Rabu, 15 Juli 2026

dracula perang salib 1

 






















Perang Salib

Perang Salib merupakan perang dua peradaban besar yang 

sedang menggeliat pada abad pertengahan. Keduanya—

Islam dan Kristen— bertarung untuk saling mencari posisi, 

saling mengisi dan memengaruhi. Ada pedang yang beradu, 

ada buku yang terbakar, ada darah yang menggenang, ada 

yang menang dan ada yang kalah. Semuanya telah berpilin 

menjadi satu membentuk sejarah manusia.


Para Penunggang Kuda Poni             

yang Mengubah Dunia

SEJARAH abad X tak beranjak jauh dari Makkah, Palestina, 

Persia, Konstantinopel dan Baghdad. Berbagai suku bangsa 

datang dan pergi dari daerah-daerah ini . Mereka datang 

membawa kebudayaan mereka dan pergi membawa kebu-

dayaan baru. Sebagaimana halnya angin membawa terbang 

putik-putik bunga, mereka, para suku bangsa yang lebih me-

milih hidup nomaden, membawa kebudayaan baru ini  

menyebar pada jalan-jalan yang mereka lalui, dan menghirup 

kebudayaan baru yang belum mereka kenal.

Di antara suku bangsa yang mengembara itu terdapat 

orang-orang Turki Seljuk. Pada abad X mereka mulai me-

ninggalkan padang penggembalaan yang luas di tepian laut 

Aral dan sungai Jaxartes. Mereka mengikuti kerabat mereka, 

yaitu suku Avar, Kuman, Bulgar, Hun dan Magyar, berderap 

dengan kuda poni menaklukkan Persia. Tubuh-tubuh mereka 

yang liat tertempa alam penggembalaan memudahkan mereka 

mengalahkan sebuah imperium yang pernah berjaya pada 

abad-abad sebelum masehi. Dari Persia mereka terus bergerak 

ke arah Baghdad, dan kemudian merebut kota ini  pada 

tahun1055 M.


Sebagai suku bangsa nomaden yang tidak betah tinggal 

lama di suatu tempat, orang-orang Turki Seljuk terus bergerak. 

Keberanian, keuletan dan kelincahan mereka membuat suku-

suku yang lain memilih menghindar. Pada tahun 1071 M dalam 

pertempuran Manzikert mereka mengalahkan Kekaisaran 

Bizantium. Pada pertempuran ini orang-orang Turki Seljuk 

dipimpin oleh Alp Arselan. Dengan kekuatan 15.000 prajurit 

mereka bisa mengalahkan pasukan Bizantium yang berkekua-

tan 200.000 prajurit.

Rupanya tak ada yang bisa membendung gerak orang-

orang Turki Seljuk. Kota-kota seperti Palestina, Siria dan 

Yerussalem berhasil mereka rebut pada tahun 1075 M. Dalam 

waktu tidak begitu lama mereka juga berhasil menduduki Asia 

Kecil, dan di tempat ini kemudian mendirikan Kekaisaran 

Rum. Maka sejak saat ini orang-orang Turki Seljuk berbon-

dong-bondong ke Asia Kecil, memenuhi kota ini . Pen-

duduk lama tempat ini, yaitu orang-orang berbahasa Yunani 

tergeser, yang berarti menandai berakhirnya kebudayaan 

Bizantium-Kristen.

Para penunggang kuda poni ini terus melakukan gebrakan. 

saat  kekuasaan lebih mapan, mereka meninggalkan agama 

lama, yaitu penyembahan terhadap berhala. Langkah revolu-

sioner yang kemudian mereka ambil yaitu  menyatakan diri 

memeluk agama Islam dan mengumumkan sebagai musuh 

Kristen. Dengan masuknya orang-orang Turki Seljuk ini men-

jadi Muslim secara langsung telah membangkitkan kembali 

kekhalifahan Baghdad yang mulai redup.

sesudah  masuk Islam para penunggang kuda poni itu 

menjadi lebih beradab. Mereka yang pada awalnya tidak 

memperhatikan ilmu pengetahuan mulai sedikit demi sedikit 

memelajarinya. Cendekiawan dari berbagai daerah, khususnya 


dari Cordoba diundang untuk mengajarkan berbagai macam 

ilmu pengetahuan. Mereka juga mendatangkan berbagai 

macam buku. 

Sedikit demi sedikit perubahan ini  mulai tampak. 

Hal ini terlihat dari sistem pemerintahan yang mulai rapi 

dengan menganut sistem pemerintahan gaya Islam. Pun, 

pasukan mereka mulai ditata dengan baik. Penggabungan 

antara keberanian dan keuletan ini yang menjadikan orang-

orang Turki Seljuk semakin ditakuti. Sekarang mereka bukan 

bangsa nomoden lagi melainkan bangsa modern yang menjadi 

saingan Kekaisaran Bizantium. Ada dua matahari yang tengah 

bersinar dikawasan Asia dan Eropa. 

Tentu saja saat  dalam satu kawasan terdapat dua ma-

tahari maka peperangan yang hebat tidak dapat dihindari. 

Mereka akan berebut daerah yang lebih luas agar sinar mereka 

bisa menyinari segala penjuru. sebab , siapapun yang sinarnya 

paling luas maka akan mempunyai pundi-pundi kekayaan 

yang lebih besar.


Bara dan Sekam

KEKUATAN Turki Seljuk yang semakin besar membuat 

Kekaisaran Bizantium terpojok. Pada saat itu Bizantium 

diperintah oleh Kaisar Alexios Komnenos. Kaisar ini sebel-

umnya yaitu  jendral Konstantinopel yang berhasil merebut 

tahta pada 1081 M. Sebagai penguasa Bizantium dia memeras 

rakyatnya dan mewajibkan gereja menyetor emas untuk 

membangun angkatan perang yang kuat. Dengan angkatan 

perang yang dimilikinya, Alexios berhasil mengalahkan bangsa 

Normandia, Serb dan membantai bangsa Pecheneg dalam 

jumlah yang besar.

Prajurit yang kuat ternyata tidak membuat Alexios ten-

ang. Kekuatan Turki Seljuk yang mulai mengancam Bizantium 

membuat Alexios harus berpikir keras mempertahankan 

wilayahnya. sebab  merasa hanya mendapatkan bantuan 

dari Eropa maka Alexios meminta bantuan Paus Urbanus II 

di Konstantinopel. Gayung pun bersambut. Sang Paus yang 

merasa wilayah kekuasaan spiritualnya semakin terdesak 

menyambut dengan gembira permintaan Alexios I. 

Persekutuan Konstantinopel dan gereja ini ditindak lanjuti 

dengan mengadakan pertemuan akbar di Clermmont, Prancis 


selatan, pada tahun 1095. Dengan pidato yang berapi-api Paus 

Urbanus II membakar emosi umat Kristen:

“Hai orang-orang Frank, hai orang-orang di luar pegunungan 

ini, hai orang-orang yang dicintai Tuhan, yang jelas dari perilaku 

kalian, yang membedakan diri dari bangsa-bangsa lain di muka 

bumi ini, sebab  iman kalian, sebab  pengabdian kalian pada 

gereja suci; inilah pesan dan himbuan khusus untuk kalian….

Kabar buruk telah tiba dari Yerussalem dan Konstantinopel, 

bahwa sebuah bangsa asing yang terkutuk dan menjadi musuh 

Tuhan, yang tidak lurus hatinya, dan yang jiwanya tidak setia 

pada Tuhan, telah menyerbu tanah orang-orang Kristen dan 

membumihanguskan mereka dengan pedang dan api secara 

paksa.”

  

Provokasi ini  bertambah hebat sehingga bara dalam 

diri umat Kristen semakin berkobar-kobar:

“Tidak sedikit orang-orang Kristen yang mereka tawan untuk 

dijadikan budak, sementara sisanya dibunuh. Gereja-gereja, 

kalau tidak mereka hancurkan, mereka jadikan masjid. Altar-

altar diporak-porandakan. Orang-orang Kristen mereka sunat, 

dan darahnya mereka tuangkan pada altar atau tempat-tempat 

pembaptisan. Beberapa mereka bunuh secara keji, yakni dengan 

membelah perut dan mengeluarkan ususnya. Mereka tendang 

orang-orang Kristen, dan mereka dipaksa berjalan sampai keleti-

han, hingga terjerembab di atas tanah. Beberapa dipergunakan 

sebagai sasaran panah. Ada yang mereka betot lehernya, untuk 

dicoba apakah bisa mereka penggal dengan sekali tebas. Lebih 

mengerikan lagi perlakuan mereka terhadap perempuan.”

Begitu umat Kristen telah terbakar Paus Urbanus II me-

nyerukan untuk melawan orang-orang kafir ini :

“Kewajiban siapa lagi kalau bukan kalian, yang harus memba-

las dan merebut kembali daerah-daerah itu? Ingatlah, Tuhan 

telah memberi kalian banyak kelebihan dibandingkan dengan 

bangsa-bangsa lain: semangat juang, keberanian, keperkasaan 

dan ketidakgentaran menghadapi siapapun yang hendak mela-

wan kalian. Ingatlah pada keberanian nenek moyang kalian, 

pada kekaisaran Karel Agung dan Louis, anaknya serta raja-raja 

lainnya yang telah membasmi Kerajaan Turki dan menegakkan 

agama Kristen di tanah mereka. Kalian harus tergerak  oleh 

makam kudus Tuhan Yesus Sang Juru Selamat kita, yang kini 

ada di tangan orang-orang najis; kalian harus bangkit berjuang, 

sebab  kalian telah tahu, banyak tempat-tempat suci yang telah 

dikotori, diperlakukan secara tidak senonoh oleh mereka.”

Sebagai siraman minyak terakhir untuk membuat bara 

dendam di hati umat Kristen semakin membara, Paus Urba-

nus II berkata:

“Hai para ksatria pemberani, keturunan nenek moyang yang 

tak tertaklukkan, janganlah lebih lemah daripada mereka, namun  

ingatlah pada ketidakgentaran mereka. Jika kalian ragu-ragu 

sebab  cinta kalian kepada anak-anak, isteri, dan kerabat ka-

lian, ingatlah pada apa yang Tuhan katakan dalam Injil: “Ia 

yang     mengasihi ayah dan ibunya lebih daripada Aku, tidak 

pantas bagi-Ku.”….Jangan biarkan apa yang menjadi kepunyaan 

kalian menghambat kalian. Kalian tak perlu khawatir dengan 

apa yang menjadi kepunyaan kalian. Negeri kalian telah padat 

penduduknya, dan dari semua sisi tertutup laut dan pegunungan. 

Tak banyak kekayaan di sini, dan tanahnya jarang membuahkan 

hasil pangan yang cukup buat kalian. Itulah sebabnya sering ber-

tikai sendiri. Hentikan kesalingbencian dan pertengkaran kalian, 

hentikan peperangan antar sesama kalian. Bergegaslah menuju 

Makam Kudus, rebutlah kembali negeri itu dari orang-orang 

jahat, dan jadikan milik kalian. Negeri itu, seperti dikatakan di 

dalam Alkitab, berlimpah susu dan madu, Allah memberikannya 

kepada anak-anak Bani Israil. Yerussalem, negeri terbaik, lebih 

subur daripada lainnya, seolah-olah surga kedua. Inilah tempat 

Juru Selamat kita dilahirkan, diperintah dengan kehidupan-

Nya, dan dikuduskan dengan penderitaan-Nya. Bergegaslah, 

dan kalian akan memperoleh penebusan dosa, serta pahala di 

Kerajaan Surga.”

Dalam sejarah kepausan, pidato Paus Urbanus II meru-

pakan pidato yang paling berpengaruh. Pidato ini  telah 

membakar Eropa untuk maju melawan Kerajaan Turki, yang 

bagi mereka merupakan segerombolan orang-orang kafir yang 

tidak beradab. 

sesudah  pidato Paus Urbanus II usai, orang-orang yang 

berada di tempat itu meneriakkan slogan Deus Vult (Tuhan 

Memberkati) sambil mengacung-acungkan tangan. Maka 

demi negeri yang dikatakan al Kitab berlimpah susu dan madu, 

Allah memberikannya kepada anak-anak Bani Israil. Yerussalem, 

negeri terbaik, lebih subur daripada lainnya, seolah-olah surga 

kedua. Inilah tempat Juru Selamat kita dilahirkan, diperintah 

dengan kehidupan-Nya, dan dikuduskan dengan penderitaan-

Nya. Dan demi memperoleh penebusan dosa, serta pahala di 

Kerajaan Surga, mereka bergegas maju ke dalam medan per-

tempuran dengan membawa salib suci sebagai simbol.

Di antara pasukan Salib terdapat penjahat, pemerkosa 

dan pembunuh yang bergabung dalam Perang Suci ini  

dengan harapan akan mendapatkan penebusan dosa. Pun, para 

pedagang dari Pisa, Venesia dan Genoa yang ingin ikut berper-

ang demi alasan ekonomi/komersial; orang-orang romantis 

yang sebelumnya berputus asa dan selalu gelisah serta suka 

berpetualang. Sementara itu, orang-orang Prancis, Lorraine, 


Italia dan Sisilia bergabung demi membebaskan diri mereka 

dari kemiskinan yang merantai mereka. Semuanya bersatu 

untuk menggempur musuh yang sama: orang-orang Islam.

Tentang Perang Salib ini John L. Esposito, guru besar 

Universitas George Town, Amerika, memberikan analisa 

yang tajam: 

“Sebagian besar masyarakat Barat mengakui adanya kenyataan 

tertentu yang berhubungan dengan Perang Salib, namun  banyak di 

antara mereka yang tidak mengetahui bahwa  Perang Salib yang 

memicu  korban yang amat besar ini yaitu  atas perintah 

Paus. Bagi umat Islam, kenangan atas Perang Salib merupakan 

satu contoh nyata dari militerisasi Kristen ekstrim, sebuah ke-

nangan yang membawa pesan bagi serangan dan imperialisme 

Kristen barat.”

Pada 25 Agustus  1095, dimulailah rangkaian Perang 

Salib. Tujuan jangka pendek orang-orang Kristen sudah jelas, 

yaitu menguasai Bait al Maqdis. Sedangkan tujuan jangka 

panjangnya menguasai negeri-negeri Islam yang subur dan 

kaya sumber daya alam.

Pasukan Salib bergerak dengan jumlah 150.000 prajurit, 

sebagian besar merupakan bangsa Prancis dan Norman, 

berangkat menuju Konstantinopel, kemudian ke Palestina. 

Pimpinan mereka yaitu  Godfrey, Bohemond, dan Raymond. 

Mereka terus merangsek hingga mendesak pasukan Islam dan 

akhirnya memperoleh kemenangan besar. 


Jatuhnya Yerussalem

UMAT Islam tidak tinggal diam. Kekalahan demi kekelaman 

yang mereka alami kembali mengobarkan semangat jihad yang 

sempat padam. Mereka yang sebelumnya tercerai-berai sebab  

perebutan kekuasaan kembali menghimpun diri dalam satu 

kekuatan yang besar. 

Kali ini pasukan Islam dipimpin oleh Imaduddin Zanki, 

penguasa Moshul dan Irak, sebab  keberaniannya melawan 

pasukan Salib dia digelari “Palu Pemukul.” Dengan semangat 

yang membara mereka bergerak ke arah Aleppo. Luasnya dan 

panasnya padang pasir tidak mereka hiraukan lagi. 

Peperangan pertama Zanki dan pasukannya dengan pa-

sukan Salib terjadi di Edessa. Wilayahnya ini sebab  letaknya 

yang berdekatan dengan Baghdad serta posisinya yang berada 

di jalur Mesopotamia dan Mediterania, merupakan benteng 

terluar Kerajaan Latin di Suriah selama setengah abad. Wilayah 

ini akhirnya bisa direbut oleh Zanki dari Joscelin II pada tahun 

1144 M. Di wilayah ini pasukan Salib memang mempunyai 

kekuatan yang besar, tapi mereka tidak didukung oleh sistem 

pertahanan yang kuat.

sesudah  kematian Zanki tugasnya diambil alih oleh 

anaknya, Numuddin Zanki. Numuddin berhasil merebut 

kembali Antiochea pada tahun 1149 M dan pada tahun 1151 

M seluruh Edessa dapat direbut kembali. 

Jatuhnya Edessa membuat orang-orang Kristen panik. 

Mereka sadar jika pasukan Islam telah maju dan menemukan 

kepercayaan dirinya maka akan sulit untuk dibendung. Oleh 

sebab  itu, pasukan Salib segera menyiapkan diri. Kali ini 

yang memprovokasi pasukan Salib yaitu  Paus Eugenius III. 

Sang Paus menyatakan bahwa Perang Salib II harus segera 

dilakukan demi menyelamatkan Kota Suci dari gempuran 

orang-orang kafir. Seruan Paus mendapatkan sambutan yang 

positif oleh raja Perancis, Louis VII, dan raja Jerman, Con-

drad II. Keduanya memimpin pasukan Salib untuk merebut 

wilayah Kristen di Siria. Akan namun  gerak mereka tertahan 

oleh pasukan Numuddin Zanki. Sampai peperangan usai 

pasukan Salib tak pernah bisa menginjakkan kaki mereka di 

Damaskus. Sementara itu, pimpinan mereka, Louis VII dan 

Condrad II melarikan diri pulang ke negerinya. 

