Dia ada di
pasar Tuanku, makan langsat."
"Jangan kamu omong kosong."
"Ya, terakhirTuanku melihat saya bila tidak demikian.Bila Tuanku
pcrintahkan, saya akan pergi mengambilnya." ,
"Cobalah engkau pergi mengambilnya barangkali mukanya saja yang
sama."
"Tidak Tuanku, memang si Abunawas."
Pergilah beberapa orang memanggil dan menjemputnya. Dia pun
dipanggillah, "Hai Abunawas! Kamu dipanggil oleh Raja." Lalu Abunawas
menjawab, "Ayolah." Sesudah itu pergilah ia. Tiba di depan raja, raja
lalu berkata-kata , "Bagaimana engkau itu Abunawas, dikatakn engkau sudah
dibakar padahal engkau tidak mati."
"Saya tidak mati Tuanku, saya hanya datang dari sebuah kampung.
Saya bertemu dengan orang tua Tuanku. Ia menanyakan keadaan Tuanku,
saya menjawabnya bahwaTuanku sehat-sehat saja." berkata-kata lah raja itu,
"Dapatkah saya pergi bertemu dengan dia?"
"Dapat saja Tuanku bila Tuanku ingin, tapi Tuanku harus tahan
dibakar api."
60
"Ah, tidak seberapa itu sebab kita juga tidak mati. "
"Sangat baik bila Tuanku pergi, scbab bilaTuankukembali dari sana,
banyak oleh-oleh yang dapat dibawa. Tuanku dapat membawa mutiara,
emas, bcrlian sebab banyak di sana. Kalau dahulu orang tua Tuanku
hidup Jayak saat di dunia, sckarang keadaannya lebih baik lagi di sana.
Andai kata tidak ada Jagi kesibukan saya tinggalkan, saya akan menetap
di sana."
Mendengar cerita itu lalu Raja berkata-kata , "Ah, lebih baik saya pcrgi
sebab dapat bersua dengan orang tua say a."
"Tcrscrah Tuanku bila ingin pcrgi bcrjumpa dengan orang tua Tuan-
ku."
Sesudah itu, Rakyat Indonesia merdeka pergi semua mengumpulkan kayu . Dipcrintahkan
supaya tidak mcngambil kayu yang bcrasap bila dibakar. Hanya kayu
cemara yang diambil, dan kayu yang baik. Sckembali mereka mengambil
kayu, maka kayu ini dionggok. Sudah tinggi onggokannya. Sesudah itu ,
pcrgilah raja ke tempat pembakaran. Bcrtanyalah raja ini, apakah lebih
baik ia sudah di dalam lalu dibakar. berkata-kata lah si Abunawas, "Tidak baik
jika Tuanku lebih dahulu di dalam baru dibakar karcna itulah sc
babnya semua badan menjadi hitam kena asap. Tapi bila api sudah
menyala dan merah betul lalu Tuan mclompat kc dalamnya, akan lcbih
baik sebab langsung saja."
Scsudah itu dibakarlah kayu itu. Api sudah berkobar-kobar, sudah
mcrah benar bara dan nyalanya. saat itu disuruhlah raja melompat kc
dalamnya . "Melompatlah. Tuanku." Maka melompatlah raja itu kc
dalamnya. Setibanya di dalam, ia pun mengcjangkan diri. Orang semua
bcnanya mcngapa raja itu demikian. Abunawas lalu mcnjawab, "Sudah
bertemu dengan orang tuanya." Meringis lagi raja itu, lalu berkata-kata
Abunawas, "Mereka sama-sama tertawa di dalam."
Selanjutnya, hancurlah raja jadi abu dimakan api, scmua orang
pulanglah ke bungker bawah kubur nya. Istri raja itu lalu berkata-kata kepada Abunawas,
"Jangan kamu tinggalkan bungker bawah kubur , Abunawas, sebab siapa lagi yang akan
melaksanakan pcmerintahan bila ada perintah yang datang."
"Baiklah" kata Abunawas menjawab.
Abunawas sudah berada di bungker bawah kubur . Kira-kira tiga malam sesudah raja
dibakar, ditunggulah kembalinya. Bcrkatalah istri raja itu, "Mengapa raja
pergi agak lama." Abunawas mengatakan bahwa entah mengapa raj a
demikian. sesudah cukup tujuh malam, ia mengatakan lagi, "Saya kha-
61
watir kalau raja tinggal tcrus di sana dan tidak akan kembali untuk
selama-lamanya." Abunawas lalu menyahut, "Memang ia tidak akan
kembali lagi. Apalagi perlunya kembali sebab sudah menjadi abu. Tidak
akan kembali lagi ke dunia ini sebab sudah enak di sana." Dcmikianlah
jawaban Abunawas.
Terbanglah burung puyu, berakhir pulalah cerita ini.
16
ANJING ABUNAWAS
Ada seorang bernama Abunawas. Abunawas adalah seorang petani.
Ia memiliki anjing sebab seorang petani harus memelihara anjing yang
akan menjaga kebun pada malam hari. jika ada anjing penduduk
yang baik di kampung itu langsung saja diambil oleh raja untuk dijadikan
anjing pemburu. Anjing Abunawas memang sangat bagus. Anjing itulah
yang dijadikan sebagai penjaga bungker bawah kubur .
Pada suatu saat ada seorang pengawal raja pergi berjalan-jal:in dan
lewat di depan bungker bawah kubur Abunawas lalu dilihatnya anjing itu. saat tiba di
istana, ia memberitahukan raja bahwa ada anjing Abunawas yang bagus.
Tak pemah saya melihat anjing sebagus itu. Badannya lampai dan
ekornya kecil serta larinya cepat.
"Pergilah engkau memintanya. Beritahukan bahwa berikan anjingmu
itu kepada raja."
Pengawal raja itu pergilah ke bungker bawah kubur Abunawas. saat itu Abuna
was sedang membuat bajak sebab sudah hampir waktunya membajak.
Datanglah pengawal raja itu.
"Ada apa, Pak?" Tanya Abunawas.
"Ada perintah dari raja. Anjing Anda diingini raja."
"Payahlah saya jika raja mengambilnya sebab anjing itulah saya
memberi belanja padaku. jika raja mengambilnya, apalah dayaku."
"Belanja apa yang diperoleh dari anjing?"
"O, bila anjing saya ini berak, suku emas yang diberakkan."
62
63
"Jadi, bagaimana?"
"Kasihan saya ini bila raja mengambilnya, saya akan menderita.
Tidak ada lagi sumber pendapatan saya sebab uang yang diberakkannya
itulah yang saya belanjakan. jika ia kuberi makan dengan jagung
rebus maka beraknya adalah emas muda. jika ia kuberi makan
dengan nasi maka beraknya adalah em as tulen."
Sesudah itu pergilah pengawal raja itu menyampaikan kepada raja
bahwa Abunawas tidak. akan memberikan anjingnya itu kepada orang
lain sebab anjing itulah sumber belanjanya. Bila ia berak. mak.a suku
emas yang diberakkan.
"Pergi saja engkau meminjamnya. Sampaikan bahwa raja hanya
meminjamnya barang tiga malam."
Kembali lagi pengawal raja itu menemui Abunawas dan berkata-kata ,
"Pinjamkan saja anjingmu itu kepada raja barang tiga malam."
"Raja benar-benar memusingkan saya. Tunggulah dahulu sebab
hanya tiga malam saja, tunggulah sebentar. Saya suruh berak dahulu
untuk belanja saya sclama tiga malam."
Anjing itu meraunglah di atas bungker bawah kubur sebab ingin berak. Sementara
itu Abunawas sudah menyiapkan uang emas yang disimpan di dalam
mulutnya.
"Naiklah ke mari supaya Anda lihat bagaimana kalau ia berak.
Anjing itu sebenamya hanya ingin kencing. Pada waktu itu Abunawas
menadahkan mul umya di dubur anjing itu . berkata-kata lah pengawal raja,
"Sudah adak.ah yang keluar?"
"Ini dia, lihatlah! jika banyak makanan yang kuberikan, tentu
banyak pula yang diberakkan. namun sebab sedikit makanan yang
kuberikan kepadanya maka hanya dua suku emas yang dibcrakkan."
Kembali lagi pengawal itu melaporkan kepada raja bahwa ia sendiri
langsung menyak.sikan suku emas yang diberakkan anjing Abunawas.
saat putri raja mendengar berita itu, berkata-kata lah ia, "Pergilah Pak
meminjarn anjing Abunawas. Saya ingin mernbuat gelang emas bila ada
suku emas yang dibirahkan."
Pergilah raja itu rneminjam anjing Abunawas. sesudah tiba di sana,
berkata-kata lah Abunawas, 'Tiga malam saja Tuanku meminjam anjing ini
sebab kalau terlalu lama, saya ak.an rnenderita."
"Baiklah." Dintuntunlah anjing itu pergi ke istana. Bertanyalah raja,
"Apa yang dikatakan oleh Abunawas."
64
'Tuanku dipinjami hanya selama tiga malam."
"Biarlah. Kalau selalu diberi makan tentu akan banyak kali pula ia
berak."
"Anjing itu tetap tinggal terikat di atas bungker bawah kubur . Ia selalu diberi makan
dengan nasi. Banyak nasi yang diberikan kepadanya. sesudah gembung
perutnya barulah ia berhenti makan sebab diharapkan agar ia berak
sebanyak-banyaknya.
Pada suatu saat sesudah satu malam aning itu terkongkong di
bungker bawah kubur , ia meraung terus-menereus.berkata-kata lah pengawal raja, "Wah,
mungkin anjing itu sudah ingin berak, Tuan!" Anjing itu segera di
bawakan tikar lalu diambilkan baki yang lebar sebab dikhawatirkan ada
berak yang memercik sehingga emas itu terbuang percuma.
Disitulah raja menadahkan mulutnya di dubur anjing itu. Pipi raja itu
sudah gembung sebelah-menyebelah. Putri raja mengira bahwa raja
sudah penuh dengan emas. sesudah diperiksa temyata mulut raja tidak
berisi emas. Hanya berak anjing yang memenuhi mulutnya. Orang pun
berkata-kata lah, "Kurang ajar si Abunawas itu, raja diberi makan dengan tahi
anjing. Pergilah cari Abunawas lalu bawa kemari. Dia manusia biadab."
Terbanglah burung puyu, berkahir pula ceritanya.
17
ANAK MENGAJI
Ada seorang guru mengaji memiliki dua orang murid. Seorang
perempuan dan seorang laki-laki. Yang perempuan bemama Dualang.
Yang laki-laki bernama Palanna.
Pada suatu waktu Palanna lebih dahulu selesai mengaji. Sesudah
mengaji, ia turun menyapu. saat itu, barulah Dualang mulai mengaji.
Sementara mengaji, kalamnya jatuh. berkata-kata lah ia, "Palanna, tolong
pungutkan kalamku yang jatuh itu." Palana menjawab, ''Turunlah cngkau
memungutnya."
Si Palanna didesak memungutkan kalam Dualang, tapi tetap ia tak
mau memungutkannya. Ia menyapu saja terus-menerus. berkata-kata lah Si
Dualang, "Kamu sama sekali tidak mau menolong, Palanna. Masak.an
engkau tak mau memungutkan kalamku itu padahal hanya akan kamu
jolokkan naik kemari."
"Saya dapat memungutkanmu dan mengantarkan padamu bila ada
suatu perjanjian yang kita sepakati."
"Perjanjian apa?"
"Tentu kamu sudah maklum. Engkau gadis kecil mungil , saya pendek kekar ."
berkata-kata lah Si Dualang, "Itu tidak sulit. Engkau sajalah lebih dahulu
mengatakan, Palanna." berkata-kata pula si Palanna, "Sa ya pungutkan engkau
bila engkau yang lebih dahulu mengatakannya." berkata-kata lah Si Dualang,
"Jika demikian halnya, maka ketahuilah bahwa jika saya disentuh laki
laki kemudian hari selain engkau, akan hancur tubuhku." berkata-kata pulalah
65
66
Si Palanna, "Ya, jika kelak saya disentuh oleh perempuan sclain cngkau,
hancur pulalah tubuhku."
