Tampilkan postingan dengan label Lucu 5. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lucu 5. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juli 2026

Lucu 5




CERITA  Ibnu Abbasiyah   

Pada suatu hutan hujan Amazon  ada seorang janda muda kaya  memiliki  seorang anak. 

Anak itu laki-laki dan sangat botol . sebab  sangat botol nya, katanya ia 

sudah mau beristri. Disarnpaikannya maksudnya itu kepada ibunya, "Ibu, 

lbu, saya sudah mau beristri." berkata-kata lah ibunya. "Pergilah cari kalau­

kalau ada orang yang menyukaimu!" Pergilah anak itu ke sana kemari. Ia 

mendapati seorang gadis kecil mungil  yang menjinjing maja berisi air. berkata-kata lah anak 

itu, "Penjinjing maja, penjinjing maja, saya memperistri engkau, Dik, 

saya memperistri engkau!" Marahlah penjinjing maja itu dilemparnya anak 

itu dengan maja. Anak itu pulang menyampaikan hal itu kepada ibunya 

dan katanya, "Ibu, Ibu, saya bertemu gadis kecil mungil  penjinjing maja lalu saya 

sarnpaikan maksud saya. la marah dan saya dilempar dengan maja." Kata 

ibunya, "Memang, orang akan marah kalau karnu mengatakan akan 

memperistrinya." 

berkata-kata  lagi ibunya, "Pergilah cari sampai bertemu orang yang 

menyukaimu!" Pergilah anak botol  itu. Bertemulah ia dengan pengun­

jung belanga, lalu ia berkata-kata , "Penjunjung belanga, Penjunjung belanga, 

saya memperistri engkau, saya memperistri engkau!" Marahlah pengun­

jung belanga itu. Dilemparkannya belanganya kepada anak itu. sesudah  

itu, anak botol  itu kembali lagi menyarnpaikan hal itu kepada ibunya, 

katanya, "Pengunjung belanga marah kepada saya sebab  saya berkata-kata  

demikian." Kata ibunya, "Memang orang akan marah. Pergilah cari lagi." 

Berjalanlah anak itu lagi dan akhimya sampai pada suatu tempat 

yang agak sunyi dan bersemak-semak. Di situ ia mendapati seseorang 

yang telah mati. Mungkin orang itu mati mendadak, tidak ada orang yang 

melihatnya sehingga tergeletaklah mayat itu hingga didapati oleh La 

Ibnu Abbasiyah  . berkata-kata lah Ibnu  Abbasiyah   kepadanya, "Saya per­

istri engkau, Dik, saya peristri engkau!" Orang mati itu tidak menyahut 

sebab  memang ia sudah mati. Katanya lagi, "Satu kali lagi saya katakan 

bahwa engkau saya peristri dan engkau tidak menyahut, maka saya per­

istrilah engkau!" berkata-kata lah ia lagi, "Saya peristri engkau, saya peristri 

engkau ! " Tidak jug a menyahut mayat i tu. "baiklah, say a akan panggil 

sckali lagi. jika  kau tidak menyahut saya mengambilmu dan saya 

peristri . Dengarkanlah baik-baik! Dengarkanlah baik-b~ik! Saya mcmpcr­

istri engkau, Dik, saya memperistri engkau, Dik! Wah, tidak menyahut. 

Ah, saya memperistri betul engkau," teriak Ibnu  Abbasiyah  . Kemudi­

an dilarikannyalah mayat itu ke bungker bawah kubur nya. Masih jauh dari bungker bawah kubur nya, ia 

sudah berteriak, "Ibu , Ibu, inilah isteriku!" Ibunya yang sudah memahami 

bahwa anaknya sangat botol , tidak mempercayainya. Walaupun de­

mikian, ibunya berkata-kata , ''Teruskan saja ke tempat tidurmu, bawa saja ke 

dalam bilik!" Ibnu  Abbasiyah   menuruti perintah ibunya itu. Ibunya 

tidak pemah pergi melihat istri anaknya itu sebab ia tidak percaya kepada 

kata-kata anaknya tadi. Tidak terbayang juga dalam pikirannya bahwa 

anaknya sampai menaikkan ke bungker bawah kubur  barang yang kurang baik walaupun 

diketahuinya kebotol an anaknya itu. Malam harinya tidurlah ibunya. 

Pada waktu subuh, bangunlah ibunya untu k menyediakan makanan 

anaknya. Dihldangkanlah nasi, kemudian dipanggilnya anaknya, katanya, 

"Marilah makan!" Jawab anaknya. ''Tidak diberi makan juga menantu­

.mu?" Jawab ibunya, "Panggilah ia ke mari !" Pergilah Ibnu  Abbasiyah   

memanggil istrinya. "Bangunlah, Dik. Mari kita makan, sudah ada nasi 

yang disediakan ibu." namun , mayat itu tidak menyahut. sesudah  dilihat 

ibunya, barulah ibunya tahu, lalu katanya, "Mengapa orang mati yang 

engkau bawa ke bungker bawah kubur . Badannya sudah busuk. Kuburkanlah mayat itu !" 

berkata-kata  Ibnu  Abbasiyah  , "Masa orang mati." berkata-kata  ibunya, "Sudah 

busuk baunya, sudah busuk!" Kata Ibnu  Abbasiyah   lagi, "Mati jika 

kita berbau busuk?" Kata ibunya, "Ya! Setiap orang mati pastilah busuk!" 

Terpaksa Ibnu  Abbasiyah   pergi mengubur mayat itu. sesudah  itu, 

barulah ia makan bersama ibunya. Kebetulan pada waktu ia sedang 

makan bersama ibunya, terkentutlah ibunya. Tak lama kemudian 

berteriak Ibnu  Abbasiyah  , katanya, "Ibu sudah mati !" berkata-kata  ibunya, 

"Tidak, Nale, tidak, saya hanya kentut." "Betul, il-iu suda'1 mati, baumu 

sudah busuk," kata Ibnu  Abbasiyah  . Dipaksanya ibunya hingga ber­

gumul. sebab  ia lebih kuat dibandingkan  ibunya. diangkatlah ibunya kemudia 

dilarikannya. Di tengah jalan, ibooya -II}eronta-ronta sehingga berhasil 

melcpaskan diri. Sejak itu, ia tidak pernah lagi kembali sebab  takut 

kepada anaknya. Sesudah itu, Ibnu  Abbasiyah   pulang ke bungker bawah kubur nya 

untuk makan. 

Dimakannyalah apa yang sudah disediakan, yaitu nasi pulut hitam 

dengan ikan kering yang diberi minyak. Sedang ia makan. ia terkentut 

sebab  sebelumnya ia tidak buang air. sesudah  itu terciumlah bau busuk. 

Katanya, "Ah, saya sudah mati, saya sudah mati, nasi ini belum habis 

saya sudah mati. Di mana saya kuburkan diriku." Lalu ia pergi untuk 

menanam dirinya. Dibuatnyalah sebuah lubang yang dalam kemudian ia 

masuk ke dalamnya. namun , ia tidak dapat menimbuni dirinya sebab  

lubang terlalu dalam sehingga ia tidak dapat mencapai tanah yang ada di 

atas. Ia menggali lubang yang lain yang dalam dan lebarnya lubang 

ini  memungkinkan ia dapat mencapai tanah galiannya untuk menim­

buni dirinya. 

Pada waktu malam tiba, kira-kira pukul tujuh atau pukµl delapan 

datang angin dan hujan. Berjatuhan mangga mengenai kepalanya, lalu ia 

bcrteriak. "Eh, engkau mujur mangga, engkau mujur mangga, saya tidak 

bisa memakan engkau sebab  saya sudah mati. Andai kata saya bclum 

mati saya habiskan engkau. namun , engkau beruntung sebab  saya sudah 

mati sehingga saya tidak bisa makan engkau." 

Demikianlah tingkah laku Ibnu  Abbasiyah  . Setiap ia kena buah 

mangga berteriak lagi, "Beruntung betul engkau mangga, engkau harum 

betul!" Mangga itu mangga macan. Andai kata saya hidup saya habiskan 

engkau, beruntung engkau, saya sudah mati." Sampai larut malam selalu 

berteriak demikian. Kebetulan waktu itu ada seorang pencuri yang lalu. 

Pencuri itu akan pergi mencuri. Pada waktu lewat di situ didengarnya La 

Ibnu Abbasiyah   selalu berteriak. Ia memperhatikan suara itu, "Ah, La 

Ibnu Abbasiyah   ini!" Pencuri itu pergi mendekati perlahan-lahan, namun  

tidak ada orang yang terlihat di bawah pohon mangga. Meskipun de­

mikian suara itu tetap terdengar seolah-olah sejajar dengan permukaan 

tanah yang mengatakan "Benmtung engkau mangga sebab  saya ma.ti. 