Keberhasilan pasukan Numuddin memukul pasukan Salib 

menambah semangat umat Islam. Mereka semakin giat berlatih 

untuk mempersiapkan diri merebut kembali Yerussalem. Pada 

saat persiapan ini  hampir mencapai puncaknya, pada 

tahun 1174 M Numuddin wafat. sesudah  wafatnya Numuddin 

pimpinan perang dipegang oleh Shalahuddin al Ayyubi— ia 

merupakan pendiri dinasti Ayyubiyah di Mesir tahun 1175 M. 

Shalahuddin atau juga dikenal sebagai Saladin meru-

pakan panglima perang yang pemberani. Sejak pertama kali 

memegang jabatan sebagai panglima perang dia langsung 

membulatkan niatnya untuk merebut kembali Yerussalem. 

Dia mengerahkan pasukannya untuk mengusir pasukan Salib 

dari Yerussalem. Pada 1 Juli 1187 M, Saladin berhasil merebut 

Tiberias sesudah  berperang selama enam hari. Keberhasilan ini 

kemudian dilanjutkan dengan perang besar-besaran melawan 

pasukan Salib. Perang ini kemudian dikenal dengan nama 

Perang Hattin, yang berlangsung 3-4 Juli. Saladin memulai 

peperangan pada hari Jum’at—hari yang merupakan favorit-

nya. Kekuatan Islam berhasil menaklukkan tentara Salib yang 

berjumlah 20.000 orang.

Selepas kemenangan dalam Perang Hattin, Saladin terus 

bergerak ke Yerussalem. sesudah  seminggu mengepung Yerus-

salem, pada 2 Oktober 1187 M, Saladin berhasil merebut kota 

ini . Di Masjid Aqsha, kumandang adzan menggantikan 

lonceng gereja. sesudah  selama 88 tahun dalam genggaman 

pasukan Salib akhirnya Yerussalem bisa direbut kembali 

oleh umat Islam. (Tentang Saladin baca box: Saladin: Sang 

Penakluk Yerussalem). 

Saladin: 

Sang Penakluk Yerussalem

  Saladin dilahirkan di Kurdish, Tikrit. Oleh ayahnya 

dia kemudian dikirim ke Damsyik untuk belajar ilmu 

pengetahuan. Selama 10 tahun Saladin tinggal di Damsyik 

di kawasan istana milik Nur ad Din. Ayah Saladin, Najm 

ad-Din Ayyub, ialah Gubernur Baalbek.

  Pendidikan militer didapatkan Saladin dari saudara 

ayahnya, Shirkuh, yang pada waktu itu merupakan pan-

glima perang Nur al Din, dan sering mewakili Nur al Din 

dalam kampanye melawan Kerajaan Fatimiyyah di Mesir. 

Tugas untuk melawan Kerajaan Fatimiyyah kemudian dis-


erahkan pada Saladin. Berkat keberhasilannya dia diangkat 

menjadi panglima perang pada tahun 1169 M. 

  Sewaktu menjadi panglima perang di Mesir, wilayah ini 

merupakan salah satu benteng umat Islam dari gempuran 

pasukan Salib. Awalnya Saladin diragukan bisa bertahan 

dari gempuran Kerajaan Latin Baitulmuqaddis pimpinan 

Almaric I. Akan namun , sesudah  dia berhasil menunjuk-

kan kepiawaiannya di medan perang sedikit demi sedikit           

orang-orang yang meragukan Saladin mulai luruh. 

  Begitu Numuddin wafat, Saladin langsung mengambil 

alih posisi panglima perang. Langkah pertama yang diambil 

Saladin untuk mengalahkan pasukan Salib yaitu  dengan 

mengorganisasikan kekuatan. Ia mengumpulkan kekuatan-

kekuatan di Siria yang awalnya terpecah belah. Sambil 

menjalankan tugas ini, Saladin beberapa kali melakukan 

serangan-serangan terhadap pasukan Salib. Pada 25 Nopem-

ber 1177 M, Saladin bertempur dengan pasukan Salib dalam 

Perang Montgisard. Pada saat itu pasukan Salib dipimpin 

oleh Raynald dan Ksatria Templar. Pada peperangan ini 

Saladin mengalami kekalahan.

  Selepas kekalahan dalam Perang Montgisard, Saladin 

tidak mundur. Justru dia bergerak maju kembali sehingga 

bisa mengusir pasukan Salib. Selama pada masa perang 

ketegangan diantara kedua kubu semakin memanas saat  

Raynald mengganggu para pedagang dan orang-orang yang 

berangkat haji di Laut Merah. Raynald juga mengancam 

akan menyerang Makkah dan Madinah. Terhadap tinda-

kan ini  Saladin menyerang kubu Raynald di Kerak 

pada tahun 1183 M dan 1184 M. Sebagai balasan terhadap 

serangan Saladin, pada tahun 1185 M Raynald membunuh 

kabilah yang akan menunaikan ibadah haji.

  Tindakan ini  tentu membuat umat Islam marah. 

Sebagai pimpinan pasukan Islam, Saladin segera melancar-

kan serangan besar-besaran. Pada 4 Juli 1187 M, pecahlah 

Perang Hattin. Dalam peperangan ini pasukan Saladin 

memperoleh kemenangan besar dan berhasil menangkap 

Raynald. Saladin kemudian memancung kepala Raynald di 

depan pasukannya.

  Kemenangan dalam Perang Hattin menambah semangat 

umat Islam. Bersama pasukannya, Saladin terus begerak dan 

merebut kota-kota yang dikuasai pasukan Salib. Puncaknya, 

pada 2 Oktober 1187 M, Saladin berhasil merebut kembali 

Yerussalem. Berbeda saat  pasukan Salib merebut kota ini 

dengan membantai seluruh umat Islam, Saladin membiar-

kan umat Kristen aman di dalamnya. Mereka diberikan 

jaminan untuk menjalankan ibadah. Berita bahwa Saladin 

tidak melukai satupun umat Kristen membuat Paus di 

Roma mati mendadak sebab  terkejut ada manusia semulia 

itu.

  Keberhasilan Saladin ini terus dikenang sepanjang masa. 

Sikap ksatrianya membuat dirinya dihormati oleh lawan 

maupun kawannya. Orang-orang Eropa yang biasanya 

menganggap sebelah mata pahlawan-pahlawan Islam begitu 

menghormati Saladin. Dua sastrawan besar Eropa, Dante 

dalam Limbo dan Sir Walter Scott dan The Talisman, 

menjadikan Saladin sebagai tokohnya. Sementara itu, Raja 

Richard memuji Saladin sebagai seorang putera agung dan 

merupakan pemimpin paling hebat dalam dunia Islam. 

  Akhirnya, Saladian, Sang Penakluk Yerussalem, wafat 

pada 4 Maret 1993 M di Damsyik, tidak lama sesudah  kema-

tian Raja Richard. saat  umat Islam membuka peti milik 

Saladin guna membiayai biaya penguburan, mereka hanya 

mendapatkan sekeping uang emas dan empat uang perak. 

Selama hidupnya, Saladin memang telah memberikan har-

tanya untuk fakir miskin.

  Kini, Saladin terbaring dengan tenang di pusaranya yang 

berada di dekat Masjid Umayyah, Suriah.


Jatuhnya Yerussalem ke tangan kaum Muslimin sangat 

memukul perasaan pasukan Salib. Mereka pun menyusun ren-

cana balasan. Kali ini salib dipikul oleh tiga orang; Frederick 

Barbarossa, raja Jerman, Richard the Lion Hart, raja Inggris, 

dan Philip Augustus, raja Perancis. Pasukan Salib kembali 

bergerak menuju Yerussalem pada tahun 1189 M. Meski ber-

hasil merebut Akka, mereka tidak pernah berhasil memasuki 

Yerussalem sebab  tak mampu melawan pasukan Saladin.

Pada periode selanjutnya Saladin membuat perjanjian per-

damain dengan pasukan Salib. Bentuk perdamain ini memang 

bisa dikatakan unik. Sebagai penganut paham romantik, Rich-

ard, raja Inggris saat itu mengajukan saudara perempuannya 

untuk menikah dengan saudara laki-laki Saladin, al Malik al 

Adil. Sebagai mas kawin dari pernikahan ini  yaitu  kota 

Yerussalem. Lewat cara ini maka perselihan antara umat Kris-

ten dengan umat Muslim diakhiri. Pada 2 Nopember 1192 M, 

perjanjian perdamainan ini  disahkan, dengan ketentuan 

daerah pantai milik bangsa Latin sedangkan daerah pedalaman 

milik umat Islam, dan peziarah yang datang ke Yerussalem 

tidak boleh diganggu. 


Babakan Selanjutnya 

Perang Salib

PERJANJIAN damai yang digagas oleh Saladin dan Richard 

hanya bertahan kurang lebih 30 tahun. Pada tahun 1219 M 

Perang Salib pecah lagi. Pasukan Salib yang dipimpin oleh 

raja Jerman, Frederick II berhasil menduduki Dimyat. sebab  

terdesak, raja Mesir dari Dinasti Ayyubiyah waktu itu, al 

Malik al Kamil, membuat penjanjian dengan Frederick II. 

Isi perjanjiannya antara lain bahwa Frederick II bersedia me-

lepaskan Dimyat, sementara al Malik al Kamil melepaskan 

Yerussalem; Frederick II menjamin keamanan kaum Musli-

min di sana, dan Frederick II tidak mengirim bantuan kepada 

pasukan Kristen di Siria. 

Selama 28 tahun Yerussalem berada dalam genggaman 

pasukan Salib. Selama masa ini  pasukan Islam berusaha 

merebut Yerussalem. Dan, baru berhasil pada tahun 1247 M 

M, di masa pemerintahan al Malik al Shalih, penguasa Mesir 

waktu itu. saat  Mesir dikuasai oleh Dinasti Mamalik yang 

menggantikan posisi Dinasti Ayyubiyah, pimpinan perang 

dipegang oleh Baybars dan Qalawun. Pada masa ini Akka 

dapat direbut kembali pada tahun 1291 M. 


sesudah  periode ketiga ini yang terjadi kemudian yaitu  

pertempuran kecil-kecilan. Pertempuran besar kembali 

pecah kurang lebih dua abad kemudian saat  pasukan 

Turki Ottoman berhasil merebut Konstantinopel pada tahun 

1453 M.


Pengaruh Perang Salib

SECARA umum Perang Salib membawa kemajuan bagi ma-

syarakat Eropa. Pada masa itu masyarakat Eropa yang berada 

dalam zaman kegelapan mendapatkan cahaya benderang dari 

peradaban Islam. Orang Kristen yang terkesima dengan per-

adaban baru ini  segera memelajari segala macam ilmu 

pengetahuan. Proses ini tidak hanya menghasilkan cendeki-

awan Kristen dari kalangan laki-laki tapi juga perempuan. Di 

antara cendikiawan perempuan yang menojol pada abad ke-12 

yang merupakan didikan peradaban Islam antara lain Heloise, 

Hildegard Von Bingen dan Elanor dari Aquitaine.

Terhadap proses penyerapan Kristen terhadap peradaban 

Islam, Will Durant, seorang sejarawan kenamaan memberikan 

ulasan mengenai infiltrasi ini  di sepanjang Perang Salib 

sebagai berikut:

“Infiltrasi dunia Kristen terhadap Islam hanya terbatas pada se-

bagian budaya agama dan perang, namun  dunia Islam melakukan 

berbagai infiltrasi dalam dunia kristen. Sebaliknya, dari Islam, 

Eropa mengadopsi makanan, minuman, obat-obatan, kedok-

teran, persenjataan, selera dan kecenderungan seni, metode in-

dustri dan perdagangan, undang-undang, dan metode kelautan.”


Namun sayang, walaupun mereka telah berhutang budi 

terhadap peradaban Islam, rasa permusuhan mereka terhadap 

umat Muslim tak pernah surut. Seorang sejarawan, Twin B, 

mengatakan, “Orang-orang Kristen mengambil manfaat dari 

kemajuan peradaban dan kesenian umat Islam namun  permu-

suhan bersejarah fanatisme Kristen dengan Islam tidak pernah 

berkurang.”

Rasa permusuhan umat Kristen terhadap umat Islam 

semakin memuncak saat  Konstantinopel jatuh ke dalam 

kekuasaan Kerajaan Turki Ottoman. Mereka menggambarkan 

citra Islam sedemikan buruknya. William Montgomery Watt 

menuliskan bahwa wajah Islam telah diubah oleh para pendeta 

Kristen. Dalam gambaran umat Kristen, Islam merupakan 

agama yang ditegakkan dengan pedang dan kekerasan. 

Perusakan gambaran yang dilakukan umat Kristen 

terhadap umat Islam lebih banyak disebabkan inferioritas 

mereka pada abad X-XV. Pada rentang abad ini  perada-

ban Kristen jauh tertinggal dari peradaban Islam. Salah satu 

mercusuar peradaban Islam saat itu yaitu  Cordoba, yang 

sinar ilmu pengetahuannya menyinari seluruh penjuru dunia. 

Pada saat itu di perpustakaan-perpustakaan Islam di Cordoba 

para intelektual berkumpul untuk melakukan penerjemahan 

berantai; orang Yahudi menerjemahkan dari bahasa Arab ke 

bahasa Spanyol, orang Kristen menerjemahkan dari bahasa 

Spanyol ke bahasa Latin. Lewat cara inilah ilmu pengetahuan 

dari segala penjuru bisa diserap. Namun rupa-rupanya Barat 

tidak mau menerima kenyataan ini. Dengan merusak citra 

Islam, Barat berusaha mengaburkan kejayaan ini , dan 

kemudian membelokkan arah sejarah.

Sampai kini bekas luka Perang Salib masih membekas 

di hati orang-orang Barat. Sebagaimana biasa mereka beru-

saha mengubah kekalahan dalam perang ini  dengan 

menciptakan pahlawan-pahlawan baru. Tak mengherankan 

Islam digambarkan sebagai agama kaum teroris sedangkan 

mereka—Barat—yaitu  pahlawan-pahlawan yang menumpas 

para teroris yang meresahkan masyarakat. 

Bagi umat Islam sendiri, Perang Salib menyebabkan per-

asaan inferior. Umat Islam yang mempunyai pahlawan seperti 

Saladin dan Mehmed II menjadi kehilangan kepercayaan diri 

begitu kekuasaan Islam mengalami kemunduran pada abad 

pertengahan. Umat Islam menjadi bangsa yang tertutup dan 

mengisolasi diri dari kehidupan masyarakat secara luas. Ilmu 

pengetahuan dan teknologi yang pada awalnya menjadi ujung 

tombak kemajuan umat Islam, pelan-pelan ditinggalkan. 

Para pemimpin agamanya kemudian hanya berkutat pada 

persoalan-persoalan formal keagamaan dan semakin memung-

gungi ilmu pengetahuan. Maka lengkap sudah kemunduran 

umat Islam, apalagi sesudah  Cordoba jatuh ketangan Barat. 

Tentang kondisi ini, Peter Mansfield berpendapat, “Diserang 

dari berbagai arah, dunia Islam berpaling ke dirinya sendiri. 

Ia menjadi sangat sensitif dan defensif…Sikap yang tumbuh 

menjadi semakin buruk seiring dengan perkembangan dunia, 

suatu proses dimana dunia Islam merasa dikucilkan, terus 

berlanjut.”

Perasaan inferior ini  masih bertahan hingga kini. 

Sikap ini menyebabkan umat Islam semakin surut ke belakang 

sehingga tangan-tangan Barat dengan mudah mencengkeram 

pola pikir masyarakat Muslim. Saat ini, pola pikir dan budaya 

Barat dengan mudah dan leluasa memasuki relung-relung 

kehidupan umat Islam. Mereka menebarkan racun-racun dan 

bom waktu agar umat Islam semakin melupakan jati dirinya 

dan sejarahnya sendiri.  


jika  tidak mau terus-menerus dijajah oleh Barat, umat 

Islam harus bersatu. Perlawanan dalam segala aspek kehidu-

pan—ekonomi, politik, budaya dan lain sebagainya—harus 

dilakukan. Dengan cara inilah maka masyarakat Muslim akan 

bisa keluar dari penjajahan Barat. Sehingga jati diri sebagai 

umat yang pernah menjadi mercusuar dunia akan didapatkan 

lagi.


