Tampilkan postingan dengan label dracula perang salib 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dracula perang salib 4. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juli 2026

dracula perang salib 4


























  tempat yang dituju, komandan pasukan 

memberikan aba-aba kepada prajuritnya untuk berhenti. 

Kuda-kuda yang diperintahkan berhenti mendadak meringkik. 

sesudah  semuanya berhenti, prajurit yang memanjang seperti 

ular itu diperintahkan agar umat Islam yang telah disula itu 

dipancangkan di pinggir jalan; kanan dan kiri. Suasanapun 

menjadi gaduh untuk sesaat .

Prajurit yang terlatih tak membutuhkan waktu lama 

untuk menjalankan tugasnya. Tubuh-tubuh yang tersula itu 

kini telah terpancang disepanjang jalan kira-kira sepanjang 

10 km. Semua telah menjadi mayat, tak ada yang bergerak-

gerak lagi; yang masih hidup saat  berada di tempat penyu-

laan mati saat  tubuh mereka diseret sepanjang jalan. Ribuan 

lalat mulai mengerumuni mayat-mayat yang tidak berdosa itu. 

Dengung pesta pora lalat itu membelah hutan.

Inilah tantangan terbuka pada Sultan Mehmed II. Dracula 

ingin menunjukkan pada sang Sultan bahwa kalau dia melint-

asi daerah ini maka akan mengalami nasib yang sama dengan 

rakyatnya yang telah disula. 

Dalam catatan sejarah belum pernah ada kekejaman yang 

melebihi kekejaman Dracula. Metode penyiksaan, teror dan 

pembunuhannya benar-benar kejam. Dia menggunakan jalan 

apa saja asalkan orang takut dan kekuasaanya bisa berdiri 


tegak. Dia tak pernah memedulikan banyaknya korban yang 

jatuh demi tujuaannya.

Pada hari penyerangan

Pada serangan pertama Kerajaan Turki Ottoman 

mengerahkan 20.000 prajurit. Mereka berangkat dari selatan 

Sungai Danube dan kemudian menyeberangi sungai itu. Sesa-

mpainya di seberang sungai mereka melanjutkan perjalanan 

ke ibukota Wallachia, Tirgoviste. Tapi perjalanan mereka 

tiba-tiba berhenti saat  melihat puluhan ribu—sejarah men-

catatnya sebanyak 20.000—mayat yang disula. Mayat-mayat 

ini  dipancang sepanjang jalan menuju Wallachia, berbaur 

dengan hutan lebat yang ada di sekitarnya.

Melihat hutan mayat ini  pasukan Turki memutar 

arah. Mereka kembali ke kubu pertahanan yang ada di se-

berang Sungai Danube dengan perasaan takut dan cemas. 

Melihat prajuritnya kembali, Sultan Mehmed II terheran-

heran. Dia langsung bertanya tentang penyebab para prajurit 

kembali lagi padahal tidak ada perintah untuk itu. Komandan 

pasukan segera menceritakan segala kejadian yang dia lihat di 

seberang Sungai Danube. 

Alangkah marahnya Sultan Mehmed II mendengar berita 

itu. Namun, belum sempat sang Sultan memutuskan langkah 

apa yang akan terjadi untuk menghadapi hinaan Dracula, 

tiba-tiba terjadi serangan mendadak dari arah seberang Sungai 

Danube.


Serangan Mendadak

saat  pasukan Turki berada dalam kepanikan sesudah  

menyaksikan 20.000 mayat yang disula, mereka dikejutkan 

oleh serangan yang dilakukan Dracula. Bersama pasukannya 

Dracula seolah muncul dari balik kegelapan dan tiba-tiba telah 

menyergap pasukan Turki.

Pasukan Turki yang tidak siap untuk bertarung menjadi 

korban pasukan Dracula. Suara riuh dan jerit kematian ber-

baur jadi satu. Suara pedang dan tombak saling beradu. Dalam 

waktu tidak begitu lama ribuan prajurit Turki telah menjadi 

korban. Sejarah mencacat dalam peristiwa ini Sultan Mehmed 

II hampir terbunuh. Pengalaman dalam berbagai peperangan-

lah yang menyelamatkan nyawanya. 

Sebagai penakluk Konstantinopel, Sultan Mehmed II 

segara mendapatkan kepercayaan dirinya kembali. Dengan 

keberanian yang luar biasa dia memimpin pasukannya untuk 

memukul mundur pasukan Dracula. Melihat sang Sultan 

begitu berani menerjang pasukan musuh, semangat pasukan 

Turki kembali terlecut. Mereka terus merangsek maju, mende-

sak pasukan Dracula hingga ke pinggir Sungai Danube.

Melihat pasukannya terdesak, Dracula memutuskan un-

tuk melarikan diri. Dia memerintahkan pasukannya untuk 

segera menyeberangi Sungai Danube. Sultan Mehmed II tidak 

memerintahkan pasukannya untuk mengejar Dracula sebab  

ingin terlebih dahulu menyusun strategi yang jitu. Selagi 

menunggu memikirkan langkah yang tepat untuk menang-

kap Dracula, sang Sultan memerintahkan agar pasukan yang 

menjadi korban dan umat Islam yang mati disula oleh Dracula 

dikuburkan dengan sebaik-baiknya.


Sementara itu, Dracula yang mengetahui dirinya tidak 

dikejar oleh pasukan Turki memerintahkan sebagian besar 

pasukannya untuk bergerak ke arah benteng Poenari. Dia 

menganggap ibu kota Wallachia yang tidak mempunyai ben-

teng pertahanan yang kuat akan dengan mudah jatuh ketangan 

pasukan Turki. Bagi Dracula tempat satu-satunya yang paling 

aman yaitu  benteng Poenari.

Pada sebagian kecil prajurit, Dracula memerintahkan agar 

mereka meneruskan perjalanan ke Wallachia. Pada mereka 

Dracula memberikan tugas untuk memboyong seluruh kelu-

arganya ke benteng Poenari dalam waktu secepat-cepatnya.

Serbuan ke Tirgoviste

Sultan Mehmed II banyak menarik pelajaran dari serangan 

Dracula yang mendadak. Memang benar kata pepatah lama, 

“Seseorang belajar dari kegagalan bukan dari keberhasilan”. 

Dia mengingatkan agar pasukannya selalu waspada sebab  

Dracula merupakan salah satu panglima Salib yang licik. 

sesudah  memaparkan strateginya untuk membekuk 

Dracula, Sultan Mehmed II memerintahkan pada panglima 

perangnya untuk menyerbu Tirgoviste. Kali ini Randu yang 

ditunjuk memimpin seluruh pasukan.

Empat puluh ribu pasukan bergerak menyeberangi Sungai 

Danube. Kaki-kaki kuda yang menjejak dasar sungai menim-

bulkan gelombang yang kemudian pecah di tepi sungai. Di 

barisan paring depan, panji-panji Bulan Sabit berkibar-kibar 

dihembuskan angin. Di belakangnya disusul barisan para pan-

glima yang menunggang kuda berbadan kokoh. Dan, barisan 

para prajurit mengekor di belakangnya.


Semangat yang membara membuat pasukan Turki enggan 

beristirahat. Mereka beristirahat hanya untuk makan dan men-

jalankan shalat, sehingga waktu untuk sampai ke Tirgoviste 

bisa dipangkas. sesudah  berkuda selama dua hari dua malam 

mereka akhirnya sampai ke Tirgoviste, dan mereka berhenti 

di pinggiran kota.

Beberapa orang mata-mata dikirim untuk menyelidiki 

keadaan kota. Namun, beberapa saat kemudian mata-mata itu 

kembali dengan laporan mengejutkan, bahwa situasi dalam 

kota seperti kota mati, tidak ada prajurit sama sekali. Men-

dengar laporan mata-matanya Randu meminta agar pasukan 

tetap waspada sebab  bisa jadi semua ini merupakan jebakan 

Dracula.

Sekitar lima ribu prajurit terlatih dikirim untuk memasuki 

dalam kota sedangkan sisanya berjaga-jaga untuk menghadapi 

situasi darurat. Lima ribu prajurit ini  segera memasuki 

kota dengan waspada. Sesampainya di dalam kota mereka 

memang menyaksikan tidak ada prajurit Dracula sama sekali. 

Mereka terus masuk sampai ke dalam istana, tapi juga kosong. 

Akhirnya mereka berkesimpulan kalau Dracula memang telah 

meninggalkan Tirgoviste.

Laporan bahwa Dracula telah melarikan diri dari Tirgo-

viste sampai ke Randu. Dia menduga bahwa Dracula telah 

melarikan diri ke benteng Poenari. Maka dia segera memerin-

tahkan 30.000 prajuritnya untuk bergerak ke benteng Poenari, 

sedangkan 10.000 prajurit menjaga Tirgoviste.

