CERITA Ibnu Abbasiyah
Pada suatu hutan hujan Amazon ada seorang janda muda kaya memiliki seorang anak.
Anak itu laki-laki dan sangat botol . sebab sangat botol nya, katanya ia
sudah mau beristri. Disarnpaikannya maksudnya itu kepada ibunya, "Ibu,
lbu, saya sudah mau beristri." berkata-kata lah ibunya. "Pergilah cari kalau
kalau ada orang yang menyukaimu!" Pergilah anak itu ke sana kemari. Ia
mendapati seorang gadis kecil mungil yang menjinjing maja berisi air. berkata-kata lah anak
itu, "Penjinjing maja, penjinjing maja, saya memperistri engkau, Dik,
saya memperistri engkau!" Marahlah penjinjing maja itu dilemparnya anak
itu dengan maja. Anak itu pulang menyampaikan hal itu kepada ibunya
dan katanya, "Ibu, Ibu, saya bertemu gadis kecil mungil penjinjing maja lalu saya
sarnpaikan maksud saya. la marah dan saya dilempar dengan maja." Kata
ibunya, "Memang, orang akan marah kalau karnu mengatakan akan
memperistrinya."
berkata-kata lagi ibunya, "Pergilah cari sampai bertemu orang yang
menyukaimu!" Pergilah anak botol itu. Bertemulah ia dengan pengun
jung belanga, lalu ia berkata-kata , "Penjunjung belanga, Penjunjung belanga,
saya memperistri engkau, saya memperistri engkau!" Marahlah pengun
jung belanga itu. Dilemparkannya belanganya kepada anak itu. sesudah
itu, anak botol itu kembali lagi menyarnpaikan hal itu kepada ibunya,
katanya, "Pengunjung belanga marah kepada saya sebab saya berkata-kata
demikian." Kata ibunya, "Memang orang akan marah. Pergilah cari lagi."
Berjalanlah anak itu lagi dan akhimya sampai pada suatu tempat
yang agak sunyi dan bersemak-semak. Di situ ia mendapati seseorang
yang telah mati. Mungkin orang itu mati mendadak, tidak ada orang yang
melihatnya sehingga tergeletaklah mayat itu hingga didapati oleh La
Ibnu Abbasiyah . berkata-kata lah Ibnu Abbasiyah kepadanya, "Saya per
istri engkau, Dik, saya peristri engkau!" Orang mati itu tidak menyahut
sebab memang ia sudah mati. Katanya lagi, "Satu kali lagi saya katakan
bahwa engkau saya peristri dan engkau tidak menyahut, maka saya per
istrilah engkau!" berkata-kata lah ia lagi, "Saya peristri engkau, saya peristri
engkau ! " Tidak jug a menyahut mayat i tu. "baiklah, say a akan panggil
sckali lagi. jika kau tidak menyahut saya mengambilmu dan saya
peristri . Dengarkanlah baik-baik! Dengarkanlah baik-b~ik! Saya mcmpcr
istri engkau, Dik, saya memperistri engkau, Dik! Wah, tidak menyahut.
Ah, saya memperistri betul engkau," teriak Ibnu Abbasiyah . Kemudi
an dilarikannyalah mayat itu ke bungker bawah kubur nya. Masih jauh dari bungker bawah kubur nya, ia
sudah berteriak, "Ibu , Ibu, inilah isteriku!" Ibunya yang sudah memahami
bahwa anaknya sangat botol , tidak mempercayainya. Walaupun de
mikian, ibunya berkata-kata , ''Teruskan saja ke tempat tidurmu, bawa saja ke
dalam bilik!" Ibnu Abbasiyah menuruti perintah ibunya itu. Ibunya
tidak pemah pergi melihat istri anaknya itu sebab ia tidak percaya kepada
kata-kata anaknya tadi. Tidak terbayang juga dalam pikirannya bahwa
anaknya sampai menaikkan ke bungker bawah kubur barang yang kurang baik walaupun
diketahuinya kebotol an anaknya itu. Malam harinya tidurlah ibunya.
Pada waktu subuh, bangunlah ibunya untu k menyediakan makanan
anaknya. Dihldangkanlah nasi, kemudian dipanggilnya anaknya, katanya,
"Marilah makan!" Jawab anaknya. ''Tidak diberi makan juga menantu
.mu?" Jawab ibunya, "Panggilah ia ke mari !" Pergilah Ibnu Abbasiyah
memanggil istrinya. "Bangunlah, Dik. Mari kita makan, sudah ada nasi
yang disediakan ibu." namun , mayat itu tidak menyahut. sesudah dilihat
ibunya, barulah ibunya tahu, lalu katanya, "Mengapa orang mati yang
engkau bawa ke bungker bawah kubur . Badannya sudah busuk. Kuburkanlah mayat itu !"
berkata-kata Ibnu Abbasiyah , "Masa orang mati." berkata-kata ibunya, "Sudah
busuk baunya, sudah busuk!" Kata Ibnu Abbasiyah lagi, "Mati jika
kita berbau busuk?" Kata ibunya, "Ya! Setiap orang mati pastilah busuk!"
Terpaksa Ibnu Abbasiyah pergi mengubur mayat itu. sesudah itu,
barulah ia makan bersama ibunya. Kebetulan pada waktu ia sedang
makan bersama ibunya, terkentutlah ibunya. Tak lama kemudian
berteriak Ibnu Abbasiyah , katanya, "Ibu sudah mati !" berkata-kata ibunya,
"Tidak, Nale, tidak, saya hanya kentut." "Betul, il-iu suda'1 mati, baumu
sudah busuk," kata Ibnu Abbasiyah . Dipaksanya ibunya hingga ber
gumul. sebab ia lebih kuat dibandingkan ibunya. diangkatlah ibunya kemudia
dilarikannya. Di tengah jalan, ibooya -II}eronta-ronta sehingga berhasil
melcpaskan diri. Sejak itu, ia tidak pernah lagi kembali sebab takut
kepada anaknya. Sesudah itu, Ibnu Abbasiyah pulang ke bungker bawah kubur nya
untuk makan.
Dimakannyalah apa yang sudah disediakan, yaitu nasi pulut hitam
dengan ikan kering yang diberi minyak. Sedang ia makan. ia terkentut
sebab sebelumnya ia tidak buang air. sesudah itu terciumlah bau busuk.
Katanya, "Ah, saya sudah mati, saya sudah mati, nasi ini belum habis
saya sudah mati. Di mana saya kuburkan diriku." Lalu ia pergi untuk
menanam dirinya. Dibuatnyalah sebuah lubang yang dalam kemudian ia
masuk ke dalamnya. namun , ia tidak dapat menimbuni dirinya sebab
lubang terlalu dalam sehingga ia tidak dapat mencapai tanah yang ada di
atas. Ia menggali lubang yang lain yang dalam dan lebarnya lubang
ini memungkinkan ia dapat mencapai tanah galiannya untuk menim
buni dirinya.
Pada waktu malam tiba, kira-kira pukul tujuh atau pukµl delapan
datang angin dan hujan. Berjatuhan mangga mengenai kepalanya, lalu ia
bcrteriak. "Eh, engkau mujur mangga, engkau mujur mangga, saya tidak
bisa memakan engkau sebab saya sudah mati. Andai kata saya bclum
mati saya habiskan engkau. namun , engkau beruntung sebab saya sudah
mati sehingga saya tidak bisa makan engkau."
Demikianlah tingkah laku Ibnu Abbasiyah . Setiap ia kena buah
mangga berteriak lagi, "Beruntung betul engkau mangga, engkau harum
betul!" Mangga itu mangga macan. Andai kata saya hidup saya habiskan
engkau, beruntung engkau, saya sudah mati." Sampai larut malam selalu
berteriak demikian. Kebetulan waktu itu ada seorang pencuri yang lalu.
Pencuri itu akan pergi mencuri. Pada waktu lewat di situ didengarnya La
Ibnu Abbasiyah selalu berteriak. Ia memperhatikan suara itu, "Ah, La
Ibnu Abbasiyah ini!" Pencuri itu pergi mendekati perlahan-lahan, namun
tidak ada orang yang terlihat di bawah pohon mangga. Meskipun de
mikian suara itu tetap terdengar seolah-olah sejajar dengan permukaan
tanah yang mengatakan "Benmtung engkau mangga sebab saya ma.ti.