Dracula si Penyula

Selama ini kisah hidup Dracula diliputi oleh mitos. Sos-

oknya seolah berada antara ada dan tiada. Kekejamannya 

dianggap hanya imajinasi Bram Stoker dalam novelnya, 

Dracula. Inilah yang membuat dirinya hanya dianggap se-

bagai legenda cerita dari mulut ke mulut. Padahal, sejarah 

hidup Dracula merupakan sejarah kegelapan abad perten-

gahan. Kisah hidupnya yaitu  kisah banjir darah yang 

belum ada tandingannya hingga kini. Dan, kekajamannya 

tak bisa dipisahkan dengan Perang Salib serta jatuhnya 

Konstantinopel ke tangan Kerajaan Turki Ottoman.


 Si Negru 

SEROMBONGAN pengembara berkuda dengan ternak-

ternak mereka akhirnya sampai di lembah Sungai Arges. 

Sungai ini  mengalir sepanjang tahun seperti Sungai Nil, 

menebarkan kesuburan di daerah yang dilaluinya. Airnya 

seperti mengalir dari air mata seorang ibu, bening dan berkilau 

memantulkan cahaya matahari. Lembah-lembah di sekitar 

sungai menghampar menghijau laiknya permadani yang baru 

disisir. Si pimpinan pengembara turun dari kudanya. Dia 

naik ke bukit yang ditumbuhi pepohonan sebesar rengkuhan 

tangan orang dewasa. Kaki-kakinya yang kokoh menjejak 

tanah menyibak dedaunan kering yang terhampar tak ber-

daya. Langkahnya begitu mantap seperti langkah seseorang 

yang menuju altar suci. Sesampai di tempat yang agak tinggi 

dia berhenti. Matanya menatap berkeliling. Ada rasa puas 

tersungging di senyumnya. 

Si pemimpin pengembara itu bernama Radu Negru. Dia 

sering dipanggil Rudolf Yang Hitam. Negru dan rombongan-

nya turun dari gunung—tempat perlidungan mereka—begitu 

kekuatan Mongolia mulai surut dan cerai-berai. Sebelum 


melemah, orang-orang Mongolia memang membuat suku-

suku yang lain gentar. Tak sedikit yang melarikan diri kepe-

gunungan untuk menyelamatkan diri. Memang penghancur 

kota Baghdad itu membuat miris. Nah, pada saat kekuasaan 

Mongol mulai melemah, suku-suku yang melarikan diri mu-

lai turun gunung. Mereka membelah hutan dan menyusuri 

lembah untuk mencari daerah yang cocok untuk bermukim. 

Dan, sebagai salah satu kelompok pelarian, Radu Negru men-

emukan Wallachia pada tahun 1290 M. 

Sebelumnya Wallachia dikenal dengan nama Vlachs, 

sebuah daerah yang terletak di antara Sungai Danube dan Pe-

gunungan Carpathia. Sungai Danube membelah wilayah ini, 

memisahkannya dengan Bulgaria di sebelah selatan. Sementara 

itu, Pegunungan Carpathia memisahkannya dengan Transyl-

vania di utara. Pada awalnya penduduk Wallachia terdiri dari 

empat suku. Di daerah selatan didiami suku Saxon yang ber-

baur dengan suku Wallach. Di sebelah barat bermukim suku 

Magyar, dan suku Szekely di timur serta utara; suku Szekely 

mengaku sebagai keturan suku Atilla dan bangsa Hun.

Wallachia sebetulnya merupakan kota tua. Awalnya 

daerah ini merupakan bagian dari Kekaisaran Romawi Kuno. 

Wilayahnya yang berada di tengah-tengah antara Eropa dan 

Asia Kecil menyebabkan banyak kerajaan-kerajaan besar 

ingin menguasainya. Dari tempat ini pasukan perang bisa 

menyebar ke arah utara menuju negeri-negeri Balkan dan Jer-

man, ke selatan menuju Yunani atau Turki. sesudah  beberapa 

waktu berada dalam genggaman Kekaisaran Romawi Kuno, 

pada tahun 332 M Goth menyerang bagian selatan dan utara 

Sungai Danube, dan berhasil menguasai Wallachia. Kekuasaan 

Goth atas Wallachia berakhir saat  Hun datang dan merebut 

daerah ini.


Mungkin sudah menjadi takdir sejarah kalau Wallachia 

harus berpindah-pindah penguasa. Pada kurun selanjutnya 

daerah ini menjadi rebutan antara Bizantium dan orang-orang 

Turki. Bizantium yang memantapkan kekuasaannya di Kon-

stantinopel bersaing dengan pengembara Turki yang semakin 

agresif menjelajahi dunia. Namun, saat  bangsa Mongol 

datang, keduanya mundur dan Wallachia ditinggalkan oleh 

penduduknya. Orang-orang Mongol yang terkenal dengan 

kekejamannya membuat penduduk Wallachia lebih memilih 

melarikan diri ke gunung daripada menjadi daging cincang dan 

korban penjarahan. Untuk beberapa waktu kekuatan Mongol 

memang tak ada yang bisa menandingi. Kekuatan mereka 

yang bisa menerjang bak tsunami membuat kerajaan lain 

menyingkir. Waktu itu seolah-olah orang-orang  Mongollah 

yang akan menguasa dunia. Tapi hukum besi sejarah berkata 

lain. Kekuatan yang tidak takut dengan pedang dan tombak 

ini akhirnya harus menyerah pada tikus. Ribuan tikus yang 

membawa wabah pes telah menebarkan maut di Eropa dan 

sebagian Asia. Bangsa Mongol yang hampir menguasai seluruh 

Eropa lari lintang pukang sebab  tak sanggup menghadapi mu-

suh yang tak kelihatan ini. Mereka tak peduli dengan jarahan 

lagi. Mereka hanya peduli dengan nyawa yang hanya sebiji, 

meninggalkan Eropa untuk menyelamatkan diri. 

Sejak kepergian orang-orang Mongol banyak sekali dae-

rah-daerah yang tak bertuan. Kota-kota yang porak- poranda 

sebab  penghancuran orang-orang Mongol menjadi semakin 

merana. Rumput dan lumut menjarah seisi kota. Kalau malam 

hari kota-kota ini  akan mirip kota hantu dengan suara 

serigala yang mengaung dari segala penjuru. 

Lambat laun saat  para pengungsi dari gunung mulai 

turun, geliat kehidupan mulai terasa. Mereka membersihkan 

kota-kota tak berpenghuni, membabat rumput dan memulai 


kehidupan. Salah satu daerah yang mendapat berkah kehidu-

pan itu yaitu  Wallachia. Radu Negrulah yang menjadikan 

Wallachia memperoleh kehidupannya kembali. Dan kelak, 

sejarah tentang kekejaman akan tergoreskan di sini. 

Gambar 1: Tanda X merupakan wilayah Wallachia

 

Beberbeda dengan ciri khas kekuasaan feodal dimana 

seorang anak lelaki tertua mewarisi tahta ayahnya, di Walla-

chia hal itu tidak berlaku. Di wilayah ini peranan tuan tanah 

(bayor) sangat besar. Sebagai pemilik tanah yang luas dan 

petani-petani miskin, para bayor bisa menentukan siapa yang 

berhak menjadi penguasa di Wallachia. Bila raja yang terpilih 

ternyata tidak memuaskan maka mereka bisa melakukan 

penyingkiran—entah dibuang atau dibunuh. Keadaan seperti 

inilah yang menyebabkan Wallachia menjadi tidak stabil, 

sering terjadi perselisihan dan pembantaian. 

Dalam sejarah Wallachia paska Radu Negru, pertentangan 

untuk memperebutkan kekuasaan sering terjadi antara Mir-

cea Tua—kakek Dracula—dengan keluarga Dan II (Denesti). 


Mereka merupakan dua keluarga besar di Wallachia yang sal-

ing berebut pengaruh untuk mengendalikan para bangsawan, 

tuan tanah dan para petani. Tentang kondisi Wallachia yang 

tidak stabil, Badu Bogdan, seorang penulis kenamaan Rumania 

mengatakan, “Di dalam kerajaan terdapat keluarga-keluarga 

besar. Mereka saling berebut kekuasaan. Akibatnya, kerajaan 

menjadi tidak stabil.”

Tak jarang pula perebutan kekuasaan itu semakin mema-

nas saat  campur tangan dari luar masuk. Hal ini semakin 

terasa saat  Perang Salib semakin meluas. Letak Wallachia 

yang berada ditengah-tengah dua kekuatan besar, Kerajaan 

Honggaria (Kristen) dan Turki Ottoman (Islam), menye-

babkan wilayah ini selalu panas oleh aroma suksesi politik. 

Kedua kekuatan besar itu saling berebut pengaruh di daerah 

ini, berusaha agar penguasa Wallachia yaitu  orang yang bisa 

mereka kendalikan. Inilah yang membuat Wallachia mempu-

nyai arti penting selama Perang Salib berlangsung.


SEBELUM melangkah lebih jauh menjejak riwayat Dracula 

maka ada baiknya dikupas terlebih dahulu tentang Vlad II, 

ayah Dracula. Dia bernama asli Basarab. Kalau diruntut garis 

keturunannya, Basarab merupakan anak tidak sah dari Mircea. 

Oleh sebab  itu, saat  Mircea meninggal dunia, tahta kerajaan 

tidak turun pada Basarab tapi pada saudaranya, Mihail. Hal 

ini tidak membuat Basarab kecewa, dia justru merasa senang. 

Selepas ayahnya meninggal, Basarab bergabung dengan 

Kerajaan Honggaria. Di tempat inilah dia mendapatkan be-

ragam ilmu pengetahuan dari guru-guru Eropa terbaik yang 

hidup saat itu. Segala ilmu dia pelajari. Tak mengherankan 

kalau dia lebih menonjol di antara yang lain. Kemajuan-

kemajuan yang diperoleh Basarab ini  menarik minat raja 

Honggaria, Sigismund. saat  sang raja membentuk pasukan 

elit sebagai garda depan Perang Salib, Basarab resmi direkrut. 

Pada saat Mihail meninggal pada tahun 1421 M, Basarab 

sebetulnya mempunyai kesempatan untuk mengambil alih 

kekuasaan Wallachia. Tapi dia merasa tak mampu bersaing 

dengan saudara-saudara tirinya. Sebagai jalan keluar dia me-


minta bantuan pada Sigismund agar mau mendukungnya. Na-

mun, Sigismund menolak permintaan ini  dengan alasan 

Basarab masih muda dan belum berpengalaman. Sigismund 

pun akhirnya mendukung Danejsti, saudara tiri Basarab.

Rupanya Sigismund mempunyai rencana lain. Dia men-

gangkat Basarab sebagai duta besar di Konstantinopel, ibukota 

Bizantium. Tugas utamanya yaitu  sebagai penghubung antara 

ajaran Katolik Roma di barat dengan ajaran Katolik Ortho-

doks di timur. Memang sudah sejak lama antara dua ajaran ini 

tidak bisa disatukan. Secara hirarki gereja keadaan ini tentu 

saja melemahkan posisi Paus sebab  dia tidak bisa mengambil 

kendali secara penuh terhadap umat Katolik. Oleh sebab nya 

guna memperoleh kekuasaan penuh terhadap umat Katolik, 

Paus Pius II di Roma berusaha menyatukan dua kelompok 

ini . Guna mewujudkan rencananya Paus memakai ar-

gumentasi bahwa umat Katolik sedang menghadapi musuh 

bersama—umat Islam— maka tidak sepatutnya kalau sesama 

agama Kristus terpecah-belah. Paus kemudian meminta pada 

Sigismund agar mengirim duta besar ke Konstantinopel. Be-

gitu mendapat perintah itu, Sigismund mengangkat Basarab 

sebagai duta besar, dan atas pilihan raja Honggaria ini  

Paus Pius II sangat senang.

Kaisar Bizantium, John VIII Paleologus, menerima 

kedatangan Basarab dengan baik. Dia menganggap Basarab 

selain sebagai lelaki yang cerdas juga mempunyai kesopanan 

yang tinggi. Terhadap tugas yang diemban Basarab, Kaisar 

mengatakan bahwa rencana untuk menyatukan dua keyaki-

nan ini  sangat bagus tapi waktunya belum tepat.  Dia 

mengatakan bahwa fokus Kekaisaran Bizantium saat ini yaitu  

menghadapi serangan Mongol dan orang-orang Turki. Den-

gan kondisi ini  Kaisar mengatakan mungkin pada lain 


waktu pembicaraan tentang penyatuan itu bisa dibicarakan 

lagi secara lebih mendalam.

Jawaban ini  kemudian dibawa Basarab kembali ke 

Honggaria. Sebelum ke Honggaria dia singgah ke Moldavian. 

Sudah sejak lama Basarab mempunyai hubungan yang baik 

dengan Moldavian. Sebagaimana tradisi para bangsawan pada 

abad pertengahan maka agar hubungan ini  bertambah 

kuat maka Basarab dinikahkan dengan saudara Pangeran 

Alexandru yang bernama Cneajna. Mereka menikah dalam 

suatu misa raya pada tahun 1427 M. 

Pada tahun 1431 M, saat  istrinya mengandung anak ked-

ua mereka, Basarab dipanggil kembali ke Honggaria. Sesampai 

di Honggaria dia diminta untuk menjadi salah satu panglima 

perang guna menghadapi serangan pasukan Turki yang telah 

berhasil merebut Serbia dan Bulgaria. Saat itu posisi Sigismund 

memang sedang sulit. Sigismund sadar bahwa pasukannya 

akan mengalami kesulitan bila menghadapi pasukan Turki 

Ottoman. Agar mendapatkan tenaga segar dia mengambil 

jalan keluar dengan mengangkat para bangsawan baru yang 

berasal dari petani untuk menjadi panglima perang. Mereka 

inilah yang kemudian dimasukkan ke dalam Orde Naga. 

Oleh Sigismund, Basarab diangkat menjadi panglima 

militer di Transylvania. Pada saat yang bersamaan Basarab 

memindahkan keluarganya ke benteng Sighisoara, Transyl-

vania. Dia bersama keluarganya tinggal di sebuah vila yang 

dikelilingi tembok benteng.  Di tempat inilah istri Basarab 

melahirkan anak keduanya, Dracula. 

Vlad III atau Vlad Tepes (nama asli Dracula) dilahirkan 

pada bulan November atau Desember 1431 M, di benteng 

Sighisoara, Transylvania, Rumania. Pada saat dia lahir 

ayahnya, Basarab/Vlad II, diangkat menjadi gubernur militer 


Orde Naga:

Benteng Salib Melawan Islam

  Usia Orde Naga sebenarnya sudah sangat tua, berabad-

abad sebelum Masehi. Sejarah mencatat bahwa orde ini 

sudah ada di Mesir pada tahun 2170 SM, pada masa pemerin-

tahan Ankhfinkhonsu. Namun secara formal baru dibentuk 

pada masa dinasti ke-12 Sobeknefru (1785-1782 SM). 

  Pada awalnya Orde Naga merupakan kelompok per-

saudaraan yang jejaknya bisa ditelusuri pada suku Anun-

naki yang tinggal di lembah Mesopotamia. Ia merupakan 

suatu lembaga yang terpisah dari hirarki kekuasaan pemer-

intahan, yang biasanya bertugas mengembangkan ilmu 

pengetahuan. Mereka dipilih dari orang-orang terpandai 

di daerah itu. Orde ini menjadi eksklusif sebab  hanya 

orang-orang tertentu saja yang bisa menjadi anggotanya.

  Di Mesir, awalnya Orde Naga merupakan tempat ber-

kumpul para pendeta untuk mengajarkan Taurat. Namun 

tugas ini diubah saat  Raja Raneb (2852-2813 SM) naik 

tahta. Kalau sebelumnya pendeta mempunyai tugas yang 

berhubungan dengan segala bentuk ritual agama maka 

sejak saat itu tugasnya diubah menjadi memelihara dan 

mengajarkan kebijaksanaan. Mereka inilah yang menjaga 

kelangsungan pendidikan putra mahkota agar siap menjadi 

raja.

di Transylvania oleh Raja Honggaria, Sigismund. Oleh sang 

raja Vlad II dijadikan anggota dari Orde Naga. [Tentang Orde 

Naga lihat Box: Orde Naga: Benteng Salib Melawan Islam]. 


  Bersamaan dengan melajunya waktu, tradisi Orde Naga 

di Mesir mulai melemah. Meluasnya kekuasaan kerajaan 

menyebabkan anggota orde tidak bisa lagi mengontrol tra-

disi mereka. Akibatnya, raja-raja saling berebut kekuasaan 

dengan pedang. 

  Ribuan tahun kemudian Orde Naga dibangkitkan 

kembali oleh St. Goerge. Adanya Perang Salib mengha-

ruskan umat Katolik mempunyai pasukan khusus yang 

berada di garda depan untuk menghadapi pasukan Islam. 

sebab  tugasnya begitu membahayakan maka mereka ha-

rus mendapatkan pendidikan khusus dan dengan bentuk 

organisasi yang sangat tertutup. Biasanya mereka yang ma-

suk dalam orde ini akan disumpah terlebih dahulu dengan 

al Kitab bahwa mereka akan setia. Dan, bagi anggota orde 

yang berkhianat hukuman mati yaitu  ganjarannya. 

