Tampilkan postingan dengan label dracula perang salib 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dracula perang salib 3. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juli 2026

dracula perang salib 3

 





















 tak mampu bekerja lagi. Oleh sebab nya cara seperti 

ini sangat disukai tuan tanah.

c. Memotong hidung dan telinga

Pemotongan hidung atau telinga dilakukan dengan 

cara korban diikat pada tiang pancang. Kemudian Dracula 

mendekati si korban dan selama beberapa saat mengamati 

korbannya seolah dia mau membeli barang. sesudah  merasa 

siap dia akan memotong hidung atau telinga korban dengan 

pelan-pelan; kadang juga dengan sekali tebas. Dan, korbanpun 

tidak akan mempunyai hidung dan telinga lagi sepanjang sisa 

hidupnya.

Penyiksaan seperti ini merupakan katagori ringan bagi 

Dracula.

d. Membutakan mata

Ada dua cara metode untuk membutakan mata yang 

dilakukan Dracula. Pertama, dengan menuangkan timah cair 

panas dalam mata. Kedua, dengan cara mencongkelnya. 

Cara pertama akan membuat mata si korban mengalami 

kerusakan. Bisa dibayangkan bagaimana timah panas bersuhu 

di atas seratus derajat celsius dituangkan ke mata. Mata si ko-

rbanpun akan mengalami kerusakan yang hebat. Sedangkan 

cara kedua akan menyebabkan si korban tidak akan mempu-

nyai bola mata selama hidupnya.

Orang-orang yang disiksa dengan cara ini sebagian besar 

yaitu  mata-mata. sesudah  dibutakan mereka akan dikirim 

ke kerajaan yang menyuruhnya sebagai bentuk penghinaan.


e. Membakar Hidup-hidup

Penyiksaan seperti ini biasanya dilakukan secara mas-

sal. Para korban dimasukkan ke dalam rumah yang pintu-

pintunya telah terkunci. Rumah ini  kemudian dibakar 

dari luar. Tak begitu lama api akan menjarah semua ruangan 

dan korban-korban yang ada di dalamnya akan terpanggang 

hidup-hidup.

Dari luar Dracula mendengar jerit kematian dari dalam 

rumah. Suara-suara ini  membuatnya merasakan kenik-

matan yang luar biasa. sesudah  semua jeritan mereda—berarti 

semua korban telah mati—Dracula akan meninggalkan tempat 

ini  dengan perasaan puas.

f. Memaku Kepala

Dracula juga terbiasa menyiksa korban dengan memaku 

kepala. Korban yang diikat disuruh jongkok di depannya 

dengan tangan terikat. sesudah  korban jongkok Dracula akan 

memaku kepala si korban. Bersamaan dengan paku yang ma-

suk ke dalam kepala maka korban akan berteriak kesakitan.

Cara penyiksaan seperti ini jarang dipakai oleh Dracula. 

Si korban yang dipaku kepalanya jika  mengenai otak akan 

langsung mati. Hal ini kurang disukai Dracula sebab  pend-

eritaan si korban cepat berlalu.

g. Memangsakan si Korban Pada Binatang Buas

Seperti raja-raja Romawi zaman Gladiator, Dracula juga 

mengadakan pesta berupa pertarungan antara binatang buas 


dan manusia. Acara sering kali diadakan di alun-alun Wal-

lachia. 

Kalau pada zaman Romawi korban diberikan kesempatan 

untuk melakukan perlawanan maka semasa Dracula korban 

diikat. Korban yang telah tak berdaya itu dilemparkan ke 

tengah alun-alun. sesudah  siap, dua atau tiga harimau akan 

dilepas untuk memangsa si korban. Harimau-harimau ini  

akan berebut mencabik-cabik si korban yang berteriak-teriak 

kesakitan. Sementara itu, dari tempat duduknya Dracula me-

nikmati adegan-adegan ini  dengan wajah puas. 

Selain harimau binatang yang dipakai untuk menyiksa si 

korban yaitu  buaya. Benteng Dracula di kelilingi oleh parit 

lebarnya kira-kira 5-7 meter. Di dalam parit-parit ini  diisi 

dengan buaya. saat  ada warga Wallachia yang mau dihukum 

buaya-buaya ini  tidak diberi makan selama tiga hari. 

Dengan kondisi buaya yang kelaparan maka si korban akan 

segera menjadi santapan begitu dilemparkan keparit. Sesaat  

air sungai memerah sebab  darah.

h. Menarik Korban Dengan Dua Kuda

Hukuman semacam ini bisa dikatakan sangat mengerikan. 

Kaki korban diikat dengan tali. Tali ini  kemudian diikat-

kan pada dua kuda. Kuda-kuda ini  menghadap pada arah 

yang berlawanan. Misalnya, satu kuda menghadap ke utara 

maka kuda lainnya menghadap ke selatan. 

sesudah  kaki korban diikat dengan kuat kedua kuda 

ini  akan dicambuk. Tak ayal kedua kuda itu akan lari 

kencang dengan arah yang berlawanan. Bisa dibayangkan apa 

yang terjadi. Tubuh korban akan terbelah menjadi dua bagian 

dari anus sampai kepala.


Bila Dracula ingin menikmati kematian si korban maka 

akan dipakai cara lain. Yaitu, dengan cara kedua kuda terse-

but tidak dicambuk melainkan diperintahkan untuk berjalan 

pelan-pelan. Maka kaki korban akan tertarik pelan-pelan; 

satu ke kiri satu ke kanan. Tentu korban akan merasakan 

kesakitan yang luar biasa. Pada posisi yang menyakitkan ini 

kuda diperintahkan untuk berhenti selama beberapa waktu. 

i. Memendam tubuh korban 

Penyiksaan ini akan dilakukan dengan cara korban 

ditelanjangi terlebih dahulu. sesudah  itu korban dimasukkan 

ke dalam lubang setinggi pusar, kemudian ditimbun dengan 

tanah sehingga yang kelihatan hanya bagian pusar ke atas. 

sesudah  siap Dracula memerintahkan pada prajuritnya agar 

menembaki korban sampai mati. Tentu si korban tak bisa 

berbuat banyak sebab  seluruh anggota badannya tidak dapat 

digerakkan.

Metode memendam korban biasanya dilakukan secara 

massal. Korban-korban diletakkan dalam formasi yang di-

inginkan Dracula di tengah-tengah tanah lapang. 

j. Memanggang

Hukuman ini memang sangat mengerikan. Dracula 

memerintahkan korban yang telah disula untuk dipanggang—

seringkali korban masih hidup—seperti halnya memanggang 

rusa. Kedua ujung sula diletakkan pada tiang pancang berben-

tuk huruf Y. sesudah  siap kayu arang yang telah disediakan 

di bawah korban dinyalakan. Dua orang yang berada di 


masing-masing ujung sula memutar tubuh si korban seolah 

agar seluruh bagiannya masak. 

 Tentu saja korban yang teramat tersiksa sebab  disula 

bertambah tersiksa saat  api menjilati tubuhnya. Rintihan-

rintihan korban itulah yang membuat Dracula bahagia.


Pembantaian Dracula 

Terhadap Umat Islam

saat  Pasukan Turki Ottoman menyeberangi Sun-

gai Danube mereka menyaksikan pemandangan 

yang sangat mengerikan. Sepanjang jalan menuju 

Wallachia berubah menjadi hutan mayat manu-

sia. Siapakah mayat-mayat yang diperkirakan 

jumlahnya 20.000 itu? Siapakah pembunuhnya?                              

Bagaimana mereka dibunuh?


Sejarah Kelam yang Tak           

Terungkap

SAMPAI saat ini belum banyak yang mengungkap tentang 

pembantaian Dracula terhadap umat Islam. Sejarah pemban-

taian ini  seolah tertutup rapat oleh berbagai mitos ten-

tang sosok Dracula. Akibatnya, hanya sedikit di antara umat 

Islam yang mengetahuinya.

Pembantaian Dracula terhadap umat Islam tak bisa dilepas-

kan dari Perang Salib. Sebagai salah satu panglima Perang 

Salib di daerah Transylvania, Dracula bertugas mencegah 

pasukan Turki Ottoman agar tidak bisa bergerak maju ke 

Eropa Timur dan Barat. Dracula memakai segala cara agar 

tugasnya ini  bisa berjalan dengan mulus, salah satunya 

dengan meneror umat Islam yang ada di wilayah Wallachia 

dan sekitarnya. Dengan teror ini  dia berharap pasukan 

Bulan Sabit Turki tidak mendapatkan bantuan dari rakyat.