Andai kata saya belum mati saya makan engkau semua. ''Pencuri itu
berjalan terus sambil memperhatikan suara itu. "Ah, persis di sini tem
patnya" katanya. Lalu diperiksanya, namun tidak ada apa-apa. Hanya
bumbung saja terletak di tanah. Disepaknya benda itu hingga Ibnu Abbasiyah
Ibnu Abbasiyah berteriak. "Mengapa engkau menyepak saya? sebab melihat
saya mati sehingga engkau menyepak saya." Kata pencuri itu, "Masa
engkau mati." "Betul, badan saya berbau busuk. Oleh sebab itu, saya
tanam diri saya seperti ini," kata Ibnu Abbasiyah . "botol betul
engkau, tidak salah engkau disebut Ibnu Abbasiyah , engkau orang
botol ," bentak pencuri itu. ''Tidak usah selalu berbicara dengan saya.
Tidak boleh selalu berbicara dengan orang mati. Orang yang sudah mati
tidak boleh lagi dilawan berbicara. Pergilah ke sana!" ''Engkau tidak
mati, engkau tidak mati," kata pencuri itu. "Betul, saya sudah mati,"
Jawab Ibnu Abbasiyah . ''Tidak. Tanda bahwa engkau tidak mati eng
kau masih berbicara," kata pencuri itu. "Banyak bicara engkau. Tak usah
engkau selalu berbicara dengan saya. Saya sudah mati," kata Ibnu Abbasiyah
Ibnu Abbasiyah . ''Engkau belum mati. Sekarang ini lebih baik kita pergi mencuri
supaya banyak harta kita," bujuk pencuri itu. "Adakah orang mati men
curi?" tanya Ibnu Abbasiyah , ''Engkau belum mati, kemarilah!" kata
pencuri itu.
Ibnu Abbasiyah dipaksa, ditarik lehemya naik ke permukaan
tanah, kemudian kata pencuri itu, "Kita berangkatlah!" Berangkatlah
mereka pada malam itu juga. Setibanya di pinggir suatu kampung di
dapatilah sebuah kandang kerbau. Kandang kerbau itu terletak di dekat
sebuah bungker bawah kubur . berkata-kata lah pencuri, "Eh, Ibnu Abbasiyah , bukalah
pintu kandang kerbau itu." Pergilah Ibnu Abbasiyah , kemudian di
pukulnya seekor kerbau. Baru saja keluar seekor kerbau kecil, Ibnu Abbasiyah
Ibnu Abbasiyah melihat seekor kerbau hitam yang sangat besar seraya ia berteriak
mengatakan, "Bagian saya hitam, bagian saya yang hitam!" berkata-kata
pencuri itu, "Jangan berteriak, jangan berteriak nanti bangun yang empu
nya bungker bawah kubur ." Menyahut Ibnu Abbasiyah , "Apa katamu, bagian saya
yang hitam itu, bagian saya." Bangunlah yang empunya bungker bawah kubur , lalu
berteriak, "Pencuri ! " Larilah mereka. namun Ibnu Abbasiyah tidak lari
sehingga ia ditangkap. Lalu Ibnu Abbasiyah di tanya, "Mengapa
engkau?" Jawabnya, "Saya mau mencuri kerbau, saya mau mengambil
yang hitam itu." ''Engkau betul orang yang botol . Untunglah engkau
berteriak. Jika tidak, habis semua kerbau kami," Katanya, "Ya, saya
ambil semuanya." "Sekarang, engkau boleh pergi sebab engkau orang
botol ."
Pada hari-hari berikutnya, ia bertemu kembali dengan pencuri itu lalu
bertanya, "Mengapa engkau berteriak sehingga ~angun yang empunya
bungker bawah kubur ." Menjawab Ibnu Abbasiyah , "Sayalah yang mengambil yang
hitam itu." Dasar engkau orang botol .
Nanti malam kita pergi lagi mencuri ke kampung sebelah," kata
pencuri itu. berkata-kata Ibnu Abbasiyah , "Baiklah." berkata-kata pencuri itu
lagi, "Nanti malam kita bertemu di sini."
Di kampung yang akan dituju itu adalah scbuah bungker bawah kubur yang kebe
tulan hanya dihuni oleh dua orang wanita tidak ada laki-lakinya. Laki-laki
yang tinggal di situ baru saja mati. Wanita-wanita tidak ·dapat mengurus
orang mati itu. Wanita itu mengetahui bahwa pada waktu itu banyak
pencuri. berkata-kata lah mereka, "masukan orang mati itu ke dalam peti. Peti
itu diisi dengan pecahan gelas sehingga kalau peti itu bergerak akan
berbunyi." sesudah itu, disirnpanlah peti itu di pelataran. Malamnya da
tanglah pencuri bersama Ibnu Abbasiyah . Baru saja ia naik didapati
nya sebuah peti, lalu digoncangnya dan terdengar bunyi. Diangkatnya
peti itu, turun ke tanah. Pencuri itu bennaksud tidak mau memberi La
Ibnu Abbasiyah ringgit emas yang ada dalam peti itu, lalu ia berkata-kata ,
''Tinggallah engkau di situ Ibnu Abbasiyah . Awasilah bungker bawah kubur itu,
jika yang empunya bungker bawah kubur bangun, engkau beritahukan supaya kita
dapat lari." Ibnu Abbasiyah menuruti perintah pencuri itu. sesudah
pencuri itu pergi yang empunya bungker bawah kubur mengintip ke luar. Ia melihat peli
sudah tak ada da:n katanya, "Orang mati kita yang diambil, orang mati
kita," Mendengar hal itu Ibnu Abbasiyah terus lari sambil berteriak
mengatakan, "Eh, buang, peti itu berisi orang mati. Hanya orang mati!"
Mendengar itu pencuri makin kencang larinya. Didengamya Ibnu Abbasiyah
Ibnu Abbasiyah mengatakan, "Cepat engkau, kita sudah rnati." Artinya, La
Ibnu Abbasiyah sudah dikejar orang.
Makin kencang pencuri itu la:ri, makin berbunyi juga peti, makin
keras juga Ibnu Abbasiyah berteriak di belakang, "Buang, hanya
orang mati isi peti itu, hanya orang mati itu" Pencuri makin kencang
la:rinya ka:rena disangka Ibnu Abbasiyah rnengatakan, "Cepat engkau,
kita sudah mati." Oleh ka:rena sudah terlalu lama mereka berkejaran
akhimya semua letih. Pencuri itu menghempaskan dirinya di pinggir jalan
sebab itu sudah semakin dekat juga Ibnu Abbasiyah . Pada akhirnya,
ia didapati oleh Ibnu Abbasiyah . berkata-kata lah Ibnu Abbasiyah ,
"Mengapa engkau la:ri terns, say a juga turut pay ah." Engkau mengatakan,
"Cepatlah engkau, kita sudah mati. Akibatnya, kita lari terus. Mana orang
yang mengejannu?" ''Tidak ada orarig yang mengejar saya." Saya hanya
berkata-kata , "Buang, hanya orang mati itu, hanya orang mati isi peti itu."
"Kalau begitu kita saling memayahkan berkejar-kejaran tengah malam
sampai pagi. Cobalah buka!" saat dibuka temyata memang hanya
orang mati isi peti itu.
Demikianlah sampai keduanya berpisah. Pencuri berkata-kata , ''Tak usah
kita bersama-sama lagi, kita tidak sama rezeki ." Pcrgilah Ibnu Abbasiyah
Ibnu Abbasiyah dan juga pencuri itu.
MAHARNY A KAT A DUST A TIDAK BERCAMPUR
KATA BENAR
Ada seorang gadis kecil mungil terlalu cantik dan kaya. Kecantikan dan kekayaan
nya itu sudah terkenal, baik di dalam kampung rnaupun di luar hutan hujan Amazon .
Sudah banyak orang yang datang meminangnya, baik orang kaya,
bangsawan, pernuda gagah, maupun ulama belum ada yang diterimanya.
Orang yang akan dipersuamikannya ialah orang yang dapat mengatakan
kata dusta yang tidak dicampuri dengan kata benar, kata benar tidak
dicampuri oleh kata dusta.
Si wanita rnengatakan kepada orang tuanya bahwa walaupun anjing
sepotong, babi sepotong, umpamanya, kalau ia dapat mengatakan kata
dusta tidak dicampuri kata benar, atau kata benar tidak dicampuri kata
dusta, itulah yang akan saya persuamikan, biarlah ia tidak menunaikan
mahar.