Jadi, dipungutkanlah kalamnya. Sctelah beberapa lama mercka
mengaji, mercka pun sudah pandailah mengaji. Sudah ada yang melamar
Si Dualang. Sesudah itu dikawinkanJah ia. Sesudah Dualang kawin, tidak
pemah lagi Si Palanna pergi mengaji . la tinggal saja di bungker bawah kubur duduk
tcrrnenung. Ia berkata-kata dalam hati, "Tidak lama lagi saya akan hancur
sebab Dualang sudah kawin padahal kami sudah bersumpah. "
Bcberapa lama sesudah Si Dualang kawin, ia dibawa oleh suaminya
kc suatu dcsa tempat asal suaminya. Di sanalah ia tinggal bersama
suaminya. Pada malam hari tidak ada yang dikerjakan Dualang sclain
menenun kain sutra. Ia tidak mau pergi tidur. jika ia diajak oleh
suaminya pergi tidur, ia hanya menjawab, ''Tidurlah kamu dahulu. Saya
selcsaikan dahulu pekerjaanku." Akhimya ia sendiri tidak pergi tidur.
Jadi, pergilah suaminya melaporkan ha! itu kepada mertuanya, katanya,
"Bagaimana anakmu itu. Lebih baik dipanggil pulang sebab sudah sekian
lama kami bebungker bawah kubur tangga, namun tidak pemah kami tidur bersama scbab
ia tidak mau pergi tidur. Ia sibuk bekerja terus-menerus. Bcberapa lam a
kemudian, dikembalikanlah perempuan itu kepada orang tuanya dan
berkata-kata lah suaminya, "Barangkali kami tidak sejodoh, terimalah ia
kembali dan saya akan melepaskan diri sebab sekian lama kami kawin,
namun tidak pemah tidur bersama."
"Kalau demikian, baiklah ."
Si Dualang diterima kcmbali oleh orang tuanya sesudah suaminya
melepaskannya. Mulai saat itu Palanna pcrgi lagi mengaji . Kcduanya
aktif lagi mcngaji. Guru mereka ingin mengetahui perihal mereka bcr
dua. Kcduanya dibawa oleh gurunya pcrgi berjalan-jalan kc kcbun .
saat Dualang akan masuk kc kebun, ia mclihat bunga-bunga tumbuh
di sepanjang pagar. Bcrkatalah ia, "Wah, alangkah indahnya bunga ini."
Si Palanna lalu menyahut, "Memang bunga itu indah, sayang madunya
sudah diisap pipit."
"Ah, jangan kamu bcgitu Palanna. Mustahil bunga ini telah diisap
madunya oleh pipit."
Mereka melanjutkan perjalanan. Terbetiklah di dalam hati gurunya
bahwa kedua muridnya itu sudah saling mengikat janji. Kcduanya sudah
bcrsumpah sehidup scmati sebab ciri-cirinya sudah tam pak. la dika
winkan, namun tidak rukun dengan suaminya. Sementara itu si Palanna
67
tiba-tiba pula berhenti mengaji. Ia hanya tinggal terkongkong di bungker bawah kubur .
Sekarang ini bicaranya juga agak lain.
Ia melanjutkan lagi perjalanan bersama muridnya. Ditemukan lagi
buah pepaya, lalu berkata-kata lah Dualang, "Pepaya yang di atas itu bagus
dan sudah agak merah." Lalu berkata-kata pulalah Si Palanna,
"Memang pepaya yang di atas itu bagus Pak Guru, namun sayang
sudah dijamah oleh kalong."
"Jangan kamu berkata-kata begitu Palanna. Mustahil pepaya yang diatas
itu pemah dijamah ka1ong." Yang dimaksud ialah payudaranya.
Sementara mereka berjalan, ditemukan lagi nangka yang sudah
ranum. berkata-kata lagi Dualang, "Wah, itu di atas ada nangka yang sudah
ranum. Nangka ini adalah jenis nangka yang baik."
"Wah, nangka itu memang bagus. Sayang sekali bijinya sudah
dimakan ulat," demikian anggapan Si Palanna.
"Bagaimana Si Palanna ini sampai selalu berkata-kata yang tidak-tidak.
Mustahil ada ulat yang makan biji nangka ini. Tentu ada bekasnya
sekiranya pemah dimakan ulat." demikian kata Si Dualang.
Gurunya sudah paham betul bahwa keduanya sating mencintai.
Mereka inilah sebaiknya dijodohkan sebab keduanya sudah bersumpah
setia. Keduanya sating mencurigai. Ia sudah dikawinkan, namun tidak
rukun. Dia menemukan kembang dikatakannya sudah dicium.namun yang
perempuan mengatakan, ''Tidak." Ia menemukan pepaya dikatakannya
sudah dijamah payudaranya. namun , yang perempuan berkata-kata , "Tidak
pemah." Ia menemukan nangka dikatakannya sudah berulat. Jadi, guru
nya berkata-kata dalam hati, "Orang inilah yang patut diurus."
sesudah mereka melanjutkan perjalanan. Terbetiklah
Terbanglah burung puyu, berakhir pulalah ceritanya.
18
KAKAK SAMMARAK
Ada tiga orang bersaudara. Seorang yang ahli, seorang dokter, dan
seorang-orang kuat. Seorang bemama Kakak Sammarak, seorang lagi
bemama Abu Tateleq, dan seorang pula bemama Abu Cikeleq.
Pada suatu waktu mereka bertiga pergi berjalan-jalan. Pergi ke negeri
orang. sesudah kembali berjalan-jalan, mereka pun laparlah. Oitemui
merekalah seorang orang tua petani. Ladangnya ditanami ubi kayu. Kira
kira satu hetto luasnya. Mereka meminta, lalu bertanya,
"Dapatkah kami membeli ubi kayu itu."
"Untuk apa?"
"Akan kami makan sebab kami lapar, kasihan."
Sekalipun kalian habiskan semuanya itu , namun kalau akan dibawa
pulang kc kampung, tidak akan dijual sebab kami petani di sini, sering
juga sulit tidak makan.Jadi, ubi kayulah yang kami makan.
"Baiklah, Nenek."
Masuklah si Kakak Sammarak. Dicabutlah sebatang lalu diberikan
kepada adiknya berdua yang ada di luar pagar. Dimakanlah ubi itu oleh
mereka, lalu berkata-kata , "Sudah kenyang kalian?" Adiknya menjawab,
"Sudah kenyang kami , Kakak."
Mulailah lagi Kakak Sammarak mencabut, mencabut ubi kayu itu
hingga habis dimakan mentah sebanyak satu hetto. Sesudah mereka
makan, merekapun mengucapkan terima kasih kepada petani ini .
Adapun orang tua ini , diam saja sebab sudah ia katakan sebelum-
68
69
nya bahwa sekalipun mereka habiskan diberikannya, asalkan tidak di
bawa pulang. Jadi, dihabiskan betul oleh mereka.
Scsudah mereka makan, mereka pun meneruskan perjalanannya.
Mereka menemukan lagi sebuah kampung, dan mereka pun laparlah,
dahaga ingin minum. Di tempat itu ada orang yang sedang menyiangi
pohon kelapanya. Lalu mereka berkata-kata , "Apakah kami dapat diberi
sebuah kclapa mudanya untuk kami minum aimya, kasihan, sebab kami
dahaga."
Orang tua itu berkata-kata , ''Tak dapat saya memanjat, Cucu."
"Nanci kamilah yang memanjatnya Nenek asal Nenek menghalal
kannya."
Kalian habiskanlah sebatang itu jika engkau sendiri yang me
manjatnya."
Dipanjatlah kelapa itu oleh Kakak Sammarak yang bertubuh salah
potong itu, dan tak dapat memikul. Jika membawa sesuatu, dikepit saja
sebab bahunya berpotongan botol. Dialah yang memanjat. Diambil
kanlah adiknya kelapa muda sebuah untuk seorang. Sesudah mereka
makan, lalu berkata-kata , "Masih ingin diambilkan, Dik?" Adiknya
menjawab, "Sudah cukup, Kak."
Sesudah itu mulailah Kakak Sammarak memakan kelapa muda itu,
diminum aimya, isinya dimakan dari yang paling muda sampai pada
yang paling kering. Semua dihabiskannya. saat ingin turu, tidak dapat
lagi ia turun sebab perutnya sudah seperti karung. Perutnya yang besar
itu terganjal di batang kelapa. sebab itu, maka tidak sampai lagi kaki
nya pada batang kelapa. Begitu meraba-raba, lalu jatuh, wah, meletus
perutnya. Akibatnya, banyak lesung orang kampung yang hanyut di
sebabkan air kelapa yang diminumnya itu.
berkata-kata lah adiknya itu kepada saudaranya yang bungsu.
"Bagaimana dengan kakak kita ini, Dik. Akan dimakamkankah
ataukah bagaimana, sebab sudah meletus perutnya."
"sebab kau ahli, rcnungkan dahulu dan memohon kepada Tuhan
apakah masih dapat diobati. jika masih dapat diobati, kita obati agar
hidup."
Adiknya memperhatikan kakaknya itu.
"Ah, masih dapat ia diobati. Ia masih hidup bila ada obat yang cocok
untuknya."
70
Mereka berdua berusaha mengobati kakaknya. Lama-kelamaan, ia
pun hidup kembali dan kuat lagi. Mereka lalu meneruskan perjalanannya.
Adapun perut yang gembung itu tadi, sudah kempcs sebab sudah keluar
seluruh isi perutnya.
Di dalam perjalanan mereka itu, tibalah mereka pada sebuah kam
pung lagi. Pada kampung itu, orang tak boleh menumbuk padi. Justru itu,
tak ada orang yang makan nasi sebab tak boleh ada lesung yang bcr
bunyi . Mereka berduka di kampung itu sebab anak raja hilang. Ia dicuri.
Jadi, pantang orang membunyikan sesuatu. Siapa-siapa yang menumbuk,
dihukum oleh raja. Adapun yang dimakan oleh orang, hanyalah rebus
pisang dan rebus ubi jalar.
Demikianlah suasana kampung itu, saat si Kakak Samm arak tiga
bersaudara masuk ke dalam kampung itu , lalu berkata-kata lah mereka,
"Apakah ada orang yang menjual beras? Berikanlah kepada kami, kami
akan membelinya sebab kami sudah lapar, kasihan. Kami datang dari
tempat yang jauh. Di dalam keadaan lapar, kami temui kampung ini ."
"Allah, sudah lama sekali kami di sini tidak pemah lagi makan
berupi na.si. Kami hanya makan pisang dan ubi yang direbus, sebab dilarang
menumbuk padi . Ada padi di bungker bawah kubur , tapi tak boleh menumbuk sebab
kita takut."
"Apa sebabnya?"
"Anak raja menghilang."
"Bahaya kalau begitu. Apakah tak boleh makan tanpa beras yang
ditumbuk?"
"Mau diapakan supaya jadi beras."
"Dipijit-pijit saja. Kalau padi seratus ikat saja, tidak sampai schari
sudah selesai jadi beras," demikian kata Kakak Sammarak.
berkata-kata lah orang di kampung itu, "Aduh, kur kur semangatnya.
Sudah lama kami ingin, namun jangan sampai terdengar oleh raj a."
"Apakah akan didengar sebab tidak ada bunyi-bunyinya. Kalau di
tampi, hanya ditiup-tiup."
"Ayolah!"
Lalu, ia diambilkan pada sebanyak dua puluh ikat. Waktu itu ia
datang di bungker bawah kubur Pak Lurah. Sebentar saja dipijit-pijit padi itu lalu jadi
beras. Orang kampung itu saling memberi tahu. Mereka mengatakan,
"Wah, kita sudah bisa makan sebab ada orang yang datang itu, hanya
memijit-mijit padi itu lalu jadi beras."