  Pada tahun 1408 M, sesudah  kemenangan yang menen-

tukan di Bosnia terhadap pasukan Turki Ottoman, Sigis-

mund berusaha memperluas keanggotaan Orde Naga. Dia 

menyadari bahwa ancaman Turki semakin besar sebab  

mereka sudah berada di dekat Konstantinopel yang saat 

itu menjadi pusat kerajaan Katolik dunia. jika  keadaan 

ini tidak ditanggulangi maka bisa saja pasukan Turki akan 

bergerak ke arah Honggaria. Oleh sebab  itu, Sigismund 

membutuhkan benteng yang kokoh berupa pasukan elit 

yang terlatih. Dan, itu hanya bisa dilakukan oleh anggota 

Orde Naga.

  Sigismund segera menarik para bangsawan yang berada 

di wilayah kekuasaannya masuk dalam Orde Naga. Di 

antara mereka juga terdapat bangsawan-bangsawan baru, 

yang sebab  jasanya pada pasukan Salib mendapat perhatian 

khusus dari sang raja. Sejak rekrutmen baru ini anggota 

Orde Naga bertambah dua kali lipat. Dan, secara resmi 

pada tanggal 13 Desember 1408 M lambang dari Orde Naga 

diperlihatkan di depan publik.

  saat  pertempuran dalam Perang Salib semakin sengit, 

dan pasukan Salib semakin terdesak oleh pasukan Turki, 

Sigismund membuka kembali keanggotaan Orde Naga pada 

tahun 1431 M. Ia kembali mengundang prajurit-prajurit 

terbaik dari seluruh pelosok kerajaan. Salah satu di antara 

mereka yang kemudian terpilih menjadi anggota Orde Naga 

yaitu  Vlad II, ayah Dracula.

  Lambang dari Orde ini berupa seekor ular naga dengan 

sayap terlentang luas dan ekornya bergulung dilehernya. Di 

belakang terpancang Salib Merah St.George. Gambar naga 

mewakili simbol binatang buas dan salib melambangkan 

kemenangan Kristus. Catatan di sebuah universitas di Bu-

charest mengatakan bahwa dalam lambang ini  terdapat 

tulisan Quam Misericors est Deus, Pius et Justus.

  Sebagai bukti bahwa ia merupakan anggota dari Orde 

Naga, ke mana pun pergi, Vlad II selalu memakai lencana 

Orde ini . sebab  ciri khas itu selalu melekat pada diri 

Vlad II maka orang-orang Wallachia memanggilnya  dengan 

sebutan Vlad Dracul. Dalam bahasa Rumania  “Dracul” 

berarti naga, jadi Vlad Dracul berati Vlad sang Naga.

Gambar 2: Lambang Orde Naga

  Lantas dari mana nama Dracula berasal? 

  Akhiran “ulea” dalam bahasa Rumania berarti “anak 

dari”. Dari kata ini  Vlad III atau Vlad Tepes dipang-

gil dengan nama Vlad Draculea (dalam bahasa Inggris 

Draculea dilafalkan menjadi Dracula,) yang berarti anak 

dari Vlad Dracul. Dan, sejak saat itu Vlad III terkenal 

dengan nama Dracula; sebuah nama yang telah melumuri 

abad pertengahan dengan noda hitam.


Namun kebahagian sebab  kelahiran Dracula tidak 

berlangsung lama. Dua tahun sesudah  Dracula lahir pasukan 

Turki berada tidak jauh dari Konstantinopel dan sebagian 

telah bergerak ke arah Honggaria. Mereka telah berhasil me-

nyeberangi Sungai Danube dan tinggal selangkah lagi sampai 

di Wallachia. Melihat keadaan ini dan sadar bahwa Wallachia 

yaitu  bentengnya, Raja Sigismund segera memerintahkan 

Vlad II untuk maju ke medan perang, menghalau pasukan 

Turki agar tidak sampai ke Honggaria.

Gambar 3: Rumah tempat Dracula dilahirkan

Peperangan dengan Turki memang berlarut-larut, kedua 

pasukan silih berganti menyerang dan mengalahkan. Hal ini 

membuat Basarab yang ingin merebut Wallachia dari tangan 

keluarga Dan II harus menunggu cukup lama. Dia harus ber-

sabar menunggu kesempatan yang tepat guna melancarkan 

serangan yang mematikan pada Danesjsti, penguasa Wallachia 

saat itu. Kesempatan ini  baru terbuka saat  perang 

antara Turki Ottoman dan Honggaria  mereda. Kesempatan 

ini digunakan dengan sebaik-baiknya oleh Basarab hingga 

akhirnya dia bisa merebut tahta Wallachia pada akhir tahun 

1436 M dengan membunuh Danesjsti. 


Namun hanya selama tujuh tahun Basarab bisa memer-

intah secara tenang. Pada tahun 1442 M, pasukan Turki Ot-

toman benar-benar menyerang Wallachia. Sadar bahwa tak 

akan mampu menghadapi pasukan Turki Ottoman, Basarab 

lebih memilih langkah netral. Sikap ini memancing kemarahan 

Raja Sigismund. Akhirnya, Basarab diusir bersama keluarg-

anya keluar dari Wallachia, dan kedudukannya digantikan 

oleh Janos Hunyadi, salah satu panglima perang Sigismund 

di Transylvania.

Rupanya tidak begitu lama Basarab meninggalkan 

tahtanya. Pada tahun berikutnya dia berhasil merebut kem-

bali kekuasaannya dengan bantuan kerajaan Turki Ottoman. 

Sebagai jaminan kesetiaannya, Basarab mengirim dua anaknya, 

Dracula dan Randu, ke Turki. Saat itu usia Dracula kira-kira 

11 tahun. 


Riwayat Si Penyula

Masa Kecil dan Remaja Dracula

PRAKTIS sebab  ayahnya sering maju ke medan perang 

membuat Dracula hanya mengenal sosok ibu. Kehilangan 

figur ayah menyebabkan Dracula tumbuh menjadi pribadi 

yang tertutup dan inferior. Di saat anak lain bercerita tentang 

keperkasaan ayah mereka di medan perang, Dracula hanya 

bisa mendengarkan sebab  tidak bisa bercerita bagaimana 

sosok ayahnya. Sang ibu memang memberikan kasih sayang 

pada Dracula, namun itu dirasakannya tidak mencukupi 

untuk menghadapi situasi di sekitarnya yang keras. sebab  

tidak pernah mendapatkan jawaban yang memadai dari 

orang lain tentang pembunuhan yang sering terjadi akhirnya 

dia membuat kesimpulan sendiri, bahwa membunuh orang 

merupakan suatu kebiasaan.

Bagaimana dengan ibu Dracula? Hanya sebentar Dracula 

berada dalam asuhan ibunya—ibu Dracula merupakan seorang 

putri dari Maldovian. Dalam waktu yang singkat ini sang 

ibu sebagai penganut Katolik yang taat mengusahakan agar 

Dracula mendapatkan pelajaran agama yang baik. Sesuai 

dengan tradisi Katolik, Dracula menerima komune dari bi-

arawan gereja terdekat. Selain pelajaran agama sebagaimana 

putra bangsawan lainnya Dracula juga memelajari geografi, 

matematika, bahasa, filsafat dan seni klasik secara privat.

Seperti anak kecil lainnya, Dracula dan kakaknya, Mir-

cea, sering berkelahi dengan anak-anak tuan tanah lainnya. 


Perkelahian demi perkelahian ini  membuat Dracula 

tubuh menjadi bocah yang kuat. Kalau dilihat dari ukuran 

tubuhnya, Dracula bisa dikatakan bertubuh kecil tapi mem-

punyai tenaga yang luar biasa besar sebagaimana ciri khas anak 

lembah pegunungan. 

Rupanya kegembiraan masa kecil Dracula tidak berlang-

sung lama. Situasi politik memaksanya meninggalkan belaian 

sang ibu dan harus hidup sendiri di Turki sebagai jaminan dari 

ayahnya. Hanya ada adiknya, Randu, yang menjadi temannya 

di jantung kota Turki. Namun perbedaan karakter membuat 

mereka menempuh hidupnya sendiri. Maka praktis selama di 

Turki Dracula hanya hidup sendiri.

Dracula tumbuh menjadi remaja yang pembangkang. 

Tingkah lakunya tak jarang membuat pengawal kerajaan 

menjadi jengkel. Akibatnya, Dracula sering mendapatkan 

hukuman. saat  mendapat hukuman dia tidak melawan tapi 

dalam hati memendam dendam yang sangat besar; inilah yang 

kelak membuatnya sangat membenci orang-orang Turki. 

Selain terkenal dengan sikap keras kepalanya, Dracula 

kecil juga terkenal dengan kekejaman. Sebagai cara untuk men-

gubur rasa kesepiannya sebab  jauh dari orangtua dan saudara-

saudaranya, Dracula sering menangkap tikus dan   burung. 

sesudah  tertangkap binatang-binatang ini      kemudian 

ditusuk dengan tombak-tombak kecil. Dia sangat girang saat  

melihat binatang ini  menggelepar sekarat. sebab  begitu 

girangnya tak jarang dia tertawa terbahak-bahak. 

Agar tidak bertambah “liar” pengasuhnya memasukkan 

Dracula ke madrasah untuk belajar ilmu agama. Kalau adiknya 

tekun memelajari pelajaran di madrasah, Dracula justru sering 

mencuri waktu untuk melihat pelaksanaan hukuman mati 

di alun-alun. Dia begitu menikmati setiap melihat penjahat 


atau pengkhianat negara dipancung. Dia sangat senang saat  

kepala-kepala tanpa badan dipancang pada tombak. 

Selama berada di Turki, Dracula memeluk agama Islam, 

begitu pula dengan adiknya. Dia memeluk agama Islam bukan 

untuk memelajarinya agar bisa menjadi Muslim yang sejati, 

tapi semata-mata untuk tujuan politiknya. Dengan memeluk 

Islam maka Dracula tidak diperlakukan sebagai tawanan lagi 

sehingga dipindahkan dari Callipoli ke kota besar Andri-

anople, dengan diberikan kebebasan untuk menyusuri kota 

Turki. Dengan kebebasan ini  dia bisa menjelajahi jalanan, 

menghirup harumnya rempah-rempah dan  keluar masuk 

barak-barak militer.

Kebebasan ini  dimanfaatkan Dracula untuk belajar 

kemiliteran pada prajurit-prajurit Turki yang terkenal andal 

dalam berperang. Tidak begitu lama Dracula bisa menguasai 

seni berperang Turki bahkan melebihi prajurit tempatnya 

belajar. Dia tumbuh menjadi remaja yang piawai menunggang 

kuda, memainkan segala jenis senjata dan strategi perang; di 

antara kelebihan ini  ada satu kelebihan yang sulit di-

carikan tandinganya, yaitu naluri membunuh. Memang bisa 

dikatakan bahwa Dracula telah tumbuh menjadi pembunuh 

berdarah dingin sejak berusia remaja.

Kemajuan-kemajuan yang diperoleh Dracula ternyata 

telah menarik perhatian Sultan Muhammad II (Di Eropa 

dikenal dengan nama Sultan Mehmed II). Sang Sultan ke-

mudian menikahkan Dracula dengan salah satu kerabatnya. 

Dengan pernikahan ini sang Sultan berharap bahwa kelak 

Dracula bisa menjadi panglima perang Turki Ottoman.

Langkah yang diambil Dracula memang harus diakui 

cukup cerdas. Sebagai tawanan dia mengunakan kesempatan 

ini  utuk memelajari kelemahan dan kekuatan musuhnya. 


Dia serap sisi positif ketrampilan militer Turki Ottoman. Se-

mentara sisi negatifnya dia simpan sebagai pukulan terakhir 

untuk menyerang balik musuhnya. 

Sikap licik Dracula bertolak belakang dengan sikap 

Randu, adiknya. Mereka ibarat langit dan bumi, minyak 

dan air. Randu tumbuh menjadi pemeluk Islam yang taat. 

Dia memelajari segala ilmu pengetahuan yang ada di Turki 

sembari mengembangkan keterampilan militer. Kalau ka-

kaknya terkenal sebagai pribadi yang kejam, Randu terkenal 

sebab  kebijaksanaannya. Inilah yang membuat Randu banyak 

mendapatkan simpati dari pembesar-pembesar Turki Ottman. 

Melihat kenyataan ini kebencian Dracula pada adiknya dan 

orang Turki semakin menjadi-jadi. 

Semakin dewasa kegemaran Dracula menonton hukuman 

mati semakin menjadi. Bisa dikatakan dia telah kecanduan. 

Jerit korban yang sekarat, darah yang muncrat saat  pedang 

ditebaskan seakan-akan suatu hiburan yang tidak ada tand-

ingannya. Bila sehari saja tidak ada hukuman mati maka dia 

segera menangkap burung atau tikus dan kemudian menyik-

sanya sampai mati.

Bibit kekejaman rupanya dia dapatkan di Wallachia. Di 

kota ini  pembantaian sudah menjadi tontonan sehari-

hari. Seorang raja yang semalam masih berkuasa pagi harinya 

kepalanya sudah diarak keliling kota oleh para pemberon-

tak. Seolah udara kota ini  selalu anyir oleh bau darah. 

Dan, Dracula yang masih kecil—baik saat  bermain-main 

atau pergi ke gereja—melihat kekejaman demi kekejaman 

itu. Bibit kekejaman itu kemudian dia bawa ke Turki, dan 

bertambah subur sebab  rasa dendam dalam dirinya yang 

harus terbuang serta berpisah dengan masa kecil, keluarga 

dan teman-temannya. 


Selain terkenal dengan kekejamannya, Dracula juga me-

nyukai perempuan. Bisa dikatakan nafsunya terhadap perem-

puan sama besarnya dengan nafsu membunuhnya. saat  

jubah malam telah menyelimuti kota, dia menyelinap pergi 

ke tempat pelacuran-pelacuran ilegal yang berada dipinggir 

kota. Sepanjang malam dia berada di tempat ini  sehingga 

paginya pulang dengan setengah merangkak sebab  kelelahan. 

Begitulah masa kecil dan remaja Dracula. Dia telah mena-

namkan segala bentuk kekejaman dalam dirinya. Tinggal 

menunggu waktu saja kapan kekejaman itu akan memakan 

korban dari orang-orang yang tak berdosa. 

Kembali ke Wallachia

Pada tahun 1444 M, Kerajaan Hongaria maju dalam 

pertempuran melawan Kerajaan Turki Ottoman. Raja Hong-

garia menuntut agar Basarab ikut dalam peperangan sebagai 

pasukan Salib. Sang raja mengingatkan bahwa sebagai Orde 

Naga, Basarab tidak bisa menolak permintaan ini  sebab  

sudah terikat sumpah setia untuk membela pasukan Salib. 

Agar tidak menimbulkan kemarahan Raja Honggaria dan 

Sultan Turki, Basarab mengirim anaknya, Mircea. Dalam 

peperangan ini pasukan Salib mengalami kekalahan yang dah-

syat di Varna. Melihat kenyataan ini, baik Basarab maupun 

Mircea menyalahkan Janos Hunyadi yang bertindak sebagai 

panglima perang.

Pasca kekalahan di Varna pertentang antara Basarab dan 

Janos Hunyadi semakin meruncing. Puncaknya terjadi pada 

tahun 1447 M saat  Basarab dan Mircea dibunuh. Mereka 

telah dibunuh oleh persekongkolan yang diorganisir Janos Hu-


nyadi. Anggota persekongkolan meliputi para tuan tanah dan 

pedagang yang tidak puas dengan pemerintahan Basarab. Ten-

tang bagaimana terbunuhnya Mircea ada perbedaan pendapat. 

Ada yang mengatakan bahwa Mircea sebelum mati disiksa 

dan dibakar terlebih dahulu. Ada pula yang mengatakan dia 

dikubur hidup-hidup.

Gambar 4: Sebuah plakat yang menyebut nama ayah Dracula, 

Vlad Dracul

saat  Basarab dan Mircea mati, Dracula dan Randu ma-

sih berada di Turki. Agar kekuasaan Wallachia tidak kosong 

maka Janos Hunyadi menempatkan salah satu anggota Dan 

II sebagai raja dengan gelar Vladislav II. 

Melihat Wallachia telah jatuh dalam cengkraman Kerajaan 

Honggaria, Kerajaan Turki Ottoman membebaskan Dracula 

pada tahun 1448 M. Dia bersama pasukan yang mengikutinya 

ditugaskan untuk merebut Wallachia. Pada saat itu umur 

Dracula kira-kira sudah 17 tahun.

Dengan bantuan Turki, Dracula berhasil merebut kekua-

saan Wallachia. Namun dia menduduki tahta Wallachia tidak 


lama sebab  dua bulan kemudian Janos Hunyadi berhasil 

mengusirnya dan menempatkan kembali Vladislav II. Maka 

Dracula harus hidup dalam pengasingan di Moldavia (kota 

tempat kelahiran ibunya). 

