tempat yang dituju, komandan pasukan
memberikan aba-aba kepada prajuritnya untuk berhenti.
Kuda-kuda yang diperintahkan berhenti mendadak meringkik.
sesudah semuanya berhenti, prajurit yang memanjang seperti
ular itu diperintahkan agar umat Islam yang telah disula itu
dipancangkan di pinggir jalan; kanan dan kiri. Suasanapun
menjadi gaduh untuk sesaat .
Prajurit yang terlatih tak membutuhkan waktu lama
untuk menjalankan tugasnya. Tubuh-tubuh yang tersula itu
kini telah terpancang disepanjang jalan kira-kira sepanjang
10 km. Semua telah menjadi mayat, tak ada yang bergerak-
gerak lagi; yang masih hidup saat berada di tempat penyu-
laan mati saat tubuh mereka diseret sepanjang jalan. Ribuan
lalat mulai mengerumuni mayat-mayat yang tidak berdosa itu.
Dengung pesta pora lalat itu membelah hutan.
Inilah tantangan terbuka pada Sultan Mehmed II. Dracula
ingin menunjukkan pada sang Sultan bahwa kalau dia melint-
asi daerah ini maka akan mengalami nasib yang sama dengan
rakyatnya yang telah disula.
Dalam catatan sejarah belum pernah ada kekejaman yang
melebihi kekejaman Dracula. Metode penyiksaan, teror dan
pembunuhannya benar-benar kejam. Dia menggunakan jalan
apa saja asalkan orang takut dan kekuasaanya bisa berdiri
tegak. Dia tak pernah memedulikan banyaknya korban yang
jatuh demi tujuaannya.
Pada hari penyerangan
Pada serangan pertama Kerajaan Turki Ottoman
mengerahkan 20.000 prajurit. Mereka berangkat dari selatan
Sungai Danube dan kemudian menyeberangi sungai itu. Sesa-
mpainya di seberang sungai mereka melanjutkan perjalanan
ke ibukota Wallachia, Tirgoviste. Tapi perjalanan mereka
tiba-tiba berhenti saat melihat puluhan ribu—sejarah men-
catatnya sebanyak 20.000—mayat yang disula. Mayat-mayat
ini dipancang sepanjang jalan menuju Wallachia, berbaur
dengan hutan lebat yang ada di sekitarnya.
Melihat hutan mayat ini pasukan Turki memutar
arah. Mereka kembali ke kubu pertahanan yang ada di se-
berang Sungai Danube dengan perasaan takut dan cemas.
Melihat prajuritnya kembali, Sultan Mehmed II terheran-
heran. Dia langsung bertanya tentang penyebab para prajurit
kembali lagi padahal tidak ada perintah untuk itu. Komandan
pasukan segera menceritakan segala kejadian yang dia lihat di
seberang Sungai Danube.
Alangkah marahnya Sultan Mehmed II mendengar berita
itu. Namun, belum sempat sang Sultan memutuskan langkah
apa yang akan terjadi untuk menghadapi hinaan Dracula,
tiba-tiba terjadi serangan mendadak dari arah seberang Sungai
Danube.
Serangan Mendadak
saat pasukan Turki berada dalam kepanikan sesudah
menyaksikan 20.000 mayat yang disula, mereka dikejutkan
oleh serangan yang dilakukan Dracula. Bersama pasukannya
Dracula seolah muncul dari balik kegelapan dan tiba-tiba telah
menyergap pasukan Turki.
Pasukan Turki yang tidak siap untuk bertarung menjadi
korban pasukan Dracula. Suara riuh dan jerit kematian ber-
baur jadi satu. Suara pedang dan tombak saling beradu. Dalam
waktu tidak begitu lama ribuan prajurit Turki telah menjadi
korban. Sejarah mencacat dalam peristiwa ini Sultan Mehmed
II hampir terbunuh. Pengalaman dalam berbagai peperangan-
lah yang menyelamatkan nyawanya.
Sebagai penakluk Konstantinopel, Sultan Mehmed II
segara mendapatkan kepercayaan dirinya kembali. Dengan
keberanian yang luar biasa dia memimpin pasukannya untuk
memukul mundur pasukan Dracula. Melihat sang Sultan
begitu berani menerjang pasukan musuh, semangat pasukan
Turki kembali terlecut. Mereka terus merangsek maju, mende-
sak pasukan Dracula hingga ke pinggir Sungai Danube.
Melihat pasukannya terdesak, Dracula memutuskan un-
tuk melarikan diri. Dia memerintahkan pasukannya untuk
segera menyeberangi Sungai Danube. Sultan Mehmed II tidak
memerintahkan pasukannya untuk mengejar Dracula sebab
ingin terlebih dahulu menyusun strategi yang jitu. Selagi
menunggu memikirkan langkah yang tepat untuk menang-
kap Dracula, sang Sultan memerintahkan agar pasukan yang
menjadi korban dan umat Islam yang mati disula oleh Dracula
dikuburkan dengan sebaik-baiknya.
Sementara itu, Dracula yang mengetahui dirinya tidak
dikejar oleh pasukan Turki memerintahkan sebagian besar
pasukannya untuk bergerak ke arah benteng Poenari. Dia
menganggap ibu kota Wallachia yang tidak mempunyai ben-
teng pertahanan yang kuat akan dengan mudah jatuh ketangan
pasukan Turki. Bagi Dracula tempat satu-satunya yang paling
aman yaitu benteng Poenari.
Pada sebagian kecil prajurit, Dracula memerintahkan agar
mereka meneruskan perjalanan ke Wallachia. Pada mereka
Dracula memberikan tugas untuk memboyong seluruh kelu-
arganya ke benteng Poenari dalam waktu secepat-cepatnya.
Serbuan ke Tirgoviste
Sultan Mehmed II banyak menarik pelajaran dari serangan
Dracula yang mendadak. Memang benar kata pepatah lama,
“Seseorang belajar dari kegagalan bukan dari keberhasilan”.
Dia mengingatkan agar pasukannya selalu waspada sebab
Dracula merupakan salah satu panglima Salib yang licik.
sesudah memaparkan strateginya untuk membekuk
Dracula, Sultan Mehmed II memerintahkan pada panglima
perangnya untuk menyerbu Tirgoviste. Kali ini Randu yang
ditunjuk memimpin seluruh pasukan.
Empat puluh ribu pasukan bergerak menyeberangi Sungai
Danube. Kaki-kaki kuda yang menjejak dasar sungai menim-
bulkan gelombang yang kemudian pecah di tepi sungai. Di
barisan paring depan, panji-panji Bulan Sabit berkibar-kibar
dihembuskan angin. Di belakangnya disusul barisan para pan-
glima yang menunggang kuda berbadan kokoh. Dan, barisan
para prajurit mengekor di belakangnya.
Semangat yang membara membuat pasukan Turki enggan
beristirahat. Mereka beristirahat hanya untuk makan dan men-
jalankan shalat, sehingga waktu untuk sampai ke Tirgoviste
bisa dipangkas. sesudah berkuda selama dua hari dua malam
mereka akhirnya sampai ke Tirgoviste, dan mereka berhenti
di pinggiran kota.
Beberapa orang mata-mata dikirim untuk menyelidiki
keadaan kota. Namun, beberapa saat kemudian mata-mata itu
kembali dengan laporan mengejutkan, bahwa situasi dalam
kota seperti kota mati, tidak ada prajurit sama sekali. Men-
dengar laporan mata-matanya Randu meminta agar pasukan
tetap waspada sebab bisa jadi semua ini merupakan jebakan
Dracula.
Sekitar lima ribu prajurit terlatih dikirim untuk memasuki
dalam kota sedangkan sisanya berjaga-jaga untuk menghadapi
situasi darurat. Lima ribu prajurit ini segera memasuki
kota dengan waspada. Sesampainya di dalam kota mereka
memang menyaksikan tidak ada prajurit Dracula sama sekali.
Mereka terus masuk sampai ke dalam istana, tapi juga kosong.
Akhirnya mereka berkesimpulan kalau Dracula memang telah
meninggalkan Tirgoviste.
Laporan bahwa Dracula telah melarikan diri dari Tirgo-
viste sampai ke Randu. Dia menduga bahwa Dracula telah
melarikan diri ke benteng Poenari. Maka dia segera memerin-
tahkan 30.000 prajuritnya untuk bergerak ke benteng Poenari,
sedangkan 10.000 prajurit menjaga Tirgoviste.