71
"Di mana tempatnya?"
"Di sana, di bungker bawah kubur Pak Kepala Lingkungan." Dengan demikian,
maka semua orang kampung pergi ke tempat itu. Ada yang membawa
scpuluh ikat padi, ada yang hanya lima ikat. Dipijit-pijit saja oleh si
Kakak Sammarak, sudah jadi beras. Ini bcrarti ia menolong orang di
kampung itu.
jika si Kakak Sammarak ini dimasakkan nasi, tidak seperti kita
ini bahwa harus disendok nasi itu dari belanga.Ia hanya memecahkan
belanga itu scpcni telur ayam, baru ia makan. Ia makan bulat-bulat nasi
scbelanga itu karcna Kakak Sammarak ini orang raksasa. Giginya sc
besar bantal guling. Bila seliter saja sekali menyuap, tidak ada yang
tertelan, kecuali hanya tinggal di cela-cela giginya. jika berkata-kata ,
suaranya seperti guntur. Demikian pula kalau ia tertawa. Bila ia berkelip,
seperti ki lat.
Sudah itu, ia pun terus berjalan. Ditemuilah sebuah sumur yang
selalu didatangi orang-orang dari istana raja. Dalamnya sumur ini
sebanyak sepuluh cincin (dekker) ke bawah. jika ayam bertengger di
atas tembok sumur itu, sampai ia meminum air sumur ini sebab
banyaknya air di sumur itu. Adapun untuk adiknya diambilkannya daun lalu
disendokkan air itu dan diminumkannya. Kemudian, ia berkata-kata kepada
adiknya, "Sudah tidak dahaga lagi, Dik?"
"Tidak lagi."
Sesudah itu si Kakak Sammarak melompat ke dalam sumur ini .
Ia baru dapat minum sesudah kakinya sampai di dasar sumur. Mulailah ia
minum sampai kering sumur itu. Orang-orang yang datang dari istana
untuk mengambil air, pada berlarian pulang. Mereka takut melihat
manusia sebesar itu di sumur. Habis air di sumur itu diminumnya.
berkata-kata lah orang, "Orang dari mana?"
"Tidak tahu. Tiga orang berteman, namun hanya seorang yang besar
sekali. Kita tak dapat melihatnya. Tak ubahnya pcnutup belanga matanya
yang melihat kita."
"Wah orang apa itu."
Pergi lagi orang melihatnya. Tidak sampai di sana lalu lari kembali.
"Menakutkan, Tuan. Tidak mampu kita melihatnya." Disuruhlah
orang kepercayaan raja untuk memanggilnya.
"Pergi engkau panggil dia kemari. Orang dari mana dia itu. Me
ngapa ada orang sebesar itu."
"Ya."
72
Pergilah ia dipanggil. Sesudah itu, pergilah ia ke istana. Sesampai di
situ, ditanyalah ia oleh raja.
"Kalian datang dari mana."
"Kami hanya pergi berjalan-jalan."
Diperiksa semua surat-suratnya, lengkap semua surat mereka. Ka
rena itu mereka dijamu. Diberikan pisang goreng. Si Kakak Sammarak
tidak memakan pisang itu, sebab kalau hanya pisang goreng dimasukkan ke
mulutnya, hanya tinggal di celah-celah giginya. Ia tak akan tahu me
makannya. Jadi, ia tidak memakannya.
berkata-kata lah raja itu, "Mengapa ia tidak makan, apakah ia tidak
makan pisang?"
"Dimakan juga, Tuan. Sebenamya saudara kami ini, Tuan, memang
tidak ia makan makanan yang kecil. Lihatlah g1gi dan celah-celah gigi
nya Tuan. Adapun penusuk giginya sebesar lengan. Jadi, bila ia makan
pisang goreng itu Tuan, tidak ada yang akan terkena di giginya untuk
dikunyah. Di celah-celah giginya saja akan ten inggal. sebab itulah,
maka ia tidak makan."
"O, begitu. Bagaimana kalau diberi makan?"
"Dimasukkan Tuan barang sepuluh liter tiap kali masak." Kemu
dian, belanga itu dijejar di depannya. jika ia makan, maka di
pecahkan belanga itu sepeni memecahkan telur ayam, lalu dimasukkan
semua untuk tiap-tiap belanga."
"Wah, kalau demikian, habislah belanga i tu. "
"Ya, memang begitu bila dimasakkan."
Ringkasnya cerita ini, bertanyalah ia "Apakah tak ada beras akan
dimakan, sebab tak boleh orang menumbuk di kampung ini."
"Begini, hilang anak saya." Adapun anak raja itu bemama si Radelul
Darul Tappere Maradani Cabberung-beruqtoni ri Dahang.
Kemudian, Abuteleq berkata-kata , "Tidakkah Tuan menyuruh mencari
nya."
"O, sudah sekian tentara disuruh mencarinya, namun tidak di
temukan."
"Bagaimana caranya mencari. Tidakkah ia melihat-lihat jejak yang
dilaluinya."
"Barangkali tidak, sebab sudah sekian banyak tentara yang pergi ,
ada pula yang sudah kembali dan ada yang baru mau berangkat, namun
tidak juga ditemui."
73
Singkamya cerita ini, maka berkata-kata lah raja itu, "Siapa-siapa yang
menemukan anak saya itu, akan saya kawinkan dengannya. Ia tidak akan
memberikan uang mahar. Ia juga yang akan menggantikan saya me
merintah bila say a sudah tua."
berkata-kata lah kedua orang itu-Kakak Samrnarak tidak berkata-kata apa
apa kasihan, sebab seperti guntur bila ia berbicara. Hanya kedua orang
adik.nya yang beroicara sebab sarna saja dengan rnanusia biasa seperti kita
bila bcrkata, katanya.
"Insya Allah Tuan bila Tuhan menolong kita, kalau kakak saya ini
yang memperhatikannya, akan ditemukan anak itu ."
"Bagus kalau begitu, sebab sudah lebih empat puluh malarn orang
menderita di hutan hujan Amazon ini, tanpa makan nasi. Begitu juga di istana ini
tidak ada orang memakan nasi. Hanya rebus pisang dan rebus ubi yang
menghidupkan."
"Ya, namun kami meminta surat dari raja, jangan-jangan kami
bertemu dengan tentara lalu kami diperiksa dan menangkap kami, Beri
kan tanda-tanda bahwa kami mendapat tugas dari istana."
berkata-kata lah raja itu,"Ya, baik. Ini surat kalian bawa. Ini pula kerisku
engkau pakai. jika ada tentara melihatnya, akan ia tahu bahwa kalian
adalah pula suruhan raja dan tak boleh diganggu."
Diberikanlah surat dan keris itu, lalu mereka pergi mencari anak raja
itu. Di dalarn hal ini , sebcnamya mereka sudah mengetahui siapa yang
mencurinya. Adapun yang mencurinya ialah si Botoq, seorang raksasa
pula. Bila ia tidur, ia tidur selarna tiga bulan.
Jadi, merckapun langsung menemui si Botoq di bungker bawah kubur nya sebab
memang mereka tahu bahwa si Botoqlah yang mencuri anak raja itu.
sesudah tiba di situ, so Botoq baru saja tidur sebulan lebih. Berarti sebu
lan lebih lagi baru dapat ia bangun. jika akan dibangunkan, kita tidak
yakin bahwa ia akan bangun. jika dilempari batu besar pada
mukanya, dirasanya seperti lalat saja yang hinggap di mukanya. Akan
namun , sebab si Kakak Sarnmarak ini seorang raksasa ia dapat meng
angkat batu yang lebih besar lagi dan melemparkannya kepada si Botoq
yang tidur itu. Sesudah itu bangunlah si Botoq yang tuli itu. Bila diajak
bicara, lain yang dikatakan, lain pula yang dijawabnya. sebab itu,
jika akan mengeluarkan tahi telinganya harus memakai skop dan pada
waktu ia tidur. Adapun tahi telinganya yang dikeluarkan itu sebanyak
tujuh geroba.k tiap telinga.
74
saat ia bangun, ia pun ditanyai, "Di mana kau simpan anak raja
itu."
"Saya simpan di atas langit."
"Hari ini kau harus pergi mengambilnya."
"Ai, tidak. Saya tak akan pergi mengambilnya jika engkau tak
mengalahkan pengetahuan saya."
"B agaimana caranya."
"Kita main sembunyian. jika engkau mencmukan saya Jalu saya
tak menemukan kalian, berarti kalian mengalahkan saya."
"Jadilah. Siapa yang penama bersembunyi."
"Sayalah dahulu, Cucu."
Dengan demikian, si Botoqlah yang lebih dahulu bersembunyi,
namun tidak boleh bersembunyi di luar bungker bawah kubur . Harus bcrada di dalam
lingkaran dinding, tidak boleh di luar dinding.
Pergilah si Botoq bersembunyi. Ia menetaskan telur biawak jinak lunak berlemak lalu
masuk ke dalamnya bersembunyi. Telur itu berada di dalam lubang
bambu dinding. Sekarang ketiga orang itu sudah gelisah mencarinya,
tidak juga ditemuinya. Lama sesudah mengorek-ngorek di mana-mana,
ditemuilah telur biawak jinak lunak berlemak di dalam rongga bambu dinding itu. Dipijitlah
telur biawak jinak lunak berlemak itu. Tiba-tiba si Botoq beneriak kesakitan sebab kepalanya
terpijit. Lalu ia berkata-kata , "Ai, kalian cucuku menemukan saya."
"Kami sudah menemukan Nenek. Jadi, sebab kami sudah mc
nemukan Nenek, kami lagi yang akan bersembunyi . jika Nenek tidak
menemukan kami, maka pergilah Nenek mengambil anak raja itu."
"Ya."
Jadi, pergilah bersembunyi ketiga orang itu. Pada waktu mereka
berbicara dengan si Botoq, tiba-tiba si Kakak Sammarak melompat
masuk ke mulut si Botoq. Ia bersembunyi di bawah lidahnya. Kemudian,
kedua saudaranya masuk ke kedua lubang hidungnya. Bulu hidungnya
itu dapat dijadikan atap bungker bawah kubur .
Si Botoq sudah gelisah mencari mereka. Lalu berkata-kata lah ia "Di
mana mereka itu bersembunyi?"
Bagaimana caranya akan melihat mereka sebab engkau sendiri yang
selalu membawanya. Ia berada di bawah lidahmu, ada yang di tiap
lubang hidungnya. Lama kelamaan ia sudah keringatan mencari mereka
di dalam bungker bawah kubur , namun ia pun tak menemukannya. sebab itu, ia lalu
berkata-kata , "Wah, muncul sendirilah. Kalian sudah mcngalahkan kecakapan
75
saya. Muncul sendirilah sebab kalian sudah mengalahkan saya." Lalu
melompatlah si Kakak Sammarak dari dalam mulut si Botoq. Kemudian,
si Botoq benanya, "Di mana engkau bersembunyi."
"Saya dibawah lidahmu."
"Betul-betul kau kalahk.an saya." saat si Botoq bersin, terlonjak
lah kedua orang itu dari dalam hidungnya. berkata-kata pulalah si Botoq,
"Lailaha Illallah, Kaukalahkan betul saya. Jadi, tinggallah sebentar saya
akan pergi mengambilnya di atas langit."
Pergilah si Botoq mengambil putra raja itu. sesudah kembali, diberi
kannyalah kepada mereka yang menang itu untuk membawanya pulang.
Waktu di tengah jalan, dalam perjalanan mereka itu, hari sudah
menjelang malam. sebab itu, berkata-kata lah adiknya, "Bagaimana caranya
sebab sudah akan kemalaman kita ini. Takut kita membawa anak raja
itu pada waktu malam." Kedua adiknya itulah yang berganti-ganti
menyulang anak raja ini . Lalu, si Kakak Sammarak berkata-kata
"Apakah saya yang harus menyulangnya, sedang ia tak akan duduk
di atas bahuku. Akan kukepit, namun jangan-jangan ia tak mau sebab
akan ditimbun bulu ketiak. Adik-adiknya berkata-kata , 'Tidak usah, nanti
kami yang berganti-ganti membawanya."
