin mengubah 

perjanjian yang mereka telah sepakati. 

Akhimya, Makkuraga tak tahan lagi menahan maksud jahatnya lalu 

berkata-kata  kepada Mattola, "Ikan masapi yang besar ini harus dibagi lagi 

sebab  hasil selama ini adalah bagian saya, sedang  bagian perahu, 

layar, jangkar, dan lain-lain belum mendapat bagian." Demikianlah, se­

hingga ikan besar itu dibagi-bagi oleh Makkuraga sehingga Mattola 

hanya mendapat segumpal saja dari bagian ikan itu. Sesudah pembagian 

itu, pulanglah Makkuraga ke bungker bawah kubur nya membawa basil jerih payah 

Matto la. 

45 

Pada saat itulah Mattola bermusyawarah dengan istrinya untuk 

menghentikan pekerjaannya sebab  tidak memenuhi kebutuhan hidupnya. 

Mattola berkata-kata  kepada istrinya, "Mulai hari ini perahu beserta alat-alat 

penangkap ikan lainnya saya serahkan kembali kepada Makkuraga, 

kemudian kita tinggalkan daerah pantai ini lalu kitamasuk ke hutan untuk 

bercocok tanam, siapa tahu rezeki kita ada di sana." Istrinya menyetujui 

maksud suaminya, dan tak lama kemudian berangkatlah mereka dengan 

membawa alat-alat pertanian secukupnya. sesudah  sampai di dalam hutan, 

mulailah ia bekerja keras membanting tulang, menebang kayu, baik yang 

kecil maupun yang besar, untuk dijadikan ladang atau kebun. Di samping 

itu, ia juga menibuat bungker bawah kubur  kecil tempat istirahat. 

Begitulah keadaan Mattola selama berada di dalam hutan itu. Banyak 

sekalai usahanya dan semuanya berjalan lancar. Hasil kebunnya melim­

pah dan memuaskan. Selain berkebun ia juga mengusahakan pengger­

gajian kayu. Pendek kata, kehidupan Mattola sekeluarga sudah cukup 

lumayan berkat kesabaran, kerajinan, dan ketekunannya. Semua tanaman, 

baik jangka pendek maupun tanaman jangka panjang, tumbuh dengan 

suburnya. 

sesudah  beberapa waktu kemudian, tersiarlah berita keberhasilan 

Manola ke seluruh daerah pantai. Berita ini akhimya sampai pula ke 

telinga Makkkuraga, dan saat itu juga timbul keinginannya menemui 

Mattola dengan ma.le.sud menuntut tanah milik nenek moyangnya dari 

tangan Mattola. 

Pada suatu hari berangkatlah Makkuraga menuju hutan tempat 

tinggal Mattola. sesudah  sampai di sana, berkata-kata lah Makkuraga, "Maksud 

dan tujuan saya datang kemari ialah untuk mengadakan musyawarah 

dengan kamu tentang tanah yang selama ini kamu olah." Sesungguhnya 

tanah yang kamu garap itu adalah milik nenek moyang saya. Hal itu sama 

keadaannya sewaktu kamu memakai perahu dan alat-alat penangkap 

ikan saya. 

Jadi, mulai sekarang semua hasil kebun harus jatuh kepada saya 

sebab  kamu telah lama menikmatinya. Mattola berkata-kata , "Jangan dulu, 

saya akan hadirkan orang-orang kota dan orang-orang di daerah pantai ini 

untuk membicarakan masalah atau status tanah ini, sebab saya tidak yakin 

bahwa tanah atau hutan ini adalah milik nenek moyangmu." 

berkata-kata lah Makkuaraga, "Tidak_ perlu kamu serepot itu, saya akan 

tunjukkan sebuah pohon yang paling besar di tengah-tengah hutan ini 

46 

yang dapat berbicara sebagaimana halnya manusia, dan pohon itu 

batangnya berlubang dari bawah ke atas. Jadi, masalah tanah ini dapat 

kita tanyakan kepada pohon ajaib itu, dan kita pasti akan puas dengan 

jawaban yang diberikan." Kemudian, Makkuraga menentukan hari 

pertemuannya di pohon kayu besar nanti. Akan namun  sebelum tiba saat 

yang telah ditetapkan, Makkuraga tclah memasuk.kan pamannya yang 

sudah tua ke dalam lubang batang pohon kayu itu dan ia berpesan bahwa 

apa saja yang ditanyakannya nanti harus dijawab dengan jawaban yang 

jujur sesuai dengan jawaban yang sudah diatur sebelumnya. 