Selain sebab  Perang Salib, rasa permusuhan Dracula 

terhadap umat Islam juga disebabkan oleh rasa dendamnya 

yang tertanam sejak kecil. Perpisahan dengan ibunya sewaktu 

dia masih membutuhkan kasih sayang menyebabkan Dracula 


berkembang menjadi pribadi yang pendendam. Ada dua pihak 

yang dia dendam. Pertama, ayahnya sendiri, Vlad Dracul. 

Dia menganggap ayahnya telah mengorbankan dirinya demi 

kekuasaan Wallachia. Sikap ini membuat Dracula merasa 

terbuang di tempat yang asing. Kedua, Kerajaan Turki Otto-

man. Keberadaannya di Turki bukan sebab  suka rela. Dia 

harus berada di kota asing yang jauh dari ibu dan saudara-

saudaranya untuk menjadi jaminan dari ayahnya. Walaupun 

di Turki diperlakukan dengan baik namun dia tetap mengang-

gap Kerajaan Turkilah yang menyebabkan dirinya kehilangan 

masa kecil yang indah.

 

Gambar 8: Wajah Dracula versi Turki

Dendam pada ayahnya tak pernah terbalas sebab  sang 

ayah meninggal saat  dia masih berada di Turki. Sedangkan 

dendam pada Kerajaan Turki Ottoman memperoleh momen-

tumnya saat  Perang Salib semakin memanas dan menuju 

titik akhir. Namun untuk melampiaskan dendamnya pada 

orang-orang Turki bukan pekerjaan yang mudah. Dia sadar 

bahwa dirinya tak akan bisa melawan Kerajaan Turki tanpa 

bantuan pihak lain. Oleh sebab  itu, dia berusaha mencari 

sekutu dari kerajaan yang sama besarnya dengan Turki, yaitu 

Kerajaan Honggaria.


Gayung bersambut. Kerajaan Honggaria dan pasukan 

Salib yang semakin terdesak sesudah  jatuhnya Konstantinopel 

ke dalam genggaman Kerajaan Turki Ottoman, membutuhkan 

bantuan yang besar dari daerah-daerah sekitarnya. Mereka tak 

mungkin lagi mengharapkan pada kekuatan, yang semakin 

hari semakin lemah. Maka saat  Dracula mengajukan diri 

sebagai sekutu, mereka langsung menerima dengan tangan 

terbuka. Orang seperti Dracula inilah yang diharapkan bisa 

menjadi palang pintu yang kokoh bagi pasukan Salib.

Langkah pertama yang diambil Dracula untuk bisa 

mendapatkan simpati dari Kerajaan Honggaria yaitu  dengan 

pindah agama. Hal ini pernah pula dia lakukan saat  berada 

di Turki, yaitu dengan memeluk agama Islam agar mendapat-

kan kebebasan—dalam agama Islam sesama Muslim yaitu  

saudara—sehingga seseorang yang awalnya tawanan saat  

masuk Islam maka akan dibebaskan. Cara itu dia lakukan lagi. 

Sebagai bukti kesetiaannya terhadap pasukan Salib, Dracula 

memeluk agama Katolik. Dengan jalan ini akan memuluskan 

langkahnya untuk menjadi salah satu panglima pasukan Salib, 

yang kemudian kesempatan ini akan digunakannya untuk 

menggempur Turki. Dan, memang langkah ini berhasil. Dia 

diterima sebagai bagian dari pasukan Salib dan bahkan dini-

kahkan dengan saudara Raja Honggaria. Satu langkah telah 

dilalui Dracula.

Sedangkan langkah kedua yang diambil Dracula yaitu  

membangun benteng yang kokoh. Benteng ini  haruslah 

dibangun di tempat yang curam agar tidak mudah dijangkau 

oleh musuh. Baginya hanya tempat seperti itulah yang akan 

memberikan kesempatan bagi dirinya untuk menyusun 

kekuatan melawan Turki. Dan, Dracula menemukan tempat 

yang strategis itu di reruntuhan benteng Poenari. 


Awalnya benteng Poenari didirikan oleh kakek buyutnya, 

namun seiring pergantian penguasa Wallachia yang sering ter-

jadi, benteng ini  tidak dipakai lagi. saat  Dracula men-

gunjungi tempat itu hanya mendapatkan puing- puing yang 

ditumbuhi lumut dan semak belukar. Tapi sebab  menganggap 

tempat ini ideal dia memerintahkan untuk membangunnya 

kembali. Dia mengerahkan tuan tanah dan tawanan untuk 

membangun benteng ini  hingga akhirnya bisa berdiri 

dengan kokoh. Dalam masa pemerintahannya di benteng 

inilah Dracula banyak  menghabiskan waktunya.

sesudah  kedua langkah ini  diambil, Dracula baru 

berani menyatakan secara terbuka bahwa dirinya yaitu  

musuh Kerajaan Turki Ottoman. Dia mulai meneror dan 

membantai umat Islam di wilayah sekitarnya. Semakin lama 

kekejaman dan kebiadaban Dracula semakin bertambah 

seiring bertambah kuat kekuasaannya hingga korban yang 

berjatuhanpun semakin bertambah. 

Korban kekejaman Dracula paling banyak berasal dari 

umat Islam. Sejarah mencacat sekitar 300.000 umat Islam 

dibantai oleh Dracula sepanjang masa pemerintahannya. 

Mereka yang menjadi korban berasal dari berbagai golongan. 

Sebagian besar petani, fakir miskin dan tahanan. Di antara 

mereka terdapat perempuan dan anak-anak. Namun sayang, 

korban pembantaian Dracula ini  tidak pernah terungkap 

dengan jelas. Sosok bengisnya diubah menjadi misteri yang 

semakin kabur.`

Ada beberapa sebab kenapa sejarah pembantaian Dracula 

ini tak pernah diungkap secara terbuka:

1. Pembantaian Dracula terhadap umat Islam tidak bisa 

dilepaskan dari Perang Salib. Negara-negara Barat yang pada 

masa Perang Salib menjadi pendukung utama pasukan Salib tak 


mau tercoreng wajahnya. Mereka yang getol mengorek-ngorek 

pembantaian Hitler dan Pol Pot akan enggan membuka borok 

mereka sendiri. Hal ini sudah menjadi tabiat Barat yang selalu 

ingin menang sendiri. 

2. Dracula merupakan pahlawan bagi pasukan Salib. 

Betapapun kejamnya Dracula maka dia akan selalu dilindungi 

nama baiknya. Dan, sampai saat ini di Rumania, Dracula di-

anggap sebagai pahlawan. Sebagaimana sebagian besar sejarah 

pahlawan-pahlawan pasti akan diambil sosok super heronya 

dan dibuang segala kejelekan, kejahatan dan kelemahannya, 

begitupula sejarah Dracula.

Kedua hal di atas merupakan bentuk politik sejarah yang 

dikembangkan oleh Barat. Sebagai pemegang kekuasaan dunia 

saat ini mereka akan terus-menerus berusaha menyeragamkan 

kebenaran. Bangsa-bangsa adidaya akan memaksakan kebena-

ran sejarah sesuai dengan selera mereka. Akibatnya, yang 

berkembang kemudian yaitu  sejarah tunggal. Inilah yang 

menyebabkan sejarah itu semakin menjauh dari kebenarannya. 

Oleh sebab nya jika  tidak jeli maka kita akan terjebak pada 

kebenaran yang sesungguhnya yaitu  kebohongan. 

Salah satu bentuk penjajahan sejarah yang paling gamblang 

yaitu  yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Dengan kem-

puan keuangan dan teknologi mereka mencoba mengubah 

sejarah perang Vietnam. Sejarah mencatat bahwa dalam perang 

ini  Amerika harus menelan kekalahan telak. Banyak 

prajurit mereka yang mati di medan pertempuran ini , 

dan tak sedikit yang cacat seumur hidup. Lantas apa yang 

dilakukan Amerika agar kekalahan itu bisa berubah menjadi 

kemenangan? Mereka ciptakan sosok super hero lewat film. 

Mereka memproduksi film Rambo dengan berbagai judul 


dan variasi untuk menunjukkan bahwa merekalah pemenang 

di perang Vietnam. Rambo telah menjadi mitos baru untuk 

menyembunyikan fakta yang sebenarnya.