Pengepungan Benteng Poenari
Dalam perjalannya ke benteng Poenari, Dracula tetap
memamerkan kekejamannya. Di sepanjang jalan yang dilalu-
inya dia membantai penduduk desa. Korban-korban ini
mayatnya dibiarkan teronggok di sepanjang jalan (diperki-
rakan jumlahnya 30.000 orang), sehingga saat pasukan Turki
melewatinya bau busuk telah menyebar.
Jalan untuk menuju benteng Poenari memang sulit,
berkelok-kelok dan mendaki. Di kiri-kanan jalan hutan lebat
memagarinya, sehingga kalau tidak waspada bisa terkena
jebakan musuh. Oleh sebab itu, walaupun jumlahnya besar
pasukan Turki tetap waspada.
sesudah sehari semalam menempuh perjalanan akhirnya
pasukan Turki sampai di dekat benteng Poenari. Benteng
ini berdiri kokoh di puncak sebuah tebing. Hanya satu
jalan untuk bisa mencapai benteng itu sebab ketiga sisi ben-
teng yaitu jurang yang curam. Kondisi inilah yang membuat
Dracula memilih tempat ini untuk menjadi kubu pertahanan-
nya sebab musuh akan kesulitan untuk menjangkaunya.
Pasukan Turki yang dipimpin Randu membangun tenda
tidak jauh dari benteng Poenari. Sesuai dengan rencana yang
telah ditetapkan mereka akan melakukan serangan esok pag-
inya.
Gambar 10: Satu-satunya jalan untuk bisa
sampai ke benteng Poenari.
Sementara itu, di dalam benteng Dracula semakin gelisah.
Seberapun keberaniannya dia merasa tak akan mampu meng-
hadapi gempuran pasukan Turki yang jumlahnya tiga kali
lipat, dan didukung oleh meriam. Di saat kegelisahan sedang
memuncak istrinya datang menghadap. Sang istri mengabar-
kan bahwa seseorang telah memanahkan pesan agar Dracula
segera melarikan diri. Namun, Dracula menanggapinya dengan
dingin. Inilah yang membuat istrinya kecewa, dan akhirnya
memutuskan untuk terjun dari salah satu menara benteng
(kisah selengkapnya baca pada Kisah Sungai Permaisuri).
saat rasa putus asanya semakin memuncak, di saat
malam telah menyelimuti benteng Poenari, Dracula memutus-
kan untuk melarikan diri. Melulai lorong rahasia dia menelu-
suri hutan dan pegunungan Carpathian. sesudah berhari-hari
berjalan sampailah dia di Brasov, wilayah bagian Kerajaan
Honggaria.
Larinya Dracula memudahkan Randu untuk menguasai
benteng Poenari. Dengan jatuhnya benteng ini ke dalam
penguasaan pasukan Turki merupakan tanda lepasnya kekua-
saan Dracula di Wallachia untuk kedua kalinya. Peristiwa ini
terjadi pada bulan Agustus 1462 M.
Jumlah Korban Pembantaian
Dracula Secara Keseluruhan
SEJARAH mencacat bahwa jumlah korban yang dibantai oleh
Dracula saat dia dipaksa turun tahta oleh Kerajaan Turki
Ottoman pada tahun 1462 M, merupakan jumlah pembantaian
terbesar yang dilakukan dalam waktu yang sangat singkat. Para
sejarawan memperkirakan 70.000 sampai 100.000 umat Islam
telah dibantai. Mereka terdiri dari semua golongan masyarakat
Muslim dan tidak sedikit anak-anak.
Bila dilihat dari populasi pada abad pertengahan yang
tidak sebanyak sekarang maka pembantaian Dracula bisa
digolongkan sebagai holocaust; sebuah pemusnahan massal
terhadap kelompok tertentu yang dilakukan secara sistematis.
Kalau pembantaian Dracula ditarik pada abad XX maka bisa
sejajar dengan pembantaian yang dilakukan oleh Hilter di
Jerman, Polpot di Kamboja dan Soeharto di Indonesia. Mer-
eka ini merupakan tiran-tiran yang haus akan darah dan rela
mengorbankan apa saja demi kekuasaannya.
Tak banyak tiran seperti Dracula pada abad pertengahan.
Dia secara sistematis dan kejam menyikirkan umat Islam dari
wilayahnya. Penyikirkan itu dia lakukan sejak awal berkuasa
di Wallachia tahun 1456 M sampai kemudian dipaksa mundur
pada tahun 1462 M. Dalam rentang waktu selama enam tahun
ini dia telah membantai tidak kurang dari 300.000 umat
Islam. Sebagian besar dari korban ini mati disula. Mayat-
mayat mereka yang telanjang bulat itu sebagian ditinggalkan di
tempat penyulaan dan sebagian lagi digantung di luar tembok
kota Tirgoviste. Dengan pembantaian sebesar itu hampir bisa
dipastikan bahwa satu generasi umat Islam di Wallachia punah
sebab Dracula membantai seluruh keluarga, termasuk bayi
yang baru lahir.
Akibat pembantaian Dracula terhadap umat Islam me-
mang bisa dilihat dampaknya saat ini. Dibekas kekuasaan
Dracula umat Islam menjadi umat yang minoritas. Umat
Islam yang ada saat ini di daerah Wallachia dan sekitarnya
merupakan keturuan dari warga Muslim yang selamat dari
pembantaian Dracula. Pada saat itu nenek moyang mereka
bisa menyelamatkan diri dengan lari ke tengah-tengah hutan
atau sembunyi di pegunungan. sebab jumlah mereka san-
gat sedikit maka perkembangan populasi Muslim akhirnya
berkembang secara lambat.
Langkah yang diambil Dracula untuk melakukan pem-
bantaian secara sistematis terhadap warga Muslim jelas men-
guntungkan pasukan Salib. Dengan pembantaian sebanyak
itu Kerajaan Turki Ottoman walaupun berhasil merebut
kekuasaan Wallachia hingga pada abad pertengahan, tapi po-
sisinya semakin terisolasi. Benteng yang selama ini melindungi
mereka, yaitu warga Muslim, jumlahnya telah menyusut secara
drastis. Bisa dikatakan Kerajaan Turki Ottoman memerintah
di kandang macan, yang setiap saat akan bisa diterkam.
Kekejaman Dracula dalam membunuh musuh-musuh
Kristus mendapatkan penghargaan dari pasukan Salib. Oleh
sebab itu, walaupun menjadikan Dracula sebagai tahanan na-
mun Matthias Corvinus, Raja Honggaria melindungi Dracula.
Seolah bidak catur, Dracula merupakan panglima perang yang
disimpan oleh pasukan Salib untuk dikeluarkan pada saat yang
tepat. Hampir selama 13 tahun Dracula menjadi warga kehor-
matan Kerajaan Honggaria, dan bahkan kemudian menikah
dengan salah satu kerabat raja Honggaria.
Dalam posisinya yang aman di Kerajaan Honggaria,
Dracula tak tersentuh oleh pasukan Bulan Sabit. Di tempat
ini Dracula berusaha menyusun kekuatan untuk kembali
merebut tahtanya yang direbut oleh adiknya, Randu. Dan,
setiap mengingat tahtanya yang lepas, rasa dendamnya terha-
dap umat Islam semakin membuncah.
Akhir Riwayat
Dracula
Bucharest Desember 1476 M, Dracula si Penyula ter-
bunuh. Sang tiran yang selalu haus darah ini harus
menyerah pada takdir sejarah, kematian. Kepalanya
dipenggal dan kemudian dibawa ke Konstantinopel.
Bagaimana Dracula terbunuh?
Di manakah dia dikuburkan?
Akhir si Penyula
Pertempuran di Danau Snagov
sesudah berhasil merebut kembali tahta Wallachia, Ste-
fhen kembali ke Moldavia meninggalkan Dracula bersama
2.000 prajuritnya. Dengan pasukan sekecil itu Dracula harus
menghadapi gelombang serangan pasukan Turki Ottoman
yang semakin menghebat; ini belum lagi ancaman dari dalam
negeri sendiri berupa bara dendam para tuan tanah yang telah
kehilangan bapak, ibu, istri, anak dan sanak saudara.
Kekuasaan Dracula memang sedang memasuki masa senja.
Dia yang pernah begitu perkasa melakukan kekejaman demi
kekejaman harus menerima takdir sejarah: kehidupan ini tak
abadi.