sesudah  waktu yang ditentukan tiba, maka berangkatlah Makkuraga 

bersama Mattola menuju ke tempat itu. Makkuraga mengajak Mauola 

memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan jawaban dari dalam 

pohon itu. sesudah  itu, bertanyalah Makkuraga kepada pohon kayu yang 

besar itu, katanya, "Hai pohon kayu, siapakah sebenamya yang empunya 

tanah atau hutan ini?" Tiba-tiba muncullah suara dari dalam pohon itu 

sebagai jawaban dari pertanyaan tadi yang mengatakan, "Sepanjang 

pengetahuanku, tanah atau hutan ini adalah kepunyaan nenek mo yang 

Makkuraga." Begitulah suara yang didengar oleh Mattola dari dalam 

pohon ajaib itu. sesudah  itu bertanyalah Makkuraga kepada Mattola, 

"Bagaimana pendengaran Saudara, apakah sudah jelas jawabannya?" 

Mattola menjawab, "Ya, sudah jelas." 

sesudah  itu mereka pun pulang ke bungker bawah kubur nya masing-masing. saat  

Mattola tiba di bungker bawah kubur nya diajaknya istrinya mengumpulkan kayu-kayuan 

dengan maksud ingin membakar pohon kayu besar yang ~jaib itu. Sesaat 

kemudian kayu-kayuan sudah tertimbun, maka Mattola membakar pohon 

kayu ajaib itu. Hancurlah dan hangus pohon kayu itu bersamaan dengan 

Paman Mak.kuraga yang ada di dalamnya. sesudah  api padam tampaklah 

tulang-tulang manusia berserakan bercampur dengan abu pohon besar itu. 

Pada saat itulah Mattola yakin bahwa sebenamya perbuatan Mak.kuraga 

itu adalah penipuan belaka sebab  yang berbicara atau suara yang datang 

dari dalam pohon kayu itu adalah suara Paman Makkuraga sendiri. 

Akhimya, Mattola memanggil Makkuraga untuk menyaksikan pohon 

ajaib yang sudah habis terbakar itu. Setibanya di tempat itu, dilihatnya 

tulang-tulang pamannya yang telah berserakan. Menangislah ia sambil 

meraung-raung sebagai tanda penyesalan atas perbuatannya menipu 

Mattola. Adapun Makkuraga sudah tidak dapat mengendalikan dirinya, 

seperti orang kesurupan, sampai ia tewas mengenaskan  dunia. 

13 

RUSA DENGAN KURA-KURA 

Ada seekor rusa sedang mencari makanan di tengah padang. Rusa itu 

sangat tangkas dan bertanduk panjang. saat  sedang berjalan di tengah 

padang, tiba-tiba ia mendapati seekor kura-kura. la kemudian memper­

hatikan tingkah laku sang kura-kura tadi, lalu berkata-kata  kepadanya. "Hai, 

Kura-kura, coba kamu bergerak agak lincah sedikit dan jalanmu diperce­

pat sebab  gerakanmu sangat lambat. Kalau begitu berapa saja makanan 

yang en_gkau dapat. Lihatlah saya! Berapa besar tubuhku, cepat dan lincah 

gerakanku. Jadi, ada makanan cepat saya dapat, namun  engkau nanti sudah 

habis semua diam bi I orang baru kamu tiba." 

Menyahutlah sang Kura-kura, "Biarlah, memang hanya begini ke­

sanggupanku. Saya rnau berbuat apa lagi kalau hanya begini kesang­

gupanku." 

Sang Rusa berkata-kata , "Kuatkan dirimu dan tegangkan tulang-tu­

langmu, sebab kalau begitu caramu, berarti kehidupanmu hanya begitu­

begi tu terus." 

Menjawablah sang Kura-kura, "Biarlah Saudara, barangkali rezekiku 

hanya sebegitu." 

sebab  diejek dan dihina terus-menerus , maka apa saja yang 

dikatakan sang Rusa selalu dijawab oleh sang Kura-kura. Oleh sebab  itu, 

semakin meningkaUah penghinaan dan ejekan sang Rusa kepada sang 

Kura-kura. 

47 

48 

Katanya, ''Tidak usah banyak bicara, Kura-kura, biar engkau dua atau 

tiga, kamu tidak akan sanggup melawan saya berlomba lari." 

Menyahutlah sang Kura-kura, "Mengapa ada perlombaan lari yang 

engkau sebut-sebut? Kalau engkau benar-benar mengajak saya berlomba 

lari, sekalipun saya sangat lamban, saya siap melawan." 

"Kalau demikian, marilah kita berlomba sekarang", kata sang Rusa. 