Dracula tidak ubahnya seperti Rambo. Hanya bedanya 

kalau Rambo merupakan sosok fiksi yang seolah-olah dibuat 

nyata maka Dracula dibuat sebaliknya, yaitu sosok nyata 

diubah menjadi fiksi. Pihak Barat memakai kepercayaan 

masyarakat yang berkembang di pedesaan untuk menjadikan 

seolah-olah Dracula yaitu  sosok fiksi yang berwujud makhluk 

yang haus akan darah. sebab  semakin lama kebenaran itu 

semakin tertutupi maka Dracula akhirnya dianggap benar-

benar tokoh fiksi. Masyarakat pun enggan mencari kebenaran 

sebab  sudah merasa terpuaskan oleh sebuah fiksi yang seolah 

dibuat nyata. 

Itulah kehebatan penjajahan sejarah yang dilakukan 

bangsa-bangsa Barat. Jaring-jaring mereka yang tertebar ke 

segala penjuru akan menjerat siapa saja yang tidak berusaha 

untuk kritis terhadap sejarah.


Pembantaian-Pembantaian               

Dracula Terhadap Umat Islam

KALAU sejarah mencatat jumlah umat Islam yang menjadi 

korban pembantaian Dracula mencapai 300.000, tentu peris-

tiwa ini  tersebar di berbagai tempat. Sebagai salah satu 

panglima pasukan Salib, daya jelajah Dracula memang cukup 

luas sehingga bisa melakukan teror terhadap umat Islam di 

seluruh penjuru Wallachia. Baginya semakin banyak umat 

Islam yang terteror maka secara psikologis dirinya telah me-

menangkan separuh pertempuran.

Adapun peristiwa-peristiwa yang digunakan Dracula 

sebagai ajang pembantaian umat Islam yaitu  sebagai berikut:

Pembantaian Terhadap Prajurit Turki                   

di Tirgoviste

Seperti yang dijelaskan di muka bahwa sesudah  ayah dan 

kakaknya meninggal, Dracula dikirim oleh Kerajaan Turki 

Ottoman untuk menjadi penguasa Wallachia. Bersama prajurit 

Turki dia menyerbu Wallachia yang pada saat itu diperintah 

oleh seorang boneka Kerajaan Honggaria, keturuan Dan II. 

Melalui serangan dengan kekuatan pasukan yang besar 

akhirnya Dracula berhasil menduduki tahta Wallachia dalam 

usia masih relatif muda, 17 tahun. Begitu pertempuran usai 

sebagian besar prajurit kembali ke Turki dan menyisakan se-


bagian kecil di Wallachia. Namun, tanpa pernah diduga oleh 

Kerajaan Turki Ottoman ternyata Dracula berkhianat. Dia 

menyatakan memisahkan diri dari Turki. Prajurit-prajurit 

Turki yang masih tersisa di Wallachia ditangkap. Dalam waktu 

beberapa hari mereka disekap di ruang bawah tanah dengan 

mendapatkan perlakuan kejam dan tidak manusiawi.

Pada hari yang telah ditentukan oleh Dracula, para pra-

jurit Turki digiring ke tanah lapang yang ada di pinggiran 

kota. Mereka ditelanjangi seperti budak digiring menuju 

tempat penyiksaan massal. Dracula yang berkuda paling de-

pan dielu-elukan oleh warga kota sebab  telah membebaskan 

Wallachia dari tangan Turki. Sedangkan para prajurit Turki 

dilempari dengan kotoran, batu dan benda-benda lainnya 

sambil mendapatkan caci maki.

sesudah  berjalan cukup jauh sampailah di tempat tujuan. 

Di tempat itu sula-sula telah disediakan. Dan, tanpa menunggu 

waktu lama Dracula memerintahkan prajurit Turki langsung 

disula satu persatu. Satu selesai di sula langsung dipancangkan 

di tengah-tengah lapangan. Begitulah yang terus-menerus di-

lakukan hingga semuanya dipancang. Tubuh-tubuh mereka 

yang telanjang meregang nyawa menyambut maut. Sementara 

itu, Dracula dengan santai duduk di tempatnya sambil me-

nikmati ceceran darah dan jerit kematian si korban. Tampak 

sekali dia puas sebab  bisa melampiaskan dendamnya yang 

selama ini terpendam. 

Langkah Dracula ini tanpa disadari membawa bumerang 

bagi dirinya sendiri. Dengan membantai prajurit Turki secara 

otomatis kekuatannya menjadi melemah. Dampaknya saat  

mendapat serangan dari Janos Hunyadi—seorang panglima 

perang Kerajaan Honggaria di Transylvania yang dekat dengan 

keluarga Dan II—Dracula tidak bisa berbuat banyak. Pasukan-


nya yang belum terlatih dengan baik tak berdaya menghadapi 

gempuran pasukan Janos Hunyadi yang sudah berpengalaman 

di medan pertempuran Perang Salib. Akhirnya, Dracula harus 

melarikan diri ke Moldavia sesudah  hanya selama dua bulan 

memerintah.

Tentang pembantaian para prajurit Turki ini  

menunjukkan bahwa Dracula memang seorang machiavelis 

sejati. Bahwa baginya untuk menegakkan kekuasaan itu bisa 

dilakukan dengan berbagai cara, baik sah atau tidak, halal atau 

haram. Yang terpenting baginya yaitu  bagaimana kekuasaan 

ini  bisa langgeng. Dia tidak akan segan-segan melakukan 

pembantaian, teror dan penyingkiran terhadap orang-orang 

yang dianggap berseberangan dengan dirinya demi menjaga 

kekuasaannya agar bisa berdiri kokoh. Inilah ciri seorang 

diktator sejati.

Di antara diktator-diktator yang ada dunia, Dracula memi-

liki kehebatan yang tidak mereka miliki, yaitu cara menistakan 

orang. Sebagai orang yang pernah belajar di madrasah Turki 

dan pernah memeluk agama Islam tentu dia mengetahui ten-

tang beberapa hukum Islam, khususnya tentang aurat. Bahwa 

dalam Islam haram menunjukkan aurat di depan umum, tapi 

Dracula justru mempertontonkan aurat prajurit Turki yang 

beragama Islam. Mereka yang telanjang bulat dan tangan teri-

kat digiring di antara orang-orang yang menonton. Apa yang 

dilakukannya ini memang merupakan usaha yang sistematis 

untuk menghina Kerajaan Turki Ottoman sebagai wakil dari 

kerajaan Islam.

Salah satu bentuk penghinaan lainnya yaitu  memasukkan 

benda apapun ke anus. Dalam agama Islam hal ini  jelas 

dilarang—inilah salah satu alasan kenapa Islam tidak memper-

bolehkan homoseksual. Namun, Dracula justru melakukan itu 

dengan jalan memasukkan sula ke dalam anus. Inilah bentuk 


penistaan yang belum pernah dilakukan para tiran yang pernah 

ada dalam sejarah umat manusia.

Dengan bentuk penyiksaan yang telah dijelaskan di 

atas para korban Dracula akan menderita sebab  dua hal. 

Pertama, menderita sebab  mengalami siksaan yang begitu 

hebat. Kedua, menderita sebab  keyakinannya dilecehkan. 

Pendiritaan yang kedua inilah yang membuat korban men-

galami goncangan yang hebat. Sebagai prajurit mereka sudah 

terbiasa dengan perihnya tersayat pedang namun mereka tak 

akan tahan dengan sayatan di hati akibat dihina keyakinanya. 

Membakar Pemuda-pemuda Turki

Sebagaimana gairah pemuda-pemuda Islam di abad perten-

gahan untuk memelajari ilmu pengetahuan, pemuda Turki pun 

mempunyai gairah yang sama. Mereka menyebar ke segala 

penjuru kerajaan untuk belajar segala hal. Salah satu daerah 

yang menjadi tujuan mereka yaitu  Wallachia.

Di Wallachia mereka belajar banyak hal, salah satunya 

bahasa. Adanya aneka ragam suku di daerah ini menyebab-

kan Wallachia kaya akan bahasa. Dengan tekun para pemuda 

Turki memelajarinya. Bagi mereka bahasa merupakan salah 

satu ilmu yang sangat diperlukan. Dengan kemampuan bahasa 

yang baik maka akan memudahkan untuk memelajari segala 

macam ilmu pengetahuan yang sering kali ditulis dalam bahasa 

yang berlainan. 

Pada saat para pemuda Turki sedang giat belajar bahasa, 

tiba-tiba datang prahara. Dracula memerintahkan menang-

kap para pemuda ini . Tentu saja mereka kebingungan 


sebab  selama di Wallachia merasa tidak melakukan kesalahan 

apapun. Tapi protes mereka tak didengarkan oleh prajurit 

Dracula. Seperti biasanya, saat  Dracula telah memutuskan 

untuk menyiksa atau menghukum maka dia tidak pernah 

menarik kembali perintahnya. 