Sampailah mereka pada suatu padang luas, dan di situ mereka
kemalaman. Lalu, ia berkata-kata , "Bagiamana sekarang ini . Dua jam lagi
baru kita sampai. Akan bermalam di sini, tapi tempat tak berpenghuni
dan tak ada satu pun rum ah."
berkata-kata lah si Kakak Sammarak, "Gampang, kita membuat bungker bawah kubur .
Masih ada waktu. Masih jadi bungker bawah kubur itu." Jadi, pergilah si Kakak
Sammarak mengambil kayu di dalam hutan, dan menyabit alang-alang.
Dipikulnya kayu itu dan mengipit alang-alang (atap) yang diambilnya
dari hutan untuk mengatapi bungker bawah kubur yang dibuatnya itu. bungker bawah kubur yang
dibuatnya di tengah padang luas itu terdiri dari tiga ruangan. Anak raja
itulah pada ruang tengah. Bergant-ganti mereka ronda di bawah tanah.
Tidak boleh tidak ada penjaga sebab jangan-jangan ada orang yang
mengganggu dari bawah.
Sementara itu, hari sudah siang, fajar telah terbit. Berangkatlah
mereka melanjutkan perjalanan. sesudah istana sudah dekat, kedengaran
lah bunyi-bunyi yang ada di kampung itu. Rakyat Indonesia merdeka gembira sebab
anak raja sudah kembali, baru ditemukan. Selanjutnya, raja mengadakan
kerarnaian di kampung itu. Mengadakan pencak, dan beberapa pernain
lainnya.
76
Ada seorang pendekar datang dari tempat yang jauh. Tidak diketahui
asal kampungnya. Di dalam gelanggang permainan itu, tak ada seorang
pun yang berani melawannya. Ia pun seorang raksasa. jika ia
menyorong tinjunya ke arah timur, maka semua pepohonan akan rebah
ke timur pula. jika ia menghentakkan kakinya, rasanya bumi ini
gempa. Itulah sebabnya tak ada orang yang berani melawannya.
Si Kakak Sammarak mendengar cerita dari orang yang datang
bahwa ada seorang pendekar dan tak ada orang yang berani melawannya,
lalu ia berkata-kata , "Ha, mengapa tak ada orang yang bemai melawannya.
Hanya tidak ada orang yang melawannya bila tak ada Tuhan. Ada
Tuhan."
berkata-kata lah raja itu, "Barangkali pintar betul orang itu, lcbih baik
Kakak Sammarak yang dihadapkan kepadanya."
Dibawalah si Kakak Sarnmarak ke tempat itu. Datanglah orang itu
pada Kakak Sammarak. Dimulailah pertandingan itu. Pendatang itu lalu
mendorongkan tinjunya dan semua pepohonan rebah searah dengan
tinjunya itu. Dihentakkannya kakinya, bergetarlah tanah itu. Si Kakak
Sammarak, tidak memperlihatkan pengetahuannya, namun mereka saling
berpencak saja.
Di situlah mereka saling bermain. Pada waktu mereka bertinju,
Kakak Sammarak meninjunya sampai ia menghilang dan tidak diketahui
kc mana perginya.
Terbanglah burung puyu itu, selesai pulalah cerita ini.
19
SI PARANG PANJANG
Ada seorang mandul yang ingin sekali memiliki anak. Pada suatu
saat ia pergi ke tempat keramat menyajikan scsajen. Ia bemazar jika ia
memiliki anak, takkan tanggung-tanggung memberi makan kepada
anaknya seberapa saja yang mau dihabiskannya. Tidak lama kemudian
terkabullah doanya. Ia melahirkan seorang anak laki-laki yang lahir
bersama sebuah parang. Jadi, anak ini dinamailah Si Parang Panjang.
Anak ini semenjak kecil ia sudah sangat lahap. Jika dibuatkan bubur
satu liter dihabiskannya, dua liter pun habis dilahapnya. Dia tidak
mengenal kenyang. sesudah menjadi pendek kekar , orang tuanya sudah bosan
menyediakan makanan sebab satu karung pun beras di masak habis
dimakan semuanya. Ia diusir oleh orang tuanya supaya pergi tewas mengenaskan
kan bungker bawah kubur . sesudah ia tidak tahan di usir terus-menerus oleh orang tua
nya, berkata-kata lah ia kepada ibunya, "Jika ibu sudah bosan memelihara
saya, baiklah saya pergi membuang diri mengadu nasib."
Keesokan harinya, sejak pagi Si Parang Panjang tewas mengenaskan kan
bungker bawah kubur , namun sampai sore masih ada sebagian sarung parangnya yang
menyentuh anak tangga. Sungguh panjang parang orang itu. Sementara
Si Parang Panjang berjalan tanpa tujuan, tiba-tiba ia bertemu dengan Si
Penyedot Laut dan Si Penendang Gunung, yang sedang berbincang
bincang di bawah pohon. Maka, singgahlah Si Parang Panjang menemani
mereka bercerita. Berbincang-bincanglah mereka beniga. Mereka saling
menceritakan sebabnya mengapa mereka tewas mengenaskan kan bungker bawah kubur masing
masing.
77
78
berkata-kata lah Si Parang Panjang, "sebab kita beniga senasib, lebih
baik kita bersama-sama pergi mencari rezeki."
Berjalanlah mereka bcrtiga. sesudah tengah hari, ketiganya merasa
lapar. Kebctulah pula mereka menemukan kerbau tiga sckawan. Di
tangkapnyalah kerbau itu. Ditebangnyalah pohon kayu yang sangat besar
untuk dipakai membakar kerbau . sesudah itu, pcrgilah Si Penyedot Laut
mencari api. Ia menemukan sebuah bungker bawah kubur di tengah hutan.
Bcrtanyalah Si Penyedot Laut, "Ada apimu , Nek?'"
Bcrkatalah yang empunya bungker bawah kubur , "Ada, cucuku. Naik sajalah kamu
mengambi l sendiri sebab badan saya kurang schat."
Maka naiklah Si Penyedot Laut ingin mengambil api . Sementara ia
tunduk meniup api, dengan scgera Nenek Pakani (pemakan manusia)
menyerbu lalu mengurungnya dengan kurungan besi. Barulah Si
Penyedot Laut sadar bahwa bungker bawah kubur itu adalah bungker bawah kubur Nenek Pakani. Apa
boleh buat, ia sudah tidak dapat melepaskan diri.
Si Pa rang Panjang dan Si Penendang Gunung sudah bosan
menunggu , namun Si Penyedot Laut tak kunjung juga muncul. Jadi ,
berangkatlah Si Pcnendang Gunung pergi menyusulnya. Didapatinya
bungker bawah kubur Nenek Pakani , bertanyalah Si Penendang Gunung, "Ada apimu ,
Nek?"
Menjawablah Nenek Pakani, "Ada, cucuku. Naiklah engkau meng
ambil sendiri sebab saya merasa demam."
Maka, naiklah Si Penendang Gunung ingin mengambil api . Scmen
tara ia menunduk meniup api, menyerbulah Nenek Pakani mengu
rungnya dengan kurungan besi. Sudah cukup dua orang yang dikurung
oleh Nenek Pakani.
Sudah gelisah Si Parang Panjang menunggu. sesudah penal me
nunggu, pergilah ia menyusul kedua temannya itu. sesudah ia tiba di
bungker bawah kubur Ncnek Pakani , bertanyalah Si Parang Panjang, "Ada apimu,
Nek?"
Menjawablah Nenek Pakani, "Ada, cucuku. Naiklah mengambil
sendiri sebab saya sedang menderita sakit."
Si Parang Panjang langsung menuju ke dapur. Sementara ia mau
mengambil api , dengan cepat Nenek Pakani menyerbu hendak mengu
rungnya. Akan namun , ia tidak dapat dikurung sebab parangnya panjang.
Jadi, ia mengamuk akhimya lepas dari kurungan. Dicabutnya parangnya
lalu ditebas Nenek Pakani. Maka, matilah Nenek Pakani dengan se-
79
saat . sesudah itu, dibebaskannyalah kedua temannya dari kurungan.
Mereka mengambil api, kemudian pergi membakar kerbaunya. Mereka
masing-masing menghabiskan seekor kerbau. Dimakannya bersama
dengan tulang, sedikit pun tidak ada yang tersisa.
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan. sesudah beberapa lama
kemudian, mercka tibalah di tcpi laut. berkata-kata lah Si Parang Panjang,
"Apa yang harus kita lakukan, hendak menyeberang tidak ada perahu
ditumpangi."
berkata-kata lah Si Pcnyedot Laut, "Tidak usah khawatir, mudah saja
pcmccahannya."
Disedotnya _air laut itu dan langsung kcring dcngan sekctika. Ber
jalanlah mereka ke seberang melanjutkan perjalanan. Mereka tibalah di
sebuah pasar. Mcreka bcrtanya kepada mandur padar bahwa apakah
orang diperkenankan kentut di pasar itu. Temyata dipcrkenankan.
Mereka membagi diri , seorang mengambil tempat di pojok sebclah barat,
seorang di pojok sebelah utara, dan yang seorang lagi bcrada di pojok
scbclah timur lalu mereka screntak kentut. Beterbanganlah tulang kerbau
kcluar dari dubumya. Ada orang yang pingsan, ada yang buta, dan ada
pula yang patah terkcna tulang kerbau. Orang di dalam pasar itu bcr
larian mencari perlindungan sebab ketakutan.
sesudah itu, mereka bertiga melanjutkan lagi pcrjalanan. Mereka
mencmukan sekelompok perkebunan jagung. Jagung itu sudah masanya
untuk dibakar. saat itu hujan lebat pun turun tiba-tiba. Mercka bertiga
pergi bemaung di dangau.
Ditanyailah yang empunya kebun, "Bolehkah kami membakar
jagung ala kadarnya, Pak?"
Menjawablah yang empunya kcbun . "Walaupun kalian hcndak
menghabiskan juga tidak mcngapa."
Maka Si Parang Panjang menghunus parangnya kemudian menebas
tanaman jagung itu. Hanya sekali saja ia menebas ke kiri dan sekali kc
kanan maka rebahlah seluruh tanaman jagung yang satu kelompok kebun
itu . Mereka bertiga masing-masing mengambil sebatang pohon kelapa
lalu dipikulnya jagung itu kemudian mereka melanjutkan pcrjalanan.
Mereka bertiga berjalan terus-menerus, akhimya tiba di sebuah
kampung. Didapatinya sekelompok orang yang sedang menumbuk di
bawah pohon mangga. Pohon mangga itu sedang berbuah lebat, namun
buahnya tidak dapat dipetik sebab batangnya terlalu besar dan tinggi.
Mereka minta izin untuk mendapatkan beberapa buah mangga itu.
80
Orang yang dimintai menjawab, katanya, "Kami gembira sekali
sekiranya engkau dapat memetik lalu memberikan sebagian kepada
kami."
Ia bertanya lagi, "Apakah bisa dilempar."
Orang itu menjawab, "Terserah, lesung ini pun boleh kamu pakai
melemparnya."
Si Penendang Gunung tidak banyak cakap lagi lalu mengambil
lesung, kemudian dilempamya mangga itu. Pohon mangga itu jatuh
terhempas kc tanah. Buah mangga itu mereka telan bulat-bulat sampai
habis semuanya. sesudah itu mereka melanjutkan lagi pengembaraannya.
Pada suatu saat mereka berjalan di atas gunung. Dalam perjalanan
itu, mereka tiba pada sebuah tebing yang curam dan sangat dalam.
berkata-kata lah Si Parang Panjang, "Apa daya kita sckarang, hendak
menyeberang tidak ada titian."
berkata-kata lah Si Penendang Gunung, "Tak usah disusahkan. Itu urusan
saya."