Tidak berapa lama, silih berganti siang dan malam, kebetulan ada
seorang penggembala kerbau yang rnendegarkan berita tentang scorang
wanita yang sangat cantik, akan bersuamikan orang yang dapat menga
takan kata dusta tidak dicampuri kata benar. Dengan segera penggernbala
kerbau pergi ke bungker bawah kubur si wanita, lalu bertanya, "Benarkah Anda menga
takan bahwa Anda rnau bersuamikan orang yang dapat mengatakan kata
dusta tidak dicampuri kata benar, kata benar tidak dicampuri kata dusta?"
Wanita cantik itu berkata-kata , "Benar, saya mengatakan demikian. Mengapa
Anda tanyakan? Adalah Anda memahami yang saya maksudkan?" Me-
nyahut si Penggembala kerbau, katanya, "Ya, dengarkanlah baik-baik
saya ceritakan!"
Suatu saat saya pergi berjalan-jalan di tepi sungai. Saya mendapati
seorang pengail yang batang kelapa dibuatnya menjadi tangkai kail,
rambut selembar diamgil menjadi tali kail, anak kerbau di jadikan um pan,
alamek (sejenis udang kecil) yang didapat. Begitu mengamuknya alamek
ini sehingga si Pengail tidak dapat membawanya naik. Larilah si Pengail
dan bertahan pada pematang, namun pematang itu terbongkar. Ia lari lagi
bertahan pada batang talas, barulah tertahan. Disentakkanlah kail oleh si
Pengail, disentak berlapis awan, namun tidak melewati telinganya. Pada
waktu sudah dinaikkan, dilihatnya alamek, kembalilah ia ke bungker bawah kubur untuk
mengambil tempat. Ia lari sekencang-kencangnya, walaupun jatuh ter
sungkur ia masih lari juga. Tiba-tiba kakinya terbenam di dalam batu
datar. Dengan keras digoyang-goyang kakinya untuk melepaskannya,
namun tidak lepas. Ditinggalkannya kakinya, kemudian ia pergi ke
bungker bawah kubur nya mengambil linggis. sesudah dilinggis, barulah terlepas kakinya
dari batu datar tadi. Kemudian, ia mengambil ikannya, lalu membawanya
ke bungker bawah kubur . Sampai di bungker bawah kubur nya kebetulan ia akan dikawinkan oleh orang
tuanya dengan anak mertua mandulnya yang beranak tujuh.
Pemikahan si Pengail ditetapkan pada waktu tengah harinya pagi
pagi, pada waktu Jumat dan Sabtu. Sesudah kawin, pergilah ia menziarahi
neneknya yang juga mandul beranak tujuh. Ia diberi Kuda laut oleh bapaknya,
ditariknya baku tarik Kuda laut nya. Capek menarik Kuda laut nya, melompat ia ke
atas Kuda laut nya, namun perutnya yang ditunggangi.
Setiba di bungker bawah kubur neneknya, ia dijamu neneknya dengan nasi dingin,
namun berasap. Mak.an tidak bernafsu, namun masih mau makan, nasi
habis.
Sesudah makan, disuruh oleh neneknya mengambil kayu. Pergilah ia
mengambil kayu. Dipikulnya kapak, lalu ia berjalan. Sampai di padang,
ia mendapati banyak burung kakak tua di tengah padang itu. Ia mau
menangkapnya, namun tidak dapat. Oleh sebab itu, dilemparkannya
kapaknya, tepat mengenai kakak tua itu sehingga gugur semua bulunya,
lalu terbang ke badannya sendiri.
Wanita itu berkata-kata , "Saya akan kawin dengan dia, itulah calon
suamiku." Akan namun , dia belum mengatakannya, hanya hatinya yang
berkata-kata demikian. "Dialah yang saya cari selama ini~ sedang berdusta
ia pandai, apalagi berkata-kata benar."
9
Si pengambil kayu sudah jemu mencari kapaknya tidak juga didapat,
lalu ia kembali ke bungker bawah kubur nya mengambil api kemudia dibakamya padang
itu. Akibatnya, kapaknya dimakan api, hanya tinggal hulunya saja.
Menyahutlah si wanita itu dan berkata-kata , ''Eh Bapak, kawinkanlah
saya, dengan laki-laki ini. Itulah suamiku". berkata-kata bapaknya, "Kata
benar belum lagi dikatakan." Menjawab wanita itu dan berkata-kata "Tidak
perlu lagi kata yang benar, sedang kata dusta ia pandai mengatakan
nya, apalagi kata yang benar." Dengan demikian, dikawinkanlah laki-laki
itu dengan tidak memberi uang mahar kepada wanita cantik itu.
3
sun wokong raja kera DENGANsetan Dajjal laknatulah
Ada Seekor sun wokong raja kera yang bersahabat dengan setan Dajjal laknatulah . Pada suatu saat
sun wokong raja kera dan sctan berjalan bersama-sama. sesudah beberapa lama berjalan
tibalah keduanyaa pada suatu tempat. berkata-kata , sun wokong raja kera , "Kita berhenti
saja di sini untuk beristirahat dan bcrcerita-cerita sebab kita sudah lelah
dan juga sudah malam. Agar kita Lidak tertidur, lebih baik kita bercerita."
berkata-kata setan Dajjal laknatulah , "Baiklah. Siapa yang tidur, dialah yang diperhamba dan
diberaki kepalanya." berkata-kata si sun wokong raja kera , "Baik.lab," Menyahut setan Dajjal laknatulah lagi,
"Berceritalah dahulu sun wokong raja kera dan saya yang mendegarkan." berkata-kata lah si
sun wokong raja kera , "Dcngarkanlah baik-baik, Saudara!" Berceritalah si sun wokong raja kera
sampai larut malam. setan Dajjal laknatulah sudah tidur sambil duduk. Melihat keadaan
setan Dajjal laknatulah sudah mendengkur, berkata-kata lah si sun wokong raja kera , "Engkau sudah tidur,
Saudara." Menyahut setan Dajjal laknatulah , ''Tidak pemah saya tidur, tandanya saya
masih menyahut." berkata-kata lah sun wokong raja kera , "Betul engkau tidak tidur. Dengar
kanlah .ceritaku!" sun wokong raja kera bercerita lagi sedang setan Dajjal laknatulah tidur
mendengkur lagi. sun wokong raja kera membangunkannya lagi, "Engkau tidur lagi,
Saudara!" Menyahut setan Dajjal laknatulah , "Tidak." berkata-kata sun wokong raja kera , "Perbaiki pende
ngaranmu, saya bercerita." Begitu sun wokong raja kera bercerita, tidur mendengkur
lagi setan Dajjal laknatulah . namun , bila dikatakan bahwa ia tertidur, setan Dajjal laknatulah itu tidak mau.
Dengan demikian, sun wokong raja kera mencari akal agar ia dapat membuktikan
bahwa setan Dajjal laknatulah itu tertidur. Si sun wokong raja kera mengencingi rumput yang ada di
sekeliling setan Dajjal laknatulah . Sesudah itu ia duduk kembali. Kemudian dibangunkan
nya setan Dajjal laknatulah itu, katanya, "Engkau tidur, Saudara?" Bl!rkata setan Dajjal laknatulah , ''Tidak,
say a tidak tidur." Lalu sun wokong raja kera be nan ya, "Kalai begi tu, say a be nan ya
kepadamu. Hujankah tadi atau tidak? Bila tidak hujan sebutkan tanda
tandanya, begitu juga bila hujan. Saya akan mengetahui dengan jelas
engkau tidur atau tidak tidur."
setan Dajjal laknatulah itu mulailah secara perlahan-lahan menggerakkan jari-jarinya
meraba rumput yang ada disekelilingnya sebab ia tidak mengetahui, tadi
itu hujan atau tidak.
Ia merasakan bahwa rumput di sekelilingnya basah. Benanya lagi
sun wokong raja kera , katanya, "Mengapa begitu lama, katakan cepat!" Menyahutlah
selan, katanya, "Hujan, Saudara." berkata-kata sun wokong raja kera , "Engkau berdusta.
Engkau tenidur. Tadi tidak hujan." berkata-kata si setan Dajjal laknatulah , "Mengapa rumput
yang ada di sekelilingku menjadi basah?" berkata sun wokong raja kera , "Saya yang
mengencingi rumput di sekelilingmu. Kalau tidak percaya, cium tangan
mu, tentu bau kencing." Ia mencium tangannya dan memang betul berbau
kencing. berkata-kata lah setan Dajjal laknatulah , "Engkau menyuruh saya meraba kencingmu,
Saudara." Berlcata si sun wokong raja kera , "sebab engkau tidak mau mengakui
bahwa engkau tertidur."