Pengepungan Benteng Poenari

Dalam perjalannya ke benteng Poenari, Dracula tetap 

memamerkan kekejamannya. Di sepanjang jalan yang dilalu-

inya dia membantai penduduk desa. Korban-korban ini  

mayatnya dibiarkan teronggok di sepanjang jalan (diperki-

rakan jumlahnya 30.000 orang), sehingga saat  pasukan Turki 

melewatinya bau busuk telah menyebar. 

Jalan untuk menuju benteng Poenari memang sulit, 

berkelok-kelok dan mendaki. Di kiri-kanan jalan hutan lebat 

memagarinya, sehingga kalau tidak waspada bisa terkena 

jebakan musuh. Oleh sebab  itu, walaupun jumlahnya besar 

pasukan Turki tetap waspada.

sesudah  sehari semalam menempuh perjalanan akhirnya 

pasukan Turki sampai di dekat benteng Poenari. Benteng 

ini  berdiri kokoh di puncak sebuah tebing. Hanya satu 

jalan untuk bisa mencapai benteng itu sebab  ketiga sisi ben-

teng yaitu  jurang yang curam. Kondisi inilah yang membuat 

Dracula memilih tempat ini untuk menjadi kubu pertahanan-

nya sebab  musuh akan kesulitan untuk menjangkaunya.

Pasukan Turki yang dipimpin Randu membangun tenda 

tidak jauh dari benteng Poenari. Sesuai dengan rencana yang 

telah ditetapkan mereka akan melakukan serangan esok pag-

inya. 

Gambar 10: Satu-satunya jalan untuk bisa                                              

sampai ke benteng Poenari.


Sementara itu, di dalam benteng Dracula semakin gelisah. 

Seberapun keberaniannya dia merasa tak akan mampu meng-

hadapi gempuran pasukan Turki yang jumlahnya tiga kali 

lipat, dan didukung oleh meriam. Di saat kegelisahan sedang 

memuncak istrinya datang menghadap. Sang istri mengabar-

kan bahwa seseorang telah memanahkan pesan agar Dracula 

segera melarikan diri. Namun, Dracula menanggapinya dengan 

dingin. Inilah yang membuat istrinya kecewa, dan akhirnya 

memutuskan untuk terjun dari salah satu menara benteng 

(kisah selengkapnya baca pada Kisah Sungai Permaisuri).

saat  rasa putus asanya semakin memuncak, di saat 

malam telah menyelimuti benteng Poenari, Dracula memutus-

kan untuk melarikan diri. Melulai lorong rahasia dia menelu-

suri hutan dan pegunungan Carpathian. sesudah  berhari-hari 

berjalan sampailah dia di Brasov, wilayah bagian Kerajaan 

Honggaria.

Larinya Dracula memudahkan Randu untuk menguasai 

benteng Poenari. Dengan jatuhnya benteng ini  ke dalam 

penguasaan pasukan Turki merupakan tanda lepasnya kekua-

saan Dracula di Wallachia untuk kedua kalinya. Peristiwa ini 

terjadi pada bulan Agustus 1462 M.


Jumlah Korban Pembantaian 

Dracula Secara Keseluruhan

SEJARAH mencacat bahwa jumlah korban yang dibantai oleh 

Dracula saat  dia dipaksa turun tahta oleh Kerajaan Turki 

Ottoman pada tahun 1462 M, merupakan jumlah pembantaian 

terbesar yang dilakukan dalam waktu yang sangat singkat. Para 

sejarawan memperkirakan 70.000 sampai 100.000 umat Islam 

telah dibantai. Mereka terdiri dari semua golongan masyarakat 

Muslim dan tidak sedikit anak-anak.

Bila dilihat dari populasi pada abad pertengahan yang 

tidak sebanyak sekarang maka pembantaian Dracula bisa 

digolongkan sebagai holocaust; sebuah pemusnahan massal 

terhadap kelompok tertentu yang dilakukan secara sistematis. 

Kalau pembantaian Dracula ditarik pada abad XX maka bisa 

sejajar dengan pembantaian yang dilakukan oleh Hilter di 

Jerman, Polpot di Kamboja dan Soeharto di Indonesia.  Mer-

eka ini merupakan tiran-tiran yang haus akan darah dan rela 

mengorbankan apa saja demi kekuasaannya.

Tak banyak tiran seperti Dracula pada abad pertengahan. 

Dia secara sistematis dan kejam menyikirkan umat Islam dari 


wilayahnya. Penyikirkan itu dia lakukan sejak awal berkuasa 

di Wallachia tahun 1456 M sampai kemudian dipaksa mundur 

pada tahun 1462 M. Dalam rentang waktu selama enam tahun 

ini  dia telah membantai tidak kurang dari 300.000 umat 

Islam. Sebagian besar dari korban ini  mati disula. Mayat-

mayat mereka yang telanjang bulat itu sebagian ditinggalkan di 

tempat penyulaan dan sebagian lagi digantung di luar tembok 

kota Tirgoviste. Dengan pembantaian sebesar itu hampir bisa 

dipastikan bahwa satu generasi umat Islam di Wallachia punah 

sebab  Dracula membantai seluruh keluarga, termasuk bayi 

yang baru lahir.

Akibat pembantaian Dracula terhadap umat Islam me-

mang bisa dilihat dampaknya saat ini. Dibekas kekuasaan 

Dracula umat Islam menjadi umat yang minoritas. Umat 

Islam yang ada saat ini di daerah Wallachia dan sekitarnya 

merupakan keturuan dari warga Muslim yang selamat dari 

pembantaian Dracula. Pada saat itu nenek moyang mereka 

bisa menyelamatkan diri dengan lari ke tengah-tengah hutan 

atau sembunyi di pegunungan. sebab  jumlah mereka san-

gat sedikit maka perkembangan populasi Muslim akhirnya 

berkembang secara lambat.

Langkah yang diambil Dracula untuk melakukan pem-

bantaian secara sistematis terhadap warga Muslim jelas men-

guntungkan pasukan Salib. Dengan pembantaian sebanyak 

itu Kerajaan Turki Ottoman walaupun berhasil merebut 

kekuasaan Wallachia hingga pada abad pertengahan, tapi po-

sisinya semakin terisolasi. Benteng yang selama ini melindungi 

mereka, yaitu warga Muslim, jumlahnya telah menyusut secara 

drastis. Bisa dikatakan Kerajaan Turki Ottoman memerintah 

di kandang macan, yang setiap saat akan bisa diterkam. 


Kekejaman Dracula dalam membunuh musuh-musuh 

Kristus mendapatkan penghargaan dari pasukan Salib. Oleh 

sebab  itu, walaupun menjadikan Dracula sebagai tahanan na-

mun Matthias Corvinus, Raja Honggaria melindungi Dracula. 

Seolah bidak catur, Dracula merupakan panglima perang yang 

disimpan oleh pasukan Salib untuk dikeluarkan pada saat yang 

tepat. Hampir selama 13 tahun Dracula menjadi warga kehor-

matan Kerajaan Honggaria, dan bahkan kemudian menikah 

dengan salah satu kerabat raja Honggaria.

Dalam posisinya yang aman di Kerajaan Honggaria, 

Dracula tak tersentuh oleh pasukan Bulan Sabit. Di tempat 

ini Dracula berusaha menyusun kekuatan untuk kembali 

merebut tahtanya yang direbut oleh adiknya, Randu. Dan, 

setiap mengingat tahtanya yang lepas, rasa dendamnya terha-

dap umat Islam semakin membuncah. 


Akhir Riwayat               

Dracula

Bucharest Desember 1476 M, Dracula si Penyula ter-

bunuh. Sang tiran yang selalu haus darah ini harus 

menyerah pada takdir sejarah, kematian. Kepalanya 

dipenggal dan kemudian dibawa ke Konstantinopel.                               

Bagaimana Dracula terbunuh?                                                            

Di manakah dia dikuburkan?


Akhir si Penyula

Pertempuran di Danau Snagov

sesudah  berhasil merebut kembali tahta Wallachia, Ste-

fhen kembali ke Moldavia meninggalkan Dracula bersama 

2.000 prajuritnya. Dengan pasukan sekecil itu Dracula harus 

menghadapi gelombang serangan pasukan Turki Ottoman 

yang semakin menghebat; ini belum lagi ancaman dari dalam 

negeri sendiri berupa bara dendam para tuan tanah yang telah 

kehilangan bapak, ibu, istri, anak dan sanak saudara. 

Kekuasaan Dracula memang sedang memasuki masa senja. 

Dia yang pernah begitu perkasa melakukan kekejaman demi 

kekejaman harus menerima takdir sejarah: kehidupan ini tak 

abadi. 