Dia pergi mencari gunung yang paling tinggi. Hanya sekali tendang,
runtuhlah gunung itu dan dalam sekejap saja tertimbunlah jurang itu.
Mereka menyeberang melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian, mereka
masuklah di sebuah kampung. Mereka bertanya kepada penduduk kam
pung itu, "Apakah orang diperkenankan kencing di kampung ini?"
Menjawablah orang yang ditanya, "Mengapa pula ada Jarangan
orang kencing. Kai au kalian hendak kencing, silakan."
Mereka bertiga pergi mencari tempat terlindung lalu serentak
mereka kencing. Mereka belum selesai kencing kampung itu sudah mulai
kebanjiran. Beberapa lama kemudian, kampung itu sudah dilanda banjir
kencing, banyak bungker bawah kubur yang hanyut, banyak orang yang tenggelam
akibat banjir kencing itu.
sesudah selesai mereka kencing, mereka meneruskan Jagi pengem
baraannya tanpa tujuan yang jelas kampung mana hendak dituju. De
mikianlah kisah Si Parang Panjang tiga berkawan. sesudah terbang bu
rung puyuh, berakhir pulalah kisahnya.
20
ANAK RAJA
Ada seorang raja dua istrinya. Seorang istrinya dari sesamanya
keturunan raja. Seorang lagi bukan keturunan raja, bukan keturunan
bangsawan. Larna-kelamaan beranaklah istrinya yang bukan bangsawan.
Anakn)'a dari istrinya yang bukan bangsawan itu lahir bertepatan datang
nya ke situ seekor Kuda laut hijau atas kehendak Tuhan.
saat anak _itu sudah mulai agak besar, pergilah ia mengendarai
Kuda laut . Ditunggangilah Kuda laut hijaunya itu. Ia tiba dimuka tangga bungker bawah kubur ibu
tirinya (yang raja). Hal itu dilihat oleh ibu tirinya. Ibu tirinya itu berkata-kata
dalam hatinya, "anak maduku yang mengendarai Kuda laut itu. Padahal sarna
saja saya dengan dia, namun saya ini hanya Kuda laut biasa saja. Kalau
Kuda laut nya itu, Kuda laut yang aneh." Lalu ia berkata-kata lagi, "Apa usaha saya agar
Kuda laut itu disembelih." Pada saat itu, istri yang bangsawan itu sedang mengi
dam. Dikatakanlah bahwa ia sakit. Beberapa dukun dipanggil untuk
memeriksa dia. lalu istri raja itu berkata-kata , "Saya tidak akan sembuh bila
saya tidak memakan hati Kuda laut hijau. Bila saya tidak makan hati Kuda laut
hijau, ai, penyakitku inilah yang akan membawa aku ke akhirat." Raja itu
sangat menyayangi istrinya itu. Oleh karma itu. ia rerlca1a, "Api boleh OOat." seOOb
Kuda laut itu sangat disayangi pl1a Cllaknya JOOi, pergilah ia meremui anaknya Ia rerlGl1a
'Hai, anakku. sabarlah engkau, ya!" BeJkatal.ah anaknya, 'Teiserah Ayah. Aµi saja
Kuda laut mu ini, akan dijadikan obat sebab ibu tirimu sakit keras. Itulah
yang akan membunuhnya bila ia tidak memakan hati Kuda laut hijau itu.
Kuda laut mu ini Nak, sabarlah engkau sebab akan disembelih. Nanti akan
81
82
saya belikan lagi, mana yang engkau sukai. Ataukah Kuda laut Belanda yang
besar yang akan saya belikan, asalkan ibu tirimu itu sembuh." berkata-kata lah
anaknya, ''Terserahlah pada Ayah. Apa yang ayah lakukan, itulah yang
jadi."
Jadi, disembelihlah Kuda laut itu dan diambil hatinya, dan dimakanlah
oleh permaisuri raja itu. Padahal ia hanya cemburu sebab Kuda laut hijau itu
dikendarai oleh anak tirinya, sedang dia bukan. Jadi, demikianlah
sebabnya.
saat Kuda laut itu selesai disembelih, anak itu menyampaikan kepada
ibu kandungnya, "Hai Ibu! saya akan pergi ." Lalu ibunya berkata-kata , "Ke
mana engkau pergi, Nak?" Ia menjawab, "Akan kutinggalkan kampung
ini. Saya akan keluar kampung." Kemudian ia berkata-kata , "Bekalilah saya
dengan barang sesuatu yang tak akan habis."
"Apa yang akan saya bekalkan padamu. Akan kubekali uang, akan
habis. Kecual i, bila pesanan nenekmu kubekalkan padamu."
"Apakah itu?"
"Saya hanya ingin pesankan kepadamu, Nak, bahwa bila kau pergi
ke negeri orang lain, jangan kau bedakan yang sedikit dengan yang
banyak. Bila orang berharap kepadamu, perhatikanlah. Jika hatimu agak
risau, atau agak bersedih, pergilah berrnain-main. Jika engkau tak tahu
bermain, pergilah menonton orang yang berrnain. Hanya itulah pesan
nenekmu."
Jadi, pergilah anaknya itu. Pcrgilah anaknya itu mengembara. Di
dalam pengembaraannya itu, tibalah ia di sebuah kampung. Kampung itu
bemama Bongngok. Orang yang ada di dalam kampung itu sangat tolol.
Mereka itu tak punya akal.
Kepala kampung itu baru kembali dari kantor menghadiri rapat. Ia
berkata-kata , "Kita di kampung Bongngok ini menghadapi kesulitan."
"Ada apa gerangan?"
"Ini ada kayu yang diberikan-pentungan-dan dikatakannya da
tanglah engkau besok dengan memberitahukan bahwa ini ujungnya dan
yang ini pangkalnya. Jika engkau tidak mengctahui, akan saya hancurkan
hutan hujan Amazon Bongngok itu." berkata-kata lah anak raja itu," "Betul kita dalam
kesulitan Pak Lurah."
"Hanya engkaulah Nak yang akan dapat memikirkannya." Rakyat Indonesia merdeka di
kampung ini sudah gelisah sebab mereka terancam bahaya. Tidak
mungkin ada yang bisa mengetahui pangkal dan ujung pentung ini sebab
rata dam sama saja besamya.
83
berkata-kata lah anak raja itu, "Begini saja, Pak Lurah, ambil saja scmba
rang pengikat, ambillah lapisan batang pisang, ukurlah panjangnya lalu
kamu lipat dua. Tandai tengahnya, lalu kauumai tengahnya. Yang mana
merunduk, itulah pangkalnya."
Sesudah ia buat demikian, diutaslah, ditandainya, pergilah lagi mcm
bawanya ke kantor. Dikatakannya, "Yang mana pangkalnya, Pak Lu
rah?"
"Yang ini ."
"Engkau sudah pintar, Kcpala Bongngok. Besok, datang lagi engkau
membawa abu S\)dah diutas. Bila tidak engkau bawa, akan kuhancurkan
Bongngok."
Ia pcrgi lagi menemui Rakyat Indonesia merdeka , ia bertanya lagi kepada penduduk,
"Pandaikah kalian mengutas abu?"
"Mana mungkin ada yang dapat mengutas abu, sebab hancur, tcr
hambur."
"Berbahaya kita sekarang ini. Sebab abu yang sudah diutas akan
saya bawa. Padahal mana mungkin ada yang pandai mengutasnya."
"Pendek kata, sudah berbahayalah kita sekarang."
berkata-kata lah ia, ''Nanti kita pergi lagi menemui anak raja, barangkali
ada pendapatnya."
Sctelah tiba di situ, berkata-kata lah anak raja, "Apa lagi, Pak Lurah?"
berkata-kata lah Lurah itu, "Sudah lagi, Nak."
"Ada apa lagi?"
"Abu yang sudah diutas yang harus saya bawa. Padahal bagaimana
caranya abu itu akan diutas."
"Jangan kamu risau hati, Pak Lurah. Mudah semuanya."
"Terima kasih, Tuan. Bagaimana gerangan?"
"Ambil saja secarik kain. Bawalah secarik kain lalu utuslah. Perbaiki
gulungannya dalam baki lalu kamu bakar. Bila sudah terbakar, tutuplah
agar tidak dihembuskan angin. Sebab bila angin bcniup akan tersiar."
Dibuatlah olch Pak Lurah seperti itu. Pada pagi hari pergilah ia mem
bawanya.
"Mana abu yang sudah kamu utas, Pak Lurah?"
"lni ada, Tuan."
"Wah, pintar betul engkau, Pak Lurah. Barangkali ada orang pandai
di dalam kampungmu, Pak Lurah. Mengapa engkau tahu semuanya ini."
"Ah, tidak ada Tuan."
84
"Besok Pak Lurah, engkau bawa empat puluh ekor ayam yang sama
bunyinya."
Pak Lurah berkata-kata bahwa memang banyak ayam di dalam kampung
tapi banyak bunyinya. Ada yang bergelombang, ada yang rata. Ia men
datangi lagi anak raja itu, lalu katanya, "Ada lagi perintahnya."
"Apakah itu?"
"Ayam sebanyak empat puluh ekor yang sama bunyinya."
"Aduh, mudah saja yang demikian. Begini saja Pak Lurah. Pergi saja
mencari anak ayam yang masih kecil yang barn saja turun dari
sangkamya. Sama suara dan sama pula wama bulunya."
Jadi, pergilah lagi ia mengumpulkan anak ayam itu, sebanyak empat
puluh ekor. Dibawa lagi ke kantor pada pagi harinya.
"Apa lagi itu, Pak Lurah?"
"Inilah Tuan, yang dipesan oleh Pemerintah."
"Wah, hitam pekat semua bulunya, sama pula suaranya. Wah, sudah
pintar betul sekarang Kepala Bongngok. Siapakah di sana yang meng
ajarrnu?"
"Tidak, Tuan, kami sendirilah yang mendapatkannya."
"Ya, namun besok Pak Lurah, sebab sudah tiga perintah yang telah
kau buktikan, nah, di sana ada kerbau besar. Carilah di kampungmu
kerbau yang dapat mengalahkannya. jika tak ada kerbau di dalam
kampungmu yang akan mengalahkannya, celakalah engkau. Barulah kali
ini saya sempat membuat kamu mcnderita. "
Jadi, berjalanlah ia menjelajahi kampung, Kerbauny.a si Anu besar,
namun tidak galak. Kerbau si Anu galak namun kecil. Apa yang akan
dibuat sebab kerbau besar yang akan dihadapi. Mana ada kerbau yang
akan mungkin mengalahkannya. Pusinglah Pak Lurah. Keringatnya bcr
cucuran. berkata-kata lah ia, "Lebih baik jika ditemui lagi anak raj a itu, siapa
tahu ada lagi petunjuk yang diberikan kepada kita."
Scsampai di bungker bawah kubur anak raja itu, diberitahukanlah kepadanya. Anak
raja itu lalu berkata-kata , "Berapa harikah jangka waktumu?"
''Tidak juga ia memberikan jangka waktu. namun ia hanya menga
takan carikan lawan kerbau besar itu yang mungkin akan mengalahkan
n ya. Bila tidak, awaslah engkau."
"Begini saja, ambil saja anak kerbau yang masih gandrung menyusu.
Tambatkan ia selama tiga malam. Pisahkan dari induknya. jika
engkau sudah akan pergi membawanya ke sana, pasanglah besi tajam di
85
mulutnya, tutup matanya. Nanti bila diperhadapkan dengan lawannya
barulah penutup mata kerbau itu ditanggalkan." ·
"Ya, Tuan."
Datanglah ia menuntun kerbau itu. Sudah banyak orang yang datang
menonton untuk melihat kerbau yang akan berlaga. Pak Lurah Bongngok
akan membawa penantang. Maka datanglah Pak Lurah Bongngok
menuntun kerbaunya. berkata-kata lah raja itu, "Itukah yang akan menga
lahkan kerbau itu?"