Selama tiga tahun Dracula tinggal di Moldavia. Pada tahun 

ketiga, Pangeran Bigdan Moldavia terbunuh. Hal ini membuat 

Dracula harus melarikan diri sebab  pelindungnya telah tiada. 

Sementara itu, di Wallachia, Vladislav II berubah mendukung 

Kerajaan Turki Ottoman. Keadaan ini tentu membuat Janos 

Hunyadi naik pitam. Kesempatan inilah yang digunakan 

Dracula untuk mendekati Janos Hunyadi. 

Sebagai orang yang pernah tinggal di Turki tentu Dracula 

mengetahui kelemahan dan kelebihan kerajaan ini . Ini-

lah yang membuat Janos Hunyadi bersedia menerima anak 

dari musuhnya sebagai penasihatnya. Semakin hari dua orang 

ini  semakin dekat sebab  memiliki pikiran yang sama-

sama machiavelis—pemikiran yang menghalalkan segala cara 

untuk memperoleh kekuasaan. 

Janos Hunyad

dracula perang salib 2

 





















i kemudian menempatkan Dracula di ben-

teng Sibiu, yang terletak di barat daya Transylvania. Tugas 

utama Dracula yaitu  menjaga perbatasan dari kemungkinan 

serangan Vladislav II. saat  berada di benteng ini Dracula 

mendengar bahwa Konstantinopel telah jatuh ke tangan pa-

sukan Turki Ottoman. Peristiwa ini tentu membuat panik 

kerajaan-kerajaan Katolik sebab  ibu kota kekaisaran mereka, 

Bizantium, telah diduduki pasukan Turki. Sebuah kekalahan 

telak dalam Perang Salib. (Tentang jatuhnya Konstantinopel 

baca box: saat  Purnama Telah Berlalu)  


saat  Purnama                              

Telah Berlalu

  Penakluk Konstantinopel yaitu  Kerajaan Turki            

Ottoman. Kerajaan ini didirikan oleh keluarga Bani Os-

mani, sebuah keluarga yang merupakan sebagian kecil dari 

suku-suku bangsa Turki yang masuk ke Asia Kecil semenjak 

abad ke sebelas. sesudah  Persia mulai redup, orang-orang 

yang dikenal sebagai Turki Seljuk ini menjadi ancaman bagi 

Bizantium. Seperti halnya Kekaisaran Bizantium, Kerajaan 

Turki Seljuk (yang lebih dikenal dengan Turki Ottoman) 

juga merasa sebagai pewaris Kekaisaran Romawi. Oleh 

sebab  itu, dalam sistem pemerintahannya mereka meng-

gabungkan sistem Islam dan Romawi.

  Lambang Kerajaan Turki Ottoman yaitu  bulan sabit. 

Lambang ini  digunakan untuk menggambarkan  

posisi tiga benua yang berada dalam kekuasaan Kerajaan 

Turki Ottoman. Ujung paling atas untuk menunjukkan 

Benua Asia yang ada di timur, ujung bawah untuk me-

wakili Benua Afrika, dan di tengah yaitu  Benua Eropa. 

Sedangkan lambang bintang menunjukkan posisi ibu kota 

yang kemudian diberi nama Istambul yang bermakna: Kota              

Islam.

Gambar 5: Lambang Kerajaan Turki Ottoman


  Sejak Sultan Murad I, Kerajaan Turki Ottoman mem-

bangun militer yang canggih. Kalau pasukan Salib mempun-

yai Orde Naga maka Kerajaan Turki Ottoman mempunyai 

Yanisari. Sepertihalnya Orde Naga, Yanisari merupakan 

pasukan khusus yang akan berada di garis depan medan 

pertempuran. Dengan pasukan yang rapi dan kuat Kerajaan 

Turki Ottoman berhasil menguasai daerah di sekitar Bizan-

tium. Kondisi ini jelas merupakan ancaman bagi Kekaisaran 

Bizantium. Maka kaisar Bizantium, Constantine, meminta 

bantuan ke Roma. Namun sebab  adanya konflik antara 

gereja Katolik Roma dengan gereja Katolik Orthodoks di 

Bizantium, Constantine tidak mendapatkan bantuan.

  Hingga masa Sultan Murad II, Kerajaan Turki Ottoman 

tidak bisa mengalahkan Bizantium. Serangan demi serangan 

yang mereka lakukan tidak pernah bisa menembus dinding 

benteng Konstantinopel yang terdiri dari dua lapis setinggi 

10 meter. Namun sejarah terus bergerak. Dengan kegigihan 

akhirnya pasukan Turki Ottoman bisa menembus benteng 

Konstantinopel. sesudah  menunggu selama 800 tahun, Kera-

jaan Turki Ottoman bisa merebut Konstantinopel pada 

tahun 1453 M. Peristiwa ini terjadi saat  Kerajaan Turki 

Ottoman berada di bawah Sultan Muhammad II (Mehmed 

II).

  Sebagaimana Saladin, Sultan Mehmed II juga memulai 

pertempuran untuk menaklukkan Konstantinopel pada 

hari Jum’at, 6 April 1453 M. Dia bersama syaikh Syamsu-

din, gurunya, dan dua orang kepercayaannya, Halik Pasha 

dan Zaghanos Pasha, mengepung Konstantinopel dari se-

gala penjuru. Pasukan Turki Ottoman berjumlah 150.000 

dilengkapi dengan persenjataan modern waktu itu, yaitu 

meriam buatan Urban.

  Sebelum memulai penyerangan Sultan Mehmed II 

terlebih dahulu mengirim surat pada kaisar Bizantium, 

Costantine Paleologus, agar masuk Islam. Constantine tidak 

mau memenuhi tuntutan Sultan Mehmed II. Dia memilih 

mempertahankan Konstantinopel dengan bantuan kardinal 


Isidor, Pangeran Orkhan dan Giovanni Giustiniani.

  Serangan pertama Sultan Mehmed II mengalami halan-

gan. Kota Konstantinopel yang dipagari dengan       benteng 

setinggi 10 meter dan dikelilingi parit selebar 7      meter, 

menyebabkan gerakan pasukan Turki Ottoman    tertahan. 

Sementara di selatan Laut Marmara pasukan Turki harus 

menghadapi kapal-kapal perang Genoa yang           dipimpin 

oleh Giustiniani.

  Selama berminggu-minggu benteng Konstantinopel 

dibombardir dengan meriam, tapi tidak juga runtuh. Setiap 

ada bagian benteng yang bobol dengan cepat pasukan Bi-

zantium bisa menambalnya. saat  usaha untuk membobol 

benteng gagal maka ditempuh cara lain, yaitu menggali 

terowongan. Pasukan Turki Ottoman siang dan malam 

menggali terowongan untuk menembus tembok benteng. 

Namun usaha ini juga gagal.

  Memang ada anggapan dari penduduk Konstantinopel 

bahwa kota mereka tak akan jatuh pada saat bulan purnama. 

Dan, kebetulan serangan yang dilakukan Sultan Mehmed II 

pada malam bulan purnama. Akhirnya Sultan Mehmed II 

menghentikan serangannya dan menunggu bulan purnama 

berlalu. Alasan penundaan ini  sebetulnya lebih pada 

meruntuhkan mental prajurit dan penduduk Konstantino-

pel.

  Sambil menunggu bulan purnama berlalu, Sultan 

Mehmed II memindahkan kapal-kapal melalui darat untuk 

menuju selat Golden Horn. Dia tidak menempuh jalur laut 

sebab  lautan di sekitar Konstantinopel sudah ditebari den-

gan rantai penghalang yang menyebabkan kapal-kapal teng-

gelam. Dengan menggunakan kayu gelondongan sebagai 

roda dan lemak hewan sebagai pelumasnya, dalam waktu 

semalam 70 kapal perang Turki Ottoman bisa dipindahkan.

  Pada tanggal 29 Mei, sesudah  sehari beristirahat, pasukan 

Sultan Mehmed II kembali melakukan penyerangan total. 

Kali ini pasukan terdiri dari tiga lapis; lapis pertama prajurit 


non reguler, lapis kedua Anatolian Army dan lapis ketiga 

Yanisari. Serangan ini begitu hebat sehingga Giustiniani 

menyarankan pada Constantine untuk mundur atau me-

nyerah. Namun Constantine tidak mau menyerah. Dia 

memilih bergabung dengan pasukan tempurnya hingga tak 

pernah ditemukan jasadnya. 

  Konstantinopel akhirnya jatuh ke dalam penguasaan 

pasukan Turki Ottoman. sesudah  jatuhnya kota ini  

Sultan Mehmed II meminta semua penduduk berkumpul 

di Hagia Sophia. Dalam kesempatan ini sang Sultan mem-

berikan jaminan pada semua penduduk, baik yang beragama 

Islam, Kristen dan Yahudi.

  Jatuhnya Konstantinopel merupakan pukulan hebat 

bagi pasukan Salib. 

Guna membakar amarah orang-orang Katolik maka para 

raja Katolik dan pimpinan gereja menyebarkan desas-desus 

tentang tindakan tidak manusiawi pasukan Turki. Mereka 

mengarang cerita bahwa pasukan Turki membantai orang-

orang Katolik di dinding kota Konstantinopel sambil berpesta 

pora. Mereka juga mengabarkan desas-desus bahwa ribuan 

gereja telah dibakar dan sebagian diubah menjadi masjid, dan 

salib-salib dilemparkan kejalanan untuk dijadikan kayu bakar. 

Mendengar cerita-cerita yang penuh provokasi ini  

pasukan Salib kembali bangkit. Kerajaan Honggaria me-

mimpin kekuatan Salib memukul mundur pasukan Turki 

dari Konstantinopel. Sebagai panglima perang raja Honggaria 

menunjuk Janos Hunyadi. Genderang perangpun segera ter-

dengar di segala penjuru. 

Saat itu benteng terdepan pasukan Turki terletak di Bel-

grade, daerah perbatasan Serbia dan Honggaria. Untuk meny-

erang pos terdepan ini, Dracula mengusulkan agar melakukan 


dua serangan sekaligus. Yaitu, satu rombongan pasukan 

menyerang Belgrade dan rombongan yang lain menyerang 

Wallachia. Usul Dracula diterima dan taktik ini membawa 

kemenangan bagi pasukan Salib.

Pasukan Janos Hunyadi akhirnya berhasil merebut ben-

teng di Belgadre. Sementara itu, Dracula berhasil menusuk 

masuk ke Wallachia. Di ceritakan bahwa pertempuran di Wal-

lachia merupakan pertempuran paling berdarah dalam sejarah 

Honggaria. Dalam pertempuran ini  Dracula berhadapan 

satu lawan satu dengan Vladislav II, sedangkan pasukan mer-

eka mengerubungi memberikan semangat. sesudah  beberapa 

saat bertarung akhirnya Dracula berhasil memenggal kepala 

musuhnya. Melihat kejadian ini  prajurit Vladislav II 

langsung menjatuhkan senjata sebagai tanda menyerah. Sejak 

saat itu untuk kedua kalinya Dracula menduduki singgasana 

Wallachia.


Masa Pemerintahan Dracula 

(1456-1462 M)

Pada masa pemerintahan ini Dracula telah membantai 

300.000 umat Islam. Tentang bagaimana pembantaian itu  

baca Bab IV  

Reformasi Ala Dracula

MASA pemerintahan Dracula merupakan masa-masa teror 

yang sungguh mengerikan. Naluri kekejaman Dracula benar-

benar tersalurkan saat  dia sudah menjadi penguasa Walla-

chia. Kurang setahun dari kekuasaannya dia telah membunuh 

ribuan orang. Para tuan tanah dan sanak kerabat Dan II di-

bunuh dengan cara yang belum ada sebelumnya, yaitu disula. 

Para korban ditusuk dari bagian dubur dengan tiang pancang 

sebesar lengan tangan orang dewasa. sesudah  tiang pancang 

masuk kemudian sula ini  dipancangkan sehingga tubuh 

korban akan turun sedikit demi sedikit hingga tembus sampai 

kepala, mulut atau bagian tubuh yang lain. 

Sebagian besar korban kekejaman Dracula yaitu  para 

pangeran dan tuan tanah berserta keluarganya. Saat itu kekua-

saan tuan tanah memang besar, merekalah yang menentukan 

siapa pangeran yang berhak menduduki tahta. Bisa dikatakan 

bahwa penguasa Wallachia hanya boneka para tuan tanah 

(bayor). Para tuan tanah pula yang mengontrol perdagangan. 

Namun, sesudah  Dracula berkuasa kekuasaan mereka dilucuti 

dan tanah-tanah mereka dibagikan pada para petani yang setia 

kepadanya. 


Keputusan Dracula ini tentu saja menimbulkan protes dari 

para tuan tanah. Mereka mengorganisir protes-protes massal 

di penjuru kota. Terhadap protes para tuan tanah ini , 

Dracula mengundang mereka untuk perjamuan makan malam 

di istananya. Dalam kesempatan ini  Dracula memberikan 

kesempatan kepada para tuan tanah untuk berbicara. sesudah  

semuanya selesai bicara, Dracula mempersilakan mereka 

pulang dengan dikawal prajurit. Dan, sesampainya di luar 

dinding istana mereka dibantai semuanya. 

Berita tentang pembantaian ini  esok harinya segera 

tersebar ke seluruh penjuru Wallachia. Para tuan tanah yang 

selamat sebab  tidak ikut dalam pertemuan itu segera melari-

kan diri ke wilayah lain. Sementara yang tetap tinggal di Wal-

lachia memilih untuk diam dan tidak mengajukan protes lagi. 

Sejak terjadinya pembantain itu untuk beberapa waktu 

Wallachia bisa stabil. Tidak ada yang berani melawan sebab  

mereka sangat ngeri pada hukuman Dracula yang sangat ke-

jam. Tidak hanya tuan tanah yang tidak berani berulah, tapi 

juga perampok. Sebelumnya wilayah Wallachia merupakan 

surga bagi para perampok. Tapi sejak Dracula naik tahta para 

perampok tidak berani melakukan aksinya lagi di wilayah 

Wallachia sebab  takut akan hukuman yang akan didapatkan 

bila tertangkap. 

Bisa dikatakan reformasi ala Dracula yaitu  reformasi 

paling berdarah dalam sejarah abad pertengahan. Guna men-

jamin agar program reformasinya berhasil dia tidak segan 

membungkam lawan-lawan politiknya. Baginya membunuh 

manusia sama dengan membunuh burung atau tikus seperti 

yang pernah dia lakukan saat  menjadi tawanan Turki. Dia 

benar-benar seorang machiavelis sejati dalam sejarah umat 

manusia.


Sejarah memang pernah mencatat nama Caligula, salah 

seorang Kaisar Romawi, yang dengan darah dingin membunuh 

saingan politik. Tapi dia tidak pernah diberitakan melakukan 

pembunuhan secara massal terhadap anak-anak dan kaum 

perempuan. Hanya Dracula-lah yang mampu melakukan 

semua itu. 

Kisah Benteng Poenari

Masa-masa stabil dipergunakan dengan sebaik-baiknya 

oleh Dracula untuk membangun kubu pertahanan. Dia 

menyadari bahwa sebagai pengkhianat Kerajaan Turki 

Ottoman, bisa sewaktu-waktu ia mendapatkan serangan. Guna 

menghadapi kemungkinan ini  maka dia mempunyai 

rencana untuk membangun benteng. Namun, ada kendala 

yang harus dia hadapi. Peperangan yang terjadi terus-menerus 

ditambah konflik bersaudara menyebabkan perdagangan Wal-

lachia merosot sehingga kas yang masuk ke kerajaan sangat 

sedikit. Kondisi inilah yang memaksa Dracula harus berpikir 

keras. sesudah  berpikir agak lama akhirnya dia menemukan 

jalan keluar, dan rencana ini  akan dilaksanakan pada 

hari Paskah.

Hari Paskah pun tiba. Dracula mengundang para pangeran 

dan tuan tanah lengkap dengan keluarganya. Tidak ada yang 

curiga dengan undangan ini sebab  perjamuan akan dilakukan 

di gereja. Mereka dengan suka cita pergi dari rumah bersama 

istri dan anak dengan pakaian terbaik. Bagi mereka hari Pas-

kah merupakan hari yang suci, hari kebangkitan Sang Juru 

Selamat, yang harus disambut dengan riang gembira.


Sesampai di halaman gereja mereka mendapatkan makan-

an dan minuman telah tersaji di atas meja. Anak-anak kecil 

pun bersuka cita, berlarian mengitari meja. sesudah  semuanya 

berkumpul, Dracula mempersilakan mereka makan sepuas-

puasnya. Semuanya berpesta. Makanan dan minuman seolah-

olah tidak pernah habis; piring yang kosong segera terisi, 

begitu pula dengan gelas-gelas yang ada. Sampai akhirnya 

tragedi itu tiba.

sesudah  semuanya selesai makan dan bersantai-santai, tiba-

tiba terdengar teriakan Dracula yang memerintahkan semua 

orang yang ada di tempat itu ditangkap. Semuanya terperanjat 

tak bisa begerak. Tawa kebahagiaan berubah menjadi lolong 

kematian. Anak-anak kecil menangis dalam dekapan ibunya 

yang pucat pasi. Tak ada yang bisa melawan.