Seperti perlakukan Dracula terhadap umat Islam lain, para 

pemuda itu ditelanjangi. Tubuh-tubuh yang telanjang itu di-

arak keliling kota. Mereka dipermalukan di depan warga kota 

yang bersorak sorai mengejek dan mencaci maki. Arak-arakan 

ini  kemudian dimasukkan ke dalam sebuah aula yang 

biasanya dipakai untuk pertemuan yang melibatkan warga 

kota Wallachia. Begitu semuanya berada di dalam, Dracula 

memerintahkan agar aula ini  dibakar. Api pun segera 

membesar dan membakar seluruh aula disertai jerit pemuda-

pemuda Turki yang ada di dalamnya. saat  api melahap 

seluruh bangunan jerit dari dalam semakin lemah terdengar. 

Dan, pemuda-pemuda malang itu yang menjadi korban kekeja-

man si Penyula, tubuh mereka telah bercampur dengan debu.

Dracula menikmati kejadian ini  tak jauh dari lo-

kasi. Dia begitu puas sebab  bisa menumpahkan dendamnya 

terhadap orang-orang Turki yang beragama Islam. Sebuah 

kesempatan yang sudah lama ditunggu-tunggunya.

Sejarah mencatat kejadian ini terjadi pada tahun 1456 

M—tidak begitu lama sesudah  Dracula naik tahta Wallachia. 

Jumlah korbannya 400 orang. 

Topi yang Dipaku di Kepala

Pada suatu waktu dua orang duta besar Kerajaan Turki 

Ottoman berkunjung menemui Dracula. Mereka mendapat-


kan mandat khusus dari Sultan Mehmed II. Mandat ini  

berisi bahwa Sultan Turki akan memaafkan Dracula asalkan 

dia bersedia membayar sejumlah upeti sebagai bukti ketunduk-

kannya pada Kerajaan Turki Ottoman.

Dalam kesempatan ini  kedua duta besar Turki diteri-

ma di bangsal istana. Sambil menunggu kedatangan Dracula 

mereka duduk di karpet sambil melihat-lihat berkeliling. Mer-

eka begitu heran sebab  ruang istana berbeda dengan ruang 

istana penguasa-penguasa lain. Mereka merasakan ada aroma 

mengerikan di ruang istana Dracula. Saat keduanya masih 

terheran-heran seorang prajurit jaga mengumumkan bahwa 

Dracula akan memasuki ruangan. Semua ada yang ada dalam 

ruangan diminta berdiri untuk memberikan penghormatan 

pada Dracula.

sesudah  duduk disinggasana Dracula memandangi kedua 

duta besar di hadapannya.

“Kalian utusan dari mana?” tanya Dracula.

“Kami merupakan duta besar Kerajaan Turki,” jawab 

keduanya serempak.

“Mengapa topi kalian tidak di lepas? Bukankah ini di 

dalam ruangan?”

“Hal ini sudah menjadi tradisi di kerajaan kami, Pan-

geran.”

“Ini Wallachia bukan Turki!” hardik Dracula. 

Mendegar suara Dracula yang menggelegar semua yang 

ada di ruangan menciut ketakutan. Hal ini merupakan tanda 

kemarahan penguasa Wallachia. Untuk sementara waktu 

ruangan hening. Tidak ada yang berani bergerak apalagi 

bercakap-cakap. Sementara itu, kedua duta besar Turki tam-

pak kebingungan. Mereka tidak mengetahui kenapa Dracula 

begitu marah.


Dracula kemudian memerintahkan prajuritnya untuk 

menangkap kedua duta besar Turki. Keduanya meronta-ronta 

tak berdaya. saat  prajuritnya menangkap kedua duta besar 

itu, Dracula mengambil paku dan palu. Dengan langkah yang 

tenang dia mendekati kedua duta besar Turki yang mulai tam-

pak ketakutan; sebelumnya mereka telah mendengar tentang 

kekejaman Dracula. Tanpa memberikan peringatan atau apa-

pun Dracula langsung memaku kepala kedua duta besar Turki 

secara bergantian. Tentu saja keduanya mengerang kesakitan. 

Dan, darah mengalir ke rambut kemudian jatuh di lantai.

“Aku memaku topi di kelapa kalian agar tidak pernah 

lepas-lepas lagi,” kata Dracula sambil berjalan menuju sing-

gasananya.

Dracula kemudian memerintahkan agar kedua duta besar 

itu dikirim kembali ke Turki. Sesampainya di Turki, Sultan 

Mehmed II yang melihat duta besarnya mengalami penghi-

naan langsung marah. Dia bertekad akan menangkap Dracula 

hidup atau mati.

Apa yang dilakukan Dracula sebetulnya bukan sebab  

kedua duta besar itu tidak melepas topi; sebagai orang yang 

pernah tinggal di Turki tentu dia mengetahui adat istiadat 

kerajaan ini . Alasan utamanya yaitu  sebab  ketidaksu-

kaannya pada orang-orang Turki yang beragama        Islam. 

Sudah sejak lama dia menanam dendam ini  dan dilam-

piaskannya sesudah  berhasil memegang kekuasaan. 

Memang dengan tindakannya yang biadab itu Dracula 

sengaja ingin menghina Sultan Mehmed II; dia tahu melukai 

duta besar berarti melukai kerajaan yang mengutusnya. Dan, 

sekaligus Dracula hendak menegaskan bahwa dirinya yaitu  

penguasa yang bisa berbuat apa saja, termasuk menghina duta 

besar dari kerajaan besar, yang belum tentu berani dilakukan 

panglima Salib lainnya.


Fakir Miskin dan Petani yang Dibakar                   

di Tirgoviste

Teror yang dilakukan oleh Dracula memang semakin 

menghebat tapi tidak menghentikan gerak pasukan Turki. 

Di daerah-daerah pinggiran Wallachia pasukan Turki tetap 

saja mendapatkan bantuan dari rakyat. Para pemberi bantuan 

ini  dahulunya merupakan budak-budak dari tuan tanah 

yang kemudian dibebaskan oleh pasukan Turki. Darah mer-

eka memang dari Wallachia tapi mereka lebih mendukung 

pasukan Turki dan memilih memeluk agama Islam. Keadaan 

ini tentu saja membuat Dracula marah besar. Sebagai penguasa 

Wallachia dia merasa telah dilecehkan oleh rakyatnya sendiri.

Sebagaimana biasanya Dracula akan mencari siasat untuk 

menyingkirkan para petani yang mendukung pasukan Turki. 

Dan, kesempatan itu tiba pada hari penobatannya sebagai 

penguasa Wallachia. Pada hari itu seluruh penduduk Wallachia 

diundang ke ibu kota kerajaan, Tirgoviste. Semuanya mengalir 

ke kota seperti semut. Hingga tak mengherankan kalau ibu 

kota Wallachia penuh sesak oleh manusia.

Pada malam itu di Tirgoviste berbagai pertunjukkan 

digelar, bermacam makanan dan minuman dihidangkan. 

Rakyat Wallachia pun berpesta pora. Mereka tak menyadari 

kalau sebentar lagi bencana akan datang. Suara tetabuhan 

telah menghayutkan mereka hingga tak sadar kalau berada 

di sarang si Penyula.

Dalam kesempatan ini Dracula mengundang fakir miskin 

dan petani di pinggiran Wallachia yang telah mendukung 

pasukan Turki. Mereka diundang disalah satu tempat di 


dalam istana. Di dalamnya makanan dihidangkan menggugah 

selera. Begitupula dengan minuman yang diletakkan di gelas 

berbentuk piala.

Para undangan masuk ke dalam ruangan dengan ber-

suka cita. Dalam sejarah hidup mereka baru kali ini mereka 

bisa menginjakkan kaki di istana. Sambil bercanda mereka 

mengagumi ruangan tempat pesta. Anak-anak kecil berlar-

ian kesana-kemari sambil tangan mungil mereka mengambil 

makanan yang ada di meja.

Dracula menyambut kedatangan mereka dengan ramah 

seolah wajah bengisnya telah sirna. Dia meminta para fakir 

miskin dan petani itu duduk di kursi yang telah disediakan. 

sesudah  semuanya duduk, Dracula mempersilakan mereka 

menyatap makanan yang terhidang di meja. Orang tua, anak 

kecil dan semua undangan di tempat itu menikmati hidangan 

dengan suka cita hingga tak menyadari maut sedang mengintai.