Di saat kekuasaan Dracula mulai memudar, Perang Salib 

justru semakin menghebat. Pasukan Turki Ottoman telah 

sampai di Bucharest untuk memukul mundur pasukan Salib 

menjauh dari wilayah Islam. Mereka datang dengan jumlah 

pasukan yang besar seolah ingin menutupi matahari Eropa 

Timur. Sultan Mehmed II, sang Penakluk Konstantinopel, 

turun langsung memimpin pasukan, mengibarkan panji-panji 

Bulan Sabit.

Sementara itu, kerajaan Honggaria sebagai benteng ter-

depan pasukan Salib di Eropa Barat dan Timur juga sedang 

mempersiapkan diri untuk menghadapi gempuran pasukan 

Bulan Sabit. Seluruh kekuatan dari penjuru kerajaan diminta 

untuk segera bergabung dengan pasukan induk yang telah 

bergerak menuju Bucharest. Mereka menabuh genderang 

sepanjang perjalanan untuk menunjukkan keperkasaan dengan 

membawa salib suci sebagai energi perlawanan.

Pada situasi yang semakin memanas ini Dracula sebagai 

bagian dari sekutu pasukan Salib mendapatkan tugas untuk 

menggempur kekuatan Turki Ottoman di sekitar Sungai 

Danube. Kekuatannya memang telah banyak berkurang, 

tapi sebagai sekutu Kerajaan Honggaria dia harus setia kalau 

tidak ingin hilang kekuasaannya. Sadar bahwa ini mungkin 

pertempuran terakhir kali baginya maka sebelum berangkat 

dia menitipkan anak dan istrinya di Transylvania. Pada pejabat 

setempat dia berpesan agar keluarganya dilindungi jika dia 

mati di medan pertempuran. 

Pada awal Desember 1476 M, Dracula ke luar dari pintu 

gerbang Tirgoviste dengan pasukan yang sangat kecil. Tidak 

ada genderang perang yang ditabuh. Tidak ada teriak rakyat 

yang memberikan semangat. Warga kota seolah tak peduli 

dengan peperangan yang terjadi.

Dracula dan pasukannya bergerak menelusuri Sungai 

Dimbovita dengan tujuan utama Danau Snagov. Perjalanan 

mereka tidak mudah sebab  harus melintasi hutan lebat dan 

rawa-rawa ganas sumber penyakit. Agar bisa memangkas 

waktu perjalanan mereka hanya berhenti untuk makan. Bila 

malam menjelang mereka bergerak bagaikan pasukan siluman 

di antara pepohonan besar dan kecil. Bila pagi menjelang 

mereka tampak laksana makhluk pucat kekurangan darah. 

Dan, derap kuda mereka seperti suara langkah malaikat maut.


sesudah  kurang lebih 15 hari melintasi hutan dan rawa 

akhirnya Dracula dan pasukannya sampai juga di Danau 

Snagov. Kabut masih menyelimuti tempat itu saat  mereka 

sampai—persis beberapa hari sebelum hari Natal. Burung-

burung yang kedinginan masih enggan berkicau. Pun, 

ranting-ranting masih enggan menari menyambut pagi. Tapi 

walaupun seolah kehidupan masih enggan bergerak pasukan 

Dracula harus memulai pertempuran. Rupanya pasukan Turki 

Ottoman telah menyambut kedatangan mereka di hutan Vla-

sia; sebuah hutan yang tidak jauh dari Danau Snagov.

Sunyi pagi pun terusik. Suara-suara teriakan menyobek 

pagi yang muram. Dan, pertempuran sengit pun terjadi. Pa-

sukan Dracula yang kalah dalam jumlah berperang seperti 

kesetanan. Mereka menebas ke segala arah mencari mangsa 

dan menumpahkan darah. Dracula sendiri juga tak kalah 

kesetanannya. Dia menerjang musuh yang ada di dekatnya 

tanpa memberikan ampun. Pedang kecil miliknya beberapa 

kali melesak ke tubuh musuhnya. Erang sekarat, jerit kesaki-

tan dan teriakan untuk membinasakan musuh membahana di 

sekitar Danau Snagov.

saat  matahari mulai naik dan menyapu kabut di Danau 

Snagov, korban yang bergelimpangan mulai terlihat jelas. 

Di antara mereka ada yang terbelah kepalanya, terpotong 

tangan atau kakinya dan terburai ususnya. Sebagian dari 

korban-korban itu sudah menjadi onggokan bangkai yang tak 

mampu bergerak lagi. Sementara itu, yang masih hidup tapi 

mengalami luka berat mencoba menepi agar tidak terinjak 

kuda atau terkena lemparan tombak yang nyasar. 

Darah berceceran di mana-mana. Rerumputan telah 

berubah menjadi merah tersaput darah. Percikan-percikan 

darah yang lain membentuk noda pada kulit pohon dan baju 

prajurit. Bau anyir pun menyebar ke segala penjuru bersamaan 

dengan angin pagi yang berhembus. Kesejukan udara pagi telah 

sirna digantikan udara kematian.

Di tengah medan pertempuran Dracula semakin terpo-

jok. Seberapa pun besar kekuatannya dia tak akan sanggup 

melawan pasukan Turki Ottoman yang jumlahnya tiga kali 

lipat lebih besar. Dalam kondisi ini tebasan-tebasan pedang 

Dracula bukan lagi tebasan prajurit yang ingin membinasakan 

musuhnya, tapi tebasan orang yang putus asa; tebasan yang 

mudah di baca. Dia hanya bergerak ke sana-kemari tanpa 

menimbulkan korban yang berarti.

Akhirnya, Dracula menjemput ajalnya di tepi Danau 

Snagov.

Misteri Kematian Dracula

Ada banyak pendapat yang berkembang tentang sebab-

sebab kematian Dracula. Ada saksi mata yang melihat Dracula 

terbunuh oleh prajuritnya sendiri. Di antara prajurit-prajurit 

Dracula rupanya ada yang menjadi pembunuh bayaran para 

tuan tanah yang membenci penguasa Wallachia ini . 

saat  melihat Dracula semakin terdesak mereka memper-

gunakan kesempatan emas ini  untuk menikam Dracula 

hingga mati. Pendapat ini didasarkan pada kenyataan bahwa 

Dracula memiliki banyak musuh selama hidupnya. Musuh-

musuh ini  yang telah begitu dendam pada Dracula selalu 

mencari celah untuk membinasakannya. 

Pendapat yang lain mengatakan bahwa Dracula terbunuh 

oleh prajurit Turki Ottoman yang menyamar menjadi pelay-

an. Pada saat Dracula sedang istirahat di tendanya pelayan 


ini  masuk dan kemudian menikamnya. sebab  tidak 

mengira akan mendapatkan serangan yang mendadak Dracula 

tidak bisa menghindar dan akhirnya mati di dalam tendanya. 

Analisa ini berdasar  kenyataan bahwa Dracula merupakan 

salah satu musuh Turki yang paling sulit ditaklukkan. Oleh 

sebab  itu, Sultan Mehmed II membentuk unit khusus yang 

dikenal dengan Yanisari. Unit ini terdiri dari pasukan-pasu-

kan yang sangat terlatih dengan salah satu tugas menangkap 

Dracula hidup atau mati. Mereka kemudian mencari siasat 

untuk menjalankan operasi rahasia itu, yaitu menyusupkan 

salah satu anggota Yanisari menjadi pelayan Dracula. sebab  

bukan prajurit biasa maka dia bisa menghadapi pertarungan 

satu lawan satu melawan Dracula di dalam tenda hingga akh-

irnya bisa membunuh si Penyula.

Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa Dracula 

terbunuh sebab  prajuritnya salah paham. Pada saat pertem-

puran semakin memanas Dracula berusaha menyamar menjadi 

prajurit Turki Ottoman. Penyamaran ini tidak diketahui oleh 

prajuritnya. Akibatnya, prajurit Wallachia mengira Dracula 

yaitu  prajurit Turki Ottoman sehingga mereka membunuh-

nya. Selama beberapa pertempuran Dracula memang sering 

menyamar. Cara ini dia pakai untuk bisa masuk ke tenda 

komandan pasukan musuh.

Sumber lain mengatakan bahwa Dracula dibunuh oleh 

para pengawalnya yang berasal dari Moldavian. Para penga-

wal ini kecewa sebab  kekalahan yang diderita oleh pasukan 

Dracula. 

Dari berbagai pendapat yang berkembang seputar ter-

bunuhnya Dracula, walaupun memiliki perbedaan tentang 

bagaimana Dracula terbunuh tapi memiliki satu kesamaan. 