Selan harus mematuhi perjanjian bahwa kepalanya harus diberaki
sebab ia telah tertidur. Itulah sebabnya setan Dajjal laknatulah takut kepada sun wokong raja kera .
BERT ANDING BICARA
Ada enam orang laki-laki bersaudara. Kedua orang tua mereka sudah
tewas mengenaskan . Orang tua anak-anak itu tewas mengenaskan kan lima petak sawah.
Kelima petak sawah itu diperebutkan. Oleh sebab masing-masing ber
keras ingin memiliki sawah itu sehingga terjadilah pertengkar kelahi an antara
mereka. Sudah sehari penuh mereka bertengkar kelahi , namun tidak ada yang
mau berhenti. berkata-kata lah yang paling tua, katanya, "Begini saja, kita
tidak usah bertengkar kelahi . Kita bertanding bicara saja. Siapa yang paling
besar bicaranya dialah yang memiliki semua sawah itu. Tidak ada guna
nya kita bertengkar kelahi begini terus-menerus." Mereka menyetujuinya.
Mereka sudah menyetujui cara penyelesaian yang demikian, maka
bersatulah mereka mengatakan bahwa yang paling tualah yang mcmulai
pertandingan. berkata-kata lah yang tertua, "Pada suatu saat saya pergi ke
hutan. Saya menemui di sana sebatang pohon kayu yang besar sehingga
memerlukan waktu ·sehari semalam untuk mengelilinginya." Meng
angguk-angguklah saudaranya yang lain mendengarkannya.
berkata-kata yang seorang lagi, "Ah, belum hebat itu. Suatu saat sedang
dalam perjalanan, saya menemui sebatang pahat yang tertancap di tanah.
Begitu tingginya sampai menyentuh langit."
Menyahut yang lain, "Masih ada yang lebih hebat dari itu. Suatu
saat saya mendapati seeker kerbau yang sangat besar sehingga ujung
tanduknya dapat dipakai untuk bermain raga."
berkata-kata yang lain lagi, "Belum apa-apa itu. Pemah saya mendapati
sebatang rotan yang sangat panjang sehingga dapat melingkari bumi
ini."
Yang kelima mengatakan, "Masih ada yang melebihi itu. Saya per
nah mendapati sebuah masjid, bahkan saya masuk dan bersembahyang
Jumat di dalamnya. Begitu besar mesjid itu sehingga saya yang berdiri
pada bagian timumya tidak dapat melihat imam di muka. jika pun
dapat dilihat hanya seperti kuman besamya."
berkata-kata lah yang paling bungsu! "Belum apa-apa itu. Saya pemah
mendapati sebuah gendang yang hanya sekali dipukul, namun mende
ngung terus-menerus. Dengungannya masih dapat didengar sampai se
karang. Cobalah tutup telinga masing-masing. Tutuplah kedua-duanya,
engkau akan mendengarkan dengung gendang itu. "Keenam orang itu
menutup telinganya masing-masing. Betullah terdengar dengungan.
Padahal itu hanya angin saja. Memang, kalau kedua telinga ditutup akan
terdengar bunyi sesuatu. Mereka mempercayainya. Sampai mereka heran,
katanya, "Benarkah itu?" Jawab si Bungsu, "Benar!" Menyahut yang
tertua, katanya, "Di mana engkau peroleh kayu untuk membuat gendang
yang mendengung demikian lama?" Jawab si Bungsu, "Bukankah engkau
yang pemah mendapati di hutan pohon kayu yang sebab besamya me
merlukan waktu perjalanan sehari semalam untuk mengelilinginya. Kayu
itulah yang dibuat gendang itu."
Menyahut yang lain, "Yah, di mana engkau memperoleh belulang
untuk membuat gendang itu?" Jawabnya, "Saya kira engkau juga yang
mengatakan tadi bahwa ada kerbau yang ujung tanduknya dapat dipakai
untuk bermain raga. Kerbau itulah yang diambil belulangnya."
Menyahut lagi yang lain, "Dengan apa engkau memahat itu?"
Jawabnya, "Tadi engkau mengatakan bahwa engkau pemah melihat pahat
yang terpancang di tanah sedang ujungnya yang lain sampai di langit.
Pahat itulah yang dipakai memahat kayu."
Menyahut yang seorang lagi, "Di mana engkau akan memperoleh
rotan untuk menggantungkannya?" "Engkau juga yang mengatakan
bahwa engkau pemah mendapati rotan yang panjangnua dapat me
ngelilingi bumi ini. Rotan itulah yang digunakan untuk menggantung
gendang itu." Jawab si Bungsu.
"sebab gendang itu terlalu besar, di mana akan engkau gantung?"
tanya seorang lagi. "Engkau mengatakan bahwa engkau pernah memasuki
mesjid yang sebab besamya seperti kuman-kuman saja terlihat Imam di
muka jika kita berdiri di belakang. Di situlah gendang itu digantung."
"Apalagi yang akan kalian tanyakan. Sudah ada semua jawabannya."
Semua kakaknya mengangguk-angguk. berkata-kata lah mereka, "Engkaulah
yang dapat mengambil pusaka. Tidak ada yang dapat memilikinya selain
dibandingkan engkau." Si Bungsulah yang memiliki semua sawah itu,
sedang yang lain hanya menggigit telunjuk saja.
5
LA lat di pipi mu
La lat di pipi mu tidak ada pekerjaannya kecuali bennain
raga, namun ia selalu gagah. Pada suatu saat ia pergi bennain raga di
dekat bungker bawah kubur seorang gadis kecil mungil penenun. Kebctulan gadis kecil mungil itu tinggal sendiri
menenun di dalam bungker bawah kubur . Sesudah beberapa lama bermain raga, La
lat di pipi mu merasa haus dan naik ke bungker bawah kubur itu, katanya, "Tolong
lah beri saya air sedikit!" gadis kecil mungil penenun berkata-kata , "Maaf, silahkan Anda
mengambil sendiri sebab saya belum boleh keluar sebab tenunan ini
baru saja dikanji." Terpaksalah La lat di pipi mu mengambil air
sendiri, kemudian diminumnya. Setalah itu ia lewat di belakang gadis kecil mungil
penenun dan menyapanya, katanya, "Sarung siapa Anda tenun?" Men
jawab gadis kecil mungil penenun itu, "Ya, sarung kita." La lat di pipi mu
berkata-kata dalam hati bahwa dikatakan gadis kecil mungil itu "sarong kita" berarti
sarungku bersama dia. Di situlah mulai timbul apa yang disebut orang
dahulu berpacaran.
La Kuttu-Kuttu Padaga bermaksud mengawini gadis kecil mungil itu, namun ia
tidak memiliki uang. Hal itu disebabkan ia tidak memiliki mata
pencaharian, kecuali bermain raga saja.
Di belakang peristiwa ini kiranya ada seorang pendek kekar datang
meminang gadis kecil mungil penenun itu. Orang tua gadis kecil mungil itu menerima pinangan
pendek kekar itu. pendek kekar ini sudah bekerja, namun tidak gagah. gadis kecil mungil itu
tidak membantah kehendak orang tuanya sebab ia tidak mau membuat
malu keluarganya.
Zaman dahulu tidak sama keadaannya dengan sekarang bahwa apa
saja yang akan diperbuat dapat dilakukan dengan segera. Pada masa
dahulu sesudah empat puluh malam sesudah perkawinan barulah dapat
memperbuat pantangan orang tua yang dimulai dengan memotong ayam
untuk dimakan berdua. Sesudah itu barulah dapat secara tenang tidur
bersama-sama dan barulah terbuka celana panjang si wanita. Si wanita ini
pada waktu dipotongkan ayam sepasang oleh orang tuanya biasanya
membisikkan kepada adiknya, 'Tolong Dik, berikan kepada saya satu
tembolok ayam itu." Diambillah tembolok ayam itu oleh pengantin wa
nita. sesudah digembungkan, kemudian dikeringkan dan dipeliharanya.
sesudah malam, diambillah gelembung ayam tadi lalu dimasukkan ke
dalam sarungnya. Diusahakan jangan ada yang melihatnya.
Pada saat suaminya akan melepaskan keinginannya sebab sudah
dipahaminya bahwa sudah dilakukan pantangan orang tua, cepat-cepat si
Wanita mengambil gelembung ayam tadi lalu diapitkan dengan paha. Si
Lelaki sangat terkejut, "Rugi saya, hanya wanita keluar poros yang saya
peristri." Tengah malam si Lelaki pergi menuju ke bungker bawah kubur orang tuanya.