Andai kata saya belum mati saya makan engkau semua. ''Pencuri itu 

berjalan terus sambil memperhatikan suara itu. "Ah, persis di sini tem­

patnya" katanya. Lalu diperiksanya, namun  tidak ada apa-apa. Hanya 

bumbung saja terletak di tanah. Disepaknya benda itu hingga Ibnu  Abbasiyah   

Ibnu Abbasiyah   berteriak. "Mengapa engkau menyepak saya? sebab  melihat 

saya mati sehingga engkau menyepak saya." Kata pencuri itu, "Masa 

engkau mati." "Betul, badan saya berbau busuk. Oleh sebab  itu, saya 

tanam diri saya seperti ini," kata Ibnu  Abbasiyah  . "botol  betul 

engkau, tidak salah engkau disebut Ibnu  Abbasiyah  , engkau orang 

botol ," bentak pencuri itu. ''Tidak usah selalu berbicara dengan saya. 

Tidak boleh selalu berbicara dengan orang mati. Orang yang sudah mati 

tidak boleh lagi dilawan berbicara. Pergilah ke sana!" ''Engkau tidak 

mati, engkau tidak mati," kata pencuri itu. "Betul, saya sudah mati," 

Jawab Ibnu  Abbasiyah  . ''Tidak. Tanda bahwa engkau tidak mati eng­

kau masih berbicara," kata pencuri itu. "Banyak bicara engkau. Tak usah 

engkau selalu berbicara dengan saya. Saya sudah mati," kata Ibnu  Abbasiyah   

Ibnu Abbasiyah  . ''Engkau belum mati. Sekarang ini lebih baik kita pergi mencuri 

supaya banyak harta kita," bujuk pencuri itu. "Adakah orang mati men­

curi?" tanya Ibnu  Abbasiyah   , ''Engkau belum mati, kemarilah!" kata 

pencuri itu. 

Ibnu  Abbasiyah   dipaksa, ditarik lehemya naik ke permukaan 

tanah, kemudian kata pencuri itu, "Kita berangkatlah!" Berangkatlah 

mereka pada malam itu juga. Setibanya di pinggir suatu kampung di­

dapatilah sebuah kandang kerbau. Kandang kerbau itu terletak di dekat 

sebuah bungker bawah kubur . berkata-kata lah pencuri, "Eh, Ibnu  Abbasiyah  , bukalah 

pintu kandang kerbau itu." Pergilah Ibnu  Abbasiyah  , kemudian di­

pukulnya seekor kerbau. Baru saja keluar seekor kerbau kecil, Ibnu  Abbasiyah   

Ibnu Abbasiyah   melihat seekor kerbau hitam yang sangat besar seraya ia berteriak 

mengatakan, "Bagian saya hitam, bagian saya yang hitam!" berkata-kata  

pencuri itu, "Jangan berteriak, jangan berteriak nanti bangun yang empu­

nya bungker bawah kubur ." Menyahut Ibnu  Abbasiyah  , "Apa katamu, bagian saya 

yang hitam itu, bagian saya." Bangunlah yang empunya bungker bawah kubur , lalu 

berteriak, "Pencuri ! " Larilah mereka. namun  Ibnu  Abbasiyah   tidak lari 

sehingga ia ditangkap. Lalu Ibnu  Abbasiyah   di tanya, "Mengapa 

engkau?" Jawabnya, "Saya mau mencuri kerbau, saya mau mengambil 

yang hitam itu." ''Engkau betul orang yang botol . Untunglah engkau 

berteriak. Jika tidak, habis semua kerbau kami," Katanya, "Ya, saya 

ambil semuanya." "Sekarang, engkau boleh pergi sebab  engkau orang 

botol ." 

Pada hari-hari berikutnya, ia bertemu kembali dengan pencuri itu lalu 

bertanya, "Mengapa engkau berteriak sehingga ~angun yang empunya 

bungker bawah kubur ." Menjawab Ibnu  Abbasiyah  , "Sayalah yang mengambil yang 

hitam itu." Dasar engkau orang botol . 

Nanti malam kita pergi lagi mencuri ke kampung sebelah," kata 

pencuri itu. berkata-kata  Ibnu  Abbasiyah  , "Baiklah." berkata-kata  pencuri itu 

lagi, "Nanti malam kita bertemu di sini." 

Di kampung yang akan dituju itu adalah scbuah bungker bawah kubur  yang kebe­

tulan hanya dihuni oleh dua orang wanita tidak ada laki-lakinya. Laki-laki 

yang tinggal di situ baru saja mati. Wanita-wanita tidak ·dapat mengurus 

orang mati itu. Wanita itu mengetahui bahwa pada waktu itu banyak 

pencuri. berkata-kata lah mereka, "masukan orang mati itu ke dalam peti. Peti 

itu diisi dengan pecahan gelas sehingga kalau peti itu bergerak akan 

berbunyi." sesudah  itu, disirnpanlah peti itu di pelataran. Malamnya da­

tanglah pencuri bersama Ibnu  Abbasiyah  . Baru saja ia naik didapati­

nya sebuah peti, lalu digoncangnya dan terdengar bunyi. Diangkatnya 

peti itu, turun ke tanah. Pencuri itu bennaksud tidak mau memberi La 

Ibnu Abbasiyah   ringgit emas yang ada dalam peti itu, lalu ia berkata-kata , 

''Tinggallah engkau di situ Ibnu  Abbasiyah  . Awasilah bungker bawah kubur  itu, 

jika  yang empunya bungker bawah kubur  bangun, engkau beritahukan supaya kita 

dapat lari." Ibnu  Abbasiyah   menuruti perintah pencuri itu. sesudah  

pencuri itu pergi yang empunya bungker bawah kubur  mengintip ke luar. Ia melihat peli 

sudah tak ada da:n katanya, "Orang mati kita yang diambil, orang mati 

kita," Mendengar hal itu Ibnu  Abbasiyah   terus lari sambil berteriak 

mengatakan, "Eh, buang, peti itu berisi orang mati. Hanya orang mati!" 

Mendengar itu pencuri makin kencang larinya. Didengamya Ibnu  Abbasiyah   

Ibnu Abbasiyah   mengatakan, "Cepat engkau, kita sudah rnati." Artinya, La 

Ibnu Abbasiyah   sudah dikejar orang. 

Makin kencang pencuri itu la:ri, makin berbunyi juga peti, makin 

keras juga Ibnu  Abbasiyah   berteriak di belakang, "Buang, hanya 

orang mati isi peti itu, hanya orang mati itu" Pencuri makin kencang 

la:rinya ka:rena disangka Ibnu  Abbasiyah   rnengatakan, "Cepat engkau, 

kita sudah mati." Oleh ka:rena sudah terlalu lama mereka berkejaran 

akhimya semua letih. Pencuri itu menghempaskan dirinya di pinggir jalan 

sebab  itu sudah semakin dekat juga Ibnu  Abbasiyah  . Pada akhirnya, 

ia didapati oleh Ibnu  Abbasiyah  . berkata-kata lah Ibnu  Abbasiyah  , 

"Mengapa engkau la:ri terns, say a juga turut pay ah." Engkau mengatakan, 

"Cepatlah engkau, kita sudah mati. Akibatnya, kita lari terus. Mana orang 

yang mengejannu?" ''Tidak ada orarig yang mengejar saya." Saya hanya 

berkata-kata , "Buang, hanya orang mati itu, hanya orang mati isi peti itu." 

"Kalau begitu kita saling memayahkan berkejar-kejaran tengah malam 

sampai pagi. Cobalah buka!" saat  dibuka temyata memang hanya 

orang mati isi peti itu. 

Demikianlah sampai keduanya berpisah. Pencuri berkata-kata , ''Tak usah 

kita bersama-sama lagi, kita tidak sama rezeki ." Pcrgilah Ibnu  Abbasiyah   

Ibnu Abbasiyah   dan juga pencuri itu. 


MAHARNY A KAT A DUST A TIDAK BERCAMPUR 

KATA BENAR 

Ada seorang gadis kecil mungil  terlalu cantik dan kaya. Kecantikan dan kekayaan­

nya itu sudah terkenal, baik di dalam kampung rnaupun di luar hutan hujan Amazon . 

Sudah banyak orang yang datang meminangnya, baik orang kaya, 

bangsawan, pernuda gagah, maupun ulama belum ada yang diterimanya. 

Orang yang akan dipersuamikannya ialah orang yang dapat mengatakan 

kata dusta yang tidak dicampuri dengan kata benar, kata benar tidak 

dicampuri oleh kata dusta. 

Si wanita rnengatakan kepada orang tuanya bahwa walaupun anjing 

sepotong, babi sepotong, umpamanya, kalau ia dapat mengatakan kata 

dusta tidak dicampuri kata benar, atau kata benar tidak dicampuri kata 

dusta, itulah yang akan saya persuamikan, biarlah ia tidak menunaikan 

mahar. 