Yaitu, semua pendapat ini  setuju bahwa kepala Dracula 


dipenggal dan kemudian dibawa ke Konstantinopel sebagai 

bukti bahwa si Penyula telah terbunuh. Mereka juga ber-

sepakat sesudah  di Konstantinopel kepala ini  dipancang 

di tengah alun-alun dan dipertujukkan pada rakyat Turki.

Di manakah kemudian kepala Dracula berada?

Ada berbagai pendapat tentang kepala Dracula ini. Ada 

yang mengatakan bahwa sesudah  dipancang di alun-alun kepala 

Dracula dibuang ke sungai. Hal ini mengacu pada kebiasaan 

kerajaan Turki Ottoman yang akan membuang kepala mu-

suhnya ke sungai begitu selesai dipertontonkan pada rakyat.

Pendapat yang lain mengatakan bahwa kepala Dracula 

diselamatkan oleh para biarawan dari biara Snagov. Para bi-

arawan ini berjalan menuju Konstantinopel untuk mengambil 

kepala Dracula. saat  mereka sampai ke Konstantinopel 

kepala Dracula sudah akan dibuang ke sungai. Mendengar 

berita itu mereka bergegas mencari prajurit itu yang membawa 

kepala ini  dan akhirnya bertemu di tengah jalan. Para 

biarawan ini  menyogok prajurit ini  agar bersedia 

memberikan kepala Dracula. Melihat banyaknya uang yang 

ada di hadapannya si prajurit menyerahkan kepala Dracula ke-

pada para biarawan. Sejak saat itu keberadaan kepala Dracula 

tidak jelas lagi.

 

Misteri Kuburan Dracula

Mayat Dracula ditemukan di rawa dekat Danau Snagov 

oleh para biarawan Snagov. Sesuai dengan permintaannya 

maka Dracula kemudian dikuburkan di Biara Snagov.

Letak Biara Snagov memang unik. Di tengah-tengah Da-

nau Snagov terdapat pulau kecil dengan hutan kecil merimbun 


hijau. Di pulau inilah Biara Snagov berada. 

Di lingkungan Biara Snagov terdapat gereja yang tidak be-

gitu besar. Gereja ini  merupakan tempat favorit Dracula 

semasa masih hidupnya. Oleh sebab  itu, dia ingin dikuburkan 

di dalamnya. Mungkin sesudah  bergelimang kekejaman dalam 

sepanjang hidupnya dia ingin hidup tenang dalam alam kema-

tian, sebab  gereja Snagov memang sangat tenang, jauh dari 

hiruk-pikuk kehidupan masyarakat.

Gambar 11: Gereja Snagov. Tempat mayat Dracula dikubur-

kan

Para sejarawan mencatat Dracula akhirnya memang 

dikuburkan di dalam gereja ini , persisnya di depan 

altar. Bertahun-tahun orang memercayai catatan para sejar-

awan ini . Hingga sampai akhirnya saat  pada tahun 

1931-1932 M seorang arkeolog Rumania memperoleh hasil 

yang mencengangkan tentang kuburan Dracula. Arkeolog 


ini  bernama Dinu Rosetti. Atas permintaan Akademi 

Rumania dia menggali kuburan Dracula guna menemukan 

mayat si Penyula itu. 

Sesuai catatan para sejarawan, Dinu Rosetti menggali 

kuburan yang ada di depan altar. Memang di depan altar dia 

menemukan liang yang mirip dengan kuburan tapi secara 

mengejutkan di dalamnya tidak ada mayatnya. Kuburan itu 

kosong.

Menurut legenda yang berkembang di Rumania, Dracula 

tidak dikuburkan di depan altar melainkan di dekat pintu 

masuk. Atas dasar legenda ini  Dinu Rosetti mencoba 

melakukan penggalian pada tempat yang dimaksudkan oleh 

legenda. Ternyata tempat yang disebutkan oleh legenda terse-

but terdapat kuburan. Di dalamnya terdapat mayat seorang 

laki-laki dengan memakai baju bangsawan tempo dulu. Pada 

jari kerangka mayat ini  ditemukan sebuah cincin. Namun 

anehnya kepala kerangka ini  masih utuh.

Dinu Rosetti mengumumkan bahwa mayat yang ditemu-

kannya itu yaitu  mayat Dracula. Dia menjelaskan bahwa 

Dracula ternyata tidak dikuburkan di depan altar melainkan 

di dekat pintu masuk. Namun temuannya ini mendapatkan 

penentangan dari berbagai pihak. Pihak penentang rata-rata 

menyampaikan keberatannya berdasar  fakta bahwa mayat 

Dracula sudah dipenggal kepalanya, sedangkan mayat yang 

ditemukan Dinu Rosetti masih lengkap kepalanya. Dengan 

fakta ini mereka mengatakan bahwa mayat yang ditemukan 

Dinu Rosetti bukan mayat Dracula melainkan mayat bang-

sawan dari Wallachia atau tempat lain.

Salah satu penentang penemuan Dinu Rosetti yaitu  

Constantin Gurescu, seorang sejarawan terkenal pada waktu 

itu. Menurutnya pendapat Dinu Rosetti tidak dapat dianggap 


sebagai kebenaran sebab  lemah secara ilmiah. Lebih lanjut 

dia berpendapat bahwa mayat Dracula memang benar-benar 

dimakamkan di depan altar Gereja Snagov. Tempat ini  

menurutnya memiliki kelembaban yang tinggi. Adanya 

kelembaban yang tinggi itu menyebabkan sisa tubuh dan 

rangka yang dikuburkan akan mengalami dekomposisi yang 

sangat cepat. Akibatnya, mayat Dracula mengalami pelapukan 

yang cepat dan kemudian bersatu dengan tanah. Inilah yang 

menyebabkan mayat Dracula tidak bisa ditemukan.

Selain pendapat di atas ada pula pendapat yang men-

gatakan bahwa mayat Dracula memang dikuburkan di depan 

altar Gereja Snagov. Namun beberapa waktu sesudah  diku-

burkan mayat ini  digali kembali oleh para biarawan 

dan kemudian dipindahkan ke tempat lain. Tujuannya agar 

mayat Dracula tidak diambil oleh pasukan Turki Ottoman. 

Selain penjelasan Constantin Gurescu pendapat ini yaitu  logis 

melihat konteks saat  itu berada dalam masa Perang Salib. 

Bagaimana pun kekejaman Dracula, dia telah dianggap sebagai 

salah satu pahlawan Perang Salib sebab  telah begitu gigih 

membendung gempuran pasukan Turki Ottoman. Sebagai 

pahlawan di jalan Kristus para biarawan Snagov mempunyai 

kewajiban untuk menyelamatkan jasad sang pahlawan dari 

gangguan musuh.

Pendapat yang hampir serupa tapi mempunyai penjela-

san yang berbeda mengatakan bahwa mayat Dracula sesudah  

disemayamkan di Gereja Snagov kemudian diambil lagi oleh 

para biarawan. Mayat ini  dipotong-potong dan bagian-ba-

giannya kemudian disimpan di gereja-gereja Eropa. Pendapat 

ini berdasar  kebiasaan agama Katolik yang menyimpan 

relik-relik para santo di beberapa tempat.


Sedangkan pendapat yang lain, yang bertolak belakang 

dengan pendapat yang umum, menyatakan mayat Dracula di-

kuburkan di Konstantinopel. Menurut pendapat ini pada saat 

pasukan Turki Ottoman kembali ke Konstantinopel mereka 

tidak hanya membawa kepala Dracula namun  juga badannya. 

Anggota tubuh Dracula ini  kemudian dikuburkan di 

suatu tempat di Konstantinopel. Namun bukti-bukti yang 

membenarkan pendapat ini tidak pernah ada hingga kini.

Begitulah misteri tentang jasad Dracula. Berbagai pendapat 

berusaha memberikan penjelasan perihal lenyapnya jasad 

Dracula. Di antara penjelasan-penjelasan ini  ada yang 

ilmiah namun banyak juga yang telah bercampur dengan 

mitos. Ini menunjukkan bahwa Dracula merupakan sosok 

yang kontroversial saat hidup maupun sesudah kematiannya.

LO

C

AL

H

O

LI

C

157

Mitos Seputar                                     

Kematian Dracula

SEBUAH mitos tidak bisa dipisahkan dari lingkungan di 

mana masyarakat berada, sebab  kesadaran seseorang diten-

tukan oleh tempat dia berada. Oleh sebab nya mitos di satu 

tempat  akan berbeda dengan tempat lainnya. 