Menjawablah sang Kura-kura, "Besok saja Saudara! Biarlah saya 

kembali dahulu ke bungker bawah kubur ku makan banyak-banyak, supaya saya kuat 

berlari besok." 

"Apa hadiahnya bagi yang keluar sebagai pemenang dalam lomba 

ini?" kata sang Rusa. 

Sang Kura-kura menjawab, ''Terserah kamu saja, saya siap meneri­

manya." 

berkata-kata lah sang Rusa, "Siapa yang kalah besok, diberaki kepalanya. 

Sanggupkan kamu menerimanya? 

"Ya, baiklah kalau memang demikian keputusanmu. Sekarang saya 

mau kembali dulu ke bungker bawah kubur ku", kata sang Kura-kura. 

Kembalilah sang Kura-kura ke bungker bawah kubur nya. Setalah sampai di 

bungker bawah kubur nya, ia melapor kepada komandannya, katanya, "Pada waktu saya 

keluar berjalan-jalan di tengah padang, ada seekor rusa yang sangat 

sombong saya dapati. Semua kata yang memalukan dikeluarkannya. Saya 

dihina dan diajak berlomba lari dengannya, sedang  dia tahu kemam­

puan kami, bangsa Kura-kura." 

berkata-kata lah komandannya, "Lawan dia. Kapan saja i~ mau hadapi!" 

"Akan namun , bagaimana cara melawannya?" Kata sang Kura-kura. 

berkata-kata lah komandannya, "Besok panggil kawan sebanyak sepuluh 

ekor, kemudian bawa ke tengah lapangan. Kalau engkau sampai di sana, 

suruh berbaris satu persatu. Tiap sepuluh depa ada lagi kawanmu di situ, 

sedang  kamu harus menunggu di garis finis. 

Besoknya, berangkatlah sang Kura-kura dan benar-benar melak­

sanakan petunjuk yang telah diberikan komandannya. Dan, tak lama 

kemudian datanglah sang Rusa sambil berteriak, "Di mana engkau Kura­

kura?" 

Menyahutlah sang Kura-kura, "Saya sudah ada di sini, Saudara." 

"Bagaimana sudah siap?" kata sang Rusakepada sang Kura-kura. 

Menjawablah sang Kura-kura, "Saya sudah siap." 

49 

"Baiklah, kira-kira engkau sanggup mengangkut kakimu. Apa kamu 

sudah makan? Pasti kuberaki kepalamu hari ini," kata sang Rusa. 

berkata-kata  sang Kura-kura, "Kita belum tahu apa yang akan terjadi 

nanti , bagaimana kehendak Tuhan. Mungkin, saya tidak dapat berlari 

sebab  terlalu banyak makan. Akan namun , biarlah engkau beraki kepala­

ku, asalkan engkau benar-bcnar menepati janji." 

Menjawablah sang Rusa, "Kita saja. Kalau saya memberi aba-aba, 

satu, dua, tiga, kita sudah harus mulai star. Nah, sekarang siaplah, Kura­

kura ! Satu, dua, tiga, sang Rusa mulai star. Sementara berlari, ia 

berteriak. Di mana engkau Kura-kura?" 

Kura-kura yang ada di depannya menjawab, "Saya sudah disini." 

Dalam hatinya ia berkata-kata , "Temyata Kura-kura lebih cepat dibandingkan  

saya. Sang Rusa berlari lagi. Dan, di tern pat Kura-kura menyahut tadi, 

sangRusaberteriak lagi, namun  di jawab oleh Kura-kura yang didepannya, 

"Saya sudah ada di sini. Be~larilah ke sini, pasti kuberaki kepalamu." 

Sang Rusa pun larilah dengan kencangnya, namun  setiap kali berteriak 

memanggil sang Kura-kura, Kura-kura selalu mendahuluinya. Ak.himya, 

sang Kura-kura keluar sebagai pemenang sebab  kecerdikannya. Ia 

berkata-kata  kepada sang Rusa, "Saya lebih cepat, saya yang menang. saya 

akan beraki kepalamu." 

sebab  sangat lelah, badannya keringatan, lidahnya terulur keluar, 

dan kakinya sudah tidak mampu diangkatnya. berkata-kata lah sang Rusa. 

"Benar-benar tidak boleh dipandang remeh sesuatu. Kalau saya lihat 

lambanmu berjalan, tidak mungkin engkau dapat mengalahkan saya ber­

lari. Engkau beraki betul kepalaku, engkau lebih kuat dibandingkan  saya." 