Di saat kekuasaan Dracula mulai memudar, Perang Salib
justru semakin menghebat. Pasukan Turki Ottoman telah
sampai di Bucharest untuk memukul mundur pasukan Salib
menjauh dari wilayah Islam. Mereka datang dengan jumlah
pasukan yang besar seolah ingin menutupi matahari Eropa
Timur. Sultan Mehmed II, sang Penakluk Konstantinopel,
turun langsung memimpin pasukan, mengibarkan panji-panji
Bulan Sabit.
Sementara itu, kerajaan Honggaria sebagai benteng ter-
depan pasukan Salib di Eropa Barat dan Timur juga sedang
mempersiapkan diri untuk menghadapi gempuran pasukan
Bulan Sabit. Seluruh kekuatan dari penjuru kerajaan diminta
untuk segera bergabung dengan pasukan induk yang telah
bergerak menuju Bucharest. Mereka menabuh genderang
sepanjang perjalanan untuk menunjukkan keperkasaan dengan
membawa salib suci sebagai energi perlawanan.
Pada situasi yang semakin memanas ini Dracula sebagai
bagian dari sekutu pasukan Salib mendapatkan tugas untuk
menggempur kekuatan Turki Ottoman di sekitar Sungai
Danube. Kekuatannya memang telah banyak berkurang,
tapi sebagai sekutu Kerajaan Honggaria dia harus setia kalau
tidak ingin hilang kekuasaannya. Sadar bahwa ini mungkin
pertempuran terakhir kali baginya maka sebelum berangkat
dia menitipkan anak dan istrinya di Transylvania. Pada pejabat
setempat dia berpesan agar keluarganya dilindungi jika dia
mati di medan pertempuran.
Pada awal Desember 1476 M, Dracula ke luar dari pintu
gerbang Tirgoviste dengan pasukan yang sangat kecil. Tidak
ada genderang perang yang ditabuh. Tidak ada teriak rakyat
yang memberikan semangat. Warga kota seolah tak peduli
dengan peperangan yang terjadi.
Dracula dan pasukannya bergerak menelusuri Sungai
Dimbovita dengan tujuan utama Danau Snagov. Perjalanan
mereka tidak mudah sebab harus melintasi hutan lebat dan
rawa-rawa ganas sumber penyakit. Agar bisa memangkas
waktu perjalanan mereka hanya berhenti untuk makan. Bila
malam menjelang mereka bergerak bagaikan pasukan siluman
di antara pepohonan besar dan kecil. Bila pagi menjelang
mereka tampak laksana makhluk pucat kekurangan darah.
Dan, derap kuda mereka seperti suara langkah malaikat maut.
sesudah kurang lebih 15 hari melintasi hutan dan rawa
akhirnya Dracula dan pasukannya sampai juga di Danau
Snagov. Kabut masih menyelimuti tempat itu saat mereka
sampai—persis beberapa hari sebelum hari Natal. Burung-
burung yang kedinginan masih enggan berkicau. Pun,
ranting-ranting masih enggan menari menyambut pagi. Tapi
walaupun seolah kehidupan masih enggan bergerak pasukan
Dracula harus memulai pertempuran. Rupanya pasukan Turki
Ottoman telah menyambut kedatangan mereka di hutan Vla-
sia; sebuah hutan yang tidak jauh dari Danau Snagov.
Sunyi pagi pun terusik. Suara-suara teriakan menyobek
pagi yang muram. Dan, pertempuran sengit pun terjadi. Pa-
sukan Dracula yang kalah dalam jumlah berperang seperti
kesetanan. Mereka menebas ke segala arah mencari mangsa
dan menumpahkan darah. Dracula sendiri juga tak kalah
kesetanannya. Dia menerjang musuh yang ada di dekatnya
tanpa memberikan ampun. Pedang kecil miliknya beberapa
kali melesak ke tubuh musuhnya. Erang sekarat, jerit kesaki-
tan dan teriakan untuk membinasakan musuh membahana di
sekitar Danau Snagov.
saat matahari mulai naik dan menyapu kabut di Danau
Snagov, korban yang bergelimpangan mulai terlihat jelas.
Di antara mereka ada yang terbelah kepalanya, terpotong
tangan atau kakinya dan terburai ususnya. Sebagian dari
korban-korban itu sudah menjadi onggokan bangkai yang tak
mampu bergerak lagi. Sementara itu, yang masih hidup tapi
mengalami luka berat mencoba menepi agar tidak terinjak
kuda atau terkena lemparan tombak yang nyasar.
Darah berceceran di mana-mana. Rerumputan telah
berubah menjadi merah tersaput darah. Percikan-percikan
darah yang lain membentuk noda pada kulit pohon dan baju
prajurit. Bau anyir pun menyebar ke segala penjuru bersamaan
dengan angin pagi yang berhembus. Kesejukan udara pagi telah
sirna digantikan udara kematian.
Di tengah medan pertempuran Dracula semakin terpo-
jok. Seberapa pun besar kekuatannya dia tak akan sanggup
melawan pasukan Turki Ottoman yang jumlahnya tiga kali
lipat lebih besar. Dalam kondisi ini tebasan-tebasan pedang
Dracula bukan lagi tebasan prajurit yang ingin membinasakan
musuhnya, tapi tebasan orang yang putus asa; tebasan yang
mudah di baca. Dia hanya bergerak ke sana-kemari tanpa
menimbulkan korban yang berarti.
Akhirnya, Dracula menjemput ajalnya di tepi Danau
Snagov.
Misteri Kematian Dracula
Ada banyak pendapat yang berkembang tentang sebab-
sebab kematian Dracula. Ada saksi mata yang melihat Dracula
terbunuh oleh prajuritnya sendiri. Di antara prajurit-prajurit
Dracula rupanya ada yang menjadi pembunuh bayaran para
tuan tanah yang membenci penguasa Wallachia ini .
saat melihat Dracula semakin terdesak mereka memper-
gunakan kesempatan emas ini untuk menikam Dracula
hingga mati. Pendapat ini didasarkan pada kenyataan bahwa
Dracula memiliki banyak musuh selama hidupnya. Musuh-
musuh ini yang telah begitu dendam pada Dracula selalu
mencari celah untuk membinasakannya.
Pendapat yang lain mengatakan bahwa Dracula terbunuh
oleh prajurit Turki Ottoman yang menyamar menjadi pelay-
an. Pada saat Dracula sedang istirahat di tendanya pelayan
ini masuk dan kemudian menikamnya. sebab tidak
mengira akan mendapatkan serangan yang mendadak Dracula
tidak bisa menghindar dan akhirnya mati di dalam tendanya.
Analisa ini berdasar kenyataan bahwa Dracula merupakan
salah satu musuh Turki yang paling sulit ditaklukkan. Oleh
sebab itu, Sultan Mehmed II membentuk unit khusus yang
dikenal dengan Yanisari. Unit ini terdiri dari pasukan-pasu-
kan yang sangat terlatih dengan salah satu tugas menangkap
Dracula hidup atau mati. Mereka kemudian mencari siasat
untuk menjalankan operasi rahasia itu, yaitu menyusupkan
salah satu anggota Yanisari menjadi pelayan Dracula. sebab
bukan prajurit biasa maka dia bisa menghadapi pertarungan
satu lawan satu melawan Dracula di dalam tenda hingga akh-
irnya bisa membunuh si Penyula.
Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa Dracula
terbunuh sebab prajuritnya salah paham. Pada saat pertem-
puran semakin memanas Dracula berusaha menyamar menjadi
prajurit Turki Ottoman. Penyamaran ini tidak diketahui oleh
prajuritnya. Akibatnya, prajurit Wallachia mengira Dracula
yaitu prajurit Turki Ottoman sehingga mereka membunuh-
nya. Selama beberapa pertempuran Dracula memang sering
menyamar. Cara ini dia pakai untuk bisa masuk ke tenda
komandan pasukan musuh.
Sumber lain mengatakan bahwa Dracula dibunuh oleh
para pengawalnya yang berasal dari Moldavian. Para penga-
wal ini kecewa sebab kekalahan yang diderita oleh pasukan
Dracula.
Dari berbagai pendapat yang berkembang seputar ter-
bunuhnya Dracula, walaupun memiliki perbedaan tentang
bagaimana Dracula terbunuh tapi memiliki satu kesamaan.