Sebagai bukti bahwa mitos tentang Dracula tidak bisa 

dilepaskan dari lingkungan masyarakat yaitu  dengan mencer-

mati sosok Dracula. Sebagaimana dipercaya oleh mitos terse-

but bahwa Dracula yang telah berubah menjadi vampir akan 

tampak sebagaimana pangeran; baik wajah maupun pakaian-

nya. Mengapa kemunculan Dracula seperti itu? Sudah umum 

di negara-negara Barat yang menganut agama Katolik bahwa 

mayat seseorang yang mati akan dikuburkan dengan pakaian 

lengkap; memakai jas, dasi dan sarung tangan sebagaimana 

saat  mereka masih hidup. Dari sinilah gambaran tentang 

sosok Dracula diperoleh oleh masyarakat di daerah pedesaan. 

Seandainya mitos tentang Dracula muncul di daerah yang 

mayoritas umatnya beragama Islam, yang memiliki cara pen-

guburan yang lain—dalam Islam siapapun yang mati hanya 

akan dibungkus dengan kain kafan—bisa jadi sosok Dracula 


akan seperti hantu pocong, sebab  model inilah yang dikenal 

oleh masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa setiap tempat 

mempunyai cara sendiri dalam menampilkan sosok-sosok 

yang menakutkan.

Keunikan dari mitos yaitu  umurnya yang panjang. Ini 

terjadi sebab  sebagian besar mitos berupa cerita tutur yang 

diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain, sehingga 

bisa menembus batas ruang dan waktu. Maka tak mengher-

ankan kalau sebuah mitos bisa berumur ratusan ribu tahun. 

Begitu pula mitos tentang Dracula.

Gambar 12: Kastil tempat Dracula tinggal. 

Namun para sejarawan meragukan kalau Dracula pernah ting-

gal di kastil ini. Keberadaan kastil ini   merupakan seba-

gian dari mitos tentang Dracula.

Awalanya mitos tentang Dracula berkembang di kalangan 

petani Transylvania. Mereka memercayai bahwa  Dracula ti-

dak pernah mati walaupun kepalanya telah dipenggal. Hal ini 

berdasar  kepercayaan masyarakat bahwa Dracula yaitu  

seorang pemuja setan. Dengan meminum darah korban-


korbannya sebagai persembahan dari setan maka dia akan 

menjadi sosok yang abadi. Dia akan terus bergentayangan di 

dunia ini untuk mengisap darah manusia. sebab  sifat mitos 

yang disampaikan antar generasi maka tidaklah mengherankan 

kalau hingga saat ini mitos tentang keabadian Dracula masih 

dipercaya oleh kalangan petani di Transylvania dan sekitarnya. 

Inilah yang kemudian memunculkan tokoh vampir—makhluk 

pengisap darah manusia.

Dalam perkembangan selanjutnya vampir yang meru-

pakan reinkarnasi dari Dracula dikabarkan telah menjadi 

wabah yang mengerikan. Mulanya muncul dikawasan Balkan 

kemudian menyebar ke Jerman, Italia, Perancis, Inggris dan 

Spanyol. Pada leher para korban yang terkenal wabah ini 

konon kabarnya ditemukan dua titik hitam seperti bekas gigi-

tan. Dua titik hitam ini  dipercaya sebagai bekas gigitan 

Dracula yang menghisap darah korbannya.

Sebuah kebohongan jika  diceritakan secara berulang-

ulang maka kelak akan menjadi kebenaran. Mungkin begitulah 

mitos tentang Dracula. Awalnya hal ini  hanya keper-

cayaan penduduk desa, tapi sebab  terus-menerus diceritakan 

disertai bumbu-bumbu yang seolah ilmiah akhirnya dianggap 

suatu kebenaran, hingga akhirnya dipercaya bahwa Dracula 

telah menjadi vampir yang haus akan darah. 

Bila ditelisik lebih mendalam timbulnya mitos ini  tak 

bisa dilepaskan dari sejarah hidup Dracula sendiri. Kekejaman 

Dracula yang selalu haus akan kematian membuat rakyat men-

ganggapnya bukan keturunan manusia melainkan keturunan 

setan. Sebagaimana dipercayai oleh masyarakat bahwa setan 

tidak akan pernah mati maka Dracula yang dianggap sebagai 

keturunan setan juga tidak akan mati.

Mitos tentang Dracula semakin mendapatkan penguatan 

saat  Bram Stoker, seorang novelis kenamaan pada abad ke-


19 menulis novel berjudul Dracula. Sejak terbitanya novel ini 

maka nama Dracula yang sebelumnya hanya dikenal sebagai 

mitos petani Transylvania diangkat kepermukaan, sehingga 

sosoknya kemudian dikenal luas oleh masyarakat Eropa. Tak 

mengherankan kalau kemudian sosok Dracula versi Bram 

Stoker inilah yang dikenal oleh masyarakat secara luas. Aki-

batnya, sosok aslinya yang lebih kejam bila dibanding Dracula 

versi Bram Stoker semakin terselimuti oleh legenda.


Perjuangan                               

Melawan Lupa

 

“Langkah pertama untuk memusnahkan sebuah bangsa 

cukup dengan menghapuskan memorinya. Hancurkan 

buku-bukunya, kebudayaannya dan sejarahnya, maka 

tak lama sesudah  itu bangsa ini  akan mulai melu-

pakan apa yang terjadi sekarang dan pada masa lampau. 

Dunia sekelilingnya bahkan akan lupa lebih cepat.”                                  

Mitos Dracula:                                          

Usaha Barat Melakukan             

Penjajahan Sejarah

SAMPAI sekarang masyarakat masih mengenal sosok 

Dracula. Hal ini bisa terjadi sebab  kisahnya terus-menerus 

direproduksi oleh Barat sehingga bisa melekat dalam kesadaran 

masyarakat modern. Salah satu bentuk reproduksi yang di-

lakukan oleh Barat yaitu  melalui film. Setidaknya ada empat 

film yang berkisah tentang Dracula, yaitu Dracula’s Daughter 

(1936 M), Son of Dracula (1943 M), Hoorof of Dracula (1958 

M), dan Nosferatu (1922 M)—yang dibuat ulang pada tahun 

1979 M. Semua film ini  kisahnya diambil dari novel 

Bram Stoker, Dracula.

Lewat film-film ini  dunia Barat berusaha agar sosok 

Dracula tetap dikenal sepanjang masa. Dan, sekaligus meman-

tapkan mitos tentang Dracula sebagai vampir penghisap darah 

manusia. Dengan cara seperti ini mereka memang sengaja 

membuat agar sosok Dracula semakin kabur terbungkus oleh 

mitos. Tujuan dari semua ini yaitu  melakukan penjajahan 

sejarah.

Usaha Barat bisa dikatakan cukup berhasil. Hal ini bisa 

dibuktikan dengan menghitung seberapa banyak orang yang 


mengetahui siapa sebenarnya Dracula. Bisa dikatakan mereka 

hanya segelintir orang. Dari sedikit yang mempunyai penge-

tahuan tentang Dracula ini  akan lebih sedikit lagi yang 

mengetahui sosok Dracula secara utuh. Mereka ini merupakan 

sejarawan langka yang sekarang mungkin jumlahnya bisa 

dihitung dengan jari tangan. Di pihak lain, sebagian besar 

masyarakat mengetahui Dracula sebagai Pangeran Kegelapan 

yang gemar menghisap darah manusia. Pemahaman masyara-

kat tentang Dracula merupakan pemahaman tentang vampir 

yang bisa berubah wujud menjadi kelelawar atau serigala, dan 

akan muncul setiap bulan purnama. 

Pemahaman tentang sosok Dracula yang sebagian besar 

didasarkan pada mitos ini  membuat masyarakat menjadi 

lupa akan sejarah si Penyula. Sejarah hidupnya yang telah 

melumuri abad pertengahan dengan darah berubah menjadi 

semacam makhluk jadian-jadian yang hidup disebuah puri 

dengan ditemani seorang putri yang cantik. Masyarakat 

menjadi lupa bahwa Dracula telah membantai 500.000 orang 

dengan cara yang amat kejam; penyulaan, pengulitan, pemak-

uan, dan bentuk penyiksaan-penyiksaan lainnya, yang belum 

pernah dilakukan manusia sebelumnya. Hal ini memang yang 

diinginkan Barat. saat  masyarakat semakin lupa terhadap 

sejarah Dracula maka sejarah kelam ini  tidak akan ter-

ungkap, dan mereka akan terbebas dari dosa masa lalu.

Selain bertujuan untuk membuat masyarakat lupa akan 

sejarah, penjajahan sejarah juga digunakan Barat sebagai usaha 

untuk menggelapkan fakta. Mereka berusaha membungkus 

sejarah kelam masa lalu lewat bingkai sejarah yang baru. Mitos 

tentang Dracula merupakan contoh dari usaha ini.

Sudah dipaparkan di muka bahwa dengan adanya mitos 

tentang Dracula sejarah kejahatannya semakin ditutupi. 