14 

SI PAGALA 

Ada seorang laki-laki bemama si Pagala, pencuri ulung. Pada suatu 

saat  ia mencuri di istana raja. Banyak emas diambilnya. Raja heran 

saat  kecurian. Oleh sebab  itu, dipanggilnyalah orang-orang pandai di 

dalam kampung itu. 

Adalah seorang perempuan tua yang dapat menemukan kembali 

barang-barang itu. Raja berkata-kata  kepada perempuan tua itu, "Bagaimana 

caramu menemukan kembali barang-barang yang dicuri itu." 

"Begini Tuanku. Carilah seekor kerbau yang akan dilumuri barang 

hitam kepalanya, lalu saya yang melepaskan dan memberikan perintah. 

bungker bawah kubur  siapa saja yang dituju kerbau itu dan digesekkannya kepalanya, 

dialah yang mengambil dan mencuri barang itu." Oleh sebab  itu, 

raja pun mengambil seekor kerbau. Nanti pada malam hari baru­

lah kerbau itu dilepaskan. Kalau siang hari, tidak dilepaskan. 

saat  hari sudah malam, kerbau itu dilepaskanlah dan langsung 

menuju ke bungker bawah kubur  si Pagala dan ia menggesek-gesekkan badannya. Pada 

waktu itu bungker bawah kubur  si Pagala bergoyang sebab nya. Oleh sebab  itu, turun­

lah si Pagala. Ia berkata-kata  dalam hati bahwa mengapa ada kerbau yang 

datang kemari menggesekkan badannya. sebab  marahnya, Si Pagala 

menyembelih kerbau itu, lalu dibuatnya dendeng. 

Raja gelisah menunggu kerbau itu kembali, namun  kerbau itu tak 

kunjung juga datang. Dukun itu dipanggilnya lagi. Ia diperintahkan 

mencari kerbau itu dengan cara apapun sampai ditemukan kembali. 

50 

51 

Kata dukun itu, "Kita pergi saja memeriksa setiap bungker bawah kubur  penduduk. 

Di mana ditemukan banyak dendeng disitulah orang yang meyembelih 

kerbau itu dan dialah yang mencuri barang-barang itu." 

Pergilah dukun itu dan langsung ke bungker bawah kubur  si Pagala. Tiba di sana, 

langsung ia naik ke bungker bawah kubur . Banyak dendeng yang dia lihat di situ. 

berkata-kata lah ia dalam hati bahwa orang inilah yang menyembelih kerbau 

itu. 

saat  dukun itu hendak pulang, berkata-kata lah si Pagala, ''Tunggu 

sebentar, Anda jangan pulang dulu, supaya bisa makan ketan dan 

dendeng. Kerbau yang kami tangkap nampaknya akan mati sehingga 

segera disembeUh." 

Dukun itu tinggalah menunggu. Sementara dukun itu makan bersama 

si Pagala, tiba-tiba lidah dukun itu dipotong oleh si Pagala. Pulanglah 

dukun itu ke istana. Tiba di sana, ia ditanyai, tapi tak dapat lagi bercakap 

sebab  lidahnya telah dipotong. 

Sudah dua dukun yang disuruh, namun  belum ada yang berhasiL Jadi, 

ada lagi dukun.. lain yang disuruh pergi mencari kerbau itu. Dukun itu 

berkata-kata , "Lebih baik kita mengadakan keramaian, lalu kita menyediakan 

palung yang diisi getah sebagai aimya tempat mencuci kaki. Siapa-siapa 

yang tertinggal di dalamnya, itulah yang mengambilnya." 

Saran itu dilaksanakanlah oleh raja. Disiapkanlah palung yang berisi 

getah untuk pencuci kaki. Setiap orang yang akan naik ke bungker bawah kubur  disuruh 

mencuci kaki di palung itu. 

Si Pagala mengetahui hal itu, lalu disampaikannyalah kepada semua 

saudaranya, katanya, "Bila kalian pergi ke istana, jangan kalian naik. Di 

luar saja. Saya juga akan pergi, namun  agak jauh dari tempat itu." 

Beramai-ramailah orang pergi menonton pertunjukan. Adik si Pagala 

ingin sekali menyaksikan pennainan di atas bungker bawah kubur  sebab  hanya bunyi­

nya saja yang dia dengar. la akan naik ke bungker bawah kubur . saat  ia mencuci 

kakinya, langsung ia melekat pada getah itu. 

saat  orang akan pulang, dicarilah adik Pagala. sesudah  dicari, ter­

nyata ia sudah terpancang di dalam palung. Tak dapat lagi ia melepaskan 

kakiya dari getah itu. Orang yang disuruh mencari menyampaikan bahwa 

anak itu ada di palung. 