Yaitu, semua pendapat ini setuju bahwa kepala Dracula
dipenggal dan kemudian dibawa ke Konstantinopel sebagai
bukti bahwa si Penyula telah terbunuh. Mereka juga ber-
sepakat sesudah di Konstantinopel kepala ini dipancang
di tengah alun-alun dan dipertujukkan pada rakyat Turki.
Di manakah kemudian kepala Dracula berada?
Ada berbagai pendapat tentang kepala Dracula ini. Ada
yang mengatakan bahwa sesudah dipancang di alun-alun kepala
Dracula dibuang ke sungai. Hal ini mengacu pada kebiasaan
kerajaan Turki Ottoman yang akan membuang kepala mu-
suhnya ke sungai begitu selesai dipertontonkan pada rakyat.
Pendapat yang lain mengatakan bahwa kepala Dracula
diselamatkan oleh para biarawan dari biara Snagov. Para bi-
arawan ini berjalan menuju Konstantinopel untuk mengambil
kepala Dracula. saat mereka sampai ke Konstantinopel
kepala Dracula sudah akan dibuang ke sungai. Mendengar
berita itu mereka bergegas mencari prajurit itu yang membawa
kepala ini dan akhirnya bertemu di tengah jalan. Para
biarawan ini menyogok prajurit ini agar bersedia
memberikan kepala Dracula. Melihat banyaknya uang yang
ada di hadapannya si prajurit menyerahkan kepala Dracula ke-
pada para biarawan. Sejak saat itu keberadaan kepala Dracula
tidak jelas lagi.
Misteri Kuburan Dracula
Mayat Dracula ditemukan di rawa dekat Danau Snagov
oleh para biarawan Snagov. Sesuai dengan permintaannya
maka Dracula kemudian dikuburkan di Biara Snagov.
Letak Biara Snagov memang unik. Di tengah-tengah Da-
nau Snagov terdapat pulau kecil dengan hutan kecil merimbun
hijau. Di pulau inilah Biara Snagov berada.
Di lingkungan Biara Snagov terdapat gereja yang tidak be-
gitu besar. Gereja ini merupakan tempat favorit Dracula
semasa masih hidupnya. Oleh sebab itu, dia ingin dikuburkan
di dalamnya. Mungkin sesudah bergelimang kekejaman dalam
sepanjang hidupnya dia ingin hidup tenang dalam alam kema-
tian, sebab gereja Snagov memang sangat tenang, jauh dari
hiruk-pikuk kehidupan masyarakat.
Gambar 11: Gereja Snagov. Tempat mayat Dracula dikubur-
kan
Para sejarawan mencatat Dracula akhirnya memang
dikuburkan di dalam gereja ini , persisnya di depan
altar. Bertahun-tahun orang memercayai catatan para sejar-
awan ini . Hingga sampai akhirnya saat pada tahun
1931-1932 M seorang arkeolog Rumania memperoleh hasil
yang mencengangkan tentang kuburan Dracula. Arkeolog
ini bernama Dinu Rosetti. Atas permintaan Akademi
Rumania dia menggali kuburan Dracula guna menemukan
mayat si Penyula itu.
Sesuai catatan para sejarawan, Dinu Rosetti menggali
kuburan yang ada di depan altar. Memang di depan altar dia
menemukan liang yang mirip dengan kuburan tapi secara
mengejutkan di dalamnya tidak ada mayatnya. Kuburan itu
kosong.
Menurut legenda yang berkembang di Rumania, Dracula
tidak dikuburkan di depan altar melainkan di dekat pintu
masuk. Atas dasar legenda ini Dinu Rosetti mencoba
melakukan penggalian pada tempat yang dimaksudkan oleh
legenda. Ternyata tempat yang disebutkan oleh legenda terse-
but terdapat kuburan. Di dalamnya terdapat mayat seorang
laki-laki dengan memakai baju bangsawan tempo dulu. Pada
jari kerangka mayat ini ditemukan sebuah cincin. Namun
anehnya kepala kerangka ini masih utuh.
Dinu Rosetti mengumumkan bahwa mayat yang ditemu-
kannya itu yaitu mayat Dracula. Dia menjelaskan bahwa
Dracula ternyata tidak dikuburkan di depan altar melainkan
di dekat pintu masuk. Namun temuannya ini mendapatkan
penentangan dari berbagai pihak. Pihak penentang rata-rata
menyampaikan keberatannya berdasar fakta bahwa mayat
Dracula sudah dipenggal kepalanya, sedangkan mayat yang
ditemukan Dinu Rosetti masih lengkap kepalanya. Dengan
fakta ini mereka mengatakan bahwa mayat yang ditemukan
Dinu Rosetti bukan mayat Dracula melainkan mayat bang-
sawan dari Wallachia atau tempat lain.
Salah satu penentang penemuan Dinu Rosetti yaitu
Constantin Gurescu, seorang sejarawan terkenal pada waktu
itu. Menurutnya pendapat Dinu Rosetti tidak dapat dianggap
sebagai kebenaran sebab lemah secara ilmiah. Lebih lanjut
dia berpendapat bahwa mayat Dracula memang benar-benar
dimakamkan di depan altar Gereja Snagov. Tempat ini
menurutnya memiliki kelembaban yang tinggi. Adanya
kelembaban yang tinggi itu menyebabkan sisa tubuh dan
rangka yang dikuburkan akan mengalami dekomposisi yang
sangat cepat. Akibatnya, mayat Dracula mengalami pelapukan
yang cepat dan kemudian bersatu dengan tanah. Inilah yang
menyebabkan mayat Dracula tidak bisa ditemukan.
Selain pendapat di atas ada pula pendapat yang men-
gatakan bahwa mayat Dracula memang dikuburkan di depan
altar Gereja Snagov. Namun beberapa waktu sesudah diku-
burkan mayat ini digali kembali oleh para biarawan
dan kemudian dipindahkan ke tempat lain. Tujuannya agar
mayat Dracula tidak diambil oleh pasukan Turki Ottoman.
Selain penjelasan Constantin Gurescu pendapat ini yaitu logis
melihat konteks saat itu berada dalam masa Perang Salib.
Bagaimana pun kekejaman Dracula, dia telah dianggap sebagai
salah satu pahlawan Perang Salib sebab telah begitu gigih
membendung gempuran pasukan Turki Ottoman. Sebagai
pahlawan di jalan Kristus para biarawan Snagov mempunyai
kewajiban untuk menyelamatkan jasad sang pahlawan dari
gangguan musuh.
Pendapat yang hampir serupa tapi mempunyai penjela-
san yang berbeda mengatakan bahwa mayat Dracula sesudah
disemayamkan di Gereja Snagov kemudian diambil lagi oleh
para biarawan. Mayat ini dipotong-potong dan bagian-ba-
giannya kemudian disimpan di gereja-gereja Eropa. Pendapat
ini berdasar kebiasaan agama Katolik yang menyimpan
relik-relik para santo di beberapa tempat.
Sedangkan pendapat yang lain, yang bertolak belakang
dengan pendapat yang umum, menyatakan mayat Dracula di-
kuburkan di Konstantinopel. Menurut pendapat ini pada saat
pasukan Turki Ottoman kembali ke Konstantinopel mereka
tidak hanya membawa kepala Dracula namun juga badannya.
Anggota tubuh Dracula ini kemudian dikuburkan di
suatu tempat di Konstantinopel. Namun bukti-bukti yang
membenarkan pendapat ini tidak pernah ada hingga kini.
Begitulah misteri tentang jasad Dracula. Berbagai pendapat
berusaha memberikan penjelasan perihal lenyapnya jasad
Dracula. Di antara penjelasan-penjelasan ini ada yang
ilmiah namun banyak juga yang telah bercampur dengan
mitos. Ini menunjukkan bahwa Dracula merupakan sosok
yang kontroversial saat hidup maupun sesudah kematiannya.
LO
C
AL
H
O
LI
C
157
Mitos Seputar
Kematian Dracula
SEBUAH mitos tidak bisa dipisahkan dari lingkungan di
mana masyarakat berada, sebab kesadaran seseorang diten-
tukan oleh tempat dia berada. Oleh sebab nya mitos di satu
tempat akan berbeda dengan tempat lainnya.
Sebagai bukti bahwa mitos tentang Dracula tidak bisa
dilepaskan dari lingkungan masyarakat yaitu dengan mencer-
mati sosok Dracula. Sebagaimana dipercaya oleh mitos terse-
but bahwa Dracula yang telah berubah menjadi vampir akan
tampak sebagaimana pangeran; baik wajah maupun pakaian-
nya. Mengapa kemunculan Dracula seperti itu? Sudah umum
di negara-negara Barat yang menganut agama Katolik bahwa
mayat seseorang yang mati akan dikuburkan dengan pakaian
lengkap; memakai jas, dasi dan sarung tangan sebagaimana
saat mereka masih hidup. Dari sinilah gambaran tentang
sosok Dracula diperoleh oleh masyarakat di daerah pedesaan.