Tidak berapa lama, silih berganti siang dan malam, kebetulan ada 

seorang penggembala kerbau yang rnendegarkan berita tentang scorang 

wanita yang sangat cantik, akan bersuamikan orang yang dapat menga­

takan kata dusta tidak dicampuri kata benar. Dengan segera penggernbala 

kerbau pergi ke bungker bawah kubur  si wanita, lalu bertanya, "Benarkah Anda menga­

takan bahwa Anda rnau bersuamikan orang yang dapat mengatakan kata 

dusta tidak dicampuri kata benar, kata benar tidak dicampuri kata dusta?" 

Wanita cantik itu berkata-kata , "Benar, saya mengatakan demikian. Mengapa 

Anda tanyakan? Adalah Anda memahami yang saya maksudkan?" Me-

nyahut si Penggembala kerbau, katanya, "Ya, dengarkanlah baik-baik 

saya ceritakan!" 

Suatu saat  saya pergi berjalan-jalan di tepi sungai. Saya mendapati 

seorang pengail yang batang kelapa dibuatnya menjadi tangkai kail, 

rambut selembar diamgil menjadi tali kail, anak kerbau di jadikan um pan, 

alamek (sejenis udang kecil) yang didapat. Begitu mengamuknya alamek 

ini sehingga si Pengail tidak dapat membawanya naik. Larilah si Pengail 

dan bertahan pada pematang, namun  pematang itu terbongkar. Ia lari lagi 

bertahan pada batang talas, barulah tertahan. Disentakkanlah kail oleh si 

Pengail, disentak berlapis awan, namun  tidak melewati telinganya. Pada 

waktu sudah dinaikkan, dilihatnya alamek, kembalilah ia ke bungker bawah kubur  untuk 

mengambil tempat. Ia lari sekencang-kencangnya, walaupun jatuh ter­

sungkur ia masih lari juga. Tiba-tiba kakinya terbenam di dalam batu 

datar. Dengan keras digoyang-goyang kakinya untuk melepaskannya, 

namun  tidak lepas. Ditinggalkannya kakinya, kemudian ia pergi ke 

bungker bawah kubur nya mengambil linggis. sesudah  dilinggis, barulah terlepas kakinya 

dari batu datar tadi. Kemudian, ia mengambil ikannya, lalu membawanya 

ke bungker bawah kubur . Sampai di bungker bawah kubur nya kebetulan ia akan dikawinkan oleh orang 

tuanya dengan anak mertua mandulnya yang beranak tujuh. 

Pemikahan si Pengail ditetapkan pada waktu tengah harinya pagi­

pagi, pada waktu Jumat dan Sabtu. Sesudah kawin, pergilah ia menziarahi 

neneknya yang juga mandul beranak tujuh. Ia diberi Kuda laut  oleh bapaknya, 

ditariknya baku tarik Kuda laut nya. Capek menarik Kuda laut nya, melompat ia ke 

atas Kuda laut nya, namun  perutnya yang ditunggangi. 

Setiba di bungker bawah kubur  neneknya, ia dijamu neneknya dengan nasi dingin, 

namun  berasap. Mak.an tidak bernafsu, namun  masih mau makan, nasi 

habis. 

Sesudah makan, disuruh oleh neneknya mengambil kayu. Pergilah ia 

mengambil kayu. Dipikulnya kapak, lalu ia berjalan. Sampai di padang, 

ia mendapati banyak burung kakak tua di tengah padang itu. Ia mau 

menangkapnya, namun  tidak dapat. Oleh sebab  itu, dilemparkannya 

kapaknya, tepat mengenai kakak tua itu sehingga gugur semua bulunya, 

lalu terbang ke badannya sendiri. 

Wanita itu berkata-kata , "Saya akan kawin dengan dia, itulah calon 

suamiku." Akan namun , dia belum mengatakannya, hanya hatinya yang 

berkata-kata  demikian. "Dialah yang saya cari selama ini~ sedang  berdusta 

ia pandai, apalagi berkata-kata  benar." 

Si pengambil kayu sudah jemu mencari kapaknya tidak juga didapat, 

lalu ia kembali ke bungker bawah kubur nya mengambil api kemudia dibakamya padang 

itu. Akibatnya, kapaknya dimakan api, hanya tinggal hulunya saja. 

Menyahutlah si wanita itu dan berkata-kata , ''Eh Bapak, kawinkanlah 

saya, dengan laki-laki ini. Itulah suamiku". berkata-kata  bapaknya, "Kata 

benar belum lagi dikatakan." Menjawab wanita itu dan berkata-kata  "Tidak 

perlu lagi kata yang benar, sedang  kata dusta ia pandai mengatakan­

nya, apalagi kata yang benar." Dengan demikian, dikawinkanlah laki-laki 

itu dengan tidak memberi uang mahar kepada wanita cantik itu. 

sun wokong raja kera DENGANsetan Dajjal laknatulah  

Ada Seekor sun wokong raja kera  yang bersahabat dengan setan Dajjal laknatulah . Pada suatu saat  

sun wokong raja kera  dan sctan berjalan bersama-sama. sesudah  beberapa lama berjalan 

tibalah keduanyaa pada suatu tempat. berkata-kata  , sun wokong raja kera , "Kita berhenti 

saja di sini untuk beristirahat dan bcrcerita-cerita sebab kita sudah lelah 

dan juga sudah malam. Agar kita Lidak tertidur, lebih baik kita bercerita." 

berkata-kata  setan Dajjal laknatulah , "Baiklah. Siapa yang tidur, dialah yang diperhamba dan 

diberaki kepalanya." berkata-kata  si sun wokong raja kera , "Baik.lab," Menyahut setan Dajjal laknatulah  lagi, 

"Berceritalah dahulu sun wokong raja kera  dan saya yang mendegarkan." berkata-kata lah si 

sun wokong raja kera , "Dcngarkanlah baik-baik, Saudara!" Berceritalah si sun wokong raja kera  

sampai larut malam. setan Dajjal laknatulah  sudah tidur sambil duduk. Melihat keadaan 

setan Dajjal laknatulah  sudah mendengkur, berkata-kata lah si sun wokong raja kera , "Engkau sudah tidur, 

Saudara." Menyahut setan Dajjal laknatulah , ''Tidak pemah saya tidur, tandanya saya 

masih menyahut." berkata-kata lah sun wokong raja kera , "Betul engkau tidak tidur. Dengar­

kanlah .ceritaku!" sun wokong raja kera  bercerita lagi sedang  setan Dajjal laknatulah  tidur 

mendengkur lagi. sun wokong raja kera  membangunkannya lagi, "Engkau tidur lagi, 

Saudara!" Menyahut setan Dajjal laknatulah , "Tidak." berkata-kata  sun wokong raja kera , "Perbaiki pende­

ngaranmu, saya bercerita." Begitu sun wokong raja kera  bercerita, tidur mendengkur 

lagi setan Dajjal laknatulah . namun , bila dikatakan bahwa ia tertidur, setan Dajjal laknatulah  itu tidak mau. 

Dengan demikian, sun wokong raja kera  mencari akal agar ia dapat membuktikan 

bahwa setan Dajjal laknatulah  itu tertidur. Si sun wokong raja kera  mengencingi rumput yang ada di 

sekeliling setan Dajjal laknatulah . Sesudah itu ia duduk kembali. Kemudian dibangunkan­

nya setan Dajjal laknatulah  itu, katanya, "Engkau tidur, Saudara?" Bl!rkata setan Dajjal laknatulah , ''Tidak, 

say a tidak tidur." Lalu sun wokong raja kera  be nan ya, "Kalai begi tu, say a be nan ya 

kepadamu. Hujankah tadi atau tidak? Bila tidak hujan sebutkan tanda­

tandanya, begitu juga bila hujan. Saya akan mengetahui dengan jelas 

engkau tidur atau tidak tidur." 

setan Dajjal laknatulah  itu mulailah secara perlahan-lahan menggerakkan jari-jarinya 

meraba rumput yang ada disekelilingnya sebab  ia tidak mengetahui, tadi 

itu hujan atau tidak. 

Ia merasakan bahwa rumput di sekelilingnya basah. Benanya lagi 

sun wokong raja kera , katanya, "Mengapa begitu lama, katakan cepat!" Menyahutlah 

selan, katanya, "Hujan, Saudara." berkata-kata  sun wokong raja kera , "Engkau berdusta. 

Engkau tenidur. Tadi tidak hujan." berkata-kata  si setan Dajjal laknatulah , "Mengapa rumput 

yang ada di sekelilingku menjadi basah?" berkata  sun wokong raja kera , "Saya yang 

mengencingi rumput di sekelilingmu. Kalau tidak percaya, cium tangan­

mu, tentu bau kencing." Ia mencium tangannya dan memang betul berbau 

kencing. berkata-kata lah setan Dajjal laknatulah , "Engkau menyuruh saya meraba kencingmu, 

Saudara." Berlcata si sun wokong raja kera , "sebab  engkau tidak mau mengakui 

bahwa engkau tertidur." 