"Sudah diberi tahu bahwa jangan naik., itulah akibatnya. Tentu orang 

akan menduga bahwa ini adalah saudara si Pagala. Banyak orang yang 

mengenalnya. Jadi, pasti orang akan datang menggeledah bungker bawah kubur nya. 

52 

Barang curian yang ada di bungker bawah kubur  akan ketahuan semuanya. Apa yang 

akan dilakukannya?" 

Si Pagala terpaksa memenggal kepala adiknya. Sesampai di bungker bawah kubur  ia 

ditanya ibunya. "Di mana adikmu?" 

"Sedang dalam perjalanan" 

Sudah lama ibunya menanti kedatangan anaknya, tapi tak kunjung 

datang. 

Beberapa lama kemudian, raja mendengar bahwa si Pagala tangkas 

berKuda laut , pemburu. berkata-kata lah raja itu, "Lebih baik si Pagala dipanggil 

dan diberi Kuda laut  untuk dipeliharanya." 

Si Pagala dijemput lalu ditanyai,"Apakah kamu pandai mengendarai 

Kuda laut , Pagala?" 

"Ya, Tuan. Kalau raja yang dulu, biasa saya tangkapkan rusa." 

Jadi, diberilah seekor Kuda laut  untuk dipeliharanya. Tidak lama ia mera­

wat Kuda laut  itu, maka pergilah ia berburu. Wah, banyak rusa yang di­

tangkapnya. Pada suatu saat  si Pagala tewas mengenaskan kan kampung itu. 

Kuda laut  itu dibawanya sena. Ia pergi mengajar Kuda laut  itu bermain pencak, 

diiringi dengan genderang. Bagaimana irama gendang itu, demikian pula 

gerakan Kuda laut  itu. 

sesudah  beberapa lamanya, berkata-kata lah raja itu, "Mengapa si Pagala 

belum juga datang. Jangan-jangan ia sudah menyembelih Kuda laut  itu." Di­

suruhlah orang pergi melihatnya. Kata orang yang disuruh itu. "Sudah 

lama tak ada Kuda laut  di kandangnya. Kotoran Kuda laut  itu sudah ditumbuhi 

cendawan." 

"Mengapa si Pagala demikian. Diberi Kuda laut  bagus lalu dibunuhnya. 

Sudah tentu ia sudah menyembelih Kuda laut  itu." 

Pada suatu saat  tersiarlah berita bahwa akan ada Kuda laut  masuk di 

kampung yang akan menari . Bagaimana irama gendangnya, demikian 

pula gerakannya. Semua orang sudah menunggu di jalanan akan menon­

ton. MuncuUah Kuda laut  itu disenai bunyi tambur dan genderang, dan ke­

lihatanlah si Pagala menunggang Kuda laut  pcmberian raja. Bermacam­

macam gerakan Kuda laut . Bagaimana irama genderang itu, begitu juga 

gerakannya. berkata-kata lah orang yang melihatnya, "Hai, itu si Pagala, Tuan. 

Kuda laut  yang Tuan berikan itulah yang ditungganginya. Sudah pandai 

sekali." 

Si Pagala makin disenangi raja. Barang yang ·pemah ia curi tidak 

pemah lagi dicari oleh raja. Pada suatu waktu ia pergi berburu. Waktu itu 

53 

cemeti raja teninggal di bungker bawah kubur . Raja ini sudah tua, sedang  istrinya 

masih muda. Raja menyuruh si Pagala. 

"O, Pagala ! " 

"Ya, Tuanku." 

''Pulanglah engkau ke bungker bawah kubur  mengambil cemeti Kuda laut ku yang tergan­

tung di sudut kelambu." 

Si Pagala pulanglah ke bungker bawah kubur  untuk mengambil cemeti Kuda laut  raja 

yang teninggal. Baru saja muncul di tangga, dilihatnya istri raja berpe­

lukan degan laki-laki. sebab  si Pagala berperinsip bahwa tidak boleh 

membuka rahasia orang, maka ia berjalan mundur untuk mengambil 

cemeti itu. Adapun istri raja itu saat  si Pagala telah pergi, ia menyobek­

nyobek semua bajunya. saat  orang sudah kembali dari berburu, me­

rataplah istri raja itu. Orang tidak menghiraukan lagi untuk mengerjakan 

rusa itu. Hanya istri rajalah yang menjadi pusat perhatian, mengapa ia 

mcnangis. 

saat  raja sudah naik di bungker bawah kubur , ia benanya kepada istrinya, "Mc-

ngapa engkau?" 