Dracula dengan tenang maju ke depan. Dia memberikan 

pengumuman bahwa mereka semua akan dijadikan budak 

untuk membangun benteng bagi kepentingan Wallachia. Tak 

peduli tua atau muda, lelaki-perempuan, dan anak-anak harus 

bekerja untuk kepentingan kerajaan. Dia juga mengumum-

kan bahwa para tuan tanah dan para pangeran yang terbukti 

terlibat persekongkolan membunuh ayah dan kakaknya akan 

segera di hukum mati. 

sesudah  kata-kata Dracula usai, prajurit menggiring para 

tawanan ke lembah didekat Sungai Arges, tempat reruntuhan 

benteng lama. Sementara itu, para pangeran dan tuan tanah 

yang bersekongkol dalam penggulingan kekuasaan keluarga 

Dracula segera dihukum mati dengan disula. Inilah cara khas 

kekejaman Dracula, memberikan korbannya hidangan sepuas-

nya untuk menjemput kematian.

Hari kebangkitan Yesus Sang Juru Selamat berubah men-

jadi hari berdarah di Wallachia. Dengan senyum kemenangan 

Dracula melangkah menuju istananya. Dia sangat puas sebab  

rencananya untuk membangun benteng akan segera terwujud 


tanpa harus mengeluarkan biaya yang banyak. Inilah rupa-

rupanya yang dipikirkan Dracula beberapa hari sebelum 

hari Paskah tiba, menjadikan para pangeran dan tuan tanah 

sebagai budak.

Siang dan malam para budak harus bekerja keras mem-

bangun benteng. Mereka mengumpulkan material dari rerun-

tuhan benteng lama dengan kaki terikat rantai. Lambat laun 

pakaian mereka yang awalnya sangat indah berubah menjadi 

compang-camping, dan bahkan banyak yang hanya menutupi 

bagian kemaluan.

Sejarawan Yunani, Chalcondyles, memberikan penjelasan 

yang lebih detail tentang pembangunan benteng ini . Dia 

mengatakan para budak dipaksa mengangkut batu-batu besar 

yang diambil dari tebing yang curam tanpa menggunakan alat 

yang memadai. Mereka juga dipaksa menggali parit di sekitar 

bentang tanpa diberikan makanan yang cukup sehingga ban-

yak yang mati sebab  kelaparan dan demam. Chalcondyles 

memperkirakan jumlah semua tahanan sekitar 300 kepala kelu-

arga. Bila mereka dibariskan maka panjangnya akan menjulur 

dari gerbang benteng sampai kampung terdekat.

Gambar 6: Reruntuhan Benteng Peonari


Seringkali benteng Poenari disamakan dengan istana di 

Tirgoviste. Anggapan ini salah. Benteng ini letaknya tigapuluh 

kilometer di sebelah utara istana di Tirgoviste. Benteng Poe-

nari pertama kali dibangun oleh Mircea pada tahun 1300-an 

di atas sebuah bukit yang curam. Dinding-dindingnya terbuat 

dari batu alam yang kokoh dengan bagian dalam terdiri dari 

barak, penjara bawah tanah, alun-alun dan terowongan rahasia. 

Pada setiap sisi benteng terdapat menara yang berfungsi sebagai 

menara pengawas dan tempat meletakkan senjata. Di antara 

menara-menara ini  salah satunya yaitu  kamar pribadi 

Dracula. Di luar benteng terdapat parit dengan jembatan 

gantung yang bisa dinaik turunkan sewaktu-waktu. 

Sebagaimana dikatakan Josehp dan Frances Gies dalam 

bukunya, benteng yang dibuat Dracula mempunyai fungsi mi-

liter, politik, sosial, ekonomi dan budaya. Dia dan keluarganya 

akan tinggal di tempat ini untuk mengendalikan pemerintahan 

dan sekaligus melindungi diri dari pemberontakan musuh-

musuh politiknya. Oleh sebab nya benteng ini sangat dijaga 

ketat oleh pengawal-pengawal pilihan.

Selain membangan benteng guna memperkuat kekuasaan-

nya Dracula juga memperbaharui birokrasi gereja. Dia sadar 

bahwa sebuah kekuasaan tidak akan kuat tanpa mendapat du-

kungan dari gereja, apalagi sesudah  dia meninggalkan Islam dan 

berkhianat terhadap Kerajaan Turki Ottoman. Langkah yang 

diambil Dracula dalam mereformasi gereja yaitu  mengganti 

kepala biara dan biarawan dari negeri asing dengan biarawan 

yang berasal dari Wallachia. Dengan langkahnya ini dia hendak 

memastikan bahwa gereja benar-benar mendukungnya. Selain 

langkah ini, Dracula berusaha mendapatkan dukungan gereja 

dengan cara memberikan sumbangan yang besar pada gereja-

gereja yang ada di wilayahnya. Salah satu gereja yang paling 

besar mendapatkan sumbangan Dracula yaitu  gereja yang ada 

di tengah Danau Snagov yang sampai saat ini masih berdiri. 


Kisah Sungai Permaisuri

Tingkah laku Dracula yang semakin tak terkendali mem-

buat Kerajaan Turki Ottoman memburunya. Sebagai panglima 

perang dalam pemburuan ini  ditunjuk adik Dracula send-

iri, Randu. Dia merupakan salah satu anggota dari kesatuan 

Yanisari. Kesatuan ini dibentuk oleh Sultan Mehmed II untuk 

menahan gempuran pasukan Salib dan sekaligus menandingi 

Orde Naga. sebab  sering melakukan operasi militer secara 

rahasia maka anggota kesatuan Yanisari yaitu  orang-orang 

pilihan yang sebagian besar masih kerabat sultan. 

Pada tahun 1462 M, Randu dan pasukannya mengepung 

benteng Poenari. Mereka membangun tenda tak jauh dari ben-

teng ini  dengan harapan bisa dengan mudah menggempur 

Dracula. Pada saat itu posisi Dracula telah terdesak. Hanya 

ada dua pilihan bagi Dracula: menyerah atau kabur. 

Malam hari sebelum penyerangan, salah satu prajurit 

Randu mengirimkan pesan rahasia lewat anak panah. Pada 

anak panah ini  ada surat yang berisi peringatan agar 

Dracula segera melarikan diri sebab  esok harinya Randu 

akan melakukan serangan besar-besaran. Menurut Mcnally dan 

Florescu, pemanah ini  yaitu  bekas pembantu Dracula 

yang ditangkap orang Turki yang kemudian masuk Islam agar 

tidak dijadikan budak.

Surat rahasia ini  secara kebetulan ditemukan oleh 

istri Dracula. Usai membaca surat itu istri Dracula mendatangi 

suaminya agar segera kabur. Akan namun , Dracula tidak mau 

mengikuti saran surat ini  dan memilih tetap bertahan 

di istana. Mendegar keputusan itu istri Dracula kembali ke 

kamarnya yang berada di salah satu menara. Sampai di kamar 


dia berkata pada dirinya sendiri, “Lebih baik aku membusuk 

di makan ikan-ikan Sungai Arges daripada ditangkap oleh 

orang Turki.”

sesudah  kata-katanya selesai istri Dracula melompat dari 

kamarnya dan jatuh di anak Sungai Arges. Sekarang tempat 

mayat istri Dracula diketemukan diberi nama Sungai Per-

maisuri (Râul Doamnei/the Lady’s River). Sampai saat ini 

masyarakat di pedesaan Rumania memercayai bahwa air yang 

mengalir dari anak Sungai Arges ini  berasal dari air mata 

istri Dracula.

Pada saat istrinya melompat dari kamar tidurnya ternyata 

Dracula telah kabur melalui lorong rahasia. Esok harinya 

saat  pasukan Randu melakukan penyerangan dan berhasil 

menguasai benteng Poenari, Dracula sudah tidak ada lagi.

Kisah Saudagar

Sebagaimana para tiran lainnya, Dracula sengaja membuat 

aturan hukum yang sangat kejam untuk melindungi kekua-

saannya. Alasannya memang untuk melindungi kerajaan dari 

tindak kejahatan, tapi sebenarnya hukum-hukum ini  

akan digunakan oleh Dracula untuk membungkam lawan-

lawan politik, misalnya dengan mengatakan mereka penjahat, 

orang yang tidak jujur atau pengkhianat.

Penerapan hukum sebagai kedok Dracula untuk mem-

bungkam musuh-musuhnya bisa dilihat dari kisah seorang 

saudagar dan hartanya. Saudagar ini mempunyai banyak 

pengikut. Dia juga mempunyai kekayaan yang melimpah. 

Dengan pengikut dan hartanya ini  sewaktu-waktu ia bisa 

menggulingkan penguasa Wallachia. Inilah yang oleh Dracula 

dilihat sebagai ancaman.


Dracula mencari cara untuk menyingkirkan si saudagar. 

Pengikut si saudagar yang banyak membuat Dracula harus 

mencari cara yang terbaik. Dracula tidak mungkin membunuh 

si saudagar itu tanpa alasan, sebab  jika  hal ini dilakukan 

akan menyebabkan pengikut si saudagar melakukan balas 

dendam. Maka dia mencari cara yang benar-benar aman.

Selama kekuasaan Dracula orang-orang menyimpan har-

tanya tanpa penjagaan sebab  wilayah Wallachia sangat aman. 

Para pencuri dan penjahat akan menjauhi kota ini daripada 

harus menghadapi hukuman Dracula yang sangat kejam. Jami-

nan itulah yang membuat si saudagar meninggalkan hartanya 

di luar rumah. Namun keesokan harinya dia sangat terkejut 

sebab  menemukan hartanya tidak ada di tempatnya. Dia 

segera melaporkan kejadian ini  pada Dracula. Dengan 

tenang Dracula mengatakan bahwa harta si saudagar akan 

segera ditemukan.

Benar, janji Dracula terbukti. Keesokan harinya harta si 

saudagar telah kembali. Si saudagar pun kembali menghadap 

Dracula untuk melaporkan bahwa  hartanya telah ditemukan. 

“Harta hamba telah kembali, Tuan,” kata si saudagar 

dengan wajah girang.

“Apakah tidak kurang?” tanya Dracula tenang.

“Tidak. Semuanya sudah sesuai dengan jumlahnya.”

“Kau sudah benar-benar yakin?”

“Sudah. Hamba telah menghitung dua kali. Tidak kurang 

dan lebih.” 

saat  mengembalikan harta si saudagar ini  Draucala 

memasukkan satu koin emas miliknya. Dia ingin menjebak si 

saudagar. Saat si saudagar mengatakan bahwa hartanya sudah 

ditemukan tapi tidak mengatakan bahwa ada tambahan satu 

koin emas di dalamnya, maka dia telah terperangkap dalam 

jebakan Dracula. Dengan begitu Dracula bisa menghukum si 


saudagar dengan alasan bahwa telah berkata bohong. Adanya 

alasan itu membuat para pengikut si saudagar tidak bisa ber-

buat banyak saat  tuannya di hukum mati dengan disula. 

Dan, Dracula telah berhasil menyingkirkan musuhnya dengan 

aman tanpa menimbulkan gejolak.

Kisah Piala Emas

Guna menguji kejujuran rakyatnya, Dracula meletakkan 

piala emas di tengah-tengah kota. Piala ini  berisi air yang 

siapa saja boleh meminumnya dengan syarat tidak memind-

ahkan atau membawa piala ini . 

Semua itu sebetulnya akal-akalan Dracula. Maksud 

sebenarnya dari keberadaan piala emas itu yaitu  untuk 

menyingkirkan musuh-musuhnya. Dracula akan dengan 

mudah memfitnah orang-orang yang tidak disukainya dengan 

mengatakan bahwa orang itu telah mengambil piala ini . 

Taktik ini biasanya dilakukan pada malam hari. saat  

semua kota telah terlelap dalam tidur Dracula akan memang-

gil orang kepercayaannya. Orang ini  disuruhnya untuk 

meletakkan piala emas di rumah orang yang tidak disukainya. 

Maka keesokan harinya saat  kota telah menggeliat kembali 

oleh kehidupan, kegegeranpun akan terjadi. Para warga kota 

akan membicarakan piala emas yang tidak ada di tempatnya, 

dan beberapa orang akan menyampaikan kejadian ini  

pada pengawal kerajaan. 

Mendengar hilangnya piala emas dari tempatnya, Dracula 

pura-pura terkejut dan marah. Dia segera memerintahkan para 

prajuritnya untuk mencari piala itu. Maka penggeledahan pun 

dimulai. Setiap orang dan rumah akan digeledah. Dan, sesudah  


mencari ke sana-kemari akhirnya prajurit Dracula menemu-

kan piala emas itu berada di rumah salah seorang penduduk. 

Sang pemilik rumah itu segera dibawa ke hadapan Dracula. 

Dan, Dracula bisa menghukum orang yang memang tidak 

disukainya itu dengan alasan telah mencuri piala emas.

 

Kisah Tuan Tanah                                                              

yang Menutup Hidungnya 

Posisi tuan tanah di Wallachia sangat penting. Bila diti-

lik lebih mendalam sebetulnya mereka inilah yang berkuasa 

sebab  bisa menentukan siapa yang bisa menjadi penguasa 

Wallachia. Dracula mengetahui kondisi ini. Maka dia men-

cari cara bagaimana menyingkirkan tuan-tuan tanah yang 

menentangnya.

Pada suatu pesta penyulaan1 Dracula mengundang para 

tuan tanah. Mereka yaitu  tuan-tuan tanah yang tidak disukai 

Dracula. Dia sengaja mengundang dengan tujuan mencari ke-

sempatan untuk menyingkirkan mereka. Nah, agar penying-

kiran ini  tidak menimbulkan gejolak tentu saja Dracula 

harus mencari cara yang halus.

Seperti biasanya sesudah  sehari diajak menyaksikan pe-

nyulaan, pada malam harinya Dracula menjamu para tuan 

tanah. Sebagai tempat makan malam Dracula memang sengaja 

memilih tempat yang berada di antara bangkai-bangkai yang 

mulai menyebarkan bau busuk. Tentu saja kondisi seperti ini 

mengganggu para tuan tanah yang terbiasa hidup di tempat 

yang selalu bersih. sebab  tidak tahan dengan bau busuk 

ini  para tuan menutup hidung. 

1 Penyulaan merupakan cara penyiksaan Dracula yang dilakukan dengan cara menusukkan 

sebatang kayu yang ujungnya runcing pada anus atau kemaluan perempuan.


Kesempatan ini digunakan Dracula untuk menyingkirkan 

para tuan tanah ini . Dracula berpura-pura marah dan 

merasa tersinggung dengan ketidaksopanan para tuan tanah. 

Dengan alasan ini dia memerintahkan pada prajurinya untuk 

menangkap mereka dan menyulanya pada keesokan harinya. 

Para tuan tanah mencoba melawan tapi sebab  prajurit Drac-

ula sangat banyak mereka tidak bisa berbuat banyak.

Pada keesokan harinya para tuan tanah itu benar-benar 

disula. Dengan wajah penuh ketakutan mereka diseret oleh 

prajurit Dracula ke tempat penyulaan. Sementara itu, Dracula 

telah duduk di mejanya dengan tenang. Dia tersenyum penuh 

kemenangan sebab  sebentar lagi musuh-musuhnya akan 

disula.

Sesampai di tempat penyulaan para tuan tanah disula se-

cara serentak. Mereka berteriak-teriak namun tak ada gunanya. 

Sekali Dracula memutuskan untuk menyiksa seseorang dia 

tidak akan mengampuninya. Akhirnya, nasib para tuan tanah 

itu harus ditentukan di ujung sula.

Kisah Jubah                                                                          

yang Terlalu Pendek Lengannya

Pada suatu hari Dracula berjalan-jalan menyusuri kota. 

Seperti biasanya dalam perjalanan ini  dia berusaha men-

gamati geliat penduduknya sambil berpikir bagaimana cara 

merperkokoh kekuasaannya. Tentang kekuasaannya Dracula 

memang harus berpikir keras sebab  pasukan Turki Ottoman 

terus-menerus menggempurnya. Kalau dia tidak waspada maka 

tahtanya bisa jatuh tiba-tiba.


Dracula terus melangkah. Sore telah meremang, memoles 

kota Wallachia dengan warna tembaga. Orang-orang berge-

gas menuju rumah masing-masing untuk bersiap menikmati 

malam sambil bercengkrama dengan sanak keluarga. Pasar 

mulai sepi. Para pedagang sudah mulai mengemas barang 

dagangan. Di antara para pedagang yang sedang berkemas 

terdapat seorang lelaki dengan jubah yang pendek lengannya. 

Dracula yang melihat lelaki itu langsung menghampirinya.

“Apakah kau mempunyai istri?” tanya Dracula pada 

lelaki itu.

“Punya, Pangeran,” jawab si lelaki dengan hormat.

“Bawa istrimu menghadap padaku.”