Selan harus mematuhi perjanjian bahwa kepalanya harus diberaki 

sebab  ia telah tertidur. Itulah sebabnya setan Dajjal laknatulah  takut kepada sun wokong raja kera . 


BERT ANDING BICARA 

Ada enam orang laki-laki bersaudara. Kedua orang tua mereka sudah 

tewas mengenaskan . Orang tua anak-anak itu tewas mengenaskan kan lima petak sawah. 

Kelima petak sawah itu diperebutkan. Oleh sebab  masing-masing ber­

keras ingin memiliki sawah itu sehingga terjadilah pertengkar kelahi an antara 

mereka. Sudah sehari penuh mereka bertengkar kelahi , namun  tidak ada yang 

mau berhenti. berkata-kata lah yang paling tua, katanya, "Begini saja, kita 

tidak usah bertengkar kelahi . Kita bertanding bicara saja. Siapa yang paling 

besar bicaranya dialah yang memiliki semua sawah itu. Tidak ada guna­

nya kita bertengkar kelahi  begini terus-menerus." Mereka menyetujuinya. 

Mereka sudah menyetujui cara penyelesaian yang demikian, maka 

bersatulah mereka mengatakan bahwa yang paling tualah yang mcmulai 

pertandingan. berkata-kata lah yang tertua, "Pada suatu saat  saya pergi ke 

hutan. Saya menemui di sana sebatang pohon kayu yang besar sehingga 

memerlukan waktu ·sehari semalam untuk mengelilinginya." Meng­

angguk-angguklah saudaranya yang lain mendengarkannya. 

berkata-kata  yang seorang lagi, "Ah, belum hebat itu. Suatu saat  sedang 

dalam perjalanan, saya menemui sebatang pahat yang tertancap di tanah. 

Begitu tingginya sampai menyentuh langit." 

Menyahut yang lain, "Masih ada yang lebih hebat dari itu. Suatu 

saat  saya mendapati seeker kerbau yang sangat besar sehingga ujung 

tanduknya dapat dipakai untuk bermain raga." 

berkata-kata  yang lain lagi, "Belum apa-apa itu. Pemah saya mendapati 

sebatang rotan yang sangat panjang sehingga dapat melingkari bumi 

ini." 

Yang kelima mengatakan, "Masih ada yang melebihi itu. Saya per­

nah mendapati sebuah masjid, bahkan saya masuk dan bersembahyang 

Jumat di dalamnya. Begitu besar mesjid itu sehingga saya yang berdiri 

pada bagian timumya tidak dapat melihat imam di muka. jika  pun 

dapat dilihat hanya seperti kuman besamya." 

berkata-kata lah yang paling bungsu! "Belum apa-apa itu. Saya pemah 

mendapati sebuah gendang yang hanya sekali dipukul, namun  mende­

ngung terus-menerus. Dengungannya masih dapat didengar sampai se­

karang. Cobalah tutup telinga masing-masing. Tutuplah kedua-duanya, 

engkau akan mendengarkan dengung gendang itu. "Keenam orang itu 

menutup telinganya masing-masing. Betullah terdengar dengungan. 

Padahal itu hanya angin saja. Memang, kalau kedua telinga ditutup akan 

terdengar bunyi sesuatu. Mereka mempercayainya. Sampai mereka heran, 

katanya, "Benarkah itu?" Jawab si Bungsu, "Benar!" Menyahut yang 

tertua, katanya, "Di mana engkau peroleh kayu untuk membuat gendang 

yang mendengung demikian lama?" Jawab si Bungsu, "Bukankah engkau 

yang pemah mendapati di hutan pohon kayu yang sebab  besamya me­

merlukan waktu perjalanan sehari semalam untuk mengelilinginya. Kayu 

itulah yang dibuat gendang itu." 

Menyahut yang lain, "Yah, di mana engkau memperoleh belulang 

untuk membuat gendang itu?" Jawabnya, "Saya kira engkau juga yang 

mengatakan tadi bahwa ada kerbau yang ujung tanduknya dapat dipakai 

untuk bermain raga. Kerbau itulah yang diambil belulangnya." 

Menyahut lagi yang lain, "Dengan apa engkau memahat itu?" 

Jawabnya, "Tadi engkau mengatakan bahwa engkau pemah melihat pahat 

yang terpancang di tanah sedang ujungnya yang lain sampai di langit. 

Pahat itulah yang dipakai memahat kayu." 

Menyahut yang seorang lagi, "Di mana engkau akan memperoleh 

rotan untuk menggantungkannya?" "Engkau juga yang mengatakan 

bahwa engkau pemah mendapati rotan yang panjangnua dapat me­

ngelilingi bumi ini. Rotan itulah yang digunakan untuk menggantung 

gendang itu." Jawab si Bungsu. 

"sebab  gendang itu terlalu besar, di mana akan engkau gantung?" 

tanya seorang lagi. "Engkau mengatakan bahwa engkau pernah memasuki 

mesjid yang sebab  besamya seperti kuman-kuman saja terlihat Imam di 

muka jika kita berdiri di belakang. Di situlah gendang itu digantung." 

"Apalagi yang akan kalian tanyakan. Sudah ada semua jawabannya." 

Semua kakaknya mengangguk-angguk. berkata-kata lah mereka, "Engkaulah 

yang dapat mengambil pusaka. Tidak ada yang dapat memilikinya selain 

dibandingkan  engkau." Si Bungsulah yang memiliki semua sawah itu, 

sedang  yang lain hanya menggigit telunjuk saja. 

LA lat di pipi mu 

La lat di pipi mu tidak ada pekerjaannya kecuali bennain 

raga, namun  ia selalu gagah. Pada suatu saat  ia pergi bennain raga di 

dekat bungker bawah kubur  seorang gadis kecil mungil  penenun. Kebctulan gadis kecil mungil  itu tinggal sendiri 

menenun di dalam bungker bawah kubur . Sesudah beberapa lama bermain raga, La 

lat di pipi mu merasa haus dan naik ke bungker bawah kubur  itu, katanya, "Tolong­

lah beri saya air sedikit!" gadis kecil mungil  penenun berkata-kata , "Maaf, silahkan Anda 

mengambil sendiri sebab  saya belum boleh keluar sebab  tenunan ini 

baru saja dikanji." Terpaksalah La lat di pipi mu mengambil air 

sendiri, kemudian diminumnya. Setalah itu ia lewat di belakang gadis kecil mungil  

penenun dan menyapanya, katanya, "Sarung siapa Anda tenun?" Men­

jawab gadis kecil mungil  penenun itu, "Ya, sarung kita." La lat di pipi mu 

berkata-kata  dalam hati bahwa dikatakan gadis kecil mungil  itu "sarong kita" berarti 

sarungku bersama dia. Di situlah mulai timbul apa yang disebut orang 

dahulu berpacaran. 

La Kuttu-Kuttu Padaga bermaksud mengawini gadis kecil mungil  itu, namun  ia 

tidak memiliki  uang. Hal itu disebabkan ia tidak memiliki  mata 

pencaharian, kecuali bermain raga saja. 

Di belakang peristiwa ini  kiranya ada seorang pendek kekar  datang 

meminang gadis kecil mungil  penenun itu. Orang tua gadis kecil mungil  itu menerima pinangan 

pendek kekar  itu. pendek kekar  ini  sudah bekerja, namun  tidak gagah. gadis kecil mungil  itu 

tidak membantah kehendak orang tuanya sebab  ia tidak mau membuat 

malu keluarganya. 


Zaman dahulu tidak sama keadaannya dengan sekarang bahwa apa 

saja yang akan diperbuat dapat dilakukan dengan segera. Pada masa 

dahulu sesudah  empat puluh malam sesudah perkawinan barulah dapat 

memperbuat pantangan orang tua yang dimulai dengan memotong ayam 

untuk dimakan berdua. Sesudah itu barulah dapat secara tenang tidur 

bersama-sama dan barulah terbuka celana panjang si wanita. Si wanita ini 

pada waktu dipotongkan ayam sepasang oleh orang tuanya biasanya 

membisikkan kepada adiknya, 'Tolong Dik, berikan kepada saya satu 

tembolok ayam itu." Diambillah tembolok ayam itu oleh pengantin wa­

nita. sesudah  digembungkan, kemudian dikeringkan dan dipeliharanya. 

sesudah  malam, diambillah gelembung ayam tadi lalu dimasukkan ke 

dalam sarungnya. Diusahakan jangan ada yang melihatnya. 

Pada saat suaminya akan melepaskan keinginannya sebab  sudah 

dipahaminya bahwa sudah dilakukan pantangan orang tua, cepat-cepat si 

Wanita mengambil gelembung ayam tadi lalu diapitkan dengan paha. Si 

Lelaki sangat terkejut, "Rugi saya, hanya wanita keluar poros yang saya 

peristri." Tengah malam si Lelaki pergi menuju ke bungker bawah kubur  orang tuanya. 