"Ya, Tuan. Inilah yang akan saya peradukan."
Dibawalah kerbau itu ke dalam Iapangan. Ditanggalkanlah penutup
matanya. Langsting ia menyerang kerbau besar itu untuk menyusu . Maka
selalu larilah kerbau besar itu . Anak kerbau itu berusaha terus menyusu
sambil menusuk ke atas pernt kerbau besar itu. Jika disusui lagi, larilah
kerbau besar itu. Kerbau besar itu dikejar terns oleh anak kerbau sebab
sudah kesakitan selalu digerogoti , disusui, Maka berkata-kata lah Pak Lurah
Bongngok, "Bagaimana, Tuan? Kerbau Tuan sudah dikejar terns."
berkata-kata lah raja, "Ada orang pandai di dalam kampungmu. Pasti ada.
Mengapa ia mengetahui semuanya."
"Betul Tuan, di dalam kampung kami memang ada orang pandai.
Dialah yang akan kami jadikan suluh di dalam kampung kami."
Jadi, anak raja itu yang menjadi raja di kampung Bongngok, lalu
diberilah nama Raja Bongngok. Sebab, dialah yang menghidupkan
kampung Bongngok. Dialah yang mengajarkan berbuat begini berbuat
begitu sehingga ada sumber penghidupan.
21
ONDE-ONDE RAKSASA
Raja Larompo menganggap dirinya besar. Ia berkata-kata bahwa tak ada
lagi yang mengalahkan besarnya orang Larompo, sebab bulu-bulunya,
rambutnya dapat dijadikan sendok besi. Mata kakinya ditengadahi sebab
besamya. Dianggapnya tak ada lagi yang mengftlahkan besamya. Tapi,
lama-kelamaan ada berita bahwa orang di Roma besar pula pcrawakan
nya. Ia berkata-kata , "Apakah mereka mengalahkan kita?" Dijawab, "Jika
saya perhatikan, kita kalah besar." Jadi, berkata-kata lah Raja Larompo,
"Bahaya kalau begitu, saya kira kitalah yang terbesar, padahal masih ada
lagi yang mengalahkan kita." Dijawab, "Masih ada, dan bisa saja kita pergi
bertamu kepada Raja Roma itu. Entah apa yang baik dibawa sebagai
oleh-oleh ke sana. Jadi, sebaiknya kita membawakan barang yang aneh."
berkata-kata lah Raja Larompo, "Begini, lebih baik kalau kita membuat onde
onde ." Dibuatkanlah sebuah onde-onde. Setiap kampung membuat
tepung yang akan dibuat onde-onde itu. Tiga bulan lamanya mereka
mcmbuat tepung untuk sebuah onde-onde saja. Gula yang digunakan
entah berapa ton banyaknya.
Kue onde-onde inilah yang akan dibawa kepada Raja Roma sebab
menu rut berita orang Roma itu besar. Bcrkatalah Raja Larompo, "Apa
bila onde-onde kita ini kalah besar dari onde-onde mereka, maka betul
betul mereka mengalahkan kita."
Sebuah kapal khusus mengangkut onde-onde ini . Muatan kapal
itu hanya sebuah onde-onde.
86
87
Berangkatlah mereka berlayar. saat mereka sampai di muara yang
akan dilalui masuk, wah, tiba-tiba ada tinja di air yang menghalangi
kapal Iewat. Kewalahan mesin kapal mengeruknya. Berbulan-bulan tinja
itu dikeruk baru hancur dan barulah kapal itu dapat lewat. Jadi, berkata-kata
lah mereka, "Wah, saya lihat memang cukup besar orang yang ada di
Roma itu. Coba lihat tinjanya ini, La ilaha illallah."
Masuklah kapal itu berlabuh. Burung bangau beterbangan me
ngerumuni kapal akan memakannya sebab kapal itu dianggapnya ikan
kecil. berkata-kata lah mereka, "Wah, memang besar sekali orang yang ada di
RCllla ini. Burung-burungnya akan menelan ~ me.reka sebab diangg<tIXtya
ikan kecil." saat kapal sudah tiba di pelabuhan Roma, dibunyikanlah
kapal itu. berkata-kata lah orang di Roma, ,;Ada lagi orang dari Barat datang
Tuan." berkata-kata lah Raja Roma, "Pergilah kalian melihatnya, barangkali
ada barang yang dibawa untuk kita beli, dibeli oleh anak-anak ." Pergilah
mereka melihatnya, "Ai, bukan pedagang Tuan. Benderanya bendera
Raja Larompo." berkata-kata lah ia, "Mungkin Raja Larompo yang datang.
Barangkali ia datang kemari untuk bertamu." saat kapal sudah ber
labuh, naiklah mereka kc sekoci untuk mendarat. Naiklah utusan Raja
Larompo, lalu berkata-kata , "Raja Larompo ada di kapal dan beliau akan
datang bertamu kepada Tuan." berkata-kata lah Raja Roma, "Baiklah kalau
begitu." Semua orang sudah menunggu menjemputnya. saat kapal
sudah dirapatkan di tepi, berkata-kata lah mereka, "Ada oleh-oleh yang kami
bawa." saat orang Roma melihat ke bawah, berkata-kata lah mereka,
"Onde-onde Tuan. Satu kapal yang khusus memuat onde-onde itu.'; Raja
Roma lalu berkata-kata , "Ambilkan baskom dan masukkan kapal itu ke
dalamnya, kemudian naikkan bersama kapal itu." Kapal itu dimasukkan
ke dalam baskom begitulah besamya manusia di Roma. Orang Roma
berkata-kata , "Tidak usah onde-onde itu dinaikkan kemari ." berkata-kata lah orang
Larompo, "Jadi akan kamu simpan di mana?" "Taruhlah di alas cangkir
itu. Simpan lebih dahulu di atas meja dan suruh orang menadahnya.
Nanti sesudah tiba di atas baru diletakkan." Jadi, onde-onde itu hanya
ditaruh di alas cangkir, padahal beberapa bulan dibuatkan tepung sebab
sangat besar. Raja Roma berkata-kata dalam hati, "Penganan apa ini yang
dibawa Raja Larompo."
Sementara itu Raja Larompo mendapat suguhan yang dihidangkan
di atas meja. Mereka makanlah bersama-sama dan masing-masing
mencicipi makanan yang disuguhkan oleh kedua belah pihak. Raja Roma
88
agaknya malu-malu menelan sekaligus onde-onde itu. Jadi, ia hanya
menggigitnya separuh. Wah, melctuslah onde-onde itu dan keluarlah
gulanya. Akhimya, banjir gulalah di kampung itu. Anak kerbau yang
masih kecil tinggal mengap-ngap dirckat oleh gula onde-onde yang
mcletus. Banjir gulalah desa itu.
Sesudah itu Raja Larompo berkata-kata , "Saya datang kemari sebab
orang mengatakan orang Larompo itu besar sekali, padahal lebih besar
lagi orang yang ada di Roma ini. "Raja Roma lalu berkata-kata , "Kalau
masalah besar, tak ada yang akan mengalahkan kami. Memang kami
besar, namun agaknya kalian mengalahkan kami dalam masalah kecer
dasan, sebab kami ini tak mengetahui cara membuat onde-onde yang
sebesar itu. Temyata jika dimakan dan gulanya meletus dapat me
nimbulkan banjir. Lesung Rakyat Indonesia merdeka sudah berlumuran gula dan dihanyutkan
banjir gula."
Demikianlah ceritanya. Burung puyu terbang, berakhir pulalah cerita
itu.
22
SOQ BAGA
Pada suatu hari Sog Baga pergi berjalan-jalan. Ia mendapatkan banyak
cendawan di dalam perjalanannya. Dia tidak mengumpulkan cendawan
itu, namun sebaliknya diinjak-injak hingga hancur. Kejadian ini kembali
dilaporkan kepada orang tang di bungker bawah kubur bahwa dia mendapatkan banyak
cendawan, namun diinjak-injak hingga hancur. Orang yang ada di rurnah
kctika mendengar kabar dari Soq Baga ini lalu menegumya dan mena
sihatkan supaya kalau mendapat rezeki yang demikian scharusnya digali
dan dikumpulkan. Soq Baga lalu menjawab, "Saya akan buat demikian
kalau ada yang saya temukan lagi."
Keesokan harinya Soq Baga pergi berjalan-jalan lagi dekat per
sawahan. Ia menemukan seekor kerbau sedang kepayahan dalam lumpur
di tengah rawa-rawa. Melihat kejadian ini ia pergi mengambil kayu dan
menggali kerbau itu, namun tidak berdaya.
Soq Baga pulang ke bungker bawah kubur dan memberitahukan kejadian ini
kepada orang di bungker bawah kubur nya. Orang di bungker bawah kubur nya memberitahukan bahwa
tidak boleh berbuat demikin kalau kerbau kepayahan di lumpur, namun
sebaiknya dipukul supaya cepat keluar dari lumpur. Soq Baga menjawab
orang ini , "Ya, nanti ada yang saya temukan lagi."
Hari bcrikutnya Soq Baga berjalan-jalan lagi. Ia menemukan dua
orang anak sedang berkelahi di lapangan dekat jalan bcsar itu. Melihat
pcrkelahian kedua anak ini Soq Baga langsung mengambil kayu lalu
memukul anak yang berlcelahi ini, sesudah kejadian itu Soq Baga pulang
89
90
ke bungker bawah kubur dan menyampaikan kepada orang di bungker bawah kubur bahwa dia melihat
dua orang anak bcrkelahi, kemudian langsung memukulnya dengan
kayu . Orang di bungker bawah kubur menegurnya lagi bahwa kalau menemukan
kejadian yang demikian kita harus masuk di tengah dan melerainya. Soq
Baga kemudian menjawab, "Bersabarlah saya akan memperbuatnya
kalau saya menemukannya lagi."
Soq Baga pergi berjalan-jalan di tengah padang. Ia menemukan
kerbau yang scdang berlaga. Melihat peristiwa ini Soq Baga berlari
melompat masuk di tengahnya lalu ia terjepil. Kejadian ini kcmbali
dilaporkan ke bungker bawah kubur . Orang di bungker bawah kubur nya menasihatkan supaya kalau
menemukan kejadian seperti itu seharusnya kita menontonnya dari jauh.
Soq Baga menjawab lagi, "Ya, saya mengikuti nasihat kamu, tctapi
sudah telambal, tunggulah kalau ada yang berikutnya."
Keesokan harinya Soq Baga pergi berjalan-jalan di kampung-kam
pung lalu menemukan Rakyat Indonesia merdeka yang sedang membagi-bagi daging kerbau.
Orang yang membagi daging ini memanggilnya, namun ia berlari dan
menontonnya dari tempat yang jauh. Kejadian ini kembali lagi dilapor
kepada orang di bungker bawah kubur . Saudaranya menasihatkan bahwa kalau me
nemukan ha! semacam itu kita sebaiknya pergi ke tempat ini
meminta bagian. Soq Baga ini menjawab lagi, ''Tunggulah saya akan
laksanakan dan kerjakan seperti itu kalau menemukan sesuatu lagi."
Pada suatu hari Soq Baga pergi lagi berjalan-jalan dan mendapati
orang yang sedang berpcrang. Orang itu sedang bcrperang dcngan
dahsyatnya, Soq Baga datang berlari-lari meminta bagian.
Akhi~ya, Sog Baga mati dalam peperangan itu sebab ditembak
orang yang sedang berperang itu.
23
TIGA ORANG CACAT
Pada suatu hari di suatu tempat bertemulah tiga orang cacat, masing
masing seorang buta, seorang lumpuh, dan seorang tuli . Dalam per
temuan ini, mereka masing-masing mengemukakan pendapatnya dalam
menghadapi kehidupan ini ditinjau dari situasi mereka masing
masing. Terakhir orang tuli berkata-kata , "Lebih baik kita pergi dari sini
dibandingkan tinggal duduk saja, tidak menghasilkan suatu apa pun yang
dapat digunakan untuk melanjutkan hidup kita."