Pada saat undangannya sedang berpesta Dracula dan para 

prajuritnya menyelinap keluar. Sesampai di luar dia memer-

intahkan semua pintu dikunci dan membakar ruangan itu. 

saat  pintu terakhir akan dikunci seorang prajurit melem-

parkan dua obor ke karpet yang berada di ruangan itu. Dalam 

waktu sekejap karpet terbakar dan api semakin membesar, 

membakar apa saja yang ada diruangan itu.

Para fakir miskin dan petani yang berada dalam ruangan 

panik. Mereka berhamburan kesana-kemari mencari pintu 

keluar. Akan namun , semua pintu telah terkunci. Tangis dan 

jerit anak kecil sayup-sayup terdengar dari luar.  Tubuh-tubuh 

yang baru saja bersantap makanan lezat itu mulai terjilat lidah 

api. Erangan, lolongan dan tangis kesakitan semakin meng-

hebat. Tapi tak ada satu pun yang bisa menolong mereka. 

Mereka, umat Islam, yang telah membantu pasukan Turki itu 

harus mengakhiri hidupnya dengan terpanggang api. Semua 


peristiwa ini dicatat dengan baik oleh sebuah pamflet yang 

terbit di Jerman.

sesudah  korbannya mati, Dracula memberikan pengumu-

man pada rakyat yang sedang merayakan hari penobatan-

nya. Dia mengumumkan bahwa siapa saja yang membantu 

pasukan Turki akan mengalami nasib yang sama dengan para 

fakir miskin dan petani yang baru saja dibakar   hidup-hidup. 

sesudah  mendengar peringatan itu rakyat yang berpesta tak 

bergairah lagi. Mereka yang berasal dari luar kota memilih 

segera meninggalkan tempat pesta sebab  khawatir  akan 

menjadi korban selanjutnya. Maka saat  malam semakin 

melarut hanya prajurit yang mabuk-mabukan yang  masih 

ada di tengah kota. Mereka meracau ditemani pelacur jalanan.

Dracula memang sengaja memilih saat penobatannya un-

tuk menyingkirkan fakir miskin dan petani yang mendukung 

tentara Turki. Dia memang ingin menunjukkan kekejamannya 

di depan publik agar semakin banyak orang yang ketakutan. 

Harapannya, saat  mereka ketakutan maka kemungkinan 

untuk berani melawan Dracula semakin kecil. Metode seperti 

ini memang sering dipakai oleh para tiran untuk menyebarkan 

ketakutan ke seluruh penjuru kekuasaannya.

Sama seperti sebelumnya, tujuan pembantaian terhadap 

para fakir miskin dan petani yang mendukung pasukan Turki 

yaitu  untuk menghina Kerajaan Turki Ottoman. Ada em-

pat hal yang ingin ditunjukkan Dracula. Pertama, Dracula 

ingin menunjukkan bahwa Turki tidak bisa melindungi para 

fakir miskin. Dia mengetahui bahwa dalam agama Islam 

fakir miskin merupakan anggota masyarakat Muslim yang 

wajib dilindungi. Dengan membantai mereka Dracula hendak 

melemparkan kotoran ke wajah Sultan Mehmed II sebagai 

penguasa Kerajaan Turki Ottoman. Kedua, Dracula ingin 


membuktikan pada sekutu pasukan Salib bahwa dialah pan-

glima yang berani menantang pasukan Islam secara terbuka. 

Sebagai penguasa yang gila hormat—sebagaimana tiran yang 

lain—dia menginginkan derajatnya semakin tinggi di hadapan 

penguasa-penguasa yang lain. 

Ketiga, Dracula ingin memperlihatkan loyalitasnya 

pada Kerajaan Honggaria. Dengan melakukan pembantaian 

terhadap umat Islam dia ingin menunjukkan bahwa dirinya 

telah melupakan masa kecilnya di Turki dan telah berubah 

menjadi pendukung pasukan Salib yang paling setia. Hal ini 

penting agar dia tidak dicurigai sebagai mata-mata Turki dan 

memperoleh kepercayaan penuh dari Kerajaan Honggaria. Bila 

kepercayaan ini  dia peroleh maka posisinya akan semakin 

kuat sehingga keluarga Dan II yang selama ini menjadi saingan 

dirinya tidak akan mendapat dukungan. Keempat, Dracula 

ingin menunjukkan bahwa dirinya yaitu  seorang nasionalis 

sejati. Hal ini penting baginya agar dukungan rakyat di Wal-

lachia semakin kuat dengan mengajak mereka melawan sang 

penjajah: Kerajaan Turki Ottoman. Bila dukungan rakyat kuat 

dia tak perlu khawatir lagi dengan pemberontakan-pemberon-

takan yang selama ini menjadi tradisi di Wallachia. Dia pun 

bisa dengan mudah menyingkirkan musuh-musuhnya dengan 

menuduh mereka sebagai mata-mata atau pendukung Turki.

30.000 Pedagang yang Disula

Hari Peringatan St. Bartholome, 1459 M.

Pada masa ini perdagangan umat Islam memang sedang 

menggairahkan. Mereka menyebar keseluruh penjuru wilayah, 

baik Barat maupun Timur. Salah satu pedagang Islam yang 


dominan yaitu  pedagang dari Turki. Dari Turki mereka 

membawa permadani dan permata untuk diperdagangkan 

diberbagai pelosok, salah satunya di Wallachia.

Di wilayah Wallachia jumlah pedagang Turki cukup 

banyak. Mereka tersebar di berbagai wilayah dan membaur 

dengan penduduk setempat. Jumlah mereka yang banyak ini 

dianggap oleh Dracula sangat merugikan Wallachia, sebab  

tidak memberikan pemasukan yang besar baginya. Memang 

para pedagang ini tidak pernah membayar upeti pada Dracula. 

Sebagai umat Islam mereka hanya mau membayar upeti ke-

pada Sultan Mehmed II.

Merasa dirugikan maka Dracula mencari cara untuk me-

nyingkirkan para pedagang Turki ini . Oleh sebab  itu, 

Dracula memerintahkan para prajuritnya untuk menangkapi 

para pedagang Turki beserta keluarganya. Jaring-jaring teror 

pun ditebarkan Dracula ke seluruh pelosok Wallachia. Dalam 

waktu satu bulan akhirnya prajurit Turki bisa membawa 

30.000 pedagang Turki beserta keluarganya.

Para pedagang yang menjadi tawanan itu kemudian 

dibawa ke tempat penyulaan. Mereka yang telah ditelanjangi 

ini digiring menuju lapangan penyulaan. Sesampai di tempat 

itu mereka kemudian disula satu persatu. Jerit korban pun 

saling saut menyaut mengiris hati. Bayi-bayi yang disula tak 

sempat menangis lagi sebab  mereka langsung sekarat begitu 

ujung sula menembus perut mungilnya. Tubuh-tubuh para 

korban meregang nyawa di kayu sula untuk menjemput ajal. 

Dracula berjalan di antara para pedagang yang telah disula. 

Dia memperhatikan setiap korban yang akan menemui ajal-

nya. Sebuah kepuasaan tergambar jelas di wajahnya. Sebagai 

orang yang maniak akan darah dia menikmati setiap tetesan da-

rah dari korban-korbannya. Darah-darah segar di rerumputan 

itu diambil dengan ujung jari telunjuknya kemudian diciumi.

Pada malam harinya Dracula mengadakan pesta di antara 

mayat-mayat yang mulai membusuk. Dia menjamu para pan-

geran dan tuan tanah untuk memperingati hari St. Bartholome.

Sejarah mencatat hari ini  sebagai “Hari Peringatan 

St. Bartholome Yang Merah”. sebab  begitu kejamnya 

pembataian ini  para petani di Translyvania hingga saat 

ini menganggapnya sebagai hari yang mengerikan. Mereka 

meyakini bahwa pada setiap peringatan hari St. Bartholome 

seluruh kekuatan jahat di alam semesta akan bangkit, dan 

Dracula akan memimpin mereka semua, menebarkan bencana 

pada warga.

Menurut kepercayaan penduduk desa, kebangkitan Drac-

ula dan pengikut-pengikutnya ditandai dengan lolong serigala 

yang tidak ada putus-putusnya pada tengah malam, saat jam 

berdentang dua belas kali. Oleh sebab  itu, pada malam hari 

penduduk desa tidak akan berani keluar rumah. Di dalam 

rumah mereka akan berdoa semalaman agar rumah mereka 

tidak didatangai serigala jadi-jadian. berdasar  kenyakinan 

penduduk serigala-serigala ini  merupakan penjelmaan 

dari Dracula dan pengikutnya. Mereka ini akan keliling desa 

mencari mangsa untuk dihisap darahnya. 