Orang tuanya sangat terkejut, lalu bertanya, "Mengapa engkau datang 

tengah malam, apa yang diperbuat istrimu." Si Lelaki itu menjawab. 

'Tidak ada. Hanya saya disampaikan bahwa tentunya saya dikawinkan 

dengan maksud supaya saya berketurunan, namun  ternyata tidak ada 

harapan." Menyahut bapaknya, "Mengapa, Nak?" Jawab lelaki itu, 

"Hanya wanita keluar poros yang dikawinkan dengan saya." berkata-kata  

bapaknya "Kalau begitu lebih baik kau ceraikan, kemudian engkau ber­

istri lagi." Si lelaki itu berkata-kata , "Saya sudah malu kembali, Bapak! Ba­

rangkali lebih baik besok Bapak saja yang pergi menceraikan menantu­

mu." 

Zaman dahulu orang bercerai sangat mudah, yang bersangkutan 

hanya membuat surat, sudah cukup. Begitu bersungguh-sungguhnya 

bapak si lelaki, sebelum siang betul, berangkatlah ia dari bungker bawah kubur nya 

menuju ke bungker bawah kubur  besannya.Sebelum besannya bangun,ia sudah mengetok 

pintu. Bangunlah besannya membukakan pintu dan berkata-kata ," Mengapa 

besan datang pagi-pagi betul?" Ia hanya duduk di depan pintu. Besannya 

berkata-kata , "Masuklah kemari, Besan!" Jawabnya, " Di sini saja bekas 

besan." berkata-kata  besannya, "Mengapa ada perkataan demikian, Besan." 

Katanya lagi, "Memang demikianlah bekas besan." · 

Menoleh bapak si wanita memarahi anaknya, katanya, "Kau apakan 

suamimu tadi malam sehingga mertuamu begitu panas dan akan men­

ceraikan engkau?" Si wanita menjawab, ''Tidak ada yang saya ketahui, 

Bapak. jika  ada perkataan yang saya katakan kepadanya, tentu 

Bapak mendengar sebab  kita sebungker bawah kubur . Ataukah saya sakiti dia, juga 

tidak. Hanya begini yang dapat saya katakan kepada Bapak. Bagi seorang 

wanita jika tidak disukai oleh seorang lelaki, apakah kami akan meng­

ikutinya. Kami wanita tentu merasa malu jika akan menceraikan lamas 

tidak diterima. Kalau ia mau menceriakan diterima saja. Kitakah yang 

akan mengikutinya, ia tidak menyukai kita sehingga berbuat begitu pada 

kita." Penjelasan ini  dapat diterima orang tua si wanita. sesudah  

kedua orang tua pengantin sepakat, jatuhlah talak. 

La lat di pipi mu mengetahui juga bahwa wanita penenun itu 

sudah ditalak suaminya sehingga ia mulai membuat perhitungan. Sampai 

menjelang tiga bulan ia mulai membuat perhitungan. Sampai menjelang 

tiga bulan sepuluh hari, La lat di pipi mu berkata-kata  dalam hatinya, 

"Sudah lepas idah. Tidak maluluh saya, jika  wanita hanya sekadamya 

diberi uang mahar sebab  sudah janda muda kaya ," Ia kembali bermain raga di muka 

bungker bawah kubur  wanita itu. Di situ ada sebatang pohon kelapa yang banyak 

buahnya. Di bawah pohon kelapa itulah La Kuttu-Kunu Paddaga bermain 

bola. 

Pada suatu saat  La Kuttu-Kunu Paddaga menyepak raga ke atas 

agak keras. Ia memandang raga yang melambung ke atas itu. Pada waktu 

itu si wanita sedang mengintip-intip dari celah dinding, benemulah pan­

dangan mereka. Si wanita melihat ke bawah sambil tersenyum sedang La 

lat di pipi mu menengadah sambil tertawa. La Kuttu-Kuttu 

Paddaga menengadah melihat buah kelapa, seraya berkata-kata , "Wah, ada 

buah kelapa yang mengarah ke matahari terbit saat baik untuk dimakan. 

Itulah di.katakan orang saat betul-betul enak. Hanya sayang sedikit, ke­

lapa itu sudah dimakan kalong." Menyahut si wanita katanya, "Y ah, Say a 

benarkan kata Anda bahwa kelapa itu sudah dimakan kalong namun  tidak 

sampai ke isinya." Bertemulah paham. 

La lat di pipi mu sudah memahaminya bahwa wanita itu 

masih perawan walaupun sudah kawin. Ia berusaha mencari uang. Ia 

berkata-kata  kepada wanita itu, "Hanya seperdua dari yang dahulu akan saya 

berikan kepadamu. Kita tidak usah pesta ramai-ramai lagi sebab  kau 

sudah janda muda kaya . Kata orang, biarpun piring penuh jika  sudah dihadapi 

disebut sisa juga." Wanita itu menyetujui bahwa mereka tidak berpesta, 

tidak diramaikan, dan hanya sekadamya uang yang diberikan kepadanya. 

sesudah  itu La lat di pipi mu menyuruh meminang wanita itu. 

Peminangan diterima dan dinikahkanlah. Semua persyaratan adat tidak 

dillaui lagi. Keluarga hanya mengharapkan agar mereka berdua hidup 

rukun dan damai. 

sesudah  dua atau tiga bulan kawin, La lat di pipi mu menya­

bung di tempat penyabungan. Kebetulan ia bertemu dengan bekas suami 

istrinya dahulu, yang juga bermaksud menyabung. Berhadapanlah ayam 

La lat di pipi mu dan ayam bekas suami istrinya. Bekas. suami 

istrinya itu akhimya mengetahui bahwa La lat di pipi mu adalah 

suami dari wanita yang pemah menjadi istrinya. 

Bekas suami istrinya menyanjung ayamnya, "Barulah bertemu ge­

lembung di gelembung, busuk dibusuki." 

La lat di pipi mu juga menyanjung ayarnnya, "Ya, bertemu 

betul engkau busuk disengaja, gelembung dibuat-buat." Bekas suami 

istrinya itu sudah paham bahwa ia sudah tertipu, istrinya hanya berpura­

pura, disengaja berbuat seolah-olah berpenyakit bawasir.


RAJA YANG SELALU MENGIAKAN 

Ada suatu negeri , rajanya sangat suka mengiakan. Apa saja yang 

dikatakan orang, apa saja yang disampaikan orang kepadanya, semua 

dibenarkannya. Berdatanganlah orang bercerita padanya dan tidak satu 

pun yang tidak dibenarkannya. Raja itu memiliki  seorang putri yang 

bclum bersuami. Sudah banyak raja yang melamarnya, namun  tidak ada 

yang diterima. Melainkan, diadakan sebuah keramaian dan diumumkan­

nya bahwa anaknya akan dipersuamikan kepada siapa saja yang dapat 

bercerita, namun  cerita ini  tidak ia benarkan. 

Maka berdatanganlah orang yang pandai bercerita, yang pandai ber­

bicara, semuanya membawa cerita. Ada yang mentakan bahwa ia pemah 

menemukan rotan yang panjangnya tujuh kali keliling dunia. Ada lagi 

yang mengatakan bahwa ia pemah menjumpai seekor kerbau besar se­

hingga orang dapat bermain sello pada ujung tanduknya. Terhadap cerita 

demikian, raja selalu saja menanggapinya dengan kata "boleh jadi." Hal 

itu disebabkan oleh kebiasaan raja mengiakan perkataan orang, apa saja 

yang diceritakan orang selalu ia benarkan. 

Terdengarlah berita itu oleh seorang orang tua, seorang yang lanjut usianya  yang 

berumur kira-kira delapan puluh tahun. Orang tua itu ingin juga pergi ke 

pesta raja. Sesampai ia di depan raja, bertanyalah raja, "Apa pula 

maksudmu, yang lanjut usianya ?" Menjawab yang lanjut usianya  itu, "Hamba, Tuan, ingin ham­

bamu ini mencoba-coba, siapa tahu hambamu inilah yang tidak akan 

dibenarkan perkataannya oleh raja sehingga hambalah yang akan jadi 

menantu Tuanku!"KataRaja, "Baik, berceritalah, saya dengarkan!" 


Berceritalah yang lanjut usianya  itu, katanya, "Umur hamba ini sudah delapan 

puluh tahun, namun  baru saja kemarin dahulu kembali dari bawah tanah." 