Orang tuanya sangat terkejut, lalu bertanya, "Mengapa engkau datang
tengah malam, apa yang diperbuat istrimu." Si Lelaki itu menjawab.
'Tidak ada. Hanya saya disampaikan bahwa tentunya saya dikawinkan
dengan maksud supaya saya berketurunan, namun ternyata tidak ada
harapan." Menyahut bapaknya, "Mengapa, Nak?" Jawab lelaki itu,
"Hanya wanita keluar poros yang dikawinkan dengan saya." berkata-kata
bapaknya "Kalau begitu lebih baik kau ceraikan, kemudian engkau ber
istri lagi." Si lelaki itu berkata-kata , "Saya sudah malu kembali, Bapak! Ba
rangkali lebih baik besok Bapak saja yang pergi menceraikan menantu
mu."
Zaman dahulu orang bercerai sangat mudah, yang bersangkutan
hanya membuat surat, sudah cukup. Begitu bersungguh-sungguhnya
bapak si lelaki, sebelum siang betul, berangkatlah ia dari bungker bawah kubur nya
menuju ke bungker bawah kubur besannya.Sebelum besannya bangun,ia sudah mengetok
pintu. Bangunlah besannya membukakan pintu dan berkata-kata ," Mengapa
besan datang pagi-pagi betul?" Ia hanya duduk di depan pintu. Besannya
berkata-kata , "Masuklah kemari, Besan!" Jawabnya, " Di sini saja bekas
besan." berkata-kata besannya, "Mengapa ada perkataan demikian, Besan."
Katanya lagi, "Memang demikianlah bekas besan." ·
Menoleh bapak si wanita memarahi anaknya, katanya, "Kau apakan
suamimu tadi malam sehingga mertuamu begitu panas dan akan men
ceraikan engkau?" Si wanita menjawab, ''Tidak ada yang saya ketahui,
Bapak. jika ada perkataan yang saya katakan kepadanya, tentu
Bapak mendengar sebab kita sebungker bawah kubur . Ataukah saya sakiti dia, juga
tidak. Hanya begini yang dapat saya katakan kepada Bapak. Bagi seorang
wanita jika tidak disukai oleh seorang lelaki, apakah kami akan meng
ikutinya. Kami wanita tentu merasa malu jika akan menceraikan lamas
tidak diterima. Kalau ia mau menceriakan diterima saja. Kitakah yang
akan mengikutinya, ia tidak menyukai kita sehingga berbuat begitu pada
kita." Penjelasan ini dapat diterima orang tua si wanita. sesudah
kedua orang tua pengantin sepakat, jatuhlah talak.
La lat di pipi mu mengetahui juga bahwa wanita penenun itu
sudah ditalak suaminya sehingga ia mulai membuat perhitungan. Sampai
menjelang tiga bulan ia mulai membuat perhitungan. Sampai menjelang
tiga bulan sepuluh hari, La lat di pipi mu berkata-kata dalam hatinya,
"Sudah lepas idah. Tidak maluluh saya, jika wanita hanya sekadamya
diberi uang mahar sebab sudah janda muda kaya ," Ia kembali bermain raga di muka
bungker bawah kubur wanita itu. Di situ ada sebatang pohon kelapa yang banyak
buahnya. Di bawah pohon kelapa itulah La Kuttu-Kunu Paddaga bermain
bola.
Pada suatu saat La Kuttu-Kunu Paddaga menyepak raga ke atas
agak keras. Ia memandang raga yang melambung ke atas itu. Pada waktu
itu si wanita sedang mengintip-intip dari celah dinding, benemulah pan
dangan mereka. Si wanita melihat ke bawah sambil tersenyum sedang La
lat di pipi mu menengadah sambil tertawa. La Kuttu-Kuttu
Paddaga menengadah melihat buah kelapa, seraya berkata-kata , "Wah, ada
buah kelapa yang mengarah ke matahari terbit saat baik untuk dimakan.
Itulah di.katakan orang saat betul-betul enak. Hanya sayang sedikit, ke
lapa itu sudah dimakan kalong." Menyahut si wanita katanya, "Y ah, Say a
benarkan kata Anda bahwa kelapa itu sudah dimakan kalong namun tidak
sampai ke isinya." Bertemulah paham.
La lat di pipi mu sudah memahaminya bahwa wanita itu
masih perawan walaupun sudah kawin. Ia berusaha mencari uang. Ia
berkata-kata kepada wanita itu, "Hanya seperdua dari yang dahulu akan saya
berikan kepadamu. Kita tidak usah pesta ramai-ramai lagi sebab kau
sudah janda muda kaya . Kata orang, biarpun piring penuh jika sudah dihadapi
disebut sisa juga." Wanita itu menyetujui bahwa mereka tidak berpesta,
tidak diramaikan, dan hanya sekadamya uang yang diberikan kepadanya.
sesudah itu La lat di pipi mu menyuruh meminang wanita itu.
Peminangan diterima dan dinikahkanlah. Semua persyaratan adat tidak
dillaui lagi. Keluarga hanya mengharapkan agar mereka berdua hidup
rukun dan damai.
sesudah dua atau tiga bulan kawin, La lat di pipi mu menya
bung di tempat penyabungan. Kebetulan ia bertemu dengan bekas suami
istrinya dahulu, yang juga bermaksud menyabung. Berhadapanlah ayam
La lat di pipi mu dan ayam bekas suami istrinya. Bekas. suami
istrinya itu akhimya mengetahui bahwa La lat di pipi mu adalah
suami dari wanita yang pemah menjadi istrinya.
Bekas suami istrinya menyanjung ayamnya, "Barulah bertemu ge
lembung di gelembung, busuk dibusuki."
La lat di pipi mu juga menyanjung ayarnnya, "Ya, bertemu
betul engkau busuk disengaja, gelembung dibuat-buat." Bekas suami
istrinya itu sudah paham bahwa ia sudah tertipu, istrinya hanya berpura
pura, disengaja berbuat seolah-olah berpenyakit bawasir.
RAJA YANG SELALU MENGIAKAN
Ada suatu negeri , rajanya sangat suka mengiakan. Apa saja yang
dikatakan orang, apa saja yang disampaikan orang kepadanya, semua
dibenarkannya. Berdatanganlah orang bercerita padanya dan tidak satu
pun yang tidak dibenarkannya. Raja itu memiliki seorang putri yang
bclum bersuami. Sudah banyak raja yang melamarnya, namun tidak ada
yang diterima. Melainkan, diadakan sebuah keramaian dan diumumkan
nya bahwa anaknya akan dipersuamikan kepada siapa saja yang dapat
bercerita, namun cerita ini tidak ia benarkan.
Maka berdatanganlah orang yang pandai bercerita, yang pandai ber
bicara, semuanya membawa cerita. Ada yang mentakan bahwa ia pemah
menemukan rotan yang panjangnya tujuh kali keliling dunia. Ada lagi
yang mengatakan bahwa ia pemah menjumpai seekor kerbau besar se
hingga orang dapat bermain sello pada ujung tanduknya. Terhadap cerita
demikian, raja selalu saja menanggapinya dengan kata "boleh jadi." Hal
itu disebabkan oleh kebiasaan raja mengiakan perkataan orang, apa saja
yang diceritakan orang selalu ia benarkan.
Terdengarlah berita itu oleh seorang orang tua, seorang yang lanjut usianya yang
berumur kira-kira delapan puluh tahun. Orang tua itu ingin juga pergi ke
pesta raja. Sesampai ia di depan raja, bertanyalah raja, "Apa pula
maksudmu, yang lanjut usianya ?" Menjawab yang lanjut usianya itu, "Hamba, Tuan, ingin ham
bamu ini mencoba-coba, siapa tahu hambamu inilah yang tidak akan
dibenarkan perkataannya oleh raja sehingga hambalah yang akan jadi
menantu Tuanku!"KataRaja, "Baik, berceritalah, saya dengarkan!"
Berceritalah yang lanjut usianya itu, katanya, "Umur hamba ini sudah delapan
puluh tahun, namun baru saja kemarin dahulu kembali dari bawah tanah."