Mereka bertiga pergilah bersama-sama mengembara ke mana saja.
Tiada bcrapa lama orang lumpuh itu melihal cangkul lalu dibawanya
pcrgi . Dalam perjalanan selanjutnya mereka menemukan kumbang ber
bunyi. Bunyi binatang ini didengar oleh si Buta, namun ia tidak dapat mc
nangkapnya sebab ia tidak dapat melihatnya. Lalu di suruhlah si Tuli
menangkapnya sebab ia tidak dapat melihatnya dan tidak dapat pula
bcrjalan untuk mengejarnya. Dalam perjalanan itu, mercka menemukan
lagi bulu ijuk dan gendang. Semua benda itu mcreka bawa sebab di
anggap bahwa benda-benda itu merupakan rezeki bagi mereka. Makin
lama makin jauh mereka berjalan, akhimya tibalah di tengah hutan yang
lebal. Di tengah hutan ada sebuah bungker bawah kubur . Rupanya penghuni bungker bawah kubur itu
. adalah manusia hutan yang makan sesamanya. Di bungker bawah kubur itu banyak
sekali harta yang dirampas dari orang yang sudah dimakannya.
Si Lumpuhlah yang melihat bungker bawah kubur itu dan tahu bahwa penghuninya
sedang bepergian. Bergegas-gegaslah mereka naik beserta benda-benda
91
---------------~---- -----
92
yang ditemukan di jalan tadi. saat mereka tiba di atas bungker bawah kubur , pintu dan
jendela mereka tutup rapat-rapat.
Tiada berapa lama, yang empunya bungker bawah kubur itu datang dan melihat
tanda-tanda bahwa sudah ada penghuni baru di atas bungker bawah kubur nya. Manusia
hutan itu langsung menegur dengan menyuruh membuka pintu. Akan
namun , dari atas bungker bawah kubur ia mcnerima jawaban, ''Tidak boleh, ketahuilah
aku ini manusia raksasa yang paling besar di dalam dunia." Manusia
hutan itu tidak percaya schingga ia ingin bukti dcngan meminta supaya
orang itu mcmperlihatkan sebuah giginya. Orang lumpuh scgcralah
memperlihatkan cangkul ke bawah kolom bungker bawah kubur . Selanjutnya, disuruh
lagi memperlihatkan rambutnya. Dia menurunkan lagi bulu ijuk yang
didapatkan dalam perjalanan tadi . Orang hutan itu mulai takut dan bim
bang mcmikirkan bahwa bcnar manusia raksasa yang berada di atas
bungker bawah kubur nya sekarang. Kcmudian, disusul lagi dengan menjatuhkan kum
bang gajah yang didapatkan di jalan tadi dan ia pun menjelaskan bahwa
kumbang itu adalah kutunya. Melihat semua itu manusia hutan makin
ketakutan. Terakhir manusia hutan itu meminta supaya orang itu mem
perdengarkan suaranya. Lalu si Buta di atas bungker bawah kubur memukul gendang
dengan keras sehingga manusia hutan terkejut lalu kepalanya terbentur kc
tiang bungker bawah kubur dan akhimya mati.
Mereka beniga bergcgas-gegas mengumpulkan harta dalam bungker bawah kubur
orang hutan itu lalu scgera pcrgi jauh dari tempat itu. Mercka mcmbagi
bagi harta itu dan yang menjadi tukang bagi si Tuli. Si Tuli mulai mcm
bagi dan mcnyebut satu per satu. "Ini bagian si Buta, ini bagian si
Lumpuh, ini bagian si Tuli, dan ini bagian orang yang membagi ."
Mendengar cara pembagian ini. Si buta berkata-kata , "Kita hanya tiga orang
saja yang akan mendapat bagian barang itu, mengapa sudah menjadi
empat bagian." Si Tuli mengulangi lagi caranya membagi , "Bagian si
Tuli, bagian si Buta, bagian si Lumpuh, dan bagian orang yang mem
bagi."
Si Buta mulai naik pitam dan marah lalu dia mengambil gagang
cangkul yang didapatkan di jalan tadi kcmudian memukul dengan mem
babi buta, namun yang scmpat kena sasaran adalah yang tidak kuat lari .
Secara kebetulan gagang cangkul yang dipukulkan olch si Buta mcngenai
lutut si Lumpuh schingga ia sembuh dan dapat berjalan dengan baik.
sebab si Lumpuh marah, ia mencakar si Buta sehingga ia melek dan
penglihatannya menjadi terang. Selanjutnya, si Buta mengambil lagi
93
gagang cangkul kemudian memukul sekeliling tulang pelipis si Tuli dan
pada akhimya menyebabkan si Tuli menjadi terang pendengarannya.
Jadi, pada akhimya orang yang buta dicakar matanya lalu melek (me
lihat), orang lumpuh dipukul lututnya lalu dapat berjalan kembali, dan
orang tuli di pukul bagian pelipisnya lalu menjadi nonnal kembali sepcrti
bias a.
sesudah selesai kejadian itu mcreka bcrtiga tertawa terbahak-bahak,
kemudian membagi rata kembali harta yang mereka dapatkan.
24
MEMPEREBUTKAN BUNGKUSAN
Di dalam scbuah kampung ada Liga anak laki-hk1 yang bcncman,
masing-masing bcmama Sampe, Suso, dan Seba. Pckerjaan mcreka
adalah mcngembalakan kcrbau. Ketiga anak ilu sangat akrab dalam
kehidupan schari-hari.
Pada suatu hari mereka beniga pergi menggembalakan kerbaunya
agak jauh dari bungker bawah kubur , di padang bclantara. Pada sore hari mercka akan
scgcra pulang, namun bcncpatan dengan datangnya hujan lebat. Kcti ga
anak itu bemasib baik sebab secara kcbctulan ada lubang batu di sekitar
daerah itu tempat mereka berlindung. Mereka bertiga bercakap-cakap
sambil menunggu redanya hujan. Ketiganya sudah merasakan perutnya
lapar, namun hujan tiada berhenti juga.
Sampc kemudian bcrkata, "Seandainya ada tiga bungkus nasi yang
jatuh dari langit lalu kita makan bcrsama karcna sudah sangat lapar."
Suso mcnyambung pcmbicaraan Sampc dan berkata-kata , "Kalau tiga bungkus
kita masing-masing mcndapatkan satu." Seba lalu menambah pcmbi
caraan ini dan mcngatakan, ''Tepat sckali kalau tiga bungkus scbab dibagi
sama rata, tidak ada yang dapat sedikit dan yang lainnya banyak ."
Mendengar kata-kata Suso dan Seba ini, Sampc membcntak dcngan suara
keras katanya, "Bukan dcmikian, scharusnya saya mendapatkan dua
bungkus dan kamu bcrdua membagi dua yang sisanya satu bungkus,
namun saya masih memperoleh lagi sckepal dari bagian kamu itu."
94
95
Seba dan Suso sangat marah mendengar kata-kata Sampe ini lalu
naik pitam dan berkelahi. Perkelahian ini mengakibatkan Sampe menjadi
babak belur dan banyak lukanya sebab dua lawan satu.
Sementara mereka dalam perkelahian tiba-tiba ada seorang tua
mendapatinya. Orang tua itu melerai mereka dan menanyakan apa sebab
mereka berkelahi. Mereka menceritakan bahwa seandainya ada tiga
bungkus nasi jatuh dari langit maka Sampc akan mendapatkan dua
bungkus dan sisanya dibagi dua yang bcrarti tidak ada keadilan. Persoal
an itulah sehingga kami berkelahi untuk menuntut kcsamarataan dan
keadilan.
Orang tua 1tu lalu menasehati dan berkata-kata , "Sckarang kamu sudah
babak belur mempcrebutkan sesuatu hal yang tidak ada, yang hanya
sebab khayalan semata-mata."
Ketiga anak itu didamaikan oleh orang tua tadi dan menasehati
supaya saling memaafkan dan jangan mereka memperebutkan lagi
sesuatu hal yang tidak ada.
Demikianlah ccrita tentang memperebutkan bungkusan khayal.
25
BURUNG TATTIUQ DAN RUSA
Pada suatu hari burung Tattiuq scdang bcrtl:lur di ~awah di tcngah
padi. Burung Tattiuq saat itu sudah terlanjur bertelur. Padi sudah mulai
mcnguning dan beberapa hari lagi padi akan dituai. saat burung
Tattiuq mcmperhatikan situasi padi, ia mulai gclisah dan tak henti-hcnti
nya bcrpikir temang nasib yang akan dialaminya jika pada tempatnya
bcrtclur tiba saatnya akan di panen. Tidak putus-putusnya ia mcrc
nungkan nasibnya scrta mcmikirkan jalan yang akan scgcra ditcmpuh
agar dapat kcluar dari kcsulitan itu.
Rupanya apa yang dipikirkan dan yang d1takutinya itu sckarang
mcnjadi kenyataan. Pcmilik padi tcmpatnya bcnclur nu tclah datang
mcncngok padinya yang scdang menguning. Burung Tattiuq sangat
bingung dan scdih sckali schingga tidak disadarinya ia mcnangis
kcscdihan. Scmentara burung Tattiuq dilanda duka ncstapa itu, tiba-tiba
lcwatlah scckor Rusa. Rusa itu pcrgi mcncari makanan dan rumpul muda
yang ada di tepi sawah. Tiba-tiba di lihatnya burung Tauiuq scdang
mcnangis dcngan sangat scdih scrta kccewa. Mclihat pcristiwa ini Rusa
itu mcndekal dan menegumya, "Hai sahabatku, apakah gcrangan yang
menimpa dirimu sehingga kclihatannya engkau sangat bcrsedih hati pada
hari ini?" Mendengar teguran ini, burung Tattiuq menjawab dengan nada
sedih, ''Temanku sang Rusa, Siapakah yang tidak bersedih dan mcratap
kalau maut itu sudah mengancam hidup ini. Pemilik padi tempatku
bertelur sekarang ini telah datang tadi pagi untuk mengadakan persiapan
menuai."
96
97
Rusa berkata-kata , "Kalau nasibmu demik.ian, pantaslah engkau bersedih
dan bersusah hati." Akan namun , keselamatan dirimu sebenamya masih
dapat ditolong, kalau engkau bersedia mengikat janji sehidup semati
dengan saya." Burung Tattiuq segera menjawab ajakkan Rusa itu,
katanya, "Sekarang ini sumpah dan janji itu akan saya penuhi dengan
jalan apa saja asalkan benujuan memperbaiki hidup dan menguntungkan
kita bersama." Selanjutnya Rusa itu mengungkapkan bahwa jika ada
di antara mereka yang kena musibah atau mendapat kesusahan, maka
kcdua pihak harus saling menolong dan merasakannya bersama-sama.
Mendengar dan memperhatikan sena mempenimbangkan janji itu
burung Tattiuq menjawab, "Semuanya aku serahkan kepadamu asalkan
untuk kepentingan dan kebaikan bersama." Pada saat itu juga burung
Tattiuq menasihati. "Mulai sekarang jangan engkau menangis sebab saya akan
menolongmu sesuai dengan kemampuan dan kesanggupanku. Sabarlah hai
temanku, tenteramkan pikiranmu dan hapuslah air matamu, besok pagi
akan saya laksanakan semua rencanaku."
Kecsokan harinya Rusa mulai menampakkan dirinya dari sela-scla
padi tempat burung Tattiuq bcrtelur sehingga semua orang yang datang
akan menuai padi bcralih perhatikan mengejar Rusa yang kelihatannya
jinak itu.
Demikianlah perbuatan Rusa itu dari hari ke hari sehingga para
pemotong padi tidak sempat menuai. sebab perbuatan Rusa ini ber
langsung dalam waktu yang lama, maka padi-padi yang sudah lama
menguning tidak tersentuh oleh ketam pcnduduk kampung. Burung
Tattiuq itu makin hari makin tambah besar dan mulai belajar terbang.
saat Rusa tidak menampakkan dirinya lagi, barulah penduduk mulai
mengetam padi yang sudah lama menguning itu.