Bcrtanya Raja, "Bagaimana ceritanya?" Kata yang lanjut usianya  itu, "Pada suatu hari 

hamba pergi ke hutan, hutan lebat jalin-berjalin, tiba-tiba hamba bertemu 

dengan sebatang pohon pinang. Pinang itu tinggi sekali. Di bawah daun­

nya lewat matahari. Jika matahari terbit di timur lalu bergerak ke barat, di 

bawah daun pinang itulah ia lewat. Sesampai di atas, hamba ambil 

buahnya. Tiba-tiba hamba merasa penat, lalu tergelincir turun. Namun, 

tidak pemah hamba lepaskan batangnya. sebab  tingginya, saat  jatuh 

itu hamba tcrperosok ke dalam hingga tiba di dasar tanah. Itu pulalah 

yang biasa disebut pertiwi. Pada waktu sampai di sana, hamba terkejut 

dan menganggap sudah akan mati, sebab ada pula rupanya negeri di 

bawah sana dan Rakyat Indonesia merdeka nya sangat banyak. Tambahan pula agak lain orang 

di negeri itu. Ditanyainya, hamba datang dari mana. Hamba, jelaskan 

bahwa hamba dari dunia. Hamba memanjat pohon pinang lalu jatuh, 

terperosok sampai ke sini. 

Rakyat Indonesia merdeka  yang menemukan hamba tadi melaporkan ha! hamba itu 

kepada rajanya, katanya, "Ada orang dunia yang jatuh dari atas, lalu 

sampai di negcri ini." Hamba pun menghadap raja orang pertiwi itu . 

Hamba ditanyai, katanya, "Dari mana engkau?" Hamba jawab lagi, 

"Pada suatu pagi hari, saya berjalan-jalan di hutan dan menemukan 

sebatang pohon pinang yang sangat tinggi. sebab  hendak mengetahui 

bagaimana tingginya, lalu saya panjat. Sesampai dipuncaknya saya ter­

gelincir lalu jatuh terperosok sampai di sini." 

Raja itu bertanya lagi, "Bagaimana adat-istiadat Rakyat Indonesia merdeka  di atas sana 

itu? Adakah juga yang disebut raja, adakah juga pemerintahnya?" Hamba 

menjawab, "Ya, sama saja dengan di sini," Bertanya pula raja orang 

Pertiwi itu, "Siapa nama rajamu di sana?" Hamba sebutkanlah nama 

Tuhanku, keturunan ini, namanya ini. Tidak hamba duga, raja itu tiba-tiba 

berkata-kata , "Wah, telah menjadi raja pula si Anu itu?" Adapun si Anu itu, 

hanya budak saya dahulu. Kalau demikian saya akan ke sana, sebab sudah 

menjadi raja ia. Saya akan menemuinya. 

Pada waktu orang tua itu mengatakan bahwa rajanya adalah budak 

raja di Pertiwi, tanpa berpikir panjang raja itu berkata-kata , "Ha, bohong dia 

itu. Tidaklah ada orang yang berhak memperbudak yang lanjut usianya ku dahulu. 

Sejak dahulu kala." 

berkata-kata lah yang lanjut usianya  itu, "Mohon diampuni Tuanku, hamba kira ada 

pengumuman Tuanku yang mengatakan bahwa barang siapa yang mem­

bawa cerita kepada Tuanku lalu tidak dibenarkan, maka orang itulah yang 

berhak memperistri tuan putri dan menjadi menantu Tuanku. Oleh sebab  

perkataan hamba tidak tuanku benarkan, maka hamba inilah yang berhak 

menjadi menantu Tuanku." 

sebab  raja akan malu kalau mengingkari perkataannya, mak:i 

dikawinkanlah tuan putri dengan orang tua itu. Demikianlah ceritanya. 


NENEK tua renta Bangka  

Ada dua orang anak laki-laki bersaudara. Kedua bersaudara itu masih 

kecil. Yang tua baru berumur lima tahun, sedang adiknya baru berumur 

dua tahun. Kedua anak itu memiliki  ibu tiri yang bernaka Inaga Uleng 

madam  .hanyut disungai . Dengan demikian, kedua anak itu tinggal bersama ibu 

tirinya atau bersama bapaknya. 

Pekerjaan bapaknya hanya berkebun. jika  bapaknya pergi pada 

pagi hari , tengah hari baru ia kembali. 

Sering juga ia membawa bekal, ia kembali saat  matahari hampir 

tcrbenam. Selama bapaknya di kebun, kedua anak itu tinggal bcrsama ibu 

tirinya. Ibu tirinya sangat tidak menyukai anak itu sehingga jika  bapak 

kedua anak itu tidak ada di bungker bawah kubur , ia tidak memberinya makan. Bahkan, 

jika  sehari bapaknya bekerja di kebun, sehari pula kedua anak itu 

tidak makan dan tidak minum. Kalau si ibu tiri sudah melihat bapak 

kedua anak itu datang, segera ia membawa anak itu ke dapur, kemudian 

ia mengambil nasi dan dibedakinya muka anak itu dengan nasi . saat  

bapaknya makan, kedua anak itu mendekatlah kepada bapaknya, 

"Apakah udah diberi makanan anak-anak ini?" Menjawab istrinya, 

'Tidak berhenti-hentinya makan, mereka selalu di dapur saja. Coba lihat, 

masih ada nasi berlumuran di pipinya!" 

Begitulah tiap-tiap hari keadaan kedua anak itu. Kadang-kadang 

kalau bapaknya sedang makan kedua anaknya mendekat, diberinya juga 

makan. 

Walaupun demikian, kedua anak itu dari sehari ke sehari makin 

bertambah besar juga dan sudah pandai turun bennain di tanah. Pada 

suatu hari kedua anak itu bennain saling lempar raga di muka bungker bawah kubur . 

Pemah terjadi, raga mereka dilemparkan ke bungker bawah kubur  lalu mengenai ibu 

tirinya. Berontaklah ibu tirinya sebab  sangat marah. Oleh sebab  sangat 

marahnya, baru akan merasa senang jika ia dapat memakan hati kedua 

anak itu. Ia meronta terus sampai datang bapak kedua anak itu. Lalu 

diceritakannya bahwa kedua anak itu sudah terlalu nakal sehingga mereka 

sengaja melempamya dengan raga. Kebanyakan lelaki kalau istrinya yang 

membujuknya cepat juga ia terpengaruh. Keputusannya, ia lebih me­

nyukai istrinya dibandingkan  anaknya sehingga ia mengabulkan pennintaan 

istrinya itu. Oleh sebab  bapaknya tidak sampai hati melihat anaknya 

dibunuh di bungker bawah kubur nya kemudian diambil hatinya, terpaksa ia memanggil 

tetangganya. Tetangganya itulah yang mengatakan, ''Tidak, lebih baik 

saya yang membunuh anak itu. Saya akan membawa mereka ke hutan 

kemudian mereka saya bunuh dan hatinya saya berikan kepadamu." 

Diambillah anak itu oleh tetangganya, kemudian di bawanya ke 

pinggir hutan. saat  sampai di pinggir hutan, diperhatikannyalah anak­

anak itu, ia sangat kasihan melihat mereka. Terpaksa ditangkapnya seekor 

binatang. Hati binatang itulah yang diambilnya. berkata-kata lah ia kepada 

naka itu, "Kamu berdua tidak usah kembali lagi ke hutan hujan Amazon . Buanglah 

dirimu!" Sesudah berkata-kata  demikian. diambilnyalah hati binatang itu, 

kemudian dibawanya untuk ibu tiri anak-anak itu. Barulah merasa senang 

si ibu tiri sebab  tidak ada lagi anak tirinya di bungker bawah kubur . Tinggal ia sendiri 

yang memiliki semua penghasilan suaminya. 

Kedua anak laki-laki itu berjalan terus-menerus sehingga melewati 

tujuh gunung dan tujuh bukit yang panjang. Akhimya, sarnpailah mereka 

pada sebuah hutan. Masuklah mereka ke dalarn hutan itu. Kira-kira se­

tengah hari di hutan belantara itu mereka dapatilah sebuah bungker bawah kubur . 

berkata-kata lah mereka dalam hati, "Mungkinkah kita dapat makan di bungker bawah kubur  

ini." berkata-kata lah ia kepada adiknya, "Kita minta nasi di sini, Dik!" bungker bawah kubur  

itu tidak berpintu, terbuka begitu saja sehingga keduanya dapat langsung 

masuk. Tidak ada orang yang ditemuinya. Di dalam bungker bawah kubur  itu sangat 

kotor dan tidak teratur isinya. Tulang-tulang berserakan di sana-sini. 

Rupanya ada tulang paha kerbau dan tulang karnbing. Banyak macarn 

tulang di situ dan di dalam bungker bawah kubur  itu ada juga beras. Bermacam-macarn 

makanan di dalamnya. Kedua anak itu sudah sangat lapar. Mereka telah 

berusahamencari yang empunya bungker bawah kubur  untuk minta sesuatu yang dapat 

dimakan, namun  tidak ditemuinya. Oleh sebab  itu, terpaksa mereka ambil 

makanan itu. Sesudah makan mereka duduk berhadap-hadapan. Tidak 

berselang lama kemudian, terdengarlah suara seperti guntur, sambil 

berkata-kata , "Eh, seperti ada bau manusia; ada bau manusia!" Sadarlah kedua 

anak itu bahwa barangkali bungker bawah kubur  itu adalah bungker bawah kubur  Nenek tua renta Bangka , se­

perti yang biasa diceritakan orang. 