Si lelaki itu bergegas memanggil istrinya. Tidak begitu 

lama suami-istri itu sudah berada di depan Dracula.

“Apakah kau istri lelaki itu?” tanya Dracula sambil men-

gamati paras perempuan yang berdiri menunduk di depannya. 

“Benar, Pangeran.”

“Kalau begitu kau akan aku hukum sebab  lengan jubah 

suamimu terlalu pendek. Itu menandakan bahwa kau istri 

yang malas.”

Sebetulnya alasan yang sebenarnya menghukum bukan 

sebab  itu, tapi sebab  perempuan ini  pernah menolak 

saat  diajak berzina oleh Dracula. Sejak saat itu Dracula 

mendendam pada perempuan itu. Dan, dendam itu akhirnya 

terlampiaskan saat  dia menemukan alasan yang tepat untuk 

menghukum perempuan yang malang itu.

Begitulah cara Dracula menyingkirkan orang-orang yang 

tidak disukainya. Alasan apapun akan dia pakai.


Kisah Seseorang                                                                     

yang Mengikuti Dracula

Kekejaman Dracula sudah tersebar di seantero penjuru 

Wallachia. Di antara rakyat yang takut ada pula yang penasa-

ran dengan sosok Dracula. Salah seorang yang penasaran terse-

but yaitu  pemuda dari desa yang ingin melihat sosok Dracula 

dari dekat. Si pemuda kemudian meninggalkan kampungnya 

untuk menuju pusat kerajaan Wallachia. sesudah  berhari-hari 

mengendarai kuda akhirnya sampai juga pemuda itu di ibu 

kota Wallachia.

Sesampainya di ibu kota Wallachia pemuda itu langsung 

mencari informasi tentang Dracula. Dengan keluguannya dia 

bertanya pada orang-orang yang ditemuinya. Tentu pertan-

yaan si pemuda membuat heran yang ditanya, sebab  selama 

ini tidak ada orang yang berani mendekati Dracula. 

Akhirnya, sesudah  beberapa hari berada di kota kesempa-

tan si pemuda untuk bertemu Dracula terwujud. Pada suatu 

hari Dracula melintasi kota. Kesempatan ini digunakan oleh 

si pemuda untuk mengikuti Dracula. Selama beberapa hari si 

pemuda mengikuti Dracula sehingga Dracula akhirnya curiga.

Dracula memanggil pemuda itu dan kemudian bertanya, 

“Aku lihat beberapa hari ini kau selalu mengikutiku?”

“Benar, Pangeran,” jawab si pemuda dengan lugu.

“Kenapa mengikutiku?”

“Hamba ingin melihat sosok Pangeran dari dekat.”

Mendengar jawaban itu Dracula memerintahkan pen-

gawalnya untuk menangkap pemuda itu. Dracula merasa 

sangat tersinggung sebab  selama beberapa hari pemuda itu 

mengikutinya tanpa mau mengutarakan maksudnya sejak 

awal. Baginya tindakan ini  merupakan tindakan pengecut 

yang layak mendapatkan hukuman.


Memang sungguh malang nasib si pemuda itu; dia harus 

mengakhiri hidupnya di ujung sula. sebab  keluguannya dia 

tidak menyadari kalau telah menyerahkan nyawanya pada 

moncong buaya.

LO


Masa Pengasingan

SEBELUM pengepungan terhadap benteng Poenari sebet-

ulnya Dracula berkeinginan menemui Raja Honggaria yang 

baru, Matthias Corvinus, untuk memantapkan kerjasama 

dalam rangka Perang Salib. Namun situasi berubah sangat 

cepat. Benteng Poenari jatuh sehingga dia terpaksa melarikan 

diri untuk menghindari penangkapan pasukan Turki Otto-

man. 

Dari benteng Poenari Dracula melarikan diri ke arah barat 

menuju daerah Brasov. Jalur pelariannya memang cukup sulit. 

Dia harus melintasi Pegunungan Carpathia di daerah Transyl-

vania yang terkenal sangat liar. Namun Dracula bisa melintasi 

daerah yang berbahaya ini  hingga akhirnya sampai di 

reruntuhan benteng yang tidak dipakai lagi. Benteng ini  

terletak di dekat Dobrins. 

Di tempat ini , sebuah keluarga petani yang merasa 

iba memberi Dracula makanan dan tempat beristirahat. Begitu 

lelah hilang dari tubuh, Dracula melanjutkan perjalanan hingga 

akhirnya sampai di Brasov. Bisa mencapai tempat itu Dracula 

merasa lega. Namun kelegaan itu hanya sesaat. Ternyata sam-

butan Raja Matthias tidak seperti yang diharapkannya; sang 

raja tidak menyambutnya tapi jutru menangkapnya. 


Selama berbulan-bulan Dracula menjadi tahanan. Dia 

ditempatkan di Istana Visegrad. Istana ini  terletak di se-

belah selatan Honggaria di lokasi yang sangat indah. Letaknya 

pada puncak gunung yang curam dengan pemandangan yang 

hijau oleh berbagai macam tetumbuhan hutan. Sungai Danube 

yang jernih airnya berbelok di daerah itu, seperti ular naga 

yang menyelinap masuk ke dalam hutan. Walaupun sebagai 

tahanan Dracula bisa leluasa pergi kemana pun dia suka. 

Kesempatan ini dia gunakan untuk melihat pemandangan 

daerah ini . 

Di Istana Visegrad kebiasaan aneh Dracula kembali mun-

cul. Dia menangkap hewan seperti laba-laba, kecoak dan tikus. 

Hewan-hewan ini  kemudian dia tusuk-tusuk seperti sate. 

Matanya menatap hewan-hewan yang sekerat itu dengan pan-

caran kepuasan. Tingkah laku Dracula ini tentu saja membuat 

para penjaga Istana Visegrad merasa ngeri. Kalau tidak terpaksa 

mereka tidak akan mau bertemu dengan Dracula.

sesudah  sekian lama berada dalam tempat pengasingan, 

Dracula dipindahkan ke vila yang ada dalam lingkungan ista-

na. Guna menyenangkan bangsawan-bangsawan Honggaria 

dia masuk agama Katolik. Dengan langkahnya ini akhirnya 

dia mendapatkan keleluasaan yang lebih besar sehingga bisa 

berkenalan dengan penjabat-penjabat istana. Dari perkenalan 

ini  dia akhirnya bisa bertemu dengan Ilona Szilagy, 

seorang perempuan yang merupakan kemenakan Raja Matth-

ias. Mereka kemudian menikah secara resmi. Dari pernikahan 

ini  dia memperoleh dua anak laki-laki, salah satunya 

bernama Vlad.

sesudah  mengabdi selama 13 tahun pada Raja Matthias, 

Dracula kembali menyerang Wallachia pada bulan Juli 1475 

M. Dalam penyerangan ini dia dibantu oleh Stefen dan 


orang-orang Moldavian. Kali ini serangan Dracula berhasil. 

Pasukan Wallachia melarikan diri, meminta perlindungan 

pada Kerajaan Turki Ottoman dan sebagian lagi melarikan 

diri kepegunungan Carpathia. Dan, Dracula berhasil merebut 

kembali tahta Wallachia.

sesudah  berhasil merebut tahta Wallachia, Stefen mening-

galkan Dracula. Walaupun berkuasa tapi posisi Dracula sudah 

semakin lemah. Para tuan tanah dan rakyat Wallachia sudah 

enggan mendukung Dracula. Mereka masih ingat segala ben-

tuk kekejaman Dracula. Tidak sedikit di antara mereka yang 

memendam dendam pada si Penyula. 

Sewaktu Dracula merebut tahta Wallachia, Randu tidak 

lagi menjadi penguasa Wallachia. Pada tahun 1473 M, Randu 

telah kehilangan kekuasaannya akibat kudeta dari klan Dan II. 

Dan, akhirnya Randu meninggal dunia pada bulan Januari 

1475 M. Kematian Randu menyebabkan Dracula tidak bisa 

membalas dendam atas pengkhianatan adiknya, maka dendam 

ini  dia lampiaskan pada penguasa Wallachia waktu itu.


Masa Pemerintahan Kedua                 

(1475-1476 M)

MASA pemerintahan kedua tidak begitu lama, hanya satu 

tahun. Pada masa ini Dracula banyak menghabiskan waktu 

di Gereja Snagov. Di tempat ini dia mengisi hari-harinya 

dengan mengikuti misa dan bercakap-cakap dengan kepala 

biara. Dalam salah satu percakapan dia menanyakan apakah 

ada kemungkinan dosanya akan diampuni oleh Tuhan. Dan, 

dia mengulang pesannya agar kelak jika mati dikuburkan di 

Gereja Snagov.

Dracula rupanya menyadari kalau datangnya ajal sudah 

semakin dekat. Dia lebih banyak merenung, memikirkan se-

gala hal yang telah dilakukannya. Pada masa ini kebiasaannya 

menyiksa manusia sudah semakin berkurang. Pada akhirnya, 

seseorang yang hidupnya dilumuri oleh darah ini harus me-

nyerah pada kematian. Pada tahun 1476 M ajal benar-benar 

menjemputnya. 

sesudah  Dracula mati, istri dan anaknya atas perintah Raja 

Matthias diboyong ke Honggaria. Pada tahun 1508 M, putra 

paling tua Dracula, Vlad, mencoba merebut tahta Wallachia. 


Tapi serangan ini bisa dipatahkan oleh Minhea, penguasa 

Wallachia pada waktu itu.

Sejarah mencatat bahwa kekejaman Dracula menjadi sosok 

paling menakutkan di sekitar Rumania. sesudah  kematiannya 

dia kemudian dikenal sebagai setan hidup yang tak segan 

menghisap darah manusia. Kisah inilah yang terus melegenda 

sampai saat ini, hingga melahirkan sosok vampir, manusia 

penghisap darah manusia.

 

 


Keturunan Dracula

  

Pada tahun 1988-1989 M, seorang psikolog di New 

York, Dr.Kaplan Stephen, melakukan penelitian ten-

tang Dracula. Ia menyebar angket ke beberapa negara 

yang diduga masih merupakan keturunan Dracula.                            

Masih adakah keturunan Dracula hingga saat ini?

KALAU peribahasa mengatakan buah apel tak akan jatuh jauh 

dari induknya, lantas apakah peribahasa ini cocok untuk men-

getahui sifat keturunan Dracula? Sebagai penguasa Wallachia, 

Dracula memang mempunyai banyak keturunan, baik dari 

pernikahan yang resmi maupun yang tidak resmi. Keturunan 

ini  tersebar di berbagai tempat di sekitar Rumania. Di 

antara mereka ada yang hidup menjadi bangsawan dan ada pula 

yang menjadi rakyat biasa. Keberadaan keturunan Dracula 

ini  bisa dilacak keberadaannya sampai tahun 1845 M.

Bila ditilik lebih mendalam memang ada satu keanehan 

mengenai keturan Dracula. Di antara keturan-keturan Dracula 

banyak yang mati sewaktu masih kecil, dan kalau hidup mer-

eka mengalami cacat mental. Hal inilah yang menyebabkan 

keturan Dracula akhirnya mengalami kepunahan. Apakah 

keanehan ini disebabkan oleh perkawinan incest atau sebab 

yang lainnya, para pakar belum bisa menyimpulkannya.

Di antara anak Dracula dari istri yang sah hanya Vlad yang 

bisa hidup dan kemudian menikah. Dari pernikahannya dia 

mempunyai dua anak laki-laki tapi hanya satu yang menikah. 

Dan, pada garis keturunan selanjutnya  terus-menerus men-

galami penyusutan hingga mengalami kepunahan. 


Penyiksaan Ala Dracula

 

Para sejarawan memperkirakan korban dari kekejaman 

Dracula antara 100.000-500.000 orang. Korbannya ber-

asal dari berbagai kalangan mulai dari bangsawan, tuan 

tanah, petani sampai pengemis. Di antara mereka ada 

laki-laki dan perempuan, orang tua dan anak-anak. Bila 

Dracula berkehendak tak ada satupun yang bisa lolos dari 

kekejamannya. 

Dracula bisa dikatakan sebagai kreator penyiksaan. Metode 

penyiksaan yang belum pernah ada dia ciptakan untuk 

memenuhi hasrat gilanya akan darah dan jerit korban 

yang sekarat. 


Metode Penyiksaan Dracula

ADA banyak cara yang digunakan Dracula untuk menyiksa 

korbannya. Di antara cara-cara ini  ada yang hanya 

membuat cacat seumur hidup dan ada pula yang membuat 

mati. Dengan cara-cara penyiksaan ini  Dracula berusaha 

memperoleh kepuasan yang setinggi-tingginya.

Ada pun metode penyiksaan ala Dracula yang populer 

dan paling sering digunakan antara lain:

Penyulaan

Di antara metode penyiksaan yang dimiliki Dracula, pe-

nyulaan atau impalement merupakan yang paling dia gemari. 

Sebagian besar korbannya mati sebab  cara ini.

Sula merupakan kayu sebesar lengan orang dewasa yang 

ujungnya runcing. Alat seperti ini digunakan oleh Dracula 

untuk menusuk seseorang. Bagian yang ditusuk yaitu  dubur 

atau liang kemaluan perempuan. 


Biasanya si korban ditidurkan telentang di atas meja 

dalam keadaan telanjang. Kemudian tiga atau empat prajurit 

memegangi kaki dan tangan si korban untuk memudahkan 

penyulaan. sesudah  korban dipegang dengan kuat salah seorang 

parjurit memasukkan sula lewat dubur atau liang kemaluan 

perempuan. Tentu saja si korban akan menjerit kesakitan dan 

meronta-ronta, tapi prajurit Dracula akan terus melakukan 

tugasnya sampai tuntas. Saat seperti inilah yang sangat disenan-

gi oleh Dracula. Dia akan melongokkan kepala untuk melihat 

dari mana arahnya jeritan datang. sesudah  menemukannya dia 

akan tersenyum penuh dengan kepuasaan.

sesudah  masuk ke dalam badan si korban, sula kemudian 

dipancangkan di atas tanah. Dalam keadaan tegak lurus ini 

tubuh korban akan turun dengan pelan mengikuti berat badan-

nya, dan bagian sula yang masuk ke dalam tubuh semakin 

panjang. Tentu saja sula yang runcing ini  akan tembus ke 

bagian-bagian penting korban seperti jantung dan paru-paru, 

dan kemudian ujung runcingnya akan keluar melalui kepala, 

mulut, dada, punggung atau tenggorokan.

Korban yang disula akan mati secara perlahan-lahan. Se-

tiap inci sula yang masuk ke dalam tubuh akan menimbulkan 

rasa sakit yang luar biasa. Di atas sula mereka akan bergerak 

kesana-kemari menghadapi sang maut yang begitu pelan-pelan 

datangnya. sebab  gerakan-gerakan korban yang tak beraturan 

maka sula ada yang tembus ke punggung, tenggorokan atau 

perut. Sementara itu, Dracula duduk dengan tenang di depan 

meja sambil menikmati makanan dan minuman dengan wajah 

penuh dengan kegembiraan.

Bila yang disula anak kecil maka ujung sula akan tembus 

sampai ibunya. Seorang ibu diikat dengan tubuh anaknya 

pada tiang pancang yang kuat. Kemudian seorang prajurit atas 

permintaan Dracula mengambil sula dan kemudian berdiri di 


depan si korban. sesudah  Dracula memberikan aba-aba prajurit 

itu akan menyula anak kecil dengan pelan-pelan. saat  sula 

menembus perut maka darah akan muncrat dan lolong sekarat 

anak kecil itu akan membahana. Prajurit itu akan terus me-

masukkan sula sampai tembus pada perut ibunya. Kini si ibu 

yang akan menjerit kesakitan. sesudah  sula masuk ke perut si 

ibu, prajurit yang lain melepaskan tali ikatan. Begitu tali lepas 

sula akan dipancangkan di atas tanah. Dalam keadaan seperti 

ini sula akan terus masuk ke tubuh si ibu sampai tembus ke 

punggung. Dracula pun bertepuk tangan dengan penuh kegi-

rangan melihat adegan ini .

“Pesta Penyulaan” biasanya dilakukan dipinggir kota. Para 

korban sebelum disula digiring dengan tali di leher sepanjang 

jalan, sementara Dracula berjalan paling depan. Wajah-wajah 

para korban Dracula tertunduk ke tanah dengan tatapan 

kosong sebab  sudah tahu nasib yang akan mereka alami. Se-

dangkan prajurit-prajurit bertampang buas berjalan di sekitar 

para korban, dan siap memukulkan gagang tombak pada siapa 

saja yang berjalan lambat.

Sesampainya di tempat penyulaan, Dracula duduk di 

depan meja bersama orang-orang kepercayaannya. Sebelum 

acara dimulai dia akan bertaruh terlebih dahulu untuk me-

nentukan formasi apa yang akan dipilih saat  korban akan 

dipancangkan di atas tanah; biasanya yang disukai Dracula 

yaitu  posisi lingkaran. sesudah  formasi ditentukan maka 

penyulaan dimulai.