Seandainya mitos tentang Dracula muncul di daerah yang
mayoritas umatnya beragama Islam, yang memiliki cara pen-
guburan yang lain—dalam Islam siapapun yang mati hanya
akan dibungkus dengan kain kafan—bisa jadi sosok Dracula
akan seperti hantu pocong, sebab model inilah yang dikenal
oleh masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa setiap tempat
mempunyai cara sendiri dalam menampilkan sosok-sosok
yang menakutkan.
Keunikan dari mitos yaitu umurnya yang panjang. Ini
terjadi sebab sebagian besar mitos berupa cerita tutur yang
diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain, sehingga
bisa menembus batas ruang dan waktu. Maka tak mengher-
ankan kalau sebuah mitos bisa berumur ratusan ribu tahun.
Begitu pula mitos tentang Dracula.
Gambar 12: Kastil tempat Dracula tinggal.
Namun para sejarawan meragukan kalau Dracula pernah ting-
gal di kastil ini. Keberadaan kastil ini merupakan seba-
gian dari mitos tentang Dracula.
Awalanya mitos tentang Dracula berkembang di kalangan
petani Transylvania. Mereka memercayai bahwa Dracula ti-
dak pernah mati walaupun kepalanya telah dipenggal. Hal ini
berdasar kepercayaan masyarakat bahwa Dracula yaitu
seorang pemuja setan. Dengan meminum darah korban-
korbannya sebagai persembahan dari setan maka dia akan
menjadi sosok yang abadi. Dia akan terus bergentayangan di
dunia ini untuk mengisap darah manusia. sebab sifat mitos
yang disampaikan antar generasi maka tidaklah mengherankan
kalau hingga saat ini mitos tentang keabadian Dracula masih
dipercaya oleh kalangan petani di Transylvania dan sekitarnya.
Inilah yang kemudian memunculkan tokoh vampir—makhluk
pengisap darah manusia.
Dalam perkembangan selanjutnya vampir yang meru-
pakan reinkarnasi dari Dracula dikabarkan telah menjadi
wabah yang mengerikan. Mulanya muncul dikawasan Balkan
kemudian menyebar ke Jerman, Italia, Perancis, Inggris dan
Spanyol. Pada leher para korban yang terkenal wabah ini
konon kabarnya ditemukan dua titik hitam seperti bekas gigi-
tan. Dua titik hitam ini dipercaya sebagai bekas gigitan
Dracula yang menghisap darah korbannya.
Sebuah kebohongan jika diceritakan secara berulang-
ulang maka kelak akan menjadi kebenaran. Mungkin begitulah
mitos tentang Dracula. Awalnya hal ini hanya keper-
cayaan penduduk desa, tapi sebab terus-menerus diceritakan
disertai bumbu-bumbu yang seolah ilmiah akhirnya dianggap
suatu kebenaran, hingga akhirnya dipercaya bahwa Dracula
telah menjadi vampir yang haus akan darah.
Bila ditelisik lebih mendalam timbulnya mitos ini tak
bisa dilepaskan dari sejarah hidup Dracula sendiri. Kekejaman
Dracula yang selalu haus akan kematian membuat rakyat men-
ganggapnya bukan keturunan manusia melainkan keturunan
setan. Sebagaimana dipercayai oleh masyarakat bahwa setan
tidak akan pernah mati maka Dracula yang dianggap sebagai
keturunan setan juga tidak akan mati.
Mitos tentang Dracula semakin mendapatkan penguatan
saat Bram Stoker, seorang novelis kenamaan pada abad ke-
19 menulis novel berjudul Dracula. Sejak terbitanya novel ini
maka nama Dracula yang sebelumnya hanya dikenal sebagai
mitos petani Transylvania diangkat kepermukaan, sehingga
sosoknya kemudian dikenal luas oleh masyarakat Eropa. Tak
mengherankan kalau kemudian sosok Dracula versi Bram
Stoker inilah yang dikenal oleh masyarakat secara luas. Aki-
batnya, sosok aslinya yang lebih kejam bila dibanding Dracula
versi Bram Stoker semakin terselimuti oleh legenda.
Perjuangan
Melawan Lupa
“Langkah pertama untuk memusnahkan sebuah bangsa
cukup dengan menghapuskan memorinya. Hancurkan
buku-bukunya, kebudayaannya dan sejarahnya, maka
tak lama sesudah itu bangsa ini akan mulai melu-
pakan apa yang terjadi sekarang dan pada masa lampau.
Dunia sekelilingnya bahkan akan lupa lebih cepat.”
Mitos Dracula:
Usaha Barat Melakukan
Penjajahan Sejarah
SAMPAI sekarang masyarakat masih mengenal sosok
Dracula. Hal ini bisa terjadi sebab kisahnya terus-menerus
direproduksi oleh Barat sehingga bisa melekat dalam kesadaran
masyarakat modern. Salah satu bentuk reproduksi yang di-
lakukan oleh Barat yaitu melalui film. Setidaknya ada empat
film yang berkisah tentang Dracula, yaitu Dracula’s Daughter
(1936 M), Son of Dracula (1943 M), Hoorof of Dracula (1958
M), dan Nosferatu (1922 M)—yang dibuat ulang pada tahun
1979 M. Semua film ini kisahnya diambil dari novel
Bram Stoker, Dracula.
Lewat film-film ini dunia Barat berusaha agar sosok
Dracula tetap dikenal sepanjang masa. Dan, sekaligus meman-
tapkan mitos tentang Dracula sebagai vampir penghisap darah
manusia. Dengan cara seperti ini mereka memang sengaja
membuat agar sosok Dracula semakin kabur terbungkus oleh
mitos. Tujuan dari semua ini yaitu melakukan penjajahan
sejarah.
Usaha Barat bisa dikatakan cukup berhasil. Hal ini bisa
dibuktikan dengan menghitung seberapa banyak orang yang
mengetahui siapa sebenarnya Dracula. Bisa dikatakan mereka
hanya segelintir orang. Dari sedikit yang mempunyai penge-
tahuan tentang Dracula ini akan lebih sedikit lagi yang
mengetahui sosok Dracula secara utuh. Mereka ini merupakan
sejarawan langka yang sekarang mungkin jumlahnya bisa
dihitung dengan jari tangan. Di pihak lain, sebagian besar
masyarakat mengetahui Dracula sebagai Pangeran Kegelapan
yang gemar menghisap darah manusia. Pemahaman masyara-
kat tentang Dracula merupakan pemahaman tentang vampir
yang bisa berubah wujud menjadi kelelawar atau serigala, dan
akan muncul setiap bulan purnama.
Pemahaman tentang sosok Dracula yang sebagian besar
didasarkan pada mitos ini membuat masyarakat menjadi
lupa akan sejarah si Penyula. Sejarah hidupnya yang telah
melumuri abad pertengahan dengan darah berubah menjadi
semacam makhluk jadian-jadian yang hidup disebuah puri
dengan ditemani seorang putri yang cantik. Masyarakat
menjadi lupa bahwa Dracula telah membantai 500.000 orang
dengan cara yang amat kejam; penyulaan, pengulitan, pemak-
uan, dan bentuk penyiksaan-penyiksaan lainnya, yang belum
pernah dilakukan manusia sebelumnya. Hal ini memang yang
diinginkan Barat. saat masyarakat semakin lupa terhadap
sejarah Dracula maka sejarah kelam ini tidak akan ter-
ungkap, dan mereka akan terbebas dari dosa masa lalu.
Selain bertujuan untuk membuat masyarakat lupa akan
sejarah, penjajahan sejarah juga digunakan Barat sebagai usaha
untuk menggelapkan fakta. Mereka berusaha membungkus
sejarah kelam masa lalu lewat bingkai sejarah yang baru. Mitos
tentang Dracula merupakan contoh dari usaha ini.
Sudah dipaparkan di muka bahwa dengan adanya mitos
tentang Dracula sejarah kejahatannya semakin ditutupi.