Membunuh Dengan Virus yang Mematikan

Ada wilayah di Wallachia yang mudah dikendalikan oleh 

Dracula dan ada pula yang sulit. Wilayah-wilayah yang sulit dia 

kendalikan yaitu  yang mendapatkan sokongan dari pasukan 

Turki. Terhadap wilayah ini walaupun penduduknya men-

dukung pasukan Turki, Dracula tidak bisa berbuat banyak. 

Oleh sebab  itu, dia harus mencari cara lain agar bisa meny-

ingkirkan duri dalam daging pemerintahannya. Dan, akhirnya 

Dracula menemukan cara yang belum pernah dilakukan oleh 

tiran manapun untuk menyingkirkan musuh-musuhnya, yaitu 

menyebarkan virus mematikan.

Orang-orang yang terkena penyakit yang mematikan 

dikumpulkan oleh Dracula di suatu tempat. Mereka didatang-

kan dari wilayah-wilayah di sekitar kota Wallachia. sesudah  

semuanya terkumpul mereka disebar ke segala penjuru Wal-

lachia yang penduduknya memeluk agama Islam. Mereka di-

perintahkan berada di tempat itu sampai semua penduduknya 

tertular virus yang mematikan ini . 

Dampaknya memang luar biasa. Tanpa diketahui sebab-

nya beberapa penduduk di pedesaan yang mayoritas memeluk 

agama Islam tiba-tiba mati secara mendadak. sebab  sifat 

penularannya cepat maka kematian massal pun terjadi. Terjadi-

lah kepanikan. Penduduk desa mengira kampungnya sedang 

terkena kutukan dari Tuhan. Mereka berbondong-bondong 

meninggalkan kampung halamannya untuk pindah ke tempat 

lain, meninggalkan mayat-mayat begitu saja.

Tanpa disadari perpindahan ini  justru menyebabkan 

penyebaran virus semakin cepat dan meluas. Mereka tidak sa-

dar bahwa di antara mereka sendiri sudah ada yang terjangkit 

virus. Orang-orang yang sudah terjangkit virus ini kemudian 

menularkannya ke kampung lain yang mereka lewati. Akh-

irnya, kampung ini  mengalami wabah kematian yang 

tak kalah mengerikan. Kepanikanpun semakin meluas. Dan, 

jumlah kematian semakin banyak.

Dengan cara ini Dracula memang ingin menghabisi satu 

generasi umat Islam. Virus-virus yang dia sebarkan tidak hanya 

membunuh orang tua tapi juga anak-anak. saat  seluruh 


warga mati maka riwayat keturunan mereka akan punah, 

yang berarti akan mengurangi penduduk yang akan memeluk 

agama Islam. Cara yang benar-benar biadab.

Selain penduduk yang beragama Islam, sasaran Dracula 

yaitu  para prajurit Turki. Dengan wilayah kekuasaan yang 

luas tentu saja Kerajaan Turki Ottoman menempatkan prajurit 

di berbagai pelosok. saat  virus yang disebarkan Dracula me-

nyebar di daerah pedesaan maka secara langsung prajurit Turki 

yang berada di tempat yang tidak jauh dari mewabahnya virus 

ini  juga akan ikut tertular. Prajurit yang telah tertular 

ini kemudian menularkan kepada temannya, dan begitulah 

seterusnya sampai akhirnya virus sampai di pos utama. Bisa 

diperkirakan bahwa prajurit Turki yang mati sebab  virus 

ini banyak sekali sebab  mereka tinggal dalam satu barak, di 

mana virus akan dengan cepat menyebar.

Bagi Dracula cara ini begitu efektif. Tanpa mengirimkan 

pasukan yang besar dia bisa membunuh prajurit Turki dalam 

jumlah yang banyak. 

Sampai kini belum diketahui dari mana Dracula belajar 

cara membunuh dengan virus ini; mungkin saja dia yang 

menemukan. Dampaknya yang hebat membuat orang-orang 

yang tidak berdosa pun akan mati sebab  ini. Tapi sebagai 

seorang machiavelis sejati Dracula tidak berpikir seperti itu. 

Yang terpenting baginya yaitu  bagaimana mencari cara agar 

bisa membunuh sebanyak-banyaknya musuh Katolik demi 

kejayaan pasukan Salib. 

Membunuh musuh dengan virus semakin melambung-

kan nama Dracula. Dia dipuji-puji sebagai panglima Kristus 

paling berani dan cerdik dalam mengalahkan musuh. Oleh 

sebab  itu, pihak gereja tak pernah mengecam Dracula walau-

pun dia seringkali melakukan tindakan yang tidak manusiawi 

dan melenceng dari jalan kasih Kristen. 


Harus diakui gereja membutuhkan orang-orang seperti 

Dracula ini agar bisa merebut pusat agama mereka yang telah 

jatuh ketangan Kerajaan Turki Ottoman. Oleh sebab nya 

bila Dracula mati maka akan disejajarkan dengan para martir 

yang terbunuh demi membela agama Kristus. Dan, kekeja-

man Dracula bisa dimaafkan sebab  jasa-jasanya yang besar 

bagi agama Kristen.

Meracuni Sungai Danube

Pada masa abad pertengahan, sungai selain berfungsi 

sebagai irigasi juga berguna bagi sumber air minum pasukan 

perang. Dengan jumlah pasukan yang mencapai ratusan ribu 

mereka tak akan bisa mengandalkan pada air sumur atau mata 

air yang kecil. Oleh sebab  itu, saat  maju ke medan pertem-

puran mereka akan membangun tenda-tenda di dekat sungai 

besar agar memudahkan mendapatkan pasokan air minum 

dalam jumlah yang mencukupi. Melihat begitu strategisnya 

arti sungai maka bisa dikatakan siapa yang menguasai sungai 

dia sudah bisa dikatakan menguasai separuh pertempuran. 

Inilah yang membuat sungai-sungai besar menjadi rebutan 

bagi kerajaan yang sedang berperang.

Selain sebagai sumber air minum sungai juga berperan 

sebagai sumber makanan. Sungai abad pertengahan dikenal 

kaya akan berbagai jenis ikan yang bisa digunakan sebagai 

sumber makanan. Para prajurit diwaktu senggang mereka akan 

berburu ikan dan binatang sungai lainnya sebagai tambahan 

lauk pauk.

Mengetahui bahwa sungai mempunyai peranan yang 

penting bagi sebuah pasukan maka Dracula meracuninya. Dia 

memerintahkan prajuritnya menaburi Sungai Danube dengan 

bubuk racun yang mematikan. Dracula mengetahui bahwa 


pasukan Turki yang membangun kubu pertahanan di selatan 

Sungai Danube akan mengambil air dari sungai itu. Sesuai den-

gan perintah Dracula beberapa prajurit terlatih menebarkan 

racun dalam jumlah yang sangat banyak. Akibatnya, pasukan 

Turki yang tidak mengetahui taktik culas Dracula banyak 

yang mati keracunan, begitu pula dengan kuda.

Akibat Sungai Danube telah teracuni maka mau tidak mau 

pasukan Turki harus memindahkan kubu pertahanan. Dengan 

jumlah pasukan yang besar mereka tak mungkin bertahan di 

tempat itu tanpa pasokan air yang memadai. Pada saat inilah 

Dracula melancarkan serangan. Prajurit Turki yang terpecah 

konsentrasinya mengalami kesulitan untuk menghadapi se-

rangan yang tiba-tiba. Korbanpun berjatuhan. Sebagian yang 

masih hidup berusaha menyelamatkan diri. Dan, tidak sedikit 

yang menjadi tawanan Dracula.

Para parjurit Turki yang dijadikan tawanan diperlakukan 

tidak manusiawi oleh Dracula. Mereka semua ditelanjangi. 

Dengan kondisi seperti ini mereka digiring ke ibu kota Wal-

lachia. Banyak di antaranya yang mati di tengah perjalanan 

sebab  kelaparan dan kedinginan. Sementara yang masih 

hidup selain menderita fisik juga menderita batin sebab  peng-

hinaan yang dilakukan Dracula. Sesampainya di dalam kota 

penderitaan itu semakin lengkap saat  Dracula membiarkan 

anjing-anjing menjilati bagian tubuh pasukan Turki. Dalam 

hal ini Dracula mengetahui bahwa dalam agama Islam liur 

anjing merupakan penyebab kenajisan. Hal inilah yang dipakai 

Dracula untuk menghina prajurit Turki yang beragama Islam. 