"Buat apa anak yang kamu pelihara itu. Tak tahu adat." 

"Mengapakah dia?" 

"Ia memperkosa saya. lni bajuku sobek-sobek sernua sebab nya, 

lebih baik ia dibunuh." 

"Tunggu dulu, dipikir-pikir dahulu." 

Berpikirlah raja itu. Apakah si Pagala yang sudah lama dipeliharanya 

akan berbuat sepeni itu. lstri raja itu memang ada memelihara seorang 

laki-laki. Kalau malam ia keluar. Kalau siang laki-laki itu masuk ke 

dalarn peti besar. 

Pada suatu saat  ada orang yang berasal dari daerah Bungin pcrgi 

membawa persembahan, ikan kering yang sudah dibelah. Ikan itu digan­

tung di dalarn bungker bawah kubur . Ikan ini  selalu tenawa. Orang heran mengapa 

ada ikan yang aneh seperti itu. Selalu saja tertawa padahal sudah terbelah. 

Lalu, dipanggillah orang pandai dan ditanyai apa sebabnya ikan itu selalu 

tertawa. berkata-kata lah dukun itu, "Sebenamya, ada sebab yang besar sc­

hingga ia selalu tcrtawa." 

"Mengapa?" 

"Ada orang di bungker bawah kubur  ini, ia baru muncul kalau sudah malam. Kalau 

siang, ia bersembunyi. ltulah yang ditenawainya." 

"Di manakah ia bersembunyi?" 

54 

Diperiksa semua barang di dalam bungker bawah kubur . Kebetulan ada pangkung 

'peti besar' yang dijadikan tempat persembunyian. Barang-barang yang 

ada di dalam pangkung itu dijadikan penutup laki-laki itu. Orang lalu 

berkata-kata , "Coba engkau buka pangkung itu." saat  pangkung itu dibuka, 

kelihatanlah seorang laki-laki yang gagah. Sesudah itu keluarlah laki-laki 

itu dari dalam pangkung. Berhenti pulalah ikan itu tertawa sebab sudah 

muncul yang ditertawainya. 

15 

ABUNA WAS DENG AN RAJA 

Si Abunawas itu hanya suka membuat pondok si tepi sungai sebab 

pekerjaannya hanya menangkap ikan. jika  ia kembali dari menangkap 

ikan dan ada yang didapatnya , ia membelah-belah ikan itu dan 

dijemumya. Sesudah itu darang lagi macan memakan ikan itu. Ia heran 

siapa gerangan yang memakan ikannya itu, padahal macan. 

Pada suatu waktu si Abunawas tiqak pergi kemana-mana. Ia tidak 

pergi mencari ikan, sebab kemarin ia banyak menangkap ikan. Ia tinggal 

menunggui ikannya. Tiada berapa lama. datang lagi macan itu, lalu ia 

berkata-kata , "Hei, apa yang kau buat itu." 

"Tidak usah banyak cakapmu, nanti engkau kumakan, Baru saja saya 

makan macan seratus ekor. Itu darahnya bcrceceran, padahal hanya buah 

sadipe (aimya merah) yang diremas-remas, ada semua kepalanya di 

dalam sumur saya tumpuk." 

"Jangan engkau omong kosong." 

"Nah, lihatlah bila engkau tak percaya. Berjejerlah kalian di situ 

melihamya di dalam sumur." Kalau saya mengatakan 'tiga' serentaklah 

kalian menjenguk ke bawah mclihat bulunya. berkata-kata lah ia, "Satu, dua, 

tiga." Serentaklah macan itu menjenguk ke dalam sumur. Mercka melihat 

bayang-bayangnya di dalam sumur. Sesudah itu, mereka pun berlarianlah 

sebab  dianggapnya bahwa Abunawas benar pemakan macan. 

Sementara macan itu berlari, dari depan datang seekor kera besar 

berjalan terpincang-pincang sebab ditusuk lalang. Kera itu lalu berkata-kata  

kepada macan, "Mengapa kalian lari?" 

55 

56 

"Apa lacur, di sana si Abunawas sudah memakan macan seratus 

ekor." 

"Hai, sekalipun saya duel kalau hanya si Abunawas saya tidak gen­

tar. Sayang sekali saya tak dapat berjalan sebab  kaki saya sakit. Kecuali, 

bila ada di antara kalian yang rela saya tunggangi dan membawa ke sana 

untuk berkelahi." 

"Ya, benarkah kat.amu?" 