Sosoknya berubah menjadi sosok fiksi yang sangat bertolak 

belakang dari fakta sejarah. Dalam sosok fiksi ini  hanya 

dipaparkan bahwa Dracula merupakan vampir penghisap 

darah manusia. Tidak disebutkan dia melakukan penyulaan, 

pengulitan dan penyiksaan-penyiksaan lainnya. Pun, tidak 

disinggung-singgung bahwa dia telah membantai 500.000 

orang. Dengan cara demikian maka kekejamannya akan ter-

tutupi. Masyarakat pun akan semakin jauh dari kebenaran.

Akibat penggelapan fakta ini , khususnya umat 

Islam, tidak mengetahui bahwa telah terjadi pembantaian mas-

sal—yang bisa dikatagorikan holocaust yang telah dilakukan 

Dracula. Mereka tidak mengetahui bahwa 300.000 umat Islam 

telah dibantai dengan cara yang tidak beradab, ditelanjangi dan 

kemudian disula. Mereka menjadi buta akan sejarah agama 

mereka sendiri akibat terlalu lama berada dalam penjajahan 

sejarah Barat. Tak mengherankan kalau kemudian peradaban 

Islam yang pernah menjadi mercusuar dunia semakin redup 

di tengah gegap-gempitanya peradaban Barat.

Hal seperti di ataslah yang harus diwaspadai. saat  suatu 

masyarakat lupa akan sejarah maka telah hilang separuh dari 

hidupnya. Masyarakat seperti ini akan dengan mudah diom-

bang-ambingkan oleh kekuatan ekonomi-politik yang besar. 

Akibatnya, tak sadar kalau hidup mereka telah dikendalikan 

oleh kekuatan lain yang berada di luar mereka. Lebih tragisnya 

lagi mereka tak menyadari kalau sejarah hidup mereka telah 

ditentukan oleh orang lain.

Bila sebuah bangsa bisa menguasai sejarah bangsa lain 

maka akan memudahkan mereka untuk menguasai baik 

itu sumber daya alamnya maupun manusianya. Inilah yang 

dilakukan oleh negara-negara Barat terhadap negara dunia 

ketiga. saat  mereka akan masuk ke suatu negara—tentu 

saja untuk kepentingan ekonomi-politik—maka mereka akan 

berusaha menguasai sejarah negara ini . Para sejarawan 

yang pro mereka diundang untuk mengadakan suatu simpo-

sium, dan kemudian menuliskan hasilnya guna dibukukan. 

Hasil ini  kemudian mereka paksakan pada negara yang 

akan mereka jajah dengan mengatakan, “Bahwa inilah sejarah 

negerimu yang benar, maka ikutilah sejarah yang kami buat.”

Gejala melupakan sejarah itulah yang harus diwaspadai 

saat ini. Proses ini jika  dibiarkan terus-menerus akan 

menjadi kerak yang menyebabkan sebuah bangsa dan bahkan 

peradaban dunia akan lupa akan sejarahnya sendiri. Padahal, 

sebuah bangsa akan sulit maju jika  mereka tak mengenal 

masa lalu mereka sendiri. Dan, akibatnya akan menjadi bangsa 

seolah-olah merdeka tapi sebetulnya terjajah; menjadi budak 

dari bangsa lain.


Salib dan Dracula

SELAIN untuk memuluskan jalan negara-negara Barat, penja-

jahan sejarah juga bertujuan untuk menunjukkan superioritas 

mereka. Selama ini Barat memang selalu ingin menunjukkan 

bahwa merekalah bangsa paling maju, beradab dan unggul. 

Dengan pengesahan ini  pihak Barat akan berusaha 

menentukan arah peradaban dunia sesuai dengan selera dan 

kepentingan mereka. Akibatnya, peradaban ini menjadi tim-

pang sebab  hanya ditentukan oleh satu kutub. Tidak ada 

dialektika di dalamnya. 

Superioritas apa yang ingin ditunjukkan Barat dalam 

sosok Dracula?

Para sejarawan mencacat bahwa Dracula terbunuh dalam 

pertarungan yang sengit melawan prajurit Turki Ottoman 

pada tahun 1467 M. Walaupun ada silang pendapat bagaimana 

Dracula terbunuh, tapi para sejarawan sepakat bahwa kepala 

Dracula dipenggal dan kemudian dibawa ke Konstantinopel. 

Kekalahan Dracula kali ini merupakan kekalahan terbesar 

kedua sesudah  pada kekalahan pertama benteng Poenari jatuh 

ketangan pasukan Turki. Dan, sekaligus kekalahan ini men-

gakhiri riwayat si Penyula untuk selama-lamanya. Tapi, apa 

yang diciptakan Barat terhadap sejarah Dracula?


Mereka menciptakan mitos baru yang diambil dari keper-

cayaan penduduk desa. Jalan pertama yang mereka lakukan 

yaitu  membiarkan mayat Dracula tidak jelas keberadaannya. 

Mereka menebarkan desas-desus bahwa mayat Dracula telah 

bangkit dari kematian dan berubah menjadi vampir. Penduduk 

desa yang masih lugu akhirnya memercayai cerita ini , 

apalagi pada saat itu terjadi musibah yang aneh yang menimpa 

desa mereka. Musibah ini  berupa matinya hewan ternak 

sesudah  digigit oleh vampir pada lehernya—binatang semacam 

kelelawar yang hidup dari menghisap darah hewan. Dan, 

beriring dengan melajunya waktu mitos ini  akhirnya 

berkembang secara turun-temurun, dan menjadi abadilah so-

sok Dracula. Sampai kini mulai dari anak kecil sampai orang 

dewasa mengenal Dracula sebagai vampir bukan sebagai si 

Penyula. 

Lantas, apa sebenarnya yang ada di balik mitos ini ?

Barat ingin menunjukkan superioritasnya bahwa mereka 

tidak pernah terkalahkan dalam Perang Salib. Bagi Barat pa-

sukan Bulan Sabit memang berhasil merebut Konstantinopel 

tapi tidak pernah mengalahkan mereka. Sebagai super hero 

Barat mengangkat Dracula—hal yang sama dilakukan saat  

Barat menjadikan Rambo sebagai superhero perang Vietnam. 

Tokoh ini walaupun berhasil dibunuh oleh pasukan Bulan 

Sabit namun tak benar-benar mati sebab  bisa bangkit lagi. 

Bahkan saat  Dracula bangkit lagi dia menjadi sosok yang 

abadi tak bisa terkalahkan kecuali dengan salib. Dengan cara 

seperti ini Barat ingin menunjukkan superioritas mereka 

bahwa pahlawan mereka, Dracula, tak pernah bisa dikalahkan.

Lihat lebih lanjut bagaimana superioritas itu ingin ditun-

jukkan. Dalam mitos mereka, Dracula yang telah berubah 

menjadi vampir. Vampir ini akan menghisap darah manusia 


agar bisa hidup abadi. Seseorang yang digigit vampir sebanyak 

tiga kali akan menjadi vampir juga. Sehingga jumlah mereka 

terus bertambah. Dan, teror pun semakin meluas. Tak peduli 

anak kecil sampai orang dewasa akan menjadi korban mereka. 

Makhluk-makhluk haus darah ini akan bergentayangan di 

malam hari. Mereka akan semakin ganas saat  bulan purnama 

telah tiba. Wujudnya akan berubah menjadi kelelawar, serigala 

atau anjing yang membuat kedatangan mereka tak diketahui. 

Bila siang hari mereka akan tertidur dalam peti mati. Tempat 

mereka berada dalam kastil tua, dan biasanya terletak di bawah 

kapel yang telah rusak. berdasar  mitos, jika seseorang mati 

sebab  gigitan vampir maka jantungnya harus diambil dan 

kepalanya dipenggal. Tujuannya agar si korban tidak menjadi 

vampir. Pemenggalan dan pengambilan jantung harus dilaku-

kan pada malam hari sebelum dikuburkan. Dan, agar Dracula 

tidak mendatangi  mayat ini  maka sebelum penguburan 

peti matinya harus ditaburi bawang atau bunga bawang dan 

di atas bibirnya diberi salib.

Vampir tidak bisa dibunuh oleh senjata tajam ataupun 

senjata api. Mereka kebal terhadap dua bentuk senjata       terse-

but. Dan, kesulitan lain dalam membunuh vampir yaitu  

kemampuan vampir berubah wujud sehingga si pemburu 

sering terkecoh. Hanya ada dua hal yang bisa mengalahkan-

nya,  salib dan bawang putih. Dracula yang telah berubah 

menjadi vampir ini  akan ketakutan dan bahkan dapat 

ditundukkan jika  tepat pada jatungnya dipancangkan kayu 

salib. Oleh sebab  itu, saat  berpergian pada malam hari 

masyarakat dianjurkan membawa bawang putih dan memakai 

salib yang dikalungkan di leher. 