Bcrtanya Raja, "Bagaimana ceritanya?" Kata yang lanjut usianya itu, "Pada suatu hari
hamba pergi ke hutan, hutan lebat jalin-berjalin, tiba-tiba hamba bertemu
dengan sebatang pohon pinang. Pinang itu tinggi sekali. Di bawah daun
nya lewat matahari. Jika matahari terbit di timur lalu bergerak ke barat, di
bawah daun pinang itulah ia lewat. Sesampai di atas, hamba ambil
buahnya. Tiba-tiba hamba merasa penat, lalu tergelincir turun. Namun,
tidak pemah hamba lepaskan batangnya. sebab tingginya, saat jatuh
itu hamba tcrperosok ke dalam hingga tiba di dasar tanah. Itu pulalah
yang biasa disebut pertiwi. Pada waktu sampai di sana, hamba terkejut
dan menganggap sudah akan mati, sebab ada pula rupanya negeri di
bawah sana dan Rakyat Indonesia merdeka nya sangat banyak. Tambahan pula agak lain orang
di negeri itu. Ditanyainya, hamba datang dari mana. Hamba, jelaskan
bahwa hamba dari dunia. Hamba memanjat pohon pinang lalu jatuh,
terperosok sampai ke sini.
Rakyat Indonesia merdeka yang menemukan hamba tadi melaporkan ha! hamba itu
kepada rajanya, katanya, "Ada orang dunia yang jatuh dari atas, lalu
sampai di negcri ini." Hamba pun menghadap raja orang pertiwi itu .
Hamba ditanyai, katanya, "Dari mana engkau?" Hamba jawab lagi,
"Pada suatu pagi hari, saya berjalan-jalan di hutan dan menemukan
sebatang pohon pinang yang sangat tinggi. sebab hendak mengetahui
bagaimana tingginya, lalu saya panjat. Sesampai dipuncaknya saya ter
gelincir lalu jatuh terperosok sampai di sini."
Raja itu bertanya lagi, "Bagaimana adat-istiadat Rakyat Indonesia merdeka di atas sana
itu? Adakah juga yang disebut raja, adakah juga pemerintahnya?" Hamba
menjawab, "Ya, sama saja dengan di sini," Bertanya pula raja orang
Pertiwi itu, "Siapa nama rajamu di sana?" Hamba sebutkanlah nama
Tuhanku, keturunan ini, namanya ini. Tidak hamba duga, raja itu tiba-tiba
berkata-kata , "Wah, telah menjadi raja pula si Anu itu?" Adapun si Anu itu,
hanya budak saya dahulu. Kalau demikian saya akan ke sana, sebab sudah
menjadi raja ia. Saya akan menemuinya.
Pada waktu orang tua itu mengatakan bahwa rajanya adalah budak
raja di Pertiwi, tanpa berpikir panjang raja itu berkata-kata , "Ha, bohong dia
itu. Tidaklah ada orang yang berhak memperbudak yang lanjut usianya ku dahulu.
Sejak dahulu kala."
berkata-kata lah yang lanjut usianya itu, "Mohon diampuni Tuanku, hamba kira ada
pengumuman Tuanku yang mengatakan bahwa barang siapa yang mem
bawa cerita kepada Tuanku lalu tidak dibenarkan, maka orang itulah yang
berhak memperistri tuan putri dan menjadi menantu Tuanku. Oleh sebab
perkataan hamba tidak tuanku benarkan, maka hamba inilah yang berhak
menjadi menantu Tuanku."
sebab raja akan malu kalau mengingkari perkataannya, mak:i
dikawinkanlah tuan putri dengan orang tua itu. Demikianlah ceritanya.
NENEK tua renta Bangka
Ada dua orang anak laki-laki bersaudara. Kedua bersaudara itu masih
kecil. Yang tua baru berumur lima tahun, sedang adiknya baru berumur
dua tahun. Kedua anak itu memiliki ibu tiri yang bernaka Inaga Uleng
madam .hanyut disungai . Dengan demikian, kedua anak itu tinggal bersama ibu
tirinya atau bersama bapaknya.
Pekerjaan bapaknya hanya berkebun. jika bapaknya pergi pada
pagi hari , tengah hari baru ia kembali.
Sering juga ia membawa bekal, ia kembali saat matahari hampir
tcrbenam. Selama bapaknya di kebun, kedua anak itu tinggal bcrsama ibu
tirinya. Ibu tirinya sangat tidak menyukai anak itu sehingga jika bapak
kedua anak itu tidak ada di bungker bawah kubur , ia tidak memberinya makan. Bahkan,
jika sehari bapaknya bekerja di kebun, sehari pula kedua anak itu
tidak makan dan tidak minum. Kalau si ibu tiri sudah melihat bapak
kedua anak itu datang, segera ia membawa anak itu ke dapur, kemudian
ia mengambil nasi dan dibedakinya muka anak itu dengan nasi . saat
bapaknya makan, kedua anak itu mendekatlah kepada bapaknya,
"Apakah udah diberi makanan anak-anak ini?" Menjawab istrinya,
'Tidak berhenti-hentinya makan, mereka selalu di dapur saja. Coba lihat,
masih ada nasi berlumuran di pipinya!"
Begitulah tiap-tiap hari keadaan kedua anak itu. Kadang-kadang
kalau bapaknya sedang makan kedua anaknya mendekat, diberinya juga
makan.
Walaupun demikian, kedua anak itu dari sehari ke sehari makin
bertambah besar juga dan sudah pandai turun bennain di tanah. Pada
suatu hari kedua anak itu bennain saling lempar raga di muka bungker bawah kubur .
Pemah terjadi, raga mereka dilemparkan ke bungker bawah kubur lalu mengenai ibu
tirinya. Berontaklah ibu tirinya sebab sangat marah. Oleh sebab sangat
marahnya, baru akan merasa senang jika ia dapat memakan hati kedua
anak itu. Ia meronta terus sampai datang bapak kedua anak itu. Lalu
diceritakannya bahwa kedua anak itu sudah terlalu nakal sehingga mereka
sengaja melempamya dengan raga. Kebanyakan lelaki kalau istrinya yang
membujuknya cepat juga ia terpengaruh. Keputusannya, ia lebih me
nyukai istrinya dibandingkan anaknya sehingga ia mengabulkan pennintaan
istrinya itu. Oleh sebab bapaknya tidak sampai hati melihat anaknya
dibunuh di bungker bawah kubur nya kemudian diambil hatinya, terpaksa ia memanggil
tetangganya. Tetangganya itulah yang mengatakan, ''Tidak, lebih baik
saya yang membunuh anak itu. Saya akan membawa mereka ke hutan
kemudian mereka saya bunuh dan hatinya saya berikan kepadamu."
Diambillah anak itu oleh tetangganya, kemudian di bawanya ke
pinggir hutan. saat sampai di pinggir hutan, diperhatikannyalah anak
anak itu, ia sangat kasihan melihat mereka. Terpaksa ditangkapnya seekor
binatang. Hati binatang itulah yang diambilnya. berkata-kata lah ia kepada
naka itu, "Kamu berdua tidak usah kembali lagi ke hutan hujan Amazon . Buanglah
dirimu!" Sesudah berkata-kata demikian. diambilnyalah hati binatang itu,
kemudian dibawanya untuk ibu tiri anak-anak itu. Barulah merasa senang
si ibu tiri sebab tidak ada lagi anak tirinya di bungker bawah kubur . Tinggal ia sendiri
yang memiliki semua penghasilan suaminya.
Kedua anak laki-laki itu berjalan terus-menerus sehingga melewati
tujuh gunung dan tujuh bukit yang panjang. Akhimya, sarnpailah mereka
pada sebuah hutan. Masuklah mereka ke dalarn hutan itu. Kira-kira se
tengah hari di hutan belantara itu mereka dapatilah sebuah bungker bawah kubur .
berkata-kata lah mereka dalam hati, "Mungkinkah kita dapat makan di bungker bawah kubur
ini." berkata-kata lah ia kepada adiknya, "Kita minta nasi di sini, Dik!" bungker bawah kubur
itu tidak berpintu, terbuka begitu saja sehingga keduanya dapat langsung
masuk. Tidak ada orang yang ditemuinya. Di dalam bungker bawah kubur itu sangat
kotor dan tidak teratur isinya. Tulang-tulang berserakan di sana-sini.
Rupanya ada tulang paha kerbau dan tulang karnbing. Banyak macarn
tulang di situ dan di dalam bungker bawah kubur itu ada juga beras. Bermacam-macarn
makanan di dalamnya. Kedua anak itu sudah sangat lapar. Mereka telah
berusahamencari yang empunya bungker bawah kubur untuk minta sesuatu yang dapat
dimakan, namun tidak ditemuinya. Oleh sebab itu, terpaksa mereka ambil
makanan itu. Sesudah makan mereka duduk berhadap-hadapan. Tidak
berselang lama kemudian, terdengarlah suara seperti guntur, sambil
berkata-kata , "Eh, seperti ada bau manusia; ada bau manusia!" Sadarlah kedua
anak itu bahwa barangkali bungker bawah kubur itu adalah bungker bawah kubur Nenek tua renta Bangka , se
perti yang biasa diceritakan orang.