"Ya, marilah engkau yang gemuk-gemuk." Yang gemuk datang lalu 

ditungganginya. Kera itu duduk mengangkang di atas punggung macan 

yang akan membawanya berkelahi dengan si Abunawas. 

Sementara kera yang menunggangi macan itu masih jauh, Abunawas 

sudah berseru , "Hei, pulangkan kera yang engkau bawa itu. Utang ne­

nekrnu seratus ekor mengapa hanya seekor yang kamu bayar." Kera itu 

lalu berkata-kata , "Tunggu dulu, berhenti dahulu. Ada sesuatu dikatakan si 

Abunawas." berkata-kata  lagi si Abunawas, "Kembalikan, saya tidak terima 

kalau hanya seekor. Nenekrnu berutang keras seratus, mengapa hanya 

satu yang akan kamu bayarkan." 

saat  kera itu mendcngar ucapan itu, serta-merta ia meloncat turun 

dari atas punggung macan itu, sebab disangka ia akan dijadikan pclunas 

utang. Kera itu lari pulang. Ada lagi teman kera jagoan itu, ia menyapa, 

"Mcngapa engkau lari?" 

"Wah, di sana si Abunawas akan dihajar, namun  politiknya luar 

biasa." 

"Politik apa?" 

"Macan sudah inembawa saya, sebelum itu macan sudah diusir 

Abunawas dengan mempertakuti bahwa sudah seratus macan yang dia 

makan. Macan lari ketakutan lalu saya menegumya, marl saya tumpangi 

engkau, dan baru saja ia melihat kami berkata-kata lah ia, 'pulangkan dia sebab 

nenekmu berutang seratus kera mengapa hanya seekor kamu bayarkan '. 

Larilah saya sebab  hanya dijadikan pelunas utang." 

"Ai, biarlah saya sendiri yang pergi. Dia bedebah." Kera itu pergilah. 

saat  itu ia mendapati Abunawas sedang meraut-raut rotan. 

"Apa yang kau kerjakan Abunawas?" 

"Saya membuat pengikat sebab  langit akan runtuh. Selalu mendung. 

Itu ada pohon kayu. Hanya pohon itu yang tidak akan rebah yang akan 

menopang langit. sebab  itulah maka saya meraut-raut rotan, sebab akan 

kuikatkan badanku di situ." Kera itu lalu berkata-kata , "Bagaimana kalau saya 

yang lebih dahulu?" 

57 

"Wah, tidak mungkin Saudara. Seharusnya kita berusaha masing-

masing sebab  langit akan runtuh." 

"Tolonglah supaya saya didahulukan." 

"Kalau demikian halnya, kamulah yang dahulu." 

Dinaikanlah kera itu ke atas dahan. Dia dikangkangkan kemudian 

diikat erat sehingga tidak bisa lagi bergerak, walau sedikit. Sesudah itu 

turunlah Abunawas, lalu ia berkata-kata , "Baru kamu rasa. Mana ada langit 

yang akan runtuh, tolol!" 

Matilah kcra itu, Abunawas berangkat lagi. Ada lagi rencananya. Ia 

sudah berhenti menangkap ikan. Mulailah ia pergi melancong. saat  ia 

bcrtemu dengan seseorang, berkata-kata lah ia, "Engkau dari mana?" 

"Saya sekedar pergi berjalan-jalan." 

"Saya mendengar berita bahwa engkau dicari." 

"Saya dicari sebab  apa?" 

"Engkau dicari orang. Sebab macannya orang sudah semua kamu 

bunuh. Segeralah kamu pergi bersembunyi.'' Sekarang Abunawas me­

netap lagi dalam hutan. Ia didapati oleh yang mencarinya. berkata-kata lah ia 

kepada Abunawas. "Ai, berdosa kamu Abunawas, scbab macan piaraan 

orang, kera pemerintah sudah semua kamu bunuh, kamu ikat. Jadi, 

engkau juga akan dibuat demikian." 

"Terserah padamu teman." Jawab Abunawas. "Sebab gendang itu 

saya jaga atas pcrintah Raja juga. Jangan-jangan ada orang yang pergi 

memukulnya lalu dunia kiamat." 

"Mana dia?" 

"Itu di sana." 

"Coba-coba saya pukul." 

"Ai, jangan sekali-kali kamu berbuat demikian. Sayalah yang akan 

kamu carikan racun bila kamu pergi memukulnya." 

Akan namun , orang itu tidak mau dicegah. Baru saja ia mendekat, ia 

sudah dikerumuni. Bcrkatalah ia, "Aduh, belum dipukul sudah bcrham­

buran." 