Sosoknya berubah menjadi sosok fiksi yang sangat bertolak
belakang dari fakta sejarah. Dalam sosok fiksi ini hanya
dipaparkan bahwa Dracula merupakan vampir penghisap
darah manusia. Tidak disebutkan dia melakukan penyulaan,
pengulitan dan penyiksaan-penyiksaan lainnya. Pun, tidak
disinggung-singgung bahwa dia telah membantai 500.000
orang. Dengan cara demikian maka kekejamannya akan ter-
tutupi. Masyarakat pun akan semakin jauh dari kebenaran.
Akibat penggelapan fakta ini , khususnya umat
Islam, tidak mengetahui bahwa telah terjadi pembantaian mas-
sal—yang bisa dikatagorikan holocaust yang telah dilakukan
Dracula. Mereka tidak mengetahui bahwa 300.000 umat Islam
telah dibantai dengan cara yang tidak beradab, ditelanjangi dan
kemudian disula. Mereka menjadi buta akan sejarah agama
mereka sendiri akibat terlalu lama berada dalam penjajahan
sejarah Barat. Tak mengherankan kalau kemudian peradaban
Islam yang pernah menjadi mercusuar dunia semakin redup
di tengah gegap-gempitanya peradaban Barat.
Hal seperti di ataslah yang harus diwaspadai. saat suatu
masyarakat lupa akan sejarah maka telah hilang separuh dari
hidupnya. Masyarakat seperti ini akan dengan mudah diom-
bang-ambingkan oleh kekuatan ekonomi-politik yang besar.
Akibatnya, tak sadar kalau hidup mereka telah dikendalikan
oleh kekuatan lain yang berada di luar mereka. Lebih tragisnya
lagi mereka tak menyadari kalau sejarah hidup mereka telah
ditentukan oleh orang lain.
Bila sebuah bangsa bisa menguasai sejarah bangsa lain
maka akan memudahkan mereka untuk menguasai baik
itu sumber daya alamnya maupun manusianya. Inilah yang
dilakukan oleh negara-negara Barat terhadap negara dunia
ketiga. saat mereka akan masuk ke suatu negara—tentu
saja untuk kepentingan ekonomi-politik—maka mereka akan
berusaha menguasai sejarah negara ini . Para sejarawan
yang pro mereka diundang untuk mengadakan suatu simpo-
sium, dan kemudian menuliskan hasilnya guna dibukukan.
Hasil ini kemudian mereka paksakan pada negara yang
akan mereka jajah dengan mengatakan, “Bahwa inilah sejarah
negerimu yang benar, maka ikutilah sejarah yang kami buat.”
Gejala melupakan sejarah itulah yang harus diwaspadai
saat ini. Proses ini jika dibiarkan terus-menerus akan
menjadi kerak yang menyebabkan sebuah bangsa dan bahkan
peradaban dunia akan lupa akan sejarahnya sendiri. Padahal,
sebuah bangsa akan sulit maju jika mereka tak mengenal
masa lalu mereka sendiri. Dan, akibatnya akan menjadi bangsa
seolah-olah merdeka tapi sebetulnya terjajah; menjadi budak
dari bangsa lain.
Salib dan Dracula
SELAIN untuk memuluskan jalan negara-negara Barat, penja-
jahan sejarah juga bertujuan untuk menunjukkan superioritas
mereka. Selama ini Barat memang selalu ingin menunjukkan
bahwa merekalah bangsa paling maju, beradab dan unggul.
Dengan pengesahan ini pihak Barat akan berusaha
menentukan arah peradaban dunia sesuai dengan selera dan
kepentingan mereka. Akibatnya, peradaban ini menjadi tim-
pang sebab hanya ditentukan oleh satu kutub. Tidak ada
dialektika di dalamnya.
Superioritas apa yang ingin ditunjukkan Barat dalam
sosok Dracula?
Para sejarawan mencacat bahwa Dracula terbunuh dalam
pertarungan yang sengit melawan prajurit Turki Ottoman
pada tahun 1467 M. Walaupun ada silang pendapat bagaimana
Dracula terbunuh, tapi para sejarawan sepakat bahwa kepala
Dracula dipenggal dan kemudian dibawa ke Konstantinopel.
Kekalahan Dracula kali ini merupakan kekalahan terbesar
kedua sesudah pada kekalahan pertama benteng Poenari jatuh
ketangan pasukan Turki. Dan, sekaligus kekalahan ini men-
gakhiri riwayat si Penyula untuk selama-lamanya. Tapi, apa
yang diciptakan Barat terhadap sejarah Dracula?
Mereka menciptakan mitos baru yang diambil dari keper-
cayaan penduduk desa. Jalan pertama yang mereka lakukan
yaitu membiarkan mayat Dracula tidak jelas keberadaannya.
Mereka menebarkan desas-desus bahwa mayat Dracula telah
bangkit dari kematian dan berubah menjadi vampir. Penduduk
desa yang masih lugu akhirnya memercayai cerita ini ,
apalagi pada saat itu terjadi musibah yang aneh yang menimpa
desa mereka. Musibah ini berupa matinya hewan ternak
sesudah digigit oleh vampir pada lehernya—binatang semacam
kelelawar yang hidup dari menghisap darah hewan. Dan,
beriring dengan melajunya waktu mitos ini akhirnya
berkembang secara turun-temurun, dan menjadi abadilah so-
sok Dracula. Sampai kini mulai dari anak kecil sampai orang
dewasa mengenal Dracula sebagai vampir bukan sebagai si
Penyula.
Lantas, apa sebenarnya yang ada di balik mitos ini ?
Barat ingin menunjukkan superioritasnya bahwa mereka
tidak pernah terkalahkan dalam Perang Salib. Bagi Barat pa-
sukan Bulan Sabit memang berhasil merebut Konstantinopel
tapi tidak pernah mengalahkan mereka. Sebagai super hero
Barat mengangkat Dracula—hal yang sama dilakukan saat
Barat menjadikan Rambo sebagai superhero perang Vietnam.
Tokoh ini walaupun berhasil dibunuh oleh pasukan Bulan
Sabit namun tak benar-benar mati sebab bisa bangkit lagi.
Bahkan saat Dracula bangkit lagi dia menjadi sosok yang
abadi tak bisa terkalahkan kecuali dengan salib. Dengan cara
seperti ini Barat ingin menunjukkan superioritas mereka
bahwa pahlawan mereka, Dracula, tak pernah bisa dikalahkan.
Lihat lebih lanjut bagaimana superioritas itu ingin ditun-
jukkan. Dalam mitos mereka, Dracula yang telah berubah
menjadi vampir. Vampir ini akan menghisap darah manusia
agar bisa hidup abadi. Seseorang yang digigit vampir sebanyak
tiga kali akan menjadi vampir juga. Sehingga jumlah mereka
terus bertambah. Dan, teror pun semakin meluas. Tak peduli
anak kecil sampai orang dewasa akan menjadi korban mereka.
Makhluk-makhluk haus darah ini akan bergentayangan di
malam hari. Mereka akan semakin ganas saat bulan purnama
telah tiba. Wujudnya akan berubah menjadi kelelawar, serigala
atau anjing yang membuat kedatangan mereka tak diketahui.
Bila siang hari mereka akan tertidur dalam peti mati. Tempat
mereka berada dalam kastil tua, dan biasanya terletak di bawah
kapel yang telah rusak. berdasar mitos, jika seseorang mati
sebab gigitan vampir maka jantungnya harus diambil dan
kepalanya dipenggal. Tujuannya agar si korban tidak menjadi
vampir. Pemenggalan dan pengambilan jantung harus dilaku-
kan pada malam hari sebelum dikuburkan. Dan, agar Dracula
tidak mendatangi mayat ini maka sebelum penguburan
peti matinya harus ditaburi bawang atau bunga bawang dan
di atas bibirnya diberi salib.
Vampir tidak bisa dibunuh oleh senjata tajam ataupun
senjata api. Mereka kebal terhadap dua bentuk senjata terse-
but. Dan, kesulitan lain dalam membunuh vampir yaitu
kemampuan vampir berubah wujud sehingga si pemburu
sering terkecoh. Hanya ada dua hal yang bisa mengalahkan-
nya, salib dan bawang putih. Dracula yang telah berubah
menjadi vampir ini akan ketakutan dan bahkan dapat
ditundukkan jika tepat pada jatungnya dipancangkan kayu
salib. Oleh sebab itu, saat berpergian pada malam hari
masyarakat dianjurkan membawa bawang putih dan memakai
salib yang dikalungkan di leher.