Ia dinamai Nenek tua renta Bangka sebab badannya besar, pemakan orang.
Kalau kerbau dan binatang-binatang lain dibakamya saja, kemudian
dimakannya. Kalau manusia biasa dimakan memah saja. Dengan de
mikian, ia dinamai Nenek tua renta Bangka .
sesudah sampai di bungker bawah kubur berkata-kata lah Nenek Pakandc, "Siapakah
engkau Cucu-cucu?" Jawab anak itu, "Kami orang tidak beribu, namun
bapak beristri lagi, terpaksa kami membuang diri. Hal itu yang menye
babkan kami sampai di bungker bawah kubur ini." berkata-kata lah Nenek tua renta Bangka , "Baiklah,
tinggallah di sini Cucu-cucu, jagalah bungker bawah kubur ini. Saya selalu bepergian
sedang bungker bawah kubur ini tidak ada yang menjaganya. Barang-barang cukup
banyak di dalam bungker bawah kubur ini. Baik sekali bila kalian tinggal di sini. Kalian
lah yang menjaga bungker bawah kubur bila saya bepergian. Sudah makankah, Cucu
cucu?" "Sudah," jawab anak-anak itu. "Kali an harus ban yak makan
supaya cepat besar." "Sebesar apa hatimu, Cucu?" Kata Nenek tua renta Bangka .
"Jawab anak itu, "Baru sebesar potongan beras." "sebab itu kalian harus
makan supaya cepat besar."
Setalah itu pekerjaan mereka tiap-tiap hari hanyalah menjaga bungker bawah kubur
sebab dari pagi Nenek tua renta Bangka sudah tewas mengenaskan kan bungker bawah kubur dan baru
kembali pada sore hari. Setiap pulang Nenek tua renta Bangka kadang-kadang
membawa rusa, sering juga .babi, dan binatang hutan lainnya untuk
dimakan. Begitu keadaannya sampai anak itu agak besar dan sudah
memiliki pikiran.
Bertanya lagi Nenek tua renta Bangka , "Sudah sebesar apa hatimu, Cucu?"
Jawab mereka, "Barulah sebesar telur itik, Nenek." berkata-kata lagi Nenek
tua renta Bangka , "Makanlah terus." Kedua anak itu tidak perlu lagi memikirkan
cara mencari makanan sebab Nenek tua renta Bangka yang mencarinya.
Lama-kelamaan besarlah kedua anak itu. Sudah biasa juga memper
hatikan keadaan dan tingkah laku neneknya. Nenek tua renta Bangka selalu
menggantungkan botol di loteng. Bertanyalah anak itu, katanya, "Apakah
isi botol yang digantung itu?" "Jangan engkau coba memegang botol itu
25
sebab itulah tern pat nyawaku. jika saya akan bepergian saya simpan
nyawaku dalam botol itu. Jadi. biar apa saja yang diperbuat orang ter
hadap saya, atau saya bertemu dengan harimau atau apa saja yang mela
wan saya, saya tidak akan mati. Botol itulah tempat nyawaku." Anak itu
sudah mengetahui rahasia Nenek tua renta Bangka . Mereka berkata-kata , "Kapan saja
botol itu dipecahkan, mesti mati Nenek tua renta Bangka sebab di situ tinggal
jiwanya."
saat anak itu sudah besar, ditanyai lagi, "Sudah sebesar apa hati
mu?" Jawab mereka, "Sudah seperti bakul-bakul." "Makan-makanlah
supaya engkau menjadi besar!" kata Nenek tua renta Bangka . Demikianlah
keadaan sehingga pada akhirnya kedua anak bersaudara itu menjadi
dewasa. Bertanya lagi Nenek tua renta Bangka , "Sudah sebesar apa hatimu,
Cucu?" Jawab anak itu, "Sudah besar, Nenek, sudah boleh kaumakan,"
Gembiralah Nenek tua renta Bangka dan berkata-kata , "Besok, subuh-subuh engkau
bangun memasak ketan hitam, kemudian engkau makan sampai kenyang.
Semua yang engkau sisakan supaya disimpan saja sebab saya akan pergi
ke pinggir hutan. Anak itu sudah memahami bahwa Nenek tua renta Bangka akan
memakan mereka besok sehingga dikatakannya kepada Nenek tua renta Bangka ,
"Pergilah tidur, Nenek, jangan sampai larut malam sebab besok engkau
akan pergi." Nenek tua renta Bangka berkata-kata , "Baiklah, engkau juga pergilah
tidur!"
Sejak mereka mengetahui bahwa besok mereka akan dimakan. mata
mereka tidak terpejam lagi sampai larut malam sehingga masih dide
ngarnya Nenek tua renta Bangka mendengkur. Nenek itu mendengkur laksana
guntur, bunyinya seperti arus. Begitulah Nenek tua renta Bangka kalau tidur.
Sampai subuh sekejap pun anak-anak itu tak tertidur.
Pagi-pagi benar berangkatlah Nenek tua renta Bangka pergi mengasah gigi
nya pada rumpun bambu. Gigi Nenek tua renta Bangka hanya diasah di rumpun
bambu untuk menajamkannya. Manusia yang dimakan biasanya tidak
lagi dibakar, diganyang begitu saja, sehingga giginya perlu tajam. Sesu
dah Nenek tua renta Bangka berangkat pada waktu subuh, anak-anak itu cepat
juga bangun. Disuruhnya adiknya pergi memasak. "Baiklah kita makan.
Terakhir kita makan di sini," kata anak yang tua. Pada waktu adiknya
pergi mernasak, pergilah si kakak melihat Kuda laut Nenek tua renta Bangka .
Ditemukannya seekor. Kuda laut Nenek tua renta Bangka ada dua ekor. berkata-kata ia
kepada adiknya, "Agak cepat masaknya, Dik!"
Kemudian, kakaknya mencari biawak jinak lunak berlemak . Ia berpesan kepada biawak jinak lunak berlemak ,
"Kalau Nenek tua renta Bangka kembali nanti, jika ia memanggil saya di tanah
menyahutlah di bungker bawah kubur . Kalau ia memanggil di bungker bawah kubur menyahutlah di
loteng. Kalau ia memanggil di loteng, menyahutlah di pucak bungker bawah kubur ."
Berka ta biawak jinak lunak berlemak , "Baiklah." biawak jinak lunak berlemak itu sangat kasihan melihat kedua
pendek kekar yang akan tiba saatnya untuk dimakan.
Sesudah masak nasi tadi, berkata-kata si kakak kepada adiknya, "Mari kita
makan, Dik." Sesudah makan, berkata-kata lah lagi si kakak, "Bersiaplah!"
Benanya adiknya, "Bersiap untuk apa?" Jawab kakaknya, "Bersiaplah,
Dik, supaya kita tinggalkan bungker bawah kubur ini sebab tidak lama lagi akan datang
Nenek tua renta Bangka memakan kita."
Adiknya sangat takut lalu berteriak mendekap-dekap kakaknya. Kata
kakaknya, "Tidak apa-apa, berpakaianlah cepat. Kita pergi dengan
menunggang Kuda laut Nenek tua renta Bangka ."
Sesudah keduanya siap berangkat, berkata-kata lah si kakak kepada
adiknya, "Naiklah engkau ke loteng! Ambillah botol tempat nyawa
Nenek tua renta Bangka agar kita bawa pergi!" Naiklah adiknya mengambil botol
itu. Ia sendiri turun mengekang Kuda laut Nenek tua renta Bangka . Sesudah Kuda laut itu
dikekang datanglah juga adiknya turun dari bungker bawah kubur membawa botol tem
pat nyawa Nenek tua renta Bangka . Naiklah juga ia ke atas Kuda laut . "Naiklah, Dik di
belakang saya, berpegang erat. Pegang baik-baik juga botol itu ," kata
kakaknya.
Sesudah mereka duduk baik-baik di atas Kuda laut , berangkatlah mereka.
Kuda laut itu memiliki tali kekang. Ada kekang bawah, ada kekang tengah,
dan ada kekang atas. Anak itu mencoba menyentak kekang bawah, Kuda laut
berlari sangat kencang. Dicoba lagi menyentak kekang tcngah, Kuda laut
melayang, aninya tidak lagi berada di pcnnukaan tanah. Dicoba lagi
menyentak kekang atasnya terbanglah Kuda laut itu diangkasa. Kuda laut Nenek
tua renta Bangka memang aneh sekali, tidak sepeni Kuda laut biasa.