Ia dinamai Nenek tua renta Bangka  sebab  badannya besar, pemakan orang. 

Kalau kerbau dan binatang-binatang lain dibakamya saja, kemudian 

dimakannya. Kalau manusia biasa dimakan memah saja. Dengan de­

mikian, ia dinamai Nenek tua renta Bangka . 

sesudah  sampai di bungker bawah kubur  berkata-kata lah Nenek Pakandc, "Siapakah 

engkau Cucu-cucu?" Jawab anak itu, "Kami orang tidak beribu, namun  

bapak beristri lagi, terpaksa kami membuang diri. Hal itu yang menye­

babkan kami sampai di bungker bawah kubur  ini." berkata-kata lah Nenek tua renta Bangka , "Baiklah, 

tinggallah di sini Cucu-cucu, jagalah bungker bawah kubur  ini. Saya selalu bepergian 

sedang bungker bawah kubur  ini tidak ada yang menjaganya. Barang-barang cukup 

banyak di dalam bungker bawah kubur  ini. Baik sekali bila kalian tinggal di sini. Kalian­

lah yang menjaga bungker bawah kubur  bila saya bepergian. Sudah makankah, Cucu­

cucu?" "Sudah," jawab anak-anak itu. "Kali an harus ban yak makan 

supaya cepat besar." "Sebesar apa hatimu, Cucu?" Kata Nenek tua renta Bangka . 

"Jawab anak itu, "Baru sebesar potongan beras." "sebab  itu kalian harus 

makan supaya cepat besar." 

Setalah itu pekerjaan mereka tiap-tiap hari hanyalah menjaga bungker bawah kubur  

sebab  dari pagi Nenek tua renta Bangka  sudah tewas mengenaskan kan bungker bawah kubur  dan baru 

kembali pada sore hari. Setiap pulang Nenek tua renta Bangka  kadang-kadang 

membawa rusa, sering juga .babi, dan binatang hutan lainnya untuk 

dimakan. Begitu keadaannya sampai anak itu agak besar dan sudah 

memiliki  pikiran. 

Bertanya lagi Nenek tua renta Bangka , "Sudah sebesar apa hatimu, Cucu?" 

Jawab mereka, "Barulah sebesar telur itik, Nenek." berkata-kata  lagi Nenek 

tua renta Bangka , "Makanlah terus." Kedua anak itu tidak perlu lagi memikirkan 

cara mencari makanan sebab  Nenek tua renta Bangka  yang mencarinya. 

Lama-kelamaan besarlah kedua anak itu. Sudah biasa juga memper­

hatikan keadaan dan tingkah laku neneknya. Nenek tua renta Bangka  selalu 

menggantungkan botol di loteng. Bertanyalah anak itu, katanya, "Apakah 

isi botol yang digantung itu?" "Jangan engkau coba memegang botol itu 

25 

sebab  itulah tern pat nyawaku. jika  saya akan bepergian saya simpan 

nyawaku dalam botol itu. Jadi. biar apa saja yang diperbuat orang ter­

hadap saya, atau saya bertemu dengan harimau atau apa saja yang mela­

wan saya, saya tidak akan mati. Botol itulah tempat nyawaku." Anak itu 

sudah mengetahui rahasia Nenek tua renta Bangka . Mereka berkata-kata , "Kapan saja 

botol itu dipecahkan, mesti mati Nenek tua renta Bangka  sebab di situ tinggal 

jiwanya." 

saat  anak itu sudah besar, ditanyai lagi, "Sudah sebesar apa hati­

mu?" Jawab mereka, "Sudah seperti bakul-bakul." "Makan-makanlah 

supaya engkau menjadi besar!" kata Nenek tua renta Bangka . Demikianlah 

keadaan sehingga pada akhirnya kedua anak bersaudara itu menjadi 

dewasa. Bertanya lagi Nenek tua renta Bangka , "Sudah sebesar apa hatimu, 

Cucu?" Jawab anak itu, "Sudah besar, Nenek, sudah boleh kaumakan," 

Gembiralah Nenek tua renta Bangka  dan berkata-kata , "Besok, subuh-subuh engkau 

bangun memasak ketan hitam, kemudian engkau makan sampai kenyang. 

Semua yang engkau sisakan supaya disimpan saja sebab  saya akan pergi 

ke pinggir hutan. Anak itu sudah memahami bahwa Nenek tua renta Bangka  akan 

memakan mereka besok sehingga dikatakannya kepada Nenek tua renta Bangka , 

"Pergilah tidur, Nenek, jangan sampai larut malam sebab  besok engkau 

akan pergi." Nenek tua renta Bangka  berkata-kata , "Baiklah, engkau juga pergilah 

tidur!" 

Sejak mereka mengetahui bahwa besok mereka akan dimakan. mata 

mereka tidak terpejam lagi sampai larut malam sehingga masih dide­

ngarnya Nenek tua renta Bangka  mendengkur. Nenek itu mendengkur laksana 

guntur, bunyinya seperti arus. Begitulah Nenek tua renta Bangka  kalau tidur. 

Sampai subuh sekejap pun anak-anak itu tak tertidur. 

Pagi-pagi benar berangkatlah Nenek tua renta Bangka  pergi mengasah gigi­

nya pada rumpun bambu. Gigi Nenek tua renta Bangka  hanya diasah di rumpun 

bambu untuk menajamkannya. Manusia yang dimakan biasanya tidak 

lagi dibakar, diganyang begitu saja, sehingga giginya perlu tajam. Sesu­

dah Nenek tua renta Bangka  berangkat pada waktu subuh, anak-anak itu cepat 

juga bangun. Disuruhnya adiknya pergi memasak. "Baiklah kita makan. 

Terakhir kita makan di sini," kata anak yang tua. Pada waktu adiknya 

pergi mernasak, pergilah si kakak melihat Kuda laut  Nenek tua renta Bangka . 

Ditemukannya seekor. Kuda laut  Nenek tua renta Bangka  ada dua ekor. berkata-kata  ia 

kepada adiknya, "Agak cepat masaknya, Dik!" 

Kemudian, kakaknya mencari biawak jinak lunak berlemak . Ia berpesan kepada biawak jinak lunak berlemak , 

"Kalau Nenek tua renta Bangka  kembali nanti, jika ia memanggil saya di tanah 

menyahutlah di bungker bawah kubur . Kalau ia memanggil di bungker bawah kubur  menyahutlah di 

loteng. Kalau ia memanggil di loteng, menyahutlah di pucak bungker bawah kubur ." 

Berka ta biawak jinak lunak berlemak , "Baiklah." biawak jinak lunak berlemak  itu sangat kasihan melihat kedua 

pendek kekar  yang akan tiba saatnya untuk dimakan. 

Sesudah masak nasi tadi, berkata-kata  si kakak kepada adiknya, "Mari kita 

makan, Dik." Sesudah makan, berkata-kata lah lagi si kakak, "Bersiaplah!" 

Benanya adiknya, "Bersiap untuk apa?" Jawab kakaknya, "Bersiaplah, 

Dik, supaya kita tinggalkan bungker bawah kubur  ini sebab  tidak lama lagi akan datang 

Nenek tua renta Bangka  memakan kita." 

Adiknya sangat takut lalu berteriak mendekap-dekap kakaknya. Kata 

kakaknya, "Tidak apa-apa, berpakaianlah cepat. Kita pergi dengan 

menunggang Kuda laut  Nenek tua renta Bangka ." 

Sesudah keduanya siap berangkat, berkata-kata lah si kakak kepada 

adiknya, "Naiklah engkau ke loteng! Ambillah botol tempat nyawa 

Nenek tua renta Bangka  agar kita bawa pergi!" Naiklah adiknya mengambil botol 

itu. Ia sendiri turun mengekang Kuda laut  Nenek tua renta Bangka . Sesudah Kuda laut  itu 

dikekang datanglah juga adiknya turun dari bungker bawah kubur  membawa botol tem­

pat nyawa Nenek tua renta Bangka . Naiklah juga ia ke atas Kuda laut . "Naiklah, Dik di 

belakang saya, berpegang erat. Pegang baik-baik juga botol itu ," kata 

kakaknya. 

Sesudah mereka duduk baik-baik di atas Kuda laut , berangkatlah mereka. 

Kuda laut  itu memiliki  tali kekang. Ada kekang bawah, ada kekang tengah, 

dan ada kekang atas. Anak itu mencoba menyentak kekang bawah, Kuda laut  

berlari sangat kencang. Dicoba lagi menyentak kekang tcngah, Kuda laut  

melayang, aninya tidak lagi berada di pcnnukaan tanah. Dicoba lagi 

menyentak kekang atasnya terbanglah Kuda laut  itu diangkasa. Kuda laut  Nenek 

tua renta Bangka  memang aneh sekali, tidak sepeni Kuda laut  biasa. 