Bila ditelisik lebih mendalam mitos tentang Dracula terse-
but kelihatan sekali muatan politiknya. Salib merupakan sim-
bol utama Perang Salib. Ke mana pun pasukan Salib bergerak
mereka selalu membawa salib sebagai pegangan bahwa mereka
sedang melakukan perang suci, dan sekaligus sebagai pelindung
mereka. Dalam hubungannya dengan mitos Dracula, salib
kembali dipakai. Salib dipakai sebagai simbol superioritas
Barat. Mereka ingin menunjukkan hanya dengan saliblah
Dracula bisa dibunuh; hanya dengan saliblah masyarakat akan
terlindungi dari teror vampir yang haus akan darah.
Sebagai simbol suci Barat, salib telah diangkat sebagai
semacam penolak bala untuk mengusir kejahatan Dracula.
Secara langsung sebetulnya mereka ingin mengatakan pada
dunia bahwa pasukan Bulan Sabit tidak pernah berhasil
membunuh Dracula. Hanya merekalah yang dengan meng-
gunakan salib dapat mengakhiri kehidupan Dracula. Inilah
cara Barat menunjukkan superioritas mereka pada dunia. Se-
cara langsung mereka ingin berkata pada dunia, “Inilah kami
kekuatan yang mampu melumpuhkan Dracula dengan salib
kami. Memang pasukan Sultan Mehmed II berhasil memeng-
gal kepala Dracula tapi mereka tak berhasil membunuhnya.
Kamilah yang berhasil membunuhnya dengan menancapkan
pancang salib di dada Dracula. Hanya kamilah yang mampu
membuat Dracula tak bangkit lagi.”
Begitulah usaha Barat untuk menguasai sejarah. Mereka
mampu menggunakan apa saja agar kesadaran sejarah dunia
dapat mereka kuasai. Apakah itu relik-relik suci, kepercayaan
masyarakat, takhayul, semuanya bisa mereka pakai untuk
menciptakan sejarah baru yang seolah-olah memang benar.
Cara mereka yang begitu halus menyebabkan banyak orang
tak menyadarinya. Masyarakat tak menyadari bahwa mereka
telah terperangkap dalam pemahaman sejarah yang diciptakan
Barat.
Saat ini usaha untuk menciptakan superioritas Barat terus
berlanjut. Dengan dipimpin oleh Amerika Serikat mereka
terus-menerus berusaha agar mereka tetap menjadi pemimpin
dunia. Tujuannya agar bisa menguasai bangsa-bangsa lain. Fak-
tanya bisa dilihat jargon-jargon mereka untuk menciptakan
tatanan dunia yang aman. Kemudian dengan jargon ini
mereka akan menyerang negara-negara lain yang tidak sepa-
ham dengan mereka. Alasan yang dipakai yaitu sebab negara
ini melindungi tokoh-tokoh teroris. Maka diseranglah
Irak dan Afghanistan. Dikuasai negara ini . Mereka cip-
takan sejarah baru bahwa negara ini melindungi teroris
dan anti demokrasi. Inilah gaya penjajahan model baru.
Sekarang Barat tak perlu lagi menguasai suatu negara
secara fisik sebagaimana penjajahan pada abad ke VII sampai
XX. Mereka cukup menempatkan boneka mereka di suatu
negara untuk menjamin kepentingan ekonomi-politik mereka.
Mereka mempunyai boneka di Irak dan Afghanistan sehingga
bisa menguras minyak dari negara ini . Mereka juga
mempunyai boneka di Indonesia agar bisa mengeruk emas di
Papua. Mereka merupakan “anak-anak manis” yang melayani
tuan-tuan Barat ini .
Pahlawan yang Dilupakan
TUJUAN lain dari penjajahan sejarah yaitu menghilangkan
pahlawan dari pihak musuh. Sebagai kekuatan superior Barat
menginginkan hanya merekalah yang memiliki pahlawan atau
super hero. Dan, bila ada negara lain mempunyai super hero
yang pernah mengalahkan Barat, maka mereka akan berusaha
agar super hero ini dihapus dalam sejarah. Hal ini sangat
jelas dalam mitos tentang Dracula.
Dalam mitos mengenai Dracula sosok Sultan Mehmed II
dihilangkan sama sekali. Memang disebutkan Dracula pernah
berperang melawan Kerajaan Turki, tapi Sultan Mehmed II
tidak disebut sama sekali. Sang Sultan ini seolah lenyap
ditelan oleh zaman. Padahal, sejarah resmi mencacat peranan
sang Sultan dalam mengakhiri kejahatan yang ditimbulkan
oleh Dracula. Dua kali sang Sultan menggempur Dracula
secara besar-besar, yaitu pada tahun 1462 M dan 1476 M.
Serangan pertama menyebabkan Dracula kehilangan tahta
Wallachia dan serangan kedua membuat Dracula terbunuh.
Namun, semua fakta ini telah dihapus oleh Barat.
Sosok Sultan Mehmed II memang sangat dibenci Barat.
Sultan Mehmed II yang telah berhasil merebut Konstantinopel
telah membuat mereka kehilangan muka. Barat yang memang
mengagung-agungkan diri sebagai kekuatan utama dunia yang
mewarisi kebudayaan Yunani dan Romawi, sangat terpukul
dengan kejatuhan Konstantinopel. Bagi mereka kota ini
merupakan benteng utama Kekaisaran Romawi Timur, dan
sekaligus salah satu pusat gereja Katolik. Bagi mereka daerah
lain boleh jatuh tapi Konstantinopel harus tetap menjadi mi-
lik mereka sebab ia merupakan kota suci selain Yerussalem
dan Roma. Namun apa daya, mereka tak mampu menahan
gempuran pasukan Bulan Sabit. Benteng Konstantinopel
yang kokoh tidak mampu menghadapi hujan meriam hingga
akhirnya jatuh.
Dengan jatuhnya Konstantinopel berarti Barat harus
mengakui kekalahan ini . Padahal bagi mereka pasukan
Bulan Sabit merupakan pasukan bar-bar yang terbelakang dan
tidak berbudaya. Oleh sebab itu, begitu Barat benar-benar
kalah dan harus mengakui kekalahan itu, mereka tentu sangat
malu; bagaimana bangsa yang besar harus menyerah pada
bangsa bar-bar. (Tentang siapa itu Sultan Mehmed II baca
box: Sultan Mehmed II: Sang Penakluk Dracula).
Sultan Mehmed II:
Sang Penakluk Dracula
Sultan Mehmed II (30 Maret 1432 - 3 Mei 1481 M)
terkenal dengan julukan al Fatih (sang Penakluk). Dia diang-
kat menjadi sultan pada usia sangat muda pada tahun 1444
M. Masa pemerintahan pertamanya ini tidak berlangsung
lama, hanya dua tahun. Sekitar lima tahun kemudian, pada
saat usianya 24 tahun, dia memerintah lagi hingga tahun
1481 M.
Sejak dalam kandungan, Sultan Mehmed II sudah
diramalkan akan menjadi orang yang terkenal. Syeikh Sy-
amsuddin al Wali, seorang ulama ternama pada zamannya
berkata pada Sultan Murad (ayah Sultan Mehmed II), “Wa-
hai Sultan Murad, bukan Tuanku yang akan membebaskan
kota Konstantinopel, namun anak yang dalam buaian itu.”
Sultan Mehmed II sejak kecil dididik dengan seder-
hana. Seperti sebagian besar anak bangsawan lainnya dia
memelajari segala macam ilmu pengetahuan, agama dan
kemiliteran. Semua itu berpengaruh saat dia menginjak
dewasa. saat dewasa, Sultan Mehmed II tumbuh menjadi
pemuda yang tampan dengan bentuk badan tegap, kuat dan
tinggi. Pipinya putih kemerah-merahan.
Nama Sultan Mehmed II melambung saat ia berhasil
menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 M. Inilah
yang membuat dirinya mendapat julukan al Fatih (Sang
Penakluk).
Perang Konstantinopel merupakan perang besar
menjelang akhir Perang Salib. Perang ini berlangsung
sejak bulan April hingga Mei 1453 M. Pasukan Turki
yang dipimpin oleh Sultan Mehmed II dilengkapi senjata
modern, yaitu meriam dengan panjang 28 kaki, kaliber 8
inci. Senjata inilah yang menghujani Konstantinopel selama
beberapa minggu.