Orang itu matilah disengat lebah. Kesalahan Abunawas di kampung 

itu makin besar. la akan pindah tempat lagi. Mengembaralah ia. 

Ditemukannya seekor ular sawah melingkar sedang tidur. Duduklah ia di 

situ. Ia didapati lagi oleh orang yang mencarinya. "Celakalah kamu, 

Abunawas." 

"Mengapa?" 

58 

"Apa, Sudah terlalu banyak dosamu." 

"Saya ini mngapa?" "Kamu dicari oleh Raja." 

"Bukankah sekarang ini saya hanya melaksanakan perintahnya. Be­

liau menyuruh saya menjaga kain sabuk itu. Jangan-jangan ada orang 

yang melingkarkan di badannya lalu dunia kiarnat." 

saat  orang itu pergi melihat ular sawah itu, berkata-kata lah ia bahwa 

bagus benar motif batik itu . Abunawas berkata-kata , "Itulah ikat pinggang 

raja. Nanti ia memakainya bila menerima tarnu." 

"Coba-coba kita pakai ." 

"Jangan sekali-kali. Saya tak tahu bagaimana melipatnya bila sudah 

sclesai dipakai." 

"Ah, apanya yang sulit hanya digulung-gulung saJa." 

"Bagaimana mengatur lekuk-lekuknya?" 

"Saya tak mau . Tapi kalau engkau ingin sekali, saya Linggalkan . 

Nanti saya menjauh." 

Abunawas tewas mengenaskan kan tempat itu. Baru saja orang itu mengeluar­

kan tangan akan memegang ular sawah itu, tiba-tiba ia ditelan. Lalu orang 

itu berkata-kata , "Tanpa dililitkan ia mclilit, Abunawas." 

"Baru kamu rasa." 

Makin bcsarlah kcsalahan si Abunawas ini. saat  ia ditemukan, 

dibaw~lah ia ke istana raja, dihadapkan kepada raja. 

"Abunawas sudah ada, Tuan." 

"Engkau Abunawas, banyak sckali yang karnu binasakan, sekarang 

engkau akan dibakar api." 

·1erserahlah Tuanku." 

Dipcrintahkanlah orang mengumpulkan kayu bakar. Kayu sudah 

dionggokkan sebab pctang nanti akan dilakukan pembakaran. Si 

Abunawas sendiri sudah diikat pada onggokan kayu. namun  tiba-tiba ada 

orang tua bungkuk yang lewat akan pergi ke sungai. berkata-kata lah si 

Abunawas "Apa yang Nenek bawa?" 

"Saya akan pergi mengambil air, cucuku. Mengapa cngkau bcrada di 

situ Abunawas?" 

"Saya akan membakar diriku Nek, sebab  punggungku sakit. 

Agaknya saya akan bungkuk seperti Nenek. Maksudmu mem bakar 

tubuhku ini agar terbentuk kembali." 

"Apakah tidak dapat bila saya dahulu." 

"Ai, sudah Nek sebab  sulit mengumpulkan kayu. " 

59 

"Ah, banyak kayu di kebunku. Banyak cucuku yang kusuruh me­

ngumpul kayu." 

"Tak usah, Nek. Sakit sekali belakangku ini sebab  saya akan 

bungkuk. Akan dibentuk baik-baik dahulu." 

"Lebih baik sayalah yang lebih dahulu. Bila mengumpul kayu saja, 

banyak cucuku dapat kusuruh." 

"Kalau Nenek ingin sekali, baiklah Nenek yang lebih dahulu. namun  

pcrhatikan kayunya. Lebih baik bila banyak dibandingkan  sedikit." 

Orang tua itulah yang dimasukkan. Ia sudah diikat di dalamnya dan 

diberi kopiah dari ijuk. saat  hari senja datanglah raja itu akan mem­

bakar onggokan kayu itu. Sudah disi rami minyak tanah, lalu digoreskan 

korek api dan api meluaplah. Dianggaplah Abunawas telah mati . 

Bagaimana mungkin ia bisa hidup sebab  sudah jadi abu. Scsudah itu 

orang pun pulang semuanya. sesudah  tiga malam berlalu, pergi lagi si 

Abunawas berjalan-jalan di pasar membeli langsat untuk ia makan. Kulit 

langsat. itu digosokkan pada badannya lalu dilumuri arang hingga badan­

nya itu berbelang-belang seperti sudah dibakar. 

Ada lagi orang yang melihatnya. Orang itu lari ke isana menyampai­

kan kepada raja. katanya, "Ai, Abunawas tidak mati Tuanku.