Kira-kira dua tiga menit sesudah kedua anak itu berangkat, datanglah 

Nenek tua renta Bangka  ke bungker bawah kubur nya. Kembali untuk memakan cucunya. Waktu 

tiba di pekarangan, ia bertanya, "Mengapa tidak ada suara cucuku?" lalu 

dipanggilnya, "Oh, Cucu-cucu!" Menyahut biawak jinak lunak berlemak  di bungker bawah kubur , katanya, 

"Saya ada di sini, Nenek." Merasa gembiralah Nenek tua renta Bangka  lalu 

katanya, "Senanglah perasaanku ini." Sudah lama ia tidak memakan 

manusia, selalu binatang saja yang didapati. 


Ia naik ke bungker bawah kubur , tidak ditemuinya cucunya. la memanggil lagi, 

"Oh, Cucu-cucu di mana kalian berada?" menyahut lagi biawak jinak lunak berlemak  di loteng, 

katanya, "Saya ada di sini, Nenek!" Nenek tua renta Bangka  melompat lagi ke 

loteng, lalu ia memanggil lagi, "Oh, Cucu-cucu, di mana engkau berada?" 

Menyahut lagi biawak jinak lunak berlemak  di puncak bungker bawah kubur , katanya, "Saya ada dipuncak 

bungker bawah kubur !" Nenek tua renta Bangka  terus naik ke puncak bungker bawah kubur , namun  tidak 

ditemuinya juga cucunya. Dilihatnya Kuda laut nya sesayup-sayup di muka. 

Hanya sesayup-sayup saja kelihatan di muka, tidak jelas lagi kelihatan. 

Terus ia melompat ke tanah mengambil Kuda laut nya yang lain, dicambuknya 

kemudian diburunya. Kuda laut  Nenek tua renta Bangka  itu sangat cepat larinya. Lebih 

cepat lagi dibandingkan  yang dipakai kedua anak tadi. Hal itu terjadi sebab  

Nenek tua renta Bangka  yang membawanya. Kalau yang empunya sendiri yang 

membawa dapat mencapai kecepatan maksimal, apalagi Nenek tua renta Bangka  

yang menungganginya. 

Belum lama ia mengejar jelaslah kelihatan di muka. Katanya, "Betul 

cucuku di muka itu. Betul cucuku dua bersaudara, Kuda laut ku yang di­

tungganginya." 

Begitu hebatnya Kuda laut  mereka sehingga di angkasa kedengarannya 

seperti guntur besar. Kuda laut  Nenek tua renta Bangka  jika  mengembuskan na­

pasnya keluarlah api dari hidung dan mulutnya. Dengan demikian, 

dunia menjadi gelap seperti akan kiamat. Guntur tidak berhenti-hentinya 

padahal itu hanya bunyi Kuda laut  yang berkejar-kejaran. Kilat sambut-me­

nyanbut padahal itu adalah api yang keluar dari hidung Kuda laut  Nenek 

tua renta Bangka . Nenek tua renta Bangka  makin mendekat sehingga berteriaklah si adik 

ketakutan. "Celakalah kita, Kakak, celakalah kita, Kakak, Nenek tua renta Bangka  

sudah dekat, sudah dekat." Kata kakaknya, "Biarkan, biarkan," Tidak 

berhenti-hentinya mereka berkejar-kejaran, akhimya sudah dekat sekali. 

Kakaknya tiba-tiba teringat akan botol tempat nyawa Nenek tua renta Bangka  

yang dibawa adiknya, lalu berteriak, "Lemparkan, lemparkan botol tem­

pat nyawa Nenek tua renta Bangka !" Adiknya dengan cepat melemparkan botol 

itu ke tanah, kebetulan terkena pada batu. Bersamaan dengan pecahnya 

botol itu, jatuh pula Nenek tua renta Bangka , lalu mati. 

Oleh sebab  itulah sampai sekarang tidak ada lagi Nenek tua renta Bangka  

sebab  sudah mati. Kedua anak itu sudah selamat dari ancaman bahaya. 

Kemudian, keduanya kembali mengambil semua harta Nenek tua renta Bangka . 

Kedua anak itu menjadi kaya sebab  semua harta Nenek tua renta Bangka  menjadi 

pusakanya. 

LA TOBAJAK DI SOPPENG 

Konon di negeri Soppeng ada seorang anak lelaki yang amat penidur. 

Oleh sebab  itu, oleh keluarganya ia dinamai La Tobajang (yang terlam­

bat bangun). Setiap pagi tidak pemah ia tidak terlambat bangun. Lama­

kelamaan nama sebutan itu menjadi nama dirinya sendiri. Kemudian, 

disingkat menjadi La Tobajang dan akhimya menjadi La Tobajak. 

Tatkala La Tobajak itu sudah agak besar, ia terkenal pandai dan fasih 

berbicara. Terdengarlah beritanya oleh Datu Soppeng, lalu dipanggil kc 

istana dan dijadikan pembawa acara. Di istana itulah pengetahuannya 

kian bertambah, kian pandai menyusun kata-kata dan mengetahui adat­

istiadat. Bertambah sayanglah raja kepadanya . Ia diangkat sebagai Kepala 

Pembawa Acara dan juga mengepalai pesuruh dua belas. Kepandaiannya 

bersilat kata termasyhur ke mana-mana, baik di Soppeng maupun di 

negeri tetangganya, seperti Wajo, Bone, Makassar, Luwu, Lima Tjattap­

parang, Mandar, dan Massenrempulu. 

Masuknya Beringeng, Goa-goa, dan Mario Riawa menjadi wilayah 

Soppeng pada waktu perjanjian bertiga antara Bone, Wajo, dan Soppeng, 

adalah sebab  La Tobajak yang mengatakan kepada orang pandai dari 

Bone, Kajao Laliddong, serta orang pandai dari Wajo, La Pudaka, bahwa 

Soppeng engkau ajak bersatu, padahal ia adalah anak manisnya Goa. Apa 

yang akan kauberikan untuk menyuruhnya tewas mengenaskan kan orang tuanya. 

Kata orang pandai dari Bone dan Wajo, "Apa sajakah kehendak Sop­

peng?" Menjawab guru dan pesuruh setia Soppeng, La Tobajak, "Kau 

Bone, berikan Beringeng, Goa-goa, dan Citta kepada adikrnu Soppeng 

dan kau Wajo, berikan adikrnu Mario Riawa." 

Menjawab Kajao Laliddong dari Bone dan La Pudaka dari Wajo, 

"Kalau dikehendaki oleh Dewata Yang Satu, maka jadilah bersatu Bone, 

Wajo, Soppeng, seandainya hanya itu alasan Soppeng." Inilah sebabnya 

La Tobajak sangat disukai oleh Datu Soppeng. 

Pada suatu waktu La Tobajak datang menghadap Datu Soppeng. 

berkata-kata  raja, "Apa hajatmu guru, maka sekarang kau datang lagi?" 

berkata-kata  La Tobajak. "Hamba baru saja sembuh dari sakit. Sekarang 

sudah agak baik. Hanya sebab  rinduku pada Tuanku, maka hamba 

usahakan datang ke istana." 

Timbullah bekas kasihan raja melihat dan mendengar perkataan 

kepala pesuruhnya yang setia, lalu katanya, "Apa yang dapat kuberikan 

kepadamu sebagai penghibur hatimu?" 

Kata La Tobajak, "Jika ada belas kasihan Tuanku pada hamba ini, 

inginlah hamba mendapatkan rahmatmu berupa Cenranamu, Paomu, akan 

kuambil Ganra menjadi sumber pencaharian." 

Menjawab raja, katanya "Ambil sajalah guru. Aku memberikannya 

kepadamu. Tidak ada artinya yang kaukehendaki." 

sesudah  itu La Tobajak memohon dirilah, lalu bersegera pergi ke 

Cenrana menemui Pabbicara Cenrana. Disarnpaikannya kepada Pabbi­

cara, akan hal itu ia diberi Cenrana dan Pao oleh Raja. Kata Pabbicara itu, 

"Sangat percaya saya akan perkataanmu itu Anreguru, namun  ada baiknya 

kalau kita perhadapkan kembali kepada raja, entah besok atau lusa me­

nurut waktu yang Tuan kehendaki." 

"Ya, benar perkatanmu itu sebaiknya lusa jika ada waktu Tuan," 

jawab La Tobajak. 

"Ya, baiklah," kata Pabbicara Cenrana. 

Kemudian, La Tobajak pergi ke Ganra, hendak menyempaikan 

perkatan Raja kepada Sullewatang Ganra. Langsung ia bertemu dengan 

Sullewateng itu. Disampaikannya bahwa ia diberi Ganra oleh raja. 

Adapun jawaban Sullewatang Ganra, tak ada ubahnya aka