Sejarah mencatat bahwa selain pemberani Sultan
Mehmed II terkenal sebab kecerdikannya. Dia menge-
tahui legenda lama Konstantinopel yang sudah mengakar
dikalangan penduduk bahwa kota ini tak akan jatuh
saat bulan purnama. Maka dengan sabar Sultan Mehmed
II menunggu saat bulan purnama berlalu. saat bulan su-
dah berbentuk sabit, Sultan Mehmed II mulai melakukan
penyerangan hingga Konstantinopel jatuh pada 22 Mei
1453 M.
Bagi Sultan Mehmed II penaklukan Konstantinopel
merupakan hal yang penting. Dengan jatuhnya Konstan-
tinopel berarti jatuh pula benteng pasukan Salib di Eropa
Timur. Hal ini akan membuat agama Islam dengan mudah
tersebar ke Eropa sesudah selama berabad-abad dihambat
oleh Kekaisaran Bizantium, dan sekaligus untuk menandai
kejayaan Kerajaan Turki Ottoman.
Selama memerintah, Sultan Mehmed II dikenal seb-
agai sultan yang rendah hati. Dia menghormati pemeluk
agama lain untuk tetap menjalankan ibadah sesuai dengan
kepercayaan lain. Tempat-tempat ibadah yang rusak akibat
peperangan dia perbaiki.
Selain dikenal sebagai sultan yang tinggi toleransinya,
Sultan Mehmed II juga terkenal kecintaannya pada ilmu
pengetahuan. Semasa memerintah dia mendirikan beberpa
universitas. Dia juga mengundang para ilmuwan dari Italia
dan Yunani untuk berdiskusi. Pada ilmuwan-ilmuwan terse-
but dia meminta agar karya-karya latin diterjemahkan ke
dalam bahasa Turki. Dan, dia juga meminta pada Gentile
Bellini dari Venesia untuk melukis dirinya.
Dalam bidang pemerintahan Sultan Mehmed II juga
bisa dikatakan sebagai pembaharu. Dia sultan pertama yang
mengkodifikasikan hukum kriminal dan konstitusi jauh
sebelum Sultan Sulaiman.
Satu hal lagi yang selama ini belum dikenal yaitu
peranan Sultan Mehmed II dalam mengakhiri kekejaman
Dracula, seorang Pangeran dari Wallachia yang terkenal
sebab kekejamannya. Dua kali dia mengerahkan pasukan-
nya untuk menangkap Dracula. Pada serangan pertama
Dracula bisa melarikan diri, tapi pada serangan kedua
akhirnya Dracula terbunuh tidak jauh dari Danau Snagov.
Keberhasilan Sultan Mehmed II dalam membunuh Dracula
inilah yang digelapkan oleh Barat. Mereka—Barat—beru-
saha agar sosok Sultan Mehmed II semakin hilang. Maka
saat sosok Dracula diangkat oleh Barat sosok Sultan
Mehmed II tidak disebut-sebut.
Gambar 13: Lukisan Sultan Mehmed II
karya Gentile Bellini
Pukulan akibat jatuhnya Konstantinopel masih terasa
hingga kini. Barat tetap tak bisa menerima kejatuhan itu. Tak
mengherankan kalau seorang Paus umat Katolik yang meme-
gang tahta suci Roma saat ini masih mengingat peristiwa itu
sebagai sejarah kelam umat manusia.
Kebencian ini mereka tumpahkan dengan berusaha
menghapus Sultan Mehmed II dalam sejarah. Harus diakui
usaha ini cukup berhasil. Sebagai buktinya yaitu hanya
sedikit orang yang mengenal sosoknya, bahkan umat Islam
sekalipun. Bila ditanya tentang Sultan Mehmed II, umat
Islam akan menggelengkan kepala, tapi saat ditanya tentang
Dracula mereka bisa memberikan penjelasan yang panjang
lebar—walaupun penjelasan mereka tentang Dracula juga salah
sebab hanya didasari pada mitos yang dibuat Barat.
Seiring dengan waktu nama sang Sultan semakin teng-
gelam bersamaan dengan semakin melambungnya nama
Dracula. Hanya segelintir sejarawan yang mengetahui sos-
oknya, dan rata-rata mereka merupakan sejarawan yang sudah
tua. Dengan kenyataan seperti ini bisa dikatakan tujuan Barat
untuk menghilangkan pahlawan Bulan Sabit ini sudah
mendekati keberhasilan. jika hal ini tidak dibendung maka
bisa dipastikan nama Sultan Mehmed II akan benar-benar
menghilang dari sejarah.
Suatu negara yang tidak mengenal pahlawannya maka
tidak akan bangga terhadap bangsanya sendiri. Bangsa seperti
ini akan memilih berkiblat pada bangsa lain yang dianggapnya
lebih superior sebab mereka mempunyai banyak pahlawan.
Akibatnya, rasa percaya diri pun menjadi goyah. Gejala seperti
ini sudah mengemuka saat ini. Hal ini bisa dilihat dari pemu-
jaan secara berlebihan terhadap kebudayaan Barat. Mereka
menganggap yang serba Baratlah yang terbaik, paling modern
dan maju. Oleh sebab itu, mereka tak segan mengikuti apa
yang serba Barat ini —mulai cara mandi, jalan, makan,
tidur, berpakaian sampai cara mengatur pemerintahan; semua
yang mereka pakai dari ujung rambut sampai ujung kaki
berbau Barat.
Kondisi seperti di ataslah yang diinginkan Barat. saat
sebuah negara tidak bangga lagi pada bangsanya sendiri maka
akan dengan mudah diarahkan. Kesempatan ini kemudian
digunakan Barat untuk memasukkan nilai-nilai kehidupan
mereka. saat nilai-nilai ini telah masuk maka mereka
dengan mudah menentukan selera sebuah bangsa. Sehingga,
saat produk mereka masuk ke negara ini , masyara-
katnya akan menerima dengan senang hati. Inilah bentuk
penjajahan gaya baru. Ia begitu halus. Tak ada perang.Tak
ada penguasaan wilayah. Tapi tanpa terasa kekayaan sebuah
negara tersedot habis, dan otak masyarakatnya telah dicuci.
Akhirnya, perjuangan melawan lupa merupakan perjuan-
gan suatu bangsa untuk tidak lupa pada peradaban dirinya
sendiri. Ia tidak hanya membutuhkan kemauan, tapi juga
keberanian untuk menembus ceruk-ceruk yang selama ini
haram untuk dimasuki. Pun, ia membutuhkan ketekunan
untuk mengeja setiap tanda, mengorek setiap makna untuk
kemudian menyimpulkan kebenaran.
Pada akhirnya, perjuangan melawan lupa merupakan
perjuangan manusia melawan dirinya sendiri.
***
Penutup
SEJARAH Dracula merupakan cermin dari masa lalu untuk
dijadikan pelajaran pada masa kini. Kisah hidupnya menun-
jukkan bahwa sebuah tiran dalam bentuk apapun merupakan
pemerkosaan terhadap nilai-nilai kemanusian. Oleh sebab ,
harus ada kekuatan yang melawan agar nilai kemanusian tidak
tercemari oleh genangan darah korban si tiran. Memang tidak
mudah, tapi tetap harus ada yang memulai.
Dracula memang telah mati lebih dari 500 tahun yang
lalu, tapi sesudah itu betapa banyak manusia yang mengikuti
jejak langkahnya. Sejarah mencatat nama-nama sepe
rti Hilter,
Stalin, Pol Pot, Soeharto hingga George W. Bush. Mereka me-
mang bukan keturunan Dracula tapi mereka gemar menump-
ahkan darah seperti halnya Dracula. Atau bisa dikatakan,
mereka memang bukan anak fisik Dracula melainkan anak
ruhani Dracula. Adanya kenyataan ini menunjukkan bahwa
melawan tiran itu tidak ada ujungnya, sebab pada setiap za-
man lahir tiran-tiran baru yang tidak kalah kejamnya.
Sebagai cermin, sejarah akan selalu mengingatkan agar kita
tak lengah; bahwa pada masa lalu ada kekuasaan yang bengis
dan kejam; pada masa sekarang ada kekuasaan yang tak kalah
bengis dan kejam; dan pada masa depan pun pasti sejarah akan
berulang kembali. Dengan peringatan yang diberikan oleh se-
jarah ini semoga kita selalu waspada. Dan, siap melawan
jika ada tiran yang lahir pada zaman kita.




