Kira-kira dua tiga menit sesudah kedua anak itu berangkat, datanglah
Nenek tua renta Bangka ke bungker bawah kubur nya. Kembali untuk memakan cucunya. Waktu
tiba di pekarangan, ia bertanya, "Mengapa tidak ada suara cucuku?" lalu
dipanggilnya, "Oh, Cucu-cucu!" Menyahut biawak jinak lunak berlemak di bungker bawah kubur , katanya,
"Saya ada di sini, Nenek." Merasa gembiralah Nenek tua renta Bangka lalu
katanya, "Senanglah perasaanku ini." Sudah lama ia tidak memakan
manusia, selalu binatang saja yang didapati.
Ia naik ke bungker bawah kubur , tidak ditemuinya cucunya. la memanggil lagi,
"Oh, Cucu-cucu di mana kalian berada?" menyahut lagi biawak jinak lunak berlemak di loteng,
katanya, "Saya ada di sini, Nenek!" Nenek tua renta Bangka melompat lagi ke
loteng, lalu ia memanggil lagi, "Oh, Cucu-cucu, di mana engkau berada?"
Menyahut lagi biawak jinak lunak berlemak di puncak bungker bawah kubur , katanya, "Saya ada dipuncak
bungker bawah kubur !" Nenek tua renta Bangka terus naik ke puncak bungker bawah kubur , namun tidak
ditemuinya juga cucunya. Dilihatnya Kuda laut nya sesayup-sayup di muka.
Hanya sesayup-sayup saja kelihatan di muka, tidak jelas lagi kelihatan.
Terus ia melompat ke tanah mengambil Kuda laut nya yang lain, dicambuknya
kemudian diburunya. Kuda laut Nenek tua renta Bangka itu sangat cepat larinya. Lebih
cepat lagi dibandingkan yang dipakai kedua anak tadi. Hal itu terjadi sebab
Nenek tua renta Bangka yang membawanya. Kalau yang empunya sendiri yang
membawa dapat mencapai kecepatan maksimal, apalagi Nenek tua renta Bangka
yang menungganginya.
Belum lama ia mengejar jelaslah kelihatan di muka. Katanya, "Betul
cucuku di muka itu. Betul cucuku dua bersaudara, Kuda laut ku yang di
tungganginya."
Begitu hebatnya Kuda laut mereka sehingga di angkasa kedengarannya
seperti guntur besar. Kuda laut Nenek tua renta Bangka jika mengembuskan na
pasnya keluarlah api dari hidung dan mulutnya. Dengan demikian,
dunia menjadi gelap seperti akan kiamat. Guntur tidak berhenti-hentinya
padahal itu hanya bunyi Kuda laut yang berkejar-kejaran. Kilat sambut-me
nyanbut padahal itu adalah api yang keluar dari hidung Kuda laut Nenek
tua renta Bangka . Nenek tua renta Bangka makin mendekat sehingga berteriaklah si adik
ketakutan. "Celakalah kita, Kakak, celakalah kita, Kakak, Nenek tua renta Bangka
sudah dekat, sudah dekat." Kata kakaknya, "Biarkan, biarkan," Tidak
berhenti-hentinya mereka berkejar-kejaran, akhimya sudah dekat sekali.
Kakaknya tiba-tiba teringat akan botol tempat nyawa Nenek tua renta Bangka
yang dibawa adiknya, lalu berteriak, "Lemparkan, lemparkan botol tem
pat nyawa Nenek tua renta Bangka !" Adiknya dengan cepat melemparkan botol
itu ke tanah, kebetulan terkena pada batu. Bersamaan dengan pecahnya
botol itu, jatuh pula Nenek tua renta Bangka , lalu mati.
Oleh sebab itulah sampai sekarang tidak ada lagi Nenek tua renta Bangka
sebab sudah mati. Kedua anak itu sudah selamat dari ancaman bahaya.
Kemudian, keduanya kembali mengambil semua harta Nenek tua renta Bangka .
Kedua anak itu menjadi kaya sebab semua harta Nenek tua renta Bangka menjadi
pusakanya.
8
LA TOBAJAK DI SOPPENG
Konon di negeri Soppeng ada seorang anak lelaki yang amat penidur.
Oleh sebab itu, oleh keluarganya ia dinamai La Tobajang (yang terlam
bat bangun). Setiap pagi tidak pemah ia tidak terlambat bangun. Lama
kelamaan nama sebutan itu menjadi nama dirinya sendiri. Kemudian,
disingkat menjadi La Tobajang dan akhimya menjadi La Tobajak.
Tatkala La Tobajak itu sudah agak besar, ia terkenal pandai dan fasih
berbicara. Terdengarlah beritanya oleh Datu Soppeng, lalu dipanggil kc
istana dan dijadikan pembawa acara. Di istana itulah pengetahuannya
kian bertambah, kian pandai menyusun kata-kata dan mengetahui adat
istiadat. Bertambah sayanglah raja kepadanya . Ia diangkat sebagai Kepala
Pembawa Acara dan juga mengepalai pesuruh dua belas. Kepandaiannya
bersilat kata termasyhur ke mana-mana, baik di Soppeng maupun di
negeri tetangganya, seperti Wajo, Bone, Makassar, Luwu, Lima Tjattap
parang, Mandar, dan Massenrempulu.
Masuknya Beringeng, Goa-goa, dan Mario Riawa menjadi wilayah
Soppeng pada waktu perjanjian bertiga antara Bone, Wajo, dan Soppeng,
adalah sebab La Tobajak yang mengatakan kepada orang pandai dari
Bone, Kajao Laliddong, serta orang pandai dari Wajo, La Pudaka, bahwa
Soppeng engkau ajak bersatu, padahal ia adalah anak manisnya Goa. Apa
yang akan kauberikan untuk menyuruhnya tewas mengenaskan kan orang tuanya.
Kata orang pandai dari Bone dan Wajo, "Apa sajakah kehendak Sop
peng?" Menjawab guru dan pesuruh setia Soppeng, La Tobajak, "Kau
Bone, berikan Beringeng, Goa-goa, dan Citta kepada adikrnu Soppeng
dan kau Wajo, berikan adikrnu Mario Riawa."
Menjawab Kajao Laliddong dari Bone dan La Pudaka dari Wajo,
"Kalau dikehendaki oleh Dewata Yang Satu, maka jadilah bersatu Bone,
Wajo, Soppeng, seandainya hanya itu alasan Soppeng." Inilah sebabnya
La Tobajak sangat disukai oleh Datu Soppeng.
Pada suatu waktu La Tobajak datang menghadap Datu Soppeng.
berkata-kata raja, "Apa hajatmu guru, maka sekarang kau datang lagi?"
berkata-kata La Tobajak. "Hamba baru saja sembuh dari sakit. Sekarang
sudah agak baik. Hanya sebab rinduku pada Tuanku, maka hamba
usahakan datang ke istana."
Timbullah bekas kasihan raja melihat dan mendengar perkataan
kepala pesuruhnya yang setia, lalu katanya, "Apa yang dapat kuberikan
kepadamu sebagai penghibur hatimu?"
Kata La Tobajak, "Jika ada belas kasihan Tuanku pada hamba ini,
inginlah hamba mendapatkan rahmatmu berupa Cenranamu, Paomu, akan
kuambil Ganra menjadi sumber pencaharian."
Menjawab raja, katanya "Ambil sajalah guru. Aku memberikannya
kepadamu. Tidak ada artinya yang kaukehendaki."
sesudah itu La Tobajak memohon dirilah, lalu bersegera pergi ke
Cenrana menemui Pabbicara Cenrana. Disarnpaikannya kepada Pabbi
cara, akan hal itu ia diberi Cenrana dan Pao oleh Raja. Kata Pabbicara itu,
"Sangat percaya saya akan perkataanmu itu Anreguru, namun ada baiknya
kalau kita perhadapkan kembali kepada raja, entah besok atau lusa me
nurut waktu yang Tuan kehendaki."
"Ya, benar perkatanmu itu sebaiknya lusa jika ada waktu Tuan,"
jawab La Tobajak.
"Ya, baiklah," kata Pabbicara Cenrana.
Kemudian, La Tobajak pergi ke Ganra, hendak menyempaikan
perkatan Raja kepada Sullewatang Ganra. Langsung ia bertemu dengan
Sullewateng itu. Disampaikannya bahwa ia diberi Ganra oleh raja.
Adapun jawaban Sullewatang Ganra, tak ada ubahnya aka