Bila ditelisik lebih mendalam mitos tentang Dracula terse-

but kelihatan sekali muatan politiknya. Salib merupakan sim-

bol utama Perang Salib. Ke mana pun pasukan Salib bergerak 


mereka selalu membawa salib sebagai pegangan bahwa mereka 

sedang melakukan perang suci, dan sekaligus sebagai pelindung 

mereka. Dalam hubungannya dengan mitos Dracula, salib 

kembali dipakai. Salib dipakai sebagai simbol superioritas 

Barat. Mereka ingin menunjukkan hanya dengan saliblah 

Dracula bisa dibunuh; hanya dengan saliblah masyarakat akan 

terlindungi dari teror vampir yang haus akan darah.

Sebagai simbol suci Barat, salib telah diangkat sebagai 

semacam penolak bala untuk mengusir kejahatan Dracula. 

Secara langsung sebetulnya mereka ingin mengatakan pada 

dunia bahwa pasukan Bulan Sabit tidak pernah berhasil 

membunuh Dracula. Hanya merekalah yang dengan meng-

gunakan salib dapat mengakhiri kehidupan Dracula. Inilah 

cara Barat menunjukkan superioritas mereka pada dunia. Se-

cara langsung mereka ingin berkata pada dunia, “Inilah kami 

kekuatan yang mampu melumpuhkan Dracula dengan salib 

kami. Memang pasukan Sultan Mehmed II berhasil memeng-

gal kepala Dracula tapi mereka tak berhasil membunuhnya. 

Kamilah yang berhasil membunuhnya dengan menancapkan 

pancang salib di dada Dracula. Hanya kamilah yang mampu 

membuat Dracula tak bangkit lagi.”

Begitulah usaha Barat untuk menguasai sejarah. Mereka 

mampu menggunakan apa saja agar kesadaran sejarah dunia 

dapat mereka kuasai. Apakah itu relik-relik suci, kepercayaan 

masyarakat, takhayul, semuanya bisa mereka pakai untuk 

menciptakan sejarah baru yang seolah-olah memang benar. 

Cara mereka yang begitu halus menyebabkan banyak orang 

tak menyadarinya. Masyarakat tak menyadari bahwa mereka 

telah terperangkap dalam pemahaman sejarah yang diciptakan 

Barat.


Saat ini usaha untuk menciptakan superioritas Barat terus 

berlanjut. Dengan dipimpin oleh Amerika Serikat mereka 

terus-menerus berusaha agar mereka tetap menjadi pemimpin 

dunia. Tujuannya agar bisa menguasai bangsa-bangsa lain. Fak-

tanya bisa dilihat jargon-jargon mereka untuk menciptakan 

tatanan dunia yang aman. Kemudian dengan jargon ini  

mereka akan menyerang negara-negara lain yang tidak sepa-

ham dengan mereka. Alasan yang dipakai yaitu  sebab  negara 

ini  melindungi tokoh-tokoh teroris. Maka diseranglah 

Irak dan Afghanistan. Dikuasai negara ini . Mereka cip-

takan sejarah baru bahwa negara ini  melindungi teroris 

dan anti demokrasi. Inilah gaya penjajahan model baru.

Sekarang Barat tak perlu lagi menguasai suatu negara 

secara fisik sebagaimana penjajahan pada abad ke VII sampai 

XX. Mereka cukup menempatkan boneka mereka di suatu 

negara untuk menjamin kepentingan ekonomi-politik mereka. 

Mereka mempunyai boneka di Irak dan Afghanistan sehingga 

bisa menguras minyak dari negara ini . Mereka juga 

mempunyai boneka di Indonesia agar bisa mengeruk emas di 

Papua. Mereka merupakan “anak-anak manis” yang melayani 

tuan-tuan Barat ini . 


Pahlawan yang Dilupakan

TUJUAN lain dari penjajahan sejarah yaitu  menghilangkan 

pahlawan dari pihak musuh. Sebagai kekuatan superior Barat 

menginginkan hanya merekalah yang memiliki pahlawan atau 

super hero. Dan, bila ada negara lain mempunyai super hero 

yang pernah mengalahkan Barat, maka mereka akan berusaha 

agar super hero ini  dihapus dalam sejarah. Hal ini sangat 

jelas dalam mitos tentang Dracula.

Dalam mitos mengenai Dracula sosok Sultan Mehmed II 

dihilangkan sama sekali. Memang disebutkan Dracula pernah 

berperang melawan Kerajaan Turki, tapi Sultan Mehmed II 

tidak disebut sama sekali. Sang Sultan ini  seolah lenyap 

ditelan oleh zaman. Padahal, sejarah resmi mencacat peranan 

sang Sultan dalam mengakhiri kejahatan yang ditimbulkan 

oleh Dracula. Dua kali sang Sultan menggempur Dracula 

secara besar-besar, yaitu pada tahun 1462 M dan 1476 M. 

Serangan pertama menyebabkan Dracula kehilangan tahta 

Wallachia dan serangan kedua membuat Dracula terbunuh. 

Namun, semua fakta ini  telah dihapus oleh Barat.

Sosok Sultan Mehmed II memang sangat dibenci Barat. 

Sultan Mehmed II yang telah berhasil merebut Konstantinopel 

telah membuat mereka kehilangan muka. Barat yang memang 

mengagung-agungkan diri sebagai kekuatan utama dunia yang 

mewarisi kebudayaan Yunani dan Romawi, sangat terpukul 

dengan kejatuhan Konstantinopel. Bagi mereka kota ini  

merupakan benteng utama Kekaisaran Romawi Timur, dan 

sekaligus salah satu pusat gereja Katolik. Bagi mereka daerah 

lain boleh jatuh tapi Konstantinopel harus tetap menjadi mi-

lik mereka sebab  ia merupakan kota suci selain Yerussalem 

dan Roma. Namun apa daya, mereka tak mampu menahan 

gempuran pasukan Bulan Sabit. Benteng Konstantinopel 

yang kokoh tidak mampu menghadapi hujan meriam hingga 

akhirnya jatuh.

Dengan jatuhnya Konstantinopel berarti Barat harus 

mengakui kekalahan ini . Padahal bagi mereka pasukan 

Bulan Sabit merupakan pasukan bar-bar yang terbelakang dan 

tidak berbudaya. Oleh sebab  itu, begitu Barat benar-benar 

kalah dan harus mengakui kekalahan itu, mereka tentu sangat 

malu; bagaimana bangsa yang besar harus menyerah pada 

bangsa bar-bar. (Tentang siapa itu Sultan Mehmed II baca 

box: Sultan Mehmed II: Sang Penakluk Dracula).  

Sultan Mehmed II:

Sang Penakluk Dracula

  

  Sultan Mehmed II (30 Maret 1432 - 3 Mei 1481 M) 

terkenal dengan julukan al Fatih (sang Penakluk). Dia diang-

kat menjadi sultan pada usia sangat muda pada tahun 1444 

M. Masa pemerintahan pertamanya ini tidak berlangsung 

lama, hanya dua tahun. Sekitar lima tahun kemudian, pada 

saat usianya 24 tahun, dia memerintah lagi hingga tahun             

1481 M.


  Sejak dalam kandungan, Sultan Mehmed II sudah 

diramalkan akan menjadi orang yang terkenal. Syeikh Sy-

amsuddin al Wali, seorang ulama ternama pada zamannya 

berkata pada Sultan Murad (ayah Sultan Mehmed II), “Wa-

hai Sultan Murad, bukan Tuanku yang akan membebaskan 

kota Konstantinopel, namun  anak yang dalam buaian itu.” 

  Sultan Mehmed II sejak kecil dididik dengan seder-

hana. Seperti sebagian besar anak bangsawan lainnya dia 

memelajari segala macam ilmu pengetahuan, agama dan 

kemiliteran. Semua itu berpengaruh saat  dia menginjak 

dewasa. saat  dewasa, Sultan Mehmed II tumbuh menjadi 

pemuda yang tampan dengan bentuk badan tegap, kuat dan 

tinggi. Pipinya putih kemerah-merahan. 

  Nama Sultan Mehmed II melambung saat  ia berhasil 

menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 M. Inilah 

yang membuat dirinya mendapat julukan al Fatih (Sang 

Penakluk).  

  Perang Konstantinopel merupakan perang besar 

menjelang akhir Perang Salib. Perang ini berlangsung 

sejak bulan April hingga Mei 1453 M. Pasukan Turki 

yang dipimpin oleh Sultan Mehmed II dilengkapi senjata              

modern, yaitu meriam dengan panjang 28 kaki, kaliber 8 

inci. Senjata inilah yang menghujani Konstantinopel selama 

beberapa minggu.