Dalam “pesta penyulaan” jumlah korbannya bisa sampai 

puluhan ribu. Agar acara gila ini bisa sukses maka Dracula 

mengerahkan 20.000 prajuritnya untuk menyula korban secara 

serempak. Bisa dibayangkan bagaimana memilukan tempat 

ini  dengan berbagai lolong kematian dan darah yang 

membasahi rerumputan. Para korban tidak bisa berbuat lain 


kecuali berteriak sekeras-kerasnya disertai tangis para bayi. 

sesudah  semuanya disula, para korban akan dipancangkan 

dengan formasi yang diinginkan oleh Dracula di atas tanah 

lapang. Sula yang paling tinggi menunjukkan bahwa si kor-

ban menempati rangking pertama dalam daftar penyiksaan 

Dracula.

Begitu semua mayat telah dipancang Dracula akan berjalan 

berkeliling untuk menikmati rintih sekarat korbannya. Dia 

akan senang bila melihat korban yang menanti ajal sambil 

matanya tak lepas menatap darah yang menetes. sesudah  merasa 

puas melihat korban-korbannya, Dracula akan kembali ke 

mejanya dan kemudian menikmati santap makan siang.

Mayat-mayat korban penyulaan akan dibiarkan selama 

berbulan-bulan sampai membusuk. Tidak ada yang berani 

mendekati daerah itu. Masyarakat desa di Wallachia memilih 

berjalan memutar bila harus melintasi ajang pembantaian 

ini . Bila penyulaan akan dilakukan lagi tempat ini  

baru dibersihkan, dan mayat-mayat yang telah tak berbentuk 

itu dikuburkan secara massal.

Para sejarawan belum bisa memastikan darimana asal 

Dracula mendapatkan cara penyiksaan berupa penyulaan 

ini. Tapi yang jelas semenjak di Turki dan saat  ditahan 

di Honggaria kebiasaan Dracula memang menusuk-nusuk 

binatang. Binatang yang ditemukan di sekitarnya, baik itu 

kecoak, tikus, laba-laba atau burung, langsung dia tusuk seperti 

tukang sate menusuk irisan daging kambing. Dia melakukan 

hal ini tatkala merasa kesepian atau tidak bisa menyalurkan 

dendamnya pada musuh-musuhnya. Satu hal yang perlu di-

catat, dia melakukan itu dengan ketenangan yang luar biasa 

tanpa ekspresi kengerian. 


Beberapa sejarawan dengan detail yang berbeda tapi inti 

cerita sama mengatakan bahwa Dracula pernah meminta 

pendapat dua orang biarawan tentang praktek penyulaan. 

Dracula mengajak dua biarawan ini  ke halaman istana. 

Sesampai di tempat ini  Dracula memerintahkan pada 

prajuritnya untuk menyula seseorang. 

sesudah  proses penyulaan selesai Dracula bertanya pada 

kedua biarawan itu, “Apakah penyulaan yang kulakukan ini 

dibenarkan agama Kristen?”

“Kau ditugaskan Tuhan untuk menghukum kejahatan,” 

jawab biarawan pertama.

“Tindakanmu yaitu  tindakan setan,” jawab biarawan 

kedua jujur.

Mendengar jawaban ini  Dracula memerintahkan 

agar biarawan yang kedua disula di depannya saat itu juga. 

Sedangkan pada biarawan pertama dia memberikan hadiah 

yang melimpah sebab  telah mendukungnya.

Sebuah dokumen yang berasal dari Jerman memberikan 

penjelasan lain. Dalam dokumen ini kedua biarawan sama-

sama disula oleh Dracula. Biarawan pertama disula sebab  

telah berkata tidak jujur sedangkan biarawan kedua disula 

sebab  kejujurannya. saat  kedua-duanya disula Dracula 

menyasikannya sambil menyantap makan siang. 

Selain kisah di atas ada kejadian lain menyangkut penyu-

laan. Pada saat itu diadakan penyulaan di luar kota. Seperti 

biasanya Dracula akan mengajak para bangsawan dan pengi-

kutnya untuk menyaksikan “pesta penyulaan” ini . Salah 

satu di antara bangsawan yaitu  duta dari Brasov. Sudah 

sejak lama Dracula tidak suka dengan bangsawan ini sebab  

terlalu banyak ikut campur, maka dia mencari siasat untuk 

menyingkirkannya.


saat  penyulaan dimulai Dracula mengajak bangsawan 

ini  melihat-lihat para korban. Mereka berjalan sambil 

berbincang-bincang di antara tubuh yang meregang nyawa 

di kayu sula. 

“Wah di sini baunya busuk sekali,” kata Dracula.

“Hamba tidak menciumnya, Pangeran,” jawab sang 

bangsawan.

Mendengar jawaban bangsawan itu Dracula sangat marah. 

Dia menuduh bangsawan itu tidak berkata jujur di depannya. 

Alasan inilah yang dipakai Dracula untuk menyingkirkan si 

bangsawan. Akhirnya, bangsawan itu harus menemui ajalnya 

di ujung sula.

Kalaupun pada masa sebelum Dracula penyiksaan den-

gan penyulaan sudah dikenal, namun hanya Draculah yang 

melakukan dengan massal. Baginya penyulaan merupakan 

pesta yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Memang 

inilah kekejaman yang hanya dimiliki oleh Dracula sepanjang 

sejarah umat manusia.

Pemotongan Payudara Perempuan 

dan Merusak Organ Seksual

Dracula tidak pernah pilih kasih pada korbannya. Dia 

akan memperlakukan secara sama tanpa berbelaskasihan 

sedikitpun. Termasuk pada perempuan. 

Siksaan terhadap perempuan yang disukai oleh Dracula 

selain penyulaan yaitu  mengerat payudara. Korban diikat 

di atas meja dengan kuat dalam keadaan telanjang. Kemu-

dian Dracula mengamati tubuh si korban dari ujung rambut 


sampai ujung kaki. sesudah  puas dia akan mengeluarkan pisau 

kecil yang selalu dibawa-bawanya dari sarungnya. Pisau itu 

berkilauan terkena sinar matahari. 

Dengan ketenangan yang luar biasa seperti ahli bedah 

yang berpengalaman Dracula mulai mengerat payudara si 

korban. Bisa dibayangkan korban akan teriak histeris sebab  

kesakitan, tapi Dracula terus melakukan pekerjaannya tanpa 

terganggu. sesudah  satu payudara selesai dikerat dia meletak-

kan di meja yang ada di dekatnya, kemudian melanjutkan 

mengerat payudara yang satunya. Bila korban pingsan maka 

dia akan menunggu sampai siuman atau menyuruh prajuritnya 

untuk membangunkannya. Baginya menyiksa korban tanpa 

rintihan atau lolongan kesakitan tidak akan memuaskan hati. 

sesudah  kedua payudara selesai dikerat Dracula akan men-

guliti payudara ini . Semuanya dia kerjakan dengan rapi 

sehingga seluruh kulit akan terkelupas. Baru sesudah  selesai 

dia akan mencuci tangan yang berlumuran darah di baskom 

yang telah disediakan pelayannya dan kemudian menenggak 

segelas anggur.

Puaskah Dracula dengan penyiksaan yang dilakukan?

Belum. Bila korban masih hidup dia akan merusak liang 

kemaluan perempuan malang ini  dengan kayu kurang 

lebih sepanjang 30 centimer, yang besarnya selengan bayi. 

Ujung kayu ini  diruncingkan seperti sula.

sesudah  merasa siap Dracula akan memasukkan kayu 

ini  ke dalam liang kemaluan perempuan yang menjadi 

korbannya. Tentu saja si korban berteriak kesakitan; sering-

kali sampai pingsan berkali-kali. Tapi Dracula tetap melaku-

kannya dengan tenang dan wajah sedingin mayat hidup. Dia 

tak hirau dengan teriakan minta ampun atau lolongan kema-

tian. Sebelum terpuaskan dia tidak akan pernah mengakhiri 

penyiksaannya.


Selain melakukannya sendiri, Dracula sering memerin-

tahkan prajuritnya untuk melakukan penyiksaan jenis ini. 

Bila prajuritnya yang melakukan Dracula akan duduk di 

tempat duduknya sambil memerhatikan tubuh si korban yang 

meronta-ronta. Matanya akan mengamati setiap tetesan darah 

yang menetes dari meja ke lantai. Bila dia merasa bahwa siksaan 

yang dilakukan oleh prajuritnya tidak memuaskan hatinya, 

maka akan memerintahkan agar prajurit ini  dihukum 

dengan hukuman yang sangat berat.

Entah dari mana Dracula belajar cara penyiksaan seperti 

itu tapi yang pasti hal ini merupakan salah bentuk penyiksaan 

yang paling dia sukai. Para pakar psikologi pun belum dapat 

menyimpulkan penyakit kejiwaan yang diderita oleh Dracula. 

Tapi yang jelas mereka sepakat bahwa Dracula merupakan 

seorang psikopat yang maniak dengan darah. Orang seperti ini 

akan merasa senang bila melihat darah yang ada di mana-mana, 

dan dia juga sangat menikmati rintihan korbannya. Bila satu 

korban tidak memuaskannya maka dia akan melakukannya 

pada korban yang lain. 

Adakah cara penyiksaan yang lebih keji bila dibandingkan 

yang dilakukan Dracula?

Merebus Korban Hidup-hidup

Penyiksaan dengan cara merebus korban hidup-hidup 

biasanya dilakukan di ibukota Wallachia. Sebuah bejana be-

sar—kira-kira berdiameter 2 meter—diletakkan di atas tungku 

yang berada di tengah alun-alun. Bejana ini  diisi air. 

sesudah  penuh kayu bakar dinyalakan.

Sambil menunggu air mendidih para korban di keluarkan 

dari dalam penjara kemudian diarak menuju alun-alun. Wajah 


sedih mereka berjalan lemas melewati kerumunan orang- 

orang yang telah memadati alun-alun. Sesampai di tengah 

alun-alun mereka diikat pada tiang pancang.

Begitu semuanya siap, Dracula akan memasuki alun-alun. 

Dia akan duduk di kursi yang telah disediakan dengan dikawal 

prajurit kepercayaan. Matanya yang biru menatap berkelil-

ing, memerhatikan suasana “pesta” yang akan segera dimulai. 

Dia kemudian melambaikan tangan pada prajurit yang ada di 

tengah alun-alun sebagai tanda bahwa “pesta” bisa dimulai.

Begitu mendapatkan tanda dari Dracula, seorang prajurit 

akan melepas korban dari tiang pancang tanpa melepas ikatan 

di tangan. Korban kemudian digiring ke tengah alun-alun 

mendekati bejana berisi air yang telah mendidih. Sesampainya 

di tempat itu dua orang prajurit melemparkan korban ke 

dalam bejana ini . Dan, bisa dibayangkan korban akan 

bergerak-gerak tak karuan di tengah air-air yang mendidih 

seperti halnya ayam yang direbus hidup-hidup. 

Selama beberapa waktu korban akan terus meronta-ronta 

sampai mati. sesudah  mati tubuhnya akan diambil untuk di-

gantikan korban selanjutnya. Begitulah yang terjadi sampai 

korban habis. 

sesudah  semua korban direbus dengan hidup-hidup, 

Dracula memerintahkan prajuritnya memotong-motong 

tubuh ini . Para jagal-jagal ini  melakukan tugasnya 

layaknya memotong daging rusa. Bagian tubuh yang telah 

terpotong kemudian dimasukkan ke dalam keranjang. sesudah  

semuanya selesai, potongan-potongan ini  akan diberikan 

pada binatang buas peliharaan Dracula. 

Dari tempat duduknya Dracula memerhatikan setiap 

korban yang direbus ini  dengan penuh semangat. Ru-

panya cara penyiksaan yang berbeda memberikan kepuasaan 


yang berbeda pula. Tapi yang jelas semuanya memberikan 

kepuasaan baginya. 

Terhadap kekejaman ini  seorang psikolog dari 

Indaho, Dr. Thomas Mcdevitt, menyatakan bahwa Dracula 

menderita kecanduan akan darah. Seperti orang yang kecan-

duan heroin, orang yang kecanduan darah akan marah jika  

keinginan untuk melihat darah tak terpenuhi. Semakin kuat 

kecanduannya maka semakin sering dia ingin melihat darah. 

Dr. Thomas Mcdevitt mengatakan bahwa orang seperti 

Dracula mempunyai ciri fisik seperti lingkaran gelap di bawah 

mata, pipi cekung dan kulitnya pucat. Sampai saat ini belum 

diketahui penyebab kelainan ini  dan apa obatnya.  

Kalau melihat korban Dracula yang mencapai ribuan 

orang maka penyakit kecanduan darah yang dialaminya bisa 

dikatakan akut. Bila dihitung dari masa pemerintahannya 

yang hanya tujuh tahun namun  dengan korban yang mencapai 

ratusan ribu tentu Dracula melakukan penyiksaan setiap hari 

untuk memenuhi rasa kecanduannya akan darah. 

Lantas, siapakah yang bisa menandingi kekejaman 

Dracula?

Menguliti Kepala dan Bagian Tubuh Lainnya 

Dracula juga suka menguliti korbannya. Biasanya bagian 

yang dikuliti yaitu  kepala. Kalau suku Cromagnon tempo 

dulu menguliti kepala korban yang telah mati, maka Dracula 

melakukannya saat  korban masih hidup. 

Korban yang akan dikuliti ditidurkan di atas meja dengan 

ikatan yang kuat. Dracula kemudian berdiri di dekat si korban. 

sesudah  merasa siap dia akan mulai menguliti kepala korban 


dengan pisau yang tajam. Mulai dari wajah kemudian kulit 

korban dikuliti sampai semua kulit kepala terkelupas. 

Bisa dibayangkan bagaimana rasa sakit yang dialami si 

korban. Dia akan berteriak-teriak histeris dengan harapan 

diampuni, tapi Dracula tetap melakukannya dengan tenang 

seperti menguliti kulit kambing. Dia baru akan berhenti bila 

seluruh kulit kepala telah terkelupas. sesudah  semuanya terke-

lupas biasanya dia akan meletakkan kulit ini  di atas meja. 

Selain menguliti kepala, Dracula juga menguliti bagian 

tubuh yang lain. Sudah menjadi kebiasaannya bahwa sesudah  

puas menguliti kepala si korban dia berhenti sejenak untuk 

menyantap makanan atau minum sambil melihat korban-

nya. Begitu merasa cukup beristirahat dia akan melanjutkan 

penyiksaannya dengan menguliti bagian tubuh yang lain—

tangan, kaki, paha, perut dan lain-lain—hingga darah pun 

membasahi ruangan penyiksaan. Dan, Dracula sangat senang 

melihat genangan darah ini . 

Dalam melakukan pengulitan Dracula melakukan dengan 

pelan-pelan seakan setiap bagian tubuh korbannya yaitu  

barang yang berharga. Bisa dibayangkan bagaimana korban 

yang masih hidup mengalami penyiksaan semacam ini. Tentu 

sangat menderita. 

Kesadisan Dracula melebihi kesadisan suku-suku paling 

primitif yang ada di muka bumi ini. Kalau suku-suku primi-

tif melakukan pengulitan kepala sebagai tanda kemenangan, 

maka Dracula melakukannya hanya untuk memenuhi nafsu 

setannya.

Begitulah sejarah mencatat kekejaman Dracula.


Cara Penyiksaan yang Lain

a. Mencekik

Pencekikan dilakukan dengan cara korban berjongkok 

dan tangannya diikat di belakang. Di leher korban kemudian 

dilingkarkan kawat dengan kedua ujungnya di pegang. sesudah  

siap maka kedua ujung ini  ditarik kuat-kuat. Korbanpun 

akan meronta-ronta kesakitan.

Dalam melakukan pencekikan biasanya dilakukan sendiri 

oleh Dracula. saat  korban meronta-ronta dan akan sekarat 

dia segera melepaskan cekikannya untuk beristirahat sejenak. 

sesudah  siap dia akan melakukannya lagi. Begitulah yang dia 

lakukan sampai korban mati dengan lidah menjulur. 

Sebagai salah satu ciri penyiksaan Dracula yaitu  dia tidak 

mau melihat korbannya lekas mati. Dia akan berusaha agar 

korbannya mati secara perlahan-lahan. Bagi Dracula setiap 

detik menjelang kematian yaitu  sesuatu yang berharga demi 

memuaskan nafsu sadisnya.

b. Memotong otot-otot tertentu

Biasanya bagian yang di potong yaitu  otot-otot pada 

lutut. Pemotongan pada bagian ini menyebabkan si korban 

mengalami kelumpuhan seumur hidup. Bagi Dracula huku-

man seperti ini termasuk dalam katagori hukuman ringan.

Mereka yang dihukum seperti ini biasanya para petani 

miskin yang tidak mampu membayar upeti pada tuan tanah 

yang dekat dengan Dracula. Para petani yang mengalami pe-

nyiksaan seperti ini mau tak mau akhirnya menjual tanahnya 


sebab