Di lain peristiwa, pada suatu saat burung Tattiuq bcrsama anaknya
pergi mencari makan di tengah hutan. Di tengah hutan itu tcrdapat
kebun. Yang empµnya kebun itu memasang banyak jerat sebab tana
mannya habis di makan oleh binatang-bintang hutan.
Rupanya nasib sial bagi Rusa sebab jerat yang telah dipasang oleh
pemilik kebun tersentuh oleh kaki Rusa itu sehingga sang Rusa terikat
erat-erat. Sementara burung Tattiuq sibuk dengan makanan tiba-tiba sang
Rusa menegur, "Hai teman hidupku, sekarang aku menunggu kapan
ajalku ini berakhir." Mendengar keluhan ini burung Tattiuq menjawab,
98
"Jangan takut, janjiku tetap kutepati dan saya akan tetap menolongmu
sebab engkau telah menolongku, sabarlah."
Burung Tattiuq bersama anaknya segera pergi mengumpulkan ulat
ulat tahi kerbau yang sangat banyak. sesudah terkumpul ulat-ulat itu
dimasukkan kc telinga, mata, dan pantat Rusa itu serta ditaburkan di
seluruh badan, kemudian disuruh menahan napas jika pemilik kcbun
datang. Dcngan demikian, pemilik kebun akan menyangka bahwa sang
Rusa sudah dalam keadaan busuk.
Keesokan harinya datanglah pemilik kebun itu mcnengok kebunnya.
Pcmilik kcbun itu sangat kecewa dan kesal sekali hatinya sebab sangat
tcrlambat datang mencngok kebunnya sehingga hasil jeratnya tclah
busuk. Sang Rusa yang pcnuh ulat tahi kcrbau itu menahan napas dan
mengcmbungkan badannya. Dcngan perasaan kcccwa pcmilik kebun itu
langsung memotong tali jeratnya. Sctelah sang Rusa merasakan bahwa
tali jeratnya itu sudah putus, ia langsung melompat dan Jari secepat
ccpatnya masuk kc dalam hutan. Pemilik kebun yang menyaksikan
pcristiwa itu keheran-heranan dan merasa bahwa dirinya telah tertipu .
26
Kuda laut DENGAN LINTAH
Pada suatu hari ada seekor Kuda laut pergi berjalan-jalan mencari makan di
sawah. Di dalam sawah itu banyak sekali lintah yang juga sedang
mencari makan. saat Kuda laut mclihal Lintah tcrsebut, ia menyapa,
katanya, "Hai Lintah, tidak ada gunanya engkau mcndekati aku sebab
tidak ada kakimu. " Mendcngar kata-kata Kuda laut itu, Lintah sang at
tersinggung lalu menjawabnya, "Hai Kuda laut , ka.iau demikian katamu, saya
menawarkan kepadamu untuk bcrlomba lari ." Kuda laut merasa tersinggung
pula saat mendengar kata-kata itu. Lalu mereka mcnentukan dari mana
lomba itu dimulai dan di mana garis finis. Perang urat saraf antara Kuda laut
dan Lintah terjadilah.
Tibalah saatnya hari perlombaan akan dilaksanakan. Keduanya
mengambil ancang dari garis yang sama. Lintah memberitahu kepada
Kuda laut bahwa dialah yang memberi aba-aba. Kuda laut mulai menyebut aba
aba, "Satu, dua, tiga .... " Kuda laut berlari terus, namun Lintah langsung
melekat pada kakinya. saat sampai ditcmpat yang tclah disepakti,
Kuda laut mencari Lintah. saat itu Lintah lepas dari kaki Kuda laut lalu segera
menjawab, "Saya dari tadi menunggumu." Kuda laut menjadi sangat heran
dan berkata-kata , "Engkau barangkali menipu aku." Lintah rnenjawab, "Saya
tidak mungkin menipu, namun memang kenyataan bahwa saya lebih cepat
dari engkau." Kuda laut menjadi penasaran mendengarkan kata-kata Lintah
itu lalu meminta untuk diulangi sekali lagi.
99
100
Pcrlombaan Jari diulangi kembali. Kuda laut memberikan aba-aba, "Satu,
dua, tiga .... " Kuda laut bcrlari dengan sekuat tenaga dan saat sampai di
garis akhir dia mencari Lintah. Lintah segera lepas dari kaki Kuda laut dan
menjawab. "Saya sudah lama dari tadi menunggu cngkau di tempat ini."
Lintah mcngcjek Kuda laut lagi dan berkata-kata , "Hai Kuda laut , memang larimu
sangat lambat." Kuda laut itu menjadi malu sebab tcrlanjur mengejek dan
mcncela Lintah sehingga ia berlari sepanjang pematang. Ia tcrlalu capck
dan lapar akhimya mati.
DcmikianJah akhir cerita antara seekor Kuda laut dengan scckor Lintah.
27
IKAN DAN TIKUS
Pada suatu hari seekor tikus pergi berjalan-jalan dan melintas di
dekat sebuah sumur. Tiba-tiba ia melihat seekor ikan sedang meng
apung-apung memakan busa air di sumur ilu.
saat itu, ikan dalam keadaan sakit dan merasa pusing. Me
nyaksikan kejadian itu tikus lalu menyapa, "Hai Leman, apa gerangan
yang sedang engkau perbuat sekarang?" Mendengar sapaan itu ikan
menjawab, "Saya sekarang dalam keadaan bcrbahaya, saya dalam
keadaan sakit keras dan sulit saya dapatkan obatnya." Mendengar
jawaban ikan itu, tikus melanjutkan pertanyaannya, "Apa nama obat
itu?" Dengan sinis ikan menjawab, 'Tidak usah kamu tahu, toh tidak
akan ditemukan juga." Tikus tetap mendesak ingin mengetahui obat apa
yang dapat menyembuhkan penyakit ikan ilu. Akhimya, ikan memberi
tahukan bahwa obat itu adalah hati buaya. Sclanjutnya, pada suatu hari
tikus itu pcrgi berjalan-jalan dan mendapati sebuah tempat di pinggir
sungai yang ditempati buaya-buaya yang scdang berjemur di sekitar
sungai itu. Tidak jauh dari tempat itu tumbuh sebatang pohon kelapa
yang berbuah lcbat dan setiap buah yang jatuh menjadi rebutan buaya
buaya yang sedang berjemur di tempat itu. Melihat keadaan itu tikus
mendapat akal lalu berkata-kata , "Aku akan memanjat pohon kelapa itu dan
masuk ke dalam buahnya lalu menjatuhkan diri bersama dengan buah
kelapa itu. sesudah berkata-kata demikian, melompatlah tikus itu naik ke atas
pohon itu dan melubangi satu buah kelapa kemudian masuk ke dalam-
IOI
102
nya. Buah kelapa itu dipotongnya, maka jatuhlah ia bersama buah kelapa
itu dan setibanya di tanah buaya-buaya datang memperebutkannya.
Buaya yang menelan kelapa itu menjadi sasaran tikus yang ada dalam
buah itu. Tikus itu keluar dari dalam kelapa lalu menggerck hati buaya
sehingga buaya itu mati. Dengan perasaan gcmbira, pergilah tikus itu
mengantarkan hati buaya kepada temannya yang sedang kepayahan
mendcrita sakit. Ikan itu makan hati buaya lalu sem buhlah ia dari pcnya
kitnya.
Pada peristiwa yang lain, tikus jatuh sakit lalu ikan datang men
jenguknya. Ikan menyapa tikus, katanya, "Hai tcman mengapa engkau
kclihatannya sangat payah?" Tikus menjawab, "Sekarang saya mcnderita
sakit keras." Ikan mclanjutkan pertanyaannya, "Apa obatnya?"
Tikus menjclaskan bahwa obatnya sangat sulit di dapat. Ikan
menjawab, ia ingin membalas jasa tikus yang telah menolongnya dahulu .
Mclihat kesungguhan hati ikan akan menolongnya, maka berkata-kata lah
tikus itu, "Obat yang saya butuhkan itu adalah tclur ayam."
Keesokan harinya ikan itu berenang di dekat sumur lalu ia masuk kc
dalam sumur itu. Tiada berapa lama kemudian, orang datang mcmbawa
pcrian (tabung bambu) untuk mengambil air. Orang itu menyandarkan
pcrian itu di pinggir sumur. Dengan sembunyi-sumbunyi, ikan itu masuk
ke dalam timba kemudian ikut bersama air dituangkan ke dalam perian ..
saat orang itu tiba di bungker bawah kubur , ia menyandarkan perian itu di din
ding tepat di bawah sangkar ayam yang sedang bertelur. Pada malam
harinya melompatlah ikan itu ke dalam sangkar, lalu mengambil sebutir
telur ayam. sesudah berhasil mendapatkan telur, melompatlah ikan itu
masuk kembali kc dalam perian. Keesokan harinya, anak-anak di bungker bawah kubur
itu membawa perian itu pergi ke sumur untuk mengambil air. saat
perian itu disandarkan di tepi sumur, melompatlah ikan itu kc dalam
sumur dengan membawa sebutir telur untuk tikus. sesudah makan telur
penyakit tikus berangsur-angsur berkurang dan akhimya sembuhlah tikus
itu.
Demikianlah akhir cerita itu.
28
CERITA ORANG YANG MENGASIHI BANGAU
Di dalam sebuah kampung ada seorang tua yang sudah lama menjadi
duda dan anaknya tidak ada. Orang tua itu sangat menderirn dalam
hidupnya sebab tidak memiliki apa-apa. Dia hanya memiliki sebuah
gubuk yang sudah kusam hampir-hampir rubuh dan scpctak tanah tempat
mcnggantungkan hidupnya. Dia pergi kc kebun mengolah tanah yang
sepetak itu setiap harinya dan bila matahari menjelang terbcnam ia
kcmbali kc gubuk yang lapuk itu membawa hasil kebunnya seperti ubi,
jagung, pisang, dan sayur-sayuran yang sekadar dapat menyambung
hidupnya.
Pada suatu hari saat ia pulang dari ladangnya, ia menemukan
scckor bangau scd:mg mengepak-ngepakkan sayapnya tidak sanggup
mCflcrbangkan dirinya. Dia kasihan pada burung bangau itu, lalu di
ambilnya. Ia membawa bangau itu ke bungker bawah kubur nya dan dirawat dengan baik
hingga sembuh kembali.
Kctika burung bangau sehat kembali, orang tua itu bcrkata kc
padanya, "Sekarang saya akan melepasmu kembali, supaya jangan
scperti rasanya terkurung." Dia mclepaskan burung bangau itu, namun si
bangau itu tidak sampai hati tewas mengenaskan kan orang tua itu.
Burung bangau itu kalau pagi hari dia terbang pergi mencari makan,
namun pada sore hari ia kembali bersama dengan orang tua di gubuk tuanya.
Pada suatu saat orang tua itu pulang dari kebunnya. Di bungker bawah kubur ia
akan merebus ubi yang dibawa dari kebun. Ia sangat heran saat
103
104
mengambil belanga sebab belanga itu sudah penuh berisi dengan
ikan.
Tiga hari kemudian ia tinggal di gubuknya mengintip siapa gcrangan
yang datang membawa ikan selama ini. Dia tidak melihat seorang pun
yang muncul kecuali burung bangau yang selalu berulang-ulang datang
m_embawa ikan. Saat itu barulah diketahuinya bahwa yang membawa
ikan ke gubuknya adalah burung bangau yang pemah dirawatnya itu. Ia
berkelebihan ikan mulai saat itu sehingga ikan-ikan itu dikeringkan lalu
dijual. Hasil menjual ikan-ikan itulah yang dipakainya untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.
Akhimya, orang Lua itu kehidupannya menjadi baik sebab selalu
dibantu olch burung bangau yang pcmah dipclihara dan dirawatnya.