  Sejarah mencatat bahwa selain pemberani Sultan 

Mehmed II terkenal sebab  kecerdikannya. Dia menge-

tahui legenda lama Konstantinopel yang sudah mengakar 

dikalangan penduduk bahwa kota ini  tak akan jatuh 

saat  bulan purnama. Maka dengan sabar Sultan Mehmed 

II menunggu saat bulan purnama berlalu. saat  bulan su-

dah berbentuk sabit, Sultan Mehmed II mulai melakukan 

penyerangan hingga Konstantinopel jatuh pada 22 Mei              

1453 M.

  Bagi Sultan Mehmed II penaklukan Konstantinopel 

merupakan hal yang penting. Dengan jatuhnya Konstan-


tinopel berarti jatuh pula benteng pasukan Salib di Eropa 

Timur. Hal ini akan membuat agama Islam dengan mudah 

tersebar ke Eropa sesudah  selama berabad-abad dihambat 

oleh Kekaisaran Bizantium, dan sekaligus  untuk menandai 

kejayaan Kerajaan Turki Ottoman.

  Selama memerintah, Sultan Mehmed II dikenal seb-

agai sultan yang rendah hati. Dia menghormati pemeluk 

agama lain untuk tetap menjalankan ibadah sesuai dengan 

kepercayaan lain. Tempat-tempat ibadah yang rusak akibat 

peperangan dia perbaiki.

  Selain dikenal sebagai sultan yang tinggi toleransinya,     

Sultan Mehmed II juga terkenal kecintaannya pada ilmu 

pengetahuan. Semasa memerintah dia mendirikan beberpa 

universitas. Dia juga mengundang para ilmuwan dari Italia 

dan Yunani untuk berdiskusi. Pada ilmuwan-ilmuwan terse-

but dia meminta agar karya-karya latin diterjemahkan ke 

dalam bahasa Turki. Dan, dia juga meminta pada Gentile 

Bellini dari Venesia untuk melukis dirinya. 

  Dalam bidang pemerintahan Sultan Mehmed II juga 

bisa dikatakan sebagai pembaharu. Dia sultan pertama yang 

mengkodifikasikan hukum kriminal dan konstitusi jauh 

sebelum Sultan Sulaiman. 

  Satu hal lagi yang selama ini belum dikenal yaitu  

peranan Sultan Mehmed II dalam mengakhiri kekejaman 

Dracula, seorang Pangeran dari Wallachia yang terkenal 

sebab  kekejamannya. Dua kali dia mengerahkan pasukan-

nya untuk menangkap Dracula. Pada serangan pertama 

Dracula bisa melarikan diri, tapi pada serangan kedua 

akhirnya Dracula terbunuh tidak jauh dari Danau Snagov. 

Keberhasilan Sultan Mehmed II dalam membunuh Dracula 

inilah yang digelapkan oleh Barat. Mereka—Barat—beru-

saha agar sosok Sultan Mehmed II semakin hilang. Maka 

saat  sosok Dracula diangkat oleh Barat sosok Sultan 

Mehmed II tidak disebut-sebut. 


Gambar 13: Lukisan Sultan Mehmed II 

karya Gentile Bellini

  

Pukulan akibat jatuhnya Konstantinopel masih  terasa 

hingga kini. Barat tetap tak bisa menerima kejatuhan itu. Tak 

mengherankan kalau seorang Paus umat Katolik yang meme-

gang tahta suci Roma saat ini masih mengingat peristiwa itu 

sebagai sejarah kelam umat manusia.

Kebencian ini  mereka tumpahkan dengan berusaha 

menghapus Sultan Mehmed II dalam sejarah. Harus diakui 

usaha ini cukup berhasil. Sebagai buktinya yaitu  hanya 

sedikit orang yang mengenal sosoknya, bahkan umat Islam 

sekalipun. Bila ditanya tentang Sultan Mehmed II, umat 

Islam akan menggelengkan kepala, tapi saat  ditanya tentang 

Dracula mereka bisa memberikan penjelasan yang panjang 

lebar—walaupun penjelasan mereka tentang Dracula juga salah 

sebab  hanya didasari pada mitos yang dibuat Barat. 


Seiring dengan waktu nama sang Sultan semakin teng-

gelam bersamaan dengan semakin melambungnya nama 

Dracula. Hanya segelintir sejarawan yang mengetahui sos-

oknya, dan rata-rata mereka merupakan sejarawan yang sudah 

tua. Dengan kenyataan seperti ini bisa dikatakan tujuan Barat 

untuk menghilangkan pahlawan Bulan Sabit ini  sudah 

mendekati keberhasilan. jika  hal ini tidak dibendung maka 

bisa dipastikan nama Sultan Mehmed II akan benar-benar 

menghilang dari sejarah.

Suatu negara yang tidak mengenal pahlawannya maka 

tidak akan bangga terhadap bangsanya sendiri. Bangsa seperti 

ini akan memilih berkiblat pada bangsa lain yang dianggapnya 

lebih superior sebab  mereka mempunyai banyak pahlawan. 

Akibatnya, rasa percaya diri pun menjadi goyah. Gejala seperti 

ini sudah mengemuka saat ini. Hal ini bisa dilihat dari pemu-

jaan secara berlebihan terhadap kebudayaan Barat. Mereka 

menganggap yang serba Baratlah yang terbaik, paling modern 

dan maju. Oleh sebab  itu, mereka tak segan mengikuti apa 

yang serba Barat ini —mulai cara mandi, jalan, makan, 

tidur, berpakaian sampai cara mengatur pemerintahan; semua 

yang mereka pakai dari ujung rambut sampai ujung kaki 

berbau Barat.

Kondisi seperti di ataslah yang diinginkan Barat. saat  

sebuah negara tidak bangga lagi pada bangsanya sendiri maka 

akan dengan mudah diarahkan. Kesempatan ini kemudian 

digunakan Barat untuk memasukkan nilai-nilai kehidupan 

mereka. saat  nilai-nilai ini  telah masuk maka mereka 

dengan mudah menentukan selera sebuah bangsa. Sehingga, 

saat  produk mereka masuk ke negara ini , masyara-

katnya akan menerima dengan senang hati. Inilah bentuk 


penjajahan gaya baru. Ia begitu halus. Tak ada perang.Tak 

ada penguasaan wilayah. Tapi tanpa terasa kekayaan sebuah 

negara tersedot habis, dan otak masyarakatnya telah dicuci.

Akhirnya, perjuangan melawan lupa merupakan perjuan-

gan suatu bangsa untuk tidak lupa pada peradaban dirinya 

sendiri. Ia tidak hanya membutuhkan kemauan, tapi juga 

keberanian untuk menembus ceruk-ceruk yang selama ini 

haram untuk dimasuki. Pun, ia membutuhkan ketekunan 

untuk mengeja setiap tanda, mengorek setiap makna untuk 

kemudian menyimpulkan kebenaran. 

Pada akhirnya, perjuangan melawan lupa merupakan 

perjuangan manusia melawan dirinya sendiri.

***


Penutup

SEJARAH Dracula merupakan cermin dari masa lalu untuk 

dijadikan pelajaran pada masa kini. Kisah hidupnya menun-

jukkan bahwa sebuah tiran dalam bentuk apapun merupakan 

pemerkosaan terhadap nilai-nilai kemanusian. Oleh sebab , 

harus ada kekuatan yang melawan agar nilai kemanusian tidak 

tercemari oleh genangan darah korban si tiran. Memang tidak 

mudah, tapi tetap harus ada yang memulai.

Dracula memang telah mati lebih dari 500 tahun yang 

lalu, tapi sesudah  itu betapa banyak manusia yang mengikuti 

jejak langkahnya. Sejarah mencatat nama-nama sepe

rti Hilter, 

Stalin, Pol Pot, Soeharto hingga George W. Bush. Mereka me-

mang bukan keturunan Dracula tapi mereka gemar menump-

ahkan darah seperti halnya Dracula. Atau bisa dikatakan, 

mereka memang bukan anak fisik Dracula melainkan anak 

ruhani Dracula. Adanya kenyataan ini menunjukkan bahwa 

melawan tiran itu tidak ada ujungnya, sebab  pada setiap za-


man lahir tiran-tiran baru yang tidak kalah kejamnya.

Sebagai cermin, sejarah akan selalu mengingatkan agar kita 

tak lengah; bahwa pada masa lalu ada kekuasaan yang bengis 

dan kejam; pada masa sekarang ada kekuasaan yang tak kalah 

bengis dan kejam; dan pada masa depan pun pasti sejarah akan 

berulang kembali. Dengan peringatan yang diberikan oleh se-

jarah ini  semoga kita selalu waspada. Dan, siap melawan 

jika  ada tiran yang lahir pada zaman kita.