Jelas prajurit Turki yang menjadi tawanan sangat marah 

dengan perlakuan Dracula. Akan namun , sebab  mereka diikat 

dengan kuat maka tidak dapat memberikan perlawanan. 

Secara psikologis hal ini akan menyebabkan tekanan yang 


kuat pada jiwa sehingga tidak jarang yang kemudian menjadi 

hilang ingatan atau gila. Apalagi kalau penghinaan dilakukan 

terus-menerus tanpa bisa dilawan.

Rupanya tidak hanya prajurit Turki saja yang mati tapi 

juga penduduk yang hidup di sekitar Sungai Danube. Bagi 

penduduk yang hidup di pinggir Sungai Danube tentu sangat 

tergantung pada sungai ini . Mereka memanfaatkan air 

sungai untuk kebutuhan sehari-hari. Sungai yang teracuni 

memicu  siklus hidup sungai terganggu. Hal ini secara 

langsung berpengaruh pada rakyat yang hidup di sekitarnya. 

Dan, tidak sedikit di antara mereka yang mati sebab  tidak 

mengetahui kalau air sungai telah teracuni.

Salah satu ciri keculasan Dracula yaitu  kemampuannya 

menciptakan cara-cara pembunuh massal yang murah biaya. 

Entah belajar dari mana tapi yang jelas dia mampu membunuh 

korbannya dengan sangat efektif. Dia mengetahui cara mana 

yang sebaiknya digunakan dalam kondisi tertentu. Maka tak 

mengherankan kalau korbannya sangat banyak dan tersebar 

di berbagai daerah.


20.000 Umat Islam                    

yang Disula

KEKEJAMAN demi kekejaman yang dilakukan Dracula 

terhadap umat Islam membuat Sultan Turki semakin gerah. 

Pada tahun 1462 M sultan mengiram 60.000 pasukan untuk 

menangkap Dracula hidup atau mati. Sebagai pemimpin pa-

sukan ditunjuk Randu, adik Dracula sendiri. Dalam catatan 

sejarah peperangan ini merupakan peperangan terbesar selama 

Dracula berkuasa.

Menyeberangi Sungai Danube

Seminggu sebelum penyerangan

Rupanya pasukan Turki tidak mengetahui bahwa seming-

gu sebelum penyerangan Dracula telah menyula umat Islam 

yang menjadi tawanannya. Para tawanan ini  di tambah 

dengan umat Islam yang ada di wilayah Wallachia digiring 

oleh Dracula ke tempat penyulaan yang tidak begitu jauh 

dari Sungai Danube. Selama tiga hari mereka –yang terdiri 

dari laki-laki dan perempuan—berjalan dengan telanjang bulat 

dari Tirgoviste tanpa diberikan makanan sedikitpun. Bayi-

bayi yang terdapat dalam rombongan itu hanya minum air 

susu ibunya yang semakin hari semakin sedikit hingga tidak 

menetes sama sekali. Raung anak kecil tak henti-hentinya 


terdengar. Mereka kebingungan apa sebenarnya yang akan 

terjadi, sementara orang tua mereka yang mulai putus asa 

tidak bisa memberikan penjelasan apapun. Sungguh hari yang 

suram bagi umat Islam Wallachia.

Di belakang rombongan tahanan, berkuda sekitar 30.000 

prajurit Dracula. Masing-masing membawa sula dengan 

ujungnya yang telah dilancipkan. Sula-sula itulah yang akan 

digunakan untuk menyiksa para tawanan hingga mati. Dengan 

sula di tangan prajurit-prajurit terlihat semakin mengerikan 

tak ubahnya seperti malaikat pencabut nyawa.

Rencana ini memang disusun oleh Dracula begitu men-

getahui bahwa pasukan Turki akan melakukan serangan 

besar-besaran. Dracula ingin memberikan “kado istimewa” 

bagi Sultan Mehmed II. Maka begitu mengetahui berita 

penyerangan pasukan Turki, Dracula memerintahkan pada 

prajuritnya untuk membawa tahanan yang terdiri dari prajurit 

Turki dan petani yang beragama Islam ke tempat penyulaan. 

Selain itu dia juga memerintahkan agar semua orang Islam 

yang berada di wilayahnya ditangkap saat itu juga, tak peduli 

tua-muda, laki-perempuan, bayi dan bocah. Perburuan pun 

dimulai. Daerah-daerah yang merupakan kantong-kantong 

pemeluk Islam disisir, semua penduduk yang ada di tempat 

itu ditangkap. sesudah  seminggu prajurit Dracula memburu, 

mereka berhasil mengumpulkan kurang lebih 20.000 umat 

Islam—jumlah ini sudah termasuk tahanan. 

Umat Islam yang telah ditangkap itu kemudian dikum-

pulkan di alun-alun Tirgoviste. Di bawah terik matahari 

Dracula kemudian memerintahkan pada prajuritnya untuk 

menelanjangi mereka sampai semuanya telanjang bulat. Suara 

tangis, teriakan dan makian berbaur menjadi satu, menggema 

di seluruh penjuru Wallachia. Tubuh-tubuh mereka yang 

penuh peluh mengkilat terpanggang sinar matahari. 


Di antara tawanan ini  terdapat istri Dracula yang 

berasal dari Turki. Dracula memerintahkan agar istrinya itu 

dibawa ke dekatnya. sesudah  puas mengamati perempuan itu, 

Dracula memerintahkan mengikatnya di meja penyiksaan. 

Disaksikan oleh puluhan ribu tawanan, Dracula mulai me-

nyiksa istrinya sendiri. Mula-mula Dracula mengerat payudara 

istrinya. Jerit kesakitanpun pecah membelah angkasa. Tapi 

Dracula tak peduli. Payudara yang selesai dikerat ini  

kemudian dikuliti. Pisau dan tangan tangan Dracula pun basah 

oleh darah; darah istrinya sendiri.

Puas dengan pekerjaan ini  Dracula melanjutkan pe-

nyiksaannya. Dia mengambil sula kecil yang ada di dekat meja. 

Sula itu kemudian dia tusukkan ke liang kemaluan istrinya. 

Pecah lagi suara kesakitan. Tapi Dracula tidak peduli. Dia 

meneruskan penyiksaan hingga istrinya pingsan berkali-kali 

dan akhirnya mati sebab  tak kuat menanggung rasa sakit. 

Dracula kemudian memerintahkan mayat istrinya untuk 

dilemparkan ke kandang binatang buas. 

Ribuan orang yang ada di tempat itu tak berdaya melihat 

kejadian yang mereka saksikan. Mereka yang berada di dekat 

tempat penyiksaan muntah-muntah sebab  tak tahan melihat 

penyiksaan yang berada di depan mata. Mereka memang men-

dengar tentang kekejaman Dracula tapi baru kali ini melihat 

secara langsung melihat detik demi detik proses penyiksaan 

itu. Mereka tak pernah membayangkan kalau si Penyula ini 

tega menyiksa isterinya sendiri. 

Dracula sangat puas dengan penyiksaannya. Dia menuju 

tempat duduknya. 

sesudah  merasa cukup beristirahat Dracula memerintahkan 

untuk membawa seorang bayi dan ibunya maju ke depan. 

Dracula memerintahkan agar keduanya diikat pada tiang 

pancang. sesudah  selesai diikat Dracula mendekati keduanya 


sambil mengambil sula. Dengan ketenangan luar biasa Dracula 

menyula si bayi dari perut sampai tembus punggung. Sula 

ini  terus dia dorong sampai tembus perut ibunya. 

Mata si bayi mendelik seperti orang kesurupan saat  

ujung sula menembus perutnya. Dia mengejang-ngejang di-

gendongan ibunya sambil menjerit panjang. Tapi Dracula tak 

bereakasi apa-apa seakan telinganya tuli dan matanya buta.

Begitu sula telah tembus ke perut ibunya, Dracula memer-

intahkan agar kedua orang itu dipancang. Lima prajurit maju 

sekaligus untuk memancangkan sula. Begitu sula terpancang 

tubuh kedua makhluk yang tidak berdosa itu turun sedikit 

demi sedikit, dan sula yang masuk semakin dalam hingga 

tembus punggung si ibu. Tubuh mereka yang sekarat meng-

gelepar-gelepar tak karuan dan sesekali terdengar rintihan 

kecil. Semua yang berada di tempat itu diam. Tak ada yang 

berani menatap kedua korban itu, mata mereka terhujam ke 

tanah. Sementara itu, Dracula dengan tenang menikmati rintih 

sekarat korbannya. Dia duduk kursinya dengan mata penuh 

dengan kemenangan. 

Para tawanan merasa terpukul dengan kejadian itu. Sebagai 

sesama Muslim tentu hati mereka remuk redam menyaksi-

kan saudara seiman mengalami siksaan yang begitu kejam. 

Tangis pun terdengar dari berbagai penjuru alun-alun, begitu 

menyanyat hati. 

Enam hari sebelum penyerangan

Begitu fajar pecah di ufuk timur, Dracula memerintahkan 

prajuritnya untuk bergerak meninggalkan Tirgoviste. Para 

prajurit itu menggiring para tawan yang telanjang bulat me-

lewati jalan berbatu dan berkelok-kelok. sebab  banyaknya 

tawanan rombongan berjalan lambat seperti serombongan 


semut, dan jika  dilihat dari atas seperti ular naga yang 

sedang menuruni bukit.

Keadaan tawanan semakin mengenaskan. Sejak dipang-

gang di lapangan Tirgoviste belum ada makanan yang masuk 

ke perut mereka, tak ada pula minuman yang membasuh 

kerongkongan. sebab  tak kuasa menahan lapar mereka 

memungut bangkai tikus atau apa saja yang mereka temukan 

di tengah jalan. Dan, sebagai pembasuh tenggorokan mereka 

memamah dedaunan yang masih basah sebab  embun.

Tubuh para tawanan yang pucat berjalan seperti mayat 

hidup tanpa ada suara yang terucap. Kadang suasana yang hen-

ing itu dipecahkan oleh jerit tangis bayi yang tak tahan lagi 

menahan derita. Pun, suara perempuan yang merintih melihat 

bayinya terkulai. Pagi yang biasanya riang oleh kicau burung 

berubah menjadi pagi yang muram bagi sejarah manusia.

Bila dibandingkan sehari sebelumnya, jumlah tahanan 

berkurang. Ada beberapa yang mati sebelum diberangkatkan 

sebab  kelaparan atau tak kuat dengan siksaan. Mayat mereka 

sebagian besar diberikan pada harimau dan buaya sebagai 

santapan. Begitulah nasib umat Islam yang menjadi korban 

Dracula, samasekali tak mendapatkan perlakuan sewajarnya 

sebagai manusia.

Pada hari ini Dracula sendiri kelihatan gembira. Dia 

merasa gembira sebab  tak akan lama lagi mempersembahkan 

“hadiah” pada Sultan Mehmed II; sebuah “hadiah” yang tidak 

akan dilupakan oleh sang Sultan maupun sejarah nantinya. 

Dengan “hadiah” ini dia berharap segala dendamnya yang telah 

terkubur selama puluhan tahun akan terbalaskan. 


Lima hari sebelum penyerangan

Tempat sebagai ajang penyulaan semakin dekat. Para 

tahanan keadaannya semakin mengenaskan. Sebagian besar 

dari mereka hanya mampu menyeret kaki, sedangkan yang 

benar-benar tak kuat berjalan di papah oleh yang masih kuat. 

Suasana duka pun semakin melarut.

Tiga hari sebelum penyerangan

sesudah  semalaman para tawanan dibiarkan teronggok di 

pinggir hutan mereka kemudian digiring ke tempat penyulaan. 

Mereka, wajah-wajah kuyu itu, berjalan tanpa gairah hidup 

seolah tak jelas lagi jarak antara hidup dan mati. 

Tempat penyulaan telah dipersiapkan oleh pasukan 

Dracula semalam sebelumnya. Dracula sendiri telah berada di 

mejanya bersama beberapa bangsawan dan panglima perang. 

Seperti biasanya dia mengajak orang-orang terdekatnya untuk 

bertaruh formasi apa yang akan dibentuk begitu korban di-

sula. Tawa mereka begitu lepas seolah tak akan ada peristiwa 

mengerikan yang akan terjadi.

saat  matahari mulai meninggi Dracula memerintahkan 

penyulaan segera dimulai. Para prajurit melakukan perintah 

ini  dengan cekatan seolah robot yang telah dipogram. 

Begitu penyulaan dimulai lolong kesakitan dan jerit pend-

eritaan segera memenuhi segala penjuru tempat itu. Mereka, 

umat Islam yang malang ini sedang menjemput ajal dengan cara 

yang begitu mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat 

kenangan indah dan manis yang pernah terjadi.

Dracula kelihatan girang begitu korban mulai dipancang-

kan di tengah-tengah lapangan sesuai dengan formasi yang dia 

pertaruhkan. Korban-korban itu bergerak-gerak tak karuan 


di ujung sula, dan Dracula berteriak penuh dengan kemenan-

gan. Dia mendekati koban-korban yang berteriak-teriak mau 

sekarat. Dipandangi mereka seolah melihat pemandangan 

yang tak pernah dilihat sebelumnya. Setiap tetesan darah dari 

korbannya seperti tetesan embun yang menyejukkan jiwanya.

Gambar 9: Korban penyulaan Dracula. Dracula duduk di de-

pan meja sambil menyaksikan seluruh proses penyulaan.

Semakin siang suasana tempat penyulaan semakin 

mengerikan. Para prajurit harus bekerja keras agar mereka 

dapat menyula 20.000 orang dalam waktu sehari; jumlah ter-

besar yang pernah mereka kerjakan. Mereka terus menyula 

di antara jerit, tangis dan lolong para korban. Tangan, badan 

dan baju  mereka telah berubah merah sebab  darah hingga 

tampak bukan seperti manusia lagi. Mereka terus bekerja 

hingga malam telah menyelimuti tempat itu.

Obor-obor dinyalakan. Para korban penyulaan yang ter-

pancang di tengah-tengah lapangan semakin tampak mengeri-

kan terkena cahaya obor. Badan mereka ada yang tertembus 


sula sampai bagian tenggorokan, kepala, mulut, punggung atau 

perut. Di antara yang sudah mati masih ada yang bergerak-

gerak walaupun dengan gerakan yang begitu pelan.  

Sementara itu, di dalam tenda Dracula bersantap makan 

malam. Dia merayakan hari “penyulaan akbar” dalam sejarah 

hidupnya. Selama ini korban terbesarnya hanya mencapai 

angka ribuan, tapi kali ini korbannya puluhan ribu. Jumlah 

sebesar ini tentu akan menambah pundi-pundi jumlah kor-

bannya selama dia berkuasa sehingga dia benar-benar layak 

mendapat gelar si Penyula.

Selesai bersantap malam Dracula menyusun rencana se-

lanjutnya untuk memberikan kejutan bagi prajurit Turki. Ke-

pada kepala pasukan dia memerintahkan agar korban-korban 

ini  esok paginya dipancang sepanjang jalan yang akan 

dilewati pasukan Turki. Setiap prajurit bertugas untuk me-

mancang satu korban hingga jumlah korban sebanyak 20.000 

orang akan selesai dipancang dalam waktu sehari. Inilah “kado 

istimewa” Dracula untuk Sultan Mehmed II, Sang Penakluk 

Konstantinopel.

Di luar tenda waktu seperti berhembus pelan. Angin yang 

mengalir kadang masih membawa rintihan korban yang sek-

arat, dan sekaligus bau anyir darah dari tengah lapangan. Esok 

pagi mayat-mayat itu akan berpindah tempat. Mereka akan 

menjadi persembahan Dracula bagi musuh bebuyutannya. 

Malam semakin melarut. Alam pun ikut larut dalam duka.

Dua hari sebelum penyerangan

Sebanyak 20.000 umat Islam yang disula diseret dengan 

kuda meninggalkan tanah lapang. Tubuh mereka yang telan-

jang bulat berbenturan dengan batu dan tanah sepanjang 

perjalanan. Bayi yang tersula bersama ibunya tampak seperti 

dua onggok rusa terpelanting-pelanting saat  mengenai jalan 

yang tidak rata. 

Prajurit Dracula terus berderap mendekati kubu pasukan 

Turki yang berada di seberang Sungai Danube. Suara kaki kuda 

mereka membelah hutan yang sunyi seperti suara malaikat 

maut yang baru pulang mencabut nyawa. Di belakang mereka 

debu membumbung meninggalkan luka dan penghinaan yang 

tak akan terobati. 

Sesampainya di